Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pandangan Orang Melayu Terhadap Kerja


Sepanjang pengamatan di lapangan yang dilakukan untuk mengumpulkan dan
mencatat ungkapan tradisional Melayu Riau yang berkaitan dengan ethos kerja ini, telah
dapat dihimpun berbagai ungkapan tradisional yang secara jelas dan tegas mencerminkan
pandangan orang Melayu terhadap kerja. Didalam ungkapan adat dikatakan:

“apa tanda orang berradat,


wajib bekerja ianya ingat”

“apa tanda orang Melayu,


wajib bekerja ianya tahu”

“banyaklah kacip perkara kacip,


kacip tembaga bertatah batu,
banyaklah wajib perkara wajib,
wajib bekerja tuah Melayu”

Ungkapan-ungkapan diatas menunjukkan, bahwa kerja adalah salah satu kewajian


dalam kehidupan orang Melayu. Ungkapan lain mengatakan pula:

“apalah tanda kayu meranti,


batangnya keras daunnya rindang,
apalah tanda Melayu sejati,
bekerja keras pagi dan petang”

“apalah tanda kayu terentang,


daunnya lebat senang berteduh,
apalah tanda Melayu terpandang,
bekerja berat pantang mengeluh”

ungkapan di atas menunjukkan, bahwa bekerja adalah menunjukkan ciri kemelayuan


seseorang. Atau dengan kata lain,orang Melayu adalah pekerja yang tangguh, dan tidak
patut seseorang disebut atau mengaku Melayu bila tidak mau bekerja keras, apalagi
pemalas.Hal ini ditekankan dengan ungkapan pantun :

“tak ada guna berbaju tebal,


hari panas badan berpeluh,
tak ada guna Melayu bebal,
diri pemalas kerja bertangguh”

“elok baju kain perada,


buruk baju benangnya lepas,
elok Melayu rajin bekerja,
buruk Melayu karena malas”
2.2 Kedudukan Kerja dalam Budaya Melayu
Mengacu kepada ethos kerjanya, dapat disimak, bahwa kerja (yang baik dan benar
sesuai menurut ajaran agama, adat dan norma-norma sosialnya) menduduki tempatyang
teramat penting dalam kehidupan orang Melyu.

Menurut orang tua-tua Melayu, pentingnya kedudukan kerja itu disebabkan antara lain:

“kerja disuruh,sunnah diperintahkan adat”


Maksudnya : Kerja disuruh oleh ajaran agama dan diperintahkan oleh adat. Siapa
yang tidak mau bekerja, melalaikan kerja, bermalas dan berlengah-lengah, dianggap tidak
mentaati ajaran agama dan ketentuan adat istiadatnya.

“bekerja menolak bala”


Maksudnya : Dengan bekerja seseorang, suatu masyarakat ataupun bangsa, akan
terhindar dari berbagai malapetaka. Baik bala berupa bencana kelaparan, kemiskinan,
kemelaratan, hinaan dan sebagainya, maupun berupa
malapetaka yang akan dideritanya di akhirat bila ia tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Ungkapan adat mengatakan,”apabila hidup tidak bekerja, banyaklah bala akan menimpa,
banyak cobaan akan dirasa”

“bekerja membayar hutang”


Maksudnya: Bekerja dianggap sebagai membayar hutang menunaikan kewajiban
yang dipikulkan kebahu setiap pribadi. Sebab itu ungkapan adat mengatakan, “kalau hidup
berat tulang, dunia akhirat tak lepas hutang”. Ungkapan ini menegaskan, apabila “berat
tulang” (malas, lalai, lengah, lemah semangat kerja), seumur hidupnya tidak akan terbayar
hutang, yakni kewajiban dan tangung jawabnya baik terhadap diri dan keluarganya, maupun
terhadap masyarakat. Bangsa dan negara, dan terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Orang tua-tua Melayu menegaskan lagi, karena pentingnya kerja baik untuk
kehidupan di dunia maupun akhirat, maka orang Melayu menempatkan kerja pada
kedudukan utama. Orang tua-tua juga mengatakan, bahwa berakal atau tidaknya seseorang
ditentukan dari sikapnya, dari prilakunya dalam bekerja. Orang berakal, bekerja dengan
tekun dan benar, sedangkan yang tidak berakal, bekerja dengan semena-mena dan tidak
bertanggung jawab.

2.3 Jenis Pekerjaan dalam Acuan Budaya Melayu


Ungkapan adat Melayu membagi pekerjaan dalam dua jenis, pertama, “kerja
berfaedah” atau “kerja bermanfaat” yang kedua kerja “menyalah”.

A. Kerja berfaedah
Yang dimaksud dengan kerja berfaedah atau kerja bermanfaat ialah segala
jenis pekerjaan yang memberi faedah, baik bagi diri pelakunya, maupun bagi
masyarakat bangsa dan negaranya, baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk
kehidupan di akhirat.
Kelompok ini hakekatnya disandarkan kepada sesuai tidaknya pekerjaan itu
dengan ajaran agama Islam, dengan nilai-nilai luhur adat dan norma sosial
masyarakatnya. Apabila pekerjaan itu tidak menyimpang atau bertentangan dengan
agama, adat dan sebagainya itu, pekerjaan itu disebut “kerja berfaedah” atau “ kerja
bermanfaat” karena pekerjaan tersebut pastilah ada faedah dan manfaatnya jika
dikerjakan.

B. Kerja menyalah
Yang dimaksud dengan “kerja menyalah”, ialah semua jenis atau bentuk
pekerjaan yang bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran agama Islam,
menyalahi adat dan norma-norma sosial yang dianut masyarakatnya. Pekerjaan ini,
selain tidak memberikan faedah atau manfaat, dapat pula menyebabkan timbulnya
berbagai akibat buruk, baik terhadap pelakunya, maupun terhadap masyarakat,
bangsa dan negaranya.

Untuk lebih memahami pembagian jenis pekerjaan ini diambilkan beberapa


ungkapan yang menjelaskannya, antara lain :

Tentang Kerja Berfaedah


“Apa tanda kerja berfaedah,
terhadap agama tidak menyalah,
terhadap adat tidak menyanggah,
terhadap undang tidak berkilah,
faedahnya jelas manfaatnya ada,
dunia akhirat mendapat berkah”

“Apa tanda kerja bermanfaat,


memegang sunnah mengikut adat,
banyak faedah besar manfaat,
dunia akhirat beroleh rahmat”

“Halal kerja yang berfaedah,


direstui orang diberkahi Allah,
manfaatnya besar memberi tuah,
hidup dan mati terpelihara marwah”

Tentang Kerja Menyalah


“Apa tanda kerja menyalah,
kerja tak betul niatnya salah,
meninggalkan adat menjauhi akidah,
dunia akhirat tidak semenggah”

“Apa tanda kerja maksiat,


membelakangi sunnah membuang adat,
orang membenci Allah melaknat,
dunia akhirat hidup melarat”
“Apa tanda kerja menyalah
iri mengiri fitnah memfitnah
Allah membenci orang meludah,
dunia akhirat tak dapat berkah”

2.4 Tunjuk ajar Kerja Orang Melayu


Karena kerja adalah salah satu unsur terpenting dalam kehidupan orang Melayu,
maka adat istiadat mereka amat banyak memberikan petunjuk yang berkaitan dengan kerja,
disebut tunjuk ajar kerja. Tunjuk ajar ini hakekatnya berisi nilai-nilai luhur agama, adat dan
norma-norma sosial masyarakat tempatan, serta nilai-nilai luhur budaya luar yaang mereka
serap melalui tapisan yang teliti yng mereka anggap bermanfaat bagi kehidupan mereka,
baik dunia maupun akhirat.

Pokok-pokok “tunjuk ajar kerja” dimaksud antara lain :

1. “Kerja halal”, yakni semua pekerjaan yang dianggap sesuai dengan ajaran agama
Islam, tidak menyalahi adat istiadat dan tidak pula bertentangan dengan undang-undang
dan ketentuan lainnya yang berlaku. Di dalam ungkapan dikatakan :

“halal menurut syarak,


benar menurut adat,
sah menurut undang”

2. “Niat baik”, yakni semua pekerjaan yang halal dilakukan dengan niat baik, ikhlas
atau lazim disebut “karena lillahi ta’ala”, bersih dari segala niat buruk. Di dalam ungkapan
dikatakan :

“bekerja karena lillah,


lurusnya tahan bidik,
ikhlasnya tahan uji,
relanya boleh dicoba,
lurus akal lurus niat,
bersih hati elok budi,
mulia hajat sempurna niat”

3. “Kerja berfaedah”, yakni semua pekerjaan yang halal, dan dilakukan dengan niat
baik, serta memberi manfaat bagi pelakunya, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Di dalam
ungkapan dikatakan :

“berfaedah pada diri,


bertuah pada negeri,
bermanfaat pada umat,
berguna pada bangsa,
berkah di dunia,
rahmat di akhirat,
anak cucu selamat”