Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIUM

OLEH
SUSAN CH SILLA
NIM: 6270 2820

PROGRAM PROVESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA
KUPANG
2020
A. DEFINISI

Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik maupun solid,

jinak maupun ganas (winkjjosastro, 2007: 346)

Kista ovarium (kusta indung telur) beraati kantung berisis cairan, normalnya berukuran kecil,

yang terletak din indung telur (ovarium) (Nugroho.2010:101)

Kista ovarium (kista indung telur berate kaantung berisi cairan , normalnya berukuran

keecil, yang terletak diindung telur (ovarium). Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja,

pada masa pubertas sampai menopause juga selama masa kehamilan ( Biloota. K, 2012).

Kista indung telur adalah rongga terbentuk kantung berisi cairan didalam jaringan ovarium.

Kista ini disebut juga kista fungsional karena terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu

ovulasi (Yatim, 2005:17) .

B. KLASIFIKASI

Menurut Nugroho (2010) klasifikasi kista ovarium, adalah :

1. Tipe kista Normal

Kista fiungsional ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyaak ditemukan.

Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaaan dengan siklus

menstruasi yang normal.

Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk

melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pech, kista

fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional

terdiri dari : kista folikel dan kista korpus luteum, keduanya tidak akan menganggu, tidak

menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6-8 minggu.
2. Tipe Kista Abnormal

a. Kista denoma

Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak,

namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.

b. Kista coklat (endometrioma)

Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat jarena

berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.

c. Kista dermoid

Merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut,

gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan dikedua bagian indung telur. Biasanya

berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.

d. Kista Endometriosis

Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada diluar

rahim, kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap

bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas

e. Kista hemorrhage

Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di

salah satu sisi perut bagian bawah.

f. Kista Lutein

Merupakan kista yang serimg terjadi saat kehamilan. Kista lutein yang sesungguhnya,

umumya berasal dari korpus luteum haematoma.

g. Kista polikistik ovarium

Merupakan kista ynag terjadi karena kista ini tidapat pecah melepas sel telur secara

kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena


bertumpuknya kista ini. Kista polikistik ovarium yang memetap (persisten). Operasi

harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan

dan rasa sakit.

C. ETIOLOGI

Menurut Nugroho (2010 : 101) kista ovarium disebabkan oleh gangguan

(pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium (ketidakseimbangan

hormone). Kista folikuler dapat timbul akibat hipersekresi dari FSH dan LH yang gagal

mengalami Involusi atau mereabsorpsi cairan kista granulosalutein yang terjadi didalam

korpus luteum indung telur yang fungsional dan dapat membesar bukan karena tumor,

disebabkan oleh penimbunan darah yang berlebihan saat fase pemdarahan dari siklus

menstruasi. Kista theka-lutein biasanya besifat bilateral dan berisi cairan bening, berwarna

seperti jerami. Penyebab lain adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali di ovarium,

misalnya pertumbuhan abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum, sel telur

D. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi kilinis kista ovarium menurut Nugroho (2010:104), kebanyakan

wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala sampai periode tertentu. Namun

beberapa orang dapat mengalami gejala ini :

1. Nyeri saat menstruasi

2. Nyeri diperut bagian bawah

3. Nyeri saat berhubungan seksual

4. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai kaki

5. Terkadang disertai nyeri saat berkemih atau BAB

6. Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.
E. PATOFISIOLOGI

Berdasarkan Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa fungsi ovarium yang normal

tergantung pada sejumlah hormon, dan kegagalan salah satu pembentukan hormon dapat

mempengaruhi fungsi ovarium tersebut. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika

tubuh wanita tidak menghasilkan hormon hipofisa dalam jumlah yang tepat. Fungsi

ovarium yang abnormal dapat menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara

tidak sempurna didalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan, gagal

berinvolusi, gagal mereabsorbsi cairan dan gagal melepaskan sel telur, sehingga

menyebabkan folikel tersebut menjadi kista.

Setiap hari ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut folikel

de graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8cm akan

melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur akan menjadi korpus luteum, yang pada saat

matang memiliki struktur 1,5-2 cm dengan kista di tenga-tengah.

Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan

pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan

membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.

Kista ovari berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu

jinak. Kista dapat berupa kista folikural dan luteal yang kadang-kadang disebut kista

theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuik FSH dan HCG.
f. Phatway

Ketidakseimbangan dan kegagalan salah satu

pembentukan hormon yang mempengaruhi

indung telur

Fungsi ovarium abnormal

Penimbunal folikel yang terbentuk secara tidak

sempurna

Folikel gagal mengalami pematangan,

gagal berinvolusi dan gagal

mereabsorbsi cairan

Terbentuk kista ovarium

Pembedahan
Adanya cairan dalam Ansietas b.d

jaringan di daerah perubahan Jaringan


ovarium status ter
kesehatan
Klien merasa nyeri

diperut bagian

bawah

Kerusakan integritas

jaringan b.d

faktor mekanik
Nyeri akut b.d agen

injury biologi

Klien mengalami

ketakutan

dalam
Hambatan mobilisasi

fisik b.d

kelemahan fisik

F. KOMPLIKASI

Menurut Wiknojosastro (2007: 347-349) komplikasi yang terjadi pada kista ovarium

diantaranya :

1. Akibat pertumbuhan kista ovarium

Adanya tumor didalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembesaran perut.

Tekanan terhaadap alat-alat disekitrnya disebabkan oleh besarnya tumor atau posisinya

dalam perut. Apabila tumor mendesak kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan

miksi, sedangkan kista ynag lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-

kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat juga mengakibatkan edema

pada tungkai

2. Akibat aktivitas hormonal kista ovarium


Tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika tumor itu sendiri menggeluarkan

hormone.

3. Akibat komplikasi kista ovarium

a. Perdarahan kedalam kista

Biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur menyebabkan kista

membesar, pembesaran luka dan hanya menimbulkan gejaala-gejak klinik yang

minimal. Akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak akan terjadi

distensi yang cepat dari kista yang menimbulkan nyeri diperut.

b. Torsio atau putaran tungkai

Torsio atau putaran tungkai terjadi pada tumor bertangkain dengan diameter 5 cm atau

lebih. Tersi meliputi ovarium, tuba follopi atau ligamentum rotundum pada uterus. Jika

dipertahankan torsi inin dapat berkembang menjadi infark, peritonitis dan kematian.

Torsi biasanya unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma, TOA, masa yang tidak

melekat atau ynag dapat muncul pada ovarium normal.torsi ini paling sering mncul

pada wanita usia reproduksi. Gejalannya meliputi nyeri mendadak dan hebat dikuadran

abdomen bawah, mual dam muntah. Dapat terjadi demam dan leukositosis.

Laparoskopi adalah terapi pilihan, adneksa dilepaskan (detorsi), viabilistasnya dikaji,

adneksa gangren dibuang, setiap kista dibuang dan dievaluasi secara histologis.

c. Infeksi pada tumor

Jika terjadi di dekat tumor ada sumber kuman pathogen.

d. Robek dinding kista

Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat trauma, seperti

jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat besertubuh. Jika robekan

kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas
berlangsung ke uterus kedalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri

terus menerus disertai tanda-tanda abdomen akut.

e. Perubahan keganasan

Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang

seksamaa terhadap kemungkinaan perubahan keganasannya. Adanya asites dalam hal

ini mencurigakan, masa kista ovarium berkembang setelah masa menopause sehingga

besar kemungkinan untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah yang

menyebabkan pemeriksaan pelvic menjadi penting

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak jarang tentang penegakan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum

dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-

gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan differensial diagnosis. Beberapa cara

yang dapat digunakan untuk membantu menegakan diagnosis adalah ( Billota, 2012:1)

1. Laparaskopi

Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari

ovarium atau tidak, serta menentukan sifat-sifat tumor.

2. Ultrasonografi (USG)

Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal

dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat

pula dibedakan anatara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.

3. Foto Rontgen

Pemeriksaan ini berguna untuk menetukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista

dermoid kadang-kadang dapat dilihat adaanya gigi dalam tumor.

4. Parasintesis
Fungsi asitesis berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa

tindakan tersebut dapat mencermarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista

tertusuk.

H. PENATALAKSANAAN

1. Obervasi

Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2

bulan karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua

siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker) (Nugroho, 2010 : 1005)

2. Terapi bedah atau operasi

Bila tumor ovarium disertai gejala akut misalnya torsi, maka tindakan operasi

harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada dua-dua gejala akut, tindakan operasi

harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan seksama. Kista berukuran besar dan menetap

setelah berbulan-bulan biasanya memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita

menopause yang memiliki kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk

meminimalisir resiko terjadinya kanker ovaarium. Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko

cukup besar terkena kanker sejenis ini. Bila hanya kistanya yang diangkat, maka operasi ini

disebut ovarium cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba

fallopi, maka disebut salpingo oophorectomy. Faktor-faktor yang menentukan tipe

pembedahan, antara lain tergantung pada usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki

anak, kondisi ovarium dan jenis kista.

Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang ovarium terlilit (twised) dan

menghentikan pasokan darah ke ovarium, memerlukan tindakan darurat pembedahan

(emergency surgery) unuk mengembalikan posisi ovarium menurut Yatim, (2005: 23).
Prinsip pengobatan kista dengan pembedahan (operasi) menurut Yatim, ( 2005:23)

yaitu :

a. Apabila kistanya kecil ( misalnya, sebesar permen) dan pada pemeriksaan

sonogram tidak terlihat tanda-tanda proses keganasan, biasanya dokter

melakukan operasi dengan laparoskopi. Dengan cara ini, alat laparoskopi

dimasukan kedalam rongga panggul 2-3 dengan melakukan sayatan kecil pada

dinding perut, yaitu sayatan searah dengan garis rambut kemaluan.

b. Apabila kistanya besar, biasanya pengangkatan kista dilakukan dengan

laparotomi. Teknik ini dilakukan dengan pembiusan total. Dengan cara

laparotomi, kista bisa diperiksa apakah sudah mengalami proses keganasan

(kanker) atau tidak. Bila sudah lama dalam proses keganasan, operasi sekalian

mengangkat ovarium dan saluran tuba, jaringan lemak sekitar serta kelenjar

limfe.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KISTA OVARIUM

A. PENGKAJIAN

1. Langkah pertama

Pengumpulan data dasar pada langkah pertama ini dikumpulkan semua

informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Perawat

mengumpulkan data daasar awal yang lengkap. Bila klien mengalami komplikasi yang

perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam 30 manajemen kolaborasi perawat akan

melakukan konsultasi. Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan

semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. (Muslihatun, dkk,

2009:115)

a. Data subyektif

1) Biodata ibu dan suami


a. Nama ibu
Untuk mengetahui siapa yang akan kita beri asuhan dan lebih mudah untuk
berkomunikasi.
b. Nama suami
Untuk mengetahui siapa penanggung jawab saat pemberiaan asuhan
c. Umur ibu
Untuk mengetahui faktor resiko yang menyebabkan terjadinya kista ovarium. Umumnya
kista ovarium terdapat kurang lebih 15% pada wanita reproduksi dan pada 30% dari
wanita yang mengalami infertilitas. (Rayburn, F. William.2001)
d. Agama ibu dan suami
Untuk mengetahui apakah ada kepercayaan dalam agamanya sehubungan dengan kista
ovarium
e. Suku bangsa ibu
Untuk mengetahui dari mana asal ibu berkaitan dengan bahasa yang digunakan untuk
berkomunikasi dan kebiasaan kebiasaan yang dianut.
f. Pendidikan ibu dan suami
Untuk mengetahui tingkat pengetahuaan ibu dan suami sehingga memudahkan dalam
pemberiaan informasi dan konseling.
g. Pekerjaan ibu dan suami
Untuk mengetahui tingkat aktifitas yang dilakukan oleh ibu dan suami dan
pengaruhnya
terhadap ekonomi keluarga sehingga memudahkan dalam penanganan endometriosis yang
sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga ibu.
h. Alamat ibu dan suami
Untuk mengetahui tempat tinggal ibu dan suami serta lingkungan disekitar tempat tinggal
ibu.
i. No tlp/hp ibu dan suami
Untuk memudahkan berkomunikasi sewaktu-waktu bila ada masalah.
j. Golongan darah
Untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu masalah yang memerlukan donor
2) Alasan datang
Untuk mengetahui keluhan utama yang dirasakan, sejak kapan dirasakan,dibagian
mana dirasakan, dan apa upaya ibu untuk mengatasinya. Dimana dari data tersebut dapat
menunjang diangnosa kista ovarium
Penderita kista ovarium bisa datang dengan keluhan nyeri panggul, terutama bila
datang haid, infertilitas, disparenia, perdarahan uterus abnormal, rasa nyeri atau berdarah
ketika kencing atau pada rectum dalam masa haid. Gejala-gejala kista ovarium datangnya
berkala dan bervariasi sesuai datangnya haid tetapi bias menetap. Banyak penderita kista
ovarium yang tidak bergejala, dan terdapat sedikit korelasi antara hebatnya gejala dengan
beratnya penyakit.
3) Riwayat penyakit ibu
Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang pernah diderita ibu, apakah ibu
mempunyai riwayat penyakit tertentu terutama yang berhubungan dengan alat reproduksi
maupun penyakit lain yang mungkin dapat memicu terjadinya kista ovarium serta bisa
menjadi pertimbangan untuk keperluan terapi atau pengobatan lebih lanjut seperti gangguan
hormone, kanker, tumor PMS dll
Dalam hal ini perlu ditanyakan apakah penderita pernah menderita penyakit berat,
penyakit TBC, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit darah, DM, dan penyakkit jiwa.
Riwayat operasi nonginekologik perlu juga diperhatikan, misalnya strumektomi,
mammektomi, apendektomi, dan lain-lain. (Wiknjosastro,2005)
4) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit keluarga perlu diketahui apakah pernah menderita tumor alat
kandungan/tidak ataupun tumor di luar alat kandungan.
5) Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui kapan pasien menarche, apakah siklus menstruasi ibu teratur atau tidak,
mengetahui lama haid dan banyaknya pengeluaran darah saat haid, serta apakah ibu pernah
mengalami dismenorhea atau tidak.
Haid merupakann peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan wanita. Perlu diketahui
menarche, siklus haid teratur atau tidak, banyaknya darah yang keluar sewaktu haid, lamanya
haid, disertai rasa nyeri atau tidak, dan menopause. Selalu harus ditanyakan tanggal haid
terakhir yang masih normal. Kalau haid terakhirnya tidak jelas normal, maka perlu pula
ditanyakan tanggal haid sebelum itu. Dengan cara demikian akan diketahui apakah haid
penderita terlambat atau mengalami amenore. Pada penderita kista ovarium biasanya terjadi
menstruasi yang banyak, serta adanya nyeri saat haid yang dirasakan makinlama makin kuat.
6) Riwayat perkawinan
Untuk mengetahui berapa kali ibu menikah, lama perkawinan, umur ibu saat menikah serta
apakah ibu sudah mempunyai anak atau belum. Karena pada penderita kista ovarium
umumnya terjadi pada wanita yang infertile.
7) Riwayat obstetri terdahulu
Untuk mengetahui jumlah anak yang dimiliki, umur kahamilan saat lahir, apakah ada penyulit
saat hamil, tempat bersalin, penolong persalinan, berat badan bayi saat lahir jenis kelamin
anak, jenis persalinan, apakah ada penyulit saat nifas, keadaan anak sekarang serta umur anak
sekarang
8) Riwayat ginekology
Untuk mengetahui apakah ibu pernah atau sedang mengalami masalah dengan organ
reproduksinya serta sejak kapan masalah dirasakan. Riwayat penyakit / kelainan gynecology
serta pengobatannya dapat memberikan keterangan penting, terutama operasi yang pernah
dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain tanyakan juga hasil-hasil
pemeriksaan dan pendapat dokter itu. Tidak jarang wanita Indonesia pernah memeriksakan
dirinya di luar negeri dan membawa pulang hasilny. (Wiknjosastro,2005)
9) Hubungan Seksual
Pada penderita kista ovarium perlu dikaji tentang hubungan seksual, karena biasanya
penderita kista ovarium mengalami nyeri pada saat berhubungan seksual (disparenia).
10) Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual
a) Biologis
1. Pernapasan
Untuk mengetahui apakah ibu ada keluhan saat bernafas atau tidak
2. Pola nutrisi
Untuk mengetahui status gizi ibu dan riwayat nutrisinya, pola nutrisi, jenis dan
porsi makan ibu.
3. Eliminasi
Untuk mengetahui apakah ada keluhan atau masalah dengan pola BAK maupun
BAB. Pada kista ovarium biasanya mengalami defekasi yang sukar dan sakit
terutama pada waktu haid disebabkan oleh karena adanya kista ovarium pada
dinding rektosigmoid
4. istirahat dan tidur
Untuk mengetahui adakah gangguan pada pola tidur dan istirahat akibat keluhan
yang dialami
5. Aktifitas sehari-hari
Untuk mengetahui aktifitas ibu sehari-hari, apakah ada keluhan saat beraktivitas.
Pada penderita kista ovarium umumnya akan mengalami kesulitan untuk
beraktifitas karena rasa nyeri yang dirasakan.
6. Personal hygiene
Untuk mengetahui bagaimana personal hygiene ibu apakah sudah menerapkan
hygiene yang benar atau belum. Infeksi dan jamur di dalam rahim juga bisa
menjadi perangsang pertumbuhan kista ovarium
b) Psikologi
Untuk mengkaji psikologis klien sehubungan dengan keluhan yang
dirasakan.bagaimana perasaan ibu setelah mengetahui keadaannya setelah diperiksa,
dan bagaimana penerimaan pasien terhadap penyakit yang dideritanya saat ini. Karena
psikologis ibu juga akan berpengaruh terhadap proses pengobatan nantinya, sehingga
psikologis ibu perlu dikaji.
c) Sosial
Untuk mengetahui interaksi ibu dengan masyarakat di lingkungan yang dirasakan
pandangan masyarakat terhadap kondisi ibu dan ada tidaknya kebiasaan yang
merugikan kesehatan, serta mengetahui bagaimana pengambilan keputusan dalam
keluarga.
d) Spiritual
Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan ibu dalam mendekatkan diri kepada tuhan
serta kepercayaan yang dianut yang berkaitan dengan kesehatan. Dimana dengan
rajinnya ibu sembahyang dan mendekatkan diri kepada Tuhan, maka akan dapat
menenangkan perasaan ibu.
11) Pengetahuan
Untuk mengkaji pengetahuan ibu tentang hal-hal yang berkaitan dengan keluhan yang
dirasakan, penyebab ibu mengalami keluhan yang dirasakan, serta pengetahuan ibu tentang
cara mengatasi keluhanya.
Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum ibu, sejauh mana keluhan yang dirasakan ibu,
mempengaruhi kondisi kesehatan ibu secara umum.
b. TTV
Untuk mengetahui keadaan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi sehubungan dengan
keluhan yang dirasakan ibu.

2. Pemeriksaan sistematis dan ginekologi


a. Pemeriksaan fisik
Kepala : Untuk mengetahui bagaimana kebersihan dan struktur rambut
Muka : Untuk mengamati pada muka apakah ada oedema / pucat
Mata : Untuk mengetahui bagaimana warna konjungtiva
Mulut : Untuk mrngetahui bagaimana keadaan muulut apakah lembab/kering,
kemerahan/pucat
Leher : Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar limfe, pembesaran
kelenjar tiroid maupun pembesaran vena jugularis
b. Payudara
Pemeriksaan payudara mempunyai arti penting bagi penderita wanita terutama dalam
hubungan dengan diagnostik kelainan endokrin
c. Abdomen
Untuk mengetahui apakah ada luka bekas oprasi, apakah ada massa dan pembesaran perut
abnormal yang dapat menunjang diagnosa ke diagnosa penyakit organ reproduksi lainnya.
Pemeriksaan abdomen sangat penting pada penderita gynekologi, tidak boleh diabaikan,
dan harus lengkap apapun keluhan penderita. Penderita harus tidur terlentang. Pada
penderita kista ovarium biasanya terdapat massa pada perut dan ada nyeri tekan
d. Anogenital
Untuk mengetahui apakah ada pengeluaran pervaginam, varices, dan oedema, serta tanda-
tanda abnormal/kelainan lainnya, seperti tanda-tanda infeksi Pada kista ovarium perlu
dilakukan VT untuk memastikan asal perdarahan yang dialami oleh ibu, serta dilakukan
inspikulo untuk melihat apakah ada tanda-tanda kista ovarium pada vagina.
e. Ekstermitas atas bawah
Untuk mengetahui apakah ada oedema, sianosis, pada kaki dan tangan, serta keadaan
kuku apakah kemerahan ataukah pucat.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laparoskopi
Bila ada kecurigaan kista ovarium panggul , maka untuk menegakan diagnosis yang
akurat diperlukan pemeriksaan secara langsung ke rongga abdomen per laparoskopi. Pada
lapang pandang laparoskopi tampak pulau-pulau endometriosis yang berwarna kebiruan
yang biasanya berkapsul. Pemeriksaan laparoskopi sangat diperlukan untuk mendiagnosis
pasti kista ovarium, guna menyingkirkan diagnosis banding antara radang panggul dan
keganasan di daerah pelviks. Moeloek mendiagnosis pasien dengan adneksitis pada
pemeriksaam dalam, ternyata dengan laparoskopi kekelirua diagnosisnya 54%, sedangkan
terhadap pasien yang dicurigai kista ovarium, kesesuaian dengan pemeriksaan laparoskopi
adalah 70,8%.
b. Pemeriksaan Ultrasonografi
Secar pemeriksaan, USG tidak dapat membantu menentukan adanya kista ovarium,
kecuali ditemukan massa kistik di daerah parametrium, maka pada pemeriksaan USG
didapatkan gambaran sonolusen dengan echo dasar kuat tanpa gambaran yang spesifik
untuk kista ovarium.
c. MRI(magnetic imaging resonance)
Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi serta

besar/ luas.

d. Thorax X ray
Untuk mengidentifikasi keadaan pulmo.

a. Analisa
a. Gas Darah

Menunjukan efektifitas dari pertukaran gas dan usaha

pernafasan.

4. Pemberian terapy

B. DIAGNOSA

Herdman (2011), kemungkinan diagnose yang muncul pada pasien dengan kista ovarium :

Pre operasi

1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis

2. Ansietas b.d perubahan status kesehatan

Post operasi

1. Nyeri akut b.d agen cedera biologi

2. Resiko infeksi b.d prosedur pembedahan

3. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot


C. INTERVENSI

Pre operasi

Nyeri akut b.d agen cedera biologi

Diagnosa keperawatan SLKI SIKI


Setelah dilakukan tindakan Manajamen nyeri
Nyeri akut b.d agen Tindakan
keperawatan 3 x 24 jam maka
pencedera fisik Observasi :
tingkat nyeri membaik  Identifikasi lokasi,
karakteristik, durasi,
dengan kritera hasil :
frekuensi, kualitas,
 Keluhan nyeri (5) intensitas nyeri.
 Kemampuan  Identifikasi skala
menuntaskan aktivitas nyeri
(5)  Identifikasi respon
 Meringis (5) nyeri non verbal
 Identifikasi faktor
yang memperberat
dan memperingan
nyeri
 Identifikasi
pengetahuan dan
keyaninan tentang
nyeri
 Identifikasi pengaruh
budaya terhadap
respon nyeri
 Indentifikasi pengaruh
nyeri pada kualitas
hidup
 Monitor keberhasilan
terapi komplementer
yang sudah diberikan
 Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
 Berikan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri (mis.
TENS, hipnosis,
akupresur, terapi
music, biofeedback,
terapi pijat, aroma
terapi, teknik
imajinasi terbimbing,
kompres hangat/
dingin, terapi
bermain)
 kontrol lingkungan
yang memperberat
rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
 fasiliatasi istirahat dan
tidur
 pertimbangkan jenis
dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
nyeri
Edukasi
 jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
 jelaskan strategi
meredakan nyeri
 anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
 anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat
 ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu

Post Operasi

1. Resiko infeksi b.d penurunan pertahanan primer

Diagnosa keperawatan SLKI SIKI


Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan intervensi Pencegaha infeksi
peningkatan paparan selama 3x24 jam maka Tindakan
organisme pathogen tingkat infeksi menurun, Observasi :
lingkungan dengan kriteria hasil :  Monitor tanda dan
 Kebersihan tangan (5) gejala infeksi lokal dan
 Kebersihan badan (5) sistemik
 Kemerahan (5) Terapeutik
 Nyeri (5)  Batasi jumlah
 Cairan berbau busuk (5) pengunjung
 Bengkak (5)  Berikan perawatan kulit
pada area edema
 Cuci tangan sebelum
dan sesudah kontak
dengan pasien dan
lingkungan paasien
 Pertahankan teknik
aseptik pada pasien
beresiko tinggi
Edukasi
 Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan mencuci tangan
dengan benar
 Ajarkan etika batuk
 Ajarkan cara memeriksa
kondisi luka atau luka
operasi
 Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
 Anjurkan meningkatkan
asupam cairan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu

2. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

Diagnosa keperawatan SLKI SIKI


Gangguan mobilisasi Setelah dilakukan intervensi Dukungan mobilisasi
fisik b.d penurunan selama 3x24 jam maka Tindakan
kekuatan otot gangguan mobiliats fisik Observasi :
berkurang, dengan criteria  Identifikasi adanya
hasil : nyeri atau keluhan
 Pergerakan fisik lainnya
ekstremitas (5)  Identifikasi toleransi
 Kekuatan otot (5) fisik melakukan
 Rentang gerak pergerakan
(ROM) (5)  Monitor frekuensi
 Kelemahan fisik (5) jantung dan tekanan
 Geralan terbatas (5) darah sebelum
memulai mobilisasi
 Monitor kondisi
umum selama
melakukan mobilisasi
Terapeutik
 Fasilitasi aktivitas
mobilisasi dengan alat
bantu (mis. Pagar
tempat tidur)
 Fasilitsi melakukan
pergerakan, jika perlu
 Libatkan keluarga
untuk membantu
pasien dalam
meningkatkan
pergerakan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan
prosedur mobilisasi
 Anjurkan melakukan
mobilisasi diri
 Ajarkan mobilisasi
sederhana yang harus
dilakukan (mis.
Duduk di tempat
tidur, duduk di sisi
tempat tidur, pindah
dari tempat tidur ke
kursi)

D. IMPLEMENTASI

Pre Operasi

Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi


 Mengidentifikasi S : keluarga paasien
Nyeri akut b.d agen lokasi, karakteristik, mengantakan nyeri
pencedera fisik durasi, frekuensi, sudah menurun
kualitas, intensitas O : pasien terlihat masih
nyeri. meringgis
 Mengidentifikasi skala
nyeri A : Masalah belum teratasi
 Mengidentifikasi
respon nyeri non verbal P : Lanjutkan Intervensi
 Mengidentifikasi faktor
yang memperberat dan
memperingan nyeri
 Mengidentifikasi
pengetahuan dan
keyaninan tentang
nyeri
 Mengidentifikasi
pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
 Mengindentifikasi
pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
 Memonitor
keberhasilan terapi
komplementer yang
sudah diberikan
 Memonitor efek
samping penggunaan
analgetik
 memberikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis. TENS, hipnosis,
akupresur, terapi
music, biofeedback,
terapi pijat, aroma
terapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres
hangat/ dingin, terapi
bermain)
 Mengontrol lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu
ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
 Memfasiliatasi istirahat
dan tidur
 Mempertimbangkan
jenis dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
nyeri
 Menjelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
 Menjelaskan strategi
meredakan nyeri
 Meganjurkan
memonitor nyeri secara
mandiri
 Meganjurkan
menggunakan analgetik
secara tepat
 Mengajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
 berkolaborasi
pemberian analgetik,
jika perlu

Post Operasi

NO Diagnosa Implementasi Evaluasi


1  memonitoring tanda dan S : Pasien mengtakan
Resiko infeksi b.d tanda-tanda infeksi
peningkatan gejala infeksi lokal dan ada perubahan
paparan organisme O : Resiko infeksi
pathogen sistemik berkurang
lingkungan
A: Belum teratasi
 membatasi jumlah

pengunjung
P: Intervensi dilanjutkan

 memberikan perawatan

kulit pada area edema

 Mencuci tangan sebelum

dan sesudah kontak dengan

pasien dan lingkungan

paasien

 Mempertahankan teknik

aseptik pada pasien

beresiko tinggi

 Menjelaskan tanda dan


gejala infeksi

 Megajarkan mencuci

tangan dengan benar

 Megajarkan etika batuk

 Mengajarkan cara

memeriksa kondisi luka

atau luka operasi

 Menganjurkan

meningkatkan asupan

nutrisi

 menganjurkan

meningkatkan asupam

cairan

 Berkolaborasi pemberian

imunisasi, jika perlu

2  Mengidentifikasi adanya S : gerakan mobilisasi


Gangguan nyeri atau keluhan fisik fisik agak membaik
mobilisasi fisik b.d lainnya
penurunan  Mengidentifikasi toleransi O :Kelemahan otot
kekuatan otot fisik melakukan berkurang
pergerakan
 Memonitoring frekuensi A: belum teratasi
jantung dan tekanan darah
sebelum memulai P: intervensi dilanjutkan
mobilisasi
 Memonitoring kondisi
umum selama melakukan
mobilisasi
 Memfasilitasi aktivitas
mobilisasi dengan alat
bantu (mis. Pagar tempat
tidur)
 Memfasilitsi melakukan
pergerakan, jika perlu
 Melibatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan
 Menjelaskan tujuan dan
prosedur mobilisasi
 Menganjurkan melakukan
mobilisasi diri
 Mengajarkan mobilisasi
sederhana yang harus
dilakukan (mis. Duduk di
tempat tidur, duduk di sisi
tempat tidur, pindah dari
tempat tidur ke kursi)
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Alih

Bahasa

Billota, Kimberlli. 2012. Kapita Selekta Penyakit: Dengan Implikasi Keperawatan.

Edisi 2. Jakarta : EGC

Benson Ralp C Dan Martin L. Pelnoll. 2008. Buku Saku Obstetri Dan Ginekologi.

Jakarta : EGC

Maria, A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4. Jakarta: EGC

Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender Dan Permasalahanya.

Yogyakarta :Nuha Medika

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia

Definisi Dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI

Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu kandungan ED. 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Parawirohardjo.

Yatim, Faisal. 2005. Penyakit Kandungan, Myom, Kista, Indung Telur, Kanker

Rahim,/ Leher Rahim, Serta Gangguan Lainnya. Jakarta : Pustaka Populer

Obor