Anda di halaman 1dari 14

AKUNTANSI SEBAGAI SITEM INFORMASI BERBASIS

BUDAYA TRI HITA KARANA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Berbasis Tri Hita Karana

Dosen pengampu : Gede Widiastina, SE.,MM

NAMA : NIM :

1. DEWA GEDE MARTA EKAYANA 18.02.1.013

PROGRAM STUDI DIPLOMA III AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SATYA DHARMA
School Of Economic With Spiritual Insight
SINGARAJA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi


Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul Akuntansi Sebagai Sistem Informasi
Akuntansi Berbasis Budaya Tri Hita Karana ini dengan baik tepat pada waktunya.

Tidak lupa juga penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen
pengajar yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran yang bermanfaat
dalam proses penyusunan makalah ini. Terima kasih juga hendak penulis ucapkan
kepada teman - teman yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung sehingga makalah ini dapat selesai pada waktu yang telah ditentukan.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini.


Maka dari itu penulis menerima kritik dan saran dari pembaca agar penulis dapat
menyusun makalah yang lebih baik di kemudian hari. Akhir kata penulis berharap
semoga Makalah yang berjudul Akuntansi Sebagai Sistem Informasi Akuntansi
Berbasis Budaya Tri Hita Karana ini mampu memberikan manfaat dan wawasan
inspirasi terhadap para pembaca.

Singaraja, 7 Januari 2021


Mengetahui,

Penulis,

i
DAFTAR ISI

Isi Hal

KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2

1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Akuntansi Sebagai Sistem Informasi .................................................. 3

2.2 Budaya Tri Hita Karana Sebagai Dasar Penerapan Sistem Informasi

Akuntansi ............................................................................................ 5

BAB V PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sistem informasi akuntansi merupakan salah satu jenis sistem informasi
yang diperlukan oleh perusahaan dalam menangani kegiatan operasionalnya
sehari-hari untuk menghasilkan informasi-informasi akuntansi serta informasi
lainnya mengenai proses bisnis perusahaan yang diperlukan oleh manajemen dan
pihak-pihak terkait lainnya sehubungan dengan pengambilan keputusan dan
kebijakan-kebijakan lainnya. Perkembangan teknologi yang terjadi sekarang ini
sudah berkembang pesat, misalnya terdapat dalam bidang komunikasi.
Perkembangan pengolahan data merupakan salah satu pengaruh dari teknologi
komunikasi tersebut. Pada bidang akuntansi perkembangan teknologi informasi
telah banyak membantu meningkatkan sistem informasi akuntansi (SIA). Sistem
informasi akuntansi atau yang sering disingkat dengan SIA merupakan salah satu
penyedia informasi keuangan yang banyak dibutuhkan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam
penggunaan informasi keuangan meliputi pihak internal dan pihak eksternal. Para
pengguna internal meliputi pihak manajemen di tiap tingkat dalam perusahaan,
serta personel operasional. Berlawanan dengan laporan ekternal, perusahaan
memiliki ukuran untuk memenuhi kebutuhan para pengguna internalnya.
Perkembangan yang terjadi pada bidang informasi akuntansi menyebabkan
berkembangnya kebutuhan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan
dibutuhkannya proses serta kinerja yang berkualitas dalam menghasilkan
informasi. Selain itu, saat ini banyak perusahaan yang mengalami kendala dalam
pelaksanaan sistem informasi akuntansi yaitu terletak saat proses menghasilkan
informasi tersebut. Pada proses menghasilkan informasi akuntansi sehari-hari
dilaksanakan menurut sistem yang diterapkan pada setiap perusahaan
masingmasing dan pelaksanaannya tidak terlepas dari permasalahan, contohnya
para pemakai yang belum mengerti cara pengoperasikan sistem sehingga kinerja
sistem informasi yang dilakukanpun belum maksimal sesuai dengan yang
diharapkan, dan tidak cocoknya sistem yang digunakan di suatu perusahaan,

1
misalnya pada perusahaan besar tetapi masih menggunakan sistem informasi yang
sangat sederhana tidak dapat memenuhi kebutuhan sistem informasi perusahaan
yang diperlukan perusahaan tersebut.
Tri Hita Karana (THK) yang merupakan kearifan lokal Bali digunakan
sebagai landasan bagi individu maupun or-ganisasi dalam setiap aktivitasnya,
khususnya masyarakat desa Pekraman (desa adat) yang merupakan pemilik LPD
yang dijadikan objek penelitian. Desa Pekraman merupakan wadah masyarakat
adat di Bali yang secara rutin melaksanakan aktivitasnya dilandasi nilai-nilai
budaya yang diwariskan leluhurnya, yaitu THK. Sehubungan dengan itu,
Pemerintah Daerah Bali mengembangkan visi pembangunan berdasarkan budaya
THK (Windia dan Dewi 2007, 23). Oleh karena itu, budaya THK harus mampu
dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat di Bali khususnya dalam
akuntansi.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa pengertian akuntansi sebagai sistem informasi?
1.2.2. Apa yang di maksud dengan Tri Hita Karana Sebagai Dasar Penerapan
Sistem Informasi Akuntansi?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian akuntansi sebagai sistem informasi
1.3.2. Untuk mengetahui Tri Hita Karana Sebagai Dasar Penerapan Sistem
Informasi Akuntansi

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Akuntansi Sebagai Sistem Informasi


Menurut Carls Warren, dkk dalam bukunya yang berjudul Accounting,
“Accounting can be defined as information system that provides reports to
stakeholders about the economic activities and condition of a business”
Asosiasi Akuntansi Amerika atau American Accounting
Association (AAA), Akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan
melaporkan informasi ekonomi yang memungkinkan pengambilan keputusan dan
penilaian yang jelas serta tidak membingungkan oleh penggunanya
Akuntansi sering disebut juga bahasa bisnis karena akuntansi dapat
memberikan informasi tentang keadaan suatu perusahaan yang digunakan untuk
menilai sejauh mana keberhasilan perusahaan tersebut kepada pihak-pihak yang
membutuhkan informasi akuntansi.
Akuntansi adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, dan
pelaporan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan
keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi
tersebut. Laporan tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan bisnis oleh pemakai informasi tersebut
SIA adalah sistem akuntansi dengan pengembangan informasi lebih luas
dengan lebih menekankan informasi kepada manajemen (pengguna internal) tanpa
mengurangi informasi kepada pihak luar (pengguna eksternal). Pengguna
eksternal meliputi pemegang saham, investor, kreditor, agen pemerintah,
konsumen, vendor, pesaing, serikat kerja, dan masyarakat secara luas. Pengguna
eksternal menerima dan memanfaatkan berbagai informasi yang merupakan
uotput dari SIA.
Sebuah informasi akuntansi dianggap berkualitas jika memenuhi
persyaratan dapat dipahami, relevan, materialitas, keandalan, penyajian jujur,
substansi mengungguli produk, netralitas/netral, kepentingan sehat, kelengkapan,
dan dapat dibandingkan.

3
• Perbandingan antara manfaat dan biaya, berarti biaya pembuatan laporan
informasi akuntan tidak boleh melebihi manfaat yang diperoleh pihak
pengguna informasi.
• Dapat dipahami, berarti laporan yang dibuat harus sesuai dengan
pemahaman pihak pengguna.
• Relevan, berarti laporan informasi akuntansi bisa berguna secara langsung
dalam pengambilan keputusan.
• Dapat dipercaya, berarti informasi akuntansi dapat diuji, netral, dan
menyajikan keadaan yang sebenarnya.
• Nilai prediksi, berarti data yang ada saat itu bisa dijadikan dasar prediksi
di masa depan.
• Umpan balik, berarti berupa penerimaan, penolakan, atau pengambilan
peluang di masa lalu.
• Tepat waktu, berarti informasi akuntansi yang diberikan harus tepat waktu
agar pengambilan keputusan tidak tertunda.
• Dapat diperbandingkan dan konsisten, berarti informasi akuntansi harus
bisa diperbandingkan agar mengetahui persamaan dan perbedaan dengan
perusahaan sejenis.
• Materiality, berarti tidak menimbulkan kekeliruan dalam laporan
pengambilan keputusan.
SIA menurut Mulyadi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang
dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang
dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan (2001).
Sedangkan menurut Nugroho Widjajanto (2001), SIA adalah susunan formulir,
catatan, peralatan termasuk komputer dan perlengkapannya serta alat komunikasi,
tenaga pelaksanaannya dan laporan yang terkoordinasi secara erat yang didesain
untuk mentransformasikan data keuangan menjadi informasi yang dibutuhkan
manajemen.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa SIA merupakan suatu sistem yang
terdiri dari berbagai formulir, catatan dan laporan yang telah disusun dan
menghasilkan suatu informasi keuangan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

4
Dengan demikian manajemen perusahaan dapat melihat keuangan dengan jelas
melalui sistem tersebut. Selain itu, manajemen juga dapat mengontrol kinerja dari
sistem yang digunakan. Dahulu pencatatan akuntansi menggunakan cara yang
manual. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, saat ini sebagian besar SIA
menggunakan otomatisasi.

Sistem keuangan yang menyediakan informasi memiliki beberapa fungsi


dalam keberlangsungan usaha. Berikut beberapa fungsinya:

• Mengumpulkan semua data kegiatan bisnis perusahaan dan


menyimpan data tersebut secara efektif dan efisien. Selain itu, SIA
juga dapat mencatat semua sumber daya yang berpengaruh terhadap
usaha tersebut dan semua pihak yang terkait. Dengan fungsi ini,
tidak akan ada suatu hal dalam perusahaan yang tidak tercatat.
• Mengambil data yang diperlukan dari berbagai sumber dokumen
yang berkaitan dengan aktivitas bisnis. Data yang sudah tersimpan
akan lebih mudah diambil karena setiap detail dari data sudah
terekam dengan SIA.
• Membuat dan mencatat data transaksi dengan benar ke dalam jurnal-
jurnal yang diperlukan dalam proses akuntansi sesuai dengan urutan
dan tanggal terjadinya transaksi. Pencatatan ini bertujuan untuk
mempermudah pihak-pihak yang membutuhkan dalam pengecekan
semua transaksi sehingga jika terjadi suatu kesalahan dapat dikoreksi
dengan mudah dan dapat diketahui penyebabnya dengan cepat.

2.2. Budaya Tri Hita Karana Sebagai Dasar Penerapan Sistem Informasi
Akuntansi
Budaya (culture) adalah sebuah konsep yang dipinjam dari antropologi.
Antropolog percaya bahwa budaya memberikan solusi terhadap problem adaptasi
terhadap lingkungan. Bermacam-macam definisi budaya yang berbeda dan samar
telah dibahas dalam berbagai literatur. Hofstede (1991) mengungkapkan bahwa
budaya mencerminkan gabungan sifat manusia (misalnya penyebaran predisposisi

5
yang diwarisi oleh seluruh manusia) dan kepribadian (misalnya nilai dan ciri-ciri
lebih nyata yang diwarisi atau dipelajari oleh individual). Walaupun sifat manusia
adalah keras pendirian (intransigent), nilai dan ciri-ciri dibentuk oleh pengalaman
hidup individual. Nilai diperoleh pada awal kehidupan, terutama melalui keluarga,
lingkungan, dan kemudian di sekolah (sementara ciri-ciri dipelajari kemudian). Di
dalam negara, nilai individual berbeda-beda di dalam kelompok partisipasi
mereka yang menjadi dasar bagi kelompok, contoh nasionalitas, keagamaan, dan
etnisitas. Di sisi lain Hofstede (1998) mengungkapkan bahwa budaya adalah
karakteristik organisasi, bukan individual, tetapi ini diwujudkan dan diukur dari
perilaku individual verbal dan/atau non verbal – diagregatkan kepada level unit
organisasional mereka secara tradisional. Hodgetts dan Luthan (1994)
mengungkapkan bahwa budaya merupakan suatu pengetahuan orang yang
menggunakan pengalamannya untuk menghasilkan suatu sikap diri dan perilaku
sosial. Pengetahuan ini akan membentuk nilai-nilai, menciptakan sikap dan
memengaruhi perilaku orang sebagai anggota masyarakat atau keluarga
masyarakat tertentu yang tidak mungkin dihindari. Di sisi lain Tylor (1871) dalam
Susanto et al. (2008: 3) menjelaskan bahwa budaya adalah sekumpulan
pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, dan kapabilitas serta
kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai sebuah perkumpulan atau komunitas
tertentu. Kumpulan budaya-budaya yang ada inilah nantinya akan membentuk
budaya nasional yang akan membedakan mereka di dalam menetapkan tujuan.
Lebih lanjut Susanto et al. (2008: 3-4) mengungkapkan bahwa dalam ilmu
sosiologi, budaya diterjemahkan sebagai kumpulan simbol, mitos, dan ritual yang
pengting dalam memahami sebuah realitas sosial. Pendekatan yang digunakan
oleh ilmu sosiologi lebih kepada sikap sekelompok masyarakat atau komunitas
tertentu dalam menghadapi dan menyikapi beragam fenomena yang terjadi di
sekitarnya
Berdasarkan batasan budaya yang diuraikan di atas, maka manajer
perusahaan perlu memahami dan menangani perbedaan budaya agar aktivitas
perusahaannya sukses secara budaya. Untuk hal tersebut, manajer perusahaan
harus belajar banyak tentang norma budaya, nilai, dan kepercayaan dalam
masyarakat tempat mereka beraktivitas. Mereka juga harus belajar mengenali

6
simbol, nilai, dan ritual penting dari budaya. Hal ini penting karena pemahaman
ini sangat erat hubungannya dengan setiap gerak langkah kegiatan yang akan
dilakukan, baik itu merupakan suatu perencanaan yang bersifat strategis dan
taktikal atau merupakan kegiatan dari implementasi perencanaan. Seperti halnya
di dalam membuat rencana perubahan penggunaan SIA oleh bagian akuntansi,
mereka harus mendasarkan diri kepada budaya yang ada untuk memformulasikan
ke dalam perencanaan aktivitasnya.
Berbagai faktor seperti etnis, ekonomi, politik, agama, ataupun bahasa
memberikan kontribusi dalam pembentukan budaya. Begitu pula halnya dengan
budaya THK yang telah tumbuh dan berkembang pada masyarakat Bali telah
dipergunakan sebagai filosofi hidup bermasyarakat dan landasan falsafah bisnis
menuju keseimbangan dan harmonisasi dapat dikatakan sebagai budaya nasional.
Sebagian besar perusahaan berada dalam batas politik dari batas negara. Dengan
demikian, budaya dominan dari negara mempunyai efek terbesar terhadap
perusahaan. Secara khusus, budaya dominan biasanya memengaruhi bukan saja
bahasa dari transaksi, tetapi juga sifat dan tipe hukum yang mengatur perusahaan.
Konsep THK
Windia (2007) memaparkan bahwa tradisi masyarakat Hindu di Bali dalam
kehidupan sehari-hari mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan, keselarasan,
dan keseimbangan antara tujuan ekonomi, pelestarian lingkungan dan budaya,
estetika, dan spiritual. Konsep ini dikenal dengan filosofi THK. Filosofi THK
dikenal dalam dimensi hidup orang Bali yang merupakan tradisi masyarakat
Hindu di Bali. THK merupakan kearifan lokal (local genius) yang sudah menjadi
kepribadian budaya karena mampu mengakomodasi dan mengintegrasikan unsur-
unsur budaya luar kedalam kebudayaan asli. THK tidak hanya mampu
mengakomodasi dan mengintegrasikan unsur-unsur budaya luar kedalam
kebudayaan asli, tetapi sekaligus menjadi bingkai tatanan kehidupan masyarakat
Bali diberbagai sektor (Sulistyawati, 2000). Kusuma (2000) menyebutkan
berbagai sumber penting yang berkaitan dengan konsep THK adalah dari ajaran
agama Hindu, diantaranya adalah Brahma Sutra I.1.2; Chandogya Upanisad
VI.2.1; Rg Veda III.55.1; dan Bagawadghita III.10. Selanjutnya Palguna (2007)
menjelaskan bahwa prinsip THK merupakan filosofi yang diajarkan di dalam

7
Bhagawadghita (Kitab Suci Agama Hindu) saat Kresna memberitahukan kepada
Arjuna tentang 3 hal pokok untuk mencapai kebahagiaan tertinggi. Tiga hal pokok
untuk mencapai kebahagiaan tertinggi tersebut, yakni: manusia diajarkan tentang
dharma atau kebenaran Tuhan dan hakekat manusia, termasuk jiwa manusia;
untuk berusaha bagaimana meningkatkan keyakinan hati akan kebenaran Tuhan;
dan berusaha bagaimana berbuat di dalam kebenaran Tuhan itu.
Budaya THK terdiri atas tiga dimensi, yaitu parahyangan (hubungan
harmoni antara manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan harmoni antar
sesama manusia), dan palemahan (hubungan harmoni antara manusia dengan alam
lingkungannya). Wiana (2007: 3) mengemukakan bahwa ketiga dimensi THK
tersebut merupakan satu kesatuan yang simultan dan sinergis, tidak terpisah-pisah
antara yang satu dengan yang lainnya. Demikian halnya Krishna (2008: 23)
mengemukakan bahwa ketiga penyebab kesejahteraan itu merupakan Tri Tunggal
atau Three but One). Ketiga dimensi THK tersebut akan dijelaskan secara rinci
berikut ini.
a. Parahyangan Parahyangan adalah suatu konsep yang menginginkan adanya
harmoni antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Wiana (2007: 75)
mengungkapkan bahwa hubungan yang harmonis dengan Tuhan dapat
dibangun dengan cara percaya dan bhakti kepada Tuhan. Percaya dan bhakti
kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk yajńa (kesediaan berkorban), yaitu:
a) membenahi diri sendiri (swa artha), b) mengabdi kepada sesama (para
artha), dan c) konsisten memelihara kepercayaan dan bhakti pada Tuhan itu
sendiri.
Putra (2000) mengemukakan jika konsep THK dikaitkan dengan bisnis,
dalam dimensi parahyangan seorang pebisnis/karyawan memiliki keyakinan
bahwa keberhasilan yang dicapai bukanlah semata-mata karena kemampuan
dan kerja keras mereka melainkan keberhasilan tersebut karena
kehendak/ridho Tuhan. Dikatakan pula bahwa pendekatan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa dirasakan sebagai kekuatan religius yang menyebabkan
mereka dapat berpikir tenang dan jernih. Situasi ini dapat meningkatkan
kemampuan mereka untuk mengendalikan diri terhadap berbagai tindakan
yang negatif yang dapat merugikan pihak

8
lain sehingga pihak lain yang terkait dengan kegiatan bisnis, seperti
karyawan, pelanggan, pemilik perusahaan, pemerintah, dan masyarakat
merasa senang berhubungan dengan mereka.
b. Pawongan
b. Pawongan Ashrama dan Seekings (2001) menjelaskan bahwa teknik
penerapan THK dalam bidang pawongan dapat dijabarkan melalui
hubungan yang harmonis inter karyawan, antar karyawan dengan
manajemen perusahaan, dan antar karyawan serta manajemen pereusahaan
dengan masyarakat sekitarnya. Pitana (2002b) menjelaskan dalam kaitan
dengan dimensi pawongan pebisnis Hindu memiliki pandangan bahwa
manusia tidak hidup sendiri di dunia ini dan bahwa manusia selalu
mengharapkan bantuan dari sesamanya terutama orang-orang yang terkait
erat dengan kehidupannya. Oleh karena itu, mereka berusaha membina
hubungan harmonis dengan 61 karyawan, pelanggan, pemilik perusahaan,
pemerintah, dan masyarakat yang terkait dengan kegiatan bisnis
mereka.Dengan demikian segala bentuk ketidakpuasan dapat diselesaikan
dengan musyawarah tanpa mesti melakukan tindakan protes yang disertai
perusakan
c. Palemahan, adalah konsep yang berkaitan dengan hubungan harmonis
antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Dimensi THK bidang
pelemahan ini berhubungan dengan aspek fisik dari lingkungan di sekitar
kita. Dimensi ini dikaitkan dengan kegiatan bisnis menginginkan bahwa
pengelolaan perusahaan seharusnya memperhatikan alam lingkungan
internal dan alam lingkungan eksternal. Windia dan Dewi (2007: 41),
Ashrama dan Seekings (2001), serta Ashrama (2002) mengatakan bahwa
dalam ajaran agama Hindu dikembangkan konsep-konsep penataan alam
lingkungan untuk menjaga harmonis dengan alam yang disebut dengan Tri
Mandala dan Tri Angga.

9
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa :
1. Akuntansi merupakan suatu proses untuk mencatat, mengolah, transaksi
keuangan yang terjadi di dalam perusahan, menyajikan informasi kepada
pihak-pihak yang berkepentingan, dan menginterprestasikan informasi
tersebut atas laporan atau informasi yang direrima, sehingga dapat
digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. SIA adalah sistem
akuntansi dengan pengembangan informasi lebih luas dengan lebih
menekankan informasi kepada manajemen (pengguna internal) tanpa
mengurangi informasi kepada pihak luar (pengguna eksternal).
2. Akuntansi sebagai SI karena tujuan akuntansi adalah menyediakan
informasi bagi pengambil keputusan. Setiap perusahaan berhadapan
dengan masalah pengambilan keputusan. Informasi yang memadai atau
informasi yang berkualitas adalah informasi yang mempunyai
karakteristik, yaitu: akurat, tepat waktu, dan tepat nilainya..
3. Putra (2000) mengemukakan jika konsep THK dikaitkan dengan bisnis,
dalam dimensi parahyangan seorang pebisnis/karyawan memiliki
keyakinan bahwa keberhasilan yang dicapai bukanlah semata-mata karena
kemampuan dan kerja keras mereka melainkan keberhasilan tersebut
karena kehendak/ridho Tuhan
4. Ashrama dan Seekings (2001) menjelaskan bahwa teknik penerapan THK
dalam bidang pawongan dapat dijabarkan melalui hubungan yang
harmonis inter karyawan, antar karyawan dengan manajemen perusahaan,
dan antar karyawan serta manajemen pereusahaan dengan masyarakat
sekitarnya
5. Dimensi THK bidang pelemahan ini berhubungan dengan aspek fisik dari
lingkungan di sekitar kita. Dimensi ini dikaitkan dengan kegiatan bisnis
menginginkan bahwa pengelolaan perusahaan seharusnya memperhatikan
alam lingkungan internal dan alam lingkungan eksternal

10
DAFTAR PUSTAKA

Sadha Suardikha, I Made, dkk. 2017. SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


BERBASIS TRI HITA KARANA (THK). Unit Penerbit Percetakan CV
SASTRA UTAMA.

Unknown. 2020. Akuntansi sebagai Sistem Informasi. (URL:


http://lovekonomi.blogspot.com/2017/08/akuntansi-sebagai-sistem-
informasi.html )

Widya Utami, N. 2020. Apa itu Sistem Informasi Akuntansi (SIA)?. (URL:
https://www.jurnal.id/id/blog/pengertian-dan-fungsi-sistem-informasi-
akuntansi-dalam-perusahaan/ )

Windia, Wayan, 2007. Analisis Bisnis yang Berlandaskan Tri Hita Karana
(Sebuah Kasus Pelaksanaan/Penjabaran PIP Kebudayaan UNUD), Wahana,
Edisi No. 57 Th. XXIII Mei 2007, Hal 4-6.

Windia, Wayan dan Dewi, Ratna Komala, 2007. Analisis Bisnis yang
Berlandaskan Tri Hita Karana, Denpasar: Penerbit Universitas Udayana.
Winarno, Wing Wahyu, 2006. Sistem Informasi Akuntansi, Edisi 2,
Yogyakarta: Unit Penerbit Percetakan STIM YKPN.