Anda di halaman 1dari 20

PERBANDINGAN KADAR KLOROFIL DAUN TANAMAN PAKCOY

(Brassica rapa L.) YANG DITANAM MENGGUNAKAN METODE

KONVENSIONAL DENGAN METODE HIDROPONIK

Catt.
Proposal Penelitian ACC untuk seminar Proposal
17/11/2020

Resti Fevria, S.TP, MP

Oleh

Putri Nurhaziela

17032070/2017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020

A. Judul Penelitian : Perbandingan Kadar Klorofil Daun Tanaman Pakcoy

(Brassica rapa L.) yang Ditanam Menggunakan Metode Konvensional

dengan Metode Hidroponik

B. Bidang Kajian : Hidroponik

C. Latar Belakang

Sayuran merupakan tanaman holtikultura yang sangat memegang

peranan penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai sumber gizi maupun

untuk menambah selera makan. Sayuran juga sebagai salah satu sumber

vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, selain itu

sayuran banyak mengandung serat. Menurut (Kurniawan., et al. 2010)

sayuran yang bewarna hijau merupakan sumber pigmen, mineral dan vitamin

terbaik yang penting bagi kehidupan manusia. Pigmen hijau tersebut berasal

dari klorofil pada sayuran.

Klorofil merupakan zat hijau daun paling nyata yang terdapat pada

bagian tumbuhan. Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu chloros

artinya hijau dan phyllos artinya daun. Istilah ini diperkenalkan pada tahun

1818, dan pigmen tersebut diekstrak dari tanaman dengan menggunakan


pelarut organik. Klorofil juga pemberi warna pada alga dan bakteri

fotosintetik. Pigmen ini berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan dengan

menyerap dan mengubah energi cahaya menjadi energi kimia.

Pigmen klorofil terdapat di dalam organel sel yaitu kloroplas yang

dapat ditemukan pada daun dan permukaan batang, yaitu di dalam lapisan

sponge di bawah kutikula. Kloroplas mengandung sekitar 10 % klorofil dan

60 % protein. Namun besar nilai tersebut tidaklah pasti, masih dapat

bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa hal. (Anonim, 2011). Beberapa

faktor yang mempengaruhi kandungan klorofil pada daun adalah intensitas

cahaya, suhu, dan kandungan hara (Song-Ai dan Banyo, 2011). Cara untuk

memenuhi kandungan hara dan nutrisi yaitu dengan menggunakan pupuk

organik seperti pupuk kandang dan ampas. Pemberian pupuk kandang dapat

dilakukan pada metode konvensional sedangkan pemberian ampas dapat

dilakukan pada metode hidroponik.

Metode konvensional merupakan metode menanam yang bergantung

pada kondisi tanah. Umumnya petani membudidayakan pada lahan bekas

olahan yang sudah digunakan berulang-ulang. Tanah yang digunakan secara

berulang telah kehilangan unsur haranya, sehingga dibutuhkan pemupukan

tambahan. Pemupukan yang dilakukan oleh petani adalah pemupukan sintetis

menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik. Menurut Parman (2007),

dampak dari penggunaan pupuk kimia sintesis menghasilkan peningkatan

produktivitas tanaman yang cukup tinggi. Namun penggunaan pupuk kimia


sintesis dalam jangka waktu yang relatif lama umumnya berakibat buruk pada

kondisi tanah. Tanah menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air

dan cepat menjadi asam yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas

tanaman. Pemupukan sintetis juga memiliki dampak buruk terhadap kesehatan

manusia jika pupuk yang diberikan tertinggal atau terakumulasi pada jaringan

tanaman dan dikonsumsi oleh manusia dalam jumlah berlebihan. Oleh sebab

itu metode lain yang dapat digunakan sebagai alternatif lain yaitu bercocok

tanam dalam hidroponik.

Metode hidroponik dipilih karena hidroponik sendiri merupakan solusi

bagi masyarakat untuk membudidaya sayur dan buah karena tidak

memerlukan tanah sama sekali sebagai media tanaman, dan dapat

dikembangkan di lahan sempit atau bahkan di dalam ruangan (Amri dkk,

2017). Kelebihan yang diperoleh dari budidaya hidroponik adalah dapat

dilakukan sepanjang waktu tidak tergantung musim. Jenis komoditas yang

ditanam juga tidak terbatas pada tanaman tertentu saja (Sastro dan Rokhmah,

2016). Hidroponik juga memiliki keuntungan bagi lingkungan sosial karena

dapat dijadikan sarana pendidikan dan pelatihan dibidang pertanian modern

mulai dari kanakkanak sampai dengan orang tua, memperindah lingkungan

dengan kesan pertanian yang bersih dan sehat serta usaha agribisnis di

pedesaan tanpa mencemari lingkungan (Tallei dkk, 2017). Sayuran yang dapat

ditanam menggunakan metode hidroponik dan konvensional seperti pakcoy


Tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) dapat dikonsumsi mentah sebagai

lalapan atau menjadi berbagai jenis makanan. Pakcoy terkandung zat

betakaroten yang tinggi yang dapat mencegah penyakit katarak. (Sadewa,

2016). Menurut (Hidayat., dkk. 2014) pakcoy juga mengandung gizi protein,

lemak nabati, karbohidrat, serat, Ca, Mg, Fe, Na, Vitamin A dan vitamin C.

Selain kandungan gizi, mineral dan vitamin, sayuran berhijau daun seperti

sawi hijau jenis pakcoy juga merupakan salah satu sumber klorofil yang

bermanfaat bagi tubuh manusia. Dengan warna daunnya yang lebih hijau

gelap dibandingkan jenis sawi hijau caisim, diduga bahwa kandungan klorofil

pada daun sawi hijau pakcoy ini lebih tinggi dari jenis sawi hijau yang lain.

pertumbuhan pakcoy dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tumbuhnya.

Menurut beberapa penelitian diatas belum ada data tentang klorofil

tanaman pakcoy yang ditanam secara konvensional dan hidroponik. Karena

itu, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“Perbandingan Kadar Klorofil Daun Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) yang

Ditanam Menggunakan Metode Konvensional dengan Metode Hidroponik”

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

1. Berapa kadar klorofil daun tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) yang

ditanam dengan media tanah (konvensional) ?


2. Berapa kadar klorofil daun tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) yang

ditanam dengam media air (hidroponik) ?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui kadar klorofil daun tanaman pakcoy (Brassica rapa L.)

yang ditanam dengan media tanah (Konvensional) ?

2. Mengetahui kadar klorofil daun tanaman pakcoy (Brassica rapa L.)

yang ditanam dengam media air (hidroponik) ?

F. Hipotesis

Kadar klorofil daun tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) yang

ditanam dengan metode konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan

menggunakan metode hidroponik.

G. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi tentang kadar klorofil pakcoy (Brassica rapa L.).

2. Memberikan informasi tentang metode konvensional dan metode

hidroponik sebagai metode tanam.


3. Sebagai acuan untuk peneliti lainnya dalam melanjutkan penelitian

mengenai variabel lainnya.

H. Tinjauan Pustaka

1. Klorofil

Klorofil mempunyai rantai fitil (C20H39O) yang akan berubah menjadi

fitol (C20H39OH) jika terkena air dengan katalisator klorofilase. Fitol adalah

alkohol primer jenuh yang mempunyai daya afinitas yang kuat terhadap O2

dalam proses reduksi klorofil (Muthalib, 2009). Sifat fisik klorofil adalah

menerima dan atau memantulkan cahaya dengan gelombang yang berlainan

(berpendar = berfluoresensi). Klorofil banyak menyerap sinar dengan panjang

gelombang antara 400700 nm, terutama sinar merah dan biru. Sifat kimia

klorofil, antara lain (1) tidak larut dalam air, melainkan larut dalam pelarut

organik yang lebih polar, seperti etanol dan kloroform; (2) inti Mg akan

tergeser oleh 2 atom H bila dalam suasana asam, sehingga membentuk suatu

persenyawaan yang disebut feofitiny yang berwarna coklat

(Dwidjoseputro, 1994). Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi

fotosintesis. Fotosintesis merupakan proses perubahan senyawa anorganik

(CO2 dan H2O) menjadi senyawa organik (karbohidrat) dan O2 dengan

bantuan cahaya matahari. Klorofil merupakan pigmen utama yang terdapat

dalam kloroplas. Klorofil menyebabkan cahaya berubah menjadi radiasi

elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Misalnya, cahaya


matahari mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai

violet, tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidakdiserap dengan baik

secara merata oleh klorofil. Klorofil dapat menampung energi cahaya yang

diserap oleh pigmen cahaya atau pigmen lainnya melali fotosintesisi, sehingga

fotosintesis disebut sebagai pigmen pusat reaksi fotosintesis. Dalam proses

fotosintesis tumbuhan hanya dapat memanfaatkan sinar matahari dengan

bentuk panjang gelombang antara 400-700 nm (Ai, 2011). Diketahui bahwa

komponen utama penyusun klorofil adalah Nitrogen dan Magnesium.

Sebagaimana dinyatakan oleh Suntoro (2002) bahwa kandungan hara di dalam

tanah seperti Nitrogen, dan Magnesium merupakan hara yang sangat esensial

dalam pembentukan klorofil pada jaringan tanaman. Klorofil mampu

berfungsi sebagai pembersih alamiah (mendorong terjadinya detoksifikasi),

antioksidan, antipenuaan dan antikanker. Selain sebagai sumber pigmen

Ada tiga fungsi utama klorofil dalam fotosintesis yaitu memanfaatkan

energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilakn karbohidrat dan

menyediakan energi bagi ekosistem secara keseluruhan. Karbohidrat yang

dihasilkan pada fotosintesis akan dibuah menjadi protein, lemak, asam nukleat

dan molekul organik lainnya. Klorofil dapat menyerap cahaya yang berupa

radiasi elektromagnetik pada spectrum kasat mata (Visible). Matahari

memiliki panjang gelombang kasat mata dari merah sampai violet, tetapi tidak

semua panjang gelombang dapat diserap dengan baik oleh klorofil. Klorofil

dapat menampung cahaya yang diserap oleh pigmen lainnya melalui


fotosintesis, sehingga klorofil disebut juga sebagai pigmen pusat reaksi

fotosintesis (Bahri,2010).

2. Konvensional (media tanah)

Merupakan bercocok tanam dengan menggunakan media tanah. Di

tanah terdapat kelompok mikroorganisme tanah yang menguntungkan bagi

kesuburan tanah dan tanaman. Namun metode bercocok tanam dengan tanah

memerlukan kondisi tanah yang baik, karena kondisi tanah yang baik

mengandung unsur hara yang dapat membantu pertumbuhan tanaman dan

mempengaruhi kualitas sayuran serta kadar klorofilnya.

3. Hidroponik

Hidroponik merupakan lahan budidaya pertanian tanpa menggunakan

media air, sehingga hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan

dengan menggunakan air sebagai medium untuk menggantikan tanah

( Roidah, 2014 ). Sistem hidroponik memiliki banyak kelebihan dibandingkan

dengan budidaya tanaman dengan media tanah. Adapun kelebihan dari

hidroponik, yaitu 1) perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih

terkontrol, 2) pemakaian pupuk lebih hemat (efisien), 3) tanaman yang mati

lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru, 4) tidak membutuhkan

banyak tenaga kasar karena metode kerja lebih hemat dan memiliki

standardisasi, 5) tanaman dapat tumbuh lebih pesat dan dengan keadaan yang

tidak kotor dan rusak, 6) hasil produksi lebih kontinu dan lebih tinggi
dibandingkan dengan penanaman di tanah, 7) harga jual produk hidroponik

lebih tinggi dari non-hidroponik, 8) beberapa jenis tanaman bisa dibudidaayan

di luar musim, 9) tidak ada resiko kebanjiran, erosi, kekeringan atau

ketergantungan pada kondisi alam, 10) tanaman hidroponik dapat dilakukan

pada lahan atau ruang yang terbatas, misalnya di atap, dapur atau garasi

(Lingga, 2006). adapun kelemahan dari hidroponik yaitu membutuhkan biaya

yang besar, memiliki kemampuan serta ketelitian khusus serta bila terjadi

kesalahan pada sistemnya maka tanaman akan mati (Unal, et al, 2016).

4. Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.)

Tanaman pakcoy selain memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi

juga memiliki prospek yang cukup menjanjikan baik di pasar domestik

maupun pasar internasional. Kebutuhan akan tanaman sayuran di pasar yang

paling utama adalah untuk konsumsi rumah tangga dan pengadaan bagi

restoran-restoran yang menyajikan makanan berbahan dasar sayur. Pakcoy

dapat dijadikan sebagai bahan konsumsi untuk sayuran baik dalam keadaan

segar maupun dalam bentuk olahan (Andreeilee et al. 2014). Budidaya

tanaman pakcoy dapat secara konvensional maupun dengan sistem

hidroponik.

Klasifikasi Pakcoy
Regnum Plantae

Divisio Tracheophyta

Classis Magnoliopsida

Ordo Brassicales

Familia Brassicaceae

Genus Brassica

Species Brassica rapa L.

Brassica rapa L. memiliki daun bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau

tua dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah

mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai

daun berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman menvapai

tinggi 15-30 cm. Keragaman morfologis dan periode kematangan cukup besar pada

berbagai varietas dalam kelompok ini. Terdapat bentuk daun berwarna hijau pudar

dan ungu yang berbeda (Rubatzky, 1998).


Tanaman pakcoy termasuk tanaman yang berumur pendek dan memiliki

kandungan gizi yang diperlukan tubuh. Kandungan betakaroten pada pakcoy dapat

mencegah penyakit katarak. Selain mengandungan betakaroten yang tinggi pakcoy

dapat mengandung banyak gizi diantaranya protein, lemak nabati, karbohidrat, serat,

Ca, Mg, Fe, sodium, vitamin A, dan vitamin C (Perwtasari,2012)

Kandungan zat gizi dalam 100 g pakcoy ( Brassica rapa L. ) dapat dilihat

pada tabel 1.

Tabel 1. Kandungan zat gizi 100 g pakcoy ( Brassica rapa L. )

No Zat gizi Kandungan

1 Protein 2,3 (g)

2 Lemak 0,3 (g)

3 Karbohidrat 4,0 (g)

4 Ca 220,0 (mg)

5 P 38,0 (mg)

6 Fe 2,9 (mg)

7 Vitamin A 1.940,0 (mg)

8 Vitamin B 0,09 (mg)

9 Vitamin C 102 (mg)

I. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskripif. Penelitian deskriptif

adalah penelitian memakai metode untuk menggambarkan suatu hasil

penelitia. Penelitian deskriptif mengacu pada penelitian yang menggambarkan

suatu fenomena atau kelompok yang sedang diteliti. Pada penelitian deskriptif

ini kami mengukur kadar klorofil daun tanaman pakcoy yang diukur dengan

alat spektrofotometer.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan yang November - Desember

2020, di Laboratorium Penelitian Terpadu Jurusan Biologi FMIPA UNP.

3. Alat dan Bahan

Penelitian ini menggunakan alat-alat seperti spektrofotometer, mortar,

kain kasa, kuvet, beaker glass, baki atau nampan, blue tips, mikropipet dan

timbangan analitik.. Bahan yang digunakan yaitu daun tumbuhan pakcoy

(Brassica rapa L.) dan alkohol 95 %

4. Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini dilakukan pengujian kadar klorofil daun pakcoy

hidroponik dan daun pakcoy non hidroponik di laboratorium Fisiologi

Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Padang. Pengukuran Klorofil dilakukan menggunakan

spektofotometer berdasarkan prosedur yang ada pada buku penuntun Fisiologi


Tumbuhan. Data kadar klorofil akan diambil pada panjang gelombang 649 nm

dan 665 nm. Kadar klorofil a, klorofil b dan klorofil total dihitung

menggunakan rumus Wintermans dan de Mots dalam Penuntun Fisiologi

Tumbuhan (2017) :

Klorofil total (mg/L) = 20,0 OD649 + 6,1 OD665

Keterangan : OD (Optical Density) = Nilai absorbansi klorofil

5. Prosedur Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini berdasarkan tahapan sebagai berikut :

a. Pembuatan ekstrak

Menimbang 1 gr daun yang masih segar, kemudian

memotongnya kecil-kecil.

Mengekstrak potongan daun mmenggunakan alkohol 95%

dengan cara menggerusnya dalam mortar sampai seluruh klorofil terlarut.

Yakinkan bahwa semua pgmen klorofil daun telah keluar seluruhnya.

Hal tersebut dapat dilihat dari ampasnya yang berwarna putih.

Menyaring ekstrak yang didapat dengan kain kasa dan

membilasnya sampai bersih dengan sedikit alkohol 95%. selanjutnya

memasukkan kedalam beaker glass 100 ml. Apabila volume ekstrak

belum mencapai 100 ml, maka ditambahkan alkohol 95 %.


Kemudian memasukkan ekstrak kedalam cuvet dan selanjutnya

mengukur absorbansinya atau “optical density” larutan ekstrak tersebut

pada panjang gelombang 649 dan 665 nm.

b. Menentukan panjang gelombang

Memasukkan kuvet yang sudah berisi ekstrak kedalam

spektofotometer, kemudian menghitung besar absorban.

Tabel 2. panjang gelombang berdasarkan absorban A dan B

Panjang gelombang ( ʎ ) Absorban

649 A dan B

665 A dan B

c. Menentukan kadar klorofil

Kadar klorofil a dan b dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Klorofil total (mg/L) = 20,0 OD649 + 6,1 OD 665

Klorofil a (mg/L) = 13,7 OD649 - 5,76 OD665

Klorofil b (mg/L) = 25,8 OD649 - 7,7 OD665

( Diturunkan oleh Wintermans dan De Mots, 1965 )

J. Analisis Data
Data hasil pengamatan dianalisis metode spektofotometri menggunakan

alat spektofotometer. Dengan menggunakan 2 kali pengulangan terhadap panjang

gelombang 649 dan 665 nm.

DAFTAR PUSTAKA

Andreeilee F, Santoso M, Nugroho A. 2014. Pengaruh Jenis Kompos Kotoran Ternak

dan Waktu Penyiangan Terhadap Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa

sub. chienensis) Organik. Jurnal Produksi Tanaman.2(3):190-197.

Anonim. 2011. Klorofil. Situs Web Wikipedia Indonesia, Diakses pada tanggal 9

Oktober 2011.

Dwidjoseputro, D. 1994. Pigmen Klorofil. Erlangga. Jakarta.


Hidayat, A. A. A & Musrifatul Uliyah. 2014. Pengantar kebutuhan dasar manusia.

Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, M. 2009. Sistem Hidroponik dengan Nutrisi dan Media Tanam Berbeda

terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada. Media Litbang Sulteng 2(2):131-136.

Hidroponik, 2016 Kelebihan dan Kekurangan Bercocok Tanam Hidroponik.

https://www.hidroponik.web.id/2016/09/25/kelebihan- dan -kekurangan-

bercocok-tanam- hidroponik/. Diakses pada tanggal 21 November 2018

Izzuddin, A. (2016). Wirausaha Santri Berbasis Budidaya Tanaman

Hidroponik.Jurnal Pengabdian Masyarakat/DIMAS, 12(2), 351-366.

Muthalib, A. 2009. Klorofil dan Penyebaran di Perairan. http://wwwabdulmuthalib.

co.cc/2009/06/. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2011.

Nurdin, Kushart, C. M., Tanziha, I., Januwati, M. 2009. Kandungan Klorofi Berbagai

Jenis Daun Tanaman dan Cuturunan Klorofil serta Karakteristik Fisiko-

Kimianya. Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2009 4(1): 13 – 19.

Parman, S. 2007. Pengaruh Pertumbuhan Pupuk Organik Cair Terhadap

Pertumbuhan Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.). Semarang:

Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas

FMIPA UNDIP.
Perwtasari, B., Tripatmasari, M., dan Wasonowato, C. (2012). Pengaruh media tanah

dan nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy (Brassica juncea

L.) dengan sistem hidroponik, Agrovigor. Volume 5(1):14-25.

Rahmina, W., Nurlaelah., Handayani. 2017. Pengaruh Perbedaan Komposisi Limbah

Ampas Tahu Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pak Choy (Brassica Rapa L. Ssp.

Chinensis) Quaagga, Volume 9 No. 2, 38-46.

Roidah, I.S. (2014). Pemanfaatan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Hidroponik.

Jurnal Universitas Tulungagung BONOROWO, 1(2), 43-50.

Rosyida, dkk. 2017. The Effect Of NPK Fertilizer Doser and Plant Growth

Promoting Rhizobacteria (PGPR) On Fresh Weight and Leaf Chlophill

Content Of pachoy (Brassica rapa L.). Bioma, vol.6, No.2

Sadewa, D. P. P. 2016. Pemanfaatan Padatan Digestat Sebagai Campuran Media

Tanam Pak Choy (Brassica Rapa L.) Dengan Sistem Irigasi Bawah Permukaan.

Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Setiari, N., dan Nurchayati, Y. 2009. Eksplorasi Kandungan Klorofil pada beberapa

Sayuran Hijau sebagai Alternatif Bahan Dasar Food Supplement. BIOMA, Vol

11, No. 1, Hal. 6-10 Juni 2009. ISSN: 1410-8801.

Song-Ai, N., dan Banyo, Y. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator

Kekurangan Air Pada Tanaman. Jurnal Ilmiah Sains Vol. 11 No. 2, Oktober

2011. Hal: 166-173.


Sumenda, 2011. Analisis Kandungan Klorofil Daun Mangga (Mangifera indica L.)

Pada Tingkat Perkembangan Daun Yang Berbeda. Bioslogos, 1, (1).

Suntoro. 2002. Pengaruh Penambahan Bahan Organik, Dolomit dan KCl Terhadap

Kadar Klorofil dan Dampaknya Pada Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogea L.).

BioSMART. Vol. 4 No. 2:36-46. (Terakreditasi Nasional No.

02/DIKTI/Kep/2002).

Suryani, R. 2015. Hidroponik budidaya tanaman tanpa tanah. Arcitra. Yogyakarta.

Sutedjo, M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta .

Thorpe, N. O. 1984. Cell Biology. John Wiley and Sons. New York. van der Mescht,

A., J. A. de Ronde, F.T. Rossouw. 1999. Chlorophyll

Fluorescence and Chlorophyll Content as A Measure of Drought Tolerance in Potato.

South African Journal of Science 95:407-412.

Unal, S., IIkay. S., Mustafa. C., Ridvan. Y., Ibrahim. I., Ismail. A. 2016. MiniReview:

Hydrophonic Greenhouse The Common Problems And

Solutions.International Journal of Agriculture and Environmental

Research. Volume. 1(2):65-78

Wijaya, K.2000. Pengaruh konsentrasi dan frekuensi pembberian pupuk organik cair

hasil perombakan anaerob limbah makanan terhadap pertumbuhan tanaman

sawi (Brasicca juncea L.) Skripsi. Universitas Sebelas Maret.