Anda di halaman 1dari 4

Mochamad Arya Seta

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

Home Profil Login

Kategori Perspektif Hubungan Internasional 2 Pengumuman


a g o ba u a
Analisis Hubungan diposting oleh mochamad-arya-seta-fisip14 pada 24 November 2014 Blog Hutan Greenpeace
Internasional (2) di Pengantar Hubungan Internasional - 0 komentar Indonesia

Bisnis Internasional (2)


Perspektif Hubungan Internasional 2
Ekonomi Politik Internasional
(10) Hubungan Internasional muncul di pengaruhi oleh great debate. Great
Energi dan Transformasi debate merupakan merupakan suatu istilah perdebatan yang terjadi antara
Internasional (1) paham – paham, ide – ide dan asumsi – asumsi yang muncul dalam
Francais (1) hubungan internasional. Seiring perkembangan hubungan internasional dari
masa masa muncul berbagai macam great debate dalam yang Blogroll
Gerakan Sosial dan Politik (1)
mempengaruhi perkembangan hubungan internasional hingga saat ini.
Humanitarianisme dan Politik Macam – macam great debate yang dimaksud yakni “Great debate yang
Global (14) pertama adalah antara utopian liberalisme dan realisme, great debate yang
Ide Politik Alternatif Dan kedua adalah pada metode pendekatan tradisional dan metode pendekatan Komentar Terbaru
Globalisasi di Negara behavioralisme, great debate yang ketiga adalah perdebatan antara
Berkembang (2) neorealisme/neoliberalisme dan neo-Maxisme, dan great debate yang Veronica di Sistem Hukum dan

keempat yang sedang muncul adalah antara tradisi yang mapan dan Konstitusi di Indonesia
Kosmopolitanisme Nasionalisme
alternatif – alternatif pospositivis.” (Jackson & Sorensen, 1999 : 84). Darrell di Sistem Hukum dan
dan Fundamentalisme (7)
Konstitusi di Indonesia
Masyarakat Budaya Politik Brian di Sistem Hukum dan
Great debate neorealisme/neoliberalisme merupakan perdebatan yang
Afrika (8)
muncul sebagai penyempurna great debate yang pertama yakni great Konstitusi di Indonesia
Masyarakat Budaya Politik Asia debate realisme dan liberalisme. Adapun beberapa perdebatan yang terjadi Joie di Sistem Hukum dan
Tenggara (11) antara neorealisme dan neoliberalisme. Contoh perdebatan yang pertama Konstitusi di Indonesia
Masyarakat Budaya Politik Asia yakni permasalahan aktor kaum neorealisme beranggapan bahwa negara Brendan di Sistem Hukum dan

Timur (4) merupakan aktor utama dan mendominasi dalam hubungan internasional. Konstitusi di Indonesia

Masyarakat Budaya Politik Namun, seiring dengan pengaruh metodologi kaum neorealisme mulai
Eurasia (1) mengakui bahwa aktor non-negara seperti Intergovermental Organizations
Arsip
(IGOs), Nongovernmental Organizations (NGOs), Dan Multinational
Negosiasi dan Diplomasi (11)
Corporations (MNCs) juga memiliki peranan dalam hubungan internasional.
Organisasi Internasional (1) Tetapi kedudukan aktor non-negara tersebut masih dibawah otoritas aktor
Pengantar Globalisasi (8) negara yang dominan. Sedangkan neoliberalis memiliki pemikiran atau teori Pengunjung
Pengantar Hubungan yang sangat kontra dengan pemikiran atau teori kamu neoliberalisme. Kaum
Internasional (14) neoliberalisme berpendapat bahwa non-negara merupakan faktor utama 234.844
dalam hubungan internasional. Kaum neoliberalisme mempercayai bahwa
Politik Anti Korupsi (1)
semakin banyak institusi, perusahaan, organisasi dan aktor non-negara
Politik Dan Keamanan lainnya semakin tumbuh dan berkembang maka semakin besar pula
Internasional (4) pengaruh aktor non-negara dalam hubungan internasional. Dari sisi
Prinsip Prinsip Ekonomi perdebatan keuntungan, keuntungan yang dimaksud yakni timbal balik yang
Internasional (6) diterima oleh masing – masing negara yang melakukan kerjasama. Kaum
Sejarah Diplomasi (10) neorealisme memiliki pemikiran bahwa keuntungan yang diperoleh masing –
masing negara dalam melakukan kerjasama bersifat relatif. Karena semakin
Studi Strategis Indonesia 1:
besar atau kuat power suatu negara yang diberikan ke negara lain maka
Negara Bangsa & Struktur
semakin besar pula keuntungan yang diterima. Sedangkan kaum
Dasar (10)
neoliberalisme berpendapat bahwa keuntungan yang di terima oleh suatu
Studi Strategis Indonesia II negara itu sama dengan apa yang telah di berikan (absolute gain). “Kedua
Politik Luar Negeri RI (4) perspektif ini sebenarnya saling berbagi ide, dalam artian neoliberalisme
Teori Hubungan Internasional mengakui ide – ide yang di cetuskan oleh realis, dan begitu pula sebaliknya.
(12) Perdebatan ini disebut perdebatan intra-paradigma.” (Baylish & Smith,
Teori Perbandingan Politik (1) 2001)

The Political System of The


Selain neorealisme dan neoliberalisme ada pula perdebatan neo-
United States of America (7)
Marxisme/strukturalisme. Neo-Marxisme dikemukaan oleh Karl Marx. Neo-
Marxisme ini mengkritik atas pandangan atau pemikiran yang di kemukakan
oleh kaum realisme dan liberalisme. Marxisme merupakan masa dimana
Artikel Terbaru
revolusi industri terjadi yang dilakukan oleh kaum proletar terhadap borjuis.
“Marxisme memiliki sebuah pandangan yaitu teori ini dibentuk untuk
Anti-Corruptions & Civil Rights
membuat sebuah tatanan dunia yang tidak memilik kelas maupun
Commission (ACRC) sebagai
kesenjangan sosial.” (Goldstein, 2005). Marxisme memiliki pemikiran bahwa
Instrumen Pemberantasan
kapitalisme harus di hapuskan dan dilawan untuk mewujudkan keadilan
Korupsi Korea Selatan dan
bersama. Teori neo-Marxisme terfokus kepada permasalahan ekonomi dan
Lesson Learned bagi Indonesia
aspek material. Walau bagaimanapun juga kemunculan teori neo-Marxisme
Pengaruh Donald Trump ini dianggap masih belum sempurna dan masih terdapat banyak
sebagai Presiden Amerika kekurangan. Maka dari itu muncul lah strukturalisme yang merupakan
Serikat dalam Menjamin aplikasi dari teori – teori Marxisme dan merupakan sebuah kritik bagi
Keamanan di wilayah Baltik Marxisme.
Teori Gerakan Sosial dan
Relasinya Terhadap Fenomena Selain neorealisme/neoliberalisme dan neo-Marxisme/strukturalisme ada
Sosial dalam Kajian Gerakan pula positivisme dan pospositivisme yang turut serta mempengaruhi
Sosial Politik perkembangan hubungan interasional. Lalu, apakah yang dimaksud dengan
positivisme? Positivisme pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte
Kepentingan Geopolitik Energi
“Positivisme merupakan metodologi penting dalam HI. Metodologi positivis
Tiongkok terhadap Afrika dalam
dalam HI merupakan warisan dari behavioralisme, metodologi positivis
Forum on China-Africa
menjalankan sebagian besar asumsi dan sikap kaum behavioralisme,
Cooperation (FOCAC)
meskipun biasanya melalui cara yang lebih rumit. Positivis berpendapat
Peacebuilding sebagai Tujuan
bahwa observasi dan pengalaman merupakan kunci untuk membangun dan
Intervensi Asing di Afrika
menilai teori – teori ilmiah.” (Nicholason 1996 dalam Jackson & Sorensen,
1999 : 294). Metode positivis ini lebih menekankan kepada pentingnya
proses dan teori empiris untuk menganalisa fenomena dan permasalahan
Artikel Populer
yang ada dalam hubungan internasional. Inti dari positivisme adalah
epistemologinya yang menegaskan bahwa ilmuwan dapat membuat
Sistem Hukum dan Konstitusi di generalisasi tentang dunia sosial termasuk hubungan internasional. Selain
Indonesia positivisme ada pengauh pospositivisme dalam HI. Apakah yang dimaksud
Korelasi antara Sistem dengan pengaruh pospositivisme? “pospositivisme merupakan paham yang
Westphalia dan Kedaulatan luas, mencakup padangan – pandang metodologis yang berbeda yakni teori
Negara dengan Politik kritis, posmodernisme, konstruktivisme, dan teori normatif.” (Jackson &
Keamanan Internasional Soresen, 1999 : 299). Dalam perdebatan yang terjadi antara positivis dan

Arti dan Hubungan Antara positivisme muncul dan banyak berkembangnya teori – teori baru untuk

Komunikasi, Etika dan


mendukung perkembangan hubungan internasional.

Negosiasi
Lalu apakah yang dimaksud dengan teori kritis, posmodernisme,
Anti-Corruptions & Civil Rights
konstruktivisme dan teori normatif? Yang pertama yakni teori kritis, teori
Commission (ACRC) sebagai
kritis merupakan teori yang dikembangkan oleh sekelompok kecil ilmuwan
Instrumen Pemberantasan
yang berasal dari Jerman. “Teori kritis menolak tiga postulat dasar
Korupsi Korea Selatan dan
positivisme, yakni realitas eksternal objektif, perbedaan subjek/objek, dan
Lesson Learned bagi Indonesia
ilmu sosial bebas nilai.” (Jackson & Sorensen, 1999 : 299). Jika dikaji
Pembentukan Dan melalui HI, teori kritis ini tidak terbatas pada suatu pengujian negara dan
Perkembangan Nasionalisme di sistem negara tetapi memfokuskan lebih luas pada kekuatan dan dominasi
Afrika di dunia secara keseluruhan. Yang kedua yakni posmodernisme,
“Posmodernisme merupakan teori sosial yang berasal dari kelompok filosof
Perancis pasca perang yang menentang filsafat eksistensialisme yang
dominan pada saat itu.” (Jackson & Sorensen, 1999 : 302). Posmodernisme
ini merupakan suatu teori yang mengandung perspektif antipositivisme dan
merupakan salah satu cabang metodologis pospositivisme. Teori
posmodernisme dalam hubungan internasional pada intinya menolak
tanggapan tentang realita, tentang kebenaran, tentang pemikiran bahwa
ada pengetahuan yang terus meluas tentang dunia manusia dalam
hubungan internasional. Yang ketiga yakni konstruktivisme, “menurut
konstruktivisme dunia sosial bukanlah given, dunia sosial bukanlah sesuatu
di luar sana yang hukum – hukumnya dapat ditemukan melalui penelitian
ilmiah dan dijelaskan melalui teori ilmiah, seperti yang dikemukakan kaum
kaum behavioralisme dan kaum positivisme. Melainkan, dunia sosial
merupakan wilayah intersubjektif, dunia sosial sangat berarti bagi
masyarakat yang membuatnya dan hidup di dalamnya, dan yang
memahaminya. Dunia sosial dibuat atau dibentuk oleh masyarakat pada
waktu dan tempat tertentu.” (Jackson & Sorensen, 1999 : 307). Yang
keempat yakni teori normatif, teori normatif dalam hubungan internasional
sesungguhnya bukan merupakan bagian dari pospositivis, teori normatif
merupakan pra-positivis. “Crish Brown (1992 : 3) menjelaskan pendekatan
tersebut dengan singkat bahwa teori normatif hubungan internasional dapat
diartikan sebagai badan kerja yang menyatakan dimensi moral hubungan
internasional dan pertanyaan – pertanyaan besar tentang pemaknaan dan
interpretasi yang di gerakkan oleh disiplin tersebut. Pada bentuknya yang
paling dasar ia menyatakan sifat etis dari hubungan antara
komunitas/negara.” (Jackson & Sorensen, 1999 : 310). Pada dasarnya teori
normatif ini berusaha untuk menjelaskan isu – isu moral dari perkembangan
hubungan internasional.

Dalam hubungan internasional ada pula aliran alternative/aliran penentang.


Seperti contohnya aliran pos-strukturalisme dan pos-kolonialisme
merupakan dua bentuk aliran penentang dalam hubungan internasional
yang bertujuan untuk mengkritik perspektif – perspektif yang telah ada
dalam hubungan internasional. Yang pertama yakni pos-strukturalisme, pos-
strukturalisme merupakan suatu teori yang yang merupakan bentuk baru
dari teori kaum strukturalisme yang telah ada. Aliran penentang pos-
strukturalisme ini muncul untuk mendekontruksi pemikiran – pemikiran yang
telah dikemukakan oleh kaum strukturalisme. Yang kedua yakni pos-
kolonialisme, pos-kolonialime ini merupakan aliran penentang yang muncul
sekitar tahun 1960. Pos-kolonialisme muncul dan terbentuk karena
pertentangan atas dampak yang di akibatkan oleh kolonialisme yang
dianggap telah mengkontruksi tatanan dalam dunia hubungan internasional
yang penuh dengan diskriminasi.

Jadi, Seiring perkembangan hubungan internasional dari masa masa muncul


berbagai macam great debate dalam yang mempengaruhi perkembangan
hubungan internasional hingga saat ini. Perdebatan tersebut pada dasarnya
akan menghasil suatu gagasan atau teori baru yang turut mempengaruhi
berkembangnya ilmu hubungan internasional. Teori ataupun perspektif yang
muncul akan selalu perspektif lain yang bertentangan dengan teori yang
telah ada seperti contohnya pos-strukturalisme dan pos-kolonialisme. Pada
dasanya, segala peristiwa perdebatan besar yang telah terjadi baik teori
yang memang sudah ada maupun teori pennetang sebenarnya telah
memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pekembangan ilmu
hubungan internasional.

Referensi : :
Jackson, R., &. Sorensen, G. (1999) Introduction to Internastional Relations,
Oxford University Press, [Chapters 3, 4, 5].

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman,


[pp.101-111].

Baylish, John & Smith, Steve (eds.) (2001), The Globalization of World
Politics, 2nd edition, Oxford University Press, [Part 2 Chapters 7-11].
Tinggalkan Komentar

Nama :

E-mail :

Web : tanpa http://

Komentar :

Verification Code :

Kirim

Home Profil UNAIR

Copyright � 2011 DSI Unair | Website Templates by Free CSS Templates