Anda di halaman 1dari 3

Post-Kolonialisme: Dekontruksi Pemikiran Barat

tamara-shidazhari- sip16 (pro l.html) / 21 June 2017

Isu- isu yang terjadi dalam hubungan internasional yang semakin kompleks ini membuat para penstudi HI kritis akan perspektif sebelumnya agar tetap relavan. Berbagai p
yang telah ada dalam HI memiliki objek sudut pandang yang berbeda- beda, contohnya human nature, politik, perdagangan, budaya dan bahasa. Adanya keberagaman te
HI tersebut akhirnya muncul dua perspektif alternatif sebagai kritik perspektif- perspektif sebelumnya, yakni post-strukturalisme dan post-kolonialisme. Sejak berakhirnya
Dunia II hubungan antara negara Barat dan Timur semakin menegangkan dan kolonialisme belum sepenuhnya berakhir. Pada tahun 1960-an dorongan akan post-kolonial
ditekankan Fanon dalam pengantarnya kepada Frantz Fanon ‘The The Wretched of the Earth’ yang berisi bentuk pemberantasan atas kolonialisme (Grovugui, 2007). Dalam
tersebut, Fanon membahas tentang negara Barat sebagai pemegang posisi hegemon yang menguasai serta melakukan kolonialisasi terhadap negara- negara Timur (Gro
2007). Dengan adanya kolonialisasi tersebut maka negara Barat membagi dan mendeskripsikan dunia atas man sebagai negara Barat yang superior dan native sebagai pe
minoritas (Grovogui, 2007). Dalam Sajay (2011) Adam Watson mengatakan bahwa dunia non-Eropa ‘didekolonialisasi’ oleh Eropa. Akibatnya negara Barat memegang kekua
tertinggi yang kemudian membatasi hak-hak kedaulatan dari negara-negara lainnya. Kemudian lahirlah post-kolonialisme sebagai bentuk perubahan cara berpikir tentang
power dan self-dtermination untuk menciptakan kedaulatan yang utuh bagi negara-negara non-Barat (Grovugui, 2007).
 
 Post-kolonialisme muncul sebagai kritik atas ketidakmampuan norma-norma internasional sebagai saran untuk keadilan internasional. Post-kolonialisme bertujuan untuk
menciptakan ‘kebenaran’ berdasarkan mode penafsiran dan bentuk pengetahuan yang mengutamakan keadilan, perdamaian dan pluralisme politik (Grovogui, 2007). Pend
menentang rasionalis, humanis dan universalis lainnya yang mana melihat dunia bahwa hanya Eropa sebagai satu-satunya memiliki akal, moral dan hukum yang baik. Pos
kolonialisme menolak adanya gagasan bahwa penduduk asli memiliki tur penting dan abadi, karena disalahgunakan oleh kekuatan Barat dan kaum elit post-kolonial. Kem
post-kolonialisme menyoroti hubungan antara kebebasan dan politik, terutama dalam pengaturan pengetahuan dan pembuatan kebijakan yang sebelumnya dipegang ol
Barat.
 
Asumsi dasar yang dimiliki post-kolonialisme menurut Grovogui (2007) adalah, pertama bahwa negara Barat yang memiliki kekuasaan dan cenderung menghegemoni seh
ini dapat dikatakan sebagai bentuk penjajahan. Bentuk penjajahan yang dilakukan negara barat tidak hanya secara sik maupun materi saja, namun dalam bentuk doktrin
Pos-kolonialisme menolak pandangan Barat yang cenderung mendoktrim perspektif HI yang cenderung mendorong adanya dekontruksi pemikiran. Selanjutnya asumsi k
melihat tertindasnya negara dunia ketiga tersebut, maka seharusnya diciptakan keadilan sehingga negara dunia ketiga mendapatkan kesempatan yang sama dengan neg
pertama. Dengan hal ini, maka negara dunia ketiga akan lebih mengembangkan pemikirannya sehingga terbebas dari doktrin pemikiran negara Barat. Terakhir adalah ada
interdependensi secara tidak langsung akan membuat negara dunia ketiga semakin bergantung kepada negara dunia pertama dalam berbagai aspek, yang mana hal ters
membuat negara dunia ketiga semakin tidak mandiri dan berkembang. Namun disisi lain post-kolonialisme beranggapan bahwa peran pengetahuan bukan hanya sebaga
yang menunjukan ‘keaslian’, tetapi juga sebagai kekuatan dengan membentuk perspektifnya (Sanjay, 2011).
 
Post-kolonialisme beragumen bahwa adanya degradasi dalam budaya, seni, sains hingga subjek akademik yang bahkan dalam HI merupakan akibat campur tangan dari p
Barat (Grovogui, 2007). Sehingga post-kolonialisme beranggapan bahwa adanya kolonialisme tersebut mengakibatkan adanya hegemoni terhadap negara dunia ketiga (Ja
Sorensen, 2013). Dominasi tersebut memicu lahirnya orientalisme yang berfokus pada negara Timur yang ingin membebaskan diri dari doktrin Barat (Grovogui, 2007). Tema
dari pendekatan ini yaitu keadilan, perdamaian pluralisme politik dan menolak esensialisme pribumi (Grovogui, 2007). Adanya western stance yang terjadi sebagai bukti ny
bahwa negara Barat menjadi negara superior yang menjadi pusat dunia (Hobson, 2007 dalam Jackson & Sorensen, 2013), yang kemudian post-kolonialisme berusaha untu
membebaskan doktrin pemikiran tersebut. Anarki dipandang sebagai ciri khas tatanan internasional, karena tanpa adanya anarki maka negara-negara tidak berinteraksi se
tidak mengalami perkembangan (Sanjay, 2011).
 
Seperti pada perspektif-perspektif pada umumnya, post-kolonialisme menuai beberapa kritik. Pertama, yakni  post-kolonialisme ini dianggap tidak konsisten karena meng
pembaruan tatanan dunia internasional, disisi lain menolak adanya modernitas. Pada nyatanya, suatu bentuk pembaruan tidak terlepas oleh adanya modernitas (Grovogui
Kritik selanjutnya yakni post-kolonialisme yang menolak adanya pemikiran oleh negara Barat tersebut malah memutar balikan bahwa perspektif ini sebuah pemikiran yang
datangnya dari Barat (Grovogui, 2007). Hal ini disebabkan karena para penstudi HI yang sebagian besar mengambil pemahaman Barat karena pada saat itu ilmu pengetah
didominasinya. Post-kolonialisme ini mengkritik perspektif HI sebelumnya yang sebelumnya disetting oleh kolonialisme, yang dinilai merugikan negara dunia ketiga.
 
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa post-kolonialisme lahir sebagai bentuk protes terhadap adanya kolonialisme sejak Perang Dunia II. Post-kolonialisme be
merubah tatanan kehidupan internasional yang dianggap gagal dalam menciptakan perdamaian dunia karena ketidakadilan. Post-kolonialisme melihat adanya hegemoni
negara Barat terhadap negara Timur, Barat sebagai negara superior yang memegang kekuasaan penuh atas tatanan dunia. Bentuk penjajahan yang dilakukan negara bara
hanya secara sik maupun materi saja, namun dalam bentuk doktrin pemikiran. Pendekatan post-kolonialisme hadir sebagai bentuk protes masyarakat, menantang posisi
diklaim oleh Barat sebagai legislator dan pelaksana kehendak dunia serta hakim tertinggi mengenai nilai, keinginan, dan kepentingan. Menurut pandangan post-kolonialis
dianggap salah dalam mendeskripsikan tatanan dunia yang terpaku pada pemikiran Barat, sedangkan . Penulis beropini bahwa munculnya pendekatan ini membuat kajia
terbebas dari belenggu pemikiran Barat sehingga masyarakat non-Barat dapat berkembang dan memberikan inovasi baru dalam HI.
 
 
Referensi:
Grovogui, Siba N., 2007. Postcolonialism, in; Tim Dunne, MiljaKurki& Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 229-246
Jackson, R., &. Sorensen, G. 2013. Introduction to International Relations. Oxford University Press. Seth, Sanjay. 2011. Postcolonial theory and critique of international relation
Millennium: Journal of International Studies 40(1) 167–183
KATERGORI TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL: JURNAL (KATEGORI_ISI-64823-TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL: JURNAL.HTML)

KIRIM KOMENTAR

Nama :

E-mail :

Web : tanpa http://

Komentar :

Veri cation Code :   

    Kirim

PENGUMUMAN

 Pengumuman Pemenang Web dan Blog Terbaik 2014 (berita-13.html)


 Gadget Photo Fiesta 2014 (berita-12.html)
P L b P li Bl H t G I d i (b it ht l)

TERBARU POPULER

25 January 2019
Legitimasi NATO: Penyedia Informasi bagi Negara Eropa Tengah dan Eropa Timur (artikel_detail-241576-Organisasi Internasional-Legitimasi NATO: Penyedia Informasi bag
Eropa Tengah dan Eropa Timur.html)

25 January 2019
Legitimasi dan Transmisi Informasi: Kekuatan Organisasi Internasional (artikel_detail-241575-Organisasi Internasional-Legitimasi dan Transmisi Informasi: Kekuatan Organis
Internasional.html)

25 January 2019
Kepatuhan: Indikator Efektivitas Organisasi Internasional? (artikel_detail-241574-Organisasi Internasional-Kepatuhan: Indikator Efektivitas Organisasi Internasional.html)

25 January 2019
Kepatuhan dalam Organisasi Internasional (artikel_detail-241573-Organisasi Internasional-Kepatuhan dalam Organisasi Internasional.html)

25 January 2019
Urgensi Organisasi Internasional Melakukan Desain Sebagai Upaya Survive (artikel_detail-241572-Organisasi Internasional-Urgensi Organisasi Internasional Melakukan De
Sebagai Upaya Survive.html)

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK

 Dikunjungi
2017 Web Blog / All Rights Reserved. Supported by DSI Airlangga (http://unair.ac.id)