Anda di halaman 1dari 18

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 SISTEM KONSTITUSI

2.1.1 Pengertian Konstitusi


Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja
yaitu “constituer” (Perancis) atau membentuk. Yang dibentuk adalah
negara, dengan demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan)
dari segala peraturan perundang-undangan tentang negara.Belanda
menggunakan istilah “Grondwet” yaitu berarti suatu undang-undang yang
menjadi dasar (grond) dari segala hukum.Indonesia menggunakan istilah
Grondwet menjadi Undang-undang Dasar.
Dahulu konstitusi digunakan sebagai penunjuk hukum penting
biasanya dikeluarkan oleh kaisar atau raja dan digunakan secara luas
dalam hukum kanon untuk menandakan keputusan subsitusi tertentu
terutama dari Paus.Konstitusi pada umumnya bersifat kondifaksi yaitu
sebuah dokumen yang berisian aturan-aturan untuk menjalankan suatu
organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi
harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis
(formal). Namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik
konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan politik, negara,
kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun
alokasi. Konstitusi memuat aturan-aturan pokok (fundamental) yang
menopang berdirinya suatu negara. Terdapat dua jenis kontitusi, yaitu
“Konstitusi Tertulis” (Written Constitution) dan “Konstitusi Tidak
Tertulis” (Unwritten Constitution), ini diartikan seperti halnya “Hukum
Tertulis” (geschreven Recht) yang termuat dalam undang-undang dan
“Hukum Tidak Tertulis” (ongeschreven recht) yang berdasar adat
kebiasaan.Dalam karangan “Constitution of Nations”, Amos J. Peaslee
menyatakan hampir semua negara di dunia mempunyai konstitusi tertulis,
kecuali Inggris dan Kanada.

2.1.2 Tujuan Dari Konstitusi


Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber
utama dari hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang
Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan konstitusi itu sendiri.
Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama deengan hukum,
namun tujuan dari konstitusi lebih terkait dengan:
a. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan
tugasnya masing-masing.
b. Hubungan antar lembaga negara
c. Hubungan antar lembaga negara(pemerintah) dengan warga
negara (rakyat).
d. Adanya jaminan atas hak asasi manusia
e. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan
jaman.
Semakin banyak pasal-pasal yang terdapat di dalam suatu konstitusi tidak
menjamin bahwa konstitusi tersebut baik.Di dalam prakteknya, banyak
negara yang memiliki aturan-aturan tertulis di luar konstitusi yang
memiliki kekuatan yang sama denga pasal-pasal yang terdapat pada
konstitusi. Konstitusi selalu terkait dengan paham konstitusionalisme.

2.1.3 Fungsi Konstitusi


  Bila dilihat dari fungsinya, maka konstitusi dapat dibagi menjadi 2
yaitu : Konstitusi berfungsi serta mengatur pembagian konstitusi dalam
negara dalam dua bentuk :
1) Membagi kekuasaan dalam negara.
2) Di dalam negara-negara demokrasi konstitusional, maka
konstitusi mempunyai fungsi yang khas yaitu membatasi
kekuasaan pemerintahan sedemikian rupa sehingga
penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang.
Dengan demikian di harapkan hak-hak warga negara akan lebih
terlindung. Gagasan ini dinamakan konstitusionalisme.
3) Menurut Henc van Maarseveen dan Ger van der Tang, fungsi
konstitusi sebagai akta pendirian negara (constitution as a birth
certificate). Konstitusi dijadikan bukti otentik tentang eksistensi
dari suatu negara sebagai badan hukum (rechstpersoon).
4) Dilihat dari segi waktu, fungsi konstitusi dalam arti Undang-
Undang Dasar itu adalah sebagai syarat berdirinya negara bagi
negara yang belum terbentuk, atau sebagai pendirian akte
pendirian negara bagi negara yang sudah terbentuksebelum
Undang-Undang Dasarnya ditetapkan.

Terlepas dari waktu ditetapkanya, sebelum atau sesudah suatu


negara negara terbentuk, yang jelas fungsi konstitusi itu adalah sebagai
dokumen formal nasional, dasar organisasi negara, dasar pembagian
kekuasaan negara, dasar pembatasan dan pengendalian kekuasaan
pemerintah, penjamin kepastian hukum dalam praktek penyelenggara
negara, pengaturan lembaga-lembaga, dan pengaturan pemerintah.

2.1.4 Klasifikasi Konstitusi


Hampir semua negara memiliki konstitusi, namun antara negara
satu dengan negara lainya tentu memiliki perbeadaan dan persamaan.
Dalam buku K.C. Wheare “Modern Constitution” (1975) mengklasifikasi
konstitusi sebagai berikut:
1) Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis (written constitution and
unwritten constitution)
2) Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid (flexible and rigid
constitution). Konstitusi fleksibelitas merupakan konstitusi yang
memiliki ciri-ciri pokok:
 Sifat elastis, artinya dapat disesuaikan dengan mudah .
 Dinyatakan dan dilakukan perubahan adalah mudah seperti
mengubah undang- undang.
3) Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi
(Supreme and not supreme constitution). Konstitusi derajat tinggi,
konstitusi yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam negara
(tingkatan peraturan perundang-undangan).Konstitusi tidak derajat
tinggi adalah konstitusi yang tidak mempunyai kedudukan seperti
yang pertama.
4) Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan (Federal and Unitary
Constitution).Dalam suatu negara serikat terdapat pembagian
kekuasaan antara pemerintah federal (Pusat) dengan negara-negara
bagian.Hal itu diatur di dalam konstitusinya.Pembagian kekuasaan
seperti itu tidak diatur dalam konstitusi negara kesatuan, karena pada
dasarnya semua kekuasaan berada di tangan pemerintah pusat.
5) Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer
(President Executive and Parliamentary Executive Constitution).
Dalam sistem pemerintahan presidensial (strong) terdapat ciri-ciri
antara lain:
a. Presiden memiliki kekuasaan nominal sebagai kepala negara,
tetapi juga memiliki kedudukan sebagai Kepala Pemerintahan.
b. Presiden dipilih langsung oleh rakyat atau dewan pemilih.
c. Presiden tidak termasuk pemegang kekuasaan legislatif dan
tidak dapat memerintahkan pemilihan umum.

Dengan ciri-ciri konstitusi yang disebutkan oleh Wheare ”


Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer
(President Executive and Parliamentary Executive Constitution)”, oleh Sri
Soemantri, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) tidak termasuk
kedalam golongan konstitusi Pemerintahan Presidensial maupun
pemerintahan Parlementer . Hal ini dikarenakan di dalam tubuh UUD 45
mengndung ciri-ciri pemerintahan presidensial dan ciri-ciri pemerintahan
parlementer.Oleh sebab itu menurut Sri Soemantri di Indonesia menganut
sistem konstitusi campuran.

2.1.5 Konstitusi Di Negara Indonesia


Konstitusi dalam praktik ketatanegaraan dapat diartikan sebagai
undang-undang dasar suatu Negara.Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia yang berlaku adalah Undang-Undang Dasar 1945 beserta
amamdemennya. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan sebagian dari
hukum dasar, yaitu khusus hukum dasar tertulis, yang di sampingnya
masih ada hukum dasar tidak tertulis.Hukum dasar tertulis merupakan
konstitusi.Hukum dasar tertulis ini terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh,
dan Penjalasan, sebagai satu kesatuan organic yang masing-masing
mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri.
Sifat-sifat hukum tertulis antara lain :
a) Merupakan hukum yang mengikat pemerintah sebagai
penyelenggara Negara, maupun rakyat sebagai warga Negara
b) Berisi norma-norma, aturan atau ketentuan-ketentuan yang dapat
dan harus dilaksanakan.
c) Merupakan perudangan-undangan yang tertinggi dan berfungsi
sebagai alat control terhadap norma-norma hukum yang lebih
rendah.
d) Memuat aturan-aturan pokok yang bersifat singkat dan supel serta
memuat hak asasi manusia, sehingga dapat memenuhi tuntutan
zaman.

Isi Konstitusi
 Dasar dibentuknya Negara
 Dasar negara
 Tujuan negara
 Kewajiban Dasar Negara
 Bentuk Pemerintahan
 Lembaga-lembaga Negara
 Hubungan antar lembaga negara
 Hak-hak dan kewajiban dasar warga Negara

Dinamika Konstitusi di Indonesia


 UUD 1945 : 1945 - 1949
 Konstitusi RIS : 1949 – 1950
 UUDS : 1950 – 1959
 UUD 1945 : 1959 – sekarang

Amandemen UUD 1945


 Amandemen 1 : 1999
 Amandemen 2 : 2000
 Amandemen 3 : 2001
 Amandemen 4 : 2002

Sistematika UUD 1945


 Pembukaan : 4 alinea
 Batang Tubuh :16 Bab 37 Pasal
- Aturan Peralihan 2 pasal
- Aturan Tambahan 2 ayat

Tujuan Utama Pemerintahan (Pembukaan UUD 1945)


 Melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia
 Memajukan kesejahteraan umum
 Mencerdaskan kehidupan bangsa
 Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial
Bentuk dan Kedaulatan
 Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik
 Kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD
 Negara Indonesia adalah Negara Hukum

2.1.6 Sistem Pemerintahan Negara Indonesia


Sistem pemerintahan Indonesia dijelaskan dalam penjelasan UUD
1945, dikenal tujuh kunci pokok system pemerintahan Negara yang dibagi
dua kelompok yaitu system dasar dan system pelaksana.

2.1.6.1 Sistem Negara Hukum


Yaitu Negara yang berdasarkan atas hukum ( Rechtsstaat) tidak
berdasarkan atas kekuasaaan belaka (Machtsstaat). Hal ini mengandung
arti bahwa Negara termasuk di dalamnya pemerintah dan lembaga-
lembaga Negara dalam melaksanakan tindakan apapun harus dilandasi
oleh hukum atau harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
2.1.6.2 Sistem Konstitusional
Pemerintah berdasar atas system kontitusi (hukum dasar), tidak
bersifat absulitisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sistem ini
memberikan ketegasan bahwa cara pengendalian pemerintah dibatasi
ketentuan-ketentuan konstitusi serta ketentuan-ketentuan hukum lain yang
merupakan produk konstitusional seperti GBHN dan UU. Dengan
landasan kedua system itu, system Negara hukum dan system
konstitusioanal, diciptakan system mekanisme hubungan tugas dan hukum
antara lembaga-lembaga Negara yang dapat menjamin terlaksananya
system itu sendiri serta dapat memperlancar pelaksanaan pencapaian cita-
cita nasional.
2.1.6.3 Sistem Pelaksana
Lembaga Negara yang tercantum dalam system pelaksana pemerintahan
ada tiga lembaga Negara, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Presiden, dan Dewan Perwakilan Rakyat.Kekuasaan Negara yang
Tertinggi di tangan rakyatSebelum amandemen dirumuskan, kekuasaan
Negara yang Tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Tugas dan wewenang MPR adalah:
 Menetapkan Undang-Undang Dasar dan menetapkan Garis-garis
Besar Haluan Negara.
 Mengangkat kepala negara dan wakil kepala Negara.
 Memegang kekuasaan negara yang tertinggi, sedang presiden harus
menjalankan haluan negara menurut garis-garis besar yang telah
ditetapkan oleh majelis.
Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi
disamping MPR.Sebelum amandemen dirumuskan Presiden ialah
penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi dibawah majelis.
Berdasarkan Undang-Undang 1945 hasil amandemen Presiden dan wakil
presiden dipilih oleh rakyat .Maka logis bahwa dalam menyelenggarakan
pemerintahan Presiden disamping MPR dan DPR, dan Presiden bukan
sebagai mandataris majelis.

Presiden tidak bertanggung jawab kepada dewan perwakilan rakyat


Menurut sistem pemerintahan ini presiden tidak bertanggung jawab
kepada DPR. Akan tetapi presiden bekerja sama dengan dewan. Dalam
pembuatan Undang-Undang, sesuai UUD 1945 hasil amandemen yaitu
presiden berhak mengajukan rancangan Undang-Undang kepada DPR, dan
rancangan Undang-Undang anggaran pendapatan dan belanja negara
diajukan oleh presiden untuk dibahas bersama DPR dengan memerhatikan
pertimbangan DPD. Presiden harus mendapatkan persetujuan DPR.

Menteri Negara ialah pembantu Presiden, menteri negara tidak


bertanggung jawab kepada dewan perwakilan rakyat.
Sistem ini dijelaskan dalam UUD 1945 sebagai berikut :presiden
mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara. Menteri-
menteri itu tidak bertanggung jawab kepada DPR. Kedudukannya tidak
tergantung daripada dewan, akan tetapi tergantung pada Presiden.

Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas


Dalam sistem ini kedudukan dan peranan DPR adalah kuat.DPR
tidak dapat dibubarkan oleh presiden tetapi DPR pemegang kekuasaan
membentuk Undang-Undang dan setiap rancangan Undang-Undang
dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.Jadi
sesuai dengan sistem ini maka kebijaksanaan atau tindakan Presiden
dibatasi pula oleh adanya pengawasan yang efektif oleh DPR.

2.2 SISTEM POLITIK

2.2.1 PengertiansistemPolitik
PengertianSistem
Sistemadalahsuatukebulatanataukeseluruhan yang
kompleksdanterorganisasi.
PengertianPolitik
Politikberasaldaribahasayunaniyaitu “polis” yang artinya Negara
kota.Padaawalnyapolitikberhubungandenganberbagaimacamkegiatandala
m Negara/kehidupan Negara. Dapat disimpulkan bahwa politik adalah
interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses
pembuatan kebijakan dan keputusan yang mengikat tentang kebaikan
bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
PengertianSistemPolitik
Menurut Drs. Sukarno, sistempolitikadalahsekumpulanpendapat,
prinsip, yang membentuksatukesatuan yang berhubungansatusama lain
untukmengaturpemerintahansertamelaksanakandanmempertahankankekua
saandengancaramengaturindividuataukelompokindividusatusama lain
ataudengan Negara danhubungan Negara dengan Negara.
Pengertian Sistem Politik di Indonesia

Sistempolitik Indonesia
diartikansebagaikumpulanataukeseluruhanberbagaikegiatandalam Negara
Indonesia yang berkaitandengankepentinganumumtermasuk proses
penentuantujuan, upaya-upayamewujudkantujuan, pengambilankeputusan,
seleksidanpenyusunanskalaprioritasnya.

Politikadalahsemualembaga-lembaganegara yang tersebut di


dalamkonstitusinegara( termasukfungsilegislatif, eksekutif, danyudikatif ).
DalamPenyusunankeputusan-
keputusankebijaksanaandiperlukanadanyakekuatan yang
seimbangdanterjalinnyakerjasama yang
baikantarasuprastrukturdaninfrastrukturpolitiksehinggamemudahkanterwuj
udnyacita-citadantujuan-tujuanmasyarakat/Negara.Dalamhalini yang
dimaksudsuprastrukturpolitikadalahLembaga-Lembaga Negara.Lembaga-
lembagatersebut di Indonesia diaturdalam UUD 1945 yakni MPR, DPR,
DPD, Presidendan Wakil Presiden, MahkamahAgung,
MahkamahKonstitusi, KomisiYudisial. Lembaga-lembagaini yang
akanmembuatkeputusan-keputusan yang
berkaitandengankepentinganumum.
Badan yang ada di masyarakatsepertiParpol, Ormas, media massa,
Kelompokkepentingan(Interest Group), KelompokPenekan (Presure
Group), Alat/Media KomunikasiPolitik, TokohPolitik (Political
Figure),danpranatapolitiklainnyaadalahmerupakaninfrastrukturpolitik,mela
luibadan-badaninilahmasyarakatdapatmenyalurkanaspirasinya.
Tuntutandandukungansebagai input dalam proses pembuatankeputusan.
Denganadanyapartisipasimasyaraktdiharapkankeputusan yang
dibuatpemerintahsesuaidenganaspirasidankehendakrakyat.

2.2.2 Proses Politik Di Indonesia


Sejarah Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa dilihat dari
masa-masa berikut ini:

a) Masa prakolonial (kerajaan)


 Penyaluran tuntutan – rendah dan terpenuhi
 Pemeliharaan nilai – disesuikan dengan penguasa
 Kapabilitas – SDA melimpah
 Integrasi vertikal – atas bawah
 Integrasi horizontal – nampak hanya sesama penguasa kerajaan
 Gaya politik – kerajaan
 Kepemimpinan – raja, pangeran dan keluarga kerajaan
 Partisipasi massa – sangat rendah
 Keterlibatan militer – sangat kuat karena berkaitan dengan perang
 Aparat negara – loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah
 Stabilitas – stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang

b) Masa kolonial (penjajahan)


 Penyaluran tuntutan – rendah dan tidak terpenuhi
 Pemeliharaan nilai – sering terjadi pelanggaran ham
 Kapabilitas – melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah
 Integrasi vertikal – atas bawah tidak harmonis
 Integrasi horizontal – harmonis dengan sesama penjajah atau elit
pribumi
 Gaya politik – penjajahan, politik belah bambu (memecah belah)
 Kepemimpinan – dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat
 Partisipasi massa – sangat rendah bahkan tidak ada
 Keterlibatan militer – sangat besar
 Aparat negara – loyal kepada penjajah
 Stabilitas – stabil tapi dalam kondisi mudah pecah
c) Masa Demokrasi Liberal
 Penyaluran tuntutan – tinggi tapi sistem belum memadani
 Pemeliharaan nilai – penghargaan HAM tinggi
 Kapabilitas – baru sebagian yang dipergunakan, kebanyakan masih
potensial
 Integrasi vertikal – dua arah, atas bawah dan bawah atas
 Integrasi horizontal- disintegrasi, muncul solidarity makers dan
administrator
 Gaya politik – ideologis
 Kepemimpinan – angkatan sumpah pemuda tahun 1928
 Partisipasi massa – sangat tinggi, bahkan muncul kudeta
 Keterlibatan militer – militer dikuasai oleh sipil
 Aparat negara – loyak kepada kepentingan kelompok atau partai
 Stabilitas - instabilitas

d) Masa Demokrasi terpimpin


 Penyaluran tuntutan – tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya
Front nas
 Pemeliharaan nilai – Penghormatan HAM rendah
 Kapabilitas – abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak maju
 Integrasi vertikal – atas bawah
 Integrasi horizontal – berperan solidarity makers,
 Gaya politik – ideolog, nasakom
 Kepemimpinan – tokoh kharismatik dan paternalistik
 Partisipasi massa – dibatasi
 Keterlibatan militer – militer masuk ke pemerintahan
 Aparat negara – loyal kepada negara
 Stabilitas - stabil
e) Masa Demokrasi Pancasila
 Penyaluran tuntutan – awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi
karena fusi
 Pemeliharaan nilai – terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan
HAM
 Kapabilitas – sistem terbuka
 Integrasi vertikal – atas bawah
 Integrasi horizontal – nampak
 Gaya politik – intelek, pragmatik, konsep pembangunan
 Kepemimpinan – teknokrat dan ABRI
 Partisipasi massa – awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak
dibatasi
 Keterlibatan militer – merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI
 Aparat negara – loyal kepada pemerintah (Golkar)
 Stabilitas stabil

f) Masa Reformasi
 Penyaluran tuntutan – tinggi dan terpenuh
 Pemeliharaan nilai – Penghormatan HAM tinggi
 Kapabilitas –disesuaikan dengan Otonomi daerah
 Integrasi vertikal – dua arah, atas bawah dan bawah atas
 Integrasi horizontal – nampak, muncul kebebasan (euforia)
 Gaya politik – pragmatik
 Kepemimpinan – sipil, purnawiranan, politisi
 Partisipasi massa – tinggi
 Keterlibatan militer – dibatasi
 Aparat negara – harus loyal kepada negara bukan pemerintah
 Stabilitas – instabil
2.2.3 Sejarah Sistem Politik di Indonesia
Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang
terjadi di dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat
sejarah Bangsa Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam
proses politik biasanya di dalamnya terdapat interaksi fungsional yaitu proses
aliran yang berputar menjaga eksistensinya. Adapun pelaku perubahan politik bisa
dari elit politik, atau dari kelompok infrastruktur politik dan dari lingkungan
internasional.Perubahan ini besaran maupun isi aliran berupa input dan output.
Proes mengkonversi input menjadi output dilakukan oleh penjaga gawang
(gatekeeper).

Terdapat 5 kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik :

1) Kapabilitas Ekstraktif
Kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemampuan
SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian digunakan secara
maksimal oleh pemerintah. Seperti pengelolaan minyak tanah,
pertambangan yang ketika datang para penanam modal domestik itu akan
memberikan pemasukan bagi pemerintah berupa pajak. Pajak inilah yang
kemudian menghidupkan negara.
2) Kapabilitas Distributif
SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian rupa
untuk dapat didistribusikan secara merata, misalkan seperti sembako yang
diharuskan dapat merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian
pula dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali
didistribusikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
3) Kapabilitas Regulatif (pengaturan)
Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku individu dan kelompok
maka dibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering
memunculkan benturan pendapat. Seperti ketika pemerintah membutuhkan
maka kemudian regulasi diperketat, hal ini mengakibatkan keterlibatan
masyarakat terkekang.
4) Kapabilitas simbolik
Kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif membuat
kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan
yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem.
5) Kapabilitas responsif
Dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output, output
berupa kebijakan pemerintah sejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau
adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran
kapabilitas responsif. kapabilitas dalam negeri dan internasional. Sebuah
negara tidak bisa sendirian hidup dalam dunia yang mengglobal saat ini,
bahkan sekarang banyak negara yang memiliki kapabilitas ekstraktif
berupa perdagangan internasional. Minimal dalam kapabilitas
internasional ini negara kaya atau berkuasa (superpower) memberikan
hibah (grants) dan pinjaman (loan) kepada negara-negara berkembang.

2.2.4 Perbedaansistempolitik di berbagai Negara

1. Sistem Politik Di Negara Komunis

Bercirikan pemerintahan yang sentralistik, peniadaan hak milk pribadi,


peniadaan hak-haak sipil dan politik, tidak adanya mekanisme pemilu yang
terbuka, tidak adanya oposisi, serta terdapat pembatasan terhadap arus informasi
dan kebebasan berpendapat.

2. Sistem Politik Di Negara Liberal

Bercirikan adanya kebebasan berpikir bagi tiap individu atau kelompok;


pembatasan kekuasaan; khususnya dari pemerintah dan agama; penegakan
hukum; pertukaran gagasan yang bebas; sistem pemerintahan yang transparan
yang didalamnya terdapat jaminan hak-hak kaum minoritas
3. Sistem Politik Demokrasi Di Indonesia

Sistem politik yang didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur, dan


kelembagaan yang demokratis. Adapun sendi-sendi pokok dari sistem politik
demokrasi di Indonesia adalah :

1. Ide kedaulatan rakyat

2. Negara berdasarkan atas hukum

3. Bentuk Republik

4. Pemerintahan berdasarkan konstitusi

5. Pemerintahan yang bertanggung jawab

6. Sistem Pemilihan langsung

7. Sistem pemerintahan presidensiil


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemerintah berdasar atas sistem kontitusi (hukum dasar), tidak bersifat


absulitisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sistem ini memberikan ketegasan
bahwa cara pengendalian pemerintah dibatasi ketentuan-ketentuan konstitusi serta
ketentuan-ketentuan hukum lain yang merupakan produk konstitusional seperti
GBHN dan UU. Dengan landasan kedua sistem itu, sistem Negara hukum dan
sistem konstitusioanal, diciptakan sistem mekanisme hubungan tugas dan hukum
antara lembaga-lembaga Negara yang dapat menjamin terlaksananya sistem itu
sendiri serta dapat memperlancar pelaksanaan pencapaian cita-cita nasional.
Sedangkan pemerintah berdasarkan Sistem politik diartikan sebagai
kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara yang berkaitan
dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya
mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala
prioritasnya.

3.2 Saran

Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih lengkap tentang sistem konstitusi
dan sistem politik di Indonesia, pembaca dapat mempelajari buku – buku dan
literatur yang berhubungan dengan sistem konstitusi dan sistem politik di
Indonesia. Disini, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun dan
menyempurnakan penulisan makalah – makalah selanjutnya sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Prof.DR.H.KAELAN,M.S,DRS.H.ACHMAD ZUBAIDI,M.Si.2007.Pendidikan
Kewarganegaraan.sleman,Yogyakarta:Paradigma

ArbiSanit, “SistemPolitik Indonesia: PenghampirandanLingkungan”,


YayasanIlmu-IlmuSosial& FIS-UI, 1980
Sukarna, “Sistem Politik Indonesia, Jilid 4”, Mandar Maju, 1993
Amir Taat Nasution, “Kamus Politik Nasional”, Energie, 1953