Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) salah satunya terjadi karena inflamasi. Proses
inflamasi menyebabkan hipersekresi mukus. Mukus menyebabkan ventilasi menjadi tidak
paten. Ketidakpatenan menurunkan jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru, obsorpsi
oksigen oleh darah berkurang, sehingga saturasi oksigen penderita PPOK dibawah normal.
Salah satu cara pengobatan yang diberikan pada penderita PPOK yaitu dengan cara
rehabilitasi seperti fisioterapi dada. Fisioterapi dada dapat digunakan untuk pengobatan dan
pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk
kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti
fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian
postural draignage, perkusi, vibrasi dan batuk efektif (PDPI, 2003). Berdasarkan jurnal riset
dari Jurnal Keperawatn Madiun Vol. 3 No. 1 Maret 2016 : 14-20, fisioterapi dada
berpengaruh terhadap pengeluaran sputum dan meningkatkan saturasi oksigen pada penderita
PPOK.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh Fisioterapi dada terhadap ekspektorasi sputum dan peningkatan
saturasi oksigen pada pasien PPOK?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengatahui pengaruh Fisioterapi terhadap ekspektorasi sputum dan
peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK

1
BAB II
PEMBAHASAN

Secara umum penatalaksanaan PPOK yaitu dengan (1) pemberian obat-obatan,


bronkodilator, anti inflamasi, antibiotik, mukolitik, dan antitusif; (2) pengobatan penunjang :
rehabilitasi (edukasi, berhenti merokok, latihan fisik dan respirasi, nutrisi), terapi oksigen,
ventilasi mekanik, operasi paru, dan vaksinasi influenza (kemenkes RI, 2008). Penderita
PPOK dapat diberikan rehabilitasi seperti latihan fisik dan latihan pernapasan. Fisioterapi
dada merupakan teknik yang berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat
akut maupun kronis. Teknik ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi efektif
dalam mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan gangguan fungsi
paru.

Tujuan fisioterapi yaitu mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernapasan,


membantu membersihkan sekret dari bronkus, mencegah penumpukan sekret, serta
memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Fisioterapi dada dapat digunakan untuk
pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruksi menahun, penyakit pernapasan
restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan
parenkim paru fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini
meliputi rangkaian postural drainage, perkusi, vibrasi, dan batuk efektif (PDPI, 2003).

Penelitian ini bersifat kuantitatif eksperimen dengan perlakuan sebanyak satu kali
sebelum dan setelah sputum dibatukkan. kemudian satunasi oksigen responden diukur
menggunakan oksinometri. Pengukuran saturnasi dilakukan segera setelah responden
berekspektorasi dan lima menit kemudian. Hasilnya terdapat perbedaan ekspektorasi sputum
yang bermakna antara sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan, dimana pada kelompok
yang diberikan fisioterapi dada didapatkan ekspektorasi sputum yang lebih baik dan terdapat
perkembangan ekspektorasi sputum yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok
yang tidak diberikan fisioterapi dada. Itu artinya fisioterapi terbukti membantu membersihkan
jalan napas dari mukus atau sekresi yang berlebihan.

Fisioterapi dada juga berpengaruh terhadap saturnasi oksigen, hal ini dibuktikan
dengan meningkatnya sturnasi oksigen lebih baik pada kelompok yang diberikan fisioterapi
dada setelah lima menit dibandingkan dengan kelompok yang hanya batuk efektif. Secara

2
statistik, fisioterapi dada yang dilakukan pada penelitian ini terbukti membantu
membersihkan jalan napas dari mukus atau sekresi yang berlebihan.

Berdasarkan jurnal Pengaruh Fisioterapi Dada terhadap Ekspektorasi Sputum dan


Peningkatan Saturasi Oksigen Penderita PPOK di RSP Dungus Madiun (Priadi) dapat
disimpulkan, Fisioterapi dada berpengaruh terhadap ekspektorasi sputum dan peningkatan
saturasi oksigen penderita PPOK. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang faktor-faktor
lain yan mempengaruhi ekspektorasi sputum dan saturasi oksigen pada penderita PPOK,
penggunaan desain penelitian true experimental dan perlakuan berulang, penelitian di instansi
pelayanan kesehatan lain, serta pengaruh fisioterapi dada terhadap fungsi paru penderita
PPOK. Fisioterapi dada dapat dijadikan alternatif dalam penatalaksanaan PPOK derajat
ringan dan sedang, terutama untuk tujuan meningkatkan ekspektorasi sputum dan saturasi
oksigen, agar pasien dapat mengeluarkan dahak dan membersihkan jalan napas, yang pada
akhirnya memperbaiki oksigenasi jaringan tanpa menggunakan obat-obatan.

Fisioterapi dada juga bisa dilakukan pada masalah bersihan jalan napas pada anak
dengan bronkopneumoni. Bronkopneumoni merupakan salah satu penyakit yang menyerang
saluran pernapasan dimana manifestasi penyakit ini bervariasi mulai dari batuk, pilek disertai
dengan nanah.

Proses peradangan dari proses penyakit bronkopneumoni dapat menyebabkan


produksi sekret meningkat hingga muncul masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Dimana individu tidak mampu mengeluarkan sekret dari saluran napas untuk
mempertahankan kepatenan jalan napas. Apabila masalah bersihan jalan napas ini tidak
ditangani secara cepat maka bisa menimbulkan masalah yang lebih berat bahkan kematian.
Salah satu cara mengatasinya dapat dengan fisioterapi dada.

Selain dua masalah di atas fisioterapi dada juga bila dilakukan pada masalah infeksi
pernapasan akut (ISPA) pada anak, Suatu penelitian yang dilakukan di Yogyakarta oleh
Widowati (2007) yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas fisioterapi dada terhadap
kesembuhan asma pada anak. Dari hasil penelitian bahwa fisioterapi dada (Chest teraphy)
mempunyai efek dalam membantu kesembuhan asma pada anak. Kesembuhan pasien asma
dapat diukur dengan berkurangnya batuk, sesak nafas, dan lancarnya pengeluaran sputum
sehingga menjadi hilang. Penelitian yang hampir sama dilakukan di Cairo University oleh
Hussen pada tahun 2011 yang bertujuan mengetahui efek fisioterapi dada terhadap bersihan
jalan nafas anak yang mengalami pneumonia. Hasil penelitian didapatkan bahwa CPT efektif
3
dalam meningkatkan bersihan saluran udara pada bayi dengan pneumonia yang dievaluasi
dari penurunan kebutuhan oksigen dan frekuensi penyedotan.

Menurut Wong tahun 2008, salah satu tugas seorang perawat adalah bertanggung
jawab terhadap melakukan maneuver atau posisi fisioterapi dada apabila tidak ada ahli terapi
(ahli fisioterapi), oleh sebab itu perawat harus terampil dalam melakukan tehnik ini.
Fisioterapi dada dalam hal ini merupakan tehnik untuk mengeluarkan secret yang berlebihan
atau material yang teraspirasi dari dalam saluran respiratori.

Jenis penelitian yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Quasi Eksperiment
dengan jenis One Group Pretest-Posttes design Rancangan ini mempunyai ciri-ciri
mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek,
kemudian kelompok subjek akan diobservasi sebelum dilakukan intervensi, selanjutnya
diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2008). Populasi pada penelitian ini adalah
semua anak usia 1-5 tahun yang mengalami gangguan bersihan jalan nafas di Puskesmas
Moch. Ramdhan. Sampel adalah bagian dari suatu populasi yang dipilih dengan cara tertentu
hingga dianggap mewakili dari populasinya (Sastroasmoro & Ismael, 2008). Cara pemilihan
responden pada penelitian ini adalah Purposive Sampling dengan sampel sebanyak 17 orang.
Pemilihan responden berdasarkan kriteria atau pertimbangan yang dibuat oleh peneliti.
Kriteria tersebut terdiri dari kriteria inklusi dan eksklusi.

1. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target
dan terjangkau yang akan diteliti. (Nursalam, 2008). Yaitu:
a. Anak usia 1-5 tahun yang mengalami gangguan bersihan jalan nafas ditandai
dengan respirasi rate (RR) >40x/mnt, pernafasan cuping hidung (PCH) +, serta
retraksi intercostal (RIC) +
b. Nadi dan suhu tubuh anak dalam batas normal.
c. Kesadaran Baik (Kompos metis).
d. Orang tua pasien memberikan ijin menjadi responden.

2. Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang tidak


memenuhi kriteria inklusi. (Nursalam, 2008), yaitu:

a. Pasien dengan Kelainan dinding dada: Fraktur iga, infeksi, neoplasma, riketsia.

b. Pasien dengan Tension Pneumothoraks.

4
c. Pasien yang mengalami kelainan yang berhubungan dengan darah: kelainan
pembekuan, haemoptisis, perdarahan intrabronkial yang massif.

d. Pasien dengan Aritmia jantung.

Berdasakan penelitian ini fisioterapi dada dapat menurunkan frekuensi napas serta
dapat meningkatkan bersihan jalan napas. Pada uji beda proporsi (pernapasan cuping
hidung dan retraksi interkostal) tidak terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah
fisioterapi dada, artinya fisioterapi dada tidak mempengaruhi secara signifikan
terhadap pernapasan cuping hidung retraksi interkostal.

BAB III

PENUTUP

5
3.1 Kesimpulan

Berdasarkan jurnal Pengaruh Fisioterapi Dada terhadap Ekspektorasi Sputum dan


Peningkatan Saturasi Oksigen Penderita PPOK di RSP Dungus Madiun (Priadi) dapat
disimpulkan, Fisioterapi dada berpengaruh terhadap ekspektorasi sputum dan peningkatan
saturasi oksigen penderita PPOK. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang faktor-faktor
lain yan mempengaruhi ekspektorasi sputum dan saturasi oksigen pada penderita PPOK,
penggunaan desain penelitian true experimental dan perlakuan berulang, penelitian di instansi
pelayanan kesehatan lain, serta pengaruh fisioterapi dada terhadap fungsi paru penderita
PPOK. Fisioterapi dada dapat dijadikan alternatif dalam penatalaksanaan PPOK derajat
ringan dan sedang, terutama untuk tujuan meningkatkan ekspektorasi sputum dan saturasi
oksigen, agar pasien dapat mengeluarkan dahak dan membersihkan jalan napas, yang pada
akhirnya memperbaiki oksigenasi jaringan tanpa menggunakan obat-obatan.

3.2 Saran

Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih lengkap tentang pengaruh pengaruh fisioterapi
dada terhadap ekspektorasi sputum dan peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK,
pembaca dapat mempelajari buku – buku dan literatur yang berhubungan dengan hal tersebut.
Disini, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna,
sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun dan menyempurnakan penulisan makalah
– makalah selanjutnya sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Priadi, Nanang Ilham Setyaji, Angelin Kusuma Pertiwi.2016.Pengaruh Fisioterapi Dada


terhadap Ekspektorasi Sputum dan Peningkatan Saturasi Oksigen Penderita PPOK di RSP

6
Dungus Madiun.Madiun : Prodi DIII Keperawatan Akademi Keperawatan dr. Soedono
Madiun