Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR COLLUM FEMUR

Disusun Oleh :
KURNILAM NUR CIPTANINGSIH
P1337420616016

PRODI S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2018
I. Jenis Kasus
I.1 Definisi
Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang
rawan yang disebabkan oleh kekerasan. Fraktur femur adalah rusaknya
kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung,
kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis.
Fraktur kolum femur adalah fraktur intrakapsuler yang terjadi di femur
proksimal pada daerah yang berawal dari distal permukaan artikuler caput
femur hingga berakhir di proksimal daerah intertrokanter (FKUI-
RSCM,2008). Sedangkan fraktur kolum femur merupakan fraktur
intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimal femur, yang termasuk kolum
femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris sampai dengan
bagian proksimal dari intertrokanter.
I.2 Etiologi
Fraktur collum femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering
pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses
penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur collum femur dapat
disebabkan oleh trauma langsung, yaitu misalnya penderita jatuh dengan
posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan
benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung, yaitu
karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
a. Cedera traumatik sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang
tiba- tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan,
penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran,
atau penarikan. cedera traumatik pada tulang dapat dibedakan dalam hal
berikut, yakni:
1. cedera langsung, berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga
tulang patah secara spontan. +emukulan biasanya menyebabkan fraktur
melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2. Cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan
b. Fraktur patologik dalam hal ini, kerusakan tulang terjadi akibat proses
penyakit akibat berbagai keadaan berikut, yakni :
1. Tumor tulang (jinak atau gana), dimana berupa pertumbuhan jaringan
baru yang tidak terkendali dan progresif.
2. Infeksi, misalnya osteomielitis, yang dapat terjadi sebagai akibat
infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
3. Rakhitis, merupakan suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh
defisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet,
biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat
disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan
kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan, dimana disebabkan oleh stress atau tegangan atau tekanan
pada tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang
yang bertugas di bidang kemiliteran.

I.3 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala yang terdapat pada pasien dengan fraktur femur, yakni:
1) Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya. Perubahan keseimbangan dan kontur terjadi, seperti:
a. rotasi pemendekan tulang;
b. penekanan tulang.
2) Bengkak (edema)
Bengkak muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravasasi darah dalam
jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
3) Ekimosis dari perdarahan subculaneous
4) Spasme otot (spasme involunters dekat fraktur)
5) Tenderness
6) Nyeri
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot, perpindahan tulang dari
tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
7) Kehilangan sensasi
8) Pergerakan abnormal
9) Syok hipovolemik
10) Krepitasi
Pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada
penderita usia tua biasanya hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur
collum femur. Penderita tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul.
Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya
pemendekakan dari tungkai yang cedera. Tungkai dalam posisi abduksi dan fleksi serta
eksorotasi.pada palpasi sering ditemukan adanya hematom di panggul. Pada tipe impacted,
biasanya penderita masih dapat berjalan disertai rasa sakit yang tidak begitu hebat. Posisi
tungkai tetap dalam keadaan posisi netral.
Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan
deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa
pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur
yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri
tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.

I.4 Klasifikasi
a. Fraktur collum femur sendiri dibagi dalam dua tipe, yaitu
1. Fraktur intrakapsuler
2. Fraktur extrakapsuler
Intrakapsuler

Ekstrakapsuler

b. Berdasarkan arah sudut garis patah dibagi menurut Pauwel :


 Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30° dengan bidang horizontal pada
posisi tegak
 Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50° dengan bidang horizontal
pada posisi tegak
 Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50° dengan bidang horizontal
Klasifikasi Pauwel’s untuk Fraktur Kolum Femur
Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang
horizontal pada posisi tegak.

c. Dislokasi atau tidak fragment ( menurut Garden’s) adalah sebagai berikut :


 Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi)
 Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
 Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus
malaligment)
 Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian
segmen yang bersinggungan.

Klasifikasi Garden’s untuk Fraktur Kolum Femur


I.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan !adiologi sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting
adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen ( Sinar-X) untuk
mendapatkan gambaran 1 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang
sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam
keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi
untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi.
Perlu disadari bahwa permintaan Sinar -X harus atas dasar indikasi
kegunaan. Pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan
permintaan. Hal yang harus dibaca pada Sinar-X mungkin dapat di
perlukan teknik khusus, seperti hal - hal sebagai berikut. (Arif
Muttaqin,2008)
1. Tomografi, menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang
lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan
kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja
tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
2. Myelografi, menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan
pembuluh darah di ruang tulang Vertebrae yang mengalami kerusakan
akibat trauma.
3. Arthrografi, menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena
ruda paksa.
4. Computed Tomografi-Scanning, menggambarkan potongan secara
transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang
rusak.
b. Pemeriksaan laboratorium
1. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
2. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Enzim otot seperti
Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino
Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tulang
3. Hematokrit dan Leukosit akan meningkat
c. Pemeriksaan lain-lain,
1. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas, didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
2. Biopsi tulang dan otot, pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.
3. Elektromyografi, terdapat kerusakan konduksi saraf yang disebabkan
fraktur
4. Arthroscopy, didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan
5. Indium Imaging, pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang
6. MRI, digambarkan seluruh kerusakan akibat fraktur

(Arif, Muttaqin,2008)

I.6 Penatalaksanaan
a. Impacted Fraktur

Pada fraktur intrakapsuler terdapat perbedaan pada daerah collum femur


dibanding fraktur tulang di tempat lain. Pada collum femur-periosteumnya sangat
tipis sehingga daya osteogenesinya sangat kecil, sehingga seluruh penyambungan
fraktur collum femur tergantung pada pembentukan calus endosteal. Lagipula
aliran pembuluh darah yang melewati collum femur pada fraktur collum femur
terjadi kerusakan. Lebih-lebih lagi terjadinya haemarthrosis akan menyebabkan
aliran darah sekitar fraktur tertekan alirannya. Sehingga apabila terjadi fraktur
intrakapsuler dengan dislokasi akan terjadi avaskular nekrosis.

b. Penanggulangan Impacted Fraktur

Pada fraktur collum femur yang benar-benar impacted dan stabil, penderita
masih dapat berjalan selama beberapa hari. Gejalanya ringan, sakit sedikit pada
daerah panggul. Kalau impactednya cukup kuat penderita dirawat 3-4 minggu
kemudian diperbolehkan berobat jalan dengan memakai tongkat selama 8 minggu.
Kalau pada x-ray foto impactednya kurang kuat ditakutkan terjadi disimpacted,
penderita dianjurkan untuk operasi dipasang internal fixation. Operasi yang
dikerjakan untuk impacted fraktur biasanya dengan multi pin teknik percutaneus.

c. Penanggulangan dislokasi fraktur collum femur

Penderita segera dirawat dirumah sakit, tungkai yang sakit dilakukan


pemasangan tarikan kulit (skin traction) dengan buck-extension. Dalam waktu 24-
48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang dilanjutkan dengan pemasangan internal
fixation. Reposisi yang dilakukan dicoba dulu dengan reposisi tertutup dengan
salah satu cara yaitu: menurut leadbetter. Penderita terlentang dimeja operasi.
Asisten memfiksir pelvis. Lutut dan coxae dibuat fleksi 90 untuk mengendurkan
kapsul dan otot-otot sekitar panggul. Dengan sedikit adduksi paha ditarik ke atas,
kemudian dengan pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi panggul 45.
Kemudian sendi panggul dilakukan gerakan memutar dengan melakukan gerakan
abduksi dan ekstensi. Setelah itu dilakuakn test.

Palm heel test: tumit kaki yang cedera diletakkan diatas telapak tangan.
Bila posisi kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi
berhasil baik. Setelah reposisi berhasil dilakukan tindakan pemasangan internal
fiksasi dengan teknik multi pin percutaneus. Kalau reposisi pertama gagal dapat
diulangi sampai 3 kali, dilakukan open reduksi. Dilakukan reposisi terbuka setelah
tereposisi dilakukan internal fiksasi. Macam-macam alat internal fiksasi
diantaranya: knowless pin, cancellous screw, dan plate.

Pada fraktur collum femur penderita tua (>60 tahun) penanggulangannya


agak berlainan. Bila penderita tidak bersedia dioperasi atau dilakukan prinsip
penanggulangan, tidak dilakukan tindakan internal fiksasi, caranya penderita
dirawat, dilakukan skin traksi 3 minggu sampai rasa sakitnya hilang. Kemudian
penderita dilatih berjalan dengan menggunakan tongkat (cruth). Kalau penderita
bersedia dilakukan operasi, yaitu menggunakan tindakan operasi arthroplasty
dengan pemasangan prothese austine moore.
I.7 Terapi

Pemberian analgetik parenteral sangat dianjurkan untuk mengurangi rasa nyeri


pada pasien. Pemberian obat relaksasi otot juga kadang-kadang diperlukan.
Pemberian antibiotik untuk area kulit yang terbuka seperti sefazolin sodium dan
imunisasi tetanus juga diperlukan pada fraktur terbuka.

a. Analgetik

Mengontrol nyeri adalah penting untuk kenyamanan pasien. Analgetik yang


dapat diberikan :

• Morfin sulfat

Merupakan drug of choice dari golongan analgetik narkotik karena efek yang
jelas, aman dan dapat reversibel dengan nalokson dengan mudah. Morfin
sulfat yang diberikan secara intra vena dibagi dalam beberapa dosis dan
biasanya diberikan secara titrasi sampai efek yang diinginkan tercapai. Untuk
dewasa, dosis awal 0,1 mg/kg IV/IM/SC, dosis maintenance 5-20 mg/70 kg
IV/IM/SC q4h. Pada pasien dengan hipovolemik relative, mulai dengan 2 mg
IV/IM/SC. Kontraindikasinya yaitu riwayat hipersensitif dan hipotensi.
Fenotiazin berantagonis dengan efek analgesiknya, sedangkan antidepresan
trisiklik, MAOIs dan depresan sistem saraf pusat lainnya dapat memberikan
efek yang berlawanan.

• Fentanil sitrat

Merupakan analgetik narkotik yang lebih poten dibandingkan dengan morfin


sulfat karena waktu paruh yang lebih pendek. Merupakan drug of choice
sebagai analgetik sedatif. Dengan durasinya yang pendek (30-60 menit),
mudah untuk dititrasi. Mudah dan cepat efek reversibelnya terhadap nalokson.
Dosis untuk dewasa 0,5-1 mcg/kgBB/dose IV/IM q30-60 menit. Transdermal
25 mcg/h sistem q48-72 jam. Kontraindikasi sama dengan morfin sulfat. Juga
berinteraksi dengan fenotiazin dan antidepresan trisiklik.
b. Antibiotik

• Sefazolin

Merupakan semisintetik sefalosporin generasi pertama. Efektif melawan flora


kulit termasuk stafilkokus aureus. Dosis untuk dewasa 2 g IV/IM q6-12h tidak
melebihi 12 g/day. Kontraindikasinya adalah riwayat hipersensitif. Probenesid
memperpanjang efeknya, penggunaan bersama aminoglikosid dapat
meningkatkan toksisitas terhadap ginjal. Dapat menyebabkan hasil
pemeriksaan glukosa urin menjadi positif palsu.

• Gentamisin

Merupakan golongan aminoglikosid untuk mengeradikasi bakteri gram


negatif. Biasanya digunakan sebagai kombinasi dengan antibiotik untuk
bakteri gram positif. Digunakan bersama ampisilin atau vankomisin untuk
pencegahan pada pasien dengan fraktur terbuka. Dosis untuk dewasa 1,5
mg/kgBB IV tidak melebihi 80 mg. Kontraindikasinya riwayat hipersensitif
dan gangguan fungsi ginjal. Golongan aminoglikosid lain, sefalosporin,
penisilin dan amfoterisin B dapat meningkatkan efek nefrotoksisitasnya.
Aminoglikosid dosis tinggi dapat mendepresi neuromuskular dan mendepresi
nafas. Diuretik dapat meningkatkan efek toksisitas pendengaran dari
aminoglikosid.

• Ampisilin

Digunakan bersama dengan aminoglikosid sebagai profilaksis pada pasien


dengan fraktur terbuka. Dosis untuk dewasa 2 g IV/IM. Kontraindikasinya
adalah riwayat hipersensitifitas. Probenesid dan disulfiram meningkatkan
kadarnya, sedangkan allopurinol menurukan kadarnya serta menambah efek
rash akibat ampisilin. Ampisilin dapat menurunkan efek oral kontrasepsi.

• Vankomisin

Antibiotik poten untuk bakteri gram positif dan enterokokus. Juga berguna
untuk menangani septikemia. Digunakan bersama dengan gentamisin untuk
pencegahan pada fraktur terbuka pada pasien yang alergi penisilin. Dosis
untuk dewasa 1 g IV.

I.8 Kompilkasi

• Deep venous trombosis (DVT)

Terjadi pada 16-50 % pasien bahkan 14 % berakibat emboli paru. DVT dapat
terjadi akibat banyaknya darah yang keluar dari permukaan jaringan yang
terluka,yang akan mengaktifkan faktor pembekuan yang mengakibatkan
terbentuknya trombus dalam pembuluh darah. Imobilitas akibat nyeri atau bedrest
total juga merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya DVT. Kadang-kadang
kerusakan pembuluh darah juga berpengaruh terhadap terbentuknya bekuan darah
intravaskuler. Pemberian antikoagulan dosis penuh adalah efektif untuk mencegah
DVT tetapi akan menyebabkan perdarahan bertambah hebat dan biasanya tidak
digunakan. Profilaksis terhadap DVT dengan menggunakan heparin atau dextran
dosis kecil dengan atau tanpa obat antiplatelet hanya sedikit efektifitasnya.

• Ulkus dekubitus

Terjadi pada 42 % pasien, akibat imobilitas yang menyebabkan luka akibat


tekanan yang terus menerus dari tempat tidur. Hal ini dapat dicegah dengan
rehabilitasi secepatnya setelah operasi dilakukan misalnya dengan mobilisasi
bedrest yaitu dengan miring kekanan atau kekiri ditempat tidur selama beberapa
lama.

• Infeksi

Infeksi dapat terjadi pada fraktur terbuka sehingga menyebabkan berbagai infeksi
seperti infeksi pada kulit, myositis ossificans, bursitis, dan septic artritis. Selain
itu, karena fraktur lebih sering terjadi pada wanita, penggunaan kateter akibat
imobilitas dapat menyebabkan terjadinya infeksi traktus urinarius. Infeksi dapat
diatasi dan dicegah dengan pemberian antibiotik.

• Nonunion
• Avaskular nekrosis

Hal ini terjadi karena berkurang atau berhentinya vaskularisasi pada proximal
femur akibat kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahinya sehingga
timbul kerusakan atau nekrosis pada tulang.

• Nyeri kronik

• Gangguan gaya berjalan

I.9 Prognosis

• Prognosis tergantung pada usia, jenis fraktur dan banyak faktor lainnya

• Secara umum, pasien usia muda hampir selalu dapat kembali berjalan, walaupun
masih tetap bergantung pada tipe frakturnya, mereka mungkin tidak dapat kembali
beraktifitas seperti tingkat aktifitas sebelumnya.

• Banyak pasien lanjut usia tidak dapat kembali berjalan atau hanya mampu
mengerjakan sesuatu bersama asisten. Hal ini mengakibatkan ketidakmampuan
mereka untuk hidup mandiri.

• Hampir 20% pasien tidak dapat berjalan lagi dan pada jumlah yang sama pasien
tidak mampu lagi berjalan diluar rumahnya.

• Hanya 50-65 % dapat kembali berjalan.


II. Fokus Assesment

Trauma Langsung Trauma tidak langsung Kondisi Patologis

Dinkontinuitas Jaringan

Fraktur Collum Femur


Gangguan Pola
Nyeri
Tidur

Kerusakan Integritas Perdarahan di Kehilangan Tindakan


Tulang periosteum cairan/ operasi ORIF
perdarahan

Kerusakan
Cedera vaskuler Syok Luka terbuka
jaringan di
Hipovolemik (pasang
ujung tulang
pen,plat,kawat)
Kerusakan Kekurangan
rangka Hematoma di volume cairan
neuromuskuler kanal medula
Luka operasi
Terpasang infus (terputusnya
Peradangan dan terapi kontinuitas
Gangguan
(dolor, kalor, tranfusi darah jaringan)
Mobilitas Fisik
rubor, tumor)
Resiko infeksi

Resiko Jatuh Perubahan


Kurangnya
perfusi jaringan
informasi

Kerusakan Defisit
Integritas Kulit Pengetahuan
Diri
III. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan
imobilisasi.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
aktif
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculosceletal
5. Defisit pengetahuan diri berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
penatalaksanaan
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan perfusi jaringan,
fraktur dan prosedure invasive
7. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasife

IV. Intervensi dan rasionalisasi

Diagnosa Intervensi Rasionalisasi


Nyeri akut berhubungan NIC Label : Pain NIC Label : Pain
Management Management
dengan prosedur
1. Kaji secara 1. Untuk mengetahui
pembedahan, komprehensip terhadap tingkat nyeri pasien
pembengkakan dan nyeri termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, 2. Untuk mengetahui
imobilisasi. tingkat
frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri dan ketidaknyamanan
faktor presipitasi dirasakan oleh pasien
2. Observasi reaksi
3. Untuk
ketidaknyaman secara
mengalihkan perhatian
nonverbal
pasien dari rasa nyeri
3. Gunakan strategi
komunikasi terapeutik 4. Untuk mengetahui
untuk mengungkapkan apakah nyeri yang
pengalaman nyeri dan dirasakan klien
penerimaan klien berpengaruh terhadap
terhadap respon nyeri yang lainnya
4. Tentukan pengaruh
pengalaman nyeri 5. Untuk
terhadap kualitas mengurangi factor
hidup( napsu makan, yang dapat
tidur, aktivitas,mood, memperburuk nyeri
hubungan sosial) yang dirasakan klien
5. Tentukan faktor yang
dapat memperburuk 6. Untuk mengetahui
nyeriLakukan evaluasi apakah terjadi
dengan klien dan tim pengurangan rasa nyeri
kesehatan lain tentang atau nyeri yang
ukuran pengontrolan dirasakan klien
nyeri yang telah bertambah.
dilakukan
7. Untuk
6. Berikan informasi
mengurangi tingkat
tentang nyeri termasuk
ketidaknyamanan yang
penyebab nyeri, berapa
dirasakan klien.
lama nyeri akan hilang,
antisipasi terhadap 8. Agar nyeri yang
ketidaknyamanan dari dirasakan klien tidak
prosedur bertambah.
7. Control lingkungan
yang dapat 9. Agar klien
mempengaruhi respon mampu menggunakan
ketidaknyamanan teknik nonfarmakologi
klien( suhu ruangan, dalam memanagement
cahaya dan suara) nyeri yang dirasakan.
8. Hilangkan faktor
presipitasi yang dapat 10. Pemberian analgetik
meningkatkan dapat mengurangi rasa
pengalaman nyeri nyeri pasie
klien( ketakutan,
kurang pengetahuan)
9. Ajarkan cara
penggunaan terapi non
farmakologi (distraksi,
guide
imagery,relaksasi)
10.Kolaborasi pemberian
analgesik

Kerusakan integritas kulit Pressure management Pressure Management


1. Tempatkan klien
berhubungan dengan
pada tempat tidur 1. Dengan
perubahan perfusi terapi menempatkan klien
jaringan, fraktur dan 2. pada tempat tidur
Evaluasi adanya
luka pada ektremitas terapi dapat
prosedure invasive
mengurangi
3. Memonitoring penekanan pada
kulit yang memerah bagian seperti kepala
dan terjadi kerusakan dan pantat

Skin care : topical 2. Dengan evaluasi


treatment adanya luka pada
ektremitas dapat
1. Memijat disekitar mengurangi resiko
area yang terjadinya luka
mempengaruhi atau
dapat menimbulkan 3. Dengan
luka memonitoring area
kulit yang merah dan
2. Menjaga linen
terjadi kerusakan
agar tetap bersih,
kering, dan tidak untuk mengurangi
mengkerut resiko dekubitus

3. Mobilisasi klien Skin Care : topical


setiap 2 jam treatment

4. Memakaikan 1. Dengan memassage


emolien pada area disekitar area yang
yang beresiko
mempengaruhi akan
mengurangi
terjadinya
kemerahan dan
untuk melancarkan
aliran darah
disekitar area

2. Dengan menjaga
linen agar tetap
bersih, kering, dan
tidak mengkerut
agar tidak ada pada
penekanan beberapa
bagian kulit

3. Dengan
memobilisasi klien
dapat mengurangi
penekanan

4. Dengan
menggunakan
emolien dapat
melembabkan
daerah yang kering

Resiko infeksi NIC label : Wound Care NIC label : Wound Care
1. Monitor 1. Untuk mengetahui
berhubungan dengan
karakteristik, warna, keadaan luka dan
prosedur invasife ukuran, cairan dan perkembangannya
bau luka
2. Normal salin
2. Bersihkan luka
dengan normal salin merupakan cairan
isotonis yang sesuai
3. Rawat luka dengan cairan di tubuh
dengan konsep steril
3. Agar tidak terjadi
4. Ajarkan klien dan infeksi dan terpapar
keluarga untuk oleh kuman atau
melakukan perawatan
bakteri
luka

5. Berikan 4. Memandirikan
penjelasan kepada pasien dan keluarga
klien dan keluarga
mengenai tanda dan 5. Agar keluarga
gejala dari infeksi pasien mengetahui
tanda dan gejala dari
6. Kolaborasi infeksi
pemberian antibiotik
6. Pemberian
NIC label : Infection
Control antibiotic untuk
mencegah timbulnya
infeksi
1. Bersihkan
lingkungan setelah
NIC label : Infection
dipakai klien lain
Control
2. Instruksikan
pengunjung untuk
mencuci tangan saat 1. Meminimalkan
berkunjung dan risiko infeksi
setelah berkunjung
2. Meminimalkan
3. Gunakan sabun
patogen yang ada di
anti mikroba untuk
cuci tangan sekeliling pasien

4. Cuci tangan 3. Mengurangi


sebelum dan sesudah mikroba bakteri yang
tindakan keperawatan dapat menyebabkan
infeksi
5. Gunakan
universal precaution
dan gunakan sarung
tangan selma kontak
dengan kulit yang
tidak utuh

6. Berikan terapi
antibiotik bila perlu

7. Observasi dan
laporkan tanda dan
gejal infeksi seperti
kemerahan, panas,
nyeri, tumor

8. Kaji temperatur
tiap 4 jam

9. Catat dan
laporkan hasil
laboratorium, WBC

10. Kaji warna kulit,


turgor dan tekstur,
cuci kulit dengan
hati-hati

11. Ajarkan keluarga


bagaimana mencegah
infeksi

Gangguan pola tidur NIC : NIC :


Sleep Enhancement Sleep Enhancement
berhubungan dengan
nyeri 1. Determinasi efek-efek 1. Untuk mengetahui
medikasi terhadap pola bahwa tidur penting
tidur bagi penyembuhan

2. Jelaskan pentingnya 2. Untuk memberikan


tidur yang Adekuat pengertian ke klien
bahwa tidur itu penting
3. Fasilitasi untuk demi kesembuhan
mempertahankan
aktivitas sebelum tidur 3. Sebagai salahsatu
(membaca) upaya agar pasien
dapat beristirahat
4. Ciptakan lingkungan
yang nyaman 4. Untuk menciptakan
kondisi tidur yang
5. Kolaburasi pemberian nyaman bagi klien
obat tidur
5. Terapi yang diberikan
jika klien sudah
insomnia berat
Defisit pengetahuan diri NIC Label >> Chemotherapy
Chemotherapy Management
berhubungan dengan
Management
kurangnya informasi 1. Monitor kesiapan 1. Menentukan
pasien sebelum intervensi yan tepat
mengenai dan meninkatkan
dilakukan prosedure
penatalaksanaan ORIF. kesiapan pasien untuk
melaksanakan
2.  Berikan informasi prosedure ORIF
kepada pasien tentang
tujuan dan proses 2. Meningkatkan
prosedure pengetahuan dan
ORIF.Berikan kesiapan pasien untuk
informasi kepada menjalani prosedure
pasien dan keluarga ORIF
mengenai efek
samping setalah 3. Menurangi kecemasan
dilakukan prosedure pasien dan
ORIF meningkatkan
kesiapan pasien
menjalani prosedure
3. Ajarkan pasien teknik ORIF
relaksasi untuk
4. Relaksasi dapat
dilakukan sebelum
mengurangi
dan sesudah dilakukan
kecemasan pasien
prosedure ORIF

Gangguan mobilitas fisik NIC : NIC :


Exercise therapy : Exercise theraphy :
berhubungan dengan
ambulation ambulation
kerusakan
1. Monitoring vital sign 1. Untuk mengetahui
musculosceletal
sebelum/sesudah adanya perubahan
latihan dan lihat keadaan umum pasien
respon pasien saat
latihan 2. Untuk kolaborasi
pemberian terapi fisik
2. Konsultasikan dengan yang tepat kepada
terapi fisik tentang klien
rencana ambulasi
sesuai dengan 3. Untuk mengetahui
kebutuhan kemampuan mobilisasi
klien
3. Kaji kemampuan
pasien dalam 4. Untuk melatih
mobilisasi kemandirian klien
dalam pemenuhan
4. Latih pasien dalam kebutuhan ADLs nya
pemenuhan kebutuhan 5. Untuk menghindari
ADLs secara mandiri resiko cedera dan
sesuai kemampuan resiko jatuh

5. Dampingi dan Bantu 6. Untuk membantu


pasien saat mobilisasi kemampuan mobilisasi
dan bantu penuhi klien
kebutuhan ADLs ps.
7. Untuk menghindari
6. Berikan alat Bantu jika penekanan tulang yang
klien memerlukan. dapat menyebabkan
luka
7. Ajarkan pasien
bagaimana merubah
posisi dan berikan
bantuan jika
diperlukan

V. Daftar Pustaka

Cuccurullo, S.2002. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. New Jersey :
Demos pp203-4

Kusuma Hardhi, Amin Huda Nurarif. 2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC.Yogyakarta:MediAction

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:


Prima Medika

Snell, R.2006.Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta :


EGC pp557-91
Solomon, L. Marwick, D. Nayagam, S. 2010.Apley’s System of Orthopaedics and
Fractures. United Kingdom : Hodder Arnold pp 847-52