Anda di halaman 1dari 66

MATERI 2 ARITMATIKA

Bilangan Irasional, Perpangkatan, akar dan logaritma

Oleh :
Kelompok 2
1. Ade Mutiara Putri N (06131282025021) / 20
2. Annida Nurul Azizah (06131282025020) / 19
3. Hetri Delmania (06131282025053) / 50
4. Luthfiyah Khoirun Nisa (06131282025041) / 39
5. Meisya Dwi Morlina (06131282025044) / 41
6. Mukhlisah Putri (06131282025026) / 25
7. Tri Damayanti (06131282025050) / 47
8. Tri Oktariana (06131282025024) / 23
9. Yosa Meliya (06131282025001) / 01

Dosen Pengampu :
Dra. Toybah, M.Pd
Vina Amilia Suganda M, S.Pd., M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, dimana atas segala rahmat dan izin-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah “Bilangan Irasional, Perpangkatan, akar dan
logaritma”.

Shalawat serta salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi semesta
alam Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikan makalah ini, walaupun kami menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan di dalam makalah ini. Untuk itu kami
berharap adanya kritik dan saran yang membangun guna keberhasilan penulisan yang
akan datang.
Akhir kata, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga selesainya makalah ini semoga segala upaya yang telah dicurahkan
mendapat berkah dari Allah SWT. Aamiin.

Indralaya, 24 Oktober 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan.........................................................................................................2

BAB II : ISI
A. Bilangan Irasional.......................................................................................................3
B. Perpangkatan.............................................................................................................13
C. Akar...........................................................................................................................30
D. Logaritma..................................................................................................................46
E. Contoh Soal...............................................................................................................59

BAB III : PENUTUP


Daftar Pustaka..................................................................................................................61

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak zaman purbakala, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan


matematika sangat diperlukan dan telah menyatu dalam kehidupan manusia dan
merupakan kebutuhan dasar dari setiap lapisan masyarakat, dalam pergaulan
hidup sehari-hari. Mereka membutuhkan matematika untuk perhitungan
sederhana. Untuk keperluan tersebut diperlukan bilangan-bilangan. Keperluan
bilangan mula-mula sederhana tetapi makin lama makin meningkat, sehingga
berkembang dari masa ke masa hingga saat ini.
Dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu bertemu yang namanya bilangan
karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi, atau pun
dalam dunia musik, filosofi, dan hiburan serta aspek kehidupan lainnya. Adanya
bilangan membantu manusia untuk melakukan banyak perhitungan, mulai dari
perhitungan sederhana tentang keperluan belanja di dapur, untuk keperluan
mengendalikan banjir, mengeringkan rawa-rawa, membuat irigasi, perhitungan
hasil pertanian dan peternakan sampai perhitungan yang rumit tentang cara
menilai kegiatan perdagangan, keuangan dan pemungutan pajak dan keperluan
peluncuran pesawat ruang angkasa dll yang mana masing-masing bangsa memiliki
cara tersendiri untuk menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana menentukan bilangan irasional?
b. Bagaimana menyelesaikan perpangkatan?
c. Bagaimana menyelesaikan akar?
d. Bagaimana menyelesaikan logaritma?

1
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui bilangan irasional
b. Mengetahui cara penyelesaian perpangkatan
c. Mengetahui cara penyelesaian akar
d. Mengetahui cara penyelesaian logaritma

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. BILANGAN IRASIONAL
Yosa meliya
06131182025001

A. Pengertian Bilangan Irasional

Bilangan irasional adalah sistem bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
pecahan a/b dengan a, b adalah bilangan bulat dan b ≠ 0, namun dapat dinyatakan dalam
bentuk desimal.

Bilangan irasional terdiri dari kumpulan bilangan yang tdak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan
seperti { √2, √3, √5, √6, √7, ….. }

Contoh Bilangan Irasional dan Penjelasannya

√2 =1.4142135623730950...

√3=1.7320508075688772...

jika dilanjutkan tidak akan menemukan polanya.sehingga tidak bisa dinyatakan


sebagai a/b dengan a/b nya adalah bilangan bulat.

Pi:π = 3.141592653589793298462...
pi:π merupakan ratio yang jika kita cari hasilnya tidak akan ditemukan polanya hingga
(,) pi:π ini jutaan.

Bilangan euler:e = 2.718281828459045235...


The golden ratio:ϕ = 1.618033988749894848...

3
B. Sifat-Sifat Bilangan Irasional

Secara umum bilangan irasional mempunyai sifat sebagai berikut:

1. Tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan a/b dengan a, b adalah bilangan


bulat dan b ≠ 0
2. Memenuhi Sifat Komutatif Penjumlahan dan Perkalian

Misalnya a dan b adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat komutatif untuk
operasi penjumlahan dan perkalian.

Sifat komutatif penjumlahan:


a+b=b+a
Sifat Komutatif Perkalian:
a×b=b×a

3. Memenuhi Sifat Asosiatif Penjumlahan dan Perkalian

Misalnya a, b, dan c adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat asosiatif untuk
operasi penjumlahan dan perkalian.

Sifat asosiatif penjumlahan:


(a + b) + c = a + (b + c)
Sifat asosiatif perkalian:
(a × b) × c = a × (b × c)

4. Memenuhi Sifat Distributif terhadap Penjumlahan dan Pengurangan

Misalnya a, b, dan c adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat distributif.

Sifat distributif terhadap penjumlahan:


a × (b + c) = (a × b) + (a × c)
Sifat distributif terhadap pengurangan:
a × (b – c) = (a × b) – (a × c)

5. Punya Elemen Identitas

Elemen identitas pada bilangan irasional sama dengan elemen identitas pada
bilangan real, yaitu 0 untuk operasi penjumlahan dan 1 untuk operasi perkalian.

Contoh: suatu bilangan irasional √2 memenuhi


Identitas penjumlahan
√2 + 0 = √2
Identitas perkalian
√2 × 1 = √2

4
6. Setiap Elemen Punya Invers

Invers bilangan irasional suatu bilangan dapat dihitung berdasarkan konsep


pecahan, perlu dicatat bentuk pecahan a/b bilangan irasional "tidak
memenuhi" a dan b = bulat. Perlu diketahui suatu bilangan yang dioperasikan
dengan suatu operasi dengan inversnya menghasilkan elemen identitas operasi
yang digunakan.

Contoh:

Π adalah bilangan irasional yang dapat ditulis sebagai Π/1.


Maka invers perkalian dari Π adalah 1/Π
Maka invers penjumlahan dari Π adalah -Π
√3 adalah bilangan irasional yang dapat ditulis sebagai √3/1.
Maka invers perkalian dari √3 adalah 1/√3
Maka invers penjumlahan dari √3 adalah -√3

7. Operasi Perkalian dengan Nol menghasilkan Nol

Setiap bilangan irasional yang dikalikan dengan nol akan menghasilkan angka
nol.

8. Tidak mempunyai bentuk desimal berulang

Bilangan irasional tidak membentuk pola berulang

Contoh √2 =
1,414213562373095048801688724209698078569671875376948073176679737
9907324784621070388503875343276415727350138462309122970249248360
55850737212644121497099935831...

Hingga digit ke-2 juta, pola berulang dari √2 belum juga ditemukan.
Perhitungan dilakukan oleh Robert Nemiroff (George Mason University and
NASA Goddard Space Flight Center) dan diperiksa oleh Jerry Bonnell
(University Space Research Association and NASA Goddard Space Flight
Center).

9. Mempunyai bentuk akar tidak sempurna dengan hasil desimal tidak berulang

Bentuk akar tidak sempurna adalah bentuk akar yang menghasilkan nilai tidak
bulat.

Contoh:

√2 = 1.4142135...
√3 = 1.7320508...
√5 = 2.236067...

5
10. Mempunyai sifat tidak tertutup

Sifat tidak tertutup pada bilangan irasional disebabkan karena operasi


penjumlahan dan perkalian antar bilangan irasional dapat menghasilkan
bilangan rasional.

Contoh:

√2 × √2 = √4 = 2; hasil rasional
√2 × √3 = √6; hasil tetap irasional

Contoh soal !
Tentukan nilai

dan √(16:8)

Penyelesaian:

= Bilangan irasional, karena 𝝅 yang berjumlah 3,142857… dibagi dengan 2 memiliki


hasil 1,57142… tidak memiliki pola apapun, sehingga memenuhi ciri-ciri bilangan
irasional.

(16: 8) Bilangan irasional, karena 16 dibagi 8 sama dengan 2, hasil dari √2 adalah
1,14213… tidak memiliki pola sehingga cocok menjadi bilangan irasional

6
Tri Damayanti

06131282025050
Bilaangan Irasional

Bilangan irasional adalah bilangan yang tidak bisa diubah kedalam bentuk pecahan
biasa ab, dan apabila kita mencoba untuk merubahnya ke dalam bentuk pecahan
desimal, maka angkanya tidak akan berhenti, dan juga tidak memiliki pola tertentu.
Salah satu contoh dari bilangan irasional yang paling populer adalah atau biasa kita
sebut bilangan phi. Beberapa contoh bilangan irasional lainnya adalah seperti berikut
ini:

Contoh: 

√2 =1,4121356… atau √3=1,7320508…

Kita bisa melihat dari contoh diatas, bahwa kedua bilangan tersebut bila diubah ke
bentuk desimal, tidak akan memiliki ujung, dan juga memiliki tidak pola tertentu.
Namun tidak semua bilangan akar merupakan bilangan irasional, contohnya √4 atau
√9 yang hasilnya adalah 2 dan juga 3. Satu lagi contoh bilangan irasional yang harus
kamu ketahui adalah bilangan eksponensial (e), yang merupakan sebuah konstanta
dengan nilai 2.7182818..

Bilangan irasional terdiri dari kumpulan bilangan yang tdak dapat dinyatakan
dalam bentuk pecahan seperti { √2, √3, √5, √6, √7, ….. }

Sifat-Sifat Bilangan Irasional

Secara umum bilangan irasional mempunyai sifat sebagai berikut:

1. Tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan a/b dengan a, b adalah


bilangan bulat dan b ≠ 0

2. Memenuhi Sifat Komutatif Penjumlahan dan Perkalian

Misalnya a dan b adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat komutatif


untuk operasi penjumlahan dan perkalian.

7
Sifat komutatif penjumlahan:

a+b=b+a

Sifat Komutatif Perkalian:

a×b=b×a

3. Memenuhi Sifat Asosiatif Penjumlahan dan Perkalian

Misalnya a, b, dan c adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat asosiatif


untuk operasi penjumlahan dan perkalian.

Sifat asosiatif penjumlahan:

(a + b) + c = a + (b + c)

Sifat asosiatif perkalian:

(a × b) × c = a × (b × c)

4. Memenuhi Sifat Distributif terhadap Penjumlahan dan Pengurangan

Misalnya a, b, dan c adalah bilangan irasional, maka berlaku sifat distributif.

Sifat distributif terhadap penjumlahan:

a × (b + c) = (a × b) + (a × c)

Sifat distributif terhadap pengurangan:

a × (b – c) = (a × b) – (a × c)

5. Punya Elemen Identitas

8
Elemen identitas pada bilangan irasional sama dengan elemen identitas pada
bilangan real, yaitu 0 untuk operasi penjumlahan dan 1 untuk operasi
perkalian.

Contoh: suatu bilangan irasional √2 memenuhi

Identitas penjumlahan

√2 + 0 = √2

Identitas perkalian

√2 × 1 = √2

6. Setiap Elemen Punya Invers

Invers bilangan irasional suatu bilangan dapat dihitung berdasarkan konsep


pecahan, perlu dicatat bentuk pecahan a/b bilangan irasional "tidak
memenuhi" a dan b = bulat. Perlu diketahui suatu bilangan yang
dioperasikan dengan suatu operasi dengan inversnya menghasilkan elemen
identitas operasi yang digunakan.

Contoh:

Π adalah bilangan irasional yang dapat ditulis sebagai Π/1.

Maka invers perkalian dari Π adalah 1/Π

Maka invers penjumlahan dari Π adalah -Π

√3 adalah bilangan irasional yang dapat ditulis sebagai √3/1.

Maka invers perkalian dari √3 adalah 1/√3

Maka invers penjumlahan dari √3 adalah -√3

9
7. Operasi Perkalian dengan Nol menghasilkan Nol

Setiap bilangan irasional yang dikalikan dengan nol akan menghasilkan


angka nol.

8. Tidak mempunyai bentuk desimal berulang

Bilangan irasional tidak membentuk pola berulang

Contoh √2 =
1,414213562373095048801688724209698078569671875376948073176679737
9907324784621070388503875343276415727350138462309122970249248360
55850737212644121497099935831...

Hingga digit ke-2 juta, pola berulang dari √2 belum juga ditemukan.

Perhitungan dilakukan oleh Robert Nemiroff (George Mason University and


NASA Goddard Space Flight Center) dan diperiksa oleh Jerry Bonnell
(University Space Research Association and NASA Goddard Space Flight
Center).

9. Mempunyai bentuk akar tidak sempurna dengan hasil desimal tidak berulang

Bentuk akar tidak sempurna adalah bentuk akar yang menghasilkan nilai
tidak bulat.

Contoh:

√2 = 1.4142135...

√3 = 1.7320508...

10
√5 = 2.236067...

10. Mempunyai sifat tidak tertutup

Sifat tidak tertutup pada bilangan irasional disebabkan karena operasi


penjumlahan dan perkalian antar bilangan irasional dapat menghasilkan
bilangan rasional.

Contoh:

√2 × √3 = √6; hasil tetap irasional

CONTOH SOAL

1. Tentukan bilangan pecahan   paling sederhana dari bilangan


0,123123123123123….

Jawab:

Terlihat bahwa ada 3 bilangan yang berulang. maka pecahan itu adalah  .

Setelah disederhanakan maka menjadi  .2. Jika   adalah suatu pecahan dari
bilangan 0,0142857142851714285171428517…. Tentukan a+b positif terkecil!
Jawab:
Terlihat bahwa ada 6 bilangan yang berulang, yaitu 142857. Jadi, supaya semua
desimal bergeser ke kiri, kalikan saja dengan 10, sehingga menjadi
0,142857142851714285171428517….
Dengan cara yang sama seperti di atas, maka pecahan tersebut adalah:

11
Setelah disederhanakan, maka hasilnya adalah  . Dengan demikian, a+b positif
terkecil yang diminta adalah 70+1 = 71.

2. Tentukan nilai

dan √(16:8)

Penyelesaian:

= Bilangan irasional, karena 𝝅 yang berjumlah 3,142857… dibagi dengan 2


memiliki hasil 1,57142… tidak memiliki pola apapun, sehingga memenuhi ciri-
ciri bilangan irasional.

√(16:8) Bilangan irasional, karena 16 dibagi 8 sama dengan 2, hasil dari √2


adalah 1,14213… tidak memiliki pola sehingga cocok menjadi bilangan irasional

12
B. PERPANGKATAN

Hetri Delmania

06131282025053

A. Pengertian Perpangkatan
Perpangkatan adalah operasi matematika untuk perkalian berulang suatu
bilangan sebanyak pangkatnya. Pangkat suatu bilangan adalah angka yang ditulis
lebih kecil dan terletak agak ke atas. Berdasarkan semantic penulisan huruf disebut
dengan superscript, contohnya yaitu 22, 23 , 24 dan lainnya.

B. Menghitung Pangkat
Secara matematis perpangkatan bilangan dapat dituliskan sebagai berikut,

an = a × a × a × … × a sebanyak n kali
Keterangan :
- a adalah bilangan yang dipangkatkan (bilangan pokok)
- n adalah pangkat (eksponen) dengan n bilangan bulat positif

Contoh :
 23 = 2 × 2 × 2 = 8
Operasi tersebut dibaca dengan “dua pangkat tiga”

 32 = 3 × 3 = 9
Operasi tersebut dibaca dengan “tiga pangkat dua”

Namun, ditingkat yang lebih tinggi nilai pangkat tidak hanya menggunakan
bilangan bulat positif. Untuk itu diperlukan pemahaman mengenai sifat-sifat
bilangan-bilangan berpangkat lebih lanjut untuk menyelesaikannya.

C. Sifat Perpangkatan
1. Semua Bilangan Pangkat 0 = 1
Berdasarkan konsep dasar, semua bilangan yang dipangkatkan 0 mempunyai
hasil 1.

13
00 = 1

11 = 1

22 = 1

Pembuktian :
Misal 40 = 1

40 sama dengan operasi pembagian berikut :


Dengan mengambil sembarang pangkat bilangan bulat, misalnya 2

Maka,
40 = 42-2
= 42 : 4 2
= 16 : 16
=1
2. Perkalian Bilangan Berpangkat
Jika p merupakan bilangan pokok, dan m, n merupakan pangkat. Dengan p, m,
n merupakan bilangan real berlaku,

pm × pn = pm+n
Contoh :
33 × 32 = 33+2 = 35 = 243
Akan tetapi sifat tersebut berlaku pada operasi antar bilangan berpangkat
apabila bilangan pokok masing-masing bernilai sama.

Pembuktian :
Secara matematis :
33 + 32
= (3 × 3 × 3) × (3 × 3)
= 35
= 243
Perhitungan biasa juga menghasilkan hasil yang sama :
33 × 32 = 27 × 9 = 243

3. Pembagian Bilangan Berpangkat


Jika p merupakan bilangan pokok, dan m,n merupakan pangkat. Dengan p,m,n
merupakan bilangan real berlaku

pm : pn = pm - n

14
Contoh :
33 × 32 = 33 – 2 = 31 = 3
Sifat ini berlaku pada operasi antar bilangan berpangkat apabila bilangan pokok
masing-masing bernilai sama.

Pembuktian :
Secara matematis:
33 : 32
= (3 × 3 × 3) : (3 × 3) = 3
Perhitungan biasa menghasilkan hasil yang sama:
33 : 32 = 27 : 9 = 3

4. Perpangkatan Bilangan Berpangkat


Jika p merupakan bilangan pokok, dan m,n merupakan pangkat. Dengan p,m,n
merupakan bilangan real berlaku

(pm)n = pm × n
Contoh :
(42)3 = 42 × 3 = 46 = 4096

Pembuktian :
Secara matematis
(42)3
= 42 × 42 × 42
= 42+2+2
= 46 = 4096
Perhitungan biasa
(42)3 = (16)3 = 4096

5. Bilangan dengan Pangkat Negatif


Secara matematis bilangan dengan pangkat negatif dapat dirumuskan sebagai
berikut,
1
a-b = ab

Contoh :
1
3-2 = 2
3
1
=9

15
6. Bilangan Dengan Pangkat Pecahan
Secara matematis bilangan dengan pangkat pecahan dapat dirumuskan sebagai
berikut :

m
a n = √n am
Contoh :
3 2 3 2
4 2 = √ 4 = √ 64 = 8

Untuk menyelesaikan bilangan dengan pangkat pecahan, kita perlu mengetahui


mengenai operasi akar bilangan.

Sekilas Operasi Akar


Operasi akar adalah kebalikan dari operasi perpangkatan atau dalam ilmu
matematika disebut invers dari perpangkatan.
Contoh :
Akar Pangkat 2
√ 144 = 12
Karena 122 = 12 × 12 = 144

Akar Pangkat 3
√3 1000 = 10
Karena 103 = 10 × 10 × 10 = 1000

7. Perpangkatan Bilangan Pokok Negatif


Jika bilangan pokok negatif (-p) mempunyai pangkat m ganjil maka hasilnya
negatif. Begitu juga sebaliknya, jika bilangan pokok negatif (-p) mempunyai
pangkat m genap maka hasilnya positif. Dengan p dan m adalah bilangan real.

Saat m ganjil, (-p)m = negatif

Saat m genap, (-p)m = positif


Contoh :
 (-2)3 = (-2) × (-2) × (-2)
= 4 × (-2) = (-8)

 (-2)4 = (-2) × (-2) × (-2) × (-2)


= 4 × (-2) × (-2)

16
= (-8) × (-2) = 16

D. Perpangkatan Aljabar
Rumus perpangkatan pada bentuk aljabar :

(a ± b)n = (a ± b) × … × (a ± b)
Selain itu, terdapat beberapa bentuk istimewa dalam perpangkatan aljabar :

1. (a + b)2 = a2 + ab + ab + b2 = a2 + 2ab + b2
2. (a – b)2 = a2 – ab – ab + b2 = a2 – 2ab – b2
2 2
3. a – b = (a + b) (a – b)

Contoh :
(2a – 3b)2 – (a – 2b)2 =
Penyelesaian :
(2a – 3b)2 – (a – 2b)2 = ((2a – 3b) (2a – 3b)) – ((a – 2b) (a – 2b))
= (4a2 – 6ab – 6ab + 9b2) – (a2 – 2ab – 2ab + 4b2)
= (4a2 – 12ab + 9b2) – (a2 – 4ab + 4b2)
= 4a2 – a2 – 12ab + 4ab + 9b2 – 4b2
= 3a2 – 8ab + 5b2
E. Tabel Perpangkatan 2, 3, dan 4

Pangkat 2 Pangkat 3 Pangkat 4


12 = 1 13 = 1 14 = 1
22 = 4 23 = 8 24 = 16
32 = 9 33 = 27 34 = 81
42 = 16 43 = 64 44 = 256
52 = 25 53 = 125 54 = 625
62 = 36 63 = 216 64 = 1296
72 = 49 73 = 343 74 = 2401
82 = 64 83 = 512 84 = 4096
92 = 81 93 = 729 94 = 6561
102 = 100 103 = 1000 104 = 10000

Contoh Soal :

17
1. Sederhanakan atau selesaikan bentuk pangkat berikut :
a. 43 × 42 ?
b. 44 : 42 ?
c. 43 × 42 : 43 ?

2. Sederhanakan atau selesaikan bentuk pangkat berikut :


a. 83 × 42 ?
b. 45 : 22 ?
c. 83 × 42 : 23 ?

3. Sederhanakan bentuk pangkat aljabar berikut :


(2a – b)2 – (a – 2b)2 ?

4. Sederhanakan bentuk pangkat aljabar berikut :


(a + 2b)2 + (2a + 3b)2 ?

5. Sederhanakan bentuk pangkat aljabar berikut :


32 – 22 ?

Jawaban :
1. a. 43 × 42 = 43 + 2 = 45 = 1024
b. 44 : 42 = 44 – 2 = 42 = 16
c. 43 × 42 : 43 = 4 3 + 2 – 3 = 42 = 16

2. a. 83 × 42 = (23)3 × (22)2 = 2 (3+3) + (2 + 2) = 210 = 1024


b. 45 : 22 = (22)5 : 22 = 2(2 + 5) - 2 = 25 = 32
c. 83 × 42 : 23) = (23)3 × (22)2 : 23
= 2 (3 + 3) + (2 + 2) – 3
= 2 6+4–3
= 27 = 128

3. (2a – b)2 – (a – 2b)2


= ((2a-b) (2a – b)) – ((a – b) (a –b))
= (4a2 – 2ab – 2ab + b2) – (a2 – 2ab – 2ab + 4b2)
= (4a2 – 4ab + b2) – (a2 – 4ab + 4b2)
= 4a2 – a2 – 4ab – (-4ab) + b2 – (4b2)
= 3a2 – 3b2

4. (a + 2b)2 + (2a + 3b)2


= ((a + 2b) (a + 2b)) + ((2a + 3b) (2a + 3b))

18
= (a2 + 2ab + 2ab + 4b2) + (4a2 + 12ab + 6ab + 9b2)
= (a2 + 4ab + 4b2) + (4a2 + 18ab + 9b2)
= a2 + 4a2 + 4ab + 18ab + 4b2 + 9b2
= 5a2 + 22ab + 13b2

5. 32 – 22 = ( 3 + 2 ) ( 3 – 2 )
=9–6+6–4
=5

Annida Nurul Azizah

06131282025020

A. Pengertian Bilangan Berpangkat

Bilangan berpangkat adalah bilangan yang berfungsi untuk


menyederhanakan penulisan dan penyebutan suatu bilangan yang memiliki
faktor-faktor atau angka-angka perkalian yang sama.
Contohnya, operasi penghitungan 2x2x2x2x2 atau 8x8x8x8x8 yang
penulisannya bias disederhanakan dengan menggunakan pangkat.
Untuk mengubah suatu bilangan menjadi bilangan berpangkat, maka
dibutuhkan rumus berupa an = a x a x a x a x… sebanyak n kali. Dalam rumus
ini, 'a' adalah bilangan pokok, sedangkan 'n' adalah pangkat atau eksponen.
Sehingga dari rumus ini, diketahui bahwa 2x2x2x2x2 dapat diubah
menjadi bilangan berpangkat yaitu 25 = 32.

B. Jenis Bilangan Berpangkat

Ada 3 jenis bilangan berpangkat yang perlu diketahui, diantaranya bilangan


berpangkat positif, bilangan berpangkat negatif, dan bilangan berpangkat nol.

1. Bulat Positif

19
Operasi bilangan berpangkat bulat positif memiliki beberapa sifat yang
dapat digunakan untuk mempermudah dalam perhitungan. Berikut adalah sifat-
sifat operasi bilangan tersebut :

 Perkalian bilangan berpangkat


Dalam sifat pertama, perkalian bilangan ini bias dituliskan dengan rumus :
am x an = am+n
Contoh soal :
Sederhanakan bentuk perkalian bilangan berpangkat ini 42 x 44

Penyelesaian :
42 x 44 
= 42+4
 
= 46

 Pembagian bilangan berpangkat


Dalam sifat yang kedua, pembagian bilangan berpangkat bias dituliskan
dengan rumus
am : an = am-n
Contoh soal :
Sederhanakan bentuk pembagian bilangan ini 36 : 34

Penyelesaian :
36 : 34 
= 36-4
 
= 32

 Perpangkatan bilangan berpangkat


Dalam sifat yang ketiga dapat dituliskan dengan rumus
(am)n = amxn
Contoh soal :
Sederhanakan bentuk perpangkatan ini (32)4

20
Penyelesaian :
(32)4 
= 3(2×4)
= 38
 Perkalian Bilangan Berpangkat Sama
Dalam sifat yang keempat dapat dituliskan rumus sebagai berikut :
am x bm = (a x b)m
Contoh soal :
Sederhanakan bentuk perkalian bilangan berpangkat ini 23 x 53
Penyelesaian :
23 x 53 
= (2 x 5)3 
= 103

 Pembagian Bilangan Berpangkat Sama


Dalam sifat yang kelima dapat dituliskan dengan rumus

Contoh soal :
Tentukan bentuk lain dari pembagian bilangan berpangkat 35/45

Penyelesaian :
35/45 
= (3/4)5

2. Pangkat Nol
Jika a adalah suatu bilanganbulat bukan nol (a ≠ 0), maka
berlaku a0 = 1

21
Contoh soal :
Hitunglah hasil dari perpangkatan berikut 100 dan 1000 

Penyelesaian :
Dengan mengingat nilai a0 = 1, maka
100 = 1 dan
1000 = 1

3. BulatNegatif
Jika a adalah suatu bilangan bukan nol (a ≠ 0) berpangkat bulat negatif,
maka berlaku a-n = 1/an
Contoh soal :
Ubahlah bentuk 5-2 menjadi bilangan berpangkat positif

Penyelesaian :
Dengan mengingat sifat bilangan berpangkat bulat negative maka jawabannya
5-2 
= 1/52
 =  1/25
Jadi bentuk bilangan berpangkat positif dari 5-2 adalah 1/25

C. Sifat Bilangan Berpangkat

1. Sifat Perkalian Bilangan Berpangkat


Pada operasi hitung perkalian dalam bilangan berpangkat, berlaku sifat
seperti di bawah ini:
am x an = am+n
Untuk lebih memahami cara mengenai rumus di atas, perhatikan uraian di
bawah ini:
53 x 52 = (5 x 5 x 5) x (5 x 5)
53 x 52 = 5 x 5 x 5 x 5 x 5
53 x 52 = 55

22
Sehingga dapat kita simpulkan menjadi 53 x 52 = 55

ContohSoal :
Sederhanakan hasil perkalian dari bilangan berpangkat di bawah ini, lalu
tentukan nilainya!
1. 72 x  75
2. (-2)4 x (-2)5
3. (-3)3 x (-3)7
4. 23 x 34
5. 3y2 x y3
6. 2x4 x 3x6
7. -22 x 23

Jawab:
1. 72 x  75  = 72+5  = 77  = 823.543
2. (-2)4 x (-2)5 = -24+5   = -29  = – 512
3. (-3)3 x (-3)7 = -33+7   = -310  = 59.049
4. 23 x  34  ,
Soal ini tidak bias kita sederhakan kembali sebab bilangan pokonya berbeda (2
dan 3). Sehingga, kita hanya dapat menghitung nilainya saja, yaitu: 23 x  34  = 8 x
81 = 648
5. 3y2 x y3 = 3(y)2+3  = 3y5
6. 2x4 x 3x6 = (2 x 3)(x) 4+6 = 6x10
7. -22 x 23 = (-1)2 x 22 x 23 = (1) x 22+3 = 25 = 32

Untuk kasus bilangan pokok negatif yang berpangkat, seperti pada nomor 2, 3 ,
7 terdapat poin penting yang harus kalian ketahui, yaitu:

Bilangan negative pangkat = Hasilnya positif


genap

Bilangan negative pangkat = Hasilnya negative


ganjil

23
2. Sifat Pembagian Bilangan Berpangkat

Pada operasi hitung pembagian bilangan berpangkat, maka akan berlaku sifat
seperti di bawah ini:
am : an = am-n
Untuk lebih memahami cara mengenai rumus di atas, perhatikan uraian di
bawah ini:
56 x 53 = (5 x 5 x 5 x 5 x 5 x 5) x (5 x 5 x 5)
56 x 53 = 5 x 5 x 5 (coret (5 x 5 x 5) x (5 x 5 x 5))
56 x 53 = 53
Sehingga, bisa kita simpulkan menjadi 56 x 53 = 56-3

Contoh Soal
Sederhanakan hasil pembagian dari bilangan berpangkat di bawah ini, lalu
tentukan nilainya!
45 / 53
34 / 23

Jawab:
1. 45 / 53 = 45-3 = 42 = 16
2. 34 / 23, soal ini tidak bias kita sederhakan kembali sebab bilangan pokonya
berbeda
(3 dan 2). Sehingga, kita hanya dapat menghitung nilainya saja, yaitu:
34 / 23 = 81/ 8 = 10,125

3. Sifat Perpangkatan Bilangan Berpangkat


Pada operasi hitung perpangkatan bilangan berpangkat, maka akan berlaku sifat
seperti berikut ini:
(am)n = amxn

24
Untuk lebih memahami cara mengenai rumus di atas, perhatikan uraian di bawah
ini:
(53)2 =(5 x 5 x 5)2
(53)2 = (5 × 5 × 5) × (5 × 5 × 5)
(53)2 = 56
Sehingga, bias kita simpulkan menjadi (53)2 = 53×2

ContohSoal
Sederhanakan hasil perpangkatan dari bilangan berpangkat di bawah ini, lalu
tentukan nilainya!
1. (43)5
2. [(-2)4]2

Jawab:
1. (43)5 = 43×5 = 415 = 1.073.741.824
2. [(-2)4]2 = (-2)4×2 = (-2)8 = 256

4. Sifat Perpangkatan Suatu Perkalian Dua Bilangan


Pada operasi hitung perpangkatan pada sebuah perkalian dua bilangan, maka
akan berlaku sifat seperti berikut ini:
(a x b)m = am x bm
Untuk lebih memahami cara mengenai rumus di atas, perhatikan uraian di bawah
ini:
(3 x 5)2 = (3 x 5) x (3 x 5)
(3 x 5)2 =(3 x 3) x (5 x 5)
(3 x 5)2 = 32 x 52
Sehingga, bisa kita simpulkan menjadi (3 x 5)2 = 32 x 52

Contoh Soal
Sederhanakan hasil perpangkatan dari bilangan berpangkat di bawah ini, lalu
tentukan nilainya!

25
1. (2 x 7)2
2. [(1/2) x (1/3)]3

Jawab:
1. (2 x 7)2 = 22 x 72 = 4 x 49 = 196
2. [(1/2) x (1/3)]3 = (1/2)3 x (1/3)3 = (1/8) x (1/27) = 1/216

5. Sifat Perpangkatan Suatu Pembagian Dua Bilangan


Dalam operasi hitung perpangkatan suatu pembagian dua bilangan, berlaku sifat
sebagai berikut:
(a : b)m = am : bm
Untuk lebih memahami cara mengenai rumus di atas, perhatikan uraian di bawah
ini:
(3/5)2 = (3/5) x (3/5)
(3/5)2 = (3 x 3)/(5 x 5)
(3/5)2 = 32/52
Sehingga, bias kita simpulkan menjadi (3/5)2 = 32/52

Contoh Soal
Sederhanakan hasil perpangkatan dari bilangan berpangkat di bawah ini, lalu
tentukan nilainya!
1. (2/3)2
2. [(−3)/2]3

Jawab:
1. (2/3)2 = 22/52 = 4/25
2. [(−3)/2]3 = (−3)3/23 = −27/8

6. Sifat Perpangkatan Bilangan nol


Apabila a merupakan bilangan real (a ∈ R) serta n merupakan bilangan bulat
positif  (n ≥ 1), maka sifat-sifat perpangkatan  bilangan 0 (nol) ialah sebagai
berikut:

26
ao = 1
0n = 0
0o = tak terdefinisi

Untuk membuktikan sifat pangkat dari r bilangan nol nomor 1, simak penjelasan
di bawah ini:
24 : 24 = 24-4 = 20 sehingga,
24 : 24 = 20, sebab 24 : 24 = 16/16 = 1, maka
20 = 1
Dengan pembuktian tersebut, maka dapat kita simpulkan jika seluruh bilangan
real kecuali nol jika kita pangkatkan dengan 0 (nol) maka hasil nya akan sama
dengan 1.

Untuk pembuktian sifat pangkat bilangan nol nomor 2, simak penjelasan di


bawah ini:
01 = 0 × 0 = 0
02 = 0 × 0 × 0 = 0
03 = 0 × 0 × 0 × 0 = 0
Dengan pembuktian di atas, maka bias kita simpulkan jika bilangan nol apabila
kita pangkatkan sebanyak apa pun hasilnya akan selalu nol.

Untuk pembuktian sifat pangkat bilangan nol nomor 3, simak penjelasan di


bawah ini:
Kita tahu jika nilai 0n = 0, sehingga,
0n/0n = 0/0, nilai 0/0 = seluruh bilangan, karena seluruh bilangan dikalikan nol
hasilnya yaitu nol.

Maka dapat kita tuliskan bentuk persamaan lainnya, seperti:


0n/0n = 0n-n
0n/0n = 00 karena 0n/0n = 0/0 = seluruh bilangan, maka
00 = seluruh bilangan

27
Seluruh bilangan artinya dapat 1, 12, 123, 1234, 12345, 13456 dan seterusnya.
Maka dari itu, definisinya tidakjelas.
Sehingga bias kita simpulkan jika bilangan nol pangkat nol hasilnya tidak
terdefinisi.

YouTube/w
D. BentukAkar

Bentuk akar merupakan akar dari suatu bilangan-bilangan yang hasilnya


bukan termasuk ke dalam bilangan rasional (bilangan yang meliputi bilangancacah,
bilangan prima, serta bilangan-bilangan lain yang terkait) atau bilangan irasional
(yakni bilangan yang hasil baginya tidak pernah berhenti).
Bentuk akar adalah bentuk lain untuk menyebutkan suatu bilangan yang
berpangkat. Bentuk akar termasuk ke dalam bilangan irasional di mana bilangan
irasional tidak bias disebutkan dengan menggunakan bilangan pecahan a/b, a serta b
bilangan bulat a dan b ≠ 0.
Bilangan dari bentuk akar merupakan suatu bilangan yang ada di dalam
tanda √ yang disebut sebagai tanda akar. 
Beberapa contoh bilangan irasional di dalam bentuk akar yakni √2, √6, √7,
√11 dan lain sebagainya.
Sementara untuk √25 bukanlah bentuk akar, sebab √25 = 5  (5 merupakan
bilangan rasional) sama saja angka 25 bentuk akarnya yaitu √5.
Simbol akar “√” pertama kali diperkenalkan oleh seorang matematikawan
asal Jerman yang bernama Christoff Rudoff.

28
Di dalam bukunya dengan judul Die Coss. Simbol tersebut dipilih sebab
mirip dengan huruf ” r ” yang mana diambil dari kata “radix”, yang merupakan
bahasa latin bagi akar pangkat dua.
Sebagaimana bilangan berpangkat yang mempunyai beberapa sifat-sifat,
bentuk dariakar pun juga mempunyai beberapa sifat, diantaranya yakni:

√a2 = a
√a x b = √a x √b ; a ≥ 0 dan b ≥ 0
√a/b = √a/√b ; a ≥ 0 dan b ≥ 0

C. AKAR
Tri Oktariana

29
06131282025024

A. AKAR BILANGAN

Pada dasarnya akar bilangan dapat dijelaskan melalui perpangkatan. Akar bilangan
merupakan perpangkatan dengan pangkat / eksponen bilangan pecahan. Pangkat
bilangan disebut juga pangkat rasional. Secara umum definisi akar bilangan adalah
sebagai berikut:

n
√ a ( dibaca : akar pangkat n dari bilangan a )

adalah bilangan yang apabila dipangkatkan dengan n hasilnya sama


dengan a.

n
√ a dapat juga ditulis a1/n

Contoh :

1
1) 2√ 4=√ 4=22x 2 ¿ 2

1
Akar bilangan 3 atau sama dengan pangkat pecahan
3

1
2) 3√ 8=8 3 =¿ (23)1/3 = 2
8 ∛8 2
3) 3√ 27 = ∛ 27 = 3

Untuk akar pangkat dua tidak perlu ditulisan angkanya, namum selain dua harus
dituliskan angkanya.

Akar pangkat n dari a dinotasikan dengan √n a, dan disebut radikal. Bilangan bulat n
disebut dengan indeks dari radikal dan a disebut radikan. Akar bilangan merupakan
perpangkatan dengan eksponen bilangan pecahan, dan secara umum dirumuskan
sebagai berikut.

30
m
=a ; dengan a ≠ 0 dan ≥2
n m n
√a
Contoh :

1 1
1) 2 2 2
√ 4=4 =( 2 ) =2(untuk n=2tidak perlu dituliskan)
1 1
2) 3 3
√ 27=27 =( 3 ) =3 3 3

B. SIFAT-SIFAT AKAR BILANGAN


Dalam akar bilangan terdapat sifat-sifat akar bilangan yaitu :
1. Bilangan Bukan Bentuk Akar dan Bentuk Akar

Bilangan Rasional (bukan bentuk akar)


Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk a/b
dengan a dan b bilangan bulat, dan b ≠ 0. Dapat pula dinyatakan dalam bentuk
pecahan desimal berulang teratur.

Contoh :
1) 2 = 6/3 = 20/10 = ….
2) -5 = -15/3
3) 0,6666… = 2/3
4) 0,232323… = 23/99
5) √ 16=4

Bilangan Irasional (umumnya merupakan bentuk akar)


Bilangan irasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
a/b dengan a dan b bilangan bulat, dan b ≠ 0. Bila ditulis dalam bentuk pecahan
desimal, bilangan irasional merupakan pecahan desimal tidak berulang teratur.
Contoh :
1) √ 2
2) √ 5
3) √ 48

31
4) π

2. Menyederhanakan bentuk akar


Sebuah bentuk akar dapat disederhanakan menjadi perkalian dua buah bentuk
akar suatu bilangan.
Definisi : √ ab=√ a × √ b, dengan a dan b adalah bilangan rasional positif.
Contoh :
1) √ 8=√ 4 x 2=√ 4 × √ 2=2× √ 2=2 √ 2
2) √ 81=√ 9 ×2=√ 9 × √ 2=3 × √ 2=3 √ 2

C. OPERASI ALJABAR PADA BENTUK AKAR


a) Penjumlahan dan pengurangan bentuk akar
Definisi :

a√ c+ b √ c =(a+ b) √ c
a√ c−b √ c=( a−b)√ c , dengan a,b,c adalah bilangan rasional dan c
≥0

Contoh :
1) 5 √ 3+7 √3=( 5+7 ) √ 3=12 √ 3
2) 10 √ 5−5 √ 5=( 10−5 ) √ 5=5 √5
3) 12√ 2 −4 √ 2=( 12−4 ) √ 2=8 √ 2
4) 9√ 7+3 √ 7 = ( 9+3 ) √ 7=12 √ 7

b) Perkalian bentuk akar


Definisi :

√ a ×√ b=√ ab

32
a √ c × b √ d=ab √ cd , dengan a,b,c,d adalah bilangan rasional,c ≥ 0

dan d ≥ 0

Contoh :
1) √ 5 x √ 2=√ 10
2) 7 √ 5 x 6 √ 3=42 √15
3) √ 243 = √ 81 x 3=9 √ 3

c) Pembagian bentuk akar


Definisi :

√a a a √a
=√ atau √ = , dengan a dan b adalah bilangan rasional, a
√b b b √b
≥ 0 dan b ≥ 0.

Contoh :
√ 36 = 6 =2
1)
√9 3
√ 225 = 15 =3
2)
√ 25 5
√ 243 81
3) =√ =9
√3
√ 100 10
4) √ 4 = 2 =5 atau √ 100 :4=√ 25=5
√ 36 6
5) √ 9 = 3 =2atau √ 36 :9=4

d) Merasionalkan penyebut pecahan bentuk akar


Merasionalkan penyebut pecahan bentuk akar berarti mengubah penyebut
pecahan yang berbentk akar menjadi bentuk rasional. Cara m.erasionalkan
penyebut pecahan bentuk akar adalah dengan mengalikan pembilang dan
peny.ebut pecahan tersebut dengan bentuk akar sekawan dari penyebut. Langah-
langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

33
Definisi :

a a √b a√ b
= × =
√b √b √b ¿¿
c c a ± √ b c (a± √ b)
= × = 2
a±√b a±√b a±√b a ± ¿¿
c c √ b±√d c
= × = (√ b ± √ d )
√b±√ d √ b±√d √ b±√d b±d

a
1) Bentuk pembilang dan penyebut dikalikan dengan √ b
√b

a a √b a √b a
= x = = √b
√ b √b √ b b b

c
2) Bentuk pembilang dan penyebut dikalikan dengan akar sekawan yaitu
a+ √ b
a−√ b
c c a−√ b
= ×
a+ √ b a+ √ b a−√ b
c ( a−√ b ) c (
= = 2 a−√ b )
( a+ √ b ) ( a−√ b ) a −b
c
3) Bentuk pembilang dan penyebut dikalikan dengan akar sekawan
√ a+ √ b
yaitu √ a−√ b
c c a− b
= ×√ √
√ a+ √ b √ b √ a−√ b

c ( √ a−√ b ) c
= = ( √ a−√ b )
( √ a+ √ b ) ( √ a− √ b ) a−b
Contoh :

34
9 9 √6+ √ 3
1) √6−√ 3 = √ 6− √3 × √6+ √3
9 ( √ 6+ √ 3 )
a. =
6−3

9 ( √ 6+ √ 3 )
b. =
3
c. =3 ( √ 6+ √ 3 )
d. =3 √ 6+3 √ 6

10 10 √ 5 10 √ 5
2) = ×
√5 √5 √5
=
5
=2√ 5

6 6 √ 5+ √ 2 6(√ 5+√ 2)
3) = ×
√ 5−√ 2 √ 5−√ 2 √ 5+ √ 2
=
5−2
=6 ¿ ¿

e) Pangkat Pecahan
Definisi :

1 1 1
( pm ¿n = pm× n
m 1

n n
p =p =¿

Contoh :
5 3
1) 2 3 =√3 25=∛ 32=∛ 8 x 4=∛ 8 × ∛ 4=2 3 × ∛ 4=2 ×∛ 4=2∛ 4
4
2) √5 81 = √5 34 = 3 3

D. CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN


1. Menggunakan bilangan rasional (bukan bentuk akar)

35
3
a) =
5
1
b) =
4
Pembahasan :
3 3 2 6
a) = × = = 0,6
5 5 2 10
1 1 25 25
b) = × = = 0,25
4 4 25 100

2. Menggunakan menyederhanakan bentuk akar


a) √ 12 =
b) √ 20 =
c) √ 27 =
d) √ 54 =
Pembahasan :
a) √ 12 = √ (4 ×3) = √ 4 × √ 3 = 2√ 3
b) √ 20 = √ (4 ×5) = √ 4 × √ 5 = 2√ 5
c) √ 27 = √ (9 ×3) = √ 9 ×√ 3 = 3√ 3
d) √ 54 = √ (9 × 6) = √ 9 ×√ 6 = 3√ 6

3. Menggunakan penjumlahan dan pengurangan bentuk akar


Hitunglah operasi-operasi berikut :
a) 8 √ 3 + 11 √ 3
b) 12 √ 5 + 5 √ 5
c) 10 √ 4 + 3 √ 4
d) 12 √ 7 + 2 √ 7
Pembahasan :
a) 8 √ 3 + 11 √ 3 = ( 8 + 11 ) √ 3 = 19 √ 3
b) 12 √ 5 + 5 √ 5 = ( 12 + 5 ) √ 5 = 17 √ 5
c) 10 √ 4 + 3 √ 4 = ( 10 + 3 ) √ 4 = 13 √ 4
d) 12 √ 7 + 2 √ 7 = ( 12 + 2 ) √ 7 = 14 √ 7

36
4. Menggunakan perkalian bentuk akar
a) √4 x √2
b) √ 6 x √ 3
c) 2 √ 4 x 6 √ 2
d) 3 √ 6 x 4 √ 4
Pembahasan :
a) √4 x √2 = √8
b) √ 6 x √ 3 = √ 18
c) 2 √ 4 x 6 √ 2 = 2 x 6 x √ 4 x 2 = 12√ 8
d) 3 √ 6 x 4 √ 4 = 3 x 6 x √ 6 x 4 = 12 √ 24

5. Menggunakan cara pembagian akar


a) 8 √ 6 : 4 √ 2
b) 9√ 10 : 3 √ 5
c) 20 √ 4 : 5 √ 2
Pembahasan :
a) 8 √ 6 : 4 √ 2 = ( 8 : 4 ) √ (6 :2) = 2 √ 3
b) 9√ 10 : 3 √ 5 = ( 9 : 3 ) √ (10 :5) = 3 √ 2
c) 20 √ 4 : 5 √ 2 = ( 20 : 5 ) √ (4 :2) = 4 √ 3

6. Menggunakan cara merasionalkan penyebut suatu pecahan irasional


20
a)
√2
10
b)
√ 4−¿ √ 2¿
Pembahasan :
20 20 √ 2 20 √ 2
a) = x = = 4 √2
√2 √2 √2 2
10 10 √ 4 +¿ √ 2 ¿ = 10 ¿ ¿ = 10 ¿ ¿ = 5√ 4 + 5 √ 2
b) = x
√ 4−¿ √ 2¿ √ 4−¿ √ 2¿ √ 4+¿ √2 ¿

7. Menggunakan pangkat pecahan


Ubahlah bentuk akar berikut ke bentuk pangkat pecahan.

37
a) √(25)4
b) √(27)3
Pembahasan :
1
a) √(25)4 = ¿ ¿) 2 = 252 = ( 52 )2= 54
1 3 3 9
b) √(27)3 = ¿ ¿) 2 = 27 2 = ¿ ¿) 2 =3 2

Ade Mutiara Putri Nasiub

06131282025021

A. DEFINISI BENTUK AKAR

Bentuk akar matematika merupakan akar dari suatu bilangan-bilangan yang hasilnya
bukan termasuk ke dalam bilangan rasional (bilangan yang meliputi bilangan cacah,
bilangan prima, serta bilangan-bilangan lain yang terkait) atau bilangan irasional (yakni
bilangan yang hasil baginya tidak pernah berhenti).

Bentuk akar adalah bentuk lain untuk menyebutkan suatu bilangan yang berpangkat.

Bentuk akar termasuk ke dalam bilangan irasional di mana bilangan irasional tidak bisa
disebutkan dengan menggunakan bilangan pecahan a/b, a serta b bilangan bulat a dan b
≠ 0.

Bilangan dari bentuk akar merupakan suatu bilangan yang ada di dalam tanda √ yang
disebut sebagai tanda akar. Beberapa contoh bilangan irasional di dalam bentuk akar
yakni √2, √6, √7, √11 dan lain sebagainya.

n
√ a ( dibaca : akar pangkat n dari bilangan a ) adalah bilangan yang apabila
dipangkatkan dengan n hasilnya sama dengan a.
n
√ a dapat juga ditulis a1/n

Untuk akar pangkat dua tidak perlu ditulisan angkanya, namum selain dua harus
dituliskan angkanya.

Akar pangkat n dari a dinotasikan dengan √n a, dan disebut radikal. Bilangan bulat n
disebut dengan indeks dari radikal dan a disebut radikan. Akar bilangan merupakan

38
perpangkatan dengan eksponen bilangan pecahan, dan secara umum dirumuskan
sebagai berikut.

m
=a ; dengan a ≠ 0 dan ≥2
n m n
√a
Sifat Bentuk Akar
Bentuk akar juga memiliki sifat-sifat khusus yang harus kamu perhatikan, seperti:

 n
√am = am/n
 pn√a + qn = (p+q) n√a
 pn√a – qn = (p-q) n√a
 n
√ab =  n√a x  n√b
n
a √a
 √
n
=
b n√b
, dimana b ≠ 0
 m n
√ √a =  mn√a

B. OPERASI HITUNG BENTUK AKAR

Setelah mengetahui sifat-sifat dari bentuk akar, saatnya kita mengetahui operasi hitung
dari bentuk akar

 Operasi Penjumlahan dan Pengurangan

Untuk masing-masing a,b,c yang menjadi bilangan rasional yang positif, maka akan
berlaku rumus atau persamaan seperti berikut :

Rumus operasi penjumlahan bentuk akar:

a√c  + b√c = (a + b) √c

Contoh:

7 √2 + 5 √2 = (7+5) √2 = 12 √2

3 √8 + 5 √8 + √8 = (3 + 5 +1) √8 = 9 √8

39
Rumus operasi pengurangan bentuk akar:

a√c – b√c = (a – b) √c

Contoh:

5 √2 – 2 √2 = (5 – 2) √2= 3 √2.

9√5 – 4√5 – 2√5 = (9 – 4 – 2) √5 = 3√5

 Operasi Perkalian

Untuk masing-masing a,b, dan c adalah bilangan rasional positif, maka rumus yang
berlaku adalah :

√a x √b = √a x b

a √ c × b √ d=ab √ cd, dengan a,b,c,d adalah bilangan rasional,


c ≥ 0 dan d ≥ 0

Contoh :

√4 x √8 = √(4 x 8)

= √32 =√(16 x 2) = 4 √2  

 Operasi Pembagian

√a a a √a
=√ atau √ = , dengan a dan b adalah bilangan rasional, a
√b b b √b
≥ 0 dan b ≥ 0.

40
Contoh

28 72
√28 : √4 =
√ 4
= √7 √72 : √2 =
√ 2
= √36 =6

Beberapa operasi hitung lainnya dari bentuk aljabar adalah:

 (√a + √b)2 = (a + b) + 2√ab


 (√a – √b)2 = (a + b) – 2√ab
 (√a – √b) (√a + √b) = a + √(a+b) – √(a+b) – b 
 (a – √b) (a + √b) = a2 + a√b – a√b – b

C. MERASIONALKAN (SEDERHANA) PENYEBUT PECAHAN

Mencari bentuk sederhana dari akar adalah hal yang akan kamu lakukan ketika belajar
ilmu matematika di sekolah. Bentuk akar dalam matematika adalah akar dari sebuah
bilangan yang hasilnya tidak termasuk dalam 2 kategori bilangan, yaitu bilangan
rasional, bilangan yang meliputi bilangan cacah, bilangan prima, dan berbagai bilangan
lain yang termasuk ke dalamnya atau bilangan irasional, bilangan yang memiliki hasil
pembagian yang tidak pernah berhenti. 

Menyederhanakan bilangan pecahan sering muncul pada soal-soal ujian matematika,


maka saatnya bagi kamu untuk mengetahui bagaimana caranya mencari bentuk
sederhana dari akar.

Bentuk Sederhana dari Akar

Kita sudah mengetahui bahwa bentuk akar adalah  akar dari sebuah bilangan yang
hasilnya tidak termasuk dalam bilangan rasional dan irasional. Ternyata bilangan akar
juga memiliki sifat-sifat operasi bentuk akar yang harus kita ketahui. Beberapa
diantaranya adalah:

 √a2=a, dengan a adalah bilangan real positif.


 √a x √b = √ab, di mana a dan b merupakan bilangan real positif.
√ a = a , dengan a ≥ 0 dan b > 0.

√b b √
41
Syarat Bentuk Sederhana dari Akar

Menyederhanakan bentuk akar juga bisa disebut dengan proses merasionalkan bentuk
akar. Dalam proses menyederhanakan bentuk akar ini, ada beberapa syarat yang harus
kamu perhatikan, seperti:

1. Tidak memuat faktor yang pangkatnya lebih dari satu.

Sebagai contoh:

√x, x > 0 → bentuk sederhana

√x5 dan √x3 → bukan bentuk sederhana

2. Tidak ada bentuk akar pada penyebut.

Sebagai contoh:

√ x → bentuk sederhana
x

1
→ bukan bentuk sederhana
√x

3. Tidak mengandung pecahan

Sebagai contoh:

√ 10 → bentuk sederhana
2

√ 5 → bukan bentuk sederhana


√2

Beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengubah penyebut dari pecahan yang
berbentuk akar menjadi bentuk yang rasional (sederhana) seperti berikut ini:

42
 D. Contoh Soal

1. hasil dari 5 √ 3+2 √ 3 adalah

=(5+2) √3

= 7√3

2. hasil dari √8 x √5

= √8 x5

= √40

= √ 4 x √ 10 = 2 √10 

3. Hasil dari √450 : √9 adalah

43
450
=√450 : √9 =
√ 9

= √50

= √25 x √2

= 5√2

4. Hasil dari 3√6+√24 adalah

= 3√6 + √4×6

=3√6 + 2√6

=5√6

5. Hasil dari 5 √2 – 2 √8 + 4 √18 adalah

= 5 √2 – 2 (√4 x √2) + 4 (√9 x √2)

= 5 √2 – 2 (2 x √2) + 4 (3 x √2)

= 5 √2 – 4 √2) + 12 √2

= (5 – 4 + 12) √2

= 13 √2

Rasionalkan pecahan akar berikut

8 8 √5 = 8 √5
1. = x
√5 √5 √5 5

44
8 8 2+ √ 3
2. = x
2−√ 3 2−√ 3 2 ∓ √3

8(2+ √ 3) 8(2+ √ 3)
= =
4+ 2 √ 3−2 √ 3−3 4−3

16+8 √ 3
= = 16+8 √ 3
1

6 6 3−√ 6
3. = x√
√ 3+ √6 √ 3+ √ 6 √ 3−√ 6

6 ( √ 3−√ 6) 6 ( √ 3−√ 6)
= =
3−√ 18+√ 18−6 3−(−6)

6 √ 3−6 √ 6 6 √ 3−6 √ 6
= =
3+6 9

45
D. LOGARITMA

Meisya Dwi Morlina

06131282025044 / 41

A. DEFINISI

Fungsi logaritma dengan bilangan pokok a > 0 dan a ≠ 1 adalah invers dari fungsi
eksponen dengan bilangan pokok a. Secara umum dapat ditulis:

a
log b = c → ac = b

Dengan

a > 0 dan a ≠ 1 dan b > 0

Pada bentuk alog b = c

a = disebut bilangan pokok (dasar) logaritma (untuk bilangan pokok 10 biasanya


tidak ditulis, misalnya 10 log 3 ditulis log 3)

b = disebut bilangan yang diambil logaritmanya

c = disebut hasil logaritma

46
B. Sifat - sifat

1. ᵃlog a = 1

Contoh :
⁷log 7 = 1 (karena 7¹ = 7)

2. ᵃlog 1 = 0

Contoh :
⁶log 1 = 0 (karena 6⁰ = 1)

3. ᵃlog b + ᵃlog c = ᵃlog bc

Contoh :
= ⁴log 2 + ⁴log 8
= ⁴log (2 × 8)
= ⁴log 16
=2
(karena 4² = 16)

b
4. ᵃlog b - ᵃlog c = ᵃlog c

Contoh :
= ⁵log 100 - ⁵log 4
100
= ⁵log 4
= ⁵log 25
= 5log 52

=2
(karena 5² = 25)

47
5. ᵃlog bⁿ = n . ᵃlog b

Contoh :
= ⁴log 64
= ⁴log 4³
= 3 . ⁴log 4
=3.1
=3

n
6. a^mlog bn = m .a
log b

Contoh :
= ⁸log 32

= 2^3 log 25

5
= log 2 3
2

5
= 3

7. ᵃlog b . ᵇlog n . ⁿlog m = ᵃlog m

Contoh :
= ²log 5 . ⁵log 3 . ³log 8
= ²log 8
= ²log 2³
= 3 . ²log 2
=3.1
=3

8. a ᵃlog b = b

48
Contoh :
= 4 ⁴log 18

= 18

C. Contoh Soal

1. Log 15 + log 20

= log (15.20)

= log 300

= log (3.100)

= log 3 + log 100

= log 3 + log 102

= log 3 + 2

2. 7 log 49

=7 log 72

=2

3. Log 8 + log 50

= log (8.50)

= log 400

= log 4 + log 100

= log 4 + log 102

= log 4 + 2

49
Mukhlisah Putri

06131282025026

A. Definisi Logaritma
Fungsi logaritma dengan bilangan pokok a > 0 dan a ≠1 adalah invers
dari fungsi eksponen dengan bilangan pokok a. Secara umum dapat ditulis:

a
❑ logb = c ⇔ac = b dengan a > 0 dan a ≠1 dan b > 0

a = disebut bilangan pokok (dasar) logaritma (untuk bilangan pokok 10 biasanya


tidak ditulis, misalnya 10❑log 3ditulis log 3)
b = disebut numerous atau bilangan yang diambil logaritmanya
c = disebut hasil logaritma, bisa positif, nol, ataupun negatif

B. Sifat-Sifat Logaritma
Jika a > 0 , a ≠1, m > 0, n > 0 dan × ∈R, maka:
1. ❑a log a x =x
a
2. a log n= n

p
3. a ❑q loga p =
q
4. ❑ log ( mn )=❑a log m+ ❑alog n
a

5. log ¿ ¿ = ❑a logm−❑a log n


6. ❑a log m x= x . ❑a log m
g
a log m
7. ❑ logm =

g bila g ¿ 0 , g≠ 1
❑loga

C. Pembuktian Sifat Logaritma


Buktikan :
a a a
❑ log ( mn )=❑ log m+ ❑log n

Pembuktian :

Jika ❑a logm= p dan ❑a logn=q , maka

m = ap dan n = aq

m . n = a p. a q

= a p+q
a
❑ logm . n = p + q

50
= ❑a logm+ ❑alog n

Buktikan :

log ¿ ¿ = ❑a log m−❑a log n

Pembuktian :
a
❑ logm= p dan ❑a logn=q

m = ap dan n = a q

ap
¿=
aq

= a p−q

log ¿ ¿

= ❑a logm−❑a log n

D. Contoh Soal
3
1. ❑ log 18 = log ⁡¿ ¿
= ❑3 log 2+ ❑3 log 32
= ❑3 log 2+2

125
2. log 125- log 75 = log
75
53
= log
3.52
5
= log
3

3. log 15 + log 20 = log (15.20)


= log 300
= log (3.100)
= log 3 + log 100
= log 3 + log 102
= log 3 + 2

51
Luthfiyah Khoirun Nisa

06131282025041
1. Pengertian Logaritma

Logaritma adalah suatu invers atau hasil kebalikan dari suatu perpangkatan yang
digunakan untuk menentukan besar pangkat dari suatu bilangan pokok. Dengan kata
lain, melalui logaritma kita dapat mencari besar pangkat dari suatu bilangan yang telah
diketahui hasil pangkatnya.

2. Bentuk umum logaritma

Telah kita ketahui bahwa logaritma adalah kebalikan dari perpangkatan atau
eksponen, maka jika terdapat suatu perpangkatan ac = b, maka didalam logaritma akan
dituliskan menjadi alog b = c.

a
log b = c

Pada penulisan alog b = c, a disebut bilangan pokok atau basis logaritma dengan
syarat a> 0 dan a ≠ 1. b disebut bilangan numerus atau bilangan yang dicari nilai
logaritma nya dengan syarat b > 1. Sedangkan c merupakan hasil dari operasi
logaritma atau besar pangkat.

Pada umumnya bilangan logaritma digunakan untuk menjabarkan perpangkatan 10


atau biasa disebut orde. Oleh karena itu, apabila operasi logaritma memiliki nilai basis
10 maka nilai basis pada operasi logaritma tidak perlu dituliskan dan menjadi log b = c.

log b = c.

Selain itu juga terdapat bilangan istimewa yang sering digunakan sebagai basis.
Bilangan tersebut disebut dengan bilangan euler atau bilangan natural yang memiliki

52
nilai 2, 718281828. Logaritma dengan basis bilangan natural disebut dengan operasi
logaritma natural sehingga dapat dituliskan menjadi:

In b = c
Contoh:
1. 3log 81 = c. berapa nilai c?
Jawab:
Oleh karena bentuk logaritma adalah alog b = c maka b = ac, sehingga 81 = 3c. Dari
bentuk tersebut, 3 pangkat berapa yang hasilnya 81? Ternyata 3 x 3 x 3 x 3 = 81
atau dapat dituliskan 34 = 81. Jadi, c adalah 4.

2. 103 = 1000 diubah dalam bentuk logaritma menjadi log 1000 = 3. Mengapa 10 tidak
dituliskan dalam logaritma tersebut? Karena jika a = 10 maka tidak dituliskan
sehingga rumusnya menjadi log b = c.

5
3. 27 3 ubahlah kedalam bentuk logaritma.

Jawab:
5
Pertama, kita cari dulu hasil dari 27 3 . Ubah bilangan 27 menjadi lebih sederhana

5
sehingga bisa dibagi dengan . 27 adalah 3 x 3 x 3 atau 3 3. Dapat dituliskan
3

5
menjadi: (33) = 35 = 405. Lalu, ubah menjadi bentuk logaritma menjadi: 5log 405
3

5
= .
3

2. Sifat-sifat logaritma

Operasi logaritma memiliki sifat-sifat baik itu dikalikan, dibagi, ditambah,


dikurang, maupun dipangkatkan. Berikut ini adalah sifat-sifat logaritma yaitu:
a. Sifat logaritma dasar

53
Sifat logaritma dasar maksudnya yaitu apabila basis dan numerus suatu
logaritma sama maka hasilnya adalah 1. Dapat dituliskan sebagai berikut:

a
log a = 1

Selain itu, apabila suatu logaritma memiliki numerus yang bernilai 1 maka hasilnya
adalah 0 dikarenakan suatu bilangan berpangkat jika dipangkatkan dengan 0 maka
hasilnya adalah 1. Dapat dituliskan sebagai berikut:

a
log 1 = 0
Contoh:
1. 2log 2 = 1, dikarenakan hasil perpangkatan dari 21 = 2.
2. 5log 1 = 0, dikarenakan hasil perpangkatan dari 50 = 1.

b. Sifat penjumlahan logaritma

Suatu logaritma dapat dijumlahkan dengan logaritma lain apabila logaritma tersebut
memiliki a atau basis yang sama. Hasil dari operasi ini yaitu suatu logaritma yang
mempunyai basis yang sama dan numerus yang dikalikan. Jika p dan q adalah bilangan
positif dan a adalah bilangan positif yang ≠ 1, maka dapat dituliskan:

a
log x + alog y = alog xy

Contoh:
1. 4log 8 + 4log 2 = 4log (8.2) = 4log 16
2. 5log 3 + 5log 15 = 5log (3. 15) = 5log 45

c. Sifat pengurangan logaritma

Pengurangan logaritma hampir sama dengan penjumlahan yaitu harus memiliki a


atau basis yang sama, hanya saja hasilnya akan berupa pembagian antara numerus dari
logaritma. Oleh karena itu, sifat pengurangan logaritma dapat dituliskan dalam bentuk
berikut:

a x
log x – alog y = alog
y

54
Contoh:
12
1. 4log 12 – 4log 9 = 4log
9
2. Buktikan bahwa 2log 4 = 2 dengan menggunakan sifat pengurangan
logaritma.
Jawab: 2log 4 = 2log 8 – 2log 2
2
log 8 = 3 maka 23 = 8
2
log 2 = 1 maka 21 = 2
8 23
=
2 21
8
= 23−1
2
2
log 4 = 3-1
2
log 4 = 2, sesuai dengan bilangan perpangkatan yaitu 22 hasilnya adalah
4 (terbukti).

d. Sifat perkalian logaritma

Dalam perkalian logaritma, nilai numerus logaritma a harus sama dengan nilai
bilangan pokok logaritma b. Hasil perkalian tersebut merupakan logaritma baru dengan
nilai bilangan pokok sama dengan logaritma a, dan nilai numerus sama dengan
logaritma b. Sifat perkalian logaritma ini dapat dituliskan menjadi:

alog b x blog c = alog c

Syaratnya a > 0 dan a ≠ 1.

Contoh:
1. 3log 5 . 5log 81 = ?

55
Jawab: Dalam logaritma tersebut numerus logaritma a dan bilangan pokok dari
logaritma b merupakan bilangan yang sama yaitu 5, sehingga kita coret numerus
dan bilangan pokok yang sama tersebut. Maka, yang tersisa hanya 3log 81. 3
pangkat berapa yang hasilnya 81. 3 x 3 x 3 x 3 = 81, 81 = 3 4. Ingat konsep
bentuk awal logaritma, bahwa pangkat dari suatu bilangan berpangkat adalah
hasil dari suatu logaritma. Jadi, 3log 81 hasilnya adalah 4.
e. Sifat pembagian pada logaritma

Sifat ini hanya berlaku apabila kedua logaritma memiliki basis yang sama, sehingga
dapat dituliskan sebagai berikut:

x
 log b / x log a = a log b

Contoh:

2 log 8❑ 4
= log 16 = 2, dikarenakan 42 = 16.
2 log 16❑

f. Sifat logaritma berbanding terbalik

Suatu logaritma yang berbanding terbalik dengan logaritma lain yang memiliki nilai
bilangan pokok dan numerusnya saling bertukaran. Dapat dituliskan menjadi:

alog b = 1 / ( b log a )

g. Sifat logaritma numerus terbalik

Suatu logaritma dapat memiliki nilai yang sama dengan negatif logaritma lain yang
memiliki numerus dengan pecahan terbalik. Dapat dituliskan sebagai berikut:

a x y
 log ( ) = – a log ( )
y x

h. Sifat logaritma dari perpangkatan

56
Sifat perpangkatan ini apabila suatu logaritma dengan numerusnya merupakan
suatu eksponen dapat dijadikan logaritma baru dengan mengeluarkan pangkatnya
menjadi bilangan pengali. Jika b adalah bilangan real positif dan a adalah bilangan real
positif ≠ 1 serta n adalah bilangan sembarang, dapat dituliskan sebagai berikut:

alog bn = n. alog b

Contoh:
3
log 27 = 3log 33
= 3. 3log 3
= 3. 1
=3

i. Perpangkatan bilangan pokok logaritma

Suatu logaritma yang nilai basisnya merupakan suatu eksponen dapat dijadikan
logaritma baru dengan mengeluarkan pangkatnya menjadi bilangan pembagi. Dapat
dituliskan sebagai berikut:

Contoh:

1 3
3 4log 9 = . log 9
4

1
= . 2 (2 didapat dari 9 = 32)
4

1
=
2

j. Perpangkatan logaritma

57
Perpangkatan logaritma maksudnya ada suatu bilangan yang mempunyai pangkat
berbentuk logaritma. Hasil pangkatnya merupakan nilai numerus dari logaritma
tersebut. Dapat dituliskan seperti berikut:

a alogm = m

k. Mengubah basis logaritma

Suatu logaritma dapat dipecah menjadi perbandingan dua logaritma sebagai berikut:

p
alog p
log q =
a logq
Syarat a > 0, a ≠ 1 , p > 0, q > 0

Contoh soal:
1. Buktikan bahwa hasil 3log 243 = 5 dengan menggunakan sifat penjumlahan
logaritma.
Jawab: 3log 243 = 3log 9 + 3log 27
3
log 9 = 2 maka 32 = 9
3
log 27 = 3 maka 33= 27
9 x 27 = 32 x 33
9 x 27 = 32+3
3
log (9 . 27) = 2 + 3
3
log 243 = 5

2. Ubahlah bilangan 43 = 64 kedalam bentuk logaritma


Jawab: 43= 64 jika diubah dalam bentuk logaritma menjadi 4log 64 = 3, karema 43
hasilnya adalah 64.

3. Selesaikan operasi logaritma berikut.


3
log 5.2log 9.9log 81.
Jawab: 3log 5. 5log 9. 9log 81 = 3log 81 =

58
E. CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN

1. (a + 2b)2 + (2a + 3b)2 ?


2. 83 × 42 : 23)?

π
3. Tentukan nilai 2 dan √(16:8)
4. 20 √ 4 : 5 √ 2
5. Buktikan bahwa hasil 3log 243 = 5 dengan menggunakan sifat penjumlahan logaritma.

Pembahasan

1. (a + 2b)2 + (2a + 3b)2 ?


= ((a + 2b) (a + 2b)) + ((2a + 3b) (2a + 3b))
= (a2 + 2ab + 2ab + 4b2) + (4a2 + 12ab + 6ab + 9b2)
= (a2 + 4ab + 4b2) + (4a2 + 18ab + 9b2)
= a2 + 4a2 + 4ab + 18ab + 4b2 + 9b2
= 5a2 + 22ab + 13b2
2. 83 × 42 : 23)?
= (23)3 × (22)2 : 23
= 2 (3 + 3) + (2 + 2) – 3
= 2 6+4–3
= 27
= 128

π
3. 2 = Bilangan irasional, karena 𝝅 yang berjumlah 3,142857… dibagi dengan 2
memiliki hasil 1,57142… tidak memiliki pola apapun, sehingga memenuhi ciri-ciri
bilangan irasional.

√(16:8) Bilangan irasional, karena 16 dibagi 8 sama dengan 2, hasil dari √2


adalah 1,14213… tidak memiliki pola sehingga cocok menjadi bilangan irasional

4. 20 √ 4 : 5 √ 2
= ( 20 : 5 ) √ ( 4 :2)
= 4 √3
3
5. log 243 = 3log 9 + 3log 27
3
log 9 =2 maka 32 = 9
3
log 27 =3 maka 33= 27
9 x 27 = 32 x 33
9 x 27 = 32+3
3
log (9 . 27) = 2 + 3
3
log 243 =5

60
BAB III

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

https://www.advernesia.com/blog/matematika/perpangkatan/

https://tarokutu.com/2017/11/pengertian-perpangkatan-bilangan.html

https://blog.ruangguru.com/matematika-kelas-7-cara-menyelesaikan-operasi-perpangkatan-
pada-bentuk-aljabar

Siti hawa, Toybah, Vina Amilia Suganda, 2017. aritmatika. Palembang: NoerFikri.

https://blog.ruangguru.com/mengenal-logaritma-dan-sifat-sifatnya,

https://saintif.com/sifat-logaritma/,

https://www.pinterpandai.com/bilangan-rasional-dan-irasional/,

https://www.advernesia.com/blog/matematika/bilangan-rasional-dan-irasional/

https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/apa-itu-bilangan-rasional-dan-irasional-4451/

https://www.advernesia.com/blog/matematika/bilangan-rasional-dan-irasional/

https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/apa-itu-bilangan-rasional-dan-irasional-4451/

https://www.pinterpandai.com/bilangan-rasional-dan-irasional/

https://www.academia.edu/36153044/Aritmatika
https://www.academia.edu/15507157/Isi_matik
https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/kenali-sifat-dari-bentuk-akar-dan-cara-operasi-
hitungnya-4625

https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/bentuk-sederhana-akar-matematika-dan-cara-
mendapatkannya-4739/

https://www.yuksinau.id/bentuk-akar-matematika/

https://blogmipa-matematika.blogspot.com/2017/05/bentuk-akar.html

Kelaspintar,id

Bobo.grid.id

61
Yuksinau.id

Kanginan, Marthen. 2005 , Cerdas Belajar Matematika: Grafindo Media Pratama

https://www.zenius.net/blog/23423/contoh-sifat-persamaan-logaritma-rumus
https://blog.ruangguru.com/mengenal-logaritma-dan-sifat-sifatnya
https://www.studiobelajar.com/logaritma/
https://saintif.com/sifat-logaritma/
https://rumus.co.id/sifat-sifat-logaritma/
https://www.materimatematika.com/2017/11/logaritma.html
https://www.materimatematika.com/2017/11/logaritma.htm

62
63

Anda mungkin juga menyukai