Anda di halaman 1dari 138
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA PETANI DI DESA PURWOJATI KECAMATAN KERTEK

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA PETANI DI DESA PURWOJATI KECAMATAN KERTEK KABUPATEN WONOSOBO

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Universitas Negeri Semarang

Oleh :

Dewi Andarwati

NIM : 6450402069

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

2007

i
i

ABSTRAK

Dewi Andarwati. 2007. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita pada Keluarga Petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Dra. E. R. Rustiana, M.Si, II: Irwan Budiono, SKM. Kata Kunci: Faktor-faktor, Status Gizi Balita Keluarga Petani.

Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Purwojati diperoleh jumlah balita pada keluarga petani yang mengalami gizi kurang sebanyak 1,89%, dan gizi buruk sebanyak 0,96%. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh balita keluarga petani sejumlah 208. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 balita. Variabel dalam penelitian ini adalah pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendidikan ibu, besarnya keluarga, status pekerjaan ibu, pantangan makan balita, tingkat konsumsi energi dan protein sebagai variabel bebas. Sedangkan variabel terikat adalah status gizi balita. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Dacin atau timbangan balita, 2) Kuesioner, 3) Formulir recall 3X24 jam. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-square dengan α = 0,050. Dari hasil analisis bivariat faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita antara lain: pendapatan keluarga p = 0,002, RP=11,200, (95% CI=1,575-79,649), tingkat pengetahuan ibu p= 0,001, RP=11,897, (95% CI=1,672-84,658), tingkat konsumsi energi p= 0,000, RP=22,500, (95% CI= 5,720-88,501), tingkat konsumsi protein p= 0,000, RP=18,000, (95% CI=5,993- 54,059). Sedangkan faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan status gizi balita antara lain: tingkat pendidikan ibu p= 0,128, RP=1,630, (95% CI=0,723- 3,671), besarnya keluarga p=0,168, RP=0,431, (95% CI=0,180-1,030), status pekerjaan ibu p= 0,470, RP=0,467, (95% CI=0,170-1,283). Saran yang dapat penulis ajukan terkait penelitian ini adalah supaya ibu balita keluarga petani, kader posyandu dan bidan setempat supaya lebih memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi balita sehingga dapat menentukan sikap yang baik bagi status gizi balitanya.

ii

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing I dan pembimbing II untuk diajukan

mengikuti ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu

Keolahragaan Universitas Negri Semarang.

Pembimbing I

Dra. E. R. Rustiana M. Si NIP. 131472346

Menyetujui,

Semarang, ….Maret 2006

Yang Mengajukan

Dewi Andarwati

NIM.6450402069

Pembimbing II

Irwan Budiono, SKM NIP. 132308392

Mengetahui

Ketua Jurusan/ Program Studi

dr.Hj. Oktiaworo KH, M. Kes NIP. 131695159

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

1. Hidup adalah liku-liku dan perjuangan, setelah kita berjuang melewati liku-liku

kehidupan maka didepan kita masih menanti liku-liku yang lebih tajam lagi.

2. Keimanan, kesetiaan, kesabaran, harapan dan Do’a adalah bekal untuk

menghadapi liku-likunya hidup.

3. Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan diluar batas kemampuan

hamba-Nya.

PERSEMBAHAN

Dengan kerendahan hati skripsi ini

kupersembahkan kepada:

1. Bapak (Alm) dan Ibu yang tercinta.

2. Adikku Andi dan Andra

3. Teman-teman IKM ‘02

4. Bang Erwin tersayang

5. Teman-teman kost “STRAWBERY”

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya dan berkat bimbingan Bapak dan Ibu Dosen, sehingga skripsi dengan judul “Faktor- faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita pada Keluarga Petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo” dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk melengkapi persyaratan kelulusan program studi Strata 1 jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang.

Perlu disadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak dapat selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati disampaikan terimakasih kepada:

1. Pimpinan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, atas nama (Pembantu Dekan Bidang Akademik Bapak DR. Khomsin, M.Pd) atas ijin penelitian.

2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Ibu dr. Hj. Oktiaworo K.H, M.Kes, atas persetujuan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Pembimbing I Ibu Dra. E. R. Rustiana M. Si, atas bimbingan arahan dan masukanyna dalam penyusunan skripsi ini.

4. Pembimbing II Bapak Irwan Budiono, SKM, atas bimbingan arahan dan masukannya dalam penyusunan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, atas ilmu yang diberikan selama kuliah.

6. Kepala Desa Purwojati Kecamatan Kertek Bapak Supandi, atas ijin penelitian.

7. Kepala PUSKESMAS Kertek I Ibu drg. Sri Sukampti, atas ijin penelitiannya.

8. Ibu Rini sebagai bidan Desa Purwojati, atas bantuannya dalam proses pengambilan data.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas bantuannya dalam penyusunan skripsi.

v

Semoga amal baik dari semua pihak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

vi

Semarang,

Maret 2007

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

ABSTRAK

ii

LEMBAR PENGESAHAN

iii

MOTO DAN PERSEMBAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

x

DAFTAR LAMPIRAN

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Permasalahan

5

1.3 Tujuan Penelitian

6

1.4 Manfaat Penelitian

7

1.5 Keaslian Penelitian

8

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi Balita

13

2.2 Gizi Buruk Pada Balita

18

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

29

2.4 Kerangka Teori

55

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

56

3.2 Hipotesis Penelitian

57

3.3 Definisi Operasional

59

3.4 Jenis dan Rancangan Penelitian

60

vii

3.5

Populasi dan Sampel Penelitian

61

3.6 Instrument Penelitian

63

3.7 Prosedur Penelitian

64

3.8 Teknik Pengumpulan Data

65

3.9 Analisis Data

67

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis umum

69

4.2 Hasil Penelitian

70

4.2.1 Analisis Univariat

70

4.2.2 Analisis Bivariat

78

4.3 Pembahasan

85

4.4 Hambatan dan kelemahan penelitian

92

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

93

5.2 Saran

93

DAFTAR PUSTAKA

95

LAMPIRAN

viii

Tabel

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Kebutuhan Zat Gizi Balita Berdasarkan AKG rata-rata per hari

17

2. Status Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri

26

3. Energi Basal Metabolisme pada Anak-anak

45

4. Kebutuhan Protein untuk Golongan Umur& Jenis kelamin

48

5. Tabel Distribusi Pekerjaan Masyarakat Desa Purwojati

69

6. Hasil Pertanian Desa Purwojati

70

7. Tabel Silang Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi

79

8. Tabel Silang Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dengan Status Gizi

80

9. Tabel Silang Tingkat Pendidikan Ibu dengan Status Gizi

81

10. Tabel Silang Besar Keluarga dengan Status Gizi

82

11. Tabel Silang Status Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi

83

12. Tabel Silang Angka Kecukupan Energi dengan Status Gizi

84

13. Tabel Silang Angka Kecukupan Protein dengan Status Gizi

85

ix

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Grafik Distribusi Frekuensi Pendapatan Keluarga

71

2. Grafik Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu

72

3. Grafik Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu

73

4. Grafik Distribusi Frekuensi Besar Keluarga

74

5. Grafik Distribusi Frekuensi Status Pekerjaan Ibu

75

6. Grafik Distribusi Frekuensi Angka Kecukupan Energi

76

7. Grafik Distribusi Frekuensi Angka Kecukupan Protein

77

8. Grafik Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita

78

x

Lampiran

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Surat Tugas Dosen Pembimbing

97

2. Surat Ijin Penelitian

98

3. Surat Ijin Penelitian

99

4. Surat Ijin Penelitian

100

5. Surat Ijin Penelitian

101

6. Surat Tembusan KESBANGLINMAS

102

7. Kuesioner Penelitian

103

8. Validitas Instrumen

108

9. Reliabilitas Instrumen

110

10. Data Kuesioner

112

11. Analisis Univariat

114

12. Analisis Bivariat

118

13. Foto Dokumentasi

126

xi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

1
1

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat

kesehatan yang optimal, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber

daya manusia. Arah kebijaksanan pembangunan bidang kesehatan adalah

untuk mempertinggi derajat kesehatan, termasuk di dalamnya keadaan gizi

masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta kecerdasan dan

kesejahteraan pada umumnya (Suhardjo, 2003: 3).

Gizi

kurang

dan

gizi

buruk

pada

balita

berakibat

terganggunya

pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Secara tidak langsung gizi kurang dan

gizi buruk dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat gizi yang

dapat berakibat panjang, yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan

anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan

penyakit

tertentu.

Apabila

hal

ini

dibiarkan

tentunya

balita

sulit

sekali

berkembang. Dengan demikian jelaslah masalah gizi merupakan masalah

bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat untuk melakukan

perbaikan gizi (Sajogyo,dkk. 1994: 2).

Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, maka balita termasuk

dalam

golongan

masyarakat

kelompok

rentan

gizi,

yaitu

kelompok

masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi, sedangkan pada saat

1
1

2

ini

mereka

sedang

mengalami

proses

pertumbuhan

yang

relatif

pesat

(Soegeng Santoso dan Anne Lies. 2003 : 88).

Secara umum terdapat 4 masalah gizi pada balita di Indonesia yaitu

KEP (Kekurangan Energi Protein), KVA (Kurang Vit A), Kurang yodium

(Gondok Endemik), dan kurang zat besi (Anemia Gizi Besi). Akibat dari

kurang

gizi

ini

kerentanan

terhadap

penyakit-penyakit

infeksi

dapat

menyebabkan meningkatnya angka kematian balita (Soegeng Santoso dan

Anne Lies Ranti, 2003: 72).

Di Jawa Tengah tahun 2003 menunjukkan data jumlah balita sejumlah

2.816.499,

dari

jumlah

tersebut

yang

ditimbang

di

Posyandu

sebanyak

70,77 %, dengan rincian yang naik berat badannya sebanyak 1.575.486 anak

(79,03 %) dan anak balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak

46.679 anak (2,34 %). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa di Jawa

Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah garis gizi

cukup (BPS, 2003: 42).

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo,

tercatat gizi kurang pada tahun 2004 sebanyak 18,85 %, dan kasus gizi kurang

menurun menjadi 8,73 % pada tahun 2005. Sedangkan untuk kasus gizi buruk

masih perlu diperhatikan. Dimana pada tahun 2004 kasus gizi buruk sebanyak

0,63 % dan bertambah menjadi 1,66 % pada tahun 2005 (Dinkes Kabupaten

Wonosobo, tahun 2005).

Berdasarkan data Puskesmas Kertek I tahun 2005 yang meliputi 13

desa. Desa yang status gizi buruknya paling tinggi adalah Desa Purwojati.

3

Dari jumlah total penderita gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Kertek I

27,27% adalah balita dari desa Purwojati, dan dari jumlah total penderita gizi

kurang di wilayah kerja Puskesmas Kertek I 9,58% adalah balita desa

Purwojati (Puskesmas Kertek I, tahun 2005).

Menurut profil BPS Kabupaten Wonosobo Kecamatan Kertek tahun

2005 jumlah penduduk Desa Purwojati sebanyak 3767 jiwa dengan 940 kepala

keluarga.

Sebagian

besar

penduduk

bermata

pencaharian

sebagai

petani

(63.09%). Data yang diperoleh dari Puskesmas I Kertek jumlah petani yang

mempunyai balita sebanyak 35.08%. Adapun jumlah keseluruhan balita anak

petani yang mengalami gizi kurang sebanyak 1.89% dan 0.96% mengalami

gizi buruk (BPS dan Puskesmas Kertek I tahun 2006).

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita banyak sekali

diantaranya

adalah

pendapatan

atau

anggaran

belanja

keluarga,

menurut

Sajogya, dkk (1994 : 7) pendapatan yang rendah menyebabkan orang tidak

mampu

membeli

pangan

dalam

jumlah

yang

diperlukan.

Rendahnya

pendapatan mungkin disebabkan karena menganggur atau karena susahnya

memperoleh lapangan kerja. Berlainan dengan faktor pendapatan ternyata ada

penduduk atau masyarakat yang berpendapatan cukup dan lebih dari cukup

(baik di kota maupun di desa, seperti petani pemilik tanah, penggarap dan

sebagainya)

dalam

penyediaan

makanan

keluarga

banyak

yang

tidak

memanfaatkan bahan makanan yang bergizi, hal ini disebabkan oleh faktor

lain. Faktor yang lainnya yaitu kurangnya pengetahuan tentang gizi atau

kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-

hari. Besarnya keluarga juga termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi

4

status gizi balita, dimana jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga

besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga

tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga

besar tersebut. Selain itu pantangan makan juga termasuk didalamnya, dimana

sikap yang tidak menyukai suatu makanan tertentu untuk dikonsumsi, hal ini

juga dapat menjadi kendala dalam memperbaiki pola pemberian makanan

terhadap anggota keluarga dengan makanan yang bergizi (Suhardjo, dkk.

1986:31).

Puffer dan Seranno (dalam

Sri Kardjati, dkk, 1985: 54) melaporkan

bahwa gizi kurang dan infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting

pada anak-anak. Gizi kurang dan infeksi kedua-duanya dapat bermula dari

kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk. Selain itu

juga diketahui infeksi menghambat reaksi Imunologis yang normal dengan

menghasilkan sumber-sumber energi dan protein di tubuh

Balita masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

Oleh karena itu untuk memperoleh

energi serta dapat melakukan kegiatan

fisiknya sehari-hari, maka tubuh harus dipenuhi kebutuhan zat-zat gizinya.

Zat-zat makanan yang diperlukan itu dapat dikelompokkan menjadi 6 macam,

yaitu air, protein, lemak, vitamin, mineral dan karbohidrat (G Kartasapoetra

dan Marsetyo, 2001:4).

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil judul

“Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita pada Keluarga

Petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo”.

5

1.2 PERMASALAHAN

Berdasarkan data dari Puskesmas Kertek I tahun 2005, di Desa

Purwojati

terdapat

balita

dari

keluarga

petani

dengan

status

gizi

buruk

sebanyak 0,96 % dan gizi kurang sebanyak 1,89 %. Berdasarkan uraian

tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.2.1. Permasalahan Umum

Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan status gizi

balita

pada

keluarga

petani

di

Desa

Purwojati

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

1.2.2. Permasalahan Khusus

Kecamatan

Kertek

1. Adakah hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

2. Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status

gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

3. Adakah hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

4. Adakah hubungan antara besarnya keluarga dengan status gizi balita

pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten

Wonosobo tahun 2007 ?

6

5. Adakah hubungan antara status pekerjaan ibu dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

6. Adakah hubungan antara pantangan makan balita dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

7. Adakah hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

8. Adakah hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi

balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo tahun 2007 ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita

keluarga petani di desa Purwojati Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.

1.3.2 Tujuan Khusus

1)

Untuk mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan status

gizi balita pada keluarga petani di desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo.

2)

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan

status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan

Kertek Kabupaten Wonosobo.

7

3)

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan

status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan

Kertek Kabupaten Wonosobo.

4)

Untuk mengetahui hubungan antara besarnya keluarga dengan status

gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo.

5)

Untuk mengetahui hubungan antara status pekerjaan ibu dengan status

gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan Kertek

Kabupaten Wonosobo.

6)

Untuk mengetahui hubungan antara pantangan makan balita dengan

status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan

Kertek Kabupaten Wonosobo.

7)

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan

status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan

Kertek Kabupaten Wonosobo.

8)

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan

status gizi balita pada keluarga petani di Desa Purwojati Kecamatan

Kertek Kabupaten Wonosobo.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan

ilmu

pengetahuan

khususnya

dalam

bidang

ilmu

gizi,

serta

dapat

menyampaikan pada masyarakat tentang cara-cara untuk meningkatkan

status gizi balita agar lebih baik.

8

2. Bagi Petugas Kesehatan dan Pemerintah

Sebagai referensi untuk dapat memberikan informasi, tentang program

pendidikan

gizi

kepada

masyarakat

khususnya

memperhatikan status gizi balitanya.

3. Bagi Masyarakat

ibu-ibu

untuk

a. Dengan dipublikasikan skripsi ini diharapkan masyarakat mempunyai

pengetahuan

gizi

yang

baik,

sehingga

berusaha

untuk

selalu

meningkatkan status gizi keluarga terutama pada balitanya.

b. Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi status gizi balita

dan dapat memacu diri untuk berusaha untuk meningkatkan status gizi

balitanya.

4. Bagi Kader Posyandu

Sebagai sumbangan pemikiran dalam meningkatkan pelayanan kesehatan

terhadap

masyarakat

yang

memiliki

balita,

merupakan sumber daya yang unggul.

1.5 KEASLIAN PENELITIAN

mengingat

status

gizi

NO

Nama

Judul

Tahun&

Rancangan

Variabel

Hasil Penelitian

Peneliti

Penelitian

Tempat

Penelitian

Penelitian

Penelitian

1.

Ninik Asri

Hubungan

2005/

Cross

Variabel

Dari hasil uji Chi Squer sebesar 5.577 dengan signifikan 1% diperoleh nilai kritik sebesar 13.28 yang artinya tidak ada hubungan antara pendapatan dengan status gizi. Dari data pola asuh dan status gizi ditunjukkan dari hasil Chi Squer 18.379 dengan signifikan 1% diperoleh nilai kritik 9.21 berarti ada hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dan status gizi.

Rokhana

antara

Demak

sectional

terikat:

pendapatan

Status Gizi Variabel bebas : Pola asuh gizi

keluarga dan

pola

asuh

gizi

dengan

status

gizi

 

anak balita di

Betokan

Demak

016/IKM/06

9

2. Ina

Hubungan tingkat pendidikan ibu dan dan pola konsumsi pangan anak terhadap

2003/

Cross

Variabel

-

Tingkat pendidikan ibu

Wijayanti

Semarang

sectional

terikat:

dan pola konsumsi anak rs=0.441 p=0.012, sig 5% ada hubungan yang

Status gizi

Variabel

bebas:

signifikan antara

Pendidikan ibu dan Pola konsumsi pangan

pendidikan ibu dan pola konsumsi anak.

-

Pola konsumsi pangan

status

gizi

anak dengan status gizi rs=o.649, p<0.01, sangat signifikan pada p<1% yang berarti ada hubungan yang signifikan.

baduta

di

 

Tambak

Rejo

Kel.

Tanjung Mas

Kec.

Pendidikan ibu dan status gizi, rs=0.649, p=0.01 sangat signifikan pada p=1%, yang berarti ada hubungan yang signifikan antar pendidikan ibu dan status gizi.

-

Semarang

Utara

JATENG

001/BOG/04

3. Halym

Faktor-faktor

2006/

Cross

Variabel

Dari hasil analisis bivariat diperoleh: jumlah konsumsi energi {p=0,000 CC=0,390 OR=9,793(95% CI=2,967-32,320}, usia ibu hamil{p=0,015 CC=0,239 ) OR= 3,298(95% CI= 1,225- 8,879)}, beban kerja ibu hamil{p=0,001 Cc=0,329 OR=6,545(95% CI=2,054-

Surasih

yang

Banjarnegara

sectional

terikat:

berhubungan

Status Gizi

dengan

Variabel

keadaan

bebas:

KEK

pada

konsumsi

ibu hamil di kabupaten Banjarnegara

energi,

usia

ibu

hamil,

beban

kerja

 

ibu

hamil,

pendapatan

keluarga,

20,861)},pendapatan

pengetahuan

keluarga{p=0,000

ibu

tentang

CC=0,340 OR=5,12(95%

gizi, paritas,

CI=2,010-13,040)}

jarak

pengetahuan ibu tentang

kelahiran,

gizi(p=0,007),

penyakit

paritas(p=0,375), jarak

infeksi.

kelahiran

(p=0,900),penyakit

infeksi(p=0,123).

4. Priyanto

Faktor-faktor

2005/

Cross

Variabel

1.

ada hub.(+) antara

yang

Semarang

sectional

terikat:

tingkat konsumsi energi

berhubungan

Status gizi

dgn status gizi dengan probabilitas

dengan

Variabel

status

gizi

bebas:

0,012(<0,05)dgnCC+0,473

penderita

Konsumsi

2.

ada hub(+) antara

KEP

berat

energi,

kecukupan protein dengan

Pasca

rawat

konsumsi

status gizi. Probabilitas

inap dirumah

protein,

0,010(<0,05)dgn

sakit

dokter

penyakit

CC+0,489

Karyadi

infeksi,

3.

ada hub(-)yg signifikan

Semarang

pendapatan

antara penyakit infeksi, Probabilitas 0,012(<0,05) dengan CC-0,495

keluarga,

jumlah

anak,

4.

tidak ada hub. yang

pengetahuan

signifikan antara tingkat pendapatan dengan status gizi , Probabilitas

ibu

tentang

gizi,

pendidikan

0,344(>0,05)

ibu.

10

           

5.

Tidak hub. yang

signifikan antara jumlah anak dengan status gizi, Probabilitas 0,113(>0,05)

6.

Tidak ada hub.yang

signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi, Probabilitas 0,244

(>0,05)

7.

Ada hub.(+)yang

signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi, probabilitas 0,045(<0,05) dengan

CC+0,375

5.

Dewi

Faktor-faktor

2007/

Cross

Variabel

1. Ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007.

Andarwati

yang

Wonosobo

sectional

terikat:

Berhubungan

Status gizi

dengan

Variabel

Status

Gizi

bebas:

Balita

pada

pendapatan

Keluarga

keluarga,

Petani

di

tingkat

Desa

pengetahuan

2. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten wonosobo tahun 2007.

Purwojati

gizi

ibu,

Kecamatan

tingkat

Kertek

pendidikan

Kabupaten

ibu,

Wonosobo

besarnya

keluarga,

status

pekerjaan

3. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007.

ibu,

pantangan

makan

balita,

tingkat

konsumsi

energi,

tingkat

4. Tidak ada hubungan antara besar keluarga dengan status gizi balita pada keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007.

5. Tidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu dengan status gizi balita pada keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007.

konsumsi

protein.

6. Tidak ada hubungan antara pantangan makan balita dengan status gizi balita keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek,

92

11

Kabupaten Wonosobo tahun 2007, sebab 100% balita responden tidak mempunyai pantangan makan. 7. Ada hubungan
Kabupaten Wonosobo tahun 2007, sebab 100% balita responden tidak mempunyai pantangan makan. 7. Ada hubungan
Kabupaten Wonosobo tahun 2007, sebab 100% balita responden tidak mempunyai pantangan makan. 7. Ada hubungan

Kabupaten Wonosobo tahun 2007, sebab 100% balita responden tidak mempunyai pantangan makan. 7. Ada hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007. 8. Ada hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita keluarga petani Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo tahun 2007.

Keterangan :

Dari penelitian yang sudah dilakukan, terdapat perbedaan yaitu objek

dari penelitian

adalah balita keluarga petani,dan tempat penelitian yaitu di desa

Purwojati kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo.

1.6 RUANG LINGKUP PENELITIAN

1.6.1 Ruang Lingkup Tempat

Tempat yang akan dijadikan penelitian adalah Desa Purwojati

Kecamatan

Kertek

Kabupaten

Wonosobo.

Desa

Purwojati

dibagi

menjadi 4 dusun yaitu Sibendo, Dalangan, Prumbanan dan Ngariman.

1.6.2 Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Februari 2007,

dan pengambilan data yang menyangkut variabel terikat dilaksanakan

pada saat yang bersamaan.

12

1.6.3 Ruang Lingkup Materi

Penelitian ini termasuk dalam lingkup ilmu kesehatan masyarakat

khususnya bidang gizi kesehatan masyarakat yang meneliti tentang

pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendidikan

ibu, besarnya keluarga, status pekerjaan ibu, pantangan makan balita dan

tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein.

2.1 Status Gizi Balita

Masa

balita

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

merupakan

proses

pertumbuhan

yang

pesat

13
13

dimana

memerlukan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan lingkungannya.

Disamping itu balita membutuhkan zat gizi yang seimbang agar status gizinya

baik, serta proses pertumbuhan tidak terhambat, karena balita merupakan

kelompok

umur

yang

paling

sering

menderita

akibat

kekurangan

gizi.

(Soegeng Santoso dan Anne Lies, 2004 : 71).

 

2.1.1 Pengertian Status Gizi

 
 

Status

gizi

merupakan

salah

satu

faktor

yang

menentukan

sumberdaya manusia dan kualitas hidup. Untuk itu, program perbaikan

gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, agar

terjadi perbaikan status gizi masyarakat (Deddy Muchtadi, 2002: 95).

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian,

penyerapan, dan penggunaan makanan (Suhardjo,dkk. 2003: 256).

2.1.2 Zat Gizi

Balita dalam proses tumbuh kembang, sehingga makanan sehari-

hari harus

mencukupi kebutuhan

gizi.

Zat gizi

atau

zat

makanan

merupakan bahan dasar penyusun bahan makanan. Zat gizi terdiri atas :

13
13

14

2.1.2.1

Karbohidrat

 
 

Karbohidrat sebagai zat gizi merupakan kelompok zat-zat

 

organik

yang

mempunyai

struktur

molekul

yang

berbeda-beda,

meski terdapat persamaan dari sudut dan fungsinya. Karbohidrat

yang terkandung dalam makanan pada umumnya hanya ada 3 jenis

yaitu:

Polisakarida,

Disakarida,

dan

Monosakarida

(Soegeng

Santoso dan Anne Lies, 2004 : 108).

 
 

Karbohidrat terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari

 

tumbuh-tumbuhan dan hanya sedikit yang termasuk bahan makanan

hewani.

Fungsi utama karbohirat yaitu:

 

a. Sumber utama energi yang murah.

b. Memberikan rangsangan mekanik.

c. Melancarkan gerakan peristaltik yang melancarkan aliran bubur

makanan serta memudahkan pembuangan tinja.

 

2.1.2.2

Protein

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting karena yang

paling erat hubungannya dengan kehidupan. Protein mengandung

unsur C, H, O dan unsur khusus yang tidak terdapat pada karbohidrat

maupun lemak yaitu nitrogen. Protein nabati dapat diperoleh dari

tumbuh-tumbuhan, sedangkan protein hewani didapat dari hewan.

Protein berfungsi:

a. Membangun sel-sel yang rusak.

b. Membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon.

15

c. Membentuk

zat

anti

energi,

dalam

hal

ini

tiap

protein

menghasilkan sekitar 4,1 kalori (Soegeng Santoso dan Anne Lies,

2004: 112).

2.1.2.3 Lemak

Merupakan senyawa organik yang

majemuk, terdiri dari

unsur-unsur C, H, O yang membentuk senyawa asam lemak dan

gliserol, apabila bergabung dengan zat lain akan membentuk lipoid,

fosfolipoid dan sterol. Fungsi lemak antara lain :

a. Sumber utama energi atau cadangan dalam jaringan tubuh dan

bantalan bagi organ tertentu dari tubuh.

b. Sebagai sumber asam lemak yaitu zat gizi yang esensial bagi

kesehatan kulit dan rambut.

c. Sebagai pelarut vitamin-vitamin (A, D, E, K) yang larut dalam

lemak (Soegeng Santoso dan Anne Lies, 2004: 114).

2.1.2.4 Vitamin

Vitamin berasal dari kata Vitamine oleh Vladimin Funk

karena disangka suatu ikatan organic amine dan merupakan zat

vitamin yang dibutuhkan untuk kehidupan. Ternyata zat ini bukan

merupakan amine, sehingga diubah menjadi vitamin.

Fungsi vitamin sebagai berikut:

a. Vitamin A : fungsi dalam proses melihat, metabolisme umum, dan

reproduksi.

16

b. Vitamin D : calciferol, berfungsi sebagai prohormon transport

calsium ke dalam sel. Bahan makanan yang kaya vitamin D adalah

susu.

c. Vitamin E : alpha tocoperol, berfungsi sebagai antioksida alamiah

dan metabolisme selenium. Umumnya bahan makanan kacang-

kacangan

atau

biji-bijian

khususnya

mengandung vitamin E yang baik.

d. Vitamin

K

:

menadion,

berfungsi

di

bentuk

kecambah,

dalam

proses

sintesis

prothrombine yang diperlukan dalam pembekuan darah. Vitamin K

terdapat dalam konsentrasi tinggi di dalam ginjal. Paru-paru dan

sumsum tulang. Pada penyerapan vitamin K diperlukan garam

empedu dan lemak.

(Soegeng Santoso dan Anne Lies, 2004 : 116).

2.1.2.5

Mineral

Mineral merupakan zat gizi yang diperlukan tubuh dalam

jumlah yang sedikit. Mineral mempunyai fungsi :

a. Sebagai pembentuk berbagai jaringan tubuh, tulang, hormon, dan

enzim.

b. Sebagai zat pengatur

1) Berbagai proses metabolisme.

2) Keseimbangan cairan tubuh.

3) Proses pembekuan darah.

4) Kepekaan saraf dan untuk kontraksi otot.

17

2.1.3 Jumlah Makanan yang dibutuhkan

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi rata-rata yang dianjurkan

Oleh Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi ke IV (LIPI, 1988) adalah

sebagai berikut:

Tabel 1. Kebutuhan Zat Gizi Balita Berdasarkan Angka Kecukupan

Gizi (AKG)

rata-rata perhari

Golongan

Berat

Tinggi

Energi

Protein

Lemak

Vitamin

Vitamin

Umur

Badan

Badan

(Kkal)

(g)

(g)

A (mg)

C (mg)

Balita

(Kg)

(cm)

0-6 bln

5.5

60

560

12

13

350

30

7-12 bln

8.5

71

800

15

19

350

35

1-3 thn

12

90

1250

23

28

350

40

4-6 thn

18

110

1750

32

39

460

45

Sumber: Solihin Pudjiadi (2003 : 30)

2.1.4 Dampak yang diakibatkan oleh kekurangan gizi

Keadaan gizi kurang pada anak-anak mempunyai dampak pada

kelambatan

pertumbuhan

dan

perkembangannya

yang

sulit

disembuhkan.

Oleh

karena

itu

anak

yang

bergizi

kurang

tersebut

kemampuannya untuk belajar dan bekerja serta bersikap akan lebih

terbatas dibandingkan dengan anak yang normal (Soegeng Santoso dan

Anne Lies, 2004: 72).

Dampak yang mungkin muncul dalam pembangunan bangsa di

masa depan karena masalah gizi antara lain :

a. Kekurangan gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-

anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas sumber daya manusia di

masa depan.

18

b. Kekurangan

gizi

berakibat

meningkatnya

angka

kesakitan

dan

menurunnya

produktivitas

kerja

manusia.

Hal

ini

berarti

akan

menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan.

c. Kekurangan gizi berakibat menurunnya tingkat kecerdasan anak-

anak. Akibatnya diduga tidak dapat diperbaiki bila terjadi kekurangan

gizi

semasa

Menurunnya

anak

dikandung

kualitas

manusia

sampai

usia

umur

muda

kira-kira

ini,

berarti

tiga

tahun.

hilangnya

sebagian besar potensi cerdik pandai yang sangat dibutuhkan bagi

pembangunan bangsa.

d. Kekurangan gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk

bekerja, yang berarti menurunnya prestasi dan produktivitas kerja

manusia (Suhardjo, 2003 : 15).

Kekurangan

gizi

pada

umumya

adalah

menurunnya

tingkat

kesehatan masyarakat. Masalah gizi masyarakat pada dasarnya adalah

masalah konsumsi makanan rakyat. Karena itulah program peningkatan

gizi memerlukan pendekatan dan penggarapan diberbagai disiplin, baik

teknis kesehatan, teknis produksi, sosial budaya dan lain sebagainya

(Suhardjo, 2003:17).

2.2 Gizi Buruk Pada Balita

Keadaan gizi kurang tingkat berat pada masa bayi dan balita ditandai

dengan dua macam sindrom yang jelas yaitu Kwashiorkor, karena kurang

konsumsi protein dan Marasmus karena kurang konsumsi energi dan protein.

Kwarsiorkor

banyak

dijumpai

pada

bayi

dan

balita

pada

keluarga

19

berpenghasilan

rendah,

dan

umumnya

kurang

sekali

pendidikannya.

Sedangkan Marasmus banyak terjadi pada bayi dibawah

usia 1 tahun, yang

disebabkan karena tidak mendapatkan ASI atau penggantinya (Suhardjo,

2003:2).

Kekurangan energi yang kronis pada anak-anak dapat menyebabkan

anak balita lemah, pertumbuhan jasmaninya terlambat, dan perkembangan

selanjutnya terganggu. Pada orang dewasa ditandai dengan menurunnya berat

badan dan menurunnya produktifitas kerja. Kekurangan gizi pada semua umur

dapat menyebabkan mudahnya terkena serangan infeksi dan penyakit lainnya

serta lambatnya proses regenerasi sel tubuh (Suhardjo, 2003 : 8).

2.2.1 Kekurangan Energi Protein

Kekurangan

Energi

Protein

adalah

keadaan

kurang

gizi

yang

disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan

sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (I Dewa Nyoman

Supariasa, 2002: 131).

Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada

pemeriksaan hanya nampak kurus. Namun gejala klinis KEP berat secara garis

besar

dapat

dibedakan

menjadi

3

Marasmic-Kwasiorkor.

Tanda-tanda Marasmus :

yaitu

Marasmus,

Kwasiorkor,

atau

a. Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.

b. Wajah seperti orang tua.

20

d. Kulit keriput, jaringan lemak subkitis sangat sedikit, bahkan sampai

tidak ada.

e. Sering disertai diare kronik atau konstipasi susah buang air, serta

penyakit kronik.

f. Tekanan darah, detak jantung dan pernapasan berkurang (I Dewa

Nyoman Supariasa, 2002: 131).

Tanda-tanda Kwasiorkor :

a. Oedema, umumnya seluruh tubuh terutama pada punggung kaki.

b. Wajah membulat dan sembab.

c. Pandangan mata sayu.

d. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut

tanpa rasa sakit, rontok.

e. Perubahan status mental, apatis dan rewel.

f. Pembesaran hati.

g. Otot mengecil (hipotrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi

berdiri atau duduk.

h. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah

menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.

i. Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut, anemia dan diare

(I Dewa Nyoman Supriasa, 2001 : 131).

Tanda-tanda Marasmic-Kwasiorkor :

Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala

klinik Kwasiorkor dan Marasmus, dengan BB/U<60% baku median

21

WHO_NCHS disertai oedema yang tidak mencolok (I Dewa Nyoman

Supriasa, 2001 : 131).

2.2.2 Pencegahan KEP

a.

Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan

makanan

semakin

banyak,

sekaligus

merupakan

tambahan

penghasilan rakyat.

 

b.

Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan

energi untuk anak-anak yang disapih.

 

c.

Memperbaiki infrastruktur pemasaran.

d.

Subsidi harga bahan makanan. Bertujuan untuk membantu mereka

yang sangat terbatas penghasilannya.

 

e.

Pemberian makanan suplementer. Makanan diberikan secara cuma-

cuma atau dijual dengan harga minim, makanan semacam ini

ditujukan untuk anak-anak yang termasuk golongan umur rawan

akan penyakit KEP.

 

f.

Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan adalah untuk mengajar rakyat

mengubah kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan

cara menghidangkan makanan supaya mereka dan anak-anaknya

mendapat makanan yang lebih baik mutunya.

 

g.

Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan.

h.

Peningkatan kapasitas kerja manusia.

i.

Peningkatan kesejahteraan rakyat.

1)

Pemerataan pendapatan yang lebih baik (Solihin Pudjiadi, 2003:

22

2.2.3 Pengobatan KEP

a. Pengobatan KEP ringan

Perbaikan gizi akan tercapai dengan mengubah menu makanan,

setiap harinya harus dapat 2-3 gram protein dan 100-150 kkal untuk

tiap kg berat badannya. Sumber protein dan energi diperoleh dari :

1) Makanan pokok setempat, seperti beras, jagung dan sebagainya.

2) Suplementasi untuk mencapai jumlah protein yang dianjurkan

dengan bahan makanan yang mengandung banyak protein dan

tidak mahal harganya. Dapat dibeli atau dibagi-bagikan secara

cuma-cuma oleh pemerintah melalui Puskesmas atau Posyandu.

3) Perubahan menu makanan harus diusahakan sedemikian hingga

dapat diterima oleh ibunya dan tradisi penduduk dimana anak itu

berada (Solihin Pudjiadi, 2003 : 132).

b. Pengobatan KEP berat

Tujuan pengobatan KEP berat adalah untuk menurunkan

mortalitas dan memulihkan kesehatan secepatnya.

1)

Penderita KEP berat seyogyanya dirawat di rumah sakit,

walaupun memisahkan penderita dari ibunya.

2)

Rumah sakit yang merawat penderita harus dilengkapi dengan

cukup perawat dan di tempatkan diruangan yang terpisah dari

ruangan ruangan lain yang ditempati oleh anak-anak yang

yang sedang menderita penyakit infeksi.

 

3)

Dilakukan

pemeriksaan

secara

rutin,

dicari

ada

tidaknya

kekurangan zat gizi lain dan infeksi. Dengan demikian maka

23

bukan hanya diberikan terapi dietetik, melainkan juga terapi

terhadap penyakit penyertanya (Solihin Pudjiadi, 2003 : 132).

2.2.4 Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi dibagi menjadi 2 yaitu penilaian status gizi

secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung.

2.2.4.1 Penilaian Status Gizi Secara Langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi 4

penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Tetapi dalam

penilaian ini menggunakan penilaian Antopometri.

2.2.4.1.1 Antropometri

a. Pengertian

Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh

manusia.

Ditinjau

dari

sudut

pandang

gizi,

maka

antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam

pengukuran

dimensi

tubuh

dan

komposisi

tubuh

dari

berbagai tingkat umur dan tingkat gizi

2001 : 19).

(I Dewa Nyoman,

b. Penggunaan

 

Antropometri

secara

umum

digunakan

untuk

melihat

ketidakseimbangan

protein

dan

energi.

Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik

dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah

air dalam tubuh (I Dewa Nyoman, 2001 : 19).

24

c. Indeks Antropometri

1) Berat badan menurut umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang

memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat

sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,

misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya

nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan jumlah

makanan

yang

dikonsumsi.

Dalam

keadaan

normal,

dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara

konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat

badan

berkembang

Sebaliknya

dalam

mengikuti

pertambahan

umur.

keadaan

abnormal,

terdapat

2

kemungkinan

perkembangan

berat badan

yaitu dapat

berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal

(I Dewa Nyoman, 2001 : 56-57).

Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka

indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai

salah

satu

cara

pengukuran

status

gizi.

Mengingat

karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U

lebih

menggambarkan

status

gizi

seseorang

saat

ini

(I Dewa Nyoman, 2001 : 56-57).

2) Tinggi badan menurut umur (TB/U)

Tinggi

badan

merupakan

antropometri

yang

menggambarkan

keadaan

pertumbuhan

skeletal.

Pada

keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan

25

pertambahan

umur.

Pertumbuhan

tinggi

badan

tidak

seperti

berat

badan,

relatif

kurang

sensitif

terhadap

masalah kekurangan gizi dalam waktu pendek. Pengaruh

defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak

dalam waktu yang relatif lama (I Dewa Nyoman, 2001 :

57).

3) Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)

Berat

badan

memiliki

hubungan

yang

linier

dengan

tinggi

badan.

Dalam

keadaan

normal,

perkembangan

berat

badan

akan

searah

dengan

pertumbuhan

berat

badan

dengan

kecepatan

tertentu.

Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk

menilai status gizi saat ini (I Dewa Nyoman, 2001: 58).

Dari

berbagai

jenis

indeks

tersebut,

untuk

menginterpretasikan

dibutuhkan

ambang

batas,

penentuan ambang batas diperlukan kesepakatan para

ahli gizi. Ambang batas dapat disajikan kedalam 3 cara

yaitu persen terhadap

deviasi unit.

median, persentil, dan standar

4) Persen Terhadap Median

Median adalah nilai tengah dari suatu populasi.

Dalam antropometri gizi median sama dengan persentil

50.

26

Rumus persen terhadap median :

% Median =

nilai individu subjek

X 100%

nilai median baku rujukan

(I Dewa Nyoman Supriasa, 2001 : 59).

Tabel 2. Status Gizi berdasarkan indeks antropometri

Status Gizi

BB/U

TB/U

BB/TB

Gizi Baik

> 80%

> 90%

> 90%

Gizi Sedang

71% - 80%

81% - 90%

81% - 90%

Gizi Kurang

61% - 70%

71% - 80%

71% - 80%

Gizi buruk

60%

70%

70%

Sumber: Yayah K. Husaini. Antropometri sebagai indeks gizi dan kesehatan masyarakat. Jakarta: medika (1997: 60).

Catatan: persen dinyatakan terhadap baku NCHS.

5) Persentil

Para

pakar

merasa

kurang

puas

dengan

menggunakan persen terhadap median, akhirnya memilih

cara persentil. Persentil 50 sama dengan median atau

nilai tengah dari jumlah populasi berada diatasnya dan

setengahnya

berada

dibawahnya

(I

Dewa

Nyoman

Supriasa, 2001 : 70).

National

Center

for

Health

Statistics

(NCHS)

merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi baik

dan kurang, serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan

gizi baik.

6) Standar deviasi Unit (SD)

Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO

menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan

untuk

memantau

pertumbuhan

(I

Dewa

Nyoman

27

Rumus perhitungan Z skor adalah

Z Skor =

nilai individu s ubjek - nilai median baku rujukan

nilai simpang baku rujukan

Sumber: gizi Indonesia, Vol XV No 2 Tahun 1990.

2.2.4.2 Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga

yaitu

:

survey

konsumsi

makanan,

statistik

vital

dan

faktor

ekologi. Dalam penelitian ini menggunakan survey konsumsi

dengan metode kuantitatif recall 24 jam.

2.2.4.2.1 Survei Konsumsi

a. Pengertian

Survei Konsumsi pangan adalah metode penentuan

status gizi secara tidak langsung

dengan

 

melihat

jumlah

dan

zat

gizi

yang

dikonsumsi

(I

Dewa

Nyoman Supriasa, 2001:20).

 

b. Penggunaan

 

Pengumpulan

data

konsumsi

makanan

dapat

memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai

zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu.

Survei

ini

dapat

mengidentifikasi

kelebihan

dan

kekurangan

zat

gizi

(I

Dewa

Nyoman

Supriasa,

2001 : 20).

28

c. Metode Recall 24 jam

Untuk dapat melakukan recall, makanan dengan baik

terlebih

dahulu

harus

mempelajari

jenis

bahan

makanan

yang

biasa

dikonsumsi

oleh

kelompok

sasaran survey. Oleh karena itu kadang-kadang perlu

dilakukan

survey

pasar.

Tujuannya

adalah

mengetahui

sasaran

berat

dari

tiap

jenis

bahan

makanan yang biasa dikonsumsi.

Berikut langkah-langkah kerjanya:

1) Masing-masing

makanan,

misal:

kelompok

menyiapkan

Bahan

makanan

pokok:

bahan

nasi

biasa, nasi tim, bubur (masing-masing kelompok

membawa

satu

porsi

makanan

yang

biasa

dikonsumsi).

Lauk

hewani:

bahan

yang

sudah

dimasak seperti telur, ikan goreng, ayam goreng,

dan

lain-lain.

Lauk

nabati:

bahan

yang

sudah

dimasak yang berasal dari tumbuhan seperti tahu,

tempe

dan

lain-lain.

Sayuran

:

sayur

bayam,

kacang

panjang,

dan

lain-lain.

Buah-buahan:

pisang, jeruk, apel dan lain-lain.

29

2) Lakukan

penimbangan

terhadap

masing-masing

bahan makanan untuk setiap ukuran rumah tangga

yang dipakai.

3) Catat

hasil

penimbangan

dalam

suatu

daftar

ukuran rumah tangga (I Dewa Nyoman Supriasa,

2001 : 94).

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Balita

2.3.1 Pendapatan Keluarga

2.3.1.1 Pengertian Pendapatan

Dalam kehidupan sehari-hari pendapatan erat kaitannya

dengan gaji, upah, serta pendapatan lainnya yang diterima

seseorang setelah orang itu melakukan pekerjaan dalam kurun

waktu tertentu (Mulyanto Sumardi dan Hans Pieter Evers, 1984

: 322).

Ada

beberapa

definisi

pengertian

pendapatan,

menurut

Badan Pusat Statistik sesuai dengan konsep dan definisi (1999:

8) pengertian pendapatan keluarga adalah seluruh pendapatan

dan penerimaan yang diterima oleh seluruh anggota Rumah

Tangga

Ekonomi

(ARTE).

Sedangkan

menurut

Mulyanto

Sumardi dan Hans Dieter Evers ( 1984: 322), pendapatan adalah

jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang

disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun

perseorangan dalam rumah tangga.

30

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan

adalah segala bentuk penghasilan atau penerimaan yang nyata

dari

seluruh

anggota

rumah tangga.

keluarga

untuk

memenuhi

kebutuhan

Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers (1984: 323)

menyebutkan

pendapatan

rumah

tangga

merupakan

jumlah

keseluruhan dari pendapatan formal, pendapatan informal dan

pendapatan subsistem.

Pendapatan formal, informal, dan pendapatan subsistem

yang dimaksud dalam konsep diatas dijelaskan sebagai berikut :

1) Pendapatan formal adalah pendapatan yang diperoleh dari

hasil pekerjaan pokok.

2) Pendapatan informal adalah pendapatan yang diperoleh dari

pekerjaan di luar pekerjaan pokok.

3) Pendapatan Subsistem yaitu pendapatan yang diperoleh dari

sektor produksi yang di nilai dengan uang.

Jadi yang dimaksud dengan pendapatan keluarga adalah

seluruh penghasilan yang diperoleh dari semua anggota keluarga

yang bekerja.

2.3.1.2 Sumber Pendapatan Keluarga

Pendapatan keluarga atau rumah tangga menurut biaya hidup

tahun 1968-1989 dari Badan Pusat Statistik yang dikutip oleh

Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers (1984: 92-94).

31

Pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 dan sumbernya

dapat dirinci sebagai berikut :

2.3.1.2.1 Pendapatan berupa Uang

a. Dari gaji dan upah yang diperoleh dari :

1) Kerja pokok

2) Kerja sampingan

3) Kerja lembur

4) Kerja kadang-kadang

b. Dari usaha sendiri :

1) Hasil bersih dari usaha sendiri

2) Komisi

3) Penjualan dan kerajinan rumah

c. Dari hasil investasi, yakni pendapatan yang diperoleh

dari hak milik tanah.

d. Dari

keuntungan

sosial

diperoleh dari kerja sosial.

yakni

pendapatan

yang

2.3.1.2.2 Pendapatan berupa barang yaitu pendapatan berupa :

a. Bagian pembayaran upah dan gaji yang dibentukkan :

1) Beras

2) Pengobatan

3) Transportasi

4) Perumahan

5) Barang

32

b. Barang

yang

antara lain:

diproduksi

dan

dikonsumsi

dirumah

1) Pemakaian barang yang diproduksi di rumah.

2) Sewa yang seharusnya dikeluarkan terhadap rumah

sendiri yang ditempati.

Dalam penelitian ini, pendapatan yang dimaksud

adalah kerja pokok dan kerja sampingan. Pendapatan

menurut perolehannya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

Pendapatan kotor yaitu pendapatan yang diperoleh belum

dikurangi

pengeluaran

dan

biaya-biaya

lainnya.

Pendapatan

bersih,

yaitu

pendapatan

yang

diperoleh

setelah dikurangi pengeluaran dan biaya-biaya lainnya.

2.3.1.3 Hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi

balita

Umumnya, jika pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan

cenderung ikut membaik juga. Akan tetapi, mutu makanan tidak

selalu

membaik

kalau

diterapkan

tanaman

perdagangan.

Tanaman perdagangan menggantikan produksi pangan untuk

rumah tangga dan pendapatan yang diperoleh dari tanaman

perdagangan itu atau upaya peningkatan pendapatan yang lain

tidak dicanangkan untuk membeli pangan atau bahan-bahan

pangan berkualitas gizi tinggi (Suhardjo, 1986 : 25).

Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa

yang akan dibeli dengan adanya tambahan uang. Semakin tinggi

penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan

33

tersebut dipergunakan untuk membeli buah, sayur mayur dan

berbagai

jenis

bahan

pangan

lainnya.

Jadi

penghasilan

merupakan faktor penting bagi kuantitas dan kualitas.

Antara penghasilan dan gizi, jelas ada hubungan yang

menguntungkan. Pengaruh peningkatan penghasilan terhadap

perbaikan

kesehatan

dan

kondisi

keluarga

lain

yang

mengadakan

interaksi

dengan

status

gizi

yang

berlawanan

hampir universal (Achmad Djaeni Sediaoetama. 1985 : 50).

Ahli ekonomi berpendapat bahwa dengan perbaikan taraf

ekonomi maka tingkat gizi pendukung akan meningkat. Namun

ahli gizi dapat menerima dengan catatan, bila hanya faktor

ekonomi

saja

yang

merupakan

penentu

status

gizi.

Kenyataannya masalah gizi bersifat multikompleks karena tidak

hanya faktor ekonomi yang berperan tetapi faktor-faktor lain

ikut menentukan. Oleh karena itu perbaikan gizi dapat dianggap

sebagai alat maupun sebagai sasaran daripada pembangunan

(Suhardjo, 2003 : 8).

2.3.2 Tingkat Pengetahuan Gizi ibu

Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi

didasarkan pada tiga kenyataan yaitu:

a. Status gizi cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.

b. Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya

mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan

tubuh yang optimal.

34

c. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk

dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.

(Suhardjo, 2003 : 25).

2.3.2.1 Pengetahuan

Pengetahuan

yang

dicakup

di

mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

a. Tahu (know)

dalam

domain

kognitif

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima (Soekidjo Notoatmodjo, 1997 : 128).

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterprestasi materi tersebut secara benar (Soekidjo

Notoatmodjo, 1997 : 129).

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil

(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau

penggunaan

hukum-hukum,

rumus,

metode,

prinsip

dan

35

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain (Soekidjo

Notoatmodjo, 1997 : 129).

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau

suatu

objek

ke

dalam

komponen-komponen,

tetapi

masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih

ada kaitannya satu sama lain (SoekidjoNotoatmodjo, 1997 :

129).

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis

menunjukkan

kepada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam

suatu

bentuk

keseluruhan

yang

baru.

Dengan

kata

lain

sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru