Anda di halaman 1dari 5

POPULASI DAN DISTRIBUSI PRIMATA DI BODOGOL,

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT


Ristika Putri Istanti 1
1
Mahasiswa Biologi 2009
Abstract

PENDAHULUAN NAsional Gunung Gede Pangrango,


Jawa Barat.
Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (TNGGP) adalah kawasan Penelitian ini bertujuan untuk
hutan hujan tropis yang memiliki mengetahui struktur populasi,
keanekaragaman jenis fauna cukup kepadatan populasi, dan distribusi
tinggi. Salah satu fauna yang primata yang terdapat di Bodogol,
ditemukan di TNGGP adalah primate. kawasan Taman Nasional Gunung
Di TNGGP ini dapat ditemukan lima Gede Pangrango, salah satu kawasan
jenis primata, diantaranya owa jawa konservasi di Jawa Barat.
(Hylobates moloch), lutung Jawa (
Trachypithecus auratus), surili METODE PENELITIAN
(Presbytis comata), monyet ekor
Penelitian ini dilaksanakan pada
panjang ( Macaca fascicularis), dan
tanggal, 8- 10 Juli 2010 di sekitar
kukang ( Nycticebus coucang).
hutan Bodogol, TNGGP. Jalur- jalur
Kelima jenis primate tersebut memiliki yang ditelusuri anatra lain jalur Afrika,
peran yang sangat penting bagi Rasamala, Cikaweni, dan
kawasan Taman Nasional Gunung Cipadaranteun, Pusat Pendidikan
Gede PAngrango, yaitu sebagai Konservasi Alam Bodogol, TNGGP.
penyebar biji (seed dispersal), karena
Metode yang digunakan adalah
dari biji-biji tersebut akan tumbuh
metode deskriptif dengan teknik jalur.
pohon-pohon yang menjadi pohon
Alat yang digunakan adalah
pakan primate itu sendiri. Selain itu,
handcounter, kompas bidik, tabulasi
pohon-pohon tersebut berperan dalam
data, kamera digital Sony DSC- W110,
keseimbangan ekosistem di TNGGP.
inklinometer, jam tangan, alat tulis,
Menurut Supriatna (2000), potensi dan buku identifikasi primata
pengurangan habitat primata terparah Supriatna, 2000.
terjadi di Pulau Jawa. Hal tersebut
Data yang diperoleh dicatat pada
terlihat dari semakin berkurangnya
tabulasi data dengan waktu
luas hutan yang menjadi habitat
perjumpaan, sudut antara pengamat
primata.
dan objek, sudut inklinometer untuk
Salah satu wilayah yang menjadi menentukan tinggi pohon tempat
habitat primate yang mengalami primata ditemukan panjang jalur,
penurunan luas wilayah di Pulau Jawa jumlah individu, komposisi kelompok,
adalah hutan PPKA-Bododgol, Taman dan aktivitas yang terlihat pertama kali
terdeteksi.
Analisis data yang digunakan adalah Dimana N adalah estimasi kepadatan
estimasi kepadatan populasi, menurut populasi primata, nA adalah jumlah
Eisenberg,dkk (1981): individu yang tersensus, I adalah
panjang jalur yang ditelusuri, dan 2w
adalah lebar transek (Eisenberg,
dkk,1981)
HASIL
Dari hasil pengamtan yang dilakukan, telah diperoleh data sebagai berikut.
Tabel 1. Data pengamatan pada tanggal 8 Juli 2010

Jumlah
Tempat Jenis Komposisi Aktivitas Waktu
Individu

Jalur Hylobates Tidak


1 Berayun 07.42
Cipadaranteun moloch diketahui

Makan
Trachypithec Tidak daun,
Jalur Afrika 5 06.40
us auratus diketahui Berjalan
quadropedal

Tabel 2. Data pengamatan pada tanggal 9 Juli 2010

Jumlah
Tempat Jenis Komposisi Aktivitas Waktu
Individu

Jalur Melompat ke
Presbytis comata Juvenil 1 08.47
Afrika bawah

Melompat ke
Presbytis comata Alfa Male 1 08.55
bawah

Juvenil,
Melompat ke
Presbytis comata tidak 2 08.57
bawah
diketahui

Trachypithecus Tidak
1 Makan Buah 10.55
auratus diketahui

Trachypithecus Tidak
2 Diam sesaat 11.03
auratus diketahui

Trachypithecus Alfa female,


2 Diam sesaat 11.08
auratus Infant

Presbytis comata Tidak 2 Duduk 11.19


diketahui
Alfa Male,
Makan buah,
Alfa female,
Hylobates moloch 4 Melompat ke 13.40
Juvenil,
atas
Infant

Tabel 3. Data pengamatan pada tanggal 10 Juli 2010

Jumlah
Tempat Jenis Komposisi Aktivitas Waktu
Individu

Diam sesaat,
Presbytis Tidak
2 melompat ke 07.36
comate diketahui
atas
Jalur
Hylobates Tidak
Afrika 1 Berayun 13.39
moloch diketahui

Hylobates
Child 1 Berayun 14.21
moloch

GRAFIK POPULASI PRIMATA DI BODOGOL

10

8
Hylobates moloch
6
Presbytis comata
4
Trachypithecus
2 auratus

0
Jenis Primata
PEMBAHASAN
Dari pengamatan yang dilakukan, pada hari pertama ditemukan owa jawa
(Hylobates moloch) di jalur Cipadaranteun pada pukul 07.42 WIB sebanyak satu
ekor dewasa. Pada hari kedua, ditemukan juga di Jalur Afrika pada pukul 13.40 WIB
sebanyak empat ekor dengan komposisi jantan dewasa, betina dewasa, remaja, dan
bayi. Dan pada hari ketiga ditemukan di jalur Afrika pada pukul 13.39 WIB dan 14.21
WIB, masing-masing sebanyak satu ekor dewasa dan satu ekor anak. Kepdatan
populasinya yaitu 11.97 individu/km2.
Surili (Presbytis comata), pada hari pertama tidak ditemukan di semua jalur,
sedangkan pada hari kedua ditemukan pada jalur Afrika pada pukul 08.47 dan 08.55
WIB masing-masing sebanyak satu ekor dan pada pukul 08.57 WIB ditemukan dua
ekor. Hari ketiga pada pukul 07.36 WIB ditemukan dua ekor. Dari hasil tersebut,
didapatkan kepdatan populasi sebesar 10.26 individu/km2.
Pengamatan lutung (Trachypithecus auratus), hari pertama ditemukan di Jalur Afrika
pada pukul 06.40 WIB sebanyak lima ekor. Dan pada hari kedua ditemukan di jalur
yang sama pada pukul 10.55 WIB sebanyka satu ekor dan pada pukul 11.03 dan
11.08 WIB masing-masing dua ekor. Dan pada pengamtan hai terakhir tidak
ditemukan di jalur ini. Kepadatan populasinya adalah 17.09 individu/km2.
Lutung dan surili memiliki komposisi yang sama yaitu terdapat jantan dewasa,
beberapa betina dewasa dan bayi. Ketiga jenis primate tersebut banyak ditemukan
di jalur Afrika dibandingkan jalur yang lain. Hal ini dikarenakan pohon Afrika yang
merupakan salah satu makanan primata sedang berbuah yang melimpah di jalur
Afrika.
KESIMPULAN
Dari hasil pengamtan yang dilakukan, dapt disimpulakn bahwa:
1. Distribusi populasi primate di Bodogol terbesar adalah di Jalur Afrika
2. Kepadatan populasi owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata),
dan lutung (Trachypithecus auratus) yaitu 11.97 individu/km2,19.26
individu/km2 dan 17.09 individu/km2.
3. Pada lutung dan surili, komposisi populasinya sama, yaitu jantan dewasa,
betina dewasa, dan bayi.
4. Pada owa jawa (Hylobates moloch) komposisinya yaitu jantan dewasa, betina
dewasa, remaja dan bayi

SARAN
Dari penelitian ini, dapat dikembangkan untuk penelitian yang lebih spesifik, seperti
hanya pada satu jenis primata. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat menggunakan
jalur yang lebih banyak untuk mendapatkan data yang valid.
DAFTAR PUSTAKA