Anda di halaman 1dari 11

EKSISTENSI DAN PROBLEMATIKA PROFESI NOTARIS

Oleh : H. Enju Juanda, S.H., M.H.*)

ABSTRAK
Untuk mewujudkan Negara Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 guna menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum bagi
yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik yang didalamnya
menerangkan mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum diperlukan
Jabatan Notaris maka pada Tahun 2004 dikeluarkan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor : 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagaimana telah
dirubah dengan Nomor Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun
2004 Tentang Jabatan Notaris.
Berdasarkan Ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Republik Indonesia
Nomor : 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagaimana telah dirubah dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris memberikan
definisi Notaris yaitu sebagai berikut : Notaris adalah pejabat umum yang berwenang
untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
Undang-undang ini.
Sehingga dengan demikian oleh karena Akta Notaris adalah merupakan Akta
Otentik, maka Akta Notaris mempunyai kekuatan pembuktian sempurna atau
lengkap, sebagaimana ditentukan Pasal 165 HIR.
Kata Kunci : Akta Notaris Merupakan Akta Otentik Yang Berkekuatan Pembuktian
Sempurna Atau Lengkap.

ABSTRACT
To realize the Republic of Indonesia as a state law based on Pancasila and
the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945 in order to ensure certainty,
order and legal protection for those who require written evidence to be authentic in it
explain the situation, event or legal act required Position notary then in 2004 issued
the Law of the Republic of Indonesia Number 30 Year 2004 concerning Notary as
amended by No. 2 Year 2014 concerning the Amendment to Law Number 30 Year
2004 on Notary.
Under the provisions of Article 1 paragraph 1 of Law of the Republic of
Indonesia Number 30 Year 2004 concerning Notary as amended by No. 2 Year 2014
concerning the Amendment to Law Number 30 Year 2004 on Notary provides
definitions Notary as follows: Notary is an official public authorities to create an
authentic deed and other authorities referred to in this Act.
Thus because of Deed is an authentic deed, the deed of Notary has the
strength of evidence is perfect or complete, as provided in Article 165 HIR.

Keywords: authentic Letter of Deed Is Its Strength of Evidence Perfect or Complete.

*)
Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Galuh.

177
I. PENDAHULUAN Haag, Nederland, tanggal 23 Agustus-
Notaris berasal dari perkataan 22 September 1949. Salah satu dari
Notarius ialah nama yang pada zaman KMB tersebut yaitu, adanya Penyerahan
Romawi diberikan kepada orang-orang Kedaulatan dari Pemerintahan Belanda
yang menjalankan pekerjaan penulis. kepada Republik Indonesia Serikat
Ada juga pendapat yang mengatakan untuk seluruh Wilayah Indonesia kecuali
bahwa nama Notaris berasal dari “Nota Irian Barat yang sekarang adalah
Literia” yaitu tanda (letter merk atau Papua. Adanya Penyerahan Kedaulatan
karakter) yang mengatakan sesuatu tersebut membawa akibat kepada status
perkataan. Kemudian dalam abad ke Notaris berkewarganegaraan Belanda di
lima dan ke enam sebutan Notarius Indonesia harus meninggalkan
(notariil) diberikan kepada penulis jabatannya. Dengan demikian, terjadilah
(sekretaris) pribadi Raja (kaizer), kekosongan Notaris di Indonesia, untuk
sedangkan pada akhir abad kelima mengisi kekosongan tersebut, sesuai
sebutan tersebut diberikan kepada dengan kewenangan yang ada pada
pegawai-pegawai istana yang Menteri Kehakiman Republik Indonesia
melaksanakan pekerjaan administratif Serikat dari tahun 1949 sampai dengan
(Soegondo Notodisoerjo; 1993 : 13). tahun 1954 menetapkan dan
Keberadaan Jabatan Notaris di mengangkat Wakil Notaris untuk
Indonesia pertama kali tercatat pada menjalankan tugas Jabatan Notaris dan
tanggal 27 Agustus 1620 dengan menerima protokol yang berasal dari
diangkatnya Melchior Kerchem dari Notaris yang berkewarganegaraan
Belanda menjadi Notaris yang disebut Belanda. Tahun 1954, Pemerintah
Notarium Publicium di Jakarta, pada Republik Indonesia mengeluarkan
saat itu masih bernama Jacatra Undang-undang Nomor 33 Tahun 1954
tugasnya adalah untuk kepentingan tentang Wakil Notaris dan Wakil Notaris
publik khususnya menjalankan Sementara. Pada saat itu, yang disebut
kegiatannya sebagai Pejabat Umum sebagai Notaris adalah mereka yang
yang melayani masyarakat. (Komar diangkat berdasarkan Ketentuan Pasal 2
Andasasmita; 1991 : 29). Ayat (1) Stbl. 1860:3. jo Pasal 1 huruf a
Perkembangan selanjutnya Undang-undang Nomor 33 Tahun 1954.
mengenai eksistensi Notaris dapat Berdasarkan Undang-undang Nomor 33
dijelaskan bahwa tahun 1949 diadakan Tahun 1954 ini juga sekaligus
Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den ditegaskan berlakunya Reglement op

178
Het Notaris Abmt in Nederlands Indie 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-
(Stbl.1860:3) sebagai Reglemen tentang Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris di Indonesia yang lebih Jabatan Notaris memberikan definisi
dikenal dengan Peraturan Jabatan Notaris yaitu sebagai berikut :
Notaris (PJN) untuk Notaris di Indonesia Notaris adalah pejabat umum
(Pengurus Pusat INI; 2008 : 104). yang berwenang untuk membuat
Selanjutnya untuk mewujudkan akta otentik dan kewenangan
Negara Republik Indonesia sebagai lainnya sebagaimana dimaksud
Negara Hukum yang berdasarkan dalam Undang-undang ini.
Pancasila dan Undang-undang Dasar Tugas Notaris adalah
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengkonstatir hubungan hukum antara
guna menjamin kepastian, ketertiban para pihak dalam bentuk tertulis dalam
dan perlindungan hukum bagi yang format tertentu, sehingga merupakan
membutuhkan alat bukti tertulis yang suatu akta otentik. Ia adalah pembuat
bersifat otentik yang didalamnya dokumen yang kuat dalam suatu proses
menerangkan mengenai keadaan, hukum (Tan Thong Kie; 2000 : 159)
peristiwa atau perbuatan hukum Sikap Notaris pada saat
diperlukan Jabatan Notaris maka pada melaksanakan profesinya secara prinsip
Tahun 2004 dikeluarkan Undang- Notaris bersikap pasif melayani para
undang Republik Indonesia Nomor : 30 pihak yang menghadap kepadanya.
Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris Notaris hanya bertugas mencatat atau
sebagaimana telah dirubah dengan menuliskan dalam akta apa-apa yang
Undang-Udnang Nomor 2 Tahun 2014 diterangkan para pihak, tidak berhak
Tentang Perubahan Atas Undang- mengubah atau menambah apa yang
Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang diterangkan para penghadap (R.
Jabatan Notaris. Subekti; 1987 : 27).
Notaris merupakan suatu profesi
II. Tugas, Kewenangan dan yang mempunyai karakteristik tersendiri
Kewajiban Notaris dibandingkan profesi lain seperti
Berdasarkan Ketentuan Pasal 1 Advokat, Jaksa, Arbiter dan Hakim,
angka 1 Undang-undang Republik mengingat fungsi dan kedudukan
Indonesia Nomor : 30 Tahun 2004 Notaris yang sangat menentukan, maka
tentang Jabatan Notaris sebagaimana dalam melakukan tugas profesionalnya
telah dirubah dengan Nomor 2 Tahun seorang notaris harus mempunyai

179
integritas moral. Adapun yang dimaksud perundang-undangan dan/atau yang
dengan moral adalah segala penilaian, dikehendaki oleh yang
ukuran, karakter, perilaku, kesadaran, berkepentingan untuk dinyatakan
yang berhubungan dengan apa-apa dalam akta otentik, menjamin
yang baik dan apa-apa yang buruk, atau kepastian tanggal pembuatan akta,
mana yang benar dan mana yang salah menyimpan akta, memberikan
berdasarkan prinsip-prinsip umum yang grosse, salinan dan kutipan akta,
diberlakukan berdasarkan atas semuanya itu sepanjang pembuatan
kesadaran manusia, yang berasal akta-akta itu tidak juga ditugaskan
perasaan dan perhitungan probabilitas atau dikecualikan kepada pejabat
bukan berdasarkan pembuktian ilmiah lain atau orang lain yang ditetapkan
(Munir Fuady, 2012 : 70), sehingga oleh undang-undang.
karenanya dalam menjalankan tugas (2) Selain kewenangan sebagaimana
dan kewenangannya seorang Notaris dimaksud pada ayat (1), Notaris
sangat penting untuk memegang teguh berwenang pula: :
nilai-nilai moral tersebut dan tentu saja a. mengesahkan tanda tangan dan
norma-norma yang berlaku di menetapkan kepastian tanggal
masyarakat. surat di bawah tangan dengan
Adapun yang menjadi mendaftar dalam buku khusus;
kewenangan Notaris adalah b. membukukan surat-surat di
sebagaimana yang ditetapkan dalam bawah tangan dengan mendaftar
Pasal 15 Undang-undang Republik dalam buku khusus;
Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 c. membuat kopi dari asli surat-surat
tentang Jabatan Notaris sebagaimana di bawah tangan berupa salinan
telah dirubah dengan Undang-Undang yang memuat uraian
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun sebagaimana ditulis dan
2014 Tentang Perubahan Atas Undang- digambarkan dalam surat yang
Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang bersangkutan;
Jabatan Notaris yang menentukan d. melakukan pengesahan
sebagai berikut : kecocokan fotokopi dengan surat
(1) Notaris berwenang membuat akta aslinya;
otentik mengenai semua perbuatan, e. memberikan penyuluhan hukum
perjanjian, dan ketetapan yang sehubungan dengan pembuatan
diharuskan oleh peraturan akta;

180
f. membuat akta yang berkaitan e. memberikan pelayanan sesuai
dengan pertanahan; atau dengan ketentuan dalam Undang-
g. membuat akta risalah lelang. Undang ini, kecuali ada alasan untuk
(3) Selain kewenangan sebagaimana menolaknya;
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), f. merahasiakan segala sesuatu
Notaris mempunyai kewenangan lain mengenai Akta yang dibuatnya dan
yang diatur dalam peraturan segala keterangan yang diperoleh
perundang-undangan. guna pembuatan Akta sesuai dengan
Sedangkan yang menjadi sumpah/janji jabatan, kecuali
kewajiban Notaris adalah sebagaimana undang-undang menentukan lain;
ditetapkan Pasal 16 Ayat (1) Undang- g. menjilid Akta yang dibuatnya dalam 1
undang Republik Indonesia Nomor 30 (satu) bulan menjadi buku yang
Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris memuat tidak lebih dari 50 (lima
sebagaimana telah dirubah dengan puluh) Akta, dan jika jumlah Akta
Undang-Undang Republik Indonesia tidak dapat dimuat dalam satu buku,
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Akta tersebut dapat dijilid menjadi
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor lebih dari satu buku, dan mencatat
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris jumlah Minuta Akta, bulan, dan tahun
sebagaimana yang menentukan sebagai pembuatannya pada sampul setiap
berikut : buku;
a. bertindak amanah, jujur, saksama, h. membuat daftar dari Akta protes
mandiri, tidak berpihak, dan menjaga terhadap tidak dibayar atau tidak
kepentingan pihak yang terkait dalam diterimanya surat berharga;
perbuatan hukum; i. membuat daftar Akta yang
b. membuat Akta dalam bentuk Minuta berkenaan dengan wasiat menurut
Akta dan menyimpannya sebagai urutan waktu pembuatan Akta setiap
bagian dari Protokol Notaris; bulan;
c. melekatkan surat dan dokumen serta j. mengirimkan daftar Akta
sidik jari penghadap pada Minuta sebagaimana dimaksud dalam huruf
Akta; i atau daftar nihil yang berkenaan
d. mengeluarkan Grosse Akta, Salinan dengan wasiat ke pusat daftar wasiat
Akta, atau Kutipan Akta berdasarkan pada kementerian yang
Minuta Akta; menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang hukum

181
dalam waktu 5 (lima) hari pada pembuktian (Sudikno Mertokusumo;
minggu pertama setiap bulan 2001 : 101) Akta dalam Pengetahuan
berikutnya; Ilmu Hukum dikenal dua macam yaitu
k. mencatat dalam repertorium tanggal Akta di bawah tangan dan Akta Otentik.
pengiriman daftar wasiat pada setiap Yang dimaksud dengan Akta
akhir bulan; Otentik Pasal 1868 Kitab Undang-
l. mempunyai cap atau stempel yang undang Hukum Perdata menyatakan
memuat lambang negara Republik sebagai berikut :
Indonesia dan pada ruang yang Suatu akta otentik ialah suatu
melingkarinya dituliskan nama, akta yang didalam bentuk yang
jabatan, dan tempat kedudukan yang ditentukan oleh undang-
bersangkutan; undang,dibuat oleh atau di
m. membacakan Akta di hadapan hadapan pegawai-pegawai umum
penghadap dengan dihadiri oleh yang berkuasa untuk itu di tempat
paling sedikit 2 (dua) orang saksi, di mana akta dibuatnya.
atau 4 (empat) orang saksi khusus Akta Otentik itu mengandung
untuk pembuatan Akta wasiat di beberapa unsur pokok yaitu akta yang
bawah tangan, dan ditandatangani dibuat oleh dan atau dihadapan pejabat
pada umum yang ditentukan Undang-undang
yang dimaksudkan dengan pejabat
III. Kekuatan Pembuktian Akta umum adalah Notaris, Hakim, Panitera,
Notaris Juru Sita, Pegawai Pencatat Sipil, yang
Pada perkembangan dewasa ini berarti bahwa surat-surat yang dibuat
masyarakat dalam melakukan perbuatan oleh dan atau dihadapan pejabat
hukum dalam hubungan hukum antara tersebut seperti akta notaris, vonis, surat
satu dengan lainnya terutama dalam berita acara sidang, proses perihal
hubungan keperdataan menghendaki pensitaan, surat perkawinan, kelahiran,
perbuatan hukum tersebut dituangkan kematian adalah merupakan akta otentik
dalam sebuah Akta. (Teguh Samudra; 1992 : 41).
Akta adalah surat yang diberi Sehingga dengan demikian oleh
tanda tangan, yang memuat peristiwa- karena Akta Notaris adalah merupakan
peristiwa yang menjadi dasar dari pada Akta Otentik, maka Akta Notaris
suatu hak atau perikatan yang dibuat mempunyai kekuatan pembuktian
sejak semula dengan sengaja untuk sempurna atau lengkap, sebagaimana

182
ditentukan Pasal 165 HIR Akta Otentik menjalankan profesinya tidak dapat
berkekuatan pembuktian sempurna dijerat hukum melainkan Ketentuan
dapat kita lihat dalam ketentuan Pasa Hukum Pidana tetap melekat
Pasal 165 HIR menentukan sebagai kepadanya.
berikut : Adapun ketentuan pidana yang
“Akta otentik yaitu suatu surat sangat mungkin disangkakan terhadap
yang diperbuat oleh atau
seorang Notaris dalam menjalankan
dihadapan pegawai umum yang
berkuasa akan membuatnya, jabatannya terutama dalam pembuatan
mewujudkan bukti yang cukup
Akta Otentik adalah sebagai berikut :
bagi kedua belah dan ahli
warisnya serta sekalian orang 1. Ketentuan Pasal 263 Kitab Undang-
yang mendapat hak daripadanya
undang Hukum Pidana yang
yaitu tentang segala hal, yang
tersebut di dalam surat itu dan berbunyi sebagai berikut :
juga tentang yang tercantum
(1) Barangsiapa membuat surat
dalam surat itu sebagai
pemerbitahuan saja, tetapi yang palsu atau memalsukan surat,
tersebut kemudian itu hanya
yang dapat menerbitkan sesuatu
sekedar diberitahukan itu
langsung berhubungan dengan hak, sesuatu perjanjian
pokok dalam akta itu.” (Mr. R.
(kewajiban) atau sesuatu
Tresna : 1993 : 142).
pembebasan utang, atau yang
IV. Potensi Tindak Pidana Yang boleh dipergunakan sebagai
Disangkakan Terhadap Notaris keterangan bagi sesuatu
Ketentuan Undang-undang perbuatan, dengan maksud akan
Republik Indonesia Nomor 30 Tahun menggunakan atau menyuruh
2004 tentang Jabatan Notaris orang lain menggunakan surat-
sebagaimana telah dirubah dengan surat itu seolah-olah surat itu asli
Undang-Undang Republik Indonesia dan tidak dipalsukan, maka kalau
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang mempergunakannya dapat
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor mendatangkan sesuatu kerugian
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dihukum karena pemalsuan
tidak mengatur secara limatatif sanksi surat, dengan hukuman penjara
pidana bagi Notaris dalam selama-lamanya enam tahun.
melaksanakan jabatannya, akan tetapi (2) Dengan hukuman serupa itu juga
meskipun Undang-undang tersebut tidak dihukum, barangsiapa dengan
memuat ketentuan Pidana bagi Notaris sengaja menggunakan surat
tidak berarti seorang Notaris dalam palsu atau yang dipalsukan itu

183
seolah-olah surat asli dan tidak diterangkan pada 2e dan 3e,
dipalsukan, kalau hal atau tentang surat
mempergunakan dapat keterangan yang
mendatangkan sesuatu kerugian. dikeluarkan akan pengganti
(KUHP 35, 52, 64-2, 276, 277, surat itu;
416, 417, 486). 5e. mengenai surat utang-
2. Pasal 264 Kitab Undang-undang piutang atau surat
Hukum Pidana yang berbunyi perniagaan yang akan
sebagai berikut : diedarkan.
(1) Sitersalah dalam perkara (2) Dengan hukuman serupa itu juga
memalsukan surat, dihukum dihukum, barangsiapa dengan
penjara selama-lamanya delapan sengaja menggunakan akte itu
tahun, kalau perbuatan itu seolah-olah isinya cocok dengan
dilakukan : hal yang sebenarnya, ayat
1e. mengenai surat authentiek pertama, seolah-olah itu surat asli
(KUHP 266). dan tidak dipalsukan, jika
2e. mengenai surat utang atau pemakaian surat itu dapat
surat tanda utang mendatangkan sesuatu kerugian.
(certificaat) dari sesuatu (KUHP 4-3e, 35, 52, 64-2, 165,
surat negara atau 266, 275 s, 277 s, 416 s, 486).
sebagainya atau dari 3. Pasal 372 Kitab Undang-undang
sesuatu balai (instelling) Hukum Pidana yang berbunyi
umum; sebagai berikut :
3e. mengenai saham-saham Barangsiapa dengan sengaja
(aandeel) atau surat utang memiliki dengan melawan hak
atau certificaat, tanda sesuatu barang yang sama sekali
saham atau tanda utang dari atau sebagiannya termasuk
sesuatu perserikatan, balai, kepunyaan orang lain dan barang itu
atau perseroan atau ada dalam tangannya bukan karena
maskapai; kejahatan, dihukum karena
4e. mengenai talon atau surat penggelapan, dengan hukuman
tanda untung sero (dividend) penjara selama-lamanya empat
atau tanda bunga uang dari tahun atau denda sebanyak-
salah satu surat yang

184
banyaknya Rp. 900,- (KUHP 35, 43, terhadap seorang Notaris dalam
373, 376 s, 486). melakukan Jabatannya dengan
4. Pasal 374 Kitab Undang-undang sangkaan seorang Notaris dianggap
Hukum Pidana yang berbunyi orang yang turut serta melakukan
sebagai berikut : (medepleger) karena dianggap
Penggelapan yang dilakukan oleh bersama-sama melakukan hal itu
orang yang memegang barang itu sebagaimana ditetapkan Pasal 55 dan
berhubung dengan pekerjaannya Pasal 56 Kitab Undang-undang Hukum
atau jabatannya atau karena ia Pidana.
mendapat upah uang, dihukum
penjara selama-lamanya lima tahun. V. Problematika Profesi Jabatan
(KUHP 35, 43, 376 s, 415, 432, 486, Notaris
513). Kekuatan pembuktian sempurna
5. Pencucian uang (Undang-undang atau lengkap sebuah Akta Notaris
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun berlaku terhadap para pihak yang
2010 tentang Pencegahan dan termuat dalam Akta Otentik tersebut, hal
Pemberantasan Tindak Pidana itu kiranya dapat diilustrasikan ke dalam
Pencucian Uang). Modusnya, pemilik sebuah contoh sebagai berikut :
uang melakukan pembelian saham Si A meminjam uang kepada B,
yang kemudian dicatat dalam akta pada waktu A meminjam uang
notaris. Modus pembelian saham kepada B tersebut perjanjiannya
memudahkan pelaku pencucian dilakukan dihadapan seorang
uang untuk memindahkan uang. Jika Notaris yang menuangkannya ke
berbentuk saham, otomatis uang dalam suatu akta. Apabila
hasil kejahatan menjadi sah, dikemudian hari Si B mengelak
sehingga mudah dipindahkan sesuai dan tidak mengakui meminjam
keinginan pelaku tindak pidana. uang kepada A, maka apabila
Karenanya, notaris sebagai profesi dalam proses persidangan
bertugas membuat akta pendirian diajukan alat bukti tertulis akta
perusahaan dan jual beli saham notaris yang berisi B telah
diminta mewaspadai kemungkinan meminjam uang kepada A maka
terjadinya pencucian uang. hakim terikat kepada apa yang
Ketentuan-ketentuan Pasal-pasal termuat dalam Akta Notaris
tersebut di atas dapat disangkakan tersebut artinya hakim akan

185
menjatuhkan putusan B
mempunyai utang kepada B.
Akan tetapi ada kemungkinan VI. Penutup
pihak yang dikalahkan dengan bukti Kiranya Eksistensi Notaris sangat
Akta Notaris tersebut merasa tidak puas diperlukan oleh masyarakat, akan tetapi
dan menyalahkan Notaris dengan Notaris juga dalam melaksanakan
membuat berbagai alasan misalnya dia jabatannya harus bertindak dibarengi
tidak pernah bertemu dengan notaris, moralitas dan memegang teguh
atau dia mengatakan tidak mendapatkan peraturan perundang-undangan yang
penjelasan dari notaris atau dia berlaku.
mengatakan pada waktu membuat akta
tersebut berpura-pura dan alasan- DAFTAR PUSTAKA
alasan lainnya yang pada pokoknya
Literatur :
menyudutkan notaris dalam
melaksanakan jabatannya seakan-akan Andasasmita Komar; Notaris I, Ikatan
Notaris Jawa Barat, Bandung,
terbitnya akta tersebut karena terdapat 1991.
kesalahan dari pihak Notaris.
Fuady Munir, Hukum Kontrak (Dari
Untuk menghadapi kemungkinan Sudut Pandang Hukum Bisnis),
persoalan-persoalan tersebut kiranya PT Citra Aditya Bhakti, Bandung,
1999.
seorang Notaris dalam melaksanakan
pekerjaannya harus selalu Subekti R; Hukum Pembuktian, Pradnya
Paramita, Jakarta, 1987.
memperhatikan tugas, wewenang dan
Subekti R dan R. Tjitro Sudibyo, Kitab
tanggungjawabnya dengan dilandasi
Undang-undang Hukum Perdata,
moralitas yang tinggi serta ada hal-hal Pradnya Paramita, Jakarta, 1992.
yang perlu dijalankan antara lain : Soesilo R, Kitab Undang-undang Hukum
- Membuat pernyataan dari para pihak Pidana (KUHP serta Komentar-
komentarnya Lengkap Pasal
yang membuat Akta dengan tulisan Demi Pasal, Politea Bogor, 1995.
langsung sendiri yang pada
Tresna R, HIR dan Komentarnya. Pradja
pokoknya yang bersangkutan benar- Paramita, Jakarta, 2000.
benar telah membuat Akta tersebut.
Mertokusumo Sudikno, Hukum Acara
- Disediakan sarana Visual misalnya Perdata Indonesia, Liberty,
Foto atau CCTV. Yogyakarta, 1990.

- Saksi diusahakan bukan karyawan


Notaris yang bersangkutan.

186
Notodisoerjo Soegondo; Hukum Notariat
Di Indonesia, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 1993.

Thong Kie Tan; Studi Notariat, Serba


Serbi Praktek Notaris Buku I, PT.
Ichtiar Baru, Jakarta, 2000.

Samudra Teguh, Hukum Pembuktian


Dalam Acara Perdata, Alumni,
Bandung, 1992.

Sumber Perundang-undangan :

Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945.

Undang-undang Republik Indonesia


Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris sebagaimana
telah dirubah dengan Nomor 2
Tahun 2014 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 Tentang Jabatan
Notaris.

187