Anda di halaman 1dari 10

Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam...

(Nawaaf Abdullah)

Vol. 4 No. 4 Desember 2017

Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam Membuat Akta Otentik

Nawaaf Abdullah* , Munsyarif Abdul Chalim**


*
Mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Islam Sultan Agung, email:
nawafabdullah08@gmail.com
**
Dosen Fakultas Hukum UNISSULA

ABSTRAK

Negara Indonesia adalah Negara Hukum yang dalam setiap interaksi masyarakat dan negara senantiasa
didasarkan kepada hukum. Terciptanya kepastian hukum adalah merupakan salah satu tujuan dari negara
hukum. Pengesahan atau legalisasi atas pengikatan-pengkatan hukum oleh masyarakat yang dilakukan oleh
notaris juga merupakan bentuk pengukuhan untuk adanya kepastian hukum. UU No. 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris yang diubah dengan UU No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris, telah memberikan kewenangan kepada notaris untuk melakukan pembuatan akta-akta otentik
tentang pengikatan hukum di luar pertanahan. Untuk menjawab masalah yang dikaji tersebut, penulis
menggunakan Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum adalah suatu proses untuk
menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin doktrin hukum guna menjawab isu hukum
yang dihadapi. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan
(Statute Approach), pendekatan teori (teoritical approach). Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa notaris adalah
seorang pejabat umum/pejabat negara yang diangkat dan disumpah oleh pemerintah, dengan tugas utama
memberikan pelayanan dalam pengesahan/legalisasi atas pengikatan-pengiatan hukum oleh masyarakat di
bidang-bidang umum dan bidang pertanahan. Tujuan akhirnya dalam rangka memberikan kepastian hukum.
Kata Kunci: Kepastian Hukum, Notaris, Akta otentik, Kewenangan.

ABSTRACT

Indonesia is a rechtsstaat in which every interaction between people and state is always based on the laws. One
of the aims of a rechtsstaat is legal certainty. Thus, the contract created by the people, which is then legalised by
notary public, is in line with the effort to provide legal certainty. Laws number 30 of 2004 on Notary Public
Profession, as amended by Laws number 2 of 2014 on the Amendment of Laws number 30 of 2004 on Notary
Public Profession, has given a notary public to make authentic acts, except the deeds relating to land. To answer
the problem under study, the authors use the method of normative legal approach, Statute Approach, and
Teoritical Approach. It can be concluded that notary is a public officer who is appointed by the government to
provide legal services, in example: legalisation of deeds committed by the citizens, in order to ensure the legal
certainty among the people.
Keywords: Legal Certainty, Notary Public, authentic deed, authority

PENDAHULUAN dan kewajiban seseorang sebagai subyek hukum


dalam masyarakat.
Tugas notaris memberikan bantuan tentang Jabatan notaris didasarkan kepercayaan antara
membuat akta otentik. Dan demikian, penting bagi notaris dan pihak yang menggunakan jasanya.2
notaris untuk dapat memahami ketentuan yang Karenanya, ia hanya dapat memberikan,
diatur oleh undang-undang supaya masyarakat memperlihatkan, atau memberitahukan isi akta,
umum yang tidak tahu atau kurang memahami grosse akta, minuta akta, salinan akta/kutipan akta
aturan hukum, dapat memahami dengan benar serta kepada orang yang berkepentingan langsung atau
tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pihak-pihak yang disebut dalam akta, ahli waris.
hukum.1 Kepastian, ketertiban, dan pelindungan Dalam Pasal 4 ayat (2) UUJN mengenai sumpah/
hukum menuntut, antara lain, bahwa lalu lintas janji Notaris ditegaskan……”bahwa saya akan
hukum dalam kehidupan masyarakat memerlukan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh
adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dalam pelaksanaan jabatan saya…”, dan Pasal 16

1 2
Komar Andasasmita, Notaris Selayang Pandang, Cet. 2, R. Sugondo Notodisoerjo, Hukum Notariat di
(Bandung Alumni/ 1983/Bandung, 1983), hal. 2. Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1993 ) hal. 13

655
Vol. 4 No. 4 Desember 2017 : 655 - 664

ayat (1) huruf e UUJN, bahwa Notaris berkewajiban - tidak berpihak dan menjaga kepentingan para pihak
“merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang yang terkait dalam perbuatan hukum. Di samping itu
dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh Notaris sebagai Pejabat Umum harus peka, tanggap,
guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji mempunyai ketajaman berfikir dan mampu
jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”. memberikan analisis yang tepat terhadap setiap
Secara umum Notaris wajib merahasiakan isi fenomena hukum dan fenomena sosial yang muncul,
akta dan keterangan yang diperoleh dalam sehingga dengan begitu akan menumbuhkan sikap
pembuatan akta Notaris, kecuali diperintahkan oleh keberanian dalam mengambil tindakan yang tepat.
undang-undang bahwa Notaris tidak wajib Keberanian yang dimaksud adalah keberanian untuk
merahasiakan dan memberikan keterangan yang melakukan perbuatan hukum yang benar sesuai
diperlukan yang berkaitan dengan akta tersebut, peraturan perundang-undangan yang berlaku melalui
dengan demikian batasannya hanya undang-undang akta yang dibuatnya dan menolak dengan tegas
saja yang dapat memerintahkan Notaris untuk pembuatan akta yang bertentangan dengan hukum,
membuka rahasia isi akta dan keterangan/ moral dan etika.
pernyataan yang diketahui Notaris yang berkaitan Begitu undang-undang mempercayakan kepada
dengan pembuatan akta yang dimaksud. notaris mengenai kerahasiaan akta yang dibuatnya.
Bahwa instrument untuk ingkar bagi Notaris Kepercayaan masyarakat terhadap Notaris adalah
ditegaskan sebagai salah satu kewajiban Notaris juga merupakan kepercayaan masyarakat terhadap
yang tersebut dalam Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN, akta yang dibuatnya. Itulah sebabnya mengapa
sehingga Kewajiban Ingkar untuk Notaris melekat jabatan Notaris sering pula disebut dengan jabatan
pada tugas jabatan Notaris. Sebagai suatu kewajiban kepercayaan. Kepercayaan pemerintah sebagai
harus dilakukan, berbeda dengan hak ingkar, yang instansi yang mengangkat dan memberhentikan
dapat dipergunakan atau tidak dipergunakan, tapi Notaris (dalam hal ini adalah Menteri Hukum dan
kewajiban ingkar mutlak dilakukan dan dijalankan HAM), sekaligus pula kepercayaan masyarakat
oleh Notaris, kecuali ada undang-undang yang sebagai pengguna jasa Notaris.
memerintahkan untuk menggugurkan kewajiban Terdapat keganjalan pada saat kepercayaan
ingkar tersebut. dalam Pasal 16 tersebut juga diberikan kepada calon
Notaris sebagai jabatan kepercayaan wajib untuk notaris. Sejatinya calon notaris adalah orang yang
menyimpan rahasia mengenai akta yang dibuatnya magang di kantor notaris setelah lulus dari Magister
dan keterangan/ pernyataan para pihak yang Kenotariatan. Keganjalan tersebut terletak pada Pasal
diperoleh dalam pembuatan akta, kecuali undang- 16A ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia
undang memerintahkannya untuk membuka rahasia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
dan memberikan keterangan/pernyatan tersebut UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
kepada pihak yang memintanya. Tindakan seperti ini Jabatan Notaris, yang menyebutkan:
merupakan suatu kewajiban Notaris berdasarkan “(1) Calon Notaris yang sedang melakukan magang
ketentuan Pasal 4 ayat (2) UUJN dan Pasal 16 ayat wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana
(1) huruf e UUUJN. Jika ternyata Notaris sebagai dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a.” Sejatinya
saksi atau tersangka, tergugat ataupun dalam calon notaris adalah orang yang magang di kantor
pemeriksaan oleh Majelis Pengawas Notaris notaris setelah lulus dari Magister Kenotariatan. Kita
membuka rahasia dan memberikan keterangan/ dapat melihat keganjalan tersebut pada Pasal 16
pernyataanyang seharusnya wajib dirahasiakan, ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia
sedangkan undang undang tidak memerintahkannya, Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
maka atas pengaduan pihak yang merasa dirugikan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
kepada pihak yang berwajib dapat diambil tindakan Jabatan Notaris, yang menyebutkan: ”(1) Dalam
atas Notaris tersebut, tindakan Notaris seperti ini menjalankan jabatannya, Notaris wajib: (a) bertindak
dapat dikenakan Pasal 322 ayat (1) dan (2) KUHP, amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan
yaitu membongkar rahasia, padahal Notaris menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam
berkewajiban untuk menyimpannya. Dalam perbuatan hukum;”
kedudukan sebagai saksi (perkara perdata) Notaris Berdasarkan peraturan di atas dapat disimpulkan
dapat minta dibebaskan dari kewajibannya untuk bagaimana mungkin calon notaris diminta untuk
memberikan kesaksian, karena jabatannya menurut tidak berpihak. Calon Notaris hanya orang yang
undang-undang diwajibkan untuk merahasiakannya magang di kantor notaris, sejatinya calon notaris
(Pasal 1909 ayat (3) BW). hanya belajar. Mengenai ketidak berpihakan calon
Pasal 16 huruf a UUJN Nomor 30 Tahun 2004, notaris terhadap klien yang menghadap ini
Notaris diwajibkan bertindak jujur, seksama, mandiri

656
Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam...
(Nawaaf Abdullah)

Vol. 4 No. 4 Desember 2017

merupakan kewenangan mutlak notaris dalam yang sedang magang di kantor Notaris untuk juga
membuat akta otentik. merahasiakan segala sesuatu merahasiakan segala
Menurut Pasal 1868 KUH Perdata, yang sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala
dimaksud dengan akta otentik adalah suatu akta keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta.
yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang- Dalam Undang-Undang Republik Indonesia
undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
Menurut ketentuan pasal ini, sebuah akta dapat Jabatan Notaris tidak dijelaskan dalam penjelasannya
dikatakan otentik apabila telah memenuhi unsur- apa arti atau penjelasan dalam Pasal 16 ayat (1)
unsur sebagai berikut, yaitu: huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2
a. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-
undang-undang; Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan
b. Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang Notaris. Apa makna dari bertindak amanah, jujur,
berwenang untuk maksud pembuatan akta saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga
tersebut; kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan
c. Dibuat di wilayah notaris berwenang. hukum. Kejelasan dalam membuat peraturan
Akta yang dibuat di hadapan notaris disebut akta perundangan, akan meminimalisir terjadinya multi
notarial, atau authentik, atau akta otentik. Terkait tafsir, dengan kata lain undang-undang yang jelas
dengan unsur dari Pasal 16 ayat (1) huruf a Undang- memberikan kepastian hukum dan meminimalisir
Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 terjadinya sengketa. Kepastian hukum adalah
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 keadaan dimana suatu peraturan dibuat dan
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, terkait makna diundangkan secara pasti karena mengatur secara
“tidak berpihak”, Jika yang dihadapan klien itu adalah jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak terdapat
calon notaris maka akta tersebut kehilangan ke kekaburan norma atau keraguan (multitafsir) dan
otentikannya atau dapat menjadi akta dibawah logis dalam artian menjadi suatu sistem norma
tangan. Keberadaan akta Notaris di dalam negara dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau
hukum khususnya Indonesia, memiliki fungsi yang menimbulkan konflik norma.3 Kepastian hukum
krusial, diakuinya akta Notaris sebagai akta yang menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas,
memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna tetap, konsisten dan konsekuen, yang
menjadikan kedudukan akta Notaris sebagai alat pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh
bukti yang pertama dan utama dalam hukum keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Indikator
pembuktian perdata, sehingga atas keberadaannya adanya kepastian hukum di suatu negara itu sendiri
perlu pula diatur sedemikian rupa agar kekuatan adalah adanya perundang-undangan yang jelas dan
pembuktian akta notariil tersebut tidak menjadi perundang-undangan tersebut diterapkan dengan
bomerang bagi para pihak yang membuatnya. baik oleh hakim maupun petugas hukum lainnya.4
Notaris dalam sumpah jabatannya telah berjanji Terdapat konflik norma, dimana dalam Undang-
bahwa ia akan merahasiakan isi akta dan keterangan undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan
yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatannya, hal Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
ini didasari atas kesadaran bahwa jabatan Notaris Jabatan Notaris tidak mengatur mengenai,
merupakan jabatan yang didasarkan pada pengertian atau makna dari Pasal 16 ayat (1) huruf a
kepercayaan, dimana seseorang mempercayakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun
kepentingannya untuk diketahui dan diselesaikan 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
oleh Notaris, sehingga penting pula bagi seseorang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris,
untuk dapat memastikan agar segala kepentingannya terkait makna dari bertindak amanah, jujur, saksama,
tetap terjaga kerahasiaannya. mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan
Lebih lanjut dalam pasal 16 ayat 1 huruf f pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 menegaskan Sehubungan dengan latar belakang di atas terdapat
bahwa di dalam melaksanakan jabatannya, Notaris isu hukum normatif, yakni konflik norma, sehingga
juga wajib merahasiakan segala sesuatu mengenai menarik untuk dikaji lebih mendalam. Berdasarkan
Akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang hal tersebut maka mendorong penulis untuk
diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan
sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang
3
menentukan lain. Bahkan atas pentingnya jabatan Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum,
Notaris, di dalam undang-undang yang baru, pasal Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2008, hlm. 158.
4
16A ayat 2 juga diatur kewajiban bagi calon Notaris Abdul Rachmad Budiono, Pengantar Ilmu Hukum,
Bayumedia Publishing, Malang, 2005, hlm. 22.

657
Vol. 4 No. 4 Desember 2017 : 655 - 664

melakukan penelitian serta menuangkan dalam perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi
bentuk tesis yang berjudul: “Kewenangan Notaris tercapainya kepastian hukum,7 selain itu notaris
Dan Calon Notaris Dalam Membuat Akta Otentik.” sebagai pejabat negara mampu memberi jaminan
Berdasarkan latar belakang yang telah kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum
disampaikan di atas, maka penulis mengambil dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik
rumusan masalah, yaitu Bagaimana kedudukan dan mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum
wewenang Notaris dalam membuat Akta Otentik. yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu.8
Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah Untuk Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah
mengetahui dan menganalisis kedudukan dan kabupaten atau kota, yaitu keduddukan yang
wewenang Notaris dalam membuat Akta Otentik. berkenaan dengan pengangkatan sebagai notaries
oleh Kantor kementerian Hukum dan HAM RI,
Metode Penelitian
Namun demikian dalam cakupan wilayah kerja,
Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh
Penelitian hukum adalah suatu proses untuk wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Notaris
menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, wajib mempunyai hanya satu kantor, yaitu di tempat
maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu kedudukannya. Notaris tidak berwewenang secara
hukum yang dihadapi.5 Pendekatan yang digunakan teratur menjalankan jabatan di luar tempat
di dalam penelitian ini adalah pendekatan kedudukannya.9
perundang-undangan (Statute Approach), Kedudukan notaris sebagai pejabat pembuat
pendekatan teori (teoritical approach)6 Bahan hukum akte otentik disebutkan dalam Pasal 2 Ayat 1
yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 tentang
Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum Perubahan atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004
yang mengikat, dalam penulisan hukum ini yang tentang Jabatan Notaris, yang menyebutkan :
meliputi:, UUJN. b. Bahan hukum sekunder. Bahan “Notaris adalah pejabat umum yang berwewenang
hukum sekunder dalam penelitian ini sebagai untuk membuat akte otentik dan memiliki
pendukung dalam penelitian yaitu buku-buku teks kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
yang ditulis para ahli hukum, artikel, dan sumber Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-
lainnya yang memiliki hubungan untuk mendukung undang lainnya”. Selanjutnya notaris sebagai pejabat
penelitian ini. c. Bahan hukum Tersier, Bahan hukum pembuat akta otentik memiliki wilayah kerja diatur
Tersier dalam penelitian ini diperoleh dari Kamus dalam Pasal 18 ayat 1 dan Undang-Undang No. 30
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) termasuk Wilkipedia. Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, yang
Dalam penelitian ini, jenis penelitian penulisan ini menyebutkan : (a) Notaris mempunyai tempat
adalah yuridis normatif. Teknik pengumpulan bahan kedudukan di daerah kabupaten atau kota; (b)
hukum Prosedur pengumpulan data yang digunakan Notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh
dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yaitu wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Notaris
pengumpulan data dengan jalan membaca peraturan juga wajib memiliki kedudukan kantor yang diatur
perundang-undangan, dokumen-dokumen resmi dalam dalam Pasal 19 ayat 1 dan 2 menyebutkan :
maupun literatur-literatur yang erat kaitannya (a) Notaris wajib mempunyai hanya satu kantor,
dengan permasalahan yang dibahas berdasarkan yaitu tempat kedudukannya, (b) Notaris tidak berwe-
data sekunder. Dari data tersebut kemudian nang secara teratur menjalankan jabatannya di luar
dianalisis dan dirumuskan sebagai data penunjang di tempat kedudukannya.
dalam penelitian ini. Tugas-tugas yang dilakukan oleh notaries
diantaranya membuat akta otentik. Akta dimaksud,
C. PEMBAHASAN
Adalah akta otentik yang dibuat oleh atau dihadapan
Kedudukan dan Kewenangan Notaris Dalam notaries menurut bentuk dan tata cara yang
Membuat Akta Otentik ditetapkan dalam undang-undang ini.10 Selain itu
bentuk-bentuk akta yang bersifat administrative
Notaris sebagai pejabat negara yang
diatur dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan
menjalankan profesi pelayanan hukum kepada
Menteri Hukum dan HAM RI yang menjelaskan tata
masyarakat, yang dalam melaksanakan tugasnya
laksana teknis di lapangan. Berkenaan dengan

5 7
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Konsideran sub c UU No. 30 Tahun 2004
8
kencana, 2008), hal 41. Konsideran sub b UU No. 30 Tahun 2004
6 9
Johnny Ibrahim. Teori dan Metodologi Penelitian Pasal 18 Ayat 1 dan 2, Pasal 19 Ayat 1 dan 2 UU No.
Hukum Normatif. (Malang: Bayumedia Publishing, 2006). 30 Tahun 2004.
10
hal 28. Pasal 1 Ayat 7 UU No. 30 Tahun 2004

658
Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam...
(Nawaaf Abdullah)

Vol. 4 No. 4 Desember 2017

bentuk-bentuk akta otentik yang dibuat dan Akta otentik, menjamin kepastian tanggal
merupakan kewenangan notaries dapat dilihat dalam pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan
Pasal 15 Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu
tentang Jabatan Notaris menjelaskan bahwa: (a) sepanjang pembuatan Akta tidak ditugaskan atau
Notaris berwewenang membuat akta otentik dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain
mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan yang ditetapkan oleh undang-undang”.
ketetapan yang diharuskan oleh peraturan Ayat 2 “Notaris berwewenang : (a) mengesahkan
perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal
oleh yang berkepantingan untuk dinyatakan dalam surat di bawah tangan dengan mendaftarkan dalam
akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan buku khusus; (b) membukukan surat di bawah
akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan tangan dengan mendaftar dalam buku khusus; (c)
dan kutipan akta, semua itu sepanjang pembuatan membuat kopi dari asli surat di bawah tangan
akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana
kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan ditulis dan digambarkan dalam surat yang
oleh undang-undang; (b) Notaris juga berwewenang bersangkutan; (d) melakukan pengesahan
mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kecocokan photo copi dengan surat aslinya; (e)
kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan memberikan penyuluhan hukum sehubungan
mendaftar dalam buku khusus serta membukukan dengan pembuatan Akta; (f) membuat Akta yang
surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar berkaitan dengan pertanahan; atau (g) membuat
dalam buku khusus. Akta risalah lelang.
Notaris sebagai seorang pejabat umum, memiliki Ayat 3 “Notaris mempunyai wewenang lain yang
syarat-syarat yang dapat dijadikan dasar untuk dapat diatur dalam peraturan perundang-undangan.
diangkat sebagai notaries, yaitu diatur dalam Pasal 3 Kewajiban notaries dalam melakukan tugasnya
UU No. 2 Tahun 2014, yaitu : diatur dalam Pasal 16 ayat 1 UU No. 2 Tahun 2014,
a. warga negara Indonesia; yang berbunyi :
b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; Dalam menjalankan jabatannya Notaris wajib :
c. berumur paling sedikit 27 (dua puluh tujuh) a. bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri,
tahun; tidak berpihak, dan menjaga kepentingan
d. sehat jasmani dan rohani yang dinyatakan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;
dengan surat keterangan sehat dari dokter dan b. membuat Akta dalam bentuk Minuta Akta dan
psikiater; menyimpannya sebagai bagian dari Protokol
e. berijasah sarjana hukum dan lulusan jenjang Notaris;
strata dua kenotariatan; c. melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari
f. telah menjalani magang atau nyata-nyata telah penghadap pada Minuta Akta;
bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu d. mengeluarkan grosse Akta, Salinan Akta, atau
paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta;
berturut-turut pada kantor Notaris atas prakarsa e. memberikan pelayanan sesuai dengan
sendiri atau atas rekomendasi Organisasi Notaris ketentuan dalam UndangUndang ini, kecuali
setelah lulus strata dua kenotariatan; ada alasan untuk menolaknya;
g. tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat f. merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta
negara, advocate, atau tidak sedang memangku yang dibuatnya dan segala keterangan yang
jabatan lain yang oleh undang-undang dilarang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai
untuk dirangkap dengan jabatan notaris; dan dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-
h. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan undang menentukan lain;
putusan pengadilan yang telah memperoleh g. menjilid Akta yang dibuatnya dalam 1(satu)
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih
pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 dari 50 (lima) puluh Akta dan jika jumlah Akta
(lima) tahun atau lebih. tidak dapat dimuat dalam satu buku, Akta
Berkenaan dengan kewenangan notaries secara tersebut dapat dijilid lebih dari satu buku, dan
khusus diatur dalam Pasal 15 UU No. 2 Tahun 2014 : mencatat jumlah Minuta Akta, bulan, dan
Ayat 1 “Notaris berwewenang membuat Akta tahun pembuatannya pada sampul setiap
otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan buku;
penetapan yang diharuskan oleh peraturan h. membuat daftar Akta protes terhadap tidak
perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;
oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam

659
Vol. 4 No. 4 Desember 2017 : 655 - 664

i. membuat daftar Akta yang berkenaan dengan berwenang untuk membuat akta autentik dan
wasiat menurut urutan waktu pembuatan Akta memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud
setiap bulan dalam ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.
j. mengirimkan daftar Akta sebagaimana Notaris mendapatkan kewenangan dari undang-
dimaksud dalam huruf I atau daftar nihil yang undangan atau secara atributif. Atribusi adalah
berkenaan dengan wasiat ke pusat daftar pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat
wasiat kepada kementerian yang undang-undang kepada organ pemerintahan, dengan
menyelenggarakan urusan pemerintahan di kata lain kewenangan atributif digariskan atau
bidang hukum dalam waktu 5(lima) hari pada berasal dari adanya pembagian kekuasaan Negara
minggu pertama setiap bulan beikutnya; oleh Undang-undang Dasar. Kewenangan secara
k. mencatat dalam reportorium tanggal atributif merupakan kewenangan yang berasal dari
pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir undang undang.
bulan; Pengertian calon notaris adalah orang yg dididik
l. mempunyai cap atau stempel yang memuat dan dipersiapkan untuk menduduki jabatan sebagai
lambang negara Republik Indonesia dan pada pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta
ruang yang melingkarinya dituliskan nama, autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana
jabatan dan kedudukan yang bersangkutan; dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia
m. membacakan Akta di hadapan penghadap Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
dengan dihadiri oleh paling sedikit 2(dua) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi Jabatan Notaris atau berdasarkan undang-undang
khusus untuk pembuatan Akta wasiat di lainnya.
bawah tangan, dan ditandatangani pada saat Disebutkan pada Pasal 16 huruf a UUJN Nomor
itu juga oleh penghadap, saksi dan Notaris; 30 Tahun 2004, Notaris diwajibkan bertindak jujur,
dan seksama, mandiri tidak berpihak dan menjaga
n. menerima magang calon Notaris. kepentingan para pihak yang terkait dalam
Sedangkan larangan-larangan bagi notaries perbuatan hukum. Di samping itu Notaris sebagai
dalam melakukan tugasnya diatur Pasal 17 Ayat 1 UU Pejabat Umum harus peka, tanggap, mempunyai
No. 2 Tahun 2014, yang berbunyi : ketajaman berfikir dan mampu memberikan analisis
“Notaris dilarang : yang tepat terhadap setiap fenomena hukum dan
a. menjalankan jabatannya di luar wilayah fenomena sosial yang muncul, sehingga dengan
jabatannya; begitu akan menumbuhkan sikap keberanian dalam
b. meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 mengambil tindakan yang tepat. Keberanian yang
(tujuh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan dimaksud adalah keberanian untuk melakukan
yang sah; perbuatan hukum yang benar sesuai peraturan
c. merangkap sebagai pegawai negeri; perundang-undangan yang berlaku melalui akta yang
d. merangkap jabatan sebagai pejabat negara; dibuatnya dan menolak dengan tegas pembuatan
e. merangkap jabatan sebagai advocate; akta yang bertentangan dengan hukum, moral dan
f. merangkap jabatan sebagai pemimpin atau etika.
pegawai badan usaha milik negara, badan Begitulah undang-undang mempercayakan
usaha milik daerah atau badan usaha swasta; kepada notaris mengenai kerahasiaan akta yang
g. merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat dibuatnya. Kepercayaan masyarakat terhadap Notaris
Akta Tanah dan/atau Pejabat Lelang Kelas II adalah juga merupakan kepercayaan masyarakat
di luar tempat kedudukan Notaris; terhadap akta yang dibuatnya. Itulah sebabnya
h. menjadi Notaris Pengganti; atau melakukan mengapa jabatan Notaris sering pula disebut dengan
pekerjaan lain yang bertentangan dengan jabatan kepercayaan. Kepercayaan pemerintah
norma agama, kesusilaan, atau kepatutan sebagai instansi yang mengangkat dan member-
yang dapat mempengaruhi kehormatan dan hentikan Notaris (dalam hal ini adalah Menteri
martabat jabatan Notaris Hukum dan HAM), sekaligus pula kepercayaan
i. tindak pidana yang diancam dengan pidana masyarakat sebagai pengguna jasa Notaris.
penjara 5 (lima) tahun atau lebih. Menurut Pasal 1868 KUH Perdata, yang
Pengertian notaris menurut Pasal 1 angka (1) dimaksud dengan akta otentik adalah suatu akta
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-
2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang
Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.
Pengertian Notaris adalah pejabat umum yang Menurut ketentuan pasal ini, sebuah akta dapat

660
Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam...
(Nawaaf Abdullah)

Vol. 4 No. 4 Desember 2017

dikatakan otentik apabila telah memenuhi unsur- f. membuat Akta yang berkaitan dengan
unsur sebagai berikut, yaitu: pertanahan; atau
a. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh g. membuat Akta risalah lelang.
undang-undang; (3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada
b. Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai
berwenang untuk maksud pembuatan akta kewenangan lain yang diatur dalam peraturan
tersebut; perundang-undangan.
c. Dibuat di wilayah notaris berwenang. Maksud dari ketentuan kewenangan lain yang
Akta yang dibuat di hadapan notaris disebut akta diatur dalam peraturan perundang-undangan dalam
notarial, atau authentik, atau akta otentik. Terkait Pasal 15 ayat (3) Undang-undang Republik Indonesia
dengan unsur dari Pasal 16 ayat (1) huruf a Undang- Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Jabatan Notaris adalah jabatan PPAT (Pejabat
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, terkait makna Pembuat Akta Tanah). Pejabat Lelang Kelas II.
“tidak berpihak”, Jika yang dihadapan klien itu adalah Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta Koperasi
calon notaris maka akta tersebut kehilangan ke (NPAK). Dan Notaris Pasar Modal dan Kewenagan
otentikannya atau dapat menjadi akta dibawah lain yang diatur dalam peraturan perundang-
tangan. undangan.
Sekali lagi, penulis menekankan, jika yang Dalam berbagai literatur dinyatakan bahwa
dihadapan klien itu adalah calon notaris maka akta kewenangan yang bersumber dari peraturan
tersebut kehilangan ke otentikannya, karena calon perundang-undangan dapat diperoleh melalui tiga
notaris bukanlah seorang notaris sebagaimana diatur cara yakni atribusi, delegasi, dan mandate yang
dalam Pasal 1868 KUH Perdata. Pasal 15 Undang- pengertiannya masing-masing adalah sebagai
Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 berikut:
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 1. Atribusi adalah pemberian wewenang
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, menyatakan: pemerintahan oleh pembuat undang undang
(1) Notaris berwenang membuat Akta autentik kepada organ pemerintahan, dengan kata lain
mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan kewenangan atributif digariskan atau berasal dari
penetapan yang diharuskan oleh peraturan adanya pembagian kekuasaan Negara oleh
perundang-undangan dan/atau yang Undang-undang Dasar. Kewenangan secara
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk atributif merupakan kewenangan yang berasal
dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin dari undang-undang. Istilah lain untuk
kepastian tanggal pembuatan Akta, menyimpan kewenangan atributif menurut Lutfi Effendi adalah
Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan kewenangan asli atau kewenangan yang tidak
Akta, semuanya itu sepanjang pembuatan Akta dibagi-bagi kepada siapapun. Dalam kewenangan
itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan atributif pelaksanaannya dilakukan sendiri oleh
kepada pejabat lain atau orang lain yang pejabat atau badan tersebut dan tertera dalam
ditetapkan oleh undang-undang. peraturan dasarnya. Terhadap kewenangan
(2) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada atribut mengenai tanggung jawab dan tanggung
ayat (1), Notaris berwenang pula: gugatnya berada pada pejabat ataupun badan
a. mengesahkan tanda tangan dan sebagaimana tertera dalam peraturan dasarnya.
menetapkan kepastian tanggal surat di 2. Delegasi adalah pelimpahan wewenang dari satu
bawah tangan dengan mendaftar dalam organ pemerintahan kepada organ pemerintahan
buku khusus; yang lain. Terhadap kewenangan delegatif,
b. membukukan surat di bawah tangan dengan mengenai tanggung jawab dan tanggung
mendaftar dalam buku khusus; gugatnya beralih kepada yang diberi limpahan
c. membuat kopi dari asli surat di bawah wewenang tersebut (delegataris).
tangan berupa salinan yang memuat uraian 3. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan
sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh
surat yang bersangkutan; organ lain atas namanya. Kewenangan mandate
d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi merupakan kewenangan yang bersumber dari
dengan surat aslinya; proses atau prosedur pelimpahan atau badan
e. memberikan penyuluhan hukum yang lebih tinggi kepada pejabat atau badan yang
sehubungan dengan pembuatan Akta; lebih rendah.

661
Vol. 4 No. 4 Desember 2017 : 655 - 664

Benang merah dari ketiganya adalah bahwa magang di kantor notaris setelah lulus dari Magister
suatu atribusi menunjuk pada kewenangan yang asli Kenotariatan. Selanjutnya, Pasal 3 Undang-Undang
atas dasar konstitusi atau ketentuan hukum tata Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang
Negara. Pada kewenangan delegasi harus ditegaskan Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun
pelimpahan wewenang kepada organ pemerintahan 2004 Tentang Jabatan Notaris, menyebutkan:
yang lain. Sedangkan pada kewenangan atas dasar ”Syarat untuk dapat diangkat menjadi Notaris
mandat tidak terjadi pelimpahan apapun dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah:
artian pemberian wewenang akan tetapi pejabat a. warga negara Indonesia;
yang diberi mandate bertindak atas nama pemberi b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
mandat. c. berumur paling sedikit 27 (dua puluh tujuh)
Kewenangan yang sah dapat pula dilihat dari tahun;
segi batas kewenangan, dalam arti suatu d. sehat jasmani dan rohani yang dinyatakan
kewenangan itu dibatasi oleh isi/materi, wilayah dan dengan surat keterangan sehat dari dokter dan
waktu. Cacat dalam aspek-aspek tersebut psikiater;
menimbulkan cacat kewenangan. Dengan demikian e. berijazah sarjana hukum dan lulusan jenjang
bila dilihat dari segi batas kewenangan maka strata dua kenotariatan;
terdapat : f. telah menjalani magang atau nyata-nyata telah
1. Kewenangan absolut, yakni kewenangan berdasar bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu
atas materi/isi dari wewenang yang dimaksud paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan
atau kewenangan tersebut tentang objek apa. berturut turut pada kantor Notaris atas prakarsa
2. Kewenangan relatif, yakni kewenangan sendiri atau atas rekomendasi Organisasi Notaris
berdasarkan atas wilayah hukum atau lokasi setelah lulus strata dua kenotariatan;
dimana kewenangan tersebut dapat dilakukan g. tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat
secara operasional. negara, advokat, atau tidak sedang memangku
3. Kewenangan temporis, yakni kewenangan jabatan lain yang oleh undang-undang dilarang
berdasar atas waktu atau kapan kewenangan untuk dirangkap dengan jabatan Notaris; dan
tersebut dilakukan. Dalam kewenangan temporis h. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan
ini akan terlihat masa berlakunya suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh
kewenangan. kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak
Berdasarkan teori kewenangan tersebut, maka pidana yang diancam dengan pidana penjara 5
peneliti dalam hal ini memilih teori kewenangan (lima) tahun atau lebih.
sehingga dapat diketahui kewenangan notaris dan Sementara itu, dalam hal kewenangan Notaris
calon notaris. Dapat disimpulkan notaries sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) diatur
mendapatkan kwenangan dari undang-undangan dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun
atau secara atributif. Atribusi adalah pemberian 1998, menyebutkan : (a) PPAT hanya berwewenang
wewenang pemerintahan oleh pembuat undang- membuat akta mengenai hak atas tanah atau Hak
undang kepada organ pemerintahan, dengan kata Milik Atas Satuan Rumah Susun yang terletak di
lain kewenangan atributif digariskan atau berasal dari dalam daerah kerjanya; (b) Akta tukar menukar, akta
adanya pembagian kekuasaan Negara oleh Undang- pemasukan ke dalam perusahaan, dan akta
undang Dasar. Kewenangan secara atributif pembagian hak bersama mengenai beberapa hak
merupakan kewenangan yang berasal dari undang- atas tanah dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun
undang. Dapat disimpulkan dari uraian di atas yang tidak semuanya terletak di dalam daerah kerja
pengertian calon notaris adalah orang yang dididik seorang PPAT dapat dibuat oleh PPAT yang daerah
dan dipersiapkan untuk menduduki jabatan sebagai kerjanya meliputi salah satu bidang tanah atau
pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta satuan rumah susun yang haknya menjadi objek
autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana perbuatan hukum dalam akta.
dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Untuk melaksanakan tugas pokoknya seorang
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas PPAT mempunyai kewenangan membuat akte
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang otentik mengenai semua perbuatan hukum mengenai
Jabatan Notaris atau berdasarkan undang-undang hak atas tanah dan Hak Milik Atas Satuan Rumah
lainnya. Susun yang terletak di dalam daerah kerjanya. dan
Mengingatnya tidak ada literatur yang PPAT khusus hanya berwewenang membuat akta
menyebutkan siapa sesungguhnya calon notaris ini. mengenai perbuatan hukum yang disebut secara
peneliti dapat merumuskan sendiri mengenai
pengertian dari calon notaris adalah orang yang

662
Kedudukan Dan Kewenangan Notaris Dalam...
(Nawaaf Abdullah)

Vol. 4 No. 4 Desember 2017

khusus dalam penunjukannya.11 pendaftaran tanah.16 Adapun larangan-larangan


Dalam ketentuan lain PPAT hanya berwewenang dalam rangka permbuatan akta bagi seorang PPAT,
membuat akta mengenai hak atas tanah atau Hak sebagaimana yang diatur dalam pasal 15. Dilarang
Milik Atas Satuan Rumah Susun yang terletak di membuat akta apabila : a. PPAT sendiri, suami atau
daerah kerjanya, dan berwewenang membuat akta isterinya, keluarganya sedarah atau semenda, dalam
tukar menukar, akta pemasukan ke dalam garis lurus tanpa pembatasan derajat dan dalam
perusahaan, dan akta pembagian hak bersama garis kesamping sampai derajat kedua, menjadi
mengenai beberapa hak atas tanah dan Hak Milik pihak dalam perbuatan hukum yang bersangkutan,
Atas Satuan Rumah Susun yang tidak semuanya baik dengan cara bertindak sendiri maupun melalui
terletak di dalam daerah kerja seorang PPAT dapat kuasa, atau menjadi kuasa dari pihak lain.17 b. Di
dibuat oleh PPAT yang daerah kerjanya meliputi daerah Kecamatan yang hanya terdapat seorang
salah satu bidang tanah atau satua rumah susun PPAT yaitu PPAT sementara dan di wilayah desa
yang haknya menjadi objek perbuatan hukum dalam yang Kepala Desanya ditunjuk sebagai PPAT
akta.12 Sama halnya dengan notaries sebagai pejabat Sementara. Wakil Camat atau Sekretaris Desa dapat
pembuat akta otentik, notaries sebagai pejabat membuat akta untuk keperluan pihak-pihak
pembuat akta tanah (PPAT), juga memiliki kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat 1 setelah
yang diatur dalam perundang-undangan, yaitu : mengucapkan sumpah jabatan PPAT di depan PPAT
Bahwa dalam waktu 1 (satu) bulan setelah Sementara yang bersangkutan.18
pengambilan sumpah jabatan (PPAT) wajib :13
a. menyampaikan alamat kantornya, contoh tanda SIMPULAN
tangan, contoh faraf, dan teraan cap/stempel
jabatannya kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Dari pembahasan tentang pembahasan diatas
Pertanahan Nasional Provinsi, Bupati/ Walikota- tentang kedudukan dan kewenangan notaris dalam
madya Kepala Daerah Tingkat II, Ketua Penga- membuat akta otentik, maka dapat diambil
dilan Negeri, dan Kepala Kantor Pertanahan yang kesimpulan bahwa :
wilayahnya meliputi daerah kerja PPAT yang 1. Kedudukan jabatan notaries adalah sebagai
bersangkutan; pejabat umum/pejabat negara, hal ini
b. melaksanakan jabatannya secara nyata. dikarenakan kedudukan jabatan notaries dalam
Dalam ketentuan lain PPAT :14 kapasitas sebagai pembuat akta otrentik maupun
1) harus berkantor di satu kantor dalam daerah sebagai pembuat akta tanah, diangkat
kerjanya. (disumpah) dan diberhentikan oleh Pemerintah
2) wajib memasang papan nama dan dalam hal ini kementerian terkait.
menggunakan stempel yang bentuk dan 2. Kedudukan jabatan notaries dalam kapasitas
ukurannya ditetapkan oleh Menteri. sebagai pembuat akta otrentik maupun sebagai
Dalam ketentuan lain Akta PPAT harus pembuat akta tanah, adalah memiliki tugas
dibacakan/dijelaskan isinya kepada para pihak untuk memberikan pelayanan
dengan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2(dua) pengesahan/legalisasi atas pengikatan-
orang saksi sebelum ditandatangani seketika itu juga pengikatan hukum oleh masyarakat, dalam
oleh para pihak, saksi-saksi dan PPAT15 Sebagai rangka memberikan kepastian hukum.
bagian dari pengawasan pelaksanaan sebagai 3. Diperlukan harmonisasi ketentuan perundang-
pejabat pembuat akta tanah (PPAT) peraturan undangan yang mengatur tentang kedudukan
perundang-undangan memberikan batasan-batasan jabatan notaries sebagai pejabat pembuat akta
yaitu : PPAT atau PPAT Sementara yang belum otentik yang bertanggung jawab kepada
mengucapkan sumpah jabatan sebagaimana Kementerian Hukum dan HAM RI, dan
dimaksud dalam Pasal 15 dilarang menjalankan kedudukan notaries sebagai pejabat pembuak
jabatannya sebagai PPAT. Apabila larangan akta tanah, yang bertanggung jawab kepada
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilanggar, Kementerian Pertanahan Nasional.
maka akta yang dibuat tidak sah dan tidak dapat
dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data

11
Pasal 3 Ayat 1 dan 2 PP No. 37 Tahun 1998
12
Pasal 4 Ayat 1 dan 2 PP No. 37 Tahun 1998
13 16
Pasal 19 Sub a dan b PP No. 37 Tahun 1998 Pasal 18 Ayat 1 dan 2 PP No. 37 Tahun 1998
14 17
Pasal 20 Ayat 1 dan 2 PP No. 37 Tahun 1998 Pasal 23 Ayat 1 PP No. 37 Tahun 1998
15 18
Pasal 22 PP No. 37 Tahun 1998 Pasal 23 Ayat 2 PP No. 37 Tahun 1998

663
Vol. 4 No. 4 Desember 2017 : 655 - 664

DAFTAR PUSTAKA Johnny Ibrahim. 2006, Teori dan Metodologi


Penelitian Hukum Normatif. Malang:
Komar Andasasmita, 1983, Notaris Selayang Bayumedia Publishing.
Pandang, Bandung: Alumni.
R. Subekti, R. Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang
R. Sugondo Notodisoerjo, 1993, Hukum Notariat di Hukum Perdata. Pradnya Paramita Jakarta
Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo. 1992.
Peter Mahmud Marzuki, 2008, Pengantar Ilmu R. Subekti. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Internusa
Hukum, Jakarta: Kencana Pranada Media Jakarta 2002.
Group.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Abdul Rachmad Budiono, 2005, Pengantar Ilmu Jabatan Notaris.
Hukum, Malang: Bayumedia Publishing.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Peter Mahmud Marzuki. 2008, Penelitian Hukum,. Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30
Jakarta : kencana. Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang
Pejabat Pembuat Akta Tanah.

664

Anda mungkin juga menyukai