Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PROSES INDUSTRI KIMIA

INDUSTRI PUPUK NPK

Disusun oleh :
1. Eva Puspita Sari 1831410106
2. Fariz Dandi Naufaldi 1831410044
3. Sisilia Kusuma R. 1831410111
4. Siska Lutfi A. E. 1831410058
2A / DIII - Teknik Kimia

POLITEKNIK NEGERI MALANG


MALANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
sebagai tugas mata kuliah Proses Industri Kimia. Kami menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya dan semaksimal mungkin. Namun, tentunya sebagai manusia biasa tentu tidak
akan luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di
masa mendatang agar lebih baik dari sebelumnya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih
kepada Windi Zamrudy B. Tech, M.T selaku dosen mata kuliah Proses Industri Kimia.
Pada dasarnya makalah ini kami sajikan khusus untuk membahas tentang “Industri
Pupuk NPK”. Untuk lebih jelas simak pembahasan dalam makalah ini. Mudah-
mudahan makalah ini bisa memberikan manfaat yang besar kepada kita semua.
Makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik
yang membangun sangat kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini di masa
mendatang. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terimahkasih.

Malang, 04 November 2019


Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................................2

DAFTAR ISI........................................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................4

1.1 Latar Belakang........................................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................................5

1.3 Tujuan......................................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................................6

2.1 Karakteristik Pupuk Phonska................................................................................................6

2.2 Manfaat Penambahan Pupuk Phonska..................................................................................6

2.3 Macam-macam Pupuk Phonska.............................................................................................9

2.3 Proses pembuatan Pupuk Phonska......................................................................................10

BAB III PENUTUP...........................................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................15
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peranan pupuk dalam industri pertanian mengambil peranan yang sangat
penting guna memenuhi kebutuhan pangan nasional. Indonesia sebagai negara
agraris dengan sebagian besar penduduk bermata pencaharian dari bertani,
memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat
yang cukup besar. Hal ini tentu berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan
pasar akan proses produksi pangan secara nasional. Untuk memenuhi kebutuhan
pasar akan pangan dibutuhkan teknologi industri di bidang pangan yang cukup
memadai. Penggunaan pupuk menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan
produksi panen hasil pertanian dengan waktu masa tanam sesingkat mungkin
guna
memperoleh efisiensi (Asnawi, 2016).
Menurut Brady dan Buckman (1969) dalam Kadekoh dan Amirudin (2007),
pemupukan yang ideal adalah apabila unsur hara yang diberikan dapat
melengkapi unsur hara yang tersedia menjadi tepat. Penyerapan unsur hara
oleh tanaman semestinya dapat segera diperbaharui sehingga kandungan unsur
hara di dalam tanah tetap seimbang.
Pemupukan adalah pemberian bahan berupa pupuk atau bahan-bahan lain
seperti bahan organik, bahan kapur, pasir ataupun tanah liat ke dalam tanah yang
bertujuan untuk menambahkan unsur hara ke dalam tanah (Hasibuan, 2006).
Pupuk digolongkan menjadi dua jenis yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik.
Pupuk anorganik memiliki kelebihan dalam memenuhi sifat kimia tanah seperti
penambahan unsur hara yang tersedia di dalam tanah, tetapi penggunaan pupuk
anorganik secara berlebihan akan berdampak terhadap penurunan kualitas tanah
dan lingkungan. Salah satu jenis pupuk anorganik yang biasa digunakan dalam
budidaya tanaman adalah pupuk Phonska/NPK Majemuk, Urea, TS, dan
lain-lain. Pemberian pupuk organik pada tanaman budidaya dapat
meningkatkan produktivitas tanah karena bahan organik memiliki
kemampuan untuk memperbaiki sifat anorganik, fisika maupun biologi tanah
(Suwahyono, 2011).
Salah satu cara memenuhi ketersediaan unsur hara dapat diatasi dengan cara
pemupukan. Pupuk makro adalah pupuk yang diperlukan tanaman dalam jumlah
besar dibandingkan pupuk yang lain. Kebutuhan pupuk makro yang dibutuhkkan
tanaman dapat diberikan dalam jumlah dan perbandingan yang sesuai dengan
kebutuhan tanaman dengan pemberian pupuk Phonska (Putri, 2016).
Pupuk Phonska mengandung berbagai unsur hara yaitu fosfor, nitrogen,
sulfur dan kalium. Nitrogen dimanfaatkan tanaman untuk merangsang
pertumbuhan tanaman secara keseluruhan dan merangsang pertumbuhan
vegetatif seperti daun, fosfor digunakan tanaman untuk pengangkutan energi hasil
metabolisme dalam tanaman dan merangsang pembungaan dan pembuahan,
kalium berfungsi dalam proses fotosintesis, pengangkutan hasil asimilasi, enzim
dan mineral termasuk air, dan sulfur yang berfungsi sebagai pembentukan asam
amino dan pertumbuhan tunas (Shinta, 2014).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik pupuk Phonska?
2. Apa saja manfaat penambahan pupuk Phonska pada tanaman?
3. Apa saja macam-macam dari pupuk Phonska?
4. Bagaimana proses pembuatan pupuk Phonska?

1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan, diantaranya :
1. Untuk mengetahui karakteristik pupuk Phonska.
2. Untuk mengetahui manfaat pupuk Phonksa.
3. Untuk mengetahui macam-macam pupuk Phonska.
4. Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk Phonska.
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Pupuk Phonska


Produk pupuk Phonska variasinya sangat banyak, karena dapat dibuat
sesuai dengan permintaan mengikuti jenis dan kebutuhan tanaman. Semua bahan
baku dari unsur N (Nitrogen), P (Fosfat), dan K (Kalium) dipilih yang berkualitas
tinggi dan diproses dengan menggunakan proses mechanical blending untuk
menjadikan produk pupuk Phonska (Zaini, 2012).
Pupuk NPK di pasaran mempunyai kandungan berbagai macam, 15: 15: 15
(NPK Ponska), 16: 16: 16 (NPK Mutiara), 20: 10: 10 (NPK Pelangi) dan lain
sebagainya. Pupuk NPK Ponska dengan analisis 15.15.15 menunjukan pupuk
tersebut mengandung 15% N total, 15% P2O5, dan 15% K2O. Analisis pupuk selalu
tertera pada kemasan pupuk. Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung
analis yang sama, biasanya berbeda sekitar l atau 2%.
Fungsi pupuk majemuk seperti NPK 15.15.15. atau NPK 16.16.16
menunjukan ketersediaan unsur hara yang seimbang. Fungsi pupuk majemuk
dengan variasi analisis seperti ini antara lain (Novizan, 2003) :
 Mempercepat perkembangan bibit.
 Sebagai pupuk pada awal penanarnan.
 Sebagai pupuk susulan saat tanaman memasuki fase generatif seperti saat
mulai berbunga atau berbuah.
Pupuk NPK 20.20.20 memiliki unsur hara yang lebih tinggi daripada
NPK 15.15.15, tetapi sifatnya sangat higroskopis sebingga mudah sekali
menggumpal. Karena itu, variasi analisis pupuk seperti ini sebaiknya tidak dipilih
karena bagian yang menggumpal tidak dapat digunakan.

2.2 Manfaat Penambahan Pupuk Phonska


Manfaat dari penggunaan pupuk Phonksa pada tanaman yaitu ditinjau
dari dua elemen, antara lain:
 Elemen Primer (Malini, 2015)
a. Pengaruh Nitrogen (N)
Nitrogen adalah bagian penting dari senyawa yang
mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen dapat
ditemukan di berbagai bagian tanaman dalam bentuk yang berbeda.
Ada nitrogen didaun, biji-bijian, jaringan tanaman dan akar tanaman.
Nitrogen dapat berfungsi sebagai bagian dari struktur tanaman atau
terlibat dalam proses kehidupan. Nitrogen membentuk bagian dari
klorofil pada tumbuhan. Klorofil adalah bagian hijau daun dan
batang. Energi cahaya diambil oleh klorofil dan digunakan untuk
membuat gula untuk tanaman. Pada akar, nitrogen ditemukan dalam
protein dan enzim.
b. Pengaruh Fosfor (P)
Fosfor sangat penting untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Ini
membantu dalam mengkonversi energi matahari dan bahan kimia
lainnya. Kekurangan fosfor akan menyebabkan terhambat, tanaman
tampak sakit-sakitan yang menghasilkan buah atau bunga kualitas
yang lebih rendah. Penggunaan fosfor pada tanaman harus dicampur
dengan air untuk dapat menyerapnya dari tanah. Fosfor dipecah dan
dikombinasikan dengan bahan kimia lainnya sebelum tanaman mampu
menyerapnya. Fosfor kemudian dicampurkan dengan bahan kimia
lainnya untuk membentuk ion. Fosfor (P) berikatan dengan hidrogen
(H) dan oksigen (O) untuk membuat larutan tanah. Setelah solusi tanah
terbentuk, tanaman dapat menyerap fosfor melalui sistem akar mereka.
c. Pengaruh Kalium (K)
Kalium merupakan satu-satunya kation monovalen yang essensial bagi
tanaman. Peran utama kalium dalam tanaman adalah sebagai aktivator
berbagai enzim. Kalium adalah salah satu dari unsur hara utama yang
diperlukan tanaman dan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
tingkat produksi tanaman. Tanpa kalium tanaman tidak mampu
mencapai pertumbuhan dan hasil maksimal. Apabila kalium cukup
tersedia dalam tanaman maka tanaman lebih tahan terhadap berbagai
patogen serta merangsang pertumbuhan akar. Pertumbuhan akar yang
lebih baik ini akan membuat penyerapan hara yang lebih banyak
sehingga dapat digunakan dalam proses metabolisme, terutama
sintesis protein dari asam amino dan ion amonium. Hasil sintesis
ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman.
Kalium berpengaruh khusus dalam absorbsi unsur hara, pengaturan
pernapasan, transpirasi, kerja enzim dan berpengaruh terhadap
translokasi fotosintat. Kalium berperan dalam translokasi fotosintat
karena kalium mengatur sistem transportasi, akibatnya fotosintat bisa
ditransfer ke bagian yang membutuhkan, sehingga tidak terjadi
penumpukkan fotosintat pada tempat berlangsungnya fotositesis.
Sebagian besar kalium terdapat dibagian vegetatif tanaman
terutama dalam jaringan muda..
 Elemen Sekunder
 Kalsium(Ca)
Kalsium diberikan pada tanaman bermanfaat diantaranya untuk :
 Membantu pertumbuhan meristem.
 Menjamin pertumbuhan dan berfungsinya ujung-ujung
akar yang wajar.
 Mempengaruhi pertumbuhan ujung dan bulubulu akar.
 Merangsang pembentukan bulu-bulu akar.
 Berperan dalam pembuatan protein atau bagian yang
aktif dari tanaman.
 Memperkeras batang tanaman dan sekaligus
merangsang pembentukan biji.
 Menetralisir asam-asam organik yang dihasilkan pada
saat metabolisme.
 Kalsium yang terdapat dalam batang dan daun dapat
menetralisirkan senyawa atau suasana keasaman tanah.
 Magnesium(Mg)
Ada beberapa manfaat unsur elemen sekunder Magnesium untuk
tanaman, diantaranya :
 Menyusun klorofil.
 Magnesium merupakan bagian tanaman dari klorofil.
 Merupakan salah satu bagian enzim yang disebut
Organic pyrophosphatse dan Carboxy peptisida.
 Berperan dalam pembentukan buah.
 Belerang (S)
Manfaat belerang untuk tanman, diantaranya :
 Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar.
 Membantu pertumbuhan anakan produktif.
 Membantu pembentukan butir hijau daun.
 Besi (Fe)
Manfaat besi untuk tanaman diantaranya :
 Zat besi penting bagi pembentukan hijau daun (klorofil).
 Berperan penting dalam pembentukan karbohidrat, lemak
dan protein.
 Mangan (Mn)
Manfaat Mangan untuk tanaman, diantaranya :
 Diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan protein
dan vitamin terutama vitamin C.
 Berperan penting dalam mempertahankan kondisi hijau
daun pada daun yang tua.
 Berperan sebagai enzim feroksidase dan sebagai
aktifator macam-macam enzim.
 Berperan sebagai komponen penting untuk lancarnya
proses asimilasi.
 Tembaga (Cu)
Manfaat tembaga unuk tanaman diantaranya :
 Diperlukan dalam pembentukan enzim seperti, Ascorbic
acid oxydase, Lacosa, Butirid Coenzim A. Dehidrosenam.
 Berperan penting dalam pembentukan hijau daun (khlorofil).
 Seng (Zn)
Manfaat seng untuk tanaman diantaranya :
 Dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan
dalam mendorong perkembangan pertumbuhan.
 Berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin)
dan penting bagi keseimbangan fisiologis.
 Berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan
biji atau buah.
 Molibdenum (Mo)
Manfaat moblibdenum untuk tanaman diantaranya :
 Berperan dalam mengikat (fiksasi) N oleh mikroba pada
leguminosa.
 Sebagai katalisator dalam mereduksi N.
 Berguna bagi tanaman jeruk dan sayuran
 Boron (Bo)
Manfaat boron pada tanaman diantaraya :
 Berperan sebagai transportasi karbohidrat dalam tubuh
tanaman.
 Meningkatkan mutu tanaman sayuran dan buah-buahan.
 Berperan dalam pembentukan/pembiakan sel terutama dalam
titik tumbuh pucuk, juga dalam pembentukan tepung
sari, bunga dan akar.
 Boron berhubungan erat dengan metabolism Kalium (K) dan
Kalsium (Ca).
 Unsur hara Bo dapat memperbanyak cabang-cabang nodule
untuk memberikan banyak bakteri dan mencegah bakteri
parasit
 Khlor (Cl)
Manfaat khlor pada tanaman yaitu membantu memperbaiki dan
meninggikan hasil kering dari tanaman seperti: tembakau, kapas,
kentang dan tanaman sayuran.

2.3 Macam-macam Pupuk Phonska


Pupuk majemuk merupakan pupuk yang memiliki kandungan unsur hara
paling lengkap. Pupuk majemuk berkualitas prima memiliki besar butiran yang
seragam dan tidak terlalu higoskopis sehingga tahan disimpan dan tidak mudah
Menggumpal (Novizan, 2005). Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk
organik dan pupuk an-organik.
a. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk bidup yang
diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai.
Contohnya adalah pupuk kompos (berasal dari sisa-sisa tanaman) dan pupuk
kandang (berasal dari kotoran temak).
b. Pupuk an-organik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik
dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase
kandungan hara yang tinggi. Contoh pupuk an-organik adalah urea, TSP, dan
Gandasil. Menurut unsur hara yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua,
yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara
yang dikandungnya hanya satu macam. Pupuk majemuk adalah pupuk yang
mengandung lebih dari satu jenis unsur hara. Contoh pupuk majemuk antara lain
diamonium phosphat yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor, serta pupuk
NPK Phonska yang mengandung unsur nitrogen, fosfor dan kalium. Menurut
cara aplikasinya, pupuk dibedakan menjadi dua, yakni pupuk daun dan pupuk
akar. Pupuk daun diberikan lewat penyemprotan pada daun tanaman. Contohnya
Gandasil B dan D, Grow More, dan Vitabloom, Pupuk akar diserap tanaman
Iewat akar dengan arah penebaran di tanah. Contohnya pupuk urea, NPK, dan
Dolomit (Malini, 2015).
2.3 Proses pembuatan Pupuk Phonska
2.4.1 Pengumpanan Bahan Baku
Bahan baku padat diumpankan ke dalam Pug Mill dengan dosis tertentu.
Bahan baku cair berupa amoniak dan asam fosfat direaksikan di dalam Pipe
Reactor. Pengumpanan bahan baku ada 2 yaitu secara Conveyor dan
Pneumatic, Urea, ZA, KCl, Filler, Magnesit, dan Dolomite dapat diumpankan
ke dalam Hopper kecil menggunakan Payloader. Hopper yang diletakkan di
atas Belt Conveyor akan memindahkan bahan-bahan tersebut ke Bucket
Elevator di dekat gudang penyimpanan. Bahan baku yang melewati Belt
Conveyor pertama akan terlebih dahulu melewati Filter Magnetik untuk
mengambil benda - benda yang berupa logam yang terikut dalam bahan baku.
Selanjutnya bahan-bahan tersebut akan dipindahkan ke pabrik lewat Belt
Conveyor kedua. Dolomite dan bahan baku butiran kecil dimasukkan ke dalam
Bin dengan sistem transportasi Pneumatic. Tiga Bin dengan kapasitas besar
digunakan untuk menyimpan urea, ZA, KCl, dan Filler. Sedangkan Bin
terakhir digunakan untuk Spillage yang dapat dipakai sebagai bahan baku
cadangan. Semua penampung bahan baku dilengkapi dengan 4
buah Big Blaster (Air Knocker) yang bekerja dengan bantuan Plant Air.
Blaster ini berfungsi untuk mencegah terbentuknya gumpalan dan akumulasi
bahan baku di dalam Bin.” Penyiapan Slurry dan Proses Granulasi Bahan baku
padat yang telah tercampur homogen di dalam Pug Mill dialirkan ke dalam
Granulator. Pug mill terdiri atas Double Screw Inclined Conveyor yang
mengontakkan dan mencampurkan semua bahan baku dan Recycle Solid serta
memungkinkan penambahan bahan baku cair / gas seperti asam sulfat, steam,
dan amoniak untuk meningkatkan produktivitas unit granulasi. Asam Sulfat
dapat ditambahkan pada bahan baku padat melalui Distributing Pipe
sedangkan steam dan amoniak diumpankan melalui Sparger di dasar
Granulator. Plant Air digunakan untuk membantu pengadukan dan produk
keluaran Pug Mill dialirkan secara gravitasi ke dalam Drum Granulator dan
mengalami proses granulasi. Granulasi ini merupakan proses utama dalam
pembuatan Phonska Granular. Pada proses granulasi terjadi reaksi kimia dan
fisis antara berbagai bahan baku dengan senyawa P2O5 yang berasal dari asam
fosfat. Asam fosfat dinetralkan dengan amoniak dan proses netralisasi ini
berlangsung di dalam reaktor yang dipasang sedemikian rupa
sehingga slurry Amonium Fosfat (mengandung sedikit sulfat) yang dihasilkan
langsung tertuang ke dalam Granulator. Asam fosfat yang diumpankan ke
dalam reaktor pipa berasal dari unit Scrubbing dan Steam bertekanan sedang
digunakan untuk membersihkan reaktor pipa. Untuk melengkapi proses
netralisasi asam agar mencapai grade yang diinginkan atau untuk menetralkan
asam sulfat yang diumpankan ke dalam Granulator maka dipasang Ammonia
System Sparger. Jenis Sparger yang digunakan adalah Ploughshare yang
dipasang di dasar Granulator, sehingga amoniak yang terbawa ke dalam
Scrubber dapat diminimalkan. Penggunaan amoniak cair dilakukan untuk
memudahkan pengontrolan temperatur pada Granulator. Pengontrolan
temperatur ini sangat penting agar produk yang diinginkan memiliki
kandungan urea yang tinggi dengan kandungan NPK yang sesuai.

2.4.2 Pengeringan, Pemilahan, dan Penggilingan Produk


Produk keluaran Granulator dimasukkan ke dalam Dryer untuk mengurangi
kadar air hingga mencapai 1,5 % sesuai dengan spesifikasi produk NPK yang
diinginkan. Dryer berbentuk Rotary Drum dan Dryer ini akan mengeringkan
padatan keluaran granulator hingga kadar airnya mencapai 1 - 1,5 %
menggunakan udara pengering dengan arah Co - Current. Combustion
Chamber menggunakan bahan bakar gas sebagai media pemanas. Terdapat 3
buah Fan yang menyuplai udara ke dalam Dryer. Combustion Fan yang
menyediakan udara dengan kuantitas stoikiometri untuk pembakaran, Quench
Air Fan yang digunakan untuk mendinginkan daerah Furnace dan terakhir Air
Fan yang digunakan untuk mengatur kondisi udara yang dibutuhkan untuk
mencapai temperatur di dalam Dryer yang diinginkan. Drum Dryer juga
dilengkapi dengan Grizzly (pemisah bongkahan) untuk menghancurkan
gumpalan yang dapat menyumbat aliran keluaran Dryer menuju Elevator.
Apabila gumpalan sampai keluar, Grizzly akan mengangkat dan
membuangnya ke dalam Hopper lalu diumpankan ke dalam
Lump Crusher. Gumpalan yang telah hancur akan bergabung dengan keluaran
Dryer pada Conveyor. Belt Conveyor tersebut dilengkapi dengan pemisah
magnetik untuk memisahkan material besi yang terbawa dalam produk yang
dapat merusak Screen atau Crusher. Timbangan dapat dipasang untuk
memeriksa jumlah produk di dalam proses granulasi / Loop Recycle. “Produk
dapat diumpankan kembali ke dalam proses melalui suatu Pay Loader, melalui
Spillage Recovery System yang dilengkapi dengan Hopper kecil dan Belt
Conveyor atau dapat dikirim kembali ke gudang penyimpanan bahan baku
untuk proses selanjutnya. Screen feeder pertama berguna untuk
mengoptimalkan distribusi produk yang akan melewati Screen. Screen bertipe
Double Deck digunakan karena memiliki efisiensi yang tinggi dan kemudahan
dalam pemeliharaan dan pembersihannya. Terdapat dua penyaring, satu
beroperasi sedangkan yang lain sebagai cadangan, dilengkapi dengan Motor
Vibrator dan Self Cleaning System. Produk dengan ukuran yang sesuai (on
size) dari penyaring diumpankan langsung ke Small Recycle Regulator
Bin. Produk oversize yang telah dipisahkan dijatuhkan secara gravitasi ke
dalam Pulverizer yang terdiri atas Double Opposed Rotor Chain Mill atau
Tripple Rotor Mill yang dapat digunakan untuk beban besar dengan Rubber
Line Casing. Terdapat Diverter untuk mengganti jalur penyaring dan Crusher
secara bergantian jika akan dilakukan perbaikan atau terjadi masalah dalam
pengoperasiannya. Produk undersize jatuh secara gravitasi ke dalam Recycle
Belt Conveyor sedangkan produk onsize diumpankan ke Recycle Regulator
Bin yang terletak di atas Recycle Regulator Belt Conveyor. Keluaran Recycle
Conveyor dimasukkan ke dalam Granulator Elevator yang menampung semua
aliran recycle bersama-sama dengan bahan baku padat yang akan diumpankan
ke dalam Pug Mill. Granulator dilengkapi dengan Flexing Rubber Panels
untuk menghindari penumpukan produk. Granulator juga dilengkapi dengan
Lump Kicker agar tidak ada gumpalan yang tersisa di dalam drum yang dapat
mengganggu aliran padatan dan menjaga agar gumpalan tersebut tidak terbawa
ke dalam Dryer. Lump Kicker akan mengeluarkan gumpalan ke dalam Grizzly
yang akan membuat gumpalan tersebut terpisah - pisah akibat aksi perputaran.
Produk kering kemudian diumpankan ke Double Deck Screen yang akan
memilah - milah produk menjadi produk on size, oversize, dan undersize.
Produk oversize akan dimasukkan ke dalam Crusher kemudian dikembalikan
ke dalam Pug Mill bersama-sama dengan produk undersize, debu dari
Cyclone, dan sebagian produk jadi. Produk on size akan mengalami perlakuan
produk akhir.
2.4.3 Produk Akhir
Onsize memiliki temperatur tinggi sehingga perlu didinginkan di dalam
Fluidized Bed Cooler. Produk dingin kemudian dilapisi oleh Coating Oil dan
Coating Powder di dalam Coating Drum. Produk ini perlu dilapisi karena
sifatnya yang higroskopis. Produk yang telah dilapisi akan masuk ke unit
bagging dan siap dipasarkan.
2.4.4 Produk Utama (Pupuk NPK)
Produk utama yang dihasilkan dari unit produksi ini adalah pupuk NPK
dengan spesifikasi sebagai berikut: NPK (Ollyvianti dan Rahmawati,2010)
 Bau : Tanpa bau
 Penampilan :Butiran berwarna merah muda
 Kelarutan : mudah larut dalam air
 Spesifik Gravity : < 1
 pH : 5 – 8
 % N : 14 – 16
 % P2O5 : 14 – 16
 % K2O : 14 -16
 % H2O : 1,5 maksimum
 % Sulfur : 10
 Ukuran butiran : mesh -4+10 minimal 70%

2.4.5 Produk Samping


Dalam proses produksi pupuk NPK tidak memiliki produk samping.
Hal ini dikarenakan produk yang tidak sesuai dengan standart yang ditentukan
langsung di recycle sehingga tidak memiliki produk samping.

2.4.6 Cara membuat pupuk NPK sendiri


a. Tentukan lebih dahulu kandungan pupuk NPK yang akan dibuat.
Dicontohkan akan membuat pupuk NPK dengan kandungan 15:15:l5.
b. Hitung kebutuhan pupuk NPK yang akan dibuat. Misalnya akan
membuat 200 kg pupuk NPK dengan kandungan 15:15:15.
c. Hitung jumlah masing-masing unsur hara yang dibutuhkan.
Unsur N : 15% x 200 = 30 kg
Unsur P : 15% x 200 = 30 kg
Unsur K : l5% x 200 = 30 kg
d. Konversikan kebutuhan masing-masing unsur hara dengan pupuk
tunggal yang telah dipersiapkan (Urea, SP36, KCl). Kandungan N dalam
urea adalab 54% rnaka untuk mendapatkan N 30 kg maka kita butuh.
Urea 100/54 x 30 = 55,5 kg Urea. Untuk mendapatkan unsur P 30 kg kita
butuh SP36 100/36 x 30 = 83,3 kg SP36. Sedangkan kebutuhan unsur K
sebesar 30 kg akan kita peroleh dari KCI 100/45 x 30 = 66,6 kg.
e. Oleh karena itu NPK dengan komposisi 15:15:15 sebanyak 200 kg setara
dengan Urea 55,5 kg + SP36 83,3 kg+ KCl 66,6 kg.
BAB III PENUTUP

Kesimpulan
Dari makalah ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk dengan kandungan unsur hara yang
lengkap. Nitrogen berfungsi untuk mempercepat pertuumbuhan tanaman.
Phosphorus membantu tumbuhan dalan proses respirasi dan fotosintesis. Sedangkan
kalium memengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.
2. Pupuk NPK memiliki banyak manfaat, seperti:
 Meningkatkan produksi dan kualitas panen
 Menambah daya tahan tanaman terhadap gangguan hama, penyakit dan
kekeringan
 Menjadikan tanaman lebih hijau dan segar karena banyak mengandung butir hijau
daun
 Memacu pertumbuhan akar dan sistem perakaran yang baik
 Memacu pembentukan bunga, mempercepat panen dan menambah kandungan
protein
 Menjadikan batang lebih tegak, kuat dan dapat mengurangi risiko rebah
3. Pupuk Phonska dibedakan menjadi 2, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik
4. Terdapat beberapa poses dalam pembuatan pupuk Phonska, yaitu pengumpanan
bahan baku, kemudian dilanjutkan proses pengeringan, pemilahan, dan penggilingan
produk sampai didapatkan produk akhir berupa pupuk NPK yang kemudian siap
dipasarkan.
DAFTAR PUSTAKA

Asnawi, I. 2016. Proses Produksi Pupuk PT. Pupuk Kaltim. Pascasarjana.


Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Hasibuan, B.E. 2006. Pupuk dan Pemupukan. Universitas Sumatera


Utara.Medan.

Kadekoh, I dan Amirudin, .2007. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Pulut (Zea
mays certain) Pada Bebagai Dosis Bokasi Gamal dan Pupuk NPK dalam
System Alley Cropping. Jurnal Agrisain 8(1):10-17.

Malini, R. 2015. Makalah Pembuatan Pupuk NPK PIK.

Ollyvianti, P.M dan Rahmawati, S. W., 2000. NPK Fertilizer Plant Made of
Composed Raw Material, Ie Urea, ZA, KCl, NH3, and H3PO4 Trough Mixed
Acid Process. ITS. Surabaya

Putri, S, L., 2016. Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk Npk Dan Pupuk Hayati
Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Sedap Malam (Polianthes
tuberosa L.) Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.

Setyanto, A., Purwanto, F., dan Anurogo, D.S. 2009. Optimasi Struktur Proses
dan Penerapan Metodologi Six Sigma di Unit NPK Phonska- PT Petrokimia
Gresik. Jurnal Rekayasa Proses. Vol. 3 No.1.

Shinta, Kristiani, Warisnu, A. 2014. Pengaruh Aplikasi Pupuk Hayati Terhadap


Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens
L.). Jurnal Sains Dan Seni Pomits. 2(1) : 2337-3520.

Suwahyono, U. 2011. Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik Secara


Efektif dan Efisien. Penebar Swadaya. Jakarta.

Zaini, Z. 2012 Pupuk Majemuk dan Pemupukan Hara Spesifikasi Lokasi Pada
Padi Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Vol. 7
No.1.