Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KELOMPOK 1

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

FORMULASI INFUS GLUKOSA

DISUSUN OLEH :

ADINDA RESTI F.19.001

ARIMALADITA F.19.009

DENDY IKHWAN FAUZI F.19.015

FENI YOHANIS BARRUNG F.19.020

ISRAMAYANI F.19.027

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

PROGRAM STUDI DIPLOMA-III FARMASI

POLITEKNIK BINA HUSADA

KENDARI

2020
A. RESEARCH dan DEVELOPMENT
(Dibahas mengenai latar belakang jenis sediaan, research study literature bahan aktif serta
penelitian terdahulu mengenai sediaan dan bahan aktifnya.)
Infus merupakan sediaan steril berupa larutan dalam jumlah besar, terhitung mulai dari 10
mL yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
(Stefanus Lukas, 2011)
Infus adalah sediaan parenteral volume besar bisa dalam bentuk larutan atau emulsi yang
diberikan melalui intravena dalam bentuk tetesan kecil dalam volume secara konstan dimulai
dari 10,50,100,500,1000 mL. Infus harus bebas pirogen, isotonis, isohidris.
Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan tindakan yang sering
dilakukan dirumah sakit. Namun hal ini tinggi resiko terjadinya infeksi yang akan menambah
tingginya biayaa perawatan dan waktu perawatan. Timdakan pemasangan infuse akan
berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah
ditetapkan, sehingga kejadian infeksi atau berbagai permasalahan akibat pemasangan infuse
dapat dikurangi.
Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan
kedalam tubuh, melalui jarum kedalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Salah satu obat yang dibuat dalam bentuk sediaan infuse adalah paracetamo. Paracetamol
merupakan obat analgesic antipiretik yang secara umum digunakan untuk sakit kepala,
demam ringan, pengurangan rasa sakiit. Parasetamol infus termasuk bentuk sediaan baru
yang tersedia di Indonesia. Indikasi parasetamol infus untuk terapi jangka pendek pada nyeri
setelah pembedahan, demam, jika ada urgensi secara klinik rute pemberian secara intravena
untuk menghilangkan nyeri dan keadaan hipertermia dan atau jika rute lain tidak bisa
memungkinkan untuk pasien.
Dosis tunggal parasetamol intravena terbukti memiliki efektivitas dan efikasi yang sama
dengan parasetamol oral. Parasetamol intravena dapat digunakan jika pasien tidak dapat
menerima dosis oral atau jika diharapkan mencapai onset aksi yang cepat. Jika dilihat dari
tingkat keefektifannya, pemberian parasetamol secara infus ternyata bisa lebih efektif. Sebab,
efek dari obat bisa dengan cepat masuk tanpa proses absorbsi seperti obat oral. (Peacock
dkk., 2011).
B. DESKRIPSI UMUM ZAT AKTIF (Bahas tentang bahan aktif mulai dari asal mula, nama
latin atau nama resminya, kandungannya.)
Asal kata paracetamol : Versi Amerika N-asetil-para-aminofenol asetominofen sedangkan
Versi Inggris para-asetil-amino-fenol parasetamol. Dengan nama dagang panadol, tylenol dan
lain-lain.
Sebelum penemuan asetaminofen, kulit sinkona digunakan sebagai agen antipiretik, selain
digunakan untuk menghasilkan obat antimalaria, dan kina.
Karena pohon sinkona semakin berkurang pada 1880-an, sumber alternatif mulai dicari.
Terdapat dua agen antipiretik yang dibuat pada 1880-an; asetanilida pada 1886
dan fenasetin pada 1887. Pada masa ini, parasetamol telah disintesis oleh Harmon Northrop
Morse melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam asetat gletser. Biarpun
proses ini telah dijumpai pada tahun 1873, parasetamol tidak digunakan dalam bidang
pengobatan hingga dua dekade setelahnya. Pada 1893, parasetamol telah ditemui di dalam air
kencing seseorang yang mengambil fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran
berwarna putih dan berasa pahit. Pada tahun 1899, parasetamol dijumpai sebagai metabolit
asetanilida. Namun penemuan ini tidak dipedulikan pada saat itu.
Pada 1946, Lembaga Studi Analgesik dan Obat-obatan Sedatif telah memberi bantuan
kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan
agen analgesik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa
agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak
berbahaya. Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan
asetanilida dengan methemoglobinemia dan mendapati pengaruh analgesik asetanilida adalah
disebabkan metabolit parasetamol aktif. Mereka membela penggunaan parasetamol karena
memandang bahan kimia ini tidak menghasilkan racun asetanilida.
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang populer dan
digunakan untuk meredakan sakit kepala dan nyeri ringan, serta demam. Obat digunakan
sebagian besar sebagai obat resep untuk analgesik dan flu. Obat paracetamol memiliki
keamanan bagus pada dosis standar, tetapi mudah terjadi overdosis karena obat muncul pada
banyak sediaan obat. Hal ini mendorong terjadinya overdosis baik sengaja ataupun tidak
sengaja.
Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tidak
memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis obat anti-
inflamasi nonsteroid (OAINS). Dalam dosis normal, parasetamol tidak mengiritasi permukaan
bagian dalam lambung atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus
arteriosus pada janin.
Bentuk sediaan oral paracetamol terdiri dari tiga bentuk, yaitu tablet, drops, dan sirup:
Tablet 500 mg dan 650 mg. Sirup 120 mg/ 5 mL. Drops 60 mg/ 0,6 mL.

C. DEFINISI BENTUK SEDIAAN


Menurut Farmakope Indonesia edisi III Hal. 12, infus intravenous adalah sediaan steril
berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis
terhadap  darah, disuntikkan langsung ke dalam vena, dengan volume relatife banyak. Kecuali
dinyatakan lain , infus intravenous tidak diperbolehkan mengandung bakteriasida dan zat
dapar. Larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel.
Infus adalah sediaan larutan dalam jumlah besar terhitung dari 100 mL yang diberikan
melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. (Arief, 1997)

D. ALASAN PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN


Parasetamol dibuat dalam bentuk sediaan infus karena efek yang didapatkan cepat atau
langsung memberi dampak pada tubuh, sehingga efektif untuk meredakan nyeri. Efek dari
obat bisa dengan cepat masuk tanpa proses absorbsi seperti obat oral. Kandungan paracetamol
tersebut akan langsung bercampur dengan darah dan memberikan dampak kurang lebih 10
menit setelahnya. Sedangkan pada seseorang yang mengonsumsinya secara oral akan
merasakan efeknya setelah 30 menit. ( Verury Verona Handayani, 2019 )
Beberapa orang kesulitan untuk menelan obat secara oral atau tidak sadarkan diri saat akan
diberikan. Maka dari itu, infus menjadi satu-satunya cara untuk memasukkan kandungan
tersebut ke tubuh orang tersebut.
E. PENGEMBANGAN FORMULA
1. MASTER FORMULA (boleh diambil dari jurnal penelitian terdahulu)

R/

Paracetamol 500 mg

NaCl 2,25 gram

Karbon adsorbens 0,5 gram

Aqua Pro Injeksi 500 mL

2. RANCANGAN FORMULA (dibuat sendiri)


NAMA PRODUK : Fetridimol
JUMLAH PRODUK :1
TANGGAL FORMULASI :13 November 2020
TANGGAL PRODUKSI : 13 Desember 2020
NO. REG : DKL 2011011149 A1
Penjelasan per digit angka
a. Digit ke-1 menunjukkan jenis atau kategori obat, yaitu: D berarti Obat dengan merek
dagang
b. Digit ke-2 menunjukkan golongan obat, yaitu K berarti golongan obat keras
c. Digit ke-3 menunjukkan lokasi obat tersebut diproduksi atau tujuan produksinya obat
tersebut, yaitu L berarti obat tersebut diproduksi didalam negeri atau yang diproduksi
dengan lisensi
d. Digit ke-4 dan 5 menunjukkan tahun persetujuan obat tersebut oleh BPOM yaitu, 2020
=20
e. Digit ke-6,7 dan 8 menunjukkan nomor urut pabrik, dengan persyaratan nomor urut
pabrik harus lebih besar dari 100 dan lebih kecil dari 1000, yaitu 110
f. Digit ke-9,10 dan 11 menunjukkan nomor urut obat yang disetujui untuk masing-masing
pabrik, dengan persyaratan nomor urut harus lebi besar dari 100 dan lebih kecil dari
1000. yaitu 111
g. Digit ke-12 dan 13 menunjukan bentuk sediaan obat. beberapa contoh sediaan obat yaitu
49 (infuse)
h. Digit ke-14 menunjukan kekuatan sediaan obat, yaitu A
i. Digit ke-15 menunjukkan kemasan berbeda untuk tiap nama, kekuatan dan bentuk
sediaan obat (untuk sau nama, kekuatan, dan bentuk sediaan obat diperkirakan tidak lebi
dari 10 kemasan) yaitu 1
NO BATCH : A 01002002
Penjelasan per digit angka : produksi ruahan
Digit ke-1 : Untuk produk (Tahun). Yaitu : 2020 = 0
Digit ke-2 & 3 : Kode produk dari produk ruahan. Yaitu = 01
Digit ke-4,5,& 6 : Urutan produk. Yaitu 002
Produk jadi
2-6 digit pada produk ruahan ditambah didepan
Digit 1 : Untuk tahun pengemasan. Yaitu : 2020 = A

3. MODIFIKASI FORMULA (yang dimodifikasi bahan tambahannya dengan alasan yang


jelas)

Diproduksi oleh : Telah di periksa oleh: Kode


Tanggal Produksi : No. Reg No. Batch
Produksi:
Nama Bahan Konsentrasi Range Kegunaan/Fungsi Pustaka
Penggunaan Bahan
Paracetamol 500 mg 500 mg- Analgetikum dan FI Edisi III
1000 mg antipiretikum
NaCl 0,1% ≤0,9% Zat pengisotonis HOPE Ed 6th
dan ilmu
resep
Karbon 0,1% 0,1-0,3% Anti pirogen Martindale
adsorbesn
Aqua Pro Injeksi 100 mL 100 mL Pembawa/ pelarut FI Edisi III

4. URAIAN BAHAN
a. Zat Aktif
1. PARACETAMOL (FI Edisi III hal 37)
Nama Resmi : ACETAMINOPHENUM
Sinonim : Asetaminofen. Parasetamol
Rumus Molekul : C8H9NO2
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%)P,
dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali
hidroksida..
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Khasiat/Penggunaan : Analgetikum (Obat yang dapat mengurangi atau
melenyapkam rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran),
Antipiretikum (Obat yang dapat menurunkan suhu tubuh
yang tinggi).
b. Zat Tambahan
1. NaCl (FI Edisi V hal. 917)
Nama Resmi : SODIUM CLORIDA
Sinonim : Natrium Klorida
Rumus Molekul : C8H9NO2
Pemerian : Hablur bentuk kubus tidak berwarna atau serbuk hablur
putih rasa urin
BM : C8H12O6H20
Kelarutan : Mudah larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih,
larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol.
pH : 4-5,7
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2. KARBON AKTIF (FI Edisi III)
Pemerian : Serbuk halus, bebas dari butiran hitam, tidak berbau dan
tidak berasa
Kelarutan : Absorbs pirogen
Stabilitas : Dapat mengabsorbsi air
Penyimpanan : Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup kedap di
tempat sejuk dan kering
3. A.P.I (FI Edisi III)
Nama Resmi : AQUA PRO INJEKSI
Kegunaan : Pembawa dan melarutkan
Cara Pembuatan : Didihkan aqua dan di diamkan selama 30 menit
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal dari kaca atau plastic tidak
lebih besar dari 1 liter wadah kaca sebaiknya dari kaca
tipe 1 dan 2

5. PERHITUNGAN BAHAN (per satuan, per batch)


a. Perhitungan Bahan
500
1. Paracetamol = =5 g
100
2. NaCl =E×W
= 0,16 × 5 gram
= 0,8 %
NaCl yang ditimbang = 0,9% -0,8%
= 0,1 %
Jadi NaCl yang ditimbang = 0,1% x 100
= 10 mg = 0,1 gram NaCl/100 mL
0,1
3. Karbon adsorbens = ×100=0,1 g
100
4. A.P.I = 100 – (5+0,1+0,1+0,1)
= 100 – 5,3
= 94,7 mL
b. Kelebihan Volume
2
1. Paracetamol = ×5=0,1 g
100
2
2. NaCl = ×0,1=0,002 mL
100
2
3. Karbon Adsorbens = ×0,1=0,002 mL
100
Jadi bahan yang digunakan :
1. Paracetamol = 5 + 0,1 = 5,1 gram
2. NaCl = 0,1 + 0,002 = 0,102 mL
3. Karbon Adsorbens = 0,1 + 0,002 = 0,102 mL
4. A.P.I = 100 – (5,1 + 0,102 + 0,102)
= 100 – 5,3
= 94,7 mL
6. PROSEDUR KERJA (proses ekstraksi, cara pembuatan sediaan dll)
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dilakukan perhitungan bahan
c. Disterilkan terlebih dahulu, dibebas alkalikan dengan larutan bebas alkali kemudian
disterilkan pada oven alat-alat gelas yang tidak berskala pada suhu 170°C selama 1-2
jam sedangkan untuk alat gelas yang berskala disterilkan menggunakan autoklaf pada
suhu 121°C selama 15 menit
d. Ditimbang paracetamol 5,1 gram dalam gelas kimia 100 mL
e. Dengan menggunkan spoit CC diambil larutan NaCl 0,9% sebanyak 0,102 gram
f. Dengan gelas ukur diambil aqua pro injeksi 94,7 mL
g. Penutup botol infuse dibebas sulfurkan
h. Dikalibrasi botol infuse yang telah disterilkan untuk digunakan
i. Paracetamol yang telah ditimbang dilarutkan dengan aquadest atau A.P.I kemudian di
aduk hingga larut.
j. Ditambahkan NaCl sebanyak 0,102 mL kemudian dibebas pirogenkan dengan
menggunakan larutan bebas pirogen sebanyak 2 mL
k. Ditambahkan aqua pro injeksi hingga tanda batas, kemudian disaring menggunakan
kertas saring.
l. Masukkan kedalam botol infuse kemudian tutup dengan menggunakan aluminium foil
kemudian ikat dengan tali godam
m. Disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.
n. Setelah disterilkan dikeluarkan kemudian diberikan etiket, brosur, dan kemasan
o. Diuji pada hewan kelinci
Cara kerja pembuatan Na2CO3 dengan SLS larutan bebas sulfur:
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dipipet seksama 0,82 HCl dalam lemari asam
c. Dimasukkan kedalam labu tentukur yang berisi 2/3 aquadest
d. Dicukupkan volumenya hingga tanda batas
e. Dikocok dan diberi etiket

Cara pembuatan larutan bebas pirogen dengan arang aktif :


a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang arang aktif 1 gram dalam gelas kimia dan dilarutkan dengan sedikit aquadest
c. Dimasukkan kedalam labu ukur
d. Dicukupkan volumenya hingga tanda batas
e. Kocok, beri label dan etiket

7. EVALUASI SEDIAAN
a. Evaluasi Fisika
1. Uji Bahan Partikulat dalam Injeksi (suplemen FI IV, 1533-15)
a) Tujuan :
Menghitung partikel asing subvisibel dalam rentang ukuran tertentu.
b) Prinsip :
Prosedurnya dengan cara memanfaatkan sensor penghamburan cahaya, jika tidak
memenuhi batas yang ditetapkan maka dilakukan pengujian mikroskopik.
Pengujian mikroskopik ini menghitung bahan partikulat subvisibel setelah
dikumpulkan pada penyaring membran mikropori.
c) Hasil :
Penghamburan cahaya : hasil perhitungan jumlah total butiran baku yang
terkumpul pada penyaring harus berada dalam batas 20% dari hasil perhitungan
partikel kumulatif rata-rata per mL.
Mikroskopik : injeksi memenuhi syarat jika partikel yang ada (nyata atau menurut
perhitungan) dalam tiap unit tertentu diuji melebihi nilai yang sesuai dengan yang
tertera pada FI.
2. Penetapan pH (Suplemen FI IV, hlm. 1572-1573)
a) Alat : pH meter
b) Tujuan : Mengetahui pH sediaan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan
c) Prinsip:
Pengukuran pH cairan uji menggunakan potensiometri (pH meter) yang telah
dibakukan sebagaimana mestinya yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02
unit pH menggunakan elektrode indikator yang peka, elektrode kaca, dan
electrode pembanding yang sesuai.
d) Hasil: pH sesuai dengan spesifikasi formulasi sediaan yang ditargetkan.

1. Uji Kejernihan:
Uji kejernihan untuk larutan steril adalah dengan menggunakan latar belakang putih dan
hitam di bawah cahaya lampu untuk melihat ada tidaknya partikel viable.

2. Uji Kebocoran (Goeswin Agoes, 2009, 191-192)


a) Tujuan: Memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta
kestabilan sediaan.
b) Prinsip:
Untuk cairan bening tidak berwarna (a) wadah takaran tunggal yang masih panas
setelah selesai disterilkan dimasukkan ke dalam larutan metilen biru 0,1%. Jika ada
wadah yang bocor maka larutan metilen biru akan masuk ke dalam karena perubahan
tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut sehingga larutan dalam wadah akan
berwarna biru.
Untuk cairan yang berwarna (b) lakukan dengan posisi terbalik, wadah takaran
tunggal ditempatkan diatas kertas saring atau kapas. Jika terjadi kebocoran maka
kertas saring atau kapas akan basah.
c) Hasil:
Sediaan memenuhi syarat jika larutan dalam wadah tidak menjadi biru (prosedur a)
dan kertas saring atau kapas tidak basah (prosedur b)

3. Uji Kejernihan dan Warna (Goeswin Agoes, 2009, 201-203)


a) Tujuan:Memastikan bahwa setiap larutan obat suntik jernih dan bebas pengotor
b) Prinsip:
Wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dari
samping dengan latar belakang hitam untuk menyelidiki pengotor berwarna putih dan
latar belakang putih untuk menyelidiki pengotor berwarna.
c) Hasil: Memenuhi syarat bila tidak ditemukan pengotor dalam larutan.
b. Evaluasi Kimia
Prosedur evaluasi kimia harus mengacu terlebih dahulu pada data monografi sediaan
(dibuku Farmakope Indonesia atau buku kompendial lain)
1. Identifikasi
2. Penetapan Kadar

c. Evaluasi Biologi
1. Uji Sterilitas (suplemen FI IV, 1512-1519)
a. Tujuan:
Menetapkan apakah sediaan yang harus steril memenuhi syarat berkenaan dengan uji
sterilitas seperti tertera pada masing-masing monografi.
b. Prinsip:
Menguji sterilitas suatu bahan dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan mikroba
pada inkubasi bahan uji menggunakan cara inokulasi langsung atau filtrasi secara
aseptik. Media yang digunakan adalah Tioglikonat cair dan Soybean Casein Digest
c. Hasil:
Memenuhi syarat jika tidak terjadi pertumbuhan mikroba setelah inkubasi selama 14
hari. Jika dapat dipertimbangkan tidak absah maka dapat dilakukan uji ulang dengan
jumlah bahan yang sama dengan uji aslinya.
2. Uji Endotoksin Bakteri (suplemen FI IV, 1527-1532)
a. Tujuan:
Mendeteksi atau kuantisasi endotoksin bakteri yang mungkin terdapat dalam suatu
sediaan.
b. Prinsip:
Pengujian dilakukan menggunakan Limulus Amebocyte Lysate (LAL). Teknik
pengujian dengan menggunakan jendal gel dan fotometrik.
Teknik Jendal Gel pada titik akhir reaksi dibandingkan langsung enceran dari zat uji
dengan enceran endotoksin yang dinyatakan dalam unit endotoksin FI.
Teknik fotometrik (metode turbidimetri) yang didasarkan pada pembentukan
kekeruhan.
c. Hasil:
Bahan memenuhi syarat uji jika kadar endotoksin tidak lebih dari yang ditetapkan
pada masing-masing monografi.

3. Uji Pirogen untuk volume sekali penyuntikan > 10 mL (FI IV, 908-909)


a. Tujuan:
Untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien
pada pemberian sediaan injeksi.
b. Prinsip:
Pengukuran kenaikan suhu kelinci setelah penyuntikan larutan uji secara IV dan
ditujukan untuk sediaan yang dapat ditoleransi dengan uji kelinci dengan dosis
penyuntikan tidak lebih dari 10 mL/kg bb dalam jangka waktu tidak lebih dari 10
menit.
c. Prosedur: Penyiapan Endotoksin dan LAL
8. KEMASAN

INFUS 100 mL Infus 100 mL INDIKASI,


KOTRA INDIKASI
,PENYIMPANAN
EFEK SAMPING :
FETRIDIMOL®
Komposisi FETRIDIMOL® LIHAT BROSUR
PARACETAMOL
Tiap botol
INFUS
mengandung PARACETAMO
L INFUS
Paracetamol 500 mg
Paracetamol…..500
mg
Paracetamol No Reg : DKL
5% 2011011149 A1
Nacl……q.s

Karbon PT. BINA HUSADA No batch : A


PT. BINA HUSADA 01002002
adsorbens..0,1 % FARMA
FARMA
A.P.I…@ 100ml KENDARI- EXP Date :13
KENDARI- INDONESIA November
INDONESIA
2024

FETRIDIMOL®
PARACETAMOL 0,5%

KOMPOSISI
Tiap 100 ml mengandung :
Paracetamol 0, 5 g
NaCl 0,1 g
Karbon adsorbens 0,1 g
A.P.I ad 100 ml

CARA SUNTIK
Intravena

INDIKASI
Analgetik , antipiretik

KONTRAINDIKASI
Hipersensitif, gangguan hati, ginjal
EFEK SAMPING
Sakit kepala, demam, ruam kulit, sakit tenggorokan,
lemas

KEMASAN
Box 1 infus @ 100 ml

CARA PENYIMPANAN
Simpan ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya
matahari

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

No. batch : A 01002002


No. Reg : DKL 2011011149 A1
Exp. Date : 13 November 2024

9. ETIKET

FETRIDIMOL
PARACETAMOL 5 %
100 Ml
Mengandung :
Paracetamol 0,5 g
NaCL 0,1 g
Karbon adsorben 0,1 g
A.P.I ad 100 mL

Keterangan lengkap lihat brosur


No. batch : A 01002002
No. Reg : DKL 2011011149 A1

PT. BINHUS FARMA


KENDARI INDONESIA

Anda mungkin juga menyukai