Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Mata Kuliah Parasitologi

“PEMERIKSAAN LARVA CACING METODE KOGA AGAR”

DI SUSUN OLEH :

Nama : Ni Kadek adelia

Nim:711345319027

Tingkat : 2B

Mata Kuliah :Urinalisa dan Cairan Tubuh

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

2020
Judul : pemeriksaan larva cacing metode Koga agar
Tujuan :
• Mahasiswa dapat memahami tentang pemeriksaaan larva cacing metode koga agar
• Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan larva cacing metode koga agar
Prinsip :
Metode ini menggunakan prinsip penanaman sampel kedalam agar kemudian diinkubasi
selama 2 hari,sambil diamati dengan mikroskop.lalu eluen dari plate yang sudah dilarutkan
dengan larutan asetat-formalin disentrifuge dan diambil sedimennya kemudian dilihat
dibawah mikroskop. Meskipun metode ini tidak terlalu mahal tetapi waktu yang digunakan
hingga 2 hari sehingga metode inu hanya untuk memperkuat diagnosis dan sensitivitas saja.
Dasar teori :
Kultur piring agar Koga adalah teknik untuk mendeteksi larva cacing. Prinsip di balik teknik
ini adalah ketika tinja segar diinkubasi di atas piring agar-agar, larva cacing akan tumbuh dan
bergerak di sekitar piring, meninggalkan jejak khas pada permukaan agar-agar. Larva
selanjutnya dapat dideteksi dengan pemeriksaan mikroskopis. SOP ini berlaku untuk evaluasi
diagnostik Strongyloides stercoralis dan cacing tambang pada pasien yang terdaftar di bawah
sindrom pencernaan penelitian NIDIAG di Pantai Gading, Indonesia, Mali dan Nepal.
• Strongyloides stercoralis
Nematoda ini tersebar luas di daerah tropik dan subtropik sedangkan di daerah dingin jarang
ditemukan. Parasit ini dapatmenyebabkan penyakit strongilodiasis.
a. Klasifikasi
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Strongyloidea
Genus : Strongyloides
Spesies : Strongyloides stercoralis (Jeffry dan Leach,1993).
b. Morfologi
Gambar 5. Telur Strongyloides stercoralis
Cacing betina berbentuk filiform, halus, tidak berwarna dan panjangnya 2 mm. Bentuk bebas
betina lebih kecil dari bentuk parasit. Cacing jantan bebas lebih kecil dari betina dengan ekor
melingkar. Larva rabditiform bentuk halus pendek dan mulut lebar pendek.
Sedangkan larva filariform bentuk halus panjang dan ekor bertakik / bercabang. Telur bentuk
parasitik, sebesar 54 x 32 mikron. Bentuk bulat oval dengan selapis dinding yang transparan.
Bentuknya mirip dengan telur cacing tambang.

Strongyloides stercoralis dapat hidup dan berkembang biak di luar inang (free-living) dan di
dalam inang sebagai parasit. Parasit betina dapat ditemukan dalam mukosa usus halus
anterior (duodenum dan jejenum atas) dan mencapai ukuran 2–2,5 mm x 50 mcm. Bagian
anterior berbentuk bulat, dibandingkan bagian posteriornya yang lebih lancip. Parasit betina
dapat diidentifikasi dari adanya esofagus filariform panjang (sepertiga dari panjang tubuh)
dan ekor bersudut tumpul.

Telur

Parasit betina dapat menghasilkan 30–50 telur/hari. Telur Strongyloides stercoralis memiliki
bentuk oval berdinding tipis dengan panjang 50–58 mcm dan lebar 30–34 mcm. Telur cacing
ini mengalami perkembangan embrio sebagian pada dua sampai delapan tingkat
perkembangan sel. Telur pada betina yang bersifat parasit maupun free-living tidak berbeda.

Larva

Larva rhabditiform yang menetas dalam usus memiliki ukuran panjang 180–240 mcm dan
lebar 15 mcm, serta memiliki esofagus rhabditiform sepanjang sepertiga anterior tubuh.
Tidak terdapat perbedaan bermakna pada larva free-living maupun parasit. Larva infektif
memiliki ukuran yang berbeda dengan grade larva lainnya dengan panjang 600 mcm dan
lebar 15 mcm. Larva infektif disebut juga larva filariform dengan panjang 44% dari tubuh.

Pra analitik :
• Persiapan alat dan bahan
➢ Sampel feses
➢ Aquadest
➢ Hotplate/alat pemanas
➢ Batang pengaduk
➢ Autoklaf
➢ Petridish
➢ Label
➢ Inkubator
➢ Laruan sodium-acetate, acetic-acid formain (SAF)
➢ Sentrifuse
➢ Tabung sentrifuse
➢ Mikroskop
➢ Objek glass

Analitik
• Prosedur kerja
Pembuatan agar
➢ 15 gram bubuk agar
➢ 5 gram bacto liver
➢ 20 gram tryptone pepton
➢ 5 gram kristal NaCL padat
➢ Dilarutkan dalam 1 liter aquadest
➢ Aquades dipanaskan hingga mendidih dan diaduk hingga merata. Larutan agar
dituangkan kedalam petridish sebanyak 10 mL
➢ Media disterilkan
➢ Letakkan 5 gram feses diatas agar
➢ Tiap petridish diberi nomor identitas dan diinkubasi pada suhu kamar selama 2 hari
➢ Setelah 2 hari, permukaan agar dicuci dengan larutan sodium acetate acetic acid
formain (SAF) 10 mL, kemudian diambil larutannya
Komposisi larutan sodium acetate acetic acid formain (SAF)
➢ Natrium asetat 1,5 gram
➢ Asam asetat glasial 2,0 mL
➢ Formaldehid 40% 4,0 mL
➢ Aquadest 92,5 mL
➢ Larutan disentrifugasi pada kecepatan 2500 rpm selama 5 menit
➢ Supernatan dibuang, diambil sedimennya. Diperiksa dibawah mikroskop dengan
pembesaran 100x dan 400x

Pasca analitik :
Hasil

Pembahasan :

Siklus hidup Strongyloides stercoralis lebih rumit dari cacing lain, karena cacing ini memiliki
dua siklus hidup yang berbeda, yaitu free-living dan parasit.
Free-Living

Pada siklus free-living, larva rhabditiform yang keluar melalui tinja dapat menjadi
larva filariform infektif atau cacing dewasa free-living yang kawin dan menghasilkan telur
dari mana larva rhabditiform menetas dan akhirnya menjadi larva filariform infektif.
Larva filariform menembus kulit manusia untuk memulai siklus parasit dan bermigrasi ke
usus kecil.

Larva L3 diyakini bermigrasi melalui aliran darah ke paru-paru, menyebabkan host batuk dan
larva ditelan untuk masuk ke saluran cerna. Namun, ada juga bukti bahwa larva L3 dapat
bermigrasi langsung ke usus melalui jaringan ikat.

Betina hidup dalam epitel usus kecil dan melalui partenogenesis menghasilkan telur yang
selanjutnya menetas menjadi larva rhabditiform. Larva rhabditiform dapat ditularkan melalui
tinja atau dapat menyebabkan autoinfeksi.

Autoinfeksi

Dalam autoinfeksi, larva rhabditiform menjadi larva filariform infektif, yang dapat
menembus mukosa usus (autoinfeksi internal) atau kulit daerah perianal (autoinfeksi
eksternal). Pada kedua kasus autoinfeksi, larva filariform dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Autoinfeksi Strongyloides stercoralis dapat menjadi indikator infeksi persisten selama


bertahun-tahun pada orang yang belum pernah berada di daerah endemis dan hiperinfeksi
pada orang dengan penurunan imunitas.

Kesimpulan :

➢ Strongyloides stercoralis dapat hidup dan berkembang biak di luar inang (free-living)
dan di dalam inang sebagai parasit. Parasit betina dapat ditemukan dalam mukosa
usus halus anterior (duodenum dan jejenum atas) dan mencapai ukuran 2–2,5 mm x
50 mcm.

➢ Kultur piring agar Koga adalah teknik untuk mendeteksi larva cacing. Prinsip di balik
teknik ini adalah ketika tinja segar diinkubasi di atas piring agar-agar, larva cacing
akan tumbuh dan bergerak di sekitar piring, meninggalkan jejak khas pada permukaan
agar-agar. Larva selanjutnya dapat dideteksi dengan pemeriksaan mikroskopis.
Referensi :

https://issuu.com/bimkes/docs/bimgi_vol_2_no_2/71

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/139/jtptunimus-gdl-ningsihnim-6913-3-babii.pdf

https://www.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/strongyloidiasis/etiologi

https://journals.plos.org/plosntds/article/file?type=supplementary&id=info:doi/10.1371/journ
al.pntd.0004818.s015

PPT from Ibu Indra E. Lalangpuling, M.Sc