Anda di halaman 1dari 18

KONSEP MEDIS DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA GAGAL

GINJAL KRONIS

Pembimbing :

Karsim, S.Kep., Ns., M.Kep

Nama Kelompok 11 :

1. Ani Safitri Amelia (1702012391)


2. Khabibah Nur Rahmah (1702012415)
3. Lufena Fitra Krisma (1702012416)
4. Dwi Kurniawan

7B Keperawatan

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat karunia dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan asuhan keperawatan ini dengan judul “Konsep Medis dan
Asuhan Keperawatan Pada Gagal Ginjal Kronis” Yang bertujuan untuk memenuhi salah satu
tugas Keperawatan Kritis

Terselesaikannya asuhan keperawatan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk
itu kami mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Karsim, S.Kep., Ns., M.Kep selaku dosen pembimbing


2. Teman kelompok sebagai kolaborasi dalam penyelesaian makalah ini
Kami mengakui ada hal yang tidak dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam
makalah ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami
miliki.

Maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran. Kami akan menerima semua
kritik dan saran tersebut agar dapat memperbaiki analisis jurnal kami di masa mendatang.
Sehingga semoga makalah berikutnya dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.

Lamongan, 30 September 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN..................................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................................4
1.2 Rumusan masalah....................................................................................................................4
1.3 Tujuan......................................................................................................................................4
BAB II......................................................................................................................................................5
KONSEP MEDIS...................................................................................................................................5
2.1 Pengertian................................................................................................................................5
2.2 Manifestasi Klinis.....................................................................................................................5
2.3 Klasifikasi.................................................................................................................................6
2.4 Patofisiologi.............................................................................................................................8
2.5 Penatalaksanaan Medis...........................................................................................................8
BAB III....................................................................................................................................................9
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN.....................................................................................................9
3.1 Pengkajian................................................................................................................................9
3.2 Diagnosis Keperawatan ( SDKI ).............................................................................................11
3.3 Intervensi (3-5 Diagnosis utama)...........................................................................................11
3.4 Implementasi...................................................................................................................15
3.5 Evaluasi..................................................................................................................................15
BAB IV..................................................................................................................................................16
PENUTUP..........................................................................................................................................16
4.1 Keseimpulan..........................................................................................................................16
4.2 Saran......................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................17

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus
filtration rate (GFR) (Nahas & Levin,2010). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK)
didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat,
progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Smeltzer, 2009). Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi
ginjal yang progresif dan irreversible, yang menyebabkan kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan maupun elektrolit, sehingga
timbul gejala uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).

Menurut World Health Organization (WHO), penyakit gagal ginjal kronis


berkontribusi pada beban penyakit dunia dengan angka kematian sebesar 850.000 jiwa per
tahun (Pongsibidang, 2016). Hasil penelitian Global Burden of Disease tahun 2010,
penyakit gagal ginjal kronis merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia,
tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010 (Kemenkes RI, 2013).

1.2 Rumusan masalah


a. Apa definisi dari gagal ginjal kronis?
b. Bagaimana manifestasi klinis dari gagal ginjal kronis?
c. Apa saja klasifikasi dari gagal ginjal kronis?
d. Bagaimana patofisiologi dari gagal ginjal kronis?
e. Bagaimana penatalaksanaan Medis dari gagal ginjal kronis?
f. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gagal ginjal kronis?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui definisi dari  gagal ginjal kronis
b. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari gagal ginjal kronis
c. Untuk mengetahui klasifikasi dari gagal ginjal kronis
d. Untuk mengetahui patofisiologi dari gagal ginjal kronis
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari gagal ginjal kronis
f. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan gagal ginjal kronis

4
BAB II
KONSEP MEDIS
2.1 Pengertian
Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel
( tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme dankeseimbangan cairan dan
elektrolit ) , sehingga menyebabkan uremia ( retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah) ( muhammad,2012)
Gagal ginjal kronik atau penyakit gagal ginjal stadium akhir merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan ireversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga
menyebabkan uremia yaitu retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah. Ginjal
juga tidak mampu untuk mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal
pada penyakit ginjal tahap akhir, respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan
cairan dan elektrolit tidak terjadi. Pasien sering menahan natrium dan cairan,
meningkatkan risiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif, dan hipertensi (Smeltzer
& Bare, 2010).

2.2 Manifestasi Klinis


Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017), gejala dan tanda adalah :

Gejala dan tanda mayor

1) Edema anasarka dan atau edema perifer

Pembengkakan akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. Jelas terlihat di


daerah yang menggantung akibat pengaruh gravitasi dan didahului oleh bertambahnya
berat badan. (Price & Wilson, 2008). Edema anasarka adalah edema yang terdapat di
seluruh tubuh. Edema perifer adalah edema pitting yang muncul di daerah perifer,
edema sering muncul di daerah mata, jari, dan pergelangan kaki (Mubarak, 2015).

2) Berat badan meningkat dalam waktu singkat

5
Kenaikan dan penurunan berat badan perhari dengan cepat biasanya berhubungan
dengan perubahan volume cairan. Peningkatan berat badan lebih dari 2,2 kg/hari
(1lb/hari) diduga ada retensi cairan. Secara umum pedoman yang dipakai adalah 473
ml (1 pt) cairan menggambarkan 0,5 kg (1,1 lb) dari peningkatan berat badan (Hudak
& Gallo, 2012).

3) Jugular venous pressure (JVP) dan atau central venous pressure ( CVP ) meningkat

Central venous pressure atau tekanan vena sentral merupakan tekanan di dalam
antrium kanan, CVP normal sekitar 0 mm hg, tekanan ini dapat naik menjadi 20-30
mm Hg pada keadaan abnormal. Jugular venous pressure atau tekanan vena jugularis
merupakan tekanan vena perifer, saat CVP melebihi nilai normal akan membuat vena
menjadi lebar bahkan titik-titikm rawan kolaps akan terbuka bila CVP meningkat
( Guyton & Hall, 2011)

4) Refleks hepatojugular positif

Refleks hepatojugular positif merupakan respon vena jugularis yang terjadi saat
jantung menerima beban sehingga peregangan vena jugularis meningkat dan frekuensi
denyut vena di leher juga meningkat ( Price & Wilson, 2008).

2.3 Klasifikasi
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit ginjal yang ditandai dengan
penurunan nilai laju filtrasi glomerulus atau Glomerular Filtration Rate (GFR) selama
tiga bulan atau lebih.
Menurut (Derebail, et al., 2011), klasifikasi CKD berdasarkan nilai GFR dapat dilihat
pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Klasifikasi CKD Berdasarkan Nilai GFR

Stag Deskripsi GFR (ml/min per 1.73m


e )
1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal >90
Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR 60 – 89
2
ringan
3 Penurunan GFR sedang 30 – 59
4 Penurunan GFR berat 15 – 20
5 Gagal ginjal <15 (atau dialisis)

6
Menurut (Triplitt, 2011), klasifikasi penyakit diabetes melitus dapat dilihat pada Tabel
2.2.
Tabel 2.2 Pengkategorian Status Glukosa

Parameter Keterangan Nilai


Normal <100 mg/dL
Toleransi Kelainan 100 – 125
Gula Darah Puasa
Glukosa mg/dL
Diabetes Melitus ≥126 mg/dL
Normal <140 mg/dL
Gula Darah Dua Toleransi Kelainan 140 – 199
Jam Setelah Makan Glukosa mg/dL
Diabetes Melitus ≥200 mg/dL

Menurut (Saseen and Maclaughlin, 2011), klasifikasi penyakit hipertensi dapat dilihat
pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa

Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Normal <120 <80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi Stage 1 140 – 159 90 – 99
Hipertensi Stage 2 ≥160 ≥100

2.4 Patofisiologi
Ginjal merupakan pengatur utama natrium, keseimbangan air, serta homeostasis asam-
basa. Ginjal juga memproduksi hormon yang diperlukan untuk sintesis sel darah merah
dan homeostasis kalsium (Derebail, et al., 2011).
Pada awalnya, ginjal yang normal mempunyai kemampuan untuk mempertahankan
nilai Glomerulus Filtration Rate (GFR). Namun, karena beberapa faktor, ginjal
mengalami penurunan jumlah nefron. Karena penurunan jumlah nefron, glomerulus
mengalami hiperfiltrasi yaitu peningkatan tekanan glomerular yang dapat menyebabkan
hipertensi sistemik di dalam glomerulus. Peningkatan tekanan glomerulus ini akan
menyebabkan hipertrofi pada nefron yang sehat sebagai mekanisme kompensasi. Pada
tahap ini akan terjadi poliuria, yang bisa menyebabkan dehidrasi dan hiponatremia akibat
eksresi natrium melalui urin meningkat. Peningkatan tekanan glomerulus ini akan

7
menyebabkan proteinuria. Derajat proteinuria sebanding dengan tingkat perkembangan
dari gagal ginjal (Derebail, et al., 2011).

2.5 Penatalaksanaan Medis


Tujuan utama penatalaksanaan pasien Gagal Ginjal Kronis adalah untuk
mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa dan homeostasis tubuh selama mungkin serta
mencegah atau mengobati komplikasi (Smeltzer, 2001; Rubenstain dkk, 2007). Terapi
konservatif tidak dapat mengobati GGK namun dapat memperlambat progres dari
penyakit ini karena yang dibutuhkan adalah terapi penggantian ginjal baik dengan dialisis
atau transplantasi ginjal.
Lima sasaran dalam manajemen medis GGK meliputi :
1. Untuk memelihara fungsi renal dan menunda dialisis dengan cara mengontrol proses
penyakit melalui kontrol tekanan darah (diet, kontrol berat badan dan obat-obatan) dan
mengurangi intake protein (pembatasan protein, menjaga intake protein sehari-hari
dengan nilai biologik tinggi < 50 gr), dan katabolisme (menyediakan kalori nonprotein
yang adekuat untuk mencegah atau mengurangi katabolisme)
2. Mengurangi manifestasi ekstra renal seperti pruritus , neurologik, perubahan
hematologi, penyakit kardiovaskuler;
3. Meningkatkan kimiawi tubuh melalui dialisis, obat-obatan dan diet;
4. Mempromosikan kualitas hidup pasien dan anggota keluarga
(Black & Hawks, 2005)
Penatalaksanaan konservatif dihentikan bila pasien sudah memerlukan dialisi tetap
atau transplantasi. Pada tahap ini biasanya GFR sekitar 5-10 ml/mnt. Dialisis juga
diiperlukan bila :
 Asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Hiperkalemia yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Overload cairan (edema paru)
 Ensefalopati uremic, penurunan kesadaran
 Efusi perikardial
 Sindrom uremia ( mual,muntah, anoreksia, neuropati) yang memburuk.

8
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian fokus yang disusun berdasarkan pada Gordon dan mengacu pada
Doenges (2001), serta Carpenito (2006) sebagai berikut :
1. Demografi

Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang
mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal
seperti proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya. CKD
dapat terjadi pada siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai
peranan penting sebagai pemicu kejadian CKD. Karena kebiasaan kerja dengan
duduk / rdiri yang terlalu lama dan lingkungan yang tidak menyediakan cukup
air minum / mengandung banyak senyawa/ zat logam dan pola makan yang
tidak sehat.
2. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM, glomerulo
nefritis, hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi saluran kemih, dan
traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya
CKD.

3. Pola nutrisi dan metabolik.

Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun


waktu 6 bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan
air naik atau turun.
4. Pola eliminasi

Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input.


Tandanya adalah penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi
peningkatan suhu dan tekanan darah atau tidak singkronnya antara tekanan
darah dan suhu.
5. Pengkajian fisik

a. Penampilan / keadaan umum.

Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri. Kesadaran

9
pasien dari compos mentis sampai coma.
 b. Tanda-tanda vital.

Tekanan darah naik, respirasi riet naik, dan terjadi dispnea, nadi meningkat
dan reguler.
c. Antropometri.

Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi,


atau terjadi peningkatan berat badan karena kelebihan cairan.
d. Kepala.

Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat kotoran
telinga, hidung kotor dan terdapat kotoran hidung, mulut bau ureum, bibir
kering dan pecah-pecah, mukosa mulut pucat dan lidah kotor.

e. Leher dan tenggorok.

Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher.

f. Dada

Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar. Terdapat otot


bantu napas, pergerakan dada tidak simetris, terdengar suara tambahan pada
paru (rongkhi basah), terdapat pembesaran jantung, terdapat suara
tambahan pada jantung.

g. Abdomen.

Terjadi peningkatan nyeri, penurunan pristaltik, turgor jelek, perut buncit.

h. Genital.

Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi, terdapat


ulkus.

i. Ekstremitas.

Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema, pengeroposan


tulang, dan Capillary Refill lebih dari 1 detik.

10
 j. Kulit.

Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan mengkilat /
uremia, dan terjadi perikarditis.
3.2 Diagnosis Keperawatan ( SDKI )
1. Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan nutrium
2. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran arteri dan atau vena
3. Pola napas tidak efektif b.d depresi pusat pernafasan
4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler
5. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien

3.3 Intervensi (3-5 Diagnosis utama)


NO. SDKI SLKI SIKI

11
1. Hipervolemia b.d kelebihan Keseimbangan Manajemen
asupan nutrium ( D. 0022) cairan (L.03020) hipervolemia
Setelah dilakukan (1.15506)
tindakan Observasi :
keperawatan selama -perikasa tanda dan
1x 24 jam gejala hioervolemia
diharapkan -Identifikasi
keseimbangan penyebab
cairan meningkat hipervolemia
dengan kriteria -Monitor status
hasil : hemodinamik
-Asuapan ciran -Monitorintake dan
meningkat (5) output cairan
-haluaran urm Terpeutik :
meningkat (5) -Timbang berat
Kelembaban badan setiap hari
membran mukosa pada waktu yang
meningkat (5) sama
-Batasi asupan
cairan dengan
garam
-Tinggikan kepala
tempat tidur 30-40
derajat
Edukasi :
-Anjurkan melapor
jika haluaran urin
<0,5 ml
-Anjurkan cara
membatasi cairan
Kolaborasi :
-Kolaborasi
pemberian diuretik
-Kolaborasi

12
penggantian
kehilangan kalium
akibat diuretik

2. Perfusi perifer tidak efektif b.d Perfusi perifer Perawatan


penurunan aliran arteri dan atau (L.12011) sirkulasi (I.02079)
vena (D.0009 ) Setelah dilakukan Observasi :
tindakan -Periksa sirkulasi
keperawatan selama perifer
1×24 jam -Identifikasi faktor
diharapkan perfusi resiko gangguan
perifer meningkat sirkulasi
dengan kriteria Terapeutik :
hasil : -Lakukan hidrasi
-Tekanan intra -Hindari
kranial menurun (1) pengukuran tekanan
-Kesadaran darah pada
membaik (5) ekstremitas dengan
-Akral membaik (5) dengan
keterbatasan perfusi
Edukasi :
-Anjurkan
berolahraga rutin
-Anjurkan program
diet untuk
memperbaiki
sirkulasi
3. Pola napas tidak efektif b.d Pola napas Pemantauan
depresi pusat pernafasan (D.0005) (L.09093) Respirasi
Setelah dilakukan ( l.01014)
tindakan Observasi :
keperawatan ,1×24 -Monitor pola napas
jam diharapan pola -Auskultasi bunyi
napas membaik napas

13
dengan kriteria
hasil : Terapeutik :
Frekuensi napas -Atur interval
membaik (5) pemantauan
Kapasitas vital respirasi sesuai
dedang (3) kondisi pasien
Edukasi :
-Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan

4. Gangguan pertukaran gas b.d Pertukaran gas Terapi oksigen


perubahan membran alveolus - ( L.01003) ( 1.01026 )
kapiler (D.0003 ) Setelah dilakukan Observasi :
tindakan Monitor efektifitas
keperawatan selama terapi oksigen
1×24 jam diharapan Monitor tanda tanda
pertukaran gas hipoventilasi
meningkat dengan Terapeutik :
kriteria hasil : -Pertahankan
Pusing menurun (5) kepatenan jalan
Penglihatan kabur napas
menurun (5) -Gunakan oksigen
yang sesuai dengan
tingkat mobilitas
pasien
Edukasi :
-Ajarkan pasien dan
keluarga
menggunakan
oksigen
5. Defisit nutrisi b.d Status nutrisi Manajemen
ketidakmampuan mengabsorbsi (L.03030) nutrisi (I.03119)
nutrien (D.0019) Setelah dilakukan Observasi

14
tindakan - identifikasi status
keperawatan selama nutrisi
1×24 jam diharapan - identifikasi
status nutrisi kebutuhan kalori
membaik dengan dan jenis nutrien
kriteria hasil : - monitor asupan
-porsi makan yang mkanan
di habiskan - monitor BB
meningkat (5) Terapeutik
- makan dan - lakukan oral
minum sesuai hygiene sebelum
anjuran makan
meningkat ( 5) - berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
Edukasi
- anjurkan diet yang
di programkan
Kolaborasi
-Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis
nutrien yang di
butuhkan

3.4 Implementasi
Semua tindakan yang telah direncanakan dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien.

3.5 Evaluasi
Semua tindakan yang telah dilakukan perlu dievaluasi/ dinilai baik verbal maupun non
verbal untuk mengetahui sejauh mana pasien atau keluarga mampu melakukan apa yang
telah dianjurkan.

15
BAB IV
PENUTUP
4.1 Keseimpulan
Pada pasien gagal ginjal kronis, malnutrisi merupakan masalah utama yang sering
terjadi karena asupan zat gizi tidak adekuat, untuk mencegah penurunan dan
mempertahankan status gizi maka pasien gagal ginjal kronis perlu dukungan diet khusus
dengan cara pendekatan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). PAGT adalah suatu
metode pemecahan masalah yang sistematis, dimana ahli gizi berfikir kritisnya dalam
membuat keputusan untuk menangani penyakit gagal ginjal kronis, sehingga dapat
memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi (Wahyuningsih, 2013).

4.2 Saran
Sebaiknya pasien dibantu oleh keluarga dalam melakukan aktivitas dan sebaiknya
pasien mengonsumsi makanan yang nutrisi tinggi untuk mempercepat penyembuhan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anita dkk. Penggunaan Hemodialisis pada Bidang Kesehatan yang Memakai Prinsip
Ilmu Fisika. http://dc128.4shared.com/doc/juzmT0gk/preview.html diakses pada tanggal 23
Februari 2014

Bakta, I Made & I Ketut Suastika,. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta :
EGC. 1999

Black, Joyce M. & Jane Hokanson Hawks. Medical Surgical Nursing Clinical
Management for Positive Outcome Seventh Edition. China : Elsevier inc. 2005

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dotcherman, Joanne M. Nursing


Intervention Classification (NIC). USA: Mosby Elsevier. 2008.

Herdinan, Heather T. Diagnosis Keperawatan NANDA: Definisi dan Klasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC. 2012.

17
Nahas, Meguid El & Adeera Levin. Chronic Kidney Disease: A Practical Guide to
Understanding and Management. USA : Oxford University Press. 2010

18