Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA AN.R DENGAN FEBRIS


DI DESA MARON

Oleh:

WILLY HANDIKA BRAMASTA

14901.07.20045

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN

STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN AN.R DENGAN FEBRIS DI DESA MARON

Hari :

Tanggal :

Tempat :

Mahasiswa

Koordinator Pembimbing
LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS
A. Anatomi Dan Fisiologi
Sel Saraf (Neuron)Merupakan sel tubuh yang berfungsi mencetuskan dan

menghantarkan impuls listrik. Neuron merupakan unit dasar dan fungsional

sistem saraf yang mempunyai sifat exitability artinya siap memberi respon

saat terstimulasi. Satu sel saraf mempunyai badan sel disebut soma yang

mempunyai satu atau lebih tonjolan disebut dendrit. Tonjolan-tonjolan ini

keluar dari sitoplasma sel saraf. Satu dari dua ekspansi yang sangat panjang

disebut akson. Serat saraf adalah akson dari satu neuron. Dendrit dan badan

sel saraf berfungsi sebagai pencetus impuls sedangkan akson berfungsi

sebagai pembawa impuls. Sel-sel saraf membentuk mata rantai yang

panjang dari perifer ke pusat dan sebaliknya, dengan demikian impuls

dihantarkan secara berantai dari satu neuron ke neuron lainnya. Tempat

dimana terjadi kontak antara satu neuron ke neuron lainnya disebut sinaps.

Pengahantaran impuls dari satu neuron ke neuron lainnya berlangsung

dengan perantaran zat kimia yang disebut neurotransmitter

Cerebrum

Terdiri dari dua belahan yang disebut hemispherium cerebri dan keduanya

dipisahkan oleh fisura longitudinalis. Hemisperium cerebri terbagi menjadi

hemisper kanan dan kiri. Hemisper kanan dan kiri ini dihubungkan oleh

bangunan yang disebut corpus callosum. Hemisper cerebri dibagi menjadi

lobus-lobus yang diberi nama sesuai dengan tulang diatasnya, yaitu:

1. Lobus frontalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang frontalis

2. Lobus parietalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang parietalis

3. Lobus occipitalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang

occipitalis
4. Lobus temporalis, bagian cerebrum yang berada dibawah tulang

temporalis

Cerebelum

(OtakKecil) Terletak di bagian belakang kranium menempati fosa cerebri

posterior di bawah lapisan durameter Tentorium Cerebelli. Di bagian

depannya terdapat batang otak. Berat cerebellum sekitar 150 gr atau 8-8%

dari berat batang otak seluruhnya. Cerebellum dapat dibagi menjadi

hemisper cerebelli kanan dan kiri yang dipisahkan oleh vermis. Fungsi

cerebellum pada umumnya adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot

sehingga gerakan dapat terlaksana dengan sempurna.

B. Definisi

Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang

masuk ke dalam tubuh ketika suhu meningkat melebihi suhu tubuh normal

(>37,5°C). Demam adalah proses alami tubuh untuk melawan infeksi yang

masuk ke dalam tubuh. Demam terajadi pada suhu > 37, 2°C, biasanya

disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, jamu atau parasit), penyakit

autoimun, keganasan , ataupun obat – obatan (Surinah dalam Hartini,

2015).

Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai

akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Sebagian besar

demam pada anak merupakan akibat dari perubahan pada pusat panas

(termoregulasi) di hipotalamus. Penyakit – penyakit yang ditandai dengan

adanya demam dapat menyerang sistem tubuh.Selain itu demam mungkin

berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas spesifik dan non


spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi

(Sodikin dalam Wardiyah, 2016).

C. Etiologi

Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain

infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi

terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral

(misalnya perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan

diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan

riwayat penyekit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi

perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium, serta penunjang

lain secara tepat dan holistic (Nurarif, 2015).

Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran.

Demam dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan,

penyakit metabolik maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena

kelainan dalam otak sendiri atau zat toksik yang mempengaruhi pusat

pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi

(Guyton dalam Thabarani, 2015).

Demam sering disebabkan karena; infeksi saluran pernafasan atas,

otitis media, sinusitis, bronchiolitis,pneumonia, pharyngitis, abses gigi,

gingi vostomatitis, gastroenteritis, infeksi saluran kemih, 10 pyelonephritis,

meningitis, bakterimia, reaksi imun, neoplasma, osteomyelitis (Suriadi,

2006).

Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab

demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit


pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan

evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan

holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara

timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala yang

menyertai demam.

Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal

dalam Thobaroni (2015) bahwa etiologi febris,diantaranya

a. Suhu lingkungan.

b. Adanya infeksi.

c. Pneumonia.

d. Malaria.

e. Otitis media.

f. Imunisasi

Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri salmonella thypi.

Bakteri salmonella thypi adalah berupa basil gram negative, bergerak

dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai tiga macam antigen yaitu

antigen O, antigen H dan antigen VI (Lestari, 2016)

D. Patofisiologi

Exogenous dan virogens (seperti; bakteri, virus kompleks antigen-

antibodi) akan menstimulasi sel host inflamasi (seperti; makrofag sel PMN)

yang memproduksi indogeneus pyrogen (Eps). Interleuikin 1 sebagai

prototypical eR Eps menyebabkan endothelium hipotalamus meningkatkan

prostaglandin dan neurotransmitter, kemudian beraksi dengan neuron

preoptik di hipotalamus anterior dengan memproduksi peningkatan “set-


point”. Mekanisme tubuh secara fisiologis mengalami(Vasokinstriksi

perifer, menggigil),dan perilaku ingn berpakaian yang tebal-tebal atau ingin

diselimuti dan minum air hangat. Demam seringkali dikaitkan dengan

adanya penggunaan pada “set-point” hipotalamus oleh karena infeksi,

alergi, endotoxin atau tumor (Suriadi, 2006).

Patofisiologi demam thypoid sendiri disebabkan karena kuman

masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh

salmonella. Sebagian kuman dapat dimusnahkan oleh asam hcl lambung

dansebagian lagi masuk ke usus halus. Jika responimunitas humoral mukosa

(igA) usus kurang baik, maka basil salmonella akan menembussel epitel (sel

m) dan selanjutnya menuju lamina propia dan berkembang biak di jaringan

limfoid plak nyeri di ileum distal dan kelenjar getah bening. Basil tersebut

masuk ke aliran darah (Lestari, 2016)

E. PATHWAY

Bakteri Virus

Reaksi obat Infeksi Endotoksin Zat peradangan Pirogenik lain


Monosit makrofag
sel kupfer

Respon hipotalamus
anterior Kesan psikis tidak enak
Gangguan psikis
Penigkatan titik
penyetelan suhu Demam Dx. Cemas

Kelemahan Vasidolatasi Gangguan rasa


kulit Berkeringat nyaman
Rewel
Intoleransi cemas
aktivitas Dx. Resiko
Dx. volume cairan
Hipertermi kurang dari Dx. Defisit
kebutuhan tubuh Pengetahuan

F. KLASIFIKASI

Menurut Nurarif (2015) klasifikasi demam adalah sebagai berikut:

a. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan

turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan

menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat

yang normal dinamakan juga demam hektik.

b. Demam remiten

Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan

normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan

tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.

c. Demam intermiten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.

Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila

terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.

d. Demam kontinyu

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat

demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

e. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa

periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan

suhu seperti semula.

Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu

misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan

demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas

seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama

sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam
praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada

dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau

penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap

waspada terhadap infeksi bakterial. (Nurarif, 2015)

G. Manifestasi Klinik

Menurut Nurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:

a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,5⁰C - 39⁰C)

b. Kulit kemerahan

c. Hangat pada sentuhan

d. Peningkatan frekuensi pernapasan

e. Menggigil

f. Dehidrasi

g. Kehilangan nafsu makan

Menurut Lestari (2016) tanda dan gejala demam thypoid yaitu :

a. Demam

b. Gangguan saluran pencernaan

c. Gangguan kesadaran

d. Relaps (kambuh)

H. KOMPLIKASI

Menurut Nurarif (2015) komplikasidari demam adalah:

a. Dehidrasi : demam meningkatkan penguapan cairan tubuh

b. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi

pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama
demam dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak

membahayakan otak.

Menurut Lestari (2016) komplikasi yang dapat terjadi pada anak dmam

thypoid yaitu :

a. Perdarahan usus, perporasi usus dan illius paralitik

b. Miokarditis, thrombosis, kegagalan sirkulasi

c. Anemia hemolitik

d. Pneumoni, empyema dan pleuritis

e. Hepatitis, koleolitis

I. PENATALAKSANAAN

Menurut Kania dalam Wardiyah, (2016) penanganan terhadap demam dapat

dilakukan dengan tindakan farmakologis, tindakan non farmakologis maupun

kombinasi keduanya. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani

demam pada anak :

a. Tindakan farmakologis Tindakan farmakologis yang dapat dilakukan yaitu

memberikan antipiretik berupa:

1) Paracetamol

2) Ibuprofen

b. Tindakan non farmakologis Tindakan non farmakologis terhadap penurunan

panas yang dapat dilakukan seperti (Nurarif, 2015):

1) Memberikan minuman yang banyak

2) Tempatkan dalam ruangan bersuhu normal

3) Menggunakan pakaian yang tidak tebal

4) Memberikan kompres.
J. Asuhan Keperawatan

Dasar data atau data fokus pengkajian klien dengan demam antara lain :
1. Pengumpulan Data

a. Wawancara

1) Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa,

agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor

register dan diagnosa medik.

2) Keluhan utama

Keluhan utama demam adalah panas atau demam yang tidak turun-

turun.

3) Riwayat penyakit sekarang

Penyakit yang sedang dialami saat ini : sejak kapan timbul demam,

sifat demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual,

muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah

menggigil, gelisah.

4) Riwayat penyakit dahulu

Apakah sebelumnya pernah sakit demam.

5) Riwayat penyakit keluarga

Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.

6) Riwayat psikososial dan spiritual

Biasanya klien cemas, bagaimana koping mekanisme yang

digunakan. Gangguan dalam beribadat karena klien tirah baring

total dan lemah.

7) Pola-pola fungsi kesehatan

a) Pola nutrisi dan metabolisme


Apakah pasien mengalami penurunan nafsu makan atau

tidak, timbul mual muntah atau tidak, terdapat nyeri telan atau

tidak.

b) Pola eliminasi

Terjadi gangguan pola eliminasi atau tidak seperti :

konstipasi, diare, sering pipis atau tidak.

c) Pola aktivitas dan latihan

Apakah Aktivitas klien terganggu karena harus dilakukan

tirah baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala

kebutuhan dibantu. Pembatasan aktivitas kerja sampai dengan

efek proses penyakit.

d) Pola kenyamanan (nyeri)

Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kanan bawah (mungkin

hilang dengan defakasi). Titik nyeri berpindah, nyeri tekan, nyeri

mata, foofobia.

e) Pola aktifitas, tidur dan istirahat

Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan

suhu tubuh, kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah.

Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare, merasa gelisah

dan ansietas.

f) Pola persepsi dan konsep diri

Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya

dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien.

g) Pola sensori dan kognitif


Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan

penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak

terdapat suatu waham pad klien.

h) Pola hubungan dan peran

Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di

rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total.

i) Pola reproduksi dan seksual

Gangguan pola ini terjadi pada klien yang sudah menikah

karena harus dirawat di rumah sakit sedangkan yang belum

menikah tidak mengalami gangguan.

j) Pola penanggulangan stress

Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena

keadaan sakitnya.

k) Pola tata nilai dan kepercayaan

Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest

total dan tidak boleh melakukan aktivitas karena penyakit yang

dideritanya saat ini.

b. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38-

410 C, muka kemerahan.

2) Tingkat kesadaran

Dapat terjadi penurunan kesadaran .

3) Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan

gambaran seperti bronchitis.

4) Sistem kardiovaskuler

Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin

rendah, takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses

imflamasi dan nyeri). Kemerahan, area ekimosis (kekurangan

vitamin K). Hipotensi termasuk postural.

5) Sistem integumen

Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut

agak kusam. Kulit dan membran mukosa seperti turgor buruk,

kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi/malnutrisi).

6) Sistem muskuloskeletal

Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.

7) Sistem gastrointestinal

Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas),

mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa

tidak enak, peristaltik usus meningkat.

8) Sistem abdomen

Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi

lunak serta nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan

perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.

c. Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan darah tepi

Didapatkan adanya anemi oleh karena intake makanan yang terbatas,


terjadi gangguan absorbsi, hambatan pembentukan darah dalam

sumsum dan penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah.

Leukopenia dengan jumlah lekosit antara 3000-4000 /mm 3

ditemukan pada fase demam. Hal ini diakibatkan oleh penghancuran

lekosit oleh endotoksin. Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari

darah tepi. Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada

minggu pertama. Limfositosis umumnya jumlah limfosit meningkat

akibat rangsangan endotoksin. Laju endap darah meningkat.

2) Pemeriksaan urine

Didaparkan proteinuria ringan (< 2 gr/liter) juga didapatkan

peningkatan lekosit dalam urine.

3) Pemeriksaan tinja

Didapatkan adanya lendir dan darah, dicurigai akan bahaya

perdarahan usus dan perforasi.

4) Pemeriksaan bakteriologis

Diagnosa pasti ditegakkan apabila ditemukan kuman salmonella dan

biakan darah tinja, urine, cairan empedu atau sumsum tulang.

5) Pemeriksaan serologis

Yaitu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin ).

Adapun antibodi yang dihasilkan tubuh akibat infeksi kuman

salmonella adalah antobodi O dan H. Apabila titer antibodi O

adalah 1 : 20 atau lebih pada minggu pertama atau terjadi

peningkatan titer antibodi yang progresif (lebih dari 4 kali). Pada

pemeriksaan ulangan 1 atau 2 minggu kemudian menunjukkan


diagnosa positif dari infeksi Salmonella typhi.

6) Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ada kelainan atau

komplikasi akibat demam tifoid.

K. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin dijumpai pada pasien demam

adalah

1. Hypertermi

2. Intoleransi aktivitas

3. Risiko kurang volume

cairan

4. Defisit pengetahuan

5. cemas

L. Intervensi Keperawatan

1. Hipertermia

SLKI
L.U TERMOREGULASI 1 2 3 4 5
Kulit merah
Kejang
Pucat
Takipnea
L.T STATUS CAIRAN 1 2 3 4 5
Turgor kulit
Perasaan lemah
Output urine
Intake urine
L.T STATUS NUTRISI 1 2 3 4 5
Sikap terhadap makanan dan minuman
Sariawan
Diare
Nafsu makan
 Intervensi / SIKI
a. Manajemen hipertermia
a) Observasi
 Identifikasi penyebab hipertermia(misal; dehidrasi,
terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator)
 Monitor suhu tubuh
b) Terapeutik
 Sediakan lingkungan yang dingin
 Longgarkan atau lepaskan pakaian
 Lakukan pendinginan eksternal (misal. Kompres
dingin pada dahi leher, dada, abdomen, aksila)
c) Edukasi
 Anjurkan tirah baring
b. Edukasi pengukuran suhu tubuh
a) Observasi
 Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
informasi trapeutik
b) Terapeutik
 Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan.
 Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
 Berikan kesempatan untuk bertanya
c) Edukasi
 Jelaskan prosedur pengukuran suhu tubuh
 Ajarkan cara meletakkan ujung termometer di
bawah lidah atau di bagian tengah aksila
 Ajarkan cara membaca hasil termometer raksa dan
atau elektronik

c. Manajemen cairan
a) Observasi
 Monitor berat badan sebelumdan sesudah
b) Terapeutik
 Berikan asupan cairan sesuai kebutuhan

2. Intoleransi Aktivitas
SLKI
L.U TOLERANSI AKTIVITAS 1 2 3 4 5
Kecepatan berjalan
Jarak jalan
Kemudahan dalam melakukan aktivitas
sehari-hari
Perasaan lemah
L.T TINGKAT KELETIHAN 1 2 3 4 5
Kempuan melakukan aktivitas rutin
Sakit kepala
Pola nafas
Pola istirahat
L.T AMBULASI 1 2 3 4 5
Berjalan dengan langkah pelan
Berjalan dengan langkah sedang
Berjalan dengan langkah cepat
Nyeri saat berjalan

SIKI
 Intervensi / SIKI
d. Terapi aktivitas
M. Observasi
 Identifikasi defisit tingkat aktivitas
N. Terapeutik
 Koordinasikann pemilihan aktivitas sesuai usia
 Libatkan keluarga dalam aktivitas
O. Edukasi
 Anjurkan keluarga untuk memberikan penguatan
positif atas partisipasi dalamaktivitas
e. Menejemen lingkungan
P. Observasi
 Identifikasi keamanan dan kenyamanan lingkungan
Q. Terapeutik
 Atur suhu lingkungan yang sesuai
 Sediakan tempat tidur dan lingkungan yang bersih
dan nyaman
 Sediakan pewangi ruangan, bila perlu
 Ganti pakaian secara berkala
R. Edukasi
 Jelaskan cara membuat lingkungan ruman yang
aman

f. Pemantauan tanda tanda vital


S. Observasi
 Monitor nadi
 Monitor suhu tubuh
 Identifikasi penyebab perubahan tanda vital
T. Terapeutik
 Dokumentasikan hasil pemantauan
U. Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Informasikan hasil pemantauan, bila perlu

3. Risiko ketidakseimbangan
cairan
SLKI
L.U KESEIMBANGAN CAIRAN 1 2 3 4 5
Asupan makanan
Edema
Mata cekung
Turgor kulit
L.T KONTROL MUAL MUNTAH 1 2 3 4 5
Kemampuan mengenali gejala
Mengontrol mual/ muntah
Menghindari faktor penyebab / pemicu
Menghindari bau tidak enak
L.T KESEIMBANGAN 1 2 3 4 5
ELEKTROLIT
Serum natrium
Serum kalium
Serum klorida
Serum kalsium

SIKI
 Intervensi / SIKI
a) Pemantauan cairan
a. Observasi
 Monitor frekuensi nadi dan kekuatan nadi
 Monitor frekuensi nafas
b. Terapeutik
 Dokumrntasikan hasil pemantauan
c. Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
b) Identifikasi resiko
a. Observasi
 Identifikasi resiko biologis, lingkungan dan perilaku
b. Terapeutik
 Dokumentasikan temuan resiko secara akurat
c) Pemantauan tanda tanda vital
a. Observasi
 Monitor nadi
 Monitor suhu tubuh
 Identifikasi penyebab perubahan tanda vital
b. Terapeutik
 Dokumentasikan hasil pemantauan
c. Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
 Informasikan hasil pemantauan, bila perlu

1. Defisit pengetahuan
 SLKI
a. Tingkat pengetahuan
Indikator Kriteria Hasil
1 2 3 4 5
perilaku sesuai anjuran
Kemampuan menjelaskan pengetahuan
tentang suatu topic
Perilaku sesuai dengan pengetahuan
Persepsi yang keliru terhadap masalah
Mejalani pemeriksaan yang tidak tepat
Perilaku

b.Motivasi
Indikator Kriteria Hasil
1 2 3 4 5
Pikiran berfokus masa depan
Upaya menyusun rencana tindakan
Upaya mencari dukungan sesuai
kebutuhan
Perilaku bertujuan
Pengambilan kesemapatan
Bertanggung jawab

c. Tingkat pengetahuan
Indikator Kriteria Hasil
1 2 3 4 5
Verbalilasi kemauan mematuhi program
perawatan atau pengobatan
Verbalisasi mengukiti anjuran
Perilaku mengikuti program
perawatan/pengobatan
Perilaku menjalankan anjuran
Tanda dan gejala penyakit

 Intervensi / SIKI
V. Edukasi Kesehatan
a) Observasi
 Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi.
 Identifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan sehat.
b) Terapeutik
 Sediakan materi dan media pendidikan
kesehatan.
 Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
 Berikan kesempatan untuk bertanya.
c) Edukasi
 Jelaskan faktor resiko yang dapat
mempengaruhi kesehatan
 Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
 Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan
sehat.
W. Edukasi Proses Penyakit
a) Observasi
 Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
informasi
b) Terapeutik
 Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan.
 Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
 Berikan kesempatan untuk bertanya.
c) Edukasi
 Jelaskan penyebab dan faktor resiko penyakit
 Jelaskan proses patofisiologi munculnya penyakit
 Jelaskan tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh
penyakit
 Jelaskan kemungkinan terjadinya komplikasi
 Ajarkan cara meredakan atau mengatasi gejala
yang di rasakan
 Ajarkan cara meminimalkan efek samping dari
intervensi atau pengobatan
 Informasikan kondisi pasien saat ini
 Anjurkan melapor jika merasakan tanda dan gejala
memberat atau tidak biasa.
X. Edukasi Diet
a) Observasi
 Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
menerima informasi
 Identifikasi tingkat pengetahuan saat ini
 Identifikasi kebiasaan pola makan saat ini dan
masa lalu
 Identifikasi persepsi pasien dan keluarga tentang
diet yang diprogramkan
 Identifikasi keterbatasan finansial untuk
menyediakan makanan
b) Terapeutik
 Persiapkan materi, media dan alat peraga
 Jadwalkan waktu yang tepat untuk memberikan
pendidikan kesehatan
 Berikan kesempatan pasien dan keluarga bertanya
 Sedian rencana makan tertulis, jika perlu.
c) Edukasi
 Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap kesehatan
 Informasikan makanan yang diperbolehkan dan
dilarang
 Informasikan kemungkinan interaksi obat dan
makanan, jika perlu
 Anjurkan mempertahankan posisi semi fowler (30-
45 derajat) 20-30 menit setelah makan
 Anjurkan mengganti bahan makanan sesuai dengan
diet yang di programkan
 Anjurkan melakukan olahraga sesuai toleransi
 Ajarkan cara membaca label dan memilih makanan
yang sesuai program
 Rekomendasikan resep makanan yang sesuai
dengan diet, jika perlu

Y. Evaluasi

Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama demam tifoid

dikatakan berhasil/efektif jika :

1. Klien mampu mengontrol

diare/konstipasi melalui fungsi usus optimal/stabil

Komplikasi minimal/dapat dicegah.

2. Stres mental/emosi

minimal/dapat dicegah dengan menerima kondisi dengan positiKlien

mampu mengetahui/memahami/menyebutkan informasi tentang proses

penyakit, kebutuhan pengobatan dan aspek jangka panjang/potensial

komplikasi berulangnya penyakit.

Daftar Pustaka

Asmadi. (2018). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi


Kebutuhan Dasar Klien. Jkarta: Salemba Medika.
Kozeir, Barbara. (2014). Fundamental Of Nursing Edisi Satu.Jakarta:EGC.
LeMone, P dkk. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah.
Edisi3.Jakarta : EGC.
Carpenito. (2006). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Nurarif A.H dan Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatn Praktis. Jakarta:
Mediaction
PPNI. 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) : Jakarta
PPNI. 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) : Jakarta
PPNI. 2019. Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) : Jakarta
Potter & Ferry. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,Proses dan
Praktik Edisi 4. Jakarta: EGC