Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN SENYAWA TARGET

DENGAN KROMATOGRAFI KOLOM

Dosen Jaga :

apt.Indah Purnama Sary, S.Si., M.Farm.

Disusun Oleh :

Kelompok B2-3

Bella Amalia Nur Kharisma (182210101035)

Nadiya Fatma Faradiba (182210101036)

Ollive Filsa Hawa (182210101042)

Karina Nur Azizah (182210101089)

Nadia Khoirunnisa (182210101090)

LABORATORIUM KIMIA MEDISINAL

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER

2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................................... 1

1.1 Tujuan......................................................................................................................... 1

1.2 Dasar Teori ................................................................................................................ 1

1.3 Alat dan Bahan............................................................................................................ 2

1.4 Cara Kerja ................................................................................................................... 2

1.5 Deskripsi Alat dan Bahan ............................................................................................ 3

BAB 2. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................. 6

2.1 Data Hasil Praktikum .................................................................................................. 4

2.2 Pembahasan ................................................................................................................ 4

2.3 Titik Kritis .................................................................................................................. 9

BAB 3. PENUTUP ............................................................................................................. 11

3.1. Kesimpulan ........................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 12

LAMPIRAN JURNAL

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan kromatografi kolom.

1.2 Dasar Teori


Dalam melakukan sintesis suatu senyawa kimia baru, hasil reaksi kimia yang
diperoleh merupakan campuran bahan yang terdiri dari produk yang diinginkan, produk dari
reaksi samping, starting material yang masih utuh dan pelarut. Oleh karena itu, dibutuhkan
suatu proses pemurnian senyawa untuk mendapatkan senyawa kimia baru yang benar-benar
murni dan tunggal. Metode-metode yang dapat digunakan dalam pemurnian senyawa organik,
yaitu: destilasi, destilasi uap, destilasi fraksial, destilasi dengan pengurangan tekanan, destilasi
fraksial dengan pengurangan tekanan, rekristalisasi, sublimasi dan sublimasi vakum, ekstraksi
cair-cair, kromatografi kolom, sokletasi, TLC/KLT, PTC, dan kromatografi kertas.
Kromatografi adalah proses pemisahan yang bergantung pada perbedaan distribusi
campuran komponen antara fase gerak dan fase diam. Fase diam dapat berupa pembentukan
kolom, dimana fase gerak dibiarkan mengalir (kromatografi kolom) atau berupa pembentukan
lapis tipis dimana fase gerak dibiarkan naik berdasarkan kapilaritas (kromatografi lapis tipis).
Hal yang perlu diperhatikan adalah senyawa yang berbeda memiliki koefisien partisi yang
berbeda pula antara fase gerak dan diam. Senyawa yang berinteraksi kuat dengan fase diam
akan bergerak lebih lambat melalui sistem kromatografi. Senyawa dengan interaksi yang
lemah dengan fase diam akan bergerak sangat cepat (Christian, 1994). Pemisahan komponen
campuran melalui kromatografi adsorpsi bergantung terhadap kesetimbangan adsorpsi-
desorpsi antara senyawa yang teradsorb pada permukaan dari fase diam padatan dan pelarut
dalam fase cair. Tingkat adsorpsi komponen bergantung pada polaritas molekul, aktivitas
adsorben, dan polaritas fase gerak cair. Biasanya, senyawa dengan gugus fungsional yang
lebih polar akan teradsorb lebih kuat pada permukaan fase diam (padatan). Aktivitas adsorben
tergantung komposisi kimia, ukuran partikel, dan pori-pori partikel (Braithwaite and Smith,
1995).

1
1.3 Alat dan Bahan
1.3.1 Alat
- Kolom kromatografi
- Gelas Beaker 100 ml, 250 ml
- Kertas saring
- Batang pengaduk
- Oven
1.3.2 Bahan
- Silika gel
- Pelarut
- Akuades

1.4 Cara Kerja


Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel

Dikocok pelan hingga merata dan dimasukkan dengan hati-hati ke dalam kolom
kromatografi yang pada bagian bawahnya telah diberi kapas

Dinding luar kolom kromatografi disemprot dengan etanol. Kolom tersebut


kemudian didiamkan selama 30 menit untuk memampatkan dan melihat ada
tidaknya keretakan

Apabila kolom tidak retak, ditambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel dan bila
retak ulangi langkah sebelumnya

Kemudian ke dalam kolom ditambahkan sampel (1% bobot silika) yang telah dicampur
dengan silika gel.

Alirkan eluen dan tampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer

Kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik) dan ditampung dalam vial atau tabung
yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10 vial)

2
Pada setiap vial dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Apabila
menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung. Penetesan dihentikan apabila
vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.

1.5 Deskripsi Alat dan Bahan


1.5.1 Kolom Kromatografi
Kolom kromatografi berbentuk seperti buret, dibuat dari bahan gelas,
polymer, logam. Ukuran diameter dan panjangnya bervariasi, Minimal panjang
kolom 10 kali diameternya. Ukuran partikel fase diam bisanya lebih besar dari
ukuran partikel fase diam untuk KLT, ukuran yang digunakan antara 63-250 µm.
Ukuran partikel lebih kecil 63 µm dari fase gerak sehingga akan mengalir lebih
lambat, maka perlu ditekan atau dihubungkan dengan pipa hisap.
1.5.2 Silika Gel (SiOi)
Silika gel adalah fase diam yang serba guna, banyak digunakan. Pada
pembuatannya silika gel perlu diaktifkan dengan dipanaskan pada 150-160°C
selama 3-4 jam. Silika Gel merupakan silika amorf yang terdiri atas globula-
globula SiO4 tetrahedral yang tersusun secara tidak teratur dan beragregasi
membentuk kerangka tiga dimensi yang lebih besar (Oscik, 1982; 188).
Silika gel juga bersifat tak beracun dan inert serta memiliki titik leleh
yang tinggi. Pada skala laboratorium, silika gel biasa digunkan untuk pemisahan
senyawa organik pada kromatografi kolom. Penggunaan silika gel pada
kromatografi kolom umumnya menggunakan jumlah silika gel yang cukup banyak.

3
BAB 2
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Data Hasil Praktikum
- Sampel : Metil Yellow dan Metil Green
- Jarak yang ditempuh sampel nomer 1 = 4,2 cm
- Jarak yang ditempuh sampel nomer 5 = 4,2 cm
- Jarak yang ditempuh sampel nomer 9 = 4,2 cm
- Jarak yang ditempuh sampel nomer 13 =1,3 cm
- Jarak yang ditempuh sampel nomer 15 = 1,3 cm
- Jarak yang ditempuh oleh pelarut = 4,5 cm

PerhitunganRf
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
HargaRf =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
4,2
- Rf sampel no 1 = = 0,933
4,5
4,2
- Rf sampel no 5 = = 0,933
4,5
4,2
- Rf sampel no 9 = = 0,933
4,5
1,3
- Rf sampel no 13 = = 0,289
4,5
1,3
- Rf sampel no 15 = = 0,289
4,5

2.2 Pembahasan
2.2.1 Kegunaan Alat dan Bahan
 Kolom Kromatografi
Kolom kromatografi berbentuk pipa lurus dengan atau tampa kran pada
ujung bawah. Biasanya terbuat dari gelas (Kaca). Fungsi dari kolom ini ialah
untuk memisahkan dua campuran senyawa atau lebih dengan cara melewatkan
sampel pada kolom tersebut. Sampel dibawa oleh fase gerak (mobile phase).
Sedangkan didalam kolom terdapat suatu bahan yang disebut fase diam
(stationary phase) yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen
sampel. Prinsip pemisahan kromatografi adsorpsi adalah kompetisi antara zat
terlarut (sampel) dan fase gerak dengan permukaan fase diam. Kekuatan

4
adsorpsi bergantung pada sifat gugus fungsionalnya, dimana gugus-gugus
fungsional ini akan menentukan tingkat polaritasnya. Proses adsorpsi
dipengaruhi oleh kekuatan ikatan antara solut dan adsorben dan kekuatan untuk
memisahkan solut dari adsorben (Wati, 2014).

 Silika gel
Silika gel adalah fase diam yang paling sering digunakan untuk
pemisahan produk alam. silikagel befungsi untuk menahan sampel bergerak di
sepanjang kolom. Silika gel memberikan area permukaan yang sangat luas.
Rata-rata ukuran partikel dari silika gel yang digunakan dalam kolom
kromatografi adalah 40 – 200 μm dengan ukuran pori sebesar 40 hingga 300 Å
(Cannel, 1998).

Seberapa kuat senyawa tertahan dalam silika gel tergantung pada


polaritas fase gerak. Semakin kuat kemampuan ikatan hidrogen suatu solven,
semakin baik eluen untuk mengelusi senyawa polar yang teradsorb pada kolom
silika gel. Pengembangan kolom biasanya meliputi peningkatan prosentase polar
solven selama kromatografi berlangsung (Cannel, 1998). Silika gel dapat
digunakan untuk identifikasi kelas-kelas lipida. Pemisahan didasarkan pada
interaksi (ikatan hidrogen, gaya van der waal, dan ikatan ionik) antara molekul
lipida dan silika gel. Fase gerak heksana atau petroleum eter sebagai komponen
utama dan aseton atau dietil eter sebagai modifikasi digunakan untuk pemisahan
lipida sederhana. Retensi lipida sederhana meningkat dengan dimulai dari sterol
ester, metil ester, triasilgliserol, asam lemak bebas, sterol, diasilgliserol dan
monoasilgliserol (Nikolova, 2002)

 Fase Gerak / Eluen


Fase gerak berfungsi untuk mengalirkan sampel (analit) untuk bergerak
disepanjang fase diam hingga akhirnya terelusi.Fase gerak dalam kromatografi

5
merupakan senyawa yang digunakan untuk memisahkan komponen dalam suatu
campuran. Yang paling penting, fase ini dapat bergerak melalui fase diam
bersama dengan komponen. Sampel larut dalam fase gerak dan bermigrasi
melalui fase diam. Fasa gerak atau eluen dapat berupa pelarut murni atau
pelarutcampuran.Pemilihan fase gerak umumnya didasarkan pada studi pustaka
ataupun coba-coba (trial and error). Sistem eluen yang paling sederhana adalah
campuran 2 pelarut organik karena daya elusi dari campuran kedua pelarut ini
dapat dengan mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi
secara optimal dan efektif.

2.2.2 Langkah Pemisahan dan Pemurnian Senyawa dengan Kromatografi Kolom


Dalam melakukan proses pemisahan dan pemurnian senyawa dengan
kromatografi kolom, langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang silika gel
sebanyak 8 gram (100 kali bobot sampel). Setelah itu, membuat eluen/fase gerak
berupa kloroform: methanol (2 : 1) sebanyak 90 ml. Apabila, eluen yang dibuat
sudah jadi, silika gel dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambahkan dengan
eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel, dikocok pelan hingga merata.
Kemudian, silika gel tersebut dimasukkan ke dalam kolom kromatografi (yang
pada bagian bawahnya telah diberi kapas) dengan hati-hati. Tujuan penambahan
eluen pada silika gel adalah agar saat silika gel dimasukkan kedalam kolom
kromatografi tidak terdapat gelembung udara pada kolom kromatografi yang dapat
menahan pergerakan eluen maupun sampel, sehingga proses pemisahan tidak
optimal.
Sebelum silika gel dimasukkan ke dalam kolom, bagian bawah kolom
diberi kapas atau glass wool. Hal ini, bertujuan agar mencegah bahan padat seperti
bubuk silika gel pada kolom kromatografi keluar saat kran pada kolom
kromatografi dibuka. Selain itu, sebelum penuangan dilakukan, dinding luar kolom
kromatografi disemprot dengan etanol. Tujuan dinding luar disemprot dengan
etanol adalah untuk mengurangi keretakan pada kolom kromatografi dan
meminimalisir timbulnya gelembung udara. Setelah silika gel dimasukkan ke
dalam kolom, kolom kromatografi didiamkan selama 30 menit untuk
memampatkan dan melihat ada tidaknya keretakan. Apabila kolom tidak retak,
ditambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel dan apabila terjadi
keretakan, ulangi langkah paling awal. Setelah itu, ditambahkan sampel methyl

6
green dan methyl yellow (1% bobot silika) ke dalam kolom kromatografi yang
telah dicampur dengan silika gel. Kemudian, ditambahkan eluen kedalam kolom
kromatografi. Setelah itu, eluen dialirkan dan ditampung (± 50 ml) ke dalam beaker
glass, eluen ini belum mengandung sampel sehingga dapat digunakan kembali
sebagai fase gerak. Selanjutnya, kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik)
serta larutan ditampung ke dalam vial yang telah diberi nomor, masing-masing vial
25 ml.
Pada saat penampungan fraksi larutan dalam vial, eluen juga harus
ditambahkan terus-menerus ke dalam kolom kromatografi sambil kolom
kromatografi diketok-ketok dengan pelan. Pengetokan kolom kromatografi
bertujuan agar densitas cairan merata dan menghilangkan adanya gelembung udara
yang dapat menyebabkan keretakan kolom kromatografi sehingga proses
pemisahan dapat berjalan dengan sempurna dan optimal. Penampungan larutan ke
dalam vial dilakukan berdasarkan fraksi larutan yang memiliki warna yang sama.
Hal ini, bertujuan untuk mendapatkan sampel yang mungkin sudah sama dan sudah
terpisah dari komponen senyawa lainnya. Setelah itu, pada setiap vial dilakukan uji
KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Pada uji KLT, fase diam yang digunakan
adalah lempeng silika gel dan fase geraknya sama yaitu kloroform : methanol (2 :
1). Noda yang tampak pada lempeng KLT tersebut dideteksi dengan menggunakan
sinar UV, kemudian noda tersebut ditandai untuk dihitung nilai Rf. Apabila pada
lempeng KLT menghasilkan noda yang sama, maka vial-vial yang memiliki noda
sama dapat digabung karena dalam vial tersebut memiliki komponen senyawa yang
sama. Selain itu, apabila vial-vial tersebut memiliki nilai Rf yang sama dengan
nilai Rf standar maka senyawa yang terkandung dalam larutan vial merupakan
senyawa yang sama dengan standar. Penetesan dapat dihentikan apabila vial
terakhir sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT karena dianggap dalam
larutan vial tersebut sudah tidak terdapat komponen senyawa dalam sampel.

2.2.3 Kesimpulan Percobaan


Pada praktikum kali ini, identifikasi noda yang terbentuk dilakukan
dengan menghitung nilai Rf. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan nilai Rf
sampel no 1 sebesar 0,933; nilai Rf sampel no 5 sebesar 0,933; nilai Rf sampel no
9 sebesar 0,933; nilai Rf sampel no 13 sebesar 0,289; dan nilai Rf sampel no 15
sebesar 0,289. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil dari praktikum kali ini

7
berhasil memisahkan senyawa target, karena pada sampel no 1, 5, dan 9
menunjukkan warna hijau (metil green) dan sampel no 13 dan 15 menunjukkan
warna kuning (metil yellow).
Metil green adalah pewarna histologis yang digunakan untuk
menunjukkan asam nukleat dengan pewarnaan Unna-Pappenheim, dalam
hubungannya dengan Pyronin Y. Pewarnaan metil green adalah pewarna yang
dapat menodai inti menjadi hijau, yang biasa digunakan pada pewarnaan sel dan
jaringan. Dapat digunakan bersama dengan pewarnaan imunofluoresen dan
imunohistokimia. Sedangkan metil yellow merupakan zat warna sintetis berbentuk
serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan, bersifat larut dalam air dan alkohol,
agak larut dalam benzene dan eter, serta sedikit larut dalam aseton.
Metil yellow merupakan senyawa kimia azo aromatic amin yang dapat
menimbulkan tumor dalam berbagai jaringan hati, kandung kemih, saluran
pencernaan atau jaringan kulit. Metil yellow dibuat dari asam metanilat dan
difenilamin. Hasil nilai Rf yang diperoleh memiliki nilai yang hampir sama,
menandakan kemungkinan senyawa tersebut adalah senyawa yang sama.
Pemisahan komponen tergantung pada perbedaan kekuatan adsorpsi
senyawa yang dipisahkan dengan fase diam dan perbedaan kelarutan masing-
masing senyawa pada eluen yang digunakan. Makin kuat suatu senyawa diadsorpsi
pada fase diam dan makin kurang larut senyawa tersebut pada eluen, maka makin
rendah nilai Rf senyawa tersebut. Sebaliknya, makin lemah senyawa diadsorpsi
pada adsorben, maka makin besar nilai Rf (Arindah, 2010). Nilai Rf dapat
digunakan sebagai acuan identifikasi komponen dan menunjukkan adanya
perbedaan sifat molekul.

2.3 Titik Kritis


 Pemilihan eluen yang tepat
Pemilihan eluen dilakukan dengan melihat konstanta dielektrik senyawa yang akan
dimurnikan dan tingkat kepolarannya. Pemilihan eluen ini juga disesuaikan dengan
literatur yang ada.
 Pemberian kapas pada dasar tabung
Kapas dicelupkan terlebih dahulu kemudian diletakkan pada dasar tabung, hal ini
bertujuan agar kolom tidak mudah keluar dan sebagai penyaring.

8
 Ditambahkan pasir pada tabung
Penambahan pasir dalam tabung berfungsi agar permukaan bagian dasar tabung merata
sehingga pemisahan akan berjalan secara optimal.
 Pengetukan perlahan tabung
Hal ini bertujuan agar densitas merata dan menghilangkan gelembung udara yang dapat
menyebabkan kolom retak.
 Penyemprotan ethanol pada luar tabung
Ethanol disemprotkan pada tabung bagian luar, hal ini bertujuan agar meminimalisir
keretakan kolom
 Penetesan sampel
Penetesan sampel dilakukan dengan kecepatan 1 tetes per detik untuk meminimalisir
kesalahan.
 Penampungan sampel
Penampungan sampel dilakukan menggunakan vial, dimana penampungan dihentikan
apabila warna larutan terlihat akan berubah. Diusahakan penampungan vial tidak
sampai penuh untuk meminimalisir kesalahan.
 Penambahan eluen
Eluen ditambahkan secara kontinyu dan jangan sampai kolom kering.
 Uji KLT
Eluen yang digunakan pada uji KLT tidak boleh digunakan berkali-kali dengan waktu
yang lama karena dapat menyebabkan perubahan komposisi eluen sehingga hasil KLT
tidak optimal.

9
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Kromatografi kolom adalah proses pemisahan yang bergantung pada perbedaan
distribusi campuran komponen antara fase gerak dan fase diam, fase diam berupa
pembentukan kolom dan fase gerak dibiarkan mengalir
- Pemisahan komponen tergantung pada perbedaan kekuatan adsorpsi senyawa yang
dipisahkan dengan fase diam
- Makin kuat suatu senyawa diadsorpsi pada fase diam maka makin rendah nilai Rf
senyawa tersebut dan sebaliknya
- Nilai Rf dapat digunakan sebagai acuan identifikasi komponen dan menunjukkan
adanya perbedaan sifat molekul.
- Nilai Rf sampel no 1 sebesar 0,933; nilai Rf sampel no 5 sebesar 0,933; nilai Rf sampel
no 9 sebesar 0,933; nilai Rf sampel no 13 sebesar 0,289; dan nilai Rf sampel no 15
sebesar 0,289
- Hasil Rf dari praktikum ini menunjukkan bahwa senyawa target berhasil dipisahkan

10
DAFTAR PUSTAKA

Anisa, dkk. 2019. Pemisahan Jenis Pigmen Karotenoid dari Kepiting Grapsus sp Jantan
menggunakan Metode Kromatografi Kolom. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 7(2):
121-128.
Arindah, D. 2010. Fraksinasi dan identifikasi golongan senyawa pada daging buah pepino
(Solanum muricatum Aiton) yang berpotensi sebagai antioksidan. Skripsi. Malang :
Universitas Islam Negeri Malang.
Cannell, R.J.P. 1998. Natural Produk Isolation. Humana Press, Totowa.
Mabruroh, dkk. 2019. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Daun Murbei (Morus
alba Linn). Indonesian Journal of Chemical Science. 8(1): 16-22.
Nikolova, Boryana and Damyanova. 2002. . Encyclopedia of Chromatography
Rachman, dkk. 2017. Alga Merah (Gracilaria coronopifolia) sebagai Sumber Fitohormon
Sitokinin yang Potensial. Chimicaet Natura Acta. 5(3): 124-131.
Wati, N. F. N. 2014. Peningkatan Kualitas Minyak Nilam Melalui Proses Adsorpsi
Menggunakan Adsorben γ-Alumina Dengan Sistem Flow. Indonesian Journal of
Chemical Research –Indo.J.Chem.Res 8. Vol 2-No. 1.

11
JURNAL PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

Judul Percobaan : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan Kromatografi

Kolom

Tanggal Percobaan : Selasa, 24 November 2020

Nama : Bella Amalia Nur Kharisma

NIM : 182210101035

Kelompok : B2-3

Dosen Jaga : Indah Purnama Sary, S.Si., M.Farm., Apt.

1. Tujuan Percobaan :

Dapat memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan kromatografi kolom

2. Teori dasar

Dalam melakukan sintesis suatu senyawa kimia baru, hasil reaksi kimia yang diperoleh
merupakan campuran bahan yang terdiri dari produk yang diinginkan, produk dari reaksi
samping, starting material yang masih utuh dan pelarut. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu
proses pemurnian senyawa untuk mendapatkan senyawa kimia baru yang benar-benar
murni dan tunggal. Metode-metode yang dapat digunakan dalam pemurnian senyawa
organik, yaitu: destilasi, destilasi uap, destilasi fraksial, destilasi dengan pengurangan
tekanan, destilasi fraksial dengan pengurangan tekanan, rekristalisasi, sublimasi dan
sublimasi vakum, ekstraksi cair-cair, kromatografi kolom, sokletasi, TLC/KLT, PTC, dan
kromatografi kertas.

Pinsip dasar dari proses pemurnian senyawa organik dengan menggunakan metode
rekristalisasi yaitu pelarutan zat padat (crude) dalam pelarut panas/mendidih kemudian
pembentukan kristal murni seiring dengan pendinginan pelarut. Pelarut yang sesuai adalah
pelarut yang mampu melarutkan zat padat pada suhu panas tetapi sedikit larut pada suhu
dingin (dalam keadaan dingin). Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses
rekristalisasi yaitu: pemilihan pelarut yang sesuai, melarutkan zat padat (produk),
penghilangan pengotor berwarna dengan arang aktif, penyaringan panas, kristalisasi,
pengumpulan kristal (murni) pertama melalui penyaringan vakum, pengeringan kristal,
serta pengumpulan kristal kedua yang dilanjutkan dengan uji titik lebur.

Produk sintesis yang telah diperoleh dari proses rekristalisasi tidak selalu dalam
keadaan murni dan tunggal, tergantung pereaksi yang digunakan dan reaksi yang dialami.
Reaksi yang menghasilkan produk tunggal akan lebih mudah untuk dilakukan isolasi
produk, sedangkan yang menghasilkan lebih dari 1 produk ataupun sisa bahan awal akan
sulit dimurnikan hanya dengan rekristalisasi. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan
untuk mendapatkan senyawa target yang murni yaitu dengan menggunakan kolom
kromatografi. Dalam melakukan pemurnian senyawa target dengan kolom kromatografi,
terdapat hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemisahan dan pemurnian produk sintesis
menggunakan kromatografi kolom yaitu: pemilihan fase diam (alumina tau silika),
pemilihan fase gerak/pelarut, pengemasan kolom (cara basah/kering), penambahan sampel,
monitoring kolom dan isolasi senyawa yang terpisah.

Selain menggunakan metode rekristalisasi dan kolom kromatografi, proses pemurnian


senyawa dapat dilakukan dengan destilasi. Macam-macam metode destilasi yang dapat
dilakukan adalah destilasi sederhana, destilasi fraksial, destilasi dengan pengurangan
tekanan, dan destilasi uap. Pemurnian senyawa dengan destilasi uap digunakan untuk
memisahkan campuran cairan yang tidak saling campur (immiscible). Dasar penggunaan
destilasi uap adalah tekanan uap suatu campuran (tidak saling campur) merupakan jumlah
masing-masing penyusun campuran tersebut.

3. Alat dan Bahan

Alat : Bahan :

a. Kolom kromatografi a. Silika gel

b. Gelas beaker 100 ml, 250 ml b. Pelarut

c. Kertas saring c. Akuades

d. Batang pengaduk

e. Oven
4. Cara Kerja

Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel, dikocok pelan
hingga merata dan dimasukkan dengan hati-hati ke dalam kolom kromatografi yang
pada bagian bawahnya telah diberi kapas

Sebelum penuangan, dinding luar kolom kromatografi disemprot dengan etanol.


Kemudian, kolom tersebut didiamkan selama 30 menit untuk memampatkan dan
melihat ada tidaknya keretakan

Apabila kolom tidak retak, tambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel
dan apabila retak, diulangi langkah paling awal. Kemudian, ke dalam kolom
ditambahkan sampel (1% bobot silika) yang telah dicampur dengan silika gel

Kemudian, eluen dialirkan dan ditampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer


(eluen ini belum membawa sampel sehingga dapat digunakan kembali sebagai fase
gerak)

Selanjutnya, kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik) dan ditampung


dalam vial atau tabung yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10 vial)

Pada setiap vial, dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Apabila
menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung. Penetesan dihentikan,
apabila vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.

5. Deskripsi Alat dan Bahan


a. Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom dapat dilakukan untuk pemisahan dan pemurnian suatu sampel
yang berupa campuran dengan berat beberapa gram. Kromatografi kolom adalah
teknik pemisahan yang didasarkan pada peristiwa adsorpsi. Pada dasarnya
kromatografi kolom merupakan pemisahan komponen-komponen dalam sampel
dengan cara mengalirkan sampel melewati suatu kolom. Sampel yang dimaksud adalah
carrier atau fase gerak. Sedangkan, kolom berisi bahan yang disebut fase diam yang
berfungsi untuk memisahkan komponen-komponen sampel. Sampel yang biasanya
berupa larutan pekat diletakkan pada ujung atas kolom. Eluen atau pelarut dialirkan
secara kontinu ke dalam kolom. Dengan adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan,
maka eluen/pelarut akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi.
Pemisahan pada kromatografi kolom dapat terjadi karena adanya perbedaan afinitas
senyawa pada adsorben dan perbedaan kelarutan senyawa pada eluen/pelarut.
Adsorben yang umum digunakan selain SiO2 dan selulosa adalah alumina (dalam
bentuk asam, basa, atau netral). Adsorben alumina hanya dipakai untuk senyawa-
senyawa organik yang stabil. Selain itu, adsorben yang umum digunakan adalah silika
gel yang digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang tidak memiliki
kestabilan yang memadai untuk dipisahkan dengan alumina. Jumlah adsorben yang
digunakan tergantung pada tingkat kesulitan pemisahan dan jumlah sampel yang akan
dipisahkan. Eluen yang digunakan umumnya merupakan campuran 2 macam pelarut.

b. Silika gel

Silika gel merupakan suatu bentuk silika yang dihasilkan melalui penggumpalan sol
menjadi material padat. Silika gel tersusun oleh unit [SiO4]4- yang tersusun acak
sehingga menghasilkan struktur yang tidak beraturan. Silika gel bersifat amorf dengan
kapasitas penyerapan yang tinggi, sifat ini yang menjadikan silika gel digunakan
sebagai adsorben logam berat, desikan, dan penyangga katalis. Silika gel juga bersifat
tak beracun dan inert serta memiliki titik leleh yang tinggi. Pada skala laboratorium,
silika gel biasa digunkan untuk pemisahan senyawa organik pada kromatografi kolom.
Penggunaan silika gel pada kromatografi kolom umumnya menggunakan jumlah silika
gel yang cukup banyak.

6. Daftar Pustaka

Endarini, Lully Hanni. 2016. Farmakognosi dan Fitokimia. Jakarta: Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia.
Fabiani, dkk. 2018. Sintesis dan Karakterisasi Silika Gel dari Limbah Kaca serta
Aplikasinya pada Kromatografi Kolom. Indonesian Journal of Pure and applied
Chemistry. 1(1): 10-16.

Wati, Nur Fitria Nella. 2014. Peningkatan Kualitas Minyak Nilam melalui Proses
Adsorpsi menggunakan Adsorben γ-alumina dengan Sistem Flow. Indonesian
Journal of Chemical Research. 2(1): 84-95.
JURNAL PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

NAMA : Nadiya Fathma Faradiba

NIM : 182210101036

HARI,TGL : Selasa, 24 November 2020

GOL/KLP : Selasa/B2

MATERI : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan Kromatografi Kolom

1. Tujuan

Memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan kromatografi


kolom.

2. Teori Dasar

Kromatografi adalah proses pemisahan yang tergantung pada


perbedaan distribusi campuran komponen antara fase gerak dan fase diam.
Fase diam dapat berupa pembentukan kolom dimana fase gerak dibiarkan
untuk mengalir (kromatografi kolom) atau berupa pembentukan lapis tipis
dimana fase gerak dibiarkan untuk naik berdasarkan kapilaritas
(kromatografi lapis tipis). Kromatografi kolom adalah teknik pemisahan yang
umum dalam kimia. Kromatografi kolom memiliki prinsip yang serupa
dengan KLT, namunodapat diaplikasikan untuk memisahkan sampel dalam
jumlah yang lebih besar dibandingkan KLT. Kromatografi kolom dapat
digunakan baik dalam skala besar maupun skala kecil. Teknik ini dapat
diaplikasikan pada berbagai disiplin ilmu, seperti biologi, biokimia,
mikrobiologi, dan obat-obatan. Banyak jenis antibiotik yang telah
dimurnikan dengan kromatografi kolom. Kromatografi kolom
memungkinkan kita untuk memisahkan dan mengumpulkan masing-masing
senyawa dalam beaker glass yang berbeda-beda. Alumina dan silika gel
merupakan fasa diam yang paling populer digunakan dalam kromatografi
kolom.
Keuntungan penggunaan kromatografi:

• Dapat digunakan pada sampel yang sangat kecil

• Bersifat selektif

• Murah dan sederhana

• Pemisahan dilakukan dalam waktu yang singkat

3. Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
▪ Kolom kromatografi ▪ Silika gel
▪ Gelas Beaker 100 ml, 250 ml ▪ Pelarut
▪ Kertas saring ▪ Akuades
▪ Batang pengaduk
▪ Oven

4. Cara Kerja

Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam


erlenmeyer dan ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan
silika gel, dikocok pelan hingga merata dan masukkan dengan hati-
hati ke dalam kolom kromatografi yang pada bagian bawahnya telah
diberi kapas. Sebelum penuangan, dinding luar kolom kromatografi
disemprot dengan etanol. Kolom tersebut kemudian didiamkan
selama 30 menit untuk memampatkan dan melihat ada tidaknya
keretakan

Apabila kolom tidak retak, tambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel dan bila
retak ulangi langkah a. Kemudian ke dalam kolom ditambahkan sampel (1% bobot
silika) yang telah dicampur dengan silika gel
Alirkan eluen dan tampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer (eluen ini belum
membawa sampel sehingga dapat digunakan kembali sebagai fase gerak). Selanjutnya
kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik) dan ditampung dalam vial atau
tabung yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10 vial)

Pada setiap vial dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Apabila
menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung. Penetesan
dihentikan apabila vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.

5. Deskripsi Bahan
• Silika gel

• Ethanol

Nama Kimia : Etil alkohol


Rumus Kimia : C2H5OH
Rumus Alkohol : R-OH
Karakteristik :
- Berupa zat cair
- Tidak berwarna
- Berbau spesifik
- Mudah terbakar dan menguap
- Dapat bercampur dengan air dengan segala
perbandingan
- Etanol sebagai pelarut untuk zat organik maupun
anorganik
6. Daftar Pustaka
Noviyanti, L., 2010. Modifikasi teknik kromatografi kolom untuk pemisahan trigliserida
dari ekstrak buah merah.
Iyani, R., 2017. Variasi rasio sampel terhadap silika gel pada pemisahan steroid dan
triterpenoid fraksi petroleum eter mikroalga Chlorella sp. dengan kromatografi kolom
basah (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Fabiani, V.A., Wahyuni, N., Brilliantoro, R. and Safitri, M.N., 2018. SINTESIS DAN
KARAKTERISASI SILIKA GEL DARI LIMBAH KACA SERTA APLIKASINYA
PADA KROMATOGRAFI KOLOM. Indonesian Journal of Pure and Applied
Chemistry, 1(1), pp.10-16.
JURNAL PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

Judul Percobaan : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan

Kromatografi Kolom

Tanggal Percobaan : Selasa, 24 November 2020

Nama : Ollive Filsa Hawa

NIM : 182210101042

Kelompok : B2-3

Dosen Jaga : apt. Indah Purnama Sary, S.Si., M.Farm.

1. Tujuan Praktikum
Memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan kromatografi kolom.
2. Teori Dasar
Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu
proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih,
salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di
dalamnya menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam
adsorpsi, partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion.
Dengan demikian, masing-masing zat dapat diidentifikasi atau ditetapkan dengan
metode analitik. Teknik kromatografi umum membutuhkan zat terlarut terdistribusi
di antara dua fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fase gerak membawa zat terlarut
melalui media, hingga terpisah dari zat terlarut lainnya (Anonim, 1995).
Menurut Hendayana, metode pemisahan kromatografi kolom memerlukan bahan
kimia yang cukup banyak sebagai fase diam dan fase gerak tergantung pada ukuran
kolom. Alat yang digunakan untuk kromatografi kolom sangat sederhana, terdiri dari
tabung kromatografi dan sebuah batang pemampat yang diperlukan untuk
memadatkan zat penjerap atau campuran zat penjerap dan air secara merata di dalam
tabung. Terkadang digunakan cakram kaca berpori yang melekat pada dasar tabung
untuk menyangga isinya. Tabung berbentuk silinder terbuat dari kaca, kecuali bila
dalam monografi, disebutkan terbuat dari bahan lain. Sebuah tabung pengalir dengan
diameter yang lebih kecil untuk mengeluarkan cairan yang menyatu dengan tabung
atau disambung melalui sambungan anti bocor pada ujung bawah tabung utama
(Anonim, 1995).
Silika gel adalah fase diam yang paling sering digunakan untuk pemisahan
produk alam. Silika gel memberikan area permukaan yang sangat luas. Rata-rata
ukuran partikel silika gel yang digunakan dalam kolom kromatografi adalah 40-200
µm dengan ukuran pori sebesar 40 hingga 300 Å (Cannell, 1998). Struktur dasar
silika gel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Permukaan silika gel mengandung gugus silanol. Gugus hidroksil ini adalah
pusat aktif dan berpotensi dapat membentuk ikatan hidrogen yang kuat dengan
senyawa yang dipisahkan. Silika gel membentuk ikatan hidrogen terutama dengan
donor H seperti alkohol, fenol, amina, amida, dan asam karboksilat (Palleros, 2000).
Pada umumnya, semakin kuat kemampuan ikatan hidrogen suatu senyawa, semakin
kuat akan tertahan oleh silika gel.

Seberapa kuat senyawa tertahan dalam silika gel tergantung pada polaritas fase
gerak. Semakin kuat kemampuan ikatan hidrogen suatu senyawa, semakin baik eluen
untuk mengelusi senyawa polar yang teradsorb pada kolom silika gel. Pengembangan
kolom biasanya meliputi peningkatan prosentase polar solven selama kromatografi
berlangsung (Cannel, 1998).

3. Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
- Kolom kromatografi - Silika gel
- Gelas Beaker 100 ml, 250 ml - Pelarut
- Kertas saring - Akuades
- Batang pengaduk
- Oven
4. Cara Kerja
Langkah-langkah untuk pemisahan dengan kromatografi kolom adalah sebagai
berikut :
Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel.

Dikocok pelan hingga merata dan dimasukkan dengan hati-hati ke dalam kolom
kromatografi yang pada bagian bawahnya telah diberi kapas.

Sebelum penuangan, dinding luar kolom kromatografi disemprot dengan


etanol.

Kemudian kolom tersebut didiamkan selama 30 menit untuk memampatkan


dan melihat ada tidaknya keretakan.

Apabila kolom tidak retak, ditambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika
gel dan bila retak diulangi langkah dari awal.

Kemudian ditambahkan sampel (1% bobot silika) ke dalam kolom yang telah
dicampur dengan silika gel.

Eluen dialirkan dan ditampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer (eluen ini


belum membawa sampel sehingga dapat digunakan kembali sebagai fase
gerak).

Selanjutnya kran dibuka dan diatur penetasannya (1 tetes/detik) dan ditampung


dalam vial atau tabung yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10
vial).

Pada setiap vial dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan.
Apabila menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung.

Penetesan dihentikan apabila vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.

5. Deskripsi Alat dan Bahan


Alat :
Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom
sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran dan termasuk
dalam kromatografi cairan preparatif. Kolomnya berbentuk seperti buret, dibuat dari
bahan gelas, polymer, logam. Ukuran diameter dan panjangnya bervariasi, Minimal
panjang kolom 10 kali diameternya. Ukuran partikel fase diam bisanya lebih besar
dari ukuran partikel fase diam untuk KLT, ukuran yang digunakan antara 63-250 µm.
Ukuran partikel lebih kecil 63 µm dari fase gerak sehingga akan mengalir lebih
lambat, maka perlu ditekan atau dihubungkan dengan pipa hisap. Silika gel (SiOi)
adalah fase diam yang serba guna, banyak digunakan. Pada pembuatannya silika gel
perlu diaktifkan dengan dipanaskan pada 150-160°C selama 3-4 jam. Fase diam lain
adalah alumina. Fase geraknya adalah eluen atau solven. Pemilihan fase gerak sangat
menentukan berhasil tidaknya pemisahan. Untuk menentukan fase gerak yang akan
digunakan, dilakukan pendekatan yaitu penelusuran literatur atau pustaka dan
mencoba dengan KLT.
Prinsip kerja kromatografi kolom yaitu didasarkan pada absorbsi
komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda terhadap permukaan fase
diam. Absorben bertindak sebagai fase diam dan fase geraknya adalah cairan yang
mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom. Sampel yang
mempunyai afinitas besar terhadap absorben akan secara selektif tertahan dan
afinitasnya paling kecil akan mengikuti aliran pelarut.
Bahan :
Silika Gel

Silika gel merupakan silika amorf yang terdiri atas globula-globula SiO4
tetrahedral yang tersusun secara tidak teratur dan beragregasi membentuk kerangka
tiga dimensi yang lebih besar (Oscik, 1982; 188). Rumus kimia silika gel secara
umum adalah SiO2.x H2O. Struktur satuan mineral silika pada dasarnya mengandung
kation Si4+ yang terkoordinasi secara tetrahedral dengan anion O2-. Namun demikian,
susunan tetrahedral SiO4 pada silika gel tidak beraturan seperti gambar berikut
(Oscik, 1982; 188).

Silika gel ditentukan oleh orientasi dari ujung tempat gugus hidroksil
berkombinasi. Oleh karena ketidak-teraturan susunan permukaan SiO4 tetrahedral,
maka jumlah distribusinya per unit area bukan menjadi ukuran kemampuan adsorpsi
silika gel, meskipun gugus silanol dan siloksan terdapat pada permukaan silika gel.
Kemampuan adsorpsi ternyata tidak sebanding dengan jumlah gugus silanol dan
gugus siloksan yang ada pada permukaan silika gel, tetapi tergantung pada distribusi
gugus OH per unit area adsorben (Oscik, 1982; 188).

6. Daftar Pustaka
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Cannell, R. J. P. 1998. Natural Produk Isolation. Totowa : Humana Press.
Oscik, J. 1982. Adsorption. New York : John Wiley & Sons.
Palleros, D. R. 2000. Experimental Organic Chemistry. New York : John Willey and
Sons.
JURNAL PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

Nama Percobaan : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan


Kromatografi Kolom
Tanggal Percobaan : 24 November 2020
Dilaporkan Oleh : Karina Nur Azizah
NIM : 182210101089
Kelompok : B2.3
Dosen Jaga : apt.Indah Purnama Sary, S.Si., M.Farm.

A. Judul Percobaan : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan


Kromatografi Kolom
B. Tujuan Percobaan : Memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan
kromatografi kolom.
C. Teori Dasar
Kromatografi adalah proses pemisahan yang bergantung pada perbedaan distribusi
campuran komponen antara fase gerak dan fase diam. Fase diam dapat berupa pembentukan
kolom, dimana fase gerak dibiarkan mengalir (kromatografi kolom) atau berupa
pembentukan lapis tipis dimana fase gerak dibiarkan naik berdasarkan kapilaritas
(kromatografi lapis tipis). Hal yang perlu diperhatikan adalah senyawa yang berbeda
memiliki koefisien partisi yang berbeda pula antara fase gerak dan diam. Senyawa yang
berinteraksi kuat dengan fase diam akan bergerak lebih lambat melalui sistem kromatografi.
Senyawa dengan interaksi yang lemah dengan fase diam akan bergerak sangat cepat
(Christian, 1994). Pemisahan komponen campuran melalui kromatografi adsorpsi
bergantung terhadap kesetimbangan adsorpsi-desorpsi antara senyawa yang teradsorb pada
permukaan dari fase diam padatan dan pelarut dalam fase cair. Tingkat adsorpsi komponen
bergantung pada polaritas molekul, aktivitas adsorben, dan polaritas fase gerak cair.
Biasanya, senyawa dengan gugus fungsional yang lebih polar akan teradsorb lebih kuat
pada permukaan fase diam (padatan). Aktivitas adsorben tergantung komposisi kimia,
ukuran partikel, dan pori-pori partikel (Braithwaite and Smith, 1995).
Solven murni atau sistem solven tunggal bisa digunakan untuk mengelusi semua
komponen. Selain itu, sistem gradient solven juga bias digunakan. Pada elusi gradien,
polaritas solven ditingkatkan secara perlahan melalui peningkatan konsentrasi solven ke
yang lebih polar. Pemilihan solven eluen tergantung jenis adsorben yang digunakan dan
kemurnian senyawa yang dipisahkan. Solven harus memiliki kemurnian yang tinggi.
Keberadaan pengotor seperti air, alkohol, atau asam pada solven yang kurang polar akan
mengganggu aktivitas adsorben (Braithwaite and Smith, 1995). Beberapa contoh kombinasi
solven heksana atau petroleum eter (40 – 60 oC, bp) dan dietil eter, biasanya dengan asam
asetat (90:10:1) atau diisopropil eter dan asam asetat (98,5:1,5) umumnya digunakan untuk
pemisahan lipida non polar.

D. Bahan dan Alat :


Alat : Bahan :

➢ Kolom kromatografi ➢ Silika gel


➢ Gelas Beaker 100 ml, 250 ml ➢ Pelarut
➢ Kertas saring ➢ Akuades
➢ Batang pengaduk
➢ Oven

E. Cara Kerja :
Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel

dikocok pelan 40 hingga merata dan masukkan dengan hati-hati ke dalam kolom
kromatografi yang pada bagian bawahnya telah diberi kapas.

Sebelum penuangan, dinding luar kolom kromatografi disemprot dengan etanol.


Kolom tersebut kemudian didiamkan selama 30 menit untuk memampatkan dan


melihat ada tidaknya keretakan

Apabila kolom tidak retak, tambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel dan
bila retak ulangi langkah sebelumnya.
. Kemudian ke dalam kolom ditambahkan sampel (1% bobot silika) yang telah
dicampur dengan silika gel.

Eluen dialirkan dan ditampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer (eluen ini belum
membawa sampel sehingga dapat digunakan kembali sebagai fase gerak).

Selanjutnya kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik) dan ditampung dalam
vial atau tabung yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10 vial)

Pada setiap vial dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Apabila
menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung. Penetesan dihentikan
apabila vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.
Daftar Pustaka

Braithwaite, A dan Smith, F. J. 1995.Chromatographic Methods. Kluwer Academic


Publishers, London

Christian, Gary D. 1994. Analytical Chemistry. Fifth Edition. USA : University of


Washington. John Wiley & Sons.
JURNAL PRAKTIKUM RANCANGAN OBAT

Nama Percobaan : Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Target dengan Kromatografi Kolom

Tanggal Percobaan : Selasa, 24 November 2020

Nama : Nadia Khoirunnisa

NIM : 182210101090

Kelompok : B2-3

1. Tujuan
Memisahkan dan memurnikan senyawa target menggunakan kromatografi kolom.
2. Teori Dasar
Produk sintesis yang telah diperoleh dari proses rekristalisasi tidak selalu dalam
keadaan murni dan tunggal, tergantung pereaksi yang digunakan dan reaksi yang dialami.
Reaksi yang menghasilkan produk tunggal akan lebih mudah untuk dilakukan isolasi produk,
sedangkan yang menghasilkan lebih dari satu produk ataupun sisa bahan awal akan sulit
dimurnikan hanya dengan rekristalisasi. Oleh karena itu, upaya yang dapa dilakukan untuk
mendapat senyawa target yang murni adalah dengan kolom kromatografi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemisahan dan pemurnian produk sintesis
menggunakan kromatografi kolom adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan Fase Diam
Fase diam untuk kromatografi kolom sama seperti pada kromatografi lapis tipis, yaitu
alumina dan silika. Yang harus diperhatikan adalah ukuran partikel, aktivitas, dan variasi
asam/basanya fase diam.
b. Pemilihan Fase Gerak/Pelarut
Pelarut menentukan keberhasilan pemisahan dan pemurnian senyawa target. Pelarut dipilih
terlebih dahulu dengan percobaan KLT. Fase gerak biasanya merupakan kombinasi dari
beberapa pelarut organik, efektivitas pemisahannya dievaluasi dengan KLT yang dilakukan
sebelumnya.
c. Pengemasan Kolom
Ada dua cara yang sering digunakan dalam pengemasan kolom yaitu cara basah dan
kering. Cara basah dilakukan dengan melarutkan fase diam dalam sebagian fase gerak dan
dimasukkan perlahan ke dalam kolom yang telah terisi fase gerak. Cara kering dilakukan
dengan memasukkan fase diam sedikit demi sedikit ke dalam kolom yang telah terisi fase
gerak.
d. Penambahan Sampel
Sampel dilarutkan dengan sedikit fase gerak, kemudian dimasukkan ke kolom yang telah
siap.
e. Monitoring Kolom
Kolom harus terus diawasi agar tidak terjadi kegagalan pemisahan. Fase gerak harus terus
dialirkan agar proses pemisahan sempurna dilakukan. Demikian pula dengan penampungan
fraksi-fraksi. Fraksi-fraksi tersebut dievaluasi dengan KLT.
f. Isolasi Senyawa Terpisah
Fraksi-fraksi yang telah dievaluasi dengan KLT, dapat dikumpulkan sesuai dengan Rf-nya.
Diharapkan senyawa target yang murni dapat diperoleh di akhir proses kromatografi kolom
ini.

3. Alat dan Bahan


3.1 Alat
- Kolom Kromatografi
- Gelas Beaker 100 ml, 250 ml
- Kertas Saring
- Batang Pengaduk
- Oven
3.2 Bahan
- Silika Gel
- Pelarut
- Aquades
4. Cara Kerja

Silika gel sebanyak 100 kali bobot sampel dimasukkan dalam erlenmeyer dan
ditambahkan dengan eluen ± 2 cm di atas permukaan silika gel

Dikocok pelan hingga merata dan dimasukkan dengan hati-hati ke dalam kolom
kromatografi yang pada bagian bawahnya telah diberi kapas

Dinding luar kolom kromatografi disemprot dengan etanol. Kolom tersebut


kemudian didiamkan selama 30 menit untuk memampatkan dan melihat ada
tidaknya keretakan

Apabila kolom tidak retak, ditambahkan eluen 0,5 cm di atas permukaan silika gel dan bila
retak ulangi langkah sebelumnya

Kemudian ke dalam kolom ditambahkan sampel (1% bobot silika) yang telah dicampur
dengan silika gel.

Alirkan eluen dan tampung sebanyak ± 50 ml dalam erlenmeyer

Kran dibuka dan diatur penetesannya (1 tetes/detik) dan ditampung dalam vial atau tabung
yang telah diberi nomor masing-masing vial 25 ml (10 vial)

Pada setiap vial dilakukan uji KLT untuk melihat noda yang dihasilkan. Apabila
menghasilkan noda yang sama, vial-vial tersebut digabung. Penetesan dihentikan apabila
vial sudah tidak memberikan noda saat diuji KLT.

Anda mungkin juga menyukai