Anda di halaman 1dari 329

HUKUM KEPAILITAN

di Indonesia
Dr.Tami Rusli, S.H., M.Hum.
Hak cipta pada penulis
Hak penerbitan pada penerbit
Tidak boleh diproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun
Tanpa izin tertulis dari pengarang dan/atau penerbit

Kutipan Pasal 72 :
Sanksi pelanggaran Undang-undang Hak Cipta (UU No. 10 Tahun 2012)
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) atau Pasal (49) ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-
masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1. 000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 5.
000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu Ciptaan atau hasil barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaima-
na dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
HUKUM KEPAILITAN
di Indonesia
Dr.Tami Rusli, S.H., M.Hum.
Perpustakaan Nasional RI:
Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Hukum Kepailitan di Indonesia

Penulis:
Dr.Tami Rusli, S.H., M.Hum.

Desain Cover & Layout


Tim UBL Kreatif

Penerbit
Universitas Bandar Lampung
(UBL) Press
Jl. Zainal Abidin Pagar Alam No.26,
Labuhan Ratu, Kedaton, Kota Bandar
Lampung, Lampung 35142

xii + 317 hal : 15,5 x 23 cm


Cetakan Juli 2019

ISBN: 978-602-60638-9-2

Hak Cipta dilindungi Undang-undang


Selamat ucapan yang pantas saya sampaikan atas terbitnya
buku karya saudara Dr. Tami Rusli, SH., M.Hum. Buku ini
diperlukan bagi mahasiswa hukum yang ingin mempelajari dan
mengkaji kegiatan perusahaan terutama yang berkaitan dengan
kepailitan dari segi hukum.
Hukum Kepailitan ini merupakan materi yang ada dalam
mata kuliah hukum dagang yang terdapat dalam kurikulum
program studi ilmu hukum yang harus ditempuh mahasiswa
fakultas hukum.
Sambutan yang sangat baik dalam penerbitan buku ini yang
semula merupakan buah pikiran sebagai pengembangan konsep
bahan ajar dari penulis yang dikembangan dengan melakukan
penelitian untuk menyesuaikan data yang valit. Dengan ketekunan
dan kemauan yang keras akhirnya penulis dapat mewujudkannya
dalam bentuk buku.
Pemberian judul Hukum Kepailitan di Indonesia tentunya
telah penulis sesuaikan dengan tujuan sebagai sumbangan ilmu
pengetahuan kepada masyarakat luas, dan gunanya tentu untuk
melengkapi kepustakaan bidang hukum kepailitan.
Semoga karya ini merupakan karya yang berkelanjutan yang
berguna bagi kemajuan ilmu hukum, untuk memberikan cakrawala
pandang, terutama bagi mahasiswa, para praktisi, akademisi dan
pelaku usaha pada umumnya.

Bandar Lampung, Juni 2019

Dr. Erlina B, S.H., M.H.

Hukum Kepailitan di Indonesia v


Buku “Hukum Kepailitan di Indonesia” ini merupakan upaya
penulis untuk menambah referensi ilmu hukum yang berkembang
saat ini khususnya yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan.
Hukum Kepailitan memberikan pengertian mengenai bagaimana
debitur yang tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada kreditur
dapat dinyatakan pailit.
Di negara kita, pengaturan mengenai kepailitan ini sudah
lama ada yaitu dengan berlakunya Faillisements Verordering yang
diundangkan dalam Staatsblad yahun 1905 Nomor 217 juncto
Staatsblad tahun 1906 Nomor 308. Namun karena permasalahan
ini kurang populer, saat itu jarang sekali kita dengar kasus
kepailitan muncul ke permukaan. Hukum kepailitan biasanya
diletakkan pada akhir dari susunan materi besar hukum dagang
dan mahasiswa hanya sekedarnya saja mempelajari materi
kepailitan sendiri, prinsip seperti ini tidaklah salah karena
pengajaran di perguruan tinggi bersifat mandiri. Tugas dosen
hanyalah mengantarkan mahasiswa membangun cara berpikir
ilmiah dan membuka jalan bagi penyelidikan lanjutannya
Karena itu, diharapkan buku ini akan bermanfaat, baik bagi
mereka yang bergerak dibidang akademis, seperti dosen,
mahasiswa, peneliti di bidang hukum dan ekonomi, dan mereka
yang bergerak sebagai pelaku usaha. Bahkan buku ini dapat dibaca
bagi siapa saja yang berminat di bidang hukum dan ekonomi
(khususnya bidang kepailitan), dengan membaca buku ini para
pembaca yang budiman akan sampai pada pemahaman yang
komprehensif tentang pemanfaatan pranata kepailitan.
Dalam kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih
yang tidak terhingga kepada istri tercinta Linda Fanheti, SE., MM.

vi Hukum Kepailitan di Indonesia


Serta anak-anakku tersayang: Tandaditya Ariefandra
Airlangga, S.P., M.P., Muhammad Farizky, Amd (ak) dan Putri
Abistha, atas segala pengorbanan yang telah diberikan selama
dalam penulisan ini.
Akhir kata penulis sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu terwujudnya penerbitan buku ini,
semoga Allah SWT membalas segala kebaikannya, Amiin.

Bandar lampung, Juni 2019

Dr.Tami Rusli, S.H., M.Hum.

Hukum Kepailitan di Indonesia vii


KATA SAMBUTAN ................................................................................. V
KATA PENGANTAR ............................................................................... VI
DAFTAR ISI.............................................................................................. VIII

BAB I. KEPAILITAN DI INDONESIA ............................................. 1


1. Pendahuluan ......................................................................... 1
2. Sejarah Kepailitan ................................................................ 6
3. Dasar Hukum Kepailitan..................................................... 8
4. Pengertian Kepailit Dan PKPU .......................................... 16
5. Asas-Asas Hukum Kepailitan ............................................. 30
6. Tujuan Kepailitan ................................................................. 40
7. Prinsip-Prinsip Kepailitan .................................................. 41

BAB II. PROSES KEPAILITAN SECARA HUKUM ........................ 47


1. Syarat-Syarat Kepailitan ...................................................... 47
2. Prosedur kepailitan ............................................................... 53
3. Status Harta Debitur Pailit .................................................. 59
4. Penghapusan Harta Pailit .................................................... 61
5. Upaya Hukum Kepailitan ..................................................... 63
6. Perdamaian Dalam Kepailitan ............................................ 67
7. Akibat Yuridis Kepailitan ...................................................... 81

BAB III. HAK-HAK KREDITUR KEPAILITAN DALAM


PRAKTIK PERADILAN ......................................................... 100
1. Pengadilan Niaga dan Kewenangan ................................ 100
2. Kepailitan Debitur Dalam Praktik Peradilan ................. 104
3. Kepailitan Debitur .............................................................. 115
a. Kepailitan Debitur Perorangan.................................... 119
viii Hukum Kepailitan di Indonesia
b. Kepailitan Debitur Korporasi...................................... 122
c. Kepailitan Debitur Penjamin ....................................... 125
d. Kepailitan Debitur Yang Telah meninggal
Dunia ................................................................................ 127
4. Kedudukan Kreditur Dalam Kepailitan Debitur ........... 129
5. Hak Kreditur Dalam Kepailitan ........................................ 137
6. Hak Kreditur Separatis Dalam Kepailitan ..................... 146
7. Permohonan Pernyataan Pailit Oleh Kreditur
Konkuren .............................................................................. 151
8. Hak Kreditur Konkuren Dalam Kepailitan Debitur ..... 158

BAB IV. LEMBAGA HUKUM DALAM PENYELESAIAN


SENGKETA BISNIS ............................................................... 171
1. Pengertian dan Perkembangan Hukum Bisnis ............. 171
a. Pengertian Hukum Bisnis ............................................. 171
b. Karakteristik Sengketa Bisnis ...................................... 175
c. Ruang Lingkup Sengketa Bisnis .................................. 176
2. Lembaga Hukum Dalam Penyelesaian Sengketa
Bisnis ...................................................................................... 179
3. Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Pengadilan
Niaga ...................................................................................... 197
4. Kompetensi Pengadilan Niaga Dalam Perkara
Kepailitan .............................................................................. 201

BAB V. JAMINAN DALAM KEPAILITAN ........................................ 204


1. Pengertian Penjamin .......................................................... 204
2. Tujuan Jaminan Dalam Kepailitan .................................... 205
3. Bentuk-Bentuk Jaminan ..................................................... 206
4. Pihak-Pihak Yang Terkait Dalam Jaminan...................... 209

BAB VI. KEDUDUKAN KURATOR PADA PERUSAHAAN


PAILIT ....................................................................................... 213
1. Kedudukan kurator Dalam Kepailitan ............................ 213
a. Syarat-Syarat Menjadi Kurator .................................. 214
b. Imbalan Jasa Kurator ................................................... 217

Hukum Kepailitan di Indonesia ix


2. Fungsi Kurator Dalam kepailitan Perusahaan .............. 219
3. Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan
Pemberesan Harta Pailit ................................................... 220
a. Tanggung Jawab Kreditur Dalam Kepailitan
Sebagai Kurator ............................................................ 221
b. Tanggung Jawab Kreditur Dalam Kepailitan
Sebagai Pribadi .............................................................. 222
c. Tanggung Jawab Kreditur Terhadap Harta Pailit
dan Penerapan Actio Paulina ....................................... 223
4. Tugas Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan
Harta Pailit ........................................................................... 225
a. Tahap Administrasi ....................................................... 226
b. Tahap Penyelesaian ...................................................... 228
5. Masa Tugas Kurator ............................................................ 229
6. Fungsi Kurator Dalam Perdamaian .................................. 236

BAB VII. PROSES PEMBERESAN HARTA PAILIT ....................... 238


1. Kewenangan Hakim Pengawas Dalam Proses
Pemberesan Harta Pailit ..................................................... 238
2. Kewenangan Kurator Dalam Proses Pemberesan
Harta Pailit ........................................................................... 244
3. Kepailitan Untuk Menyelesaikan Hutang Debitur....... 250
4. Penyelesaian Sengketa Pailit ............................................ 252
5. Dinamika Penyelesaian Sengketa.................................... 268
6. PKPU Sebagai Upaya Preventif Kepailitan
Perseroan Terbatas ............................................................ 273

BAB VIII. PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS DIBEBERAPA


NEGARA ................................................................................ 282
1. Pendahuluan .................................................................. 282
a. Negara Belarus.......................................................... 283
b. Negara Lithuania...................................................... 285
c. Negara Amarika Serikat .......................................... 287
d. Negara Malaysia ....................................................... 288
e. Negara Singapura..................................................... 289
f. Negara Korea Selatan .............................................. 291
g. Negara Perancis ....................................................... 293
x Hukum Kepailitan di Indonesia
INDEKS ..................................................................................................... 294
DAFTAR KEPUSTAKAAN .................................................................... 298
GLOSARIUM ........................................................................................... 307
DAFTAR SINGKATAN ......................................................................... 315

Hukum Kepailitan di Indonesia xi


xii Hukum Kepailitan di Indonesia
1. Pendahuluan
Kehadiran hukum kepailitan di Indonesia berawal dengan
diberlakukannya Faillissement Verordening Stbl. Tahun 1905
Nomor 217 jo. Stbl. Tahun 1906 Nomor 348 oleh Pemerintahan
Kolonial Belanda di Indonesia yang pada waktu itu disebut dengan
Hindia Belanda, pemberlakuan Faillissement Verordening
(selanjutnya disingkat Fv) berdasarkan asas konkordansi sesuai
dengan politik hukum kolonial pada waktu itu dengan memperluas
berlakunya hukum Belanda di tanah jajahan dikenal dengan
eenheidsbeginsel.1 Pada awalnya pemberlakuan Fv ditujukan kepada
golongan Eropa dan golongan Timur Asing dan bagi orang-orang
yang menundukkan diri pada hukum tersebut.
Pesatnya perkembangan ekonomi di Hindia Belanda yang di
dominasi oleh golongan Eropa, pemerintah Hindia Belanda merasa
perlu untuk memberlakukan peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Belanda untuk memberikan perlindungan hukum dan
memberikan kepastian hukum bagi golongan Eropa tersebut.
Pemberlakuan Fv sebagai sumber hukum positif pada saat itu tidak
dirasakan manfaat keberadaan Fv bagi masyarakat dagang untuk
menyelesaikan masalah kepailitan, pemberlakuan Fv dengan asas
konkordansi menjadikan hukum kepailitan tersebut tetap sebagai
hukum Belanda dan melindungi dan berlaku untuk kalangan
penjajah dan kolega-kolega dagangnya. Masyarakat pribumi tidak
merasakan manfaat pemberlakuan Fv tersebut.

1
Soetandyo Wignjosoebroto dalam Sunarmi,Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum
Kepailitan di Indonesia, Edisi 2, Softmedia, Jakarta, 2010, hlm. 3.

Hukum Kepailitan di Indonesia 1


Fv mempunyai banyak kelemahan diantaranya Fv tidak
mempunyai batasan waktu kapan dan berapa lama proses
kepailitan tersebut berjalan di pengadilan. Fv hanya ditujukan
untuk menyelesaikan masalah utang yang ditujukan kepada
kegiatan perdagangan dengan skala yang kecil dan menengah,
sesuai dengan perkembangan dunia perdagangan saat itu, Fv
disimpulkan menimbulkan ketidak pastian hukum dan tidak
transparan, sehingga perlu penerapan asas hukum sesuai dengan
perkembangan ekonomi saat ini, pada saat pemberlakuan Fv skala
perdagangan bersifat lokal dan nasional dengan pelaku dagang
yang pada saat ini bisa disebut dengan Usaha Kecil dan
Menengah.2
Mohammad Hatta menggambarkan struktur sosial pada
zaman kolonial Belanda sebagai berikut :
1. Golongan atas kaum kulit putih terutama Belanda menguasai
cabang-cabang produksi skala besar seperti perkebunan,
pertambangan, industri perkapalan dan transportasi, ekspor,
impor, bank dan asuransi.
2. Golongan menengah kira-kira 90% (sembilan puluh persen)
menguasai cabang-cabang kegiatan perdagangan yang
menghubungkan golongan atas dengan golongan bawah
berada ditangan orang China dan Asia lainnya, hanya 10
(sepuluh persen) di tangan pribumi.
3. Golongan bawah, penduduk yang hidup dari kegiatan-
kegiatan ekonomi skala kecil adalah penduduk pribumi,
mereka hidup dari kegiatan pertanian kecil, pertukangan
kecil, perdagangan kecil dan kegiatan lain yang serba kecil,
pekerja dalam skala kecil seperti kuli, pegawai kecil.3
Sesuai dengan perjalanan waktu dan perkembangan ekonomi
keadaan demikian sudah tidak sesuai lagi, setelah Indonesia
merdeka perlu adanya pembaruan dan penyesuaian norma-norma,
kaidah-kaidah dan peraturan perundang-undangan yang dapat
memenuhi tuntutan zaman, pertumbuhan dan perkembangan

2
Sunarmi,Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan di Indonesia, Edisi 2,
Softmedia, Jakarta, 2010, hlm. 6-7.
3
Sirtua Arif dalam Sunarmi,Ibid. hlm.39

2 Hukum Kepailitan di Indonesia


ekonomi yang semakin pesat dan berkembang, kegiatan ekonomi
tidak hanya bersifat sederhana, lokal dan nasional, kegiatan
ekonomi telah melibatkan perusahaan besar (Holding Compay)
dengan skala kegiatan internasional, sehingga timbul desakan dari
masyarakat bisnis internasional termasuk lembaga-lembaga
internasional untuk melakukan perubahan dan pembaruan di
bidang hukum ekonomi.4
William E Holder menyebutkan : With the technical
assistence of the IMF legal departement, The Indonesian
governement undertook an intensive review of the law, with a view
to its modernisation. Several import features were immediately
apparent, first Indonesias’s bankruptcy legislation, promulgated as
an ordinance in 1906 along the lines of the Dutch model, had
essentially been left on the shelf.5
Keadaan demikian yang mendorong dan melatar belakangi
agar kegiatan legislasi hukum di bidang ekonomi khususnya
pembaruan Fv perlu dan sangat mendesak untuk dilakukan,
Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(selanjutnya disebut Perpu) Nomor 1 Tahun 1998, dengan tujuan
akan membantu mengatasi keadaan ekonomi yang tidak
menguntungkan dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada
Fv. Perpu nomor 1 Tahun 1998 tersebut kemudian disahkan
menjadi UU Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Membayar Utang, pembaruan tersebut
meliputi :
a. Penyempurnaan tentang syarat-syarat dan prosedur
pengajuan permohonan kepailitan termasuk didalamnya
pemberlakuan kerangka waktu penyelesaian dan
penjatuhan putusan terhadap permohonan pailit tersebut.
b. Penyempurnaan tentang ketentuan yang berkaitan dengan
tindakan sementara yang diambil pihak-pihak yang
berkaitan dengan kepailitan khusus tindakan terhadap
harta kekayaan Debitor termohon pailit sebelum adanya
putusan tentang pernyataan pailit.
4
Sunarmi,Ibid. hlm. 7
5
Sunarmi, Ibid. hlm. 9

Hukum Kepailitan di Indonesia 3


c. Peneguhan fungsi kurator dan penyempurnaan yang
memungkinkan berfungsinya pemberian jasa-jasa tersebut
di samping institusi yang selama ini dikenal, ketentuan
tersebut antara lain mengatur tentang syarat-syarat untuk
menjadi kurator dan kewenangannya.
d. Pengaturan upaya hukum yang dapat diambil terhadap
putusan pernyataan pailit yang dijatuhkan pengadilan
dengan mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah
Agung untuk mempersingkat waktu.
e. Pengamanan kepentingan berbagai pihak yang terkait
dengan kepailitan termasuk didalamnya penangguhan
pelaksanaan baik terhadap kreditor pemegang hak
tanggungan, gadai atau hak lainnya, juga pengaturan
terhadap status hukum atas perikatan-perikatan tertentu
yang telah dibuat Debitor sebelum adanya kepailitan.
f. Penyempurnaan terhadap ketentuan Penundaan kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU).
g. Penegasan untuk membentuk peradilan yang khusus
memeriksa dan mengadili kasus-kasus kepailitan termasuk
didalamnya tentang hakim-hakim yang bertugas secara
khusus.6
Pemberlakuan UU Nomor 4 Tahun 1998 dirasakan masih
belum memadai, Hikmahanto Juwana berpendapat bahwa hukum
kepailitan sangat dominan melindungi kepentingan kreditor, hal
tersebut dapat dilihat dari persyaratan untuk dinyatakan pailit
yaitu adanya dua utang atau lebih, dan salah satunya telah jatuh
tempo dan anehnya tidak satupun pasal yang mensyaratkan bahwa
Debitor harus dalam keadaan tidak lagi mampu membayar
(insolvent), keadaan ini bertentangan dengan filosofi universal dari
kepailitan yaitu kepailitan terhadap Debitor dapat dikabulkan
apabila Debitor sudah berada dalam keadaan tidak lagi mampu
membayar utangnya.7 Ditegaskan bahwa deregulasi terhadap
instrumen yang parsial hanya menyembuhkan sementara berbagai
persoalan ekonomi yang ada.

6
Sunarmi,Ibid. hlm. 9
7
Sunarmi,Ibid, hlm.10

4 Hukum Kepailitan di Indonesia


UU Nomor 4 Tahun 1998 dinilai tidak mampu mengatasi
kemacetan upaya-upaya penyelesaian utang perusahaan,
pengadilan hanya digunakan untuk menghindari kewajiban
membayar utang, Muladi Menteri Kehakiman saat itu
menyebutkan bahwa UU Kepailitan bukan sebagai sarana untuk
Write-off (penghapusan) utang luar negeri swasta nasional justru
untuk menyelamatkan dunia bisnis agar dapat melanjutkan
usahanya.8 Penggunaan hukum kepailitan merupakan upaya
hukum yang terakhir yang dapat dilakukan apabila langkah-
langkah sebelumnya gagal dilakukan yaitu langkah perdamaian,
langkah restrukturisasi.
Erman Radjaguguk, menyatakan bahwa pembaruan hukum
mencakup pembaruan perundang-undangan, pembaruan aparatur
hukum, pembaruan budaya hukum yang mendorong terciptanya
supremasi hukum. Pembaruan Aparat Hukum harus diartikan
aparatur yang paham hukum, mengerti kelebihan dan kekurangan
produk hukum dan menyikapinya secara kritis setiap
penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan hukum dilapangan.
9

Penyempurnaan dari UU Nomor 4 tahun 1998 tersebut


diundangkan UU Nomor 37 Tahun 2004 yang tidak banyak
memberi perubahan terhadap sistem hukum kepailitan Indonesia,
Politik hukum dari hukum kepailitan Indonesia masih melindungi
kepentingan investor asing di Indonesia dan terlalu berpihak
kepada kreditor pemegang hak separatis yang pada umumnya
dimiliki oleh Lembaga Perbankan sebagai kreditor dalam
kepailitan.
Pernyataan yang dikemukakan oleh Muladi Menteri
Kehakiman saat itu sangat bertentangan dengan keadaan hukum
kepailitan saat ini, mudahnya persyaratan untuk mengajukan
permohonan pailit sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU
Kepailitan dan penegasan pada Pasal 8 Ayat (4) bahwa
Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat
fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa

8
Sunarmi,Ibid. hlm.11
9
Sunarmi,Ibid.

Hukum Kepailitan di Indonesia 5


persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud Pasal
2 ayat (1) telah terpenuhi.
Keadaan demikian jika dihubungkan dengan Pasal 142 Ayat (1)
huruf e UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas
(Selanjutnya disebut UU Perseroan) yang menyatakan bahwa
Pembubaran Perseroan terjadi karena harta pailit perseroan yang
telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi
sebagaimana diatur dalam UU Kepailitan. Pasal 152 Ayat (2) UU
Kepailitan menegaskan bahwa kurator bertanggung jawab kepada
Hakim Pengawas atas likuidasi perseroan yang dilakukan.
Persyarat yang begitu mudah untuk mengajukan
permohonan pernyataan pailit dan penegasan tentang
pembubaran perseroan sebagaimana tersebut diatas
menggambarkan bahwa hukum kepailitan tidak melindungi
kepentingan perseroan sebagai termohon pailit dan tidak
mensyaratkan kedaan insolvensi terhadap termohon pailit akan
mengakibatkan banyaknya perseroan dipailitkan dengan keadaan
hukum kepailitan di Indonesia dewasa ini.

2. Sejarah Kepailitan
Pailit dimasa Hindia Belanda tidak dimasukkan kedalam
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (W.v.K) dan diatur dalam
peraturan sendiri kedalam Faillisements Verordening, sejak tahun
1906yang dulu diperuntukkan untuk pedagang saja, tapi kemudian
dapat digunakan untuk golongan mana saja.10
Sejarah berlakunya Peraturan Kepailitan di Indonesia
menurut Rahayu Hartini, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) masa yaitu :
a. Sebelum berlakunya Faillisements Verordening
Sebelum Faillisements Verordening berlaku, dulu Hukum
Kepailitan itu diatur dalam dua Peraturan Kepailitan yaitu dalam:
1) Wet Book Van Kophandel atau W.v.k buku ketiga yang
berjudul “Van de Voorzieningen in gevel van onvormogen
van kooplieden” atau peraturan tentang ketidakmampuan

10
Abdul R, Saliman, dkk, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, Prenada Media, Jakarta, 2004,
hlm. 92

6 Hukum Kepailitan di Indonesia


pedagang. Peraturan ini adalah peraturan kepailitan bagi
pedagang.
2) Reglement Op de Recthvoordeting (R.V) buku ketiga bab
ketujuh dengan judul “van den staat von kenneljkonvermoge”
atau tentang keadaan nyata-nyata tidak mampu.
Peraturan diatas adalah Peraturan Kepailitan bagi orang-
orang bukan pedagang. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, kedua
aturan tersebut justru menimbulkan banyak kesulitan antara lain:
a) Banyaknya formalitas sehingga sulit dalam
pelaksanaannya
b) Biaya tinggi
c) Pengaruh kreditor terlalu sedikit terhadap jalannya
kepailitan
d) Perlu waktu yang cukup lama
Oleh karna itu dibuatlah aturan baru yang sederhana dan
tidak banyak biaya, maka lahirlah Faillisements Verordening (Stb.
1905-217) untuk menggantikan dua Peraturan Kepailitan tersebut.
b. Masa berlakunya Faillisements Verordening (Stb. 1905 No.
217 jo Stb. 1906 No.348)
Peraturan Kepailitan ini sebenarnya hanya berlaku untuk
golongan Eropa, golongan Cina dan golongan Timur Asing (Stb.
1924-556). Bagi golongan Indonesia asli dapat saja menggunakan
Faillisements Verordening ini dengan cara penundukkan diri dan
berlaku bagi semua orang yaitu baik bagi pedagang maupun bukan
pedagang, baik perseorangan maupun badan hukum.
Sejarah Peraturan Kepailitan di Indonesia ini adalah sejalan
dengan apa yang terjadi di Negara Belanda dengan melalui Asas
Konkordansi (Pasal 131 IS), yakni dimulai dengan berlakunya “Code
de Commerce” (tahun 1811-1838) kemudian pada tahun 1893 diganti
dengan Faillisementswet 1893 yang belaku pada 1 September 1896.
c. Masa berlakunya Undang-Undang Kepailitan Produk
Hukum Nasional
Peraturan perundangan yang merupakan produk hukum
nasional yang berkaitan tentang Peraturan Kepailitan diawali dari
terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(PERPU) No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-

Hukum Kepailitan di Indonesia 7


Undang No.4 Tahun 1998 dan terakhir pada tanggal 18 November
2004 disempurnakan lagi dengan Undang-Undang No. 37 Tahun
2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang.11
Undang-Undang Kepailitan Nomor 4 Tahun 1998 yang telah
direvisi menjadi Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
mempunyai beberapa pokok materi baru dari Undang-Undang
Kepailitan yang lama, yaitu:
a. Agar tidak menimbulkan berbagai penafsiran dalam
Undang-undang ini pengertian utang diberikan batasan
secara tegas, demikian juga pengertian jatuh waktu atau
jatuh tempo.
b. Mengenai syarat-syarat dan prosedur pernyataan pailit
dan permohonan penundaan kewajiban pembayaran
utang termasuk didalamnya kerangka waktu secara pasti
bagi pengambilan putusan pernyataan pailit dan/atau
penundaan kewajiban pembayaran utang.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa
kepailitan sudah mulai ada sejak zaman hindia belanda berupa
peraturan kepailitan, namun hanya berlaku pada kalangan
bangsawan saja. Sejarah kepailitan baru ada di Indonesia dimulai
dari terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(PERPU) No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-
Undang No.4 Tahun 1998 dan terakhir pada tanggal 18 November
2004 disempurnakan lagi dengan Undang-Undang No. 37 Tahun
2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang.

3. Dasar Hukum Kepailitan


Indonesia sudah lama mempunyai Undang-undang
Kepailitan atau Faillissements-Verordening Staatsblad 1905 Nomor
217 juncto Staatsblad 1906 Nomor 348. Namun tidak berjalan
sebagaimana mestinya.

11
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, UMM Press Edisi Revisi Cetakan II, Jakarta, 2004,
hlm.9

8 Hukum Kepailitan di Indonesia


Seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia
yang semakin pesat dan makin banyak perusahaan yang
bermasalah keuangannya sehingga tidak bisa membayar
hutangnya. Keadaan ini semakin sulit karena adanya krisis
moneter Indonesia yang sudah bersifat multidimensi. Akibatnya
diperkirakan 200.000 perusahaan di Indonesia akan pailit. 12
Disamping itu ada tekanan dari beberapa negara maju yang
tergabung dalam IMF (International Monetary Fund) agar
pemerintah Indonesia segera menyelesaikan masalah ini termasuk
penyusunan Undang-undang Kepailitan yang baru.13
Penulis tidak sependapat dengan pernyataan Jerry Hoff,
karena penulis berpendapat bahwa penyusunan Undang-undang
Kepailitan diminta oleh IMF cenderung untuk memudahkan
pailitnya perusahaan swasta Indonesia yang mempunyai prospek
yang baik dan cenderung untuk melindungi kreditor asing.
Penyusunan Undang-undang Kepailitan yang baru
berdasarkan dan bersumberkan Undang-undang Kepailitan yang
lama yang masih berlaku yaitu Faillissements Verordening Stad
1905 No.217 jo Stb.1906 No.348. Hal-hal yang belum diatur dan
tidak bertentangan dengan undang-undang, dinyatakan masih
tetap berlaku yaitu F.V.
Undang-undang kepailitan ini, tidak mampu lagi memenuhi
tuntutan pelaku ekonomi/kalangan bisnis, sehingga disusun
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.1 Tahun 1998
Tentang Perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan yang
kemudian ditetapkan menjadi Undang-undang No.1 Tahun 1998
tentang Kepailitan. Undang-undang ini diharapkan dapat
mengantisipasi perkembangan global, dan diharapkan dapat
menyelesaikan masalah kepailitan sebagai akibat dari krisis
moneter di Indonesia.
Untuk memberikan kesempatan kepada Debitor dan
Kreditor mengupayakan penyelesaian yang adil, cepat, terbuka,

12
Fred B.G. Tumbuan, “Seminar Pendidikan Kurator” yang diadakan oleh Asosiasi
Kurator & Pengurus Indonesia (AKPI) dengan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) di Jakarta,
25 Oktober – 5 Nopember 1999.
13
Hal ini dibantah oleh Jerry Hoff pada Seminar Pendidikan Kurator di Jakarta, 25
Oktober 1999. Dia menyatakan bahwa IMF tidak pernah meminta itu.

Hukum Kepailitan di Indonesia 9


dan efektif mengenai utang-piutang mereka, maka Pemerintah
Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Tentang Kepailitan, tanggal 22 April 1998,
selanjutnya disebut Perpu Kepailitan. Perpu ini kemudian telah
disetujui menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998, tanggal 9
September 1998, selanjutnya disebut Undang-undang Kepailitan.
Penyelesaian masalah utang-piutang berdasarkan Undang-
undang Kepailitan tersebut ditempuh melalui pengadilan niaga
yang berada di lingkungan Peradilan Umum. Pengadilan
Niaga(Commercial court) berwenang mengadili perkara
permohonan pailit (bankruptcy petition) dan perkara penundaan
pembayaran utang (suspension of payment petition).
Pengadilan niaga yang pertama dibentuk berdasarkan Pasal
281 ayat (1) Undang-undang Kepailitan adalah Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 1999, tanggal 18 Agustus 1999,
dibentuk pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang,
Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Negeri Surabaya, dan
Pengadilan Negeri Semarang.
Setelah Pengadilan Niaga dibentuk, Ketua Mahkamah Agung
Republik Indonesia mengangkat Hakim Niaga dari kalangan Hakim
Peradilan Umum yang telah mengikuti pelatihan khusus dan telah
lulus seleksi, untuk menyelesaikan masalah utang-piutang sesuai
dengan aturan main yang dimuat dalam Undang-undang Nomor 4
Tahun 1998 tentang Kepailitan. Karena belum dapat mengikuti
perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat, lalu diganti
dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Kepailitan suatu perusahaan biasanya disebabkan karena
kredit yang dipinjam tidak dapat dikembalikan atau dibayar,
kendatipun seluruh aset dari perusahaan tersebut dijual.
Pemberian kredit oleh Kreditor kepada Debitor dilakukan
karena Kreditor percaya bahwa Debitor akan mengembalikan
pinjamannya tepat pada waktunya. Dengan demikian faktor
pertama yang menjadi pertimbangan bagi Kreditor adalah

10 Hukum Kepailitan di Indonesia


kemauan baik dari Debitor untuk mengembalikan utangnya. Tanpa
adanya kepercayaan (trust) dari Kreditor kepada Debitor, maka
niscaya lah Kreditor tidak akan memberikan kredit atau pinjaman
kepada Debitor. Karena itulah, maka pinjaman dari seorang
Kreditor kepada seorang Debitor disebut kredit (credit) yang
berasal dari kata credere yang berarti kepercayaan atau trust.
Untuk memantapkan keyakinan Kreditor bahwa Debitor
akan secara nyata mengembalikan pinjaman setelah jangka waktu
pinjaman sampai, maka hukum kepailitan memberlakukan
beberapa asas. Asas yang pertama menentukan bahwa apabila
Debitor ternyata karena suatu alasan tertentu pada waktunya
tidak melunasi utangnya kepada Kreditor, maka harta kekayaan
Debitor, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian
hari, menjadi agunan utangnya yang dapat dijual untuk menjadi
sumber pelunasan dari utang itu. Asas ini di dalam KUHPerdata
dituangkan dalam Pasal 1131 KUHPerdata.:
“Segala harta kekayaan Debitor, baik yang bergerak maupun
yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan
ada di kemudian hari, menjadi jaminan untuk segala perikatan
Debitor.”
Pasal 1131 KUHPerdata tersebut menentukan bahwa harta
kekayaan Debitor, bukan hanya untuk menjamin kewajiban
melunasi utang kepada Kreditor yang diperoleh dari perjanjian
utang-piutang di antara Debitor dan Kreditor, tetapi juga untuk
menjamin segala kewajiban yang timbul dari perikatan Debitor.
Menurut Pasal 1131 KUHPerdata, suatu perikatan (antara Debitor
dan Kreditor) timbul atau lahir karena adanya perjanjian di antara
Debitor dan Kreditor, maupun timbul atau lahir karena ketentuan
undang-undang. Menurut Pasal 1234 KUHPerdata, wujud perikatan
adalah “untuk memberikan sesuatu”, “untuk berbuat sesuatu”, atau
“untuk tidak berbuat sesuatu”. Dalam istilah hukum perdata,
perikatan dalam wujudnya yang demikian itu disebut pula dengan
istilah “prestasi”. Pihak yang tidak melaksanakan prestasinya
disebut telah melakukan “wanprestasi”. Apabila perikatan itu
timbul karena ditentukan di dalam perjanjian yang dibuat di antara
Debitor dan Kreditor, maka pihak yang tidak melaksanakan

Hukum Kepailitan di Indonesia 11


prestasinya disebut melakukan “cedera janji” atau “ingkar janji”,
atau dalam bahasa Inggris disebut “default”. Pasal 1131 KUHPerdata
tidak hanya menentukan bahwa harta kekayaan seseorang Debitor
demi hukum menjadi agunan bagi kewajiban untuk membayar
utang-utangnya kepada Kreditor yang mengutanginya
(berdasarkan perjanjian kredit atau perjanjian pinjam-meminjam
uang), tetapi juga menjadi agunan bagi semua kewajiban lain yang
timbul karena perikatan-perikatan lain, baik perikatan itu timbul
karena undang-undang, maupun karena perjanjian selain
perjanjian kredit atau perjanjian pinjam-meminjam uang. Pasal 1131
KUHPerdata ini mempunyai aspek filosofis secara moral bahwa
seseorang bertanggungjawab atas semua perikatan yang
dibuatnya.
Seseorang atau badan hukum dapat terikat bukan hanya
dengan satu Kreditor saja, tetapi dapat pula pada waktu yang
bersamaan terikat dengan beberapa Kreditor. Oleh karena Pasal
1131 KUHPerdata menentukan bahwa semua harta kekayaan (asset)
Debitor menjadi agunan bagi pelaksanaan kewajiban Debitor,
bukan kepada Kreditor tertentu saja, tetapi kepada semua Kreditor
lainnya, maka perlu ada aturan main yang mengatur bagaimana
cara membagi aset Debitor itu kepada para Kreditornya apabila
aset itu dijual karena Debitor tidak membayar utang-utang kepada
para Kreditornya. Aturan main itu ditentukan oleh Pasal 1132
KUHPerdata. Ini merupakan asas kedua yang menyangkut jaminan.
“Harta kekayaan Debitor menjadi agunan bersama-sama bagi
semua Kreditornya: hasil penjualan harta kekayaan itu dibagi-bagi
menurut keseimbangan, yaitu menurut perbandingan besar-
kecilnya tagihan masing-masing Kreditor, kecuali apabila di antara
para Kreditor itu terdapat alasan yang sah untuk didahulukan
daripada Kreditor lainnya.”
Pasal 1132 KUHPerdata ini mengisyaratkan bahwa setiap
Kreditor memiliki kedudukan yang sama terhadap Kreditor
lainnya, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang, karena
memiliki alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.
Adanya kalimat pada Pasal 1132 KUHPerdata yang berbunyi
“kecuali apabila di antara para Kreditor itu terdapat alasan yang

12 Hukum Kepailitan di Indonesia


sah untuk didahulukan daripada Kreditor lainnya”, maka terdapat
Kreditor-Kreditor tertentu yang oleh undang-undang diberi
kedudukan hukum lebih tinggi daripada Kreditor lainnya. Dalam
hukum, Kreditor-Kreditor tertentu yang didahulukan daripada
Kreditor-Kreditor lainnya itu disebut Kreditor-Kreditor preferen
atau secured creditors, sedangkan Kreditor-Kreditor lainnya itu
disebut Kreditor-Kreditor konkuren atau insecured creditors.
Seorang Kreditor dapat diberikan kedudukan untuk didahulukan
terhadap para Kreditor lain apabila tagihan Kreditor yang
bersangkutan merupakan: tagihan yang berupa hak istimewa;
tagihan yang dijamin dengan hak tanggungan; tagihan yang
dijamin dengan hak gadai; tagihan yang dijamin dengan jaminan
fidusia; tagihan yang dijamin dengan hipotek.
Pasal 1133 KUHPerdata: “Hak untuk didahulukan di antara
para Kreditor timbul dari hak istimewa, gadai dan hipotek. Perihal
gadai dan hipotek diatur dalam bab keduapuluh dan keduapuluh
satu buku ini.” Setelah berlakunya Undang-undang Nomor 4
Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dan Undang-undang Nomor
42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, maka selain Kreditor yang
memiliki tagihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1133
KUHPerdata, juga Kreditor-Kreditor yang memiliki tagihan yang
dijamin dengan Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia memiliki
pula kedudukan yang harus didahulukan terhadap Kreditor-
Kreditor konkuren.
Dengan telah diaturnya oleh undang-undang tingkat
prioritas dan urutan pelunasan masing-masing piutang para
Kreditor sebagaimana telah diatur pada KUHPerdata, belumlah
cukup. Selain perlu ada ketentuan mengenai tingkat prioritas dan
urutan pelunasan masing-masing piutang sebagaimana diatur di
pada KUHPerdata itu, perlu ada pula undang-undang lain yang
mengatur mengenai bagaimana cara membagi hasil penjualan
harta kekayaan Debitor untuk melunasi piutang masing-masing
Kreditor berdasarkan urutan tingkat prioritasnya itu. Cara
pembagian itulah yang diatur dengan Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang.

Hukum Kepailitan di Indonesia 13


Sebelum harta kekayaan Debitor dibenarkan oleh hukum
untuk dijual dan kemudian dibagi-bagikan hasil penjualan tersebut
kepada para kreditornya, terlebih dahulu harta kekayaan Debitor
itu demi hukum berada di dalam sitaan umum (tanpa perlu
dilakukan penyitaan oleh pengadilan).
Bila harta kekayaan Debitor tidak diletakkan sitaan umum
sebelum dijual, maka akan terjadi para Kreditor akan dahulu-
mendahului memperoleh pelunasan dari harta kekayaan Debitor
dengan menguasai dan menjual harta kekayaan Debitor yang
berhasil dikuasainya. Agar harta kekayaan Debitor secara hukum
dapat diletakkan sitaam umum, maka terlebih dahulu Debitor
dinyatakan pailit oleh pengadilan, dan sejak pernyataan pailit
diucapkan, demi hukum harta pailit berada dalam sitaan umum.
Dalam Undang-undang kepailitan juga diatur mengenai
bagaimana caranya menentukan kebenaran mengenai adanya
(eksistensi) suatu piutang (tagihan) seorang Kreditor, mengenai
sahnya piutang tersebut, dan mengenai jumlah yang pasti dari
piutang. Dengan kata lain bagaimana cara melakukan pencocokan
atau verifikasi piutang para Kreditor.
Undang-undang Kepailitan juga mengatur mengenai upaya
perdamaian yang dapat ditempuh oleh Debitor dengan para
kreditornya, baik sebelum Debitor dinyatakan pailit oleh
pengadilan, atau setelah Debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Sebelum Debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan, Debitor dapat
mengajukan Rencana Perdamaian (composition plan) kepada para
Kreditor yang intinya memuat cara Debitor membayar utang-
utangnya kepada Kreditor. Rencana perdamaian tersebut sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari permohonan penundaan
kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang diajukan oleh Debitor
sebagai tangkisan (counter) terhadap permohonan pailit. Terhadap
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, sepanjang
seluruh syaratnya terpenuhi, pengadilan wajib mengabulkan dan
memberikan waktu Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Sementara 45 hari dan dapat diperpanjang dengan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang Tetap paling lama 270 hari termasuk
45 hari.

14 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pasal 228 ayat (6): Apabila penundaan kewajiban pembayaran
utang tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disetujui,
penundaan tersebut berikut perpanjangannya tidak boleh melebihi
270 (dua ratur tujuh puluh) hari setelah putusan penundaan
kewajiban pembayaran utang sementara diucapkan.
Dalam hal permohonan pailit di counter dengan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka
status dari permohonan pailit dipending sampai dengan perkara
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang selesai, yaitu setelah
Rencana Perdamaian diterima atau ditolak oleh Kreditor. Jika
Rencana Perdamaian diterima, maka Debitor tidak jadi pailit,
sebaliknya, jika perdamaian ditolak, maka Debitor dinyatakan
pailit, Rencana Perdamaian yang diterima harus disahkan oleh
Pengadilan Niaga.
Di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas, diatur pula beberapa ketentuan mengenai
kepailitan. Pasal dalam undang-undang ini yang berbicara
mengenai kepailitan adalah Pasal 90. Pasal 90 ayat (1) undang-
undang tersebut menentukan bahwa Direksi hanya dapat
mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri agar perusahaan
Debitor dinyatakan pailit berdasarkan keputusan rapat umum
pemegang saham (RUPS). Yang dimaksud dengan “Pengadilan
Negeri” di sini adalah Pengadilan Niaga. Karena pada saat Undang-
undang ini diundangkan, Pengadilan Niaga belum terbentuk.
Selanjutnya di dalam Pasal 90 ayat (2) ditentukan bahwa dalam hal
kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi dan
kekayaan perusahaan Debitor tidak cukup untuk menutup
kerugian akibat kepailitan tersebut, maka setiap anggota direksi
secara tanggung renteng bertanggungjawab atas kerugian itu.
Tanggung renteng atau tanggung menanggung artinya bahwa para
anggota direksi secara bersama-sama menanggung kerugian
sebagai akibat kepailitan tersebut.
Apabila salah satu direksi telah menanggung atau membayar
kerugian tersebut, maka direksi yang lain lepas atau bebas dari
kewajibannya. Menurut Pasal 90 ayat (3), anggota direksi yang
dapat membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau

Hukum Kepailitan di Indonesia 15


kelalaiannya, tidak bertanggungjawab secara tanggung renteng
atas kerugian tersebut.

4. Pengertian Kepailitan dan PKPU


Istilah “Pailit” berasal dari kata Belanda “Failliet”. Kata Failliet
berasal dari kata Perancis “Failite” yang artinya mogok atau
berhenti membayar. Orang yang mogok atau berhenti membayar
dalam bahasa Perancis disebut “Le Failli”. Kata kerja Faillir yang
berarti gagal. Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata “To Fail”
yang artinya juga gagal. Di Negara yang menggunakan bahasa
Inggris untuk pengertian Pailit menggunakan istilah Bankruptdan
untuk Kepailitan menggunakan istilah Bankruptcy. Dalam bahasa
Indonesia menggunakan istilah Pailit dan Kepailitan.
Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak
mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap
utang-utang dari para kreditornya. Keadaan tidak mampu
membayar lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan
(financial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami
kemunduran. Sedangkan kepailitan merupakan putusan
pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas seluruh kekayaan
debitor pailit, baik yang telah ada maupun yang akan ada di
kemudian hari. Pengurusan dan pemberesan kepailitan dilakukan
oleh Kurator di bawah pengawasan hakim pengawas dengan
tujuan utama menggunakan hasil penjualan harta kekayaan
tersebut untuk membayar seluruh utang debitor pailit tersebut
secara proporsional (prorate parte) dan sesuai dengan struktur
kreditor.14
Terminologi kepailitan sering dipahami secara tidak tepat
oleh kalangan umum. Sebagian dari mereka mengganggap
kepailitan sebagai vonis yang berbau tindakan criminal serta
merupakan suatu cacat hukum atas subjek hukum karena itu
kepailitan harus dijauhkan serta dihindari sebisa mungkin.
Kepailitan secara apriori dianggap sebagai kegagalan yang
disebabkan karena kesalahan dari debitor dalam menjalankan
14
Kartini Mulyadi, Kepailitan dan penyelesaian utang piutang, Alumni, Bandung, 2004,
hlm 168

16 Hukum Kepailitan di Indonesia


usahanya sehingga menyebabkan utang tidak mampu dibayar.
Oleh karena itu, kepailitan sering diindentikan sebagai
pengemplangan utang atau penggelapan terhadap hak hak yang
seharusnya dibayarkan kepada kreditor. Kartono menyatakan,
bahwa kepailitan memang tidak merendahkan martabatnya
sebagai manusia tetapi apabila ia berusaha untuk memperoleh
kredit, disanalah baru terasa baginya apa artinya sudah pernah
dinyatakan pailit. Dengan perkataan lain, kepalitan mempengaruhi
“credietwaardigheid”-nya dalam arti yang merugikannya, ia tidak
akan mudah mendapatkan kredit15.
Kepailitan merupakan suatu jalan keluar yang bersifat
komersial untuk keluar dari persoalan utang piutang yang
menghimpit seorang debitor, dimana debitor tersebut sudah tidak
mempunyai kemampuan lagi untuk membayar utang utang
tersebut kepada kreditornya. Sehingga apabila keadaan
ketidakmampuan untuk membayar kewajiban yang telah jatuh
tempo tersebut disadari oleh debitor maka langkah untuk
mengajukan permohonan penetapan status pailit terhadap dirinya
menjadi suatu langkah yang memungkinkan atau penetapan status
pailit oleh pengadilan terhadap debitor tersebut bila kemudian
ditemukan bukti bahwa debitor tersebut memang telah tidak
mampu lagi membayar utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat
ditagih (involuntary petition for bankruptcy)16.
Kepailitan merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari prinsip
paritas creditorium dan prinsip pari passu prorata parte dalam
rezim hukum harta kekayaan. Prinsip paritas creditorium berarti
bahwa semua kekayaan debitor baik yang berupa barang bergerak
ataupun barang tidak bergerak maupun harta yang sekarang telah
dipunyai debitor dan barang-barang di kemudian hari akan dimiliki
debitor terikat kepada penyelesaian kewajiban debitor. Sedangkan
prinsip pari passu prorata parte berarti bahwa harta kekayaan
tersebut merupakan jaminan bersama untuk para kreditor dan

15
Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran, Pradnya Paramita, Jakarta, 1999,
hlm 42.
16
Ricardo Simanjuntak, Esesnsi Pembuktian Sederhana dalam Kepailitan, Pusat
pengkajian hukum, Jakarta, 2008, hlm 55.

Hukum Kepailitan di Indonesia 17


hasilnya harus dibagikan secara proporsional antara mereka,
kecuali apabila para kreditor itu ada yang menurut Undang-
Undang harus didahulukan dalam menerima pembayaran
tagihannya17.
Dalam hal seorang debitor hanya mempunyai satu kreditor
dan debitor tidak membayar utangnya secara sukarela maupun
debitor tidak mempunyai kemampuan untuk membayar utang
tersebut maka kreditor akan menggugat debitor secara perdata ke
pengadilan negeri yang berwenang dan seluruh harta debitor
menjadi sumber pelunasan utangnya kepada kreditor tersebut.
hasil bersih eksekusi harta debitor dipakai untuk membayar
kreditor tersebut.
Dalam hal debitor mempunyai banyak kreditor dan harta
kekayaan debitor tidak cukup untuk membayar lunas semua
kreditor, maka para kreditor akan berlomba dengan segala cara
baik yang sesuai dengan prosedur hukum maupun yang tidak
sesuai dengan prosedur hukum untuk mendapatkan pelunasan
tagihannya terlebih dahulu. Kreditor yang datang belakangan
sudah tidak dapat lagi pembayaran karena harta debitor sudah
habis diambil oleh kreditor yang lebih dahulu. Hal ini sangat tidak
adil dan merugikan baik kreditor maupun debitor sendiri.
Berdasarkan alasan tersebut, timbullah lembaga kepailitan yang
mengatur tata cara yang adil mengenai pembayaran tagihan-
tagihan para kreditor.
PeterJ.M. Declercq menekankan bahwa kepailitan lebih
ditujukan kepada debitor yang tidak membayar utang utangnya
kepada para kreditornya. Tidak membayar nya debitor tersebut
tidak perlu diklasifiasikan bahwa apakah ia benar-benar tidak
mampu melakukan pembayaran utangnya tersebut ataukah karena
ia tidak mau membayar kendatipun ia memiliki kemampuan untuk
itu.
Prinsip paritas creditorium dianut di dalam sistem hukum
perdata di Indonesia. Hal ini termuat dalam Pasal 1131 KUHPerdata
yang menyatakan bahwa segala kebendaan si berutang, baik yang

17
Kartini Mulyadi, Kepailitan dan Penyelesaian Utang Piutang, Alumni, Bandung,
2004,hlm 168.

18 Hukum Kepailitan di Indonesia


bergerak maupun yang tidak bergerak baik yang sudah ada
maupun yang baru aka ada dikemudian hari menjadi tanggungan
untuk segala perikatannya perseorangan. Sedangkan prinsip pari
passu prorata parte termuat dalam Pasal 1132 KUHPerdata yang
menyatakan bahwa kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama
sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya, pendapatan
penjualan benda benda itu dibagi bagi menurut keseimbangannya
yaitu menurut besar kecilnya piutang masing masing, kecuali
apabila di antara para berpiutang itu ada alasan alasan yang sah
untuk didahulukan. Dengan demikian maka kepailitan adalah
pelaksanaan lebih lanjut dari ketentuan yang ada dalam Pasal 1131
dan 1132 KUHPerdata.
Menurut Kartini Mulyadi, bahwa rumuan dalam Pasal 1131
KUHPerdata menunjukkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan
seseorang dalam lapangan harta kekayaan selalu akan membawa
akibat terhadap harta kekayaannya baik yang bersifat menambah
jumlah harta kekayaannya, maupun yang nantinya akan
mengurangi jumlah harta kekayaannya. Demikianlah harta
kekayaan setiap orang akan selalu berada dalam keadaan yang
dinamis dan selalu berubah ubah dari waktu ke waktu. Setiap
perjanjian dibuat maupun perikatan yang terjadi dapat
mengakibatkan harta kekayaan seseorang bertambah atau
berkurang.18
Sedangkan jika ternyata dalam hubungan hukum harta
kekayaan tersebut, seseorang memiliki lebih dari satu kewajiban
yang harus dipenuhi terhadap lebih dari satu kewajiban yang harus
dipenuhi terhadap lebih dari satu orang yang berhak atas
pemenuhan kewajiban tersebut, maka Pasal 1132 KUHPerdata
menentukan bahwa setiap pihak atau kreditor yang berhak atas
pemenuhan perikatan, haruslah mendapat pemenuhan perikatan
dari harta kekayaan pihak yang berkewajiban tersebut secara pari
passu yakni secara bersama sama memperoleh pelunasan tanpa
ada yang didahulukan, pro rata, yakni proporsional yang dihitung
berdasarkan pada besarnya piutang masing masing dibandingkan

18
Kartini mulyadi, Kreditor Preferens dan Kreditor Separatis Dalam Kepailitan, pusat
pengkajian hukum, Jakarta, 2004, hlm 164.

Hukum Kepailitan di Indonesia 19


terhadap piutang mereka secara keseluruhan terhadap seluruh
harta kekayaan debitor tersebut.19
Pailit menurut Abdul R. Saliman dapat diartikan sebagai
suatu usaha bersama untuk mendapat pembayaran bagi semua
kreditor secara adil dan tertib, agar semua kreditor mendapat
pembayaran menurut imbangan besar kecilnya piutang masing-
masing dengan tidak berebutan.20
Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan
menurut Munir Fuadi disebutkan bahwa yang dimaksudkan
dengan pailit atau bangkrut, antara lain, seseorang yang oleh suatu
pengadilan dinyatakan bankrupt dan yang aktivanya atau
warisannya telah diperuntukkan untuk membayar utang-
utangnya.21
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004, kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor
pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana
diatur dalam undang-undang ini. Sementara itu pailit merupakan
suatu keadaan berhenti membayar dari Debitor terhadap utang-
utangnya kepada para kreditornya, yang umumnya disebabkan
karena Debitor mengalami kesulitan kondisi keuangan (financial
distress) sebagai akibat dari usaha Debitor yang mengalami
kemunduran.22
Menurut Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004, Debitor yang dinyatakan pailit tersebut harus melalui
putusan pengadilan, artinya tidak secara tiba-tiba Debitor atau
kreditor menyatakan pailit. Putusan tentang pailit Debitor itu
menyebabkan terjadinya sita umum atas seluruh kekayaan Debitor
pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas dengan tujuan
utama menggunakan hasil penjualan harta kekayaan

19
Ibid hlm 19
20
Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan: Teori dan Contoh Kasus, Kencana,
Jakarta, 2011, hlm. 133
21
Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktik, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2014, hlm. 8
22
M.Hadi Shubhan, op.cit., hlm 1.

20 Hukum Kepailitan di Indonesia


(boedel)tersebut untuk membayar seluruh utang Debitor pailit
secara proporsional (prorata parte) dan sesuai dengan struktur
atau urutan kreditor. Kekayaan yang dimaksud itu, baik kekayaan
atau harta yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.
Dalam kepustakaan, Algra mendefinisikan kepailitan sebagai
berikut : “Faillissementis een gerechtelijk beslag op het gehele
vermogen van een schuldenaar ten behoeve van zijn gezamenlijke
schuldeiser”.23 (kepailitan adalah suatu sitaan umum terhadap
semua harta kekayaan dari seorang Debitor (si berutang) untuk
melunasi utang-utangnya kepada kreditor (si berpiutang)). Henry
Campbell Black dalam Black’s Law Dictionary menyatakan
Bankrupt is the state or condition of one who is unable to pay his
debts as they are, or become, due.24 (Kepailitan adalah suatu
keadaan dimana seseorang tidak dapat membayar utang-utangnya
yang sudah jatuh tempo). Disamping itu kepailitan digambarkan
oleh Jerry Hoff bahwa :
“Bankruptcy is a general statutory attachment encompass-ing
all the assets of the debtor. The bankruptcy only covers the asets.
The personal status of an individual will not be affected by the
bankruptcy; he is not placed under guardianship. A. company also
continues to exist after he declaration of bankruptcy. During the
bankruptcy proceedings, act with regard to the bankruptcy estate
can only be performed by the receiver, but other acts remain part of
the domain of the debtor’s corporate organs”.25
(Kepailitan menurut undang-undang adalah meliputi seluruh
asetnya Debitor. Kepailitan hanya meliputi asset.
Status individu seseorang tidak akan dipengaruhi oleh
kepailitan, ia tidak ditempatkan dalam pengawasan. Perusahaan
juga tetap eksis setelah dideklarasikan pailit. Selama proses
kepailitan berlangsung, tindakan berkaitan dengan properti
kepailitan hanya dapat dilakukan oleh kurator, akan tetapi untuk

23
Algra, N.E., Inleiding tot Het Nederlands Privaatrecht, Tjeenk Willink, Groningen, 1975,
hlm. 425.
24
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, West Publishing Co., St. Paul
Minnesota, 1979, hlm. 134.
25
Jerry Hoff, Indonesian Bankruptcy Law, Jakarta, Tatanusa, 1999, hlm. 11.

Hukum Kepailitan di Indonesia 21


tindakan-tindakan lain tetap menjadi kekuasaan organ perusahaan
Debitor).
Berdasarkan definisi tentang kepailitn diatas, Victor M.
Simatupang dan Hendri Soekarso menarik kesimpulan mengenai
unsur-unsur kepailitan sebagai berikut :
a. kepailitan dimaksudkan untuk mencegah penyitaan dan
eksekusi yang dimintakan oleh kreditor secara perorangan.
b. kepailitan hanya mengenai harta benda debitor, bukan
pribadinya. Jadi ia tetap cakap untuk melakukan perbuatan
hukum diluar hukum kekayaan. Misalnya, hak yang timbul dari
kedudukannya sebagai orang tua (ayah/ibu)
c. sita dan eksekusi tersebut untuk kepentingan para kreditornya
bersama-sama.26
Dari penjelasan tentang kepailitan diatas menurut Rahayu
Hartini sudah jelas bahwa kepailitan itu merupakan suatu
penyitaan yang dilakukan atas seluruh harta kekayaan yang
dimiliki oleh si debitor sebagai akibat dari pemenuhan utang-
utangnya kepada para kreditor yang telah jatuh tempo waktu
pembayaran. Maka secara sederhana, kepailitan dapat diartikan
sebagai suatu penyitaan semua asset debitor yang telah
dimasukkan kedalam permohonan pailit. Debitor pailit tidak serta
merta kehilangan kemampuannya untuk melakukan tindakan
hukum, akan tetapi kehilangan untuk menguasai dan mengurus
kekayaannya yang dimasukkan didalam kepailitan terhitung sejak
pernyataan kepailitan.27
Berdasarkan uraian tersebut diatas bahwa kepailitan
merupakan suatu keadaan Debitor yang sudah tidak mampu lagi
memenuhi segala utang-utangnya yang telah jatuh waktu kepada
kreditor untuk dilakukan penyitaan semua asetnya guna
terlaksananya pembayaran utang-utang tersebut.
Pengertian kepailitan sering dipahami secara tidak tepat
oleh kalangan umum. Sebagian dari mereka menganggap
kepailitan sebagai vonis yang berbau tindakan kriminal serta

26
Victor M. Simatupang& Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan di Indonesia,
Rineke Cipta, Jakarta, 1994, hlm. 20
27
Hj. Rahayu Hartini, Op. Cit, hlm. 15

22 Hukum Kepailitan di Indonesia


merupakan suatu cacat hukum atas subjek hukum, karena itu
kepailitan harus dijauhkan serta dihindari semaksimal mungkin.
Kepailitan secara apriori dianggap sebagai kegagalan yang
disebabkan karena kesalahan dari Debitor dalam menjalankan
usahanya sehingga menyebabkan Debitor berhenti membayar.28
Oleh karena itu, kepailitan sering diidentikkan sebagai
penggelapan terhadap hak-hak (utang) yang seharusnya
dibayarkan kepada kreditor. Kartono menyatakan, bahwa
kepailitan memang tidak merendahkan martabatnya sebagai
manusia, tetapi apabila ia berusaha untuk memperoleh kredit, di
sanalah baru terasa baginya apa artinya sudah pernah dinyatakan
pailit. Dengan perkataan lain, kepailitan mempengaruhi
“credietwaardigheid” Debitor dalam arti yang merugikannya, ia
tidak akan mudah mendapatkan kredit.29
Kepailitan merupakan suatu solusi yang bersifat komersial
untuk keluar dari persoalan utang piutang yang menghimpit
seorang Debitor, karena Debitor tersebut sudah tidak mempunyai
kemampuan lagi untuk membayar utang-utang tersebut kepada
para kreditornya. Sehingga, bila keadaan tidak mampu untuk
membayar kewajiban yang telah jatuh tempo tersebut disadari
oleh Debitor, maka langkah untuk mengajukan permohonan
penetapan status pailit terhadap dirinya atau mempailitkan dirinya
sendiri (voluntary petition for self bankruptcy) menjadi suatu
langkah yang memungkinkan, atau penetapan status pailit oleh
pengadilan terhadap Debitor tersebut bila kemudian ditemukan
bukti bahwa Debitor tersebut memang telah tidak mampu lagi
membayar utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih
(involuntary petition for bankruptcy).30
Disamping itu, menurut Man S. Sastrawijaya keadaan
berhenti membayar utang itu dapat terjadi karena tidak mampu

28
Man S. Satrawidjaja, Hukum Kepailitan& Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
hlm. 2, “keadaan berhenti membayar” dapat terjadi karena “tidak mampu membayar”
maupun “tidak mau membayar” yang kesemuanya merugikan kreditor.
29
Kartono,Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran, Jakarta, Pradnya Paramita, 1982,
hlm. 42.
30
Ricardo Simanjuntak, “Esensi Pembuktian Sederhana dalam Kepailitan”. Dalam: Emmy
Yuhassarie (ed.), Undang-Undang Kepailitan dan Perkembangannya, Jakarta, Pusat
Pengkajian Hukum, 2005, hlm. 55-56.

Hukum Kepailitan di Indonesia 23


membayar dan atau tidak mau membayar. Kedua keadaan tersebut
sama saja karena menimbulkan kerugian kepada kreditor yang
bersangkutan.31 Kondisi tidak mau membayar lebih kepada itikad
buruk, moral tidak baik dari Debitor, artinya sebenarnya Debitor
masih mempunyai kemampuan, masih memiliki aset-aset untuk
menyelesaikan utang-utangnya, namun karena sesuatu hal Debitor
tersebut tidak memiliki niatan untuk menyelesaikan utangnya.
Lembaga kepailitan ini diharapkan berfungsi sebagai
lembaga alternatif untuk penyelesaian kewajiban-kewajiban
Debitor terhadap kreditor secara lebih efektif, efisien, dan
proporsional. Harold F. Lusk mendeskripsikan tujuan kepailitan
sebagai berikut:
“The purpose of the bankruptcy act is (1) to protect creditors
from one another, (2) to protect creditors from their debtor, and (3)
to protect the honest debtor from his creditors. To accomplish these
objectives, the debtor is required to make full disclosure of all his
property and to surrender it to the trustee. Provisions are made for
examination of the debtor and for punishment of the debtor who
refuses to make an honest disclosure and surrender of his property.
The trustee of the bankcrupt’s estate administers, liquidates, and
distributes the proceeds of the estate to creditors. Provisions are
made for determination of creditors rights, the recovery of
preferensial payments, and the disallowance of preferensial liens
and encumbrances. If the bankcrupt has been honest in his business
transactions and in his bankcruptcy proceedings, he is granted a
discharge”.32
(Tujuan dari kepailitan adalah (1) untuk melindungi kreditor
antara satu dengan lainnya (2) melindungi kreditor dari Debitor (3)
melindungi Debitor yang jujur dari kreditor. Untuk mencapai
tujuan tersebut, Debitor diminta untuk terbuka terhadap semua
propertinya dan menyerahkannya kepada Pengawas. Ketentuan
dibuat untuk pemeriksaan Debitor dan untuk menghukum Debitor
yang menolak keterbukaan secara jujur propertinya dan menolak

31
Man S.Sastrawidjaja, op.cit, hlm. 2
32
Harold F. Lusk, Business Law: Principles and Cases, Richard D. Irwin Inc., Homewood
Illinois, 1986, hlm. 1076-1077.

24 Hukum Kepailitan di Indonesia


untuk menyerahkannya. Pengawas properti kepailitan mengurus,
menjual, meng-uangkan dan membagikan propertinya kepada
kreditor-kreditor. Ketentuan dibuat untuk menentukan hak-hak
kreditor, pengembalian pembayaran yang didahulukan dan
penolakan hak gadai yang diutamakan. Apabila pihak yang pailit
telah berlaku jujur dalam transaksi bisnisnya dan dalam proses
kepailitan, ia dijamin untuk dibebaskan).
Kepailitan merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari prinsip
paritas creditorium dan prinsip pari passu prorata parte dalam
rezim hukum harta kekayaan (vermogensrechts).33 Prinsip paritas
creditorium berarti bahwa semua kekayaan Debitor baik yang
berupa barang bergerak ataupun barang tidak bergerak maupun
harta yang sekarang telah dipunyai Debitor dan barang-barang di
kemudian hari akan dimiliki Debitor terikat kepada penyelesaian
kewajiban Debitor.34 Prinsip pari passu prorata parte berarti
bahwa harta kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama
untuk para kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara
proporsional antara mereka, kecuali apabila antara para kreditor
itu menurut undang-undang harus didahulukan dalam menerima
pembayaran tagihannya.35
Debitor yang hanya memiliki satu kreditor dan Debitor tidak
membayar utangnya baik secara sukarela maupun ketika tidak
mempunyai kemampuan untuk membayar utang tersebut, maka
hukum akan menyediakan kreditor untuk dapat menggugat
Debitor secara perdata melalui pengadilan negeri yang berwenang
sesuai hukum acara perdata yang pada lazimnya diajukan di
tempat tinggal tergugat dan seluruh harta Debitor akan menjadi
sumber pelunasan utangnya kepada kreditor jika utang tersebut
secara hukum dapat dibuktikan bahwa Debitor telah wanprestasi.
Hasil bersih penjualan harta Debitor akan digunakan sebagai
pembayaran utang kepada kreditor. Namun, jika Debitor memiliki

33
Prinsip ini merupakan sebagian dari prinsip hukum umum dan lazim dalam kepailitan
dalam berbagai sistem hukum, infra (foot note), hlm. 28.
34
Kartini Mulyadi, Kepailitan dan Penyelesaian Utang Piutang, dalam : Rudhy A. Lontoh
(et.al.), Penyelesaian Utang Piutang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, Bandung, Alumni, 2001, hlm. 168.
35
Ibid.

Hukum Kepailitan di Indonesia 25


banyak kreditor dan harta kekayaan Debitor tersebut ternyata
tidak cukup untuk membayar lunas semua kreditor, maka para
kreditor akan berlomba dengan segala cara, baik yang sesuai
dengan prosedur hukum (legal) maupun yang tidak sesuai dengan
prosedur hukum (illegal), untuk mendapatkan pelunasan
tagihannya terlebih dahulu. Kreditor yang datang terlambat atau
datang kemudian tidak dapat lagi pembayaran karena harta
Debitor sudah habis diambil oleh kreditor yang lebih dahulu. Hal
ini sangat tidak adil dan merugikan baik kreditor maupun Debitor
sendiri. Berdasarkan alasan tersebut, timbullah pemikiran
dilahirkannya lembaga kepailitan yang mengatur tata cara yang
adil baik bagi Debitor maupun kreditor tentang pembayaran
piutang-piutang para kreditor.
Peter J.M. Declercq menyatakan bahwa kepailitan tersebut
sebenarnya lebih ditujukan kepada Debitor yang berhenti
membayar utang-utangnya kepada para kreditornya. Berhenti
membayarnya Debitor tersebut tidak perlu diklasifikasikan bahwa
apakah sungguh-sungguh tidak mampu untuk melakukan
pembayaran utangnya ataukah karena Debitor tidak mau
membayar kendatipun ia memiliki kemampuan untuk itu. Declercq
menyatakan bahwa “A bankruptcy petition has to state facts and
circumstances that constitute prima facie evidence that the debtor
has ceased to pay its debts. This is considered to be the case if there
are at least two creditors, one of who, has a claim whis is due and
payable and which the debtor cannot pay, refuses to pay, or simply
does not pay”.36
(Permohonan kepailitan harus menyatakan fakta-fakta dan
keadaan-keadaan yang merupakan bukti utama bahwa Debitor
telah berhenti membayar hutangnya. Hal ini dianggap sebagai
kasus apabila sekurang-kurangnya dua kreditor, yang salah
satunya memiliki tagihan jatuh tempo dan wajib dibayar serta
Debitor tidak dapat membayarnya, menolak membayar atau hanya
dengan tidak membayar saja).

36
Peter J.M. Declercq, Netherlands Insolvency Law, The Netherlands Bankruptcy Act and
The Most Important Legal Concept, T.M.C. Assen Press, The Haque, 2002, hlm. 63.

26 Hukum Kepailitan di Indonesia


Prinsip paritas creditorium sebenarnya telah dianut dalam
sistem hukum perdata di Indonesia, sebagaimana hal itu termuat
dalam Pasal 1131 KUHPerdata yang menyatakan, bahwa “segala
kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak
bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di
kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya
perseorangan”. Prinsip structured creditors (peringkat kreditor)
yang pada dasarnya membagi atau mengklasifikasikan berbagai
macam kreditor sesuai dengan kelasnya masing-masing, yaitu
kreditor separatis, preferen dan konkuren juga menjiwai Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004.37
Hal ini dapat dibuktikan dari bunyi Pasal 2 ayat (1) Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004, bahwa Debitor yang mempunyai
dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitpun satu
utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih dinyatakan pailit
dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri
maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya, yang
dimaksud kreditor dalam pasal ini ditegaskan oleh penjelasan Pasal
2 ayat (1) tersebut adalah kreditor konkuren, kreditor separatis
maupun kreditor preferen.
Secara etimologi istilah kepailitan berasal dari kata pailit. Bila
ditelusuri, baik dalam undang-undang kepailitan yang lama
Faillissement verordering maupun Undang-undang Nomor 4
Tahun 1998 dan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak
ditemukan pengertian tentang pailit. Dalam bahasa Belanda failliet
(pailit), mempunyai arti ganda sebagai kata benda atau kata sifat
yaitu: kebangkrutan dan bangkrut.38Dalam eksiklopedia ekonomi
keuangan perdagangan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
pailit atau bangkrut antara lain adalah seseorang yang oleh suatu
pengadilan dinyatakan bangkrut dan aktivanya atau warisannya
telah diperuntukkan untuk membayar utang-utangnya.
Namun demikian, umumnya orang sering menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan pailit atau bangkrut itu adalah sama

37
M. Hadi Shubhan, op.cit., hlm. 32.
38
S. Wojomeksito, Kamus Umum Belanda Indonesia, Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,
1999, hlm. 188.

Hukum Kepailitan di Indonesia 27


dengan kepailitan atau sita umum atas seluruh harta Debitor
dengan tujuan untuk dapat dibagi secara adil diantara para
kreditor. Dari pemahaman bahwa kepailitan adalah sita umum atas
semua kekayaan Debitor pailit yang pengurusannya diserahkan
kepada Kurator (Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004), undang-undang kepailitan ini juga mengadopsi prinsip debt
collection39, maknanya bahwa kreditor melakukan pembalasan
terhadap Debitor pailit dengan menagih klaimnya terhadap
Debitor atau harta Debitor. Terlebih lagi dengan kemudahan untuk
mengajukan pailit, Debitor memiliki utang yang telah jatuh tempo
dan dapat ditagih yang belum dibayar lunas serta mempunyai dua
atau lebih kreditor menunjukkan bahwa undang-undang tersebut
mengakomodasi prinsip debt collection.
Ketentuan Pasal 2 ayat 1 tersebut diatas selanjutnya dapat
ditarik kesimpulan bahwa syarat-syarat yuridis agar seseorang
dapat dinyatakan pailit adalah :
a. Adanya Debitor
b. Adanya lebih dari satu kreditor
c. Adanya utang
d. Minimal satu utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih
serta utangnya tidak dibayar lunas.
e. Melalui putusan Pengadilan Niaga
i. Diajukan oleh Debitor maupun satu atau lebih
kreditornya.
Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004 telah mendistorsi dan menyederhanakan
persyaratan pailit, hal ini dapat dibuktikan, bahwa undang-undang
tersebut tidak memberikan batasan minimal nominal utang
Debitor, sehingga siapapun (kreditor) sepanjang memiliki piutang
dapat mengajukan permohonan pailit, hal ini dapat merugikan
kreditor yang memiliki nilai nominal piutang cukup besar.
Disamping itu, persyaratan memiliki minimal satu utang
adalah hal yang sangat sederhana, sama sekali tidak
mempertimbangkan kreditor lain yang mungkin jumlahnya cukup

39
Infra (foot note), hlm. 28.

28 Hukum Kepailitan di Indonesia


banyak, hal ini menjadi tidak adil baik kepada mayoritas kreditor
maupun Debitor dan stakeholders. Kreditor dapat mengajukan
permohonan pailit sepanjang dapat membuktikan bahwa Debitor
memiliki 2 (dua) atau lebih kreditor adalah hal yang mudah,
undang-undang tidak membatasi utang yang ada itu milik atau
dari kreditor siapa, kreditor perbankan atau supplier bahkan
tagihan pajak atau telpon atau airpun dapat digunakan sebagai
pemenuhan persyaratan pailit, terlebih lagi pembuktian yang
digunakan adalah sederhana atau sumir. Persyaratan pailit yang
sederhana tersebut sering kali telah melahirkan putusan-putusan
pengadilan yang tidak populer, tidak adil dan kontroversial
khususnya bagi kreditor lain (jumlah maupun memiliki nominal
utang yang besar) maupun Debitor, sehingga undang-undang
kepailitan bukan lagi sebagai sarana yang akan dapat memberikan
solusi pembayaran utang, namun sudah menjadi sarana pemaksa
(pressie midal) untuk pembayaran utang Debitor.
Pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan
pernyataan pailit menurut Pasal 2 ayat (2) (3) (4) dan ayat (5)
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 adalah :
a. Kreditor atau kreditor-kreditor.
b. Debitor.
c. Pihak kejaksaan, untuk kepentingan umum.
d. Bank Indonesia, apabila menyangkut Debitor yang
merupakan Bank.
e. Badan Pengawas Pasar Modal, apabila menyangkut Debitor
yang merupakan perusahaan efek, Bursa Efek, Lembaga
Kliring dan Penjaminan.
f. Menteri Keuangan, apabila Debitornya Perusahaan
Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun atau Badan
Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan
publik.
Banyak hal baru dalam prosedur permohonan pernyataan
pailit yang diperkenalkan, diantaranya yang paling menonjol
adalah diberikannya kerangka waktu (time frame) untuk jangka
waktu prosedur pemeriksaan di pengadilan (hukum acara) yang
relatif singkat dan terperinci untuk setiap langkah proses

Hukum Kepailitan di Indonesia 29


permohonan pernyataan pailit. Prosedur permohonan pernyataan
pailit di tingkat Pengadilan Niaga diatur dalam Pasal 7 sampai
dengan Pasal 8 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004, yaitu
dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak permohonan
pernyataan pailit didaftarkan putusan harus diucapkan, upaya
hukum kasasi sesuai ketentuan Pasal 11 sampai dengan Pasal 13
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 adalah 60 (enam puluh)
hari sejak tanggal permohonan diterima Mahkamah Agung dan 30
hari untuk upaya hukum luar biasa peninjauan kembali (Pasal 295
sampai dengan Pasal 298 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004).
Berkaitan dengan PKPU, Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004 telah menempatkan sarana ini sebagai suatu judul peraturan
perundangan-undangan. Walaupun pengaturan PKPU baik di
dalam Faillissementverordening maupun di dalam Undang-
undang Nomor 4 Tahun 1998 merupakan bagian dari ketentuan
perundang-undangan kepailitan, namun pencantuman sebagai
judul perundang-undangan dalam undang-undang merupakan
suatu hal yang baru. Hal itu dapat diartikan bahwa PKPU yang
diatur didalam Bab III, Pasal 222 sampai dengan Pasal 294 Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004, bukan hanya sekedar sarana
penundaan pembayaran utang atau sebagai tangkisan dari suatu
tuntutan kepailitan, namun lebih dari itu dapat dipergunakan
untuk restrukturisasi utang maupun perusahaan.

5. Asas-asas Hukum Kepailitan


Ada beberapa asas yang dianut oleh undang-undang
kepailitan guna dapat memenuhi kebutuhan masyarakat,
khususnya kebutuhan dunia usaha, seperti Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 yang penjelasan umumnya menyatakan
bahwa diperlukan sarana penyelesaian masalah utang piutang
secara adil, cepat, terbuka dan efektif. Walaupun undang-undang
ini masih menggunakan konsep-konsep yang sederhana di atas,
namun undang-undang ini setidaknya telah mencantumkannya hal
tersebut dalam suatu penjelasan umum.
Setelah Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 berlaku
selama 6 tahun lebih, dipandang perlu dilakukan penambahan

30 Hukum Kepailitan di Indonesia


lebih jelas dan tajam tentang prinsip dan asas-asas kepailitan dan
PKPU sebagaimana dalam Penjelasan Umum Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004. Di dalam Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004 ini, harapan untuk menyelesaikan masalah utang piutang
secara adil, cepat, terbuka dan efektif termasuk ke dalam asas
integrasi, selengkapnya asas-asas itu sebagai berikut 40:
1. Asas keseimbangan
asas keseimbangan merupakan suatu asas yang disatu pihak
terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya
penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Debitor
yang tidak jujur, di lain pihak terdapat ketentuan yang dapat
mencegah terjadinya penyalahgunaan lembaga kepailitan oleh
kreditor yang tidak beritikad baik. Suatu undang-undang
kepailitan yang baik haruslah dilandaskan pada asas untuk
memberikan perlindungan yang seimbang bagi semua pihak
yang terkait dan berkepentingan dengan kepailitan seorang
atau suatu perusahaan. Sehubungan dengan itu maka undang-
undang kepailitan yang baik seyogianya tidak hanya
memberikan perlindungan bagi kreditor saja, kepentingan
Debitor juga harus sangat diperhatikan. Asas keseimbangan ini
sebenarnya telah mencakup prinsip adil sebagaimana
diuraikan di atas.41
2. Asas Kelangsungan Usaha,
Dalam Undang-undang ini terdapat ketentuan yang
memungkinkan perusahaan Debitor yang prospektif tetap
dilangsungkan atau dilanjutkan usahanya. Salah satu sarana
atau lembaga yang dapat digunakan untuk kelangsungan
usaha ini (dalam konteks kepailitan) adalah Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dapat diajukan
baik sebelum permohonan pernyataan pailit diajukan
terhadap Debitor maupun ketika berlangsung pemeriksaan
atau sidang pertama pengadilan terhadap permohonan

40
Sutan remy Syahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004 Tentang Kepailitan, Cetakan ke-III, Grafiti, Jakarta, 2009. Hlm.32
41
Infra, hlm. 52, bahwa prinsip creditors’ bargain secara eksplisit sebenarnya sudah
dinormakan di dalam asas hukum kepailitan Indonesia, khususnya asas keseimbangan
dan kelangsungan usaha.

Hukum Kepailitan di Indonesia 31


penyataan pailit. Menurut Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004, PKPU dapat diajukan oleh Debitor maupun kreditor,
Bank Indonesia (BI), Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam)
dan Menteri Keuangan.
3. Asas Integrasi,
Asas integrasi dalam Undang-undang ini mengandung
pengertian bahwa sistem hukum formil dan hukum materilnya
merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum
perdata dan hukum acara perdata nasional. Undang-undang
baru tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang mempunyai cakupan yang lebih luas baik
dari segi norma, ruang lingkup materi, maupun proses
penyelesaian utang piutang. Cakupan yang lebih luas tersebut
diperlukan, karena adanya perkembangan dan kebutuhan
hukum dalam masyarakat sedangkan ketentuan yang selama
ini berlaku belum memadai sebagai sarana hukum untuk
menyelesaikan masalah utang-piutang secara adil, cepat,
terbuka dan efektif.
4. Asas Mendorong Investasi dan Bisnis.
Undang-undang kepailitan harus dapat mendorong meningkatnya
investasi dan pasar modal, terutama ditujukan kepada investor
asing dan pelaku bisnis asing, serta memudahkan pengusaha
untuk memperoleh kredit luar negeri, dengan ratifikasi
terhadap Perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
dapat mendorong liberalisasi di bidang perdagangan barang
dan jasa, dengan berlakunya UU Nomor 8 Tahun 1995 Tentang
Pasar Modal di Indonesia membuat pengusaha Indonesia
mendapatkan akses langsung dari lembaga-lembaga
pembiayaan luar negeri, Undang-undang kepailitan harus
memuat asas-asas dan ketentuan-ketentuan yang dapat
diterima masyarakat internasional sehingga hal tersebut
dapat sejalan dengan hukum kepailitan di negara-negara para
pemodal dan kredit asing yang diinginkan oleh pemerintah
dan dunia usaha Indonesia. Asas ini tidak sepenuhnya termuat
dalam UU Kepailitan.

32 Hukum Kepailitan di Indonesia


5. Asas Memberi manfaat dan Perlindungan yang Seimbang bagi
Kreditor dan Debitor.
Undang-undang kepailitan hendaknya dapat memberikan manfaat
tidak hanya kepada kreditor akan tetapi juga kepada Debitor
dan harus memberikan perlindungan yang seimbang bagi
kreditor dan Debitor, dengan undang-undang kepailitan
diharapkan kreditor mendapatkan pembayaran utang-
utangnya dari Debitor dengan mudah dan mendapatkan akses
terhadap harta benda Debitor yang dinyatakan pailit karena
tidak mampu membayar utang-utangnya, tanpa merugikan
pihak-pihak lainnya yang berkepentingan dengan kepailitan
tersebut, dengan memperhatikan rasa keadilan dan
memberikan kepastian hukum.
Kepailitan melibatkan banyak kepentingan, terutama terhadap
Debitor perusahaan, dengan berlakunya UU Perseroan
membuat banyaknya kepentingan yang terkait dengan
kepailitan suatu Perseroan Terbatas, yaitu kepentingan
perseroan, kepentingan pemegang saham, kepentingan
karyawan, kepentingan masyarakat dan kepentingan
persaingan sehat. Apabila Debitor pailit adalah Bank, tentunya
terkait dengan kepentingan nasabah, baik yang menyimpan
dananya di Bank maupun masyarakat yang memperoleh kredit
dari Bank. Termasuk negara tidak kehilangan sumber pajak
dan sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan kegiatan
ekonomi Debitor pailit. Asas ini tidak sepenuhnya dianut oleh
UU Kepailitan.
6. Asas Putusan Pernyataan Pailit Tidak Dapat Dijatuhkan
Terhadap Debitor Yang Masih Solven
Pernyataan pailit menurut asasnya hanya dapat diajukan kepada
Debitor yang tidak mampu membayar utang-utangnya lebih
50 % dari jumlah seluruh utangnya, sedangkan Debitor
mempunyai tagihan atau piutang kepada Debitor lain melebihi
50 % jumlah utangnya, keadaan tersebut tidak dapat dijadikan
alasan untuk mengajukan pailit terhadap Debitor termohon
pailit. Pasal 1 Fv menentukan bahwa seorang Debitor dapat
diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan pailit hanya apabila

Hukum Kepailitan di Indonesia 33


Debitor telah berhenti membayar utang-utangnya, keadaan
berhenti membayar merupakan keadaan dimana Debitor
benar-benar tidak mampu membayar utang-utangnya atau
Debitor sudah dalam keadaan insolvensi, bukan karena
Debitor tidak mau membayar utangnya. Untuk menentukan
keadaan keuangan Debitor benar-benar tidak mampu
membayar utang-utangnya hanya dapat ditentukan dengan
melakukan financial audit atau financial due diligence, yang
dilakukan oleh akuntan publik. UU Kepailitan tidak menganut
asas tersebut.
Hasil pelaksanaan financial audit atau financial due
deligence dapat memberikan gambaran tentang keadaan
terakhir harta dari Debitor termohon pailit, sehingga keadaan
tersebut selain untuk memenuhi kehendak asas solven, juga
memberikan transparansi dalam proses kepailitan, laporan
hasil financial audit juga dapat menentukan sikap kreditor
pemohon pailit akan tindak lanjut permohonan pailitnya.
Seharusnya financial audit dan financial due diligence
diterapkan dalam hukum kepailitan Indonesia. Asas ini sama
sekali bertentangan dengan UU Kepailitan.
7. Asas Persetujuan Putusan Pailit Harus Disetujui Oleh Para
Kreditor Mayoritas.
Pengajuan kepailitan oleh seorang kreditor dapat diajukan akan
tetapi apakah Debitor dapat dinyatakan pailit hendaknya
mendengarkan sikap dan mendapat persetujuan dari kreditor
lain melalui rapat kreditor, putusan pailit hendaknya
mendapat persetujuan kreditor terutama kreditor yang
memiliki sebagian besar piutangnya, sehingga kepailitan
menjadi kesepakatan bersama antara Debitor dengan para
kreditornya. Asas ini tidak dikenal dalam UU Kepailitan.
8. Asas Keadaan Diam (Standstill atau Stay)
Undang-undang kepailitan seharusnya memberlakukan keadaan
diam secara otomatis, pemberlakuan keadaan diam sudah
berjalan sejak kepailitan didaftarkan di pengadilan, hal
tersebut dapat melindungi kepentingan para kreditor dari
upaya-upaya Debitor untuk berlaku tidak jujur sehingga

34 Hukum Kepailitan di Indonesia


menimbulkan kerugian kepada kreditor. Dalam keadaan ini
juga tidak mungkin dilakukan peletakan sita terhadap harta
Debitor tersebut, selama pemberlakuan masa diam juga
memberikan perlindungan kepada Debitor untuk tidak
diganggu oleh kreditornya. Asas ini tidak sepenuhnya dianut
dalam UU Kepailitan.
9. Asas Mengakui Hak Separatis Kreditor Pemegang Hak
Jaminan.
UU Kepailitan memberikan kedudukan istimewa kepada kreditor
pemegang hak jaminan kebendaan akan tetapi tidak
sepenuhnya dilaksanakan karena adanya tenggang waktu
selama 90 hari bagi kreditor menunggu untuk melakukan
pelelangan terhadap harta jaminan tersebut.
10. Asas Proses Putusan Pernyataan Pailit Tidak Berkepanjangan.
UU Kepailitan membatasi lamanya proses kepailitan di semua
tingkat peradilan, keadaan tersebut memberikan kepastian
tentang waktu atau lamanya proses kepailitan di pengadilan,
kelemahan dari UU Kepailitan tidak memberikan tenggang
waktu yang jelas kepada kurator untuk melaksanakan
pemberesan harta pailit, hal ini memakan waktu yang panjang,
sehingga memberikan kesan hukum kepailitan tidak dapat
memberikan kepastian tentang lamanya proses pasca putusan
pailit tersebut.
UU Kepailitan juga tidak memberikan sanksi hukum bagi kurator
yang tidak segera menyelesaikan proses pemberesan harta
pailit tersebut.
11. Asas Proses PutusanPailit Terbuka Untuk Umum
Asas proses putusan pailit terbuka untuk umum bertujuan agar
semua pihak yang berkepentingan dengan kepailitan tersebut
mengetahui bahwa Debitor dalam keadaan pailit, lebih banyak
kepentingan terkait apabila Debitor pailit adalah bank, hal
tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan Debitor
dan kreditor akan tetapi juga menyangkut kepentingan
masyarakat yang mempunyai dana dan atau mendapat fasilitas
kredit dari bank tersebut, karenanya proses dan putusan pailit
harus dapat diakses dan terbuka untuk umum.

Hukum Kepailitan di Indonesia 35


12. Asas Pengurus Perusahaan Debitor Yang Mengakibatkan
Perusahaan Pailit Harus Bertanggung Jawab Pribadi.
Pelaksanaan pengelolaan perusahaan tidak selamanya berjalan
dengan baik dan tidak selamanya dilakukan oleh orang-orang
yang profesional, sehingga lebih banyak keuangan perusahaan
digunakan untuk kepentingan pribadi dengan melakukan
perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan hukum dan
merugikan keuangan perusahaan, hendaknya ketentuan
kepailitan memuat ketentuan yang menyatakan bahwa
pengelolaan perusahaan dengan tidak benar dan
mengakibatkan kerugian keuangan perusahaan menjadi
tanggung jawab pribadi pengurus perusahaan, UU Kepailitan
tidak mengatur hal tersebut akan tetapi di dalam UU
Perseroan secara tegas disebutkan tanggung jawab tersebut,
13. Asas Memberikan Kesempatan Restrukturisasi Utang
Sebelum Diambil Putusan Pernyataan Pailit Kepada Debitor
Yang Masih Memiliki Usaha Yang Prospektif.
Hukumkepailitan seharusnya tidak hanya bertujuan untuk
menyelesaikan utang-utang debitor dengan menyatakan
pailit, hendaknya ada tindakan-tindakan pengadilan yang
mendahului putusan pailit untuk memberikan kesempatan
kepada Debitor termohon pailit melakukan restrukturisasi
utang dan melakukan debt and corporate restructuring atau
corporate reorganization atau corporate rehabilitation,
sehingga memungkinkan perusahaan atau Debitor kembali
dalam kedaan mampu membayar utang-utangnya. UU
Kepailitan tidak menganut asas tersebut, hanya saja dalam
proses pemberesan pailit dalam rapat-rapat kreditor
diberikan kesempatan kepada debitor mengajukan rencana
perdamaian terkait kepailitannya tersebut.
14. Asas Yang Merugikan Harta Pailit Adalah Tindak pidana.
Hukum kepailitan seharusnya juga mengatur ketentuan-
ketentuan pidana terhadap debitor yang melakukan
kecurangan dan pelanggaran ketentuan-ketentuan kepailitan,
yang merugikan kepentingan kreditor ataupun harta pailit.
demikian juga dengan ketentuan terhadap kreditor yang

36 Hukum Kepailitan di Indonesia


bersekongkol dengan debitor dalam proses kepailitan yang
merugikan kreditor lainnya, demikian juga sanksi pidana
terhadap debitor yang melakukan adanya kreditor-kreditor
fiktif dalam proses kepailitan yang diajukannya. UU Kepailitan
tidak memuat ketentuan tersebut.
Untuk mengelaborasi harapan-harapan tersebut, dengan
mengacu pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 dan Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004 hal ini dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Adil, kepailitan harus dapat memenuhi rasa keadilan bagi
para pihak yang berkepentingan, untuk mencegah terjadinya
kesewenang-wenangan pihak penagih atau kreditor yang berusaha
meminta pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap
Debitor dengan tidak mempedulikan kreditor lainnya. Undang-
undang kepailitan yang baik harus berlandaskan pada asas untuk
memberi perlindungan yang seimbang bagi kreditor dan Debitor,
juga bagi semua pihak yang terkait dan berkepentingan dengan
kepailitan seseorang atau suatu perusahaan. Perlindungan
kepentingan yang seimbang itu bukan saja mengakui kepentingan
seseorang tetapi juga kepentingan orang banyak, masyarakat dan
yang terkait dengan kepailitan Debitor.
Cepat, undang-undang kepailitan harus menjamin proses
kepailitan berjalan tidak berlarut-larut. Untuk mencapai tujuan itu,
undang-undang kepailitan membatasi berapa lama proses
kepailitan harus telah tuntas sejak proses kepailitan dimulai.
Dalam hubungan ini, maka harus ditentukan batas waktu bagi
pengadilan yang berwenang memutuskan pernyataan pailit telah
memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit itu.
Sebagaimana diuraikan diatas bahwa latar belakang diadakannya
perubahan dan penambahan terhadap undang-undang kepailitan
adalah perlunya pemulihan ekonomi (economy recovery) Indonesia
dilakukan secara cepat dengan menyelesaikan masalah utang
piutang dunia usaha melalui lembaga kepailitan.
Terbuka, kepailitan harus dapat diketahui oleh masyarakat
luas. Putusan pailit terhadap seorang Debitor bukan saja
menyangkut kepentingan satu atau dua orang kreditor saja, tetapi

Hukum Kepailitan di Indonesia 37


juga menyangkut semua kreditor, karena dengan putusan pailit
oleh pengadilan itu maka terhadap harta Debitor diletakkan sita
umum. Untuk menjamin transparansi publik, maka pemeriksaan
dan pengucapan putusan pengadilan harus diucapkan terbuka
untuk umum, sebagaimana hal ini telah diatur dalam Herziene
Indonesia Reglement (HIR). Menurut Pasal 299 Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004 dinyatakan, bahwa kecuali ditentukan lain
dalam undang-undang ini, maka hukum acara yang berlaku
terhadap Pengadilan Niaga adalah hukum acara perdata, yaitu HIR.
Sesuai ketentuan HIR pemeriksaan dan pengucapan putusan
pengadilan adalah terbuka untuk umum, sehingga karenanya asas
ini berlaku pula bagi Pengadilan Niaga.
Khusus untuk kepailitan, ketentuan ini telah ditegaskan
dalam Pasal 10 ayat (4) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998. Pasal
10 ayat (4) tersebut ditentukan bahwa putusan atas permohonan
kasasi diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Putusan
mengenai pencabutan kepailitan oleh Pengadilan Niaga, menurut
ketentuan Pasal 19 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
harus diputuskan dalam sidang yang terbuka untuk umum.
Menurut Pasal 298 ayat (2) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
putusan atas permohonan Peninjauan Kembali harus diucapkan
dalam sidang yang terbuka untuk umum pula.
Menurut Pasal 15 ayat (4) Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004, dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari sejak tanggal
putusan pernyataan pailit ditetapkan, Kurator mengumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia serta dalam sekurang-
kurangnya 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh Hakim
Pengawas mengenai ikhtisar putusan pernyataan pailit, yang
memuat hal-hal sebagai berikut :
a. nama, alamat dan pekerjaan debitor;
b. nama Hakim Pengawas;
c. nama, alamat dan pekerjaan Kurator;
d. nama, alamat dan pekerjaan anggota panitia kreditor
sementara apabila telah ditunjuk;
e. tempat dan waktu penyelenggaraan rapat pertama
kreditor.

38 Hukum Kepailitan di Indonesia


Menurut ketentuan Pasal 20 ayat (2) Undang-undang Nomor
37 Tahun 2004, pada setiap Pengadilan Niaga harus diadakan
daftar (register) umum oleh Panitera yang didalamnya harus
dicatat secara berurutan tanggalnya yang memuat :
a. Ikhtisar mengenai putusan-putusan pengadilan yang
berisi pernyataan pailit atau pembatalan pailit.
b. Uraian mengenai isi putusan dan pengesahan perdamaian
c. Pembatalan perdamaian.
d. Jumlah-jumlah pembagian dalam suatu penyelesaian.
e. Pencabutan kepailitan sebagaimana dimaksud Pasal 15.
f. Rehabilitasi terhadap debitor pailit.
Efektif, efektifitas Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998
menjadi sangat penting, karena pembentukan Perpu Nomor 1
Tahun 1998 tentang Kepailitan dibentuk dalam rangka menghadapi
krisis moneter yang sangat mempengaruhi perekonomian
Indonesia. Dengan pertimbangan tadi pendekatan penyempurnaan
Faillissementverordening dipandang lebih realistis efektif
dibanding membuat aturan baru. Faktor waktu dan keinginan
untuk secepatnya menyelesaikan permasalahan guna pemulihan
ekonomi menjadi sangat penting, sangat mendesak, dan sangat
memaksa karena itulah dipergunakan Perpu sebagai
instrumen/rasa kepentingan yang memaksa.
Perpu Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-
undang Kepailitan diundangkan pada tanggal 22 April 1998 dan
dinyatakan berlaku efektif 120 hari sejak diundangkan serta telah
disahkan menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 pada
tanggal 24 Juli 1998. Undang-undang tersebut efektif berlaku 20
Agustus 1998 hingga kembali menjalani perubahan dengan
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004, tanggal 18 Oktober 2004.42
Pengajuan permohonan PKPU dimaksudkan Debitor
diberikan waktu dalam tenggang waktu tertentu (time frame) agar

42
Bambang Kesowo, Perpu Nomor 1 Tahun 1999, Latar Belakang dan Arahnya, Makalah
Para Pakar yang Berkaitan dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 jo. Perpu
Nomor 1 Tahun
1998, Jakarta, Mahkamah Agung, 2000, hlm. 4.

Hukum Kepailitan di Indonesia 39


Debitor dapat melakukan pembayaran utang-utangnya secara
memuaskan. Undang-undang kepailitan memungkinkan
dilakukannya perdamaian antara debitor dan para kreditornya
sekalipun telah ada putusan pernyataan pailit dari pengadilan.
Perdamaian yang disetujui para kreditor dapat disahkan oleh
Majelis Hakim yang mengakibatkan kepailitan berakhir.
Proses penyelesaian permohonan pailit yang cepat
merupakan salah satu dasar perubahan Undang-undang Nomor 4
Tahun 1998, hal ini terkandung dalam pasal-pasal yang mengatur
jangka waktu (time frame) penyelesaian permohonan, yaitu dalam
30 (tiga puluh) hari sejak permohonan didaftarkan di Pengadilan
Niaga permohonan telah diputus. Demikian juga pemeriksaan
ditingkat kasasi dan peninjauan kembali. Dalam Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004, jangka waktu penyelesaian permohonan
bertambah panjang menjadi 60 (enam puluh) hari, karena jika
diperiksa jangka waktu 30 (tiga puluh) hari untuk mengambil
putusan permohonan pailit adalah sangat terburu-buru, sehingga
pertimbangan hukum dalam putusan tidak cukup berkualitas.

6. Tujuan Kepailitan
Tujuan utama dari hukum kepailitan (bankruptcy law) adalah
a. Memberi kesempatan kepada debitor untuk berunding
dengan para kreditornya untuk melakukan restrukturisasi
utang baik dengan penjadwalan kembali pelunasan utang
debitor, dengan atau tanpa perubahan syarat syarat atau
ketentuan ketentuan perjanjian utang, dengan atau tanpa
pemberian pinjaman baru.
b. Melindungi para kreditor konkuren untuk memperoleh hak
mereka sehubungan dengan berlakunya asas jaminan bahwa
“semua harta kekayaan debitor baik yang bergerak maupun
yang tidak bergerak baik yang telah ada maupun yang akan
ada dikemudian hari, menjadi jaminan bagi perikatan
debitor.”
c. Menjamin agar pembagian harta kekayaan debitor di antara
para kreditor sesuai dengan asas pari passu (membagi secara
proporsional harta kekayaan debitor kepada para kreditor

40 Hukum Kepailitan di Indonesia


konkuren berdasarkan perimbangan besarnya tagihan
masing masing).
d. Memastikan siapa saja kreditor yang memiliki tagihan
terhadap debitor pailit dengan melakukan pendaftaran
kreditor.
e. Memastikan kebenaran jumlah dan keabsahan piutang para
kreditor dengan melakukan verifikasi.
f. Memberi perlindungan kepada debitor yang beriktikad baik
agar penagihan piutang kreditor tidak langsung dilakukan
terhadap para debitor tetapi melalui likuidator atau kurator
setelah debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan.
g. Melindungi para kreditor dari debitor yang hanya
menguntungkan kreditor tertentu.
h. Melindungi para kreditor dari sesama kreditor.
i. Mencegah agar debitor tidak melakukan perbuatan
perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor.
j. Menegakkan ketentuan actio paulina. Actio paulina adalah
hak yang diberikan oleh undang undang kepada setiap
kreditor untuk menuntut kebatalan dari segala tindakan
debitor yang tidak diwajibkan untuk dilakukannya.
k. Menghukum pengurus perusahaan yang karena
kesalahannya telah mengakibatkan perusahaan mengalami
keadaan keuangan yang buruk sehingga perusahaan
mengalami keadaan insolvensi sehingga dinyatakan pailit
oleh pengadilan.

7. Prinsip-Prinsip Kepailitan
a. Prinsip Paritas Creditorium
Prinsip paritas creditorium (kesetaraan kedudukan para
kreditor) menentukan bahwa para kreditor mempunyai hak yang
sama terhadap semua harta benda debitor. Apabila debitor tidak
dapat membayar utangnya, maka harta kekayaan debitor menjadi
sasaran kreditor.43 Prinsip paritas creditorium mengandung makna
bahwa semua kekayaan debitor baik yang berupa barang bergerak

43
Mahadi, Falsafah hukum: suatu pengantar, alumni, bandung, 2003, hlm 135.

Hukum Kepailitan di Indonesia 41


ataupun barang tidak bergerak maupun harta yang sekarang telah
dipunyai debitor dan barang barang di kemudian hari akan dimiliki
debitor terikat kepada penyelesaian kewajiban debitor.44
Dalam hal seorang debitor hanya mempunyai satu kreditor
dan debitor tidak membayar utangnya secara sukarela maka
kreditor akan menggugat debitor secara perdata ke pengadilan
negeri yang berwenang dan seluruh harta debitor menjadi sumber
pelunasan utangnya kepada kreditor tersebut. dalam hal debitor
mempunyai banyak kreditor dan harta kekayaan debitor tidak
cukup untuk membayar lunas semua kreditor maka para kreditor
akan berlomba dengan segala cara baik yang halal maupun yang
tidak halal untuk mendapatkan pelunasan tagihannya terlebih
dahulu. Kreditor yang datang belakangan sudah tidak dapat lagi
pembayaran karena harta debitor sudah habis. Hal ini sangat tidak
adil dan merugikan. Berdasarkan alasan tersebut, timbulah
lembaga kepailitan yang mengatur tata cara yang adil mengenai
pembayaran tagihan tagihan para kreditor.45
Filosofi dari prinsip paritas creditorium adalah bahwa
merupakan suatu ketidakadilan jika debitor memiliki harta benda
sementara utang debitor terhadap para kreditornya tidak
terbayarkan. Hukum memberikan jaminan umum bahwa harta
kekayaan debitor demi hukum menjadi jaminan terhadap utang
utangnya meskipun harta debitor tersebut tidak berkaitan dengan
utang utang tersebut. dengan demikian, prinsip paritas
creditorium berangkat dari fenomena ketidakadilan jika debitor
masih memiliki harta sementara utang debitor terhadap para
kreditor tidak terbayarkan. Makna lain dari prisip paritas
creditorium adalah bahwa yang menjadi jaminan umum terhadap
utang utang debitor hanya terbatas pada harta kekayaannya saja
bukan aspek lainnya, seperti status pribadi dan hak hak lainnya
diluar harta kekayaan sama sekali tidak terpengaruh terhadap
utang piutang debitor tersebut.

44
Kartini mulyadi , op. cit,hlm 168.
45
Kartini muljadi, Pengertian dan Prinsip-Prinsip Umum HukumKepailitan, makalah,
Jakarta, 2004, hlm 2.

42 Hukum Kepailitan di Indonesia


Kartini muljadi, juga menyatakan bahwa kalau diteliti,
sebetulnya peraturan kepailitan dalam UUK adalah penjabaran
Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata, karenanya:
1) Kepailitan hanya meliputi harta pailit dan bukan debitornya
2) Debitor tetap pemilik kekayaannya dan merupakan pihak
yang berhak atasnya tetapi tidak lagi berhak menguasainya
atau menggunakannya atau memindahkan haknya atau
menganggunkannya.
3) Sitaan konservartor secara umum meliputi seluruh harta
pailit.46
Namun demikian, prinsip paritas creditorium kendatipun
merupakan respon atas ketidakadilan tersebut, jika prinsip paritas
creditorium diterapkan secara letterlijk, maka akan menimbulkan
ketidakadilan berikutnya. Letak ketidakadilan prinsip paritas
creditorium adalah bahwa para kreditor berkedudukan sama
antara satu kreditor dengan kreditor lainnya. Prinsip paritas
creditorium tidak membedakan perlakukan terhadap kondisi
kreditor baik itu kreditor yang memiliki piutang besar maupun
kreditor yang memiliki piutang kecil baik kreditor yang memegang
jaminan maupun kreditor yang tidak memegang jaminan.
Ketidakadilan prinsip paritas creditorium adalah
menyamaratakan kedudukan para kreditor. Betapa sangat tidak
adil seorang kreditor yang memiliki piutang sebesar satu milyar
rupiah diperlakukan dalam posisi sama dengan kreditor yang
memiliki piutang satu juta rupiah. Demikian pula betapa tidak
adilnya seorang kreditor yang memegang jaminan kebendaan
diperlakukan sama dengan seorang kreditor yang sama sekali tidak
memegang jaminan kebendaan.

b. Prinsip Pari passu prorata parte


Prinsip Pari passu prorata parte berarti bahwa harta
kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama untuk para
kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara proporsional antara
merekea kecuali jika antara para kreditor itu ada yang menurut

46
Kartini muljadi, Action Pauliana dan Pokok-Pokok Tentang Pengadilan Niaga, alumni,
bandung,2007, hlm 300.

Hukum Kepailitan di Indonesia 43


undang undang harus didahulukan dalam menerima pembayaran
tagihannya. Prinsip ini menekankan pada pembagian harta debitor
untuk melunasi utang-utangnya terhadap kreditor secara lebih
berkeadilan dengan cara sesuai dengan proporsinya dan bukan
dengan cara sama rata.
Jika prinsip paritas creditorium bertujuan untuk
memberikan keadilan kepada semua kreditor tanpa pembedaan
kondisinya terhadap harta kekayaan debitor kendatipun harta
kekayaan debitor tersebut tidak berkaitan langsung dengan
transaksi yang dilakukannya maka prinsip Pari passu prorata parte
memberikan keadilan kepada kreditor dengan konsep keadilan
proporsional dimana kreditor yang memiliki piutang yang lebih
besar maka akan mendapat porsi pembayaran piutangnya dari
debitor lebih besar dari kreditor yang memiliki piutang lebih kecil
daripadanya. Seandainya kreditor disamaratakan kedudukannya
tanpa melihat besar kecilmya piutang maka akan menimbulkan
ketidakadilan sendiri.
Ketidakadilan pembagian secara paritas creditorium dalam
kepailitan akan muncul ketika harta kekayaan deitor pailit lebih
kecil dari jumlah utang utang debitor. Seandainya harta kekayaan
debitor pailit lebih besar dari jumlah seluruh utang utang debitor
maka penerapan prinsip Pari passu prorata parte menjadi kurang
relevan. Demikian pula penggunaan lembaga hukum kepailitan
terhadap debitor yang memiliki asset lebih besar dari jumlah
seluruh utang utangnya adalah tidak tepat dan kurang memiliki
relevasinya. Sejatinya kepailitan akan terjadi jika aktiva lebih kecil
dari passiva. Kepailitan adalah sarana untuk menghindari
perebutan harta debitor setelah debitor tidak lagi memiliki
kemampuan untuk membayar utang-utangnya. Sejatinya pula
kepailitan digunakan untuk melindungi kreditor yang lemah
terhadap kreditor yang kuat dalam memperebutkan harta debitor.
Sehingga pada hakikinya, prinsip Pari passu prorata parte adalah
inheren dengan lembaga kepailitan itu sendiri.

44 Hukum Kepailitan di Indonesia


c. Prinsip Structured Creditor
Penggunaan paritas creditorium yang dilengkapi dengan
prinsip pari passu prorata parte dalam konteks kepailitan juga
masih memiliki kelemahan jika antara kreditor tidak sama
kedudukannya bukan persoalan besar kecilnya piutang saja tetapi
tidak sama kedudukannya karena ada sebagian kreditor yang
memegang jaminan kebendaan dan/atau kreditor yang memiliki
hak preferensi yang telah diberikan oleh Undang-Undang.
Adapun prinsip Structured Creditor adalah prinsip
mengklasifikasikan dan mengelompokkan berbagai macam
kreditor sesuai dengan kelasnya masing-masing. Dalam kepailitan
kreditor diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni:
1) Kreditor separatis;
2) Kreditor preferen;
3) Kreditor konkuren.
Pembagian kreditor menjadi tiga klasifikasi tersebut di atas
berbeda dengan pembagian kreditor pada rezim hukum perdata
umum. Dalam hukum perdata umum pembedaan kreditor hanya
dibedakan dari kreditor preferen dengan kreditor konkuren.
Kreditor preferen dalam hukum perdata umum dapat mencakup
kreditor yang memiliki hak jaminan kebendaan dan kreditor yang
menurut Undang-Undang harus didahulukan pembayaran
piutangnya. Akan tetapi di dalam kepailitan yang dimaksud dengan
kreditor preferen hanya kreditor yang menurut Undang-Undang
harus didahulukan pembayaran piutangnya seperti pemegang hak
privilege, pemegang hak retensi dan lain sebagainya. Sedangkan
kreditor yang memiliki jaminan kebendaan dalam hukum
kepailitan diklasifikasikan dengan sebutan kreditor separatis.47
Ketiga prinsip tersebut diatas sangat penting baik dari segi
hukum perikatan dan hukum jaminan maupun hukum kepailitan.
Tidak adanya prinsip ini, maka pranata kepailitan menjadi tidak
bermakna karena filosofi kepailitan adalah sebagai pranata untuk
melakukan likuidasi terhadap asset debitor yang memiliki banyak
kreditor dimana tanpa adanya kepailitan maka para debitor akan

47
J.Djohansjah, kreditor preferen dan separatis, pusat pengkajian hukum, Jakarta, 2012,
hlm 138.

Hukum Kepailitan di Indonesia 45


saling berebut baik secara sah maupun tidak sah sehingga
menimbulkan suatu keadaan ketidakadilan baik terhadap debitor
itu sendiri maupun terhadap kreditor khususnya kreditor yang
masuk belakangan sehingga tidak mendapatkan bagian harta
debitor untuk pembayaran utang utang debitor.
Kreditor yang berkepentingan terhadap debitor tidak hanya
kreditor konkuren saja melainkan juga kreditor pemegang hak
jaminan kebendaan atau yang sering disebut kreditor separatis
dan kreditor yang menurut ketentuan hukum harus didahulukan
atau yang disebut dalam rezim hukum kepailitan disebut kreditor
preferen. Memang kreditor separatis sudah memegang jaminan
kebendaan dan ia dapat mengeksekusi jaminan kebendaan yang
dipegangnya seolang olah tidak terjadi kepailitan akan tetapi
kreditor separatis tersebut masih memiliki kepentingan yang
berupa sisa tagihan yang tidak cukup ditutup dengan eksekusi
jaminan serta kepentingan mengenai keberlangsungan usaha
debitor.

1. Syarat-Syarat Kepailitan
Untuk dapat mengajukan permohonan pailit terhadap
debitor haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan
dalam peraturan perundangan kepailitan yang berlaku. Dalam
menyatakan debitor pailit tidak cukup hanya mengajukan
permohonan pailit ke Pengadilan Niaga oleh si kreditor. Ada hal-
hal lain yang menjadi syarat utama yang ditetapkan oleh undang-
undang supaya debitor dapat dimohonkan pailit.
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004
menyebutkan :
“Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tak
membayar lunas sedikitnya satu hutang yang telah jatuh waktu
dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan

46 Hukum Kepailitan di Indonesia


yang berwenang, baik atas permohonannya sendiri maupun atas
permohonan satu atau lebih kreditornya”.
Suatu perusahaan dikatakan pailit atau istilah populernya
“bangkrut” manakala perusahaan atau orang pribadi tersebut tidak
sanggup atau tidak mau membayar utang-utangnya. Dan di dalam
Pasal 1 Butir 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dijelaskan
pula bahwa Hakim Pengawas mengawasi debitor yang dinyatakan
pailit dikarenakan dalam keadaan berhenti membayar
kewajibannya.
Agar debitor yang sedang dalam keadaan berhenti
membayar tersebut dapat dinyatakan pailit oleh Pengadilan, dalam
hal ini Pengadilan Niaga, maka berbagai persyaratan yuridis harus
dipenuhi, adalah sebagai berikut antara lain :

a. Debitor tersebut harus mempunyai lebih dari satu utang


Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
menjelaskan tentang persyaratan seorang Debitor yang memiliki
dua atau lebih Kreditor, merupakan pelaksanaan dari ketentuan
Pasal 1132 KUHPerdata yang berbunyi :
“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi
semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan
benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan yaitu
menurut besar dan kecilnya piutang masing-masing, kecuali
apabila diantara para kreditor itu ada alasan-alasan sah untuk
didahulukan”.
Rumusan tersebut memberitahukan bahwa pada dasarnya
setiap kebendaan merupakan sisi positif harta kekayaan seseorang
harus dibagi secara adil kepada setiap orang yang berhak atas
pemenuhan perikatan individu ini, yang disebut dengan Kreditor.
Untuk dapat dinyatakan pailit, debitor harus memiliki
sekurang-kurangnya 2 (dua) kreditor. Setiap kreditor memiliki hak
yang sama untuk mendapatkan pelunasan dari harta kekayaan
debitor. Jika debitor hanya mempunyai satu kreditor, maka
seluruh harta kekayaan debitor otomatis menjadi jaminan atas
pelunasan utang debitor. Dengan demikian, debitor tidak dapat
dituntut pailit, jika debitor hanya mempunyai satu kreditor.

Hukum Kepailitan di Indonesia 47


Secara umum, ada 3 (tiga) macam kreditor yang dikenal
dalam KUHPerdata, yaitu sebagai berikut:
1) Kreditor konkuren
Kreditor konkuren adalah para kreditor dengan hak pari passu
dan pro rata, artinya para kreditor secara bersama-sama
memperoleh pelunasan (tanpa ada yang didahulukan) yang
dihitung berdasarkan pada besarnya piutang masing-masing
dibandingkan terhadap piutang mereka secara keseluruhan,
terhadap seluruh harta kekayaan debitor tersebut.
2) Kreditor preferen (yang diistimewakan)
Kreditor preferen yaitu kreditor yang oleh undang-undang,
semata-mata karena ada sifat piutangnya, mendapatkan
pelunasan terlebih dahulu.
3) Kreditor separatis
Kreditor pemegang hak jaminan kebendaan in rem, yang
dalam KUHPerdata disebut dengan nama gadai dan hipotek.
Dengan dinyatakannya kepailitan atas debitor yang
dinyatakan pailit, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 21 juncto
Pasal 24 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 dengan
diputuskannya pernyataan pailit, debitor pailit demi hukum
kehilangan hak untuk menguasai dan mengurus kekayaan yang
dimasukkan dalam kepailitan terhitung sejak tanggal kepailitan itu,
termasuk juga untuk kepentingan perhitungan hari pernyataan itu
sendiri, yang meliputi seluruh kekayaan debitor pada saat
pernyataan pailit itu dilakukan, beserta semua kekayaan yang
diperoleh selama kepailitan. Yang berarti terhitung sejak tanggal
dinyatakan pailit ditentukan, terjadi pernyataan umum oleh
pengadilan atas seluruh harta kekayaan debitor yang pailit
tersebut dan selanjutnya pengurusan harta kekayaan debitor akan
dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan hakim pengawas.
Alasan mengapa debitor tidak dapat dinyatakan pailit jika ia
mempunyai seorang kreditor adalah bahwa tidak ada keperluan
untuk membagi asset debitor di antara para kreditor dan berhak
dalam perkara ini atas semua aset debitor. Hal ini dapat dimaklumi
karena dalam kepailitan yang terjadi sebenarnya sita umum
terhadap semua harta kekayaan debitor yang diikuti dengan

48 Hukum Kepailitan di Indonesia


likuidasi paksa, untuk nanti perolehan dari likuidasi paksa tersebut
dibagi secara adil diantara kreditornya, kecuali apabila ada
diantara para kreditornya harus didahulukan menurut ketentuan
Pasal 1132 KUHPerdata.48
b. Minimal satu hutang tersebut telah jatuh waktu dan dapat
ditagih
Utang pada hakekatnya merupakan kewajiban yang timbul
dari perikatan dimana ada satu pihak yang berhak atas prestasi
(Kreditor) dan disisi lain ada pihak yang berkewajiban memenuhi
prestasi (Debitor) atas suatu prestasi tertentu. Dengan rumusan
demikian, maka utang yang menjadi dasar permohonan pailit
termasuk utang yang timbul diluar kerangka perjanjian pinjam
meminjam (uang), misalnya perjanjian jual beli, sewa-menyewa,
dan lain sebagainya.
Pasal 1 Ayat (6) Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun
2004 menyatakan bahwa :
“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia
maupun dari mata uang Asing, baik secara langsung maupun yang
akan timbul dikemudian hari, yang timbul karena penjanjian atau
undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila
tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat
pemenuhannya dari harta kekayaan debitor”
Utang yang tidak dibayar adalah utang pokok atau bunganya,
maka kemudian yang perlu diantisipasi oleh pemerintah adalah
mempersiapkan sarana dan prasarananya yakni peradilannya,
hakimnya, untuk menyelesaikan perkara kepailitan tersebut.
Selain syarat harus adanya utang, syarat permohonan
pernyataan pailit bahwa utang tersebut harus telah lewat waktu
dan dapat ditagih. Pengertian telah lewat waktu dan dapat ditagih
adalah hutang yang ditagih harus lewat waktu terlebih dahulu.
Sutan Remy Sjahdeini berpendapat bahwa pengertian telah
jatuh waktu atau hutang yang telah “expired” dengan sendirinya
menjadi hutang yang telah jatuh waktu dan dapat di tagih, namun

48
Imran Nating, Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta
Pailit, Raja Garfindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 33

Hukum Kepailitan di Indonesia 49


hutang yang telah dapat ditagih belum tentu merupakan hutang
yang telah jatuh waktu. Hutang yang telah jatuh waktu apabila
jangka waktu yang telah diperjanjikan dalam perjanjian kredit atas
hutang piutang telah sampai pada waktunya. Sekalipun jangka
waktu belum tiba hutang telah dapat ditagih yaitu apabila telah
terjadi salah satu peristiwa “events of default”49
Aria Suryadi, Eryanto Nugroho dan Herni Sri Nurbaiti
menyatakan pada umumnya, debitor dianggap lalai jika ia tidak tau
atau gagal memenuhi kewajibannya dengan melampaui batas
waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian.
Sehingga untuk melihat apakah suatu hutang telah jatuh
waktu dan dapat ditagih harus merujuk pada perjanjian yang
mendasari hutang tersebut.50
Pasal 1238 KUHPerdata, menyatakan :
“Si berhutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah
atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau
demi perikatannya sendiri, ialah jika ia menetapkan, bahwa si
berhutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang
ditentukan.”
Penjelasan dari Pasal 1238 KUHPerdata diatas, yaitu debitor
akan dianggap lalai jika ada suatu perintah atau akta pernyataan
lalainya si debitor yang dikirimkan oleh si kreditor. Sehingga
wanprestasi tidak secara otomatis terjadi dan mengakibatkan
dapat dituntutnya debitor terhadap ganti rugi atas tidak
dipenuhinya prestasi.
Didalam beberapa yurisprudensi telah di jelaskan tentang
keadaan berhenti membayar secara lebih luas, yaitu:
1) Keadaan berhenti membayar tidak sama dengan keadaan
bahwa kekayaan debitor tidak cukup untuk membayar
utangnya yang sudah dapat ditagih, melainkan bahwa debitor
tidak membayar utangnya.
2) Debitor dapat dianggap dalam keadaan berhenti membayar
walaupun utang-utangnya itu dapat ditagih pada saat itu.

49
Sutan Remy Sjahdeini, Loc.Cit,hlm. 69
50
Aria Suryadi, Eryanto Nugroho dan Herni Sri Nurbaiti, Kepailitan di Negeri Pailit,
Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia cetakan II, Jakarta, 2004, hlm. 135

50 Hukum Kepailitan di Indonesia


Oleh karena itu, penentuan jatuh waktu hutang dan kondisi-
kondisi yang menyebabkan akselerasi utang, harus didasarkan
berdasarkan kesepakatan para pihak dalam perjanjian. Sehingga
yang menjadi pegangan dalam menentukan apakah utang tersebut
telah jatuh waktu dan dapat ditagih atau belum adalah perjanjian
yang mendasari hubungan perikatan itu sendiri.
Syarat bahwa utang harus telah jatuh waktu dan dapat
ditagih menunjukkan bahwa utang harus lahir dari perikatan
sempurna (adanya schulddan haftung). Dengan demikian, jelas
bahwa utang yang lahir dari perikatan alamiah (adanya schuldtanpa
haftung) tidak dapat dimajukan untuk permohonan pernyataan
pailit. Jadi, meskipun debitor mempunyai kewajiban untuk
melunasi utang itu, kreditor tidak mempunyai alas hak untuk
menuntut pemenuhan utang tersebut.
c. Permohonan Pailit dimintakan oleh pihak yang diberikan
kewenangan
Setiap debitor yang tidak mampu membayar utang-utangnya
yang berada dalam keadaan berhenti membayar kembali utang-
utang tersebut, baik atas permintaannya sendiri maupun
permintaan seseorang kreditornya dapat diadakan putusan oleh
hakim yang menyatakan bahwa debitor yang bersangkutan dalam
keadaan pailit.
Pihak-pihak yang berwenang dalam mengajukan
permohonan pailit secara lebih jelas telah disebutkan dalam Pasal
2 Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), Ayat (4), dan Ayat (5) Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, yaitu :
Pasal 2 ayat (1):
“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak
membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan
dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik
atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau
lebih kreditornya”
Pasal 2 ayat (2)
“Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapatjuga
diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum”

Hukum Kepailitan di Indonesia 51


Pasal 2 ayat (3) menyatakan :
“Dalam hal Debitor adalah Bank, permohonan pernyataan pailit
hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia”
Pasal 2 ayat (4) menyatakan :
“Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga
Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian,
permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal”
Pasal 2 ayat (5) menyatakan :
“Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan
Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang
bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan pernyataan
pailit hanya dapat diajukan oleh Kementrian Keuangan”
Penentuan tentang siapa pihak yang berwenang untuk
mengajukan permohonan pernyataan pailit adalah sangat penting
untuk adanya kepastian hukum sehingga dapat mencegah
penyalahgunaan hak, maksudnya orang yang tidak berhak atau
tanpa mendapat kuasa untuk kemudian memohon putusan pailit.
Berdasarkan uraian tersebut diatas bahwa yang merupakan
syarat-syarat kepailitan adalah debitor sedang dalam keadaan
berhenti membayar dan dapat dinyatakan pailit oleh Pengadilan,
dalam hal ini Pengadilan Niaga, maka berbagai persyaratan yuridis
harus dipenuhi, yaitu debitor tersebut harus mempunyai lebih dari
satu utang, minimal satu hutang tersebut telah jatuh waktu dan
dapat ditagih, dan permohonan Pailit dimintakan oleh pihak yang
diberikan kewenangan.

2. Prosedur Kepailitan
Pemohon mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada
Ketua Pengadilan Niaga. Panitera Pengadilan Niaga wajib
mendaftarkan permohonan tersebut pada tanggal permohonan
yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon diberikan tanda
terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang
dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.
Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan mewajibkan
panitera untuk menolak pendaftaran permohonan pernyataan

52 Hukum Kepailitan di Indonesia


pailit bagi institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3),
ayat (4), dan ayat (5).
Debitor yang telah meninggalkan wilayah Republik
Indonesia, maka Pengadilan yang berwenang menetapkan putusan
adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan hukum terakhir debitor.
Debitor yang tidak bertempat tinggal kedudukan dalam
wilayah Republik Indonesia, pengadilan yang berwenang
memutuskan adalah pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan hukum kantor debitor menjalankan profesi
atau usahanya dan bila debitor badan hukum maka kedudukan
hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran
dasarnya (Lampiran Undang-Undang Kepailitan Pasal 2).
Sebelum persidangan dimulai, pengadilan melalui juru sita
melakukan pemanggilan para pihak, antara lain:
a. Wajib memanggil debitor, dalam hal permohonan
pernyataan pailit diajukan oleh kreditor, kejaksaan, Bank
Indonesia, Bapepam, atau Menteri Keuangan;
b. Dapat memanggil kreditor, dalam hal permohonan
pernyataan pailit diajukan oleh debitor (voluntary petition)
dan terdapat keraguan bahwa persyaratan untuk
dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) Undang-Undang Kepailitan telah terpenuhi.
Pemanggilan dilakukan oleh juru sita dengan surat kilat
tercatat paling lambat 7 hari sebelum sidang pemeriksaan pertama
diselenggarakan.
Jangka waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal
permohonan pernyataan pailit didaftarkan, pengadilan
mempelajari permohonan dan menetapkan sidang. Sidang
pemeriksaan atas permohonan tersebut diselenggarakan dalam
jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan
didaftarkan. Permohonan debitor dan berdasarkan alasan yang
cukup seperti adanya surat keterangan sakit dari dokter,
pengadilan dapat menunda penyelenggaraan sidang pemeriksaan
sampai dengan paling lambat 25 hari setelah tanggal permohonan
didaftarkan.

Hukum Kepailitan di Indonesia 53


Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila
terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa
persyaratan untuk dinyatakan pailit telah terpenuhi. Dimaksud
dengan fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana adalah
adanya fakta dua atau lebih kreditor dan fakta utang yang telah
jatuh waktu dan tidak dibayar, sedangkan perbedaan besarnya
jumlah utang yang didalilkan oleh pemohon pailit dan termohon
pailit tidak menghalangi dijatuhinya putusan pernyataan pailit.
Putusan Pengadilan Niaga atas permohonan pernyataan
pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal
permohonan pernyataan pailit didaftarkan.51
Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan,
pihak yang berhak mengajukan permohonan pailit adalah :52
a. Debitor sendiri (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan)
Undang-Undang memungkinkan seorang debitor untuk
mengajukan permohonan pernyataan pailit atas dirinya
sendiri. Jika debitor masih terikat dalam pernikahan yang
sah, permohonan hanya dapat diajukan atas persetujuan
suami atau istri yang menjadi pasangannya (Pasal 4 ayat (1)
Undang-Undang Kepailitan).
b. Seorang kreditor atau lebih (Pasal 2 ayat (1) Undang-
Undang Kepailitan)
Sesuai dengan penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan,
kreditor yang dapat mengajukan permohonan pailit
terhadap debitornya adalah kreditor konkuren, kreditor
preferen, ataupun kreditor separatis.
c. Kejaksaan (Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan)
Permohonan pailit terhadap debitor juga dapat diajukan
oleh Kejaksaan demi kepentingan umum (Pasal 2 ayat (2)
Undang-Undang Kepailitan).
d. Bank Indonesia (Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang
Kepailitan)
Permohonan pailit terhadap bank hanya dapat diajukan
oleh Bank Indonesia berdasarkan penilaian kondisi

51
Ibid. hlm. 87-91.
52
Sentosa Sembiring, op.cit., hlm. 24

54 Hukum Kepailitan di Indonesia


keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan.
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 yang telah diubah
dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang
perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan (selanjutnya disebut UU Perbankan)
memberikan definisi tentang Bank sebagai berikut: “Bank
adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
rakyat banyak (Pasal 1 butir 2)”.
Bank Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 (selanjutnya
disebut UU BI).
e. Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam (Pasal 2 ayat
(4) Undang- Undang Kepailitan).
Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan efek,
bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, hanya dapat diajukan oleh
Bapepam yang diatur oleh Undang-Undang No. 8 Tahun
1995 Tentang Pasar Modal (UUPM).
f. Menteri Keuangan (Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang
Kepailitan)
Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan asuransi,
perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau BUMN yang
bergerak di bidang kepentingan publik hanya dapat
diajukan oleh Menteri Keuangan, dengan maksud untuk
membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
usaha-usaha tersebut.53
Menurut buku pedoman tehknis administrasi dan tehknis
peradilan perdata umum dan perdata khusus yang dikeluarkan

53
Ibid. hlm. 12-20.

Hukum Kepailitan di Indonesia 55


oleh Mahkamah Agung54 kelengkapan-kelengkapan persyaratan
permohonan kepailitan adalah sebagai berikut:
a. Permohonan dari kreditor
1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat kuasa khusus;
3) Kartu anggota advokat;
4) Tanda Daftar Perusahaan (TDP)/Yayasan/Asosiasi yang
dilegalisir (dicap) oleh kantor perdagangan paling lama 1
(satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan;
5) Surat perjanjian utang (Loan Agreement), atau bukti lainnya
yang menunjukkan adanya perikatan utang (commercial
paper, faktur, kuitansi, dll);
6) Perincian utang yang tidak terbayar;
7) Segala dokumen dalam bahasa asing harus diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah resmi
(tersumpah);
8) Segala dokumen yang berasal dari negara asing harus
disahkan oleh Kedutaan/Konsulat Jenderal Republik
Indonesia di negara asal;
9) Nama dan alamat masing-masing kreditor/debitor.
b. Permohonan dari debitor perorangan
1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat kuasa khusus;
3) Kartu anggota advokat;
4) Surat tanda bukti diri suami/istri yang masih berlaku
(KTP/Paspor/SIM);
5) Persetujuan suami/istri dan akta perkawinan yang
dilegalisir;
6) Daftar aset (aktiva maupun pasiva);
7) Neraca pembukuan terakhir (dalam hal perorangan
memiliki perusahaan).
c. Permohonan dari debitor perseroan terbatas

54
Mahkamah Agung, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum
dan Perdata Khusus, Edisi 2007, Buku II, hlm. 13-15.

56 Hukum Kepailitan di Indonesia


1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat kuasa khusus;
3) Kartu anggota advokat;
4) Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang dilegalisir (dicap) oleh
kantor perdagangan paling lama 7 hari sebelum
permohonan didaftarkan;
5) Berita acara rapat umum pemegang saham (RUPS);
6) Anggaran dasar/anggaran rumah tangga;
7) Neraca keuangan terakhir (auditor independen);
8) Nama serta alamat semua debitor dan kreditor.
d. Permohonan dari debitor yayasan / asosiasi
1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat kuasa khusus;
3) Kartu anggota advokat;
4) Akta pendaftaran yayasan/asosiasi yang dilegalisir (dicap)
oleh instansi yang berwenang paling lama 7 hari sebelum
permohonan didaftarkan;
5) Putusan dewan pengurus yang memutuskan untuk
mengajukan permohonan pailit;
6) Anggaran dasar/anggaran rumah tangga;
7) Neraca keuangan terakhir;
8) Nama serta alamat semua debitor dan kreditor/mitra
usaha.
e. Permohonan dari debitor perkongsian / partner
1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat kuasa khusus;
3) Kartu anggota advokat;
4) Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang dilegalisir (dicap) oleh
kantor perdagangan paling lama 7 hari sebelum
permohonan didaftarkan;
5) Neraca keuangan terakhir (auditor independen);
6) Nama serta alamat semua debitor dan kreditor/mitra
usaha.

Hukum Kepailitan di Indonesia 57


f. Permohonan dari debitor Kejaksaan, Bank Indonesia, BAPEPAM,
dan Menteri Keuangan
1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
Ketua Pengadilan Niaga;
2) Surat tugas;
3) Tanda daftar perusahaan, Bank, Perusahaan Efek yang
dilegalisir (dicap) oleh kantor perdagangan paling lama 7
hari sebelum permohonan didaftarkan;
4) Surat perjanjian utang (Loan Agreement) atau bukti lain
yang menunjukkan adanya perjanjian utang (commercial
paper, faktur, kuitansi, dan lain-lain);
5) Perincian utang yang telah jatuh waktu dan dapat dibagi;
6) Nama dan alamat semua debitor dan serta kreditor;
7) Neraca keuangan terakhir;
8) Daftar asset (aktiva dan pasiva).
Semua dokumen atau surat-surat seperti tersebut di atas
dipenuhi sesuai kriteria pemohon (kreditor/debitor/Kejaksaan/
Bank Indonesia/ Bapepam/ Menteri Keuangan), maka kemudian
panitera akan mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada
tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada
pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditanda tangani
panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.
Guna melindungi kepentingan kreditor (bersifat preventif
dan sementara) yang selama ini sering kali diakali oleh debitor
yang nakal, maka di dalam lampiran Undang-Undang Kepailitan
Pasal 7 ditetapkan bahwa selama putusan atas permohonan
pernyataan pailit belum ditetapkan, setiap kreditor/kejaksaan
dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk:
a. Meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh
kekayaan debitor, atau
b. Menunjuk kurator sementara untuk:
1) Mengawasi pengelolaan usaha debitor, dan
2) Mengawasi pembayaran kepada kreditor, pengalihan
atau penggunaan kekayaan debitor yang dalam
rangka kepailitan memerlukan persetujuan kurator.

58 Hukum Kepailitan di Indonesia


3. Status Harta Debitor Pailit
Jika kita berbicara mengenai status harta Debitor pailit, hal
ini diatur dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998
tentang Kepailitan yang berbunyi : untuk kepentingan harta pailit
dapat dimintakan pembatalan atas segala perbuatan hukum
Debitor yang telah dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan
Kreditor, yang dilakukan sebelum pernyataan pailit ditetapkan;
dan pembatalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dilakukan apabila dapat dibuktikan bahwa pada saat perbuatan
hukum tersebut dilakukan debitor dan pihak dengan siapa
perbuatan hukum itu dilakukan, mengetahui atau sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan
mengakibatkan kerugian bagi kreditor; dan dikecualikan dari
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah perbuatan
hukum Debitor yang wajib dilakukan berdasarkan perjanjian atau
karena undang-undang.55
Harta pailit dalam hal ini dapat dimintakan pembatalan atas
segala perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan pailit. Jadi
harta Debitor benar-benar dalam “status quo”, pengawasan
terhadap pailit ini di bawah kekuasaan dan pengawasan Kurator
yang telah disetujui dalam putusan Majelis Hakim Pengadilan
Niaga.
Status harta pailit oleh undang-undang dilarang untuk:
dihibahkan atau diberikan cuma-cuma kepada pihak lain; dan atau
diperjualbelikan atau ditukarkan dengan harta di luar pailit; dan
atau menggadaikan dengan maksud tidak baik serta merugikan
kreditor.
Hak eksekusi Kreditor dan hak pihak ketiga atas harta yang
ada pada Debitor pailit secara umum dapatlah dilihat bahwa
Kreditor preferen dapat mengeksekusi barang tanggungan untuk
pelunasan hutang. Ketentuan ini memungkinkan penundaan hak
tersebut (termasuk hak pihak ketiga atas hartanya yang ada pada
Debitor) untuk waktu yang telah ditentukan selama 90 hari sejak

55
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998, pasal 41.

Hukum Kepailitan di Indonesia 59


penetapan pailit. Ketentuan ini bertujuan menguntungkan
Kreditor dan juga melindungi hak Kreditor yang ada pada Debitor.
Upaya yang dapat dilakukan oleh Debitor dalam menghadapi
putusan pengadilan, tentunya masing-masing pihak akan
mempertahankan argumentasinya serta mempertahankan hak
dengan melepaskan sekecil-kecilnya kewajiban. Namun secara
sederhana upaya yang dapat dilakukan oleh Debitor antara lain:
meminta penundaan pada majelis hakim; dan menunjuk pengawas
yang mendampingi Debitor untuk melanjutkan usahanya.

4. Pengurusan Harta Pailit


Pengurusan harta kepailitan dapat dilakukan oleh hakim
pengawas, kurator, dan Balai Harta Peninggalan (BHP).
a. Hakim pengawas
Menurut Pasal 15 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat kurator dan
seorang hakim pengawas yang ditunjuk dari hakim Pengadilan
Niaga. Tugas hakim pengawas ini adalah mengawasi pengurusan
dan pemberesan harta pailit seperti yang diatur dalam Pasal 65
Undang-Undang Kepailitan Tahun 2004. Sebelum memutuskan
sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan pengurusan dan
pemberesan harta pailit, Pengadilan Niaga wajib mendengar
nasihat terlebih dahulu dari hakim pengawas.
Pasal 65 Undang-Undang Kepailitan menyebutkan bahwa
hakim pengawas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta
pailit, oleh karena itu pelaksanaan dari hukum kepailitan dalam
menyelesaikan utang piutang tidak terbatas hanya sampai adanya
putusan pernyataan pailit tetapi dalam pelaksanaan putusan
tersebut masih harus diawasi oleh hakim pengawas.
Tugas-tugas dan kewenangan hakim pengawas tersebut di
atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Memimpin rapat verifikasi;
2) Mengawasi tindakan dari kurator dalam melaksanakan
tugasnya; memberikan nasihat dan peringatan kepada kurator
atas pelaksanaan tugas tersebut;

60 Hukum Kepailitan di Indonesia


3) Menyetujui atau menolak daftar-daftar tagihan yang diajukan
oleh para kreditor;
4) Meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat diselesaikannya
dalam rapat verifikasi kepada Hakim Pengadilan Niaga yang
memutus perkara itu;
5) Mendengar saksi-saksi dan para ahli atas segala hal yang
berkaitan dengan kepailitan;
6) Memberikan ijin atau menolak permohonan si pailit untuk
bepergian (meninggalkan tempat) kediamannya.
Mengenai ketentuan tentang hakim pengawas dalam
kepailitan terdapat dalam bagian ketiga paragraf 1 Pasal 65-68
Undang-Undang Kepailitan.56
b. Kurator
Terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan
maka kurator berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan
atau pemberesan atas harta pailit, meskipun terhadap putusan
tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali (Lampiran Pasal
12 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan jo Pasal 16 ayat (1) Undang-
Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004).
Putusan pernyataan pailit yang dibatalkan sebagai akibat
adanya kasasi atau peninjauan kembali, maka segala perbuatan
yang telah dilakukan oleh kurator sebelum atau pada tanggal
kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 tetap sah dan mengikat
debitor. Pasal 17 ayat (1) menyebutkan bahwa kurator wajib
mengumumkan putusan kasasi atau peninjauan kembali yang
membatalkan putusan pailit dalam Berita Negara Republik
Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian.
Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004 dalam Pasal
70 ayat (1) jo Pasal 15 ayat (1), (2), (3) bahwa ada 2 macam kurator,
yaitu kurator adalah Balai Harta Peninggalan dan kurator lainnya.
Syarat untuk menjadi kurator (selain BHP) adalah:

56
Rahayu Hartini, Op.Cit., hlm. 127.

Hukum Kepailitan di Indonesia 61


1) Harus independen dan tidak mempunyai benturan
kepentingan dengan debitor atau kreditor (Lampiran
Pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan).
2) Perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di
Indonesia yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan
dalam rangka mengurus dan atau membereskan harta
pailit.
Dimaksud ”keahlian khusus” adalah mereka yang
mengikuti dan lulus pendidikan kurator dan pengurus.
3) Telah terdaftar pada Kementrian yang lingkup tugas dan
tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan
perundang-undangan.
Dimaksud dengan “terdaftar” adalah telah memenuhi syarat-
syarat pendaftaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
adalah anggota aktif organisasi profesi kurator dan pengurus
(Pasal 70 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004).57
Tugas kurator diatur dalam Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang
Kepailitan No. 37 Tahun 2004, adalah melakukan pengurusan dan
atau pemberesan harta pailit yang meliputi penyelamatan,
pengelolaan dan penjaminan serta penjualan harta pailit.
Kurator dalam menjalankan tugasnya, (Pasal 69 ayat (2)
Undang-Undang Kepailitan Tahun 2004):
a. Tidak diharuskan memperoleh persetujuan dari atau
menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada
debitor atau salah satu organ debitor, meskipun dalam
keadaan di luar kepailitan persetujuan atau
pemberitahuan demikian dipersyaratkan.
b. Dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga, semata-
mata dalam rangka meningkatkan nilai harta pailit.

5. Upaya Hukum Kepailitan


Upaya hukum yang dapat dilakukan dalam hal kepailitan,
adalah perlawanan dan kasasi, serta peninjauan kembali.
a. Perlawanan

57
Ibid., hlm. 128.

62 Hukum Kepailitan di Indonesia


Perlawanan dalam kepailitan diajukan kepada pengadilan
yang menetapkan putusan pernyataan pailit. Apabila ada piutang
yang dijamin dengan hak tanggungan, hak eksekusi kreditor
ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh)
hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan,
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 56 Undang-Undang
Kepailitan No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (sebelumnya adalah Pasal 56 A
Undang-Undang Kepailitan No. 4 Tahun 1998).
Jangka waktu tersebut akan berakhir demi hukum pada saat
kepailitan berakhir lebih dini atau pada saat dimulainya keadaan
insolvensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 ayat (1) (Pasal 57
ayat (1) Undang-Undang Kepailitan Tahun 2004), dimana dalam
rapat pencocokan utang piutang tidak ditawarkan perdamaian,
atau perdamaian yang ditawarkan telah ditolak atau pengesahan
itu dengan pasti telah ditolak, maka demi hukum harta pailit itu
dalam keadaan tidak mampu membayar.
Kreditor atau pihak ketiga yang haknya ditangguhkan dapat
mengajukan permohonan kepada kurator untuk mengangkat
penangguhan atau mengubah syarat-syarat penangguhan
tersebut. Kurator yang menolak permohonan tersebut, kreditor
atau pihak ketiga dapat mengajukan permohonan tersebut kepada
hakim pengawas.
Putusan hakim pengawas, kreditor atau pihak ketiga yang
mengajukan permohonan tersebut atau kurator dapat mengajukan
perlawanan kepada pengadilan dalam jangka waktu paling lambat
5 (lima) hari sejak putusan ditetapkan dan pengadilan wajib
memutuskan perlawanan tersebut dalam jangka waktu paling
lambat 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal perlawanan
tersebut diajukan.
Putusan pengadilan yang memutus perkara perlawanan
tersebut, tidak dapat diajukan kasasi maupun peninjauan kembali.
Demikian pula terhadap putusan hakim pengawas tentang
pengangkatan penangguhan atau perubahan syarat-syarat
penangguhan seperti dimaksud dalam Pasal 58 ayat (2), tidak dapat

Hukum Kepailitan di Indonesia 63


diajukan kasasi atau peninjauan kembali (Pasal 58 ayat (4) Undang-
Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004).
b. Kasasi
Pengadilan Niaga menjatuhkan putusan atas permohonan
pernyataan pailit, maka upaya hukum yang dapat diajukan
terhadap putusan tersebut adalah kasasi ke Mahkamah Agung
(Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan). Upaya hukum yang
berupa kasasi ini diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 13
Undang-Undang Kepailitan, yang prosesnya dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Pihak-pihak yang dapat mengajukan kasasi atas putusan
pernyataan pailit dapat dilihat dari Pasal 11 ayat (3) Undang-
Undang Kepailitan:
“Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), selain
dapat diajukan oleh debitor dan kreditor yang merupakan pihak
pada persidangan di tingkat pertama, juga dapat diajukan oleh
kreditor lain yang bukan merupakan pihak pada persidangan
tingkat pertama yang tidak puas terhadap putusan atas
permohonan pernyataan pailit.”
Permohonan kasasi atas putusan pernyataan pailit diajukan
paling lambat 8 hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan
kasasi diucapkan, dengan mendaftarkan pada panitera Pengadilan
Niaga yang telah memutus permohonan pernyataan pailit
tersebut. Panitera mendaftarkan permohonan kasasi pada tanggal
permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon
diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani panitera
dengan tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan
pendaftaran. Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi
pada tanggal permohonan kasasi didaftarkan kepada panitera
Pengadilan Niaga, dan panitera wajib mengirimkan permohonan
kasasi dan memori kasasi kepada pihak termohon kasasi paling
lambat 2 (dua) hari setelah permohonan kasasi didaftarkan.
Termohon dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada
panitera Pengadilan Niaga paling lambat 7 hari setelah tanggal
termohon kasasi menerima memori kasasi dan panitera wajib
menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi

64 Hukum Kepailitan di Indonesia


paling lambat 2 hari setelah kontra memori kasasi diterima.
Panitera wajib menyampaikan permohonan kasasi, memori kasasi,
dan kontra memori kasasi beserta berkas perkara yang
bersangkutan kepada Mahkamah Agung paling lambat 14 hari
setelah tanggal permohonan kasasi didaftarkan.
Mahkamah Agung wajib mempelajari permohonan kasasi dan
menetapkan hari sidang paling lambat 2 hari setelah tanggal
permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. Sidang
pemeriksaan atas permohonan tersebut dilakukan paling lambat
20 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh
Mahkamah Agung.
Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling
lambat 60 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh
Mahkamah Agung.58
c. Peninjauan Kembali (PK)
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, mengenai peninjauan
kembali diatur pada bab tersendiri yakni pada bab IV tentang
peninjauan kembali, yaitu mulai Pasal 295-298. Undang-Undang
Kepailitan menentukan alasan dapat diajukannya permohonan
peninjauan kembali apabila:
1) Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang
bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa
di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan; atau
2) Dalam putusan Hakim yang bersangkutan terdapat
kekeliruan yang nyata.
Pembatasan waktu untuk mengajukan permohonan
peninjauan kembali ditentukan antara lain:
1) Apabila yang dijadikan sebagai dasar permohonan
peninjauan kembali berupa bukti baru/novum, maka
waktu yang diberikan untuk mengajukan permohonan
peninjauan kembali adalah 180 hari setelah tanggal
putusan yang dimohonkan peninjauan kembali
memperoleh kekuatan hukum tetap;

58
Jono, Op.Cit., hlm. 93-94.

Hukum Kepailitan di Indonesia 65


2) Apabila yang dijadikan sebagai dasar permohonan
peninjauan kembali berupa kekeliruan yang nyata, maka
waktu yang diberikan untuk mengajukan permohonan
peninjauan kembali adalah 30 hari setelah tanggal
putusan yang dimohonkan peninjauan kembali
memperoleh kekuatan hukum tetap.
Proses permohonan peninjauan kembali atas putusan
pernyataan pailit hampir sama dengan proses permohonan kasasi,
tetapi dengan putusan harus diucapkan dalam jangka waktu paling
lambat 30 hari setelah tanggal permohonan diterima panitera
Mahkamah Agung, Mahkamah Agung wajib menyampaikan kepada
para pihak salinan putusan peninjauan kembali yang memuat
secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan
tersebut.

6. Perdamaian (Accoord) Dalam Kepailitan


Di dalam ketentuan kepailitan dikenal 2 (dua) macam
perdamaian (accord atau composition), yaitu :
a. Perdamaian yang diajukan debitor setelah debitor dinyatakan
pailit oleh pengadilan (perdamaian dalam kepailitan).
b. Perdamaian yang ditawarkan oleh debitor maupun kreditor
sebagai perlawanan atau untuk menangkis kepailitan, sehingga
pengadilan segara menjatuhkan penetapan PKPU bersifat
sementara (perdamaian dalam PKPU).
Pokok bahasan dalam konteks ini adalah perdamaian yang
diajukan oleh debitor setelah jatuhnya pailit (perdamaian dalam
kepailitan), sedangkan perdamaian dalam PKPU akan diuraikan
dalam pembahasan selanjutnya. Pada dasarnya perdamaian dalam
kepailitan adalah sama dengan perdamaian pada umumnya yang
intinya adalah kesepakatan diantara debitor dan kreditor sehingga
pada akhirnya pihak-pihak tersebut tunduk dan terikat pada
kesepakatan yang telah dibuat. Hanya saja terdapat beberapa
perbedaan diantara keduanya bahkan juga terdapat perbedaan
dengan perdamaian dalam PKPU, sebagai berikut :
a. Daya mengikat kepada kreditor, perdamaian yang dilakukan
di luar pengadilan akan mengikat semua pihak jika

66 Hukum Kepailitan di Indonesia


perdamaian tersebut disetujui oleh seluruh kreditor,
berbeda dengan perdamaian dalam kepailitan, bahwa
seluruh kreditor akan terikat jika perdamaian tersebut
dilakukan sesuai ketentuan yang ada dan telah dilakukan
pemungutan suara kreditor dengan kuorum tertentu untuk
menyetujui perdamaian dimaksud. Berdasarkan Pasal 151
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004, kuorum yang
dimaksud hanya diperuntukkan bagi kreditor konkuren,
sementara untuk kreditor separatis dan kreditor preferen
tidak patuh pada kuorum itu.
b. Segi prosedur, perdamaian dalam kepailitan diajukan
dengan memenuhi ketentuan-ketentuan di dalam
kepailitan, hal ini sangat berbeda dengan perdamaian biasa
yang pada dasarnya dilakukan sesuai kesepakatan yang
bebas hanya saja memerlukan persetujuan seluruh kreditor.
Oleh karena itu perdamaian dalam kepailitan yang telah
mendapatkan persetujuan dari kreditor masih memerlukan
pengesahan dari pengadilan (ratifikasi) dalam suatu sidang
yang dikenal sebagai sidang homologasi. Jika terjadi
penolakan terhadap homologasi maka upaya hukum yang
dapat dilakukan adalah kasasi ke Mahkamah Agung
sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 160 Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004.
c. Segi tujuan perdamaian, jika dibandingkan dengan
perdamaian dalam PKPU, dari segi tujuan perdamaian
dalam kepailitan ini adalah untuk menentukan bagian
kreditor yang akan dibayar oleh Debitor pailit melalui
likuidasi aset, sedangkan perdamaian dalam PKPU
tujuannya adalah peningkatan nilai perusahaan
(performance) yang pada akhirnya usaha bisnisnya tetap
jalan, piutang-piutang kreditor dapat terbayar sesuai
kesepakatan.
d. Segi kreditor, pada perdamaian dalam kepailitan, kreditor
separatis dan kreditor preferen didahulukan tidak tunduk
pada perdamaian itu, hal ini sama dengan saat debitor
dalam masa PKPU, sementara itu dalam perdamaian pada

Hukum Kepailitan di Indonesia 67


umumnya kedudukan kreditor tersebut sangat tergantung
pada perdamaian itu sendiri (Pasal 149 Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004).
e. Pemungutan suara oleh kreditor, agar perdamaian dalam
kepailitan dapat dihomologasi, terlebih dahulu rencana
perdamaian tersebut mendapatkan persetujuan dari
kreditor konkuren dengan kuorum tertentu, sementara
pada perdamaian dalam PKPU yang terlibat dalam
memberikan persetujuan bukan hanya kreditor konkuren
namun juga kreditor separatis dan kreditor yang memiliki
hak istimewa (preferen).
f. Pihak-pihak yang terkait, dalam perdamaian pada
umumnya pihak-pihak yang terkait hanyalah debitor dan
kreditor atau ditambah juga fasilitator/mediator,
sebaliknya pada perdamaian dalam kepailitan terdapat
peran Kurator yang memiliki kewenangan besar (powerfull)
dalam hal ini.
g. Mempunyai daya eksekutorial, jika perdamaian dalam
kepailitan tidak terlaksana sebagaimana mestinya, maka
berdasarkan ketentuan Pasal 170 ayat (3) Undang-undang
Nomor 37 tahun 2004, dalam waktu 30 hari setelah itu
acara kepailitan akan dibuka kembali. Dalam perdamaian
pada umumnya, default atau wanprestasi dari perjanjian
perdamaian itu dapat diselesaikannya melalui gugatan
biasa.
Beberapa konsep dasar tentang perdamaian dalam kepailitan
adalah sebagai berikut :
a. Rencana perdamaian merupakan hak debitor untuk
mengajukannya paling lambat 8 hari sebelum rapat
pencocokan utang atau rapat verifikasi utang tersedia di
Pengadilan Niaga (Pasal 145 Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004);
b. Rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit akan
dipelajari oleh para kreditor konkuren untuk selanjutnya
akan dilakukan pemungutan suara sebagaimana telah
ditentukan dalam Pasal 149 juncto Pasal 151 Undang-undang

68 Hukum Kepailitan di Indonesia


Nomor 37 Tahun 2004, bahwa pemegang hak gadai,
jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek atau hak agunan
atas kebendaan lainnya dan kreditor yang diistimewakan
termasuk kreditor yang mempunyai hak didahulukan yang
dibantah, tidak boleh mengeluarkan suara berkaitan dengan
rencana perdamaian, kecuali jika mereka melepaskan hak-
haknya dan selanjutnya menjadi kreditor konkuren.
Pemungutan suara untuk perdamaian dalam kepailitan ini
adalah apabila perdamaian tersebut disetujui oleh lebih dari
1/2 (satu per dua) jumlah kreditor konkuren yang hadir
dalam rapat dan yang haknya diakui, yang mewakili paling
sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah seluruh piutang
konkuren yang diakui atau yang untuk sementara diakui
dari kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam
rapat itu. Perdamaian yang disetujui berdasarkan kuorum di
atas akan mengikat seluruh kreditor konkuren, termasuk
kreditor yang tidak hadir atau tidak menyetujui perdamaian
tersebut, artinya perdamaian dalam kepailitan ini memiliki
sifat memaksa. Perdamaian yang telah disetujui oleh para
kreditor tersebut agar dapat dieksekusi harus mendapatkan
pengesahan atau homologasi dari pengadilan. 59
c. Pengadilan Niaga hanya dapat menolak pengesahan
rencana perdamaian yang telah diterima apabila (Pasal 159
ayat (2) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004) :
1). “Harta debitor termasuk barang-barang untuk mana
dilaksanakan hak retensi jauh lebih besar dari jumlah
yang disetujui dalam perdamaian;
2). Pelaksanaan perdamaian tidak cukup terjamin;
3). Perdamaian dicapai karena penipuan atau sekongkol
dengan satu atau lebih kreditor atau karena pemakaian
upaya-upaya hukum lain yang tidak jujur dan tanpa
menghiraukan, apakah debitor atau pihak lain
bekerjasama untuk mencapai hal itu.”

59
Dapat dibandingkan dengan pendapat Man S. Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan
PKPU, op. cit., hlm. 177-187.

Hukum Kepailitan di Indonesia 69


Dalam rapat pembicaraan dan pemunculan suara tentang
rencana perdamaian, para Pengurus maupun para ahli (jika ada
diangkat) harus memberikan laporan tentang perdamaian yang
ditawarkan itu juga si debitor berhak untuk memberikan penjelasan-
penjelasan mengenai rencana perdamaian tersebut, membela atau
mencabutnya.60
Tagihan yang dimasukkan kepada Pengurus sampai dua hari
sebelum rapat pembicaraan dan pemungutan suara tetap harus
didaftar apabila dalam rapat tersebut, baik Pengurus maupun para
kreditor yang hadir tidak mengajukan keberatan. Pengurus harus
meletakkan salinan daftar piutang yang telah dibuat tersebut di atas
di Kepaniteraan Pengadilan 7 (tujuh) hari sebelum rapat pembicaraan
rencana perdamaian, agar dilihat secara cuma-cuma oleh siapa saja
yang menghendaki. Pengawasan waktu penyampaian tagihan pada
Pengurus tidak berlaku dalam hal kreditor dapat membuktikan
bahwa terhambatnya ia mengajukan tagihan disebabkan jauhnya
tempat tinggal sehingga tidak mungkin ia dapat memasukkan
tagihan lebih awal.
Dalam rapat pembicaran rencana perdamaian setiap kreditor
konkuren berhak hadir sendiri atau kuasanya, baik kreditor maupun
debitor berhak membantah piutang yang telah diakui oleh Pengurus
baik sebagian atau seluruhnya. Pengurus juga berhak untuk menarik
kembali pengakuannya.
Hakim Pengawas harus menentukan sampai seberapa atau
jumlah berapa tagihan yang dibantah itu dapat ikut dalam
pemungutan suara. Atas jalannya pembicaraan rapat tersebut
dibuatkan berita acara oleh Panitera. Setelah daftar yang memuat
piutang yang diakui, diakui sementara, dibantah selesai dan Hakim
Pengawas telah menentukan apakah dan sampai jumlah berapakah
para kreditor yang tagihannya dibantah, dapat ikut serta dalam
pemungutan syarat terhadap rencana perdamaian.61

60
Gunawan Widjaja, Perdamaian Sebagai Upaya Penyelesaian Hutang, Jakarta, Business
News, 2000, hlm. 2.
61
Ibid., hlm. 3.

70 Hukum Kepailitan di Indonesia


Kreditor dapat ikut pemungutan suara adalah kreditor
konkuren yang haknya diakui atau diakui sementara termasuk
kreditor konkuren yang haknya ditentukan Hakim Pengawas yang
hadir dalam rapat permusyawaratan. Dari uraian ini jelas sekali,
bahwa kreditor konkuren yang mempunyai hak untuk ikut dalam
pemungutan suara tidak dapat menggagalkan rencana perdamaian
tersebut dengan tidak hadir dalam rapat tersebut. Dalam hal
setengah kreditor konkuren yang menyetujui rencana perdamaian
mewakili lebih dari setengah tagihan konkuren yang hadir, dalam
jangka waktu delapan hari sejak pemungutan suara pertama,
diadakan pemungutan suara kedua. Pada pemungutan suara kedua
ini para kreditor tidak terikat pada suara pertamanya.
Salinan risalah rapat pembicaraan rencana perdamaian harus
diletakkan di Kepaniteraan untuk diperiksa oleh umum secara cuma-
cuma (risalah rapat ditandatangani oleh Panitera dan Hakim
Pengawas). Dalam jangka waktu 8 hari setelah rapat pembicaraan
rencana perdamaian, kreditor konkuren dan debitor yang
mendukung rencana perdamaian, jika Hakim Pengawas karena
kelalaiannya menolak perdamaian, dapat mengajukan permohonan
koreksi pada Pengadilan Niaga. Pengurus wajib memberitahukan
putusan koreksi tersebut pada para kreditor. Dalam putusan koreksi
Pengadilan Niaga harus menentukan tanggal pengesahan
perdamaian yang harus ditentukan antara 8 dan 14 hari kerja setelah
putusan koreksi diucapkan. Dengan putusan koreksi putusan
kepailitan yang telah dijatuhkan sebagai akibat gagalnya rencana
perdamaian menjadi batal demi hukum. Dalam hal rencana
perdamaian diterima, Pengadilan Niaga akan menetapkan tanggal
pengesahan perdamaian paling lambat 14 hari setelah rencana
perdamaian disetujui oleh kreditor.
Dalam Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dimuat ketentuan-
ketentuan tentang perdamaian, baik sebelum putusan pailit
diucapkan di hadapan sidang Majelis Hakim Pengadilan Niaga yang
terdapat dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
untuk melawan permohonan pailit, maupun dalam proses
kepailitan. Tujuan akhir Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Hukum Kepailitan di Indonesia 71


ini adalah perdamaian antara Debitor dan Kreditor mengenai
Rencana Perdamaian yang diajukan oleh Debitor dan mediatornya
adalah Pengurus.

A. Perdamaian dalam Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran


Utang
Perdamaian dalam proses Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang diatur dalam bagian ke-2 dari Bab III Pasal 265
sampai dengan Pasal 294 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Dalam ketentuan Pasal 265 Rencana Perdamaian dalam proses
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dapat diajukan pada
waktu bersamaan dengan diajukannya permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang atau setelah itu.
Pasal 265: Debitor berhak pada waktu mengajukan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau
setelah itu menawarkan suatu perdamaian kepada Kreditor.
Majelis Hakim Pengadilan Niaga wajib mengabulkan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sementara selama 45
hari dan menunjuk Hakim Pengawas dan Pengurus yang bertugas
mengurus harta Debitor bersama Debitor.
Pasal 225 ayat (2): Dalam hal permohonan diajukan oleh
Debitor, Pengadilan dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari sejak
tanggal didaftarkannya surat permohonan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 224 ayat (1) harus mengabulkan penundaan kewajiban
pembayaran utang sementara dan harus menunjuk seorang Hakim
Pengawas dari pengadilan serta mengangkat 1 (satu) atau lebih
pengurus yang bersama dengan Debitor mengurus harta Debitor.
Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
dapat pula diajukan oleh Kreditor dan wajib dikabulkan oleh
Majelis Hakim Pengadilan Niaga.
Pasal 225 ayat (3): Dalam hal permohonan diajukan oleh
Kreditor, Pengadilan dalam waktu paling lambat 20 (dua puluh)
hari sejak tanggal didaftarkannya surat permohonan, harus
mengabulkan permohonan penundaan kewajiban pembayaran
utang sementara dan harus menunjuk Hakim Pengawas dari hakim

72 Hukum Kepailitan di Indonesia


pengadilan serta mengangkat 1 (satu) atau lebih pengurus yang
bersama dengan Debitor mengurus harta Debitor.
Rencana perdamaian hanya dapat diajukan oleh Debitor saja.
Kreditor tidak dapat mengajukan Rencana Perdamaian. Kreditor
hanya dapat mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang.
Pasal 222 ayat (2): Debitor yang tidak dapat atau
memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-
utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat
memohon penundaan kewajiban pembayaran utang, dengan
maksud untuk mengajukan Rencana Perdamaian yang meliputi
tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada
Kreditor.
Menurut hemat penulis, seharusnya hanya Debitor yang
berada dalam keadaan insolvensi yang dapat mengajukan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, sehingga
kemungkinan merugikan pihak yang berkepentingan (stake
holders) termasuk Kreditor dapat dihindari. Menurut ketentuan,
Pengadilan Niaga harus mengabulkan permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang selama 45 (empat puluh lima) hari
sejak tanggal putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
yang dikenal dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Sementara, yang nantinya dapat menjadi Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang tetap selama 270 hari termasuk 45 hari
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara.
Keadaan insolvensi yang dialami Debitor merupakan syarat
mutlak bagi Debitor untuk mengajukan permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Debitor yang
tidak beritikad baik. Begitu pula Kreditor, untuk mengajukan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap
Debitor, hanya Debitor yang insolvensi yang dapat diajukan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Hal ini
dapat mencegah “pemanfaatan” pranata dan lembaga kepailitan
oleh Kreditor yang tidak beritikad baik.

Hukum Kepailitan di Indonesia 73


Bila demikian, dapat dikatakan terpenuhi asas keseimbangan
dalam Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Adanya asas
keseimbangan ini sesuai dengan teori Utilitarisme Jeremy
Bentham yang menekankan semboyan “kesejahteraan terbesar
untuk warga masyarakat terbanyak” (the great happiness for the
great members). Peranan hukum dalam masyarakat harus
mensejahterakan masyarakat dunia usaha atau stake holders. Asas
keseimbangan ini sesuai pula dengan ajaran hukum alam Grotius
yang pada prinsipnya menekankan semboyan bahwa peranan
hukum tidak boleh merugikan pihak manapun juga.
Rencana perdamaian hanya dapat dilaksanakan dalam proses
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, karena tujuan akhir
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini adalah perdamaian
yang tercapai antara Debitor dengan Kreditor-kreditornya
berdasarkan Rencana Perdamaian yang disusun oleh Debitor.
Disini terlihat bahwa untuk mewujudkan hukum itu dalam
kenyataan yang namanya “perdamaian” dibutuhkan “lembaga
hukum” yang namanya Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
dan “proses hukum” yang namanya proses perdamaian. Hukum
bukan saja hanya sebagai norma dan asas-asas, tetapi mencakup
juga lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan
hukum ini menjadi kenyataan, demikian teori hukum
pembangunan Mochtar Kusumaatmadja yang merupakan
pengembangan Teori Roscoe Pound dengan ajaran hukum sebagai
alat pembaharuan-pembaharuan masyarakat (law as a tool of social
engineering). Teori hukum pembangunan Mochtar Kusumaatmadja
ini merupakan dasar pemikiran penulis bahwa Debitor yang dalam
keadaan insolvensi yang boleh diajukan permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang baik oleh Debitor sendiri maupun
oleh Kreditor agar tidak terjadi kegoncangan dalam masyarakat
dunia usaha walaupun hukumnya bersifat netral dan terbuka.
Proses perdamaian terhadap Rencana Perdamaian dalam
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pengadilan Niaga hanya
melakukan pengesahan saja terhadap hasil perdamaian antara
Debitor dan para Kreditornya mengenai Rencana Perdamaian.

74 Hukum Kepailitan di Indonesia


Rencana perdamaian itu sepenuhnya diserahkan kepada para
pihak sendiri, yaitu Debitor dan Kreditornya.
Menurut Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang hanya
Debitor saja yang dapat mengajukan Rencana Perdamaian,
sedangkan Kreditor tidak dimungkinkan untuk mengajukan
Rencana Perdamaian, sehingga hanya Debitor pula yang menyusun
Rencana Perdamaian. Rencana perdamaian haruslah disusun
sedemikian rupa oleh Debitor sehingga Kreditornya bersedia
menerima Rencana Perdamaian itu. Biasanya, Rencana Perdamaian
yang dinilai layak atau feasible dan tidak merugikan Kreditor saja
yang akan diterima oleh Kreditor.
Tidak ada gunanya bagi Kreditor apabila setelah masa
implementasi perdamaian berakhir ternyata perusahaan akan
mengalami keadaan insolven lagi. Karena itu, bagi kepentingan
Debitor, Debitor harus meyakini bahwa di akhir masa
implementasi perdamaian itu, diharapkan perusahaan Debitor
yang semula insolven atau diperkirakan akan insolven dalam waktu
singkat akan menjadi solven kembali. Bila tidak, maka perdamaian
itu hanya menguntungkan Kreditor saja atau perdamaian itu hanya
dianggap layak bagi Kreditor saja, tetapi tidak layak bagi Debitor.
Karena itu sebaiknya studi kelayakan yang disusun untuk Rencana
Perdamaian dalam rangka Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang harus dianggap layak oleh Kreditor dan Debitor.
Rencana Perdamaian dapat diikuti dengan atau tanpa
restrukturisasi atau penyehatan perusahaan Debitor. Dalam hal
untuk keberhasilan restrukturisasi utang Debitor perlu dilakukan
upaya penyehatan terhadap perusahaan Debitor, maka hendaknya
restrukturisasi utang dilengkapi dengan restrukturisasi atau
penyehatan perusahaan Debitor.
Apabila Rencana Perdamaian diterima, maka Hakim
Pengawas wajib menyampaikan laporan tertulis kepada pengadilan
pada tanggal yang telah ditentukan untuk keperluan pengesahan
perdamaian, dan pada tanggal yang ditentukan tersebut Pengurus
dan Debitor serta Kreditor dapat menyampaikan alasan yang
menyebabkan ia menerima atau menolak Rencana Perdamaian.

Hukum Kepailitan di Indonesia 75


Pengadilan menetapkan tanggal sidang untuk pengesahan
perdamaian yang harus diselenggarakan paling lambat 14 (empat
belas) hari setelah Rencana Perdamaian disetujui oleh Kreditor,
Debitor dan Pengurus.
Pengadilan wajib memberikan putusan mengenai
pengesahan perdamaian disertai alasan-alasannya pada sidang.
Pengadilan wajib menolak untuk mengesahkan perdamaian,
apabila:
a) harta Debitor, termasuk benda untuk mana dilaksanakan
hak untuk menahan benda, jauh lebih besar daripada
jumlah yang disetujui dalam perdamaian.
b) pelaksanaan perdamaian tidak cukup terjamin;
c) perdamaian itu dicapai karena penipuan, atau
persekongkolan dengan satu atau lebih Kreditor, atau
karena pemakaian upaya lain yang tidak jujur dan tanpa
menghiraukan apakah Debitor atau pihak lain bekerja
sama untuk mencapai hal ini; dan/atau
d) imbalan jasa dan biaya yang dikeluarkan oleh para ahli
dan Pengurus belum dibayar atau tidak diberikan
jaminan untuk pembayarannya.
Apabila pengadilan menolak mengesahkan perdamaian, maka
dalam putusan yang sama pengadilan wajib menyatakan Debitor
pailit, dan putusan tersebut harus diumumkan.
Apabila Rencana Perdamaian diterima, maka Rencana
Perdamaian itu tidak dapat segera dilaksanakan. Ada tahap lain
yang masih perlu ditempuh, yaitu memperoleh pengesahan
perdamaian dari Pengadilan Niaga. Tanpa memperoleh
pengesahan dari Pengadilan Niaga, maka Rencana Perdamaian itu
tidak berlaku secara hukum, sehingga dengan demikian tidak pula
operasional secara hukum. Konsekuensinya adalah apabila
Rencana Perdamaian yang sekalipun telah disepakati oleh Debitor
dan para Kreditornya, ternyata Debitor cidera janji, maka Debitor
tidak dapat otomatis menyatakan pailit oleh pengadilan
sebagaimana menurut ketentuan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang. Disamping itu para Kreditor yang tidak ikut
menyepakati atau tidak hadir dalam pertemuan yang

76 Hukum Kepailitan di Indonesia


merundingkan Rencana Perdamaian, sehingga dengan demikian
tidak ikut memberikan suaranya mengenai Rencana Perdamaian,
tidak terikat dengan Rencana Perdamaian itu.
Seperti halnya dalam kepailitan, segera setelah putusan
tentang pengesahan perdamaian memperoleh kekuatan hukum
yang tetap, maka perdamaian tersebut mengikat semua Kreditor
tanpa kecuali, baik Kreditor yang telah menyetujui maupun yang
tidak menyetujui Rencana Perdamaian itu. Bahkan Rencana
Perdamaian itu mengikat pula mereka yang tidak hadir atau
diwakili dalam sidang. Sebaliknya, dengan berakhirnya Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang karena putusan tentang pengesahan
perdamaian telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, maka
terangkat pula penangguhan hak-hak Kreditor Separatis. Dalam
hal Rencana Perdamaian ditolak oleh Kreditor atau apabila
pengesahan perdamaian ditolak oleh pengadilan, maka dalam
kedua hal tersebut akibatnya adalah sama, yaitu Pengadilan Niaga
wajib menyatakan Debitor pailit dan terhadap putusan kepailitan
tersebut tidak dapat diajukan upaya hukum Kasasi maupun upaya
hukum Peninjauan Kembali.
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak menentukan
secara eksplisit mengenai pengelolaan kegiatan bisnis dari
perusahaan Debitor apabila perdamaian tercapai. Tidak dijelaskan
sampai sejauh mana fungsi Pengurus bila telah terjadi perdamaian
dan bagaimana pula fungsi Kreditor. Menurut hemat penulis, harus
ada ketentuan yang jelas mengenai fungsi Pengurus dalam hal
perdamaian telah tercapai dan telah mendapat pengesahan
Pengadilan Niaga sehingga telah mempunyai kekuatan hukum
tetap.
Apabila Rencana Perdamaian disepakati oleh Debitor dan
para Kreditor, baik dengan atau tanpa perubahan, yang tentunya
hasil kesepakatan itu dituangkan dalam suatu Perjanjian
Perdamaian, dan setelah kesepakatan itu disahkan oleh Pengadilan
Niaga, maka Perjanjian Perdamaian tersebut mengikat baik Debitor
maupun semua Kreditor. Selanjutnya hubungan antara Debitor
dengan semua Kreditornya tidak lagi diatur dengan ketentuan-

Hukum Kepailitan di Indonesia 77


ketentuan dalam masing-masing perjanjian sebelumnya, tetapi
diatur dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dalam
Perjanjian Perdamaian itu. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan
dari masing-masing perjanjian bilateral yang telah ada sebelumnya
antara Debitor dengan masing-masing Kreditornya yang berupa
perjanjian-perjanjian utang-piutang (perjanjian kredit) menjadi
tidak berlaku lagi setelah Rencana Perdamaian tersebut disepakati
(yang telah menjadi Perjanjian Perdamaian) dan kemudian
disahkan oleh Pengadilan Niaga. Kesepakatan dan pengesahan atas
Rencana Perdamaian itu menimbulkan perjanjian baru. Dengan
demikian, maka segala sengketa yang sedang diperiksa di muka
pengadilan perdata antara Debitor dengan salah satu Kreditornya
atau yang mungkin timbul antara Debitor dengan salah satu
Kreditornya mengenai utang yang lama, tidak lagi diselesaikan
menurut syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan Perjanjian
Perdamaian yang Rencana Perdamaiannya telah disepakati antara
Debitor dan para Kreditor dan disahkan oleh Pengadilan Niaga.
Permohonan pernyataan pailit yang telah diajukan kepada
Pengadilan Niaga, baik yang belum diperiksa maupun yang sedang
diperiksa namun dihentikan pemeriksaannya sehubungan dengan
adanya permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
tidak lagi berlaku.
Kreditor yang terikat dengan Perjanjian Perdamaian itu
adalah baik Kreditor konkuren maupun Kreditor separatis, baik
Kreditor yang menyetujui atau yang menolak Rencana Perdamaian
itu, baik Kreditor yang hadir maupun yang tidak hadir dalam rapat
yang membicarakan Rencana Perdamaian.
Tidak ada satu pun dari Kreditor yang tidak terikat dengan
Perjanjian Perdamaian yang dicapai antara Debitor dengan para
Kreditor. Tidak ada satu Kreditor pun yang dapat menyatakan
bahwa dirinya tidak terikat dengan Perjanjian Perdamaian itu.
Berdasarkan Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Rencana
Perdamaian dalam rangka Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang tidak ditentukan secara tegas harus memperoleh
persetujuan RUPS, walaupun perdamaian itu mengikat juga

78 Hukum Kepailitan di Indonesia


pemegang saham. Menurut pendapat penulis, bagaimanapun juga
tercapainya perdamaian tersebut atau konsekuensi dari ditolaknya
perdamaian akan mempengaruhi pula para pemegang saham. Oleh
karena itu, seharusnya Rencana Perdamaian dalam rangka
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang diajukan oleh
Debitor yang berbentuk Perseroan Terbatas hanya diajukan oleh
direksi setelah memperoleh dan berdasarkan keputusan RUPS.
Alasannya adalah karena apabila Rencana Perdamaian ditolak oleh
para Kreditor, maka konsekuensinya Debitor langsung dinyatakan
pailit dan dilikuidasi asetnya. Apabila pengajuan Rencana
Perdamaian tidak ditentukan harus memperoleh persetujuan
terlebih dahulu dari RUPS, maka hal itu bertentangan dengan
ketentuan Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas, yaitu Pasal 115 UUPT menentukan bahwa apabila direksi
bermaksud mengajukan usul pembubaran perusahaan Debitor,
yang kemudian diikuti dengan likuidasi, harus berdasarkan
keputusan RUPS.

B. Perdamaian Sesudah Debitor Dinyatakan Pailit


Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengenal dua macam
perdamaian (accoord). Pertama, ialah perdamaian yang ditawarkan
oleh Debitor dalam proses PKPU sebelum Debitor dinyatakan pailit
oleh Pengadilan Niaga seperti uraian di atas. Kedua, adalah
perdamaian yang diusulkan oleh Debitor pailit yaitu yang
dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Perdamaian yang
diusulkan oleh Debitor pailit diatur dalam bagian keenam Bab II
mulai Pasal 144 sampai dengan Pasal 177.
Pasal 144 menentukan bahwa Debitor Pailit berhak untuk
mengusulkan suatu perdamaian kepada semua Kreditor. Menurut
hemat penulis, ketentuan ini muncul akibat tidak adanya unsur
insolvensi dalam syarat kepailitan. Seharusnya Debitor pailit tidak
perlu lagi mengajukan permohonan perdamaian karena Debitor
pailit sudah berada dalam keadaan insolvensi alias bangkrut.
Andaikan Debitor akan mengajukan permohonan rencana
perdamaian, seharusnya dalam proses PKPU. Debitor mengajukan

Hukum Kepailitan di Indonesia 79


rencana perdamaian bersamaan dengan permohonan PKPU,
karena tujuan akhir PKPU adalah perdamaian.
Setelah Debitor dinyatakan pailit, Debitor tidak lagi berhak
untuk mengajukan permohonan perdamaian kepada Kreditor.
Putusan pailit adalah konsekuensi tidak ditawarkannya rencana
perdamaian oleh Debitor kepada Kreditor atau sebagai
konsekuensi rencana perdamaian yang diajukan oleh Debitor tidak
berhasil disepakati oleh Kreditornya.
Walaupun syarat kepailitan dalam Undang-undang No.37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU tidak mencantumkan
unsur insolvensi, tetap saja Debitor pailit tidak berhak untuk
mengusulkan suatu perdamaian kepada semua Kreditor. Yang
berhak adalah Kurator karena kewenangan Debitor pailit sudah
beralih kepada Kuratur.

7. Akibat Hukum Kepailitan


Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja menyebutkan bahwa
kepailitan menyebabkan debitor yang pailit kehilangan segala “hak
perdata” untuk menguasai dan mengurus harta kekayaan yang
telah dimasukkan kedalam harta pailit. “Pembekuan” hak perdata
ini diberlakukan oleh Pasal 22 Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 terhitung sejak saat keputusan pernyataan pailit diucapkan.62
Sebagai konsekuensi dari ketentuan Pasal 22 Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004, maka semua perikatan antara
debitor yang dinyatakan pailit dengan pihak ketiga yang dilakukan
sesudah pernyataan pailit, kecuali bila perikatan-perikatan
tersebut mendatangkan keuntungan bagi harta pailit.
Dalam hal ini, begitu Debitor telah dinyatakan pailit, maka
menimbulkan banyaknya akibat yuridis yang diberlakukan
kepadanya oleh undang-undang. Akibat-akibat yuridis tersebut
berlaku kepada debitor, yaitu :

a. Berlaku demi hukum

62
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Op.Cit., hlm. 30

80 Hukum Kepailitan di Indonesia


Ada beberapa akibat yuridis yang berlaku demi hukum (by
the operation of law) segera setelah pernyataan pailit dinyatakan
atau setelah pernyataan pailit mempunyai kekuatan tetap, ataupun
setelah berakhirnya kepailitan. Dalam hal seperti ini, Pengadilan
Niaga, hakim pengawas, Kurator, Kreditor dan siapapun yang
terlibat dalam proses kepailitan tidak dapat memberikan andil
secara langsung untuk terjadinya akibat yuridis tersebut. Misalnya
larangan bagi Debitor pailit untuk meninggalkan tempat tinggalnya
(cekal), sungguhpun dalam hal ini pihak hakim pengawas masih
mungkin memberi izin bagi Debitor pailit untuk meninggalkan
tempat tinggalnya.

b. Berlaku secara rule of reason


Untuk akibat-akibat hukum tertentu dari kepailitan berlaku
rule of reason. Maksudnya adalah bahwa akibat hukum tersebut
tidak otomatis berlaku, tetapi baru berlaku jika diberlakukan oleh
pihak-pihak tertentu setelah mempunyai alasan yang wajar untuk
diberlakukan. Pihak-pihak yang mesti mempertimbangkan
berlakunya akibat-akibat hukum tertentu tersebut, misalnya
kurator, pengadilan niaga, hakim pengawas, dan lain-lain.
Oleh karena itu, berlakunya suatu akibat hukum tidaklah
sama. Ada yang dimintakan kepada pihak tertentu dan perlu
persetujuan dari institusi tertentu, tetapi ada juga yang berlaku
karena hukum, begitu putusan pailit dikabulkan oleh Pengadilan
Niaga.
Sebagai contoh akibat kepailitan yang memerlukan rule of
reason adalah tindakan penyegelan harta pailit, dalam hal ini, harta
Debitor pailit dapat disegel atas persetujuan hakim pengawas. Jadi
tidak terjadi secara otomatis. Reason untuk penyegelan ini adalah
untuk pengamanan harta pailit itu sendiri. Untuk kategori akibat
kepailitan berdasarkan rule of reason ini, dalam perundang-
undangan biasanya (walaupun tidak selamanya) ditandai dengan
kata “dapat” sebelum disebutkan akibat tersebut. Misalnya tentang
penyegelan tersebut, atas persetujuan hakim pengawas,
berdasarkan alasan untuk mengamankan harta pailit, “dapat”
dilakukan penyegelan atas harta pailit.
Hukum Kepailitan di Indonesia 81
Perlu juga diperhatikan bahwa berlakunya akibat hukum
tersebut tidak semuanya sama. Ada yang perlu dimintakan oleh
pihak tertentu dan perlu pula persetujuan institusi tertentu, tetapi
ada juga yang berlaku karena hukum (by the operation of law)
begitu putusan pailit dikabulkan oleh Pengadilan Niaga. Akibat
hukum tertentu dalam proses kepailitan yaitu :

1. Jenis Tindakan, cekal dan cara terjadinya demi hukum.


2. Jenis Tindakan, Gijzeling dan cara terjadinya harus
dimohonkan ke Pengadilan Niaga.
3. Jenis Tindakan, Penyegelan dan cara terjadinya harus
dimintakan ke Hakim Pengawas.
4. Jenis Tindakan, Stay dan cara terjadinya demi hukum.
5. Jenis Tindakan, Sitaan Umum atas harta Debitor pailit dan
cara terjadinya demi hukum.
Akibat yuridis dari suatu kepailitan yaitu akibat hukum yang
terjadi jika Debitor dipailitkan, dapat dilihat pada penjelasan
berikut ini:
1. Boleh dilakukan Kompensasi
Kompensasi piutang (set-off) dapat saja dilakukan oleh
Kreditor dengan Debitor asalkan :
a. Dilakukan dengan itikad baik;
b. Dilakukan terhadap transaksi yang sudah ada sebelum
pernyataan pailit terhadap Debitor;
Pengertian “itikad baik” dalam hal ini antara lain berarti
bahwa pada saat dilakukannya transaksi yang menimbulkan
hutang tersebut Kreditornya tidak mengetahui bahwa dalam
waktu dekat Debitor akan dijatuhkan pailit.
Akan tetapi jika dalam kontrak disebutkan dengan tegas
bahwa kompensasi tidak boleh dilaksanakan, maka tentunya
kompensasi tidak dilakukan. Sebab salah satu prinsip yang paling
mendasar dalam hukum pailit adalah bahwa kepailitan tidak
mengubah suatu kontrak.

82 Hukum Kepailitan di Indonesia


Akibat hukum dari dibenarkannya kompensasi, maka
Kreditor yang bersangkutan karena dapat langsung
mengkompensasi piutang bahkan lebih tinggi dari Kreditor
diistimewakan.
Rasional yang melatarbelakangi dibenarkannya kompensasi
bagi Kreditor jika Debitor dinyatakan pailit adalah untuk
membayar penuh hutang-hutangnya sementara piutangnya dari
Debitor pailit hanya menunggu pembagian dalam pemberesan
yang kemungkinan besar tidak terbayarkan seluruhnya.
2. Kontrak Timbal Balik Boleh Dilanjutkan
Terhadap kontrak timbal balik antara Debitor pailit dengan
Kreditor yang dibuat sebelum pailitnya Debitor, di mana prestasi
sebagian atau seluruhnya belum dipenuhi oleh kedua belah pihak,
maka pelaksanaan kontrak tersebut dan waktu pelaksanaannya
boleh dilanjutkan.
3. Berlaku Penangguhan eksekusi Jaminan Hutang
Terhadap pemegang hak jaminan utang ini dalam proses
kapailitan disebut juga dengan istilah Kreditor separatis. Sebab
mereka dipisahkan dan tidak termasuk dalam pembagian dalam
kepailitan. Mereka dapat memenuhi sendiri piutangnya dengan
mengeksekusi jaminan utang tersebut seolah-olah tidak terjadi
kepailitan.
Akan tetapi, hak eksekusi jaminan utang dari Kreditor
separatis tersebut tidak setiap waktu dapat dilakukan. Maksimum
90 hari semenjak putusan pailit (oleh Pengadilan Niaga), Kreditor
separatis memasuki masa menunggu (penangguhan) atau dalam
bahasa Inggris disebut juga dengan isitlah stay, di mana dalam
masa ini mereka tidak boleh mengeksekusi jaminan utang
tersebut.
Stay ini berlaku karena hukum (otomatis) tanpa harus
dimintakan oleh para pihak.
4. Berlaku Actio Pauliana
Ada kemungkinan sebelum pernyataan pailit, pihak Debitor
merugikan Kreditor-Kreditornya, misalnya secara tidak beritikad
baik melakukan transaksi dengan mengalihkan aset-asetnya
kepada pihak lain (pihak ketiga). Dalam hal ini Undang-Undang

Hukum Kepailitan di Indonesia 83


Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang membolehkan pembatalan terhadap
transaksi tersebut asalkan memenuhi syarat-syarat yang diatur
dalam undang-undang tersebut. Tindakan pembatalan transaksi
tersebut sering disebut dengan actio pauliana, yang dalam
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diatur mulai dari Pasal
43 sampai dengan Pasal 46.
5. Berlaku Sitaan Umum atas Seluruh Harta Debitor
Pada prinsipnya, kepailitan terhadap seorang Debitor berarti
meletakkan sitaan umum terhadap seluruh aset Debitor. Karena
sitaan-sitaan yang lain jika ada harus dianggap gugur karena
hukum. Sitaan umum tersebut berlaku terhadap seluruh kekayaan
Debitor meliputi :
a. Kekayaan yang sudah ada pada saat pernyataan pailit
ditetapkan, dan
b. Kekayakan yang akan diperoleh oleh Debitor selama
kepailitan
Akan tetapi ada juga harta kekayaan Debitor yang tidak
termasuk dalam sitaan umum karena kepailitan, yaitu sebagai
berikut :
i. Harta kekayaan yang telah menjadi hak jaminan utang,
seperti hak tanggungan, hipotek, gadai, fidusia, dan lain-
lain.
ii. Pendaftaran tertentu dari Debitor, yaitu:
a. Gaji tahunan dan hak cipta;
b. Gaji biasa, upah, pensiun, uang tunggu atau
tunjangan;
c. Uang untuk pemberian nafkah;
d. Hak nikmat hasil;
e. Tunjangan dari pendapatan anak
6. Termasuk Terhadap Suami/Isteri
Apabila seseorang dinyatakan pailit, maka yang pailit
tersebut termasuk juga isteri atau suaminya yang kawin atas dasar
persatuan harta. Ketentuan ini membawa konsekuensi hukum
yang serius, berhubung dengan ikut pailitnya isteri/suami, maka

84 Hukum Kepailitan di Indonesia


seluruh harta istri/suami yang termasuk ke dalam persatuan harta
juga terkena sita kepailitan, dan masuk budel pailit.
Menurut Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tahun 1994 tentang
Perkawinan, kecuali ditentukan lain oleh para pihak (dalam
perjanjian kawin), maka seluruh harta menjadi harta bersama,
kecuali :
a. Harta yang dibawa ke dalam perkawinan; dan
b. Harta benda yang merupakan hadiah atau warisan.
7. Debitor Kehilangan Hak Mengurus
Salah satu konsekuensi hukum yang cukup fundamental dari
kepailitan adalah bahwa Debitor pailit kehilangan haknya untuk
menguasai dan mengurus kekayaannya terhitung sejak pukul
00.00 dari hari putusan pailit diucapkan. Dengan demikian
kekuasaan yang hilang dari Debitor pailit adalah :
a. Pengurusan kekayaannya; dan
b. Penguasaan kekayaan tersebut.
Karena itu, hal-hal lain yang tidak termasuk ke dalam
pengurusan/penguasaan kekayaan masih tetap dimiliki
kewenangannya oleh Debitor pailit, misalnya Debitor pailit masih
memiliki kewenangannya dalam hal mengurus keluarganya.
8. Perikatan Setelah Debitor Pailit tidak dapat Dibayar
Perikatan yang dibuat oleh Debitor pailit dengan Kreditornya
dimana perikatan tersebut dibuat setelah Debitor dinyatakan pailit
(post bankruptcy contract), perikatan yang demikian tidak dapat
dibayar dari harta pailit, kecuali jika kontrak tersebut
mendatangkan keuntungan bagi harta pailit.
9. Gugatan Hukum Harus Dilakukan oleh/terhadap Kurator
Semua gugatan hukum berkenaan dengan hak dan kewajiban
yang berhubungan dengan harta Debitor pailit haruslah diajukan
oleh atau terhadap Kurator. Bila gugatan terhadap Debitor palit
yang menyebabkan penghukuman terhadap Debitor pailit, maka
penghukuman tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum
terhadap harta pailit.
Disamping itu, setiap gugatan hukum terhadap Debitor pailit
yang bertujuan untuk memenuhi perikatan dari harta pailit, hanya

Hukum Kepailitan di Indonesia 85


dapat diajukan dengan melaporkannya untuk dicocokkan
piutangnya.
10. Perkara Pengadilan Ditangguhkan atau Diambil Alih oleh
Kurator
Bagaimanakah nasibnya jika Debitor telah terlebih dahulu
digugat oleh Kreditor ke pengadilan dengan prosedur biasa,
sementara sewaktu proses perkara sedang berjalan, Debitor
dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Penyelesaiannya adalah
sebagai berikut :
a. Dalam hal ini tergugat (Debitor pailit) dapat memintakan
agar perkara pending dahulu untuk memberikan waktu
kepada tergugat untuk mengoper perkaranya kepada
Kurator.
b. Jika Kurator tidak mengindahkan panggilan untuk
pengoperan perkara, maka tergugat berhak agar perkara
digugurkan. Atau jika pemohonan tersebut tidak
dilakukan, perkara antara debitor pailit dengan tergugat
dapat diteruskan tanpa membebankannya kepada harta
pailit.
c. Kurator setiap waktu dapat mengambil alih perkara
tersebut.
d. Penggugat (Kreditor) dapat minta agar perkara
ditangguhkan, di mana dalam tenggang waktu
penangguhan perkara, Kreditor dapat menarik Kurator ke
dalam perkara yang bersangkutan, yang mengakibatkan
Debitor pailit disebabkan dari perkara yang bersangkutan.
e. Jika Kurator tidak datang menghadap hakim, maka
putusan pengadilan dapat berpengaruh terhadap harta
pailit.
f. Jika gugatan oleh penggugat (Kreditor) ditujukan untuk
memenuhi perikatan yang menyangkut dengan harta
pailit, maka perkara akan pending dan akan dilanjutkan
bila tuntutan tersebut dibantah pada waktu pencocokan
piutang (verifikasi), dan pihak yang membantah menjadi
pihak yang menggantikan posisi debitor pailit dalam
perkara yang bersangkutan.

86 Hukum Kepailitan di Indonesia


g. Apabila sebelum putusan pernyataan pailit diputuskan,
sudah sampai pada tahap penyerahan berkas perkara
kepada hakim untuk diputus, maka penundaan perkara
tidak diperlukan dan Kurator tidak mengambil alih
perkara, kecuali jika hakim yang memeriksa perkara
tersebut memutuskan untuk meneruskan pemeriksaan
perkara.
11. Jika Kurator dengan Kreditor Berperkara, maka Kurator
dan Kreditor dapat Minta Perbuatan Hukum Debitor Dibatalkan.
Bila perkara dilakukan terhadap atau oleh Kurator atau
terhadap Kreditor dilanjutkan, maka semua perbuatan Debitor
sebelum dinyatakan pailit dapat dibatalkan asalkan dapat
dibuktikan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh Debitor
secara sandera untuk merugikan kepentingan Kreditor dan hal
tersebut diketahui oleh pihak lawannya.
12. Debitor dan Kreditor Dapat diminta Bersumpah
Sungguhpun Kurator yang menggantikan kedudukan Debitor
pailit dalam berperkara di muka pengadilan, ataupun dalam hal
sidang untuk memutuskan sengketa dalam pencocokan piutang,
pengadilan masih bisa meminta Debitor pailit untuk memberikan
sumpah tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1940 KUH
Perdata:
Hakim dapat, karena jabatan, memerintahkan sumpah
kepada salah satu pihak yang berperkara, untuk menggantungkan
pemutusan perkara pada penyumpahan itu, atau untuk
menetapkan jumlah yang akan dikabulkan.
Bahkan atas permintaan dari Kurator, dalam rapat-rapat
verifikasi, Kreditorpun boleh dimintakan untuk mengangkat
sumpah atas kebenaran piutangnya yang tidak dibantah baik oleh
Kurator atau maupun oleh Debitor pailit. Sumpah oleh Kreditor ini
dapat dilakukan sendiri atau dapat pula dikuasakan kepada orang
lain.
13. Pelaksanaan Putusan Hakim Dihentikan
Apabila terhadap Debitor ada putusan hakim yang sudah
mulai dijalankan sebelum kepailitan, pelaksanaan putusan hakim
tersebut harus segera dihentikan sejak hari putusan pailit tersebut

Hukum Kepailitan di Indonesia 87


mengakibatkan si Debitor dijatuhkan hukuman penjara (paksaan
badan), maka hukuman penjara (paksaan badan) tersebut tidak
dapat dilaksanakan.
14. Semua Penyitaan Dibatalkan
Andaikan pada saat dijatuhkan putusan pengadilan tentang
kepailitan, telah ada putusan sita atas harta Debitor pailit yang
telah atau belum dilaksanakan, maka sitaan tersebut demi hukum
batal. Bila dianggap perlu, maka hakim pengawas dapat
menegaskannya dengan memerintahkan pencoretan sita.
15. Debitor Dikeluarkan dari Penjara
Selain tidak dapat dilaksanakannya hukuman penjara
(paksaan badan), maka bahkan apabila Debitor pailit sedang
menjalankan hukuman penjara, dia harus segera dikeluarkan dari
penjara begitu putusan pailit mempunyai kekuatan pasti (inkracht),
kecuali jika sedang dijalankannya adalah penyanderaan (gijzeling)
dalam hubungan dengan kepailitan tersebut.
16. Uang Paksa Tidak Diperlukan
Menurut sistem hukum acara perdata yang berdasarkan
kepada HIR, maka agar pihak lawan dalam perkara perdata
melakukan sesuatu kewajibannya, dapat dimintakan uang paksa
yang dapat diambil oleh pihak lawan jika dia benar-benar tidak
melaksanakan kewajibannya pada saat yang ditentukan. Akan
tetapi, jika yang harus membayar uang paksa tersebut Debitor
yang telah dinyatakan pailit, maka uang paksa tersebut tidak perlu
dibayar selama Debitor pailit tersebut dalam masa kepailitan.
17. Pelelangan yang sedang Berjalan Dilanjutkan
Apabila sebelum jatuhnya putusan pailit, proses pelelangan
barang-barang (bergerak atau tidak bergerak) sudah sedemikian
jauh sehingga sudah ditetapkan tanggal pelelangannya, maka atas
kuasa dari hakim pengawas, Kurator dapat melanjutkan pelelangan
barang-barang tersebut atas beban harta pailit.
18. Balik Nama atau Pencatatan Jaminan Hutang atas Barang
Tidak Bergerak Dihentikan
Sungguhpun sebelum pernyataan pailit diputuskan, sudah
dibuat akta jual beli atau akta hipotek/hak tanggungan atas
barang-barang tidak bergerak, akan tetapi pembaliknamaan atau

88 Hukum Kepailitan di Indonesia


pendaftaran hipotek/hak tanggungan tersebut yang dilakukan
setelah pernyataan pailit adalah tidak sah menurut hukum.
19. Daluwarsa Dicegah
Apabila tagihan telah diajukan tuntutan untuk pencocokan
piutang, maka sejak saat itu masa kedaluwarsa mulai berhenti
(dicegah).
20. Transaksi Forward Dihentikan
Bila sebelum pernyataan pailit telah dilakukan transaksi yang
penyerahan barangnya ditangguhkan (forward transaction), di
mana penyerahan barang oleh Debitor akan dilakukan setelah
pernyataan pailit, maka dengan pernyataan pailit kepada Debitor,
transaksi tersebut batal demi hukum, dan pihak Kreditor dalam
transaksi tersebut dapat minta ganti kerugian apabila ada alasan
untuk itu sebagai Kreditor konkuren. Demikian juga jika timbul
kerugian bagi harta pailit, pihak dengan siapa Debitor melakukan
kontrak juga berkewajiban untuk mengganti kerugian kepada
harta pailit.
21. Sewa-Menyewa dapat Dihentikan.
Sewa menyewa yang dapat dihentikan karena Debitor
dinyatakan pailit adalah jika Debitor pailit tersebut menyewa suatu
barang dari pihak lain. Dalam hal ini baik Kurator ataupun pihak
yang menyewakan barangnya sama-sama dapat memutuskan
hubungan sewa menyewa tersebut. Untuk hal tersebut undang-
undang mensyaratkan agar dilakukan suatu pemberitahuan
pengakhiran sewa (notice), dengan jangka waktu sebagai berikut:
a. Jangka waktu dilihat kepada kebiasaan setempat, dan
b. Jangka waktu dilihat kepada pengaturannya dalam
kontrak, atau
c. Jangka waktu dilihat kepada kelaziman untuk kontrak
seperti itu, atau
d. Setidak-tidaknya jangka waktu tiga bulan dianggap sudah
cukup.
Akan tetapi, jika sudah dibayar uang sewa di muka, sewa
menyewa tersebut tidak dapat diakhiri sampai dengan berakhirnya
jumlah uang sewa yang dibayar di muka tersebut.

Hukum Kepailitan di Indonesia 89


Sejak pernyataan pailit, segala uang sewa yang harus dibayar
oleh Debitor merupakan utang harta pailit (estate debt).
22. Karyawan Dapat di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja)
Jika setelah diputuskan pernyataan pailit, ada karyawan yang
bekerja pada Debitor pailit, maka baik karyawan maupun Kurator
sama-sama berhak untuk memutuskan hubungan kerja. Namun
demikian, untuk pemutusan hubungan kerja tersebut diperlukan
suatu pemberitahuan PHK (notice) dengan jangka waktu
pemberitahuan sebagai berikut :
a. Jangka waktu pemberitahuan PHK yang sesuai dengan
perjanjian kerja, atau
b. Jangka waktu tersebut sesuai dengan perundang-
undangan yang berlaku di bidang ketenagakerjaan, atau
c. Dapat di PHK dengan pemberitahuan minimal dalam
jangka waktu enam minggu.
Upah karyawan dianggap hutang harta pailit (estate debt).
Ketentuan tentang PHK hanya berlaku jika pihak karyawan yang
bekerja pada Debitor pailit. Jika Debitor pailit yang menjadi
karyawan pada pihak lain sepenuhnya berlaku perjanjian kerja dan
perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
23.Warisan dapat Diterima oleh Kurator atau Ditolak.
Sebagaimana diketahui bahwa kepailitan berlaku terhadap
harta Debitor pailit baik harta yang sudah ada pada saat
dinyatakan pailit, atau juga harta yang akan ada. Harta yang akan
ada tersebut misalnya warisan yang akan diterima oleh pihak
Debitor pailit. maka dalam hal ini Kurator dapat menerima warisan
tersebut dengan hak istimewa untuk mengadakan pendaftaran
harta peninggalan.
Akan tetapi, jika ada alasan untuk itu, pihak Kurator dapat
menolak warisan dengan kuasa dari hakim pengawas.
24. Pembayaran Hutang Sebelum Pailit Oleh Debitor dapat
Dibatalkan
Jika Debitor telah melakukan pembayaran atas hutangnya
kepada Kreditor tetapi sebelum putusan pailit dijatuhkan
kepadanya, maka pembayaran utang tersebut dapat dibatalkan jika
:

90 Hukum Kepailitan di Indonesia


a. Apabila dapat dibuktikan bahwa si penerima pembayaran
mengetahui bahwa pada saat dibayarnya utang tersebut
oleh Debitor, kepada Debitor tersebut telah dimintakan
pernyataan pailit, atau pelaporan untuk itu sudah
dimintakan, atau
b. Apabila pembayaran utang tersebut akibat kolusi antara
Kreditor dengan Debitor yang dapat memberikan
keuntungan kepada Debitor melebihi dari Kreditor-
Kreditor lainnya.
Pembatalan pembayaran hutang ini berbeda dengan
perbuatan-perbuatan yang dapat dibatalkan dengan actio paulina,
karena dengan actio pauliana, yang hanya dibatalkan adalah
perbuatan yang tidak diwajibkan oleh undang-undang, sedangkan
membayar hutang seperti yang dimaksudkan oleh Pasal 46
tersebut merupakan perbuatan yang tidak diwajibkan oleh
undang-undang.
25.Uang Hasil Penjualan Surat Berharga Dikembalikan
Dalam hubungan dengan penerbitan surat berharga, maka
siapa yang untuk keuntungannya surat berharga tersebut
dikeluarkan, diwajibkan mengembalikannya uang yang telah
diperolehnya kepada harta pailit, jika :
a. Apabila dapat dibuktikan bahwa pihak yang memperoleh
pembayaran mengetahui bahwa pada saat dikeluarkan
surat berharga tersebut, kepada Debitor telah dimintakan
pernyataan pailit, atau pelaporan untuk itu sudah
dimintakan, atau
b. Apabila penerbitan surat berharga tersebut akibat kolusi
antara Kreditor dengan Debitor yang dapat memberikan
keuntungan kepada Debitor tersebut melebihi dari
Kreditor-Kreditor lainnya.
26. Pembayaran Kepada Debitor Sesudah Pernyataan Pailit
dapat Dibatalkan
Apabila ada Kreditor yang telah membayar kepada Debitor
yang telah dinyatakan pailit untuk memenuhi perikatan yang telah
ada sebelum pernyataan pailit, dapat dibatalkan kecuali:

Hukum Kepailitan di Indonesia 91


a. Jika dibayar sesudah pernyataan pailit tetapi pernyataan
pailit tersebut belum diumumkan, dan si pembayar tidak
mengetahui adanya pernyataan pailit tersebut, atau
b. Pembayaran dilakukan setelah pernyataan pailit
diumumkan dan si pembayar dapat membuktikan bahwa
pernyataan pailit dan cara mengumumkannya tidak
mungkin diketahui di tempat tinggalnya, dengan hak dari
Kurator untuk membuktikan sebaliknya, atau
c. Pembayaran yang diterima oleh Debitor tersebut
menguntungkan harta pailit.
27. Teman Sekutu Debitor Pailit Berhak Mengkompensasi
Hutang dengan Keuntungan
Terhadap suatu persekutuan, di mana karena salah satu dan
sekutunya dipailitkan sehingga persekutuan tersebut dibubarkan,
maka jika si pailit sebelumnya sudah berutang terhadap perseroan,
hutang tersebut dapat diambil dari pemotongan sejumlah tersebut
dari pembagian keuntungan persekutuan yang seyogianya
diterima oleh teman sekutu yang telah dinyatakan pailit.
28. Hak Retensi Tidak Hilang
Hak retensi adalah hak dari Kreditor untuk menahan barang-
barang tertentu barang tersebut berada dalam kekuasaan
Kreditor. Barang-barang tersebut ditahan (tetap dikuasai oleh
Kreditor) sampai hutangnya dibayar oleh Debitor. Maka dalam hal
ini, apabila Debitor dinyatakan pailit, hak retensi dari Kreditor
tersebut tetap berlaku.
29. Debitor Pailit dapat Disandera (gijzeling) dan Paksaan
Badan
Lembaga sandera (gijzeling) yang sempat dibekukan oleh
Mahkamah Agung dengan salah satu surat edarannya dengan
alasan melanggar hak asasi manusia, tetap berlaku dalam bidang
kepailitan dan dapat diterima oleh Pengadilan Niaga apabila ada
alasan untuk itu dan memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh
undang-undang. Penyanderaan bagi Debitor pailit ini ditetapkan :
a. Dalam putusan pailit, atau
b. Setiap waktu setelah putusan pailit

92 Hukum Kepailitan di Indonesia


Penyanderaan tersebut dilaksanakan oleh pihak kejaksaan, di
tempat-tempat sebagai berikut :
1. dalam penjara, atau
2. di rumah tahanan; atau
3. di rumah seorang Kreditor.
Pelaksanaan penyanderaan tersebut diawasi oleh pejabat
dari kekuasaan umum, dan berlangsung selama maksimum 30 hari
tetapi dapat diperpanjang untuk jangka waktu maksimum 30 hari
dan bila perlu ditambah untuk maksimum 30 hari lagi.
Hal yang senada dengan penyanderaan juga dikenal apa yang
disebut dengan “paksaan badan” terhadap Debitor pailit, yang juga
ditetapkan oleh Pengadilan Niaga.
30. Debitor Pailit Dilepas dari Tahanan dengan atau Tanpa
Uang Jaminan
Atas usul hakim pengawas, Pengadilan Niaga dapat
melepaskan Debitor pailit dari tahanan dengan atau tanpa
pemberian uang jaminan (yang jumlahnya ditetapkan oleh
Pengadilan Niaga) sebagai jaminan bahwa atas panggilan yang
pertama Debitor pailit tersebut dapat datang untuk menghadap.
Apabila Debitor tidak menghadap setelah dipanggil, uang jaminan
tersebut menjadi keuntungan harta pailit.
31. Debitor Pailit Demi Hukum Dicekal
Pencekalan yakni larangan bagi seseorang untuk
meninggalkan tempat kediamannya juga berlaku untuk Debitor
pailit. pencekalan ini berlaku demi hukum (by the operation of law)
begitu putusan ini berarti pihak Debitor diputuskan. Pencekalan
dalam bidang kepailitan ini berarti pihak Debitor tidak boleh
meninggalkan tempat kediaman baik untuk berangkat ke luar
negeri atau tidak, kecuali jika hakim pengawas memberi izin untuk
itu.
32.Harta Pailit Dapat Disegel
Penyegelan ini penting artinya dalam proses kepailitan
berhubung berbeda dengan sita jaminan, maka dengan sitaan
umum saja, sitaan (umum) tersebut sama sekali tidak terlihat pada
harta yang disita, sehingga terutama untuk barang bergerak,
memungkinkan Debitor pailit yang nakal untuk mengalihkan harta

Hukum Kepailitan di Indonesia 93


tersebut kepada pihak ketiga. Apabila suatu harta sudah disegel,
maka apabila Debitor pailit berani membuka segel dari harta
tersebut, ini sudah termasuk tindak pidana. Maka berdasarkan
pertimbangan tersebut, penyegelan harta pailit dapat dilakukan
atas persetujuan hakim pengawas. Penyegelan tersebut dilakukan
oleh Panitera pengganti di tempat harta tersebut berada dengan
dihadiri oleh dua orang saksi, yang salah satu dari saksi tersebut
adalah wakil dari pemerintah daerah setempat.
33. Surat-Surat Kepada Debitor Pailit dapat Dibuka oleh
Kurator
Setelah putusan pailit diputuskan, maka Kurator berwenang
untuk:
a. Membuka surat-surat yang ditujukan kepada Debitor
pailit.
b. Menyimpan surat-surat yang bersangkutan paut dengan
harta pailit.
c. Mengembangkan kepada Debitor pailit surat-surat yang
tidak ada hubungannya dengan harta pailit.
d. Meminta agar surat-surat yang diterima oleh Debitor
pailit yang berhubungan dengan harta pailit diserahkan
kepada Kurator.
34.Barang-barang Berharga Milik Debitor Pailit Disimpan
oleh Kurator
Adalah wajar jika Kurator sangat berkepentingan terhadap
barang-barang berharta milik Debitor pailit. karena itu, Kurator
berwenang untuk menyimpannya dengan cara yang dianggap
paling aman. Misalnya emas, berlian, surat berharga disimpan oleh
Kurator dalam safe deposit pada bank-bank. Akan tetapi hakim
pengawas berwenang pula untuk menentukan cara-cara
penyimpanan oleh Kurator tersebut.
35. Uang Tunai Harus Dibungakan
Jika Kurator memperoleh uang tunai dari Debitor/harta
Debitor, maka uang tunai tersebut haruslah dibungakan.
Bagaimana cara membungakannya dan di bank mana
dibungakannya, bergantung dari business judgement si Kurator
tersebut. Karena itu pula, dalam praktik pihak Kurator diwajibkan

94 Hukum Kepailitan di Indonesia


untuk membuka rekening khusus untuk menampung uang dari
Debitor/harta Debitor pailit.
36. Penyanderaan dan Pencekalan Berlaku Juga Buat Direksi
Telah disebutkan bahwa dalam kepailitan berlaku
penyanderaan (harus dimintakan terlebih dahulu) dan pencekalan
(terjadi karena hukum). Apabila Debitor yang pailit tersebut adalah
badan hukum perseroan terbatas, maka penyanderaan dan
pencekalan tersebut juga berlaku bagi pengurus/Direksinya.
Tetapi tidak berlaku untuk komisaris atau pemegang sahamnya.
Pihak komisaris dari suatu perseroan terbatas hanya dibebankan
kewajiban untuk menghadap hakim pengawas, Kurator atau
panitia Kreditor bila diperlukan jika Debitor pailit dipanggil untuk
itu.
37. Keputusan Pailit Bersifat Serta Merta
Putusan pernyataan oleh Pengadilan Niaga (tingkat pertama
merupakan putusan serta merta (dapat dijalankan terlebih dahulu
atau Uitvoorbaar bij Voorraad), sungguhpun terhadap putusan
tersebut masih diajukan kasasi. Dengan demikian, Kurator sudah
mulai bekerja sejak saat jatuhnya putusan pailit (tingkat pertama).
Dan karena itu pulalah maka apabila putusan pernyataan pailit
dibatalkan di tingkat kasasi, maka segala tindakan Kurator
sebelum diketahuinya putusan tingkat kasasi, tetap dianggap sah
dan mengikat.
Disamping itu, putusan-putusan lainnya dari Pengadilan
Niaga berkenaan dengan kepailitan, yakni putusan yang berkenaan
dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit juga mempunyai
kekuatan serta merta, kecuali ditentukan lain oleh undang-
undang.
38. Keputusan-keputusan Hakim Pengawas Bersifat Serta
Merta
Selain putusan Pengadilan Niaga tentang pernyataan pailit
yang bersifat serta merta dan putusan-putusan lainnya dari
Pengadilan Niaga mengenai kepailitan, putusan hakim pengawas
juga bersifat serta merta, kecuali ditentukan sebaliknya oleh
undang-undang.
39. Berlaku Ketentuan Pidana bagi Debitor

Hukum Kepailitan di Indonesia 95


Beberapa tindakan Debitor atau Direksi dan komisaris dari
perusahaan pailit atau perusahaan yang segera akan pailit, dapat
dikenakan pidana yang tergolong ke dalam perbuatan pidana
merugikan Kreditor atau orang yang mempunyai hak, yaitu
terhadap tindakan-tindakan tertentu yang dapat merugikan
Kreditor seperti peminjaman uang, pengalihan, aset, membuat
pengeluaran yang sebenarnya tidak ada, tidak membuat catatan-
catatan yang diwajibkan, atau pada masa verifikasi piutang
mengaku adanya piutang yang sebenarnya tidak ada atau
memperbesar jumlah piutang. Ancaman penjara terhadap masing-
masing tindak pidana tersebut beraneka ragam bergantung pasal
mana yang dilanggar, yaitu mulai dari ancaman pidana 1 tahun 4
bulan penjara, sampai dengan ancaman 7 tahun penjara.
Sementara dalam hubungannya dengan penundaan kewajiban
pembayaran hutang, ada ancaman pidananya.
40. Debitor Pailit, direktur dan komisaris perusahaan pailit
tidak boleh menjadi direktur/komisaris di perusahaan lain.
Debitor pailit (pribadi), direktur dan komisaris dari suatu
perusahaan yang dinyatakan pailit tidak boleh menjadi Direksi atau
komisaris pada perusahaan lain, asalkan yang bersangkutan ikut
bersalah yang menyebabkan perusahaan tersebut pailit, kecuali
setelah lewat waktu 5 tahun sejak yang bersangkutan dinyatakan
bersalah.
41. Hak-hak tertentu dari Debitor Pailit tetap Berlaku
Hak-hak tertentu yang dimiliki oleh Debitor pailit tidak
semuanya hapus dengan adanya kepailitan ini. Hak-hak Debitor
yang berubah yaitu:
a. Perundang-undangan di bidang kepailitan dengan tegas
mengubahnya;
b. Perundang-undangan lainnya selain perundang-
undangan di bidang kepailitan dengan tegas
mengubahnya;
c. Tidak dengan tegas diubah oleh perundang-undangan,
tetapi sebaiknya diubah karena tidak sesuai lagi dengan
sifat kepailitan dari suatu perusahaan.

96 Hukum Kepailitan di Indonesia


Sebagai contoh kasus misalnya jika sebelum pailit suatu
perusahaan membeli suatu barang dari Kreditor tertentu, barang
sudah diserahkan, harga belum dibayar dan Debitor sudah
dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Dalam contoh kasus
seperti ini ada beberapa hak yang masih dimiliki Kreditor, yaitu:
a. Pembayaran harga barang tidak dapat lagi dimintakan
oleh Kreditor kepada Debitor pailit, sebab Debitor pailit
tidak lagi berwenang mengurus kekayaannya, termasuk
tidak berwenang untuk membayar harga tersebut.
b. Kreditor dapat menggunakan hak untuk membatalkan
kontrak berdasarkan Pasal 1266 KUHPerdata:
Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam
persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik, manakala salah satu
pihak tidak memenuhi kewajibannya.Dalam hal yang demikian
persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus
dimintakan kepada Hakim.Permintaan ini juga harus dilakukan,
meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban
dinyatakan di dalam perjanjian.Jika syarat batal tidak dinyatakan
dalam persetujuan, Hakim adalah leluasa untuk, menurut keadaan,
atas permintaan si Tergugat, memberikan suatu jangka waktu
untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana
namun itu tidak boleh lebih dari 1 (satu) bulan.
c. Kreditor dapat menggunakan hak reklame berdasarkan
Pasal 1145 KUH Perdata:
Jika penjualan telah dilakukan tunai, maka si penjual
bahkan mempunyai kekuasaan menuntut kembali barang-
barangnya, selama barang-barang ini masih berada di
tangan si pembeli, sedangkan ia dapat menghalang-
halangi dijualnya terus barang-barang itu, asal saja
penuntutan kembali itu dilakukan di dalam jangka waktu
30 (tiga puluh) hari setelah penyerahan.
d. Dapat menggunakan hak reservation of title jika
disebutkan dalam kontrak jual beli tersebut.
e. Menuntut harga dengan mengajukan diri sebagai Kreditor
konkuren.

Hukum Kepailitan di Indonesia 97


Sentosa Sembiring menyatakan dalam Pasal 21 Undang-
undang Kepailitan, kepailitan meliputi seluruh kekayaan Debitor
pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala
sesuatu yang diperoleh selama kepailitan. Dengan demikian,
bahwa kepailitan berkaitan dengan harta benda Debitor. Oleh
karena itu dengan dinyatakan pailit, maka :
1). Debitor
a) Kehilangan hak menguasai dan mengurus harta
kekayaannya.
b) Perikatan yang muncul setelah pernyataan pailit tidak
dapat dibebankan ke budel pailit.
c) Tujuan terhadap harta pailit diajukan ke dan atau oleh
kurator.
d) Penyitaan menjadi hapus.
e) Bila Debitor ditahan harus dilepas.
2). Terhadap Pemegang Hak Tertentu,
a) Pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,
hipotek atau hak agunan lainnya dapat mengeksekusi
seolah-olah tidak ada kepailitan.
b) Pelaksanaan hak tersebut harus dilaporkan ke kurator. 63
Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat diketahui akibat
hukum kepailitan adalah maka Debitor kehilangan hak menguasai
dan mengurus harta kekayaannya dan berakibat yuridis yang
diberlakukan kepadanya oleh undang-undang. Akibat-akibat
yuridis tersebut berlaku kepada Debitor, yaitu berlaku demi
hukum (by the operation of law) segera setelah pernyataan pailit
dinyatakan atau setelah pernyataan pailit mempunyai kekuatan
hukum tetap ataupun setelah berakhirnya kepailitan, dan berlaku
secara rule of reasonmaksudnya adalah bahwa akibat hukum
tersebut tidak otomatis berlaku, tetapi baru berlaku jika
diberlakukan oleh pihak-pihak tertentu setelah mempunyai alasan
yang wajar untuk diberlakukan.

63
Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan Dan Peraturan Perundang-undangan Yang
Terkait Dengan Kepailitan, CV. Nuansa Aulia, Bandung, 2006, hlm. 30

98 Hukum Kepailitan di Indonesia


1. Pengadilan Niaga Dan Kewenangannya.
Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang berada
di lingkungan peradilan umum yang berwenang menerima,
memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan
penundaan kewajiban pembayaran utang serta perkara lain di
bidang perniagaan yaitu perkara sengketa merek, paten, desain
industri dan pelanggaran hak cipta. Pengadilan Niaga pertama kali
dibentuk adalah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta

Hukum Kepailitan di Indonesia 99


Pusat berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1
Tahun 1998 Tentang Kepailitan kemudian ditetapkan menjadi UU
Nomor 4/PRP/ Tahun 1998. Pembentukan pengadilan khusus
tersebut dimungkinkan berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1970
tentang Kekuasaan Kehakiman.
UU Nomor 48 Tahun 2009 merupakan perubahan dari UU 14
Tahun 1970 Tentang Kekuasaan Kehakiman pada Pasal 18
menyebutkan bahwa Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah
Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya
dalam Lingkungan Peradilan Umum, Lingkungan Peradilan Agama,
Lingkungan Peradilan Militer dan Lingkungan Peradilan Tata
Usaha Negara. Pasal 25 Ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009
menyebutkan bahwa Badan Peradilan yang berada di bawah
Mahkamah Agung meliputi Badan Peradilan Umum dalam
lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer
dan peradilan tata usaha negara. Pembentukan pengadilan khusus
diatur dalam Pasal 27 UU Nomor 48 Tahun 2009 menyebutkan
bahwa Pengadilan khusus dapat dibentuk dalam salah satu
lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung.
Berdasarkan ketentuan tersebut keberadaan Pengadilan
Niaga yang merupakan pengadilan khusus berada dibawah
peradilan umum yaitu pengadilan negeri, yang berwenang
mengadili perkara kepailitan dan perkara-perkara lainnya
berdasarkan undang-undang. Pada saat ini Pengadilan Niaga juga
berwenang menangani perkara perniagaan lainnya yaitu mengenai
hak cipta, paten, merek dan desain industri (Hak kekayaan
intelektual) sebagaimana diatur dalam UU Nomor 14 Tahun 2001 jo
UU Nomor 13 Tahun 2014 tentang Paten, UU Nomor 15 Tahun 2001
jo UU Nomor 20 tahun 2016 tentang Merek dan indikasi geografis,
UU Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri dan UU Nomor
19 Tahun 2002 jo UU Nomor28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta.
Setelah berlakunya UU Kepailitan, mengenai Pengadilan
Niaga diatur dalam beberapa pasal :
Pasal 1 Angka 7 UU Kepailitan menyebutkan bahwa
Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan
umum. Pasal 300 Ayat (1) UU Kepailitan menegaskan bahwa

100 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pengadilan sebagaimana dimaksud undang-undang ini, selain
memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan
penundaan kewajiban pembayaran utang, berwenang pula
memeriksa dan memutus perkara lain dibidang perniagaan yang
penetapannya dilakukan dengan undang-undang.
Selain Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1999
tertanggal 18 Agustus 1999 dibentuk pula Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Niaga pada Pengadilan
Negeri Semarang, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Surabaya dan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar.
UU Kepailitan selain mengatur masalah hukum materiil juga
mengatur hukum formiil, sedangkan terhadap yang tidak diatur
secara khusus oleh UU Kepailitan maka tetap diberlakukan hukum
acara perdata,64 kekhususan beracara Pengadilan Niaga tersebut
antara lain mengenai upaya hukum terhadap putusan Pengadilan
Niaga, upaya hukum terhadap putusam Pengadilan Niaga tidak
mengenal upaya hukum banding akan tetapi putusan tersebut
langsung diajukan kasasi dan atau mengajukan Peninjauan Kembali
terhadap Putusan Kasasi atau Putusan yang telah berkekuatan
hukum tetap sepanjang memenuhi ketentuan perundang-
undangan ini. Kekhususan lainnya mengenai hukum acara
Pengadilan Niaga ditetapkannya batas waktu proses pemeriksaan
perkara pada semua tingkatan dan pada peradilan tingkat pertama
Pengadilan Niaga sudah harus memutus permohonan pailit yang
diperiksanya paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal
permohonan pailit didaftarkan.
Kasasi diajukan melalui Pengadilan Niaga paling lambat 8
(delapan) hari setelah putusan yang dimohonkan kasasi diucapkan.
sebagaimana diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 13 UU
Kepailitan. Kasasi selain dapat diajukan oleh Debitor dan atau
kreditor, kasasi juga dapat diajukan oleh kreditor lain yang bukan
pihak dalam permohonan pailit pada tingkat pertama yang merasa
dirugikan dengan adanya putusan Pengadilan Niaga tersebut.

64
Pasal 299 UU Kepailitan.

Hukum Kepailitan di Indonesia 101


Panitera pada Pengadilan Niaga wajib menyampaikan berkas
Permohonan Kasasi ke Mahkamah Agung selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari sejak permohonan kasasi tersebut didaftarkan.
Mahkamah Agung selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari
setelah permohonan kasasi diterima putusan atas permohonan
kasasi tersebut sudah harus diucapkan.65
Peninjauan Kembali terhadap suatu putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dapat diajukan paling lambat
selama 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal yang
dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum
tetap dan untuk alasan sebagaimana diatur Pasal 295 ayat (2) huruf
b selama 30 (tiga puluh) hari setelah putusan yang diajukan
Peninjauan Kembali berkekuatan hukum tetap sebagaimana diatur
dalam Pasal 14, Pasal 295 sampai dengan Pasal 298 UU Kepailitan,
dengan alasan-alasan hukum sebagai berikut 66 :
a. Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat
menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di
pengadilan bukti tersebut sudah ada akan tetapi belum
ditemukan, atau
b. Dalam putusan hakim yang bersangkutan telah terjadi
kekeliruan.
Panitera Pengadilan Niaga wajib menyampaikan salinan
permohonan Peninjauan Kembali kepada Termohon dalam jangka
waktu 2 (dua) hari setelah tanggal pendaftaran dan Termohon
dapat mengajukan Jawaban terhadap Permohonan Peninjauan
Kembali dalam waktu 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal
pendaftaran. Perkara Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung
sudah harus diputus 32 (tiga puluh dua) hari sejak berkas perkara
tersebut diterima Mahkamah Agung.
Hukum acara persidangan permohonan pailit memberikan
kepastian hukum tentang waktu penyelesaian permohonan
pernyataan pailit sejak peradilan tingkat pertama, kasasi dan
peninjauan kembali. Ditingkat pertama selama 60 (enam puluh)

65
Lihat Pasal 13 UU Kepailitan.
66
Lihat Pasal 295 UU Kepailitan.

102 Hukum Kepailitan di Indonesia


hari67 setelah permohonan terdaftar di pengadilan putusan sudah
harus diucapkan, ditingkat kasasi Mahkamah Agung sudah harus
mengucapkan putusannya 60 (enam puluh) hari68 sejak berkas
kasasi diterimanya dan ditingkat Peninjauan Kembali Mahkamah
Agung sudah harus memutus perkara Peninjauan Kembali
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari69 sejak berkas
permohonan Peninjauan Kembali diterima Mahkamah Agung.
Dalam praktik pengadilan oleh karena UU Kepailitan tidak
menyebutkan sanksi atau akibat jika putusan tidak diucapkan
dalam jangka waktu tersebut, seharusnya undang-undang
menyebutkan sanksi atau menyebutkan akibat hukum jika putusan
tersebut melewati masa waktu yang ditentukan tersebut.

2. Kepailitan Debitor Dalam Praktik Peradilan


Putusan Pernyataan Pailit Pengadilan Niaga kepada Debitor
perorangan maupun korporasi mengakibatkan Debitor kehilangan
hak dalam pengelolaan harta kekayaannya, pernyataan kepailitan
tidak ditujukan kepada Debitor pailit akan tetapi kepailitan
ditujukan kepada harta kekayaan Debitor. Pernyataan pailit
menetapkan semua harta Debitor pailit berada dalam sita umum
dan segala perbuatan hukum berkaitan dengan harta kekayaan
Debitor berada pada kurator dan kurator secepatnya melakukan
pengaman untuk menjaga tindakan Debitor yang dapat merugikan
harta pailit atau merugikan kreditor. Pelaksanaan kewenangan
kurator diawasi oleh Hakim Pengawas.
Dalam proses kepailitan baik yang diajukan oleh kreditor
maupun Debitor sendiri ataupun oleh Kejaksaan, Menteri
Keuangan, Bank Indonesia ataupun Bapepam harus memenuhi
persyaratan sebagaimana disebutkan oleh Pasal 2 Ayat (1) UU
Kepailitan yaitu adanya Debitor yang mempunyai dua orang
kreditor atau lebih dan tidak membayar utang yang telah jatuh

67
Lihat Pasal 8 Ayat (5) UU Nomor 37 Tahun 2007.
68
Lihat Pasal 13 Ayat (3) UU Nomor 37 Tahun 2007.
69
Lihat Pasal 298 Ayat (1) UU Nomor 37 Tahun 2007.

Hukum Kepailitan di Indonesia 103


waktu dan dapat ditagih, serta terdapatnya fakta atau keadaan
yang terbukti secara sederhana.70 Keadaan tersebut dimaksudkan
untuk mempermudah penagihan piutang bagi kreditor terutama
investor asing, sebagaimana yang menjadi latar belakang
pembaruan hukum kepailitan agar dapat berperan dalam
penyelesaian utang-piutang dikarenakan timbulnya krisis ekonomi
pada tahun 1997-1998.71
Melihat sejauh mana kedudukan Debitor dalam proses
kepailitan terutama dalam pemeriksaan permohonan pernyataan
pailit yang diajukan ke pengadilan berikut pembahasan beberapa
putusan pengadilan sehingga tulisan ini dapat memberi gambaran
sejauh mana kesempatan yang diberikan oleh hukum kepailitan
terhadap seorang Debitor dalam membela hak-haknya berkaitan
dengan proses kepailitan tersebut.
Melihat kasus Permohonan antara HIDEAKI MATSUNISHI
Dkk dengan M.F. TONI GANI.72
Pada bulan Juni 2002, Pemohon I dan Pemohon II dengan
Termohon menandatangani Money Loan Agreement yang mana
Termohon meminjam uang dari Pemohon I dan Pemohon II
sejumlah uang dengan bunga 5% per bulan dan tanggal jatuh
tempo pada bulan Juni 2003. Kemudian pada bulan Agustus 2002,
Pemohon I dan Pemohon II bersama-sama dengan Pemohon III
dan Pemohon IV menandatangani Money Loan Agreement dengan
Termohon meminjam uang dari para Pemohon sejumlah uang
dengan bunga 5% per bulan dan jatuh tempo pada Agustus 2003.
Pada bulan September 2002, Para Pemohon dengan
Termohon menandatangani Money Loan Agreement, yang mana
Termohon meminjam uang dari Para Pemohon sejumlah uang
dengan bunga 3,5% per bulan dan jatuh tempo pada bulan Januari
2003.
Berdasarkan perjanjian tersebut para Pemohon mentransfer
sebagian uang kepada Termohon melalui rekening Pemohon I dan

70
Lihat Pasal 2 Ayat (1), Pasal 8 Ayat (4) UU Kepailitan.
71
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, Op.Cit.. Hlm. 11.
72
Putusan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat
Nom.12/Pailit/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst.

104 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pemohon II di BNI 46 Cabang Thamrin Jakarta sejumlah uang. Para
Pemohon juga mentransfer lagi melalui Sumitomo Mitsui Banking
Corporation . Selanjutnya Para pemohon melalui kuasa hukumnya
telah meminta agar Termohon untuk melaksanakan kewajiban
Termohon membayar utang-utang Termohon kepada para
Pemohon yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, sehingga
patut dan adil jika Termohon dinyatakan pailit.
Pemohon dalam kepailitan ini adalah Warga Negara Jepang
yang bertempat tinggal di Jepang, perjanjian ini berawal dari
ditandatanganinya Money Loan Agreement antara Para Pemohon
dengan Termohon, perjanjian tersebut oleh Termohon tidak
dilaksanakan setelah jatuh tempo pada januari 2003, tidak
disebutkan alasan yang mengakibatkan Termohon tidak
melaksanakan perjanjian Money Loan Agreement tersebut.
Putusanin cassu tidak menerangkan apakah perjanjian
Money Loan Agreement tersebut dilakukan dengan jaminan atau
tanggungan.
Atas permohonan Pemohon tersebut pihak Termohon
menanggapinya sebagai berikut:
Termohon bukanlah Debitor dari utang yang ditagihkan
kepadanya tersebut, sebab uang yang diserahkan oleh para
Pemohon adalah modal investasi dibidang bisnis hiburan.
Uang yang dikirim setelah adanya 3 (tiga) MLA diatas
tidaklah sebesar jumlah yang ditagih oleh Para Pemohon.
Seandainyapun MLA di atas benar, maka bunga yang
dikenakan berdasarkan MLA tersebut sungguh mencekik
leher dan jelas melanggar hukum yang berlaku.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan
pernyataan pailit yang diajukan oleh Para Pemohon, menurut
pertimbangan Pengadilan bahwa telah cukup alasan untuk
mengabulkan permohonan pemohon sesuai dengan Pasal 2 Ayat (1)
UU Kepailitan dan pembuktiannya sederhana sebagai berikut :
Berdasarkan bukti perjanjian Juni 2002 antara Pemohon I
dan Pemohon II sebagai Kreditor telah mengadakan
perjanjian pinjaman uang dengan Termohon sebagai Debitor
sejumlah uang dengan bunga 5% per bulan dengan jangka

Hukum Kepailitan di Indonesia 105


waktu 1 tahun dari Agustus 2002 sampai Agustus 2003.
Berdasarkan bukti perjanjian Agustus 2002 ternyata
Pemohon I, Pemohon II, Pemohon III dan Pemohon IV
sebagai kreditor telah mengadakan perjanjian pinjaman
uang dengan Termohon sebagai Debitor sejumlah uang
dalam jangka waktu 1 tahun dari Agustus 2002 sampai
Agustus 2003 dengan bunga 5% per bulan. Berdasarkan
bukti perjanjian bulan September 2002 ternyata Para
Pemohon (Pemohon I, III, dan IV) sebagai kreditor
mengadakan perjanjian pinjaman uang dengan Termohon
selaku Debitor sejumlah uang dengan jangka waktu 4 bulan
dari September 2002 sampai Januari 2003. Berdasarkan hal
tersebut di atas dihubungkan dengan jawaban/tanggapan
Termohon, dimana Termohon mengakui telah menerima
kiriman uang dari pada Pemohon setelah ditanda tanganinya
3 (tiga) MLA (Money Loan Agreement), maka dalil Para
Pemohon yang menyatakan bahwa Termohon mempunyai
utang kepada Para Pemohon telah terbukti, dan utang
tersebut telah jatuh .
Majelis Hakim dalam pertimbangannya menyatakan bahwa
dengan adanya perjanjian pinjaman uang dalam jangka waktu satu
tahun dari Pemohon selaku kreditor dan termohon selaku Debitor,
kemudian dihubungkan dengan pengakuan Termohon dalam
jawabannya yang menyatakan bahwa Termohon telah menerima
sejumlah uang dari Pemohon setelah ketiga Money Loan
Agreement ditanda-tangani maka hal tersebut disimpulkan sebagai
utang dan utang tersebut telah jatuh tempo sesuai perjanjian
pinjam meminjam uang tersebut.
Menimbang, bahwa atas dasar fakta-fakta diatas terbukti
Termohon memiliki dua atau lebih kreditor. Menimbang,
bahwa berdasarkan bukti-bukti Para Pemohon telah
meminta agar Termohon membayar utangnya kepada Para
Pemohon dan Termohon tidak dapat membuktikan bahwa ia
telah melunasi utangnya kepada Para Pemohon dengan
demikian telah terbukti bahwa Termohon tidak membayar
lunas utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

106 Hukum Kepailitan di Indonesia


Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 8 Ayat (4)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yaitu terdapat fakta
atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa
Termohon telah memenuhi pesyaratan sebagaimana
dimaksud Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 maka Permohonan Pemohon sebagaimana
dikemukakan dalam petitum angka 2 surat permohonananya
harus dikabulkan dengan menyatakan bahwa Termohon
pailit dengan segala akibat hukumnya.
Bahwa berdasarkan pertimbangan terdahulu Pengadilan
menyatakan bahwa Debitor mempunyai utang kepada
Pemohon/Kreditor dan apakah utang tersebut belum dibayar oleh
Pengadilan pembuktian tersebut dibebankan kepada
Termohon/Debitor, oleh karena Debitor/Termohon tidak dapat
membuktikan bahwa ia telah melakukan pembayaran tersebut
menurut Pengadilan hal tersebut telah cukup membuktikan
bahwa utang Debitor kepada krteditor belum dibayar lunas.
Menimbang, bahwa Pengadilan Niaga telah mengabulkan
permohonan Para Pemohon dan menyatakan Termohon
(Debitor) pailit dengan segala akibat hukumnya, maka
ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 37 tahun
2004 harus diangkat seorang Hakim Pengawas yang ditunjuk
dari Hakim Pengadilan Niaga, akan disebutkan dalam amar
putusan ini. Bahwa selain Hakim Pengawas, berdasarkan
ketentuan pasal yang sama dengan di atas harus pula
Kurator yang memenuhi syarat sebagaimana ditentukan
dalam Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang No. 37 tahun 2004.
Dalam permohonannya Para Pemohon mengajukan usul
untuk mengangkat kurator dalam kepailitan ini tidak
mempunyai benturan kepentingan dan baru menangani 1
(satu) kasus kepailitan sejak Oktober 2004. Berdasar
permohonan dan lampirannya tersebut di atas, Majelis
berpendapat bahwa usul pengangkatan kurator yang
diajukan oleh Pemohon beralasan hukum, sehingga haruslah
dikabulkan. Mengenai besarnya imbalan jasa Kurator, akan
ditentukan setelah kepailitan berakhir sesuai dengan

Hukum Kepailitan di Indonesia 107


ketentuan Pasal 75 dan 76 Undang-Undang No. 37 tahun
2004. Perihal permohonan Sita Jaminan oleh karena Majelis
Hakim memandang tidak perlu diletakkan sita selama
persidangan berlangsung, maka petitum perihal tersebut
harus ditolak.
Pengadilan mempertimbangkan bahwa Permohonan
Pemohon telah memenuhi syarat adanya Debitor dalam perkara in
cassu adalah Termohon, adanya dua kreditor atau lebih yaitu Para
Pemohon dalam perkara ini dapat dibuktikan secara sederhana
adanya dua atau lebih kreditor yaitu Para Pemohon, adanya satu
utang yang belum dibayar lunas dan telah jatuh waktu dan dapat
ditagih. Sehingga Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan
permohonan pemohon tersebut dengan segala akibat hukumnya.
1. Mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk sebagian
2. Menyatakan Termohon Pailit dengan segala akibat hukumnya.
3. Menunjuk dan mengangkat Hakim Pengawas.
4. Mengangkat Kurator.
5. Menghukum Termohon untuk membayar biaya perkara.
Amar putusan mengabulkan permohonan para pemohon
sebagian karena tidak semua apa yang dikemukakan dalam
petitum permohonannya dikabulkan yaitu menyangkut
permohonan agar dilakukan sita terhadap harta Debitor selama
proses pemeriksaan pernyataan pailit berjalan dipersidangan, akan
tetapi Pengadilan menyatakan dalam pertimbangan putusannya
bahwa tidak perlu adanya peletakan sita terhadap harta Debitor
selama proses persidangan permohonan tersebut, sehingga
petitum tersebut ditolak.
Permohonan pernyataan pailit in cassu baik pemohon
maupun termohon merupakan orang perorangan, Pengadilan tidak
mempertimbangkan kedudukan Para Pemohon ataupun
Termohon, Pengadilan hanya mempertimbangkan sejauh mana
hubungan hukum yang ada antara Para Pemohon dengan
Termohon dalam permohonan pernyataan pailit ini.
Dalam Tingkat Kasasi73:

73
Putusan Kasasi MA No.020 K/N/2005.

108 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pihak Termohon pernyataan pailit dalam perkara in cassu
tidak menerima Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dan
mengajukan Kasasi dengan alasan-alasan sebagai berikut:
Bahwa judex facti tidak mempertimbangkan jumlah utang
Pemohon Kasasi akan tetapi hanya mempertimbangkan
eksistensi utang itu sendiri. Bahwa pertimbangan judex facti
menyatakan bukti-bukti yang diajukan Pemohon Kasasi
tidak dibantah oleh Termohon Kasasi akan tetapi judex facti
menyatakan telah terbukti secara sah Pemohon Kasasi
mempunyai utang dan telah jatuh tempo. Pemohon Kasasi
keberatan karena judex facti telah keliru sama sekali karena
tidak mempertimbangkan dalil-dalil tanggapan Pemohon
Kasasi. Bahwa seharusnya termohon pailit dalam perkara ini
tidak hanya Pemohon Kasasi tapi seharusnya Tuyoshi ditarik
sebagai Debitor karena ia juga menerima kiriman uang dari
Termohon Kasasi sesuai bukti-bukti yang Pemohon Kasasi
ajukan dipersidangan. Pertimbangan kasasi Majelis kasasi
Menyatakan bahwa keberatan Pemohon Kasasi pada ad.3
sampai dengan ad.7 tidak beralasan karena judex facti tidak
salah menerapkan hukum. Sedangkan keberatan lain tidak
beralasan karena judex facti telah tepat dalam pertimbangan
dan putusannya, karenanya beralasan permohonan kasasi
tersebut haruslah ditolak.
Dalam pertimbangan putusan Majelis Hakim Kasasi menilai
bahwa judex facti tidak salah menerapkan hukum dan telah tepat
dalam pertimbangan putusannya karenanya tidak ada alasan untuk
membatalkan putusan judex facti tersebut dan permohonan kasasi
pemohon haruslah ditolak. Terhadap putusan tingkat pertama
maupun pada putusan tingkat kasasi tidak terbukti alasan
Termohon Pailit tidak melakukan pembayaran utangnya yang telah
jatuh tempo, pada kedua putusan juga tidak dipertimbangkan
kapasitas Para Pemohon dalam kedudukannya sebagai kreditor,
karena kedudukan kreditor dibedakan dari sifat piutangnya, baik
sebagai kreditor preferen, kreditor separatis ataupun sebagai
kreditor kokuren. Dalam proses pemeriksaan permohonan
pernyataan pailit tidak terlihat nilai dan seberapa mungkin harta

Hukum Kepailitan di Indonesia 109


benda Termohon dapat membayar utang-utangnya kepada Para
Pemohon atau Para Kreditor dari Debitor atau Termohon dalam
perkara ini.
Dalam Permohonan PT.UNIDENTAL METAL Pemohon Sendiri 74:
Pemohon adalah perseroan terbatas dengan bidang usaha
alat-alat kedokteran berkedudukan di Bandung.
Sejak awal pemohon telah menjalankan usahanya dengan
baik dan mempunyai penghasilan yang baik pula, namun
usaha Pemohon mengalami kemerosotan keuangan
sehubungan dengan menurunnya pesanan/order yang
berakibat menurunnya pemasukan.
Kemudian para Pemegang Saham dari Pemohon mengambil
kesimpulan untuk mempailitkan diri Pemohon sebagaimana
tertuang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
PT. Unident (Pemohon) yang pada pokoknya pemegang
saham Pemohon sepakat untuk mengajukan permohonan
pailit kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.
Permohonan yang diajukan oleh Pemohon ini, tidak
bertentangan atau tidak terhalang oleh suatu undang-
undang atau perjanjian yang dibuat oleh Pemohon.
Perseroan Terbatas in cassu sebagai Pemohon sebelum
mengajukan kepailitan terhadap dirinya sendiri harus terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham,
dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas
menyebutkan dalam Pasal 104 Ayat (1) menyebutkan bahwa :
Direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas
perseroan sendiri kepada Pengadilan Niaga sebelum memperoleh
persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan
sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang kepailitan dan
penundaan kewajiban pembayaran utang.
Pemohon sampai dengan saat ini mempunyai banyak
kreditor diantaranya adalah PT. NORD Indonesia dan PT.
Sekawan. Utang-utang Pemohon tersebut kepada para

74
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.16/Pailit/PN.Niaga.Jkt.Pst.

110 Hukum Kepailitan di Indonesia


kreditor seharusnya dibayarkan sesuai dengan jadwal-
jadwal, kepada PT. NORD Indonesia jatuh tempo pada bulan
Oktober 2004 dan kepada PT. Sekawan yang jatuh tempo
pada bulan Agustus 2004, November 2004 dan Desember
2004 total sejumlah utang, Namun demikian hingga pada
bulan-bulan tersebut Pemohon tidak dapat membayar
utang-utangnya kepada para Kreditor.
Pemohon mempunyai 2 (dua) atau lebih kreditor,
sebagaimana telah diuraian di atas dimana Pemohon
mempunyai banyak kreditor yaitu PT. NORD Indonesia dan
PT. Sekawan, bahkan berdasarkan laporan keuangan dari
Pemohon yang dibuat pada April 2004 tercatat Pemohon
mempunyai 33 Kreditor. Berdasarkan alasan-alasan tersebut
di atas, Pemohon memohon kepada Majelis Hakim berkenan
memberikan putusan sebagai berikut :
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.
2. Menyatakan Pemohon pailit dengan segala akibat
hukumnya.
3. Mengangkat Hakim Pengawas untuk kepailitan tersebut.
4. Menunjuk Balai Harta Peninggalan (BHP) selaku kurator
dalam kepailitan tersebut.
5. Menetapkakan biaya-biaya lain dalam permohonan ini
Pengadilan mengabulkan permohonan yang diajukan Debitor
dengan pertimbangan bahwa permohonan yang diajukan Pemohon
telah memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan dalam Pasal
2 Ayat (1) UU Kepailitan dengan pertimbangan sebagai berikut :
Menimbang, bahwa sebelum Majelis Hakim membahas
permohonan pernyataan Pailit tersebut, terlebih dahulu
hendak mempertimbangkan kapasitas Pemohon mengajukan
permohonan ini. Menimbang, bahwa setelah mencermati
bukti-bukti yang diajukan Pemohon tersebut, ternyata
berkedudukan sebagai Presiden Direktur PT UNIDENT
METAL, sehingga ia berwenang bertindak ke dalam dan ke
luar untuk dan atas nama Perusahaan dan Majelis Hakim
berpendapat Pemohon memiliki kapasitas mengajukan
permohonan pernyataan palit a quo. Menimbang, bahwa

Hukum Kepailitan di Indonesia 111


persoalannya sekarang adalah dapatkah permohonan
pernyataan palit a quo dikabulkan, Majelis Hakim akan
mempertimbangkan sebagaimana diuraikan berikut ini.
Menimbang, bahwa berbicara tentang permohonan
pernyataan palit, maka acuannya adalah ketentuan Pasal 2
ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) yang menetapkan sebagai berikut : “Debitor yang
mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar
lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat
ditagih, dinyatakan Pailit dengan putusan Pengadilan, baik
atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu
atau lebih kreditornya”.
Menimbang, bahwa atas permohonan pernyataan pailit yang
diajukan oleh Pemohon, dihubungkan dengan pernyataannya
sebagaimana tersebut Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU), maka timbul persoalan yang
perlu dibahas adalah :
1. Apakah Debitor (Pemohon) mempunyai dua atau lebih
Kreditor.
2. Apakah Piutang diantara kreditornya tersebut, salah
satunya telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Pengadilan sebelum mempertimbangkan apakah
permohonan pemohon dapat dikabulkan terlebih dahulu harus
mempertimbangkan apakah Pemohon in cassu mempunyai
kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit
atas nama dan untuk diri sendiri, karena pernyataan pailit tersebut
berkaitan dengan kewenangan Pemohon yang diberikan Anggaran
Dasar dan Akte Pendirian Perusahaan untuk tampil di pengadilan
atas nama perusahaan ataupun perseroan sebagaimana kasus a
quo, dengan pertimbangan terurai diatas.
Menimbang, bahwa untuk memperoleh jawaban atas dua
persoalan tersebut, Majelis Hakim mempertimbangkan
sebagai berikut: Menimbang, bahwa mencermati bukti-bukti
yang diajukan Pemohon dipersidangan yaitu berdasarkan

112 Hukum Kepailitan di Indonesia


bukti P-9 sampai dengan bukti P-11c serta tanggapan
Kreditor-kreditor baik secara lisan maupun tertulis yang
masing-masing disampaikan di persidangan, ternyata benar
Pemohon mempunyai utang terhadap kreditor-kreditor
yaitu kepada PT. NORD Indonesia dan kepada PT. Sekawan.
Menimbang bahwa berdasarkan rangkaian pertimbangan,
maka Majelis Hakim berpendirian permohonan Pernyataan
Pailit Pemohon telah memenuhi ketentuan Undang-undang
No. 37 Tahun 2004, oleh sebab itu beralasan menurut hukum
untuk dikabulkan. Menimbang, bahwa berdasarkan surat
permohonannya pemohon telah mengusulkan seseorang
yang akan diangkat sebagai Kurator oleh karena ternyata
tidak ada benturan kepentingan maka permohonan tersebut
dikabulkan. Menimbang, bahwa disamping pengangkatan
Kurator, dengan mempedomani Undang-Undang No. 37
Tahun 2004 perlu pula mengangkat Hakim Pengawas dari
Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, yang namanya
disebut dalam amar putusan, untuk mengawasi pengurusan
dan pemberesan harta pailit. Menimbang, bahwa oleh karena
permohonan Pemohon dikabulkan, maka pemohon dibebani
untuk membayar biaya perkara ini.
Permohonan dalam perkara ini meskipun diajukan oleh
Debitor untuk mempailitkan dirinya sendiri, Pengadilan harus
mempertimbangkan apakah permohonan pernyataan pailit
diajukan oleh pemohon yang mempunyai kapasitas atau
kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit.
Pengadilan mempertimbangkan apakah permohonan pernyataan
pailit ini telah sesuai dengan syarat yang dinyatakan dalam Pasal 2
Ayat (1) UU Kepailitan, dan apakah pembuktiannya sederhana,
Pengadilan berpendapat semua persyaratan tersebut terpenuhi
maka secara hukum permohonan pernyataan pailit yang diajukan
Pemohon beralasan hukum untuk dikabulkan, dengan dictum
(amar) putusan sebagai berikut :
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.
2. Menyatakan Pemohon Pailit dengan segala akibat hukumnya.

Hukum Kepailitan di Indonesia 113


3. Mengangkat Hakim Pengawas dalam pemberesan Harta Pailit
Pemohon.
4. Mengangkat Kurator untuk melakukan pemberesan harta pailit.
5. Menghukum Pemohon untuk membayar seluruh biaya.
Persyaratan sebagaimana ditetapkan Pasal 8 Ayat (4) UU
Kepailitan dalam pertimbangan Pengadilan ditemukan adanya
fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana, persyaratan
demikian terpenuhi maka pernyataan untuk dinyatakan pailit telah
dipenuhi, yang dimaksud dengan fakta atau keadaan yang terbukti
secara sederhana yaitu apabila adanya fakta dua atau lebih
kreditor dan fakta utang yang telah jatuh waktu dan tidak dibayar.
Sedangkan terhadap perbedaan besarnya jumlah utang yang
didalilkan oleh pemohon pailit ataupun oleh termohon pailit tidak
menghalangi dijatuhkannya putusan pernyataan pailit.
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut
menggambarkan UU Kepailitan tidak memberikan perlindungan
terhadap Debitor, cukup dengan pembuktian yang sederhana dan
terpenuhinya syarat yang ditentukan pada Pasal 2 Ayat (1) UU
Kepailitan maka Debitor telah memenuhi syarat untuk dipailitkan.
Kedudukan Debitor bertambah rumit jika Debitor Perseroan
Terbatas karena UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas pada Pasal 142 Ayat (1) e menyebutkan Pembubaran
perseroan terjadi karena harta pailit perseroan yang telah
dinyatakan pailit berada dalam keadaan insovensi. Pasal 142 Ayat
(2) a, menyebutkan dalam hal terjadinya pembubaran perseroan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebut wajib diikuti dengan
likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator.

3. Kepailitan Debitor
UU Kepailitan tidak membedakan secara khusus antara
Debitor orang perorangan (individual) dengan Debitor korporasi
baik persekutuan (partnership) atau Debitor perseroan
(corporation).75 Pasal 1 Angka 1 UU Kepailitan menyebutkan
Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian

75
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid. 95.

114 Hukum Kepailitan di Indonesia


atau undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih dimuka
pengadilan, orang dimaksudkan sebagai Debitor tersebut adalah
orang sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1 Angka 11 UU
Kepailitan yaitu setiap orang adalah orang perorangan atau
korporasi termasuk korporasi yang berbentuk badan hukum
maupun yang bukan badan hukum dalam likuidasi. Kepailitan
Debitor adalah kepailitan yang telah dinyatakan didalam putusan
pengadilan, kepailitan seseorang atau badan hukum bukanlah
person Debitor akan tetapi pernyataan pailit menyangkut harta
benda milik Debitor pailit.
Kepailitan mempunyai unsur adanya Debitor, adanya dua
orang kreditor atau lebih dan adanya tidak membayar satu utang
yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih dan belum dibayar lunas,
sedangkan kreditor adalah sebagaimana ditegaskan Pasal 1 Angka 2
UU Kepailitan yang menyebutkan kreditor adalah orang yang
mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang
dapat ditagih dimuka pengadilan, kreditor bukan hanya orang akan
tetapi juga korporasi. KUHPerdata tidak menyebutkan istilah
Debitor akan tetapi disebut dengan si berutang (Schuldenar)
untuk Debitor dan si berpiutang (Schuldeischer) untuk kreditor,76 si
berutang adalah pihak yang wajib memberikan, berbuat atau tidak
berbuat sesuatu berkenaan dengan perikatannya, baik perikatan
itu timbul karena perjanjian ataupun karena undang-undang.77
Skema 2. Pendaftaran Perkara Kepailitan.78

Tanda Terima

Berkas Penunjukan Mahkamah


Permohonan Permohonan Meja Pertama Majelis Hakim Agung

Lengkap
Formulir Pemeriksaan
Kelengkapan Kelengkapan Pemeriksaan
Persyaratan Formil Kelengkapan
Permohonan Formil

Permohonan Pailit, Permohonan


Lengkap? PKPU, Rehabilitasi & Kasasi & Meja Ketiga
Perlawanan Terhadap Peninjauan
Rehabilitasi Kembali
Ya
76
Pasal 1235, Pasal 1234 dan Pasal 1239 KUHPerdata.
77 Register Umum &
Sutan Remy Sjahdeini, Hukum SKUMKepailitan Memahami UU Kepailitan Tentang
Pencatatan Register Induk
Kepailitan, Grafiti, Cetakan Ke-III, Jakarta, 2009, hlm.93. Perkara Kepailitan
78
Mahkamah Agung, Seri Pendidikan
Bayar Hukum Mengenal Hukum Kepailitan Indonesia,
Tanda Terima
Buku Pendamping, 2005, hlm.8 SKUM, Nomor
Pemeriksaan Perkara,
Kelengkapan Berkas Meja Kedua
Formil Permohonan Hukum Kepailitan di Indonesia 115
Pernyataan pailit dapat diajukan kepada Debitor yang
mempunyai utang sebagaimana dimaksud dengan Pasal 1 Angka 6
UU Kepailitan, utang ditegaskan sebagai kewajiban atau dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia
maupun mata uang asing baik secara langsung maupun yang akan
timbul dikemudian hari (kontijen) yang timbul dari perjanjian atau
undang-undang dan wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak
dipenuhi akan menimbulkan hak kepada kreditor untuk
mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor
tersebut.79
Sedangkan pengertian utang yang telah jatuh dan dapat
ditagih, utang yang telah jatuh waktu yaitu utang yang telah
melewati jadual yang ditentukan dalam perjanjian kredit menjadi
jatuh waktu karena itu pula kreditor dapat menagihnya. Dalam
praktik perbankan utang yang telah jatuh waktu dapat pula
diartikan meskipun belum masuk kedalam tenggang berakhirnya
perjanjian akan tetapi jika jadual angsuran atau tahapan
pembayaran tidak terlaksana maka hal tersebut sudah jatuh waktu,
tidak harus suatu kredit bank dinyatakan due atau expired pada
tanggal akhir perjanjian kredit sampai, cukup apabila tanggal
jadual angsuran kredit telah sampai.80
Utang walaupun belum jatuh waktu akan tetapi jika salah
satu peristiwa even of default yang tertuang dalam klausula
perjanjian kredit telah terlanggar maka utang tersebut telah dapat
ditagih, pelanggaran even of difault tersebut memberikan hak

79
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid, hlm.94.
80
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid. hlm. 58

116 Hukum Kepailitan di Indonesia


kepada bank untuk menagih kreditor yang telah digunakan. Even
of default tersebut antara lain 81:
1. Selama kredit belum lunas, Debitor dilarang tanpa seizin bank
melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Membagi deviden.
b. Membuka kantor cabang.
c. Melakukan perubahan susunan anggota direksi dan
komisaris,
d. Menjual aset bank.
2. Selama kredit belum lunas, Debitor wajib melakukan hal-hal
sebagai berikut :
a. Setiap tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan maret
tahun berikutnya menyampaikan laporan tahunan
mengenai keadaan keuangan selama tahun yang lalu
berupa neraca dan laporan laba/rugi (provit and lose
statement) yang telah diaudit oleh akuntan publik yang
independen.
b. Setiap enam bulan sekali menyampaikan laporan
keuangan baik berupa neraca maupun laporan laba/rugi
yang tidak diaudit oleh akuntan publik (financial home
statement).
Sutan Remy Sjahdeini, menyatakan bahwa ada perbedaan
antara pengertian utang yang telah jatuh waktu dengan utang
yang telah dapat ditagih, utang yang telah jatuh waktu dengan
sendirinya menjadi utang yang dapat ditagih, akan tetapi utang
yang dapat ditagih belum tentu utang yang telah jatuh waktu.82
Undang-Undang Kepailitan memberi pengertian utang yang telah
jatuh waktu dan dapat ditagih adalah kewajiban untuk membayar
utang yang telah jatuh waktu baik karena telah diperjanjikan,
percepatan waktu penagihan sebagaimana diperjanjikan,
pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang,
maupun karena putusan pengadilan, arbiter atau majelis arbiter.
Setiawan dalam bukunya Ordonansi Kepailitan Serta Aplikasi
Kini dalam Adrian Sutedi mengemukakan bahwa utang seharusnya
81
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid.
82
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid. hlm. 58

Hukum Kepailitan di Indonesia 117


diberi arti luas, baik dalam arti kewajiban membayar sejumlah
uang tertentu yang timbul karena adanya perjanjian utang piutang
maupun kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul
dari perjanjian atau kontrak lain yang menyebabkan Debitor harus
membayar sejumlah uang.83
Kartini Mulyadi, berpendapat bahwa istilah utang dalam
Pasal 1 Angka 6 UU Kepailitan seharusnya merujuk kepada hukum
perikatan dalam hukum perdata, yaitu tiap-tiap ikatan memberi
sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, yaitu:84
a. Kewajiban Debitor untuk membayar bunga dan utang
pokok kepada pihak yang meminjamkan.
b. Kewajiban penjual untuk menyerahkan mobil kepada
pembelinya.
c. Kewajiban pembangunan untuk membuat rumah dan
menyerahkannya kepada pembelinya.
d. Kewajiban penjamin untuk menjamin pembayaran
kembali pinjaman Debitor kepada kreditor.
UU Kepailitan menyebutkan Debitor adalah:
1. Debitor orang perorangan baik terikat dengan
perkawinan atau tidak.
2. Debitor korporasi baik berbentuk badan hukum atau
tidak, berbentuk badan hukum yaitu perseroan sebagai
mana diatur dalam UU Perseroan, termasuk didalamnya
sebagaimana dimaksud Pasal 2 Ayat 5 UU Kepailitan,
Korporasi yang bukan berbadan hukum berupa
persekutuan.
3. Debitor penjamin (Guarantee).
4. Debitor yang sudah meninggal dunia.

a. Kepailitan Debitor Perorangan.


Undang-Undang Kepailitan tidak membedakan tatacara
pengajuan pernyataan pailit baik terhadap orang perorangan
maupun korporasi dan juga pengajuan permohonan pernyataaan
pailit kepada orang perorangan yang terikat dalam perkawinan

83
Adrian Sutedi, Op.Cit.. Hlm. 34.
84
Adrian Sutedi, Ibid, hlm. 35.

118 Hukum Kepailitan di Indonesia


atau tidak, kecuali pengajuan permohonan pernyataan pailit untuk
dirinya sendiri bagi Debitor yang masih terikat dengan pernikahan
yang sah, permohonannya diajukan atas persetujuan suami atau
isterinya, ketentuan tersebut tidak berlaku apabila tidak ada
persatuan harta.
Tidak adanya persatuan harta dikarenakan adanya perjanjian
kawin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 KUHPerdata,
dengan adanya perjanjian kawin, kedua calon suami isteri berhak
melakukan penyimpangan terhadap ketentuan tentang persatuan
harta kekayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 119 KUHPerdata,
sepanjang perjanjian tersebut tidak melanggar kesusilaan,
ketertiban umum dan ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal
selanjutnya menyangkut perjanjian kawin.85

Skema 3. Prosedur Pemeriksaan Perkara Kepailitan.86

Ajukan
dilakukan oleh pemohon pailit
Permohonan
p.6 (1)
dilakukan oleh panitera

Wajib Menolak: p.6 (3) dilakukan oleh pengadilan niaga

dilakukan oleh pengadilan niaga


Daftar melalui juru sita
Permohonan
0, p.6 (2) +## = Jangka waktu dihitung paling lambat
dari tanggal pendaftaran (0)
p.## = Pasal UUK
Menerima

Ajukan ke Pelajari Memanggil


Ketua P. Niaga Permohonan Debitor/Kreditor
+2, p.6 (4) +3, p.6 (4) (a-7), p.8 (1)-(3)

Adakan Sidang
Pertama +20
(a), p.6 (6)

Melanjutkan

85
Adrian Sutedi, Ibid, hlm.52.
Menetapkan Ajukan Tanya
86 PKPU Sementara
Mahkamah PKPU
Agung, Seri Pendidikan Sementara
Hukum Tanggapan
Mengenal Hukum Kepailitan Indonesia,
225 (2), (3) p.222 (1), (2) Debitor
Buku Pendamping, 2005, Hlm.9

Hukum Tanggapi
Kepailitan di Indonesia 119
Permohonan

Memberitahukan Ucapkan Sidang


Menurut Pasal 62 UU Kepailitan disebutkan pula dalam hal
suami atau isteri dinyatakan pailit, maka isteri atau suaminya
berhak mengambil kembali semua benda bergerak dan tidak
bergerak yang merupakan harta bawaan dari isteri atau suami
dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau
warisan jika benda milik suami atau isteri telah dijual oleh suami
atau isteri dan harganya belum dibayar atau uang hasil penjualan
belum tercampur dalam harta pailit, maka isteri atau suami berhak
mengambil kembali uang hasil penjualan tersebut.
Pasal 21 UU Kepailitan menyebutkan bahwa kepailitan
meliputi seluruh kekayaan Debitor pada saat putusan pernyataan
pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperolehnya selama
kepailitan, pengecualian dari kepailitan tersebut dapat dilihat
pada Pasal 22 UU Kepailitan yaitu :
a. Benda termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan
oleh Debitor sehubungan dengan pekerjaannya,
perlengkapannya, alat-alat medis yang dipergunakan
untuk kesehatan, tempat tidur dan perlengkapannya yang
dipergunakan Debitor dan keluarganya, dan bahan
makanan untuk tiga puluh hari bagi Debitor dan
keluarganya, yang terdapat ditempat itu.
b. Segala sesuatu yang diperoleh Debitor dari pekerjaannya
sendiri sebagai penggajian dari suatu jabatan atau jasa,
sebagai upah, pensiun, uang tunggu atau uang tunjangan,
sejauh yang ditentukan oleh hakim pengawas.

120 Hukum Kepailitan di Indonesia


c. Uang yang diberikan kepada Debitor untuk memenuhi
suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-
undang.
Selain harta Debitor yang diuraikan diatas juga termasuk
pengecualian dari harta pailit yaitu semua harta Debitor yang
dibebani oleh hak separatis yang dimiliki oleh kreditor pemegang
hak jaminan kebendaan, harta Debitor yang telah dibebani dengan
suatu hak jaminan yaitu hak tanggungan, hipotek, gadai dan fidusia
termasuk pula didalamnya hak kreditor untuk menahan benda
milik Debitor yang tidak kehilangan haknya karena adanya putusan
pailit.
Jika dibandingkan pengertian Debitor dan kreditor antara
UU Kepailitan dan KUHPerdata, KUHPerdata memberikan
pengertian yang lebih luas karena Debitor atau kreditor tersebut
berkaitan dengan prestasi tidak hanya berupa utang yang dapat
dinilai dengan uang akan tetapi termasuk juga memberikan
sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu baik itu timbul
karena perjanjian maupun timbul karena undang-undang. Tidak
terlaksananya kewajiban tersebut oleh si berutang (Debitor)
melahirkan kewajiban baru yaitu mengganti kerugian yang timbul
atas tidak terlaksananya kewajiban si Debitor dengan membayar
biaya, ganti rugi dan bunga. Kelalaian tersebut harus dinyatakan
dengan jelas dalam sebuah akte atau surat perintah yang
menyatakan si berutang telah lalai atau telah lewatnya waktu yang
ditentukan.87

b. Kepailitian Debitor Korporasi.


Beberapa hal yang berkaitan persyaratan pengajuan
pernyataan pailit dibedakan oleh UU Kepailitan kepailitan
terhadap bank yang diajukan oleh Bank Indonesia, perusahaan
effek, bursa effek, lembaga kliring dan penjamin, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, permohonan pailitnya diajukan
oleh Badan Pengawas Modal, terhadap perusahaan asuransi,
reasuransi, dana pensiun atau Badan Usaha Milik Negara

87
Pasal 1238 KUH Perdata.

Hukum Kepailitan di Indonesia 121


permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Menteri Keuangan
dan untuk kepentingan umum Kejaksaan dapat mengajukan
permohonan pernyataan pailit.
Kriteria kepentingan umum untuk dijadikan alasan kejaksaan
untuk megajukan permohonan pernyataan pailit tersebut diartikan
juga sebagai kepentingan bangsa dan negara dan atau kepentingan
masyarakat luas, dengan telah memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan dan tidak ada
pihak yang mengajukan permohonan pailit, seperti 88:
a. Debitor melarikan diri;
b. Debitor menggelapkan bagian dari harta kekayaan;
c. Debitor mempunyai utang kepada Badan Usaha Milik
Negara atau badan usaha lain;
d. Debitor mempunyai utang yang berasal dari
penghimpunan dana dari masyarakat luas;
e. Debitor tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam
menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh
tempo; atau
f. Dalam hal lain menurut kejaksaan, merupakan
kepentingan umum.
Dalam hal Debitor adalah persero atau firma, pengadilan
yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan firma tersebut
berwenang memutuskan. Terhadap Debitor yang tidak
berkedudukan di Indonesia akan tetapi menjalankan usahanya di
Indonesia maka pengadilan yang meliputi tempat kedudukan pusat
atau kedudukan Debitor menjalankan profesi atau usahanya di
Indonesia, dalam hal Debitor merupakan badan hukum maka
tempat kedudukan hukumnya adalah sebagaimana tertuang dalam
anggaran dasarnya.89
Pasal 5 UU Kepailitan menegaskan bahwa permohonan
pernyataan pailit terhadap suatu firma harus memuat nama dan
tempat tinggal masing-masing pesero yang secara tanggung
renteng terikat untuk seluruh utang firma. Kepailitan terhadap
suatu persekutuan perdata seperti firma, c.v. (comanditair

88
Penjelasan Pasal 2 UU Kepailitan.
89
Pasal 1 Angka 6, Pasal 2, Pasal 3 UUK.

122 Hukum Kepailitan di Indonesia


venootshap), join operation diarahkan kepada pesero-pesero yang
memiliki kapasitas dalam persekutuan perdata tersebut, tidak
mungkin dilakukan sita umum terhadap suatu badan yang tidak
memiliki kapasitas atas harta bendanya.
Debitor dinyatakan pailit apabila permohonan pernyataan
pailit yang diajukan pemohon baik itu oleh kreditor ataupun para
kreditor, oleh pejabat yang diberikan kewenangan oleh Undang-
Undang Kepailitan yaitu Kejaksaan, Menteri Keuangan, Direktur
Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal dan atau oleh
Debitor sendiri, dikabulkan oleh pengadilan sejak saat itu secara
hukum Debitor sudah dalam keadaan pailit. Pernyataan Debitor
benar-benar dalam keadaan pailit adalah setelah rencana
perdamaian yang diajukan Debitor dalam rapat kreditor ditolak
oleh para kreditor atau ditolak oleh pengadilan. Penolakan atas
rencana perdamaian atau ditolaknya pengesahan perdamaian
tersebut oleh pengadilan maka sejak saat itu Debitor benar-benar
dalam keadaan pailit dan demi hukum harta Debitor dinyatakan
dalam keadaan insolvensi atau dalam keadaan sudah tidak mampu
membayar.90
UU Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas
mengatur tentang bubarnya perseroan disebutkan dalam Pasal
142 UU Perseroan yaitu :
(1) Pembubaran perseroan terjadi :
a. Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).
b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan
dalam anggaran dasar telah berakhir.
c. Berdasarkan penetapan pengadilan.
d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan
pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, harta pailit perseroan tidak cukup
untuk membayar biaya kepailitan.
e. Karena harta pailit perseroan yang telah dinyatakan
pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana

90
Pasal 178 dan berkaitan dengan Pasal 57 UUK.

Hukum Kepailitan di Indonesia 123


diatur dalam undang-undang tentang kepailitan dan
penundaan kewajiban pembayaran utang; atau
f. Karena dicabutnya izin usaha perseroan sehingga
mewajibkan perseroan melakukan likuidasi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam hal terjadi pembubaran perseroan sebagaimana
dimaksud ayat (1) :
a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh
likuiditor atau kurator; dan
b. Perseroan tidak dapat melakukan perbuatan melawan
hukum, kecuali diperlukan untuk membereskan
semua urusan perseroan dalam rangka likuidasi.
(3) Dalam hal pembubaran terjadi berdasarkan keputusan
RUPS, jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam
anggaran dasar telah berakhir atau dengan dicabutnya
kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan
RUPS tidak menunjuk likuidator, Direksi bertindak
selaku likuidator.
(4) Dalam hal pembubaran perseroan terjadi dengan
dicabutnya kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d, pengadilan niaga sekaligus memutuskan
pemberhentian kurator dengan memperhatikan
ketentuan dalam undang-undang tentang kepailitan
dan penundaan kewajiban pembayaran utang.
(5) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b dilanggar, Anggota Direksi, Anggota Dewan
Komisaris dan Perseroan bertanggung jawab secara
tanggung renteng.
(6) Ketentuan mengenai pengangkatan, pemberhentian
sementara, pemberhentian, wewenang, kewajiban,
tanggung jawab dan pengawasan terhadap direksi
mutatis mutandis berlaku terhadap likuidator.
Kepailitan terhadap perseroan juga diatur UU Nomor 40
Tahun 2007 dalam Pasal 142 Ayat (1) Huruf d dan Huruf e
sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 142 Ayat (2) Huruf a maka
kepailitan terhadap perseroan harus diikuti dengan likuidasi yang

124 Hukum Kepailitan di Indonesia


dilakukan oleh likuidator atau kurator. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa perseroan akan terlikuidasi demi hukum
apabila pengadilan menyatakan perseroan tersebut pailit dan
kurator merangkap tugasnya sebagai likuidator.

c. Kepailitan Debitor Penjamin ( Guarantee).


Penjamin atau guarantor atau disebut juga penanggung
utang atau borgtocht adalah suatu persetujuan dimana pihak
ketiga guna kepentingan kreditor mengikatkan dirinya untuk
memenuhi kewajiban Debitor apabila Debitor tidak dapat
memenuhi kewajibannya, Pasal 1280 KUHPerdata menyatakan
bahwa terjadi suatu perikatan tanggung menanggung dipihaknya
orang-orang yang berutang, manakala mereka semua diwajibkan
melakukan hal yang sama, sedemikian bahwa salah satu dapat
dituntut untuk seluruhnya dan pemenuhan salah satu
membebaskan orang-orang berutang lainnya terhadap si
berpiutang.
Perjanjian tangung menanggung ini merupakan perjanjian
yang sifatnya accesoir atau merupakan perjanjian tambahan dari
perjanjian pokoknya yaitu perjanjian kredit, perjanjian ini
berakibat kalau perjanjian pokoknya batal maka perjanjian
tanggung menanggung ini menjadi batal atau berakhir dengan
sendirinya. Penanggung mempunyai hak-hak khusus yaitu 91:
a. hak agar kreditor menuntut terlebih dahulu kepada
Debitor (voorrecht van eerder uitwenning), Pasal 1831
KUHPerdata menegaskan bahwa penanggung tidaklah
diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selainnya jika
si berpiutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang
ini harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi
utangnya.
b. Hak meminta pemecahan utang (voorecht van
schuldsplisting), hak istimewa ini timbul jika terdapat
beberapa orang penanggung, Pasal 1837 KUHPerdata
menguraikan bahwa namun itu masing-masing dari

91
Imran Nating, Peranan Dan Tanggung jawab Kurator Dalam pengurusan Dan
Pemberesan Pailit, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004. hlm.31.

Hukum Kepailitan di Indonesia 125


mereka, jika ia tidak melepaskan hak istimewanya untuk
meminta pemecahan utangnya, pada pertama kalinya ia
digugat dimuka hakim dapat menuntut supaya si
berpiutang lebih dahulu membagi piutangnya, dan
menguranginya hingga bagian masing-masing
penanggung utang yang terikat secara sah. Jika pada
waktu salah seorang penanggung menuntut pemecahan
utangnya, seorang atau beberapa orang teman
penanggung berada dalam keadaan tidak mampu, maka si
penanggung tersebut diwajibkan membayar untuk orang-
orang yang tak mampu itu menurut imbangan bagiannya,
tapi ia tidak bertanggung jawab jika ketidakmampuan
orang itu terjadi setelah pemecahan utangnya.
c. Hak untuk dibebaskan dari penanggungan bila karena
salahnya kreditor, si penanggung tidak dapat
menggantikan hak-haknya, hipotek/haktanggungan dan
hak-hak istimewa yang dimiliki kreditor lihat Pasal 1848
KUHPerdata

d. Kepailitan Debitor Yang Telah Meninggal Dunia


Terhadap harta kekayaan orang yang telah meninggal dunia
dapat diajukan permohonan pernyataan pailit sebagaimana bunyi
Pasal 207 sampai dengan Pasal 211 UU Kepailitan, Harta kekayaan
harus dinyatakan dalam keadaan pailit, apabila dua atau lebih
kreditor mengajukan permohonan untuk itu secara singkat dapat
membuktikannya bahwa orang yang meninggal semasa hidupnya
tidak membayar lunas atau pada saat meninggalnya orang tersebut
harta peninggalannya tidak cukup untuk membayar utangnya.
Putusan pernyataan pailit berakibat demi hukum
dipisahkannya harta kekayaan orang yang meninggal dengan harta
kekayaan ahli warisnya, permohonan pernyataan pailittersebut
harus diajukan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah
Debitor meninggal. Ketentuan yang berhubungan dengan
perdamaian Pasal 144 UU Kepailitan tidak berlaku terhadap
kepailitan harta peninggalan kecuali warisannya telah diterima
oleh ahli warisnya secara murni.

126 Hukum Kepailitan di Indonesia


Putusan pernyataan pailit bersifat serta merta dan
konstitutif dengan meniadakan keadaan dan menciptakan keadaan
baru. Dalam dictum suatu putusan pengadilan tentang pernyataan
pailit menetapkan 3 (tiga) hal penting yaitu 1. Pernyataan pailitnya
Debitor, 2. Pengangkatan seorang hakim pengawas dan 3.
Pengangkatan seorang kurator.
Pernyataan kepailitan berakibat terhadap harta Debitor
sebagaimana diatur dalam Bab II Bagian Kedua dari Pasal 21
sampai dengan Pasal 64 dan beberapa pasal lain dari UU
Kepailitan, yaitu :
1. Seluruh kekayaan Debitor berada dalam sita umum. (Pasal 1
Ayat 1)
2. Kepailitan meliputi seluruh kekayaan Debitor pada saat
putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu
yang diperoleh selama kepailitan berlangsung. ( Pasal 21)
3. Kepailitan meliputi isteri ataupun suami Debitor pailit yang
terikat pernikahan. ( Pasal 23)
4. Debitor demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai
dan mengurus kekayaannya, sejak tanggal putusan
pernyataan pailit diucapkan. (Pasal 24 Ayat 1 )
5. Semua perikatan Debitor yang terbit sesudah putusan
pernyataan pailit tidak lagi dapat dibayarkan dari harta pailit,
kecuali perikatan tersebut menguntungkan harta pailit.
(Pasal 25)
6. Tuntutan mengenai hak atau kewajiban harta pailit harus
diajukan oleh atau terhadap kurator. ( Pasal 26)
7. Suatu tuntutan hukum di pengadilan yang diajukan terhadap
Debitor sejauh bertujuan untuk memenuhi kewajiban dari
harta pailit dan perkaranya sedang berjalan, gugur demi
hukum dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit
terhadap Debitor. (Pasal 29)
8. Putusan pernyataan pailit berakibat bahwa segala penetapan
pelaksanaan pengadilan terhadap setiap bagian dari
kekayaan Debitor yang telah dimulai sebelum kepailitan,
harus dihentikan seketika dan sejak itu tidak ada suatu

Hukum Kepailitan di Indonesia 127


putusan yang dapat dilaksanakan termasuk atau juga dengan
menyandera Debitor. (Pasal 31)
9. Semua penyitaan yang telah dilakukan menjadi hapus. (Pasal
31 Ayat 2)
10. Selama kepailitan Debitor tidak dikenakan uang paksa. (Pasal
32)
11. Sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, uang
sewa merupakan utang harta pailit. (Pasal 38 Ayat 4).
12. Warisan selama kepailitan jatuh kepada Debitor oleh kurator
tidak boleh diterima, kecuali apabila menguntungkan harta
pailit. (Pasal 40)
13. Hibah yang dilakukan Debitor dapat dimintakan pembatalan
kepada pengadilan, apabila kurator dapat membuktikan
bahwa pada saat hibah tersebut dilakukan Debitor
mengetahui dan patut mengetahui bahwa tindakan tesebut
akan mengakibatkan kerugian bagi kreditor. (Pasal 43).
14. Debitor Pailit dapat mengajukan permintaan pergantian
kurator. (Pasal 71).
15. Debitor Pailit dapat mengajukan keberatan atas kinerja
kurator kepada hakim pengawas dan dapat meminta hakim
pengawas agar memerintahkan kurator untuk melakukan
suatu perbuatan tertentu atau tidak melakukan perbuatan
tertentu yang sudah direncanakan. (Pasal 77)
16. Pengadilan dengan putusan pernyataan pailit atau setiap
waktu setelah itu, atas usul hakim pengawas, permintaan
kurator atau atas permintaan seorang kreditor atau lebih
setelah mendengar hakim pengawas dapat memerintahkan
Debitor ditahan, baik di tempatkan di RUTAN maupun
dirumahnya sendiri dibawah pengawasan jaksa yang ditunjuk
hakim pengawas. (Pasal 93).
17. Selama kepailitan Debitor pailit tidak dapat meninggalkan
domisilinya tanpa izin dari hakim pengawas (Pasal 97).
18. Debitor pailit berhak menawarkan suatu perdamaian kepada
semua kreditor. (Pasal 144 ).

128 Hukum Kepailitan di Indonesia


19. Untuk keperluan pemberesan harta pailit kurator dapat
menggunakan jasa Debitor pailit dengan pemberian upah
yang ditentukan oleh hakim pengawas. (Pasal 186).

4. Kedudukan Kreditor Dalam Kepailitan Debitor


Analisa putusan kepailitan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
berikut untuk melihat sejauh mana kedudukan seorang kreditor
dalam proses kepailitan sedang berlangsung, sejauh mana
Pengadilan mempertimbangkan alasan-alasan hukum untuk dapat
mengabulkan permohonan pernyataan pailit yang ditanganinya.
Permohonan pernyataan pailit dapat diajukan oleh Debitor
sendiri untuk mempailitkan dirinya sendiri, kemudian dapat
diajukan oleh kreditor dan dapat juga diajukan oleh pemohon
lainnya seperti Kejaksaan, Bank Indonesia, Menteri Keuangan dan
Bapepam. Kreditor bisa oleh kreditor separatis, kreditor preferen
ataupun oleh kreditor konkuren.
Pembahasan berikut berhubungan dengan permohonan
pernyataan Pailit yang diajukan oleh Pemohon Badan Hukum
Perseroan Terbatas selaku kreditor terhadap Debitor sebagai
penjamin atas pembayaran utang berdasarkan Guarantee
Agreement antara Para Pemohon dengan Termohon atas utang PT.
Bangun Mustika Inter Persada selaku Debitor dari Kredit Indikasi.
Permohonan PT. GAMMA SOLUSI INTEGRASI melawan TAN
RATNA JUWITA TANAYA92.
Pemohon adalah suatu Perseroan Terbatas yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia berdasarkan Akta Nomor 1
Tahun Agustus 2003 Notaris di Jakarta yang telah di sahkan
oleh Menteri Hukum dan HAM RI dengan SK Nomor
tertanggal September 2003 dan telah didaftarkan dengan
tanda pendaftaran Nomor tertanggal september 2008.
Pemohon dalam perkara in cassu adalah sebuah Perseroan
Terbatas (PT) yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia,
kewenangan mewakili perseroan diuraikan dalam Akte Pendirian
dan Anggaran dasar Perseroan, hal tersebut harus dibuktikan oleh

92
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 19/Pailit/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Hukum Kepailitan di Indonesia 129


Pemohon di persidangan bahwa ia adalah yang memiliki
kewenangan dan dalam kapasitasnya untuk mengajukan
permohonan ini atas nama perseroan.
Berdasarkan LOAN AGREEMENT untuk utang sejumlah
uang, yang ditandatangani pada Juli 1996, ASEAN FINANCE
CORPORATION LIMITED (AFCL), PT BANK PDCFI, BUMI
DAYA INTERNASIONAL FINANCE LIMITED dan
INTERNATIONAL FACTORS LEASING PTE. LTD (IFL) adalah
Kreditor dari PT. BANGUN MUSTIKA INTERPERSADA
(BMIP). Sedangkan termohon merupakan penanggung atau
penjamin atas kewajiban pembayaran utang BMIP sesuai
dengan perjanjian penanggungan atau penjamin
sebagaimana dinyatakan dalam GUARANTEE, yang
ditandatangani oleh Termohon pada Juli 1996.
Hak tagih atas piutang Kreditor terhadap Termohon
diperoleh berdasarkan peralihan berturut-turut dari :
1. Badan Penyehatan Perbankan Nasinaonal (BPPN) kepada
PT Bank Danamon Indonesia, TBK (Bank Danamon).
2. Bank Danamon kepada PT Pridana Futura Central
Investama (PDFCI).
3. AFCL kepada Gold Insignia International Limited
(INSIGNIA).
4. BPPN kepada PT Karyacitra Pacificmas (KCPM).
5. IFL kepada GILLETTE FINANCE LIMITED (GILLETTE).
6. PDFCI kepada GILLETTE.
7. KCPM kepada INSIGNIA.
8. GILLETTE kepada PHUTURE ASSESTS, INC (PHUTURE)
9. INSIGNA kepada PHUTURE
Uraian kejadian yang termuat dalam suatu gugatan atau
permohonan yang menerangkan suatu peristiwa ataupun kejadian
yang menimbulkan atau menghilangkan hak ataupun kewajiban
merupakan “posita” yang menjadi dalil-dalil suatu gugatan ataupun
permohonan yang setiap dalil-dalil tersebut harus dibuktikan oleh
siapa yang mendalilkannya.
Selanjutnya Pemohon memperoleh hak tagih atas piutang
berdasarkan LOAN AGREEMENT dan GUARANTEE terhadap

130 Hukum Kepailitan di Indonesia


Termohon dari PHUTURE. Sehingga dengan demikian
Pemohon adalah Kreditor dari Termohon dan Termohon
adalah Debitor dari Pemohon. Sebagaimana telah diuraikan
di atas, pada saat ini PHUTURE dan Pemohon merupakan
Kreditor dalam sindikasi berdasarkan Loan Agreement
tersebut dan karenanya juga merupakan Kreditor dari
pemohon berdasarkan Guarantee tersebut. Berdasarkan
LOAN AGREEMENT di atas, dengan demikian Termohon
terbukti tidak hanya memiliki utang kepada Pemohon tetapi
juga kepada Kreditor lain selain Pemohon, sehingga unsur
bahwa Termohon memiliki sekurang-kurangnya dua
Kreditor telah terpenuhi. Jangka waktu pelunasan
berdasarkan Loan Agreement telah jatuh waktu dan dapat
ditagih Termohon dan tidak melunasi utangnya kepada
Pemohon.
Permohonan yang diajukan pemohon tersebut oleh
Termohon telah dibantah dengan alasan-alasan sebagai berikut :
Permohonan pailit oleh Pemohon pailit terhadap Termohon
pailit tidak berdasarkan hukum, oleh karena meskipun
Termohon pailit selaku penanggung telah melepaskan hak-
hak istimewanya tidak otomatis Termohon pailit selaku
penanggung menggantikan kedudukan Debitor utama dan
tidak menimbulkan hak bagi pemohon pailit untuk
mempailitkan Termohon pailit. Permohonan pailit oleh
Pemohon pailit tidak memenuhi ketentuan Pasal 2 (1) UU
Kepailitan karena ketentuan dalam Pasal 2 (1) UU Kepailitan
hanya memuat kata-kata atau redaksi “pailit terhadap
Debitor” bukan pailit terhadap penanggung apalagi Debitor
belum pernah digugat atau dipailitkan. Termohon pailit
bukan satu-satunya penanggung dari Debitor ada juga
penanggung lain yang tidak bertanggungjawab secara
tanggung renteng. Termohon pailit tidak lagi berkapasitas
sebagai penanggung dari Debitor sebab termohon pailit
sudah menjual seluruh sahamnya yang ada. Permohonan
pailit yang diajukan oleh Pemohon pailit tidak memenuhi
syarat harus ada 2 kreditor, karena kreditor dari PT. Bangun

Hukum Kepailitan di Indonesia 131


Mustika Interpersada ternyata hanya satu kreditor, sehingga
tidak memenuhi ketentuan Pasal 2 (1) UU kepailitan.
Termohon sebagai penjamin telah membantah dalil-dalil
permohonan pemohon dan juga telah mengajukan dalil-dalil
bantahannya menggunakan haknya sebagai penjamin dengan
menyebutkan bahwa permohonan pernyataan pailit tidak dapat
langsung diajukan kepada Termohon sebagai penjamin akan tetapi
Para Pemohon seharusnya terlebih dahulu mengajukan pailit
Debitor pokok.
Bahwa telah terjadi perjanjian pinjaman (sindikasi) antara
Asean Finance Corporation Limited (AFCL), PT Bank PDCFI,
Bumi Daya Internasional Finance Limited dan International
Factors Leasing PTE. LTD (IFL) selaku pemberi pinjaman
(Kreditor) dengan PT. Bangun Mustika Interpersada (BMIP)
selaku peminjam (Debitor) atas uang sejumlah berdasarkan
Loan Agreement bulan Juli 1996. Bahwa untuk menjamin
fasilitas pinjaman tersebut, maka berdasarkan Guarantee
bulan Juli 1996 Tan Kwang King, Tan Sang Kok, Tan Ratna
Juwita (Termohon), Djohan Rahardja dan Anwar Setiawan
secara bersama-sama telah bertindak sebagai penjamin.
Bahwa kemudian terjadi beberapa kali pergantian Kreditor
atas fasilitas pinjaman tersebut karena adanya penjualan hak
tagih piutang seperti telah dijelaskan diatas. Bahwa
selanjutnya atas hak tagih piutang yang dimiliki Phuture
kepada PT. BMIP, telah dijual kepada Pemohon.
Pengadilan menyimpulkan bahwa dengan adanya perjanjian
guarantee dengan Termohon sebagai penjamin utang Debitor
pokok yang berasal dari Loan Agreement dapat dibenarkan
berdasarkan guarantee agreement antara Pemohon dengan
Termohon, tanpa terlebih dahulu mengajukan pernyataan pailit
terhadap Debitor utama (PT.BMIP).
Dari fakta-fakta tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa
Pemohon adalah Kreditor dari PT BMIP dan PT BMIP adalah
Debitor dari Pemohon. Di samping itu Termohon dan
kawan-kawannya juga terikat sebagai penjamin atas utang
PT BMIP dari Kreditor-Kreditor yang lain (termasuk

132 Hukum Kepailitan di Indonesia


Phuture) yang semuanya berasal dari Loan Agreement.
Bahwa di dalam permohonannya tersebut, Pemohon hanya
menunjuk Termohon untuk dinyatakan pailit, sedangkan
penjamin yang lain tidak, adalah dapat dibenarkan
didasarkan pada Guarantee. Sebagaimana telah
dipertimbangkan di atas, ternyata bahwa Termohon telah
terbukti sebagai penjamin atas utang PT BMIP pada
Pemohon dan pada Kreditor-Kreditor yang lain termasuk
Phuture. Berdasarkan hal ini apa yang telah diuraikan
sebelumnya maka telah terbukti Termohon dua atau lebih
kreditor dan telah terbukti pula utang dimaksud telah jatuh
waktu dan dapat ditagih. Terhadap penyangkalan Termohon
yang pada intinya menyatakan bahwa Termohon tidak lagi
berkapasitas sebagai penanggung karena sejak Agustus 2003
Termohon telah menjual seluruh sahamnya di PT BMIP, Atas
dalil Termohon tersebut, pada hemat pengadilan tidaklah
berdasar, karena kewajiban bagi penjamin adalah hingga
utang Debitor terbayar lunas. Atas dasar segala
pertimbangan tersebut di atas, Pengadilan berkesimpulan
bahwa permohonan Pemohon beralasan menurut hukum
dan patut dikabulkan, serta oleh karenanya Termohon harus
dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya.
Bahwa dengan pertimbangan tersebut di atas Pengadilan
Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pemohon dengan
amar sebagai berikut :
1. Mengabulkan permohonan Pemohon.
2. Menyatakan Termohon Pailit dengan segala akibat hukumnya.
3. Mengangkat Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas.
4. Mengangkat sebagai kurator Termohon.
5. Membebankan biaya perkara kepada Termohon.
Pemohon sekaligus sebagai kreditor mengajukan
permohonan pernyataan pailit dalam perkara ini kepada penjamin
utang PT.BMIP berdasarkan perjanjian guarantee dari kredit
sindikasi Loan Agreement yang ditandatangani pada tanggal 8 Juli
1996, Oleh karena Debitor tidak memenuhi kewajibannya sesuai

Hukum Kepailitan di Indonesia 133


loan agreement dengan demikian para pemohon mengajukan
permohonannya kepada Termohon sebagai penjamin utang-utang
PT.BMIP kepada Para Pemohon.
Pengadilan dalam pertimbangannya telah terbukti bahwa
Para Pemohon adalah Kreditor dan Termohon sebagai Penjamin
adalah Debitor dalam perkara ini, meskipun Termohon
membantah telah melepas semua saham-sahamnya pada PT. BMIP
maka kedudukan Termohon bukan lagi penjamin utang tersebut
ditolak oleh Pengadilan karena perjanjian utang tersebut belum
lunas dibayar. Dengan alasan hukum tersebut Pengadilan
mengabulkan permohonan pemohon.
Termohon keberatan atas putusan Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat dan mengajukan Kasasi atas putusan tersebut 93 dengan
alasan sebagai berikut :
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena telah
menerima masuknya kuasa hukum Phuture Assets Inc. dalam
perkara aquo sedangkan surat kuasa dari Phuture Assets Inc.
tidak dilegalisasi oleh Kedutaan Besar Perwakilan RI
setempat.
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena tidak
mempertimbangkan sah tidaknya perjanjian pengalihan hak
piutang (cessie) Termohon Kasasi/Semula Pemohon Pailit.
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena tidak
mempertimbangkan apakah Termohon Kasasi/Semula
Pemohon Pailit beritikad baik dalam melakukan perubahan
atas Loan Agreement.
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena tidak
mempertimbangkan apakah pemecahan hak tagih piutang
beberapa hari sebelum permohonan pailit sekedar untuk
memenuhi syarat dua kreditor dan apakah bertentangan
dengan asas keseimbangan sebagaimana dianut UU Nomor
37 Tahun 2004.
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena
seharusnya judex facti mempertimbangkan apakah Debitor

93
Terdaftar Perkara Kasasi No. 026K/N/2005.

134 Hukum Kepailitan di Indonesia


PT.BMIP masih mempunyai utang berdasarkan Loan
Agreement tanggal 8 Juli 1996.
Judex facti telah salah menerapkan hukum karena telah
mempertimbangkan Pemohon Kasasi/Semula Termohon
Pailit adalah Debitor sesuai dengan Second Amandement
Loan Agreement tanggal 29 Nopember 2004.
Menurut Majelis Hakim Kasasi, bahwa Guarantee Agreement
merupakan perjanjian tambahan dari perjanjian utang-piutang
sebagai perjanjian pokoknya, dalam tuntutan yang diajukan kepada
penjamin adanya bahwa haruslah Debitor pokok yang dipailitkan
dan dilelang semua hartanya untuk pembayaran piutangnya
kepada kreditor, setelah itu dilakukan kemudian semua harta
Debitor pokok belum mencukupi maka kemudian dilakukan
penuntutan terhadap semua penjamin dan tidak dapat dilakukan
terpisah satu sama lainnya.
Menimbang, bahwa atas keberatan ad.D dan ad. F menurut
Majelis Hakim Kasasi judex facti telah salah menerapkan
hukum karena Debitor utama dalam perjanjian Loan
Agreement tidak diajukan sebagai Termohon Pailit sehingga
menyalahi asas perjanjian borgtoch/penanggung (Pasal 1822
KUH Perdata) serta telah menyalahi fungsi penjamin yang
bersifat accesoir sebagaimana diatur dalam Pasal 1831
KUHPerdata, penanggung tidak diwajibkan membayar
kepada siberpiutang kecuali jika siberutang lalai dan benda-
benda siberutang harus terlebih dahulu disita dan dijual
untuk melunasi utangnya. Termohon Pailit atau si penjamin
tidak dapat dibebani memikul utang berdasarkan Loan
Agreement tanpa melibatkan Debitor PT.BMIP dan harus
dinyatakan terlebih dahulu wanprestasi atau tidak mampu
membayar utangnya. Dengan mengajukan Termohon Pailit
sebagai satu-satunya penjamin sementara penjamin lain
tidak ditarik dalam perkara ini menyalahi tanggung jawab
penjamin secara menyeluruh.
Berdasarkan pertimbangan di atas pertimbangan judex facti
tidak dapat dibenarkan dan Majelis Hakim Kasasi
menjatuhkan putusan sebagai berikut :

Hukum Kepailitan di Indonesia 135


Mengadili Sendiri :
Menolak Permohonan Pailit Termohon Kasasi.
Membebankan Termohon Kasasi membayar biaya perkara.
Pertimbangan Hakim Kasasi terhadap Permohonan Kasasi
tersebut di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : Majelis
Hakim Kasasi tetap mempedomani asas-asas hukum yang dianut
KUH Perdata. Bahwa dalam Hukum Penjaminan tidak dapat
dituntut pertanggung-jawaban kepada penjamin secara langsung
dan harus terlebih dahulu ditujukan kepada Debitor untuk
mempertangung-jawabkan utang-utangnya dan harus terlebih
dahulu dinyatakan pailit dan dibayar seluruh utang tersebut
dengan hartanya. Penjamin harus diajukan secara bersama dengan
penjamin lain untuk dapat menuntut penjaminannya.
Putusan Kasasi tersebut olah Termohon Kasasi diajukan
Peninjauan Kembali (PK) 94 dengan alasan hukum kekeliruan nyata
sehubungan dengan jangka waktu penyampaian salinan putusan
Mahkamah Agung RI No. 026 K/N/2005 kepada Pemohon
Peninjauan Kembali, tidak ada itikad baik dari Pemohon
Peninjauan Kembali sehubungan dengan perubahan Loan
Agreement. Termohon Peninjauan Kembali telah menyimpangkan
seluruh hak-hak Istimewa selaku Pemberi Jaminan Perorangan
dan dengan demikian tidak ada asas perjanjian borgtocht atau
penanggung yang dilanggar. Pelanggaran terhadap asas audi
alteram partem dan imparsialitas.
Majelis Hakim Peninjauan Kembali mempertimbangkan
bahwa terlepas dari alasan yang dikemukakan oleh Pemohon
Peninjauan Kembali ternyata Majelis Hakim PK
mempertimbangkan bahwa pembuktian dalam perkara ini tidaklah
sederhana terutama membuktikan apakah PT.BIMP adalah
kreditor yang dapat mengajukan permohonan pailit kepada
Termohon Pailit, kapan jatuh waktu dan dapat ditagihnya utang
tersebut tidaklah sederhana, sehingga sengketa ini seharusnya
diselesaikan melalui gugatan perdata di Pengadilan Negeri.
Karenanya Majelis Hakim PK membatalkan putusan Pengadilan

94
Register Perkara PK No. 05 PK/N/2006.

136 Hukum Kepailitan di Indonesia


Tingkat Pertama dan Putusan Mahkamah Agung RI ditingkat kasasi
dan mengadili sendiri dengan menyatakan menolak permohonan
pernyataan pailit yang diajukan Para Pemohon.

5. Hak Kreditor Dalam Kepailitan


UU Kepailitan tidak hanya bertujuan untuk memberikan
perlindungan kepentingan kepada kreditor juga memberikan
perlindungan kepada debitor dan pihak lain yang berkepentingan,
untuk melaksanakan itu semua perlu pula diatur bagaimana
pembagian hasil penjualan harta pailit dan juga perlu diatur siapa
yang berwenang melaksanakannya dan bagaimana cara
pelaksanaan pembagian pembayaran terhadap para kreditor
tersebut.
Sebagaimana diuraikan oleh Levinthal dalam Sutan Remy
Sjahdeinidisebutkan bahwa tujuan kepailitan digambarkan sebagai
berikut :
All bankruptcy law however, no matter when or where
deviced and enacted, has at least two general objects in view.
It aim first, to secure and equitable division of the insolvent
debtor’s property among all his creditors, and, it the second
place, to prevent on the part of the insolvent debtor conduct
detrimental to the interest of his creditors. In other words,
bankruptcy law seeks to protect the creditors, first , from one
another and, secondly, from their debtor. A third object, the
protection of the honest debtor from his creditors, by means of
the discharge, is sought to be attained in some of the systems
of bankruptcy, but this is by no means a fundamental feature
of the law.95
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum
kepailitan bertujuan untuk 96:
1. Menjamin pembagian yang sama terhadap harta kekayaan
Debitor diantara para kreditor.
2. Mencegah agar Debitor tidak melakukan perbuatan-
perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor.
95
Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan… lo.cit, hal. 28.
96
Sutan Remy Sjahdeini, Ibid

Hukum Kepailitan di Indonesia 137


3. Memberikan perlindungan kepada Debitor yang beritikad baik
dari para kreditornya, dengan cara memperoleh pembebasan
utang.
Kreditor merupakan hal yang sangat penting dalam suatu
proses kepailitan, karena Pasal 2 UU Kepailitan mensyaratkan
adanya dua atau lebih kreditor untuk mengajukan pernyataan
pailit terhadap Debitor, tidak ada kreditor maka kepailitan tidak
dapat ditetapkan, meskipun Debitor yang mengajukan pernyataan
pailit untuk dirinya sendiri ada dua orang kreditor atau lebih harus
dibuktikannya di pengadilan. Karena inti dari hukum kepailitan
adalah pelunasan utang Debitor kepada para kreditor agar para
kreditor dapat menerima pelunasan utang oleh Debitor secara
adil.
Semua Kreditor dalam kepailitan mempunyai hak jaminan
kebendaan sebagaimana diatur dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132
KUHPerdata, yang memberikan jaminan kepada para kreditor
terhadap semua kebendaan milik Debitor baik bergerak ataupun
tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada
dikemudian hari, harta Debitor tersebut menjadi tanggungan
untuk segala perikatannya secara perseorangan. Kebendaan
Debitor tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua
orang yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-
benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan yaitu menurut
keseimbangan menurut besar kecilnya piutang masing-masing,
kecuali apabila di antara para kreditor itu ada alasan-alasan sah
untuk didahulukan.
Kreditor dalam UU Kepailitan terdiri dari kreditor konkuren,
kreditor preferen dan kreditor separatis, keterkaitan kreditor
tersebut dapat dalam jumlah yang banyak karenanya untuk
mengakomodir semua kepentingan kreditor sehingga
mempermudah Kurator dalam melaksanakan tugasnya maka Pasal
79 UU Kepailitan mengatur tentang pembentukan Panitia Kreditor.
Pasal 79 Ayat (1) UU Kepailitan menyatakan bahwa dalam putusan
pailit atau dengan penetapan kemudian, Pengadilan dapat
membentuk Panitia Kreditor Sementara terdiri atas 3 (tiga) orang
yang dipilih dari kreditor yang dikenal dengan maksud

138 Hukum Kepailitan di Indonesia


memberikan nasihat kepada Kurator. Setelah pencocokan utang
selesai dilakukan, Hakim Pengawas wajib menawarkan kepada
kreditor untuk membentuk Panitia Kreditor Tetap. Atas
permintaan Kreditor Konkuren berdasarkan keputusan kreditor
konkuren dengan suara terbanyak biasa dalam rapat kreditor,
Hakim Pengawas mengganti Panitia Kreditor Sementara apabila
dalam putusan pailit telah ditunjuk Panitia Kreditor Sementara,
membentuk Panitia Kreditor apabila dalam putusan pailit belum
diangkat Panitia Kreditor.
Panitia Kreditor berwenang untuk meminta diperlihatkan
semua buku-buku, dokumen dan surat mengenai kepailitan dan
kurator wajib memberikan keterangan yang diminta oleh Panitia
Kreditor, jika diperlukan kurator dapat mengadakan rapat dengan
Panitia Kreditor untuk meminta pendapat. Kurator sebelum
mengajukan gugatan atau meneruskan perkara yang sedang
berjalan atau menyanggah gugatan yang diajukan kepada Debitor
wajib meminta nasihat Panitia Kreditor sebagaimana disebutkan
dalam Pasal 83 Ayat (1) UU Kepailitan. Nasihat tersebut tidak
diperlukan jika kurator telah memanggil para kreditor untuk
mengadakan rapat guna memberikan pendapatnya.
Nasihat Panitia Kreditor sebagaimana disebutkan Pasal 83
Ayat (1) dan Ayat (2) UU Kepailitan tidak berlaku 1. Terhadap
sengketa tentang pencocokan piutang, 2. Tentang meneruskan
atau tidak meneruskan perusahaan dalam pailit, 3. Dalam hal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 38, Pasal 59 Ayat (3),
Pasal 106, Pasal 107, Pasal 184 Ayat (3) dan Pasal 186 UU Kepailitan,
4. Tentang cara pemberesan dan penjualan harta pailit, 5. Tentang
waktu maupun jumlah pembagian yang harus dilakukan.97
Hakim Pengawas dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung setelah
Putusan Pernyataan Pailit diterimanya wajib menetapkan dan
menyampaikan kepada kurator tentang rencana penyelenggaraan
rapat kreditor pertama yaitu menentukan hari dan tanggal, waktu
dan tempat diadakannya rapat kreditor pertama tersebut dalam

97
Sutan Remy Sjahdeini, hlm. 242

Hukum Kepailitan di Indonesia 139


waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan
pernyataan pailit diucapkan.
Hakim Pengawas atas permintaan panitia Kreditor atau atas
permintaan sekurang-kurangnya 5 (lima) orang kreditor yang
mewakili 1/5 (satu perlima) bagian dari semua piutang yang diakui
atau yang diterima bersyarat dapat mengadakan rapat apabila
dianggap perlu. Kurator memanggil semua kreditor yang
mempunyai hak suara dengan surat tercatat atau mengirim kurir
atau dengan iklan paling sedikit didalam 2 (dua) Surat Kabar
Harian yang memuat acara yang akan dibicarakan dalam rapat
tersebut dalam tenggang waktu antara pemanggilan dengan hari
rapat sesuai dengan Pasal 90 Ayat (6) UU Kepailitan.
Segala putusan dalam rapat kreditor ditetapkan berdasarkan
suara setuju sebesar lebih dari ½ (satu perdua) dari jumlah suara
yang dikeluarkan oleh Para Kreditor dan atau oleh Para Kuasanya
yang hadir pada rapat tersebut. Pasal 88 UU Kepailitan
menyebutkan bahwa yang mempunyai hak suara ialah : 1. Kreditor
yang diakui, 2. Kreditor yang diterima dengan syarat, dan 3.
Pembawa suatu piutang atas tunjuk yang telah dicocokan. Pasal 2
PP Nomor 80 Tahun 1998 menetapkan bahwa perhitungan jumlah
hak suara kreditor ditentukan sebagai berikut :
1. Setiap kreditor yang mempunyai jumlah piutang sampai
dengan Rp. 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) berhak
mengeluarkan satu suara.
2. Dalam hal kreditor mempunyai piutang lebih dari Rp.
10.000.000,- (sepuluh Juta Rupiah), maka untuk setiap
kelipatan Rp. 10.000.000,- maka kreditor berhak
mendapatkan satu suara tambahan.
3. Dalam hal terdapat sisa dari kelipatan Rp. 10.000.000,-
(Sepuluh Juta Rupiah) ditentukan sebagai berikut :
a. Apabila sisa kelipatan Rp.10.000.000,- (Sepuluh Juta
Rupiah) adalah Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah), sisa ini
tidak diperhitungkan mendapat suara tambahan.
b. Apabila sisa kelipatan Rp.10.000.000,- (Sepuluh Juta
Rupiah) adalah Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) atau

140 Hukum Kepailitan di Indonesia


lebih, sisa ini diperhitungkan mendapat satu suara
tambahan.
Pasal 3 PP Nomor 80 Tahun 1998 menentukan bahwa dalam
hal piutang sebagaimana maksud dalam Pasal 2 nilainya tidak
dapat ditetapkan secara pasti atau ditentukan dalam valuta asing
atau tidak ditetapkan dalam mata uang, maka piutang tersebut
harus ditetapkan dalam mata uang rupiah yang dilakukan pada
tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan.
Perlindungan kepada kepentingan kreditor diantaranya
dapat dilihat dalam Pasal 1341 KUHPerdata yang juga dianut dalam
Undang-Undang Kepailitan yang dikenal dengan Actio Pauliana,
Pasal 41 Undang-Undang Kepailitan menyatakan bahwa :
(1) Untuk kepentingan harta pailit, kepada pengadilan dapat
dimintakan pembatalan segala perbuatan hukum Debitor
yang telah dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan
kreditor, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit
diucapkan. diberikan hak untuk melakukan pembatalan.
(2) Pembatalan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan apabila dapat dibuktikan bahwa pada saat
perbuatan hukum dilakukan, Debitor dan pihak dengan siapa
perbuatan hukum tersebut dilakukan mangetahui dan
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut
akan mengakibatkan kerugian kreditor.
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) adalah perbuatan hukum Debitor yang wajib
dilakukannya berdasarkan perjanjian dan atau karena
undang-undang.
Kartini Mulyadi berpendapat bahwa kata actio kadang-
kadang dipertanyakan karena tidak perlu adanya tuntutan atau
gugatan untuk membatalkan suatu tindakan pualiana, karena
tindakan hukum tersebut memang batal (Nietig) dan bukannya
dapat dibatalkan (vernietigbaar), hal tersebut cukup dilakukan
pembatalan oleh kurator dengan menyatakan (interoepen) bahwa
tindakan itu batal, asal saja kurator dapat membuktikan bahwa
pada saat Debitor melakukan perbuatan tersebut baik dengan

Hukum Kepailitan di Indonesia 141


pihak siapa Debitor melakukan perbuatannya akan merugikan
kreditor. 98
Hakim Pengawas dapat memerintahkan kurator untuk
melakukan pembagian apabila telah terdapat cukup uang tunai
kepada kreditor yang utangnya telah dicocokan. atas perintah
Hakim Pengawas tersebut kurator berkewajiban untuk menyusun
suatu daftar pembagian untuk dimintakan persetujuan kepada
Hakim Pengawas. Daftar pembagian tersebut memuat rincian
penerimaan dan pengeluaran termasuk didalamnya upah kurator,
nama kreditor, jumlah yang dicocokan dari tiap-tiap piutang dan
bagian yang wajib diterima oleh kreditor.
Pembayaran bagian kreditor konkuren ditentukan oleh
Hakim Pengawas, pembayaran kepada kreditor yang mempunyai
hak yang diistimewakan termasuk didalamnya hak istimewa yang
dibantah dan pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,
hipotek atau hak agunan atas kebendaan lainnya, sejauh mereka
tidak dibayar sebagaimana ketentuan Pasal 55 UU Kepailitan dapat
dilakukan dari hasil penjualan benda terhadap mana mereka
mempunyai hak istimewa atau yang diagunkan kepada mereka.
Jika hasil penjualan benda jaminan tersebut tidak mencukupi
untuk membayar seluruh piutang kreditor yang didahulukan maka
untuk kekurangan tersebut mereka berkedudukan sebagai
kreditor konkuren.
Daftar pembagian yang telah disetujui oleh Hakim Pengawas
wajib disediakan di kepaniteraan pengadilan agar dapat dilihat
oleh kreditor selama tenggang waktu yang ditetapkan oleh Hakim
Pengawas pada saat daftar tersebut disetujui. Penyediaan daftar
pembagian dan tenggang waktu tersebut diumumkan oleh kurator
dalam surat kabar, tenggang waktu mulai berlaku pada hari dan
tanggal penyediaan daftar pembagian tersebut diumumkan dalam
surat kabar tersebut.
Selama tenggang waktu pengumuman daftar pembagian
tersebut kreditor dapat melakukan perlawanan terhadap daftar
pembagian dengan mengajukan keberatan disertai alasan kepada

98
Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan,Ibid, hlm. 249.

142 Hukum Kepailitan di Indonesia


panitera pengadilan, surat keberatan atas daftar pembagian
dilampirkan pada daftar pembagian tersebut, setelah berakhirnya
tenggang waktu pengumuman Hakim Pengawas menentukan hari
untuk memeriksa perlawanan tersebut disidang pengadilan yang
terbuka untuk umum.
Pengadilan harus memutus pemeriksaan perlawanan
terhadap daftar pembagian tersebut dalam tenggang waktu paling
lama tujuh hari, pemeriksaan perlawanan kreditor terhadap daftar
pembagian hanya bertujuan agar piutang kreditor pelawan
tersebut dicocokan dan untuk sementara itu tidak ada perlawanan
yang diajukan oleh orang lain maka biaya perlawanan tersebut
dibebabankan kepada kreditor pelawan tersebut. Terhadap
putusan pengadilan dalam pemeriksaan perlawanan kreditor
terhadap daftar pembagian tersebut dapat dilakukan upaya hukum
kasasi oleh kreditor pelawan, kreditor lainnya dan kurator. untuk
kepentingan pemeriksaan majelis hakim Kasasi dapat memanggil
kurator atau kreditor untuk didengar keterangannya.
Hak-hak kreditor dalam kepailitan diatur dalam beberapa
pasal dari UU Kepailitan sebagai berikut :
1. Hak untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit ke
pengadilan.
2. Hak untuk mengusulkan nama kurator dalam kepailitan
sebagaimana termuat dalam petitum permohonan pernyatan
pailit yang diajukannya.
3. Dalam proses persidangan yang memeriksa permohonan
pernyataan pailit, kreditor dapat dan berhak mengajukan agar
harta Debitor baik sebagian atau seluruhnya diletakkan
dibawah sita jaminan atau menunjuk kurator sementara untuk
mengawasi pengelolaan usaha Debitor dan pembayaran
kepada kreditor, pengalihan atau penggunaan kekayaan
kreditor yang dalam kepailitan menjadi kewenangan kurator.
4. Menerima salinan putusan pernyataan pailit disemua
tingkatan peradilan.
5. Mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan
tentang kepailitan.

Hukum Kepailitan di Indonesia 143


6. Kreditor dapat memohonkan kepada Pengadilan agar
terhadap Debitor nakal dan tidak memenuhi kewajibannya
sebagai Debitor pailit untuk dilakukan penahanan baik
ditempatkan di Rumah Tahanan Negara maupun dirumahnya
sendiri dibawah pengawasan jaksa yang ditunjuk oleh Hakim
Pengawas paling lama 30 (tiga puluh) hari dan dapat
diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari.
7. Mencabut permohonan pernyataan pailit jika kreditor telah
mendapat pelunasan oleh Debitor atau oleh karena alasan lain.
8. Mengajukan pembatalan perbuatan hukum yang dilakukan
Debitor sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan karena
perbuatan tersebut merugikan kreditor ( actio pauliana).
9. Menerima atau menolak rencana perdamaian yang diajukan
Debitor dalam rapat kreditor.
10. Melaksanakan sendiri eksekusi (lelang) terhadap benda
jaminan yang ada pada kreditor separatis setelah lewat masa
tenggang 90 (sembilan puluh) hari.
11. Mengajukan permohonan kepada kurator untuk mengangkat
penangguhan atau merubah syarat penagguhan tersebut oleh
kreditor pemegang hak jaminan kebendaan tersebut.
12. Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah Debitor dinyatakan
dalam keadaan insolvensi maka kreditor separatis harus
melaksanakan eksekusi benda jaminan yang ada padanya dan
jika tidak dapat dilaksanakan maka kreditor separatis harus
menyerahkannya kepada kurator untuk melakukan pelelangan
tersebut tanpa mengurangi hak istimewa yang dimiliki oleh
kreditor separatis terhadap benda jaminan tersebut.
13. Mengajukan tagihan pembayaran piutang kreditor separatis
yang tidak terbayar dari hasil penjualan benda jaminan sebagai
kreditor konkuren.
14. Kreditor mempunyai hak untuk menahan benda milik Debitor
dengan tidak kehilangan hak karena adanya putusan
pernyataan pailit.
15. Kreditor berkewajiban untuk memasukan piutangnya kepada
kurator beserta dokumen pendukung serta bentuk dan sifat
dari piutangya untuk dicocokan dengan data yang ada pada

144 Hukum Kepailitan di Indonesia


Debitor tentang piutangnya tersebut dan melakukan kordinasi
dengan kurator jika ada perbedaan atau bantahan dari tagihan
kreditor tersebut.
16. Kreditor berhak melihat daftar piutang sementara yang dibuat
kurator yang ada pada kepaniteraan pengadilan.
17. Kreditor dapat meminta keterangan kepada Debitor mengenai
hal-hal yang dikemukakannya melalui Hakim Pengawas.
18. Bagi kreditor yang telah meninggal dunia ahli warisnya dapat
menerangkan dibawah sumpah bahwa piutang tersebut ada
dan belum dilunasi.
19. Piutang yang tidak dibantah wajib dipindahkan kedalam daftar
piutang yang diakui dan dimasukkan kedalam berita acara
rapat.
20. Kreditor dapat mengajukan bantahan melalui panitera
pengadilan terhadap daftar pembagian piutang yang dibuat
kurator sesuai tenggang waktu yang telah ditetapkan Hakim
Pengawas sebagaimana disebutkan dalam daftar pembagian
piutang tersebut, keberatan terhadap pembagian tersebut
diputus oleh pengadilan dan terhadap putusan tersebut dapat
dilakukan upaya hukum kasasi.
21. Dilakukannya pembayaran kepada kreditor secara penuh atas
piutangnya maka kepailitan sudah berakhir tanpa mengurangi
ketentuan Pasal 203 Undang-undang Kepailitan.

6. Hak Kreditor Separatis Dalam Kepailitan


Hak kreditor pemegang hak jaminan kebendaan dalam
kepailitan ditujukan kepada hak jaminan yang dimiliki oleh
kreditor separatis setelah Debitor dinyatakan pailit, pernyataan
pailit tersebut terjadi setelah pengadilan menyatakan Debitor
pailit dalam suatu putusan. Hak jaminan kebendaan memberikan
hak yang khusus kepada pemegangnya dibandingkan dengan
kreditor lainnya dalam kepailitan. Beberapa pendapat
menyebutkan hak yang dimiliki oleh kreditor separatis dan
kreditor preferen adalah hak istimewa dan beberapa pendapat
lainnya menyebutkan hak kreditor tersebut sebagai hak yang
didahulukan.

Hukum Kepailitan di Indonesia 145


Kreditor separatis adalah para Kreditor yang mempunyai
piutang dengan ikatan tertentu, antara lain pemegang hipotek,
pemegang gadai, pemegang ikatan panen (oogstverband). Mereka
ini disebut separatisten. Hak mereka tetap dijamin seolah-olah
tidak ada kepailitan. Jadi, barang-barang yang menjadi jaminan itu
berada di luar bundel pailit. Pemegang hipotek yang menjadi
Kreditor separatis adalah pemegang hipotek sebagaimana diatur
pada Pasal 1178 KUHPdt, sebagai pemegang beding van
eigenmactige verekoop, sedangkan pemegang hipotek kedua dan
selanjutnya bukan Kreditor separatis. Tentang separatisten ini
diatur pada Pasal 55, Pasal 56, pasal 57 Undang-undang No. 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang.
UU Kepailitan juga tidak konsisten menggunakan istilah
didahulukan ataupun diistimewakan bagi hak kreditor separatis
ataupun untuk hak kreditor preferen, sebagaimana dalam
Penjelasan Pasal 2 disebutkan bahwa baik kreditor preferen
maupun kreditor separatis mempunyai hak didahulukan,
sedangkan dalam Pasal 60 Ayat (2) menyebutkan hak jaminan
kebendaan yang ada pada kreditor separatis tersebut sebagai hak
istimewa dengan kedudukan yang diistimewakan.
Hak jaminan kebendaan setelah berlakunya UU Nomor 4
Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan atas tanah serta benda-
benda yang berkaitan dengan tanah dan UU Nomor 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia, kedua hal tersebut merupakan Hak
Jaminan Kebendaan, setelah diberlakukannya UU Hak Tanggungan
maka hipotek atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya
tidak berlaku lagi, hipotek hanya berlaku terhadap kapal laut yang
berukuran 20 M3 dan bagi pesawat terbang dan helikopter yang
telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia.
Hipotek tentang kapal laut diatur dalam Pasal 314 KUH Dagang dan
Pasal 49 Ayat (1) UU Nomor 21 Tahun 1992 Tentang Pelayaran,
sedangkan hipotek untuk pesawat terbang dan helikopter diatur
dalam UU Nomor 15 Tahun 1992 Tentang Penerbangan.

146 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pasal-pasal mengenai Kreditor Separatis terdapat dalam
Pasal 55, 56, 57 Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan PKPU yaitu sebagai berikut:
Pasal 55:
(1) Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, setiap
Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak
tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan
lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak
terjadi kepailitan.
(2) Dalam hal penagihan suatu piutang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 136 dan Pasal 137 maka mereka
hanya dapat berbuat demikian setelah dicocokkan
penagihannya dan hanya untuk mengambil pelunasan
dari jumlah yang diakui dari penagihan tersebut.
Pasal 56:
(1) Hak eksekusi Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal
55 ayat (1) dan hak pihak ketiga untuk menuntut
hartanya yang berada dalam penguasaan Debitor Pailit
atau Kurator, ditangguhkan untuk jangka waktu paling
lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan
pernyataan pailit diucapkan.
(2) Penangguhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku terhadap tagihan Kreditor yang dijamin dengan
uang tunai dan hak Kreditor untuk memperjumpakan
utang.
(3) Selama jangka waktu penangguhan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Kurator dapat menggunakan
harta pailit berupa benda bergerak yang berada dalam
penguasaan Kurator dalam rangka kelangsungan usaha
Debitor, dalam hal telah diberikan perlindungan yang
wajar bagi kepentingan Kreditor atau pihak ketiga
sebagaimana dimaksud pada ayat(1).
(4) Selama jangka waktu penangguhan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Kurator dapat menggunakan
harta pailit berupa benda tidak bergerak maupun benda

Hukum Kepailitan di Indonesia 147


bergerak atau menjual harta pailit berupa benda
bergerak yang berada dalam penguasaan Kurator dalam
rangka kelangsungan usaha Debitor, sejauh untuk itu
telah diberikan perlindungan yang wajar bagi
kepentingan Kreditor atau pihak ketiga sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
Pasal 57:
(1) Jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat
(1) berakhir demi hukum pada saat kepailitan diakhiri
lebih cepat atau pada saat dimulainya keadaan
insolvensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 ayat
(1).
(2) Kreditor atau pihak ketiga yang haknya ditangguhkan
dapat mengajukan permohonan kepada Kurator untuk
mengangkat penangguhan atau mengubah syarat
penangguhan tersebut.
(3) Apabila Kurator menolak permohonan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Kreditor atau pihak ketiga dapat
mengajukan permohonan tersebut kepada Hakim
Pengawas.
(4) Hakim Pengawas dalam waktu paling lambat 1 (satu) hari
setelah permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) diterima, wajib memerintahkan Kurator untuk segera
memanggil dengan surat tercatat atau melalui kurir,
Kreditor dan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) untuk didengar pada sidang pemeriksaan atas
permohonan tersebut.
(5) Hakim Pengawas wajib memberikan penetapan atas
permohonan dalam waktu paling lambat 10 (sepuluh)
hari permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diajukan kepada Hakim Pengawas.
(6) Dalam memutuskan permohonan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Hakim Pengawas mempertimbangkan:
a. lamanya jangka waktu penangguhan yang sudah
berlangsung;

148 Hukum Kepailitan di Indonesia


b. perlindungan kepentingan Kreditor dan pihak ketiga
dimaksud;
c. kemungkinan terjadinya perdamaian;
d. dampak penangguhan tersebut atas kelangsungan
usaha dan manajemen usaha Debitor serta
pemberesan harta pailit.
Keadaan insolvensi dimaksudkan apabila pada rapat
pencocokan utang tidak ditawarkan rencana perdamaian, atau
rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima, atau
pengesahan perdamaian ditolak berdasarkan putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap, demi hukum harta benda
pailit dalam keadaan insolvensi. Dengan keadaan insolvensi
tersebut proses pemberesan harta pailit dapat dimulai, kreditor
pemegang hak jaminan kebendaan sudah dapat melakukan
pelelangan terhadap jaminan yang ada padanya dan kurator sudah
dapat melakukan eksekusi terhadap harta Debitor pailit dengan
jalan melakukan pelelangan umum.
Pasal 60 UU Kepailitan menyebutkan sebagai berikut :
(1) Kreditor pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 55 Ayat (1) yang melaksanakan haknya, wajib
memberi pertanggungjawaban kepada kurator tentang
hasil penjualan benda yang menjadi agunan dan
menyerahkan sisa hasil penjualan setelah dikurangi
jumlah utang, bunga dan biaya kepada kurator.
(2) Atas tuntutan kurator atau kreditor yang diistimewakan
yang kedudukannya lebih tinggi dari pada kreditor
pemegang hak sebagaimana dimaksud Ayat (1) maka
kreditor pemegang hak tersebut wajib menyerahkan
bagian dari hasil penjualan tersebut untuk jumlah yang
sama dengan jumlah tagihan yang diistimewakan.
(3) Dalam hasil penjualan sebagaimana maksud ayat (1) tidak
cukup untuk melunasi piutang yang bersangkutan,
kreditor pemegang hak tersebut dapat mengajukan
tagihan pelunasan atas kekurangan tersebut dari harta
pailit sebagai kreditor konkuren, setelah mengajukan
permintaan pencocokan piutang.

Hukum Kepailitan di Indonesia 149


Kedudukan istimewa kreditor sepratis tersebut tidak hanya
untuk melaksanakan eksekusi tanpa terganggunya hak tersebut
oleh pernyataan kepailitan Debitor akan tetapi keistimewaannya
tersebut terlihat dan diatur dalam Pasal 60 Ayat (3) UU Kepailitan
yang menyatakan bahwa apabila hasil penjualan benda jaminan
yang ada padanya tidak mencukupi maka kreditor separatis dapat
mengajukan tagihan pelunasan atas kekurangan tersebut kepada
kurator sebagai kreditor konkuren.
Setiap kreditor yang namanya tercantum dalam daftar
piutang sebagaimana dimaksud pada Pasal 124 ayat (1) UU
Kepailitan dapat meminta agar kurator memberikan keterangan
mengenai tiap piutang dan penempatannya dalam daftar, atau
dapat membantah kebenaran piutang, adanya hak untuk
didahulukan, hak menahan suatu benda atau dapat menyetujui
bantahan kurator. Piutang yang tidak dibantah wajib dipindahkan
kedalam daftar piutang yang diakui yang dimasukkan kedalam
berita acara rapat, berita acara rapat tersebut ditandatangani oleh
Hakim Pengawas dan Panitera Pengganti, Pengakuan suatu
piutang yang dicatat dalam berita acara rapat mempunyai
kekuatan hukum yang tetap dalam kepailitan dan pembatalannya
tidak dapat dituntut oleh kurator kecuali berdasarkan adanya
penipuan.
Terhadap bunga atas utang yang timbul setelah putusan
pernyataan pailit diucapkan tidak dapat dilakukan pencocokan
piutang, kecuali dan hanya sejauh dijamin dengan gadai, jaminan
fidusia, hak tanggungan, hipotek atau hak agunan atas kebendaan
lainnya. Pencocokan bunga yang dijamin dengan hak agunan harus
dilakukan pencocokan piutang secara pro memori, apabila bunga
piutang tersebut tidak dapat dilunasi dengan hasil penjualan benda
yang menjadi agunan, kreditor yang bersangkutan tidak dapat
melaksanakan haknya yang timbul dari pencocokan piutang.

7. Permohonan Pernyataan Pailit Oleh Kreditor Konkuren


Permohonan pernyataan pailit pada prinsipnya merupakan
hak kreditor konkuren, kreditor yang tidak memiliki hak khusus
baik itu hak untuk didahulukan ataupun hak untuk diistimewakan,

150 Hukum Kepailitan di Indonesia


kreditor konkuren hanya memiliki hak jaminan atas harta milik
Debitor didasarkan kepada hak jaminan umum karena memang
semua harta benda terutang merupakan jaminan terhadap semua
utang-utangnya. Kreditor Separatis karena memiliki hak jaminan
maka tidak perlu mengajukan permohonan pailit ke pengadilan
untuk mempailitkan Debitornya karena kreditor separatis dapat
melaksanakan parate eksekusi terhadap harta jaminan Debitor
yang ada padanya.
Analisis putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat sebagai
berikut :
Pemohon HD. Hikmat dkk melawan PT. Citra Hidayat
Komunikaputra Termohon I dan H. Deddy Hanurawan sebagai
Termohon II99.
Adanya utang Para Termohon kepada Para Pemohon yang
telah jatuh waktu dan dapat ditagih antara Pemohon I dan
Termohon I yang diwakili oleh Termohon II telah sepakat
dan selanjutnya menandatangani akta-akta yang sama
maksud dan tujuannya yaitu mengenai perjanjian kerjasama
jual beli pelumas (oli) dengan 4 (empat) kali perjanjian
dengan total modal yang disetorkan oleh Pemohon I kepada
Termohon I melalui rekening Termohon II. Adanya utang
Para Termohon kepada Para Pemohon yang telah jatuh
waktu dan dapat ditagih antara Pemohon II dengan
Termohon I dan selanjutnya menandatangani akta-akta yang
sama maksud dan tujuannya yaitu mengenai perjanjian
kerjasama jual beli pelumas (oli) dengan 2 (dua) kali
perjanjian dengan total modal yang disetorkan oleh
Pemohon II kepada Termohon I melalui Termohon. Adanya
utang Termohon I kepada Para Pemohon III yang diwakili
oleh Pemohon II yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Setelah perjanjian-perjanjian antara Para Pemohon dengan
Termohon I yang diwakili oleh Termohon II efektif berlaku,
keuntungan yang dijanjikan kepada Para Pemohon yang
telah jatuh tempo tidak dapat dipenuhi secara keseluruhan

99
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 20/Pailit/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Hukum Kepailitan di Indonesia 151


oleh Termohon I dan Termohon II. Dengan demikian
terbukti Termohon mempunyai 2 (dua) atau lebih Kreditor
(Pemohon I, II, II dan IV) dan tidak membayar sedikitnya satu
utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih tersebut.
Seluruh tagihan Pemohon kepada Termohon I tersebut
dijamin secara pribadi oleh Termohon II sebagaimana dalam
surat pernyataan yang telah dibuat, sehingga sangat
beralasan apabila Termohon II bersama-sama dengan
Termohon I dinyatakan pailit dengan segala akibat
hukumnya.
Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh perorangan
terhadap Debitor Badan Hukumberbentuk Perseroan Terbatas,
perjanjian utang piutang ini diawali dengan perjanjian kerja sama
antara Para Pemohon dengan Para Termohon yaitu Termohon I
Badan Hukumnya sedangkan Termohon II sebagai yang mewakili
Termohon I meskipun tidak dijelaskan kedudukan Termohon II
dalam permohonan pernyataan pailit ini. Dalam permohonan ini
juga ada intervensi dari kreditor lain.
Dalam hukum kepailitan yang diatur dalam UU Kepailitan
tidak membedakan antara pemohon perorangan ataupun
pemohon korporasi, dengan demikian tidak dapat dianalisa apakah
permohon yang mengajukan permohonan pernyataan pailit
tersebut termasuk kedalam kelompok kreditor konkuren, kreditor
separatis, kecuali permohonan pailit yang diajukan oleh karyawan
atau beberapa pekerja ataupun oleh perserikatan pekerja
permohonan yang demikian termasuk kedalam permohonan yang
diajukan oleh kreditor preferen karena kedudukan pekerja sesuai
dengan Pasal 95 Ayat (4) UU Nomor 25 Tahun 1997 Tentang
Ketenagakerjaan berkedudukan khusus dalam kepailitan dimana ia
bekerja, dengan demikian permohonan kepailitan oleh karena
tidak dibayarnya gaji karyawan oleh perusahaan dimana ia bekerja
terhadap perusahaan tersebut maka kedudukan pemohon
merupakan kreditor preferen dalam kepailitan tersebut.
Kedudukan sebagai kreditor preferen terhadap pekerja, para
pekerja ataupun serikat pekerja terhadap perusahaan tempatnya

152 Hukum Kepailitan di Indonesia


bekerja menjadikan pekerja berkedudukan sebagai kreditor
preferen dalam kepailitan perusahaan tempat bekerjanya tersebut.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Para Pemohon
memohon kepada Majelis Hakim berkenan memberikan
putusan sebagai berikut :
Mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk seluruhnya
;
Menyatakan Termohon I dan Termohon II, pailit dengan
segala akibat hukumnya ;
Mengangkat hakim pengawas untuk kepailitan tersebut ;
Menunjuk kurator dalam kepailitan tersebut ;
Memerintahkan kepada Termohon II ditahan, dibawah
pengawasan Jaksa yang ditunjuk oleh Hakim Pengawas ;
Menetapkan jumlah honorarium Kreditor tersebut ;
Menghukum Para Termohon untuk membayar seluruh biasa
perkara ini ;
Petitum dari Permohonan pemohonan memuat hal yang
tidak lazim ditemui dalam praktik pemeriksaan permohonan
kepailitan, yaitu memohon agar Majelis Hakim melakukan
penahanan terhadap termohon II, dalam UU Kepailitan tentang
kewenangan Hakim Pengawas diuraikan bahwa yang dapat
melakukan penahanan tersebut adalah setelah seseorang
dinyatakan pailit100, atas usulan kreditor, permintaan kurator
setelah mendengar Hakim Pengawas maka Pengadilan dapat
melakukan penahanan terhadap Debitor.
Penahanan terhadap Debitor dilakukan oleh Jaksa yang
ditunjuk oleh Hakim Pengawas, hal demikian dalam praktik sangat
sulit dilaksanakan karena jaksa dimaksud bukan terkait dengan
pemeriksaan perkara permohonan pailit a quo, apakah
kewenangan yang ada pada Hakim Pengawas dilaksanakan oleh
Jaksa dan jika Jaksa tidak mau melaksanakannya apa ada upaya lain
agar Debitor ditahan, maka secara teknis akan menemui banyak
kendala. Karenanya sampai saat ini penahanan Debitor belum
pernah dilaksanakan.

100
Lihat Pasal 93 Ayat (1) UU Kepailitan.

Hukum Kepailitan di Indonesia 153


Dalam perkara ini terdapat juga Kreditor lain (Pemohon
Intervensi) yang mempunyai hubungan kerjasama jual beli
pelumas (oli) dengan Para Termohon yaitu Drs. H. Sardija
Suherman, SH dan kawan-kawan, Dr. Azhar Susanto,
PGDBus, Mbus, Ak. Dan kawan-kawan, Bob Kamandanu dan
kawan-kawan, Hudaedin, SH. dan kawan-kawan, Drs. H.
Asep Saefuddin dan kawan-kawan, dan Drs. Ganda S. Nurbai
dan kawan-kawan.
Mengenai adanya utang Para Termohon kepada Para
Pemohon yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dapat
dilihat dari permohonan pailit yang diajukan oleh Para
Pemohon sebagaimana telah dijelaskan di atas. Selanjutnya
mengenai Termohon mempunyai 2 (dua) atau lebih Kreditor
dapat dilihat dari adanya kewajiban Para Termohon kepada
Para Pemohon sebagaimana telah diuraikan di atas. Untuk
menunjukkan adanya itikad baik dari Para Termohon maka
seluruh tagihan Para Pemohon kepada Para Termohon telah
dijamin secara pribadi oleh Termohon II, akan tetapi
Termohon II sebagai penjamin pribadi atas utang/kewajiban
Termohon I ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya.
Berdasarkan hal tersebut, maka Para Pemohon, memohon
kepada Majelis Hakim untuk memutuskan:
1. Menyatakan menerima permohonan yang diajukan oleh
Para Pemohon untuk seluruhnya.
2. Menyatakan bahwa Termohon I P.T. Citra Hidayat
Komunikaputra dan Termohon II H. Deddy Hanurawan
pailit dengan segala akibat hukumnya.
3. Mengangkat Hakim Pengawas untuk kepailitan tersebut.
Posita dan petitum suatu gugatan ataupun permohonan
haruslah saling berkaitan dan berhubungan, adanya dalil-dalil
gugatan ataupun permohonan mengakibatkan timbulnya hak atau
hilangnya hak ataupun lahirnya atau hilangnya kewajiban yang
mengakibatkan lahirnya keadaan hukum yang baru. Hal tersebut
menjadi dasar akan tuntutan atau petitum dari suatu gugatan
ataupun permohonan yang diajukan di pengadilan.

154 Hukum Kepailitan di Indonesia


Atas materi Permohonan Pernyataan Pailit Para Pemohon,
Kreditor lain Drs. H. Sardja Suherman, SH. Dan kawan-
kawan menolaknya, Dr. Azhar Susanto, PDG Bus, Mbus, Ak.,
dan kawan-kawan dalam surat tanggapannya menyatakan
menolak permohonan pernyataan Pailit Para Pemohon.
Sedangkan Kreditor lain yang terdiri dari Bob Kamandanu
dan kawan-kawan, serta Hudaedin, SE, dan kawan-kawan,
Drs. H. Asep Saefudin dan kawan-kawan, menanggapi
menyetujui permohonan pernyataan pailit Para Pemohon,
sementara Kreditor lain yang bernama Rahmat Rahardjo
berpendapat pada prinsipnya menyetujui untuk
dikabulkannya permohonan Pernyataan Pailit Para Pemohon,
dengan catatan diantaranya seluruh aset sdr. Deddy
Hanurawan dan atau PT. CHK, didaftarkan sebagai Harta
Pailit.
Pertimbangan hukum oleh Majelis Hakim terhadap perkara
Permohonan Pailit di atas adalah ternyata diantara Pemohon
I dan Pemohon II dengan Termohon: terdapat hubungan
kerjasama, yang dari perjanjian kejasama tersebut Termohon
I dan Termohon berkewajiban untuk membayarkan kembali
sejumlah uang kepada Para Pemohon, baik yang berupa
keuntungan maupun uang pokok. Berdasarkan hal tersebut
dapat dikategorikan Para Pemohon adalah selaku Kreditor
sedangkan Termohon I sebagai Debitor. Sehingga dengan
demikian, telah terbukti Termohon I mempunyai utang
terhadap Pemohon I dan Pemohon II.
Posita dan petitum juga merupakan bentuk dari sanggahan
ataupun jawaban dari pihak tergugat ataupun termohon, dalam
posita juga harus diuraikan dalil-dalil yang harus berkaitan dengan
dalil satu dengan lainnya dan yang menjadi hal pokok adalah dalil-
dalil tersebut harus dibuktikan di persidangan perkara in cassu.
Selanjutnya utang Termohon I kepada Pemohon I dan
Pemohon II telah jatuh waktu dan dapat ditagih, serta
keseluruhannya belum dibayar lunas, sehingga berdasarkan
fakta tersebut terbukti secara sederhana persyaratan
kepailitan telah terpenuhi. Persyaratan kepailitan tersebut

Hukum Kepailitan di Indonesia 155


lebih ternyata dari hadirnya kreditor-kreditor lain yang
terdiri dari Bob Kamandanu dan kawan-kawan, serta
Hudaedin, SE, dan kawan-kawan, Drs. H. Asep Saefudin dan
kawan-kawan, Drs. Ganda S. Nurbai dan kawan-kawan, yang
menyatakan mempunyai piutang pula terhadap Termohon I
tersebut.
Permohonan pailit terhadap Termohon II sebagai penjamin
bagi Termohon I sah menurut hukum oleh karena Termohon
II membuat pernyataan penjaminan di bawah tangan dan
tidak dibuat berdasarkan akta autentik. Oleh karena
Termohon I dinyatakan pailit berdasarkan pertimbangan di
atas maka usulan Para Pemohon agar Sdr. Muhammad Ishak,
S.H. sebagai kurator beralasan untuk dikabulkan oleh karena
ternyata dalam diri yang bersangkutan tidak terdapat
benturan kepentingan dengan pihak-pihak. Permohonan
agar Termohon II diperintahkan untuk ditahan dibawah
pengawasan Jaksa yang ditunjuk oleh Hakim Pengawas tidak
berdasar hukum dikarenakan permohonan tersebut bukan
merupakan kewenangan Majelis dalam menangani perkara
permohonan aquo. Selanjutnya jumlah honorarium Kurator
baru dapat ditetapkan setelah Kurator menyelesaikan
pekerjaannya, karena itu permohonan tersebut
dikesampingkan.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan
pernyataan pailit yang diajukan terhadap Termohon I sedangkan
terhadap Termohon II menurut Pengadilan dikarenakan akta
perjanjian dibuat dibawah tangan maka perjanjian penjaminan
tersebut tidak beralasan. Permohonan Penahanan terhadap
Termohon II bukan merupakan kewenangan Majelis Hakim in
cassu karenanya harus pula dikesampingkan, dengan
pertimbangan tersebut Pengadilan menjatuhkan putusan dengan
amar sebagai berikut :
Mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk sebagian.
Menyatakan Termohon I Pailit dengan segala akibat
hukumnya.

156 Hukum Kepailitan di Indonesia


Mengangkat Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas.
Menunjuk dan mengangkat sebagai kurator.
Menghukum Termohon I membayar biaya permohonan ini.
Menolak permohonan yang lain dan selebihnya.
Pembahasan dua putusan tersebut dapat disimpulkan bahwa
proses pemeriksaan pernyataan pailit di persidangan Pengadilan
Niaga tetap mempedomani ketentuan sebagaimana ditetapkan
oleh UU Kepailitan, yaitu persyaratan Pasal 2 Ayat (1) harus
terpenuhi untuk mengabulkan permohonan pernyataan pailit dan
pembuktian tersebut haruslah bersifat sederhana.

8. Hak Kreditor Konkuren Dalam Kepailitan Debitor


Kreditor konkuren dimaksudkan adalah kreditor yang dalam
istilah lainnya disebut dengan kreditor bersaing atau disebut
dengan Unsecure Creditor, kreditor konkuren tidak memiliki
jaminan ataupun agunan apapun dalam perjanjian utang dengan
Debitor pailit sebagaimana dimiliki oleh kreditor separatis, akan
tetapi piutang kreditor konkuren kepada Debitor hanyalah bersifat
jaminan umum sebagaimana bunyi Pasal 1131 KUH Perdata dan
Pasal 1132 KUH Perdata.
Dalam peringkat kedudukan kreditor dalam kepailitan
Debitor (structure creditors) kedudukan kreditor konkuren
berada pada posisi yang paling akhir dalam menerima pembayaran
piutangnya dari Debitor sepanjang hasil penjualan harta pailit
memungkinkan untuk melakukan pembayaran tersebut,
kedudukan paling belakang dimaksudkan bahwa kreditor
konkuren menerima pembayaran piutangnya setelah dilakukan
pembayaran terlebih dahulu terhadap piutang kreditor separatis
dan kreditor preferen.
Berikut bahasan putusan pernyataan pailit yang
memperlihatkan panjangnya perjuangan seorang kreditor untuk
memperoleh pembayaran piutangnya dari Debitor.
Dalam Permohonan antara H. Azelia dan PT. Bukit Sentul, Tbk.101

101
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.21/Pailit/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Hukum Kepailitan di Indonesia 157


Pemohon telah mengajukan permohonan Pailit dengan
alasan adanya utang Termohon kepada Pemohon yang telah
jatuh waktu dan dapat ditagih, dimana Termohon telah
menjual kepada pemohon sebagian dari bidang tanah berikut
bangunan yang didirikan di atasnya. Tanah dan bangunan
yang dibeli oleh Pemohon tersebut telah lunas dilakukan
pembayaran kepada Termohon. Akan tetapi batas waktu
penyerahan tanah dan bangunan kepada Pemohon telah
terlampaui, sehingga Pemohon telah berulangkali
mengirimkan surat kepada Termohon guna memenuhi
kewajibannya serta denda keterlambatan penyerahan tanah
dan bangunan sebesar 5% dari nilai pekerjaan, namun
Termohon hingga permohonan pailit ini diajukan tidak
memberikan tanggapan sama sekali.
Pemohon dalam permohonan pailit ini dapat dikategorikan
sebagai kreditor konkuren, hal tersebut dapat dilihat dari identitas
pemohon yang menguraikan bahwa pemohon adalah pembeli dari
kavling banguanan yang dijual oleh termohon sehingga dasar dari
permohonan ini adalah perjanjian jual beli bukan berdasarkan
adanya kegiatan usaha, tidak ditemukan dalil dari permohonan
ataupun dalil dari jawaban termohon terkait dengan adanya
jaminan atau tidak adanya hak khusus yang dimiliki oleh pemohon
terhadap harta Debitor atau termohon.
Permohonan pernyataan pailit ini diajukan oleh Pemohon
berdasarkan jual beli, apakah ketika Penjual atau Termohon dalam
perkara in cassu tidak melaksanakan kewajibannya untuk
menyerahkan benda yang menjadi objek perjanjian tersebut dapat
dikategorikan sebagai utang yang dimaksud Pasal 2 Ayat (1) UU
Kepailitan yang menjadi unsur pokok adanya kepailitan.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mempertimbangkannya
berdasarkan fakta-fakta sebagai berikut.
Di samping menjadi dasar permohonan pernyataan pailit
adalah jual beli tanah antara lain namun tidak terbatas pada
PT. Gajah Perdana, PT. Lobunta Kencana Raya, PT.
Kolelatama Albes dan PT. Devrindo Widya (selaku Kreditor
lain), yang jumlah piutang-piutang Pemohon maupun

158 Hukum Kepailitan di Indonesia


Kreditor lain baru diketahui secara pasti, apabila Termohon
telah dinyatakan pailit dan diverifikasi dalam rapat
pencocokan piutang para Kreditor PT. Bukit Sentul, Tbk
yang dipimpin oleh hakim pengawas dan Kurator nantinya.
Berdasarkan uraian tersebut, terdapat fakta atau keadaan
yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk
dinyatakan pailit Termohon telah terpenuhi, dan karenanya
adalah patut jika Termohon dinyatakan pailit.
Atas permohonan Pemohon diatas, Termohon memohon
kepada Majelis Hakim untuk berkenan memutuskan :
Dalam Eksepsi :
1. Menerima Eksepsi Termohon seluruhnya.
2. Menyatakan bahwa Pengadilan Niaga tidak berwenang
untuk memeriksa dan mengadili serta memutus perkara
ini.
3. Menyatakan permohonan pailit Pemohon tidak dapat
diterima.
Dalam Pokok Perkara :
1. Menolak permohonan pailit yang diajukan oleh
Pemohon.
2. Menolak permohonan pailit yang diajukan oleh
Pemohon pailit terhadap termohon.
3. Menolak segala permohonan atas penunjukan kurator
yang diajukan oleh Pemohon.
4. Menghukum Pemohon untuk membayar ongkos perkara
ini.
Termohon di dalam jawabannya mengajukan eksepsi yang
memuat 2 (dua) hal pokok yaitu :
Surat kuasa pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 4 (1)
UU No. 37 tahun 2004, dimana menurut Termohon surat
kuasa yang diberikan oleh Azelia Birrer kepada kuasanya
tersebut tidak dilengkapi persetujuan dari suami, maka surat
kuasa tersebut harus dinyatakan tidak sah dan tidak dapat
diterima.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tidak berwenang secara
absolut, karena antara Pemohon dengan Termohon terikat

Hukum Kepailitan di Indonesia 159


dalam suatu Perjanjian Pengikatan Jual Beli yang mana dalam
pasal 14 telah diatur secara tegas bahwa jika terjadi
perselisihan akan diselesaikan secara musyawarah. Jika tidak
tercapai, maka para pihak sepakat menyelesaikan menurut
prosedur yang ditentukan Badan Arbitrase Nasional
Indonesia.
Pengadilan mempertimbangkan jika ada pilihan hukum,
karena sudah tertuang dalam suatu perjanjian apalagi dituangkan
dalam akte autentik maka perjanjian tersebut merupakan UU bagi
pihak-pihak yang terkait dengan perjanjian tersebut, Jika dalam
persidangan perkara in cassu ternyata terbukti pilihan hukum
tersebut ada dan tidak menunjuk perngadilan yang memeriksa
perkara in cassu maka pengadilan tersebut tidak berwenang
mengadili perkara tersebut.
Pertimbangan Pengadilan Niaga terhadap eksepsi dari
Termohon adalah sebagai berikut: Tentang persetujuan dari
suami Pemohon menurut Pasal 4 (1) UU No. 37 tahun 2004,
makapermohonan tersebut hanya dapat diajukan atas
persetujuan suami atau istrinya. Dalam perkara aquo status
Pemohon adalah sebagai Kreditor yang mengajukan
permohonan pernyataan pailit terhadap Termohon sebagai
Debitor, oleh karena itu Pasal 4 (1) UU No. 37 tahun 2004
tidak berlaku bagi pemohon. Dengan demikian eksepsi
perihal tersebut harus ditolak karena tidak berdasarkan
hukum. Tentang kompetensi Pengadilan Niaga, kewenangan
absolut Arbitrase dalam kedudukannya sebagai Ekstra
Judisial tidak dapat mengesampingkan kewenangan
Pengadilan Niaga untuk mengadili perkara kepailitan
berdasarkan Pasal 303 UU No. 37 tahun 2004 sebagai Special
Law. Sehingga, meskipun antara Pemohon dan Termohon
terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase,
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tetap berwenang memeriksa
perkara ini. Berdasarkan hal tersebut maka eksepsi
termohon ditolak seluruhnya.
Pertimbangan Pengadilan terhadap eksepsi yang diajukan
Termohon bahwa perlu persetujuan suami atau isteri dalam

160 Hukum Kepailitan di Indonesia


mengajukan pailit tidak berlaku bagi kreditor, demikian juga
eksepsi tentang kewenangan pengadilan bahwa perjanjian atau
pilihan hukum terhadap arbitrase tidak mengesampingkan
kewenangan pengadilan niaga untuk memeriksa permohonan
pailit dalam perkara in cassu.
Pemohon mendalilkan bahwa Pemohon adalah pembeli
sebagian dari bidang tanah berikut bangunan yang akan
dibangun oleh Termohon dengan cara angsuran dan untuk
itu Pemohon telah melunasi pembayarannya kepada
Termohon. Setelah sampai batas waktu penyerahan tanah
dan bangunan kepada Pemohon terlampaui yakni pada bulan
maret 2003 Termohon tidak memenuhi kewajibannya oleh
karena Termohon tidak dapat memenuhi kewajibannya
kepada Pemohon selaku kreditornya, di samping itu
Termohon juga mempunyai utang terhadap pihak lain yaitu
PT. Gajah Perdana, PT. Lobunta Kencana Raya, PT.
Kolelatama Albes dan PT. Devrindo Widya, maka cukup
beralasan Termohon dinyatakan dalam keadaan pailit.
Atas dalil pemohon tersebut, Termohon membantahnya
dengan mengemukakan dalil-dalil selengkapnya sebagaimana
tersebut dalam jawaban yang pada pokoknya memuat beberapa
hal pokok yaitu:
1. Hubungan hukum antara pemohon dengan termohon
bukan hubungan Utang piutang, akan tetapi hubungan
jual beli tanah.
2. Termohon tidak mempunyai utang uang terhadap
Pemohon yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih,
sehingga permohonan Pemohon tidak sesuai dengan
ketentuan Pasal 2 (1) UU No. 37 tahun 2004.
3. Pemohon pailit tidak dapat membuktikan adanya 2 (dua)
Kreditor.
4. Pembuktian perkara ini tidak sumir karena ada
kewajiban-kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh
Pemohon.
Pertimbangan Majelis Hakim terhadap sangkalan Termohon
khususnya perihal hubungan hukum antara Pemohon dan

Hukum Kepailitan di Indonesia 161


Termohon bukan utang dan Termohon tidak mempunyai
utang pada Pemohon yang telah jatuh tempo. Hubungan
hukum yang ada antara Pemohon dan Termohon
sebagaimana tersebut di atas merupakan hubungan
perikatan, yaitu ikatan dalam bidang hukum harta benda
(vermogen recht) antara dua orang atau lebih dimana satu
pihak berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban untuk
melaksanakannya, objeknya tertentu dan subjeknya tertentu
pula dimana jika pihak yang mempunyai kewajiban itu tidak
melaksanakan kewajibannya akan menimbulkan apa yang
disebut utang.
Pengadilan mempertimbangkan adanya utang berdasarkan
pengertian utang dalam arti luas dan menghubungkannya dengan
ikatan dalam bidang hukum kebendaan (Vermogenrecht) satu
pihak berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban untuk
melaksanakannya. Di Amerika Serikat 102 pembuktian dalam
kepailitan Debitor dilakukan terhadap tagihan-tagihan yang
diajukan oleh kreditor dengan menggunakan doctrine probability
bahwa terhadap bukti-bukti yang dapat dibuktikan saja yang
masuk kedalam criteria tagihan, dan menerapkan doctrine of
allowability yaitu tagihan yang dapat dihitung secara rasional
tanpa menunda proses administrasi kepailitan. Sedangkan dalam
hukum kepailitan Indonesia tagihan tersebut dapat dikategorikan
tagihan jika sudah dapat dibuktikan secara sederhana. Jika
pembuktian ternyata terbukti tidak sederhana maka hal tersebut
tidak menjadi kewenangan pengadilan niaga akan tetapi menjadi
kompetensi pengadilan perdata yang menjadi kewenangan
Pengadilan Negeri.
Selanjutnya dalam perjanjian jual beli dalam perkara ini ,
pihak yang berhak atas suatu prestasi berkedudukan sebagai
Kreditor, sedangkan pihak lain yang berkewajiban memenuhi
prestasi berkedudukan sebagai Debitor. Oleh karena Debitor
belum juga memenuhi kewajibannya kepada Pemohon,
Pemohon bersama-sama konsumen yang lainnya telah

102
Siti Anisah, Perlindungan Kepentingan Kreditor Debitor Dalam Hukum Kepailitan di
Indonesia, Cetakan ke-II, Total Media, Yogyakarta, 2008, Hlm. 159

162 Hukum Kepailitan di Indonesia


melakukan proses advokasi konsumen, sehingga dengan
demikian Majelis Hakim berpendapat bahwa Debitor telah
mempunyai utang kepada Pemohon, utang mana telah jatuh
waktu dan dapat ditagih. Dipersidangan dalam perkara ini
hadir pula Kreditor lain yaitu PT. Gajah Perdana, dimana dari
fakta-fakta dipersidangan disimpulkan bahwa Termohon
belum melunasi kewajiban pembayaran kepada PT. Gajah
Perdana. Oleh karena Termohon belum melunasi
kewajibannya kepada PT. Gajah Perdana tersebut, maka
kedudukannya adalah Debitor dan PT. Gajah Perdana adalah
Kreditor dari Termohon. Berdasarkan hal tersebut, maka
dapat dibuktikan adanya 2 (dua) Kreditor dari Termohon.
Pengadilan dalam mempertimbangkan apakah berdasarkan
perjanjian jual beli dapat dikategorikan dan disamakan dengan
perjanjian utang piutang sebagaimana maksud dan unsur dari
adanya kepailitan, majelis hakim menyatakan utang dimaksud
dalam arti luas dimana tidak melaksanakan prestasi dikategorikan
sebagai utang dan menyatakan permohonan yang diajukan telah
memenuhi unsur adanya kepailitan sebagai maksud dalam Pasal 2
Ayat (1) UU Kepailitan.
Adapun amar putusan terhadap perkara aquo adalah sebagai
berikut :
Dalam Eksepsi :
1. Menolak eksepsi Termohon.
2. Menyatakan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat berwenang
memeriksa dan mengadili perkara ini.
Dalam pokok perkara :
1. Mengabulkan permohonan Pemohon.
2. Menyatakan Termohon suatu perseroan terbatas terbuka
yang berkedudukan di Jakarta, pailit dengan segala akibat
hukumnya.
3. Mengangkat dan menunjuk Hakim Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas.
4. Menunjuk dan mengangkat kurator.
5. Membebankan biaya perkara kepada Termohon.

Hukum Kepailitan di Indonesia 163


Terhadap putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut,
Termohon mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung dengan
alasan-alasan hukum sebagai berikut 103:
1. Mengenai unsur kreditor lain tidak terpenuhi.
2. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah salah menilai bukti
dan penerapan hukumnya.
3. Bahwa pembuktian dalam perkara ini tidak sumir.
Mahkamah Agung dalam pertimbangannya menyatakan
bahwa judex facti tidak salah menerapkan hukumnya, karenanya
alasan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi haruslah
dikesampingkan dan Majelis Hakim Kasasi menolak permohonan
kasasi tersebut. Termohon dalam perkara asal, Pemohon Kasasi
mengajukan Peninjauan Kembali terhadap Putusan Kasasi MA
tersebut, dengan alasan-alasan sebagai berikut 104: Judex facti
telah melakukan kekeliruan yang nyata dengan mengakui dan
mendasarkan putusannya pada dua fakta yang saling
bertentangan. Bahwa pembuktian dalam perkara ini tidaklah
merupakan pembuktian yang sederhana sehingga yang berwenang
mengadili perkara in cassu adalah peradilan perdata biasa. Bahwa
antara Termohon pailit tidak mempunyai utang atau kewajiban
kepada Pemohon/Termohon Kasasi/Termohon Peninjauan
Kembali.
Majelis Hakim Peninjauan Kembali mempertimbangkan
alasan-alasan Peninjauan Kembali bahwa keberatan Pemohon
Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan karena yang diajukan
Pemohon Kasasi untuk membuktikan adanya kreditor lain tidak
memenuhi syarat pembuktian; Surat bukti surat baru dapat
dipertimbangkan apabila memenuhi syarat-syarat :
- Diajukan dalam bentuk aslinya.
- Dapat berbentuk foto copy yang harus dicocokan dengan
aslinya dimuka persidangan, dengan disaksikan para pihak.
- Bermaterai cukup.
Majelis Hakim Peninjauan Kembali menyatakan bahwa oleh
karena ternyata dalam perkara ini telah tercapai perdamaian,

103
Putusan kasasi MA No. 029 K/N/2005.
104
Putusan Peninjauan Kembali MA No. 07 PK/N/2006.

164 Hukum Kepailitan di Indonesia


perdamaian mana telah disahkan oleh Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat pada tanggal 24 April 2004 dan terhadap kesepakatan damai
tersebut tidak diajukan upaya hukum sehingga telah berkekuatan
hukum tetap, sebagai konsekuensi dari putusan perdamaian
tersebut mengakhiri pernyataan pailit yang telah dijatuhkan
sebelumnya oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Berdasarkan
pertimbangan tersebut Majelis Peninjauan Kembali Memutuskan
sebagai berikut:
Dalam Eksepsi :
Menolak eksepsi Termohon ;
Menyatakan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat berwenang
mengadili perkara ini;
Dalam pokok perkara;
Menyatakan pernyataan pailit terhadap Termohon berakhir;
Membebankan kepada Debitor untuk membayar biaya
perkara dan imbalan jasa kurator yang akan ditetapkan
kemudian
Perkara ini berakhir dengan perdamaian antara Pemohon
kepailitan dengan Termohon Pernyataan Pailit dan dengan adanya
perdamaian tersebut mengakibatkan pernyataan pailit yang telah
dikabulkan menjadi berakhir. Perdamaian dapat berlangsung
selama perkara diperiksa oleh Majelis Hakim Kasasi ataupun oleh
Majelis Hakim Peninjauan Kembali.
Permohonan kepailitan tidak mendapatkan gambaran
tentang kualifikasi kreditor, apakah Debitor termohon pailit
mempunyai kreditor preferen dan atau kreditor separatis, hal ini
perlu diketahui oleh pemohon kepailitan khususnya bagi kreditor
konkuren pemohon pailit. kecuali permohonan tersebut diajukan
oleh kreditor preferen berkaitan dengan posisi dan kedudukannya
sebagaimana dimaksud Pasal 2 Ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan Ayat
(5) UU Kepailitan, sedangkan kreditor konkuren ataupun kreditor
separatis berkaitan dengan status dan sifat piutangnya dan hal
tersebut baru dapat dibuktikan pada saat pencocokan piutang atau
pada saat rapat kreditor setelah Debitor dinyakan pailit.
Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat ketika Debitor
mengajukan permohonan pailit maka semua harta milik Debitor

Hukum Kepailitan di Indonesia 165


pailit tersebut manjadi harta pailit, keadaan tersebut disebut
dengan Automatic stay dilakukan untuk kepentingan semua
kreditor yang berusaha untuk mendapatkan pembayaran
tagihannya dari harta Debitor dengan penetapan pengadilan.105
Kreditor tidak akan mendapatkan pelunasan tagihannya dari
harta Debitor tersebut keculi trustee membagi harta pailit
tersebut pada saat penutupan kasus kepailitan tersebut.
Penerapan asas Automatic stay bertujuan untuk memastikan
adanya keadilan dalam pembagian harta pailit diantara para
kreditor.
Dalam penyelesaian harta pailit pada praktik peradilan
berkaitan dengan masalah ada atau tidaknya harta pailit, tindakan
awal agar harta pailit idak dialihkan sangat sulit dan jarang
dikabulkan oleh pengadilan, berkaitan dengan masalah teknis
dilapangan, untuk mengetahui keadaan harta pailit sudah
sepatutnya hukum kepailitan mengadopsi penerapan Insolvency
Test 106dengan beberapa alasan :
1. Memberikan pertimbangan kepada kreditor konkuren sebagai
pemohon pailit untuk meneruskan atau mencabut
permohonan pailitnya kepada Debitor, hal ini perlu karena jika
semua harta Debitor termohon pailit berada dalam keadaan
terikat dengan hak jaminan, keadaan tersebut
menggambarkan bahwa permohonan pailit yang diajukan oleh
Pemohon akan sia-sia, karenanya jika kedaan tersebut terjadi
pada harta Debitor sebaiknya kreditor konkuren mencabut
permohonan pailitnya.
2. Menghindari agar debitor yang masih sehat dan memiliki aset
yang cukup atau bahkan melebihi utang-utangnya kepada
kreditor untuk tidak dipailitkan oleh pangadilan meskipun
syarat-syarat pada Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan tersebut
terpenuhi, untuk menghindari sebuah perseroan yang
dinyatakan pailit dan kemudian dinyatakan dalam keadaan
insolvency terlikuidasi.

105
Siti Anisah, Loc.Cit. hlm 198.
106
Siti Anisah, Ibid, hlm. 420

166 Hukum Kepailitan di Indonesia


Insolvency Test dengan melakukan financial test untuk
menentukan harta Debitor dalam keadaan insolvensi yang secara
garis besar mencakup tiga kegiatan yaitu dengan melakukan
Pertama balance-sheet test, dari hasil ini akan terlihat apakah
utang Debitor telah melebihi aset miliknya, jika utang telah
melebihi jumlah aset Debitor maka keadaan tersebut telah
memasuki keadaan insolvensi.107 Kedua cash flow test dan atau
Ketiga equity test. Hasil dari cash flow test dan equity test adalah
untuk menentukan ketidak mampuan Debitor membayar utang-
utangnya, atau tanggung jawab yang dipikulnya melebihi dari aset
yang dimilkinya, dengan ditandai tidak lagi membayar utang-utang
yang telah jatuh tempo. Amerika Serikat telah mengadopsi
Insovency Test dalam Bankruptcy Code of 1978, dalam Bankruptcy
Code of 1978, disyaratkan bahwa untuk mengajukan pailit harus
sudah dalam keadaan insolvensi.
Hukumkepailtan Amerika Serikat juga memberikan
perlindungan kepada investor dengan Securities Investor
Protection Act ("SIPA"). Perlindungan selain melalui hukum
kepailitan juga diberikan secara khusus agar para investor saham
dan effek terlindungi kepentingannya. Hukum kepailitan Amerika
Serikat juga mengatur masalah kasus lintas batas dalam kepailitan
agar pelaksanaanya lebih mudah sebagaimana diatur dalam
Chapter 15, yang menangani kasus kepailitan lintas batas (antar
negara) hal tersebut juga tidak dikenal dalam sistem hukum
kepailitan Indonesia sebagaimana diatur dalam UU Kepailitan.
Sistem hukum kepailitan Belanda berdasarkan kepada
"Faillissementswet", membagi tiga proses hukum yang dilakukan
secara terpisah yaitu: Pertama, adalah kebangkrutan
"Faillissement" yang bertujuan untuk melikuidasi aset Debitor
perusahaan, kebangkrutan ini berlaku bagi individu dan
perusahaan. Kedua, proses hukum "Surseance", proses hukum ini
hanya berlaku untuk perusahaan, yang tujuannya untuk mencapai
kesepakatan antara Debitor dengan para kreditor perusahaan.
Ketiga adalah "Schuldsanering" untuk kepailitan perorangan.

107
Siti Anisah, Ibid, hlm.421

Hukum Kepailitan di Indonesia 167


The three insolvency proceedings mentioned above appear in
the following articles in the Fw ( Faillissementswet) 108:
(1) Articles 1 – 212f Fw provide for the rules applicable to
bankruptcy.
(2) Articles 213 – 283 Fw provide for the rules applicable to
suspension of payment; and
(3) Articles 284 – 362 Fw provide for the rules applicable to
debt reorganization of natural person.
Sebagaimana dikutip berikut :109
The Dutch bankruptcy law is governed by the Dutch
Bankruptcy Code ("Faillissementswet"). The code covers three
separate legal proceedings. The first is the bankruptcy
("Faillissement"). The goal of the bankruptcy is the liquidation
of the assets of the company. The bankruptcy applies to
individuals and companies. The second legal proceeding in the
Faillissementswet is the "Surseance". The Surseance only
applies to companies. Its goal is to reach an agreement with
the creditors of the company. The third proceeding is the
"Schuldsanering". This proceeding is designed for individuals
only.
Pemberlakuan Europe Union (EU) Insolvency Regulation bagi
negara-negara Uni Eropah sejak tanggal 31 Mai 2002 memberikan
konsekuensi terhadap penyelesaian kepailitan termasuk di Negeri
Belanda, konsekuensinya yaitu :
Consequences for Netherlands insolvensy pracrice. The EU
Insolvency Regulation likely to have no impact on the
following areas of the Netherlands insolvency practice:
(1) The principle of territoriality applicable to recourse to
asset situated in the Netherlands.
(2) Agreements with mutual performentces; employment
agreements; rental agreements with respect to immovable
property.
(3) The concept of set-off.110

108
Peter J.M.Declercg, The Netherlands Bankruptcy Act And Most Important Legal
Concepts, TMC Asser Press, Hague Netherlands, 2002, hlm.2.
109
http

168 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pemberlakuan EU Insolvency Regulation membawa
perubahan bagi sistem kepalitian di negara anggotanya, terdapat
keseragaman sistem hukum kepailitan tanpa mencampuri sistem
hukum kepailitan negara masing2, dengan pemberlakuan EU
Insolvency Regulation tersebut sistem hukum kepailitan negara
anggota harus menyesuaikanya. Hukum kepailitan di Amerika, di
Belanda dan juga bagi negara-negara yang terhimpun dalam Uni
Eropah masih mencari sistem yang tepat dalam hukum kepailitan,
meskipun hukum kepailitan tersebut telah lama diberlakukan,
keadaan demikian juga berlaku pada sistem hukum kepailitan
Indonesia dimana masih dirasa hal-hal yang perlu ditinjau ulang
dan direvisi agar dapat memberikan perlindungan yang adil bagi
semua pihak yang terkait dengan penyelesaian kepailitan.

110
Peter JM. Declercg, The Netherlands Bankruptcy Act And The Most Important Legal
Concep, TMC Asser Press, Netherlands, 2002.p.31.

Hukum Kepailitan di Indonesia 169


1. Pengertian Dan Perkembangan Hukum Bisnis
a. Pengertian Hukum Bisnis
Istilah "hukum bisnis" sebagai terjemahan dari istilah
"business law" sangat banyak dipakai dewasa ini, baik di kalangan
akademis maupun di kalangan para praktisi. Meskipun begitu,
banyak istilah lain yang sungguhpun tidak persis sama artinya,
tetapi mempunyai ruang lingkup yang mirip-mirip dengan istilah
hukum bisnis ini. Istilah-istilah lain terhadap hukum bisnis
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Hukum Dagang (sebagai terjemahan dari "Trade Law').
b. Hukum Perniagaan (sebagai terjemahan dari "Commercial
Law').
c. Hukum Ekonomi (sebagai terjemahan dari "Economic
Law').111
Istilah "hukum dagang" atau "hukum perniagaan" merupakan
istilah dengan cakupan yang sangat tradisional dan sangat sempit.
Sebab, pada prinsipnya kedua istilah tersebut hanya melingkupi
111
Munir Fuadi, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm 1-2

170 Hukum Kepailitan di Indonesia


topik-topik yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Dagang (KUHD) saja. Padahal, begitu banyak topik hukum bisnis
yang tidak diatur atau tidak lagi diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang, misalnya, mengenai perseroan terbatas,
kontrak bisnis, pasar modal, merger, akuisisi, perkreditan, hak atas
kekayaan intelektual, perpajakan, bisnis internasional dan masih
banyak lagi. Istilah "hukum ekonomi" cakupannya sangat luas,
berhubung adanya pengertian ekonomi dalam arti makro dan
mikro, ekonomi pembangunan dan ekonomi sosial, ekonomi
manajemen dan akuntansi, yang kesemuanya tersebut mau tidak
mau harus dicakup oleh istilah "hukum ekonomi". Dilihat dari segi
batasan ruang lingkupnya, maka jika istilah hukum dagang atau
hukum perniagaan ruang lingkupnya sangat sempit, maka dengan
istilah hukum "ekonomi" ruang lingkupnya sangat luas. Karena itu,
memang istilah yang ideal adalah "hukum bisnis" itu sendiri.
Istilah "hukum dagang" atau istilah "hukum perniagaan",
kedua istilah tersebut sudah sangat tradisional, bahkan sudah
menjadi "klasik", maka dengan istilah "hukum bisnis"
penekanannya adalah kepada hal-hal yang modern sesuai dengan
perkembangan yang mutakhir. Itulah sebabnya, dibandingkan
dengan istilah-istilah lainnya tersebut, istilah "hukum bisnis" saat
ini lebih populer dan sangat banyak digunakan orang, baik di
Indonesia, maupun di banyak negara lain, bahkan oleh masyarakat
internasional.
Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan istilah "hukum
bisnis" itu? sebagaimana diketahui bahwa istilah "hukum bisnis"
terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu kata "hukum" dan kata "bisnis".
Banyak definisi sudah diberikan kepada kata "hukum" meskipun
tidak ada 1 (satu) definisi pun yang dapat dikatakan lengkap dan
menggambarkan apa arti hukum secara utuh.112
Istilah "bisnis" adalah suatu urusan atau kegiatan dagang,
industri atau keuangan yang dihubungkan dengan produksi atau
pertukaran barang atau jasa,113 dengan menempatkan uang dari

112
Ibid., hlm 2.
113
Abdurrachman,Aneka Masalah, Hukum Dalam Pembangunan Nasional, Alumni,
Bandung, 1979., hlm 150.

Hukum Kepailitan di Indonesia 171


para entrepreneur dalam risiko tertentu dengan usaha tertentu
dengan motif untuk mendapatkan keuntungan.114
Richard Burton Simatupang menyatakan bahwa secara luas,
kata bisnis sering diartikan sebagai keseluruhan kegiatan usaha
yang dijalankan oleh orang atau badan secara teratur dan terus
menerus, yaitu berupa kegiatan mengadakan barang-barang atau
jasa jasa maupun fasilitas-fasilitas untuk diperjualbelikan,
dipertukarkan, atau disewagunakan dengan tujuan mendapatkan
keuntungan.115
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian
bisnis sebagai berikut:
"Bisnis adalah usaha dagang, usaha komersial dalam dunia
perdagangan".116
Sedangkan dalam Black's Law Dictionary, dinyatakan117 :
"Busines : Employment, occupation, profession, or commercial
activity engaged in for gain or livelihood. Activity or enterprise for
gain, benefit, advandtage or livelihood;..."
Berdasarkan uraian di atas, bisnis merupakan aktivitas
perdagangan, tetapi di dalamnya meliputi pula unsur-unsur yang
lebih luas, yaitu pekerjaan, profesi, penghasilan, mata pencaharian
dan keuntungan. Gambaran mengenai kegiatan bisnis dalam
definisi tersebut kalau diuraikan lebih lanjut akan tampak sebagai
berikut : 118
a. Bisnis merupakan suatu kegiatan yang rutin dilakukan; sebagai
suatu pekerjaan, mata pencaharian, bahkan suatu profesi.
b. Bisnis merupakan aktivitas dalam bidang perdagangan.
c. Bisnis dilakukan dalam rangka memperoleh keuntungan
d. Bisnis dilakukan baik oleh perorangan maupun perusahaan

114
Friedman, Jack P, op.cit.,hlm66.
115
Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta, 1996,
hlm. 1.
116
Depdiknas,Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hlm. 138.
117
Henry Campbell Black, Black"s Law Dictionary, Sixth Ed., West Publishing Co, St. Paul
Minn., 1990, hlm. 198.
118
Johannes Ibrahim dan Lindawati Sewu, Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia
Modern, Refika Aditama, Bandung, 2004, hlm. 25-26.

172 Hukum Kepailitan di Indonesia


Sistem perekonomian yang sehat seringkali bergantung pada
sistem perdagangan yang sehat, sehingga masyarakat juga
membutuhkan adanya peraturan hukum yang dapat menjamin
kepastian terhadap sistem perdagangan tersebut.119
Kaidah-kaidah hukum yang mengatur berbagai persoalan
yang timbul dalam aktivitas antar manusia dalam bidang
perdagangan disebut hukum bisnis.120Hukum bisnis adalah suatu
perangkat kaidah hukum (termasuk enforcement-nya) yang
mengatur tentang tata cara pelaksanaan urusan atau kegiatan
dagang, industri atau keuangan yang dihubungkan dengan
produksi atau pertukaran barang atau jasa dengan menempatkan
uang dari para entrepreneur dalam risiko tertentu dengan usaha
tertentu dengan motif (dari entrepreneur tersebut) adalah untuk
mendapatkan keuntungan tertentu.121
Merupakan ruang lingkup dari hukum bisnis, antara lain
adalah sebagai berikut:122
a. Kontrak Bisnis.
b. Jual Beli.
c. Bentuk-bentuk Perusahaan.
d. Perusahaan Go Public dan Pasar Modal.
e. Penanaman Modal Asing.
f. Kepailitan dan Likuidasi.
g. Merger dan Akuisisi.
h. Perkreditan dan Pembiayaan.
i. Jaminan Hutang.
j. Surat Berharga.
k. Perburuhan.
l. Hak Kekayaan Intelektual.
m. Anti Monopoli.
n. Perlindungan Konsumen.
o. Keagenan dan Distribusi.

119
Ibid.
120
Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis, Citra Media, Yogyakarta, 2006, hlm
1-3
121
Munir Fauadi,op.cit., hlm 2.
122
Ibid., hlm 3.

Hukum Kepailitan di Indonesia 173


p. Asuransi.
q. Perpajakan.
r. Penyelesaian Sengketa Bisnis.
s. Bisnis Internasional.
t. Hukum Pengangkutan (Darat, Laut, Udara, dan Multimoda).
Dasar-dasar hukum bisnis sudah lama sekali ada di
Indonesia. Paling tidak, dasar hukum yang tertulis sudah ada
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata, yang mulai diberlakukan di Indonesia
sejak tahun 1848 berdasarkan asas konkordansi. Bahkan, dasar-
dasar dari hukum bisnis yang sangat tradisional sudah terlebih
dahulu ada, baik dalam hukum adat (seperti hukum
kontrak/perjanjian adat), atau hukum jual beli dagang secara
sederhana yang mengatur interaksi jual beli rakyat Indonesia
dengan para saudagar asing kala itu, seperti dengan saudagar-
saudagar Portugis, Belanda, Arab, Hindustan, dan lain-lain.123

b. Karakteristik Sengketa Bisnis


Sengketa bisnis memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang
membedakannya dengan sengketa yang lain. Beberapa
karakteristik sengketa bisnis didasarkan pada beberapa parameter
sebagai berikut :124
a. Parameter subyek, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam
sengketa bisnis baik secara langsung maupun tidak
langsung terkena kepentingannya, dalam hal ini dapat
berupa perorangan (persoon) maupun badan hukum
(rechts persoon), seperti perusahaan, yayasan, dan lain-
lain.
b. Parameter obyek, yaitu apa yang menjadi persoalan
dalam suatu sengketa bisnis terutama adalah hal-hal
yang berkaitan dengan pelanggaran dan penyimpangan
123
Ibid., hlm 3-7
124
Bambang Sutiyoso, op.cit., hlm 5-6

174 Hukum Kepailitan di Indonesia


aktivitas bisnis beserta segala akibat hukumnya, seperti
terjadinya wanprestasi perjanjian, kecurangan,
perbedaan interpretasi terhadap aturan hukum,
persaingan tidak sehat, pemalsuan, penipuan dan
sebagainya. Oleh karena adanya pelanggaran dan
penyimpangan seperti itu menyebabkan kepentingan
salah satu pihak dirugikan oleh pihak yang lain, sehingga
timbulah sengketa bisnis tersebut.
c. Parameter hukum yang berlaku, yaitu aturan hukum
manakah yang mengatur aktivitas bisnis, karena
aktivitas bisnis haruslah tunduk pada hukum yang
berlaku baik hukum tertulis maupun hukum tidak
tertulis/kebiasaan, konvensi-konvensi, perjanjian
internasional, yurisprudensi dan sebagainya.
d. Parameter inisiatif dan keaktifan berperkara, adalah
ditentukan atau tergantung dari pihak-pihak yang
berperkara. Sengketa bisnis pada umumnya adalah
sengketa privat, oleh karena itu pihak-pihak yang
berperkara yang harus aktif dalam penyelesaian perkara,
mulai dari mengajukan perkaranya,
mempertahankannya dan mengikuti aturan main
penyelesaian sengketa yang berlaku. Ketidakaktifan
dalam berperkara dapat berakibat merugikan
kepentingan, yaitu perkaranya dikalahkan.
e. Parameter forum penyelesaian sengketanya, yaitu
semua forum atau lembaga penyelesaian sengketa
perdata yang memungkinkan diselesaikannya sengketa
bisnis, baik melalui jalur litigasi maupun nonlitigasi
dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

c. Ruang Lingkup Sengketa Bisnis


Penyelesaian sengketa dengan cepat dapat membantu
orang-orang dan masyarakat bisnis yang sedang bersengketa
untuk mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya yang dapat
diterima oleh para pihak yang bersengketa. Hal ini didasarkan

Hukum Kepailitan di Indonesia 175


pada prinsip-prinsip kerja sama dalam negosiasi atau penyelesaian
sengketa dengan cara konsensus.
Penyelesaian Sengketa yang efektif dan efisien dapat
menambah produktivitas bagi bisnis dan akan lebih
mempersingkat waktu yang tersita dalam sengketa selama
menjalankan keseluruhan usaha dari top manajemen sampai
dengan staf bagian depan. Penyelesaian sengketa yang efektif
sangat diperlukan mengingat perusahaan-perusahaan sering kali
terlibat dalam usaha patungan jangka panjang yang memerlukan
waktu relatif cepat.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks melahirkan
berbagai macam bentuk kerjasama bisnis. Mengingat kegiatan
bisnis semakin meningkat dari hari ke hari, maka tidak mungkin
dihindari terjadinya sengketa (dispute/difference) di antara para
pihak yang terlibat. Sengketa muncul dikarenakan berbagai alasan
dan masalah yang menjadi latar belakang, terutama karena adanya
conflict of interest di antara para pihak. Sengketa yang timbul di
antara pihak-pihak yang terlibat dalam berbagai macam kegiatan
bisnis atau perdagangan dinamakan sengketa bisnis.
Sengketa bisnis pada prinsipnya pihak-pihak yang
bersengketa diberi kebebasan untuk menentukan mekanisme
pilihan penyelesaian sengketa yang dikehendaki, apakah melalui
jalur pengadilan (litigasi) maupun jalur di luar pengadilan (non
litigasi), sepanjang tidak ditentukan sebaliknya dalam peraturan
perundang-undangan.
Setiap jenis sengketa yang terjadi selalu menuntut
pemecahan dan penyelesaian yang tepat. Masing-masing sengketa
yang terjadi belum tentu sama treatment penyelesaiannya.
Semakin luas dan banyak kegiatan dalam bidang bisnis dan
perdagangan, frekuensi terjadinya sengketa juga semakin tinggi.
Berarti semakin banyak sengketa yang harus diselesaikan dari
waktu ke waktu.
Sengketa bisnis yang timbul tidak mungkin dibiarkan begitu
saja, tetapi perlu dicarikan alternatif penyelesaiannya secara tepat
supaya tidak berkepanjangan dan menimbulkan kerugian yang
besar. Membiarkan sengketa bisnis terlambat diselesaikan akan

176 Hukum Kepailitan di Indonesia


mengakibatkan perkembangan pembangunan ekonomi tidak
efisien, produktivitas menurun, dunia bisnis mengalami
kemerosotan, dan biaya produksi meningkat.
Konsumen adalah pihak yang seringkali dirugikan. Di
samping itu peningkatan kesejahteraan dan kemajuan sosial kaum
pekerja juga terhambat.125
Sengketa bisnis adalah sengketa yang timbul di antara pihak-
pihak yang terlibat dalam berbagai macam kegiatan bisnis atau
perdagangan, termasuk di dalamnya unsur-unsur yang lebih luas,
seperti pekerjaan, profesi, penghasilan, mata pencaharian, dan
keuntungan.126
Penjelasan ketentuan Pasal 66 UU No. 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
merumuskan lebih lanjut tentang ruang lingkup hukum
perdagangan, yang meliputi antara lain kegiatan di bidang
perniagaan, perbankan, keuangan, penanaman modal (investasi),
industri dan hak kekayaan intelektual (HKI). Dalam praktik
sengketa bisnis terus mengalami perkembangan dari waktu ke
waktu itu. Secara rinci sengketa bisnis dapat berupa sengketa-
sengketa sebagai berikut :127
a. Sengketa perniagaan
b. Sengketa perbankan
c. Sengketa keuangan
d. Sengketa investasi
e. Sengketa perindustrian
f. Sengketa HKI
g. Sengketa konsumen
h. Sengketa kontrak
i. Sengketa pekerjaan
j. Sengketa perburuhan
k. Sengketa perusahaan
l. Sengketa organisasi

125
Suyud Margono, ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 2000, hlm. 12.
126
Bambang Sutiyoso, op.cit., hlm 6.
127
Ibid., hlm 3-7.

Hukum Kepailitan di Indonesia 177


m. Sengketa hak
n. Sengketa privat
o. Sengketa perdagangan publik
p. Sengketa properti
q. Sengketa lainnya yang berkaitan dengan bisnis.

2. Lembaga Hukum Dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis


Kata alternatif pada lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa di Indonesia bermakna bahwa sengketa bisnis yang telah
terjadi diselesaikan melalui lembaga penyelesaian sengketa yang
bukan melalui lembaga hukum litigasi. Pasal 6 ayat (1) juncto Pasal
1 butir 10 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, mengatur secara
imperatif bahwa penyelesaian sengketa bisnis tersebut dilakukan
dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di
Pengadilan Niaga, yaitu dengan menggunakan cara konsultasi,
penilaian ahli, konsiliasi, negosiasi atau mediasi.128
Frank E.A Sander menyatakan bahwa pengertian kata
"alternatif' tidak didasarkan sebagai pengganti dari lembaga
Pengadilan, tapi didasarkan atas kebutuhan untuk meningkatkan
pengertian yang lebih baik terhadap fungsi dan proses mekanisme
alternatif tersebut. Menurutnya ada empat tujuan dari lembaga
alternatif penyelesaian sengketa, yaitu:129
1. Untuk meringankan hambatan yang terjadi di pengadilan
seperti biaya dan keterlambatan yang berlebihan;
2. Untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat pencari
keadilan dalam suatu proses penyelesaian sengketa;
3. Untuk mempermudah akses mendapatkan keadilan;
4. Untuk mengadakan penyelesaian sengketa lebih "berhasil
guna"
Maksud dan tujuan para pihak yang berkeinginan untuk
menyelesaikan sengketa mereka dan agar hubungan bisnis yang

128
H. Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Suatu
Pengantar, PT. Fikahati Aneksa, BANI, Jakarta, 2002., hlm. 26.
129
Frank E.A Sander, Alternative Methods of Dispute Resolution: An Overview,
37U.FIa.L.Rev, 1985, Copyright di dalam Acontracts Anthology, Edited with Comments By
Peter Linzer, Anderson Publishing Co, 1989,hlm. 445.

178 Hukum Kepailitan di Indonesia


telah terjalin dapat tetap terjaga dengan baik, sebagai suatu kiblat
hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Negosiasi yang tidak dapat diselesaikan oleh para pihak yang
bersengketa, umumnya masih memerlukan bantuan seorang
penengah atau mediator seperti diatur pada lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa (APS) Pasal 6 Bab II Undang-Undang No.30.
Tahun 1999. Pasal 6 yang terdiri dari 9 (sembilan) ayat dan disusun
secara bertautan (inheren) oleh pembuat undang-undang
merupakan deskripsi berjenjang tentang penerapan negosiasi,
penasihat ahli (penilaian ahli) dan mediasi yang keseluruhannya
ditegaskan di dalam Pasal 6 ayat (9) sebagai usaha perdamaian
sebagaimana di atur pada Pasal 6 ayat (1) sampai dengan Pasal 6
ayat (6). Pelaksanaan pendaftaran hasil kesepakatan mediasi di
Pengadilan Negeri, serta jangka waktu yang bersifat limitatif atas
pelaksanaan penyelesaian kesepakatan yang telah dicapai para
pihak di atur pada Pasal 6 ayat (7) dan Pasal 6 ayat (8). Aturan Pasal
6 ayat (9), selain mengatur dan menegaskan bahwa APS adalah
sama dengan usaha perdamaian, juga menegaskan bahwa jika
upaya perdamaian melalui negosiasi, penilaian ahli dan mediasi
tidak tercapai, maka para pihak bisa membawa sengketa mereka
kehadapan (majelis) ahli yang pemutus atau arbitrase, juga secara
audi et alteram partem, baik kehadapan arbitrase terlembaga
(permanent arbitral body) seperti Badan Arbitrase Nasional
Indonesia (BANI) maupun memohonkannya kehadapan (majelis)
Arbitrase ad hoc yang bersifat insidentil, yaitu arbitrase yang
diadakan hanya satu kali perhelatan saja (eenmalig), dan
membubarkan diri setelah (majelis) arbiter ini menyelesaikan
sengketanya, sesuai dengan aturan hukum dan prosedur arbitrase
yang dipilih para pihak.
Penyusunan aturan hukum lembaga hukum APS pada
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 seolah-olah disusun secara
berjenjang, tetapi aturan hukum tersebut bersifat fakultatif atau
pilihan (optional) dan dapat dalam bentuk hukum lain di luar
peraturan perundang-undangan tetapi hidup dalam

Hukum Kepailitan di Indonesia 179


masyarakat.130Artinya, berdasarkan kesepakatan, para pihak dapat
langsung mengadakan mediasi tanpa terlebih dahulu mengadakan
negosiasi langsung atau minta pendapat ahli.
Lembaga hukum sarana penyelesaian sengketa yang hidup
pada masyarakat Indonesia tetapi tidak tercantum pada Undang-
Undang No. 30 Tahun 1999 antara lain adalah sumpah pocong.
Sumpah pocong adalah salah satu sarana penyelesaian sengketa
alternatif asli dari Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Timur
khususnya pada komunitas masyarakat etnik Madura. Masjid,
santri, kyai, kepala desa dan aparatur keamanan adalah sarana
perhelatan sumpah pocong.131
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tidak memberikan
banyak penjelasan tentang apa dan bagaimanakah APS itu, bahkan
menimbulkan banyak pertanyaan dan persoalan. Umpamanya saja
penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan penyelesaian
sengketa melalui negosiasi dan mediasi, sebab di dalam ketentuan
umum tidak ditemukan pengertian mengenai konsultasi, negosiasi,
mediasi, konsiliasi dan penilaian ahli. Menurutnya, ketentuan
hukum APS sebagaimana diatur pada Pasal 6 di buat dengan
sangat sumir (dangkal), sehingga dapat menimbulkan kebingungan
dalam praktik.132
Kriteria yang tidak jelas tentang apa yang dimaksud dengan
"pertemuan langsung" pada Pasal 6 Ayat (2).133 Terhadap
pernyataan ini tidak sependapat, karena yang dimaksud dengan
"pertemuan langsung" pada Pasal 6 ayat (2) adalah negosiasi yang
penyelenggaraannya sangat fleksibel karena disesuaikan dengan
waktu, tempat dan keadaan serta budaya hukum yang

130
Husseyn Umar, Beberapa Catatan Tentang Latar Belakang Dan Prinsip Dasar Bentuk-
Bentuk APS Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, Pusat Pengkajian Hukum
dan MARI, Jakarta, 2002. hlm. 69
131
Lucy Dyah Hendrawati dan Sri Endah Kinasih, Makna Sumpah Pocong Sebagai Upaya
Penyelesaian Sengketa Pada Masyarakat Madura : Studi Kasus di Masjid Madegan,
Polagan Sampang, Madura, Jurnal Penelitian Dinamika Sosial Vol.6 No. 2, Agustus 2005,
hlm. 127 -128
132
Gatot Soemartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia,PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 2006, hlm. 4-5
133
Ibid

180 Hukum Kepailitan di Indonesia


berlaku.134Dengan kata lain, yang dimaksud dengan "pertemuan
langsung" adalah bahwa para pihak yang berselisih paham segera
mengadakan interaksi untuk menyelesaikan sengketa atau beda
pendapat yang terjadi. Di dalam praktik pada abad ke 21 kini, suatu
"pertemuan langsung" dapat diawali melalui pesawat telepon,
surat menyurat, media elektronik (e-mail, sms, internet chatting,
tele / video conference, three-G) baik secara informal maupun
formal. Suatu "pertemuan langsung" pada umumnya dalam bentuk
suatu pembicaraan langsung tatap muka, dengan harapan bahwa
para pihak akan mencapai suatu kesepakatan baru yang berbasis
pada prinsip bonafides.
Priyatna Abdurrasyid menyatakan bahwa negosiasi
merupakan suatu cara dimana individu berkomunikasi satu sama
lain mengatur hubungan mereka dalam bisnis dan kehidupan
sehari-harinya.135
Unsur terpenting dalam negosiasi penyelesaian sengketa
bisnis di Indonesia adalah itikad baik sebagaimana diatur dalam
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang No.30 Tahun 1999. Itikad baik atau
to goede trouw (Belanda) atau good faith (Inggris) didalam hukum
perdata adat Minangkabau di kenal sebagai alur dan patut. Alur
bermakna jalan atau aturan adat yang benar,136sedangkan patut
adalah penilaian baik atau buruk maupun elemen akal sehat, yakni
penilaian yang berkesesuaian dengan hukum-hukum logika.137
Menurut Ridwan Khairandy, standar itikad baik dalam pra
perjanjian didasarkan pada prinsip kecermatan dalam berkontrak.
Asas ini menandakan bahwa para pihak masing-masing memiliki
kewajiban untuk menjelaskan dan meneliti fakta material yang
berkaitan dengan perjanjian tersebut. Standar itikad baik
pelaksanaan perjanjian adalah standar objektif. Artinya, perilaku
para pihak dalam melaksanakan perjanjian dan penilaian terhadap
isi perjanjian harus didasarkan pada prinsip kerasionalan dan
kepatutan. Perjanjian tidak hanya dilihat dari apa yang secara

134
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Op.cit., hlm 611
135
H. Priyatna Abdurrasyid, Op.cit,hlm.21.
136
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Op.cit., hlm.24.
137
Moh. Koesnu, Opstellen over…, Loc.cit.

Hukum Kepailitan di Indonesia 181


tegas diperjanjikan, tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor
eksternal yang dapat mempengaruhi pelaksanaan perjanjian.138
Pasal 1134 ayat (3)Civil code Perancis menyatakan bahwa
kontrak harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik tersebut
harus berdasarkan prinsip negotia bona fidesyaitu suatu prinsip
yang mendalilkan bahwa para pihak tidak hanya terikat pada apa
yang secara tegas mereka nyatakan atau perjanjikan, tetapi juga
terhadap apa yang menurut kepatutan (equitas) menuntut pihak-
pihak untuk melaksanakannya walaupun tidak secara tegas
diperjanjikan.139 Maka Pasal 1135 Civil code Perancis mewajibkan
keterikatan para pihak untuk tidak hanya terikat terhadap apa
yang secara tegas diperjanjikan, tetapi juga terhadap kepatutan
(equite), kebiasaan, atau hukum yang memberikan suatu kewajiban
menurut hakekat (nature) perjanjian mereka itu.
Prinsip negotia bona fides yang dianut Perancis kemudian
diadopsi Belanda, dan di Indonesia melalui Pasal 1338 ayat (3)
KUHPerdata dinyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan
dengan itikad baik (zijmoeten to goeder trouw worden ten uitvoer
verklaart).140
Tentang tidak adanya definisi penilaian ahli ataupun
penasihat ahli di dalam butir 10 Pasal 1 dan Pasal 6 ayat (3) dan (4)
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, tidaklah berarti lembaga
tersebut tidak dapat diterapkan.141 Di
dalam praktik, sebelum para pihak sepakat untuk
mengadakan mediasi142atau permohonan mengadakan arbitrase

138
Ridwan Khairandy, Ibid., hlm. 348
139
Ibid.,hlm.191.
140
Ibid., hlm.192.
141
Penilaian ahli (Expert Testimony) adalah pendapat dari seorang yang memiliki
keterampilan khusus atau suatu ilmu pengetahuan tertentu, profesi tertentu, atau
pekerjaan yang tidak lazim bagi kebanyakan orang, dan diperoleh melalui keahlian yang
berdasarkan studi khusus atau pengalaman (terjemahan bebas Black's Law Dictionar :
Definition of the terms and phrases of America and English Jurisprudence Ancient and
Modern. Abridge Fifth Edition,st. Paul, Minn. West Publishing Co., 1983, hal. 298.: "Expert
testimony. Opinion evidence of some person who possesses special skill or knowledge in
some sciene, proffesion or business which is not common to the everage man and which is
possesses by expert by reason of his special study or experince".
142
Husseyn Umar,Op.cit.,hlm.71: "Hasil mediasi merupakan hasil kesepakatan yang
dicapai secara sukarela oleh para pihak. Apabila hasil mediasi tersebut bersifat suatu

182 Hukum Kepailitan di Indonesia


atau bahkan mengajukan gugatan ke pengadilan, adakalanya para
pihak sepakat untuk meminta pendapat atau nasihat kepada
seorang ahli atau penilaian ahli, ataupun jasa-jasa baik yang tidak
mengikat para pihak. Artinya, kesimpulan akhir
(resume/concluded) dari hasil penilaian ahli atau pendapat ahli
diserahkan kepada para pihak. Umpamanya saja untuk penilaian
yang bersifat teknis, di Indonesia dapat dimohonkan penilaian dan
pendapat kepada PT. Superintending Company of Indonesia atau
Sucofindo.
Pendapat ahli ada juga yang mengikat (binding opinion)
seperti yang dapat diselenggarakan oleh BANI atas permohonan
para pihak. Bedanya, terhadap binding opnion yang diputuskan
oleh BANI, para pihak terikat pada pendapat BANI, dan siapa saja
dari mereka yang bertindak bertentangan dengan pendapat BANI
tersebut, akan dianggap melanggar perjanjian.143Menurut Priyatna
Abdurrasyid, pencarian fakta independen adalah salah satu cara
penyelesaian sengketa yang melibatkan investigasi oleh ahli yang
netral tentang masalah fakta khusus, teknis dan / atau hukum, dan
setelah itu jika diperlukan dilakukan mediasi, dan jika lebih
diperlukan lagi dapat diteruskan ke pengadilan atau arbitrase.144
Mengenai jasa jasa baik, maka dengan mensitir pendapat
W.Poeggel dan E. Oeser145 serta Peter Behrens,146 Huala

perjanjian dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan - ketentuan hukum perjanjian.


Di negara - negara tertentu (di Indonesia: Iihat Pasal 6 ayat [ 7 ] Undang - Undang No.
30 Tahun 1999) hasil mediasi harus didaftarkan di Pengadilan dan dapat dimintakan
eksekusi oleh Pengadilan.
143
Pendapat mengikat & klausula arbitrase, Rules and Procedures BANI,hlm.76.
144
Priyatna Abdurrasyid, Op.cit.,hlm.24-25.
145
W.Poeggel and E.Oeser, Methods of diplomatic Settlement, dalam Mohammed Bedjaoui
(ed). International Law. Achievements and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff and
UNESCO, 1991, hlm. 515. : "jasa jasa baik adalah cara penyelesaian sengketa melalui atau
dengan bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga ini berupaya agar para pihak menyelesaikan
sengketa dengan negosiasi. Jadi fungsi utama jasa baik ini adalah mempertemukan para
pihak sedemikian rupa sehingga mereka mau bertemu, duduk bersama, dan ber-
negosiasi." (dalam : Huala Adolf, Hukum penyelesaian Sengketa Intemasional, Op.cit. ,
hlm. 21).
146
Peter Behrens, Alternative Methods of Dispute Settlement in International Economic
Relations, dalam Ernst-Ulrich Petersman and Gunther Jaenicke, Adjudication of
International Trade Dispute in International and National Economic Law, Fribourg U.P.,
1992,hlm.17: Keikutsertaan pihak ketiga dalam suatu penyelesaian sengketa dapat dua

Hukum Kepailitan di Indonesia 183


Adolfmenyatakan bahwa jasa -jasa baik adalah cara penyelesaian
sengketa internasional yang dikenal dalam praktik kenegaraan
yang sekarang juga telah dikenal dalam praktik penyelesaian
antara pihak-pihak swasta.147 Pemaparan tentang jasa-jasa baik
tersebut, membuktikan bahwa jasa-jasa baik yang terselenggara
untuk kepentingan suatu penyelesaian sengketa bisnis adalah
bersifat universal dan sudah ada sejak peradaban manusia. Inisiatif
dan itikad baik, jasa-jasa baik mengutamakan dialog dalam bentuk
yang paling sederhana, sehingga para pihak yang berselisih paham
bersepakat untuk menyelesaikan sengketa mereka dihadapan
pihak ketiga yang tindakannya bersifat pasif dan tidak memutus,
namun dipercaya tidak memihak sebagai cara menjaga kerukunan
kehidupan masyarakat yang beradab, berdasarkan kepatutan dan
keadilan (ex aequo et bono).
Definisi tentang penasihat ahli ataupun penilaian ahli serta
definisi jasa-jasa baik yang hidup dalam masyarakat sebagai cara
penyelesaian sengketa bisnis tidak terdapat di dalam butir 10 Pasal
1 dan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, dan hanya dapat
dipahami melalui literatur, maka tidaklah demikian terhadap
terminologi tentang mediasi yang dapat diketahui melalui undang-
undang dan peraturan hukum di bawah undang-undang serta
literatur.
Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf
memberikan definisi mediasi.148 Sedangkan Undang-Undang
Ketenagakerjaan secara tegas menyebutkan bahwa jalur
penyelesaian di luar pengadilan dapat ditempuh arbitrase atau

macam, yaitu atas permintaan para pihak atau inisiatif pihak ketiga itu sendiri yang
menawarkan jasa jasa baiknya guna menyelesaikan sengketa. Syarat mutlak yang harus
ada adalah kesepakatan para pihak. (Dalam : Huala Adolf, Hukum penyelesaian Sengketa
Intemasional, Op.cit, hlm. 21).
147
Huala Adolf, Loc.cit.
148
Penjelasan Pasal 62 ayat (2) Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf: "yang
dimaksud dengan mediasi adalah penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga
(mediator) yang disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Dalam hal mediasi tidak
berhasil menyelesaikan sengketa, maka sengketa tersebut dapat dibawa kepada badan
arbitrase syariah."

184 Hukum Kepailitan di Indonesia


mediasi.149 Undang-undang ini mendefinisikan mediasi maupun
konsiliasi hubungan industrial.150 Selain di dalam undang-undang,
definisi mediasi terdapat pada butir 7 Pasal 1 Peraturan Mahkamah
Agung RI No. 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan151 dan pada butir 5 Pasal 1 Peraturan Bank Indonesia
No.8/51PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan.152
Alan Redfern dan Martin Hunter serta Nigel Blackaby dan
Constantine Partasides memaparkan keberadaan lembaga hukum
mediasi dan lembaga hukum konsiliasi. Mereka menyatakan bahwa
mediasi terletak pada "jantung". Alternatif Penyelesaian Sengketa
(Mediation lies at the heart of ADR). Artinya, inti dari Alternatif
Penyelesaian Sengketa adalah mediasi.153
Para pihak yang telah gagal dalam memutus sengketa
mereka dapat meminta bantuan kepada orang ketiga yang
independen atau mediator. Selanjutnya mediator akan
mendengarkan garis besar materi sengketa, dan kemudian ia akan
sering bolak-balik (shuttling) bertemu dengan para pihak secara
terpisah mencoba membujuk para pihak untuk mengurangi posisi

149
Ahmadi Miru, Hukum Kontrak Perancangan Kontrak, PT.RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 2007, hlm. 118.
150
Pasal 1 butir 11 dan butir 13 Undang-undang No.2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial: "Mediasi Hubungan Industrial yang selanjutnya
disebut mediasi adalah penyelesaian perselisihan hak, perselisihan kepentingan,
perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antar serikat pekerja /
serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang ditengahi oleh
seorang atau lebih mediator yang netral" ; Pasal 1 butir 13: "Konsiliasi Hubungan
Industrial yang selanjutnya disebut konsiliasi adalah penyelesaian perselisihan
kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat
pekerja / serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang
ditengahi oleh seorang atau Iebih konsiliator yang netral.
151
Butir 7 Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung RI No.1 Tahun 2008: "Mediasi adalah cara
penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan
para pihak dengan dibantu oleh mediator".
152
Butir 5 Pasal 1 Peraturan Bank Indonesia No.8/5/PBI/2006 tentang Mediasi
Perbankan: "Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa yang melibatkan mediator
untuk membantu para pihak yang bersengketa guna mencapai penyelesaian dalam
bentuk kesepakatan sukarela terhadap sebagian ataupun seluruh permasalahan yang
disengketakan."
153
Alan Redfern dan Martin Hunter dengan Nigel Blackaby dan Constantine Partides,
Law and Practice of International Commercial Arbitration, Forth edition, Sweet &
Maxwell Limited, 2004, hlm. 44.

Hukum Kepailitan di Indonesia 185


masing-masing.154 Tugas mediator adalah mencoba mempengaruhi
dan memusatkan kepentingan-kepentingan yang nyata dari apa
yang dipahami masing-masing pihak, menjadi suatu perjanjian
atau hak hukum.155Sedangkan terminologi mediasi dan konsiliasi
seakan-akan digunakan silih berganti (interchangeable), dan belum
ada kesepakatan tentang bagaimana kedua istilah hukum tersebut
akan didefinisikan.156Menurut sejarahnya, keterlibatan konsiliator
di dalam penyelesaian sengketa perdata selangkah lebih jauh
ketimbang mediator, dan pada hakekatnya, seorang konsiliator
menyusun dan mengusulkan perjanjian yang ia pertimbangkan
menjadi hasil suatu persetujuan secara adil. Praktiknya kedua
istilah tersebut telah melebur, walaupun para ahli hukum common
law cenderung menyebut "mediasi", sedangkan para ahli hukum
penganut civil law menyebutnya dengan "konsiliasi".157
Serupa tapi tak sama dengan pernyataan Alan Redfern C.s.,
Maralda H.Kairupan menyatakan bahwa kesepakatan mengenai
terminologi mediasi dan konsiliasi masih belum ada, karena kedua
kata tersebut digunakan silih berganti oleh penggunanya, sehingga
menurutnya, lembaga konsiliasi adalah sama dengan lembaga
mediasi.158
Menurut Priyatna Abdurrasyid, mediasi merupakan suatu
proses damai dimana para pihak yang bersengketa menyerahkan
penyelesaiannya kepada seorang mediator (seorang yang
mengatur pertemuan antara 2 pihak atau lebih yang bersengketa)
untuk mencapai hasil akhir yang adil, tanpa membuang biaya yang
terlalu besar, akan tetapi efektif dan diterima sepenuhnya oleh
kedua belah pihak yang bersengketa secara sukarela.159Priyatna
Abdurrasyid juga mengingatkan dari sudut pandang hukum
internasional publik bahwa lembaga mediasi adalah bersifat

154
Alan Redfern, Loc. cit.
155
Ibid.
156
Ibid.
157
Ibid.
158
Maralda H. Kairupan, Court battles not the only way to settle business dispute, The
Jakarta Post, May 23, 2007, hlm. 6.
159
Priyatna Abdurrasyid, Op.cit.,hlm. 34.

186 Hukum Kepailitan di Indonesia


universal dengan menunjuk Pasal 33 ayat (1) Piagam PBBsebagai
dasar hukumnya, yaitu :
“Pihak-pihak yang tersangkut dalam sesuatu pertikaian yang
jika berlangsung terus menerus mungkin membahayakan
pemeliharaan perdamaian dunia dan keamanaan internasional,
pertama-tama harus mencari penyelesaian dengan jalan
perundingan, penyelidikan, dengan mediasi, konsiliasi, arbitrasi,
penyelesaian menurut hukum melalui badan-badan atau
pengaturan-pengaturan regional, atau dengan cara damai lainnya
yang dipilih mereka sendiri”.160
Hukum internasional publik dalam kontek tersebut, Sumaryo
Suryokusumo menyatakan bahwa konsiliasi berbeda dengan
mediasi. Konsiliasi melibatkan suatu badan independen yang
khusus melakukan penyelidikan (enquiry), sedangkan mediasi
dilakukan oleh pihak ketiga yang bertindak sebagai mediator. Cara
ini para pihak dapat menyetujui untuk menyerahkan pertikaiannya
kepada suatu Komisi Konsiliasi yang sudah ada atau melalui
konsiliator tunggal dengan maksud untuk menyelidiki aspek-aspek
pertikaiannya.161 W.Poeggel dan E. Oeser mendalilkan bahwa
mediasi merupakan suatu cara penyelesaian sengketa melalui
pihak ketiga yang disebut dengan mediator. la bisa negara,
organisasi internasional (misalnya PBB) atau individu (politikus),
ahli hukum, atau ilmuwan. Mediator ikut serta secara aktif dalam
proses negosiasi, dan dalam kapasitasnya sebagai pihak yang
netral berupaya mendamaikan para pihak dengan memberikan
saran penyelesaian sengketa.162 Selanjutnya dengan mensitir Pasal
3 dan 4 the Hague convention on the peaceful settlement of
dispute (1907) W.Poggel dan E.Oeser menyatakan bahwa tugas
utama mediator dalam upayanya menyelesaikan suatu sengketa
adalah mencari suatu kompromi yang diterima para pihak.
Menurutnya, usulan-usulan yang diberikan mediator janganlah
dianggap sebagai suatu tindakan yang tidak bersahabat terhadap

160
Priyatna Abdurrasyid, Ibid.,hlm. 35.
161
Sumaryo Suryokusumo, Studi Kasus Hukum Intemasional, PT. Tatanusa, Jakarta, 2007,
hlm. 220
162
W. Poeggel dan E.Oeser, Loc.cit

Hukum Kepailitan di Indonesia 187


suatu pihak (yang merasa dirugikan).163 John Collier dan Vaughn
Lowe menyatakan bahwa salah satu fungsi utama mediator adalah
mencari berbagai solusi, mengindentifikasi segala hal yang dapat
disepakati para pihak, dan membuat usulan-usulan yang dapat
mengakhiri sengketa. Proses mediasi para pihak tidak harus
menempuh prosedur khusus.
Mulai dari proses pemilihan mediator, cara mediasi, diterima
atau tidaknya usulan-usulan yang diberikan mediator, sampai pada
berakhirnya tugas mediator, para pihak bebas memilih atau
menentukan prosedurnya. Yang terpenting adalah kesepakatan
para pihak.
Menurut Gunawan Widjaja, mediasi adalah suatu proses
penyelesaian sengketa alternatif dimana pihak ketiga yang bersifat
pasif dimintakan bantuannya untuk membantu proses
penyelesaian sengketa, tetapi tidak berwenang memberikan suatu
masukan, apa lagi memutus perselisihan yang terjadi. Jadi dalam
mediasi, mediator hanya berfungsi sebagai penyambung lidah dari
para pihak yang bersengketa, karena kadangkala para pihak
enggan untuk bertemu. Oleh karena itu, mediasi tunduk
sepenuhnya pada kesepakatan para pihak.164 Sedangkan konsiliasi
menurutnya adalah proses penyelesaian sengketa alternatif yang
melibatkan seorang pihak ketiga atau lebih, yang disebut
konsiliator, dan secara profesional sudah dapat dibuktikan
kehandalannya. Peran Konsiliator cukup berarti bagi para pihak,
sebab konsiliator berkewajiban untuk menyampaikan pendapatnya
mengenai duduk persoalan dari sengketa yang sedang dihadapi,
alternatif cara penyelesaian sengketa yang dihadapi, bagaimana
cara penyelesaian yang baik, apa keuntungan dan kerugian bagi
para pihak, serta akibat hukumnya.165 Meskipun konsiliator
mempunyai kewenangan menyampaikan pendapatnya secara
terbuka dan tidak memihak, tetapi ia bersifat pasif dan tidak
berhak membuat putusan. Segala proses konsiliasi akan diambil

163
Ibid.
164
Gunawan Widjaja, Alternatif Penyelesaian Sengketa, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta,
2005, hlm. 2-3.
165
Gunawan Wijaya, Loc.cit.

188 Hukum Kepailitan di Indonesia


sepenuhnya oleh para pihak, dan dituangkan dalam bentuk
kesepakatan.166
Menurut Munir Fuady, walaupun istilah mediasi dan
konsiliasi didalam praktik sering saling dipertukarkan, tetapi
peranan seorang mediator dengan konsiliator adalah berbeda.
Menurutnya, tugas konsiliator adalah sebagai pihak yang hanya
memberikan fasilitas (fasilitator) untuk melakukan komunikasi di
antara pihak, seperti waktu dan tempat pertemuan, mengarahkan
pembicaraan dan menyampaikan pesan secara terpisah, sehingga
diharapkan dapat ditemukan solusi oleh para pihak itu
sendiri.167Sebaliknya tidaklah demikian dengan mediasi, Munir
menyatakan bahwa mediator melakukan hal-hal yang lebih jauh
dari konsiliator, karena mediator dapat menyarankan jalan keluar
atau proposal penyelesaian sengketa, hal mana secara teoretis
tidak ada pada kewenangan konsiliator.168 Sebaliknya, mediator
berwenang untuk mengusulkan solusi penyelesaian sengketa, akan
tetapi kedua lembaga hukum tersebut tidak berwenang untuk
memutus perkara, karena keputusan tetap terletak di tangan para
pihak yang bersengketa.169
Berkaitan dengan pendapat hukum konsiliator yang bersifat
tidak mengikat (non binding opinion) para pihak tersebut, maka
pembuat undang-undang di Indonesia memasukkan suatu
lembaga hukum yang khas dalam upaya mengakomodasi
penyelesaian sengketa bisnis. Lembaga hukum termaksud adalah
penyelesaian sengketa bisnis melalui pendapat ahli yang mengikat
(binding opinion), yang diatur pada Pasal 1 butir 8 dan Pasal 52
Undang-Undang No 30 Tahun 1999.
Ahli yang memberikan pendapat mengikat dan dituangkan
secara tertulis atas permohonan para pihak tersebut, baik yang
tunggal atau dalam bentuk majelis ahli, harus terdaftar sebagai
anggota arbiter pada arbitrase terlembaga (permanent arbitration

166
Loc. cit.
167
Munir Fuady, Arbitrase Nasional, Alternatif Penyelesaian Sengketa, Penerbit PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 52.
168
Loc. cit.
169
Ibid.

Hukum Kepailitan di Indonesia 189


body)170seperti di BANI, BAPMI maupun BASYARNAS. Ahli yang
dipercaya oleh para pihak tersebut, berdasarkan know how yang ia
kuasai, kemudian memberikan penjelasan penafsiran terhadap
suatu ketentuan yang kurang jelas atas suatu perjanjian bisnis,
ataupun adanya keadaan baru yang dapat mempengaruhi
berubahnya klausula perjanjian bisnis termaksud. Oleh sebab itu,
tindakan salah satu pihak yang bertentangan dengan pendapat
mengikat ini akan dianggap ingkar janji.171
Suatu sengketa bermula dari timbulnya perselisihan paham
yang kemudian berlarut-larut tidak terselesaikan antara para
subjek hukum yang sebelumnya telah mengadakan suatu
hubungan hukum perjanjian, sehingga pelaksanaan hak dan
kewajiban yang ditimbulkannya berjalan tidak harmonis.172
Perselisihan paham tersebut merupakan konflik atau
pertentangan para pihak yang harus segera diselesaikan dengan
baik, agar kesepakatan hukum yang ada dapat terlaksana dengan
baik pula.173
Meskipun suatu sengketa berkaitan dengan hak dan
kewajiban, akan tetapi acapkali permasalahannya bermula pada
perbedaan pandangan para pihak terhadap fakta yang menentukan

170
Pasal 52 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999: "Para pihak dalam suatu perjanjian
berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari lembaga arbitrase atas hubungan
hukum tertentu dari suatu perjanjian". Selanjutnya Pasal 53 berbunyi: "Terhadap
pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 tidak dapat dilakukan
perlawanan melalui upaya hukum apapun."
171
Penjelasan Pasal 52 Undang - Undang No. 30 Tahun 1999: "Tanpa adanya suatu
sengketa pun, lembaga arbitrase dapat menerima permintaaan yang diajukan oleh para
pihak dalam suatu perjanjian, untuk memberikan suatu pendapat yang mengikat
(binding opinion) mengenai suatu persoalan berkenaan dengan perjanjian tersebut.
Misalnya mengenai penafsiran ketentuan yang kurang jelas, penambahan atau
perubahan pada ketentuan yang berhubungan dengan timbulnya keadaan baru dan
lain-lain. Dengan diberikannya pendapat oleh lembaga arbitrase tersebut kedua belah
pihak terikat padanya dan salah satu pihak yang bertindak bertentangan dengan
pendapat itu akan dianggap melanggar perjanjian
172
Suyud Margono, op.cit., hlm. 34
173
Agnes M.Toar, Uraian Singkat tentang Arbitrase Dagang di Indonesia, Seri Dasar-
Dasar Hukum Ekonomi 2, Arbitrase di Indonesia, Penerbit Ghalia Indonesia, 1995, hlm.
73

190 Hukum Kepailitan di Indonesia


hak dan kewajiban tersebut.174 R. Otje Salman menyatakan bahwa
dalam setiap hubungan hukum perdata terbuka kemungkinan
terjadinya sengketa, terutama disebabkan oleh keadaan di mana
pihak yang satu mempunyai masalah dengan pihak yang
lainnya.175Selanjutnya Otje menyitir pendapat Komar Kantaatmadja
yang menyatakan bahwa sengketa terjadi apabila salah satu pihak
menghendaki pihak yang lainnya untuk melakukan suatu
perbuatan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan, tetapi pihak
lainnya menolak berlaku demikian. Sengketa tersebut harus
diselesaikan untuk menjaga keseimbangan hubungan yang telah
terbentuk, yakni harus dilakukan menurut hukum atau
berdasarkan kesepakatan awal diantara para pihak.176
Sementara itu, Valerine J.L. Kriekhoff merujuk pada
pendapat L. Nader dan H.F. Todd yang secara eksplisit
membedakan antara pra-konflik, konflik dan sengketa.177
Sengketa adalah kelanjutan dari konflik atau pertentangan
yang tidak dapat diselesaikan sehingga mengganggu hubungan
hukum para pihak.178
Hakekatnya dalam dunia bisnis tidak ada seorangpun dari
para pelaku bisnis yang ingin kebahagiannya terusik karena
transaksi bisnis mereka terganggu oleh suatu sengketa.179
Keterlibatan pada suatu sengketa bisnis secara psikologis pasti
akan membuat ketakutan dan kekhawatiran para pelaku bisnis.180

174
Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Penerbit Sinar Grafika,
Jakarta, 2004, hlm. 20
175
R.Otje Salman,Kontekstualisasi Hukum Adat Dalam Proses Penyelesaian Sengketa,
dalam Prospek Dan Pelaksanaan Arbitrase Di Indonesia, Mengenang Alm. Prof. Dr.
Komar Kantaatmadja, SH.,LL.M, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 3.
176
R.Otje Salman, Loc.cit.
177
Valerine J.L. Kriekhoff, Mediasi(Tinjauan dari Segi Antropologi Hukum); (dalam:
Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai, Penyunting T.Ihromi, Penerbit Yayasan Obor
Indonesia, Jakarta, 2003, hlm. 225
178
Siti Megadianty Adam dan Takdir Rahmadi, Sengketa dan Penyelesaiannya, Buletin
Musyawarah Nomor 1 Tahun I. Jakarta: Indonesia Center for Environ-mental Law, 1997,
hlm. 1
179
Pengusaha Lebih Suka Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa. Harian Kompas, 19
Pebruari 1995, hlm. 6
180
Thomas E.Crowly,Settle It Out of Court, New York: Jhon Willey & Sons, Inc.1994, hlm
22-24: (Disadur dan diterjemahankan oleh Erman Rajagukguk : Penyelesaian Sengketa

Hukum Kepailitan di Indonesia 191


Ketakutan dan kekhawatiran tersebut dikarenakan selain adanya
ancaman hukuman terhadap berkurangnya aset atau bahkan
kebangkrutan bisnis, ancaman kerugian yang bersifat immateril
adalah beban utama yang sangat ditakuti, karena kerugian
immateril pada dasarnya merupakan rusak dan hilangnya reputasi,
bonafiditas serta kiprah para pelaku bisnis yang telah di bangun
sejak lama.
Idealnya, tidak seorangpun dari para pelaku bisnis ingin
terlibat pada suatu sengketa bisnis dan menderita kerugian, baik
kerugian secara materil maupun kerugian bersifat immateril.
Namun demikian, terjadinya konflik bisnis yang kemudian
berkembang menjadi sebuah sengketa bisnis yang tak
terhindarkan181 pada akhirnya akan menyadarkan para pelaku
bisnis itu sendiri, bahwa terhadap suatu sengketa yang timbul
dalam pelaksanaan kontrak bisnis haruslah dihadapi dan dijadikan
sebagai bagian dari dinamika kelangsungan bisnis itu sendiri.
Sengketa bisnis wajib diselesaikan.182
Transaksi bisnis pada umumnya para pelaku bisnis secara
preventif selalu mencantumkan lembaga hukum penyelesaian
sengketa bisnis sebagai cara bagaimana menyelesaikan
perselisihan paham atas suatu hubungan hukum atau perjanjian
yang telah mereka sepakati sebelumnya, dan diselesaikan
berdasarkan prinsip-prinsip hukum penyelesaian sengketa bisnis.
Penyelesaian sengketa bisnis yang akan di tempuh oleh para
pihak mempunyai karakteristik penyelesaian sengketa yang
beragam. Keadaan tersebut merupakan konsekuensi logis, karena
suatu sengketa bisnis berawal dari suatu hubungan hukum bisnis
tertentu yang terkait dengan suatu sistem hukum tertentu,
sehingga secara universal sengketa bisnis lahir dari aneka
perjanjian bisnis. Ihwal ini menunjukkan bahwa suatu penyelesaian

Alternatif, Negosiasi- Mediasi-Konsiliasi - Arbitrase, Penerbit Fakultas Hukum


Universitas Indonesia, Jakarta, 2005,hlm.2)
181
Ade Maman Suherman, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, Penerbit Ghalia
Indonesia, Bogor, 2005,hlm.46
182
Sanusi Bintang dan Dahlan,Pokok-Pokok Hukum Ekonom dan Bisnis, Penerbit PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 113

192 Hukum Kepailitan di Indonesia


sengketa bisnis juga tidak dapat dipisahkan dan budaya hukum
penyelesaian sengketa para pihak yang bersengketa itu sendiri.183
Lawrence M. Friedman menyatakan bahwa budaya hukum
adalah sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum-
kepercayaan, nilai, pemikiran, serta harapannya, atau dengan kata
lain ia menyimpulkan bahwa bagian dari budaya umum itulah yang
menyangkut sistem hukum, serta setiap masyarakat, setiap negara
dan setiap komunitas mempunyai budaya hukum, sehingga selalu
ada sikap dan pendapat mengenai hukum.184 Priyatna Abdurrasyid
menyatakan bahwa terjadinya suatu sengketa antara lain
berhubungan dengan perbedaan persepsi mengenai keadilan,
konsep keadilan dan moralitas, budaya, nilai-nilai dan sikap.185Oleh
karena itulah budaya hukum seluruh pihak yang terlibat dalam
suatu penyelesaian sengketa bisnis sangat mempengaruhi
pemeriksaan, mufakat serta putusan yang akan diambil.
Universalitas peranan budaya hukum penyelesaian sengketa
bisnis, sangatlah penting bagi para pihak untuk menentukan sikap
terhadap tempat dan cara penyelesaian sengketa bisnis, serta
memilih dan menentukan peran pihak ketiga yang bertindak untuk
menengahi (mediation), atau yang mendamaikan (conciliation),
atau yang memutus (arbitration or litigation) sengketa bisnis
sebagai sarana bagi terciptanya kualitas pemeriksaan dan putusan
sengketa yang baik.
Berbagai macam cara penyelesaian sengketa bisnis yang ada,
pada dasarnya dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu
secara adjudikatif, konsensual, dan quasi adjudikatif.186

183
Erman Rajagukguk, Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan, Penerbit Chandra Pratama,
Jakarta, 2000, hIm. 103: "Di negara - negara berkembang, pengadilan adakalanya
dianggap perpanjangan tangan kekuasaan, bahkan di beberapa negara pengadilan
dianggap tidak bersih, sehingga putusan-putusannya diinggap telah memihak yang
mendatangkan ketidakadilan. Alasan-alasan budaya, menyebabkan masyarakat
cenderung mengesampingkan pengadilan sebagai tempat penyelesaian sengketa yang
timbul diantara mereka.
184
Lawrence M. Friedman, American Law An Introduction, Second Edition, Hukum
Amerika Sebuah Pengantar, Penerjemah Wishnu Basuki, Penerbit T.Tatanusa, Jakarta,
Indonesia, 2001,hlm. 8-9.
185
H.Priyatna Abdurrasyid, Op.cit.,hlm. 5-6.
186
WiwiekAwiati, Conflict Transformation, Bahan Pelatihan Hukum ADR, Indonesian
Center for Environmental Law (ICEL), Jakarta, 2000.

Hukum Kepailitan di Indonesia 193


1. Adjudikatif
Mekanisme penyelesaian secara adjudikatif ditandai dengan
kewenangan pengambilan keputusan oleh pihak ketiga dalam
sengketa yang berlangsung di antara para pihak. Pihak ketiga
dapat bersifat voluntary (sukarela) ataupun involuntary (tidak
sukarela). Umumnya penyelesaian cara ini menghasilkan putusan
yang bersifat win-lose solution.
Penyelesaian secara adjudikatif dibedakan menjadi dua, yaitu
adjudikatif publik dan adjudikatif privat.
Adjudikatif publik dilakukan melalui institusi pengadilan
negara (litigasi). Pihak ketiga dalam hal ini bersifat involuntary
(tidak sukarela), karena hakimnya sudah disiapkan oleh pengadilan
dan para pihak tidak bisa memilih dan menentukan sendiri
hakimnya.
Adjudikatif privat yang dilakukan melalui arbitrase
(perwasitan). Pihak ketiga di sini bersifat voluntary (sukarela),
karena arbiter atau wasitnya dapat dipilih dan ditentukan sendiri
oleh pihak-pihak yang bersengketa. Lembaga arbitrase dapat
dikatakan sebagai tingkat atau prosedur penyelesaian yang
tertinggi dari berbagai mekanisme penyelesaian perkara di luar
pengadilan.

2. Konsensus/Kompromi
Mekanisme penyelesaian sengketa secara konsensual
ditandai dengan cara penyelesaian sengketa secara
kooperatif/kompromi untuk mencapai solusi yang bersifat win-
win solution. Kehadiran pihak ketiga kalaupun ada tidak memiliki
kewenangan mengambil keputusan. Termasuk dalam hal ini
misalnya negosiasi (perundingan), mediasi (penengahan), dan
konsiliasi (permufakatan)
3. Quasi Adjudikatif
Mekanisme penyelesaian sengketa yang merupakan
kombinasi antara unsur konsensual dan adjudikatif. Termasuk
dalam mekanisme ini antara lain med-arb, mini trial, ombudsman,

194 Hukum Kepailitan di Indonesia


dan lain-lain. Model penyelesaian ini juga sering disebut adjudikasi
semu atau penyelesaian hibrida.
Pembagian mekanisme penyelesaian sengketa bisnis dapat
pula dibedakan menjadi dua, yaitu melalui jalur litigasi dan jalur
non litigasi.187
Sistem pengklasifikasian dari sengketa dan sarana
penyelesaiannya, ada beberapa mekanisme atau sarana
penyelesaian sengketa lebih cocok untuk jenis sengketa tertentu
dibandingkan dengan jenis dan sarana sengketa yang lainnya.
Pemahaman ini juga dapat secara sadar menyerahkan suatu
sengketa ke arena penyelesaian sengketa yang berbeda, yang
menggunakan sarana penyelesaian sengketa yang berbeda pula.
Idealnya, dapat menciptakan suatu sistem yang
mempertimbangkan, baik kepentingan pribadi maupun
kepentingan umum dalam penyelesaian sengketa, sehingga para
pihak dapat menyelesaikan setiap sengketa tertentu dengan
metode penyelesaian sengketa yang paling tepat baginya. Sistem
tersebut dibandingkan dengan hanya mengandalkan pada 1 (satu)
metode penyelesaian sengketa yang sudah biasa dan khusus.188
Ajudikasi merupakan cara penyelesaian suatu sengketa
melalui lembaga peradilan, sedangkan Alternative Dispute
Resolution (ADR) adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda
pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yaitu
penyelesaian sengketa di luar lembaga peradilan dengan cara
seperti konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian
ahli. Ajudikasi, termasuk arbitrase; mediasi dan negosiasi me-
rupakan bentuk primer atau pokok dari penyelesaian sengketa,
yang memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu sama
lainnya.
Maraknya kegiatan bisnis tidak mungkin dihindari adanya
sengketa (dispute/difference) antara pihak-pihak yang terlibat.
Secara konvensional penyelesaian dilakukan secara litigasi (melalui
pengadilan), di mana posisi para pihak berlawanan satu sama lain.

187
Bambang Sutiyoso, op.cit., hlm 7-9
188
Garry Goodpaster. 1995. Tinjauan Terhadap Penyelesaian Sengketa, dalam Seri
Dasar-dasar Hukum Ekonomi Arbitrase di Indonesia. Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 3.

Hukum Kepailitan di Indonesia 195


Proses ini oleh kalangan bisnis dianggap tidak efektif, tidak efisien,
terlalu formalistik, berbelit-belit, penyelesaiannya membutuhkan
waktu lama, dan biayanya relatif mahal. Apalagi putusan
pengadilan bersifat win-lose solution (menang-kalah), sehingga
dapat merenggangkan hubungan kedua belah pihak di masa-masa
yang akan datang.
Menurut Garry Goodpaster, litigasi tidak cocok untuk
sengketa yang bersifat polisentris atau sengketa yang melibatkan
banyak pihak, banyak persoalan dan beberapa kemungkinan
alternatif penyelesaian. Proses-proses litigasi mensyaratkan
pembatasan sengketa dan persoalan-persoalan sehingga para
hakim atau para pengambil keputusan lainnya dapat lebih siap
membuat keputusan.189

3. Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Pengadilan Niaga


Dewasa ini, masyarakat terbiasa menyelesaikan kasus yang
dihadapinya melalui badan peradilan. Sistem peradilan diatur
dalam Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman No. 48 Tahun 2009.
Pengadilan Negeri merupakan pelaksana kekuasaan
kehakiman di Indonesia. Selain Pengadilan Negeri (Peradilan
Umum), masih ada lingkungan peradilan yang lain, yaitu
Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, dan Pengadilan Tata Usaha
Negara. Masing-masing lingkungan peradilan mempunyai
kompetensi atau kewenangan masing-masing, baik kompetensi
absolut (absolute competentie) dan kompetensi relatif (relative
competentie).
Kompetensi absolut adalah kewenangan badan peradilan
dalam memeriksa dan mengadili mengenai perkara tertentu yang
secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan peradilan lainnya,
baik dalam lingkungan peradilan yang sama maupun berbeda.
Kompetensi relatif adalah kewenangan dari badan peradilan
sejenis dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara atas dasar
letak atau lokasi wilayah hukumnya.

189
Garry Goodpaster,op.cit., hlm. 6

196 Hukum Kepailitan di Indonesia


Kompetensi absolut dari Pengadilan Negeri dapat dilihat
dalam ketentuan Pasal 50 UU No. 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan
Umum, yang menentukan bahwa Pengadilan Negeri bertugas dan
berwenang memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan
perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama.
Pemeriksaan perkara pidana dan perkara di tingkat kedua
(banding) dilakukan oleh Pengadilan Tinggi. Pengadilan Negeri
berwenang memeriksa sengketa bisnis, karena sengketa bisnis
termasuk dalam ruang lingkup hukum perdata dalam arti luas.
Pengecualian untuk sengketa bisnis yang berkaitan dengan
masalah kepailitan dan penundaan pembayaran utang menjadi
kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksanya.
Pengadilan Negeri sebagai bagian dari Peradilan Umum
adalah peradilan bagi rakyat pada umumnya, yang bertugas
memeriksa dan mengadili perkara pidana dan perkara perdata.
Sedangkan peradilan lainnya termasuk peradilan khusus, karena
hanya mengadili perkara tertentu saja dan diperuntukkan untuk
golongan masyarakat tertentu pula. Peradilan Agama hanya
berwenang memeriksa perkara perdata Islam bagi orang-orang
yang memeluk agama Islam. Peradilan Militer hanya berwenang
memeriksa dan mengadili perkara pidana dan tats usaha di
lingkungan militer. Peradilan TUN berwenang memeriksa dan
mengadili sengketa tata usaha negara antara rakyat dengan
pejabat TUN.
Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun
2009 dan Pasal 8 Undang-Undang No. 2 Tahun 1986 jo Undang-
Undang No. 8 Tahun 2004 serta Perubahan Kedua Undang-
Undang tentang Peradilan Umum No. 49 Tahun 2009 telah
membuka peluang bagi badan-badan peradilan yang sudah ada
untuk membentuk peradilan khusus sebagai pengkhususan
(diferensial/spesialisasi) pada masing-masing peradilan.
Timbulnya Peradilan Khusus ini di Indonesia, bukan merupakan
hal yang baru karena sebelum itu telah dibentuk beberapa
peradilan khusus antara lain Peradilan Anak. Untuk menyelesaikan
sengketa bisnis dengan cepat, maka dibentuklah Peradilan Niaga.

Hukum Kepailitan di Indonesia 197


Tanggal 22 April 1998 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan
atas Undang-Undang tentang Kepailitan. Perpu No. 1 Tahun 1998
tersebut telah pula diundangkan dengan menempatkannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia pada 22 April 1998, juga telah
ditentukan dalam Perpu No. 1 Tahun 1998 tersebut yang
merupakan penyempurnaan dengan jalan/cara mengadakan
penambahan dan perubahan terhadap Failliessement Verordening
Stb. 1905-217 jo Stb. Th. 1906-384, bahwa Perpu No. 1 Tahun 1998
tersebut akan mulai berlaku setelah 120 hari terhitung sejak
tanggal diundangkannya, yang berarti akan berlaku secara efektif
pada 20 Agustus 1998.
Pasal 280 ayat 1 Perpu No. 1 Th. 1998 bahwa yang berwenang
untuk memeriksa dan memutus permohonan pailit dan PKPU
adalah Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan
Umum.
Pasal 281 ayat (1) menentukan:
“Untuk pertama kali dengan undang-undang ini Pengadilan
Niaga dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat”.
Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah
dibentuk pada 22 April 1998 saat Perpu No. 1 Th. 1998
diundangkan.
Secara khusus Pengadilan Niaga diatur dalam Bab III, Pasal
280-289 Undang-undang No. 4 Tahun 1998 Tentang Perubahan
Atas Perpu No. 1 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Kepailitan menjadi Undang-Undang Kepailitan dan
terakhir diubah dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pasal 300 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004
menyebutkan :
Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang
ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan
pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang,
berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di
bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan
undang-undang.

198 Hukum Kepailitan di Indonesia


Berdasarkan ketentuan Pasal 300 ayat (1) di atas, maka
kompetensi Pengadilan Niaga adalah untuk memeriksa dan
memutuskan perkara-perkara:
1. Permohonan pernyataan pailit
2. Permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang
3. Perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya
dilakukan dengan Undang-undang.
Dasar pertimbangan dibentuknya Peradilan Niaga oleh
pembentuk Perpu No. 1 Tahun 1998 adalah mekanisme
penyelesaian perkara permohonan kepailitan, PKPU, dari nantinya
perkara-perkara dalam bidang niaga, yang cepat dan efektif. Tidak
disebutkan adil dan terbuka karena penyelesaian perkara di
Pengadilan Negeri pun sudah bersifat adil dan terbuka, sedangkan
cepat dan efektif sengaja disebutkan karena jangka waktu
penyelesaian perkara di Pengadilan Niaga telah ditetapkan dengan
cepat yaitu untuk penyelesaian perkara kewajiban membayar
(untuk penyelesaian perkara) di Pengadilan Negeri tidak
ditentukan jangka waktunya, sedangkan efektif karena putusan
perkara permohonan kepailitan bersifat serta merta (Putusan
Pengadilan Negeri kecuali diputus dengan amar menyatakan
putusan tersebut bersifat serta merta).
Pertama kali telah dibentuk Pengadilan Niaga di Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat dengan daerah hukum seluruh wilayah
Negara Republik Indonesia. Pembentukan Pengadilan Niaga
selanjutnya dibentuk secara bertahap dengan Keputusan Presiden
dengan memperhatikan kebutuhan dan kesiapan sumber daya
manusia yang diperlukan yaitu dengan terbentuknya Pengadilan
Niaga Semarang, Pengadilan Niaga Surabaya, Pengadilan Niaga
Medan, Pengadilan Niaga Makasar.
Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan Niaga
sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 299 Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 (sebelumnya dalam Pasal 284 Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 1998) adalah hukum acara perdata yang
berlaku pada Pengadilan Negeri kecuali ditentukan lain dengan
undang-undang yang berarti hukum acara yang berlaku pada

Hukum Kepailitan di Indonesia 199


Pengadilan Niaga yang ada di Jawa dan Madura adalah HIR dan
untuk Pengadilan Niaga yang ada di luar Jawa adalah RBg.
Upaya hukum terhadap Putusan Pernyataan Pailit dan PKPU
adalah Kasasi dan permohonan PK dengan alasan dalam Pasal 295
ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004,
dapat diajukan apabila :
a. Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang
bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa
di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan; atau
b. Dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat
kekeliruan yang nyata.
Pengadilan Niaga maupun pada Mahkamah Agung perkara
ditangani oleh majelis hakim. Pada Mahkamah Agung akan
dibentuk majelis hakim khusus untuk menangani perkara
permohonan kepailitan dan perkara permohonan PKPU. Perkara-
perkara kepailitan dan hak kekayaan intelektual yang diperiksa
Mahkamah Agung pada umumnya telah ditentukan majelis tetap
yang ditetapkan oleh ketua Mahkamah Agung.

4. Kompetensi Pengadilan Niaga Dalam Perkara Kepailitan


Berlakunya Undang-Undang Kepailitan telah memindahkan
kewenangan mutlak Pengadilan Umum untuk memeriksa
permohonan pailit dengan menetapkan Pengadilan Niaga sebagai
pengadilan yang memiliki kewenangan untuk menerima
permohonan kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran
utang. Dasar utama kewenangan mutlak ini adalah untuk pertama
kali berdasarkan pada Penjelasan Pasal 280 ayat (1) Undang-
Undang No. 4 Tahun 1998 jo. Perpu No. 1 Tahun 1998, yang
menyebutkan bahwa:
"....semua permohonan pernyataan pailit dan penundaan
kewajiban pembayaran utang yang diajukan setelah berlakunya
undang-undang tentang kepailitan sebagaimana diubah oleh
Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang ini hanya dapat
diajukan kepada Pengadilan Niaga. "
Kewenangan Pengadilan Niaga sampai saat diundangkannya
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 merupakan kewenangan

200 Hukum Kepailitan di Indonesia


menyeluruh terhadap seluruh perkara kepailitan dan aspek-aspek
terkait lainnya. Seperti actio paulina, verifikasi utang, dan lain
sebagainya merupakan kewenangan Pengadilan Niaga, tanpa perlu
melakukan prosedur penunjukan kembali (renvoi) ke Pengadilan
Umum.
Undang-Undang Kepailitan menyatakan bahwa untuk
pertama kali Pengadilan Niaga dibentuk pada Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat, hal ini berarti seluruh permohonan pailit yang
diajukan terhadap debitor yang berdomisili diseluruh wilayah
Indonesia harus diajukan ke Pengadilan Niaga, pada Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat, tapi setelah terbentuknya Pengadilan Niaga
di Semarang, Surabaya, Medan, Makasar maka kompetensi relatif
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menjadi terbagi kewenangannya
sesuai wilayah yang ditentukan dalam Keputusan Presiden.
Pengadilan Niaga memeriksa dan memutus perkara pada
tingkat pertama dengan hakim majelis. Menyangkut perkara lain di
bidang perniagaan, Ketua Mahkamah Agung dapat menetapkan
jenis dan nilai perkara yang pada tingkat pertama diperiksa dan
diputus oleh hakim tunggal, dalam menjalankan tugasnya, Hakim
Pengadilan Niaga dibantu oleh seorang Panitera atau seorang
Panitera Pengganti dan Juru Sita.
Hakim Pengadilan Niaga diangkat berdasarkan surat
Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Disamping itu dengan
Keputusan Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung, pada
Pengadilan Niaga di tingkat pertama dapat juga diangkat
seseorang yang ahli sebagai hakim ad hoc. Syarat-syarat untuk
dapat diangkat sebagai Hakim Pengadilan Niaga disebutkan dalam
Pasal 302 ayat (2), sebagai berikut :
a. telah berpengalaman sebagai hakim dalam lingkungan
Peradilan Umum;
b. mempunyai dedikasi dan menguasai pengetahuan di
bidang masalah-masalah yang menjadi lingkup
kewenangan Pengadilan Niaga;
c. berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela; dan
d. telah berhasil menyelesaikan program pelatihan khusus
sebagai hakim pada Pengadilan Niaga.

Hukum Kepailitan di Indonesia 201


Dasarnya pemeriksaan perkara di Pengadilan Niaga dengan
mendasarkan pada hukum acara perdata yang berlaku, kecuali
ditentukan lain dengan undang-undang. Terhadap putusan
Pengadilan Niaga di tingkat pertama yang menyangkut
permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban
pembayaran utang, hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah
Agung, sedangkan terhadap putusan Pengadilan Niaga yang telah
memperoleh kekuatan hukum yang tetap, dapat diajukan
peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Permohonan
peninjauan kembali dapat dilakukan, apabila:
a. Terdapat bukti tertulis baru yang penting, yang apabila
diketahui pada tahap persidangan sebelumnya, akan
menghasilkan putusan yang berbeda; atau
b. Pengadilan Niaga yang bersangkutan telah melakukan
kesalahan berat dalam penerapan hukum.

1. Pengertian Penjamin
Penjamin adalah pihak yang menjamin dan berjanji serta
mengikatkan diri untuk dan atas permintaan pertama dan kreditor
membayar utang secara tanpa syarat apapun dengan seketika dan
secara sekaligus lunas kepada kreditor, termasuk bunga, provisi,
dan biaya-biaya lainnya yang sekarang telah ada dan atau
dikemudian hari terutang dan wajib dibayar oleh debitor.
Seorang penjamin berkewajiban untuk membayar utang
Debitor kepada kreditor manakala Debitor lalai atau cidera janji,
penjamin baru menjadi Debitor atau berkewajiban untuk
membayar setelah Debitor utama yang utangnya ditanggung
cidera janji dan harta benda milik Debitor utama atau Debitor yang
ditanggung telah disita dan dilelang terlebih dahulu tetapi hasilnya

202 Hukum Kepailitan di Indonesia


tidak cukup untuk membayar utangnya, atau Debitor utama lalai
atau cidera janji sudah tidak mempunyai harta apapun. Maka
berdasarkan ketentuan tersebut penjamin atau penanggung tidak
wajib membayar kepada kreditor, kecuali Debitor lalai membayar.
Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum
yang menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan,
dimana yang bertindak sebagai pemberi jaminan ini adalah orang
atau badan hukum yang membutuhkan fasilitas kredit.
Penanggungan utang atau borgtocht adalah suatu
persetujuan dimana pihak ketiga guna kepentingan kreditor,
mengikatkan dirinya untuk memenuhi kewajiban Debitor apabila
Debitor bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajibannya.
Pasal 1820 KUHPerdata,
“Penanggungan ialah suatu persetujuan dimana pihak ketiga
demi kepentingan kreditor, mengikatkan diri untuk memenuhi
perikatan debitor, bila debitor itu tidak memenuhi perikatannya”.
Berdasarkan hal tersebut diatas menurut Pasal 1820
KUHPerdata, Pasal 1821 KUHPerdata, Pasal 1822 KUHPerdata,
menyebutkan :
a. Penjamin/penanggung adalah jaminan perorangan
(security right in personal) yang diberikan:
1). Oleh pihak ketiga dan sukarela;
2). Guna kepentingan kreditor;
3). Untuk memenuhi kewajiban debitor bila ia tidak
memenuhinya;
b. Penjamin/penanggung adalah perjanjian asesor (accesoir),
oleh karena itu :
1). Tidak ada penjamin/penangung tanpa perjanjian
pokok yang sah;
2). Cakupan penjamin/panggung tidak boleh melebihi
kewajiban debitor sebagaimana dimuat dalam
perjanjian pokok;
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa
penjamin merupakan pihak yang menjamin dan berjanji serta
mengikatkan diri untuk dan atas permintaan pertama dan kreditor
membayar utang secara tanpa syarat apapun dengan seketika dan

Hukum Kepailitan di Indonesia 203


secara sekaligus lunas kepada kreditor, termasuk bunga, provisi,
dan biaya-biaya lainnya yang sekarang telah ada dan atau
dikemudian hari terutang dan wajib dibayar oleh debitor.

2. Tujuan Adanya Jaminan Dalam Kepailitan


Kwik Kian Gie menyebutkan bahwa tujuan jaminan yaitu
untuk meyakinkan bank atau debitor, bahwa debitor mempunyai
kemampuan untuk mengembalikan atau melunasi kredit yang
diberikan kepadanya sesuai dengan persyaratan dan perjanjian
kredit yang telah disepakati bersama.190
Dibutuhkannya jaminan dan agunan dalam suatu pemberian
fasilitas kredit adalah semata-mata berorientasi untuk melindungi
kepentingan kreditor, agar dana yang telah diberikannya dapat
dikembalikan sesuai jangka waktu yang ditentukan. Dengan kata
lain pihak pemberi dana (kreditor) terutama lembaga perbankan
atau lembaga pembiayaan mensyaratkan adanya jaminan bagi
pemberian kredit demi keamanan dan kepastian hukumnya. Jadi
sudah pasti dengan tanpa adanya jaminan dari debitor maka tentu
pihak kreditor tidak akan memberikan fasilitas kredit kepadanya.
Ini berarti dalam dunia kredit jaminan mempunyai peran yang
sangat penting. 191
Tujuan bersama pembuatan perjanjian penanggungan adalah
untuk menjamin pelaksanaan perikatan debitor terhadap kreditor
yang ada dalam suatu perjanjian lain yang hendak dijamin
pelaksanaannya disebut juga perjanjian pokok, yang melahirkan
perikatan-perikatan pokok, dengan demikian klausula perjanjian
penanggungan adalah untuk memperkuat perjanjian pokoknya.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa
tujuan adanya jaminan dalam kepailitan adalah untuk meyakinkan
bank atau debitor, bahwa debitor mempunyai kemampuan untuk
mengembalikan atau melunasi kredit yang diberikan kepadanya
sesuai dengan persyaratan dan perjanjian kredit yang telah
disepakati bersama untuk menjamin pelaksanaan perikatan
debitor terhadap kreditor yang ada dalam suatu perjanjian lain

190
Kwik Kian Gie, Op.Cit., hlm. 16
191
Ibid

204 Hukum Kepailitan di Indonesia


yang hendak dijamin pelaksanaannya disebut juga perjanjian
pokok, yang melahirkan perikatan-perikatan pokok, dengan
demikian klausula perjanjian penanggungan adalah untuk
memperkuat perjanjian pokoknya.

3. Bentuk-Bentuk Jaminan
Dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di
Indonesia dan dengan yang berlaku di luar negeri. Dalam Pasal 24
Undang-Undang No 14 Tahun 1967 tentang Perbankan ditentukan
bahwa “Bank tidak akan memberikan kredit tanpa adanya
jaminan”.
Secara umum jaminan dibedakan atas 2 (dua) macam, yaitu:

a. Jaminan materil atau jaminan kebendaan


Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, pengertian jaminan
kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu
benda, yang mempunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung
atas benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapa pun,
selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan.192
Jaminan kebendaan menurut Salim H.S, memiliki ciri-ciri
“kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului diatas
benda-benda tertentu yang memiliki sifat melekat dan mengikuti
benda yang bersangkutan, dimana unsur-unsur yang tercantum
pada jaminan materil yaitu :
1) Hak mutlak atas suatu benda
2) Mempunyai hubungan langsung dengan benda tersebut
3) Dapat dipertahankan kepada siapapun
4) Selalu mengikuti bendanya
5) Dapat dialihkan kepada pihak lainnya193
Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 (empat)
macam, yaitu:
1) Gadai (pand), yang diatur di dalam Bab 20 Buku II
KUHPerdata;

192
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia dan Pokok-Pokok
Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta, 1980, hlm. 46
193
Salim H.S., Op.Cit., hlm. 24

Hukum Kepailitan di Indonesia 205


Pasal 1150 KUHPerdata, Gadai adalah :
“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang
berpiutang atas suatu benda bergerak, yang diserahkan
kepadanya oleh seorang berpiutang atau orang lain atas
namanya dan yang memberikan kuasa pada yang berpiutang
untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan kepada orang berpiutang lainnya, dengan
pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan
biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya,
setelah barang itu digadaikan, biaya mana yang harus
didahulukan”
2) Hipotek, yang diatur dalam Bab 21 Buku II KUHPerdata;
Pasal 1162 KUHPerdata Hipotek adalah :
“Suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak,
untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan
suatu perikatan”.
3) Hak tanggungan, sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor
4 Tahun 1996;
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
Hak Tanggungan adalah:
“Hak Jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan
suaatu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan hutang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan
kepada kreditor tertentu terhadap kredit-kredit lainnya”.
4) Jaminan fidusia, sebagaimana yang diatur di dalam UU
Nomor 42 Tahun 1999.
Istilah fidusia berasal dari bahas Belanda, yaitu fiducie,
sedangkan dalam bahasa Inggris “fiduciary of transfer
ownership” yang artinya kepercayaan.
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia adalah:
“Pengalihan Hak Kepemilikan atas suatu benda atas
dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak

206 Hukum Kepailitan di Indonesia


kepemilikannya yang diadakan tersebut dalam penguasaan
pemilik benda itu”.194
Pembebanan hak atas tanah yang menggunakan
lembaga hipotek dan credietverband sudah tidak berlaku lagi
karena telah dicabut dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1996 tentang Hak tanggungan.
Ada dua pertimbangan yang setidaknya menjadi
prasyarat utama untuk sesuatu benda dapat diterima sebagai
jaminan, yaitu:
a) Secured, artinya benda jaminan kredit dapat diadakan
pengikatan secara yuridis formal, sesuai dengan
ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di
kemudian hari terjadi wanprestasi dari Debitor, maka
bank memiliki kekuatan yuridis untuk melakukan
tindakan eksekusi.
b) Marketable, artinya benda jaminan tersebut bila hendak
dieksekusi dapat segera dijual atau diuangkan untuk
melunasi seluruh kewajiban Debitor.

b. Jaminan imateriil atau jaminan perorangan


Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, jaminan imateriil
atau jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan
hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat
dipertahankan terhadap Debitor tertentu, terhadap harta
kekayaan Debitor umumnya.195
Jaminan perorangan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga)
macam :
1) Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih;
2) Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung
renteng; dan
3) Perjanjian garansi.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui bentuk-
bentuk jaminan terdiri dari dua yaitu jaminan materil (jaminan
kebendaan) terdiri dari gadai, hipotek, hak tanggungan juga

194
Salim H.S, Op.Cit, hlm 24-25
195
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.Cit., hlm. 47

Hukum Kepailitan di Indonesia 207


fidusia, dan jaminan immateril (jaminan perorangan) terdiri dari
penanggung, tanggung menanggung, juga perjanjian garansi.

4. Pihak-Pihak yang Terkait dalam Jaminan


Pihak-pihak yang terkait dalam jaminan didalam perkara
kepailitan yaitu antara lain:
a. Pihak Pemohon Pailit
Salah satu pihak yang terlibat dalam perkara kepailitan
adalah pihak pemohon pailit yakni pihak yang mengambil
inisiatif untuk mengajukan permohonan pailit ke pengadilan,
yang dalam perkara biasa disebut dalam pihak penggugat.
Menurut Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37
Tahun 2004, yang dapat menjadi pemohon dalam suatu
perkara pailit yaitu :
a. Pihak debitor itu sendiri
b. Salah satu atau lebih dari pihak kreditor
c. Pihak kejaksaan jika menyangkut pada kepentingan umum
d. Pihak Bank Indonesia jika debitornya adalah suatu bank
e. Pihak Badan Pengawasan Pasar Modal jika Debitornya
adalah suatu Perusahaan Efek. Yang dimaksud dalam
Perusahaan Efek adalah pihak yang melakukan
kegiatannya sebagai penjamin emisi efek dan atau
manajer investasi.
b. Pihak Debitor Pailit
Adalah pihak yang dimohon dan memohonkan pailit ke
pengadilan yang berwenang. Yang dapat menjadi debitor pailit
adalah debitor yang memiliki dua atau lebih kreditor dan tidak
membayar sedikitnya 1 (satu) hutang yang telah jatuh waktu
dan dapat ditagih.
Dalam hal ada penanggung, maka ada dua perjanjian
yang berbeda namun berkaitan satu sama lain, yaitu perjanjian
pokok yang dijamin, dan perjanjian penganggungnya. Pada
perjanjian pokok atas pelaksanaan mana diberikan jaminan
melalui suatu perjanjian penanggungan yang terlihat adalah
debitor dan kreditor.

208 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pihak Debitor sebagai pihak yang berkewajiban untuk
memenuhi perikatan berhutang sesuatu, dengan adanya
schuld/utang dan karena ia sebagai debitor maka
sculd/utang tersebut dapat ditagih oleh kreditornya.
Debitor pada dasarnya bertanggung jawab atas
kewajiban perikatannya, dan seluruh harta bendanya dalam
arti bahwa, kekayaan Debitor bisa dijual paksa dieksekusi
untuk diambil sebagai pelunasan. Dan berarti selain debitor
memiliki sculd/utang juga memiliki haftung/tanggung jawab.
Karena ada dua debitor yang terlibat dalam perjanjian
tersebut diatas yang walaupun merupakan dua perjanjian
sendiri-sendiri, tetapi memiliki kaitan yang erat, maka dalam
hal seperti diatas untuk membedakan debitornya, debitor
yang pertama disebut debitor dan debitor kedua (penjamin)
disebut Borg.
c. Pemberi Jaminan sebagai Pihak Ketiga
Pihak pemberi jaminan atau penanggung utang yang
dikenal dengan Borgtocht, dalam hubungan hukumnya antara
debitor dan kreditor borg berkedudukan sebagi pihak ketiga,
namun demikian borg secara sukarela telah mengikatkan diri
sebagai debitor kepada kreditor untuk prestasi yang sama.
Pada perjanjian yang terlibat adalah pemberi jaminan
dan kreditor, sebagai pemberi jaminan, jika Debitor
wanprestasi pihak kreditor dapat menagih untuk memenuhi
kewajiban penanggungnya. Jadi pemberi jaminan (Borg) juga
berkedudukan sebagai Debitor yang berdasarkan perjanjian
penanggungnya bertanggung jawab dengan seluruh harta
kekayaannya.
Ditinjau dari perikatan yang hendak ditanggung
pemenuhannya yaitu perikatan pokok antara debitor dengan
kreditor merupakan orang yang ada di luar perikatan tersebut
karenanya disebut sebagai pihak ketiga dalam perjanjian
penanggungan.
Pemberi jaminan dalam perjanjian penanggungan
mempunyai kewajiban perikatan tersendiri diluar kewajiban
perikatan hanya saja dengan sengaja disepakati, bahwa isi dan

Hukum Kepailitan di Indonesia 209


luasnya perikatan ditentukan oleh wanprestasi Debitor, yaitu
apa yang oleh Debitor tidak dipenuhi sebagaimana mestinya.
Maka pemberi jaminan berkewajiban untuk memenuhi
prestasinya yang semestinya dipenuhi oleh Debitor, bila perlu
termasuk untuk dan dengan cara memberikan ganti rugi.
Berdasarkan hal tersebut dan ketentuan Pasal 1820
KUHPerdata serta apa yang telah diuraikan diatas, maka
dapat dikatakan bahwa sesudah Debitor asli melakukan
wanprestasi, kreditor mempunyai dua orang Debitor, yang
keduanya bisa ditagih untuk seluruh utang, dan pembayaran
yang satu membebaskan yang lain.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui
bahwa pihak-pihak yang terkait dalam Jaminan terdiri dari
pihak pemohon pailit, pihak debitor pailit, dan pihak pemberi
jaminan atau pihak ketiga atau penjamin perorangan.

210 Hukum Kepailitan di Indonesia


1. Kedudukan Kurator dalam Kepailitan
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan tidak ada definisi Kurator atau siapa itu Kurator. Definisi
Kurator ada dalam Undang-Undang Kepailitan baru, yaitu
Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pasal 1 angka 5 Undang-undang No.37 Tahun 2004: Kurator
adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang
diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan
harta Debitor Pailit dibawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai
dengan Undang-undang ini.
Kurator adalah salah satu pihak yang cukup memegang
peranan dalam proses perkara pailit. Oleh karena peranan yang
penting dan tugasnya yang berat, maka tidak mudah untuk
menjadi Kurator, bahkan syarat dan prosedur menjadi Kurator
telah diatur dalam Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Kurator
berasal dari bahasa Belanda “Curator” yang artinya orang yang
ditunjuk untuk mengawasi barang bangkrut; orang yang
melaksanakan curetele. Arti curetele yaitu keadaan orang dewasa
yang kehilangan hak menguasai dan memelihara barang miliknya
sendiri oleh karena gila dan sebagainya.196
Dalam sistem Anglo Saxon Kurator itu adalah Receiver197,
orang yang akan melakukan segala sesuatu berkenaan dengan
kepailitan, yang mengambil alih kewenangan pihak Debitor yang
telah dinyatakan pailit untuk melakukan tindakan-tindakan hukum
berkenaan dengan pengurusan dan pemberesan asetnya yang
dapat dibagi kepada semua Kreditor secara adil menurut undang-
undang.

196
S. Wojowasito, Kamus Umum Belanda Indonesia, Ichtiar baru Van Hoeve, Jakarta,
2001, hlm. 130
197
Sudargo Gautama, Komentar atas Peraturan Kepailitan Baru untuk Indonesia (1998),
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hlm. 58.

Hukum Kepailitan di Indonesia 211


a. Syarat-syarat Menjadi Kurator
Jika suatu permohonan Kepailitan dikabulkan oleh
Pengadilan Niaga, maka pengurusan administratif dan likuidasi
harta kepailitan akan diteruskan oleh Kurator. Menurut Undang-
undang Kepailitan yang lama (faillissement verordening), kewajiban
ini secara khusus dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan (BHP),
Balai Harta Peninggalan ini adalah suatu badan khusus dari
Departemen Kehakiman. Balai Harta Peninggalan bertindak
melalui kantor perwakilannya yang terletak di dalam kompetensi
pengadilan yang telah menyatakan Debitor pailit.
Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 37 tahun 2004
tentang Kepailitan, maka jabatan Kurator diperluas sehingga yang
dapat bertindak menjadi Kurator sesuai Pasal 70 ayat (1): Kurator
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 adalah :
a. Balai Harta Peninggalan
b. Kurator lainnya.
Yang dimaksud dengan Kurator lainnya (yaitu Kurator yang
bukan Balai Harta Peninggalan) adalah mereka yang memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
Pasal 70 ayat (2):
Yang dapat menjadi Kurator sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b, adalah:
a) Orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang
memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka
mengurus dan/atau membereskan harta pailit; dan
b) Terdaftar pada Kementerian yang lingkup tugas dan
tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan
perundang-undangan.
Berdasarkan penjelasan, yang dimaksud dengan “keahlian
khusus” adalah mereka yang mengikuti dan lulus pendidikan
Kurator dan Pengurus-pengurus, sedangkan yang dimaksud
dengan “terdaftar” adalah telah memenuhi syarat-syarat
pendaftaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan adalah
anggota aktif organisasi profesi Kurator dan Pengurus.
Menurut Undang-Undang ini, para praktisi seperti halnya
advokat, akuntan, dan profesi lainnya dengan keahlian yang sama,

212 Hukum Kepailitan di Indonesia


diperbolehkan untuk bertindak sebagai Kurator. Penulis kurang
sependapat kalau akuntan dapat menjadi Kurator, karena dalam
melaksanakan wewenangnya sebagai Kurator, maka akuntan harus
mengerti hukum acara perdata khususnya dan hukum perdata
umumnya, sehingga tidak melakukan perbuatan melanggar
hukum. Pasal 1365 KUHPerdata “Tiap perbuatan melanggar
hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan
orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut.”
Ketentuan ini dijelaskan dalam Pasal 1366 KUHPerdata
“Setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang
disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya.”
Pasal ini menjadi dasar Undang-undang Nomor 37 Tahun
2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang, yaitu Pasal 72: “Kurator bertanggungjawab terhadap
kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas
pengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian
terhadap harta pailit.”
Seyogyanyalah bahwa Kurator itu mempunyai pendidikan
dan pengalaman dalam bidang hukum, yaitu advokat. Profesi
lainnya hanya sebagai pendukung saja, misalnya profesi akuntan.
Kurator harus independen, dan tidak mempunyai benturan
kepentingan dengan Debitor atau Kreditor dan tidak sedang
menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban
pembayaran utang lebih dari tiga perkara, sesuai Pasal 15 ayat (3)
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Seorang Kreditor atau Debitor yang mengajukan
permohonan kepailitan dapat minta penunjukan seorang Kurator
kepada Pengadilan Niaga, apabila tidak ada permintaan tersebut,
maka Majelis Hakim dapat menunjuk Kurator lainnya atau Balai
Harta Peninggalan untuk bertindak sebagai Kurator.
Jadi jelas kedudukan Kurator yang ketentuannya telah diatur
dalam undang-undang, dan pihak Kurator hanya ada untuk
perkara kepailitan, tetapi bila perkara itu belum diputus pailit dan

Hukum Kepailitan di Indonesia 213


masih dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU), maka tidak ada Kurator, yang ada hanya “Pengurus” yang
diakui oleh Undang-Undang Kepailitan.
Dengan adanya Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka
ada beberapa perubahan tentang Kurator dan Pengurus.
Perubahan tentang Kurator adalah sebagai berikut :
Pertama, yang dapat menjadi Kurator hanya orang
perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki
keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus
dan/atau membereskan harta pailit; dan terdaftar pada
kementerian yang lingkup tugas dan pertanggungjawabannya
dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan (pasal 70
ayat 2). Dalam penjelasan pasal ini, tercantum bahwa yang
dimaksud dengan “keahlian khusus” adalah mereka yang mengikuti
dan lulus pendidikan Kurator dan Pengurus. Yang dimaksud
dengan “terdaftar” adalah telah memenuhi syarat-syarat
pendaftaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan adalah
anggota aktif organisasi profesi Kurator dan Pengurus. Jadi,
persekutuan perdata tidak dapat menjadi Kurator dan Pengurus.
Kementerian tempat mendaftar Kurator dan Pengurus belum
tentu Departemen Kehakiman. Organisasi profesi Kurator dan
Pengurus belum tentu Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia
(AKPI).
Kedua, Kurator yang diangkat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus independen, tidak mempunyai benturan kepentingan
dengan Debitor atau Kreditor, dan tidak sedang menangani
perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang
lebih dari 3 (tiga) perkara. Selama ini, Kurator bebas menangani
perkara lebih dari tiga perkara.
Sedangkan perubahan pada Pengurus adalah sama dengan
perubahan pada Kurator, hanya ada satu ayat yang ditambah
adalah Pasal 234 ayat (2); Pengurus sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) yang terbukti tidak independen dikenakan sanksi pidana
dan/atau perdata sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Disini, jelas sekali sanksi hukum yang dikenakan kepada Pengurus.

214 Hukum Kepailitan di Indonesia


b. Imbalan Jasa Kurator
Kurator mempunyai hak untuk mendapatkan ganti rugi
untuk biaya dan pengeluarannya dari harta kepailitan (pasal
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Imbalan atau fee
Kurator tersebut pada Undang-undang Kepailitan ditetapkan oleh
Menteri Kehakiman, sedangkan pada Undang-undang Kepailitan
yang lama (faillisment verordening) imbalan Kurator yaitu Balai
Harta Peninggalan ditetapkan dengan undang-undang.
Departemen Kehakiman pada tanggal 22 September 1998
mengeluarkan peraturan mengenai fee untuk para pengurus dan
Kurator.198 Peraturan ini membuat suatu ukuran/skala untuk fee
Kurator. Fee tersebut merupakan prosentase yang ditentukan dan
berhubungan dengan nilai harta kepailitan.
Sekalanya berkisar antara 6% sampai 1,5% jika proses
kepailitan berakhir sebagai akibat perdamaian, dan dari 10%
sampai dengan 2.5% jika proses kepailitan berakhir dengan cara
lain baik penutupan atau likuidasi. Lebih lanjut peraturan ini
memberikan suatu jumlah yang akan diterima oleh Kurator dari
harta kepailitan yang tidak melebihi 2% dari nilai asset dari
kekayaan kepailitan, jika proses kepailitan berakhir sebagai akibat
dari pencabutan. Dalam hal ini, jumlah fee yang sebenarnya
memperlihatkan biaya yang dikeluarkan dan jam kerja yang
diperlukan oleh Kurator.
Jika Balai Harta Peninggalan diangkat sebagai Kurator,
Departemen Kehakiman akan menentukan jumlah fee Kurator
tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehakiman.199
Saat ini imbalan jasa Kurator ditentukan dengan prosentase
dari realisasi penyelesaian harta pailit, sesuai Keputusan Menteri
Kehakiman, untuk itu terdapat beberapa keluhan dari pihak
Debitor maupun Kreditor dalam hal kepailitan dapat diselesaikan

198
Departemen Kehakiman, Keputusan Menteri Kehakiman tentang Pedoman Besarnya
Imbalan Jasa bagi Kurator dan pengurus, KepMen. Kehakiman No M.09. ht. 0510/ 1998.
199
Departemen Kehakiman, Keptusan Menteri Kehakiman tentang Pedoman besarnya
Imbalan Jasa bagi Kurator, KepMen. Kehakiman No. M. 02-UM / 1993.

Hukum Kepailitan di Indonesia 215


secara relatif singkat (misalnya dengan perdamaian), maka imbalan
jasa Kurator menjadi menggelembung dan tidak proporsional.
Ketentuan imbal jasa Kurator tersebut sebaiknya dapat
dimodifikasi sedemikan rupa sehingga akan sesuai dengan imbalan
jasa yang biasa dikenakan oleh Kurator tersebut sehari-hari
dengan masalah non kepailitan. Dengan perkataan lain sama
dengan imbalan jasa Advokat.
Untuk itu Kurator, Kreditor dan Debitor dapat mengadakan
kesepakatan tersendiri tentang hal ini, misalnya imbalan jasa
dikenakan dengan actual hourly basis (perhitungan jam kerja
sebenarnya). Namun tetap harus ada klausula untuk melindungi
kepentingan Debitor dan Kreditor, sebagai contoh, jika hourly
basis tadi melebihi nilai prosentase, maka nilai prosentaselah yang
berlaku.
Berdasarkan Undang-undang Kepailitan dan peraturan
pelaksanaannya dapat diperkirakan bahwa imbalan jasa Kurator
akan dibayar setelah ada realisasi dari harta pailit (dalam
pemberesan atau likuidasi) atau telah tercapainya perdamaian.
Dapat diperkirakan bahwa suatu perkara kepailitan akan memakan
waktu bertahun-tahun dan adalah tidak wajar jika Kurator tidak
mendapatkan imbalan jasa sama sekali selama waktu tersebut.
Oleh karenanya, jika proses kepailitan lebih dari satu tahun (sejak
Kurator mulai bekerja), maka pada akhir tahun pertama dan setiap
pelunasan atas seluruh atau sebagian dari imbalan jasanya dalam
jangka waktu tersebut dibayar.

2. Fungsi Kurator Dalam Kepailitan Perusahaan


Kurator mempunyai fungsi mewakili Debitor pailit untuk
menyelesaikan segala masalah kepailitan Debitor terutama
mengurus dan membersihkan harta pailit untuk dibayarkan
kepada semua Kreditor secara proporsional menurut undang-
undang yang berlaku. Para Kreditor tersebut terbagi menjadi tiga
golongan yaitu; Kreditor separatis, Kreditor preferen, dan Kreditor
konkuren. Dalam hal Debitor pailit adalah perseroan terbatas
pailit, maka Kurator berfungsi mewakili organ-organ perseroan
terbatas pailit tersebut (Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan

216 Hukum Kepailitan di Indonesia


Komisaris, Direksi) untuk menyelesaikan segala masalah kepailitan
yang ada hubungannya dengan kekayaan Debitor pailit (segala aset
perseroan terbatas pailit). Dalam menjalankan fungsinya tersebut
maka Kurator bersifat independen dengan pihak Debitor pailit dan
Kreditor. Disamping itu Kurator tidak perlu memperoleh ijin dan
persetujuan dari atau menyampaikan pemberitahuan terlebih
dahulu kepada Debitor pailit atau kepada salah satu organ Debitor
pailit, meskipun dalam keadaan tidak pailit persetujuan atau
pemberitahuan tersebut diperlukan (sesuai anggaran perseroan
terbatas).
Fungsi Kurator ini untuk mengurus dan membereskan harta
Debitor pailit berlaku sejak adanya utusan pernyataan pailit dari
Pengadilan Niaga, walaupun terhadap putusan tersebut sedang
diajukan upaya hukum kasasi atau Peninjauan Kembali (PK). Inilah
konsekuensi hukum dari sifat putusan yang serta merta
(Uitvoorbaar bij Vooraed) fungsi Kurator ini diikuti dengan tugas
yang relatif berat, kewenangan Kurator, kewajiban Kurator,
tanggung jawab Kurator, hak dan kewajiban Kurator.
Bila Kurator berfungsi dan menjalankan tugasnya sesuai
kewenangannya menurut Undang-undang kepailitan yang berlaku
maka perundangan hukum terhadap Debitor pailit, Kreditor dan
masyarakat dapat terjamin.
3. Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan
Harta Pailit
Segera setelah dilaksanakan pelunasan Kreditor konkuren
berdasarkan daftar verifikasi, maka kepailtan berakhir.
Pengakhiran kepailitan ini belum berarti berakhirnya pekerjaan
bagi Kurator dan Hakim Pengawas (Pasal 202 ayat 3 Undang-
Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang)
Satu bulan setelah berakhirnya kepailitan tersebut di atas,
Kurator harus memberikan pertanggungjawaban atas pengurusan
yang dilakukan oleh undang-undang mengingat bahwa masih
terdapat kemungkinan bahwa setelah dilaksanakan pemberesan
dan pembagian harta pailit untuk melunasi utang Kreditor
ditemukan adanya bagian dari harta pailit yang tidak diketahui
Hukum Kepailitan di Indonesia 217
sebelumnya dan karenanya belum menjadi bagian dari harta
pailit200 diterima oleh para Kreditornya. Dalam hal ini,
pertanggungjawaban Kurator harus diberikan kepada Debitor
(pailit) dengan disaksikan oleh hakim pengawas.201
Kesalahan dan atau kelalaian Kurator melaksanakan
tugasnya menyebabkan Kurator bertanggungjawab atas kerugian
harta pailit yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian
tersebut.202
Dalam Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diatur
pula tanggung jawab Kurator, yaitu pada Pasal 72 Undang-Undang
No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, yang menyatakan bahwa; Kurator
bertanggungjawab, terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam
melaksanakan tugas pengurusan dan atau pemberesan yang
menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.
Bila kita bandingkan menurut peraturan yang berlaku untuk
perbuatan melawan hukum yaitu Pasal 1365 Kitab Undang-
UndangHukum Perdata dinyatakan bahwa; Tiap perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.203
Maka tanggung jawab Kurator yang diatur dalam Pasal 72
Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini tidaklah menciptakan
tanggung jawab yang lebih berat. Seorang Kurator dapat
dipertanggungjawabkan jika ia telah melakukan suatu perbuatan
melawan hukum suatu tingkat kesalahan dan kelalaian cukup
untuk menimbulkan tanggung jawab. Tindakan Kurator sebaiknya
dapat dibandingkan dengan tindakan Kurator yang sewajarya
dapat dipercaya, apakah tanggung jawab Kurator harus dinilai
200
Pasal 189 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan
201
Pasal 157 (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan
202
Pasal 72 Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang Pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan
hukum yang menyebabkan kerugian pada satu pihak.
203
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek), diterjemahkan oleh R.
Subekti dan R. Tcitrosudibio, vet. 30, (Jakarta, Pradnya Paramita, 1999), pasal 1365.

218 Hukum Kepailitan di Indonesia


dengan standar yang lebih tinggi jika ia telah memiliki keahlian
atau pengalaman di atas rata-rata.
Apakah ada suatu perbedaan antara tanggung jawab Kurator
yang bertindak dalam kapasitasnya sebagai Kurator di satu pihak
dengan tanggung jawab pribadi Kurator di lain pihak, perbedaan
seperti ini biasa menurut Hukum Belanda.204
Hal ini berarti bahwa Kurator tidak selalu bertanggungjawab
secara pribadi jika ia telah melakukan suatu perbuatan melawan
hukum dalam kapasitasnya sebagai seorang Kurator. Untuk lebih
jelasnya maka dapat kita uraikan sebagai berikut :

a. Tanggung jawab Kurator dalam kepailitan sebagai Kurator


Dalam hal ini harta pailit, dan bukan Kurator secara pribadi,
harus membayar kerugian. Pihak yang menuntut mempunyai
tagihan atas harta kepailitan, dan tagihannya adalah utang harta
pailit.
Tindakan Kurator tersebut antara lain adalah: Kurator
meneruskan kegiatan usahanya tanpa suatu pertimbangan yang
matang ataupun riset terlebih dahulu.
Kurator menjual asset pihak ketiga. Kurator menjual asset
Debitor yang tidak termasuk di dalam harta kepailitan. Kurator
lupa untuk memasukkan salah satu Kreditor dalam rencana
distribusi. Kurator membuat suatu kontrak padahal ia mengetahui
atau seharusnya mengetahui bahwa pembayaran yang menjadi
kewajibannya tidak dapat dipenuhi. Kurator gagal untuk
membantah suatu tuntutan atau untuk membatasi tanggung
jawab, misalnya, mengajukan suatu upaya banding terhadap
penilaian pajak. Kurator berupaya untuk menagih tagihan Debitor
yang pailit, dan melakukan sita atas properti Debitor, kemudian
terbukti bahwa tuntutan Debitor tersebut palsu. Kurator tidak
memberitahu Kreditor atas hak istimewanya menurut perundang-
undangan bila ia menduga bahwa Kreditor itu tidak mengetahui
mempunyai hak tersebut. Kurator mengajukan gugatan perdata
yang mengakibatkan biaya perkara yang tidak dapat dibayar

204
Jerry Hoff, Undang-Undang Kepailitan di Indonesia (Indonesian Bankruptcy Law),
diterjemahkan oleh Kartini Mulyadi, Jakarta : Tatanusa, 2000, hlm, 71.

Hukum Kepailitan di Indonesia 219


kembali padahal tidak ada alasan yang wajar untuk memenangkan
gugatan tersebut.

b. Tanggung jawab Kurator dalam kepailitan sebagai pribadi


Dalam kasus ini Kurator bertanggungjawab secara pribadi, ia
harus membayar sendiri kerugian yang ditimbulkannya. Tanggung
jawab ini dapat terjadi, misalnya Kurator menggelapkan harta
kepailitan.
Sebagai informasi bahwa di negeri Belanda, Kurator
bertanggungjawab pribadi, jika Kurator sengaja bertindak secara
gegabah atau jika sengaja melakukan kesalahan.205
Seorang dapat mengharapkan bahwa Kurator akan bertindak
dengan sangat hati-hati dan bahwa ia akan berupaya untuk
melakukan pekerjaannya dengan baik. Walaupun demikian kita
harus mempertimbangkan bahwa Kurator harus membuat putusan
yang didesak oleh sempitnya waktu dan bahwa Kurator harus
memperhatikan kepentingan-kepentingan yang berbeda yang
kerap kali bertentangan.
Kurator mempunyai kebijakan tertentu dalam memilih arah
tindakannya, jangkauan tindakan tersebut berbeda dengan tugas
yang bersangkutan. Secara konsekuen, tanggung jawabnya lebih
banyak bertumpu pada keadaan sekitarnya.

c. Tanggung jawab Kurator terhadap harta pailit dan penerapan


Actio Pauliana
Kurator memiliki peranan yang sangat besar dan sangat
penting dalam suatu proses kepailitan karena dia harus dapat
mengelola dan mengurus seluruh harta pailit sehingga nilai harta
pailit tersebut dapat dimaksimalkan untuk memenuhi seluruh
kewajiban Debitor pailit terhadap para Kreditornya. Dalam rangka
memaksimalkan nilai harta pailit, Kurator pun berwenang untuk
membatalkan perbuatan-perbuatan hukum yang dilaksanakan oleh
Debitor pailit sebelum terjadinya kepailitan yang dianggap oleh
Kurator merugikan kepentingan para Kreditor, hal ini disebut
dengan istilah Actio Pauliana.
205
Ibid., hlm. 72.

220 Hukum Kepailitan di Indonesia


Actio Pauliana adalah suatu legal resource yang diberikan
kepada Kurator untuk membatalkan tindakan-tindakan hukum
yang dilakukan oleh Debitor pailit yang dapat merugikan
kepentingan Kreditor-Kreditor lain.206
Lebih jauh lagi Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
memberikan penjelasan bahwa tindakan-tindakan hukum tersebut
dapat dibatalkan apabila memenuhi ketentuan-ketentuan berikut
ini: tindakan tersebut tidak dipersyaratkan oleh hukum atau
berdasarkan perjanjian. Dengan perkataan lain, Debitor pailit
melakukan tindakan hukum tersebut secara sukarela. Tindakan
tersebut merugikan kepentingan Kreditor lain dan Debitor pailit,
dan pada saat perbuatan hukum itu dilakukan Debitor dan pihak
dengan siapa perbuatan hukum itu dilakukan mengetahui atau
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan
mengakibatkan kerugian bagi Kreditor lain.
Dengan demikian, untuk membatalkan suatu tindakan
hukum yang dilakukan Debitor pailit dengan menggunakan Actio
Pauilana, harus bisa membuktikan bahwa perbuatan hukum
tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor lain, dan
Kurator harus bertanggungjawab atas pembatalan tindakan hukum
yang dilakukan oleh Debitor pailit tersebut.
Terhadap ketentuan di atas, untuk pembuktian terhadap
point pertama, dan hal kedua, tidaklah sulit untuk dilaksanakan,
pembuktian hal ketiga sulit untuk dilaksanakan. Oleh karena itu
Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan
kemudahan kepada Kurator untuk melakukan pembuktian atas
point ketiga tersebut di atas, kemudahan yang diberikan oleh
Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang adalah dengan
menyatakan bahwa apabila perbuatan hukum merugikan para
Kreditor dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum

206
Rudhy Lontoh, Denny Kalimang, Benny Ponto, ed., Penyelesaian Utang Piutang
melalui Pailit atau penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Bandung: Alumni, 2001.
hlm 374.

Hukum Kepailitan di Indonesia 221


putusan pernyataan pailit ditetapkan, sedangkan perbuatan
hukum tersebut tidak wajib untuk dilakukan oleh Debitor, maka
kecuali dapat dibuktikan sebaliknya, Debitor dan pihak dengan
siapa perbuatan tersebut dilakukan dianggap mengetahui atau
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilakukan,
bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi
Debitor, apabila perbuatan tersebut disamping persyaratan yang
telah disebutkan di atas, memenuhi salah satu ketentuan berikut
ini:207 merupakan perikatan dimana kewajiban Debitor jauh
melebihi kewajiban pihak pihak dengan siapa perikatan tersebut
dilakukan, merupakan pembayaran atas, atau pemberian jaminan
untuk utang yang belum jatuh tempo dan belum dapat ditagih.
Kurator adalah satu-satunya pihak yang dapat membatalkan
perbuatan hukum yang dilaksanakan oleh Debitor pailit
berdasarkan konsep Actio Pauliana. Hal ini merupakan akibat logis
dari kedudukan dan tanggung jawab Kurator sebagai pihak yang
bertugas untuk melindungi dan mengurus harta pailit untuk
kepentingan seluruh pihak yang terkait dengan harta pailit, akan
tetapi terdapat sangat banyak perbuatan yang memenuhi
persyaratan untuk dibatalkan dengan menggunakan konsep Actio
Pauliana, maka Kurator harus dapat memutuskan perbuatan mana
yang akan diminta pembatalan dan perbuatan mana yang dapat
dibiarkan berdasarkan nilai material perbuatan tersebut terhadap
Harta Debitor pailit dari kemudahan; dan untuk pembuktiannya
dapat tidaknya Kurator mengumpulkan bukti-bukti yang cukup
dan memenuhi syarat untuk dapat melakukan Actio Pauliana.

4. Tugas Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta


Pailit
Tugas Kurator relatif berat sesuai yang diatur dalam
Undang- Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Pada prinsipnya
tugas umum Kurator adalah melakukan pengurusan dan atau

207
Ibid., hlm. 375

222 Hukum Kepailitan di Indonesia


pemberesan harta pailit208 dalam menjalankan tugasnya harus
bersifat independen dengan pihak Debitor dan Kreditor. Oleh
karena itu dalam menjalankan tugasnya Kurator tidak perlu
meminta persetujuan ataupun menyampaikan pemberitahuan
kepada Debitor pailit.
Kurator berwenang melaksanakan tugas pengurusan
dan/atau pemberesan atas harta pailit sejak tanggal putusan pailit
diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi
atau dan peninjauan kembali. Berlakunya putusan pailit tersebut
mulai pukul 00.00 pada hari itu juga .
Tetapi tidak berarti Kurator dalam tugasnya menjadi
sewenang-wenang Kurator harus mengikuti rambu-rambu agar
tugasnya tidak melanggar undang-undang, yang dimaksud dengan
rambu-rambu tersebut adalah; ada hubungan dengan kewenangan
Kurator, apakah Kurator berwenang untuk melakukan tugas itu.
Dalam melakukan tindakan-tindakan tertentu yang berhubungan
dengan faktor keuangan, harus dipertimbangkan secara ekonomis
dan manfaat agar tindakannya tepat “cast and benefit analysis”.
Ada kalanya dalam melakukan tindakan dalam tugasnya,
Kurator diperlukan izin/keikutsertaan dari pihak tertentu sebagai
tanda persetujuan, seperti dari Hakim Pengawas, Pengadilan Niaga
atau Panitia Kreditor. Ada pertimbangan hukum dalam melakukan
tindakan-tindakan tertentu dalam tugasnya, misal dalam
melakukan penjualan asset Debitor, dapat dilakukan melalui
pengadilan, lelang atau di bawah tangan. Ada kalanya Pengadilan
Niaga menunjuk Kurator lebih dari satu orang biasanya Kurator
yang bukan BHP, untuk dapat melakukan tindakan yang sah dan
mengikat dalam tugasnya, maka diperlukan persetujuan dengan
voting lebih dari ½ jumlah Kurator yang ada.
Di dalam Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang maka
tugas Kurator diatur secara ketat dan banyak, untuk memperinci
tugas Kurator tersebut dapat dibagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu:
tahap administrasi, antara lain yang terpenting pada tahap ini

208
Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Hukum Kepailitan di Indonesia 223


adalah pencatatan harta pailit, memasang iklan, mengusahakan
keselamatan harta pailit, membuat rapat pertama Kreditor,
pemberitahuan bagi pendaftaran piutang dan rapat verifikasi,
pencocokan piutang, rapat verifikasi; dan tahap penyelesaian.

a. Tahap Administrasi
1) Pencatatan Harta Pailit
Kurator harus secepatnya memulai pencatatan harta pailit
dan pencatatan tersebut dapat dibuat di bawah tangan dengan
persetujuan Hakim Pengawas. Para anggota Panitia Kreditor
Sementara berhak menghadiri pencatatan. Kurator membuat
daftar jumlah utang piutang harta pailit, nama dan tempat tinggal
para Kreditor dan jumlah piutang setiap Kreditor. Uraian harta
pailit tersebut dan daftar jumlah utang tersebut diumumkan di
kantor Kurator dan terbuka untuk umum.
2) Memasang Iklan
Paling lambat lima hari sejak tanggal putusan pailit
diucapkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga, Kurator harus
mengumumkan putusan tersebut dalam berita negara dan
sekurang-kurangnya dalam dua surat kabar yang ditetapkan
bersama Hakim Pengawas. Isi iklan harus termasuk ikhtisar
putusan hakim, identitas, alamat dan pekerjaan anggota panitia
sementara Kreditor, apabila telah ditunjuk, tempat dan waktu
penyelenggaraan rapat pertama Kreditor, identitas Hakim
Pengawas dan Kurator.
3) Mengusahakan Keselamatan Harta Pailit
Kurator harus mengusahakan keselamatan Harta Pailit,
Kurator harus segera menyimpan surat-suratnya, uang, barang-
barang perhiasan, efek-efek dan surat-surat berharga lainnya..
Kurator dengan persetujuan Hakim Pengawas dapat melakukan
penyegelan harta pailit.
4) Membuat Rapat Pertama Kreditor
Kurator memberitahukan kepada Kreditor dengan surat
tercatat atau kurir paling lama 5 hari sejak putusan pailit
diucapkan. Kurator dan Hakim Pengawas menentukan rapat

224 Hukum Kepailitan di Indonesia


Kreditor pertama, paling lambat 15 hari sejak putusan pailit
diucapkan dan memimpin sidang/rapat Kreditor. Kurator bersama
Hakim Pengawas memutuskan rapat Kreditor berdasarkan suara
setuju sebesar lebih setengah jumlah suara yang dikeluarkan oleh
para Kreditor.
5) Pemberitahuan bagi pendaftaran piutang dan rapat
verifikasi
Kurator memberitahukan melalui surat dan surat kabar dan
berita negara dalam waktu selambat-lambatnya 14 hari sejak
diucapkan putusan pailit oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht=BHT),
maka Kurator dan Hakim Pengawas harus menetapkan hari
terakhir piutang harus diajukan dan harus menetapkan pula hari,
jam, tempat pencocokan piutang.
6) Pencocokan utang
Kurator menguji kebenaran dan mencocokkan piutang-
piutang yang telah dimasukkan dengan catatan dan keterangan
dari Debitor pailit berunding dengan Kreditor. Kurator membuat
daftar piutang-piutang yang telah disetujui dan daftar piutang-
piutang belum disetujui. Membuat catatan dalam daftar mengenai
piutang yang diistimewakan atau yang dijaminkan dengan hak
tanggungan, gadai, hak agunan lainnya, atau hak retensi, untuk
tagihan yang bersangkutan dapat dilaksanakan. Apabila hak
tersebut dibantah oleh Kurator, maka dianggap sebagai piutang
yang sementara diakui. Selanjutnya salinan/copy dari daftar
piutang-piutang tersebut ditempatkan di kantor Kurator selama 7
hari dan terbuka untuk umum.
7) Rapat verifikasi
Dalam rapat ini dibahas daftar piutang-piutang sementara
dan daftar piutang-piutang yang dibantah oleh Kurator dan
keterangannya. Bila diadakan penundaan rapat, maka dilanjutkan
pada suatu hari yang ditetapkan Hakim Pengawas, yaitu dilakukan
8 hari semenjak penundaan dan tidak diperlukan lagi undangan.
Setelah verifikasi, Kurator memberitahukan laporan kepada
Kreditor tentang kondisi dari harta pailit, dan ditempatkan pada
kantor panitera Pengadilan Niaga dan kantor Kurator.

Hukum Kepailitan di Indonesia 225


b. Tahap penyelesaian
Dalam tahapan ini Kurator menjual harta pailit tanpa perlu
kesepakatan/bantuan Debitor pailit dan penjualan dilakukan di
hadapan umum dengan izin Hakim Pengawas. Kurator
membagikan hasil penjualan harta pailit kepada Kreditor atas
perintah Hakim Pengawas untuk membagikan pembayaran kepada
Kreditor yang telah dicocokkan. Kurator membuat daftar
pembayaran untuk disahkan oleh Hakim Pengawas. Daftar yang
telah disetujui Hakim Pengawas ditempatkan di kantor panitera
Pengadilan Niaga dan Kantor Kurator. Kurator memberitahukan
dalam berita negara dan dalam dua surat kabar harian. Setelah
selesai pembagian harta pailit, kepailitan berakhir. Kurator
mengumumkan hal tersebut diberitakan pada lembaran negara
dan di dua surat kabar harian. Kurator harus memberikan
pertanggungjawaban tentang pengurusan dan penyelesaian harta
pailit yang telah dilaksanakannya kepada Hakim Pengawas setelah
lewat waktu satu bulan sejak selesainya tugas tersebut.

5. Masa Tugas Kurator


Masa tugas Kurator terhitung sejak tanggal putusan pailit
diucapkan, Kurator berwenang melaksanakan tugasnya sampai
dengan akhirnya bila accord yang telah dihomologasikan dan
mempunyai kekuatan hukum tetap, atau fase insolvensi, daftar
pembagian terakhir mempunyai kekuatan hukum tetap atau
kepailitan dicabut karena harta pailit sangat sedikit nilainya dan
kemungkinan nihil.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kurator mempunyai
wewenang yang cukup luas sehingga dapat merugikan pihak lain.
Sebagai contoh dalam kasus PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
yang dipailitkan oleh seorang Kurator PT DSS yang merupakan
Kreditor PT AJMI.
Kasus Posisi
Kasus yang dianalisis ini adalah kasus PT. Asuransi Jiwa
Manulife Indonesia yang diajukan pailit oleh Kurator dari PT.
Dharmala Sakti Sejahtera Tbk (dalam pailit) kepada Pengadilan

226 Hukum Kepailitan di Indonesia


Niaga Jakarta Pusat karena tidak membayar kewajibannya kepada
salah satu Kreditor tertentu, walaupun kepada Kreditor-Kreditor
lainnya perusahaan tersebut masih memenuhi kewajiban-
kewajibannya dengan baik. Oleh karena itu, putusan Pengadilan
Niaga Jakarta Pusat yang mengabulkan permohonan Pemohon
untuk mempailitkan PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia telah
dibatalkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, berdasarkan
pertimbangan akurat sesuai dengan jiwa Hukum Kepailitan dan
Hukum Perasuransian.
Analisis Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor
10/PAILIT/2002/PN.NIAGA.JKT.PST tanggal 13 Juni 2002, hanya
melihat persyaratan permohonan pailit sebagaimana diatur dalam
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan, yaitu :
a. Debitor mempunyai dua atau lebih Kreditor;
b. Debitor tidak membayar sedikitnya satu utang;
c. Utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih.
Pertimbangan putusan dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
tersebut tidak disertai alasan juridis yang kuat. Deviden yang
dianggap sebagai utang dalam arti yang luas, yakni utang
Termohon Pailit, PT ATMI kepada Pemohon Pailit yakni Kurator
dari PT. DSS (dalam pailit), adalah utang yang belum jatuh tempo
dan dapat ditagih. Sebab, deviden tersebut, oleh RUPS (rapat
umum pemegang saham) PT. AJMI, diputuskan untuk tidak
dibagikan kepada para pemegang saham (termasuk kepada PT.
DSS) guna memenuhi RBC (risk based capital) yang harus
mencapai 120% sebagaimana yang disyaratkan oleh Menteri
Keuangan Republik Indonesia terhadap perusahaan asuransi. RUPS
sebagai organ dari PT. AJMI yang mempunyai kewenangan
tertinggi, yang tidak diberikan kepada organ lainnya yakni Direksi
dan Komisaris PT. AJMI, telah memutuskan bahwa, deviden tahun
1999, tidak dibagikan. Dengan demikian, deviden yang ditagih oleh
Pemohon, adalah utang yang belum jatuh tempo dan tidak dapat
ditagih. Karena deviden sebagai utang yang belum jatuh tempo
dan tidak dapat ditagih, maka salah satu unsur dari persyaratan

Hukum Kepailitan di Indonesia 227


pailit sebagaimana diatur pada Pasal 1 ayat (1) Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan tidak terpenuhi, sehingga
permohonan pailit dari Pemohon, seharusnya ditolak.
Kendatipun Indonesia tidak menganut asas preseden atas
jurisprudensi, tapi kita menganut asas persuasive jurisprudence
yang menganjurkan para hakim untuk memakai putusan
Mahkamah Agung Republik Indonesia yang telah berkekuatan
hukum tetap menjadi acuan dasar hukum dalam memutus perkara
(kepailitan). Sesungguhnya sudah ada Putusan Mahkamah Agung
Republik Indonesia Nomor 33 K/N/1999, tanggal 01 November
1999 dan Nomor 33 K/N/2001, tanggal 30 Oktober 2001, yang
menyatakan bahwa permohonan pailit terhadap perusahaan
asuransi hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Menteri
Keuangan Republik Indonesia.
Berdasarkan dua putusan Mahkamah Agung Republik
Indonesia tersebut, maka permohonan pailit yang diajukan oleh
Kurator terhadap PT. AJMI, karena tidak mendapat izin dari
Menteri Keuangan Republik Indonesia, harus dinyatakan ditolak.
Seharusnya, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat harus
memperhitungkan hal-hal lain yang ada dan erat kaitannya dengan
perkara tersebut. Oleh karena perkara kepailitan PT. AJMI diajukan
oleh Kurator, maka menurut Pasal 67 ayat (5) Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan, hakim (pemutus),
sebelum memeriksa materi perkara, terlebih dahulu melihat
apakah ada izin dari hakim pengawas kepada Kurator untuk
mempailitkan PT. AJMI. Karena ternyata memang tidak ada izin
dari hakim pengawas, maka Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
seharusnya menolak perkara tersebut.
Berdasarkan Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 4 Tahun
1998 tentang Kepailitan, bahwa untuk membuktikan persyaratan
pailit sebagaimana diatur pada Pasal 1 ayat (1) Undang-undang
tersebut, harus sederhana dan tidak rumit. Apabila pada waktu
membuktikan ketiga syarat permohonan pailit seperti tersebut di
atas ternyata tidak sederhana dan rumit, maka Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat semestinya menyatakan tidak berwenang mengadili
perkara tersebut, dan yang berwenang adalah pengadilan negeri,

228 Hukum Kepailitan di Indonesia


melalui perkara gugatan perdata biasa. Walaupun pembuktian
sederhana dalam pekara kepailitan sebagaimana diatur pada Pasal
6 ayat (3) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan,
bukanlah merupakan salah satu syarat permohonan pailit, namun
sistem pembuktian yang sederhana ini, erat kaitannya dengan atau
pada saat membuktikan persyaratan pailit sebagaimana diatur
pada Pasal 1 ayat (1) Undang-undang tersebut.
Dalam perkara kepailitan PT. AJMI, ketentuan Pasal 6 ayat (3)
dan Pasal 67 ayat (5) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan, tidak diterapkan oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat,
sehingga Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tingkat kasasi
membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Analisis Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor
021K/N/2002, tanggal 05 Juli 2002, yang membatalkan putusan
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 10/PAILIT/2002/PN.
NIAGA.JKT. PST tanggal 13 Juni 2002, dengan alasan judex facti
(Pengadilan Niaga Jakarta Pusat) telah salah menerapkan hukum.
Sebagai judex juris, Mahkamah Agung Republik Indonesia
menerapkan Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 67 ayat (5) Undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan.
Berdasarkan ketentuan ini, maka persyaratan pembuktian
dari perkara kepailitan harus sederhana dan tidak rumit.
Pasal 67 ayat (5) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998
tentang Kepailitan:
“Untuk menghadap di muka pengadilan, Kurator harus
terlebih dahulu mendapatkan izin dari hakim pengawas, kecuali
menyangkut sengketa pencocokan piutang atau dalam hal-hal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 38, Pasal 39, dan
Pasal 57 ayat (2)”
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa perkara ini
adalah perkara yang menyangkut tuntutan pembagian atau
pembayaran deviden tahun 1998 dan 1999 yang belum dibayar oleh
PT. AJMI kepada PT. DSS (dalam pailit), lalu Kurator dari PT. DSS
(dalam pailit) menuntut pembayaran deviden tersebut dengan cara
mengajukan perkara pailit kepada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Hukum Kepailitan di Indonesia 229


Jadi, perkaranya adalah menyangkut pembagian deviden, bukan
menyangkut sengketa pencocokan utang. Karena bukan perkara
yang menyangkut pencocokan utang atau verifikasi utang, maka
berdasarkan Pasal 67 ayat (5) Undang-undang Nomor 4 Tahun
1998 tentang Kepailitan, Kurator, sebelum mengajukan perkara
kepada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, harus mendapat izin
terlebih dahulu dari hakim pengawas. Terbukti bahwa Kurator
tidak memperoleh izin dari hakim pengawas, sehingga
permohonannya untuk mempailitkan PT. AJMI, ditolak oleh
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat juga, semestinya menerapkan ketentuan tersebut, karena
Pasal 67 ayat (5) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan, merupakan norma yang mengikat dan bersifat
imperatif.
Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998
tentang Kepailitan: “Permohonan pernyataan pailit harus
dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti
secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) telah terpenuhi.”
Terbukti bahwa perkara kepailitan ini adalah perkara yang
pembuktiannya tidak sederhana. Karena masih ada sengketa lain
yang ada dan erat kaitannya dengan perkara ini, yang harus
dibuktikan yakni tentang sengketa kepemilikan saham di PT. AJMI
antara PT. DSS (dalam pailit) dengan RGA. Karena masih
bersengketa, sehingga belum jelas siapakah yang mempunyai
otoritas untuk mengajukan gugatan pembagian deviden
(keuntungan dari saham) kepada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Pembuktian mengenai hal ini tidak sederhana, sehingga menjadi
kompetensi pengadilan negeri.
Selain hal-hal yang penulis kemukakan di atas, karena yang
dituntut adalah pembagian deviden tahun 1998 dan 1999, maka
harus dibuktikan terlebih dahulu apakah ada deviden tersebut.
Kalau ada, karena deviden itu adalah hak dari para pemegang
saham, maka apakah RUPS sudah memutuskan untuk dibagi?
Terbukti bahwa RUPS menetapkan bahwa deviden akan
dibayarkan kepada para pemegang saham, apabila telah tercapai

230 Hukum Kepailitan di Indonesia


atau terpenuhi dana cadangan yang ditentukan oleh Menteri
Keuangan Republik Indonesia untuk suatu perusahaan asuransi.
Ternyata bahwa dalam perkara pemailitan PT. AJMI ini, belum ada
ketetapan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang dana
cadangan tersebut sudah terpenuhi atau belum.
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan,
tidak mengatur bahwa kepailitan suatu perusahaan harus
berdasarkan persetujuan dari mayoritas Kreditor (majority
lenders). Pengajuan permohonan pailit dapat dilakukan oleh dan
atas inisiatif Debitor (voluntary petition) dan dapat juga diajukan
oleh Kreditor terhadap Debitor (unvoluntary petition). Adanya
persetujuan mayoritas Kreditor, dapat mencegah terjadinya
pemailitan terhadap suatu perusahaan seperti halnya perusahaan
asuransi, padahal perusahaan tersebut masih going concern,
solven, dan prospektif. Persetujuan mayoritas Kreditor merupakan
salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap Kreditor, Debitor,
dan masyarakat luas, dan perlindungan hukum yang demikian
dapat menarik pihak investor menginventasikan uangnya di
Indonesia.
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan,
khususnya Pasal 1, tidak mengatur tentang otoritas Menteri
Keuangan Republik Indonesia sebagai satu-satunya yang dapat
mempailitkan suatu perusahaan asuransi, sebagaimana halnya
otoritas yang diberikan hanya kepada Bank Indonesia, apabila yang
dipailitkan adalah bank, dan otoritas yang diberikan hanya kepada
Badan Pengawas Pasar Modal, apabila yang dipailitkan adalah
perusahaan efek.
Pasal 20 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang
Usaha Perasuransian mengatakan dalam hal terdapat pencabutan
usaha perasuransian, maka Menteri Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan kepentingan umum dapat memintakan kepada
pengadilan agar perusahaan yang bersangkutan dinyatakan pailit.
Jadi, dengan alasan kepentingan umum, Menteri Keuangan
Republik Indonesia dapat (bukan harus) mempailitkan suatu
perusahaan asuransi yang telah dicabut terlebih dahulu izin
usahanya oleh Menteri tersebut.

Hukum Kepailitan di Indonesia 231


Berdasarkan Pasal 20 Undang-undang tersebut, maka selain
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Debitor, Kreditor, dan
kejaksaan demi kepentingan umum, dapat mempailitkan
perusahaan asuransi.
Karena Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan dan Pasal 20 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992
tentang Usaha Perasuransian, memberikan wewenang tidak saja
hanya kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia untuk
mempailitkan perusahaan asuransi, tetapi juga kepada Debitor,
Kreditor, dan kejaksaan demi kepentingan umum, maka setelah
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan
diundangkan, banyak perusahaan asuransi (termasuk PT. AJMI)
yang dipailitkan. Untuk merespon keinginan dari stakeholders,
yang ada kaitannya dengan asuransi, maka dalam RUU Kepailitan,
kewenangan untuk mempailitkan perusahaan asuransi, hanya
diberikan kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia. Menteri
Keuangan Republik Indonesia berdasarkan kewenangan yang ada
padanya, demi melindungi kepentingan umum dan masyarakat
luas, dapat mempailitkan perusahaan asuransi. Jadi kebijakan yang
ditempuh harus selalu mengacu kepada kesejahteraan masyarakat
banyak.
Selain alasan juridis formal yang dikemukakan dalam
putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut, tersirat
juga alasan-alasan sosiologis dan filosofis. Alasan sosiologis yakni
dengan memperhatikan kepentingan umum, khususnya para
stakeholders yang berkaitan dengan PT. AJMI, seperti kepentingan
400.000 pemegang polis yang perlu mendapatkan perlindungan
dari putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut.
Alasan filosofis, yang juga masih berkaitan dengan kepentingan
umum, yakni warga masyarakat luas. Jadi putusan Mahkamah
Agung Republik Indonesia tersebut telah menerapkan Teori
Utilitarisme dari Jeremy Benthan. Semboyan Teori Utilitarisme ini
adalah “kesejahteraan terbesar untuk warga masyarakat terbanyak
(the great happiness for the great members). Teori Utilitarisme
digunakan untuk analisis terhadap putusan Mahkamah Agung

232 Hukum Kepailitan di Indonesia


Republik Indonesia tersebut, masih sangat relevan dan tetap dapat
dipertahankan.
Diamping itu, konsep hukum Alan Hugo de Groot atau
Grotius yang berpendapat bahwa hukum harus mempunyai
moralitas yang tinggi sehingga tidak boleh ada satu pihak pun yang
dirugikan merupakan pisau analisis yang sesuai dengan putusan
Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Analisa penulis mengenai wewenang Kurator PT. DSS,
berdasarkan Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang:
Pasal 26: (penjelasan cukup jelas)
(1) Tuntutan mengenai hak atau kewajiban yang
menyangkut harta pailit harus diajukan oleh atau
terhadap Kurator.
(2) Dalam hal tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diajukan atau diteruskan oleh atau terhadap Debitor
Pailit, maka apabila tuntutan tersebut mengakibatkan
suatu penghukuman terhadap Debitor Pailit,
penghukuman tersebut tidak mempunyai akibat hukum
terhadap harta pailit.
Kurator PT DSS berwenang mengajukan permohonan pailit
PT AJMI atas harta PT DSS yaitu dividen atas saham PT AJMI, milik
PT DSS.
Pasal 78:
Tidak adanya kuasa atau izin dari Hakim Pengawas, dalam
hal kuasa atau izin diperlukan, atau tidak diindahkannya
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 dan Pasal
84, tidak mempengaruhi sahnya perbuatan yang dilakukan
oleh Kurator terhadap pihak ketiga.
Berdasarkan pasal ini, Kurator PT DSS tidak harus ada kuasa
atau izin dari Hakim Pengawas untuk mengajukan permohonan
pailit PT AJMI.
Pasal 8 ayat (4): Permohonan pernyataan pailit harus
dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti
secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah dipenuhi.

Hukum Kepailitan di Indonesia 233


6. Fungsi Kurator Dalam Perdamaian (Accoord)
Disamping berfungsi untuk mengurus dan membereskan
harta pailit Debitor pailit berfungsi juga dalam perdamaian atau
“accord”. Dalam Undang-undang No.37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, diatur
juga tentang fungsi Kurator dalam perdamaian, namun fungsi ini
lebih bersifat pasif karena berfungsi dalam administrasi saja.
Inisiatif perdamaian bersumber dari Debitor pailit, bukan dari
Kurator. Argumentasi ini yang menurut Penulis bahwa Kurator
bersifat pasif.
Argumentasi ini didukung oleh beberapa ketentuan, yaitu
antara lain:
1. Kurator wajib memberikan pendapat tertulis tentang rencana
perdamaian dalam rapat pencocokan piutang.
Pasal 146: Kurator dan panitia Kreditor sementara, masing-
masing wajib memberikan pendapat tertulis tentang rencana
perdamaian dalam rapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
145.
2. Kurator dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal
rapat terakhir harus memberitahukan kepada Kreditor yang
diakui atau Kreditor yang untuk sementara diakui yang tidak
hadir pada rapat pencocokan piutang dengan surat yang
memuat secara ringkas isi rencana perdamaian tersebut.
Pasal 148: Dalam hal pembicaraan dan pemungutan suara
mengenai rencana perdamaian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 147 ditunda sampai rapat berikutnya, Kurator dalam
jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal rapat terakhir
harus memberitahukan kepada Kreditor yang diakui atau
Kreditor yang untuk sementara diakui yang tidak hadir pada
rapat pencocokan piutang dengan surat yang memuat secara
ringkas isi rencana perdamaian tersebut.
3. Kurator wajib memberitahukan kepada Kreditor dengan surat
mengenai penetapan hari sidang.
Pasal 156 ayat(2): Dalam hal terdapat kekeliruan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 155, penetapan hari sidang akan

234 Hukum Kepailitan di Indonesia


dilakukan oleh Pengadilan dan Kurator Wajib
memberitahukan kepada Kreditor dengan surat mengenai
penetapan hari sidang tersebut.
4. Kurator wajib mengumumkan perdamaian dalam Berita
Negara Republik Indonesia dan surat kabar harian.
Pasal 166 ayat(2): Kurator wajib mengumumkan perdamaian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Berita Negara
Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar
harian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4).
5. Kurator akan bertugas kembali dengan pemberesan harta
pailit setelah kepailitan dibuka kembali.
Pasal 175 ayat(1): Setelah kepailitan dibuka kembali maka tidak
dapat lagi ditawarkan perdamaian.
Pasal 175 ayat(2): Kurator wajib seketika memulai dengan
pemberesan harta pailit.

Hukum Kepailitan di Indonesia 235


1. Kewenangan Hakim Pengawas Dalam Proses Pemberesan
Harta Pailit
Hakim Pengawas diatur pada Bagian Ketiga Tentang
Pengurusan Harta Pailit Paragraf I dari Pasal 65 sampai dengan
Pasal 68 dan tersebar dalam beberapa pasal UU Kepailitan. Pasal 1
Angka 8 UU Kepailitan menyebutkan Hakim Pengawas adalah
hakim yang ditunjuk langsung oleh Pengadilan dalam putusan
pailit atau putusan tentang penundaan kewajiban pembayaran
utang. Hal tersebut berkaitan dengan Pasal 15 UU Kepailitan yang
menyatakan bahwa dalam putusan pernyataan pailit harus
diangkat kurator dan seorang hakim pengawas yang ditunjuk dari
hakim pengadilan.
Hakim Pengawas mempunyai peranan yang sangat penting
dalam proses pemberesan harta pailit, terutama tugas Hakim
Pengawas yaitu mengawasi segala tindakan yang dijalankan oleh
Kurator dengan segala kewenangan yang ada padanya.
Kewenangan yang dilakukan oleh Hakim Pengawas diterimanya
berdasarkan penunjukan Pengadilan dalam putusan penyataan

236 Hukum Kepailitan di Indonesia


pailit. Beberapa langkah penting yang dilakukan seorang Hakim
Pengawas dalam menjalankan kewenangannya.
Skema 4. Prosedur Pemberesan Harta Pailit

Pengelolaan Budel & Perdamaian dalam


kepailitan

Pembagian -
Permohonan Pernyataan Tidak Dinyatakan
Kepailitan Pailit Insolvensi Pemberesan
Lunas

Rencana
Pernyataan Perdamaian Tidak Pembagian -
Pailit Ada/Ditolak Kreditor Dinyatakan Lunas

Majelis Hakim Menolak Perdamaian


Rehabilitasi
Mengesahkan Perdamaian Dibatalkan

Hakim Pengawas
mulai bekerja pada
tahap ini
Pengesahan Perdamaian Perdamaian
Pada prinsipnya Oleh Majelishakim
Hakim pengawas Dilaksanakanadalah wakil pengadilan

yang bertugas mengawasi kerja kurator, ruang lingkup tugas


hakim pengawas tidak hanya mengawasi atau memberikan
Apabila terbukti secara sederhana bahwa debitor/termohon memiliki setidaknya

persetujuan atau
ditagih, izin kepada kurator akan tetapi pailit. hakim pengawas
lebih dari dua utang, dan salah satu diantaranya telah jatuh tempo dan dapat
maka Pengadilan menyatakan debitor berada dalam keadaan
Selain memuat pernyataan pailit, putusan tersebut juga memuat pengangkatan

juga berwenang untuk memberikan instruksi kepada kurator agar


kurator, penunjukan Hakim Pengawas, serta pembentukan Panitia Kreditor
Sementara (apabila diperlukan).

melakukan atau tidak melakukan sesuatu sehubungan dengan


harta pailit. Kemudian hakim pengawas wajib didengar
pendapatnya oleh pengadilan sebelum mengambil putusan
mengenai pemberesan harta pailit. Hakim Pengawas berwenang
untuk mendengar saksi atau memerintahkan penyelidikan oleh
para ahli untuk memperoleh kejelasan segala hal yang berkaitan
dengan kepailitan.
Dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana diatur UU
Kepailitan Hakim Pengawas berwenang melakukan hal-hal sebagai
berikut :
1. Menerima permohonan dari kreditor pemegang hak
jaminan seperti gadai, hipotek, jaminan fidusia, hak
tanggungan atau pihak ketiga yang permohonannya
untuk melakukan pengangkatan penangguhan atas hak
eksekusi harta pailit, sesuai Pasal 57 Ayat (3) UU
Kepailitan.
2. Memberikan pendapat kepada pengadilan sebelum
pengadilan memutus sesuatu yang berkaitan dengan

Hukum Kepailitan di Indonesia 237


proses pemberesan harta Debitor pailit, sesuai Pasal 66
UU Kepailitan.
3. Hakim Pengawas berwenang mendengarkan keterangan
saksi atau memerintahkan penyelidikan oleh para ahli
berkaitan dengan kepailitan, sesuai Pasal 67 UU
Kepailitan.
4. Memberikan persetujuan kepada kurator untuk
melakukan pinjaman pihak ketiga apabila pinjaman
tersebut membebankan harta pailit dengan hak jaminan
kebendaan, gadai, hipotek, hak tanggungan, jaminan
fidusia, sesuai Pasal 69 Ayat (3) UU Kepailitan.
5. Memberi izin kepada kurator untuk menghadap
pengadilan sebagaimana maksud Pasal 69 Ayat (5) UU
Kepailitan.
6. Menerima laporan dari kurator setiap 3 (tiga) bulan
sekali berkaitan dengan keadaan harta pailit dan
pelaksanaan tugasnya, sesuai Pasal 74 Ayat (1) UU
Kepailitan.
7. Memberikan perpanjangan jangka waktu kepada kurator
untuk memberikan laporan keadaan harta pailit dan
pelaksanaan tugasnya, sesuai Pasal 74 Ayat (3) UU
Kepailitan.
8. Menerima keberatan dari Kreditor, Panitia Kreditor dan
dari Debitor tentang perbuatan yang dilakukan oleh
Kurator atau permohonan untuk mengeluarkan surat
perintah agar kurator melakukan perbuatan tertentu
atau tidak melakukan yang sudah direncanakan, sesuai
Pasal 77 Ayat (1) UU Kepailitan.,
9. Menawarkan kepada kreditor untuk membentuk Panitia
Kreditor Tetap setelah pencocokan piutang selesai
dilaksanakan, sesuai Pasal 80 Ayat (1) UU Kepailitan.
10. Memimpin/ketua jalannya rapat kreditor, sesuai Pasal
85 UU Kepailitan.
11. Menentukan hari, tanggal, waktu dan tempat
dilaksanakannya rapat kreditor pertama yang harus
dilaksanakan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah

238 Hukum Kepailitan di Indonesia


tanggal putusan pailit diucapkan, sesuai Pasal 86 Ayat (1)
UU Kepailitan.
12. Setelah tiga hari putusan pailit diucapkan, hakim
pengawas wajib meyampaikan rencana pelaksanaan
rapat kreditor kepada kurator, sesuai Pasal 86 Ayat (2)
UU Kepailitan.
13. Hakim Pengawas dapat mengadakan rapat kreditor
apabila dianggap perlu dan atas permintaan: Panitia
Kreditor atau sekurang-kurangnya lima kreditor yang
mewakili 1/5 (satu perlima) bagian dari jumlah piutang
yang diakui atau diterima dengan syarat, sesuai Pasal 90
Ayat (2) UU Nomor 37 Tahun 3004.
14. Hakim Pengawas memberikan izin kepada Debitor pailit
jika akan meninggalkan kota, sesuai Pasal 97 UU
Kepailitan.
15. Hakim Pengawas harus menetapkan a. batas akhir
pengajuan tagihan, b. batas akhir verifikasi pajak untuk
menentukan besarnya kewajiban pajak sesuai dengan
peraturan perundang-undanganpajak, c. hari, tanggal,
waktu dan tempat rapat kreditor untuk mengadakan
pencocokan piutang. Selambat-lambatnya 14 (empat
belas) hari setelah putusan pernyataan pailit diucapkan,
sesuai Pasal 113 Ayat (1) UU Kepailitan.
16. Meminta Debitor pailit memberikan keterangan dalam
rapat pencocokan piutang mengenai sebab kepailitan
dan keadaan harta pailit, sesuai Pasal 121 UU Kepailitan.
17. Memerintahkan kurator untuk membacakan daftar
piutang yang diakui dan daftar piutang yang dibantah
dalam rapat pencocokan piutang, sesuai Pasal 124 Ayat
(1) UU Kepailitan.
18. Menandatangani Berita Acara Rapat bersama dengan
Panitera Pengganti, sesuai Pasal 126 Ayat (4), Pasal 154
UU Kepailitan.
19. Mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa berkaitan
dengan piutang yang dibantah atau memeriksa
perselisihan antara pihak-pihak tersebut dan apabila

Hukum Kepailitan di Indonesia 239


damai tidak tercapai maka hakim pengawas
memerintahkan pihak-pihak untuk menyelesaikan
perselisihan tersebut di pengadilan, sesuai Pasal 127 UU
Kepailitan.
20. Hakim Pengawas menentukan hari dan tanggal
persidangan mengenai pengesahan rencana perdamian,
sesuai Pasal 156 UU Kepailitan.
21. Atas permintaan kreditor atau kurator, hakim pengawas
dapat memerintahkan supaya kelanjutan perusahaan
dihentikan, sesuai Pasal 183 Ayat (1) UU Kepailitan.
22. Apabila cukup uang tunai maka Hakim Pengawas dapat
memerintahkan Kurator untuk melakukan pembagian
kepada kreditor yang piutangnya telah dicocokan, sesuai
Pasal 188 UU Kepailitan.
23. Memberikan persetujuan atas daftar pembagian yang
telah disusun oleh kurator, sesuai Pasal 189 Ayat (1) UU
Kepailitan.
24. Hakim Pengawas menentukan hari, tanggal persidangan
untuk memeriksa perlawanan kreditor terhadap daftar
pembagian sebagaimana dimaksud Pasal 192,
persidangan tersebut terbuka untuk umum, sesuai Pasal
194 Ayat (1) UU Kepailitan.
25. Hakim Pengawas wajib memerintahkan pencoretan
terhadap pendaftaran hipotek, hak tanggungan, jaminan
fidusia yang membebani benda yang termasuk harta
pailit, segera setelah daftar pembagian yang memuat
pertanggungjawaban hasil penjualan benda yang
dibebankan menjadi mengikat, sesuai Pasal 197 UU
Kepailitan.
Penetapan Hakim pengawas yang tidak dapat diajukan
banding :
1. Segala sesuatu yang diperoleh Debitor seperti gaji, uang
jasa, upah, pensiun, uang tunggu, yang tidak termasuk
harta pailit, sesuai Pasal 22 huruf b.UU Kepailitan
2. Izin kepada kurator untuk meneruskan penjualan benda
milik Debitor dalam rangka eksekusi yang sudah

240 Hukum Kepailitan di Indonesia


ditetapkan jauh sebelum putusan pernyataan pailit
diucapkan, sesuai pasal 33 UU Kepailitan.
3. Permintaan dari Panitia Kreditor dalam hal yang
bersangkutan tidak setuju dengan pendapat kurator
sehubungan dengan tugas panitia kreditor dalam
memberikan pendapat kepada kurator, sesuai Pasal 84 UU
Kepailitan.
4. Izin kepada kurator untuk melanjutkan usaha Debitor
pailit, apabila dalam keadaan kepailitan tidak diangkat
Panitia Kreditor, sesuai Pasal 104 Ayat (2) UU Kepailitan.
5. Jumlah uang untuk biaya hidup Debitor dan keluarganya,
sesuai Pasal 106 UU Kepailitan.
6. Hari pengucapan sumpah kreditor atas permintaan
kurator untuk menguatkan kebenaran piutangnya yang
tidak dibantah oleh kurator atau oleh salah seorang
kreditor, sesuai Pasal 124, Pasal 125 Ayat(1) UU Kepailitan.
7. Berupa perintah kepada kurator dan kreditor untuk
menyelesaikan perselisihan, yang tidak dapat didamaikan
oleh Hakim Pengawas karena ada bantahan mengenai
pengakuan piutang dari kurator ke pengadilan niaga,
sesuai Pasal 127 Ayat (1) UU Kepailitan.
8. Berupa perintah atas permintaan kreditor atau kurator,
untuk menghentikan kelanjutan perusahaan Debitor
pailit, kelanjutan mana telah ditetapkan sebelum dalam
suatu rapat yang diadakan oleh Hakim Pengawas, sesuai
Pasal 181, Pasal 183 Ayat (1) UU Kepailitan.

2. Kewenangan Kurator Dalam Proses Pemberesan Harta Pailit


Kurator sebagaimana diuraikan dalam Pasal 1 huruf 5 UU
Kepailitan adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perorangan
yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan
harta Debitor pailit dibawah pengawasan Hakim Pengawas. Pasal
70 Ayat (2) UU Kepailitan disebutkan bahwa yang dapat menjadi
kurator sebagaimana dimaksud Ayat (1) huruf b adalah :

Hukum Kepailitan di Indonesia 241


a. Orang perorangan yang berdomisili di Indonesia, yang
memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka
mengurus dan atau membereskan harta pailit; dan
b. Terdaftar pada kementrian yang lingkup tugas dan
tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan
perundang-undangan.
Pada dasarnya kurator menggantikan kedudukan Debitor
untuk mengelola harta kekayaannya sejak pernyataan pailit
diputuskan pengadilan. Sejak dinyatakan pailit Debitor secara
hukum tidak dapat lagi menguasai dan mengurus harta
kekayaannya yang termasuk kedalam harta pailit. Kurator bekerja
demi kepentingan harta pailit dalam rangka menyelesaikan atau
membayar utang-utang Debitor kepada para kreditor. Kurator
harus bekerja untuk menambah atau mengamankan harta pailit
atau demi menjaga kepentingan kreditor. Kurator harus
bertanggung jawab atas kesalahan atau kelalaiannya dalam
melaksanakan tugas pemberesan harta pailit yang mengakibatkan
kerugian terhadap harta pailit mencakup juga kerugian terhadap
kepentingan kreditor.209
UU Kepailitan memberikan kewenangan kepada Pengadilan
untuk mengangkat Kurator sebagaimana disebutkan dalam Pasal
15 Ayat (1), Dalam hal Debitor, kreditor atau pihak lain yang
berwenang mengajukan permohonan pernyataan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (2), Ayat (3), Ayat (4)
atau Ayat (5) tidak mengajukan usul pengangkatan kurator kepada
Pengadilan maka Balai Harta Peninggalan diangkat selaku kurator.
Kurator yang diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
(1) UU Kepailitan harus independen, tidak mempunyai benturan
kepentingan dengan Debitor atau kreditor dan tidak sedang
menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban
pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara.
Dalam praktik pengadilan kurator diusulkan oleh pemohon
kepailitan, nama kurator yang diusulkan tercantum dalam petitum
permohonan pernyataan pailit yang diajukan pemohon. Karenanya

209
Mahkamah Agung RI, Mengenal Hukum Kepailitan Indonesia, Buku Pendamping,
hlm.15.

242 Hukum Kepailitan di Indonesia


sangat subjektif sementara UU Kepailitan mensyaratkan bahwa
kurator yang ditunjuk haruslah independen dan tidak mempunyai
kepentingan, Penjelasan Pasal 15 Ayat (3) UU Kepailitan
menyebutkan yang dimaksud dengan independen dan tidak
mempunyai kepentingan adalah bahwa kelangsungan keberadaan
kurator tidak bergantung kepada Debitor atau kreditor dan
kurator tidak mempunyai kepentingan ekonomis yang sama
dengan kepentingan ekonomis Debitor dan kreditor, untuk
membuktikan hal tersebut tidak mudah.
Sebagaimana Pasal 69 Ayat (1) UU Kepailitan menyebutkan
bahwa tugas pokok kurator adalah melakukan pemberesan harta
pailit, pengertian ini sangatlah luas dan tidak dibatasi. Pasal 65 UU
Kepailitan menyebutkan bahwa hakimpengawas mengawasi
pemberesan harta pailit. Pengawasan yang dilakukan oleh hakim
Pengawas tidak maksimal karena Hakim pengawas ditunjuk dari
Hakim Pengadilan dalam hal ini Hakim pengadilan Niaga yang juga
mesti menangani perkara di pengadilan.
Penggantian kurator dapat dikabulkan oleh Hakim Pengawas
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 71 UU Kepailitan yaitu :
(1) Pengadilan setiap waktu dapat mengabulkan usulan
penggantian kurator, setelah memanggil dan mendengar
kurator dan mengangkat kurator lain dan atau
mengangkat kurator tambahan atas :
a. permohonan kurator sendiri.
b. Permohonan kurator lainnya, jika ada
c. Usul Hakim Pengawas; atau Permintaan Debitor
pailit.
(2) Pengadilan harus memberhentikan atau mengangkat
kurator atas permohonan atau atas usulan kreditor
konkuren berdasarkan putusan rapat kreditor yang
diselenggarakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90,
dengan persyaratan putusan tersebut harus diambil
berdasarkan suara setuju lebih dari ½ jumlah kreditor
konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat dan
yang mewakili ½ jumlah piutang kreditor konkuren atau
kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut.

Hukum Kepailitan di Indonesia 243


Pelaksanaan tugas kurator selain diawasi oleh Hakim
Pengawas dan semua pihak yang berkepentingan dengan proses
pemberesan harta pailit tersebut, kepada kurator juga diwajibkan
membuat laporan setiap tiga bulan kepada Hakim Pengawasan
tentang keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya, laporan
tersebut bersifat terbuka untuk umum dan dapat dilihat oleh
setiap orang dengan cuma-cuma, sesuai Pasal 74 UU Kepailitan.
Pasal 77 Ayat (1) UU Kepailitan menyatakan bahwa Kreditor,
Panitia Kreditor dan Debitor dapat melakukan hal-hal :
1. Mengajukan keberatan kepada Hakim Pengawas terhadap
perbuatan yang dilakukan oleh kurator, atau
2. Memohon kepada Hakim Pengawas untuk mengeluarkan
surat perintah agar kurator melakukan perbuatan
tertentu atau tidak melakukan perbuatan tertentu yang
sudah direncanakan.
Hakim Pengawas setelah menerima keberatan tersebut
paling lambat 3 (tiga) hari harus menyampaikan kepada kurator
dan memberikan batas waktu kepada kurator untuk memberikan
tanggapan kepada Hakim Pengawas, setelah Hakim Pengawas
menerima tanggapan kurator paling lambat 3 (tiga) hari sudah
harus menerbitkan penetapan.
Dalam praktik pengadilan pada umumnya kurator diusulkan
oleh pemohon pailit dalam permohonannya, dalam proses
persidangan pemohon menyampaikan dokumen yang berkaitan
dengan pengusulan seseorang sebagai kurator dengan mengajukan
surat pengangkatan kurator tersebut oleh Kementrian Hukum dan
HAM serta pernyataan dari calon kurator tersebut bahwa ia tidak
sedang menangani perkara kepailitan sebagai kurator lebih dari
tiga perkara dan menyatakan kurator tersebut tidak terkait
kepentingan dengan kepailitan yang sedang berjalan.
Pangadilan selain mempertimbangkan bukti-bukti yang
diajukan sebagai lampiran permohonan pengajuan seseorang
sebagai kurator dalam kepailitan tersebut hendaknya Debitor
dapat mengajukan bukti lain yang menyatakan keberatan tentang
disusulkannya seseorang menjadi kurator dalam kepailitan in
cassu, keberatan tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi

244 Hukum Kepailitan di Indonesia


pengadilan untuk mengabulkan atau menolak seseorang sebagai
kurator.
Seharusnya asosiasi kurator atau pengurus mengajukan
nama-nama kurator atau pengurus dalam daftar ke pengadilan dan
pengadilan akan menunjuk kurator yang ada tercantum dalam
daftar nama kurator yang ada pada pengadilan, sehingga dapat
mencegah adanya rebutan perkara di lingkungan kurator dan
dapat memberikan peran lebih kepada asosiasi untuk melakukan
pengawasan dan pemberian sanksi oleh organisasi jika terdapat
kurator yang nakal dan tidak menjaga nama baik profesinya.
Beberapa tindakan Kurator yang memerlukan izin Hakim
Pengawas :
1. Untuk meneruskan penjualan benda milik Debitor dalam
rangka eksekusi yang sudah ditetapkan jauh sebelum
putusan pernyataan pailit diucapkan, sesuai Pasal 33 UU
Kepailitan.
2. Untuk tidak menerima suatu warisan, sesuai Pasal 40 Ayat
(2) UU Kepailitan.
3. Untuk meminta penyegelan harta pailit kepada
pengadilan niaga, sesuai Pasal 99 Ayat (1) UU Kepailitan.
4. Untuk melanjutkan usaha Debitor pailit, apabila dalam
kepailitan tidak diangkat panitia kreditor, sesuai Pasal 104
Ayat (2) UU Kepailitan.
5. Untuk menyimpan uang perhiasan, effek dan surat
berharga lainnya pada pihak lain atau oleh Hakim
Pengawas ditentukan lain, sesuai Pasal 108 Ayat (1) UU
Kepailitan.
6. Untuk menyimpan uang tunai yang tidak diperlukan
untuk pengurusan harta pailit di Bank untuk kepentingan
harta pailit, sesuai Pasal 108 Ayat (2) UU Kepailitan.
7. Untuk mengadakan perdamaian guna mengakhiri suatu
perkara yang sedang berjalan atau mencegah timbulnya
suatu perkara (dengan meminta saran Panitia kreditor),
sesuai Pasal 109 UU Kepailitan.
8. Untuk melakukan penjualan semua benda Debitor pailit
secara dibawah tangan dalam rangka pemberesan harta

Hukum Kepailitan di Indonesia 245


pailit setelah keadaan insolvensi terjadi, sesuai Pasal 185
Ayat (2) UU Kepailitan.
9. Untuk memutuskan hal-hal tertentu sehubungan dengan
semua benda yang tidak segera atau sama sekali tidak
dapat dibereskan, yang dilakukan setelah keadaan
insolvensi terjadi, sesuai Pasal 185 Ayat (3) UU Kepailitan.
Tindakan Kurator yang memerlukan persetujuan Hakim
Pengawas :
1. Untuk melakukan tindakan sah dan mengikat, dalam hal
terjadinya hasil pengambilan suara yang sama banyaknya
diantara para kurator yang setuju dan tidak setuju untuk
menyetujui pelaksanaan tindakan yang bersangkutan,
sesuai Pasal 127 Ayat (1) UU Kepailitan.
2. Untuk melakukan pencatatan dibawah tangan atas harta
pailit, sesuai Pasal 100 Ayat (2) UU Kepailitan.
3. Untuk melakukan tindakan sah dan mengikat, dalam hal
terjadi hasil pengambilan suara yang sama banyaknya
diantara para kurator yang setuju dan tidak setuju untuk
menyetujui pelaksanaan tindakan yang bersangkutan,
sesuai Pasal 127 Ayat (1) UU Kepailitan.
4. Daftar pembagian yang disusun olehnya sehubungan
dengan pembayaran piutang yang telah dicocokan kepada
kreditor setelah keadaan insolvensi terjadi, sesuai Pasal
189 UU Kepailitan.
Kedudukan kreditor dalam hukum kepailitan nasional
sebagaimana termuat dalam UU Kepailitan lebih cendrung untuk
mengutamakan kepentingan kreditor separatis dan kreditor
preferen, meskipun kreditor separatis mempunyai hak istimewa
karena sifat piutangnya yang dijaminkan dengan hak jaminan
kebendaan dimana kreditor separatis dapat melakukan eksekusi
atau pelelangan atas harta Debitor yang ada padanya sebagai
jaminan UU Kepailitan masih memberikan kesempatan kepada
kreditor separatis menagih dari sisa piutangnya kepada Debitor
karena jaminan yang ada padanya belum dapat melunasi semua
utang Debitor kepadanya dengan menjadi sebagai kreditor
konkuren.

246 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pemohon kepailitan yang berbentuk korporasi sebagian
besarnya adalah Bank dimana kreditor jenis ini mempunyai hak
jaminan, perbankan disebutkan bahwa dalam pelaksanaan
pengelolaan kegiatannya harus menerapkan asas kehati-hatian,
sehingga pada saat Bank melakukan perikatan perjanjian pinjam
meminjam dengan Debitornya hendaknya telah menerima jaminan
sesuai dengan nilai pinjaman yang diberikan kepada Debitornya,
sehingga kekurangan nilai dari jaminan kebendaan yang
dimilikinya akibat kreditor ini tidak menerapkan asas kehati-hatian
dengan baik, sehingga jika dalam penagihan piutangnya yang
dijamin dengan hak jaminan kebendaan ataupun dengan hak
tanggungan terdapat kekurangan nilai jaminan adalah merupakan
resiko dari pihak kreditor perbankan dan berlebihan jika
kekurangan pemenuhan piutangnya tersebut akan mengurangi
hak atau mengganggu hak dari kreditor konkuren lainnya dalam
kepailitan tersebut, kecuali jika nilai harta pailit dapat melunasi
semua utang-utangnya kepada semua kreditor.210
UU Kepailitan juga tidak melindungi kepentingan Debitor
secara maksimal dikaitkan dengan UU Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas, jika sebuah perseroan telah
dinyatakan pailit dengan menyatakan harta benda pailit dalam
keadaan insolvency secara hukum perseroan harus terlikuidasi,
dengan keadaan demikian tidak ada lagi kemungkinan perseroan
tersebut untuk eksis dalam kegiatannya, ini bertentangan dengan
maksud dan arah kebijakan pemerintah dibidang ekonomi dengan
menutup dan melikuidasi perseroan yang diajukan pailit yang
berkemungkinan masih bisa direstrukturisai.
Keadaan demikian bertentangan dengan maksud dan tujuan
dari UU Perseroan yang pada konsiderannya menyebutkan bahwa
perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efesiensi
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian
serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi

210
Lihat diagram 2, sumber Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Hukum Kepailitan di Indonesia 247


nasional perlu didukung oleh lembaga perekonomian yang kokoh
dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya disebutkan bahwa dalam rangka lebih
meningkatkan pembangunan perekonomian nasional yang
sekaligus memberikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha
dalam menghadapi perkembangan ekonomi di era globalisasi pada
masa mendatang, perlu didukung oleh suatu undang-undang yang
mengatur tentang perseroan terbatas yang dapat menjamin
terselenggaranya iklim dunia usaha yang kondusif, untuk lebih
memacu pembangunan perekonomian nasional yang disusun
sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.

3. Kepailitan Untuk Menyelesaikan Utang Debitor


Pranata atau lembaga kepailitan adalah merupakan salah
satu cara alternatif penyelesaian utang-utang Debitor, dengan
maksud lain masih terdapat lembaga-lembaga penyelesaian utang
seperti arbitrase, negosiasi antara Debitor dan kreditor atau
melalui gugatan perkara perdata biasa di Pengadilan Negeri.
Kepailitan menyangkut banyak kepentingan, yaitu kepentingan
para kreditor, kepentingan masyarakat juga kepentingan negara,
oleh sebab itu pranata atau lembaga kepailitan seyogianya hanya
merupakan sarana yang bersifat terakhir atau pamungkas atau
ultimum remidium.211
Dari hasil pengalaman selama berlangsungnya Pengadilan
Niaga, justru pihak-pihak (para kreditor) merasa tidak puas
terhadap pembayaran utang Debitor yang diperoleh dari hasil
penjualan seluruh aset Debitor. Pada umumnya, hasil harta pailit
tidak akan mencukupi untuk membayar lunas setiap piutang
kreditor. Kepailitan sebenarrnya adalah pembagian rasa sakit para
kreditor.212
Salah satu prinsip umum ketentuan kepailitan adalah paritas
creditorium yang berarti bahwa semua kreditor mempunyai hak
yang sama atas pembayaran dari hasil kekayaan Debitor yang
dibagikan secara proporsional menurut besarnya tagihan mereka

211
Sutan Remy Sjahdeini, op.cit., Hukum Kepailitan, 2002, hlm. 59.
212
Jerry Hoff, op.cit, hlm. 97.

248 Hukum Kepailitan di Indonesia


atau pro rata parte (Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPerdata). Prinsip
paritas creditorium tidak berlaku bagi kelompok kreditor separatis
dan kreditor preferen. Ditinjau dari sudut pandang Debitor,
kalangan bisnis sangat mengkhawatirkan lembaga kepailitan
karena mengakibatkan banyak perusahaan tidak operasional
(tutup). Bagi kalangan-kalangan bisnis dan wiraswasta domestik,
undang-undang kepailitan cenderung menjadi momok yang
menakutkan.213 Namun lembaga kepailitan setelah dibentuknya
Pengadilan Niaga berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun
1998 banyak mendapat perhatian. Dari kajian yang ada faktor-
faktor yang mendorong pihak-pihak terkait (para kreditor)
menggunakan lembaga kepailitan antara lain adalah:
a. Proses Permohonan Pailit Cepat :
Adanya pemberian kerangka waktu yang pasti dan cepat
dalam proses pemeriksaan dan pengambilan keputusan dalam
permohonan pernyataan pailit, baik ditingkat pertama maupun
ditingkat kasasi dan peninjauan kembali telah mendorong kreditor
khususnya untuk menggunakan lembaga kepailitan ini sebagai
sarana penyelesaian piutangnya. Upaya hukum terhadap putusan
Pengadilan Niaga adalah kasasi dan peninjauan kembali (tidak
mengenal banding ke Pengadilan Tinggi).

b. Pembuktiannya Sederhana :
Sistem pembuktian sederhana (sumir), artinya pemohon
cukup membuktikan secara sederhana bahwa persyaratan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang
Nomor 37 Tahun 2004 telah terpenuhi. Pembuktian akan adanya
utang yang rumit dan kompleks yang diperkirakan akan
membutuhkan waktu lama akan ditolak oleh Pengadilan Niaga.
c. Putusan Bersifat Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) :

213
Andi Muhammad Asrun, A. Prasetyantoko, dkk. Analisa Yuridis dan Empiris Peradilan
Niaga, Jakarta, CINLES, Centre for Information & Law, Economic Studies, Pusat
Informasi & Pengkajian
Hukum Ekonomi, 2000, hlm. 15.

Hukum Kepailitan di Indonesia 249


Putusan atas permohonan pernyataan pailit bersifat serta
merta, maksudnya putusan tersebut dapat dilaksanakan terlebih
dahulu meskipun terhadap putusan tersebut disediakan upaya
hukum kasasi dan peninjauan kembali.
d. Bersifat Adil :
Penyelesaian utang-utang Debitor pailit melalui lembaga
kepailitan secara prosedur dilakukan melalui proses yang cepat
dan transparan (time frame–nya jelas) sehingga lebih memberi
keadilan bagi para kreditor, orang-orang yang terkait
(berkepentingan) dengan usaha Debitor, bahkan terhadap Debitor
sendiri.
e. Memberi Kepastian Hukum :
Penyelesaian utang-utang Debitor melalui lembaga
kepailitan dengan proses yang cepat, transparan dan bersifat serta
merta memberi kepastian hukum bagi para kreditor, Debitor dan
lebih jauh memberi kepastian hukum bagi dunia usaha secara
makro.

4. Penyelesaian Sengketa Pailit


Krisis moneter tahun 1997 yang melanda Indonesia
merupakan salah satu penyebab banyak pengusaha Indonesia yang
tidak mampu lagi membayar utang-utang mereka terhadap
kreditor luar negeri, bahkan ada yang berhenti membayar utang-
utang mereka yang telah jatuh tempo. Bagi kreditor tanpa jaminan,
keadaan tersebut menjadi persoalan karena tidak ada aset yang
dapat diuangkan oleh kreditor. Salah satu jalan singkat untuk
memperoleh pembayaran adalah melalui proses kepailitan.
Upaya untuk mengatasi krisis moneter tidak terlepas dari
keharusan penyelesaian utang-utang luar negeri dari para
pengusaha Indonesia. Oleh karena itu, Internasional Monetary
Fund (IMF) mendesak agar Pemerintah RI segera mengganti atau
merubah peraturan kepailitan yang berlaku, (Faillisement

250 Hukum Kepailitan di Indonesia


Verordering) sebagai sarana agar utang-utang pengusaha
Indonesia kepada para kreditornya dapat segera diselesaikan.214
Tanggal 22 April 1998, lahirlah Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Tentang Kepailitan (disingkat
dengan Perpu Kepailitan). Perpu tersebut menjadi Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 1998, kemudian diubah menjadi Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004. Sejak diundangkannya Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, yang berwenang menetapkan
seseorang, perusahaan, atau badan usaha dalam keadaan pailit,
meminta penundaan pembayaran utang dan perkara perniagaan
adalah Pengadilan Niaga.
Pembentukan Pengadilan Niaga merupakan terobosan
fenomenal diantara berbagai upaya pendekatan untuk
menyelesaikan masalah penegakan hukum melalui lembaga
peradilan, disamping sebagai pionir bagi dilakukannya reformasi
peradilan untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang hukum dan
perekonomian terutama dalam penyelesaian sengketa bisnis.
Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus merupakan
simbol bergulirnya proses restrukturisasi institusi peradilan dalam
mengimbangi perkembangan sosial dan ekonomi, yang saat itu
sedang terkena krisis moneter sehingga perlu adanya penyelesaian
sengketa bisnis secara cepat.
Pembentukan suatu pengadilan khusus sebagaimana
diamanatkan pembentukannya oleh Undang-Undang Dasar 1945
dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman dilakukan melalui
undang-undang tersendiri.215

214
Sudargo Gautama, Komentar Atas Peraturan Kepailitan Baru Untuk Indonesia1998,
Cetakan I, P T Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hlm.1.
215
Sebagai contoh maka pembentukan pengadilan HAM tidak diatur pada Undang-
Undang Nomor 19 Tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia, melainkan melalui
Undang-Undang khusus, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 mengenai pengadilan
HAM, contoh lainnya adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Hukum Kepailitan di Indonesia 251


Susunan kekuasaan dan hukum acara sebagaimana
ditentukan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 24 A ayat (5)
menyebutkan :
“Susunan, kedudukan, keanggotaan dan hukum acara
Mahkamah Agung serta badan peradilan dibawahnya diatur
dengan undang-undang”.
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman dalam Pasal 2 ayat (3) menentukan bahwa
pembentukan pengadilan ditetapkan dengan undang-undang:
“Semua peradilan di seluruh Wilayah Negara Republik
Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan
undang-undang”.
Kedudukan Pengadilan Niaga adalah sebagai pengadilan
khusus dalam lingkungan peradilan umum tercantum dalam Pasal
27 dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman. Hal senada juga ditegaskan pada Pasal 8 Undang-
Undang Nomor 49 Tahun 2009 mengenai Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
yang menyebutkan:
"Di lingkungan Peradilan Umum dapat dibentuk pengadilan
khusus yang diatur dengan undang-undang".
Pengaturan keberadaan dan kewenangan Pengadilan Niaga
saat ini keberadaanya tercantum dalam Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang tidak dengan undang-undang tersendiri yang
mengatur tentang susunan, kedudukan, kewenangan dan hukum
acara Pengadilan Niaga sebagaimana ditentukan dalam Undang-
Undang Dasar 1945.
Menjadi persoalan hukum tatkala pengaturan keberadaan
dan kewenangan Pengadilan Niaga yang tercantum dalam
Undang-Undang Kepailitan tapi tidak dengan undang-undang
tersendiri, apakah tidak bertentangan dengan Undang-Undang
Dasar 1945 yang menentukan bahwa pembentukan Pengadilan
diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia ditetapkan dengan
undang-undang.

252 Hukum Kepailitan di Indonesia


Menurut Jimly Asshiddiqie,216 dalam Undang-Undang Dasar
1945:
“Ada undang-undang (i) yang diperintahkan untuk diatur
dengan undang-undang yang tersendiri, (ii) ada yang
diperintahkan untuk diatur dalam undang-undang, meskipun tidak
tersendiri, (iii) ada yang ditetapkan dengan undang-undang, (iv)
ada yang disahkan dengan undang-undang, (v) ada pula hal-hal
yang diberikan oleh undang-undang, (vi) ada yang diatur
berdasarkan undang-undang, atau. (vii) ada pula yang dijamin,
diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam kedelapan kategori tersebut, tidak semuanya berisi
perintah untuk membentuk undang-undang. Yang secara khusus
diperintahkan untuk dibentuk dengan undang-undang tersendiri
adalah pada kelompok pertama, yaitu yang menyatakan "diatur
dengan undang-undang". Pada kelompok kedua, perumusannya
berbunyi, "diatur dalam undang-undang". Artinya, materi yang
dimaksudkan disini dapat diatur dalam berbagai undang-undang
yang bukan bersifat tersendiri.”
Pengertian diatur dengan undang-undang dan dalam
undang-undang oleh Harun Alrasid, dinyatakan bahwa istilah
diatur dalam undang-undang (geregeld in de wet) ”tidak identik
dengan ”diatur dengan undang-undang (geregeld bij de wet)”
sebagaimana lazim berlaku. Dikatakan, ”diatur dalam undang-
undang (geregeld in de wet)” menjawab soal mengenai the where,
yaitu bahwasanya kaidah (norma) lebih lanjut daripadanya harus
termaktub dalam undang-undang, tidak dalam peraturan
perundang-undangan lainnya.
Sedangkan menurut Maria Farida Indrati, dikatakan ”dengan
undang-undang” maka artinya dibuatkan undang-undang
tersendiri atau harus dengan suatu undang-undang yang
tersendiri. Istilah-istilah ”de wet geregeld”, ”bij de wet geregeld”,
yang termasuk pada Grondwet voor het Koninkrijk der
Nederlanden, 1815, laatste wijzingen: Staatsblad 2002 No. 144, pada

216
Jimly Asshiddiqie, Perihal Undang-Undang, Jakarta: Konstitusi Press, 2006, hlm. 263-
268.

Hukum Kepailitan di Indonesia 253


Hoofdstuk 6, di bawah judul Rechtspraak, dipahami dalam makna
”regulated by act of parliament”, manakala hal sesuatu tersebut
tidak ternyata diatur dengan undang-undang (niet geregeld bij de
wet) maka dinyatakan inkonstitusional. Pendapat ini dikutip dalam
dissenting opinion oleh Laica Marzuki, dalam putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 19 Desember 2006
yang dalam pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi lainnya
halaman 283 ”Diatur dengan undang-undang juga berarti bahwa
hal dimaksud harus diatur dengan Peraturan Perundang-
undangan dalam bentuk undang-undang, bukan dalam bentuk
Perundang-undangan lainnya”.
Pembentukan Pengadilan Niaga yang diatur dalam Undang-
Undang Kepailitan adalah tidak tepat sebagaimana dinyatakan oleh
Hadi Shubhan,217
“Semestinya pembentukan Pengadilan Niaga yang
merupakan deferensiasi/spesialisasi dari peradilan umum harus
dibentuk dengan undang-undang tersendiri, tidak hanya
diselipkan dalam Undang-Undang Kepailitan. Dalam Pasal 24 A
ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa susunan,
kedudukan, keanggotaan dan hukum acara Mahkamah Agung serta
Badan Peradilan dibawahnya diatur dengan undang-undang.
Demikian pula dalam Undang-Undang Peradilan Umum tersebut
diatas dalam Pasal 8 ditegaskan bahwa dilingkungan Peradilan
Umum dapat diadakan pengkhususan yang diatur dengan undang-
undang. Kalimat dalam ketentuan konstitusi dan dalam Peraturan
Perundang-undangan tersebut secara expresis verbis dikatakan
“diatur dengan undang-undang”, maka seharusnya pengaturan
mengenai Pengadilan Niaga juga harus diatur dengan undang-
undang dan bukan hanya diatur dalam undang-undang. Pengertian
“diatur dengan undang-undang” berbeda dengan pengertian
“diatur dalam undang-undang”. Kalau “diatur dengan undang-
undang” maka berarti harus diatur dengan undang-undang
tersendiri yang khusus mengatur mengenai hal itu, sedangkan
kalau “diatur dalam undang-undang” maka bisa diselipkan dalam
217
Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008, hlm.
102-103.

254 Hukum Kepailitan di Indonesia


suatu undang-undang yang berkaitan dengan hal tersebut. Dengan
demikian, maka pengaturan Pengadilan Niaga yang diatur
“dalam”Undang-Undang Kepailitan tidak benar, seharusnya
Pengadilan Niaga diatur “dengan” undang-undang tersendiri yang
khusus mengatur mengenai Pengadilan Niaga.
Filosofi diselipkannya pengaturan Pengadilan Niaga dalam
Undang-Undang Kepailitan barangkali lebih pada aspek
pragmatisnya, sebab, jika hanya diatur secara sumir yang
kemudian akan diatur dengan undang-undang tersendiri, biasanya
pelaksanaannya molor dan tidak dibuat secara cepat. Hal ini bisa
pula dikaitkan dengan terdesaknya waktu untuk memberlakukan
Undang-Undang Kepailitan pada Tahun 1998 berkaitan dengan
jadwal dari letter of intent antara Indonesia dengan IMF. Namun
demikian alasan ini sama sekali tidak relevan pada saat lahirnya
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, dimana tidak ada
pertimbangan pragmatis seperti pada Tahun 1998 tersebut.” 218
Pembentukan pengadilan khusus harus dengan undang-
undang nampak pula dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
012-016-019/PUU-IV/2006 tanggal 19 Desember 2006 yang
menyatakan bahwa pembentukan pengadilan tipikor harus dengan
undang-undang bukan merupakan bagian dari Undang-Undang
Komisi Pemberantasan Korupsi (Pasal 53 Undang-Undang No. 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi).
Rukmana Amanwinata berpendapat lain bahwa dasar hukum
pembentukan Pengadilan Niaga merujuk kepada Pasal 24 ayat (3)
Undang Undang Dasar 1945 yang menyatakan badan-badan lain
yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur
dalam undang-undang.
Kompetensi Pengadilan Niaga pada dasarnya (semula ber-
dasarkan ketentuan Pasal 280 Perpu Nomor 1 Tahun 1998 jo
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998), sekarang berdasarkan
Pasal 300 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004), adalah
memeriksa dan memutus perkara Permohonan Pernyataan Pailit

218
Ibid.

Hukum Kepailitan di Indonesia 255


(PPP) dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan
perkara lain di bidang perniagaan. Adapun perkara lain dibidang
perniagaan yang saat ini diperiksa Pengadilan Niaga adalah
perkara dibidang hak kekayaan intelektual yaitu Desain Industri
(Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000), Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu (Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000), Paten
(Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016), Merek (Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2016) dan Hak Cipta (Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2014).
Berdasarkan ketentuan Pasal 300 Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 ditentukan bahwa :
(1) Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam undang-
undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan
pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran
utang, berwenang pula memeriksa dan memutus
perkara lain dibidang perniagaan yang penetapannya
dilakukan dengan undang-undang.219
(2) Pembentukan-Pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan secara bertahap dengan Keputusan
Presiden, dengan memperhatikan kebutuhan dan
kesiapan sumber daya yang diperlukan.
Sejak diundangkannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1998
Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang No. 1 Tahun 1998 Tentang Kepailitan menjadi undang-
undang (Selanjutnya disingkat UUK). maka terminologi perniagaan
semakin dikenal di kalangan pebisnis terlebih lagi jika menghadapi
sengketa di antara mereka.
Undang-Undang Kepailitan sendiri tidak menjabarkan apa
yang dimaksud dengan perniagaan. Pasal 300 Undang-Undang
Kepailitan hanya menyebutkan, Pengadilan sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang ini, selain memeriksa dan memutus

219
Ketentuan Pasal 301 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan,
bahwa:
“(2)Dalam hal menyangkut perkara lain di bidang perniagaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 300 ayat (1), Ketua Mahkamah Agung dapat menetapkan jenis dan nilai
perkara yang pada tingkat pertama diperiksa dan diputus oleh hakim tunggal.”

256 Hukum Kepailitan di Indonesia


permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban
pembayaran utang, berwenang pula memeriksa dan memutus
perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan
dengan undang-undang.
Mengingat tidak ada penjabaran lebih rinci apa yang
dimaksud dengan perniagaan dalam Undang-Undang Kepailitan,
dalam pelaksanaanya telah menimbulkan multi interpretasi, dan
sengketa kompetensi jika demikian halnya, maka maksud dan
tujuan diterbitkannya Undang-Undang Kepailitan yakni untuk
mempercepat proses penyelesaikan sengketa bisnis jauh dari
harapan pencari keadilan (Justitiabelen). Dalam konteks inilah,
langkah awal yang kiranya dapat dilakukan adalah menelusuri
makna, apa yang dimaksud dengan perniagaan dalam berbagai
sudut pandang.
Pertimbangan dikeluarkannya Undang-Undang Kepailitan
oleh legislatif secara implisit selain menggunakan terminologi
"perniagaan" juga menggunakan terminologi "dunia usaha" dan
"perusahaan". Menjadi pertanyaan adalah, apakah seluruh
sengketa dunia usaha dan atau perusahaan harus diselesaikan
melalui Pengadilan Niaga atau penyelesaian sengketa dunia usaha
melalui Pengadilian Niaga harus memenuhi kriteria tertentu,
sehingga tidak tumpang tindih dengan wewenang badan peradilan
lainnya?
Pasal tersebut jika ditelusuri lebih lanjut, akan menimbulkan
pertanyaan apakah yang dimaksud dengan pasal itu "perkara lain
dibidang perniagaan", yang dimaksud dengan "perkara lain
dibidang perniagaan" itu dianggap sebagai "Commercial Matters"220
atau "Commercial Action"221atau "Commercial Case"222.

220
Sudargo Gautama (c), op.cit. hlm 163-164; Sudargo Gautama (g): "Aneka Masalah
Hukum Perdata Internasional", Alumni, Bandung, 1985, hlm 246; Sudargo Gautama (h):
"Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata Internasional", Alumni, Bandung,
1983, hlm 23, 33, 35 dan 36; Sudargo Gautama (i): "Kapita Selekta Hukum Perdata
Internasional", Alumni, Bandung, 1983, hlm 23, 24, 26, 28, 42, 45, 51, 62-64; dan Sudargo
Gautama (j): "Hukum Perdata dan Dagang Internasional", Alumni, Bandung, 1980, hlm
110, 120, 122-123;
221
Ibid. hlm 13, 28, 29 dan 204;
222
Ibid. hlm 27;

Hukum Kepailitan di Indonesia 257


Bagaimana halnya dalam peraturan perundang-undangan,
apakah ada ketentuan yang mengatur tentang ruang lingkup
perniagaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, tampaknya perlu
ditelusuri ketentuan yang mengatur kaum pedagang atau dunia
usaha pada umumnya. Jika ditelusuri ketentuan hukum yang
khusus mengatur kalangan pedagang, dapat ditemukan dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)223. KUHD yang
berlaku di Indonesia saat ini adalah merupakan ketentuan hukum
yang berasal dari Belanda Wetboek van Koophandel (WvK) . WvK
sendiri pada dasarnya berasal dari Code de Commerce (CdC) di
Perancis. Disebut pada dasarnya, karena dalam beberapa hal ada
perbedaan antara WvK dengan CdC. Perbedaan yang mencolok
adalah dalam CdC dikenal adanya peradilan khusus untuk
penyelesaian kasus perniagaan (Speciale Handelsreehtbanken).
Munculnya badan peradilan khusus ini, tidak bisa dilepaskan dari
perkembangan hukum perdata. Pada waktu itu para pedagang
dianggap sebagai golongan tersendiri dengan perbuatan
perniagaannya serta perikatan dagangnya dan bahkan mereka
mengadakan badan peradilan sendiri untuk menyelesaikan
sengketa dagang.
Peraturan perundang-undangan jika ditelusuri bahwa
terminologi perdagangan dan perniagaan dianggap sama. Hal ini
dapat dilihat dalam pengertian Pedagang yang dijabarkan dalam
Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian No.
23/MPM/Kep/1998 Tentang Lembaga-lembaga Usaha
Perdagangan, dalam Pasal 1 butir 2 disebutkan :"Pedagang adalah
perorangan atau badan usaha yang melakukan kegiatan
perniagaan/perdagangan secara terus menerus dengan tujuan
memperoleh laba". Kriteria yang digunakan adalah ada usaha yang
terus menerus. Sedangkan rumusan perusahaan antara lain
dijelaskan dalam UU No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar

223
Nama resmi untuk padanan kata Wetboek van Koophandel (WvK) termuat dalam
Tambahan Berita Negara RI. No. 759 tanggal 15 Desember 1953 adalah "Buku Undang-
Undang Perniagaan ". Lihat R Soekardono. Hukum Dagang Indonesia. Jilid I (bagian
pertama). Jakarta : Soeroengan, 1963. Cet. 3 hal. 6 dalam catatan kaki. Istilah perniagaan
juga digunakan oleh RA.Koesnoen dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum
Perniagaan (Wetboek van Koophandel), Sumur, Bandung, 1961.

258 Hukum Kepailitan di Indonesia


Perusahaan (UU WDP), Pasal 1 butir b. menyebutkan :"Perusahaan
adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha
yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja
serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia,
untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba". Rumusan
senada tentang perusahaan dapat ditemui dalam Undang-Undang
No. 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan (UU DP), Pasal 1
butir I menyebutkan :"Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang
melakukan kegiatan secara tetap dan terus menerus dengan
tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. baik yang
diselenggarakan oleh orang-perorangan maupun badan usaha
yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum, yang
didirikan dan berkedudukan dalam wilayah Negara Republik
Indonesia".
Istilah perusahaan selain dalam peraturan perundang-
undangan dikenal pula istilah perdagangan, hal ini terdapat dalam
UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa (UU AAPS). Pasal 66 butir b menyebutkan
:"Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat
dilaksanakan di wilayah Republik Indonesia, apabila memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut (b). Putusan Arbitrase Internasional
sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan
yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang
lingkup hukum perdagangan. Selanjutnya dalam penjelasan pasal
ini disebutkan, yang dimaksud dengan "ruang lingkup hukum
perdagangan" adalah kegiatan-kegiatan antara lain bidang : 1)
Perniagaan; 2) Perbankan; 3) Keuangan; 4) Penanaman Modal; 5)
Industri dan 6) Hak Kekayaan Intelektual. Dalam penjelasan pasal
ini kembali dijumpai istilah perniagaan, namun tidak dijelaskan apa
yang dimaksud dengan perniagaan.
Sejak diberlakukannya UUK jika dicermati, bahwa sengketa
bisnis yang diajukan ke Pengadilan Niaga berbagai macam kasus,
tapi kewenangan ini tidak jelas dan tegas disebutkan dalam
Undang-Undang Kepailitan. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh tim penulis dari Universitas Andalas Padang
tentang eksistensi Pengadilan Niaga, lingkup kegiatan niaga dapat

Hukum Kepailitan di Indonesia 259


dikelompokkan ke dalam delapan sub spesies hukum yakni :1.
Perbankan; 2. HKI; 3. Perjanjian Dagang; 4. Perlindungan
Konsumen; 5. Asuransi; 6. Perseroan; 7. Pengangkutan; dan 8.
Pasar Modal. Ke delapan sub spesies ini dapat dikembangkan
menjadi 15 sub spesies hukum yang meliputi :1. Kredit Modal Kerja;
2. Sewa Menyewa; 3. Purchasing Order; 4. Promisory Note; 5.
Kontrak Kerja; 6. Utang Piutang; 7. Kartu Kredit; 8. L/C; 9. Kredit
Pembiyaan; 10. Jaminan Pribadi; 11. anjak Piutang; 12. Pinjaman
sindikasi; 13. Surat sanggup; 14. Asuransi; 15. Obligasi.224
Sejak diberlakukannya UUK telah terjadi perluasan
kewenangan Pengadilan Niaga tidak hanya kasus dalam kepailitan
dan PKPU tetapi meliputi kasus-kasus sengketa bisnis.
Dikaji dari proses pembentukannya Pengadilan Niaga
diperuntukkan sebagai model atau contoh bagi pengadilan lainnya
di Indonesia. Eksistensi Pengadilan Niaga difungsikan sebagai
lembaga peradilan yang efektif dan juga sebagai laboratorium bagi
terciptanya berbagai kebijakan dan prosedur yang akan mengarah
kepada pengembangan sistem peradilan Indonesia secara
keseluruhan. Pengadilan Niaga merupakan salah satu proses
pembaruan dalam penanganan perkara secara cepat, adil, terbuka,
dan efektif dan dapat diterapkan dalam pengadilan khusus lainnya:
Penanganan perkara harus diselesaikan dalam waktu relatif
singkat baik terhadap perkara kepailitan, maupun Hak Kekayaan
Intelektual.225
Menurut Pasal 299 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, kecuali ditentukan lain
dengan undang-undang, hukum acara perdata yang berlaku dite-
rapkan pula terhadap Pengadilan Niaga. Hukum acara perdata
yang berlaku pada saat ini adalah HIR/RBg, namun kalau dipelajari
isi dari Undang-Undang Kepailitan tampak bahwa terdapat
ketentuan-ketentuan acara yang berbeda atau menyimpang dari
ketentuan-ketentuan dalam HIR/RBg.

224
Hermayulis.Kedudukkan, Tugas dan Fungsi Organisasi Pengadilan Niaga. Makalah
yang disamampaikan dalam Workshop tentang "Judicial Organization Of Commercial
Court" yang diselenggarakan oleh CINLES, Jakarta 28-29 Nopember 2002.
225
Lilik Mulyadi, Kompilasi Hukum Perdata, PT Alumni, Bandung, 2009, hlm. 304-307.

260 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pembahasan keberadaan hukum acara bagi penyelesaian
sengketa bisnis di Pengadilan Niaga, perlu dibahas arah
kompetensi Pengadilan Niaga. Sebagaimana dikemukakan dalam
Pasal 299 Undang-Undang Kepailitan, kecuali ditentukan lain
dalam undang-undang ini maka hukum acara yang berlaku adalah
Hukum Acara Perdata.
Berkaitan dengan masalah hukum acara di Pengadilan Niaga,
ada beberapa hal yang mempunyai sifat kekhususan dalam
penyelesaian perkara antara lain, berkaitan dengan:
1. Upaya hukumnya adalah kasasi ke Mahkamah Agung,
bahkan dalam perkara hak milik intelektual secara tegas
disebutkan upaya hukum terhadap putusan Pengadilan
Niaga hanya kasasi.
2. Upaya hukum peninjauan kembali di Pengadilan Niaga
untuk perkara kepailitan alasannya ditentukan secara
limitatif berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004, bahkan dalam procedure renvooi terhadap
tagihan piutang dalam rapat verifikasi keberatan dari
kreditor yang sudah diputus oleh hakim Pengadilan
Niaga tidak ada upaya hukum.
Ternyata Mahkamah Agung dalam beberapa putusannya
tentang upaya hukum yang seharusnya tidak dibuka upaya hukum
malah telah memutus sampai dua kali sampai tingkat peninjauan
kembali yaitu dalam perkara rapat verifikasi untuk pencocokan
utang Debitor pailit yang terjadi perselisihan jumlah piutang dan
tidak dapat didamaikan oleh Hakim Pengawas.
Bantahan atau perselisihan jumlah utang antara para pihak
tersebut, oleh Hakim Pengawas diminta kepada kurator untuk
memberikan pendapatnya tetapi jika ditolak oleh kreditor maupun
Debitor harus diajukan procedure renvooi berdasarkan Pasal 118 jo
Pasal 127 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan.
Putusan terhadap procedure renvooi menurut Pasal 8 ayat
(1) Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 maupun Pasal 11 ayat (1)
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan tidak
dapat diajukan upaya hukum, bahkan dalam Pasal 82 Undang-
Undang No. 4 Tahun 1998 dan Pasal 91 Undang-Undang No. 37

Hukum Kepailitan di Indonesia 261


Tahun 2004 ditentukan bahwa putusan terhadap pengurusan dan
atau pemberesan harta pailit ditetapkan oleh Pengadilan dalam
tingkat terakhir, kecuali undang-undang menetukan lain.
Mahkamah Agung dalam perkara procedure renvooi No.
02/PAILIT/2003/ PN.NIAGA.SBY. ternyata telah mengabulkan
upaya hukum terhadap procedure renvooi yaitu upaya hukum
kasasi dan kemudian dikuatkan pula oleh putusan peninjauan
kembali pertama tetapi dibatalkan kembali oleh peninjauan
kembali kedua, padahal jelas dan tegas terhadap perkara
procedure renvooi merupakan putusan tingkat terakhir tidak ada
upaya hukum lain, malah Mahkamah Agung menggabulkan
peninjauan kembali sampai dua kali yang menurut Pasal 66
Undang-Undang Mahkamah Agung peninjauan kembali hanya
diajukan satu kali.
Mahkamah Agung dalam mengabulkan upaya hukum
peninjauan kembali terhadap putusan Pengadilan Niaga dalam
perkara procedure renvooi kepailitan merupakan ketidaktaatan
dan ketidakkonsistenan terhadap asas-asas hukum yang telah
ditentukan secara normatif dalam undang-undang.
Upaya hukum Peninjauan Kembali dalam perkara hak
kekayaan intelektual tidak diatur sebab hal-hal tersebut dapat
dilihat dari bunyi pasal-pasal sebagai berikut:
1. Undang-Undang Tentang Desain Industri.
Pasal 40 : Terhadap putusan Pengadilan Niaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2) hanya
dapat dimohonkan kasasi.
2. Undang-Undang Tentang Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu.
Pasal 32: Terhadap putusan Pengadilan Niaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) hanya
dapat dimohonkan kasasi.
3. Undang-Undang Tentang Paten.
Pasal 122: Terhadap putusan Pengadilan Niaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 121 - ayat (3) hanya
dapat diajukan kasasi.
4. Undang-Undang Tentang Merek.

262 Hukum Kepailitan di Indonesia


Pasal 82: Terhadap putusan Pengadilan Niaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (8) hanya
dapat diajukan kasasi.
5. Undang-Undang Tentang Hak Cipta.
Pasal 62 ayat (1) : Terhadap putusan Pengadilan Niaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (4) hanya
dapat diajukan kasasi.
Mahkamah Agung dalam putusannya telah menggabulkan
permohonan peninjauan kembali yaitu dalam perkara hak
kekayaan intelektual No. 084PK/Pdt.Sus/2008 dengan
pertimbangan bahwa meskipun Undang-Undang No. 13 Tahun
2016 tentang Paten tidak mengatur tentang peninjauan kembali
namun hanya mengatur mengenai kasasi, oleh karena Pasal 23
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman menentukan terhadap putusan Pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimintakan peninjauan
kembali.
Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas Mahkamah Agung
berpendapat terdapat cukup alasan untuk mengabulkan
permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh pemohon
peninjauan kembali: PT. Karya Adikita Galvanize dan membatalkan
putusan Mahkamah Agung No.023 K/N/Haki/ 2007 tanggal 18
desember 2007 serta Mahkamah Agung akan mengadili kembali
perkara ini.
Putusan Mahkamah Agung yang menggabulkan permohonan
Peninjauan Kembali terhadap perkara procedure renvooi
kepailitan dan perkara hak paten yang secara normatif tidak
diperkenankan oleh peraturan perundang-undangan tetapi
dengan putusan hakim dimungkinkan untuk mengajukan
Peninjauan Kembali, padahal ide dasar yang ingin diterapkan
dengan pembentukan Pengadilan Niaga adalah Penyelesaian
secara sederhana, cepat dan biaya ringan dalam pemeriksaan
perkara untuk tercapainya kepastian hukum dalam sistem
peradilan Indonesia.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa pengaturan
keberadaan Pengadilan Niaga dalam Undang-Undang Kepailitan,

Hukum Kepailitan di Indonesia 263


ketidakjelasan kewenangan Pengadilan Niaga dalam hal yang
dimaksud dengan perkara perniagaan lainnya dalam konteks
perkara bisnis, dan pengaturan upaya hukum Peninjauan Kembali
di Pengadilan Niaga, telah memberikan indikasi bahwa
pelaksanaannya dalam praktik tidaklah bersifat sederhana bahkan
sering terjadi hambatan-hambatan yang berada diluar prosedur
akibatnya penyelesaian perkara di Pengadilan Niaga tidak lebih
cepat dari proses penyelesaian melalui Pengadilan Negeri bahkan
sering kali biaya yang dipikul oleh para pihak tidak lebih murah
daripada melalui proses Pengadilan Negeri.
Proses pemeriksaan, putusan dan upaya hukum di
Pengadilan Niaga walaupun telah ditentukan limit waktu
penyelesaiannya sering kali para pihak harus menghadapi adanya
keterlambatan penyelesaian ataupun pihak yang kalah mengulur-
ngulur waktu dengan mengajukan peninjauan kembali setelah
jangka waktu yang cukup lama dari putusan berkekuatan hukum
tetap, kesemuanya itu telah menunjukan betapa panjangnya jalan
hukum yang harus ditempuh oleh pencari keadilan di Pengadilan
Niaga, sehingga dapat dikatakan bahwa penyelesaian sengketa
bisnis melalui Pengadilan Niaga tidak selamanya lebih efisien atau
lebih efektif jika dibandingkan dengan prosedur di Pengadilan
Negeri.
Sistim peradilan di Indonesia secara jelas tercantum dalam
Pasal 24 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 yang menyatakan
kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan.
Asas utama yang secara universal dikenal di dunia peradilan
adalah asas pemeriksaan sederhana, cepat dan biaya ringan. Asas
ini sejalan dan setujuan dengan salah satu asas peradilan unggul
yang diperkenalkan didunia internasional dengan sebutan “Court
Excellent Procedure”. Asas peradilan yang unggul ini merupakan
hasil Konsorsium Internasional tentang Kerangka Internasional
Untuk Keunggulan Peradilan (International Framework For Court

264 Hukum Kepailitan di Indonesia


Excellence).226 Peradilan unggul mempunyai acara peradilan yang
adil, efisien, dan efektif dengan mengutamakan ketepatan waktu,
ketepatan jadwal sampai pada minutasi perkara untuk
menghindari menumpuknya tunggakan perkara.
Penyelesaian perkara bisnis melalui Pengadilan Niaga
merupakan semangat dan harapan baru bagi para pencari keadilan
untuk dapat menemukan cara yang lebih cepat dan tepat serta
menarik minat para pelaku bisnis dalam menyelesaikan sengketa,
akan tetapi ternyata dalam praktik masih menimbulkan perkara
berupa tidak jelas dan lambatnya para pencari keadilan
mendapatkan kepastian hukum atas putusan Pengadilan Niaga, hal
ini disebabkan didalam Undang-Undang Kepailitan masih terdapat
pasal-pasal yang tidak jelas dan tidak rinci sehingga memberikan
kesempatan kepada para pihak untuk mengulur-ngulur
pelaksanaan putusan, padahal seharusnya sesuai dengan sifat
putusan Pengadilan Niaga yang bersifat serta merta sehingga
dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun para pihak
melakukan upaya hukum.

5. Dinamika Penyelesaian Sengketa


Kosa kata Inggris terdapat 2 (dua) istilah, yakni "conflict" dan
"dispute" yang kedua-duanya mengandung pengertian tentang
adanya perbedaan kepentingan diantara kedua pihak atau lebih,
tetapi keduanya dapat dibedakan. Kosa kata conflict sudah diserap
ke dalam bahasa Indonesia menjadi "konflik", sedangkan kosa kata
"dispute" dapat diterjemahkan dengan kosa kata "sengketa".
Sebuah konflik, yakni sebuah situasi di mana 2 (dua) pihak atau
lebih dihadapkan pada perbedaan kepentingan, tidak akan
berkembang menjadi sebuah sengketa apabila pihak yang merasa
dirugikan hanya memendam perasaan tidak puas atau keprihatin-
annya. Sebuah konflik berubah atau berkembang menjadi sebuah

226
http para penanda tangan yang mewakili Konsorsium Internasional untuk
Keunggulan Peradilan termasuk : Lembaga Administrasi Kehakiman Australia; Pusat
Kehakiman Federal; Pusat Nasional untuk Pengadilan Negara Bagian (NCSC); dan
Peradilan Subsidiar Singapura. Hasil Konsorsium ini sudah diluncurkan pada tanggal 15
November 2007.

Hukum Kepailitan di Indonesia 265


sengketa bilamana pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan
rasa tidak puas atau keprihatinannya, baik secara langsung kepada
pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian atau kepada pihak
lain.227
Sengketa merupakan kelanjutan dari konflik. Sebuah konflik
akan berubah menjadi sengketa bila tidak dapat terselesaikan.
Konflik dapat diartikan "pertentangan" diantara para pihak untuk
menyelesaikan masalah yang kalau tidak diselesaikan dengan baik
dapat mengganggu hubungan di antara mereka. Sepanjang para
pihak tersebut dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik,
rnaka sengketa tidak akan terjadi, namun bila terjadi sebaliknya,
para pihak tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai solusi
pemecahan masalahnya, maka sengketalah yang timbul.
Penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui beberapa cara.
Peradaban manusia yang berkembang semakin kompleks
membawa serta perubahan posisi manusia dari ketertinggalan
dalam kepentingan kelompok menjadi individu-individu yang
mandiri, yang memiliki kepentingan-kepentingan yang tidak dapat
begitu saja ia korbankan pada kepentingan kelompok, maka
konflik, cara penyelesaiannya, serta nilai yang ingin dicapai dengan
penyelesaian itu pun ikut mengalami perkembangan.228
Ekses perkembangan hukum yang semakin luas memberikan
perlindungan, atas hak-hak yang dimiliki oleh seseorang dari per-
buatan orang lain yang merugikannya, tata pergaulan dunia baru
pasca Perang Dunia II, semakin langkanya sumber daya alam,
pandangan sustainable business relationship, telah memberikan
sumbangan bagi munculnya cara-cara penyelesaian sengketa yang
tidak melulu bertumpu pada nilai-nilai menang atau kalah.
Perselisihan itu bisa disebabkan oleh hal yang sepele dan
tidak mempunyai akibat hukum apa pun, seperti perbedaan
pendapat antara suami-istri, tentang penentuan waktu
227
Siti Megadianty Adam dan Takdir Rahmadi."Sengketa dan Penvelesaiannya". Buletin
Musyawarah Nomor 1 Tahun I. Indonesian Center for Environmental Law, Jakarta, 1997,
hlm. 1.
228
Roedjiono. 1996. Alternative Dispute Resolutions (Pilihan Penyelesaian Sengketa).
Makalah pada Penataran Dosen Hukum Dagang Se-Indonesia. Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm. 1 - 2

266 Hukum Kepailitan di Indonesia


keberangkatan ke luar kota, atau bisa pula merupakan persoalan
serius dan mempunyai akibat hukum, misalnya tentang batas
tanah dengan tetangga atau perselisihan atas perjanjian yang telah
dibuat sebelumnya. Perselisihan atau persengketaan semacam ini
merupakan suatu keadaan yang tidak dikehendaki oleh setiap
orang yang sehat akal dan pikirannya.229
Dewasa ini, berbagai macam konflik atau sengketa sering
muncul dalam masyarakat. Penyebabnya sangat beraneka macam
dan multidimensi, seperti karena masalah ekonomi, politik, agama,
suku, golongan, harga diri, dan sebagainya. Hal ini kemudian
menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest). Konflik atau
sengketa merupakan aktualisasi dari suatu perbedaan dan atau
pertentangan antara dua pihak atau lebih.
Pertentangan kepentingan itulah yang menimbulkan
perselisihan/persengketaan. Untuk menghindari gejala tersebut,
mereka mencari jalan untuk mengadakan tata tertib, yaitu dengan
membuat ketentuan atau kaidah hukum, yang harus ditaati oleh
setiap anggota masyarakat, agar dapat mempertahankan hidup
bermasyarakat.
Kaidah hukum yang ditentukan itu, setiap orang diharuskan
untuk bertingkah laku sedemikian rupa, sehingga kepentingan
anggota masyarakat lainnya akan terjaga dan dilindungi. Apabila
kaidah hukum itu dilanggar, maka kepada yang bersangkutan akan
dikenakan sanksi atau hukuman.
Kepentingan seperti disebut di atas adalah hak-hak dan
kewajiban-kewajiban perdata yang diatur dalam hukum perdata
materiil. Hukum perdata (materiil) itu menjelma dalam undang-
undang atau ketentuan yang tidak tertulis, merupakan pedoman
bagi masyarakat tentang bagaimana orang selayaknya berbuat atau
tidak berbuat di dalam masyarakat.
Pelaksanaan dari hukum perdata (materiil) dapat ber-
langsung secara diam-diam di antara para pihak yang berinteraksi,
tanpa harus melalui instansi resmi. Namun acapkali terjadi hukum
perdata (materiil) itu dilanggar, sehingga ada pihak yang dirugikan
229
Budhy Budiman, Mencari Model Ideal Penyelesaian Sengketa, Kajian terhadap Praktik
Peradilan Perdata dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, lihat situs http

Hukum Kepailitan di Indonesia 267


dan terjadilah gangguan keseimbangan kepentingan di dalam
masyarakat, dalam hal ini maka hukum materiil perdata yang telah
dilanggar itu haruslah dipertahankan dan ditegakkan.
Pelaksanaan hukum perdata (materiil) terutama dalam hal
ada pelanggaran atau untuk mempertahankan berlangsungnya
hukum perdata (materiil) dalam hal ada tuntutan hak diperlukan
rangkaian peraturan hukum lain, yaitu yang disebut hukum formil
atau hukum acara perdata.
Hukum acara perdata merupakan keseluruhan peraturan
yang bertujuan melaksanakan dan mempertahankan atau
menegakkan hukum perdata materiil dengan perantaraan
kekuasaan negara. Perantaraan negara dalam mempertahankan
dan menegakkan hukum perdata materiil itu terjadi melalui
peradilan. Cara inilah yang disebut dengan litigasi.
Proses penyelesaian disamping melalui litigasi, juga dikenal
alternatif penyelesaian sengketa (Alternative Dispute Resolution) di
luar pengadilan yang lazim disebut penyelesaian nonlitigasi.
Cara penyelesaian sengketa pada dasarnya dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu melalui jalur litigasi dan jalur nonlitigasi. Jalur
litigasi (ordinary court) merupakan mekanisme penyelesaian
perkara melalui jalur pengadilan dengan menggunakan
pendekatan hukum (law approach) melalui aparat atau lembaga
penegak hukum yang berwenang sesuai dengan aturan
perundang-undangan. Litigasi merupakan the last resort atau
ultimum remedium, yaitu sebagai upaya terakhir manakala
penyelesaian sengketa secara kekeluargaan atau perdamaian di
luar pengadilan ternyata tidak menemukan titik temu atau jalan
keluar. Sedangkan jalur nonlitigasi (extra ordinary court)
merupakan mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan,
tetapi menggunakan mekanisme yang hidup dalarn masyarakat
yang bentuk dan macamnya sangat bervariasi, seperti cara
musyawarah, perdamaian, kekeluargaan, penyelesaian adat, dan
lain-lain.
Cara penyelesaian sengketa melalui peradilan mendapat
kritik yang cukup tajam, baik dari praktisi maupun teoretisi
hukum. Peran dan fungsi peradilan, dianggap mengalami beban

268 Hukum Kepailitan di Indonesia


yang terlampau padat (overloaded), lamban dan buang waktu
(waste of time), biaya mahal (very expensive) dan kurang tanggap
(unresponsive) terhadap kepentingan umum atau dianggap
terlampau formalistik (formalistic) dan terlampau teknis
(technically).
Proses litigasi menghasilkan kesepakatan yang bersifat
adversarial yang belum mampu merangkul kepentingan bersama,
cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesai-
annya, membutuhkan biaya yang mahal, tidak responsif, dan
menimbulkan permusuhan di antara pihak yang bersengketa.
Alternative Dispute Resolution (ADR) merupakan istilah yang
pertama kali dimunculkan di Amerika Serikat. Konsep ini
merupakan jawaban atas ketidakpuasan (dissatisfaction) yang
muncul di masyarakat Amerika Serikat terhadap sistem pengadilan
mereka. Ketidakpuasan tersebut bersumber pada persoalan-
persoalan waktu yang dibutuhkan sangat lama dan biaya mahal,
serta diragukan kemampuannya menyelesaikan secara
memuaskan kasus-kasus yang bersifat rumit. Kerumitan dapat
disebabkan oleh substansi kasus yang sarat dengan persoalan-
persoalan ilmiah (scientifically complicated) atau dapat juga
disebabkan banyaknya serta luasnya stake holders yang harus
terlibat.
Alternative Dispute Resolution (ADR) dikembangkan oleh para
praktisi hukum maupun para akademisi sebagai cara penyelesaian
sengketa yang lebih memiliki akses pada keadilan.230
Secara resmi istilah Alternative Dispute Resolution (ADR)
dimasukkan oleh American Bar Association (ABA) dengan cara
membentuk sebuah komisi khusus untuk penyelesaian sengketa
(Special Committee on Dispute Resolution). Tahun-tahun
berikutnya pendidikan tinggi hukum di Amerika Serikat secara

230
Mas Achmad Santosa. Alternative Dispute Resolution (ADR) di Bidang Lingkungan
Hidup. Makalah disampaikan dalam Acara Forum Dialog tentang Alternative Dispute
Resolution (ADR) yang diselenggarakan oleh Tim Pakar Hukum Departemen Kehakiman
dan The Asia Foundation. Jakarta: Departemen Kehakiman dan The Asia Foundation,
1995. hlm. 1.

Hukum Kepailitan di Indonesia 269


bertahap memasukkan Alternative Dispute Resolution (ADR) di
dalam kurikulum, terutama bentuk mediasi dan negosiasi.231
Melihat latar belakang pendayagunaan Alternative Dispute
Resolution (ADR) di Amerika Serikat sebagai representasi negara
industri dan ekonomi maju dan negara-negara yang menganut
akar budaya nonkonfrontatif yang pada umumnya dimiliki oleh
negara-negara sedang berkembang, terdapat sedikit perbedaan.
Latar belakang pendayagunaan Alternative Dispute Resolution
(ADR) di negara maju disebabkan ketidakpuasan terhadap sistem
pengadilan, sedangkan negara-negara yang menganut akar budaya
nonkonfrontatif adalah melestarikan budaya nonadversarial
menuju masyarakat yang lebih stabil (social stability), sekaligus
akses pada keadilan (proses pemeriksaan yang cepat, murah, dan
tidak asing bagi masyarakat). Sistem pengadilan dianggap institusi
yang tidak memenuhi kebutuhan di atas.232
Proses litigasi merupakan pilihan terakhir menyelesaikan
sengketa.
Sebelumnya dilakukan perundingan di antara para pihak
yang bersengketa, baik secara langsung maupun dengan menunjuk
kuasa hukumnya, guna menghasilkan kesepakatan bersama yang
menguntungkan kedua belah pihak. Jika proses perundingan ini
tidak menghasilkan kesepakatan, baru para pihak akan
menyerahkan kepada pengadilan untuk menyelesaikan atau
memutuskannya.

6. PKPU sebagai Upaya Preventif Kepailitan Perseroan Terbatas


Undang-undang Kepailitan juga mengatur mengenai upaya
perdamaian yang dapat ditempuh oleh Debitor dengan para
Kreditornya, baik sebelum Debitor dinyatakan pailit oleh
pengadilan, atau setelah Debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Sebelum Debitor dinyatakan pailit oleh pengadilan, Debitor dapat

231
Jacqueline M. Nolan Haley. Alternative Dispute Resolution (ADR). ST. Paul, Minn: West
Publishing Co., 1992. hlm. 6.
232
Mas Achmad Santosa. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Lingkungan Secara
Kooperatif (Alternative Dispute Resolution (ADR)). Indonesian Center for Environmental
Law, Jakarta, 1995, hlm. 1.

270 Hukum Kepailitan di Indonesia


mengajukan Rencana Perdamaian (composition plan) kepada para
Kreditor yang intinya memuat cara Debitor membayar utang-
utangnya kepada Kreditor. Rencana perdamaian tersebut sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari Permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh Debitor
sebagai tangkisan (counter) terhadap permohonan pailit. Terhadap
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sepanjang
seluruh syaratnya terpenuhi, pengadilan wajib mengabulkan dan
memberikan waktu Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Sementara 45 hari dan dapat diperpanjang dengan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang Tetap paling lama 270 hari termasuk
45 hari. Pasal 228 ayat (6):
Apabila Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tetap
disetujui, penundaan tersebut berikut perpanjangannya tidak
boleh melebihi 270 (dua ratus tujuh puluh) hari setelah putusan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sementara diucapkan.
Dalam hal permohonan pailit di counter dengan
permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka
status dari permohonan pailit dipending sampai dengan perkara
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang selesai, yaitu setelah
Rencana Perdamaian diterima atau ditolak oleh Kreditor. Jika
Rencana Perdamaian diterima, maka Debitor tidak jadi pailit,
sebaliknya, jika perdamaian ditolak, maka Debitor dinyatakan
pailit. Rencana perdamaian yang diterima, harus disahkan oleh
Pengadilan Niaga.
Didalam Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas, diatur pula beberapa ketentuan mengenai kepailitan.
Pasal 90 ayat (1) Direksi hanya dapat mengajukan
permohonan ke Pengadilan Negeri agar perusahaan Debitor
dinyatakan pailit berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) merupakan
suatu proses yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang, yang mempunyai tujuan yang berbeda dengan permohonan

Hukum Kepailitan di Indonesia 271


kepailitan. Ketentuan mengenai Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU) diatur dalam Pasal 222 s/d Pasal 294.
Dikatakan bahwa tujuannya berbeda karena suatu
permohonan kepailitan bertujuan agar seorang Debitor dinyatakan
pailit sehingga menjadi tidak cakap dalam hukum untuk mengurus
harta kekayaannya, dan karena itu tindakan-tindakannya dalam
bidang hukum kekayaannya diwakili oleh pengampu (Kurator).
Sedangkan suatu permohonan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang tidak bertujuan agar Debitor yang
bersangkutan dinyatakan pailit, tetapi agar ia diberi kesempatan
guna melunasi hutang-hutangnya dengan tetap didampingi oleh
Pengurus (Administrator) yang ditunjuk oleh Pengadilan dan di
bawah pengawasan Hakim Pengawas.
Dengan demikian dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang tersebut tidak diperlukan Kurator, tetapi Pengurus yang
selalu mendampingi Debitor dalam mengurus usahanya. Dengan
diteruskannya usahanya tersebut dengan bantuan Pengurus,
diharapkan agar bidang usahanya tetap berjalan dan berkembang
sehingga dapat menambah asset dan keuntungan agar dapat
dihindari adanya kepailitan.
Karenanya dapat dikatakan bahwa permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang merupakan sarana untuk menangkis
atau menghindari kepailitan, walaupun daya berlakunya hanyalah
untuk sementara waktu, yaitu maksimum selama 270 hari.
Pada hakekatnya permohonan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang tidak saja hanya bersifat menguntungkan
kepentingan Debitor (sebab ia bisa terhindar dari kepailitan),
namun juga menguntungkan kepentingan pihak Kreditor.
Yang dimaksud dengan “Pengadilan Negeri” di sini adalah
Pengadilan Niaga. Karena pada saat Undang-undang ini
diundangkan, Pengadilan Niaga belum terbentuk. Selanjutnya
ditentukan bahwa dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan
atau kelalaian Direksi dan kekayaan perusahaan Debitor tidak
cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, maka
setiap Anggota Direksi secara tanggung renteng
bertanggungjawab atas kerugian itu. Tanggung renteng atau

272 Hukum Kepailitan di Indonesia


tanggung menanggung artinya bahwa para anggota Direksi secara
bersama-sama menanggung kerugian sebagai akibat kepailitan
tersebut. Apabila salah satu Direksi telah menanggung atau
membayar kerugian tersebut, maka Direksi yang lain lepas atau
bebas dari kewajibannya. Anggota Direksi yang dapat
membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau
kelalaiannya, tidak bertanggungjawab secara tanggung renteng
atas kerugian tersebut.

7. Rapat Verifikasi Pencocokan Piutang


Verifikasi atau pencocokan berarti menguji kebenaran
piutang kreditor yang dimasukkan pada kurator. Menurut Pasal 115
Undang-Undang Kepailitan disebutkan bahwa semua kreditor
wajib menyerahkan piutangnya masing-masing kepada kurator
disertai perhitungan atau keterangan tertulis lainnya yang
menunjukkan sifat dan jumlah piutang, disertai dengan surat bukti
atau salinannya, dan suatu pernyataan ada atau tidaknya kreditor
mempunyai suatu hak istimewa, hak gadai, jaminan fidusia, hak
tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak
untuk menahan benda.233
Para kreditor yang bersangkutan berhak meminta surat
tanda terima penyerahan dari kurator.
Kurator akan memeriksa kebenaran tagihan yang
dimasukkan oleh kreditor, karena itu kreditor harus menyertakan
bukti-bukti yang mendukung tagihan tersebut. Apabila tagihan-
tagihan itu berdasarkan bukti yang ada dapat ditetapkan dengan
pasti, maka tagihan tersebut dapat diakui (diverifikasi).
Kreditornya disebut kreditor yang diakui.
Mengenai pencocokan utang dilakukan melalui rapat
kreditor. Pencocokan utang diadakan apabila nilai harta pailit yang
dapat dibayarkan kepada kreditor yang diistimewakan dan
kreditor konkuren melebihi jumlah tagihan terhadap harta pailit.234

233
Munir Fuady, Op.Cit., hal 129-131
234
Ibid., hlm. 162-163.

Hukum Kepailitan di Indonesia 273


Pasal 113 Undang-Undang Kepailitan menyebutkan paling
lambat 14 (empat belas) hari setelah putusan pernyataan pailit
diucapkan, Hakim Pengawas harus menetapkan:
a. Batas akhir pengajuan tagihan;
b. Batas akhir verifikasi pajak untuk menentukan besarnya
kewajiban pajak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan di bidang perpajakan;
c. Hari, tanggal, waktu, dan tempat rapat kreditor untuk
mengadakan pencocokan piutang.
Semua kreditor wajib menyerahkan daftar piutangnya
kepada kurator. Jadi tugas kurator dalam tahap ini adalah
mencocokkan tagihan ke Debitor sehingga diketahui:
a. Siapa kreditor
b. Memeriksa keabsahan tagihan
c. Memastikan besar jumlah tagihan.
Pencocokkan piutang tersebut, kemungkinan timbulnya
masalah bisa saja terjadi, yakni:
a. Kreditor tidak dapat membuktikan piutang;
b. Kreditor belum dapat menunjukkan jumlah piutangnya;
dan
c. Kreditor palsu.235
Rapat verifikasi untuk pencocokan piutang, menurut Pasal
113 sampai dengan Pasal 143 Undang-Undang Kepailitan oleh Lilik
Mulyadi236, Hakim Pengawas setelah proses menerima salinan
putusan maka akan menentukan hari, tanggal, waktu dan tempat
rapat kreditor pertama sebagai rapat pencocokan piutang
(verifikasi) yang harus diselenggarakan dalam jangka waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan permohonan
pernyataan pailit diucapkan. Tujuan pencocokan piutang tidak lain
adalah untuk menetapkan piutang mana yang diakui (tetap atau
sementara) termasuk mana yang mempunyai hak didahulukan (hak
istimewa atau agunan) dan mana yang dibantah oleh kreditor.

235
Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-undangan yang
Terkait dengan Kepailitan, Nuansa Aulia, Bandung, 2006, hlm. 34-35.
236
Lilik Mulyadi, Penyelesaian Perkara Hubungan Industrial serta Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh Pengadilan Khusus Indonesia
dalam Teori dan Praktik, cet. 1, Bayu Media Publishing, Malang, 2008, hlm. 378-382.

274 Hukum Kepailitan di Indonesia


Hakim Pengawas wajib menyampaikan kepada kurator rencana
penyelenggaraan rapat kreditor pertama tersebut, dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari setelah putusan permohonan pernyataan pailit.
Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 86 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, kurator mengumumkan putusan
permohonan pernyataan pailit dalam Berita Negara RI dan
sekurang-kurangnya 2 (dua) surat kabar harian, dalam jangka
waktu 5 (lima) hari setelah tanggal putusan permohonan
pernyataan pailit.
Hari ke- 30 (tiga puluh) atau boleh kurang dari itu
diselenggarakan rapat kreditor pertama oleh hakim pengawas
beserta kurator dengan dibantu oleh panitera pengganti. Hakim
pengawas bertindak selaku ketua dalam rapat tersebut. Di
samping sebagai ketua rapat, tugas pokok hakim pengawas adalah
mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit sedangkan
panitera pengganti bertugas mencatat segala kejadian yang
dibicarakan dalam rapat kreditor serta membuat berita acara rapat
yang ditandatangani oleh hakim pengawas dan panitera pengganti.
Rapat kreditor pertama tersebut wajib dihadiri oleh Debitor
sendiri, dengan maksud agar Debitor dapat memberikan
keterangan kepada hakim pengawas tentang sebab musabab
kepailitan dan keadaan harta pailit.
Debitor yang pailit adalah badan hukum, maka menurut
Pasal 122 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
pengurus badan hukum itulah yang wajib hadir. Meskipun
demikian, pengurus badan hukum tersebut tetap dapat didampingi
oleh advokat bila memang diperlukan. Berdasarkan ketentuan
Pasal 123 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
kewajiban demikian tidak berlaku bagi kreditor. Disamping Debitor
pailit, maka para kreditor juga harus hadir dalam rapat, baik dapat
menghadap sendiri ataupun dengan melalui kuasanya. Hakim
pengawas selaku ketua rapat meminta atau menanyakan kepada
kurator apakah telah membuat pencatatan tentang harta pailit

Hukum Kepailitan di Indonesia 275


yang harus dilakukan paling lambat 2 (dua) hari setelah putusan
surat pengangkatan sebagai kurator, kemudian hakim pengawas
meminta kurator menunjukkan daftar yang menyatakan sifat,
jumlah piutang dan harta pailit, nama dan tempat tinggal kreditor
beserta jumlah piutang masing-masing kreditor. Rapat pertama
kreditor tersebut apabila ditemukan adanya utang yang bersifat
rumit atau banyak kreditor, hakim pengawas wajib menawarkan
kepada kreditor untuk membentuk panitia kreditor tetap.
Hakim Pengawas meminta keterangan kepada Debitor pailit
tentang sebab musabab kepailitan dan keadaan harta pailit. Hakim
pengawas pada rapat kreditor pertama ini menanyakan kepada
Debitor apakah akan menawarkan rencana perdamaian kepada
para kreditor ataukah tidak. Rencana perdamaian ini dapat
diajukan oleh Debitor pailit paling lambat 8 (delapan) hari sebelum
rapat pencocokan piutang dan dapat dilakukan di Kepaniteraan
Pengadilan Niaga. Apabila Debitor pailit tidak menawarkan
rencana perdamaian atau ada menawarkan perdamaian akan
tetapi ditolak kreditor, maka demi hukum harta pailit dalam
keadaan tidak mampu membayar (insolvency). Sejak Insolvency
terjadi, proses pengurusan dan pemberesan harta pailit dimulai.
Berdasarkan ketentuan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang, kurator berwenang melaksanakan tugas pengurusan
dan/atau pemberesan atas harta pailit sejak tanggal putusan pailit
diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi
atau peninjauan kembali.
Proses pengurusan dan pemberesan harta pailit dalam arti
pengurusan piutang kepada para kreditor, dimulai dengan
pencocokan piutang. Hakim Pengawas dapat menetapkan batas
akhir pengajuan tagihan dan hari, tanggal, waktu dan tempat
kreditor untuk mengadakan pencocokan piutang. Rapat
pencocokan piutang ini hakim pengawas membacakan daftar
piutang yang sementara diakui dan dibantah oleh kurator. Dikaji
dari perspektif praktik peradilan biasanya yang membacakan
daftar piutang tersebut adalah kurator. Aspek ini Debitor pailit
juga berhak membantah atas diterimanya suatu piutang baik

276 Hukum Kepailitan di Indonesia


seluruhnya maupun sebagian atau membantah adanya peringkat
piutang dengan mengemukakan alasannya secara sederhana.
Tagihan-tagihan yang dimasukkan para kurator, statusnya
237
bisa:
a. Diakui, artinya tagihan-tagihan tersebut diakui
kebenarannya baik oleh kurator maupun kreditor atau
para kreditor.
b. Diakui dengan syarat, artinya terhadap tagihan tersebut
masih diperlukan syarat tambahan.
c. Dibantah, artinya tagihan tersebut tidak diakui
kebenarannya oleh kurator maupun kreditor atau para
kreditor.
d. Dilakukan pencocokan utang secara pro memori, artinya
tagihan tersebut dari semula tidak dapat ditetapkan
apakah pencocokan nanti akan didapatkan suatu hak.
Bantahan terhadap daftar piutang tersebut, hakim pengawas
berusaha menyelesaikannya, akan tetapi apabila tidak berhasil
mendamaikan perselisihan tersebut maka hakim pengawas
menyerahkan perselisihan tersebut kepada majelis hakim pemutus
perkara permohonan pernyataan pailit pada sidang yang telah
ditetapkan.
Pasal 120 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, menyatakan
apabila kreditor yang piutangnya dibantah tidak hadir dalam
sidang, panitera akan segera memberitahukan dengan surat dinas
tercatat tentang bantahan piutang tersebut, tetapi yang
bersangkutan tidak boleh mengajukan perkara tentang tidak
adanya pemberitahuan termaksud (ayat 2), artinya kreditor tidak
boleh mengajukan perlawanan dengan alasan tidak ada
pemberitahuan tentang bantahan piutang tersebut. Pasal 118 ayat
(4) Undang-Undang Kepailitan, Hakim dapat memutuskan:
a. Bila kreditor yang meminta pencocokan piutang tidak
hadir dalam sidang yang ditentukan, maka dianggap
permohonannya telah ditarik kembali,

237
Rahayu Hartini, Op.Cit., hlm. 162-163.

Hukum Kepailitan di Indonesia 277


b. Bila yang mengajukan bantahan terhadap piutang tidak
hadir dalam sidang, maka dianggap telah menarik kembali
bantahannya dan Hakim mengakui piutang yang
bersangkutan.
Rapat tersebut juga akan menentukan golongan kreditor dan
status tagihannya. Golongan kreditor tersebut adalah:
a. Golongan khusus, yaitu kreditor yang mempunyai hak
tanggungan, gadai atau hak agunan atas kebendaan
lainnya yang dapat mengeksekusi haknya seolah-olah
tidak terjadi kepailitan (Pasal 56 Undang-Undang
Kepailitan). Pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 56 ayat (1) yang melaksanakan haknya tersebut,
wajib memberikan pertanggung jawaban kepada kurator
tentang hasil penjualan barang yang menjadi agunan dan
menyerahkannya kepada kurator sisanya setelah
dikurangi jumlah utang, bunga dan biaya.
b. Golongan istimewa (privilege), yaitu kreditor yang
piutangnya mempunyai kedudukan istimewa artinya
golongan kreditor yang mempunyai hak untuk pelunasan
terlebih dahulu atas hasil penjualan harta pailit (Pasal
1133, 1134, 1139, 1149 KUH Perdata);
c. Golongan konkuren, atau kreditor konkuren yaitu
kreditor-kreditor yang tidak termasuk golongan khusus
atau golongan istimewa. Pelunasan piutang-piutang
mereka dicukupkan dengan sisa hasil penjualan atau
pelelangan harta pailit sesudah diambil bagian golongan
khusus dan golongan istimewa, sisa penjualan harta pailit
itu dibagi menurut imbangan besar kecilnya piutang para
kreditor konkuren itu (Pasal 1132 KUH Perdata).238
Putusan majelis hakim pemutus perkara permohonan
pernyataan pailit terhadap bantahan piutang tersebut dicatat
dalam daftar piutang oleh kurator dan tidak dapat dilakukan upaya
hukum. Rapat verifikasi yang telah selesai maka kurator
melaporkan keadaan harta pailit. Menyelesaikan pemberesan harta

238
Ibid, hlm. 166-168.

278 Hukum Kepailitan di Indonesia


pailit, kurator harus menjual harta pailit di muka umum. Penjualan
harta pailit di bawah tangan dapat dilaksanakan dengan izin hakim
pengawas berbentuk penetapan. Hakim pengawas memberikan
persetujuan daftar pembagian yang disusun kurator, yang memuat
rincian penerimaan dan pengeluaran termasuk di dalamnya upah
kurator, nama kreditor, jumlah yang dicocokkan dari tiap-tiap
piutang dan bagian yang wajib diterimakan kepada kreditor.
Besarnya jumlah bagian kreditor yang piutangnya diterima dengan
bersyarat dalam daftar pembagian dihitung berdasarkan
persentase dari seluruh jumlah piutang. Setelah kurator
mencocokkan, maka dibayar penuh piutang tersebut atau setelah
daftar pembagian penutup menjadi mengikat, maka berakhirlah
kepailitan.239

239
Lilik Mulyadi, Op.Cit., hlm. 381-382.

Hukum Kepailitan di Indonesia 279


1. Pendahuluan
Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengalami
krisis ekonomi yang sangat berat, namun negara-negara lain
seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Philipina juga
mengalami krisis yang sama. Menarik untuk dicermati adalah,
mengapa negara-negara tersebut sudah mampu keluar dari krisis.
Apakah keberhasilannya karena mereka memiliki sistem hukum
yang memperbaiki proses penegakan hukum dengan jalan
membentuk Pengadilan Niaga. Semula Pengadilan Niaga hanya
untuk menyelesaikan masalah kepailitan dan penundaan kewajiban
pembayaran utang (PKPU), tapi dalam salah satu pasal UU
Kepailitan ternyata menginginkan Pengadilan Niaga juga
digunakan untuk menyelesaikan sengketa niaga lainnya.240
Menyadari terdapatnya berbagai macam pola dan sistem
yang digunakan di pelbagai negara mengenai commercial court ini,
maka dibutuhkan pengkajian komparatif terhadap Pengadilan
Niaga di dunia, dengan melihat kompetensi substansial (ruang
lingkup kewenangan mengadili), masalah keacaraan, kedudukan
dan batas-batas dengan badan-badan peradilan lain.
Hasil dari pengkajian komparatif ini adalah
pengindentifikasian beberapa model kedudukan dan kompetensi
pengadilan niaga yang dikenal dan yang mungkin lebih sesuai
untuk dikembangkan di Indonesia.241
Dipaparkan negara yang dijadikan bahan perbandingan
untuk melihat model pengadilan bidang niaga. Negara tersebut

240
Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Diskusi Terbatas
Perluasan Kewenangan Pengadilan Niaga, Makalah, 18 Januari 2003, hlm 1-13
241
Ibid.

280 Hukum Kepailitan di Indonesia


antara lain: Belarus, Lithuania, USA, Malaysia, Singapura, Korea
Selatan, dan Perancis. Alasan dipilihnya tujuh negara tersebut
karena Belarus dan Lithuania merupakan dua negara yang
mewakili bagian Eropa Timur yang merupakan bekas pecahan Uni
Soviet. Kedua negara tersebut sama-sama merupakan negara yang
mendapatkan paket IMF serupa dengan Indonesia dalam hal
membentuk pengadilan bidang niaga. Malaysia, Singapura, dan
Korea Selatan merupakan wakil dari Asia yang pada tahun 1997
mengalami krisis ekonomi seperti halnya Indonesia. Selain
itu dilihat pula model pengadilan bidang niaga di USA karena ia
merupakan salah satu negara maju yang memiliki kekuatan di IMF.
Sedangkan dipilihnya Perancis karena ia merupakan negara yang
memiliki sistem hukum eropa kontinental seperti di Indonesia,
bahkan KUHD Indonesia pada pokoknya berasal pula dari Code de
Commerce di Perancis. Selain itu Perancis juga memiliki
pengadilan bidang niaga yang menurut sejarah bahwa perihal
peradilan khusus dalam perselisihan-perselisihan perniagaan yang
diatur dalam Code de Commerce tidak seluruhnya ditransfer
dalam Wetboek van Koophandel di Nederland dan tidak pula
dalam KUHD di Indonesia.242 Berikut ini paparan negara-negara
tersebut.

a. Negara Belarus243
Belarus merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet,
yang berhasil memisahkan diri setelah bubarnya Uni Soviet.
Bentuk pemerintahan di Belarus adalah Superpresidensiil Republik
dan sebagai kepala negara adalah Presiden yang menjabat selama
lima tahun dalam satu periode.
Sejak abad ke-16, sistem hukum yang digunakan di Belarus
adalah The Statutes of the Grand Duchy of Lithuania. Namun
sistem hukum modern Belarus merupakan bagian dari rumpun
Sistem Hukum Romano-German. Sumber hukum menurut sistem
hukum Belarus adalah:

242
Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Dian Rakyat, Jilid I (bagian pertama), Jakarta,
1993, hlm.8
243
Tatyana Khodosevich, The Belanis Legal System, http

Hukum Kepailitan di Indonesia 281


a. Contitusi (Supreme Law)
b. Codes
c. Keputusan-keputusan dan maklumat presiden
d. Peraturan yang dikeluarkan parlemen
e. Keputusan pemerintah
Negara lainnya yang juga merupakan bagian dari rumpun
sistem hukum Romano-German, putusan hakim atau
yurisprudensi bukan merupakan sumber hukum yang sangat
penting. Namun, putusan dari Supreme Court dan supreme
Economic Court dalam pelaksanaannya dapat digunakan sebagai
sumber hukum. Perjanjian internasional dalam sistem hukum
Belarus merupakan sumber hukum yang tidak kalah pentingnya.
Kodifikasi di Belarus yang berdasar pada model legislasi
diakui oleh Inter Parliementary Assembly of the States yang
merupakan partisipan dari CIS. Belarus telah merevisi civil code
terbarunya yang telah diterima sejak tahun 1998, yang masuk
menjadi bagian civil code adalah perjanjian (termasuk kontrak dan
tort), hukum kepemilikan, hukum intelektual, hukum pewarisan,
dan hukum perdata intemasional. Adapula kodifikasi hukum
pertanahan yang merupakan sumber hukum bagi hukum
pertanahan, kodifikasi hukum keluarga untuk masalah-masalah
yang berkaitan dengan hukum keluarga dan kodifikasi hukum
perburuhan. Kodifikasi terbaru lainnya adalah code of civil
procedure (1999) merupakan hukum acara bagi civil code. Selain itu
terdapat pula peraturan untuk penyelesaian sengketa hukum yang
berkaitan dengan masalah ekonomi yang diatur dalam code of
commercial procedure (diterima sejak 15 Desember 1998).
Criminal Code dan code of Criminal Procedure baru
diimplementasikan pada tahun 1999, dan adminstrative code pada
tahun 1984.
Sistem peradilan di Belarus berdasar pada prinsip-prinsip
teritorial dan spesialisasi. Kekuasaan presiden di Belarus sangat
dominan bahkan pada praktik pelaksanaan hukum pada sistem
peradilan. Presiden lah yang berhak memilih hakim-hakim pada
semua badan peradilan. Terdapat tiga kekuasaan kehakiman yang
ketiganya mempunyai kekuasaan indepeden, yakni, pertama,

282 Hukum Kepailitan di Indonesia


Supreme Court merupakan badan peradilan yang mempunyai
kompetensi mengadili sengketa dalam bidang umum seperti
masalah yang diatur dalam civil code, criminal code, family code,
code of land, dan labor code. Kedua, Supreme Economic Court
merupakan badan peradilan yang mempunyai kompetensi
mengadili sengketa dalam bidang ekonomi yang berkaitan dengan
masalah perlindungan hak dan kewajiban perusahaan dan
individual, dan Ketiga, Constitutional Court, merupakan badan
peradilan yang memiliki kewenangan dalam masalah pengawasan
pelaksanaan kontitusi.
Badan lain di luar ketiga kekuasaan kehakiman ini adalah
sebuah Committee of the State Control yang bertugas mengawasi
masalah keuangan negara, penggunaan fasilitas negara, dan
mengatur masalah kebijakan keuangan dan pajak negara.

b. Negara Lithuania244
Republik Lithuania merupakan salah satu dan sekian negara
yang memisahkan diri dari Uni Soviet sejak tahun 1990. Sistem
hukum negara ini berdasar pada sistem hukum tradisional eropa
kontinental. Dalam perkembangannya terjadi reformasi hukum
yang dikarenakan perubahan yang sangat luas pada bidang sosial
dan ekonomi yang mengarah pada sistem demokrasi dan sistem
ekonomi pasar bebas, maka sistem hukurn negara Lithuania
sedang pada tahap harmonisasi hukum pada EU. Reformasi sistem
hukum yang dilakukan parlemen di Lithuania (disebut dengan
Seimas) pada tahun 2001 adalah dengan merevisi civil code, code of
civil procedure, Criminal Code, code of Criminal Procedure, code of
the execution of penalties, dan labor code.
Diatur dalam civil code tersebut termasuk pula di dalamnya
masalah yang berkaitan dengan hukum perusahaan dan masalah
yang berkaitan dengan aspek-aspek hukum commercial, civil code
tersebut terbagi dalam enam buku, yakni, buku pertama terdiri
dan 139 pasal, antara lain berisi: Ketentuan umum yang mengatur
masalah sumber-sumber hukum perdata (pasal 1.1-1.2),

244
Elona Norvaisaite, a Guide to Lithuanian Legal system, http

Hukum Kepailitan di Indonesia 283


interpretasi, kebebasan berkontrak (pasal 1.3-1.5), hukum perdata
internasional (pasal 1.10-1.62), legal transactions (pasal 1.63-1.96),
Object of transactions (pasal 1.97-1.116), perlindungan hak-hak sipil
(pasal 1.36-1.139) masuk pula dalam buku ini instrumen dalam
European Union Rome convention tahun 1980 mengenai the
applicable to contractual obligations. Buku kedua, mengatur
tentang orang yang terbagi dalam tiga bagian, yakni, bagian
pertama Natural persons (pasal 2.1-2.32), bagian kedua, Legal
persons (pasal 2.1322.2.185), dan bagian ketiga, Commercial agency
(pasal 2.152-2.185). Buku ketiga, hukum keluarga yang terdiri dari
314 pasal, yang berisi pengaturan masalah perkawinan, pemisahan,
perceraian, adopsi, hak perwalian anak, dan lain-lain. Buku
keempat, mengatur masalah Real Rights yang terdiri dari 258 pasal,
berisi masalah kepemilikan, perlindungan hak intelektual, dan lain-
lain. Buku kelima berisi tentang successon yang terdiri dari 76
pasal. Buku keenam mengatur masalah hukum perjanjian yang
terdiri dari 1018 pasal. Buku keenam ini berisi empat bagian, yakni,
bagian pertama masalah perjanjian pada umumnya (pasal 6.1-6.151),
bagian kedua, mengatur perjanjian pada kontrak (pasal 6.154-
6.228) pada bagian ini disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang ada
pada UNIDROITPrinciples of International Commercial Contract.
Bagian ketiga, adalah masalah unfair obligations, dan Bagian
keempat (pasal 6.30 5-6.1018), mengatur masalah perjanjian yang
khusus seperti, leasing, loan, franchising, factoring, kontrak
kontruksi, dan lain-lain.245
Sistem peradilan di Lithuania terdiri dari badan peradilan
umum (masalah perdata dan pidana). Pada badan peradilan ini
terdiri dari empat tingkatan pengadilan, antara lain, local court
(tingkat pertama), district court (tingkat kedua), court of appeals
(tingkat ketiga), dan Supreme court (tingkat tertinggi). Tahun 1999,
dibentuk lagi badan peradilan yang khusus menangani masalah
litigasi di bidang administrasi, misalnya, sengketa pajak, dan
sengketa administrasi. Badan ini terdiri dari tingkatan pengadilan,
antara lain, district administrative court (tingkat pertama), higher

245
Eeti Ohispanx, The New Civil Code of Lithuania, http /features/lithuania. ht

284 Hukum Kepailitan di Indonesia


administrative court (tingkat kedua), dan highest administrative
court (tingkat ketiga), dan Supreme court(tingkat tertinggi).
Hakim-hakim pada tingkat Supreme Court diangkat oleh
Seimas (parlemen), sedangkan hakim-hakim pada tingkatan ketiga,
kedua, dan pertama diangkat oleh presiden.
Putusan hakim yang dibuat tidak dijadikan sumber hukum di
negara Lithuania. Meskipun demikian, putusan hakim tersebut
dapat dijadikan rekomendasi untuk putusan hakim berikutnya
walaupun tidak mengikat seperti halnya di negara yang menganut
sistem hukum common law.
Suatu badan peradilan namun bukan merupakan bagian dari
sistem peradilan yang telah disebutkan, yaitu, Mahkamah
Kontitusi. Lembaga ini berdiri secara independen dengan
kekuasaan untuk menentukan pembuatan laws dan legal acts yang
dibuat menyangkut masalah konstitusi dan menentukan legal acts
yang dibuat oleh presiden dan pemerintah.

c. Negara Amerika Serikat246


Negara ini merupakan negara yang berbentuk Republik
Federal yang terdiri dari 50 negara bagian. Sumber hukum yang
tertinggi di USA adalah Konstitusi yang dibentuk pada tahun 1789,
konstitusi ini mendelegasikan kekuasaan pada negara-negara
bagian. Konstitusi tersebut terbagi dalam tiga cabang, antara lain,
kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif, dan kekuasaan judicial.
Setiap sistem peradilan di masing-masing negara bagian memiliki
kekuasaan dan struktur yang independen namun saling
berhubungan dengan putusan hakim yang dapat digunakan
sebagai rekomendasi atau contoh putusan terhadap suatu masalah
yang hampir sama. Kekuasaan tertinggi di setiap judicial branch
atau district courts adalah Supreme Court.
Sistem peradilan di USA tidak dikenal Pengadilan Niaga,
karena masalah-masalah yang berkaitan dengan commercial
masuk menjadi bagian bidang hukum privat, namun masing-

246
The United States Bankruptcy and Insolvency Process, http

Hukum Kepailitan di Indonesia 285


masing substansi mempunyai undang-undang sektoral, seperti
company law, insurance law, contract law, dan bankruptcy law.
Kepailitan di USA di atur di dalam The Bankruptcy Reform Act
of 1978 mulai efektif berlaku pada tanggal 6 November 1979.
Perubahan besar terjadi pada sistem hukum kepailitan dengan
mengamandemen bankruptcy and federal judgeship Act tahun 1984,
the bankruptcy judges, United States Trustees, and Family farmer
bankruptcy Acttahun 1986, dan Bankruptcy Reform Act tahun 1994.
Hakim-hakim kepailitan pada tingkat district court akan
menyimak dan menentukan suatu, kasus merupakan kasus
kepailitan dan diproses menurut bankruptcy code. Kreditors
dimungkinkan untuk aktif berpartisipasi pula pada proses beracara
kepailitan. Mereka dapat bertanya kepada Debitor yang berkaitan
dengan masalah keuangan Debitor dan property yang dimiliki
Debitor. Kreditor dapat pula membuktikan claim yang diajukan.

d. Negara Malaysia247
Malaysia menjalankan sistem pemerintahannya dengan
bentuk Monarki Konstitusional. Kontitusi federasi secara tegas
dibagi kedalam tiga bagian, antara lain, legislatif, judikatif dan
eksekutif. Kekuasaan eksekutif dipegang oleh seorang Raja
berdasarkan konstitusi dan pelaksana kekuasaan legislatif oleh
sejumlah menteri kabinet yang dikepalai oleh Perdana Menteri.
Sedangkan kekuasaan kehakiman dipegang oleh Malaysia's high
court dengan tingkatan dibawahnya court of appeal.
Hukum kepailitan Malaysia ditangani oleh Malaysia's high
court dan court appeal dengan berdasarkan bankruptcy act 1967,
bankruptcy rule 1969, bankruptcy (fees) rules 1969, companies act
196, companies (winding up) rules 1972, trade unions regulations
1959, societies act 1966. Pemerintah Malaysia membentuk suatu
official assignee departemen yang berada dibawah kewenangan
Malaysia's Legal affairs Department, yang berfungsi untuk:
a. Mengurus masalah yang berhubungan dengan kepailitan
b. Sebagai likuidator dalam perusahaan yang bermasalah

247
www.LAIR.com/profile/malaysiabankruptcycourt.htm

286 Hukum Kepailitan di Indonesia


c. Melayani dan memberikan bantuan untuk mencari
perusahaan yang bermasalah dan yang mengalami
kebangkrutan.

e. Negara Singapura248
Singapura tidak mengenal Pengadilan Niaga, masalah
kepailitan dan masalah yang berkaitan dengan bidang niaga diatur
melalui peradilan umum dan merupakan bagian dari hukum privat.
Kekuasaan peradilan tertinggi ada pada Supreme court, the high
court, dan the subordinate courts. Suatu lembaga yang banyak
menangani masalah privat dan commercial adalah the Small
Claims Tribunals sebagai satu subordinate courts di Singapura. The
Small Claims Tribunals tersebut dibentuk pada tanggal 1 February
1985. Lembaga ini diatur dalam The Small Claims Tribunals Act,
chapter 308.
Lembaga ini dibentuk dengan tujuan memberikan pelayanan
sebagai forum yang cepat dan biaya ringan dalam menangani small
claims antara konsumen dan pedagang. Kriteria suatu perkara
masuk ke small claims tribunal ini adalah berdasarkan besarnya
nilai nominal yang diperkarakan. Sebelum tahun 1995 besarnya
nominal yang masuk yurisdiksi lembaga ini adalah perkara atau
gugatan tidak lebih dari $2,000/-, tapi pada tahun 1996 batas
nominalnya bertambah yaitu $5,000/-, sedangkan pada tahun
1997 besar nominal yang masuk ke yurisdiksi small claims tribunals
jika gugatan/perkara mencapai nominal $10,000/-. Masalah atau
perkara yang sudah masuk ke small claims tribunals ini setiap
tahunnya meningkat, bahkan pada tahun 2001 mencapai 33.768
perkara. Ini membuktikan kepercayaan publik kepada lembaga ini
untuk menyelesaikan perkara dengan sistem yang cepat dalam
mencari keadilan dengan biaya yang sesuai.
Yurisdiksi lembaga ini apabila perkara yang akan diajukan
tidak lebih dari $10,000/-, dimana perkara yang akan diselesaikan
muncul dari masalah-masalah:
a. Kontrak penjualan barang-barang atau produk, atau
248
www.llrx.com/features/singapore/smallclaimstribunals.htm

Hukum Kepailitan di Indonesia 287


b. Kontrak penyediaan layanan jasa, atau
c. Kerusakan yang menimbulkan kerugian terhadap hak
milik (tetapi tidak termasuk kerusakan yang timbul dari
kecelakaan yang berhubungan dengan kendaraan
bermotor).
Semua perkara yang masuk ke small claims tribunals ini
memiliki batas waktu tidak lebih dari setahun sejak tanggal
memperoleh perkara.
Prosedur suatu perkara dibawa ke lembaga ini sangat mudah
dan simple. Suatu perusahaan atau individu yang ingin memasukan
perkaranya disebut "claimant" sedangkan perusahaan/individu
yang digugat disebut "respondent". Pihak yang digugat dapat
mengajukan gugatan balik yang disebut dengan "counterclaim".
Para pihak dapat mengisi form pendaftaran pada tribunal ini
bahkan disediakan pula pengisian form melalui electronic filling
(Internet).
Setelah gugatan masuk dalam lembaga ini, para pihak masih
dapat menyelesaikan masalah diantara para pihak secara masing-
masing sebelum ditetapkan tanggal konsultasi/mediasi dan harus
dinyatakan oleh mereka dengan menulis pernyataan untuk
menarik kembali gugatan. Jika permasalahannya tidak dapat
diselesaikan secara masing-masing, maka para pihak akan
mendapatkan atau melalui mediasi/konsultasi. Apabila para pihak
yang berperkara adalah perusahaan maka hanya dapat diwakilkan
oleh seorang direktur atau pegawai tetapnya. Perwakilan ini harus
disediakan atau diberi wewenang melalui surat pemberian
wewenang kepada pihak yang mewakili. Hasil dari
konsultasi/mediasi dapat mengikat para pihak yang mengajukan
perkara.

f. Negara Korea Selatan249


Sistem hukum modern Korea Selatan pada dasarnya
mengikuti sistem hukum civil eropa kontinental yang ditransfer
dari sistem hukum Jepang, karena sejak tahun 1910 sampai 1945
Korea Selatan merupakan negara jajahan Jepang maka seluruh
249
Heija B. Ryoo, Korean Legal Research Resources on the Internet, http

288 Hukum Kepailitan di Indonesia


aturan hukum jepang atau sistem hukum Jepang digunakan di
Korea Selatan, tetapi pada tahun 1948, ketika Korea Selatan telah
memproklamirkan diri dari Jepang menjadi suatu Republik Korea,
banyak sistem hukum Jepang yang tidak lagi digunakan. Masuknya
militer USA di Korea selatan sejak tahun 1945-1948, maka mulai
berpengaruhnya sistem hukum Anglo Amerikan. Sehingga kegiatan
legislatif pada tahun 1950-an dan 1960-an mencoba
menghapuskan sistem hukum Jepang dan mulai menjadikan sistem
hukum anglo amerika sebagai dasar pembentukan sistem hukum
korea selatan. Hal ini disebabkan karena Korea Selatan memiliki
hubungan politik dan bisnis yang kuat dengan USA. Sejak tahun
1970-an dan 80-an, banyak aturan hukum yang mengubah juga ke
arah perubahan administrasi, pertumbuhan ekonomi, dan
pembangunan sosial. Perubahan sistem demokrasi masyarakat
korea membawa pergantian konstitusi pada tahun 1980-an, maka
pada tahun 1993 adalah pertama kalinya pemerintah sipil di Korea
Selatan, merupakan kegiatan legislatif sebagai lanjutan reformasi
dan perbaikan sistem hukum.
Sistem pemerintah di Korea dibagi dalam tiga cabang, antara
lain legislatif, eksekutif, dan yudikatif sistem judicial di Korea
terdiri dari tiga tingkatan pengadilan, yakni:
a. The ditrict courts (termasuk juga pengadilan khusus, seperti
family court dan administrative court), pengadilan ini
merupakan The Courts of original jurisdiction.
b. The high courts, merupakan the intermediate appellate
courts.
c. Supreme court, sebagai the highest court.
Peradilan di atas merupakan peradilan umum yang mengatur
masalah hukum privat dan publik (di luar masalah administrasi).
Termasuk pula bidang hukum perniagaan, tetapi di Korea Selatan
disediakan pula arbitration court untuk bidang niaga.
Selain itu terdapat pula Constitutional Court System yang
dibentuk sejak September 1998, badan ini bukan merupakan
bagian dari struktur peradilan umum di atas. Yurisdiksi peradilan
ini adalah:
a. Impeachment

Hukum Kepailitan di Indonesia 289


b. Sengketa partai politik
c. Kompetensi sengketa di antara badan pemerintahan negara,
antara badan pemerintahan pusat dengan pemerintahan
lokal, dan di antara badan pemerintahan lokal sendiri.
d. Keberatan terhadap pelaksanaan konstitusi.
Constiutional court ini terdiri dari 9 hakim yang ditentukan
oleh presiden untuk masa jabatan 6 tahun selama satu periode dan
dapat dipilih kembali. Untuk materi impeachment, terdapat 3
hakim yang dipilih oleh national assembly, dan 3 hakim yang
dipilih oleh hakim agung dari supreme court.
Sistem peradilan di Korea lebih mengikut sistem peradilan
dalam tradisi sistem hukum civil, tidak ada sama sekali gaya sistem
peradilan Amerika digunakan yaitu bahwa putusan hakim tidak
mengikat sepenuhnya untuk digunakan dalam kasus serupa karena
lebih mengacu pada konstitusi.
Sumber hukum yang digunakan di Korea Selatan terdiri dari:
a. Class I: Konstitusi
b. Class II: Statuta, Peraturan presiden darurat, dan treaties
c. Class III: Keputusan Presiden, peraturan national assembly,
peraturan supreme court, peraturan contitutional court.
d. Class IV: peraturan pemerintah
e. Class V: peraturan pemerintah lokal

g. Negara Perancis
Sistem peradilan Perancis terbagi dalam dua bidang hukum,
yaitu, bidang hukum privat (judicial order) dan bidang hukum
publik (administrative order). Bidang yang masuk pada hukum
privat (judicial order) adalah bidang hukurn privat atau hukum
mengenai warganegara termasuk di dalamnya bidang hukum
pidana dan hukum perdata internasional. Sedangkan yang masuk
dalam bidang hukum publik adalah bidang hukum yang berkaitan
dengan bidang administrasi.
Hukum privat mempunyai tingkatan pengadilan yang terdiri
dari: trial court level, appeal court level, dan supreme court. Tingkat
pertama (trial court level) mempunyai enam bagian yakni, criminal

290 Hukum Kepailitan di Indonesia


jurisdiction, ordinary jurisdiction, dan empat yurisdiksi khusus,
yaitu, bidang commerce, labor, rural, dan affairs of social security.
Tingkat kedua (appeals court) merupakan pengadilan tingkat
banding yang termasuk didalamnya satu kamar pidana dan court of
assises (semacam pengadilan kriminal tingkat banding), social
chamber, commercial, chamber, dan civil chamber.
Tingkatan supreme court bukan merupakan tingkatan ketiga
melainkan tingkat pengadilan tertinggi. Bidang hukum privat di
supreme court sebagai Cour de Cassation. Di dalamnya terdiri dari
satu kamar pidana, tiga kamar perdata, satu kamar bidang sosial
dan satu kamar commercial.
Para pengacara dan hakim di Perancis berasal dari latar
belakang pendidikan yang sama. Para hakim adalah orang-orang
yang telah memilih profesinya sebagai hakim. Menjadi hakim harus
mengalami masa pendidikan selama tiga tahun dan memulai
karirnya sebagai hakim muda di pengadilan sampai mereka benar-
benar memperoleh wilayah pengadilan mana yang menjadi
tugasnya. Hakim di Perancis dapat berkedudukan sebagai
magistrates atau standing magitrates. Apabila sebagai magistrates,
sama halnya di United States, adalah hakim di mahkamah atau
pengadilan. Sedangkan standing magistrates adalah prosecutor
atau jaksa yang bekerja dalam yurisdiksi pidana. Menjadi
prosekutor maka ia harus melalui
pendidikanataumagistratureschool.

Hukum Kepailitan di Indonesia 291


Departemen, 214, 216, 217, 218, 272
Depdiknas,, 173
A Dispute, 179, 184, 196, 269, 270, 271,
Abdul R, Saliman, 6 272
Abdurrachman,, 172
Ade Maman Suherman, 193 E
Agnes M.Toar, 191
Ahmadi Miru, 185 E.Oeser, 184, 188
Alan Redfern, 186, 187 Eeti Ohispanx, 287
Algra, N.E, 21 Ekonomi, 20, 171, 191, 193, 196, 251
Alternatif, 178, 179, 180, 186, 189, Elona Norvaisaite, 285
190, 192, 261 Erman Rajagukguk, 192, 193
Alternative, 179, 184, 196, 269, 270, Eryanto Nugroho, 50, 51
271, 272
Alumni, 16, 18, 25, 172, 223, 260, 263
Andi Muhammad Asrun, 251
F
Arbitrase, 160, 161, 178, 179, 180, Frank E.A Sander, 179
181, 190, 191, 192, 193, 196, 261 Fred B.G. Tumbuan, 9
Aria Suryadi, 50, 51
G
B
Garry Goodpaster, 196, 197
Bambang Kesowo,, 39 Gatot Soemartono, 181
Bambang Sutiyoso, 174, 175, 178, Gunawan Widjaja, 70, 81, 189
195
Bandung, 16, 18, 20, 25, 99, 110, 171,
172, 173, 190, 191, 193, 214, 223,
H
253, 260, 263, 276, 282 H. Priyatna Abdurrasyid, 179, 182
Bank Indonesia, 29, 32, 52, 54, 55, Hadi Shubhan, 20, 27, 256
56, 58, 59, 104, 122, 123, 130, 186, Harold F. Lusk, 24
210, 234 Heija B. Ryoo, 291
Bisnis, 6, 20, 32, 171, 173, 174, 175, Hendri Soekarso, 22
176, 179, 193, 197 Henry Campbell, 21, 173
Budhy Budiman, 269 Hermayulis., 262
Burgelijk Wetboek, 221 Herni Sri Nurbaiti, 50, 51
http, 169, 267, 269, 283, 285, 287, 291
D Huala Adolf, 184, 185, 191
Hukum, 1, 2, 5, 6, 7, 8, 20, 22, 23, 30,
Dagang, 6, 147, 171, 175, 191, 260, 31, 36, 42, 51, 63, 70, 75, 81, 86, 87,
262, 269, 283 94, 99, 103, 104, 116, 120, 130, 136,
Dahlan,, 193 138, 142, 153, 163, 168, 170, 171,

292 Hukum Kepailitan di Indonesia


172, 173, 174, 175, 178, 179, 180, 112, 113, 114, 115, 116, 118, 119,
184, 185, 188, 191, 192, 193, 194, 120, 121, 122, 123, 125, 127, 128,
196, 200, 207, 221, 229, 244, 246, 129, 132, 137, 138, 139, 140, 141,
250, 251, 252, 256, 260, 263, 269, 142, 143, 144, 146, 147, 150, 151,
270, 272, 276, 282, 283, 284, 289, 153, 154, 157, 158, 159, 163, 164,
293 166, 167, 168, 174, 198, 199, 201,
Hukum Perdata, 175, 221, 260, 263 205, 210, 213, 214, 215, 216, 217,
Husseyn Umar, 180, 183 218, 219, 220, 221, 223, 224, 225,
226, 229, 230, 231, 232, 233, 234,
235, 236, 238, 239, 240, 241, 242,
I 243, 244, 245, 246, 247, 248, 249,
Imran Nating, 49, 126 250, 251, 253, 254, 255, 256, 257,
, 294 258, 259, 262, 263, 264, 266, 267,
Indonesia, 1, 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 16, 273, 274, 275, 276, 277, 278, 279,
18, 22, 27, 31, 32, 34, 37, 38, 39, 50, 280, 282, 288
51, 53, 56, 57, 62, 111, 113, 116, Kitab, 6, 171, 175, 220, 221, 260
120, 123, 130, 131, 147, 160, 163, Konsiliasi, 186, 188, 192
168, 170, 172, 173, 175, 178, 179, Kontrak, 84, 174, 185, 262, 290
180, 181, 182, 183, 184, 190, 191, Kurator, 9, 16, 20, 28, 38, 49, 60, 62,
192, 193, 194, 196, 197, 198, 200, 63, 64, 69, 81, 86, 87, 88, 89, 90, 91,
201, 206, 207, 213, 214, 216, 221, 92, 95, 96, 108, 109, 113, 114, 126,
229, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 139, 140, 148, 149, 157, 159, 213,
237, 244, 252, 253, 254, 255, 257, 214, 215, 216, 217, 218, 219, 220,
260, 261, 262, 266, 267, 268, 269, 221, 222, 223, 224, 225, 226, 227,
277, 282, 283 228, 229, 230, 231, 232, 235, 236,
Internasional, 133, 174, 191, 253, 237, 238, 240, 242, 244, 245, 247,
260, 261, 267 248, 274, 276

J L
Jacqueline M. Nolan Haley, 272 Lawrence M. Friedman, 193, 194
Jerry Hoff, 9, 21, 221, 251 Lilik Mulyadi, 263, 277, 281
Jimly Asshiddiqie, 255 Lucy Dyah Hendrawati, 181
Johannes Ibrahim, 173
M
K Mahkamah Agung, 4, 10, 30, 39, 56,
Kamus, 27, 173, 181, 182, 213 64, 65, 66, 67, 68, 93, 100, 102, 103,
Kartini Mulyadi, 16, 18, 19, 25, 118, 116, 120, 137, 164, 165, 186, 201,
142, 221 202, 229, 230, 231, 232, 235, 244,
Kartono,, 17, 23 254, 256, 258, 263, 264, 265, 266
Kasasi, 64, 78, 102, 109, 110, 135, Man S. Satrawidjaja, 23
136, 137, 144, 164, 165, 166, 200 Maralda H. Kairupan, 187
Kepailitan, 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 13, Martin Hunter, 186
14, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 25, 30, Mas Achmad Santosa, 272
31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 39, 40, 41, Mediasi, 181, 185, 186, 192
42, 43, 44, 47, 50, 51, 52, 53, 54, 55, Munir Fuady, 20, 189, 190, 275
56, 59, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 70,
72, 73, 74, 75, 78, 79, 80, 81, 84, 98,
99, 100, 101, 102, 103, 104, 106,
Hukum Kepailitan di Indonesia 293
P Rudhy Lontoh,, 223

Pemberesan, 49, 126, 220, 225, 238,


239, 244
S
Pengadilan Niaga, 10, 15, 28, 30, 38, S. Wojomeksito, 27
39, 40, 43, 47, 53, 55, 56, 57, 58, 60, S. Wojowasito, 213
61, 64, 65, 69, 70, 72, 73, 74, 75, 77, Sanusi Bintang, 193
78, 80, 81, 82, 83, 84, 86, 93, 94, 96, Sengketa, 174, 175, 176, 177, 178,
97, 100, 101, 102, 103, 104, 106, 179, 180, 181, 184, 186, 189, 190,
108, 109, 110, 111, 114, 115, 129, 191, 192, 193, 196, 197, 252, 261,
130, 134, 135, 152, 157, 158, 159, 268, 269, 272, 292
160, 161, 164, 165, 166, 179, 197, Sentosa Sembiring, 55, 98, 99, 276
198, 199, 200, 201, 202, 203, 214, Siti Anisah, 163, 166, 167, 168
216, 219, 226, 227, 228, 229, 230, Siti Megadianty, 192, 268
231, 232, 233, 249, 250, 251, 252, Soekardono, 283
253, 254, 255, 256, 257, 258, 259, Soetandyo Wignjosoebroto, 1
262, 263, 264, 265, 266, 267, 274, Sri Endah Kinasih, 181
275, 278, 282, 288, 289 Sudargo Gautama, 214, 253, 260
Peninjauan Kembali, 38, 66, 78, 102, Sumaryo Suryokusumo, 188
103, 137, 165, 166, 219, 264, 266 Sunarmi, 1, 2, 3, 4, 5
Penyelesaian, 10, 18, 25, 52, 70, 174, Sunarmi,, 1, 2, 3, 4, 5
176, 178, 179, 180, 181, 185, 186, Sutan remy Syahdeini, 31
189, 190, 191, 192, 193, 194, 196, Suyud Margono, 178, 191
197, 223, 252, 261, 266, 267, 268,
269, 272, 277
Peraturan, 3, 6, 7, 8, 9, 10, 99, 100,
T
186, 198, 201, 208, 214, 217, 253, Tanggung jawab, 126, 221, 222, 223
256, 258, 260, 276, 284, 292 Tatyana Khodosevich, 283
Perorangan, 62, 119, 137, 207 Thomas E.Crowly, 192
Perpu, 3, 10, 39, 198, 199, 201, 253,
258
Perusahaan, 20, 21, 29, 36, 52, 57, 58, U
112, 113, 174, 210, 219, 261 Undang-Undang, 3, 6, 7, 8, 18, 23,
Peter Behrens, 184 45, 47, 48, 49, 50, 53, 54, 55, 56, 59,
Peter J.M. Declercq, 26 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 81, 84, 85,
Putusan, 20, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 55, 107, 108, 112, 114, 118, 119, 123,
58, 62, 64, 66, 80, 88, 96, 102, 104, 142, 171, 175, 179, 180, 181, 182,
105, 106, 109, 110, 115, 127, 128, 183, 185, 190, 197, 198, 199, 200,
130, 137, 140, 152, 158, 164, 165, 201, 206, 208, 210, 213, 215, 216,
193, 200, 229, 230, 231, 252, 257, 217, 220, 221,223, 224, 225, 226,
261, 264, 266, 281, 287 253, 254, 255, 256, 257, 258, 259,
260, 261, 262, 263, 264, 265, 266,
R 267, 269, 274, 275, 276, 277, 278,
279, 280
R Soekardono, 260
R.Otje Salman,, 191, 192
Rahayu Hartini, 6, 8, 22, 62, 104, 279 V
Ricardo Simanjuntak, 17, 23 Valerine J.L. Kriekhoff, 192
Richard Burton, 172, 173 Victor M. Simatupang, 22
Roedjiono, 269

294 Hukum Kepailitan di Indonesia


W Y
W.Poeggel, 188 Yuridis, 251

Hukum Kepailitan di Indonesia 295


A. BUKU
Abdul R, Saliman, dkk, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, Prenada
Media, Jakarta, 2004.
Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan: Teori dan
Contoh Kasus, Kencana, Jakarta, 2011.
Abdurrachman, Aneka Masalah, Hukum Dalam Pembangunan
Nasional, Alumni, Bandung, 1979.
Ade Maman Suherman, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global,
Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor, 2005.
Agnes M.Toar, Uraian Singkat tentang Arbitrase Dagang di
Indonesia, Seri Dasar- Dasar Hukum Ekonomi 2, Arbitrase di
Indonesia, Penerbit Ghalia Indonesia, 1995.
Ahmadi Miru, Hukum Kontrak Perancangan Kontrak,
PT.RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007.
Alan Redfern dan Martin Hunter dengan Nigel Blackaby dan
Constantine Partides, Law and Practice of International
Commercial Arbitration, Forth edition, Sweet & Maxwell
Limited, 2004.
Algra, N.E., Inleiding tot Het Nederlands Privaatrecht, Tjeenk
Willink, Groningen, 1975.
Andi Muhammad Asrun, A. Prasetyantoko, dkk. Analisa Yuridis dan
Empiris Peradilan Niaga, Jakarta, CINLES, Centre for
Information & Law, Economic Studies, Pusat Informasi &
Pengkajian
Aria Suryadi, Eryanto Nugroho dan Herni Sri Nurbaiti, Kepailitan
di Negeri Pailit, Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan
Indonesia cetakan II, Jakarta, 2004.

296 Hukum Kepailitan di Indonesia


Bambang Sutiyoso, Penyelesaian Sengketa Bisnis, Citra Media,
Yogyakarta, 2006.
Erman Rajagukguk, Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan, Penerbit
Chandra Pratama, Jakarta, 2000.
Frank E.A Sander, Alternative Methods of Dispute Resolution: An
Overview, 37U.FIa.L.Rev, 1985, Copyright di dalam Acontracts
Anthology, Edited with Comments By Peter Linzer, Anderson
Publishing Co, 1989.
Gatot Soemartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006.
Garry Goodpaster. 1995. Tinjauan Terhadap Penyelesaian Sengketa,
dalam Seri Dasar-dasar Hukum Ekonomi Arbitrase di
Indonesia. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Gunawan Widjaja, Perdamaian Sebagai Upaya Penyelesaian
Hutang, Jakarta, Business News, 2000.
--------, Alternatif Penyelesaian Sengketa, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 2005.
Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, 2008.
Harold F. Lusk, Business Law: Principles and Cases, Richard D.
Irwin Inc., Homewood Illinois, 1986.
Henry Campbell Black, Black"s Law Dictionary, Sixth Ed., West
Publishing Co, St. Paul Minn., 1990.
H. Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa, Suatu Pengantar, PT. Fikahati Aneksa, BANI,
Jakarta, 2002.
Husseyn Umar, Beberapa Catatan Tentang Latar Belakang Dan
Prinsip Dasar Bentuk-Bentuk APS Dalam Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 1999, Pusat Pengkajian Hukum dan MARI,
Jakarta, 2002.
Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Penerbit
Sinar Grafika, Jakarta, 2004.
Imran Nating, Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan
Pemberesan Harta Pailit, Raja Garfindo Persada, Jakarta,
2004.

Hukum Kepailitan di Indonesia 297


--------, Peranan Dan Tanggung jawab Kurator Dalam pengurusan
Dan Pemberesan Pailit, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004.
Jacqueline M. Nolan Haley.. Alternative Dispute Resolution (ADR).
ST. Paul, Minn: West Publishing Co. 1992.
Jerry Hoff, Indonesian Bankruptcy Law, Jakarta, Tatanusa, 1999,
-------, Undang-Undang Kepailitan di Indonesia (Indonesian
Bankruptcy Law), diterjemahkan oleh Kartini Mulyadi ,
Jakarta : Tatanusa, 2000.
Jimly Asshiddiqie, Perihal Undang-Undang, Jakarta: Konstitusi
Press, 2006.
Johannes Ibrahim dan Lindawati Sewu, Hukum Bisnis Dalam
Persepsi Manusia Modern, Refika Aditama, Bandung, 2004, .
J.Djohansjah, kreditor preferen dan separatis, pusat pengkajian
hukum, Jakarta, 2012.
Kartini Mulyadi, Kepailitan dan Penyelesaian Utang Piutang, dalam
: Rudhy A. Lontoh (et.al.), Penyelesaian Utang Piutang Melalui
Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
Bandung, Alumni, 2001.
--------, action pauliana dan pokok pokok tentang pengadilan
niaga, alumni, bandung, 2007.
Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran, Pradnya
Paramita, Jakarta, 1999.
Lawrence M. Friedman, American Law An Introduction, Second
Edition, Hukum Amerika Sebuah Pengantar, Penerjemah
Wishnu Basuki, Penerbit T.Tatanusa, Jakarta, Indonesia,
2001.
Lilik Mulyadi, Penyelesaian Perkara Hubungan Industrial serta
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) oleh Pengadilan Khusus Indonesia dalam Teori dan
Praktik, cet. 1, Bayu Media Publishing, Malang, 2008, .
---------, Kompilasi Hukum Perdata, PT Alumni, Bandung, 2009.
Lucy Dyah Hendrawati dan Sri Endah Kinasih, Makna Sumpah
Pocong Sebagai Upaya Penyelesaian Sengketa Pada
Masyarakat Madura : Studi Kasus di Masjid Madegan,

298 Hukum Kepailitan di Indonesia


Polagan Sampang, Madura, Jurnal Penelitian Dinamika Sosial
Vol.6 No. 2, Agustus 2005.
Mahadi, Falsafah hukum: suatu pengantar, alumni, bandung, 2003.
Man S. Satrawidjaja, Hukum Kepailitan & Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang,
Munir Fuady, Arbitrase Nasional, Alternatif Penyelesaian Sengketa,
Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
--------, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2005.
--------, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktik, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2014.
Peter Behrens, Alternative Methods of Dispute Settlement in
International Economic Relations, dalam Ernst-Ulrich
Petersman and Gunther Jaenicke, Adjudication of
International Trade Dispute in International and National
Economic Law, Fribourg U.P., 1992.
Peter J.M. Declercq, Netherlands Insolvency Law, The Netherlands
Bankruptcy Act and The Most Important Legal Concept,
T.M.C. Assen Press, The Haque, 2002.
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, UMM Press Edisi Revisi
Cetakan II, Jakarta, 2004.
Ricardo Simanjuntak, Esesnsi Pembuktian Sederhana dalam
Kepailitan, Pusat pengkajian hukum, Jakarta, 2008.
Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis, Rineka
Cipta, Jakarta, 1996.
Rudhy Lontoh, Denny Kalimang, Benny Ponto, ed., Penyelesaian
Utang Piutang melalui Pailit atau penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang. Bandung: Alumni, 2001.
R Soekardono. Hukum Dagang Indonesia. Jilid I (bagian pertama).
Jakarta : Soeroengan, 1963. Cet. 3
R.Otje Salman, Kontekstualisasi Hukum Adat Dalam Proses
Penyelesaian Sengketa, dalam Prospek Dan Pelaksanaan
Arbitrase Di Indonesia, Mengenang Alm. Prof. Dr. Komar
Kantaatmadja, SH.,LL.M, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2001.

Hukum Kepailitan di Indonesia 299


RA. Koesnoen dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum
Perniagaan (Wetboek van Koophandel), Sumur, Bandung,
1961.
Sanusi Bintang dan Dahlan, Pokok-Pokok Hukum Ekonom dan
Bisnis, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Siti Megadianty Adam dan Takdir Rahmadi, Sengketa dan
Penyelesaiannya, Buletin Musyawarah Nomor 1 Tahun I.
Jakarta: Indonesia Center for Environ-mental Law, 1997.
Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Dian Rakyat, Jilid I (bagian
pertama), Jakarta, 1993.
Soetandyo Wignjosoebroto dalam Sunarmi, Prinsip Keseimbangan
Dalam Hukum Kepailitan di Indonesia, Edisi 2, Softmedia,
Jakarta, 2010.
Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan Dan Peraturan Perundang-
undangan Yang Terkait Dengan Kepailitan, CV. Nuansa Aulia,
Bandung, 2006.
Siti Anisah, Perlindungan Kepentingan Kreditur Debitur Dalam
Hukum Kepailitan di Indonesia, Cetakan ke-II, Total Media,
Yogyakarta, 2008.
Sumaryo Suryokusumo, Studi Kasus Hukum Intemasional, PT.
Tatanusa, Jakarta, 2007.
Sunarmi, Prinsip Keseimbangan Dalam Hukum Kepailitan di
Indonesia, Edisi 2, Softmedia, Jakarta, 2010.
S. Wojomeksito, Kamus Umum Belanda Indonesia, Jakarta, PT.
Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999.
Sudargo Gautama, "Hukum Perdata dan Dagang Internasional",
Alumni, Bandung, 1980.
-------- "Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata In-
ternasional", Alumni, Bandung, 1983.
-------- "Kapita Selekta Hukum Perdata Internasional", Alumni,
Bandung, 1983.
-------- "Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional", Alumni,
Bandung, 1985.
--------, Komentar atas Peraturan Kepailitan Baru untuk
Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998.

300 Hukum Kepailitan di Indonesia


Sutan remy Syahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-
undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan, Cetakan
ke-III, Grafiti, Jakarta, 2009.
Suyud Margono, ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek
Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2000.
S. Wojowasito, Kamus Umum Belanda Indonesia, Ichtiar baru Van
Hoeve, Jakarta, 2001.
Thomas E.Crowly, Settle It Out of Court, New York: Jhon Willey &
Sons, Inc.1994, hlm 22-24: (Disadur dan diterjemahankan
oleh Erman Rajagukguk : Penyelesaian Sengketa Alternatif,
Negosiasi- Mediasi-Konsiliasi - Arbitrase, Penerbit Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.
Valerine J.L. Kriekhoff, Mediasi (Tinjauan dari Segi Antropologi
Hukum); (dalam: Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai,
Penyunting T.Ihromi, Penerbit Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 2003.
Victor M. Simatupang & Hendri Soekarso, Pengantar Hukum
Kepailitan di Indonesia, Rineke Cipta, Jakarta, 1994.
W. Poeggel and E.Oeser, Methods of diplomatic Settlement, dalam
Mohammed Bedjaoui (ed). International Law. Achievements
and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff and UNESCO,
1991.
WiwiekAwiati, Conflict Transformation, Bahan Pelatihan Hukum
ADR, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL),
Jakarta, 2000.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek),
diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tcitrosudibio, vet. 30,
(Jakarta, Pradnya Paramita, 1999.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT Balai Pustaka,
Jakarta, 1994.

Hukum Kepailitan di Indonesia 301


Mahkamah Agung, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis
Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus, Edisi 2007,
Buku II.
Mahkamah Agung RI, Mengenal Hukum Kepailitan Indonesia, Buku
Pendamping.
Mahkamah Agung, Seri Pendidikan Hukum Mengenal Hukum
Kepailitan Indonesia, Buku Pendamping, 2005.
Mahkamah Agung, Seri Pendidikan Hukum Mengenal Hukum
Kepailitan Indonesia, Buku Pendamping, 2005.
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 19/Pailit/2005/PN.
Niaga.Jkt.Pst.
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 20/Pailit/2005/PN.
Niaga.Jkt.Pst.
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.21/Pailit/2005/PN.
Niaga.Jkt.Pst.
Putusan kasasi MA No. 029 K/N/2005.
Putusan Peninjauan Kembali MA No. 07 PK/N/2006.
Putusan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat NomOR.12/Pailit
/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst.
Putusan Kasasi MA No.020 K/N/2005.
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.16/Pailit/PN.Niaga.Jkt.
Pst.
Peraturan Bank Indonesia No.8/5/PBI/2006 tentang Mediasi
Perbankan
di Indonesia dan Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan
Perorangan, Liberty, Yogyakarta, 1980.
Departemen Kehakiman, Keptusan Menteri Kehakiman tentang
Pedoman besarnya Imbalan Jasa bagi Kurator, KepMen.
Kehakiman No. M. 02-UM / 1993.
Departemen Kehakiman, Keputusan Menteri Kehakiman tentang
Pedoman Besarnya Imbalan Jasa bagi Kurator dan pengurus,
KepMen. Kehakiman No M.09. ht. 0510/ 1998.

302 Hukum Kepailitan di Indonesia


C. SUMBER LAIN
Bambang Kesowo, Perpu Nomor 1 Tahun 1999, Latar Belakang dan
Arahnya, Makalah Para Pakar yang Berkaitan dengan
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 jo. Perpu Nomor 1
Tahun
Budhy Budiman, Mencari Model Ideal Penyelesaian Sengketa,
Kajian terhadap Praktik Peradilan Perdata dan Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 1999.
Fred B.G. Tumbuan, “Seminar Pendidikan Kurator” yang diadakan
oleh Asosiasi Kurator & Pengurus Indonesia (AKPI) dengan
Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) di Jakarta, 25 Oktober – 5
Nopember 1999.
Hermayulis. Kedudukkan, Tugas dan Fungsi Organisasi Pengadilan
Niaga. Makalah yang disamampaikan dalam Workshop
tentang "Judicial Organization Of Commercial Court" yang
diselenggarakan oleh CINLES, Jakarta 28-29 Nopember
2002.
Kartini muljadi, pengertian dan prinsip prinsip umum hukum
kepailitan, makalah, Jakarta2004.
Mas Achmad Santosa. Alternative Dispute Resolution (ADR) di
Bidang Lingkungan Hidup. Makalah disampaikan dalam Acara
Forum Dialog tentang Alternative Dispute Resolution (ADR)
yang diselenggarakan oleh Tim Pakar Hukum Departemen
Kehakiman dan The Asia Foundation. Jakarta: Departemen
Kehakiman dan The Asia Foundation. 1995.
Maralda H. Kairupan, Court battles not the only way to settle
business dispute, The Jakarta Post, May 23, 2007.
Mas Achmad Santosa. Mekanisme Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Secara Kooperatif (Alternative Dispute Resolution
(ADR)). Indonesian Center for Environmental Law, Jakarta,
1995.
Roedjiono. Alternative Dispute Resolutions (Pilihan Penyelesaian
Sengketa). Makalah pada Penataran Dosen Hukum Dagang
Se-Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, 1996.

Hukum Kepailitan di Indonesia 303


http://www. uika-bogor.ac.id/juro.htm.
Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Diskusi
Terbatas Perluasan Kewenangan Pengadilan Niaga, Makalah,
18 Januari 2003.
Harian Kompas, Pengusaha Lebih Suka Lembaga Alternatif
Penyelesaian Sengketa. 19 Pebruari 1995.
http://www.courtexcellence.com Siti Megadianty Adam dan
Takdir Rahmadi."Sengketa dan Penvelesaiannya". Buletin
Musyawarah Nomor 1 Tahun I. Indonesian Center for
Environmental Law, Jakarta, 1997.
Tatyana Khodosevich, The Belanis Legal System,
http://www.llrx.com/features/belarus. htm
Elona Norvaisaite, a Guide to Lithuanian Legal system,
http://www.llr.com/features/ lithuanian.htm
Eeti Ohispanx, The New Civil Code of Lithuania,
http://www.llrx.con /features/lithuania. ht
The United States Bankruptcy and Insolvency Process,
http://IAIR.com/profile/ unitedstates.htm
www.LAIR.com/profile/malaysiabankruptcycourt.htm
www.llrx.com/features/singapore/smallclaimstribunals.htm
Heija B. Ryoo, Korean Legal Research Resources on the Internet,
http://www.google.com/
DOCLJMEN'TS/Koreanllegalresearch.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Bankruptcy

304 Hukum Kepailitan di Indonesia


Asas Hukum : Pikiran-pikiran dasar yang ada di
dalam dan di belakang aturan
hukum; (ratio legis) dari peraturan
hukum.
Nilai-nilai yang melandasi norma-
norma hukum.
Asas keseimbangan : asas keseimbangan merupakan
suatu asas yang disatu pihak
terdapat ketentuan yang dapat
mencegah terjadinya
penyalahkgunaan pranata dan
lembaga kepailitan oleh Debitur
yang tidak jujur, di lain pihak
terdapat ketentuan yang dapat
mencegah terjadinya
penyalahgunaan lembaga kepailitan
oleh kreditur yang tidak beritikad
baik.
Asas Kelangsungan : Dalam Undang-undang ini terdapat
Usaha, ketentuan yang memungkinkan
perusahaan Debitur yang prospektif
tetap dilangsungkan atau
dilanjutkan usahanya.
Asas Integritas : Asas integrasi dalam Undang-
undang ini mengandung pengertian
bahwa sistem hukum formil dan
hukum materilnya merupakan satu
kesatuan yang utuh dari sistem

Hukum Kepailitan di Indonesia 305


hukum perdata dan hukum acara
perdata nasional.
Asas Mendorong : Undang-undang kepailitan harus
Investasi dan Bisnis. dapat mendorong meningkatnya
investasi dan pasar modal, terutama
ditujukan kepada investor asing dan
pelaku bisnis asing, serta
memudahkan pengusaha untuk
memperoleh kredit luar negeri,
dengan ratifikasi terhadap
Perjanjian Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO) dapat mendorong
liberalisasi di bidang perdagangan
barang dan jasa, dengan berlakunya
UU Nomor 8 Tahun 1995 Tentang
Pasar Modal di Indonesia membuat
pengusaha Indonesia mendapatkan
akses langsung dari lembaga-
lembaga pembiayaan luar negeri,
Undang-undang kepailitan harus
memuat asas-asas dan ketentuan-
ketentuan yang dapat diterima
masyarakat internasional sehingga
hal tersebut dapat sejalan dengan
hukum kepailitan di negara-negara
para pemodal dan kredit asing yang
diinginkan oleh pemerintah dan
dunia usaha Indonesia. asas ini tidak
sepenuhnya termuat dalam UU
Kepailitan.
Asas Memberi manfaat : Undang-undang kepailitan
dan Perlindungan yang hendaknya dapat memberikan
Seimbang bagi manfaat tidak hanya kepada
Kreditur dan Debitur. kreditur akan tetapi juga kepada
Debitur dan harus memberikan
perlindungan yang seimbang bagi

306 Hukum Kepailitan di Indonesia


kreditur dan Debitur, dengan
undang-undang kepailitan
diharapkan kreditur mendapatkan
pembayaran utang-utangnya dari
Debitur dengan mudah dan
mendapatkan akses terhadap harta
benda Debitur yang dinyatakan
pailit karena tidak mampu
membayar utang-utangnya, tanpa
merugikan pihak-pihak lainnya
yang berkepentingan dengan
kepailitan tersebut, dengan
memperhatikan rasa keadilan dan
memberikan kepastian hukum.
Asas Putusan : Pernyataan pailit menurut asasnya
Pernyataan Pailit Tidak hanya dapat diajukan kepada
Dapat Dijatuhkan Debitur yang tidak mampu
Terhadap Debitur membayar utang-utangnya lebih 50
Yang Masih Solven % dari jumlah seluruh utangnya,
sedangkan Debitur mempunyai
tagihan atau piutang kepada
Debitur lain melebihi 50 % jumlah
utangnya, keadaan tersebut tidak
dapat dijadikan alasan untuk
mengajukan pailit terhadap Debitur
termohon pailit. pasal 1 Fv
menentukan bahwa seorang
Debitur dapat diajukan ke
pengadilan untuk dinyatakan pailit
hanya apabila Debitur telah
berhenti membayar utang-
utangnya, keadaan berhenti
membayar merupakan keadaan
dimana Debitur benar-benar tidak
mampu membayar utang-utangnya
atau Debitur sudah dalam keadaan

Hukum Kepailitan di Indonesia 307


insolvensi, bukan karena Debitur
tidak mau membayar utangnya.
Untuk menentukan keadaan
keuangan Debitur benar-benar
tidak mampu membayar utang-
utangnya hanya dapat ditentukan
dengan melakukan financial audit
atau financial due diligence, yang
dilakukan oleh akuntan publik. UU
Kepailitan tidak menganut asas
tersebut.
Asas Persetujuan Pengajuan kepailitan oleh seorang
Putusan Pailit Harus kreditur dapat diajukan akan tetapi
Disetujui Oleh Para apakah Debitur dapat dinyatakan
Kreditur Mayoritas. pailit hendaknya mendengarkan
sikap dan mendapat persetujuan
dari kreditur lain melalui rapat
kreditur, putusan pailit hendaknya
mendapat persetujuan kreditur
terutama kreditur yang memiliki
sebagian besar piutangnya.
sehingga kepailitan menjadi
kesepakatan bersama antara
Debitur dengan para krediturnya.
Asas ini tidak dikenal dalam UU
Kepailitan.

308 Hukum Kepailitan di Indonesia


Asas Keadaan Diam : Undang-undang kepailitan
(Standstill atau Stay) seharusnya memberlakukan
keadaan diam secara otomatis,
pemberlakuan keadaan diam sudah
berjalan sejak kepailitan didaftarkan
di pengadilan, hal tersebut dapat
melindungi kepentingan para
kreditur dari upaya-upaya Debitur
untuk berlaku tidak jujur sehingga
menimbulkan kerugian kepada
kreditur
Asas Mengakui Hak : UU Kepailitan memberikan
Separatis Kreditur kedudukan istimewa kepada
Pemegang Hak kreditur pemegang hak jaminan
Jaminan. kebendaan akan tetapi tidak
sepenuhnya dilaksanakan karena
adanya tenggang waktu selama 90
hari bagi kreditur menunggu untuk
melakukan pelelangan terhadap
harta jaminan tersebut.
Asas Proses Putusan : UU Kepailitan membatasi lamanya
Pernyataan Pailit Tidak proses kepailitan di semua tingkat
Berkepanjangan. peradilan, keadaan tersebut
memberikan kepastian tentang
waktu atau lamanya proses
kepailitan di pengadilan, kelemahan
dari UU Kepailitan tidak
memberikan tenggang waktu yang
jelas kepada kurator untuk
melaksanakan pemberesan harta
pailit, hal ini memakan waktu yang
panjang, sehingga memberikan
kesan hukum kepailitan tidak dapat
memberikan kepastian tentang
lamanya proses pasca putusan pailit
tersebut.

Hukum Kepailitan di Indonesia 309


Asas Proses Putusan : Asas proses putusan pailit terbuka
pailit Terbuka Untuk untuk umum bertujuan agar semua
Umum pihak yang berkepentingan dengan
kepailitan tersebut mengetahui
bahwa Debitur dalam keadaan
pailit, lebih banyak kepenting
terkait apabila Debitur pailit adalah
bank, hal tersebut tidak hanya
berkaitan dengan kepentingan
Debitur dan kreditur akan tetapi
juga menyangkut kepentingan
masyarakat yang mempunyai dana
dan atau mendapat fasilitas kredit
dari bank tersebut, karenanya
proses dan putusan pailit harus
dapat diakses dan terbuka untuk
umum.
Asas Memberikan : Hukum kepailitan seharusnya tidak
Kesempatan hanya bertujuan untuk
Restrukturi sasi Utang menyelesaikan utang-utang Debitur
Sebelum Diambil dengan menyatakan pailit,
Putusan Pernyataan hendaknya ada tindakan-tindakan
Pailit Kepada Debitur pengadilan yang mendahului
Yang Masih Memiliki putusan pailit untuk memberikan
Usaha Yang Prospektif. kesempatan kepada Debitur
termohon pailit melakukan
restrukturisasi utang dan
melakukan debt and corporate
restructuring atau corporate
reorganization atau corporate
rehabilitation, sehingga
memungkinkan perusahaan atau
Debitur kembali dalam kedaan
mampu membayar utang-utangnya.
UU Kepailitan tidak menganut asas
tersebut, hanya saja dalam proses

310 Hukum Kepailitan di Indonesia


pemberesan pailit dalam rapat-
rapat kreditur diberikan
kesempatan kepada Debitur
mengajukan rencana perdamaian
terkait kepailitannya tersebut.
Asas Yang Merugikan : Hukum kepailitan seharusnya juga
Harta Pailit Adalah mengatur ketentuan-ketentuan
Tindak pidana. pidana terhadap Debitur yang
melakukan kecurangan dan
pelanggaran ketentuan-ketentuan
kepailitan, yang merugikan
kepentingan kreditur ataupun harta
pailit. demikian juga dengan
ketentuan terhadap kreditur yang
bersekongkol dengan Debitur
dalam proses kepailitan yang
merugikan kreditur lainnya,
demikian juga sanksi pidana
terhadap Debitur yang melakukan
adanya kreditur-kreditur fiktif
dalam proses kepailitan yang
diajukannya. UU Kepailitan tidak
memuat ketentuan tersebut.
Pengadilan Niaga : merupakan pengadilan khusus yang
berada di lingkungan peradilan
umum yang berwenang menerima,
memeriksa dan memutus
permohonan pernyataan pailit dan
penundaan kewajiban pembayaran
utang serta perkara lain di bidang
perniagaan yaitu perkara sengketa
merek, paten, desain industri dan
pelanggaran hak cipta.

Prestasi : untuk memberikan sesuatu”, “untuk


berbuat sesuatu”, atau “untuk tidak

Hukum Kepailitan di Indonesia 311


berbuat sesua.
RUPS : Suatu organ perseroan yang
memegang kekuasaan tertinggi
dalam perseroan dan memegang
segala wewenang yang bersifat
residual.
Pailit : Sebagai suatu usaha bersama untuk
mendapat pembayaran bagi semua
kreditur secara adil dan tertib, agar
semua kreditur mendapat
pembayaran menurut imbangan
besar kecilnya piutang masing-
masing dengan tidak berebutan.
kepailitan : Sita umum atas semua kekayaan
Debitur pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan
Hakim Pengawas

312 Hukum Kepailitan di Indonesia


A
AEC : Asean Economic Community
AFCL Asean Finance Corporation Limited

B
BW : Burgerlijk Wetboek

BV Beperkte Aanspraklijkheid
BI Bank Indonesia
BMIP Bangun Mustika Inter Persada

C
CV Commanditaire Vennotschap
CISG Contract For The International Sale
of Goods

F
FV Faillissement Verordening

H
BHP : Balai Harta Peninggalan
HIR Herziene Indonesia Reglement

I
ITPC : Indonesian Trade Promotion Centre
IAI : Initiative for Asean Integration

Hukum Kepailitan di Indonesia 313


Jo : Juncto

K
KUH Dagang : Kitab Undang-undang Hukum
Dagang
KUH Perdata : Kitab Undang-undang Hukum
Perdata

N
NV : Naamloze Vennootchap

P
PT : Perseroan Terbatas
PK : Peninjauan Kembali
PERPU : Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang
PKPU : Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang
PHK Pemutusan Hubungan Kerja

R
RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham
R.V : Recth voordeting
RUU : Rancangan Undang Undang

S
SPM Surat Perenyataan Mutu
SIP Securities Investor Protection Act

T
TDUP Tanda Daftar Usaha Perdagangan
TDP Tanda Daftar Perusahaan
TT Telegraphic Transfer

314 Hukum Kepailitan di Indonesia


U
UUPT Undang-Undang Perseroan Terbatas
UUPM Undang-Undang Pasar Modal
UU : Undang-undang

W
WvK Wetboek van Koophandel

Hukum Kepailitan di Indonesia 315