Anda di halaman 1dari 54

PANDUAN PELAKSANAAN SDIDTK

PUSKESMAS BUARAN

No. Dokumen :
No. Revisi :
Tgl. Efektif :
Disahkan Oleh :
Kepala Puskesmas Buaran
Ttd

dr.Endah Winarti, M.Kes

DINAS KESEHATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya


antara lain di selengarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin
sejak anak masih di dalam kandungan. Upaya kesehatan ibu yang di lakukan sebelum dan
semasa hamil hingga melahirkan, di tujukan untuk menghasilkan keturunan yang sehat dan
lahir dengan semangat (intact survival). Upaya kesehatan yang di lakukan sejak anak masih
dalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupanya di tujukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak agar
mencapai tumbuh kembang optimal baik fisik, mental emosional maupun social serta
memiliki inteligensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya.

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10 persen dari seluruh
populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa kualitas tumbuh kembang balita di
Indonesia perlu mendapat perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik. Stimulasi yang
memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan
intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang. Selain hal hal tersebut. Berbagai faktor
lingkungan yang dapat menggangu tumbuh kembang anak juga perlu di eliminasi.

Kegiatan stimulasi deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita
yang menyeluruh dan terkoordinasi di selenggarakan dalam bentuk kemitraan antara
keluarga ,masyarakat,tokoh masyarakat, organisasi profesi,lembaga swadaya
masyarakat,dengan tenaga professional.akan meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak
usia dini dan kesiapan memasuki jenjang pendidikan formal. Indicator keberhasilan
pembinaan tumbuh kembang anak tidak hanya meningkatnya status kesehatan dan gizi anak
tetapi juga mental, emosional, social, dan kemandirian anak berkembang secara optimal.

Program sdidtk merupakan salah satu pelayanan di puskesmas Buaran yang


mempunyai peranan strategis mendukung peningkatan pencapaian target lintas program
dan diharapkan berdampak pada peningkatan kinerja puskesmas dilakukan sesuai visi
puskesmas yaitu Sebagai Unggulan Utama dalam Pelayanan Kesehatan.
B. Tujuan
Tujuan umum:
Agar semua balita umur 0-5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6 tahun tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya sehingga berguna bagi nusa
dan bangsa serta mampu bersaing di era global melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan
intervensi dini.

Tujuan khusus:
a. Terselengaranya kegiatan stimulasi tumbuh kembang pada semua balita dan anak
prasekolah di wilayah kerja puskesmas.
b. Terselenggaranya kegiatan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang pada semua
balita dan anak prasekolah di wilayah kerja puskesmas.
c. Terselenggaranya intervensi dini pada semua balita dan anak prasekolah dengan
penyimpangan tumbuh kembang.
d. Terselenggaranya rujukan terhadap kasus kasus yang tidak bisa di tangani di
puskesmas

C. Sasaran
Sasaran kegiatan ini adalah
1. sasaran langsung : sasaran langsung stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang adalah semua anak umur 0 sampai dengan 6 tahun yang ada di
wilayah kerja puskesmas
2. sasaran tidak langsung :
tenaga kesehatan yang bekerja di lini terdepan (dokter, bidan, perawat, ahli gizi,
penyuluh kesehatan masyarakat dan sebagainya). Tenaga pendidik, petugas lapangan
dengan pembinaan tumbuh kembang anak

D. Ruang Lingkup
Pelayanan SDIDTK meliputi :
1. Kegiatan SDIDTK di dalam gedung Puskesmas
Adalah Program deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak yang dilaksanakan di
lingkungan dan gedung puskesmas pada waktu balita/anak pra sekolah kontak dengan
petugas di Puskesmas.
2. Kegiatan SDIDTK di luar gedung Puskesmas
Adalah Program deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak yang dilaksanakan di
luar gedung Puskesmas seperti di Posyandu, Kelas Ibu Balita, PAUD, satuan PAUD
lainnya, TPA, sekolah taman kanak-kanak dan unit praktek swasta lain di wilayah
Puskesmas.

E. Batasan Operasional ( Pengertian SDIDTK )


Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini
penyimpangan tumbuh kembang pada masa lima tahun pertama kehidupan,
diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan
anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, organisasi profesi, lembaga
swadaya masyarakat) dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial).
Salah satu upaya untuk mendapatkan anak yang seperti diinginkan tersebut adalah
dengan melakukan upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak atau yang
dikenal dengan nama Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)

Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0 - 6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Sitimulasi ini dapat dilakukan oleh ibu, ayah,
pengganti orang tua (pengasuh), anggota keluarga lain, atau jika si anak telah masuk PAUD
maka menjadi tanggung jawab lembaga untuk membantu pendeteksiannya.

Deteksi adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya


penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.

Intervensi adalah suatu tindakan tertentu pada anak yang mempunyai perkembangan
dan kemampuan menyimpang karena tidak sesuai dengan umurnya. Penyimpangan
perkembangan  bisa terjadi pada salah satu atau lebih kemampuan anak yaitu kemampuan
gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian anak.

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik si anak dari waktu ke waktu. Dilihat
dari tinggi  badan, berat badan dan lingkar kepala.

Perkembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh si anak. Meliputi sensorik (dengar,


lihat, raba, rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), kognitif (pengetahuan, kecerdasan),
komunikasi /  berbahasa, emosi - sosial serta kemandirian.

F. Landasan Hukum
1. Undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang no
35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-undang no. 23 tahun 2002.
2. Undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Peraturan Menteri Kesehatan no. 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak.
4. Peraturan Menteri Kesehatan no. 66 tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan,
Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak.
5. Peraturan Menteri Kesehatan no. 75 tahun 2014 tentang Puskesmas.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan No. 146 tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013

G. Kerangka Konsep SDIDTK


H. Indikator Keberhasilan
Indikator untuk melihat tingkat keberhasilan kegiatan SDIDTK di tingkat Puskesmas adalah
sebagai berikut :
INDIKATOR TINGKAT PUSKESMAS
INPUT
a. Buku KIA 
b. Pedoman SDIDTK 
c. Formulir SDIDTK 
d. Register SDIDTK 
e. Register kohort kesehatan bayi/anak 
balita
f. Format laporan kesehatan bayi/anak 
balita
g. Alat SDIDTK 
PROSES
a. TOT SDIDTK 
b. Pertemuan Perencanaan SDIDTK 
c. Monitoring / Supervisi SDIDTK 
d. Evaluasi SDIDTK 
e. Pengadaan Buku KIA 
f. Pengadaan formulir, kohort dan 
register SDIDTK
g. Pengadaan alat SDIDTK 
OUTPUT
a. Persentase Puskesmas dengan 
tenaga kesehatan terlatih
b. Persentase cakupan SDIDTK kontak 
pertama
c. Persentase cakupan kunjungan bayi 
untuk SDIDTK 4 kali / tahun
d. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan gerak kasar
e. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan gerak halus
f. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan bicara bahasa
g. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan sosialisasi
kemandirian
h. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan daya dengar
i. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan daya lihat
j. Balita dan anak prasekolah dengan 
penyimpangan Perilaku Emosional
k. Balita dan anak prasekolah dengan 
resiko Autis
l. Balita dan anak prasekolah dengan 
kemungkinan GPPH
m. Cakupan Ibu Balita dan anak 
prasekolah yang memiliki buku KIA

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


SDIDTK dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, baik dokter, bidan, perawat
dan petugas gizi yang berkerjasama dengan tenaga pendidik PAUD (TK/RA, Kelompok
Bermain, Taman Pengasuhan Anak (TPA) dan satuan PAUD sejenis), lembaga sosial dan
kader terlatih Posyandu.
Pembagian tugas pelaksanaan SDIDTK yang berjejaring dengan PAUD/TK
a. Petugas Kesehatan
b. Tenaga pendidik PAUD/TK
Pada pelaksanaan SDIDTK, tenaga pendidik PAUD bertugas membantu tenaga
kesehatan dalam pemeriksaan pertumbuhan anak yaitu tinggi badan dan berat badan
serta perkembangan anak dengan menggunakan instrumen KPSP. Bila pelaksana SDIDTK
non-tenaga kesehatan mendeteksi penyimpangan, sesegera mungkin merujuk ke
tenaga kesehatan atau ke fasilitas kesehatan di wilayahnya.

Kompetensi Kepala Puskesmas


1. Kepala Puskesmas sebaiknya memberikan bimbingan dan pengarahan kepada petugas
pelaksana program SDIDTK dengan melaksanakan supervisi fasilitas yang terarah,
sistematis dan berkesinambungan sehingga pengetahuan dan keterampilan petugas
pelaksana dalam memberikan pelayanan menjadi lebih baik.
2. Melakukan advokasi kepada lintas sektor untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen
dalam hal pelaksanaan program SDIDTK.
3. Kepala Puskesmas melakukan kegiatan supervisi 1 x 3 bulan terhadap petugas pelaksana
SDIDTK terkait kepatuhan petugas dalam menerapkan langkah-langkah pelayanan
SDIDTK.
4. Mengatur kembali uraian tugas, tanggung jawab petugas dalam pelaksanaan program
SDIDTK. Dengan penyusunan kelompok kerja khusus untuk pelaksanaan SDIDTK di
Puskesmas dan jaringannya terutama untuk tenaga kesehatan Puskemas, guru dan
kader mengingat masih terbatasnya tenaga dan fasilitas untuk pelaksanaan program
SDIDTK di Puskesmas dan jaringannya.

Kompetensi Pemegang Program SDIDTK


1. Pemegang Program Memberikan feedback laporan pelayanan SDIDTK dari hasil
pencatatan yang telah diberikan oleh petugas pelaksana program SDIDTK sehingga
dapat menjadi koreksi dan tindaklanjut untuk perbaikan pelayanan program SDIDTK.
2. Pemegang program SDIDTK diharapkan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki
oleh masyarakat dengan selalu mengadakan sosialisasi dan evaluasi program yang
dilaksanakan, dengan memberdayakan fungsi kader kesehatan dalam program
Posyandu.
3. Meningkatkan sosialisasi pelayanan SDIDTK kepada masyarakat khususnya ibu-ibu yang
memiliki balita dengan memberikan penyuluhan manfaat dari SDIDTK.
B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan tenaga puskesmas dalam kegiatan SDIDTK dikoordinir
oleh Pemegang Program SDIDTK sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan

C. Pelatihan Penyegaran
Kegiatan refreshing SDIDTK dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali bagi
perawat, bidan dan tenaga gizi atau tenaga lain yang sudah mendapatkan pelatihan SDIDTK.
Tujuan refreshing menjaga kualitas SDM dalam memberi pelayanan SDIDTK, Selain itu Kepala
Puskesmas juga memonitor kemampuan dan kepatuhan SDM dalam memberikan pelayanan
SDIDTK.
Metode refreshing disini dilaksanakan dengan cara:
a) penyampaian penekanan perubahan yang terjadi (bila ada)atau atau point - point yang
menjadi fokus perhatian.
b) penyampaian secara singkat langkah-langkah penerapan SDIDTK
c) Kepala Puskesmas/dokter Puskesmas menyampaikan studi kasus dan meminta
beberapa SDM kesehatan melaksanakan simulasi penerapan SDIDTK. Setelah selesai
simulasi diminta juga komentar serta masukan dari SDM kesehatan lainnya.

D. On the job training (Kalakarya)


On the job training atau in house training SDIDTK adalah salah satu metode
meningkatan kapasitas perawat, bidan, dan petugas gizi dalam menerapkan SDIDTK dengan
metode pendampingan. Metode on the job training ini lebih efektif karena peserta dipacu
untuk lebih aktif & memiliki kesempatan praktik lebih banyak.
Kegiatan on the job training bisa dilaksanakan di Puskesmas yang sama dengan
pendamping atau peserta on the job training magang ke Puskesmas lain bilamana
Puskesmas lain ini dianggap implementasi program SDIDTK dan memiliki mentor yang lebih
baik, jumlah balita dan prasekolah yang dilayani SDIDTK lebih banyak.
Beda antara on the job training dengan in house training adalah pada in house
training pendamping datang dari luar Puskesmas, sedangkan on the job training peserta dan
pendamping berasal dari Puskesmas yang sama atau peserta on the job training belajar ke
Puskesmas lainnya.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Ruangan
Pelayanan SDIDTK sebaiknya dilakukan di ruangan tertentu mengingat membutuhkan
waktu yang cukup untuk pelayanan, termasuk waktu yang dibutuhkan menyampaikan KIE
pertumbuhan dan perkembangan kepada orang tua/ pengasuh balita.
Pada Ruangan yang digunakan tersedia tempat melaksanakan pengukuran panjang
badan/ tinggi badan, berat badan, meja periksa, dan karpet untuk melaksanakan KPSP dan
pemerikasaan test daya dengar, test daya lihat maupun pemeriksaan Gangguan Mental
Emosional.

B. Fasilitas
1. Buku Pedoman pelaksanaan SDIDTK
2. Skrining Kit SDIDTK
a. Wadah kontainer : 1 buah
b. Lonceng : 1 buah
c. Kertas Warna warni : 1 set
d. Kertas dan Pensil warna : 1 Set ( 6 warna )
e. Boneka Barbie : 1 buah
f. Balok kecil : 10 buah
g. Balok besar : 5 buah
h. Bola Tenis : 1 buah
i. Kartu bergambar binatang dan buah-buahan : 1 Set
j. Sendok garpu : 1 Set
k. Cangkir : 1 buah
l. Kerincing : 1 buah
m. Pom-pom Woll Merah : 1 buah
n. Manik2 : 1 Set
o. Kismis 20 biji dalam kantong plastic : 1 buah
p. Botol kecil plastic : 1 buah
q. Botol kecil kaca : 1 buah
r. Saputangan warna merah ukuran 19,3 cm x 19 cm : 1 buah
s. Papan Test Daya Lihat ( E test ) : 1 buah
t. Timbangan Badan : 1 buah
u. Pengukur Tinggi Badan : 1 buah
v. Metlin dari bahan plastic 150cm : 1 buah
w. Kamera foto : 1 unit
3. Formulir Deteksi Tumbuh Kembang Anak
4. Buku KIA
5. Register SDIDTK
6. Formulir Rujukan
7. Register Kohort Bayi
8. Register Kohort Balita
9. Register Anak Sekolah
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Strategi / Metode Kegiatan SDIDTK


SDIDTK Diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara : keluarga, masyarakat dengan
tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial).
Pelaksanaan program SDIDTK di Puskesmas dan jaringannya dengan pendekatan fungsi
pengorganisasian dan penggerakan.
1. Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan perilaku yang
efektif antara pelaksana kegiatan SDIDTK, sehingga mereka dapat bekerjasama secara
efisien untuk mencapai tujuan. Pengorganisasian terdiri dari komponen penentuan
sumber daya manusia, menyusun kelompok kerja, membagi tugas kelompok kerja,
mendelegasikan wewenang dan melakukan koordinasi.
 Penentuan sumber daya adalah kemampuan penanggung jawab program SDIDTK
menentukan sumber daya manusia yang ada di wilayah kerja Puskesmas dan
jaringannya dalam melaksanakan kegiatan SDIDTK untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
 Menyusun kelompok kerja adalah kemampuan penanggung jawab program
SDIDTK dalam menyusun kelompok kerja kegiatan SDIDTK di wilayah kerja
Puskesmas dan jaringannya.
 Membagi tugas kelompok kerja adalah kemampuan penanggung jawab program
SDIDTK dalam membagi tugas kegiatan SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas dan
jaringannya.
 Mendelegasikan wewenang adalah kemampuan penanggung jawab program
untuk mendelegasikan wewenang dalam pelaksanaan kegiatan SDIDTK di wilayah
kerja Puskesmas dan jaringannya.
 Koordinasi adalah kemampuan penanggung jawab program dalam mengatur
pelaksanaan kegiatan SDIDTK dengan sumber daya-sumber daya yang ada untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Penggerakan
Penggerakan adalah membuat semua pelaksana kegiatan SDIDTK agar mau bekerja
untuk mencapai tujuan SDIDTK sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan
terdiri dari komponen memberi pengarahan, memberi motivasi, melakukan
komunikasi.
 Memberi pengarahan adalah kemampuan penanggung jawab program dalam
memberikan pengarahan kepada pelaksana kegiatan SDIDTK.
 Memberi motivasi adalah kemampuan penanggung jawab program dalam
memotivasi pelaksana kegiatan SDIDTK agar mau bekerja dengan semestinya dan
penuh semangat.
 Melakukan komunikasi adalah kemampuan penanggung jawab program dalam
penyampaikan informasi yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan SDIDTK.

B. Langkah Kegiatan SDIDTK


1. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
Dilaksanakan dengan memperhatikan :
a. Bertujuan untuk mempertahankan kegiatan yang sudah ada pada periode
sebelumnya dan memperbaiki program yang masih bermasalah
b. Menyusun rencana kegiatan baru yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan di
wilayah tersebut dan kemampuan puskesmas.
Contoh matrik :
Program Jenis Pelayanan Target Pencapaian Masalah

2. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)


Merupakan penetapan rincian rencana pelaksanaan kegiatan SDIDTK berdasarkan
RUK
Contoh matrik :
Jenis Tujuan Sasaran Penanggung Petugas Sumber Waktu Ket
kegiatan jawab yang dana pelaksanaan
terlibat

3. Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan kegiatan SDIDTK disepakati dan disusun bersama dengan lintas
program dan lintas sektor terkait.

Jadwal kegiatan dan jenis skrining/deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang


pada balita dan anak prasekolah :

Jenis Deteksi Tumbuh Kembang Yang Harus Dilakukan

Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini Penyimpangan


Umur Penyimpangan Penyimpangan Mental Emosional
Anak Pertumbuhan Perkembangan (dilakukan atas indikasi)

BB/TB LK KPSP TDD TDL KMPE M-CHAT GPPH

0 bulan  
3 bulan    
6 bulan    
9 bulan    
12 bulan    
15 bulan  
18 bulan     
21 bulan   
24 bulan     
30 bulan     
36 bulan        
42 bulan       
48 bulan       
54 bulan       
60 bulan       
66 bulan       
72 bulan       
Keterangan:

BB/ : Berat Badan terhadap Tinggi TDL : Tes Daya Lihat


TB badan
LK : Lingkar Kepala KMPE : Kuesioner Masalah Perilaku
Emosional
KPSP : Kuesioner Pra Skrining M-CHAT : Modified Checklist for Autism
Perkembangan in Toddlers
TDD : Tes Daya Dengar GPPH : Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas

4. Pencatatan dan Pelaporan


Pencatatan dan pelaporan kegiatan deteksi dini tumbuh kembang anak di
tingkat puskesmas dan jaringannya, menggunakan sistem yang sudah ada
dengan tambahan beberapa formulir untuk mencatat dan melaporkan kegiatan ini.

PENCATATAN
Puskesmas yang melaksanakan deteksi dini tumbuh kembang anak, perlu
menyediakan formulir pencatatan berikut ini:
1. Formulir deteksi dini tumbuh kembang anak.
Formulir ini digunakan oleh petugas kesehatan di puskesmas untuk
mencatat hasil pemeriksaan/skrining tumbuh kembang anak yang dilakukan di
pada anak balita dan prasekolah yang ke Puskesmas maupun di Posyandu dan
PAUD.

2. Register SDIDTK.
Register SDIDTK merupakan form pencatatan hasil pelaksanaan
SDIDTK. Dengan register ini akan didapatkan data lebih rinci hasil
pemeriksaan yang terdiri dari pemeriksaan Pertumbuhan, Perkembangan,
Perilaku Emosional, Autis dan GPPH. Data yang diperoleh dari Formulir
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak dipindahkan ke Register SDIDTK. Dari
data Register SDIDTK didapatkan data gambaran tumbuh kembang anak
dan evaluasi program terkait kesehatan anak, gizi dan promosi kesehatan.

3. Register Kohort Kesehatan Bayi dan Register Kohort Kesehatan


Anak Balita dan Prasekolah.
Setelah tenaga kesehatan selesai mencatat hasil
pemeriksaan/skrini ng tumbuh kembang anak pada Formulir Deteksi Dini
Tumbuh Kembang Anak, data-data yang ada tersebut dimasukkan ke
Register Kohort Bayi - jika umur bayi 0-1 tahun atau Register Kohort Anak
Balita dan Prasekolah - jika umur anak 1-6 tahun.

PELAPORAN
Pelaporan hasil pelayanan SDIDTK di laporkan secara berjenjang mulai dari tingkat
Puskesmas sampai ke tingkat Pusat . adapun formulir yang digunakan adalah
sebagai berikut:
1. Formulir Laporan Kesehatan Bayi dan Laporan Kesehatan Anak Balita dan
Prasekolah di Puskesmas dan Jaringannya.
Data yang terekam pada Register Kohort Bayi dipindahkan ke
Formulir Laporan Kesehatan Bayi sebagai laporan bulanan. Demikian pula
halnya dengan data yang ada di Register Kohort Anak Balita dan Prasekolah,
juga dipindahkan ke formulir Laporan Kesehatan Anak Balita dan
Prasekolah.Laporan Kesehatan Bayi/Laporan Kesehatan Anak Balita dan
Prasekolah dibuat rangkap dua. Lembar pertama laporan bulanan ini diolah
dan dianalisa di tingkat Puskesmas dan hasilnya ditindak-lanjuti oleh Kepala
Puskesmas, yang kegiatannya telah disepakati oleh seluruh staf puskesmas
dan jaringannya pada pertemuan bulanan/lokakarya mini di puskesmas.
Lembar kedua laporan ini dikirim ke Pengelola program KIA Kabupaten/Kota
sebagai laporan bulanan puskesmas. Pelaporan kegiatan DDTK anak juga
menggunakan formulir laporan ini.

2. Formulir Rekapitulasi Laporan Kesehatan Bayi dan Formulir


Rekapitulasi Laporan Kesehatan Anak Balita dan Prasekolah tingkat
Kabupaten/Kota.
Di tingkat kabupaten/kota, hasil pelayanan kesehatan anak (termasuk
kegiatan deteksi dini tumbuh kembang anak} yang dilaporkan oleh
puskesmas melalui Formulir Laporan Kesehatan Bayi/Laporan Kesehatan
Anak Balita dan Prasekolah, dimasukkan ke Formulir Rekapitulasi Laporan
Kesehatan Bayi/Rekapitulasi Laporan Kesehatan Anak Balita dan Prasekolah
oleh pengelola program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Tingkat kabupaten/kota mengolah dan menganalisa laporan dari
puskesmas puskesmas, dan hasilnya ditindak-lanjuti oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, yang kegiatannya telah disepakati oleh seluruh
penanggung jawab program dan lintas sektor terkait dengan upaya
kesehatan dan pembinaan tumbuh kembang anak usia dini.
Rekapitulasi Laporan Kesehatan Bayi/Kesehatan Anak Belita dan
Prsekolah dikirim ke Provinsi dalam bentuk laporan triwulan. Rekapitulasi
laporan triwulan kegiatan DDTK anak juga menggunakan formulir rekapitulasi
ini.

5. Monitoring dan Evaluasi


Monitoring adalah pengawasan kegiatan secara rutin untuk menilai
pencapaian program terhadap target melalui pengumpulan data mengenai input,
proses dan output secara regular dan terus-menerus.
Evaluasi adalah suatu proses untuk membuat penilaian secara sistematik,
untuk keperluan pemangku kepentingan, mengenai suatu kebijakan, program,
upaya atau kegiatan berdasarkan informasi dan hasil analisis yang dibandingkan
dengan relevansi, efektifitas biaya dan keberhasilan. Data pemantauan yang baik
sering menjadi titik awal bagi suatu evaluasi. Secara ringkas, evaluasi adalah piranti
untuk menjawab “Apakah tujuan tercapai atau tidak dan mengapa?”. Evaluasi
pencapaian kegiatan dilakukan secara berkala (tahunan, tiga- atau lima-tahunan)
yang dibandingkan dengan target, serta identifikasi masalah yang dihadapi dalam
pelaksanaan untuk perbaikan untuk perioda berikutnya.
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat
Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, dan Puskesmas dan jaringannya. Di bawah ini
diuraikan aspek pokok Monitoring dan evaluasi upaya SDIDTK di tingkat Puskesmas :
1. Melakukan Monitoring melalui PWS KIA.
2. Menggunakan hasil Monitoring dan evaluasi untuk melakukan bimbingan teknis
kepada jaringan dan (Posyandu,PAUD dll) dan untuk advokasi kepada penentu
kebijakan.
3. Pertemuan evaluasi secara berkala:
 Puskesmas dan jaringannya tiap bulan (Minilokakarya)
 Puskesmas dengan lintas sektor tiap triwulan
Pertemuan bulanan di tingkat puskesmas (lokakarya mini) dapat
dimanfaatkan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan SDIDTK di posyandu,
puskesmas pembantu, puskesmas, Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan
sebagainya.
Dalam memonitor hasil kegiatan SDIDTK, laporan bulanan kegiatan
SDIDTK diolah dan dianalisa, sehingga setiap puskesmas akan mempunyai
data hasil kegiatan SDIDTK per desa, per bulan yang mellputi cakupan kontak
pertama SDIDTK; dan jumlah anak yang tingkat perkembangannya sesuai dan
yang menyimpang.
Evaluasi kegiatan SDIDTK anak di puskesmas dan jaringannya
dilaksanakan dengan cara mengkaji data sekunder laporan tahunan hasil
kegiatan SDIDTK, diantaranya dengan membandingkan hasil cakupan SDIDTK
anak tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti akan menimbulkan resiko atau dampak, baik resiko
yang terjadi pada masyarakat sebagai sasaran kegiatan maupun resiko yang terjadi pada
petugas sebagai pelaksana kegiatan. Keselamatan pada sasaran harus diperhatikan karena
masyarakat tidak hanya menjadi sasaran satu kegiatan saja melainkan menjadi sasaran banyak
program kesehatan lainnya. Tahapan – tahapan dalam mengelola keselamatan sasaran antara
lain :
1. Identifikasi Resiko
Penanggungjawab program sebelum melaksanakan kegiatan harus mengidentifikasi
resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan.
Identifikasi resiko atau dampak dari pelaksanaan kegiatan dimulai sejak membuat
perencanaan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk
tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Analisis Resiko
Tahap selanjutnya adalah petugas melakukan analisis terhadap resiko atau dampak
dari pelaksanaan kegiatan yang sudah diidentifikasi. Hal ini perlu dilakukan untuk
menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam menangani resiko yang terjadi.
3. Rencana Pencegahan Resiko dan Meminimalisasi Resiko
Setelah dilakukan identifikasi dan analisis resiko, tahap selanjutnya adalah
menentukan rencana yang akan dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko atau dampak
yang mungkin terjadi.
4. Rencana Upaya Pencegahan
Tahap selanjutnya adalah membuat rencana tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi resiko atau dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan yang dilakukan. Hal ini perlu
dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat dalam mengatasi resiko atau dampak
yang terjadi.
5. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring adalah penilaian yang dilakukan selama pelaksanaan kegiatan sedang
berjalan.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari-hari sering disebut
Safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah petugas dan hasil kegiatannya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat pekerjaan atau kegiatan
yang dilakukan.
Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang
aman, kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan serta penurunan
kesehatan akibat dampak dari pekerjaan yang dilakukan, bagi petugas pelaksana dan petugas
terkait. Keselamatan kerja disini lebih terkait pada perlindungan fisik petugas terhadap resiko
pekerjaan.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja,
agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan
sekitarnya.
Seiring dengan kemajuan Ilmu dan tekhnologi, khususnya sarana dan prasarana
kesehatan, maka resiko yang dihadapi petugas kesehatan semakin meningkat. Petugas
kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan, untuk itu
semua petugas kesehatan harus mendapat pelatihan tentang kebersihan, epidemiologi dan
desinfeksi. Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh
yang sehat. Menggunakan desinfektan yang sesuai dan dengan cara yang benar, mengelola
limbah infeksius dengan benar dan harus menggunakan alat pelindung diri yang benar.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah kegiatan yang bersifat rutin yang dirancang untuk mengukur
dan menilai mutu pelayanan. Pengendalian mutu sangat berhubungan dengan aktifitas
pengawasan mutu, sedangkan pengawasan mutu merupakan upaya untuk menjaga agar
kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai rencana dan menghasilkan keluaran yang sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.
Kinerja pelaksanaan dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan indikator sebagai
berikut :
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metoda yang digunakan
4. Tercapainya indikator
Hasil pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi serta permasalahan yang ditemukan
dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulan.

BAB IX
PENUTUP

Pedoman pelaksanaan SDIDTK ini dibuat untuk memberikan petunjuk dalam


pelaksanaan kegiatan SDIDTK di wilayah kerja Puskesmas Buaran ,penyusunan pedoman
disesuaikan dengan kondisi riil yang ada di puskesmas, tentu saja masih memerlukan inovasi-
inovasi yang sesuai dengan pedoman yang berlaku secara nasional. Perubahan perbaikan,
kesempurnaan masih diperlukan sesuai dengan kebijakan, kesepakatan yang menuju pada hasil
yang optimal.
Pedoman ini digunakan sebagai acuan bagi petugas dalam melaksanakan kegiatan
SDIDTK di wilayah kerja puskesmas agar tidak terjadi penyimpangan atau pengurangan dari
kebijakan yang telah ditentukan.

Buaran,

Tim Penyusun

Lampiran
FORMULIR DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK

Puskesmas ........................Kec. .......................... Kab/Kota. ........................... Prov. ......................

I. IDENTITAS ANAK
1. Nama : ................................................................. Laki-laki/Perempuan
2. Nama Ayah : ......................................................................................................................................
Nama Ibu : ......................................................................................................................................
3. Alamat : ......................................................................................................................................
4. Tanggal Pemeriksaan : ......../........................../20......
5. Tanggal Lahir : ......../........................../20......
6. Umur Anak : ........................... bulan

II. ANAMNESIS
1. Keluhan
Utama .................................................................................................................................................................
........
........................................................................................................................................................................
2. Apakah anak punya masalah tumbuh
kembang .......................................................................................................................
.....................................................................................................................................................................

III. PEMERIKSAAN RUTIN SESUAI JADWAL


1. BB : ....... Kg; PB/TB : ....... Cm; BB/TB : a. Gizi baik; b. Gizi kurang; c. Gizi buruk; d. Gizi lebih; e. Rujuk
: Ya/Tidak.
2. LKA : ...... Cm. LKA/U : a. Normal; b. Mikrosefal; c. Makrosefal; d. Rujuk : Ya/Tidak
3. Perkembangan anak : a. Sesuai
b. Meragukan : b1. GK, b2. GH, b3. B-bahasa, b4. Sos. Kemandirian, b5. Rujuk :
Ya /Tidak
c. Penyimpangan : b1. GK, b2. GH, b3. B-bahasa, c4. Sos. Kemandirian; c5. Rujuk
: Ya/Tidak
4. Daya lihat : a. Normal; b. Curiga ada gangguan; c. Rujuk : Ya/Tidak
5. Daya dengar : a. Normal; b. Curiga ada gangguan; c. Rujuk : Ya/Tidak
6. Mental emosional : a. Normal; b. Curiga ada gangguan; c. Rujuk : Ya/Tidak

IV. PEMERIKSAAN ATAS INDIKASI/JIKA ADA KELUHAN


1. Autis : a. Risiko tinggi; b. Risiko rendah; c. Gangguan lain; d. Batas Normal; e. Rujuk : Ya/Tidak
2. GPPH : a. Kemungkinan GPPH; b. Bukan GPPH; c. Rujuk : Ya/Tidak

V. KESIMPULAN
..................................................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................................................
..

VI. TINDAKAN INTERVENSI


1. Konseling stimulasi bagi ibu : a. Diberikan; b. Tidak diberikan
2. Intervensi stimulasi perkembangan : a. GK; b. GH; c. B-bahasa; d. Sos. Kemandirian; e. Rujuk : Ya/Tidak
3. Tindakan pengobatan lain
: ...............................................................................................................
..............................................................
Dirujuk ke ....................................................................... : a. Ada surat rujukan; b. Tidak ada surat rujukan

Pemeriksa

…………………………………

CaraPengisian:
a. Baris teratas diisi nama Puskesmas, Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi.
b. AngkaI.ldentitasAnak:
• Nomor1-3:jelas.
• Nomor4 dan 5:diisi tanggal........../bulan............./tahun..........
• Nomor 6: diisi umur dalam bulan, dihitung dari nomor 5 dikurangi nomor4.
c. AngkaII. Anamnesis:
• Nomor 1: diisi keluhan utama orangtua/keluarga membawa anak ke Puskesmas.
• Nomor2: diisi jawaban orangtua/keluarga atas pertanyaan "Apakah anak punya
masalah tumbuh kembang?" Jika jawaban Ya, ditulis singkat masalahnya.
d. Angka III.Pemeriksaan rutin sesuai jadwal/jika ada keluhan.
• Nomor 1: diisi berat dalam kilogram, panjang/tinggi badan dalam sentimeter.
BB/TB: lingkari salah satu huruf a,b,c atau d,sesuai hasil pemeriksaan
• Nomor 2: PB/U atau TB/U: lingkari salah satu huruf a,b,c atau d,sesuai hasil
pemeriksaan
• Nomor 3: diisi lingkar kepala anak dalam sentimeter. LKA/U: lingkari salah satu
huruf a,b,atau c,sesuai hasil pemeriksaan
• Nomor 3: Perkembangan anak, lingkari salah satu jawaban sesuai pemeriksaan 1),
2) atau 3) sesuai hasil KPSP dan dituliskan hasil jawaban Ya dan jawaban Tidak
yang ditemukan.
Bila jawaban yang dilingkari 2) atau 3), maka lingkari salah satu jawaban a,b,c,d
sesuai hasil pemeriksaan.
6. Nomor 4: Daya lihat:lingkari salah satu huruf a atau b,sesuai hasil TDL.
7. Nomor 5: Daya dengar: lingkari salah satu huruf a atau b, sesuai hasil TDD.
8. Nomor 6: Perilaku emosional: lingkari salah satu huruf a atau b, sesuai hasil
KMPE..
e. Angka I V Pemeriksaan atas indikasi / jika ada keluhan.
• Nomor 1: Autisme: lingkari salah satu huruf a, b atau c, sesuai hasil M - CHAT.
• Nomor 2: GPPH: lingkari salah satu huruf a atau b, sesuai hasil Kuesioner GPPH.
f. Angka V Kesimpulan, tulis secara singkat hasil pemeriksaan dan kesimpulan akhir.
g. AngkaVI: Tindakan Intervensi
• Nomor1,lingkari huruf a, bila tenaga kesehatan melakukan konseling stimulasi
atau lingkari huruf b, bila tenaga kesehatan tidak melakukan konseling.
• Nomor 2, lingkari huruf a,b,c,d; sesuai dengan intervensi stimulasi yang diberlkan
pada anak.Tulis tanggal evaluasi berikutnya pada huruf e.
h. Nomor 3, tulis jenis/macam tindakan pengobatan yang diberikan kepada anak.
i. Nomor 4, tulis tujuan rujukan,lingkari salah satu,huruf a bila ada surat rujukan,atau huruf
b bila tidak ada surat rujukan.
j. Pemeriksa: Ditulis nama Petugas Pemeriksa

FORM PENILAIAN DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK


FORMAT REKAPITULASI KEGIATAN SDIDTK
UNTUK DILAPORKAN KE PUSKESMAS SETIAP BULAN
REKAPITULASI DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK DI PUSKESMAS
KOHORT BALITA
KOHORT BAYI
GRAFIK BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN LAKI-LAKI 0 - 24 BULAN

GRAFIK BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN LAKI-LAKI 24 - 60 BULAN


GRAFIK BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN PEREMPUAN 0 - 24 BULAN

GRAFIK BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN PEREMPUAN 24 - 60 BULAN

Anda mungkin juga menyukai