Anda di halaman 1dari 19

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Kompetensi Profesional Guru PAUD


A. Pengertian Kompetensi, Profesional dan Guru
1) Pengertian Kompetensi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014:735) Kompetensi
merupakan turunan dari kata kompeten yang bermakna kewenangan
atau kekuasaan untuk menentukan/memutuskan sesuatu. Sedangkan
makna kata awalnya kompeten yaitu orang yang cakap (mengetahui).
Sagala (2006:25) Kompetensi merupakan seperangkat
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayatai,
dan dikuasai, oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
Jaedun (2009:7) Kompetensi merupakan penguasaan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk
kerja, yang diharapkan bisa dicapai seseorang setelah menyelesaikan
sesuatu program pendidikan.
Kesimpulan dari pengertian diatas kompetensi adalah
merupakan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang mempunyai
kewenangan dan kekuasaan untuk melaksanakan tugas
keprofesionalnya.
2) Pengertian Profesional
Asmawati (2014:21) Profesional adalah sebuah pekerjaan
jabatan yang memerlukan keahlian khusus. Profesional merupakan
proses yang dinamis pada pekerjaan tertentu yang dapat diamati untuk
memperbaiki atau untuk meningkatkan karateristik yang penting sesuai
dengan aturan profesi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2014
profesionalisme adalah mempunyai mutu, kualitas, tindak tanduk yang
merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Sedangkan,
profesional bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian
khusus untuk menjalankannya.
Kesimpulan dari pengertian diatas profesional adalah suatu
pekerjaan tertentu yang dapat diamati untuk memperbaiki atau
meningkatkan karateristik yang penting sesuai dengan aturan profesi
dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.
3) Pengertian Guru
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014:497) Guru
artinya orang yang pekerjaannya (mata pencariannya, profesinya)
mengajar.
Latif (2013:246) Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu,
yang tugas utamanya mendidik, mengajar, mengasuh, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Asmawati (2014:21) Guru adalah sebagai tenaga profesional
sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu
pendidikan formal dan non formal.
Kesimpulan dari pengertian diatas guru adalah tenaga pengajar
yang tugas utamanya mendidik, mengajar, mengasuh, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
B. Macam – macam Kompetensi Guru PAUD
Kompetensi pendidik PAUD Dalam peraturan pemerintah No. 19
Tahun 2005: Standar Nasional Pendidikan Bab VI antara lain (Sujiono,
2009) :
1) Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi
dalam kompetensi Pedagogik antara lain:
a. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami
peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan
kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar
awal peserta didik.
b. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan
untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan
pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan
strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik,
kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun
rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
c. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar (setting)
pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi
merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil
belajar secara berkesinambungan denga berbagai
metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk
menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan
memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas
program pembelajaran secara umum.
e. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan
berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk
mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

2) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang
mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan
berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi:
a. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan
norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam
bertindak sesuai dengan norma.
b. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam
bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.
c. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan
pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan
menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
d. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang
berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku
yangh disegani.
e. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai
dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan
memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

3) Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi
pembelajaran secara Was dan mendalam, yang mencakup penguasaan
materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan
yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan
metodologi keilmuannya. Sub kompetendsi Profesional meliputi:
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung pelajaran yang dimampu
b. Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata
pelajaranlbidang pengembangan yang dimampu
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
melakukan tindakan reflektif.
e. Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.

4) Kompetensi Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk
berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga
kependidikan, orang tualwali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sub
Kompetensi Sosial meliputi:
a. Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena
pertimbangan jenis kelamin, agara, raskondisifisik, latar belakang
keluarga, dan status sosial keluarga.
b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki
keragaman social budaya.
d. Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan.

C. Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru PAUD


Asmawati (2014: 23 ) Kualifiksi Akademik dan Kompetensi
Guru PAUD Jalur Formal dan Nonformal
a) Kualifikasi Akademik :
1) Memiliki ijasah SI/DIV dari perguruan timggi terakriditasi
2) Pendidikan menimal lulusan DII (Diploma) atau sedrajat dan
memiliki sertifikat pelatihan/ pendidikan/ khusus PAUD yang
terakriditasi
3) Memiliki ijasah SI/ DIV/ PGPAUD dan telah berpengalaman sebagai
pendidik PAUD minimal 4 tahun

b) Kompetensi Guru PAUD

Tabel 1. 1 Kompetensi Profesional


No Kompetensi Indikator
1 Kemampuan a. Mampu menggunakan berbagai peralatan
memanfaatkan teknologi teknologi pembelajaran untuk kepentingan
informasi untuk anak didik
komunikasi
2 Kemampuan memahami a. Memahami konsep pembelajaran melalui
pembelajaran yang sesuai bermain yang sesuai dengan tingkat
dengan tahap perkembangan dan pertumbuhan anak
perkembangan anak b. Memahami pembelajaran yang sesuai
(DAP) dengan kekuatan, kebutuhan, dan minat
anak
c. Memahami pembelajaran yang sesuai
dengan konteks sosial budaya setiap anak
d. Mampu membuat dan mengembangkan
APE
e. Mampu memahami perlunya dongeng
f. Mampu mempersiapkan lingkungan
pembelajaran bagi AUD
3 Kemampuan memahami a. Memahami substansi dan metodologi
substansi kurikulum pembelajaran agama dan nilai moral
PAUD melalui bermain
b. Memahami substansi dan metodologi
pembelajaran bahasa dan keaksaraan
melalui bermain
c. Memahami substansi dan metodeolgi
d pembelajaran matematika melalui bermain
. Memahami substansi metodologi
e pembelajaran ilmu alam melalui bermain
. Memahami substansi metodologi
pembelajaran seni dan kerajinan tangan
f. Memahami ssubstansi metodologi
g pembelajaran musik dan gerak
. Memahami cara pengajaran anak usia dini
h yang berpusat pada anak
. Memahami jenis nutrisi bagi pertumbuhan
dan perkembangan anak dan mampu
merekomendasikan pada orang tua dan
pihak erkait
i. Menguasai dasar P3K
4 Kemampuan memahami a. Mampu melaksanakan penelitian
penelitian sederhana dan sederhana untuk meningkatkan layanan
kajian kritis untuk PAUD
meningkatkan layanan b. Mampu melaksanakan kajian kritis untuk
PAUD meningkatkan layanan PAUD bagi orang
dan calon orang tua

Asmawati (2014: 25 ) Kompetensi Guru PAUD


2.2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Usia Dini
A. Pengertian Pembelajaran
Sagala (2006: 61) Mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas
siswa dalam arti yang luas. Peran guru bukan semata-mata memberikan
informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar
(directing and facilitating the rearning) agar proses belajar lebih memadai.
Pemebelajaran mengandung arti untuk mengetahui kemampuan dasar yang
dimiliki oleh murid.
Pembelajaran memiliki dua karateristik yiatu Pertama, dalam
proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal,
bukan hanya menuntut siswa agar aktif dalam pembelajaran, dalam proses
pembelajaran dengan metode bermain sambil belajar. Kedua, dalam
pembelajar membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab yang
diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan berfikir murid.

B. Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini


Sujiono (2009 : 138) Kegatan pembelajaran pada anak usia dini
pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara kongkrit berupa
seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman beajar melalui
bermain yang diberikan kepada anak usia dini berdasarkan potensi dan
tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian
kompetensi yang harus dimiliki oleh anak.
Pembelajaran memiliki sejumlah fungsi diantaranya untuk
mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan
tahap perkembangan, mengenalkan anak dengan lingkungan sekitar,
mengembangkan sosialisasi anak, mengenalkan peraturan dan
menanamkan disiplin pada anak dan memberikan kesempatan kepada anak
untuk menikmati masa bermainnya.
Model pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model
yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada anak.
Pembelajaran anak usia dini haruslah didasarkan prinsip-prinsip
perkembangan anak usia dini antara lain, proses kegiatan belajar pada anak
usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip belajar melalui bermain.
Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dalam
lingkungn yang kondusif dan inofatif dari didalam ruangan ataupun diluar
lingkungan, proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dengan
pendekatan tematik dan terpadu, proses kegiatan belajar anak usia dini
harus diarahkan pada pengembangan potesnsi kecerdasan menyeluruh dan
terpadu.

C. Karateristik Pendidikan Sebagai Pembelajaran


Djumali (2014:38) Ada beberapa syarat suatu kegiatan dinamakan
pembelajaran, yaitu:
1) Kegiatan yang dimaksudkan sebagai pembelajaran tersebut harus
dilakukan dengan terencana. Dalam pelaksanaan pembelajaran memang
sejak awal sudah direncanakan dan terjadwal, sehingga bukan
merupakan kegiatan yang sepontan.
2) Dilakukan oleh pihak yang memiliki kualifikasi dan profesionalisme
yang diakui. Dalam kegiatan ini dilakukan oleh guru sehingga
pengetahuan maupun keterampilan dapat dipertanggung jawabkan.
3) Didalam kegiatan pembelajaran terdapat interaksi edukasional, yaitu
bentuk interaksi yang menempatkan kegiatan tersebut saling shering
pengetahuan, pengalaman sehingga unsur mendidik sangat dominan
dalam interaksi yang terjadi.
4) Kegiatan dilandasi dengan metodologi pembelajaran, artinya kegiatan
tersebut dirancang dengan mengikuti pola pedagogik yang sudah
divalidasikan.
5) Mempunyai tujuan instruksional. Kegiatan ini mengandung tujuan
pembelajaran yang diprogramkan dalam kerangka tujuan pendidikan
bukan tujuan lain.
6) Ada varifikasi baik dalamproses maupun akhir kegiatan sehingga dapat
diperoleh feed back untuk penilaian kegiatan pembelajaran maupun
untuk remedial teacing.
7) Terdapat program yang direncanakan dipresentasikan dalam interaksi
edukasional yang disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik.

D. Tujuan Pembelajaran
1) Tujuan Umum
a) Dirumuskan dalam GBPP pada aspek perkembangan atau mata
pembelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
b) Mencerminkan perilaku umum hasil belajar pokok bahasan aspek
pengembangan atau mata pembelajaran tertentu pada jenjeng
tertentu.
c) Berlaku individual klasikal menurut kajian pengembangan
kurikulum.
d) Rumusan berisi perilaku umum yang dapat dipertunjukan.

2) Tujuan Khusus
a) Dirumuskan oleh guru dan dituangkan dalam satuan pembelajaran.
b) Mencerminkan perilaku khusus yang segera dapat dipertunjukan
pada akhir proses belajar.
c) Bersifat indifidual atas pertimbangan guru.
d) Rumusan perilaku dapat diukur dan hasilnya dapat dipertunjukan
atau dapat diamati.

2.3. Kelompok Bermain


A. Pengertian Kelompok Bermain
Ruang lingkup program kegiatan belajar kelompok bermain
adalah Hapidin (2004: 15) mengintegrasikan delapan aspek perkembangan
atau kemampuan melalui : (1) Program kegiatan belajar dalam rangka
pembentukan perilaku yang antara lain meliputi keimanan dan ketaqwaan,
budi pekerti, sosial dan emosional, dan disiplin. (2) Program kegiatan
belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar yang antara
lain meliputi kemampuan berbahasa, daya pikir, keterampilan dan seni,
dan kesehatan jasmani. Pembentukan perilaku dan pengembangan
kemampuan dasar tersebut dicapai melalui tema-tema yang dikembangkan
sendiri oleh pendidik.
Mengacu pada pendapat di atas maka pada intinya fungsi program
pembelajaran pada kelompok yaitu aspek program pembentukan perilaku
anak dan aspek pengembangan kemampuan dasar. Kedua rambu ini
merupakan elemen dasar dalam rangka pencapaian hasil belajar anak
melaui aktivitas bermain.
Depdikbud (2002 : 2) menegaskan bahwa: “Kelompok bermain
adalah salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 3-6 tahun yang
berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar ke arah perkembangan
sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini
dalam menyesuaikan diri dalam lingkungannya dan untuk
pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, termasuk siap
memasuki pendidikan dasar.”
Senada dengan pendapat di atas, maka Sudono (2003:1)
mendefnisikan kelompok bermain yaitu: “Kelompok anak yang melakukan
suatu kegiatan dengan menggunakan alat atau tanpa alat sehingga
menghasilkan suatu informasi, memberikan kesenangan, maupun
mengembangkan imajinasi anak.”
Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
kelompok bermain adalah salah satu wadah berkumpulnya sekelompok
anak yang berumur tertentu dengan tujuan untuk memperoleh
informasi dan memberikan kesenangan kepada mereka sehingga dapat
bertumbuh dan berkembang sesuai potensinya dan siap memasuki
tingkat pendidikan selanjutnya.
Program kegiatan belajar kelompok bermain berfungsi yaitu (1)
meningkatkan kesejahteraan anak melalui kesehatan dan gizi, (2)
mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak sesuai dengan
perkembangannya. Sedangkan menurut Depdikbud (2002: 6)
menegaskan bahwa program kegiatan belajar kelompok bermain bertujuan
untuk:
1. Meningkatkan keyakinan dalam beragama;
2. Mengembangkan budi pekerti dalam kehidupan anak;
3. Mengembangkan sosialisasi dan kepekaan emosional;
4. Meningkatkan disiplin melalui kebiasaan hidup teratur;
5. Mengembangkan komunikasi dalam kemampuan berbahasa;
6. Meningkatkan pengetahuan atau pengalaman melalui kemampuan
daya pikir;
7. Mengembangkan koordinasi motorik halus dan kreatifitas
dalam keterampilan dan seni;
8. Meningkatkan kemampuan motorik kasar dalam rangka kesehatan
jasmani.

B. Persyaratan Pendirian Kelompok Bermain


1) Persyaratan Umum
Pendirian Kelompok Bermain harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Diselenggarakan oleh yayasan atau badan yang bersifat sosial
dan memiliki akte dan struktur organisasi yayasan atau badan hukum
lainnya.
b. Memiliki izin operasional/penyelenggaraan dari dinas
pendidikan Kab/Kota setempat.
c. Memiliki nama lembaga yang jelas, misalnya “Kelompok
Bermain Nusantara Jaya”
d. Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan sesuai Peraturan
Menteri Nomor 58 tahun 2009.
e. Melaksanakan program kegiatan belaajar Kelompok Bermain
yang mengacu pada kurikulum yang telah disusun sebelumnya.
f. Memiliki kurikulum lembaga/KTSP yang disahkan oleh dinas
pendidikan setempat.
g. Memiliki seperangkat acuan yang diperlukan untuk pelaksanaan
program kegiatan belajar mengajar yang terdiri dari buku pedoman
guru dan buku perpustakaan baik untuk guru maupun untuk peserta
didik.
h. Mampu menyediakan:
1. Bangunan atau gedung tersendiri untuk kegiatan belajar
dan bermain yang memenuhi standar.
2. Kantor dan ruang guru beserta perlengkapannya.
3. Kamar mandi, kamar kecil dan air bersih.
4. Halaman dengan alat bermain yang memadai.
5. Letak/lokasi tidak terlalu dekat dengan tempat
ramai/kotor/sungai/ yang tidak berpagar/daerah listrik tegangan
tinggi/jalur terlarang.
i. Memiliki perabot, alat peraga dan atau alat permainan edukatif di
dalam dan di luar kelas ruangan.
j. Memiliki sumber dana yang tetap Memiliki Rekening Bank atas
nama lembaga PAUD.
k. Memiliki NPWP atas nama Lembaga PAUD.
l. Memiliki surat bukti kepemilikan gedung/lahan berupa
akte/sertifikat atau bukti lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
m.Memiliki jumlah total peserta didik sekurang-kurangnya 20 (dua
puluh) anak.
n. Membuat pernyataan tertulis menaati ketentuan/peraturan yang
berlaku tentang lokasi pendirian dengan memperhatikan persyaratan
lingkungan, yaitu faktor keamanan, kebersihan, ketenangan,
dekat dengan pemukiman pendudukan serta kemudahan
transportasi dan jarak.

2) Pesyaratan Khusus
Persyaratan khusus pendirian Kelompok Bermain harus memiliki:
a. Kepala KB yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
b. Prospek peserta didik usia 2 (dua) sampai dengan 4 (empat) tahun
paling sedikit 15 (lima belas) peserta didik.

C. Komponen Penyelenggaraan KB
1) Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No. 20 tentang SPN)
2) Peserta Didik
a. Peserta didik Kelompok Bermain, adalah anak usia 2 – 4 tahun
b. Tiap kelompok bermain minimal terdapat 10 orang peserta didik
c. Peserta didik dikelompokkan berdasarkan pengelompokan usia,
yakni 2 - 3 tahun dan 3 - 4 tahun
3) Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Pendidik anak usia dini adalah profesional yang bertugas merencanakan,
melaksanakan proses pembelajaran, melaporkan perkembangan anak,
melaporkan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran Pendidik pada
Kelompok Bermain terdiri atas guru dan guru pendamping. Tenaga
kependidikan bertugas melaksanakan administrasi,
pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis
untuk menunjang proses pendidikan pada lembaga Kelompok
Bermain. Tenaga kependidikan terdiri atas Pemilik, Kepala
Sekolah, Penyelenggara Pengelola, Petugas Administrasi, dan Petugas
Kebersihan.
4) Sarana dan Prasarana
Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan merupakan
satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pelayanan
Kelompok Bermain. Standar sarana dan prasarana meliputi
jenis, kelengkapan, dan kualitas fasilitas yang digunakan
dalam menyelenggarakan proses penyelenggaraan Kelompok Bermain.
Standar pengelolaan merupakan kegiatan manajemen satuan lembaga
Kelompok Bermain yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi penyelenggaraan Kelompok Bermain.
Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah
anak, kondisi sosial, budaya, dan jenis layanan Kelompok Bermain.
1) Prinsip
a. Aman, nyaman, terang, dan memenuhi kriteria kesehatan bagi
anak.
b. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
c. Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan
sekitar, termasuk barang limbah/bekas layak pakai.

2) Persyaratan
a. Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan
jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani,
dengan luas minimal 3 m2 per peserta didik.
b. Minimal memiliki ruangan/tempat kegiatan yang dapat
digunakan untuk melakukan aktivitas anak yang terdiri dari
ruang dalam dan ruang luar, dan kamar mandi/jamban yang
dapat digunakan untuk kebersihan diri dan BAK/BAB (toileting)
dengan air bersih yang cukup.
c. Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah
anak, dan kelompok usia yang dilayani.
d. Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan
yang dapat mengembangkan berbagai konsep.
5) Pengelolaan
Pengelolaan dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak dan
kebutuhan anak, serta kesinambungan pelaksanaan Pendidikan Anak
Usia Dini. Dalam pengelolaan Kelompok Bermain ada dua prinsip,
yaitu: Program dikelola secara partisipatoris dan Penyelenggaraan
Kelompok Bermain menerapkan manajemen berbasis
masyarakat. Sebelum melaksanakn pengelolaan lembaga perlu
melakukan perencanaan pengelolaan seperti menetapkan visi, misi
dan tujuan lembaga, serta mengembangkannya menjadi program
kegiatan nyata dalam rangka pengelolaan dan peningkatan kualitas
lembaga; menyiapkan izin sesuai dengan jenis penyelenggaraan
program. Pengelolaan menyangkut beberapa hal antara lain: data
anak dan perkembangannya; data lembaga; administrasi keuangan dan
program; alat bermain; media pembelajaran; dan lainnya.
6) Pembiayaan
Pembiayaan meliputi jenis, sumber, dan pemanfaatan, serta pengawasan
dan pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan dan
pengembangan lembaga PAUD yang dikelola secara baik dan
trasnparan.

7) Kemitraan
Untuk meningkatkan layanannya, lembaga KB perlu menjalin kemitraan
seperti untuk meningkatkan layanan kesehatan, gizi makanan,
dan pengasuhan anak lembaga menjalin kemitraan dengan
Dinas kesehatan/Puskesmas/Dokter, atau Dinas Sosial. Selain itu
lembaga KB juga penting menjalin kemitraan dengan orang tua
melalui Program orang tua/Parenting yang dikembangkan dalam
rangka menjembatani kesesuaian pemahaman dan kesinambungan
pengasuhan yang diberikan di lembaga KB dan pola pendidikan anak di
rumah.
8) Penilaian
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
menentukan tingkat pencapaian perkembangan anak yang
mencakup: teknik penilaian, lingkup, dan proses.

2.4. Hakikat Anak Usia Dini


A. Pengertian Anak Usia Dini
Sujiono (Sisca Rahmadonna, 2011: 1) menjelaskan bahwa anak
usia dini adalah sekelompok anak yang berusia 0-8 tahun yang memiliki
berbagai potensi genetik dan siap untuk ditumbuh kembangkan melalui
pemberian berbagai rangsangan. Permendikbud Nomor 37 Tahun 2014
Pasal 1 Ayat 10 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini,
bahwa PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun meialui pemberian rancangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau
masa emas. Pada masa mi hampir seluruh potensi anak mengalami masa
peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan
setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang
berbeda. Stimulasi yang intensif dan tepat sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tersebut, sehingga anak akan mampu
menjalani tugas perkembangannya dengan baik. Anak usia dini belum
mampu mengembangkan sendiri potensi yang ada dalam dirinya. Mereka
cenderung senang bermain pada saat yang bersamaan, ingin menang
sendiri dan sering mengubah aturan main untuk kepentingan diri sendiri.
Dengan demikian, dibutuhkan upaya pendidikan untuk mencapai
optimalisasi semua aspek perkembangan, yang meliputi aspek nilai agama
dan moral, fisikmotorik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosional, serta seth
(Permendikbud 2014, pasal 7 ayat 3)
Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan bahwa anak usia
dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap
pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental.

B. Karakteristik Anak Usia Dini


Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik,
sosial, moral dan sebagainya. Menurut Dewi Yulia (2010: 8), karakteristik
anak usia dini antara lain: a) Memiliki rasa ingin tahu yang besar, b)
Merupakan pribadi yang unik, c) Suka berfantasi dan berimajinasi, d) Masa
paling potensial untuk belajar, e) Menunjukkan sikap egosentris, 1)
Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek, g) Sebagai bagian dan
makhluk sosial.
Usia dini merupakan masa emas, masa ketika anak mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada usia mi anak paling peka
dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu anak sangat besar.
Hal mi dapat kita lihat dari anak sering bertanya tentang apa yang mereka
lihat. Apabila pertanyaan anak belum terjawab, maka mereka akan terus
bertanya sampai anak mengetahui maksudnya. Di samping itu, setiap anak
memiliki keunikan sendirisendiri yang berasal dari faktor genetik atau bisa
juga dari faktor lingkungan. Faktor genetik misahiya dalam hal kecerdasan
anak, sedangkan faktor lingkungan bisa dalam hal gaya belajar anak.
Anak usia dini suka berfantasi dan berimajinasi. Hal mi penting
bagi pengembangan kreativitasnya. Anak usia dini suka membayangkan
dan mengembangkan suatu hal melebihi kondisi yang nyata. Salah satu
khayalan anak misalnya kardus, dapat dijadikan anak sebagai mobil-
mobilan. Menurut Berg dalam Manggalan (2009: 9), rentang perhatian
anak usia 5 tahun untuk dapat duduk tenang memperhatikan sesuatu adalah
sekitar 10 menit, kecuali hal-hal yang biasa membuatnya senang. Anak
sering merasa bosan dengan satu kegiatan saja. Bahkan anak mudah sekali
mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain yang dianggapnya lebih
menarik. Anak yang egosentris biasanya lebih banyak berpikir dan
berbicara tentang diri sendiri dan tindakannya yang bertujuan untuk
menguntungkan dirinya, misalnya anak masih suka berebut mainan dan
menangis ketika keinginannya tidak dipenuhi. Anak sering bermain dengan
teman-teman di lingkungan sekitarnya. Melalui bermain mi anak belajar
bersosialisasi. Apabila anak belum dapat beradaptasi dengan teman
lingkungannya, maka anak akan dijauhi oleh teman - temaimya Dengan
begitu anak akan belajar menyesuaikan diri dan anak akan mengerti bahwa
dia membutuhkan orang lain di sekitarnya.
Guru perlu memahami karakteristik anak untuk mengoptimalkan
kegiatan pembelajaran. Guru dapat memberikan kegiatan pembelajaran
sesuai dengan perkembangan anak.

C. Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini


Prinsip perkembangan anak usia dini adalah aspek-aspek
perkembangan anak seperti aspek fisik, sosial, ernosional, dan kognitif satu
sama lain saling terkaitsecara erat (Bredekamp dan Coople dalam Siti
Aisyah dkk, 2010: 17). Perkembangan anak tersebut terjadi dalam suatu
urutan yang berlangsung dengan rentang bervariasi antar anak dan juga
antar bidang perkembangan dari masing - masing fungsi. Perkembangan
berlangsung ke arah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih
meningkat. Pengalaman pertama anak memiliki pengaruh kumulatif dan
tertunda terhadap perkembangan anak. Perkembangan dan belajar dapat
tenjadi karena dipengaruhi oleh konteks sosial dan kultural yang
merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun sosial tempat anak tinggal.
Perkembangan mengalarni percepatan bila anak memiliki
kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru
diperoleh dan ketika mereka mengalami tantangan. Sarana penting bagi
perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta merefleksikan
perkembangan anak yaitu dengan bermain. Melalui bermain anak memiliki
kesempatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya sehingga anak
disebut dengan pembelajar aktif. Anak akan berkembang dan belajar
dengan baik apabila berada dalam suatu konteks komunitas yang aman
(fisik dan psikologi), menghargai, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan
aman secara psikologis. Anak menunjukkan cara belajar yang berbeda
untuk mengetahui dan belajar tentang suatu hal yang kemudian
mempresentasikan apa yang mereka tahu dengan cara mereka sendiri.
Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi semua
aspek (Ernawulan , 2010: 7). Perkembangan bukan hanya berkenaan
dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek.
Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas,
sedangkan aspek yang laiimya !ebih tersembunyi. Perkembangan tersebut
juga berlangsung terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu
perkembangannya lambat bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain
sangat cepat. Jalannya perkembangan individu itu berirama dan irama
perkembangan setiap anak tidak selalu sama.
Hal tersebut juga dikuatkan dengan pendapat dan Santrock (2005:
79) bahwa tidak ada periode usia yang mendominasi perkembangan hidup.
Perkembangan meliputi keuntungan dan kerugian, yang 15 berinteraksi
dalam cara yang dinamis sepanjang sikius kehidupan. Sehingga selama
proses bertambahnya usia, maka selama itulah proses perkembangan akan
terus beijalan.
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah
tertentu (Ulfi Hidayah, 2005: 7). Setiap tahapan perkembangan merupakan
hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasarat bagi
perkembangan selanjutnya. Contohnya, untuk dapat berjalan seorang anak
hams dapat berdiri terlebih dahulu dan berjalan merupakan prasyarat bagi
perkembangan selanjutnya, yaitu berlari meloncat. Senada dengan
pendapat Ernawulan (2010: 9) yang mengemukakan bahwa perkembangan
suatu segi didahului atau mendahului segi lainnya. Sebagai contoh, anak
bisa merangkak sebelum berjalan, anak bisa meramban sebelum bisa
bicara.
Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip-
prinsip anak usia dini adalah anak merupakan pembelajar aktif.
Perkembangan dan belajar anak merupakan interaksi anak dengan
lingkungan antara lain melalui bermain. Bermain itu sendiri merupakan
sarana bagi perkembangan dan perumbuhan anak. Melalui bermain anak
memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang baru
diperoleh sehingga perkembangan anak akan mengalami percepatan.