Anda di halaman 1dari 6

Dalam psikologi pendidikan, pendidikan yang paling banyak berperan penting dalam pembentukan

moral anak adalah keluarga. Keluarga yang pertama kali menanamkan moral yang nantinya juga
akan menjadi fondasi kepribadian anak. Begitu juga dengan pendidikan yang diberikan oleh sekolah,
pendidikan tersebut tidak akan berjalan apabila keluarga tidak berperan dalam pengaplikasiannya di
kehidupan sehari-hari anak. Apabila lingkungan keluarga baik, maka baik juga anak tersebut. Namun,
apabila lingkungannya buruk, buruk jugalah anak tersebut walaupun sang anak telah mendapatkan
pelajaran yang baik dari lngkungan sekolah.

Lingkungan keluarga menjadi faktor penting dalam menanamkan dan membentuk kepribadian anak.
Peran lingkungan keluarga dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran
maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya.
Sebab diyakini lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia.
Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan
kata lain, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan
lingkungannya,

Keluarga merupakan lembaga pendidikan bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh
anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrat orang tua bertanggung jawab memelihara,
merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Di sini
peranan oang tua terutama ibu sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan anak tersebut.
Pendidikan keluarga disebut pendidikan utama karena di dalam lingkungan ini segenap potensi yang
dimiliki manusia terbentuk dan sebagian dikembangkan. Bahkan ada beberapa potensi yang telah
berkembang dalam pendidikan keluarga.

Lingkungan pendidikan yang pertama membawa pengaruh terhadap anak untuk melanjutkan
pendidikan yang akan dialaminya di sekolah dan di masyarakat. Motivasi pendidikan keluarga
semata-mata demi cinta kasih sayang, di mana di dalamnya terdapat suasana cinta inilah proses
pendidikan berlangsung seumur anak-anak itu dalam tanggung jawab orang tua/keluarga. Mereka
tidak hanya berkewajiban mendidik atau menyekolahkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan.
Akan tetapi mereka juga diamati Allah SWT untuk menjadikan anak-anaknya bertaqwa serta taat
beribadah sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam al-Qur’an dan hadits.

Jadi, orang tua seharusnya tidak hanya menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka kepada
pihak lembaga pendidika atau sekolah, akan tetapi mereka harus lebih memperhatikan pendidikan
anak-anak mereka di lingkungan keluarga mereka, karena keluarga merupakan faktor yang utama
didalam proses pembentukan kepribadian sang anak. Orang tua merupakan pribadi yang sering
ditiru anak-anaknya. Dengan demikian keteladanan yang baik merupakan salah satu kiat yang harus
diterapkan dalam mendidik anak.

Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:

1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan
cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah
dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya
dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka
memaksakan anak-anaknya untuk menaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian
ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka.
2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa
anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak
yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak
pilih.

3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap
sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan
keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi
kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan
iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga
hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus
bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.

4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti


memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka
maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri
akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri
mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang
lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting.

5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak). Dengan melihat
keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta
pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan
mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum fikih serta kehidupan manusia. Jika
kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-
anak akan mencari contoh lain; baik atau baik dan hal ini akan menyiapkan sarana penyelewengan
anak.

Yang paling penting adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi
anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian, begitu juga anak secara tidak sadar mereka akan
terpengaruh, maka kedua orang tua di sini berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada
tataran teoritis maupun praktis. Ayah dan ibu sebelum mereka mengajarkan nilai-nilai agama dan
akhlak serta emosional kepada anak-anaknya, pertama mereka sendiri harus mengamalkannya.

file:///C:/Users/acer%20E11/Downloads/2524-Article%20Text-8083-1-10-20190131.pdf

http://kumpulanmakalah94.blogspot.com/2015/11/makalah-peranan-keluargaorang-tua-
dalam.html
Prestasi belajar pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor, hubungan prestasi belajar dengan
faktor yang berasal dari keadaan keluarga yaitu pola asuh orang tua. Karena pola asuh orang tua
termasuk kedalam hal yang utama dalam suatu keluarga

Orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anak mereka. Dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk
pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga”, (Djamarah,2014:162)

Cara mendidik orang tua dalam keluarga salah satunya tampak pada pola asuh yang diterapkannya
dalam keluarga. Pola asuh orang tua akan tercermin pada sikap,kepribadian serta juga tercermin
pada prestasi belajar yang dicapai anak dalam pendidikannya di sekolah. Jika pola asuh yang
diterapkan dalam keluarga baik maka prestasi yang dicapai akan baik juga begitu pun sebaliknya, jika
pola asuh yangditerapkan dalam keluarga kurang baik maka prestasi yang akan dicapai anak pun
akan kurang optimal

Hal ini bisa terjadi disebabkan karena siswa dibesarkan dan dididik di dalam lingkungan keluarga
yang berbeda-beda tentu saja dengan pola asuh yang berbeda-beda pula. Pola asuh yang diterima
anak, dapat saja berbentuk otoriter, permisive, atau demokratis. Sebagai contoh siswa yang
dibesarkan dengan pola asuh permisive dalam lingkungan keluarga akan berdampak pada
prestasibelajar yang di capai anak di sekolah. Dalam pola asuh permisive orang tua terkesan tak
perduli dengan aktivitas anak baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat, sehingga kegiatan-
kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan pun tidak menutup kemungkinanorang tua tidak perduli.
Dengan demikian, siswa di sekolah menjadi malas belajar,bertindak semaunya sendiri dan kurang
memperhatikan ketika guru sedang menjelaskanhal ini akan berdampak pada prestasi belajar.

Berikut ini pola asuh orang tua terbagi atas tiga jenis, yaitu:

1. Pola Asuh Permissif Pola asuh permisif dapat diartikan sebagai pola yang membebaskan anak
untuk melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa mempertanyakan. Pola asuh ini tidak
menggunakan aturan yang ketat, bahkan bimbingan pun kurang diberikan sehingga tidak ada
pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak. Kebebasan diberikan penuh dan anak
diizinkan untuk memberi putusan untuk dirinya sendiri. Anak berperilaku sesuai dengan
keinginannya tanpa adanya kontrol dari orang tua.

2. Pola Asuh Otoriter Untuk pola asuh otoriter, yakni ketika orang tua menerapkan aturan dan
batasan yang mutlak harus ditaati, tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat, jika
anak tidak mematuhi akan diancam dan dihukum. Pola asuh otoriter ini dapat menimbulkan
hilangnya kebebasan pada anak, kurangnya inisiatif dan aktivitasnya, sehingga anak menjadi tidak
percaya diri pada kemampuannya.

3. Pola Asuh Demokratis Sedangkan pola asuh demokratis yaitu menanamkan disiplin kepada anak,
dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak, dengan bimbingan yang penuh pengertian antara
anak dan orang tua. Dari bimbingan itu memberi penjelasan secara rasional dan obyektif jika
keinginan dan pendapat anak tidak sesuai. Dalam pola asuh ini bisa tumbuh rasa tanggung jawab
pada anak, dan pada akhirnya, anak mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada.
Pengertian Teman Sebaya, Jenis-Jenis Teman Sebaya, Pengaruh
Teman Sebaya Dalam Pembelajaran
Pengertian Teman Sebaya

Teman sebaya adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang
sama.

Menurut Horrock dan Benimoff menjelaskan bahwa teman sebaya yaitu orang lain yang sejajar
dengan dirinya yang tidak dapat memisahkan sanksi-sanksi dunia dewasa, serta memberikan sebuah
tempat untuk melakukan sosialisasi dalam suasana nilai-nilai yang berlaku dan telah ditetapkan oleh
teman-teman seusianya, dimana anggotanya dapat menerima dan menjadi tempat bergantung.

Orang yang sejajar merupakan orang yang mempunyai tingkat perkembangan dan kematangan yang
sama dengan individu. Dengan kata lain teman sebaya adalah teman yang se-usia. Teman sebaya
juga merupakan suatu tempat untuk melakukan sosialisasi dimana bersama teman sebaya inilah
kemampuan sosialisasi remaja akan berkembang. Teman sebaya merupakan suatu wadah bagi
remaja untuk belajar mengenal dan berinteraksi dengan orang lain. Disini remaja juga belajar untuk
menghormati dan melaksanakan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bersama teman sebaya
ini pula remaja akan belajar tentang berbagai perilaku yang diterima dan ditolak oleh teman
sebayanya dan masyarakat

Menurut Singgih Gunarsa dan yulia, teman sebaya merupakan remaja yang biasa bermain bersama
dan melakukan aktifitas secara bersama.

Teman sebaya merupakan lingkungan sosial yang pertama dimana remaja bisa belajar hidup
bersama orang lain yang bukan merupakan anggota keluargannya. Dalam lingkungan sosial ini
remaja dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri yang dapat dijadikan sebagai
dasar dalam berhubungan sosial yang lebih luas. Dengan kata lain lingkungan teman sebaya
merupakan tempat belajar bagi remaja untuk bersosialisasi.

http://digilib.uinsby.ac.id/8603/4/bab%202.pdf

JENIS-JENIS TEMAN SEBAYA

http://repository.ump.ac.id/3562/3/BAB%20II.pdf (jenis teman sebaya )

Macam-Macam Kelompok Teman Sebaya.

Kelompok teman sebaya pada masa remaja terdiri dari dua atau lebih remaja yang mempunyai
minat dan kemampuan yang sama, baik itu dengan jenis kelamin sama maupun berbeda. Para ahli
psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok yang terbentuk dalam masa remaja.
Kelompok-kelompok tersebut antara lain:

a. Kelompok “Chums” (sahabat karib) Chums adalah kelompok dimana remaja bersahabat karib
dengan ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompoknya biasanya terdiri dari 2-3
remaja dengan jenis kelamin sama, memiliki minat, kemampuan dan kemauan-kemauan yang mirip.
b. Kelompok “Cliques” (komplotan sahabat) Cliques terdiri dari 4-5 remaja dengan jenis kelamin
yang relatif sama, yang memiliki minat, kemampuan dan kemauankemauan yang relatif sama.
Cliques biasanya terjadi dari penyatuan dua pasang sahabat karib atau dua chums yang terjadi pada
tahuntahun pertama masa remaja awal. Dalam cliques inilah remaja pada mulanya banyak
melakukan kegiatan-kegiatan bersama seperti menonton bersama, rekreasi pesta dan lain
sebagainya.

c. Kelompok “Crowds” (kelompok banyak remaja) Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, lebih
besar dibanding dengan cliques. Karena besarnya kelompok, maka jarak emosi antara anggota juga
agak renggang. Hal yang sama dimiliki mereka adalah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh
teman-teman dalam crowds-nya. Dengan kata lain, remaja ini sangat membutuhkan penerimaan
peer-group nya.

d. Kelompok yang “Diorganisir” Kelompok yang dibina oleh orang dewasa dibentuk oleh sekolah dan
organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai klik
atau kelompok besar.

e. Kelompok “Gangs” Gangs merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya yang pada
umumnya merupakan akibat dari empat jenis kelompok tersebut. Remaja ini terbentuk bias karena
ditolak oleh teman sepergaulannya atau tidak dapat menyesuaikan diri dalam kelompok tersebut.
Remaja -remaja yang tidak puas ini melarikan diri dan membentuk kelompok sendiri yang dikenal
dengan “gangs”.

http://digilib.uinsby.ac.id/8603/4/bab%202.pdf

Hubungan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Prestasi Belajar Siswa

Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan pertama, dimana remaja belajar untuk hidup
bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Kelompok teman sebaya berarti individu-
individu anggota kelompok sebaya itu mempunyai persamaan-persamaan dalam berbagai aspeknya.
Kelompok teman yang sukses, ketika anggotanya dapat berinteraksi (Santosa, 2009).

Interaksi teman sebaya dapat mempengaruhi prestasi belajar, hal ini sesuai yang di utarakan oleh
Jeanne Ellis, beberapa teman sebaya akan mendukung pencapaian prestasi akademis yang tinggi.
Dengan hubungan teman sebaya anak akan termotivasi untuk mencapai prestasi dan mendapatkan
rasa identitas. Anak juga mempelajari keterampilan kepemimpinan dan keterampilan
berkomunikasi, bekerja sama, bermain peran, dan memebuat atau menaati aturan.

Teman bergaul disekolah dapat memberi pengaruh positif bagi perubahan perilakunya.
Misalnya,kalau kurang rajin belajar, teman dekat mengingatkannya agar lebih rajin lagi dari
sebelumnya, kalau kurang mengerti pelajaran tertentu, teman dekatnya dapat memberi penjelasan
kepadanya. Nasihat dan bantuan tersebut memberi pengaruh sangat besar dan positif bagi
parubahan perilaku dan hasil belajar siswa, akan tetapi teman bergaul di sekolah atau diluar sekolah
juga dapat membuat perilaku dan prestasi yang baik berubah menjadi kurang baik. Hal ini terjadi
apabila memilih teman gaul yang kurang disiplin.

Fungsi kelompok teman sebaya di lihat dari proses belajar mengajar memegang peranan penting
dalam kehidupan remaja, dengan adanya kelompok teman sebaya, anggota yang ada di dalam
kelompok tersebut bisa membentuk kelompok belajar, sehingga dapat saling bertukar pikiran
memecahkan masalah, seperti tugas di sekolah atau berdiskusi mengenai kesulitan belajar, belajar
bersama untuk menghadapi ujian sekolah atau saling memotivasi antar anggota dalam hal belajar.

Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman sebaya lebih
mudah dipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah hati dan malu untuk
bertanya maupun minta bantuan. Fungsi kelompok teman sebaya untuk menciptakan pembelajaran
yang terkait dengan aktifitas belajar. Memperluas pandangan serta wawasan agar dapat diterima
oleh lingkungan dimana mereka berada. Fungsi kelompok teman sebaya, yaitu interaksi dengan
teman sebaya untuk meningkatkan kemajuan belajar untuk berprestasi tinggi, peranan teman
sebaya dalam menumbuhkan kedisiplinan belajar agar mampu memecahkan masalah, tindakan
anggotaanggotanya untuk saling membangkitkan motivasi belajar, perubahan tingkah laku sebagai
hasil belajar untuk mendorong kemajuan yang bersifat inovatif dan produktif sehingga mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan teman sebaya mampu merubah lingkungan sesuai
kebutuhan dan tuntutan belajarnya.

Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial atau kondisi di sekitar lingkungan siswa yang
menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Lingkungan sosial
seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman
sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Teman sebaya termasuk ke dalam
lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Lingkungan sosial seperti lingkungan
sosial sekolah yang di dalamnya termasuk guru, administrasi dan teman sebaya.

Interaksi atau relasi yang baik antara siswa yang satu dengan yang lainnya yang terjalin di dalam
kelompok teman sebaya juga akan memberikan pengaruh terhadap belajar, karena dengan adanya
relasi yang baik akan terciptanya suasana belajar yang lebih baik pula sehingga akan memberi
dampak terhadap prestasi belajar siswa. Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu, agar
dapat memberikan pengaruh positif terhadap belajar siswa (Slameto, 2003).

Kelompok teman sebaya pada penelitian ini yaitu kelompok teman sebaya sebagai kelompok belajar
yang dilihat berdasarkan proses hubungan atau interaksi antar individu dalam kelompoknya. Adanya
interaksi satu dengan yang lainnya dalam suatu aturan yang saling mempengaruhi pada setiap
anggotanya (Hartinah, 2009). Sehingga dengan demikian kelompok teman sebaya dalam hal belajar
terdapat interaksi atau terdapat proses hubungan antar individu yang saling mempengaruhi satu
sama lainnya. Indikator dari proses hubungan tersebut meliputi komunikasi, konflik, kerjasama,
umpan balik, rasa percaya, keterbukaan, realisasi diri/perwujudan diri, saling ketergantungan dan
kelompok efektif.

file:///C:/Users/acer%20E11/Downloads/1484-2664-1-SM%20(1).pdf