Anda di halaman 1dari 20

PENGORGANISASIAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT,

TOKOH ADAT DALAM KESEHATAN

DOSEN PENGAMPU :

RISKI NOVERAYENITA, SKM, MKL

DISUSUN OLEH :

1. HENI PRATIWI
2. SULISTYARINI

3. GANDA PRATIWI

4. NOVLA PUSPITA

5. MURTINI

6. MAISYARAH

7. AGUSTIARNI

8. ADE DIANA

FAKULTAS ILMU TERAPAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL-INSYARAH

TA. 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah tentang “Pengorganisasian Pemberdayaan Masyarakat, Tokoh Adat
Dalam Kesehatan”. Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah berkonstribusi dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritikan dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.
Sekian dari kami dan berharap semoga makalah tentang Pengorganisasian
Pemberdayaan Masyarakat, Tokoh Adat Dalam Kesehatan dapat memberikan
manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Bengkalis, 21 Januari 2021

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................3
1.3 Tujuan Makalah.........................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................4
2.1 Pengorganisasian Masyarakat...................................................................4
2.2 Langkah-langkah Pengorganisasian Masyarakat......................................5
2.3 Pemberdayaan Masyarakat.......................................................................7
2.4 Sasaran dalam Pemberdayaan Masyarakat...............................................7
2.5 Jenis Pemberdayaan Masyarakat..............................................................7
2.6 Peran Petugas Kesehatan..........................................................................9
2.7 Tokoh adat (pemimpin informal)..............................................................9
BAB III PENUTUP.............................................................................................14
3.1 Kesimpulan................................................................................................14
3.2 Saran..........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................16

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana
tertulis di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk itu, upaya kesehatan
harus selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus agar masyarakat
yang sehat sebagai investasi dalam pembangunan dapat hidup produktif secara
sosial dan ekonomis.1
Perhatian terhadap permasalah kesehatan terus dilakukan terutama dalam
perubahan paradigma sakit yang selama ini dianut masyarakat keparadigma sehat.
Para digma sakit merupakan upaya untuk membuat orang sakit menjadi sehat,
menekankan pada kuratif dan rehabilitatif, sedangkan paradigma sehat merupakan
upaya membuat orang sehat tetap sehat, menekan pada pelayanan promotif dan
preventif. Berubahnya paradigma masyarakat akan kesehatan, juga akan merubah
pemeran dalam pencapaian kesehatan masyarakat, dengan tidak
mengesampingkan peran pemerintah dan petugas kesehatan. Perubahan
paradigma dapat menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama dalam
pencapaian derajat kesehatan. Dengan peruahan paradigma sakit menjadi
paradigma sehat ini dapat membuat masyarakat menjadi mandiri dalam
mengusahakan dan menjalankan upaya kesehatannya, hal ini sesuai dengan visi
Indonesia sehat, yaitu “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” .2
Pemberdayaan masyarakat terhadap usaha kesehatan agar menjadi sehat
sudah sesuai dengan Undang – undang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan

1
Nurbeti, M. 2009.Pemberdayaan masyarakat dalam konsep “kepemimpinan yang mampu
menjembatani”. Rineka Cipta, Jakarta. hlm. 69
2
Supardan,I., 2013 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. http://doktergigi-
semarang.blogspot.com/2013/06/pemberdayaan-masyarakat-bidang-kesehatan.html.
Diaksestanggal 11 Oktober 2014.

1
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup masyarakat yang setinggi- tingginya,
sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya masyarakat. Setiap orang
berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat setinggi – tingginya. Pemerintah bertanggungjawab
memberdayakan dan mendorong peran serta aktif masyarakat dalam segala bentuk
upaya kesehatan.3
Dalam rangka pencapaian kemandirian kesehatan, pemberdayaan
masayrakat merupakan unsur penting yang tidak bisa diabaikan. Pemberdayaan
kesehatan di bidang kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi kesehatan.
Masyarakat merupakan salah satu dari strategi global promosi kesehatan
pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat
penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki
kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan.4
Pengertian Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam
mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan
mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau
proses untuk menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan. Memampukan masyarakat, “dari, oleh,
dan untuk” masyarakat itu sendiri.
Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama
dari promosi kesehatan. Masyarakat atau komunitas merupakan salah satu dari
strategi global promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga
pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat
sebagai  primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan mereka. Berdasarkan hal tersebut maka penulis ingin
mengetahui tentang manajemen pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah
3
Nurbeti, M. 2009.Pemberdayaan masyarakat dalam konsep “kepemimpinan yang mampu
menjembatani”. Rineka Cipta, Jakarta. hlm. 70
4
Supardan,I., 2013 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. http://doktergigi-
semarang.blogspot.com/2013/06/pemberdayaan-masyarakat-bidang-kesehatan.html.
Diaksestanggal 11 Oktober 2014.

2
1. Apa itu Pengorganisasian Masyarakat?
2. Apa saja Langkah-langkah Pengorganisasian Masyarakat?
3. Apa itu Pemberdayaan Masyarakat?
4. Apa saja Sasaran dalam Pemberdayaan Masyarakat?
5. Apa saja Jenis Pemberdayaan Masyarakat?
6. Bagaimana Peran Petugas Kesehatan?
7. Apa saja Peranan Tokoh Adat?

1.3 Tujuan Makalah


1. Untuk mengetahui Pengorganisasian Masyarakat
2. Untuk mengetahui Langkah-langkah Pengorganisasian Masyarakat
3. Untuk mengetahui Pemberdayaan Masyarakat
4. Untuk mengetahui Sasaran dalam Pemberdayaan Masyarakat
5. Untuk mengetahui Jenis Pemberdayaan Masyarakat
6. Untuk mengetahui Peran Petugas Kesehatan
7. Untuk mengetahui Peran Tokoh Adat

BAB II

3
PEMBAHASAN

2.8 Pengorganisasian Masyarakat


Pengorganisasian masyarakat adalah konsep yang sudah dikenal dan dipakai
oleh para pekerja sosial di Amerika pada akhir tahun 1800, sebagai upaya
koordinatif memberikan pelayanan kepada imigrasi, kelompok miskin yang baru
datang (Garvin dan Cox). Tiga aspek yang ada dalam pengorganisasian
masyarakat adalah sebagai berikut:5
1. Proses
Pengorganisasian masyarakat merupakan proses yang terjadi secara sadar
tetapi mungkin pula merupakan proses yang tidak disadari oleh masyarakat.
2. Masyarakat
Bisa diartikan sebagai suatu kelompok besar yang mempunyai batas-batas
geografis, bisa pula diartikan sebagai suatu kelompok dari mereka yang
mempunyai kebutuhan bersama dan berada dalam kelompok yang besar tadi.
3. Berfungsinya masyarakat (functional community)
a. Menarik orang-orang yang inisiatif dan dapat bekerja.
b. Membuat rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat.
c. Melakukan usaha-usaha atau kampanye untuk mencapai rencana tersebut.
Dalam suatu masyarakat, bagaimanapun sederhananya, selalu ada suatu
mekanisme untuk bereaksi terhadap stimulus. Mekanisme ini disebut mekanisme
pemecahan masalah atau proses pemecahan masalah. Mengembangkan dan
membina partisipasi masyarakat bukanlah hal pekerjaan mudah serta memerlukan
strategi pendekatan tertentu. Kenyataan dimasyarakat menunjukkan bahwa
partisipasi masyarakat trejadi karena alasan diantaranya sebagai berikut :
1. Tingkat partisipasi masyarakat karena paksaan.
2. Tingkat partisipasi masyarakat karena imbalan.
3. Tingkat partisipasi masyarakat karena identifkasi atau ingin meniru.
5
Dr. Husaini dan Lenie Marlinae, Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan,
Banjarbaru 2016, hlm. 31

4
4. Tingkat partisipasi masyarakat karena kesdaran.
5. Tingkat partisipasi masyarakat karena tuntutan akan hak asasi dan tanggung
jawab.
2.2 Langkah-langkah Pengorganisasian Masyarakat
langkah-langkah yang harus ditempuh dalam Pengorganisasian Masyarakat
adalah :
1. Persiapan Sosial.   
Tujuan persiapan sosial adalah mengajak berpartisipasi atau peran serta
masyarakat sejak awal kegiatan, sampai dengan perencanaan program,
pelaksanaan hingga pengembangan program kesehatan masyarakat. Kegiatan-
kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan-
persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-
program kesehatan yang akan dilakukan.
a. Tahap Pengenalan Masyarakat.
Dalam tahap awal ini kita harus datang ketengah-tengah masyarakat
dengan hati yang terbuka dan kemauan untuk mengenal sebagaimana
adanya, tanpa disertai prasangka buruk sambil menyampaikan maksud dan
tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan.
b. Tahap Pengenalan Masalah. 
Dalam tahap ini dituntut suatu kemampuan untuk dapat mengenal
masalah-masalah yang memang benar-benar menjadi kebutuhan
masyarakat.
c. Tahap Penyadaran Masyarakat.  
Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka tentang
tahu dan mengerti masalah-masalah kesehatan yang mereka hadapi
sehingga dapat berpartisipasi dalam penanggulangannya serta tahu cara
memenuhi kebutuhan akan upaya pelayanan kesehatan sesuai dengan
potensi dan sumber daya yang ada.
Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan
pelayanan kesehatan, diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan

5
terorganisasi dengan baik, untuk itu beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
dalam rangka menyadarkan masyarakat :
a. Lokakarya Mini Kesehatan.
b. Musyawarah Masyarakat Desa. (MMD).
c. Rembuk Desa.
2. Pelaksanaan.  
Setelah rencana penanggulangan masalah disusun dalam lokakarya mini,
maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan tersebut sesuai
dengan perencanaan yang telah disusun. Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah
kesehatan masyarakat adalah :
a. Pilihlah kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
b. Libatkan masyarakat secara aktif dalam upaya penanggulangan masalah.
c. Kegaitan agar disesuaikan dengan kemampuan, waktu, sumber daya yang
tersedia di masyarakat
d. Tumbuhkan rasa percaya diiri masyarakat bahwa mereka mempunyai ke
mampuan dalam penanggulagan masyarakat.
3. Evaluasi
Penilaian dapat dilakukan setelah kegiatan dilaksanakan yang dilakukan
dalam jangka waktu tertentu. Dalam penilaian dapat dilakukan dengan :
a. Penilaian selama kegiatan berlangsung, disebut juga penilaian formatif
monitoring. Dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan yang
telah dijalankan apakah telah sesuaI dengan
perencanaan penanggulangan masalah yang telah disusun.
b. Penilaian setelah Prgram selesai dilaksanakan, disebut juga penilaian
sumatif penilaian akhir program. Dilakukan setelah melalui jangka waktu
tertentu dari kegiatan yang dilakukan. Dapat diketahui apakah tujuan atau
target dalam pelayanan kesehatan telah tercapai atau belum. Perluasan.

2.3 Pemberdayaan Masyarakat

6
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam
mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan
mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau
proses untuk menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya dalam
peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat
dan derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan
kemampuan dan kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan
memperkuat sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan.
Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk
menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu
untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Strategi ini tepatnya ditujukan pada
sasaran primer agar berperan serta secara aktif.
2.4 Sasaran dalam Pemberdayaan Masyarakat
Ada beberapa Sasaran dalam Pemberdayaan Masyarakat yakni sebagai
berikut:
1. Individu berpengaruh
2. Keluarga dan perpuluhan keluarga
3. Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan Kerja
4. Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
5. Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus.
2.5 Jenis Pemberdayaan Masyarakat
Ada beberapa Jenis dalam Pemberdayaan Masyarakat yakni sebagai berikut:
1. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Posyandu merupakan jenis UKBM yang paling memasyarakatkan saat ini.
Gerakan posyandu ini telah berkembang dengan pesat secara nasional sejak
tahun 1982. Saat ini telah populer di lingkungan desa dan RW diseluruh
Indonesia. Posyandu meliputi lima program prioritas yaitu: KB, KIA,
imunisasi, dan pennaggulangan diare yang terbukti mempunyai daya ungkit

7
besar terhadap penurunan angka kematian bayi. Sebagai salah satu tempat
pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan dengan
masyarakat level bawah, sebaiknya posyandu digiatkan kembali seperti pada
masa orde baru karena terbukti ampuh mendeteksi permasalahan gizi dan
kesehatan di berbagai daerah. Permasalahn gizi buruk anak balita, kekurangan
gizi, busung lapar dan masalah kesehatan lainnya menyangkut kesehatan ibu
dan anak akan mudah dihindarkan jika posyandu kembali diprogramkan secara
menyeluruh.
2. Pondok Bersalin Desa (Polindes)
Pondok bersalin desa (Polindes) merupakan salah satu peran serta
masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongan persalinan pelayanan dan
kesehatan ibu serta kesehatan anak lainnya. Kegiatan pondok bersalin desa
antara lain melakukan pemeriksaan (ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi
dan balita), memberikan imunisasi, penyuluhan kesehatan masyarakat
terutama kesehatan ibu dan anak, serta pelatihan dan pembinaan kepada kader
dan mayarakat.
3. Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD)
Pos obat desa (POD) merupakan perwujudan peran serta masyarakat
dalam pengobatan sederhana terutama penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat setempat (penyakit rakyat/penyakit endemik).
4. Lembaga Swadaya Masyarakat
Di tanah air kita ini terdapat 2.950 lembaga swadaya masyarakat (LSM),
namun sampai sekarang yang  tercatat mempunyai kegiatan di bidang
kesehatan hanya 105 organisasi LSM. Ditinjau dari segi kesehatan, LSM ini
dapat digolongkan menjadi LSM yang aktivitasnya seluruhnya kesehatan dan
LSM khusus antara kain organisasi profesi kesehatan, organisasi swadaya
internasional.
5. Karang Taruna
Karang tarurna dalam wadah kegiatan remaja dan pemuda di tingkat RW yang
besar perannya pada pembinaan remaja dan pemuda dalam menyalurkan
aspirasi dan kreasinya. Dimasyarakat karang taruna banyak perannya pada

8
kegiatan-kegiatan sosial yang mampu mendorong dinamika masyarakat dalam
pembangunan lingkungan dan masyarakatnya termasuk pula dalam
pembangunan kesehatan. Pada pelaksanaan kegiatan posyandu, gerakan
kebersihan lingkungan, gotong-royong pembasmian sarang nyamuk dan lain-
lainnya potensi karang taruna ini snagat besar.
6. Pelayanan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan pemerintah terdepan yang
memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. Sejalan dengan upaya
pemerataan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil dan sukar dijangkau telah
dikembangkan pelayanan puskesmas dna puskesmas pembantu dalam kaitan
ini dipandang selaku tempat rujukan bagi jenis pelayanan dibawahnya yakni
berbagai jenis UKBM.
2.6 Peran Petugas Kesehatan
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-
program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian
masyarakat.
2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam
melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi
terhadap program tersebut
3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat
dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
2.7 Tokoh adat (pemimpin informal)
Menurut kartono (2010:9) Tokoh Adat (pemimpin informal) adalah orang
yang tidak mendapatkan formal sebagai pemimpin, namun karena ia memiliki
sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang
mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat.
Menurut winardi (2000:38) kepemimpinan informal adalah aktifitas
seseorang atau sekelompok orang yang karena latar belakang pribadi yang kuat
mewarnai dirinya (diri mereka), memiliki kualitas subjektif maupun objektif yang
memungkinkan tampil dalam kedudukan di luar struktur organisasi resmi, namun

9
ia dapat mempengaruhi kelakuan dan tindakan sesuatu kelompok masyarakat baik
arti positif maupun arti negative.
Di bawah ini merupakan Peranan Tokoh Adat adalah :
1. Parabela (Kepala Adat)
Adapun peranan parabela (kepala adat) dapat di bagi dalam empat bagian
yaitu:
a. Sebagai pemberi informasi, parabola (kepala adat) sebagai pemberi
informasi yang dapat membuat masyarakat menjadi satu kesatuan yang
cukup kuat karena memiliki satu kiblat atau arah dalam menjalankan
aktivitas di lingkungan masyarakat
b. Sebagai mediator, konflik antar sesama masyarakat mengenai masalah
tanah maupun masalah keluarga dapat di selesaikan di parabola (kepala
adat) yang bertempat di baruga (rumah adat)
c. Sebagai pemangku adat, parabela (kepala adat) sebagai pemegang adat, ia
yang memelihara adat yang memiliki nilai-nilai yang di junjung tinggi oleh
masyarakatnya
d. Sebagai pengambil keputusan, parabela (kepala adat) sebagai pemimpin
local hingga kini tidak pernah berubah perannya sebagai pengambil
keputusan setiap ada persoalan di desa harus di musyawarahkan terlebih
dahulu namun penentu keputusan tetap di kembalikan ke parabela, baik di
profesi adat, masalah tanah, dan lainnya.
2. Moji (Tokoh Agama)
Moji (setingkat dengan parabela yang di khususkan pada bidang agama)
bertugas untuk mengerjakan orang yang meninggal dan anak yang baru lahir
serta pembacaan do’a keselamatan pesta tahunan dan pembacaan do’a untuk
bangunan.
3. Waci (Wakil Kepala Adat)
Waci (Wakil Kepala Adat yang di khususkan pada bidang Agama)
bertugas untuk mewakili Parabela (Kepala Adat) dalam segala urusan jika
Parabela (Kepala Adat) berhalangan hadir.
4. Pandesuka (Pemangku Adat)

10
Pandesuka (Pemangku Adat) yaitu bertugas melantik 3 tokoh adat yakni
Parabela (Kepala Adat), Moji (Tokoh Agama), Waci (Wakil Kepala Adat) serta
bertugas untuk menjaga keamanan kampong. (Fahimuddin 2011:25 1)
5. Adat Istiadat
Adat Istiadat merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai
kebudayaan, norma-norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang
lazim di lakukan di suatu daerah serta tata kelakuan yang kekal dan turun
temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat
integrasi nya dengan pola perilaku masyarakat. (Sumber: Rukyah Wainulu,
2016)
6. Masyarakat
Kata masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu “Syaraka” yang artinya
ikut serta, berpartisipasi atau “bermusyawara” yang artinya saling bergaul.
Dalam bahasa Inggris di pakai istilah ‘Society” kata tersebut berasal dari kata
Latin “Sosius” yang artinya Kawan.(Koentjaningrat,2000:143). Pendapat
lainnya juga di jelaskan Abdul Syarif (1987:1) bahwa kata masyarakat berasal
dari bahasa arab yaitu “Musyarak” yang artinya bersama-sama. Kemudian kata
tersebut berubah menjadi kata masyarakat, yang artinya berkumpul bersama-
sama, hidup bersama-sama dengan saling berhubungan dan saling
mempengaruhi. Akhirnya di sepakati menjadi kata masyarakat (Bahasa
Indonesia).
7. Masyarakat Buton Suku Cia-Cia
Masyarakat Buton Suku Cia-Cia adalah masyarakat asli dari Sulawesi
Tenggara. Masyarakat buton merupakan masyarakat pelaut. Orang-orang buton
sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan
perahu besar yang memuat barang sekitar 150 ton. Secara umum orang buton
adalah masyarakat yang mendiami wilayah kekuasaan kesultanan buton.
Wilayah itu kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi
Tenggara. Di antara nya kota Bau-Bau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton
Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana,dan Kabupaten Muna Barat.
(Sumber: Rukyah Wainulu, 2016)

11
8. Kebudayaan
Menurut Taylor dalam (Basrowi 2005:38) mengemukakan bahwa
kebudayaan sebagai keseluruhan dan kompleks yang di dalam nya terkandung
ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai
anggota masyarakat.
9. Jenis-jenis Posuo (Pinggitan)
Dalam perkembangan masyarakat Buton ada 3 (tiga) jenis posuo
(pinggitan) yang mereka kenal dan sampai saat ini adat tersebut masih
berkembang. yang pertama, Posuo Walio, merupakan tradisi Posuo yang
berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari
Johor-Melayu (Malaisya). Ketiga, Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi
nilai-nilai ajaran Agama Islam. Posuo ini di adaptasi oleh Syekh Haji Abdul
Ghaniyyu, seorang ulama besra Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX
(19) yang menjabat sebagai kanipulu di kesultanan Buton di bawah
kepemimpinan Sultan Buton XXIX (29) Muhammad Aydrus Qaimuddin.
Tradisi pasuo arabu ini lah yang masih di laksanakan oleh masyarakat Buton
Suku Cia-Cia (Sumber: Alifuddin, 2015).
10. Kawia (Perkawinan)
Proses ini merupakan puncak dari kegiatan pernikahan masyarakat suku
Cia-Cia. Dalam proses ini dua hal yang di lakukan menyelesaikan pembayaran
adat istiadat pernikahan oleh utusan adat calon mempelai laki-laki ke pihak
utusan adat calon mempelai perempuan. Setelah penyelesaian adat istisadat
selesai di lakukan, lalu kemudian di lanjutkan dengan ijab qabul/akad nikah.
Setelah proses ijab qabul/akad nikah, selanjutnya di lakukan pesta pernikahan
(resepsi atau perjamuan). Di acara pesta tersebut, keluarga dan kerabat di
undang untuk memberikan doa restu dan doa selamat.6

6
Nurluli, peranan tokoh adat dalam mempertahankan Adat Istiadat, 2019

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemberdayaan masyarakat terhadap usaha kesehatan agar menjadi sehat
sudah sesuai dengan Undang-undang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan,
bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,

13
kemauan, dan kemampuan hidup masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumber daya masyarakat.
Tiga aspek yang ada dalam pengorganisasian masyarakat adalah sebagai
berikut:
1. Proses
Pengorganisasian masyarakat merupakan proses yang terjadi secara sadar
tetapi mungkin pula merupakan proses yang tidak disadari oleh masyarakat.
2. Masyarakat
Bisa diartikan sebagai suatu kelompok besar yang mempunyai batas-batas
geografis, bisa pula diartikan sebagai suatu kelompok dari mereka yang
mempunyai kebutuhan bersama dan berada dalam kelompok yang besar tadi.
3. Berfungsinya masyarakat (functional community)
a. Menarik orang-orang yang inisiatif dan dapat bekerja.
b. Membuat rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat.
c. Melakukan usaha-usaha atau kampanye untuk mencapai rencana tersebut.
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-
program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian
masyarakat.
2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam
melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi
terhadap program tersebut
3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat
dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
3.2 Saran
Diharapkan pada tenaga kesehatan agar dapat memfasilitasi masyarakat
melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan masyarakat
meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat, memberikan motivasi
kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan
pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut. Dan

14
diharapkan agar makalah ini dpat menambah wawasan tentang pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Husaini dan Lenie Marlinae, Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan,


Banjarbaru 2016.
Nurbeti, M. 2009.Pemberdayaan masyarakat dalam konsep “kepemimpinan yang
mampu menjembatani”. Rineka Cipta, Jakarta.

15
Supardan,I., 2013 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. http://dokter
gigi semarang. blogspot. com/2013/06/ pemberdayaan-masyarakat-bidang
kesehatan.html. Diaksestanggal 11 Oktober 2014.
Nurluli, peranan tokoh adat dalam mempertahankan Adat Istiadat, 2019

16