Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ARTRITIS GOUT

DISUSUN OLEH:

WAHYU ARIE PRATIWI


21220070

Dosen Pembimbing : Ayu Dekawaty.,S.Kep., Ns., M.Kep

INSTITUTE KESEHATAN DAN TEKNOLOGI


MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PROGRAM PROFESI NERS
TAHUN 2020-2021
A. DEFINISI
Artritis Gout atau biasa dikenal Asam urat adalah hasil metabolisme tubuh
oleh salah satu unsur protein yang mengandung purin. Oleh karena itu kadar
asam urat didalam darah meningkat bila seseorang banyak mengkonsumsi
daging atau makanan lainnya yang mengandung purin (Muttaqin Arif, 2008)
Penyakit asam urat adalah suatu penyakit dimana terjadi penumpukan
kadar asam urat dalam tubuh secara berlebih, baik akibat produksi yang
meningkat, pembuangannya melalui ginjal yang menurun atau akibat
peningkatan asupan makanan tinggi purin. Gout ditandai dengan serangan
berulang dari artritis (peradangan sendi) yang akut, kadang kadang disertai
pembentukan kristal natrium urat besar. Akibatnya, terjadi penumpukan
kristal asam urat pada daerah persendian sehingga menimbulkan rasa sakit
yang luar biasa. (Sustrani, 2013).

B. ETIOLOGI
Beberapa faktor yang menyebabkan kadar asam urat tinggi adalah:
1. Faktor keturunan
2. Jenis kelamin, Presentase Pria : Wanita yaitu 2 : 1 pria lebih beresiko
terjadinya asam urat yaitu umur (30 tahun keatas), sedangkan wanita
terjadi pada usia menopouse (50-60 tahun)
3. Penyakit Diabetes Melitus
4. Adanya gangguan ginjal dan hipertensi
5. Tingginya asupan makanan yang mengandung purin. Misalnya makanan
yang tinggi purin : kacang-kacangan, rempelo dll.
6. Berat badan yang berlebih (obesitas)
7. Jumlah alkohol yang dikonsumsi
8. Penggunaan obat-obatan kimia yang bersifat diuretik/analgetik dalam
waktu lama

C. TANDA DAN GEJALA


Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5 - 7 mg/dL, sedangkan
pada wanita  2,6 - 6 mg/dL. Serangan  asam urat biasanya timbul secara
mendadak, kebanyakan menyerang pada malam hari. Jika asam urat
menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak merah, mengkilat, bengkak,
kulit diatasnya terasa panas disertai rasa nyeri yang sangat hebat, dan
persendian sulit digerakan. Serangan pertama asam urat pada umumnya
berupa serangan akut yang terjadi pada pangkal ibu jari kaki, dan seringkali
hanya satu sendi yang diserang. Namun, gejala-gejala tersebut dapat juga
terjadi pada sendi lain seperti pada tumit, lutut, siku dan lain-lain.
Adapun gejala-gejalanya, yaitu:
1. Kesemutan dan linu.
2. Nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur.
3. Sendi yang terkena asam urat akan terlihat bengkak, kemerahan, panas,
dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4. Terasa nyeri pada sendi terjadi berulang-ulang kali.
5. Yang diserang biasanya sendi jari kaki, jari tangan, dengkul, tumit,
pergelangan tangan serta siku.
6. Pada kejadian kasus yang parah, persendian terasa sangat sakit saat akan
bergerak.

D. PATOFISIOLOGI
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang
mengandung asam urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak
adequat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam
plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat
menunpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan
menimbulkan respon nyeri. Biasanya, rasa nyeri yang hebat tersebut
berlangsung selama 24 jam. Selanjutnya, berangsur berkurang sampai
menghilang dalam waktu 3-7 hari. Jika kadar asam urat serangan pertama
tidak diturunkan menjadi normal, akan terjadi serangan selanjutnya dan
bersifat menahun.
Nyeri yang disebabkan asam urat mengakibatkan kesulitan gerak
sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Tirnbulnya serangan kedua dan
selanjutnya sulit diprediksi. Namun, dari berbagai penelitian dikemukakan
bahwa semakin tinggi kadar asam urat, semakin sering juga terjadi serangan
nyeri dengan berbagai komplikasi (Silvia 2009)
E. PATHWAY

Produksi asam urat Kurangnya


Faktor genetik
berlebihan pengeluaran asam urat

Gg. metabolisme purin

Meningkatnya purin dalam darah

Pelepasan Kristal monosodium urat

Penimbunan Kristal urat

Respon inflamasi

Sirkulasi daerah Akumulasi cairan pada


radang meningkat jaringan intertisial

Penekanan pada
Vasodilatasi dari Odema jaringan
jaringan sendi
kapiler
Kurangnya pengetahuan
Nyeri Akut Kekuan pada sendi
pengobatan dirumah

Membatasi Defisiensi pengetahuan


pergerakan sendi

Hambatan
mobilitas fisik
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi di kemudian hari, seperti benjolan pada
bagian tubuh tertentu, kerusakan tulang dan sendi, sehingga dapat terjadi
kelumpuhan, peradangan tulang ,kerusakan ligamen dan tendon (otot ), batu
ginjal, kerusakan ginjal, dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

G. PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan serangan akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian oral),
Colchicine 1,0-3,0 mg (dalam NaCl intravena), phenilbutazone,
Indomethacin.
2. Sendi diistirahatkan (imobilisasi pasien)
3. Kompres dingin
4. Diet rendah purin
5. Terapi farmakologi (Analgesic  dan antipiretik)
6. Colchicines (oral/IV) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis dari
Kristal asam urat oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
7. Nonsteroid, obat-obatan anti inflamasi (NSAID) untuk nyeri dan
inflamasi.
8. Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan untuk
mencegah serangan.
9. Uricosuric (Probenecid dan Sulfinpyrazone) untuk meningkatkan ekskresi
asam urat dan menghambat akumulasi asam urat (jumlahnya dibatasi pada
pasien dengan gagal ginjal).
10. Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat
menggunakan probenezid 0,5 g/hari atau sulfinpyrazone (Anturane) pada
pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau menurunkan pembentukan
asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2 kali/hari.

H. PENCEGAHAN
1. Pembatasan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu :
Jeroan (jantung, hati, lidah ginjal, usus), Sarden, Kerang, Ikan herring,
Kacang-kacangan, Bayam, Udang, Daun melinjo.
2. Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan
dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan.
Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat badannya
harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori.
Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat
karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam urat
melalui urine.
3. Tinggi karbohidrat : Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan
ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena
akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urine.
4. Rendah protein : Protein terutama yang berasal dari hewan dapat
meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang
mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati,
ginjal, otak, paru dan limpa.
5. Rendah lemak : Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui
urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega
sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari
total kalori.
6. Tinggi cairan : Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-
buahan segar yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan
adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air.
Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh
dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-
buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena
keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
7. Tanpa alkohol : Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat
mereka yang mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka
yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan
meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat
pengeluaran asam urat dari tubuh.
8. Olahraga ringan : Olahraga yang teratur memperbaiki kondisi kekuatan
dan kelenturan sendi serta memperkecil risiko terjadinya kerusakan sendi
akibat radang sendi. Selain itu, olahraga memberi efek menghangatkan
tubuh sehingga mengurangi rasa sakit dan mencegah pengendapan asam
urat pada ujung-ujung tubuh yang dingin karena kurang pasokan darah.
Jalan kaki, bersepeda, dan joging bisa dijadikan alternatif olahraga untuk
mengatasi rematik dan asam urat. Selain itu, olahraga yang cukup dan
teratur memperkuat sirkulasi darah dalam tubuh.

I. PENGKAJIAN TEORITIS
1. Fokus Pengkajian
Pengkajian keluarga adalah suatu tahap dimana seorang perawatan
mengambil informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang
dibinanya (Murwani, 2013).
Sumber informasi dan tahapan dalam pengkajian dapat menggunakan
metode :
a. Wawancara keluarga
b. Observasi fasilitas rumah
c. Pemeriksaan fisik dari anggota keluarga dari ujung rambut ke ujung
kaki.
d. Data sekunder
contoh : hasil laboratorium, hasil X-Ray, pap smear, dan sebagainya.
Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :
a. Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
1) Nama kepala keluarga (KK)
2) Alamat dan telepon
3) Umur
4) Pendidikan
Pendidikan atau informasi akan mempengaruhi tingkat pemahaman
dan pengetahuan keluarga penderita dan penyakit maka hal ini akan
bisa mencegah terjadinya komplikasi (Ngastiyah, 2010).
5) Tipe keluarga
Menjelaskan tipe atau jenis keluarga serta menjelaskan kandala yang
terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut (Murwani, 2013).
6) Tipe bangsa
7) Agama
Mengkaji agama yang dianut dan kepercayaan yang dapat
mempengaruhi kesehatan (Murwani, 2013).
8) Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari
kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status
sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan
yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh
keluarga (Murwani, 2013).
9) Aktivitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi
bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun
dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan
aktifitas rekreasi (Murwani, 2013).
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga.
Menurut Murwani(2013) adalah :
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Dengan adanya penyakit maka akan mempengaruhi tahap
perkembangan yang sedang dijalani oleh keluarga, dengan adanya
anggota keluarga yang sakit sehingga dapat mengakibatkan
gangguan dalam tugas masing-masing individu sesui dengan tahap
perkembangan yang sedang dijalani (Hurlock,2010).
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Hal ini perlu dikaji karena dengan mengatahui tahap perkembangan
yang belum terpenuhi akan bisa dicarikan solusinya agar tidak
memberikan pengaruh yang tidak diinginkan terhadap anggota
keluarga yang sakit (Hurlock,2010).
3) Riwayat keluarga inti
Untuk mengetahui apakah ada riwayat penyakit genetik pada 3
generasi yang ada pada genogram, dengan mengetahui ada tidaknya
penyakit menular maka akan dapat diketahui ada atau tidaknya
keluarga yang tertular (Smeltzer, 2010).
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Digunakan untuk mengetahui adanya penyakit yang serupa baik
riwayat penyakit genetik atau menular pada generasi sebelumnya
(Hurlock,2010).
c. Pengkajian lingkungan
1) Karateristik rumah
Dalam masyarakat yang hidupnya tinggal dalam satu rumah yang
sempit, dengan ventilasi udara kurang, serta tidak mendapat cahaya
matahari yang cukup akan mempengaruhi kondisi kesehatan
penderita dan keluarga (Hurlock,2010).
2) Karateristik tetangga dan komunitas RW
Tetangga dan komunitas yang memiliki tingkat kepedulian yang
tinggi akan membantu proses pengobatan dalam hal memberikan
motivasi kepada penderita untuk menjalankan pengobatannya
(Hurlock,2010).
3) Mobilitas geografis keluarga
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui kebiasaan keluarga
berpindah tempat (Murwani, 2013).
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga menjadi suatu unit yang penting pada perawatan kesehatan
masyarakat karena setiap individu menghabiskan sebagian besar
waktunya di lingkungan keluarga (Stanhope, 2013).
5) Sistem pendukung keluarga
Keluarga dapat menjadi sarana saat pemulihan atau adaptasi dari
suatu penyakit tanpa menghiraukan penyebabnya (Stanhope, 2013).
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Semakin terbuka dalam komunikasi maka akan lebih memudahkan
keluarga dalam memecahkan masalah khususnya katarak yang
dialami penderita. Jika komunikasinya tertutup, maka akan
menyulitkan dalam pemecahan masalah yang ada dalam keluarga
(Stanhope, 2013).
2) Struktur kekuatan keluarga
Hubungan keluarga yang timbal balik dapat mempengaruhi
ketenangan sebuah keluarga (Hurlock,2010).

3) Struktur peran
Dengan adanya katarak dapat mengganggu struktur peran yang
harusnya dijalani karena penderita katarak akan mengalami
kelemahan yang berakibat ketidak mampuan beraktivitas sesuai
dengan perannya (Carpenito, 2006).
4) Nilai dan norma keluarga
Kebiasaan akan mempengaruhi derajat kesehatan karena sehat atau
tidak sehatnya lingkungan kesehatan, individu, keluarga dan
masyarakat sangat tergantung dari peerilaku manusia itu sendiri
(Hurlock,2010).
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afekif
Keluarga yang mempunyai penderita penyakit kronis atau cacat akan
mempengaruhi fungsi dari keluarga tersebut (Stanhope, 2013).
2) Fungsi sosial
Dengan penyakit yang diderita oleh individu akan mengakibatkan
proses sosial terganggu (Stanhope, 2013).
f. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan menurut Murwani 2013 adalah
1) Kemampuan mengenal masalah kesehatan.
Pengetahuan yang cukup akan penyakit asam urat akan sangat
membantu dalam meminimalkan terjadinya komplikasi.
2) Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai
tindakan yang tepat untuk penderita asam urat.
Keputusan yang tepat dapat membantu penanganan yang cepat
sehingga komplikasi dari asam urat dapat dicegah.
3) Kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
mengalami asam urat.
Kejadian asam urat tidak hanya menimpa penderita, tetapi hal ini juga
dapat mempengaruhi keluarga, hal ini mendorong keluarga untuk
dapat merawat anggota keluarga yang sakit.
4) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan yang tepat untuk
kesehatan.
Kemampuan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang sehat
mencegah terjadinya komplikasi pada asam urat terhadap anggota
keluarga karena lingkungan kotor, kurang ventilasi, kurang cahaya
matahari, dan tingkat kelembaban yang tinggi akan memudahkan
terjadinya resiko komplikasi.
5) Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan masyarakat.
Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan akan
menurunkan terjadinya komplikasi penyakit asam uratyang
membutuhkan waktu yang lama.
g. Fungsi reproduksi
Dengan penyakit yang diderita akan menyebabkan gangguan dalam
pemenuhan kebutuhan biologis pada masing-masing individu (Stanhope,
2013).
h. Fungsi ekonomi
Ekonomi yang cukup lebih sangat mendukung tercapainya derajat
kesehatan khususnya tidak terjadinya keparahan akan tetapi mencapai
tingkat kesembuhan ddengan dilakukan pengobatan (Hurlock,2010).
i. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka pendek dan jangka panjang
Stressor merupakan faktor yang mengakibatkan adanya masalah jika
stressor ini berhubungan dengan dilakukannya pengobatan
(Hurlock,2010).
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi
Respon yang baikakan membantu dalam pencegahan dan pengobatan
pada anggota keluarga yang sakit sehingga komplikasi dapat dicegah
(Smeltzeer, 2010).
3) Strategi koping yang digunakan
Semakin baik koping yang digunakan akan semakin memudahkan
masalah teratasi, tetapi apabila strategi koping salah akan
menimbulkan masalah yang berkelanjutan (Smeltzer, 2010).
4) Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila
menghadapi permasalahan (Murwani, 2013).
j. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada penderita asam urat menurut Smeltzer, (2010).
Lakukan pemeriksaan darah, dan pemeriksaan asam urat pada lansia
yang menderita asam urat.
k. Harapan keluarga
Harapan keluarga yang besar terhadap perawatan akan membantu dalam
mengtasi masalah penyakit asam urat yang dialami oleh anggota
keluarga, dengan harapan sembuh maka keluarga akan berusaha untuk
menyembuhkan penyakit yang dialami oleh anggota keluarga yang sakit

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d Agens cidera biologis
2. Hambatan mobilitas fisik b.d kaku sendi
3. Defisiensi pengetahuan b.d kurang sumber pengertahuan

K. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah


1 Produksi asam urat berlebihan Nyeri akut b.d Agens
cidera biologis
Gg. metabolisme purin

Meningkatnya purin dalam darah

Pelepasan Kristal monosodium urat

Penimbunan Kristal urat

Respon inflamasi

Sirkulasi daerah radang meningkat

Vasodilatasi dari kapiler


Nyeri Akut
2 Produksi asam urat berlebihan Hambatan mobilitas
fisik b.d kaku sendi
Gg. metabolisme purin

Meningkatnya purin dalam darah

Pelepasan Kristal monosodium urat

Penimbunan Kristal urat

Respon inflamasi

Akumulasi cairan pada jaringan


intertisial

Odema jaringan

Penekanan pada jaringan sendi

Kekuan pada sendi

Membatasi pergerakan sendi

Hambatan Mobilitas Fisik


3 Produksi asam urat berlebihan Defisiensi
pengetahuan b.d
Gg. metabolisme purin kurang sumber
pengertahuan
Meningkatnya purin dalam darah

Pelepasan Kristal monosodium urat

Penimbunan Kristal urat

Respon inflamasi

Akumulasi cairan pada jaringan


intertisial

Odema jaringan

Kurangnya pengetahuan tentang


pengobatan dirumah

Defisiensi Pengetahuan
L. Nursing Care Planning

No Diagnosa NOC NIC


1 Nyeri akut b.d Agens Label: Kontrol nyeri Label: Manajemen Nyeri
cidera biologis Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1x24 jam diharapkan: Aktivitas-aktivitas:
Indikator Skala Target 1. Kaji faktor penyebab, kualitas,
Mengenali kapan terjadi 4 1 lokasi, frekuensi, dan skala nyeri.
nyeri 2. Monitor tanda-tanda vital.
Mengambarkan faktor 4 1 3. Ajarkan tehnik distraksi dan
penyebab relaksasi.
Menggunakan analgesik 4 1 4. Beri posisi yang nyaman untuk
yang direkomendasikan pasien.
Melaporkan nyeri yang 4 1 5. Kolaborasi dalam pemberian
terkontrol terapi analgesik
Ket:
1. Tidak pernah menunjukan
2. Jarang menunjukan
3. Kadang-kadang menunjukan
4. Sering menunjukan
5. Secara konsisten menunjukan
2 Hambatan mobilitas fisik Label: Pergerakan Label: Peningkatan mekanika tubuh
b.d kaku sendi Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1x 24 jam diharapkan: Aktivitas-aktivitas:
Indikator Skala Target 1. Tingkatkan aktivitas klien bila
Cara berjalan 1 5 nyeri dan bengkak telah berkurang
Gerakan sendi 1 5 2. lakukan ambulasi dengan
bantuan misal dengan
Gerakan otot 1 5 menggunakan walker atau
Bergerak dengan mudah 1 5 tongkat.
Ket: 3. lakukan latihan ROM secara
1. Sangat terganggu hati-hati pada sendi yang terkena
2. Banyak terganggu gout karena bila dimobilisasi terus
3. Cukup terganggu menerus akan menurunkan fungsi
4. Sedikit terganggu sendi.
5. Tidak terganggu 4. usahakan untuk meningkatkan
kembali pada aktivitas yang
normal.

3 Defisiensi pengetahuan Label: Pengetahuan manajemen Arthritis Label: Pengetahuan manajemen


b.d kurang sumber Setelah dilakukan tindakan keperawatan Arthritis
pengertahuan selama 1x 24 jam diharapkan:
Indikator Skala Target Aktivitas-aktivitas:
Tanda dan gejala 1. Berikan jadwal obat yang harus
1 4 digunakan meliputi nama obat,
memburuknya penyakit
Modifikasi aktivitas harian 1 4 dosis, tujuan dan efek samping.
Pemilihan pengobatan Penjelasan ini dapat
1 4 meningkatkankoordinasi dan
medis
Ket: kesadaran klien terhadap
1. Tidak ada pengetahuan pengobatan yang teratur.
2. Pengetahuan terbatas 2. diskusikan tentang pentingnya diit
3. Pengetahuan sedang yang terkontrol, misal dengan
4. Pengetahuan banyak menghindari makanan tinggi purin
5. Pengetahuan sangat banyak seperti hati, ginjal, sarden.
Program latihan dan istirahat yang
teratur perlu dibicarakan
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta.EGC
Sustrani, L. dkk. (2013) Asam Urat. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama
Setyowati, Sri dan Murwani, Arita. (2013). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan
Aplikasi Kasus. Edisi 1. Yogyakarta: Mitra Cendikia
Smeltzer & Bare. 2011. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart
Volume 2 (ed 8). Jakarta: EGC
Wijayakusuma, H. (2006) Atasi Asam Urat dan Reumatik. Jakarta : Puspa Swara
Gloria dkk, 2013. Nursing Intervensi Classification (NIC), 6 th edition. Jakarta : CV
Mocomedia.
Herdman dkk, 2015. NANDA Internasional Inc. Diagnisa Kepetawatan : Definisi &
Klasifikasi 2015-2017. Ed. 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Moorhed dkk, 2013. Nursing Outcome Classification (NOC), 5th edition. Jakarta : CV
Mocomedia.

Anda mungkin juga menyukai