Anda di halaman 1dari 130

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

Oleh :

Nama Mahasiswa : Mitha Kamsy


NIM : 191420035
Progam Studi : Teknik Pengolahan Migas
Bidang Minat : Refinery
Diploma : IV
Tingkat : 1 (Satu)

KEMENTRIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS

(PEM Akamigas)

Cepu, Juni 2020


LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

Telah dilaksanakan praktikum produk minyak bumi dan gas selama 55 jam kuliah, dengan materi
praktikum :

1. Distilasi ASTM D 86 10. Viscositas -20,ASTM D 445


2. Copper stripe corrosion ASTM D 130 11. Viscositas 40,ASTM D 445
3. ASTM Colour ASTM D 1500 12. Viscositas 100,ASTM D 445
4. Density dan SG, ASTM D 1298 13. Flash Point PMCC,ASTM D 93
5. Flash Point Abel IP 170 14. BS& W, ASTM D 4007
6. Smoke Point ASTM D 1322 15. Doctor Test, ASTM D 4952
7. Reid Vapour Pressure,ASTM D 323 16. Colour Saybolt, ASTM D156
8. Flash Point COC, ASTM D 92 17. Pour Point, ASTM D 97
9. ON Analayzer 18. Electrical Conductivit, ASTMD 2624

Disusun oleh : Mitha Kamsy


19.
Nim : 191420035
20.
Kelompok : III
21.

Menyetujui,

Asisten Laboratorium Dosen Praktikum

Fikri Ahmad Haekal Haris Numan Aulia, M.T.


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur tiada henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan rahmat, nikmat dan anugerah-Nya sehingga Laporan
Praktikum Kimia Dasar ini dapat terselesaikan dengan baik, meski jauh dari kata
sempurna.

Dengan selesainya laporan resmi praktikum ini, maka kami tidak lupa mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan Laporan
Praktikum Kimia Dasar ini. Khususnya kepada:

1. Kepada bapak Haris Numan Aulia, M.T. selaku dosen pengampu mata kuliah
Praktikum produk migas

2. Kepada segenap Assisten Laboratorium Kimia Dasar yang telah membimbing kami
selama berlangsungnya praktikum

3. Kepada para orangtua yang tak pernah putus mendoakan agar kuliah kami berjalan
dengan baik

4. Dan seluruh teman-teman yang berkenan membantu hingga Laporan Praktikum


Kimia Dasar ini dapat selesai

Demikian laporan praktikum ini dibuat. Disadari atau tidak, mungkin dalam penulisan
laporan praktikum ini masih sangat jauh dari kata sempurna, mohon maaf apabila masih
ada banyak kekurangan.

Semoga Laporan Praktikum Kimia Dasar yang telah disusun berdasarkan hasil
praktikum selama 55 jam kuliah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Khususnya juga
bermanfaat bagi kami selaku mahasiswa

Cepu, Juni 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Cover……………………………………………………………………………………………………………..i

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………………………...ii

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………iii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………..iv

Praktikum

1. Distilasi ASTM D 86
2. Copper stripe corrosion ASTM D 130
3. ASTM Colour ASTM D 1500
4. Density dan SG, ASTM D 1298
5. Flash Point Abel IP 170
6. Smoke Point ASTM D 1322
7. Reid Vapour Pressure,ASTM D 323
8. Flash Point COC, ASTM D
9. ON Analayzer
10. Viscositas -20,ASTM D 445
11. Viscositas 40,ASTM D 445
12. Viscositas 100,ASTM D 445
13. Flash Point PMCC,ASTM D 93
14. BS& W, ASTM D 4007
15. Doctor Test, ASTM D 4952

Tugas Penganti Praktikum

1. Colour Saybolt, ASTM D156


2. Pour Point, ASTM D 97
3. Electrical Conductivit, ASTMD 2624
PERCOBAAN 1
Distilasi ASTM D 86
DISTILASI ASTM D 86

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menentukan secara kuantitatif karakteristik trayek titik didih menggunakan unit
distilasi secara laboratories,meliputi distilasi atmosferik produk minyak bumi (mogas
,Avgas,Avtur,Kerosine,Gas Oil dan produk lain sejenis)

2. Mahasiswa dapat menentukan Initial Boiling point (IBP)

3. Mahasiswa dapat menentukan End Point (EP) atau Final Boiling Point (FBP).

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati hati bekerja menggunakan peralatan peralatan yg mudah pecah.

2.Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik yg ada.

III. TEORI DASAR

Distilasi adalah suatu proses pemisahan secara fisis berdasarkan besar dan kecilnya titik didih
dari suatu campuran zat cair. Dalam distilasi suatu campuran komponen cair-cair yang saling larut
dan keduanya merupakan komponen yang volatil, tetapi memiliki perbedaan titik didih yang cukup
signifikan, dapat dipisahkan dengan cara distilasi. Umpan pada proses distilasi dapat berupa
campuran biner (campuran 2 komponen) atau campuran multikomponen yang terdiri atas fase cair
saja atau campuran uap dan cairan. Komponen yang paling volatil dalam campuran tersebut akan
membentuk fase uap dan diperoleh sebagai produk atas pada menara distilasi, sering kali disebut
dengan istilah light key component. Sementara itu, komponen yang kurang volatil pada campuran
akan tetap berada di fase cair dan diperoleh sebagai produk bawah pada menara distilasi, dikenal
dengan istilah heavy key component. Menara distilasi berbentuk vertikal, terdiri atas kondenser yang
terpasang di bagian paling atas menara, reboiler di bagian paling bawah, dan plate/tray/packing yang
terdapat di sepanjang menara. Di dalam menara distilasi terjadi proses penguapan dan pengembunan
yang berulang-ulang melalui pertukaran panas yang terjadi pada kondenser, reboiler, dan kontak uap-
cair sepanjang menara. Para engineers selalu memberikan perhatian yang berlebih saat merancang
dan mengoperasikan menara distilasi, mengingat alat ini mengonsumsi energi yang cukup banyak.
Penghematan energi pada menara distilasi tentunya akan mengurangi biaya operasional pabrik secara
keseluruhan. Banyak buku tentang distilasi, tetapi kebanyakan hanya sebatas membahas sisi
perancangan sederhana menara distilasi. Buku ini ditulis secara komprehensif, tidak hanya
menguraikan sisi perancangan, tetapi juga sisi analisis energi yang dapat dipakai sebagai acuan agar
operasional menara distilasi benar-benar tidak boros energi. Di bagian akhir juga diuraikan alat-alat
instrumentasi dan pengendalian operasinya. Bahkan dijelaskan secara rinci cara dan prosedur
komisioning, start up, dan shut down dari menara distilasi. Buku ini sangat cocok untuk mahasiswa
sarjana dan pascasarjana dari Fakultas Teknik yang ingin mempelajari perancangan menara
sederhana ataupun menara kompleks. Buku ini juga berguna bagi praktisi industri kimia (process
engineer dan operator pabrik) agar dapat mengoperasikan menara distilasi secara benar.

Prinsip distilasi yang digunakan dalam percobaan di laboratorium untuk menentukan sifat
sifat fisik produk minyak bumi ini adalah Simple Distillation, karena pada proses distilasi ini tidak
terjadi kontak antara uap dan cairan yang terbentuk dari kondensasi. Selama proses distilasi
berlangsung, baik distilasi bertingkat maupun distilasi biasa, dari cairan yang terdistilasi tersebut
tidak terjadi perubahan struktur molekul dan juga tidak ada zat baru yang terbentuk.

Distilasi ASTM merupakan informasi untuk operasi dikilang bagaimana fraksi-fraksi


seperti komponen gasoline, bahan bakar jet, minyak diesel dapat diambil dari minyak mentah yang
disajikan melalui kinerja dan volalitas dalam bentuk persen penguapannya.

Terminologi pada Distilasi ASTM D 86

a) End Point (EP) atau Final Boiling Point (FBP): pembacaan thermometer yang paling tinggi
(maksimal) yang diperoleh selama pemeriksaan
b) Initial Boiling Point (IBP) : pembacaan thermometer yang diperoleh pada waktu tetesan pertama
kondensat jatuh dari ujung tabung kondensor.
c) Persen evaporated : Penjumlahan dari persen yang recovered di gelas ukur penampung 100ml dengan
persen loss
d) Persen loss : 100 dikurangi persen total kondensat yang tertampung di gelas ukur 100ml dan dikurangi
lagi dengan persen residu
e) Persen recovered : Volume kondensat yang tertampung di gelas ukur 100ml dan dinyatakan dalam
persen volume dari volume sample.
f) Persen recovery : Persen recover maksimum yang didapat saat distilasi telah dihentikan.
g) Persen residu : Volume residu yang tertinggal di labu dan dinyatakan dalam persen volume dari
volume sample di labu.
h) Persen total recovery :Kombinasi persen recovery dan residu di labu.

“Analisa Minyak Bumi”


Metode yang banyak dipakai untuk melakukan pemeriksaan terhadap minyak dan produknya
adalah :
1. ASTM (American Society for Testing Material)
2. API (American Petroleum Institute)
3. IP (Institude de Petrol)
4. ISI (Indian Spesification Institute)

1. Distilasi ASTM
Pemeriksaan distilasi laboratorium yang dilakukan untuk gasoline, nafta dan kerosin adalah
dengan metode ASTM D-86, untuk bensin alam dengan ASTM D-216, dan untuk gas oil dengan
ASTM D-158. Distilasi laboratorium dilakuakn pada volume 100 ml dengan kecepatan tetesan yang
keluar adalah 5 ml/menit. Suhu uap mula – mula menetes (setelah mengembun) disebut IBP (Initial
Boiling Pint).
Distilasi ASTM merupakan informasi untuk operasi di kilang bagaimana fraksi – fraksi
seperti komponen gasoline, bahan bakar jet, minyak diesel dapat diambil dari minyak mentah yang
disajikan melalui kinerja dan volatilitas dalam bentuk persen penguapannya.

2. Panas Laten Penguapan


Panas laten penguapan yang lazim disebut panas laten didefinisikan sebagai panas yang
dibutuhkan untuk menguapkan 1 lb cairan pada titik didihnya pada tekanan atmosfer. Penguapan
dapat terjadi pada tekanan lain atau suhu lain. Panas laten berubah dengan berubahnya suhu atau
tekanan dimana terjadi penguapan. Panas laten pada tekanan atmosfir untuk fraksi minyak bumi dapat
dilihat pada grafik 5-5 s/d 5-9 Nelson.

3. Titik Didih
Sifat–sifat fisik minyak mentah maupun produknya mempunyai hubungan yang erat dengan
titik didih rata–rata seperti terlihat pada Table 1. Titik didih rata–rata (MABP = Molal Average
Boiling Point) lebih memuaskan dibandingkan dengan penguapan. Hubungan titik didih rata–rata
dapat dilihat pada grafik 5-4 dan 5-5 Nelson.
Titik didih rata–rata volumetrik (VABP = Volume Average Boiling Point) langsung dapat
dihitungdari data distilasi dalam bentuk persen volume distilat terhadap suhu penguapan, baik pada
distilasi TBP maupun distilasi ASTM seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Hubungan antara titik didih dan sifat minyak
No Macam Titik Didih Sifat – sifat fisik
1 Titik didih rata – rata volume Viskositas dan panas jenisn ( dan
(VABP) Cp)
2 Titik didih rarta – rata berat Suhu kritis nyata (Tc)
(WABP)
3 Titik didih rata – rata molal Suhu kritis pseudo (T/Tc+) dan
(MABP) ekspansi termis (kt+)
4 Titik didih rata – rata (MnABP) Berat molekul (M), factor
karakteristik (K), berat jenis (ρ),
tekanan kritis pseudo (P/+Pc) dan
panas pembakaran (Hc)
Tabel 2. VABP berbagai minyak
Jenis Minyak Grafik Distilasi
TBP ASTM
Minyak Mentah tv tv =

Fraksi – fraksi tv = tv =

Titik didih rata–rata yang lain dapat dihitung menggunakan VABP dan sudut garis miring
(slope) dari grafik 5–4 dan 5– 5 Nelson. Slpoe dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : S =
, oF / %

Hubungan antara titik didih rata–rata molal ( MABP) dan titik didih rata–rata volumetrik
(VABP) terhadap sifat – sifat fisik lain seperti o API gravity, berat molekul, faktor karakteristik, suhu
kritis dan tekanan kritis, dapat dilihat pada grafik 5 – 9 s/d 5 – 12 Nelson.

Spesifikasi Produk Kilang


Persyaratan diperlukan untuk menentukan spesifikasi minyak, fraksi serta produk – produk
kilang dimana produk kilang berbeda satu sama lainnya. Pada topik ini akan dibahas tiga produk
utama kilang yaitu mogas, kerosine dan minyak diesel.
1. Mogas ( motor gasoline)
Persyaratan umum untuk gasoline atau bensin antara lain ;
a. Bebas air, getah minyak dan sulfur korosif
b. Mempunyai ketukan uap yang minimum
c. Pemanasan dan akselarisanya lebih muda
d. Mempunyai kualitas anti ketukan
e. Dapat diencerkan sendiri dalam silinder mesin
2. Kerosine
Kerosine yang banyak dipakai sebagai minyak untuk keperluan rumah tangga tidak hanya
mempunyai kualitas pembakaran yang layak, tetapi harus juga aman untuk dibawa dan dapat dipakai
untuk keperluan lampu dan kompor. Secara umum kerosine harus bebas dari air, zat aditif, getah
minyak dan zat – zat terlarut.
Kerosine yang lebih dikenal sebagai minyak pemanas merupakan produk kilang yang murni
mempunyai spesifikasi standar yaitu :
o
API gravity : 43 – 45
Jarak didih : 350 – 550 oF

3. Minyak Diesel
Karakteristik yang utama dari minyak diesel adalah kebersihannya, kualitas penyalaan, fluiditas,
volaritas dan atomisasi. Kebersihan minyak diesel meliputi residu karbon dan kandungan sulfur yang
terdapat dalam minyak. Kualitas penyalaan yang baik dinyatakan dengan pengukuran bilangan setana
(cetane number) atau indeks diesel yang ditunjukan dengan.

mudah tidaknya mesin di start pada suhu rendah, tekanan mesin yang rendah, tekanan mesin
yang rendah dan operasi mesin yang halus. Fluiditas dan atomisasi minyak diesel ditandai dengan
titik tuang (pour point) dan viskositas minyak yang rendah, namun tidak demikian rendah sehingga
menyebabkan kesulitan pelumasan pada injector, kebocoran dan efisiensi yang rendah. Volatilitas
minyak ditandai dengan titik nyala, residu karbon, dan distilasi.
Di indonesia minyak diesel dijual dalam 2 kategori yaitu minyak diesel untuk kendaraan bermotor
(ADO = automotive diesel oil.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. pertamax 92

b. Peralatan

2. Labu Distilasi 125 mL

3. Gelas ukur 100 mL & 10 mL

4. Thermometer 7˚C atau 8˚C

5. Condensor (bak pendingin)


6. Pemanas (burner atau elektrik)

V.LANGKAH KERJA

a. cara penyiapan peralatan

Siapkan labu distilasi volume 125 mL.Bila labu kotor (ada karbon residu) pada bagian dasar
labu bersihkan dengan cara di bakar dengan nyala api burner.
Siap kan thermometer (ASTM 7˚C atau ASTM 8˚C) sesuai dengan contoh yg akan di uji
Siapkan penyangga labu,dengan ukuran yg sesuai dengan contoh yg akan di uji dan pasang
pada alat pemanas.
- untuk contoh group 1dan 2,diameter lobang 38 mm
- untuk contoh group 3 dan 4
Siapkan gelas ukur bersih dan kering dengan skala 0 s/d 100 ml.
Bak kondensor diisi air,suhunya di atur sesuai dengan contoh yg akan di uji.
-contoh group 1,2 dan 3 bak kondensor diisi (suhu 0 s/d 5˚C)
-contoh group 4,bak kondensor diisi air panas (suhu 0 s/d 60˚C).
Bersihkan/hilangkan cairan pada tabung kondensor dengan cara mengelap/menyerap dengan
kolok ygt di beri

b. Cara Pemasangan Peralatan

1. Pasang thermometer serapat mungkin ke dalam labu distilasi yg berisi contoh.


Atur posisi thermometer,dimana ujung bulb dari thermometer berada sejajar dengan lubang
keluarnya uap.

2. pasang labu distilasi yg berisi contoh,sehingga ujung labu masuk ke dalam tabung
kondensor serapat mungkin.posisi labu tagak sehingga pipa uap labu masuk ke dalam
tabung kondensor dalam jarak 1 s/d 2 inchi.
3. naikan dan atur penyangga labu sehingga pas dengan dasar labu distilasi.

c. Langkah Kerja Pengujian

1. ukur contoh 100 ml menggunakan gelas ukur 100 ml,tuangkan ke dalam labu distilasi
dan pasang thermometer yg sesuai
2. pasang gelas ukur 100 ml pada ujung kondensor sebagai penampung kondensat
3. nyalakan pemanas dan atur kecepatannya sehingga mencapai IBP (Initial Boiling
point):
untuk grup 1 s/d 3 dalam waktu 5-10 menit.
Untuk grup 4 dalam waktu 5-15 menit
4. Atur pemanasan dari IBP sampai 5% volume dalam waktu 60-70 detik atau dengan
kecepatan tetesan 4-5 ml/ menit.setelah IBP terbaca,gelas ukur di geser sehingga ujung
kondensor menempel di dinding gelas.
5. Baca dan catat suhu setiap kenaikan 10% volume.
6. Atur pemanasan sehingga dari 95% volume sampai FBP (Final Boiling Point)
waktunya 3-5 menit FBP adalah suhu tertinggi yg terbaca saat uji distilasi.
7. Setelah FBP tercapai,matikan pemanas dan labu dibiarkan dingin kemudian ukur
volume residu
8. Hitung % volume Losses dengan formula:
Losses, % vol = 100 mL – (Total Recovery + Residu
KETELITIAN

VII. HASIL PENGAMATAN

IBP T (0C)
5 48
10 60
20 65
30 73
40 88
50 100
60 108
70 123
80 138
90 180
92 188
IBP 45
FBP 188

A.HASIL PENGAMATAN
Percobaan distilasi ASTM D 86
Product:Pertamax (gasoline)
FBP :1880C
Residu 2 ml
Losses % Vol :100 ml- ( total recovery + residue)ml :100ml-(92ml-2ml)
:6 ml
Status : ON SPEC

Spesifikasi Produk

VIII. ANALISIS

Pada praktikum yg kami lakukan di dapatkan hasil ON Spec di mana hasil yg kami lakukan
hampir mendekati spec nya, pada praktikum ini sampel yg kami gunakan adalah pertamax 92
(gasoline),di mana proses pertama yaitu memasang thermometer yg akan di gunakan untuk mengukur
suhu,data yg di amati yaitu ; nilai FBP dan IBP. Initial Boiling Point (IBP) yaitu tetesan kondesat
pertama yang jatuh pada ujung kondensor yg dalam percobaan ini di dapat pada suhu 45 sehingga di
dapatkan hasil yaitu pada pengujian IBP volume penguapan didapatkan suhu sebesar 188 sedangkan
pada Final Boiling Point (FBP) atau End Point (EP) adalah suhu maksimum pada saat proses destilasi
199℃.yg jika kita lihat pada spec hampir mendekati sehingga dapat di katakana on spec dalam
praktikum ini juga terdapat bebeberapa kesalahan yaitu dalam memahami alat yg di gunakan dalam
lab dengan alat langsung di lapangan sehingga kami kekeliriuan dalam memahami prosedur dan
penggunaan alat lalu dari data di atas maka temperature suhu kondensat akan naik maka yg kami
lakukan adalah menghitung setiap losses pada saat distilasi Losses % volume sebesar 5,70 ml, dengan
perhitungan sebagai berikut :

Losses % volume = 100 ml – (Total Recovery + Residu)

= 100 ml – ( 92 ml + 2,0 ml )

= 6,0 ml

IX.PENUTUP
a.Simpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.Untuk percobaan Pengujian yg kami lakukan sesuai dengan spesifikasi (On Spec) karena
hampir mendekati spec nya.

b.Saran
Dari praktikum yang telah dilakukan praktikan menyarankan untuk :
1.Lebih menjaga kebersihan alat dan bahan
1. Hati hati serta teliti dalam melakukan percobaan

X. DAFTAR PUSTAKA

[1] T. V. Barreto and A. C. D. Coelho, “Distillation,” in Sugarcane: Agricultural


Production, Bioenergy and Ethanol, 2015.

[2] Blogspot.com/2013/05/distilasi-ASTM-D-86

[3] Anomim,2020: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu


XI. LAMPIRAN HASIL PRAKTIKUM
PERCOBAAN 2
Copper stripe corrosion ASTM D 130
COPPER STRIP CORROSION TEST ASTM D130

I.TUJUAN

Metode pengujian ini mencakup penentuan korosifitas tembaga dari aviation gasoline,
aviation turbine fuel,automotive gasoline, cleaners (Stoddard) solvent, kerosine,diesel fuel,
distillate fuel oil, lubricating oil, and natural gasoline atau hidrokarbon lain yang memiliki
tekanan uap lebih rendah dari pada 124 kPa (18 psi) pada 37.8 °C.

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.

III. TEORI DASAR

Untuk menguji tingkat korosifitas bahan bakar yg disebabkan salah satunya adalah
kandungan sulfur dengan menggunakan metode copper strip copper strip.Uji ini
menggunakan sekeping tembaga yg di masukan/di rendamdalam sampel yg akan di
uji,kemudian di panaskan pada suhu tertentu selama beberapa waktu sesuai karakteristik dari
sampel.selama di rendam,copper strip tersebut kemungkinanan besar akan berubah warna
warna sesuai dengan tingkat korosi sampel.setelah itu copper srip di angkat ,di keringkan dan
di bandingkan warnanya dengan warna standar untuk mendapatkan tingkat korosif dari
sampel yg diuji.

Minyak bumi (crude petroleum) umumnya mengandung senyawa sulfur, sebagian


senyawa ini akan terikut sampai ke produk akhir walaupun dalam pengilangan sudah ada
proses pembersihannya. Senyawa sulfur dalam produk minyak bumi ada yang bersifat
korosif, tingkat korosifnya harus dibatasi agar konsumen tidak dirugikan.
ASTM D-130 mengatur cara untuk mendeteksi tingkat korosi pada tembaga (corrosiveness to
copper) dari produk-produk minyak bumi. Produk minyak bumi yang diatur oleh standard ini
meliputi aviation gasoline, aviation turbine fuel, automotive gasoline, natural gasoline atau
produk lainnya yang memiliki RVP tidak lebih besar dari 18 psi (124 kPa), cleaners solvent,
kerosene, diesel fuel, distillate fuel oil dan lubricating oil atau produk sejenis lainnya.

Prinsip Kerja. Sekeping tembaga (Polished copper strip) dimasukkan/direndam dalam


sample yang akan diuji, kemudian dipanaskan pada suhu tertentu selama beberapa waktu
sesuai karakteristik dari sample. Selama direndam, copper strip tersebut kemungkinan besar
akan berubah warna sesuai dengan tingkat korosi sample. Setelah itu, copper strip
diangkat, dikeringkan dan dibandingkan warnanya dengan warna standard untuk
mendapatkan tingkat korosif dari sample yang ditest.

Konfigurasi Peralatan.

Peralatan yang digunakan sesuai ASTM D-130, terdiri dari:

1. Test Tubes sebagai wadah untuk sample yang akan ditest & Test Bomb sebagai
pelindung tube yang akan direndam dalam fluida panas ;
2. Test Bath sebagai wadah yang berisi fluida panas untuk merendam Tube yang berisi
sample;
3.Thermometers untuk mengukur suhu;
4. Polishing Vise untuk menahan Copper strip selama proses polishing;
5. Viewing Test Tubes untuk memproteksi Copper strip selama inspeksi atau
penyimpanan dan
6. Material Accessories. Material Accessories antara lain terdiri dari:

a.Wash Solvent;
b.Polishing Material (Silicon paper 240-grit & 150-mesh, dan absorbent cotton);
c. Copper Strip; dan
d) ASTM Copper Strip Corrosion Standard.

Jadi bisa di katakana Copper strip corrosion test juga merupakan metode kualitatif yang
digunakan untuk menentukan tingkat korosi produk minyak bumi. Dalam test ini, strip
tembaga yang dipoles tergantung pada produk dan pengaruh yang diamati.
Berikut adalah Alat ukur Copper Corrosion ASTM D-130 dari beberapa vendor/manufacturer.

Pengertian Korosi
Korosi adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan
lingkungannya. Definisi lain dari korosi adalah perusakan atau penurunan mutu dari
material akibat bereaksi dengan lingkungan dalam hal ini adalah interaksi secara kimiawi.
Sedangkan penurunan mutu yang diakibatkan interaksi secara fisik bukan disebut korosi,
namun biasa dikenal sebagai erosi dan keausan. Contoh korosi antara lain: karat besi dan
paduannya pada temperatur kamar, kerak baja pada temperatur tinggi, noda pada perak, dan
lain sebagainya.
Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan
logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam
yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum,
yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi
menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion
dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang
mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya
merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh
korosi logam besi dalam udara lembab, misalnya proses reaksinya dapat dinyatakan sebagai
berikut :
Anode {Fe(s)→ Fe2+(aq)+ 2 e} x 2

Katode O2(g)+ 4H+(aq)+ 4 e → 2 H2O(l) +


Redoks 2 Fe(s) + O2 (g)+ 4 H+(aq)→ 2 Fe2++ 2 H2O(l)
Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar untuk proses korosi ini,
,yaitu E0 sel = +1,67 V ; reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian
dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H2CO3. Ion
Fe+2 yang terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh oksigen membentuk
besi (III) oksida :
4 Fe+2(aq)+ O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) → 2 Fe2O3x H2O + 8 H+(aq)
Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi. Sirkuit listrik dipacu oleh
migrasi elektron dan ion, itulah sebabnya korosi cepat terjadi dalam air garam. Jika proses
korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi katodik yang terjadi, yaitu :
O2 (g) + 2 H2O(l)+ 4e → 4 OH-(aq)
Oksidasi lanjut ion Fe2+ tidak berlangsung karena lambatnya gerak ion ini
sehingga sulit berhubungan dengan oksigen udara luar, tambahan pula ion ini segera
ditangkap oleh garam kompleks hexasianoferat (II) membentuk senyawa kompleks stabil
biru. Lingkungan basa tersedia karena kompleks kalium heksasianoferat (III). Korosi besi
realatif cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab lapisan senyawa besi (III) oksida yang
terjadi bersifat porous sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi meskipun
alumunium mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif ketimbang besi, namun proses
korosi lanjut menjadi terhambatkarena hasil oksidasi Al2O3, yang melapisinya tidak bersifat
porous sehingga melindungi logam yang dilapisi dari kontak dengan udara luar.

Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan
berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan
sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga
memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan
proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel
yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda).
Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana
atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada
logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan
mendekati logam dan menangkap elektronelektron yang tertinggal pada logam.
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang
berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian
bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran
udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam,
baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan :

1. KEROSINE

2. Iso-Oktana

b. Peralatan:

1. Tabung reaksi (Test tube)

2. Bath, dengan suhu konstan 50 ± 1˚C (122 ± 2˚F) dan atau 100 ± 1˚C (212 ± 2˚F)

3. Copper strip corrosion test bomb, dari stainless steel, mampu menahan tekanan uji
100 psi (689 kPa)

4. Termometer, jenis ASTM 12C (12F) atau IP 64C (64F)

5. Polishing vise, sebagai penjepit copper strip


V. LANGKAH KERJA

a. Persiapan Copper Strip

1. Bersihkan dengan cara menggosok ke enam sisi Lempeng Tembaga (Copper Strip)
menggunakan silikon carbide grit paper, kemudian dicuci dengan iso-oktana.

2. Gosok lagi dengan serbuk silikon carbide (150 mesh) diatas permukaan pelat yang
bersih dengan alas kain katton yang telah dibasahi dengan beberapa tetes iso oktana.
Selama membersihkan Copper pakailah penjepit stainless steel dan jaga jangan sampai
tersentuh jari tangan.

b. Langkah Kerja

1. Masukkan 30 ml contoh kedalam test tube.

2. Masukkan Lempeng Tembaga (Copper Strip) yang telah dibersihkan kedalam test tube
yang telah berisi contoh.

3. Rendam test tube berisi contoh dan Lempeng Tembaga pada water bath yang telah
diatur suhunya sesuai jenis contoh yang diuji. Lamanya perendaman sesuai dengan
contoh yang diuji. (50˚C selama 3 jam, kecuali Aviation Fuel 100˚C selama 2 jam)

4. Setelah waktunya tercapai, angkat test tube dari water bath.

5. Kosongkan test tube dari contoh uji, kemudian dengan menggunakan penjepit, angkat
Lempeng Tembaga dan cuci dengan iso oktana, lalu keringkan.

6. Laporkan nomor warna Copper Strip setelah dibandingkan warnanya terhadap Copper
Strip Color Standard.

VI. HASIL PENGAMATAN


A.HASIL PENGAMATAN
Percobaan COPPER STRIPE COROSSION TEST,ASTM D130
Product : Kerosine
Class :1b (Dark Orange)
Status : ON SPEC

B.SPESIFIKASI PRODUK
Sampel :Minyak Tanah
D130

Korosi bila tembaga (3 jam/50˚C) :No 1

VII. ANALISIS

Pada praktikum yg kami lakukan ini adalah copper stripe corrosion ,pertama tama
karna tujuan dari percobaan ini yaitu penentuan korosif pada tembaga maka pada
praktikum yg kami lakukan sampel yg kelompok kami pilih untuk di uji adalah
minyak tanah (KEROSINE).yg kami lakuan selanjutnya yaitu mencari spec sampel uji
(kerosin) agar nantinya hasil dapat di lihat perbedaan agar kita bandingkan. Pada
awalnya copper strip digosok dengan serbuk silicon carbide, setelah itu dimasukan ke
dalam larutan iso-oktana dan di rendam di dalam Namun, setelah ±3 jam direndam
pada water bath dengan suhu 50˚C warna copper strip sedikit berubah dan mendekati
“1b” pada skala ASTM Copper kemudian copper stripe netral tersebut di keluarkan
dari oven,lalu di dapatkan hasil percobaan yg kami lakukan yaitu class 1b maka
percobaan kami sudah ON SPEC.

VIII. PENUTUP

1. Kesimpulan
dari hasil praktikum yg kami lakukan tujuan nya untuk menguji apakah adanya korosif
pada sampel uji yg kami gunakan,karena hasil percobaan yg kami dapatkan yaitu class
1b maka sifat korosif pada sampel uji kami sangat rendah sehingga masih dapat di
gunakan.

2. Saran
a. Pada saat menggosok tembaga menggunakan serbuk silicon carbide jangan sampai
tersentuh oleh tangan.

b. Praktikan di harapkan berhati hati serta teliti dalam melakukan pratikum

c. Peralatan – peralatan praktikum harus dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan


agar tidak terjadi kontaminasi pada sampel yang akan di uji, karena kontaminasi akan
membuat hasil praktikum menjadi berbeda.

IX. DAFTAR PUSTAKA

[1] Ukmsttmigas.blospot,com/2013/05/signifikan-pengujian-minyak-solar.html

[2] https://www.astm.org/Standards/D1500.htm

[3] Anomim,2019: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu


XI. LAMPIRAN HASIL PRAKTIKUM
PERCOBAAN 3
ASTM Colour ASTM D 1500
ASTM COLOUR, ASTM D 1500

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat mencakup penetapan secara visual dari warna produk minyak seperti
minyak pelumas, heating oil, diesel fuel oil dan petroleum wax

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

2. Bila menggunakan peralatan listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik yang ada.

III. TEORI DASAR

Pengukuran menggunakan sumber cahaya standar untuk sample cair yg di bandingkan

Dengan glass berwarna yg mempunyai skala dari 0,5 sampai 8,0.bila tidak di peroleh warna

Yg tepat atau warna sample terletak diantara dua warna standar,maka di laporkan sebagai
warna yg lebih tinggi.

ASTM D1500 adalah skala warna nomor tunggal untuk menilai produk minyak bumi.
Ini ditunjukan untuk berbagai produk minyak bumi seperti lubricating oil, heating oil, diesel
fuel oil, and petroleum wax yang telah distandarisasi.

Penentuan warna produk minyak bumi digunakan terutama untuk tujuan kontrol
manufaktur dan merupakan karakteristik kualitas yang penting, karena warna mudah diamati
oleh pengguna produk. Dalam beberapa kasus, warna dapat berfungsi sebagai indikasi tingkat
penyempurnaan material. Ketika rentang warna produk tertentu diketahui, variasi di luar
rentang yang ditetapkan dapat menunjukkan kemungkinan kontaminasi dengan produk lain.
Namun, warna tidak selalu merupakan panduan yang dapat diandalkan untuk kualitas produk
dan tidak boleh digunakan tanpa pandang bulu dalam spesifikasi produk.
Pengukuran dilakukan menggunakan sumber cahaya standar untuk sample cair yang
dibandingkan dengan glass berwarna yang mempunyai skala dari 0,5 sampai 8,0. Bila tidak
diperoleh warna yang tepat atau warna sample terletak diantara dua warna standar, maka
dilaporkan sebagai warna yang lebih tinggi

Produk dengan warna rendah kurang dari 0,5 ASTM sering diukur dengan
menggunakan warna Saybolt (ASTM D-156). Kedua unit warna secara tradisional ditemukan
dengan perbandingan visual sampel produk dengan warna standar. sistem pengukuran warna
modern jauh lebih mudah dari pada menggunakan mata manusia, serta warna diamati secara
permanen. Perubahan warna seringkali merupakan indikator yang untuk kualitas produk,
sehingga sangat penting untuk segera mendeteksi perubahan warna. Nilai warna yang konstan
membantu meningkatkan efisiensi pabrik dan kualitas produk.

Aplikasi untuk mengukur warna ASTM:

Pengamatan pemisahan dalam proses distilasi komparatif

Pengukuran warna oli (lubricating oil, hydraulic oil, heat oil, etc.)

Pengukuran warna bahan bakar (diesel fuel oil, kerosene, etc.)

Pengamatan produk setengah jadi

Produk dengan warna rendah kurang dari 0,5 ASTM sering diukur dengan
menggunakan warna Saybolt (ASTM D-156). Kedua unit warna secara tradisional ditemukan
dengan perbandingan visual sampel produk dengan warna standar. sistem pengukuran warna
modern jauh lebih mudah dari pada menggunakan mata manusia, serta warna diamati secara
permanen. Perubahan warna seringkali merupakan indikator yang untuk kualitas produk,
sehingga sangat penting untuk segera mendeteksi perubahan warna. Nilai warna yang konstan
membantu meningkatkan efisiensi pabrik dan kualitas produk.

Pengujian Color ASTM, ASTMD 1500


Metode uji ini menggantikan metode uji D155. Metode D1500 lebih baik dari metode
D155 dalam tiga hal: (1) gelas standar dispesifikasikan lebih mendasar; (2) perbedaan
kromatis antara gelas standar yang berurutan seragam diseluruh skala; dan (3) standar warna
yang lebih terang mendekati warna produk minyak.

Hubungan antara skala warna ASTM dan warna ASTM Union (Metode Uji D155) tidak
dapat dinyatakan dengan tepat karena perbedaan yang diketahui muncul diantara standar
warna ASTM Union saat sedang dipakai. Perbedaan yang signifikan antara standar Warna
Union yang sedang dipergunakan sebagai standar resmi perusahaan.

Standar Warna ASTM Union dispesifikasikan di dalam Analisis Warna Lovibond. Hal ini
menunjukkan bahwa spesifikasi warna standar gelas sudah tidak tepat. Warna ASTM Union
dibuat satu seri Master Standar Gelas. Standar ini dipercayakan kepada perusahaan yang
telah mendapat ijin untuk membuat kolorimeter ASTM Union.
Terdapat korelasi antara Master Standar Union Color dan skala Warna ASTM secara
spectrometer diberikan pada gambar Korelasi antara skala warna ASTM dan warna ASTM
Union. Spesifikasi untuk skala Warna ASTM membatasi variasi maksimum dalam warna
menjadi kira-kira ( 0,1 warna. Variasi pada Skala Warna Union yang diketahui ada sampai
sebesar 0,5 warna.

a. Ruang Lingkup.
Metode uji ini meliputi penetapan warna berbagai produk minyak bumi seperti minyak lumas,
minyak pemanas, minyak diesel, dan lilin minyak bumi.
Metode uji ini melaporkan hasil yang dinyatakan sebagai “Warna ASTM”.

b. Ringkasan Metode Uji


Contoh cair diletakkan dalam tabung uji dan disinari dengan sumber cahaya, kemudian
warnanya dibandingkan dengan piringan gelas berwarna standar yang nilainya berkisar dari
0,5 sampai 8,0 Bila warna yang tepat tidak ditemukan, atau warna contoh berada diantara dua
warna standar, maka dilaporkan sebagai warna yang lebih tinggi.

c. Signifikansi
Penentuan warna produk minyak bumi digunakan terutama untuk keperluan kontrol pabrik
dan suatu ciri mutu yang penting karena warna paling mudah teramati oleh pemakai produk.
Dalam beberapa kasus warna bertindak sebagai indikasi dari tingkat kemurnian bahan. Bila
kisaran warna produk diketahui, variasi diluar kisaran yang ditentukan dapat merupakan
indikasi kemungkinan terkontaminasi dengan produk lain. Tetapi, warna tidak selalu
menunjukkan mutu produk dan jangan diperlakukan istimewa pada spesifikasi produk.

d. Interpretasi
Warna dari bahan bakar minyak solar adalah untuk indikasi kontaminasi baik oleh bahan
bakar residu, air ataupun kotoran padat. Pada spesifikasi minyak solar warna dibatasi
maksimum 3,0 warna ASTM. Oleh sebab itu bila dari hasil pengujian diperoleh warna lebih
besar dari 3,0 warna ASTM, maka bahan bakar itu terkontaminasi oleh produk lain, air atau
kotoran padatan.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. Pelumas (Pelumas Prima Xp SAE 20W – 50)

b. Peralatan

1. Colorimeter, terdiri dari sumber cahaya, gelas warna standar, housing wadah contoh
bertutup
2. Wadah contoh, silinder gelas bening, ID 32,5–33,4 mm, tinggi dalam 120–130 mm, tebal
dinding 1,2–2,0 mm.

V. LANGKAH KERJA

1. Tabung standar kanan dan kiri diisi dengan akuades sampai tanda batas.

2. Isikan contoh uji ke dalam tabung tengah sampai tanda batas

3. Hubungkan stop kontak pada 220 Volt, switch pada alat di ubah ke posisi On

4. Bandingkan warna contoh terhadap warna standar dengan memutar regulator warna,
sehingga diperoleh warna yang sama dan catat hasilnya.

5. Switch pada alat diubah ke posisi Off

6. Keluarkan tabung contoh dan bersihkan.

VI.HASIL PENGAMATAN

A. HASIL PENGAMATAN

Percobaan ASTM COLOUR, ASTM D 1500


Sampel : Pelumas Prima Xp SAE 20W – 50
Warna : 3,0 warna ASTM
Status : ON SPEC
VII. ANALISIS

Pada praktikum yg kami lakukan yaitu mengenai ASTM COLOUR D1500,pada


praktikum ini ketelitian mata sangat di butuhkan karena kita akan mencocokan secara
langsung warna sampel dan kita akan membandingkannya dengan warna standar yg di dapat
yaitu 3.0 ASTM pada percobaan yg kami lakukan. Hal ini dapat di katakan bahwa pelumas yg
kami gunakan on spec, karena spesifikasi ASTM Colour pelumas maksimum adalah 3,0 dan
karena sampel yg kami gunakan sampelnya ternyata bebas dari kontaminan seperti bahan
bakar residu, air ataupun kotoran padat karena masih dalam batas tertentu, maka dapat di
katakana percobaan yg kami lakukan sudah sesuai atau on spek.

VIII. PENUTUP

a. Simpulan
Dari hasil percobaan praktikum yg kami lakukan dapat di simpulkan bahwa
percobaan yang sudah di lakukan sesuai dengan teori sehingga untuk percobaan ASTM
COLOR,ASTM D 150 yg kami tentukan perbedaan warna secara visual pada produk
minyak setiap sampel uji membuktikan bahwa sampel uji sudah ON SPEC Atau OFF
SPEC. Hasil pengamatan kami sudah sesuai dengan Pengamatan hanya saja karena
pengamatan di hitung secara langsung jadi hasil yg di dapat berbeda beda namun dapat di
katakan ON SPEC.

b. Saran
1. paktikan sebaiknya berhati hati dalam penggunaan alat contohnya alat calorimetric

2. serta lebih teliti dalam melaksanakan praktikum agar hasil percobaan yg di dapat
sesuai dengan teori yg ada.

IX. DAFTAR PUSTAKA

[1] Ukmsttmigas.blospot,com/2013/05/signifikan-pengujian-minyak-solar.html

[2] https://www.astm.org/Standards/D1500.htm

[3] Anomim,2019: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu


X. LAMPIRAN HASIL PRAKTIKUM
PERCOBAAN 4
Density dan SG, ASTM D 1298
DENSITY / SPECIFIC GRAVITY ASTM D 1298

1. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menentukan density, specific gravity atau API-gravity memakai alat
hydrometer gelas dari contoh crude oil atau produk-produknya.

2. Mahasiswa dapat mengubah hasilnya ke standar temperatur 15˚C atau 60/60˚F,


menggunakan tabel reduksi pada ASTM D 1250.

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

III. TEORI DASAR

Densitas minyak adalah massa persatuan volume pada suhu tertentu, atau dikenal juga
dengan perbandingan massa minyak dengan volume pada kondisi tekanan dan temperatur
tertentu. Selain densitas, salah satu sifat minyak bumi yang penting dan mempunyai nilai
dalam perdagangan adalah Spesific Gravity.

Specific Gravity minyak adalah perbandingan antara berat jenis minyak pada
temperatur standar dengan berat jenis air dengan temperatur yang sama. Di Indonesia
biasanya berat jenis dinyatakan dalam fraksi, misalnya 0,5 : 0,1 untuk minyak bumi suhu yang
digunakan adalah 15º C atau 60º F. Dalam dunia perdagangan terutama yang dikuasai oleh
perusahaan Amerika, Specific Gravity atau lebih sering disingkat dengan SG ini dinyatakan
dalam API Gravity (American Petroleum Institute) yang sangat mirip dengan Baume gravity.
˚API merupakan satuan yang digunakan untuk menyatakan berat jenis minyak dan
digunakan sebagai dasar klasifikasi minyak bumi yang paling sederhana. Hubungan berat
jenis dengan ˚API adalah saling berkebalikan. Makin kecil berat jenis minyak bumi atau
makin tinggi ˚APInya, makin berharga minyak bumi karena mengandung banyak bensin.

Tinggi rendahnya berat jenis minyak bumi juga berpengaruh pada viskositasnya. Pada
umumnya semakin tinggi ˚API atau makin ringan minyak bumi tersebut, makin kecil
viskositasnya. Tinggi rendahnya ˚API juga berpengaruh pada titik didih minyak bumi, jika
API Gravity minyak bumi rendah, maka titik didihnya tinggi.

Demikian sebaliknya jika ˚APInya tinggi, maka titik didihnya rendah, dan juga lebih
mudah terbakar atau mempunyai titik nyala yang lebih rendah dari pada yang ˚APInya
rendah. Ternyata terdapat hubungan antara berat jenis dengan nilai kalori minyak bumi, pada
umumnya minyak bumi dengan ˚API tinggi menghasilkan kalori yang lebih kecil dari pada
minyak bumi dengan ˚API lebih rendah. Berdasarkan ˚API, minyak mentah dibagi kedalam
lima jenis minyak mentah yaitu: minyak mentah ringan, minyak mentah ringan sedang,
minyak mentah berat sedang, minyak mentah berat, minyak mentah sangat berat.

Tabel klasifikasi minyak bumi berdasarkan SG dan ˚API


Jenis Minyak o
No Spesifik gravity (SG) API
Bumi
1 Ringan <0,830 39
2 Medium ringan 0,830-0,850 39-35
3 Medium berat 0,850-0,865 35-32,1
4 Berat 0,965-0,905 32,1-24
5 Sangat berat >0,905 24,8

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. Kerosin

b. Peralatan
1. Hydrometer standar:

a. skala Density,

b. skala SG atau

c. skala API-gravity.

2. Thermometer ASTM 12 C atau 12 F

3. Gelas silinder

4. Constant-Temperatur Bath

V. LANGKAH KERJA

a. Langkah Kerja Pengukuran Density 15˚C

1. Atur suhu contoh sesuai dengan jenis contoh yang akan diuji.

2. Tuangkan contoh uji kedalam gelas silinder, hilangkan adanya gelembung udara dengan
diaduk menggunakan thermometer secara perlahan.

3. Tempatkan gelas silinder yang telah berisi contoh uji pada tempat yang datar, bebas
pengaruh goncangan dan pengaruh udara luar.

4. Lakukan pengukuran temperatur menggunakan Thermometer Skala ˚C, baca dan catat suhu
contoh uji.
5. Masukkan dengan perlahan hydrometer density yang sesuai kedalam contoh uji.

6. Apabila hydrometer sudah terapung dengan bebas baca skala hydrometer, dicatat sebagai
‘Density Pengamatan’ (Observed Density).

7. Keluarkan hydrometer, kemudian lakukan pengukuran temperatur, baca dan catat suhu
contoh uji. Apabila perbedaan suhu dari kedua pengamatan tidak melampaui 0,5˚C hasil rerata
dicatat sebagai ‘Suhu Pengamatan’ (Observed Temparature).

8. Untuk merubah Density Pengamatan ke density 15˚C dikoreksi menggunakan Tabel 53 A


atau 53 B dari Petroleum Measurement Tables ASTM D-1250 – 80.

b. Langkah Kerja Pengukuran SG 60/60˚F

1. Atur suhu contoh sesuai dengan jenis contoh yang akan diuji.

2. Tuangkan contoh uji kedalam gelas silinder, hilangkan adanya gelembung udara dengan
diaduk menggunakan thermometer secara perlahan.

3. Tempatkan gelas silinder yang telah berisi contoh uji pada tempat yang datar, bebas
pengaruh goncangan dan pengaruh udara luar.

4. Lakukan pengukuran temperature menggunakan Thermometer Skala˚F, baca dan catat suhu
contoh uji.

5. Masukkan dengan pelan-pelan hydrometer SG yang sesuai kedalam contoh uji.

6. Apabila hydrometer sudah terapung dengan bebas baca skala hydrometer dan thermometer,
lalu dicatat sebagai SG pengamatan.

7. Keluarkan hydrometer, kemudian lakukan pengukuran temperatur, baca dan catat suhu
contoh uji. Apabila perbedaan suhu dari kedua pengamatan tidak melampaui 0,5˚F, hasil
rerata dicatat sebagai ‘Suhu Pengamatan’ (Observed Temparature).

8. Untuk merubah SG pengamatan ke SG pada 60/60˚F dikoreksi menggunakan Tabel 23 A


atau 23 B dari Petroleum Measurement Tables ASTM D-1250 – 80.
9. Untuk merubah SG 60/60˚F ke Density 15˚C atau °API Gravity pada 60˚F

VII. HASIL PENGAMATAN

1. Tabel pengamatan density

T (˚C) Density Density SG 60/60


observerd pada Standart
Awal Akhir
T akhir

Percobaan 1 28- 28,3 0,831 0,80334 0,80374


29

Percobaan 2 28- 28,4 0,831 0,83994 0,80374


29

Percobaan 3 28- 28,4 0,831 0,83994 0,44,55


29

Spesifikasi kerosin
VII. ANALISIS

Pada praktikum ini, contoh uji yang digunakan adalah kerosin. Dalam praktikum ini
contoh sampel uji kami masukan sesuai prosedur kedalam gelas ukur untuk dilakukan
pengujian, kemudian dimasukan hydrometer density dan thermometer skala ˚C, ketika
hydrometer telah terapug maka dibaca dan catat suhu pada thermometer. Pada percobaan ini
kami melakukan penggulangan sebanyak tiga kali, density observed yang diperoleh 0,80334
g/mL dan dengan mengunakan tabel diperoleh density standart rerata sebesar 0,80374 g/mL.
Setelah itu, untuk mencari SG 60/60 dari contoh uji maka dikakukan pengujian dengan
memasukan hydrometer SG dan thermometer skala ˚F. Pengujian dilakukan sama seperti
density dan diperoleh SG observed 0, dan dengan menggunakan tabel diperoleh SG 60/60
standart rerata 44,55˚Api .Dari hasil percobaan, dapat dinyatakan bahwa kerosin yang diuji on
spec karena hampir mendekati spesifikasinya.

VIII. SIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan, dapat disimpulkan bahwa percobaan
yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur. Density dan diperoleh hasil yang on spec,
karena pada spesifikasi kerosin mempunyai density minimum 0,80334 g/mL dan maksimum
0,80374g/mL, sedangkan yang diperoleh saat percobaan yaitu 44,55 ˚Api.
IX. SARAN

1.Harus teliti dalam pembacaan suhu contoh uji

2.hati hati dalam penggunaan alat pada saat praktikum

X. DAFTAR PUSTAKA

1) https://tonimpa.wordpress.com/2013/05/16/laporan-parktikum-flash-point-titik-
nyala/(Diakses tanggal 16 mei)
2) https://petroleumengineeringindonesia.blogspot.com/2017/05/praktikum-api-
gravimetri-astm-d.html?m= (Diakses tanggal 09 mei)
3) Anomim,2019: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu
XI. LAMPIRAN
PERCOBAAN 5
Flash Point Abel IP 170
FLASH POINT ABEL, IP 170

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menentukan flash point close cup dari produk-produk minyak bumi yang
mempunyai flash point antara 0˚F (− 18˚C dan 160˚F (71˚C).

II. KESELAMATAN KERJA

1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.

2. Hati – hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar

III. TEORI DASAR

Titik nyala (flash point) adalah suhu terendah di mana uap minyak bumi dan
produknya dalam campurannya dengan udara akan menyala kalau dikenai nyala uji (test
flame) pada kondisi tertentu . Uji titik nyala dimaksudkan untuk keamanan, mengetahui
sampai suhu berapa orang masih dapat bekerja dengan aman dengan sesuatu produk minyak
bumi tanpa timbul bahaya kebakaran.

Titik nyala dapat diukur dengan metoda wadah terbuka (Open Cup /OC) atau wadah
tertutup (Closed cup/CC). Nilai yang diukur pada wadah terbuka biasanya lebih tinggi dari
yang diukur dengan metode wadah tertutup. Setiap zat cair yang mudah terbakar memiliki
tekanan uap yang merupakan fungsi dari temperatur cair, dengan naiknya suhu, tekanan uap
juga meningkat.

Contoh uji ditempatkan dalam mangkuk pengujian dan ditutup, kemudian dipanaskan
perlahan dengan kecepatan kenaikan suhu yang tetap. Suatu sumber nyala dimasukkan
kedalam mangkuk uji pada interval waktu tetap. Flash Point diambil sebagai suhu terendah
dimana penggunaan sumber nyala mengakibatkan uap diatas contoh uji menyala.
Minyak bumi yang mempunyai flash point terendah akan membahayakan,
karena minyak tersebut mudah terbakar. Apabila minyak tersebut mempunyai titik nyala
tinggi juga kurang baik, karena akan susah mengalami pembakaran. Tetapi jika ditinjau
dari segi keselamatan maka minyak yang baik mempunyai flashpoint yang tinggi
karena tidak mudah terbakar. Titik nyala juga dapat di katakan adalah Temperatur terendah di
mana campuran senyawa dengan udara pada tekanan normal dapat menyala setelah ada suatu
inisiasi, misalnya dengan adanya percikan api. Titik nyala dapat diukur dengan metoda wadah
terbuka (Open Cup /OC) atau wadah tertutup (Closed cup/CC). Nilai yang diukur pada wadah
terbuka biasanya lebih tinggi dari yang diukur dengan metoda wadah tertutup. Setiap zat cair
yang mudah terbakar memiliki tekanan uap yang merupakan fungsi dari temperatur
cair,dengan naiknya suhu,tekanan uap juga meningkat.setiap zat cair yg mudah terbakar
memiliki tekanan uap yg merupakan fungi dari temperatur cair, dengan naiknya suhu, tekanan
uap juga meningkat. Dengan meningkatnya tekanan uap, konsentrasi cairan yang mudah
terbakar menguap diudara meningkat.

Jika titik nyala lebih rendah dari temperatur cairannya maka uap diatas permukaannya
siap untuk terbakar atau meledak. Lebih rendah dari titik nyala adlah lebih berbahaya,
terutama bila temperature ambientnya labih dari titik nyala. Dengan meningkatnya tekanan
uap, konsentrasi cairan yang mudah terbakar menguap diudara meningkat.Jika titik nyala
lebih rendah dari temperatur cairannya maka uap diatas permukaannya siap untuk terbakar
atau meledak. Lebih rendah dari titik nyala adlah lebih berbahaya, terutama bila temperatur
ambientnya labih dari titik nyala. Contoh

Bahan Titik Suhu


bakar nyala swasulut
Etanol (70%) 16,6 °C (61,9 °F)[1] 363 °C (685 °F)[1]
Bensin −43 °C (−45 °F)[2] 280 °C (536 °F)[3]
Diesel (2-D) >52 °C (126 °F)[2] 256 °C (493 °F)[3]
Bahan bakar jet (A/A-1) >38 °C (100 °F) 210 °C (410 °F)
Kerosin >38–72 °C (100–162 °F) 220 °C (428 °F)
Minyak sayur (canola) 327 °C (621 °F) 424 °C (795 °F)
Biodiesel >130 °C (266 °F)

Bensin (petrol) merupakan bahan bakar yang digunakan dalam mesin penyalaan
percik. Bahan bakar ini dicampur dengan udara dalam batas dapat terbakar dan dipanaskan di
atas titik nyala, kemudian disulut dengan spark plug. Untuk menyulut, bahan bakar harus
memiliki titik nyala yang rendah, tetapi untuk menghindari terjadinya preignition yang
disebagkan oleh panas residual dalam kamar combustion panas, bahan bakar harus
mempunyai suhu swasulut yang tinggi.Titik nyala bahan bakar diesel bervariasi antara 52 dan
96 °C (126 dan 205 °F). Diesel cocok digunakan dalam suatu compression-ignition engine.
Udara dikompresi sampai dipanasi di atas suhu swasulut bahan bakar, yang kemudian
diinjeksi dalam bentuk semprotan bertekanan tinggi, menjaga campuran bahan bakar dan
udara dalam batas dapat terbakar. Dalam mesin berbahan bakar diesel, tidak ada sumber
penyalaan (seperti spark plugs pada mesin berbahan bakar bensin). Dengan demikian, bahan
bakar diesel harus mempunyai titik nyala tinggi dan suhu swasulut yang rendah.
Titik nyala bahan bakar jet juga bervariasi menurut komposisi bahan bakar. Baik Jet A
dan Jet A-1 mempunyai titik nyala antara 38 dan 66 °C (100 dan 151 °F), dekat dengan
kerosene yang dapat dibeli di toko. Namun baik Jet B dan JP-4 mempunyai titik nyala antara
−23 dan −1 °C (−9 dan 30 °F).

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. Avtur

b. Peralatan

1. Flash Point Abel apparatus

2. Termometer

3. Bath pemanas

V. LANGKAH KERJA

Metode A :

Untuk minyak yang mempunyai flash point 0 – 65˚F (–30 – +18,5˚C)

1. Isi water bath setinggi 1,5 inch dengan campuran etylene glycol dan air (50 : 50).

2. Dinginkan bath sampai -16˚F atau paling sedikit 16˚F dibawah FP-nya.
3. Dinginkan contoh samapi 4˚F teruskan pendinginan sampai -30˚F atau paling tidak 30˚F
dibawah perkiraan flash pointnya.

4. Sambil diaduk dengan kecepatan kira-kira 30 rpm, panasi alat bagian luarnya sehingga
kenaikkan temperatur 1.5 – 3˚F per menit.

5. Apabila temperatur contoh mencapai -16˚F atau 16˚F dibawah perkiraan flash pointnya
mulailah lakukan uji. Penyalaan api secara pelan-pelan dan teruskan untuk tiap-tiap kenaikan
1˚F.

6. Catat temperatur pada saat api menyambar uap minyak sebagai FP.

Metode B :

Untuk minyak yang mempunyai flash point 66 - 160˚F

1. Isi water bath dengan air dan panaskan dengan kecepatan kenaikkan temperatur tetap 2 -
2.5˚F per menit.

2. Atur temperatur water bath permulaan test 130˚F.

3. Atur temperatur contoh antara 32 -50˚F.

4. Bila temperatur contoh mencapai 66˚F mulailah dilakukan test dengan penyalaan api secara
pelan-pelan dan teruskan penyalaan tiap kenaikkan 1˚F.

5. Catat temperatur contoh pada saat api menyambar uap minyak sebagi flash pointnya.

VII. HASIL PENGAMATAN

Sampel Flash Point minimum Flash Point praktik


(˚C) (˚C)

Avtur 38 54,5
VIII. ANALISIS

Pada percobaan yg kami lakukan pertama tama, flash point apparatus diisi dengan air
es untuk menurunkan suhu sampai 28˚C. Kemudian pada bath pemanas yang telah diisi
dengan sampel sampai batas garis, dimasukan kedalam flash point apparatus dengan suhu
awal sampel 25˚C, pada kenaikan suhu 35˚C sampel pertama kali di test titik nyalanya tetapi
belum ada percikan api, seterusnya sampel terus di aduk dan setiap kenaikan 1˚C di test
dengan penyalaan api secara pelan-pelan, tepat pada suhu sampel 54,5˚C uap minyak
menyambar api. Jadi, pada suhu 54,5˚C dijadikan flash point dari sampel avtur, hal ini
sesuai/on spec karena flash point minimum avtrur yakni 38˚C dan dari segi keselamatan
karena avtur karena tidak mudah terbakar maka layak digunakan untuk mesin penerbangan.

XI. DAFTAR PUSTAKA

1) https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_nyala#cite_note-gasai-3 (diakses tanggal 4 januari)


2) Anomim,2019: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu
3) http://ekachemist87.blogspot.com/ (diakses tanggal 21 oktober)
XII. LAMPIRAN
PERCOBAAN 6
Smoke Point ASTM D 1322
SMOKE POINT ASTM D 1322

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menetapkan titik asap dari kerosine dan avtur

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

2. Hati – hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar

III. TEORI DASAR

Titik asap

Titik asap adalah temperatur ketika minyak atua lemak pada kondisi tertentu
menguapkan sejumlah senyawa volatil yang memberikan penampakan asap yang jelas. Istilah
ini biasanya digunakan dalam bidang kuliner untuk menentukan jenis minyak yang tepat
untuk proses tertentu. Konsentrasi senyawa volatil dalam minyak mencakup air, asam lemak
bebas, dan produk hasil degradasi oksidasi. Temperatur yang menyebabkan minyak
terdekomposisi tidak termasuk titik asap. Lebih tinggi dari titik asap akan menuju ke titik
nyala di mana uap dari minyak akan bercampur dengan udara dan membentuk api.

Titik asap dari satu jenis minyak dapat bervariasi tergantung asal bahan dan derajat
kemurniannya. Titik asap cenderung meningkat ketika kadar asam lemak bebas berkurang dan
derajat kemurnian bertambah. Memanaskan minyak akan menghasilkan asam lemak bebas
dan seiring waktu pemanasan jumlah asam lemak bebas akan terus bertambah. Asam lemak
bebas di dalam tubuh hanya mampu terikat dan ditransportasikan dalam darah oleh protein
albumin dalam darah sehingga metabolismenya amat tergantung pada kadar albumin dalam
darah. aktivitas menggoreng berkali-kali dengan minyak yang sama dapat mempercepat
kerusakan minyak goreng, sehingga minyak goreng disarankan untuk tidak digunakan lebih
dari dua kali.
Ttitik asap (smoke point) didefinisikan sebagai tinggi nyala maksimum dalam millimeter di
mana kerosin terbakar tanpa timbul asap apabila ditentukan dalam alat uji baku pada kondisi
tertentu (IP 57). Disamping dikenakan kepada kerosin, uji titik asap juga dikenakan kepada
bahan bakar jet (ASTM D 1322-90). Titik asap ditentukan dengan cara membakar contoh
kerosin atau bahan bakar jet dalam lampu titik asap.

Nyala dibesarkan dengan menaikkan sumbu sampai timbul asap, kemudian nyala dikecilkan
sampai asap tepat hilang. Tinggi nyala keadaan terakhir ini dalam satuan mm adalah titik asap
sampel.

Kepentingan smoke point dalam praktek ialah untuk menentukan kualitas kerosine yang
penggunaan utamanya adalah sebagai bahan bakar lampu penerangan. Kerosin yang baik
harus mempunyai titik asap tinggi, sehingga nyala api bahan bakar kerosin ini dapat
dibesarkan dengan kecenderungan untuk memberikan asap yang kecil. Pada penentuan smoke
point (titik asap) ini menggunakan metode smoke point ASTM D 1322.

Metode pengujian ini memberikan indikasi sifat relatif penghasil asap dari kerosene
dan bahan bakar turbin penerbangan dalam nyala api difusi. Titik asap terkait dengan
komposisi jenis hidrokarbon dari bahan bakar tersebut. Umumnya semakin aromatik bahan
bakar semakin nyala api. Titik asap tinggi menunjukkan kecenderungan bahan bakar
menghasilkan asap rendah.

Titik asap secara kuantitatif terkait dengan potensi perpindahan panas radiasi dari produk
pembakaran bahan bakar. Karena perpindahan panas radiasi memberikan pengaruh yang kuat
pada suhu logam dari liner bakar dan bagian panas lainnya dari turbin gas, titik asap
memberikan dasar untuk korelasi karakteristik bahan bakar dengan umur komponen ini.

Titik asap juga dapat di katakan merupakan temperatur ketika minyak atau lemak pada
kondisi tertentu menguapkan sejumlah senyawa volatil yang memberikan penampakan asap
yang jelas. Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang kuliner untuk menentukan jenis
minyak yang tepat untuk proses tertentu. Konsentrasi senyawa volatil dalam minyak
mencakup air, asam lemak bebas, dan produk hasil degradasi oksidasi. Temperatur yang
menyebabkan minyak terdekomposisi tidak termasuk titik asap. Lebih tinggi dari titik asap
akan menuju ke titik nyala di mana uap dari minyak akan bercampur dengan udara dan
membentuk api.
Titik asap dari satu jenis minyak dapat bervariasi tergantung asal bahan dan derajat
kemurniannya.Titik asap cenderung meningkat ketika kadar asam lemak bebas berkurang dan
derajat kemurnian bertambah.Memanaskan minyak akan menghasilkan asam lemak bebas dan
seiring waktu pemanasan jumlah asam lemak bebas akan terus bertambah. Asam lemak bebas
di dalam tubuh hanya mampu terikat dan ditransportasikan dalam darah oleh protein albumin
dalam darah sehingga metabolismenya amat tergantung pada kadar albumin dalam darah.
aktivitas menggoreng berkali-kali dengan minyak yang sama dapat mempercepat kerusakan
minyak goreng, sehingga minyak goreng disarankan untuk tidak digunakan lebih dari dua
kali.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. Kerosin

b. Peralatan

1. Lampu smoke point

2. Sumbu lampu

3. Pipet atau buret


V. LANGKAH KERJA

a. Persiapan Sumbu Lampu

1. Lakukan Ekstraksi terhadap sumbu Smoke Point dengan campuran methanol dan Toluene
1:1 (+ 25 kali ekstraksi).

2. Keringkan sumbu dalam oven pada suhu 100 - 110˚C, selama 30 menit.

b. Langkah Kerja

1. Pasang sumbu bersih (panjang tidak kurang dari 125 mm) ke dalam lubang sumbu.

2. Potong dengan rapi ujung sumbu ± 6 mm dari lubang sumbu

3. Rendam sumbu dan tabung sumbu ke dalam contoh uji sampai seluruh sumbu basah.

4. Masukkan 20 ml contoh uji kedalam wadah contoh uji (candle), kemudian pasang tabung
sumbu ke candle dan pasangkan pada alat smoke point.

5. Nyalakan dan atur tinggi nyala api ± 10 mm, biarkan menyala ± 5 menit, kemudian naikkan
dengan memutar candle sehingga nyala api berjelaga/berasap.

6. Turunkan dengan memutar candle sedemikian sehingga jelaga/asap tepat hilang.

7. Baca dan catat ketinggian nyala api tepat saat tidak mengeluarkan jelaga/asap sebagai titik
asap (smoke point), sampai ketelitian 0,5 mm

8. Untuk mencegah kesalahan pembacaan pada skala, maka ulangi pekerjaan ini sampai tiga
kali bila perbedaannya lebih dari 1,0 mm.
VI. HASIL PENGAMATAN

sample Smoke point otomatis Smoke point manual


avtur 21,8 mm 22 mm

spesifikasi avtur

VII. ANALISIS

Pada percobaan smoke point sampel yang kami gunakan digunakan adalah avtur.
Sebanyak 20mL sampel dimasukan kedalam wadah contoh uji dan dipasangkan sumbu bersih
yang telah terpasang pada lubang sumbu. Kemudian candle dipasang pada alat smoke point
dan dinyalakan apinya untuk memulai pengujian. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali,
pada ketinggian api 20mm terdapat jelaga/asap dan pada ketinggian api rata-rata 22 mm
jelaga/asap tepat hilang. Sehingga smoke point dari sampel yang diuji yaitu 22mm hal ini
menunjukan bahwa sampel tidak sesuai/off spec, karena tidak sesuai hal ini di akibatkan
karena dalam produk avtur terdapat senyawa hidrokarbon aromatic dalam produk avtur
berlebihan membuat produk nya sulit terbakar hal ini yg mengakibatkan smoke point di
dapatkan hasil off spec tetapi ada juga yg mendekati teori sehingga dapat di katakan onspec

VIII. SIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa praktikum yang dilakukan
sudah sesuai dengan prosedur, , dimana spesifikasi dari avtur adalah minimal 25mm dan hasil
yang kami peroleh saat praktikum mendekati yaitu 22 mm maka percobaan ini sudah on spec
karena mendekati.
IX. SARAN

1. Para praktikan di minta agar harus teliti dalam pembacaan ketinggian api.

2. Hati-hati menggunakan peralatan penunjang praktikum

X. DAFTAR PUSTAKA

1) https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_asap (Diakses tanggal 5 maret)


2) http://rafitarjenipolsri.blogspot.com/2016/02/titik-asap.html (Diakses tanggal 2 februari)
3) Anomim,2020: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu
XI. LAMPIRAN
PERCOBAAN 7
Reid Vapour Pressure,ASTM D 323
REID VAPOUR PRESSURE (RVP), ASTM D 32

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menetapkan vapor pressure dari gasoline, crude oil yang mudah
menguap dan produk-produk lain yang mudah menguap.

II. KESELAMATAN KERJ A

1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.

2. Hati – hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar

III. TEORI DASAR

Reid Vapor Pressure (RVP) adalah ukuran umum dari volatilitas bensin dan produk
minyak bumi lainnya. Ini didefinisikan sebagai tekanan uap absolut yang diberikan oleh uap
cairan dan gas/uap air terlarut pada suhu 37,8°C (100°F) sebagaimana ditentukan dengan
metode uji ASTM-D-323, yang pertama kali dikembangkan di 1930 dan telah direvisi
beberapa kali, Metode pengujian ini untuk mengukur tekanan uap bensin, minyak mentah
volatil, bahan bakar jet, nafta, dan produk minyak volatil lainnya tetapi tidak berlaku untuk
gas minyak bumi cair.

Reid Vapor Pressure (RVP) digunakan terutama sebagai indikator untuk mengukur
sifat volatile hidrokarbon. Hasil pengujian banyak digunakan sebagai kriteria untuk campuran
bensin dan banyak produk minyak bumi lainnya. Ini sedikit berbeda dari tekanan uap sejati
karena Reid Vapor Pressure (RVP) adalah tekanan uap absolut sedangkan tekanan uap sejati
adalah tekanan uap parsial. Nilai-nilai Tekanan Uap Reid dapat dikonversi menjadi tekanan
uap sejati dengan menggunakan nomograms: namun, sebaliknya tidak mungkin.
Tekanan uap reid (RVP) adalah ukuran umum dari volatilitas bensin dan produk minyak bumi
lainnya.Ini didefinisikan sebagai tekanan uap absolut yang diberikan oleh uap cairan dan gas /
uap air terlarut pada suhu 37,8 ° C (100 ° F) sebagaimana ditentukan dengan metode uji
ASTM-D-323, yang pertama kali dikembangkan di 1930 dan telah direvisi beberapa kali
(versi terbaru adalah ASTM D323-15a).Metode pengujian mengukur tekanan uap bensin,
minyak mentah volatil, bahan bakar jet, nafta, dan produk minyak volatil lainnya tetapi tidak
berlaku untuk gas minyak bumi cair. ASTM D323-15a mensyaratkan bahwa sampel
didinginkan hingga 0-1 derajat Celcius dan kemudian dituangkan ke dalam peralatan; untuk
bahan apa pun yang mengeras pada suhu ini, langkah ini tidak dapat dilakukan. RVP
umumnya dilaporkan dalam kilopascal atau pound per inci persegi dan mewakili volatisasi
pada tekanan atmosfer karena ASTM-D-323 mengukur tekanan pengukur sampel dalam ruang
yang tidak dievakuasi.

Masalah tekanan uap penting terkait dengan fungsi dan operasi kendaraan bertenaga
bensin, terutama karburator, dan juga penting karena banyak alasan lainnya. Tingkat
penguapan yang tinggi diinginkan untuk memulai dan operasi musim dingin dan tingkat yang
lebih rendah diinginkan dalam menghindari kunci uap selama musim panas. Bahan bakar
tidak dapat dipompa ketika ada uap di jalur bahan bakar (musim panas) dan mulai musim
dingin akan lebih sulit ketika bensin cair di ruang pembakaran belum menguap. Dengan
demikian, kilang minyak memanipulasi Tekanan Uap Reid secara musiman khusus untuk
menjaga keandalan mesin bensin.

Tekanan uap Reid (RVP) dapat berbeda secara substansial dari tekanan uap
sebenarnya (TVP) dari campuran cair, karena (1) RVP adalah tekanan uap yang diukur pada
37,8 ° C (100 ° F) dan TVP adalah fungsi dari suhu; (2) RVP didefinisikan sebagai diukur
pada rasio uap-cair-4: 1, sedangkan TVP campuran dapat bergantung pada rasio uap-cair
aktual; (3) RVP akan mencakup tekanan yang terkait dengan keberadaan air dan udara terlarut
dalam sampel (yang dikecualikan oleh beberapa tetapi tidak semua definisi TVP); dan (4)
metode RVP diterapkan pada sampel yang memiliki kesempatan untuk melakukan volatisasi
sebelum pengukuran: yaitu, wadah sampel hanya diperlukan 70-80% penuh cairan [7]
(sehingga apa pun yang volatize ke dalam headspace kontainer hilang sebelum analisis);
sampel sekali lagi volatizes ke dalam ruang kepala ruang uji D323 sebelum dipanaskan
hingga 37,8 derajat Celcius.

Vapor pressure merupakan sifat fisika yang sangat penting dari cairan yang mudah menguap.
Vapor pressure secara kritis sangat penting baik mogas maupun avgas, karena mempengaruhi
starting, warm-up dan kecenderungan terjadinya vapor lock karena temperatur operasi yang
tinggi atau pada daerah ketinggian. Maksimum vapor pressure dibatasi untuk gasoline karena
secara legal dianjurkan dalam beberapa daerah sebagai ukuran untuk kontrol polusi. ‘Liquid
Chamber’ diisi dengan contoh yang telah didinginkan, kemudian dipasangkan pada ‘Vapour
Chamber’. Rangkaian peralatan tersebut kemudian direndam dalam penangas pada
temeperatur 37,8˚C (100˚F ), dan setiap interval waktu tertentu dilakukan pengocokan ,
sampai teramati tekanan yang tetap . Hasil pembacaan pada pressure gauge setelah dikoreksi
dilaporkan sebagai RVP.

Peralatan untuk mengukur RVP sesuai ASTM D-323, terdiri dari:

a. RVP apparatus, yang terdiri dari vapor chamber dan liquid chamber yang
digunakan sebagai wadah untuk menguapkan sample

b. Pressure gauge, untuk mengukur tekanan chamber

c. Water Bath, untuk menjaga suhu chamber pada 100˚F

d. Thermometer, untuk mengukur suhu bath atau chamber

e. Pressure Measurement Device, berupa Manometer atau Dead-Weight

f. Komponen pendukung lainnya seperti flexible coupler, vapor chamber tube dan
sample transfer connection.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1.Premium

b. Peralatan

1. Vapor chamber, Liquid chamber dan Pressure gauge

2. Tempat pendingin (almari pendingin)

3. Penangas Air (Water bath)


V. LANGKAH KERJA

1. Bersihkan Air Chamber dan Gasoline Chamber

2. Panaskan water bath sampai suhu 100˚F konstan

3. Rendam Air Chamber pada water bath suhu 100˚F paling sedikit 10 menit

4. Dinginkan contoh dan Gasoline chamber dalam keadaan tertutup hingga suhu 32-40˚F

5. Isikan contoh kedalam gasoline chamber hingga meluber (penuh)

6. Pasangkankan gasoline chamber pada air chamber dan pressure gauge

7. Rendam kedalam water bath pada suhu 100˚F selama 20 – 30 menit, kemudian setiap 5
menit diangkat lalu dikocok selama 2 menit.
8. Apabila penunjukan manometer sudah konstan laporkan sebagai RVP contoh.

VI. HASIL PENGAMATAN

Produk uji: - Premium suhu ruangan

- Premium dingin

No Waktu Tekanan uap premium Tekanan uap premium


dingin
Suhu ruangan

I 10 menit awal 17,5 kpa,2.58 psi 32 kpa,4.6 psi

(tanpa mengocokan)

II 10 menit ke dua 35 kpa,5psi 61 kpa,8.9 psi


(pengocokan 2 menit)

III 10 menit ketiga 37kpa,5.4psi 62 kpa.9psi


(pengocokan 2 menit)

IV 10 menit berikutnya 37kpa,5.4 psi 62 kpa.9psi


pengocokan 2 menit
Spesifikasi

VII. ANALISIS

Pada percobaan ini kami melakukan 4 kali pengulangan sampel yang digunakan yaitu
Premium dengan kondisi suhu saat didinginkan 4˚C dan 6˚C. Pertama, sampel dimasukan
kedalam gasoline chamber sampai meluber dan dipasangkan pada air chamber dan pressure
gauge, setelah itu direndam pada water bath selama ±30 menit. Kemudian RVP test bomb
diangkat, dikocok dan dilihat tekanan uapnya. Pada premium waktu 10 menit awal yg kami
lakukan tanpa pengocokan, kondisi konstan pada 17,5 Psi dan 2,58 kPa,sedangkan 10 menit
ke 2 pengocokan yg kami lakukan selama 2 menit di dapatkan tekanan uap premium suhu
ruangan 35kpa dan 5psi tekanan uap premium dingin yaitu 61 kpa dan 8,9psi,lalu pada 10
menit ke 3 kami melakukan pengocokan selama 2 menit pada tekanan uap suhu ruangannya
yaitu 37kpa dan 5,4psi sedangkan pada tekanan uap suhu premium dingin di dapatkan 62kpa
dan 9psi,dan pada 10 menit yg terakhir kami melakukan pengocokan selama 2 menit di
dapatkan hasil 37kpa dan 5,4psi untuk tekanan uap premium suhu ruangan dan untuk tekanan
uap premium di dapatkan nilai 62kpa dan 9 psi. Dari pengujian Semakin besar nilai RVP pada
premium makin rendah juga temperature yang didapat dari pengujian distilasi 10% volume penguapan
yang mempengaruhi semakin mudahnya motor dinyalakan pada kondisi dingin. Semakin tinggi RVP
dari premium makin rendah pula temperature yang didapatkan pada pengujian distilasi 90% volume
penguapan ini akan mempengaruhi kemudahan pada pendistribusian bahan bakar ke setiap silinder
mesin.salah satu faktor yg mempengaruhi percobaan yaitu salah satunya Kelarutan gas dalam
minyak (Rs) : apabila kelarutan gas dalam minyak tinggi,maka RVPnya tinggi. Hal ini
menunjukan bahwa contoh uji premium karena mendekati spec maka dapat di katakan
percobaan ini on spec.

IX. SIMPULAN

Dari sampel uji yg kami gunakan yaitu premium dapat di katakana on spec karena
pada pengocokan 1-5 di dapatkan nilai yg hampir mendekati spesifikasinya baik antara
tekanan uap premium suhu ruangan dan juga tekanan uap premium dingin.

X. SARAN

1. Membaca dan menentukan tekanan uap yang ditunjukan oleh manometer saat percobaan
dengan cermat, teliti dan tepat.

2. Mengulangi percobaan sampai tekanan uap yang ditunjukkan oleh manometer konstan.

3. Hati-hati dalam pengocokan, karena kesalahan dalam pengocokan dapat menyebabkan


tekanan uap tidak konstan.
XI. DAFTAR PUSTAKA

1. https://en.wikipedia.org/wiki/Reid_vapor_pressure

2. https://www.petropedia.com/definition/8682/reid-vapor-pressure-rvp

3. Anonim, 2019:”Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu


XI. LAMPIRAN
PERCOBAAN 8
Flash Point COC, ASTM D 92
Flash Point COC, ASTM D 92

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat menguraikan penetapan titik nyala dan titik bakar produk minyak bumi
dengan peralatan cawan Cleveland. Metode uji ini dapat digunakan untuk semua produk
minyak bumi dengan titik nyala di atas 79˚C (175˚F) dan di bawah 400˚C (752˚F) kecuali
minyak bakar.

II. KESELAMATAN KERJA

1. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.

2. Hati – hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar

III. TEORI DASAR

Semua cairan memiliki tekanan uap spesifik, yang merupakan fungsi dari suhu cairan
itu dan tunduk pada Hukum Boyle . Saat suhu meningkat, tekanan uap meningkat. Dengan
meningkatnya tekanan uap, konsentrasi uap dari cairan yang mudah terbakar atau mudah
terbakar di udara meningkat. Oleh karena itu, suhu menentukan konsentrasi uap dari cairan
yang mudah terbakar di udara. Konsentrasi tertentu dari uap yang mudah terbakar atau mudah
terbakar diperlukan untuk mempertahankan pembakaran di udara, batas mudah terbakar yang
lebih rendah , dan konsentrasi tersebut berbeda dan spesifik untuk setiap cairan yang mudah
terbakar atau mudah terbakar.

Flash point atau titik nyala adalah suhu terendah dimana minyak (uap minyak) dan
produknya akan menyala apabila terkena percikan api kemudian akan mati kembali dengan
cepat.

Minyak bumi yang mempunyai flash point terendah akan membahayakan, karena
minyak tersebut mudah terbakar. Apabila minyak tersebut mempunyai titik nyala tinggi juga
kurang baik, karena akan susah mengalami pembakaran. Tetapi jika ditinjau dari segi
keselamatan maka minyak yang baik mempunyai flash point yang tinggi karena tidak mudah
terbakar.

Titik nyala diperlukan sehubungan adanya pertimbangan-pertimbangan mengenai keamanan


dari penimbunan minyak dan pengangkutan bahan bakar minyak terhadap bahaya kebakaran.
Titik nyala ini tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam persyaratan pemakaian bahan
bakar minyak untuk mesin diesel atau ketel uap.

Metode cup terbuka Cleveland adalah salah satu dari tiga metode utama dalam kimia
untuk menentukan titik nyala produk minyak bumi menggunakan peralatan cup terbuka
Cleveland, juga dikenal sebagai tester cup terbuka Cleveland. Pertama, cangkir uji peralatan
(biasanya kuningan) diisi sampai tingkat tertentu dengan bagian produk. Kemudian, suhu
bahan kimia ini meningkat dengan cepat dan kemudian pada laju yang lambat dan konstan
saat mendekati titik nyala teoretis. Peningkatan suhu akan menyebabkan bahan kimia mulai
menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam jumlah dan kepadatan yang meningkat. Suhu
terendah di mana nyala uji kecil yang melewati permukaan cairan menyebabkan uap menyala
dianggap titik nyala bahan kimia. Peralatan ini juga dapat digunakan untuk menentukan titik
api bahan kimia yang dianggap telah tercapai ketika aplikasi nyala uji menghasilkan
setidaknya lima detik kontinyu penyalaan. Kisaran suhu peralatan ini adalah 120-250˚C.

Penentuan Flash Point dengan Cleveland Open Cup ini menerangkan suatu prosedur
pengujian titik nyala dan titik api dari semua hasil minyak kecuali untuk bahan bakar atau
contoh-contoh minyak yang mempunyai titik nyala terbuka (open cup) di bawah 175°F
(79°C).

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan
1. Pelumas(20 w-50)

b. Peralatan

1. Peralatan Cawan Cleveland terbuka (manual) – Peralatan ini terdiri dari cawan, pelat
pemanas, aplikator api penguji, pemanas dan penyangga

2. Peralatan Pengukur Temperatur

3. Api Penguji

V. LANGKAH KERJA

1. Cuci mangkok uji dengan larutan yang cocok untuk menghilangkan sisa-sisa karbon yang
tertinggal pada pengujian terdahulu.

2. Isi mangkok uji sampai tanda batas. Apabila contoh terlalu kental panaskan sebelum
dituang dalam mangkok. Aduk hingga permukaan contoh merata dan bebas dari
gelembunggelembung udara.

3. Tempatkan mangkok uji berisi contoh pada alat, pasang termometer sehingga ujung air
raksa terletak + ½ inchi dari dasar mangkok uji.

4. Panaskan dengan kecepatan kenaikan suhu antara 25 – 30˚F per menit.

5. Nyalakan api pencoba dan atur sehingga diameter nyala api 0,4 – 0,8 cm
6. Apabila suhu contoh sudah mencapai paling sedikit 50˚F dibawah Flash Point yang
diperkirakan, jalankan api pecoba diatas permukaan mangkok dengan jarak 0,2 cm dan waktu
untuk melintasi mangkok uji + 1 detik.

7. Pada saat terjadi sambaran api sesaat diatas permukaan contoh, baca termometer dan catat
sebagai Flash Point dari contoh tersebut.

8. Untuk menetapkan Fire Point teruskan pemanasan dan api pencoba dilewatkan diatas
permukaan contoh setiap kenaikkan 5˚F/menit sampai contoh terbakar palinng sedikit 5 detik.
Catat temperatur sebagai Fire Point.

VI. HASIL PENGAMATAN

Contoh Uji Flash point Flash point


minimum (˚C ) praktik (˚C )

Pelumas (20W- 227˚C 256˚C


50)

spesifikasi
VII. ANALISIS

Pada praktikum ini contoh uji yang digunakan adalah Pelumas mesran (20W-50).
Pertama contoh uji dimasukan kedalam cawan sampai tanda batas kemudian dipanaskan
hingga mencapai suhu 210˚C, kemudian dilakukan pengujian flash point dengan menjalankan
api diatas cawan. Tepat pada suhu 256˚C uap contoh uji menyambar api yang dijalankan, titik
ini yang dijadikan sebagai flash point dari contoh uji. Hal ini menunjukan bahwa contoh uji
sesuai/on spec, karena spesifikasi flash pint dari Pelumas mesran (20W-50). minimal 240˚C
sedangkan pada praktikum diperoleh flash point contoh uji yaitu 256˚C. Dengan demikian,
dari segi keselamatan contoh uji baik digunakan karena tidak mudah terbakar,salah satu faktor
yg mempengaruhi yaitu Viskositas (µ) : apabila viskositas minyak tersebut tinggi,maka titik
flash point dan fire pointnya tinggi. Karena minyak tersebut kental. Dan sebaliknya jika
viskositas ,miyak rendah ,maka titik flash point dan fire point nya rendah .Kelarutan gas
dalam minyak (Rs) : apabila kelarutan gas dalam minyak tinggi,maka titik flas point dan fire
point rendah. Dan sebaliknya jika Rs minyak kecik maka titik flash point dan fire point nya
tinggi. Rs berbanding terbalik dengan suhu flash point dan fire point nya. Densitas (ρ) : pada
umumnya densitas yang tinggi memiliki suhu flash point dan fire point yang tinggi juga. Dan
sebaliknya.
X. SIMPULAN

Berdasrkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa praktikum yang dilakukan
sudah sesuai dengan prosedur dan hasil yang di peroleh sesuai/on spec, karena pada
spesifikasi flash point Pelumas mesran (20W-50). minimal 240˚C, sedangkan pada praktikum
ini di peroleh flash point pada suhu 256˚C. Hal ini membuktikan bahwa contoh ui layak
digunakan karena dari segi keselamatan tidak mudah terbakar.

XI. SARAN

1. Berhati-hatilah dengan peralatan-peralatan yang digunakan.

2. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, harus lebih teliti dalam pembacaan thermometer.

XII. DAFTAR PUSTAKA

1. http://fitriakrisna12.blogspot.com/2015/02/flash-point-dengan-cawan-terbuka.html

2. https://en.wikipedia.org/wiki/Flash_point

3. https://id.scribd.com/doc/295291939/Laporan-Praktikum-Teknik-Pembakaran-Flash-Fire-
Point
XI. LAMPIRAN
PERCOBAAN 9
Portabel octane number Analayzer
PORTABEL OCTANE NUMBER ANALYZER

I. TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:
1. Mahasiswa dapat menentukan angka oktan dari bensin.

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik yang ada.

III. TEORI DASAR

Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa
diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran udara dan
bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan
kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi. Karena besarnya tekanan ini,
campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan sebelum percikan api dari busi
keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan yang tinggi (dan bukan karena percikan
api dari busi), maka akan terjadi knocking atau ketukan di dalam mesin. Knocking ini akan
menyebabkan mesin cepat rusak, sehingga sebisa mungkin harus dihindari.

Nama oktan berasal dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin,
oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume
kecil tanpa mengalami pembakaran spontan, tidak seperti yang terjadi pada heptana, misalnya,
yang dapat terbakar spontan meskipun baru ditekan sedikit. Pada bahan bakar kendaraan,
dikenal istilah bilangan oktan atau octane number dan bilangan setana atau cetane number.
Diantara kedua istilah tersebut, tentu bilangan oktan lebih populer. Hal ini dikarenakan
kendaraan bermesin bensin lebih populer dibandingkan dengan kendaraan diesel. Keduanya
sama-sama merupakan suatu ukuran untuk bahan bakar mesin.

Bilangan oktan dan bilangan cetane merupakan standar untuk mengukur kemampuan bahan
bakar untuk menyala secara spontan. Bilangan oktan digunakan untuk mengukur standar
bahan bakar mesin bensin sedangkan bilangan cetane digunakan sebagai standar bahan bakar
diesel.
Bahan bakar yang memiliki bilangan oktan tinggi pastinya akan memiliki bilangan
cetane yang rendah, hal ini juga berlaku sebaliknya dimana bahan bakar dengan bilangan
oktan rendah akan memiliki bilangan cetane yang tinggi. Alasan itulah yang membuat bensin
tidak bisa digunakan pada mesin diesel dan bahan bakar diesel tidak bisa digunakan pada
mesin bensin.

Bilangan Oktan, Standar Bahan Bakar Bensin

Bila dipandang secara ilmu sains, bilangan oktan menunjukkan persentasi dari iso-
butana yang terkandung pada campuran iso-oktan dan heptana pada kondisi operasi yang
standar. Tingkat oktan ini memperlihatkan kemampuan untuk menghindari auto ignition
ketika digunakan pada mesin bensin. Auto ignition adalah batas dimana bahan bakar bisa
menghasilkan api dengan sendirinya tanpa adanya sumber api. Bahan bakar hanya
membutuhkan oksigen untuk menghasilkan nyala api.

Karena adanya tekanan yang dialami oleh campuran udara dengan bahan bakar, maka
ada kemungkinan api menyala pada akhir penekanan karena adanya nyala yang dihasilkan
oleh busi. Penggunaan bahan bakar dengan bilangan oktan yang rendah menyebabkan
masalah untuk melakukan pembakaran di mesin.

Metode Pengukuran
1. Research Octane Number (RON)
Nilai oktan sebuah bahan bakar yang paling umum di seluruh dunia adalah nilai
Research Octane Number (RON). RON ditentukan dengan mengisi bahan bakar ke dalam
mesin uji dengan rasio kompresi variabel dengan kondisi yang teratur. Nilai RON diambil
dengan membandingkan campuran antara iso-oktana dan n-heptana. Misalnya, sebuah bahan
bakar dengan RON 88 berarti 88% kandungan bahan bakar itu adalah iso-oktana dan 12%-nya
n-heptana.

2. Motor Octane Number (MON)


Jenis bilangan oktan lainnya, disebut Motor Octane Number (MON), ditentukan pada
kecepatan mesin 900 rpm dan bukan 600 rpm seperti pada RON. Pengujian MON
menggunakan mesin test serupa dengan yang digunakan dalam pengujian RON, tetapi dengan
campuran dipanaskan bahan bakar, kecepatan mesin yang lebih tinggi, dan variabel waktu
pengapian untuk lebih menekankan mengetuk ketahanan bahan bakar. Tergantung pada
komposisi bahan bakar, MON dari pompa bensin yang modern akan menjadi sekitar 8 sampai
12 oktan lebih rendah dari RON, tetapi tidak ada hubungan langsung antara RON dan MON.
spesifikasi pompa bensin biasanya membutuhkan baik minimal RON dan MON minimum.

3. Anti-Knock Index (AKI) atau (R+M)/2


Di banyak negara, termasuk Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara di Eropa,
nilai oktan yang ditampilkan pada pompa adalah RON, namun di Kanada, Amerika Serikat,
Brasil, dan beberapa negara lain, jumlah nilai utama yang ditampilkan adalah rata-rata dari
RON dan MON, disebut Anti-Knock Index (AKI), dan terkadang dituliskan di pompa sebagai
(R+M)/2. Terkadang nilai ini juga disebut sebagai (Posted Octan Number).

Research Octane Number (RON) dari Bensin


Premium : 88
Pertalite : 90
Pertamax : 92
Pertamax Plus : 95-98

Prinsip

Bilangan oktan bisa ditingkatkan dengan menambahkan zat aditif bensin. Penambahan
tetraetil timbal (tetraethyl lead atau TEL, Pb(C2H5)4) pada bensin akan meningkatkan
bilangan oktan bensin tersebut, sehingga bensin "murah" dapat digunakan dan aman untuk
mesin dengan menambahkan timbal ini. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas
pada bensin yang mengandung TEL dibutuhkan etilena bromida (C2H5Br). Celakanya, lapisan
tipis timbal terbentuk pada atmosfer dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia.
Di negara-negara maju, timbal sudah dilarang untuk dipakai sebagai bahan campuran bensin.

Zat tambahan lainnya yang sering dicampurkan ke dalam bensin adalah MTBE (methyl
tertiary butyl ether, C5H11O), yang berasal dan dibuat dari etanol. MTBE murni berbilangan
oktan setara 118. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan
oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak
sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga
berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur
dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin
(misalnya di pompa bensin) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-
sumber air minum lainnya.

Etanol yang berbilangan oktan 123 juga digunakan sebagai campuran. Etanol lebih
unggul dari TEL dan MTBE karena tidak mencemari udara dengan timbal. Selain itu, etanol
mudah diperoleh dari fermentasi tumbuh-tumbuhan sehingga bahan baku untuk
pembuatannya cukup melimpah. Etanol semakin sering dipergunakan sebagai komponen
bahan bakar setelah harga minyak bumi semakin meningkat.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1.Pertamax
b. Peralatan
1. Octane Analyzer Unit
2. Sample Holder
3. Tissue (untuk pembersih)

V. LANGKAH KERJA
1. Nyalakan alat portable octane-cetane analyzer.
2. Tungggu sampai dilayar timbul tulisan “Zero Adjust”
3. Tutup tempat pengujian menggunakan tutup berwarna hitam.
4. Tekan tombol Zero Adjust,
5. Tunggu sampai timbul dilayar tulisan ”Put in Sample”
6. Letakan sample di tempat pengujian dan tutup kembli menggunakan tutup sample.
7. Tekan tombol Enter.
8. Tunggu sampai dilayar timbul tulisan “Remove & Replace”.
9. Angkat sample dan letakan sample dengan posisi di putar 180° lalu letakan kembali serta
tutup dengan tutupnya.
10. Tekan tombol Enter.
11. Tunggu sampai dilayar timbul tulisan “Remove & Press Z”
12. Angkat sample dan tutup kembali tempat pengujian.
13. Tekan tombol Zero Adjust, dan tunggu sampai hasil pengujian di cetak.
14. Bila ingin melakuakan pengujian kembali, lakukan langkah dari nomer 3 -13.
15. Setelah selesai pengujian matikan alat.

VI. HASIL PENGAMATAN

Sampel On Analizer status


pertamax 96 Off spec
spesifikasi

VII. ANALISIS

Pada awalnya sampel holdernya terlebih dahulu dibersikan dengan tissue untuk
memperkecil kemungkinan kesalahan pada pengujian sampel. Lalu yg kami lakukan
selanjutnya memasukan sampel pertamax kedalam sampel holder sampai pada batas garis,
dan dimasukan pada Octan Number Analyzer untuk mendeteksi nilai oktan dari sampel. Pada
praktikum, kami melakukan 2 kali penggulangan tes dikarenakan hasil yang on 104 hal ini
dapat di sebabkan juga karena alat yg kemungkinan rusak atau saat penggunaan alat kami
tidak teliti sehingga hasilnya di peroleh tidak sesuai, hasil yang kami gunakan adalah pada
pengujian yang ke 1 yakni 96,0 sedangan untuk pengulangan ke 2 di dapatkan angka RON
104,0. Pada percobaan ini di dapat beberapa faktor yg mempengaruhi yaitu komponen
hidrokarbon naftenik pada jumlah C yang sama maka semakin tinggi ON-nya,serta Semakin
banyak komponen hidrokarbon parafinik pada jumlah C yang sama maka semakin rendah
ON-nya. Hal ini menunjukan bahwa sampel yang digunakan off spec karena angka oktan dari
pertamax adalah 92 dan nilai yg di dapatkan dari hasil praktikum kami pada pengujian 1 serta
pengulangan 2 kami yg sudah melampui spec.

. VIII. SIMPULAN
Berdasarkan data yang kami peroleh dari percobaan, dapat disimpulkan bahwa
praktikum yang dilakukan off spec karena angka yg dapat dalam percobaan ini melambung
jauh sesuai dengan prosedur dan hasil yang diperoleh on spec, karena pada praktikum angka
oktan yang di dapat 92,5, sedangkan spesifikasi dari pertamax angka oktannya 92. Hal ini
menunjukan bahwa pertamax tidak layak digunakan pada kendaraan bermotor karena
memperkecill kemungkinan kerusakan mesin.

IX. SARAN
1. Lebih teliti dalam pembersihan sampel holder dan ON Analyzer
2. Untuk laboratorim, kembali memeriksa peralatan-peralatan didalamnya karena
kemungkinan data dari hasil praktikum tidak akurat dikarenakan alatnya sudah lama tidak
digunakan.

X. DAFTAR PUSTAKA

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Bilangan_oktan

2. Anomim,2019: Modul Praktikum Prodak Migas. PEM Akamigas: Cepu

3. https://intersport.id/automotive/octane-number-dan-cetane-number-berbeda-180-
derajat
XI. LAMPIRAN
PERCOBAAN 10
Viscositas -20,ASTM D 445
Viscositas 40,ASTM D 445
Viscositas 100,ASTM D 445
Viscositas D ASTM

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1.Mahasiswa dapat menentukan nilai viskositas kinematika pada suhu 40 C, 100 C, dan
-20 C

2.Mahasiswa dapat menentukan nilai viskositas indeks

II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan
listrik yang ada.

III. TEORI DASAR

Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan
tekanan maupun tegangan. Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir
dan mungkin dapat dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida. Seluruh fluida
(kecuali superfluida) memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut kental,
tetapi fluida yang tidak memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal.

Viskositas dari produk-produk perminyakan (dalam hal ini pelumas) penting untuk
diketahui karena nilai viskositas ini akan mempengaruhi sistem penimbunan/storage,
handling dan kondisi operasi-nya (didalam mesin), terutama untuk Pelumas, atau karakteristik
dari minyak pelumas jika di aplikasikan dalam mesin yang sedang bekerja.

Pengukuran Kinematic Viscosity (ASTM D-445) adalah salah satu pengukuran ciri-
ciri fisik yang penting dari minyak pelumas, Kinematic Viscosity ini berhubungan dengan
kekentalan atau merupakan salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh SAE (Society of
Automotive Engineers) atau ISO (International Organization for Standardization), dalam
spesifikasi minyak pelumas untuk kendaraan bermotor/Industri. Jadi jika ada suatu pelumas,
yang salah satu propertiesnya tidak masuk standar, maka dapat dikatakan bahwa pelumas
tersebut di luar standar yang telah ditentukan.
ASTM D-445 mengatur prosedur untuk menentukan kinematic viscosity produk-
produk perminyakan. Setelah kinematic viscosity diketahui, dynamic viscosity dapat diperoleh
dengan mengalikan kinematic viscosity tersebut dengan density.

Alat yang digunakan adalah Viscometer, prinsip kerja alat ini adalah dengan mengukur
waktu yang diperlukan oleh sejumlah liquid yang mengalir dibawah gaya gravitasi dalam
viscometer pada kondisi temperatur tertentu. Kinematic viscosity diperoleh dengan
mengalikan waktu yang diperoleh tersebut dengan konstanta viscometer sesuai hasil kalibrasi.

Sebagai contoh viskositas di kehidupan sehari-hari diantaranya saat menuangkan


segelas air dan segelas oli, tentu saja air yang akan cepat habis. Hal tersebut disebabkan
karena air memiliki kekentalan yang lebih rendah dibandingkan dengan oli; antara molekul air
kecil sekali untuk bergesekan dengan gelas sehingga laju alir air akan lebih cepat
dibandingkan dengan oli

Koefisien viskositas di lambangkan dengan η. Viskositas sendiri merupakan fungsi dari


besaran turunan dari percepatan (V) dan tekanan (P) dan panjang diameter (D). Selain itu agar
hubungan fungsi dan variabelnya nampak jelas maka haruslah terdapat Konstanta (k). Jadi
rumus viskositas yaitu:

a. Rumus Viskositas Fisika

η=kxpxD/V

Keterangan:

: Koefisien Viskositas

K: Kostanta

P: Tekanan

D: Diameter

V: Kecepatan

b. Rumus Fluida Viskositas

F=ηAxv/L

Keterangan:

F = Gaya (N)

A = Las Fluida

v = Kelajuan Fluida
L = Jarak antar Keping

= Koefisien Viskositas (Kg)

Besarnya gaya (F) yang dibutuhkan untuk dapat menggerakan suatu lapisan fluida ditentukan
oleh kelajuan tetap (v) untuk luas kepingyang telah bersentuhan dengan fluida (A) dan berjarak (L)
dari keping yang diam. Selain itu, nilai koefisien viskositas bisa berubah sesuai dengan perubahan
temperatur dan apabila temperatur atau suhu naik maka viskositas dalam zat cair akan turun dan di
dalam gas akan naik dan begitu sebaliknya.

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan

1. Pelumas

2. Avtur

3. White Oil

4. Silicone Oil

5. Methanol

b. Peralatan

1. Viscometers

2. Viscometer Holders

3. Temperature-Controlled Bath

4. Temperature Measuring Device, from 0 to 100°C

(a). Gunakan salah satu termometer cairan dalam gelas yang dikalibrasi dengan akurasi
setelah koreksi ± 0,02 ° C atau lebih baik, atau

(b). perangkat termometrik lainnya dengan akurasi yang sama atau lebih baik

(c). alat termometriknya dengan akurasi yang sama atau lebih baik
5. Timing Device

V. LANGKAH KERJA

1. Hubungkan stop kontak pada 220 Volt/110 Volt, tekan Switch ke posisi On

2. Atur posisi Termostat sesuai suhu yang dikehendaki (misal 40 0C atau 100 0C)

3. Biarkan beberapa saat agar suhu bak mencapai suhu yang dikehendaki sambil
stirrer dibiarkan beroperasi selama pengujian berlangsung agar suhu bak tetap
stabil.
4. Pilih tabung viskometer yang sesuai dengan contoh yang diuji, tabung
viskometer harus bersih dan kering
5. Istilah viskometer dengan contoh sampai tanda batas yang ditetapkan

6. Masukkan viskometer yang telah diisi contoh dalam penangas sampai suhunya
sama dengan suhu penangas, minimal direndam 30 menit.
7. Mulai lakukan pengetesan dan lakukan tiga kali, ulangi pemeriksaan apabila
waktu pengaliran kurang dari 200 detik, dengan cara pemilihan kapiler yang
lebih kecil
8. Hitung viskositas Kinematik, sebagai berikut :

V=cxt

V = viskositas kinematik (cSt)

c= Faktor kalibrasi dari viskometer

(mm2/second2)

t = waktu alir (second)


9. Hitung Viskositas Indeks ASTM D 2270, sebagai berikut :
Cara Kerja A – minyak dengan Viscosity Index 0 – 100.
Untuk viskositas kinematik minyak pada 100 0C 70 cSt, nilai L dan H dapat
dilihat dari tabel 1
Untuk viscositas kinematik pada 100 0C > 70 cSt, nilai L dan H ditentukan
berikut :
L = 0.835 Y2 + 14.67 Y – 216

H = 0.01684 Y2 + 11.85 Y – 97

L : Viskositas kinematik pada 40 0C, minyak dengan VI = 0

Y : Viskositas kinematik pada 100 0C (= …… cSt)

H : Viskositas kinematik pada 40 0C, minyak dengan VI = 100,

Perhitungan indeks viskositas (VI) minyak sebagai berikut :


L-U
VI x 100
L-H

Dimana :

U : Viscositas kinematik pada 40 0C ( = …. cSt) dari minyak yang akan


ditentukan indeks viskositasnya (VI)

Cara Kerja B - minyak dengan Viscosity Index 100

Lihat cara kerja A


Perhitungan Indeks Viskositas (VI) sebagai berikut :
N = (log H – log U) / log Y atau YN = H / U
dimana

U : Viskositas kinematik, mm2/s (cSt), pada 40 0C

Anti log N 1
VI 100
0.00715

10. Hitung Determinability atau Repeatability


11. Selesai pengujian tekan switch pada posisi Off

VI. KETELITIAN

Determinability

Repeatability

VII. HASIL PENGAMATAN

Uji 1 Uji 2
No Sampel Suhu
sekon sekon

1 Pelumas 40oC 706 705

2 Pelumas 100oC 412 412

-
3 Avtur 520 522
20oC
Perhitungan:
Sampel 1: Pelumas Prima Xp
Suhu Pengujian: 40o C
Pengujian 1
V1 = C x t

= 0,2615 x 706

= 184,619 cSt

Pengujian 2
V1 = C x t

= 0,2615 x 705

= 184,357 cSt

Rata – Rata
Vrata-rata = V1 + V2

= 184,619 + 184,357

= 184,488 cSt (off spec)

Sampel 2: Pelumas Prima Xp


Suhu Pengujian: 100oC
Pengujian 1
V1 = C x t

= 0,04722 x 412

= 19,455 cSt

Pengujian 2
V2 = C x t

= 0,04722 x 412

= 19,455 cSt

Rata – Rata
Vrata-rata = V1 + V2

= 19,455 + 19,455

= 19,455 cSt (off spec)

Sampel 3: Avtur
Suhu Pengujian: -20oC

Pengujian 1
V1 = C x t

= 0,00918 x 520

= 4,7736 cSt

Pengujian 2
V1 = C x t

= 0,00918 x 522

= 4,7919 cSt

Rata – Rata
Vrata-rata = V1 + V2

= 4,7736 + 4,7919

= 4,78275 cSt (on spec)

Ketelitian
Sampel 1
D = 0,0013 x 184,488
= 0,2398

Delta V= 0,262 (teliti)

Sampel 2

D = 0,0013 x 19,455

= 0,0252

Delta V = 0 (kurang teliti)

Sampel 3

D = 0,0018 x 4,78275

= 0,0086

Delta V = 0,018 (teliti)

Perhitungan Viskositas Index


L = 469,15
H = 220,25
U = 184,488
VI = L – U x 100
L–H
= 469,15 – 184,488 x 100
= 469,15 – 220,25
= 114,368 (off spec)
a. Spesifikasi Produk
1) Pelumas Prima Xp

2) Avtur

IX. ANALISIS

Pada percobaan ini bahan yang kami digunakan adalah Pelumas, Avtur, White Oil,
Silicone Oil, tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui ketahanan atau kekentalan
suatu fluida agar dapat mengalir. Pada percobaan ini kami menentukan nilai viskositas
kinematika fluida pada suhunya yaitu 40oC, 100oC, dan -20oC serta viskositas indeks.

a. Sampel 2: Pelumas 40oC


Pada pengujian pelumas dengan suhu 40oC,pada praktikum yg kami lakukan hasilnya (off
spec) maka kualitas atas mutu yg di dapat dari produk ini tidak baik hal ini di karenakan
sampel yg kami gunakan terkontaminasi fraksi ringan dimana fraksi ringan ini keberadaanya
dapat menyebabkan kekentalan (viskositas) pada produk berkurang menyebabkan hasil yg di
dapatkan tidak sesuai,hal ini juga karena alat viscometer tidak di cuci dengan baik, nilai
viskositas rata ratanya yg di dapat yaitu 184,488 cSt.

b.Sampel : Pelumas 100oC


Pada pengujian ini bahan dan alat yg di pakai yaitu sama dengan pelumas 100ºC dan 40ºC.
dimana viskositas kinematik pada Pelumas ini menunjukkan kekentalan pelumas yang
berkaitan dengan kemampuannya untuk melumasi mesin kendaraan. hanya saja hasil atau
nilai yg di dapat dan juga suhu yg di pakai berbeda dari kedua pengujian ini pada pelumas
100oC didapatkan nilai viscositasnya yaitu 19,455 cSt,dan sama seperti pelumas suhu 40 C
karena terkontaminasi maka hasil kami yg di dapatkan tidak sesuai spec
seharusnya.akibatnya yaitu pelumas akan kurang baik untuk mesin karena fungsi pelumasan
berkurang sehingga bisa menyebabkan aus dan mudah terbakar di ruang pembakaran ketika
terkena suhu pada mesin tinggi.

c.Sampel : Avtur -20oC

pada pengujian ketiga sampel yg kami pakai yaitu avtur pada avtur suhu yg kami pakai yaitu -
20oC yg tujuannya untuk menjaga mutu bahan bakar pesawat pada suhu dingin di udara,pada
pengujian ini di dapatkan 4,78275 cSt viscositasnya,dari praktikum ini terdapat ketidak
telitian membuat sampai hasil yg kami dapatkan sudah sesuai dengan specnya,selain itu
karena avtur adalah bahan bakar untuk pesawat sehingga avtur yg di gunakan harus dalam
suhu yg rendah tetapi karena percobaan kami On spec maka dapat di katakan nilai atau mutu
yg di dapat pada bahan bakar pesawat ini baik untuk di gunakan.

d.Pengujian Viskositas Indeks

Dari pengujian ini hasil yg kami dapatkan Viskositas Indeks pelumas menunjukkan
kualitas suatu pelumas saat digunakan oleh mesin pada temperatur yang berbeda dari
praktikum yg kami lakukan di dapat hasil off spec karena hal ini karena di pengaruhi nilai
suhu pada 40oC dan 100oC yg sebelumya tidak memenuhi spec begitu juga spec dirjen migas
akibatnya kualitasnnya kurang baik.

X. SIMPULAN

Berdasarkan data yang diproleh dapat disimpulkan bahwa, praktikum yang dilakukan
pada suhu Pelumas 40o C di dapatkan hasil off spec menyebabkan mutu produk yg di dapat
tidak baik ini di akibatkan oleh terkontaminasi dengan fraksi ringan,sedangkan pada suhu
Pelumas 100oC sama seperti pelumas suhu 40 C karena terkontaminasi maka hasil kami yg
di dapatkan tidak sesuai spec/off spec.akibatnya yaitu pelumas akan kurang baik sudah
karena pelumas tidak dapat mencapai spesifikasinya,sedangkan nilai viskositas pada suhu
20 C pada percobaan ini di dapat on spec karena telah memenuhi spec nya dan juga
spesifikasi dari dirjen migas sedangkan hal untuk viskositas indeks belum memnuhi spek/off
spec di sebabkan beberapa keselahan/kekeliruan yg terjadi pada saat praktikum berlangsung.

XI. SARAN

1. Hati-hati menggunakan peralatan viskositas karena mudah pecah serta harganya


mahal.

2. Teliti saat melakukan percobaan agar hasil yg di dapat sesuai dengan teori dan juga
prosedunya

XII. DAFTAR PUSTAKA

1. Massey, B S (1983) Mechanics of Fluids, fifth edition, ISBN 0-442-30552-


4https://id.wikipedia.org/wiki/Viskositas

2. ekokiswantoblog.blogspot.com(2012),http://ekokiswantoblog.blogspot.com/2012/10/ki
nematic-viscosity-astm-d-445.html

3. blogspot (2008),https://asro.wordpress.com/2008/09/18/pengukuran-kinematic-
viscosity-astm-d-445/
XIII. LAMPIRAN
PERCOBAAN 11
Flash Point PMCC,ASTM D 93
FLASH POINT PMCC ASTM D 93

I. Tujuan
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:

1. Mahasiswa dapat memperkirakan suhu flash point setiap produk minyak bumi
memakai peralatan Pensky-Martens Closed Cup (PMCC).

II. Keselamatan Kerja


a. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat dan perhatikan petunjuk
penggunaan tegangan jaringan listrik yang ada.
b. Hati – hati bekerja dengan menggunakan bahan yang mudah terbakar
c. Lihat prosedur pemakaian alat.

III. Dasar Teori


Titik nyala sering digunakan sebagai karakteristik deskriptif dari cairan bahan
bakar , dan juga digunakan untuk membantu mencirikan bahaya kebakaran cairan.
“Titik nyala” mengacu pada baik mudah terbakar cairan dan mudah terbakar cairan. Ada
berbagai standar untuk mendefinisikan setiap istilah. Cairan dengan titik nyala kurang
dari 60,5 atau 37,8 ° C (140,9 atau 100,0 ° F) – tergantung pada standar yang diterapkan
-. Dianggap mudah terbakar, sementara cairan dengan titik nyala di atas suhu tersebut
dianggap mudah terbakar

Setiap cairan memiliki tekanan uap , yang merupakan fungsi dari bahwa cairan
itu suhu . Dengan meningkatnya suhu, tekanan meningkat uap. Dengan meningkatnya
tekanan uap, konsentrasi uap dari cairan yang mudah terbakar di udara meningkat. Oleh
karena itu, suhu menentukan konsentrasi uap dari cairan yang mudah terbakar di udara.

Biodiesel merupakan sumber energi alternatif pengganti solar yang terbuat dari
minyak tumbuhan atau lemak hewan. Biodiesel diperoleh dari reaksi minyak tanaman
(trigliserida) dengan alkohol yang menggunakan katalis basa pada suhu dan komposisi
tertentu, sehingga dihasilkan dua zat yang disebut alkil ester (umumnya metil ester atau
yang sering disebut biodiesel) dan gliserol. Proses reaksi ini disebut dengan
transesterifikasi (Zhang, G and Liu, X.,2005). [1]

Biodiesel disebut juga sebagai bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan
baku yang terbarukan, selain dari bahan baku minyak bumi. Adapun beberapa keuntungan
menggunakan biodiesel, antara lain adalah:

(1) Tidak memerlukan modifikasi mesin disel yang telah ada,

(2) Menghasilkan emisi CO2, SO2, CO dan hidrokarbon yang lebih rendah dibandingkan
dengan emisi petroleum disel,

(3) tidak memperparah efek rumah kaca,

(4) Kandungan energi hampir sama dengan kandungan energi petroleum disel,

(5) Bilangan setana lebihtinggi dari pada petroleum disel, bilangan setana adalah ukuran
kualitas penyalaansebuah bahan bakar diesel dalam keadaan terkompersi

(6) kekentalannya rendah,

(7) termasuk bahan bakar yang terbarukan,

(8) biodegradable (jauh lebih mudahterurai oleh mikroorganisasi dibandingkan


minyak mineral) dan tidak beracun.

ASTM D93 adalah singkatan dari metode pengujian standar untuk Flash Point
oleh Pensky-Martens Closed Cup Tester. Dalam hal ini digunakan aparatus piala tertutup
Pensky-Martens manual atau aparatus piala tertutup Pensky-Martens manual. Metode
tersebut mencakup penentuan titik nyala produk minyak dalam kisaran suhu dari 40
hingga 370 ° C, dan biodiesel oleh aparatus cangkir tertutup Pensky-Martens otomatis
dalam kisaran suhu 60 hingga 190 ° C

IV. Bahan dan Peralatan


A. Bahan
1. Solar 48

B. Peralatan
1. Peralatan Mangkuk (Container)
2. Cawan (Cup).
3. Penutup (Cover)
4. Kabel Sensor (Detection Cable)
5. Pemanas (Heater)
6. Peralatan Pengukur Temperatur (Detection Thermocouple)
7. Peralatan Pengukur Sampel (DetectionSample)
8. Percikan api listrik (Electrical Spark)
9. Api Penguji
10. Pengaduk (Stirrer)
11. Selang Air (Water Tube)
12. Selang Gas (Gas Tubing)
13. Printer
V. Langkah Kerja
1. Cuci mangkok uji dengan larutan yang cocok untuk menghilangkan sisa-sisa karbon
yang tertinggal pada pengujian terdahulu.
2. Isi mangkok uji sampai tepat pada tanda batas garis melingkar.
3. Tempatkan mangkok uji berisi contoh pada alat.
4. Hubungkan kabel alat uji PMCC ke terminal listrik, begitu juga dengan printernya.
5. Tekan ON/OFF untuk mematikan dan menyalakannya dibagian belakang alat PMCC.
6. Pastikan sistem sirkulasi air pendingin (cooling water) telah terpasang dengan baik.
7. Pasang Regulator LPG ke tabung LPG, pastikan tertutup rapat dan aman dari
kebocoran.
8. Buka keran bahan bakar gas (LPG)
9. Atur regulator pemanas (heater) dibagian pojok kiri pada skala 2,5 -3,0 atau 4,0.
10. Lihat dilayar monitor beberapa menu pilihan.
11. Input nama sampel dimenu pilihan + Enter, kemudian Input perkiraan suhu flash point
sampel + Enter. Selanjutnya Input methode A, B atau lainnya, yang akan digunakan +
Enter.
12. Pilih menu “go” maka nyala api dari listrik (electrical spark) akan muncul.
13. Jika api belum muncul selama 30 detik, putar regulator untuk bahan bakar (LPG)
diperalatan uji PMCC perlahan-lahan sampai muncul dua (2) nyala api.
14. Atur besarnya api sesuai dengan standar pengujian flash point.
15. Tunggu beberapa saat dan jika flash point telah tercapai, tekan menu STOP dilayar
monitor.
16. Lihat hasil print-out.
VI. Hasil Praktikum
Sampel :solar
Fp :75 ˚C
Spesifikasi :min 52 ˚C
Status :On Spec

VII. Analisa
Dari percobaan yg kami lakukan yaitu Flash Point Pensky-Martens Closed Cup ASTM D-93
pada percobaan ini sampel yg kami pakai adalah solar 48,dan dari data hasil praktikum di
dapat sampel uji untuk flash point 75 ˚C dan dapat di katakan sesuai dengan spec karena
sudah mendekati specnya yaitu minimum 52 ˚C ,dan juga karena akan mempengaruhi
mutu bahan bakar terhadap mesinnya sehingga harus di bawah minimum untuk flash
point atau juga dari percobaan ini kita dapat ketahui bahwa ketika flash point tinggi
maka akan sangat sulit suatu bahan bakar untuk terbakar maka dapat di katakana sangat
bagus sehingga dari percobaan yang kami lakukan dapat di katakana on spec.
VIII.SIMPULAN

Dari percobaan yg telah di lakukan dapat di simpulkan bahwa ketika flash point
tinggi maka akan sangat sulit suatu bahan bakar untuk terbakar maka dapat di katakana
sangat bagus sehingga dari percobaan yang kami lakukan dapat di katakana sudah sesuai
on spec.

IX.SARAN

1. Hati hati pada saat melakukan percobaan yg menggunakan alat yg mudah pecah
2. Para praktikan harus teliti selama melakukan percobaan agar hasil yg di dapat tidak keliru

X.DAFTAR PUSTAKA

1. www.slideshare_flash_point.net
2. https://www.astm.org/Standards/D93.htm

3. http://kimiahulala.blogspot.com/2014/09/produk-minyak-bumi-flash-point-
dengan.html

4. Anonim. 2020. Modul Praktikum Minyak Bumi. Cepu : PEM AKAMIGAS


XI.LAMPIRAN
PERCOBAAN 12
Flash Point PMCC,ASTM D 93
BS & W, ASTM D 4007

I. TUJUAN
1. Menentukan kadar air dan sedimen di dalam crude oil.
2. Mengidentifikasi pengaruh kadar air dan sedimen terhadap proses pengolahan crude oil.

II. KESELAMATAN KERJA


1. Pakailah perlengkapan laboratorium terlebih dahulu sebelum memulai praktikum.
2. Lihatlah tegangan jaringan tegangan listrik terlebih dahulu apabila menggunakan
peralatan bertenaga listrik.
3. Berhati-hatilah apabila bekerja menggunakan bahan yang mudah terbakar.
4. Berhati-hatilah dalam menggunakan peralatan yang mudah pecah.

III. TEORI DASAR


Water and Sediment in Crude Oil by the Centrifuge Method (Laboratory
Procedure) mencakup penetapan air dan sedimen dalam crude oil dengan
prosedur centrifuge (kurang memuaskan). Jumlah air terdeteksi selalu lebih
rendah dari kandungan air sebenarnya. Bila diperlukan hasil dengan akurasi
tinggi, prosedur untuk kadar air dengan distilasi (ASTM D 4006) dan prosedur
untuk kandungan sedimen dengan ekstraksi (ASTM D 473).

Sejumlah volume yang sama dari crude oil dan toluena jenuh air,
ditempatkan dalam centrifuge tube. Setelah centrifugation, volume lapisan air dan
sedimen di dasar tube dibaca dengan teliti.
Dalam proses pengolahan adanya air dan sedimen memicu kesulitan yang lebih
besar seperti pengkaratan (corrosion), pemanasan dan penyumbatan yang seharusnya
tidak terjadi dalam dapur dan penukar panas yang berpengaruh pada mutu produk.
Keberadaan sedimen dalam minyak bumi biasanya berbentuk padatan yang sangat
halus. Padatan yang berasal dari cekungan dari mana minyak bumi berasal atau dalam
cairan pengeboran, dapat berupa pasir, tanah liat, serpihan atau butiran batu. Air dapat
tampak dalam minyak bumi dalam bentuk butiran atau sebagai emulsi dan dapat
mengandung garam kimia atau substansi yang berbahaya lainnya.

Jumlah sedimen dan air dalam minyak mentah harus ditetapkan secara akurat
sebagai bagian dari proses tahanan-transfer. Pembeli hanya membayar untuk minyak
mentah yang diterima dan ingin meminimalkan jumlah sedimen dan air yang mereka
harus menangani. Akibatnya, pemantauan sedimen dan air isi dilakukan di lokasi
produksi untuk mencegah jumlah yang berlebihan memasuki sistem pipa. Berapa
banyak pipa yang bersedia menerima ke dalam sistem tergantung pada lokasi
geografis, daya saing pasar, dan kemampuannya untuk menangani sedimen dan air
dalam sistem. Setiap pipa menerbitkan kuantitas akan menerima.

Minyak yang kita produksi ke permukaan sering kali tercampur dengan sedimen-
sedimen yang dapat mempengaruhi proses/laju produksi, untuk itu endapan tersebut
harus dipisahkan dengan cara:

• Di Laboratorium

Dengan menggunakan metode centrifuge yaitu dengan menggunakan gaya


centrifugal sehingga air, minyak dan endapan dapat terpisahkan.

• Di Lapangan

Jika pemboran dilakukan di daratan maka dibuat kolam-kolam pengendapan,


sedangkan jika pemboran di lepas pantai maka dilakukan diseparator yaitu pemisahan
dengan zat-zat kimia tertentu.

Basic Sediment and Water (BS&W) adalah spesifikasi teknis dari kotoran
tertentu dalam minyak mentah. Ketika diekstraksi dari reservoir, minyak mentah akan
mengandung sejumlah air dan padatan tersuspensi dari formasi reservoir. Sebagian besar
air dan sedimen biasanya dipisahkan di lapangan untuk meminimalkan jumlah yang
perlu diangkut lebih lanjut. Konten residu dari pengotor yang tidak diinginkan ini diukur
sebagai BS&W. Kilang minyak membeli crude oil dengan spesifikasi tertentu atau
alternatifnya memiliki unit proses dehidrasi minyak mentah untuk BS&W hingga batas
yang dapat diterima.

Sedimen-sedimen yang ikut terbawa bersama air biasa dikenal dengan istilah
scale (endapan). Scale merupakan endapan kristal yang menempel pada dinding-dinding
pipa. Adanya endapan scale akan berpengaruh terhadap penurunan laju produksi.
Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat dengan air, dimana
scale mulai terbentuk setelah air ikut terproduksi ke permukaan. Selain itu jenis scale
yang terbentuk juga tergantung dari komposisi komponen-komponen penyusun air.
Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale berhubungan dengan kelarutan
masing-masing komponen dalam air. Sedangkan kecepatan pembentukan scale
dipengaruhi oleh kondisi sistem, terutama tekanan dan temperatur. Perubahan kondisi
sistem juga akan berpengaruh terhadap kelarutan komponen. Dalam pembahasan ini
lebih dominan pada uji coba suatu sampel minyak,untuk memisahkan kandungan
terikut-sertakan, yang dimaksud kandungan tersebut adalah air dan sedimen. Untuk
pengujiannya, dengan menggunakan metode Centrifuge, dimana prinsip dasarnya adalah
memanfaatkansuatu gaya putar (gaya sentrifugal). Suatu suspensi atau campuran yang
berada pada suatu tabung (baik itu tabung besar atau pun tabung kecil) apabila diputar
dengan kecepatan tertentu, dengan gaya sentrifugal dan berat jenis yang berbedaakan
saling pisah, dimana zat dengan berat jenis yang lebih besar akan berada di bawah dan
zat dengan berat jenis rendah berada di atas.

Metode Centrifuge ini mempunyai kelebihan antara lain:

1. Waktu yang diperlukan untuk memisahkan air dan minyak serta endapan lain lebih
singkat daripada Dean & Stark Method.

2. Pemindahan alat yang sangat mudah dilakukan

Gaya sentrifugal adalah gaya gerak melingkar yang berputar menjauhi pusat
lingkaran dimana nilainya adalah positif. Gaya sentrifugal ini adalah kebalikan dari
gaya sentrifugal, yaitu mendekati pusat lingkaran. Metode ini digunakan untuk
pencapaian sedimentasi dimana partikel-partikel yang ada di dalam suatu bahan yang
di pisahkan dari fluida oleh gaya sentrifugasi yang dikenakan pada partikel.

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Crude Oil
2. Toluena

b. Peralatan

1. Centrifuge
o Mampu berputar dengan minimum 600 rcf (relative centrifugal force).
o Rpm minimum dihitung dengan formula: ,d=
dalam mm atau , d = dalam inchi
o Mampu mempertahankan pada temperatur 60 + 3 oC (140 + 5 oF).
2. Tabung Centrifuge
3. Pipet, klas A, Volume 50 mL

V. CARA KERJA
1. Isi masing-masing dari 2 (dua) tabung centrifuge dengan sampel sebanyak tepat
50 ml. Tambahkan 50 ± 0,05 mL toluena. Rapatkan penutup dan bolak-balikkan
10x agar bercampur salah satu tabung centrifuge.
2. Tempatkan kedua tabung ke dalam centrifuge secara berseberangan,
kencangkan, dan putar selama 10 menit pada rcf 600 (minimum). Suhu
centrifige harus dipertahankan pada 60 ± 3°C (140 ± 5°F).

3. Setelah selesai putaran pertama, baca dan catat volume air dan sedimen yang
ada pada bagian bawah masing-masing tabung sampai ketelitian 0,05 mL.
4. Lakukan sekali lagi pemutaran selama 10 menit pada kecepatan yang sama.
5. Baca dan catat volume air serta sedimen pada bagian bawah masing-masing
tabung centrifuge.
VI. KETELITIAN

Repitibilitas Reprodusibilitas

0,0 - 0,3 % Lihat pada kurva Lihat pada kurva

0,3 – 1,0 % 0,12 0,28

VII. HASIL PENGAMATAN

Sampel yg di gunakan:Crude oil

NO PERLAKUAN PERCOBAAN 1 PERCOBAAN 2 RATA-RATA


1 Di kocok 3,5 ml 2,5 ml 3 ml
2 Tidak di kocok 4 ml 2,5 ml 3,25 ml

Perhitungan

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟+𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛


1.%BS&W = × 100
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐶𝑟𝑢𝑑𝑒 𝑂𝑖𝑙(𝑚𝑙)

0+3𝑚𝑙
= × 100% = 6% 𝐵𝑆&𝑊
50
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟+𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛
2. .%BS&W = × 100
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑟𝑢𝑑𝑒 𝑜𝑖𝑙(𝑚𝑙)
0+3,25𝑚𝑙
= × 100% = 6,5% 𝐵𝑆&𝑊
50𝑚𝑙

VIII. ANALISIS

Pada percobaan yg kami lakukan yaitu BS&W,pada percobaan ini terdapat dua
sampel uji minyak yaitu sampel uji kawengan dan ledox,namun dalam praktikum ini kami
hanya memakai sampel uji kawengan pertama tama yg kami lakukan yaitu kami memasukan
sampel uji ke dalam tabung centrifuge sebanyak 50 ml dan sampel uji di tambahkan dengan
toluene 50 ml agar sampel tidak terlalu pekat,selanjutnya kami memasukan sampel uji ke
dalam centrifuge dengan kedudukan yg berlawanan agar rata atau seimbang arah
nya,selanjutnya di putar pemutaran kami lakukan kira kira sebanyak 2 kali selama kira kira
10 menit,dan hasil rata rata yg kami dapat untuk perlakuan sampel yg di kocok yaitu 3 ml
sedangkan hasil rata rata untuk perlakuan tidak di kocok yaitu 3,25 ml.Kemudian dalam
percobaan ini sampel minyak kawengan yg di pakai karena sampel ini mengandung banyak
air dan juga sedimen sehingga harus di pisahkan karena di ketahui bahwa akan beresiko
merusak atau membuat korosi pada peralatan dan juga perpiaan sehingga perlu di kurangi
kandungan air dan juga sedimen dari sampel uji minyak kawengan.

X. SIMPULAN

Pada percobaan di atas dapat di simpulkan bahwa, crude oil Kawengan mengandung
lebih banyak air dan sedimen.sehingga harus di hilangkan atau pisahkan kandungan air dan
juga sedimennya karena akan menyebabkan kerusakan dan juga korosi pada peralatan dan
juga perpipaan.

XI. SARAN

1. Hati-hati saat menggunakan tabung centrifuge karena mudah pecah

2. Praktikan di minta agar teliti pada saat melakukan pembacaan terhadap kandungan air dan
sedimen.
XII. DAFTAR PUSTAKA

1. Anomim,2019: “Modul Praktikum Prodak Migas”. PEM Akamigas: Cepu

2. https://id.scribd.com/doc/238923543/makalah-sedimentasi
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Basic_sediment_and_water
XIII. LAMPIRAN
PERCOBAAN 13
Doctor Test, ASTM D 4952
DOCTOR TEST, ASTM D 4952

I. TUJUAN
Metode uji ini untuk identifikasi merkaptan (RSH) dan hidrogen sulfida
(H2S) dalam bensin, kerosine, dan produk minyak yang setara.

II. Keselamatan Kerja


1. Pakailah perlengkapan laboratorium terlebih dahulu sebelum memulai praktikum.
2. Lihatlah tegangan jaringan tegangan listrik terlebih dahulu apabila menggunakan
peralatan bertenaga listrik.
3. Berhati-hatilah apabila bekerja menggunakan bahan yang mudah terbakar.
4. Berhati-hatilah dalam menggunakan peralatan yang mudah pecah.

III. TEORI DASAR

Contoh uji dikocok dengan larutan natrium plumbit, kemudian sejumlah kecil serbuk
belerang ditambahkan dan di kocok kembali. Adanya RSH atau H 2S atau keduanya di
indikasikan oleh lunturnya warna dari belerang yang mengamngambang pada permukaan
antara minyak dan air.

Doctor test merupakan suatu metode uji kualitatif untuk mengetahui adanya
kandungan hidrogen sulfida atau merkaptan (RSH) pada suatu bahan bakar. Pengetesan
dilakukan dengan mencampur bahan bakar dengan larutan doctor (Sodium Plumbite).

Sodium plumbite merupakan larutan yang tidak larut dalam minyak. Agar dapat
mengikat hidrogen sulfida atau merkaptan dalam minyak, sodium plumbite dicampur dengan
contoh minyak dan diaduk/dikocok kuat-kuat agar sodium plumbite dapat terdispersi
merata di dalam contoh minyak, dengan demikian dapat bereaksi dengan hidrogen sulfida
atau merkaptan (bila ada).

Jika dalam minyak terdapat hidrogen sulfida maka Pb dalam sodium plumbite akan
mengikat S dalam hidrogen sulfida sehingga terbentuk endapan hitam PbS pada interface dan
contoh minyak dinyatakan “Does not pass”.
Apabila pada pengocokkan awal (sebelum penambahan sulfur powder) tersebut tidak
dihasilkan endapan hitam PbS pada interface maka contoh minyak tidak mengandung
hidrogen sulfida dalam jumlah signifikan. Bila dalam contoh minyak tersebut
terdapat merkaptan, maka merkaptan akan bereaksi dengan sodium plumbite menghasilkan
lead mercaptide yang larut dalam minyak.

Penambahan sulfur dalam campuran tersebut akan menghasilkan endapan hitam


PbS pada interface (sulfur powder yang bereaksi dengan merkaptan akan berubah
warna menjadi hitam/gelap) dan terjadi konversi mercaptide menjadi disulfida (alkil
disulfide) yang tetap larut dalam fasa minyak. Dalam hal ini contoh minyak dinyatakan
“positive” (mengandung merkaptan dengan konsentrasi yang dapat menimbulkan efek
negative antara lain; korosif, bau, dan warna).

Apabila tidak terjadi perubahan warna pada sulfur powder yang ditambahkan maka
contoh minyak dinyatakan “negative” (konsentrasi merkaptan dalam minyak relatif
kecil sehingga tidak menimbulkan efek negative).

Larutan Doctor juga digunakan dalam proses sweetening, yaitu Doctor sweetening.
Proses ini tidak menghilangkan sulfur dalam minyak (hanya mengkonversi jenis senyawa
sulfur, yaitu merkaptan menjadi alkyl disulfide). Proses Doctor Sweetening mungkin akan
menambah kadar sulfur total, bila terlalu banyak menambahkan sulfur powder.

Secara umum pada udara luar, komposisi udara normal terdiri dari 21% Oksigen,
78,09% Nitrogen, 0,03% Carbon dioksida, dan 0,93% Argon. Komposisi udara itu untuk di
dalam terowongan tambang bawah tanah akan sangat berbeda, karena jelas dalam tambang
bawah tanah itu akan terjadi emisi dari berbagai jenis gas yang keluar dari batuan yang ada.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai salah satu gas yang kemungkinan terdapat didalam
tambang bawah tanah yakni gas Hidrogen sulfida ( S)

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Avtur
2. Larutan sodium plumbite (Na2PbO4)
3. Serbuk belerang

b. Peralatan
1. Gelas ukur
2. Pipet volumetrik
3. Bulb
V. Langkah Kerja

1. Isi 10 mL contoh uji dan 5 mL larutan Na2PbO2 ke dalam gelas ukur.

2. Kocok secara kuat campuran 10 mL contoh uji dan 5 mL larutan Na2PbO2


selama 15 detik.

3. Tambahkan sejumlah kecil serbuk belerang yang secara praktis mengambang


di antara contoh uji dan larutan Na2PbO2 , kemudian kocok kembali selama
15 detik.

4. Tunggu mengendap dan amati hasil percobaan.

Hasil sampel yang diinginkan:


1. Jika sampelnya berubah warna atau jika warna kuning dari film sulfur
terlihat tertutup, laporkan tes sebagai positif dan anggap sampel sebagai Sour.
2. jika sampel tetap tidak berubah warna dan film sulfur berwarna kuning
cerah atau hanya sedikit berubah warna menjadi abu-abu atau berbintik hitam,
laporkan tes itu negatif dan anggap sampel itu Sweet.

VI. Hasil Praktikum


a. Sampel Uji : Avtur
b. Spesifikasi : Negative
c. Status :On Spec
d. Hasil uji : H2S4 Merkaptan Negatif
VII. ANALISIS
Pada percobaan yang kami lakukan sampel yg kami gunakan adalah
avtur,untuk metode ini di lakukan untuk mengecek seberapa kandungan sulfur
merkaptan dalam produk sampel yang kami gunakan yaitu avtur,untuk mengetahui
pertama tama yg kami lakukan yaitu menambahkan avtur dengan sodium plumbite
kemudian di kocok selama 15 detik,hasil yang diperoleh yaitu tidak terdapat
endapan berwarna hitam, Hal ini menujukan bahwa sampel on spec karena pada
spesifikasi avtur yaitu negative, dan pada percobaan juga diperoleh hasil negative
yang membuktikan tidak ada kandungan hidrogen sulfida atau merkapktan dalam
sampel. Dari percobaan ini di dapat reaksi sebagai berikut:
Na2PbO2 + R – SH → R – PbO2 + Na2 – SH

Dengan demikian dari praktikum yg kami lakukan di dapatkan hasil on spec.

VIII. SIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa,dalam praktikum


ini terdapat endapan hitam yg menunjukan tidak ada kandungan hydrogen sulfide dan
merkaptan yg ada di dalam sampel avtur sehingga menunjukan hasil negative.
IX. SARAN

1. Hati-hati dalam menggunakan peralatan selama praktikum

2. Memakai masker selama melakukan percobaan doctor test

X. DAFTAR PUSTAKA

1. https://www.scribd.com/document/380138582/Doctor-Test

2. https://dokumen.tips/documents/doctor-test.html

3. http://dianintanpandini.blogspot.com/2016/01/makalah-h2s.html

4. Anonim. 2020. Modul Praktikum Minyak Bumi. Cepu : PEM AKAMIGAS


XI.LAMPIRAN
PERCOBAAN 14
(TUGAS Pengganti Praktikum )

Colour Saybolt, ASTM D156


Pour Point, ASTM D 97
Electrical Conductivit, ASTMD 2624
POUR POINT, ASTM D 97

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pour point dan freezing point?
Jawab: Pour Point adalah temperature terendah fluid masih dapat mengalir atau
pergerakan fluida tersebut teramati sesuai kondisi pengujian. Hal ini sangat berguna
untuk diketahui untuk mencegah pembekuan bahan baku (feed).
Freezing Point adalah temperature dimana Kristal hidrokarbon terbentuk pada
pendinginan dan akan segera hilang jika bahan bakar tersebut dipanaskan pelan-pelan.
Hal ini harus diketahui contohnya pada avtur yang merupakan bahanbakar pesawat
untuk mencegah bahan bakarnya membeku karena mengudar pada suhu yang sangat
dingin.

2. Jelaskan faktor faktor yang mempengaruhi pour point dari suatu produk?
Jawab: Faktor yang mempengaruhi pour point yaitu kandungan hidrokarbon atau
fraksi-fraksi ringan ataupun berat dalam produk tersebut.

3. Apa yang dimaksud dengan ASTM-D 97?


Jawab: ASTM-D 97 merupakan metode standart test untuk pengujian pour point dan
digunakan untuk produk minyak bumi. Metode ini cocok untuk “black speciments”,
cylinder stocks dan fuel oil yang tidak didistilasi.

4. Jika pada suatu produk dinyatakan nilai pour point nya tidak memenuhi standar
minimum (off spec), analisis lah dengan menggunakan bahasa kalian sendiri mengapa
produk tersebut dinyatakan off spec dan apa penyebabnya?
Jawab: Bila suatu produk dinyatakan off spec pada saat pengujian pour point hal ini
disebabkan produk tersebut telah terkontaminasi fraksi berat sehingga pada saat
pengujian telah membeku sebelum temperature spec yang telah ditentukan.

5. Jelaskan langkah – langkah pengujian pour point dengan menggunakan diagram!


Jawab:
Pertama tuangkan contoh ke test jar sampai tanda batas. (Jika perlu, panaskan
sampel pada penangas air sampai cukup bisa mencair untuk dituangkan ke jar test).

Pasangkan thermometer tercelup pada


contoh uji (seperti terlihat pada gambar).

Lakukan pendinginan secara bertahap


dimulai dari suhu paling hangat.

Setiap penurunan suhu 3 0C, lakukan pengamatan apakah masih bisa


mengalir/bergerak ketika jar test sedikit dimiringkan.

Tambahkan sebesar 3 0C pada hasil pengamatan diatas dilaporkan sebagai


Pour Point.

Lanjutkan cara ini sampai suatu titik dicapai dimana minyak tidak menunjukan
gerakan ketika jar test dipegang pada posisi horizontal selama 5 detik.

Amati termometer dan catat.

COLOR SAYBOLT, ASTM D 156


1. Mengapa pada pengujian Color Saybolt untuk produk avtur ini tidak ada standar
mutunya secara spesifik minimal atau maksimal dalam angka? Jelaskan.
Jawab: Karena dalam pengujian colour saybolt pengamatan dilakukan dengan analisis
metode kualitatif, melihat adanya perubahan warna atau tidaknya suatu sampel bukan
dengan perhitungan (kuantitatif).

2. Analisislah apa yang menyebabkan jika suatu produk avtur terlihat keruh pada saat
dilakukan pengujian?
Jawab: Bila produk avtur yang terlihat keruh ketika pengujian ini diakibatkan karena
produk tersebut masih banyak mengandung impurities/kotoran dalam kandungannya.
Karena dalam pengujian colour saybolt ini merupakan salah satu metode uji untuk
memenuhi syarat kebersihan dari suatu produk migas yang pada dasarnya bertujuan
untuk menentukan warna minyak sebelum minyak diberi warna.

3. Jelaskan langkah – langkah pengujian colour saybolt dengan menggunakan diagram!


Jawab:

Bandingkan warna
Tutup kerangan pada Hubungkan lampu contoh dengan
Isi contoh uji ke dalam
tabung contoh (kanan) penerang dengan Power mengurangi perlahan-
tabung contoh sampai
jika akan mengisi contoh Supply Connectionpada lahan contoh dari
penuh (tanda angka 20)
uji. stop kontak 220 Volt kerangan di tabung
Contoh

Baca dan catat angka Konversikan hasil yang


Ada 3 ukuran standar Pilih standar warna yang
pada tabung uji dan diperoleh pada butir (7)
warna yaitu : 0,5 ; 1.0 dipergunakan mendekati
ukuran standar warna pada tabel yang
dan 2 warna contoh uji
dimana diperoleh menempel di alat

Setelah selesai switch


Lepaskan kabel listrik Keluarkan Contoh dari
diubah ke posisi Off pada
dari stop kontak 220 tabung Contoh dan
Power Supply
Volt. bersihkan
Connection

4. Setelah melakukan pengujian didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut:


Diketahui :
a. Batas Atas Depth of oil (inch) = 6,25
b. Batas Bawah Depth of oil (inch) = 7,25
c. Batas Atas Number of Color standard = 16
d. Batas Bawah Number of Color standard = 17

Hitunglah Nilai Color Number (nilai y) dengan menggunakan perhitungan interpolasi.

Jawab:
𝑥 − 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ 𝑦 − 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ
=
𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠 − 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠 − 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ

6,40 − 7,25 𝑦 − 17
=
6,25 − 7,25 16 − 17
−0,85 𝑦 − 17
=
−1 −1
0,85 = −𝑦 + 17
𝑦 = 16,15

5. Apa yang dimaksud dengan Color Saybolt dan ASTM D 156 ?


Jawab: Color Saybolt adalah satuan untuk mengukur viscositas atau lebih dikenal
dengan SUS (Saybolt Universal Second) dan untuk ASTM D 156 biasanya digunakan
untuk mengukur refined oils seperti naphta, gasoline, kerosene dan lain-lain.

ELECTRICAL CONDUCTIVITY, ASTM D 2624

1. Pada pengujian electrical conductivity terdapat sebuah alat yang dinamakan


conductivity meter, jelaskan apa yang dimaksud conductivity meter dan apa
fungsinya?
Jawab: Conductivity meter adalah alat untuk mengukur nilai konduktivitas listrik
(specific electric conductivity) suatu larutan aatu cairan. Nilai konduktivitas listrik
sebuah zat cair menjadi referensi atau junlah ion serta konsentrasi padatan (TDS) yang
terlarut didalamnya.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Repeatability,Reproducibilty,dan Bias!


Jawab: Repeatability adalah presisi untuk menyatakan konsentrasi dan alat
pengukuran. Reproducibilty adalah presissi untuk menyatakan konsistensi dari laat
pengukuran. Dan Bias adalah kesalahan yang konsisten dalam memperkirakan suatu
alat.

3. Apa yang terjadi jika pada pengujian electrical conductivity melebihi batas maksmial
spesifikasi dan juga apa yang terjadi jika kurang dari batas minimal spesifikasi?
Jawab: Pada suatu sampel yang digunakan dapat di katakan sesuai on spec karena
pada spesifikasi avtur EC minimal 50 pS/m dan maksimal 600 pS/m. Sehingga contoh
uji layak digunakan Karena jika konduktivitas listrik bahan bakar cukup tinggi,
muatan listrik menghilang cukup cepat untuk mencegah akumulasi. Ini juga dapat
mencegah muatan listrik tinggi yang berbahaya di tangki penerima.

4. Jelaskan langkah – langkah pengujian electrical conductivity dengan menggunakan


diagram!
Jawab:

Tuang sampel ke
stainless steel vessel Pasang kabel grounding
Letakkan probe ke
jumlah sesuai (Probe seperti gambar (antara
sampel
sampai lubang vessel dan alat)
terendam)

Male L
Tekan logo, lepas dan LED merah menyala dan C
tekan kembali tahan hasil bisa dilihat Gro D
MC Logo
sekitar 5 detik dan lepas sesudahnya

Allig Stainle

5. Jelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi electrical conductivity dari suatu produk
mengalami off spec!
Jawab: Adapun faktor-faktornya yaitu jika konduktivitas listrik bahan bakar cukup
tinggi,muatan listrik menghilang cukup cepat yang biasanya untuk mencegah
akumulasi, ini juga dapat mencegah muatan listrik tinggi yang berbahaya di tangki
penerima produk. Factor berikutnya yaitu metode pengujian yang ditentukan oleh
analisis statistik dari hasil pengujian yang diperoleh operator-instrumen biasanya tidak
akurat sehingga produk yg di dapatkan off spec.