Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN RESEKSI DAN INTERSEKSI

MENGGUNAKAN ALAT THEODOLITE

Kelompok 3
Asistensi Pemetaan Terestris Lanjut-B

Disusun Oleh:

1. Dena Prapanca Wardhani 03311740000004


2. Darma Setiawan 03311740000030
3. Sherlyn Cahya Dewi 03311740000036
4. Komang Bayu Angga Sardana 03311740000042
5. Diya Rochima Lisakiyanto 03311740000060

FAKULTAS TEKNIK SIPIL, LINGKUNGAN, DAN KEBUMIAN


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

2018

DAFTAR ISI
B A B I P E N D A H U L U A N ............................................................................................................3
1.1 L a t a r B e l a k a n g ...............................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................3
1.3 Tujuan Praktikum..................................................................................................................4
1.4 Manfaat Praktikum................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................................5
2.1 Dasar Teori............................................................................................................................5
2.1.1 Teori tentang Sudut, Azimuth, dan Bearing...................................................................5
2.1.2 Pengikatan ke Muka.......................................................................................................6
2.1.3 Prosedur Ikatan ke Muka......................................................................................................7
2.1.4 Ikatan ke Belakang...............................................................................................................8
2.1.5 Teori pengertian alat...............................................................................................................12
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM............................................................................................13
3.1 Lokasi..................................................................................................................................13
3.2 Waktu..................................................................................................................................13
3.3 Sketsa Lapangan..................................................................................................................13
3.3 Alat dan Bahan...................................................................................................................13
3.4 Langkah kerja......................................................................................................................14
3.4.1 Persiapan alat kerja.....................................................................................................14
3.4.2 Langkah mengoperasikan Theodolite.................................................................................14
3.4.2 Pengukuran di lapangan......................................................................................................14
3.5 Flowchart Metodologi Praktikum....................................................................................15
3.6 Kendala Praktikum..............................................................................................................16
3.7 Solusi Praktikum.................................................................................................................16
BAB IV ANALISIS DATA.................................................................................................................17
4.1 Intersection................................................................................................................................17
4.2 Resection...................................................................................................................................18
BAB V KESIMPULAN......................................................................................................................21
5.5 Kesimpulan.........................................................................................................................21
5.6 Saran....................................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................22
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu ukur tanah adalah ilmu yang mempelajari tentang tatacara pekerjaan pen
gukuran diatas permukaan tanah yang diperlukan untuk menyatakan kedudukan suatu
titik dan penggambaran situasi atau keadaan secara fisik yang terdapat diatas permukaan
bumi, yang pada dasarnya bumi selalu bergerak sesuai dengan porosnya. Prinsip dasar
pemetaan merupakan pengukuran sudut dan jarak untuk menentukan posisi dari suatu
titik. Jika dua sudut dan satu sisi dari sebuah segitiga diketahui, maka semua sudut dan
jarak dari segitiga tersebut dapat ditentukan. Dengan demikian untuk mendapatkan
koordinat suatu titik dapat dilakukan dengan cara mengukur sudut dan jarak dari titik
yang sudah diketahui koordinatnya. Ada beberapa metode yang biasa digunakan untuk
mengambil titik koordinat, salah satunya dengan menggunakan metode ikatan ke muka
(Intersection) dan ikatan ke belakang (resection).

Ikatan ke belakang (Resection) adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta


dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection
membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak
selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan,
atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang
dibidik. Sedangkan intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di pet
dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection
digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat
dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai.

Berdasarkan penjelasan diatas,  praktikum ini sangat


penting untuk di laksanakan agar lebih memudahkan dalam mengetahui posisi atau
kedudukan suatu titik yang tidak diketahui untuk melengkapi data yang diperlukan dalam
pemetaan.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang didapatkan dari praktikum kali ini adalah:
1) Bagaimana cara menentukan kedudukan atau posisi suatu titik dengan menggunakan
metode ikatan ke muka (Intersection) ?
2) Bagaimana cara menentukan kedudukan atau posisi suatu titik dengan menggunakan
metode ikatan ke belakang resection) ?
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1) Mengetahui cara mengoperasikan alat theodolite
2) Mengetahui cara menentukan kedudukan atau posisi suatu titik dengan
menggunakan metode resection
3) Mengetahui cara menentukan kedudukan atau posisi suatu titik dengan
menggunakan metode intersection

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami cara
penggunaan theodolite dengan baik dan benar secara teori maupun praktik yang
dilakukan di lapangan serta dapat memahami bagaimana cara menentukan kedudukan
atau posisi suatu titik dengan menggunakan metode ikatan ke muka(intersection) dan
ikatan ke belakang (resection) serta pengolahan datanya dengan rumus – rumus yang ada.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Teori tentang Sudut, Azimuth, dan Bearing


a. Sudut
Sudut adalah selisih antara dua arah dari dua buah target di titik pengamatan.
Sudut dibagi menjadi :
1. Sudut Horizontal (mendatar) adalah sudut yang terletak pada bidang horison
pengamat,jenis-jenis sudut horisontal yang bisa diukur dalam pengukuran
tanah adalah (1) sudut dalam,(2) sudut kekanan,(3) sudut belokan.

2. Sudut vertikal(sudut tegak) adalah sudut yang terletk pada bidang datar
pengamat.Sudut vertikal ada dua macam,yaitu(1)sudut helling/miring
adalah sudut yang diukur dari horison pengamat sampai ketitik yang
diamati.(2)sudut zenith adalah sudut yang diukur dari zenith pengamat
sampai ketitik yang diamati .

b. Azimuth
Azimut adalah sudut yang diukur searah jarum jam dari sembarang meridian
acuan. Dalam pengukuran tanah datar, Azimut biasanya diukur dari
utara.Azimut berkisar antara 0 sampai 360° dan tidak memerlukan huruf-huruf
untuk menunjukkan kuadran.

Gambar 2.1 Azimuth

c. Bearing (Sudut Arah)


Sudut arah merupakan satu sistem penentuan arah garis dengan memakai sebuah
sudut dan huruf-huruf kuadran. Sudut arah sebuah garis adalah sudut lancip
horizontal antara sebuah meridian acuan dan sebuah garis. Sudutnya diukur dari
utara maupun selatan ke arah timur ataupun barat, untuk menghasilkan sudut
kurang dari 90°. Kuadran yang terpakai ditunjukkan dengan huruf U atau S
mendahului sudutnya dan T atau B mengikutinya.
Gambar 2.2 Bearing

Sudut arah sebenarnya diukur dari meridian lokal astronomik atau meridian
sebenarnya,sudut arah magnetik dari meridian lokal ,sudut arah anggapan dari
sembarang meridian yang dipakai,dan sudut arah kisi dari mridian kisi yang
sesuai.

2.1.2 Pengikatan ke Muka


Pengikatan ke muka adalah suatu metode pengukuran data dari dua buah titik
di lapangan tempat berdiri alat yang masing - masing telah diketahui koordinatnya
dan dapat saling terlihat untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri
target (rambu ukur) yang akan diketahui koordinatnya dari titik tersebut. Garis antara
kedua titik yang diketahui koordinatnya dinamakan garis absis. Sudut dalam yang
dibentuk absis terhadap target di titik B dinamakan sudut beta. Sudut beta dan alfa
diperoleh dari lapangan.
Pada metode ini, pengukuran yang dilakukan hanya pengukuran sudut. Bentuk
yang digunakan metode ini adalah bentuk segitiga. Akibat dari sudut yang diukur
adalah sudut yang dihadapkan titik yang dicari, maka salah satu sisi segitiga tersebut
harus diketahui untuk menentukan bentuk dan besar segitiganya.

Gambar. Ikatan ke muka

Pada pengolahan data, kita mencari terlebih dahulu jarak dengan rumus akar
dan penjumlahan selisih absis dan selisih ordinat
d AB= √ (X B−X A )2 +(Y B −Y A )2
Azimuth titik A terhadap B kita cari dengan rumus arcus tangen pembagian
selisih absis dan ordinat
( X −X A )
tan−1 α AB= B
(Y B −Y A )

Azimuth titik A terhadap target kita peroleh dari azimuth basis dikurang sudut
alfa. Azimuth titik B terhadap target kita peroleh dari azimuth titik A terhadap titik B
ditambahkan 180 dan ditambahkan terhadap sudut beta. Jarak A terhadap target dan B
terhadap target diperoleh dari rumus perbandingan sinus. Jarak A terhadap target
sama dengan perbandingan jarak absis dibagi sudut 180° dikurang α dan β dikalikan
dengan sinus β . Jarak B terhadap target sama dengan perbandingan jarak basis dibagi
sinus sudut 180° dikurang α dan β dikalikan dengan sudut α.

 Mencari koordinat P dari titik A :


Xp = Xa + da . Sin ap
Yp = Ya + da . Cos ap

 Mencari koordinat C dari titik B :


Xp = Xb + dbp . Sin bp
Yp = Yb + dbp . Cos bp

Koordinat target dapat diperoleh dari titik A dan B. Absis target sama dengan
jarak A terhadap target dikalikan dengan sinus azimuth A terhadap target kemudian
ditambahkan dengan absis titik A. Ordinat target sama dengan jarak A terhadap target
dikalikan dengan cosinus azimuth A terhadap target kemudian ditambahkan dengan
ordinat titik A. Absis target sama dengan jarak B terhadap target dikalikan dengan
sinus azimuth B terhadap target kemudian ditambahkan dengan absis titik B terhadap
target kemudian ditambahkan dengan ordinat titik B. Nilai koordinat target
merupakan nilai koordinat yang diperoleh dari titik A dan B.
2.1.3 Prosedur Ikatan ke Muka
Titik P diikat pada titik A (Xa, Ya) dan B(Xb, Yb), diukur sudut-sudut alfa dan beta
yang terletak pada titik A dan titik B. Dicari absis X dan ordinat Y titik P. Carilah selalu lebih
dahulu sudut jurusan dan jarak yang diperlukan. Koordinat-koordinat titik P akan dicari
dengan menggunakan koordinatkoordniattitik-titik A dan B sehingga akan didapat dua
pasang X dan Y yang harus sama besarnya, kecuali perbedaan kecil antara dua hasil hitungan.
Diperlukan lebih dahulu sudut jurusan dan jarak yang tentu sebagai dasar hitungan.
a. Mencari sudut jurusan
Diketahui bahwa :
−1 ( X B− X A )
tan α AB=
( Y B−Y A )
( X − X A)
¿ B
sin α AB
(Y −Y A )
¿ B
cos α AB

b. Xp dan Yp dicari dari titik A :


diperlukan α AP dan d AP
d AP d
= AP
sin β sin {¿ ¿
Atau
d AB
d AP= sinβ=msinβ
sin ⁡(α + β )

d AB
Jika m=
sin ⁡( α + β )

Setelah α APdan dap diketahui, maka


Xp = Xa + dap sin α AP
Yp = Ya + dap cos α AP
c. Xp dan Yp dicari dari titik B:
Diperlukan α BPdan d BP
Diketahui bahwa α BA a = α AB + 180°. Karena sudut jurusan dan arah yang
berlawanan berselisih 180°, selanjutnya dapat dilihat dari gambar bahwa α BP= (α AB+
β) – 360° = α BP= (α AB+ β) – 180°. Dengan rumus sinus di dalam segitiga ABP didapat
:
d BP d
= AB
sin α sin {¿ ¿
atau
d BP = m sin α

Maka didapatlah :
Xp = Xb + dbp sinα BP
Yp = Yb + dbp cos α BP

2.1.4 Ikatan ke Belakang


Pada penentuan koordinat pada sebuah titik dengan cara ikatan ke belakang
(Resection), alat ukur didirikan dititik yang akan ditentukan posisinya. Selanjutnya
alat ukur digunakan untuk mengamati titik titik tetap yang telah diketahui koordinatya
sehingga titik ikat yang diperlukan tidak cukup 2 buah tetapi minimal 3 buah. Pada
cara pemotongan kebelakang, ada 2 cara perhitungan :
1. Cara Collins
2. Cara Cassini
1. Cara Collins
Titik P diikat kebelakang pada titik A, B, C yang masing-masing telah
diketahui koordinatnya. Collins mengambil penolong dengan membuat lingkaran
melalui A, B dan P. Selanjutnya titik P dihubungkan dengan C, dan garis PC
dimisalkan memotong lingkaran dititik H yg dinamakan, titik penolong Collins. Dari
titik H sebagai titik penolong akan ditentukan sebagai titik yang akan ditentukan
posisi titik yang dicari.

Langkah-Langkah Perhitungan

1. Menentukan α ABdan d AB
α AB adalah sudut-sudut yang di bentuk oleh garis penarikan titik AB dengan garis lurus
yang di tarik dari koordinat A menuju utara, yang di cari dengan rumus :
( X B− X A )
tan α AB=
( Y B−Y A )
d ABadalah jarak yang di bentuk oleh penarikan koordinat A terhadap koordinat B yang
dapat di ketahui dengan rumus
( X B− X A ) ( Y B−Y A )
d AP= =
sin ⁡α AB cos ⁡α AB

2. Menentukan koordinat-koordinat titik penolong


Untuk mencari titik koordinat H dapat dicari dengan 2 cara :
 H dicari dari titik A
Untuk mengihitung koordinat titik H yang di cari dari titik A
diperlukan α AH dan d Ah. α AH merupakan sudut jurusan AH dan d AH
merupakan jarak yang dibentuk oleh garis AH dicari dengan rumus:
α AH = α AB + β

d AB d AH
=
sin α sin {180 °−( α + β ) }

d AH =m sin(α + β)
Jika
d AB
m=
sinα
Xh = Xa + dah sin α AH
Yh = Ya + dah cos α AH

 H dicari dari titik B


Untuk mengihitung koordinat titik H yang dicari dari titik B
diperlukan α BH dan d BH . α BH merupakan sudut jurusan BH dan d BH
merupakan jarak yang dibentuk oleh garis BH dicari dengan rumus:
α BH = α AB + (α+β)

d BH d AB
=
sin β sin α

Xh = Xb + d BH sin α BH
Yh = Yb + d BH cos α BH

_ α adalah besar sudut yang dibentuk garis BA dan PA


merupakan komponen yang bisa mencari koordinat titik P, untuk
mencari besarnya α harus di ketahui α HC
3. Menentukan α HC dan γ
( X C− X B )
tan α HC =
( Y C −Y H )
dengan dicarinya α HC . Maka dapat di hitung besarnya γ
γ =α HC −α HB =α HC −( α BH −180° ) =α HC +180 °−α BH

4. Menentukan koordinat titik P


Koordinat titik P dapat dicari dengan pengikatan terhadap titik A dan
B, dimana perhitungan harus dicari terlebih dahulu sudut-sudut yang terkait
didalamnya.
 Dicari dari titik A diperlukan α AP danα BP
α AP=α AB +γ

d AB d AP
=
sin α sin {180 °−( α +γ ) }

d AP=msin ( α + γ )

Xp = Xa + d AP sin α AP
Yp = Ya + d AP cos α AP
 Dicari dari titik B diperlukan α BP dan d BP
α BP=α AB (α +γ )
d BP d AB
=
sin γ sin α

d BP=msin γ
Xp = Xa + d BP
sin α BP
Yp = Ya + d BP
cos α BP

2. Cara Cassini           
Pada cara cassini diperlukan dua tempat kedudukan untuk menentukan posisi
titik P yang diikat pada titik A, B, dan C. Cassini membuat garis melalui A tegak
lurus AB dan garis ini memotong tempat kedudukan yang melalui A dan B dititik R.
Demikian pula, dibuat garis lurus melalui titik C dari tegak lurus pada BC dititik S.
Selanjutnya hubungan R dan P dan S dengan P. Karena sudut BAR = 90, maka garis
BR menjadi garis setengah lingkaran, hingga sudut BPR = 90 pula. BS juga
merupakan garis tengah lingkaran, sehingga sudut BPS = 90. Karena sudut BPR =
90 dan sudut BPS 90, maka titik R, P, S akan terletak satu garis lurus. Titik - titik R
dan S dinamakan titik penolong cassini.
Rumus umum yang akan digunakan adalah :
( X 2−X 1 ) = d 12 sin α 12
( Y 2−Y 1) = d 12 cos α 12
( X 2− X 1 )
d 12=
sin α 12

( Y 2−Y 1 )
d 12=
cos α 12

( X 2−X 1 ) = ( Y 2−Y 1) tg α 12
( Y 2−Y 1) = ( X 2−X 1 )cotg α 12

( X 2− X 1 )
tan α 12=
( Y 2−Y 1)

Langkah-langkah perhitungan
1) Menentukan koordinat penolong R dan S
Koordinat R
Rumus yang digunakan :
X r=X a+ ( Y b−Y a ) cot α
Y r =Y a + ( X b−X a ) cot β
Koordinat S
X s=X c + ( Y c −Y b ) cot α
Y s =Y c + ( X c − X b ) cot β

2) Menentukan n
( X s −X r )
n=tan α rs=
( Y s −Y r )

3) Menentukan koordinat P
1
(n X b + X +Y b−Y r)
n r
X P=
1
(n+ )
n
1
(n Y b + Y + X b −X r )
n r
Y P=
1
(n+ )
n

2.1.5 Teori pengertian alat


a. Theodolit
Theodolite, adalah alat yang digunakan untuk mengukur besaran sudut datar dari titik
koordinat yang akan dicari terhadap titiktitik lain yang telah diketahui koordinatnya,
penggunaan tersebut khususnya pada pekerjaan pengukuran pengikatan ke belakang. Fungsi
lain dari theodolite adalah menentukan besaran sudut vertikal, karena tidak hanya dapat
digerakan secara horizontal saja, tetapi dapat pula diputar ke arah vertikal. lain halnya pada
alat. datar optis yang hanya dapat diputar arah horizontal saja.
Keunggulan theodolite selain dapat digunakan dalam pengukuran kerangka dasar
vertikal dapat pula digunakan pada pengukuran kerangka dasar horizontal sehingga dapat
digunakan pada daerah bukit dari permukaan bumi, yaitu pada kemiringan 15 % – 45%.
b. Statif
Statif merupakan tempat dudukan alat dan untuk menstabilkan alat seperti Sipat datar.
Alat ini mempunyai 3 kaki yang sama panjang dan bisa dirubah ukuran ketinggiannya. Statif
saat didirikan harus rata karena jika tidak rata dapat mengakibatkan kesalahan saat
pengukuran
c. Rambu Ukur
Rambu ukur dapat terbuat dari kayu, campuran alumunium yang diberi skala
pembacaan. Ukuran lebarnya ± 4 cm, panjang antara 3m-5m pembacaan dilengkapi dengan
angka dari meter, desimeter, sentimeter, dan milimeter.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Lokasi
Kegiatan pengukuran ikatan ke belakang dan ikatan kemuka ini dilaksanakan di
Gedung Riset Centre Institut Teknologi Sepuluh Nopermber Surabaya.

3.2 Waktu
Kegiatan pengukuran ikatan ke belakang dan ikatan kemuka ini dilaksanakan pada, 23
November 2018 . Pengukuran dilakuan dari pukul 09.00-15.00 WIB.

3.3 Sketsa Lapangan


3.3 Alat dan Bahan
1. Theodolite
2. Statif
3. Payung
4. Paku payung
5. Rambu ukur
6. Kompas

3.4 Langkah kerja


3.4.1 Persiapan alat kerja
 Pasang statif dengan dasar atas tetap diatas piket dan sedatar mungkin
 Keraskan skrup kaki statif
 Letakan alat theodolite diatasnya lalu keraskan skrup pengencang alat
 Tancapkan statif dalam-dalam pada tanah, sehingga tidak mudah bergerak
 Pasanglah unting-unting pada skrup pengencang alat.
 Bila ujung unting-unting belum tepat di atas paku, maka geserkan alat dengan
membuka skrup pengencang alat,sehingga ujung unting-unting tepat di atas
paku dan piket.
 Gelembung pada nivo kotak kita ketengahkan dengan menyetel ketiga skrup
penyetel.
 Setelah tahapan di atas telah dilakukan,alat theodolite siap untuk melakukan
pengamatan.
3.4.2 Langkah mengoperasikan Theodolite
 Dengan membuka skrup pengencang lingkaran horizontal dan vertikal arahkan
teropong ke titik yang dibidik denganpertolongan visir secara kasaran,
kemudian skrup-skrup kita kencangkan kembali.
 Fokuskan benang diafragma dengan skrup pengatur benang diafragma
kemudian fokuskan bayangan dari titik yang dibidik dengan
menggesergeserkan lensa okuler.
 Dengan menggunakan skrup penggerak halus horizontal dan vertikal, kita
tepatkan target yang dibidik (skrupskrup pengencang horizontal dan vertikal
harus kencang terlebih dahulu).

3.4.2 Pengukuran di lapangan


Pada pelaksanaan pengukuran di lapangan yang datanya akan diolah dengan
menggunakan metode Cassini sama halnya pada praktek pengukuran metode Collins,
yaitu sebagai berikut. Terdapat 3 titik koordinat yang telah diketahui berapa koordinat
masing-masing. Misalkan titik-titik yang telah diketahui tersebut adalah A, B dan C.
Akan dicari suatu koordinat titik tambahan diluar titik A,B, dan C untuk keperluan
tertentu yang sebelumnya tidak diukur, misalkan titik tersebut adalah titik P. Alat
theodolite dipasang tepat diatas titik P yang akan dicari koordinatnya dengan bantuan
statif. Pasang rambu ukur yang berfungsi sebagai patok tepat pada titik yang telah
diketahui yaitu titik A, B, dan C, sehingga terdapat 3 patok dan 2 ruang antar patok
yaitu ruang AB dan BC. Baca sudut mendatar yang dibentuk oleh titik A, B dan titik
B, C. Sudut yang dibentuk oleh titik A dan B kita sebut sebagai sudut alfa (α)
sedangkan sudut yang dibentuk oleh titik B dan C kita sebut sudut beta (β). Untuk
menghitung titik koordinat dengan menggunakan pengikatan ke belakang cara Collins
data yang diukur di lapangan adalah besarnya sudut α dan sudut β. Koordinat titik A,
B, dan C telah ditentukan dari pengukuran sebelumnya. Sehingga data awal yang
harus tersedia adalah sebagai berikut :
titik koordinat A ( Xa, Ya )
titik koordinat B ( Xb, Yb )
titik koordinat C ( Xc, Yc )

besar sudut α

besar sudut β
3.5 Flowchart Metodologi Praktikum

3.6

Kendala
Praktikum
1.
Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang mengakibatkan susahnya membidik titik objek.
2. Cuaca berangin ketika siang hari sehingga rambu ukur tidak tegak lurus dengan bidikan
alat
3. Karena disekitar lokasi banyak pohon, pengukuran terhalang oleh ranting-ranting pohon.
3.7 Solusi Praktikum
1. Menunggu kendaraan yang melintas, dan melakukan bidikan ke objek setelah tidak ada
kendaraan yang melintas.
2. Menggunakan nivo pada rambu ukur agar rambu ukur tegak lurus dengan titik yang
dibidik
3. Menyingkirkan ranting-ranting pohon tersebut agar antar titik dapat terlihat

BAB IV
ANALISIS DATA

4.1 Intersection
Dengan koordinat di

 Titik A (1000m ; 1000m)


 Titik B (1127,920 m; 1066,971m)

Dengan nilai α = (48° 41’ 05”), nilai β = (63°1 9’ 5”), dan nilai γ = (67°5 9’ 50”),
1. Menghitung nilai azimuth dan menghitung jarak
−1 ∆ X
αAB = tan
∆Y
−1 1127,92−1000
= tan
1066,971−1000
= 62°21’ 53,42”

αAC = αAB – α
=62°21’ 53,42”- 48° 41’ 05”
=13° 40’ 53,42”

dAB = √ ∆ X 2+ ∆ Y 2
=√ ¿ ¿ ¿
= 144,391 m

αBC = αBA – β
=62°21’ 53,42”+ 180° + 63°1 9’ 5”
= 305°41’3,42”
dAB
dAC = sinβ
sin γ
144,391
= 63°1 9’ 5”
sin 67 ° 5 9 ’ 50 ”
= 139, 150 m
2. Mencari koordinat C dari titik A
X c1= X A +dAC sinα ac
=1000+139,150 sin 13° 40 ’ 53,42”
= 1032, 912 m
Y c 1=Y A + dAC cosα ac
= 1135,201 m
3. Mencari koordinat C dari titik B
X c2= X B + dBC sinα BC
= 1127,920 + 116,970 ( sin 305°41’3,42”)
= 1031,911 m

Y c 2=Y B+ dBC cosα BC


= 1066,971 + 116,970 ( cos 305°41’3,42”)
= 1135,202 m
4. Koordinat
X + X c2
X = c1
2
1032,912+1032,911
=
2
= 1032, 9115 m
X c 1 + X c2
Y=
2

1135,201+1135,202
=
2
=1135,2015 m

4.2 Resection
Dengan Koordinat di

 titik A(1161,302 m ; 1020,64 m)


 titik B ( 1153, 149 m ; 946, 16084 m)
 titik C ( 1069,356 m ; 932,64840 m)

dengan nilai α = (137° 4’ 05”) dan nilai β = (18° 9’ 10”)

1. Menghitung koordinat titik R

X r=X A +(Y ¿ ¿ B−Y A ) cotgα ¿


X r = 1161,302 +(946,16084 – 1020, 64) cotg 137° 4’ 05”
X r= 1241,361563 m

Y r =Y A −( X ¿ ¿ B−X A ) cotgα ¿
Y r = 1020,64 – (1153,149-1161,302) cotg 137° 4’ 05”
Y r = 1011,876131 m

2. Menghitung koordinat dari titik S


X S= X C +(Y ¿ ¿ C−Y B) cotgβ ¿
X S = 1069,356 + (932,64840 – 946,16084) cotg 18° 9’ 10”
X S= 1028,143233 m

Y S =Y C −(X ¿ ¿ C− X B ) cotgα ¿
Y S = 932,64840 –(1069, 356- 1153,149) cotg 18° 9’ 10”
Y S = 1188,215967 m

3. Menghitung α RS

X S−¿ X
Tan α RS = R
¿ = n
Y S −Y R
1028,143233 – 1241,361563
=
1188,215967−1011,876131

= -1,209700172
α RS =tan−1x -1,209700172
= -50,4211245

4. Menghitung nilai N
n+1
N=
n

−1,209700172+1
=
−1,209700172

= -2,03635129

5. Menghitung koordinat P dari titik R


1
n X B+ X R +Y B −Y R
n
X P 1=
N
1
−1,209700172(1153,149)+ 1241,361563+ 946,16084−1011,87631
−1,209700172
X P 1=
−2,03635129
= 1221.229829 m

1
Y +n Y R + X B− X R
n B
Y P 1=
N
1
946,16084 +(−1,209700172)1011,87631+1153,149−1241,361563
−1,209700172
Y P 1=
−2,03635129
= 1028,518231 m

6. Menghitung koordinat P dari titik S


1
n X B+ X S+ Y B −Y S
n
X P 2=
N
1
−1,209700172 ( 1153,149 )+ 1028,143233+946,16084−1188,215967
−1,209700172
X P 2=
−2,03635129
= 1221,270336 m

1
Y +n Y S+ X B −X S
n B
Y P 1=
N
1
946,16084 + (−1,209700172 ) 1188,215967+ 1153,149−1028,143233
−1,209700172
Y P 2=
−2,03635129
= 1028,567232 m

7. Nilai Koordinat P
XP1+ X P2
Px=
2
1221.229829 m+1221,270336 m❑
Px=
2
P x= 1221,250083 m

Y P 1−Y P 2
Py=
2
1028,518231 m−1028,567232Y ¿m
Py=
2
Y
y= 1028,542732 m

BAB V
KESIMPULAN

5.5 Kesimpulan
Prinsip dasar pemetaan merupakan pengukuran sudut dan jarak untuk
menentukan posisi dari suatu titik. Jika dua sudut dan satu sisi dari sebuah segitiga diketahui,
maka semua sudut dan jarak dari segitiga tersebut dapat ditentukan. Dengan demikian untuk
mendapatkan koordinat suatu titik dapat dilakukan dengan cara mengukur sudut dan jarak
dari titik yang sudah diketahui koordinatnya. Ada beberapa metode yang biasa digunakan
untuk mengambil titik koordinat, salah satunya dengan menggunakan metode resection dan
intersection.

Dari praktikum yang telah kami laksanakan, pada pengukuran metode resection
dengan koordinat yang diketahui yaitu, titik A(1161,302 m ; 1020,64 m), titik B ( 1153, 149
m ; 946, 16084 m) dan titik C ( 1069,356 m ; 932,64840 m) didapatkan koordinat titik P
( 1221,250083 m ; 1028,542732 m ). Dan pada pengukuran metode intersection dengan
koordinat yang diketahui yaitu, titik A(1000 m ; 1000 m), titik B ( 1127,920 m ; 1066,971 m)
didapatkan koordinat titik C ( 1032,9115 m ; 1135,2015 m )

5.6 Saran
 Memahami terlebih dahulu cara mengoperasikan alat dengan baik dan benar, agar
dapat memudahkan proses pengukuran
 Komunikasi antar anggota sangat diperlukan agar tidak terjadi miskomunikasi
saat pengukuran dan meminimalisir kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, S. (2006). Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada University.

Muda, Iskandar. (2008). Teknik Survei dan Pemetaan Jilid 2.Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan

Anda mungkin juga menyukai