Anda di halaman 1dari 11

BAB III

TINJAUAN KHUSUS
RS MARGA HUSADA (DKT) PATI

A. Sejarah Singkat RS

Pada zaman penjajahan jajaran terdepan tentu angkatan bersenjata (TNI)


sebagai alat negara tentu saja semua bagian dari negeri ini berhak dimiliki TNI,
disitulah awalnya tanah sebelah utara RSU Soewondo dipergunakan TNI-AD sebagai
operasional untuk pelayanan kesehatan ABRI.
Tahun 1973; masih berstatus Rumkit Tingkat 4 (Rumkit IV / 732 ).
Ada rawat inap zal Rumah Sakit berkapasitas 22 TT dan jumlah Personel 4 orang.
Tahun 1986; terjadi perubahan nama dari Rumkit Tingkat IV menjadi
rumkit tingkat Tingkat III (Rumkit III / 732 )
Tahun 1993; terjadi perubahan lagi dari rumkit tingkat III dirampingkan
menjadi Pos Kesehatan Kodim 0718 Pati, satuan Kesehatan terkecil di TNI AD,yang
pada waktu itu Kepala Pos Kesehatan Kodim 0718 Pati dipimpin oleh PNS Irin
Achmad.
Tahun 1994; Pos Kesehatan pindah tempat dari Jln Pati-Tayu ke Jln P
Sudirman No 77A Pati dan Bangunan gedung yang ditempati sekarang dibangunkan
Oleh PEMERINTAH DAERAH KAB.PATI, yang diresmikan pada tanggal, 16
April 1994 dengan nama Pos Kesehatan Kodim 0718 Pati oleh Panglima Kodam
IV/Diponegoro Mayor Jeneral TNI Soeyono.
Yang pada waktu itu dipimpin oleh Letda CKM (K) Dr. Fifi Asjekti dan
dilanjutkan oleh Dr.Eko Yulianto dengan nama Pos Kesehatan 04.10.21 Pati (Rumah
Sakit Marga Husada) (DKT) Pati.
Tahun 2006; Nama Pos Kesehatan 04.10.21 Pati diganti dengan Rumah Sakit
Pembantu 04.08.06 / Pati sampai dengan sekarang.

B. Visi dan Misi RS


Sesuai dengan strategi dan kebutuhan pembangunan sektor Kesehatan
di era desentralisasi ini. Detasemen Kesehatan Wilayah 04.04.03 sudah
menetapkan Visi dan Misi RS MARGA HUSADA (DKT) PATI
1. .Visi
pembangunan kesehatan melalui RS MARGA HUSADA (DKT) PATI
adalah terwujudnya Makodim Sehat.
Makodim Sehat merupakan gambaran Personel TNI, PNS dan
keluarganya masa depan yang hidup di lingkungan yang sehat dan berprilaku
anggotanya yang juga sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang
ada di wilayahnya serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya .
Untuk mewujudkan Visi Makodim Sehat, RS MARGA HUSADA
(DKT) Pati, Denkesyah 04.04.03 memanfaat kapasitas dan potensi RS
MARGA HUSADA (DKT) PATI secara Optimal, sehingga secara bertahap
visi RS MARGA HUSADA (DKT) PATI, Denkesyah 04.04.03 dapat
dikembangkan dan terwujud yaitu :

“TERCAPAINYA MAKODIM SEHAT DENGAN MEMBERIKAN


PELAYANAN KESEHATAN YANG ADIL MERATA DAN BERMUTU
SERTA MENINGKATKAN SISTIM KEWASPADAAN DINI DEMI
TERWUJUDNYA ANGGOTA MAKODIM SEHAT MANDIRI”

2. Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, ada tiga Misi yang harus diemban
RS MARGA HUSADA (DKT) PATI, Denkesyah 04.04.03 :
1. Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan.
2. Memberdayakan Personel TNI, PNS dan Keluarganya Dalam
Pembangunan Kesehatan .
3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu.

 S t r a t e g i:
1. Menjalin kerjasama Lintas Sektor dan Lintas Program
2. Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar Yang bermutu Dan berorientasi
Pada Aspek Promotif, Preventif Tanpa mengesampingkan Aspek Kuratif dan
Rehabilitatif.
3. Meningkatkan Profesionalisme Petugas Klinik Pratama
4. Meningkatkan peran serta Masyarakat (Persit) dalam hal Pelayanan Kesehatan
Dasar.
C. Struktur Organisasi RS
STRUKTUR ORGANISASI
RS MARGA HUSADA (DKT) PATI

D. KEPALA

E.

TUUD/ADMIN

F. UMUM
POLI POLI GIGI INTALASI
FARMASI

LABORATORIUM

D. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis


Pakai
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai di rumah sakit yang menjamin
seluruh rangkaian kegiatan perbekalan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta
memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya. Pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, merupakan suatu
siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan
penarikan, pengendalian, dan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan
pelayanan kefarmasian.
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir, dan
menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan
kendali biaya. Dalam ketentuan pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor
44 Tahun 2009 tentang rumah sakit menyatakan bahwa pengelolaan alat
kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan medis habis pakai di rumah sakit
harus dilakukan oleh instalasi farmasi sistem satu pintu. Alat kesehatan
yang dikelola oleh instalasi farmasi sistem satu pintu berupa alat medis
habis pakai/peralatan non elektromedik, antara lain alat kontrasepsi (IUD),
alat pacu jantung, implant, dan stent.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui instalasi farmasi. Dengan
demikian semua sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai, yang beredar di rumah sakit merupakan tanggung jawaab instalasi
farmasi, sehingga tidak ada pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai di rumah sakit yang dilaksanakan selain oleh
instalasi farmasi. Dengan kebijakan pengelolaan sistem satu pintu,
instalasi farmasi sebagai satu-satunya penyelenggara pelayanan
kefarmasian, sehingga rumah sakit akan mendapatkan manfaat dalam hal:
 Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
 Standarisasi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai.
 Penjaminan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai.
 Pengendalian harga sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai.
 Pemantauan terapi obat.
 Penurunan resiko kesalahan terkait penggunaan sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai (keselamatan pasien).
 Kemudahan akses data sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai yang akurat.
 Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dan citra rumah sakit.
 Peningkatan pendapatan rumah sakit dan peningkatan
kesejahteraan.
Rumah sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen
penggunaan obat yang efektif. Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang
sekurang-kurangnya sekali setahun. Peninjauan ulang sangat
membantu rumah sakit memahami kebutuhan dan prioritas dari
perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat yang
berkelanjutan. Rumah sakit perlu mengembangkan kebijakan
pengelolaan obat untuk meningkatkan keamanan, khususnya obat yang
perlu diwaspadai (high alert medication). High alert medication adalah
obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi
kesalahan/kesalahan serius (sentinel event) dan obat yang beresiko
tinggi menyebabkan reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD).
Kelompok obat high alert diantaranya:
 Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (nama obat
rupa dan dan ucapan mirip/NORUM, atau look alike sound
alike/LASA).
 Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2
meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida
lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat = 50% atau lebih
pekat).
 Obat-obat sitostatika
 Kegiatan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai meliputi:
1. Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan.
2. Perencanaan kebutuhan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan
jumlah dan periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin
terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien.
3. Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk
merealisasikan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus
menjamin ketersediaan, jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang
terjangkau dan sesuai standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang
berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang
dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode
pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak,
pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran.
4. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua
dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik.
5. Penyimpanan
Setelah barang diterima di instalasi farmasi perlu dilakukan
penyimpanan sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus
dapat menjamin kualitas dan keamanan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai sesuai dengan persyaratan kefarmasian.
6. Pendistribusian
Pendistribusian merupakan kegiatan mendistribusikan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di rumah sakit untuk
pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat
jalan serta untuk menunjang pelayanan medis. Tujuan pendistribusian
adalah tersedianya perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan secara tepat
waktu, jenis, dan jumlah.

7. Pemusnahan dan Penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan


bahan medis habis pakai.
Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan
cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh menteri.
1. Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dapat dilakukan oleh instalasi
farmasi harus bersama dengan komite/tim farmasi dan terapi di rumah
sakit. Tujuan pengendalian sediaan farmasi, alat ksesehatan, dan bahan
medis habis pakai adalah untuk memastikan penggunaan obat sesuai
dengan formularium rumah sakit dan diagnosis dan terapi, serta untuk
memastikan persediaan efektif dan efisisen atau tidak terjadi
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai.
8. Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan
untuk memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.

E. Pengelolaan Narkotika RS
Pengelolaan narkotika diatur secara khusus untuk menghindari terjadinya
kemungkinan penyalahgunaan obat tersebut. Pelaksanaan pengelolaan
narkotika di apotek meliputi:
a. Pemesanan narkotika
Pemesanan sediaan narkotika menggunakan Surat Pesanan Narkotik yang
ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Pemesanan
dilakukan ke PT. Kimia Farma Trade and Distribution (satu-satunya PBF
Narkotika yang legal di Indonesia) dengan membuat surat pesanan khusus
narkotika rangkap empat. satu lembar surat pesanan asli dan dua lembar
salinan surat pesanan diserahkan kepada Pedagang Besar Farmasi yang
bersangkutan, sedangkan satu lembar salinan surat pesanan sebagai arsip
di apotek, satu surat pesanan hanya boleh memuat pemesanan satu jenis
obat (item) narkotik, misal pemesanan pethidin satu surat pesanan dan
pemesanan kodein satu surat pemesanan juga, begitu juga untuk item
narkotik lainnya.
b. Penerimaan narkotika
Penerimaan narkotika dari PBF harus diterima oleh APA atau dilakukan
dengan sepengetahuan APA. Apoteker akan menandatangani faktur
tersebut setelah sebelumnya dilakukan pencocokkan dengan surat
pesanan. Pada saat diterima dilakukan pemeriksaan yang meliputi jenis
dan jumlah narkotika yang dipesan.
c. Penyimpanan narkotika
Obat-obat yang termasuk golongan narkotika di apotek disimpan pada
lemari khusus yang terbuat dari kayu (atau bahan lain yang kokoh dan
kuat) yang ditempel pada dinding, memiliki 2 kunci yang berbeda, terdiri
dari 2 pintu, satu untuk pemakaian sehari-hari seperti kodein, dan satu lagi
berisi pethidin dan morfin. Lemari tersebut terletak di tempat yang tidak
diketahui oleh umum, tetapi dapat diawasi langsung oleh Asisten
Apoteker yang bertugas dan penanggung jawab narkotik.
d. Pelayanan narkotika
Apotek hanya boleh melayani resep narkotika dari resep asli atau salinan
resep yang dibuat oleh apotek itu sendiri yang belum diambil sama sekali
atau baru diambil sebagian. Apotek tidak melayani pembelian obat
narkotika tanpa resep atau pengulangan resep yang ditulis oleh apotek
lain. Resep narkotika yang masuk dipisahkan dari resep lainnya dan diberi
garis merah dibawah obat narkotik.
e. Pelaporan narkotika
Pelaporan penggunaan narkotika dilakukan setiap bulan. Laporan
penggunaan obat narkotika dilakukan melalui online SIPNAP (Sistem
Pelaporan Narkotika dan Psikotropika). Asisten Apoteker setiap bulannya
menginput data penggunaan narkotik dan psikotropika melalui SIPNAP
lalu setelah data terinput data tersebut diimport. Laporan meliputi laporan
pemakaian narkotik untuk bulan bersangkutan (meliputi nomor urut, nama
bahan/sediaan, satuan, persediaan awal bulan), password dan username
didapatkan setelah melakukan registrasi pada dinkes setempat.
f. Pemusnahan Narkotik
Prosedur pemusnahan narkotik dilakukan sebagai berikut:
1. APA membuat dan menandatangani surat permohonan pemusnahan
narkotika yang berisi jenis dan jumlah narkotika yang rusak atau tidak
memenuhi syarat.
2. Surat permohonan yang telah ditandatangani oleh APA dikirimkan ke
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. BPOM akan menetapkan
waktu dan tempat pemusnahan.
3. Kemudian dibentuk panitia pemusnahan yang terdiri dari APA,
Asisten Apoteker, Petugas BPOM, dan Kepala Suku Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat.
4. Bila pemusnahan narkotika telah dilaksanakan, dibuat berita acara
pemusnahan yang berisi:
 Hari, tanggal, bulan, tahun, dan tempat dilakukannya
pemusnahan.
 Nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
 Cara pemusnahan.
 Petugas yang melakukan pemusnahan.
 Nama dan tanda tangan apoteker pengelola apotek.
Berita acara tersebut dibuat dengan tembusan:
 Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
 Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI
Jakarta.
 Arsip apotek.

F. Pengelolaan Psikotropika RS
Selain pengelolaan narkotika, pengelolaan psikotropik juga diatur secara
khusus mulai dari pengadaan sampai pemusnahan untuk menghindari
terjadinya kemungkinan penyalahgunaan obat tersebut. Pelaksanaan
pengelolaan psikotropika di apotek meliputi:
a. Pemesanan psikotropika
Pemesanan psikotropika dengan surat pemesanan rangkap dua,
diperbolehkan lebih dari satu item obat dalam satu surat pesanan, boleh
memesan ke berbagai PBF.
b. Penerimaan psikotropika
Penerimaan psikotropika dari PBF harus diterima oleh APA atau
dilakukan dengan sepengetahuan APA. Apoteker akan menandatangani
faktur tersebut setelah sebelumnya dilakukan pencocokkan dengan surat
pesanan. Pada saat diterima dilakukan pemeriksaan yang meliputi jenis
dan jumlah psikotropika yang dipesan.
c. Penyimpanan psikotropika
Penyimpanan obat psikotropika diletakkan dilemari yang terbuat dari kayu
(atau bahan lain yang kokoh dan kuat. Lemari tersebut mempunyai kunci
(tidak harus terkunci) yang harus dipegang oleh asisten apoteker sebagai
penanggung jawab yang diberi kuasa oleh APA.
d. Pelayanan psikotropika
Apotek hanya melayani resep psikotropika dari resep asli atau salinan
resep yang dibuat sendiri oleh apotek itu sendiri yang belum diambil
sama sekali atau baru diambil sebagian. Apotek tidak melayani pembelian
obat psikotropika tanpa resep atau pengulangan resep yang ditulis oleh
apotek lain.
e. Pelaporan psikotropika
Laporan penggunaan obat psikotropika dilakukan melalui online SIPNAP
(Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika). Asisten Apoteker setiap
bulannya menginput data penggunaan psikotropika melalui SIPNAP lalu
setelah data terinput data tersebut diimport. Laporan meliputi laporan
pemakaian psikotropika untuk bulan bersangkutan (meliputi nomor urut,
nama bahan/sediaan, satuan, persediaan awal bulan), password dan
username didapatkan setelah melakukan registrasi pada dinkes setempat.
f. Pemusnahan psikotropika
Tata cara pemusnahan psikotropika sama dengan tata cara pemusnahan
narkotika
1. APA membuat dan menandatangani surat permohonan
pemusnahan narkotika yang berisi jenis dan jumlah narkotika yang
rusak atau tidak memenuhi syarat.
2. Surat permohonan yang telah ditandatangani oleh APA dikirimkan
ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. BPOM akan
menetapkan waktu dan tempat pemusnahan.
3. Kemudian dibentuk panitia pemusnahan yang terdiri dari APA,
Asisten Apoteker, Petugas BPOM, dan Kepala Suku Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
4. Bila pemusnahan narkotika telah dilaksanakan, dibuat berita acara
pemusnahan yang berisi:
 Hari, tanggal, bulan, tahun, dan tempat dilakukannya
pemusnahan.
 Nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
 Cara pemusnahan.
 Petugas yang melakukan pemusnahan.
 Nama dan tanda tangan apoteker pengelola apotek.
Berita acara tersebut dibuat dengan tembusan:
 Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
 Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI
Jakarta.
 Arsip apotek.