Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

PERTUMBUHAN SEL,DIFERENSIASI SEL,DAN KELAINAN


KONGENITAL
Diajukan untuk pemenuhan tugas individu IDK 2
Dosen Pembimbing : Hj.Ns.Murniati Muchtar,S.Kep,SKM,M.Biomed

Disusun oleh:
Yakub Fawzy
NIM:203310718

Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan


Poltekkes Kemenkes RI Padang
Tahun Ajaran 2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kuliah tentang
Pertumbuhan Sel,Diferensiasi Sel,dan Kelainan Konginental ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan di dalamnya.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya.Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Payakumbuh,21 Januari 2021

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................... .2


DAFTAR ISI ....................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................... 4
B. Rumusan Masalah ............................................... 6
C. Tujuan Penulisan ................................................. 6
BAB II PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan sel ................................................ 7
B. Pembelahan sel ................................................ 10
C. Siklus sel .............................................................
a. Pengertian siklus sel ................................... 12
b. Tahapan siklus sel ...................................... 13
D. Diferensiasi sel ....................................................
a. Pengertian diferensiasi ............................... 17
b. Sifat dasar diferensiasi ............................... 18
c. Tahapan diferensiasi ................................... 20
d. Tempat terjadinya diferensiasi ................... 22
e. Faktor penyebab diferensiasi ...................... 23
f. Faktor yang mempengaruhi diferensiasi .... 29
E. Kelainan konginental ..........................................
a. Pengertian kelainan konginental ................ 30
b. Jenis dan gejala kelainan konginental ........ 30
c. Penyebab dan resiko terjadinya .................. 31
d. Pencegahan kelainan konginental .............. 32
e. Pengobatan kelainan konginental ............... 33
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................... 35
B. Saran ............................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 37

3
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sel merupakan dasar dari sebuah kehidupan. Sel merupakan struktur organisme terkecil
dari mahkluk hidup dan lebih sederhana dari kita bayangkan. Dari masa ke masa
dilakukan penelitian dan penemuan tentang sel. Dimulai dari penemuan Robert Hook
dengan sel gabusnya pada tahun 1665 sampai sekarang pun masih dilakukan penelitian
bahkan sudah mencapai tahap genetic. Sel memiliki ukuran yang sangat kecil dan tak
kasat mata. Ada yang hanya 1-10 mikron, ada yang mncapai 30-40 mikron, bahkan ada
yang beberapa sentimeter. Didalam ukuran sangat kecil bentuk yang bermacam-macam
tersebut, sel memilki bagian-bagian sel yang memiliki fungsi masing-masing. Antar
bagian sel itu melakukan interaksi dan saling ketergantungan. Oleh karena itu sel di
pandang dasar kehidupan mahkluk hidup. Dalam pembagiannya sel terdiri dari Eukariot (
eu=sejati, karyon=inti ) yang memiliki membrane inti dan Prokariot ( pro=sebelum,
karyon=inti ) yang tidak memiliki membrane inti dan pada umumnya mahkluk hidup
uniseluler.
Pertumbuhan merupakan sifat dasar dari sel yang hidup dan sel memiliki kemampuan
mengendalikan pertumbuhannya. Organisme yang sudah dewasa tidak lagi mengadakan
pertumbuhan karena pertumbuhan sel sudah berada dalam keadaan seimbang di mana
sel-sel lama yang telah mati telah tergantikan oleh sel baru. Dalam keadaan tertentu
misalnya ada luka pada jaringan tubuh, akan terjadi lagi pertumbuhan yang bersifat lokal
yang akan berhenti dengan sendirinya apabila jaringan tersebut sudah mengalami
penyembuhan.
Dalam masa pertumbuhan, tubuh kita bertambah besar dan tinggi. Begitu puladengan
hewan dan tumbuhan. Mengapa dalam pertumbuhan tubuh makhluk hidupdapat
bertambah besar dan tinggi? Sel-sel penyusun makhluk hidup mengalami pembelahan
sehingga bertambah banyak. Pembelahan sel juga tidak hanya terjadi padasaat
pertumbuhan. Ketika sel-sel dalam jaringan tubuh kita rusak, misalnya ketikakulit
terluka, sel-sel pada jaringan tersebut juga akan melakukan pembelahan untuk
memperbaiki jaringan yang rusak. Sel yang membelah disebut sebagai sel induk dan

4
turunannya disebut selanakan. Sel induk memiliki sejumlah kromosom yang berisi
informasi genetik. Pada pembelahan sel, sel induk memindahkan salinan informasi
genetik yang terdapat didalam kromosom kepada sel anakan yang menjadi sel generasi
berikutnya. Dari pembelahan ini kita memperoleh penurunan sifat-sifat dari kedua orang
tua kita.Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Sifat-sifat tampak merupakan
penurunandari sifat induknya
Setiap sel berasal dari sel hidup lainnya. Siklus sel merupakan tahapan dimana terjadinya
proses pembelahan dan penduplikasian berbagai materi yang ada didalam sel,
pembelahan dan penduplikasian merupakan konsep terpenting yang dapat mendasari
proses reproduksi pada berbagai organisme. Pada setiap organisme multiseluler
dibutuhkan pembelahan sel yang panjang dan rumit untuk memproduksi organisme yang
baru, berbeda dengan organisme uniseluler dalam setiap pembelahan selnya
menghasilkan organisme fungsional yang baru (Nurfathurohmi dkk, 2014). Siklus sel
terbagi menjadi dua bagian yaitu berdasarkan aktivitas seluler yang dilakukan yaitu fase
mitosi dan interfase, interfase merupakan tahapan persiapan sel untuk mengalami
pembelahan. Terdapat tiga fase dari pembelahan interfase yaitu Fase Gap 1 (fase
pertumbuhan pertama), Sintesis, dan Gap 2 (fase pertumbuhan kedua) (Suryo, 1995).
Kelainan kongenital adalah penyebab utama kematian bayi di negara maju maupun
negara berkembang.1 Kelainan kongenital pada bayi baru lahir dapat berupa satu jenis
kelainan saja atau dapat pula berupa beberapa kelainan kongenital secara bersamaan
sebagai kelainan kongenital multipel. Kadang- kadang suatu kelainan kongenital belum
ditemukan atau belum terlihat pada waktu bayi lahir, tetapi baru ditemukan beberapa
waktu setelah kelahiran bayi. Sebaliknya dengan kemajuan teknologi kedokteran,
kadang-kadang suatu kelainan kongenital telah diketahui selama kehidupan fetus. Bila
ditemukan satu kelainan kongenital besar pada bayi baru lahir, perlu kewaspadaan
kemungkian adanya kelainan kongenital ditempat lain. Dikatakan bahwa bila ditemukan
dua atau lebih kelainan kongenital kecil, kemungkinan ditemukannya kelainan kongenital
besar di tempat lain sebesar 15% sedangkan bila ditemukan tiga atau lebih kelainan
kongenital kecil, kemungkinan ditemukan kelainan kongenital besar sebesar 90%.

5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu pertumbuhan sel ?
2. Apa itu pembelahan sel ?
3. Apa itu siklus sel dan bagaimana penjelasannya ?
4. Apa itu diferensiasi sel dan penjelasannya ?
5. apa itu kelainan konginental dan bagaimana penjelasannya ?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas didapatkan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui apa itu pertumbuhan sel
2. Mengetahui apa itu pembelahan sel
3. Mengetahui apa itu siklus sel dan penjelasan mengenai siklus sel
4. Mengetahui apa itu diferensiasi sel dan penjelasannya
5. Mengetahui apa itu kelainan konginental dan penjelasannya

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Sel
Pertumbuhan sel mengacu pada peningkatan total massa dari sel , termasuk
kedua sitoplasma , nuklir dan organel volume. Pertumbuhan sel terjadi ketika tingkat
keseluruhan biosintesis seluler (produksi biomolekul atau anabolisme) lebih besar
daripada tingkat keseluruhan degradasi sel
(penghancuran biomolekul melalui proteasom , lisosom atau autofagi , atau
katabolisme).

Pertumbuhan sel tidak sama dengan pembelahan sel atau siklus sel , yang merupakan
proses berbeda yang dapat terjadi bersamaan dengan pertumbuhan sel selama
proses proliferasi sel , di mana sel, yang dikenal sebagai "sel induk", tumbuh dan
membelah untuk menghasilkan dua " sel anak ". Yang penting,
pertumbuhan sel dan pembelahan sel juga dapat terjadi secara independen satu sama
lain. Selama awal perkembangan embrio ( pembelahan dari zigot untuk
membentuk morula dan blastoderm ), pembelahan selterjadi berulang kali tanpa
pertumbuhan sel. Sebaliknya, beberapa sel dapat tumbuh tanpa pembelahan sel atau tanpa
perkembangan siklus sel , seperti pertumbuhan neuron selama
pencarian jalur aksonal dalam perkembangan sistem saraf .

7
Pembelahan sel tanpa pertumbuhan sel selama pembelahan embrio

Pada organisme multisel , pertumbuhan jaringan jarang terjadi hanya melalui


pertumbuhan sel tanpa pembelahan sel , tetapi paling sering terjadi melalui proliferasi
sel . Ini karena satu sel dengan hanya satu salinan genom dalam inti sel dapat
melakukan biosintesis dan dengan demikian mengalami pertumbuhan sel hanya dengan
setengah kecepatan dua sel. Oleh karena itu, dua sel tumbuh (mengakumulasi massa) dua
kali kecepatan sel tunggal, dan empat sel tumbuh dengan kecepatan 4 kali lipat kecepatan
sel tunggal. Prinsip ini mengarah pada peningkatan pertumbuhan jaringan secara
eksponensiallaju (akumulasi massa) selama proliferasi sel,
karena peningkatan eksponensial dalam jumlah sel.
Ukuran sel bergantung pada pertumbuhan sel dan pembelahan sel , dengan peningkatan
yang tidak proporsional dalam laju pertumbuhan sel yang mengarah ke produksi sel yang
lebih besar dan peningkatan yang tidak proporsional dalam laju pembelahan sel yang
mengarah ke produksi banyak sel yang lebih kecil. Proliferasi sel biasanya melibatkan
pertumbuhan sel yang seimbang dan kecepatan pembelahan sel yang mempertahankan
ukuran sel yang kira-kira konstan dalam populasi sel yang berkembang biak secara
eksponensial.
Beberapa sel khusus dapat tumbuh menjadi ukuran yang sangat besar melalui siklus sel
" endoreplikasi " yang tidak biasa di mana genom direplikasi selama fase S tetapi tidak
ada mitosis berikutnya ( fase M ) atau pembelahan sel

8
( sitokinesis ). Sel endoreplikasi besar ini memiliki banyak salinan genom , sehingga
sangat poliploid .
Oosit bisa menjadi sel yang sangat besar pada spesies yang perkembangan embrioniknya
terjadi jauh dari tubuh ibu di dalam telur yang diletakkan di luar. Ukuran besar beberapa
telur dapat dicapai baik dengan memompa komponen sitosol dari sel yang berdekatan
melalui jembatan sitoplasma bernama kanal cincin ( Drosophila ) atau dengan
internalisasi butiran penyimpan nutrisi (butiran kuning telur) oleh endositosis ( katak ).

Pengendalian pertumbuhan sel


Sel dapat tumbuh dengan meningkatkan laju total biosintesisseluler sehingga
produksibiomolekul melebihi laju total degradasi sel biomolekul melalui proteasom ,
lisosom atau autofagi .

Biosintesis dari biomolekul diawali dengan ekspresi gen yang mengkodekan RNA dan /
atau protein , termasuk enzim yang mengkatalisis sintesis dari lipid dan karbohidrat .

Genindividu umumnyadiekspresikan melalui transkripsi menjadi messenger RNA


(mRNA) dan terjemahan menjadi protein , dan ekspresi setiap gen terjadi ke berbagai
tingkat yang berbeda dalam mode spesifik sel (sebagai respons terhadap jaringan regulasi
gen ).

Untuk mendorong pertumbuhan sel, laju global ekspresi dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan lajutranskripsitotal olehRNA polimerase II(untuk gen aktif) atau laju total
terjemahanmRNA menjadi protein dengan meningkatkan kelimpahan ribosom dan tRNA
, yang biogenesisnya tergantung pada RNA polimerase I dan RNA polimerase III . The
Myc faktor transkripsi adalah contoh dari pengatur protein yang dapat menginduksi
aktivitas total RNA polimerase I , RNA polimerase II dan RNA polimerase III untuk
mendorong transkripsi dan translasiglobal dan dengan demikian pertumbuhan sel.

Selain itu, aktivitas ribosomindividu dapat ditingkatkan untuk meningkatkan efisiensi


terjemahan globalmRNA regulasi faktor inisiasi translasi, termasuk kompleks ‘faktor

9
inisiasi perpanjangan translasi 4E’ ( eIF4E ), yang mengikat dan membatasi ujung 5 ‘dari
mRNA . Protein TOR , bagian dari kompleks TORC1 , merupakan pengatur hulu yang
penting untuk inisiasi translasi serta biogenesis ribosom . [5] TOR adalah serin / treonin
kinase yang dapat secara langsung memfosforilasi dan mematikan inhibitor umum eIF4E
, bernama 4E-binding protein (4E-BP) , untuk meningkatkan efisiensi penerjemahan.
TOR juga secara langsung memfosforilasi dan mengaktifkan protein ribosom S6-kinase (
S6K ), yang mendorong biogenesis ribosom .

Untuk menghambat pertumbuhan sel, laju global ekspresi gen dapat diturunkan atau laju
degradasi globalbiomolekulerDapat ditingkatkan dengan meningkatkan lajuautofagi .
TOR biasanya secara langsung menghambat fungsi autophagy yang menginduksi kinase
Atg1 / ULK1. Dengan demikian, kurangi aktivitasTOR akan mengurangi laju
penerjemahanglobal dan meningkatkan tingkatautofagi untuk mengurangi pertumbuhan
sel

B. Pembelahan Sel
Reproduksi sel bersifat aseksual . Untuk sebagian besar konstituen sel, pertumbuhan
adalah proses yang stabil dan berkelanjutan, hanya terputus sebentar pada fase M ketika
inti dan kemudian sel membelah menjadi dua.
Proses pembelahan sel, disebut siklus sel , memiliki empat bagian utama yang disebut
fase. Bagian pertama yang disebut fase G1 ditandai dengan sintesis berbagai enzim yang
diperlukan untuk replikasi DNA. Bagian kedua dari siklus sel adalah fase S , di
mana replikasi DNA menghasilkan dua set kromosom yang identik . Bagian ketiga
adalah fase G2 di mana terjadi sintesis protein yang signifikan , terutama yang
melibatkan produksi mikrotubulus yang diperlukan selama proses pembelahan, yang
disebut mitosis . Fase keempat,Fase M , terdiri dari pembelahan inti ( kariokinesis ) dan
pembelahan sitoplasma ( sitokinesis ), disertai dengan pembentukan membran
sel baru . Ini adalah pembagian fisik sel "ibu" dan "anak". Fase M telah dipecah menjadi
beberapa fase berbeda, yang secara berurutan dikenal
sebagai profase , prometafase , metafase , anafase , dan telofase yang mengarah ke
sitokinesis.

10
Pembelahan sel lebih kompleks pada eukariota daripada organisme
lain. Sel prokariotik seperti sel bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner , suatu
proses yang mencakup replikasi DNA, segregasi kromosom, dan sitokinesis. Pembelahan
sel eukariotik melibatkan mitosis atau proses yang lebih kompleks yang
disebut meiosis . Mitosis dan meiosis kadang-kadang disebut sebagai dua proses
"pembelahan inti ". Pembelahan biner mirip dengan reproduksi sel eukariota yang
melibatkan mitosis. Keduanya mengarah pada produksi dua sel anak dengan jumlah
kromosom yang sama dengan sel induk. Meiosis digunakan untuk proses reproduksi sel
khusus diploidorganisme. Ini menghasilkan empat sel anak khusus ( gamet ) yang
memiliki setengah jumlah sel normal DNA. Sebuah laki-laki dan perempuan gamet
kemudian dapat bergabung untuk menghasilkan zigot , sel yang lagi memiliki jumlah
kromosom normal.
Tiga jenis reproduksi sel yang melibatkan pembelahan biner, mitosis, atau
meiosis. Diagram di bawah ini menggambarkan persamaan dan perbedaan dari ketiga
jenis reproduksi sel ini.

Perbandingan dari tiga jenis pembelahan sel


Konten DNA sel diduplikasi pada awal proses reproduksi sel. Sebelum replikasi DNA ,
kandungan DNA suatu sel dapat direpresentasikan sebagai jumlah Z (sel memiliki
kromosom Z). Setelah proses replikasi DNA, jumlah DNA di dalam sel
adalah 2Z (perkalian: 2 x Z = 2Z). Selama pembelahan biner dan mitosis, duplikat
kandungan DNA dari sel induk yang bereproduksi dipisahkan menjadi dua bagian yang
sama yang ditakdirkan untuk berakhir di dua sel anak. Bagian terakhir dari proses
reproduksi sel adalah pembelahan sel , ketika sel anak secara fisik terpisah dari sel

11
induk. Selama meiosis, ada dua langkah pembelahan sel yang bersama-sama
menghasilkan empat sel anak.
Setelah selesainya pembelahan biner atau reproduksi sel yang melibatkan mitosis, setiap
sel anak memiliki jumlah DNA ( Z ) yang sama seperti yang dimiliki sel induk sebelum
mereplikasi DNA-nya. Kedua jenis reproduksi sel ini menghasilkan dua sel anak yang
memiliki jumlah kromosom yang sama dengan sel induk. Kromosom menggandakan
sebelum pembelahan sel saat membentuk sel kulit baru untuk reproduksi. Setelah
reproduksi sel meiosis, keempat sel anak memiliki setengah jumlah kromosom yang
semula dimiliki sel induk. Ini adalah haploid jumlah DNA, sering disimbolkan
sebagai N . Meiosis digunakan oleh diploidorganisme untuk menghasilkan gamet
haploid. Dalam organisme diploid seperti organisme manusia, sebagian besar sel tubuh
memiliki jumlah DNA diploid, 2N . Menggunakan notasi ini untuk menghitung
kromosom, kami mengatakan bahwa sel somatik manusia memiliki 46 kromosom (2N =
46) sedangkan sperma dan telur manusia memiliki 23 kromosom (N = 23). Manusia
memiliki 23 jenis kromosom yang berbeda, 22 autosom dan kategori khusus kromosom
seks. Ada dua kromosom seks yang berbeda, kromosom X dan kromosom Y. Sel manusia
diploid memiliki 23 kromosom dari ayah orang itu dan 23 dari ibu. Artinya, tubuh Anda
memiliki dua salinan kromosom manusia nomor 2, satu dari masing-masing orang tua.
Segera setelah replikasi DNA, sel manusia akan memiliki 46 "kromosom ganda". Di
setiap kromosom ganda ada dua salinan molekul DNA kromosom itu. Selama mitosis,
kromosom ganda dipisahkan untuk menghasilkan 92 "kromosom tunggal", setengahnya
masuk ke setiap sel anak. Selama meiosis, ada dua langkah pemisahan kromosom yang
memastikan bahwa masing-masing dari empat sel anak mendapat satu salinan dari
masing-masing 23 jenis kromosom.

C. Siklus Sel
a. Pengertian
Siklus sel adalah siklus kehidupan sebuah sel. Siklus ini bertujuan untuk perkembangan
dan pertumbuhan dari sel itu sendiri. Siklus sel diawali dengan pembelahan sebuah sel
induk (mother cell) dan diakhiri dengan terbentuknya sel anak (daughter cells) atau
kematian sel.

12
b. Tahapan Siklus Sel
Sebelum siklus dimulai, ada syarat yang harus dipenuhi oleh suatu sel. Sel tersebut
haruslah tumbuh, menyalin DNA-nya, dan membagi dirinya menjadi dua. Tahapan siklus
sel dibagi menjadi dua fase utama yakni interfase dan mitosis. Pada fase interfase, terjadi
pertumbuhan sel dan penyalinan DNA. Sedangkan pada fase mitosis terjadilah pembagian
sel jadi dua dan dibagilah sitoplasmanya lalu terbentuklah dua buah sel hasil pembelahan
tadi.

1. Interfase
Ini adalah awal dari terjadinya pembelahan. Di dalamnya ada fase-fase yang harus
dilewati sebagaimana digambarkan di atas itu.
• Fase G1.
Di dalam Fase yang juga dikenal sebagai gap pertama ini, sel tumbuh membesar,
organel disalin, dan terbentuk dinding molekuler.
• Fase S.
Pada fase ini, sel mensintesiskan salinan DNA dalam nukleusnya. Sel juga
menduplikat struktur pengorganisasian mikrotubulus yang dinamai centrosom.
Centrosom membantu memisahkan DNA selama fase M nantinya.
• Fase G2.
Fase ini ditandai dengan semakin besarnya sel. Pada fase ini juga terbentuklah
protein serta organel. Setelah semua beres, fase mitosis siap dimulai.
2. Fase Mitosis
Sepanjang terjadinya fase ini, sel membagi DNA dan sitoplasma yang sebelumnya
telah disalin menjadi dua bagian dan membelah dirinya. Di dalam fase miosis ini
ada empat tahapan yang terjadi. Tahapan tersebut diawali dengan profase,
metafase, anafase, dan diakhiri dengan telofase.
Mitosis adalah fase dimana sel melakukan proses pembelahan.

13
Fase mitosis dibagi menjadi 4 fase yaitu:

1. Profase

Pada awal profase, sentrosom mengalami replikasi, sehingga menghasilkan


dua sentrosom. Kemudian, setiap sentrosom akan bergerak ke kutub-kutub
inti sel yang letaknya berlawanan.

Di saat yang bersamaan, mikrotubulus mulai terlihat di antara dua


sentrosom. Mikrotubulus ini merupakan serat protein panjang yang memanjang
dari sentriol ke segala arah. Lama-kelamaan, mikrotubulus akan membentuk
seperti gulungan benang yang bisa kita sebut dengan benang-benang spindel.

Di tahap ini juga, benang-benang kromatin mulai mengalami penebalan yang


kemudian membentuk kromosom. kromosom ini terdiri dari dua kromatid
identik yang terikat pada sentromer (kepala kromosom). Setiap sentromer
memiliki dua kinetokor yang merupakan formasi protein dan menjadi tempat
melekatnya benang-benang spindel nantinya.

Di akhir tahap profase, nukleus dan membran inti sel mulai menghilang.
Selain itu, sentrosom telah sampai di kutubnya masing-masing. Benang-
benang spindel pun akan membentang dari kutub satu ke kutub yang lain.
Benang spindel ini nantinya akan berperan untuk menarik kromosom ke bagian
tengah inti sel di tahap selanjutnya.

14
2. Metaphase

Pada tahap ini, nukleus dan membran inti sel sudah tidak terlihat. Masing-
masing kinetokor pada sentromer dihubungkan ke satu sentrosom oleh benang-
benang spindel. Kemudian, pasangan kromatid bergerak ke bagian tengah
inti sel (bidang ekuator) dan membentuk lempeng metafase.

Posisi kromosom yang terletak pada bagian tengah inti sel ini membuat jumlah
kromosom dapat dihitung dengan tepat dan bentuk kromosom juga dapat diamati
dengan jelas.

3. Anafase

15
Tahap anafase ditandai dengan pemisahan kromatid dari bagian
sentromer yang kemudian membentuk kromosom baru. Masing-masing
kromosom ditarik oleh benang-benang spindel menuju kutub yang
berlawanan. Jumlah kromosom yang menuju ke kutub yang satu akan sama
dengan jumlah kromosom yang menuju ke kutub lainnya.

Pada tahap akhir anafase, kromosom hampir sampai ke kutubnya masing-


masing. Selain itu, sitokinesis juga mulai terjadi. Sitokinesis merupakan fase
pembelahan atau pemisahan sitoplasma, organel, dan membran selular.
Pembelahan ini dimulai dari pinggir sel (membran sel) menuju ke bagian tengah
sel, sehingga akan menghasilkan dua sel yang disebut sel anak.

4. Telofase

Pada tahap ini, kromosom telah sampai di kutubnya masing-


masing. Benang-benang spindel mulai menghilang dan membran inti sel
juga mulai terbentuk di antara dua kelompok kromosom yang terpisah.
Kromosom semakin lama akan menipis dan berubah menjadi benang-benang
kromatin kembali.

Kemudian, sitokinesis telah selesai. Sel telah membelah dan menghasilkan dua
sel anak dengan kromosom diploid (2n). Kalau kita lihat proses pembelahan
mitosis ini secara keseluruhan.

16
Setelah semua proses berakhir, sel-sel yang baru terbentuk tadi akan memulai siklus
barunya sendiri. Siklusnya sama dengan siklus yang dialami oleh induk sel mereka.
Begitu seterusnya sampai akhirnya makhluk hidup bersangkutan mengalami kematian.
Pada saat itulah siklus sel juga akan menemui akhirnya.
Panjangnya waktu siklus sel berbeda-beda antara satu makhluk hidup dengan makhluk
hidup lain. Pada manusia, lazimnya siklus sel berlangsung selama 24 jam. Pada binatang
yang lebih kecil bahkan bisa hanya memakan waktu selama 9 jam saja.

D. Diferensiasi Sel
a. Pengertian
Diferensiasi merupakan sebuah proses umum dalam sel induk dewasa yang membelah
dan berdiferensiasi menjadi sel anak yang lebih khusus. Ada berbagai jenis sel dalam
tubuh manusia. Dalam sebuah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel
yang membentuk tubuh dikenal sebagai sel pluripotent. Sel-sel ini dikenal sebagai sel
embrionik pada hewan dan mamalia, sebuah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi
hampir semua jenis tipe sel, termasuk sel-sel plasenta dikenal sebagai sel totipoten.

17
Proses yang menyebabkan sekumpulan sel menjadi berbeda-beda dalam dalam
struktur, fungsi dan prilaku. Diferensiasi berlangsung waktu embrio, berkat
diferensiasi suatu indifidu bentuk definitif jadi terdiri atas berbagi macam jaringan.
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur, fungsi dan prilaku
sama. Jaringan berasosiasi membantuk sistem.Seluruh sistem berhimpun membina
tubuh suatu organisme.
Diferensiasi terjadi pada seluruh mahluk hidup. Dengan diferensiasi terjadilah
pembagian aktifitas tubuh, sehingga menjadi efektif. Pada makalah ini, kita akan
membahas tentang sifat dasar diferensiasi sel, tempat diferensiasi, faktor diferensiasi,
dan apa saja yang mempengaruhi proses diferensiasi sel.

b. Sifat dasar diferensiasi


Diferensiasi merupakan proses tumbuh dan berkembangnya sel ke arah fungsi khusus
yang tidak dimiliki oleh sel asal. Diferensiasi berlangsung sewaktu embrio, berkat
diferensiasi suatu individu bentuk definitive jadi terdiri atas berbagai macam jaringan.
Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur, fungsi, dan prilaku
sama.Jaringan berasosiasi membentuk alat, dan alat berasosiasi pula membentuk
sistem.Seluruh sistem berhimpun membina tubuh suatu organisme.Proses diferensiasi
adalah proses terbentuknya sifat-sifat yang baru atau menghilangnya sifat yang tidak
ada sehingga sel mendapat sifat dan struktur yang baru. Jadi diferensiasi menekankan
pada perubahan kualitatif.Dengan adanya diferensiasi perbedaan struktur dan sifat-
sifat pada sel, jaringan dan organ.
Diferensisasi dikatakan dapat terjadi jika ada perubahan nyata pada morfologi sel
(misalnya pembentukan sel epitel kulit dari sel ektodermal) atau perubahan fungsi
yang khusus dari sel. Sel-sel yang mempunyai berbagai variasi diferensiasi dapat
mempunyai karakteristik pertumbuhan yang berbeda.Variasi diferensiasi juga
mempengaruhi kemampuan beberapa sel untuk berpindah dengan memperhatikan

18
yang lainnya. Jadi, perkembangan embriologis yang normal memerlukan kordinasi
yang tinggi dari proses diferensiasi, tumbuhan, dan perpindahan sel yang
secarakeseluruhan membentuk morfogenesis (proses pembentukan/perkembangan
struktur, ukuran, dan bentuk organ.
Diferensiasi mutlak perlu bagi mahluk multiseluler komplek dengan diferensiasi itu
akan terjadi pembagian pekerjaan atau aktivitas tubuh, sehingga menjadi efektif.
Sebenarnya diferensiasi ada pada seluruh mahluk, bahkan pada mahluk uniseluler
seperti pada amoeba, dalam selnya sudah ada pembagian tugas dan sudah memiliki
organel.Contoh organel pada amoeba ialah seperti vakuola makanan untuk tugas
mencerna makanan, vakuola berdenyut untuk tugas membuang ampas metabolisme
atau osmoregulator, pseudopodia untuk pergerakan pindah, dan inti untuk control
aktifitas sel.
Selama diferensiasi, sel mendapat sifat-sifat dari, misalnya terbentuk aktin dan miosin
pada sel otot atau terjadinya perubahan pada susunan kimianya.Misalnya, dengan
adanya enzim.Pada diferensiasi juga ada struktur atau sifat yang menghilang, misalnya
pada diferensiasi sel darah mamalia.Mula-mula bakal sel darah merah mengandung
nukleus tetapi setelah mengalami diferensiasi terbentuk sel darah merah yang tidak
mengandungnukleus.
Hasil proses diferensiasi secara internal, yaitu pertumbuhan anda terbentuknya
macam-macam jaringan dan organ yang dipengaruhi faktor lingkungan. Membentuk
suatu struktur tubuh yang baru disebut morfogenesis. Perkembangan dan diferensiasi
dikontrol oleh DNA (gen) pada nucleolus.
Sel induk bersifat totipotent atau pluripotent.Artinya memiliki sel-sel anak potensi
yang lengkap dan banyak bermitosis terus dan berdiferensiasi ke segala arah untuk
aktfitas kehidupan.Dengan diferensiasi potensi sel anak menciut dan khas untuk suatu
aktifitas khusus, disebut unipoten. Artinya potensi sel itu hanya tunggal: untuk
bernafas, atau untuk mencerna, sekresi zat A, pergerakan dan sebagainya.
Dengan diferensiasi terjadilah spesialisasi bagi berbagai populasi sel anak.Spesialisasi
itu terjadi baik intra maupun ekstraseseluler. Spesialisasi intra ialah:

19
1. Sel otot mengandung mikrofilamen aktin dan myosin yang banyak dan tersusun
berjajar rapat, disertai dengan banyaknya mitokondria yang perlu untuk sumber
energi bagi proses berkerut-kerut.
2. Sel kelenjar penghasil enzim mengandung retikulum endoplasma kasar yang
banyak dan alat golgi yang besar.
3. Sel epitel kulit mengandung retikulum endoplasma banyak dan giat memeroduksi
serat keratin.
4. Sel saraf memiliki bentuk khas, yaitu panjang halus seperti serat dan mampu
mengalirkan rangsangan listrik maupun kimia, pada ujung serabut dihasilkan cairan
kimia. Pada ujung serabut dihasilkan cairan kimia yang disebut neurotransmitter.

Sepesialisasi ekstra ialah seperti pembentukan serat ekstraseluler oleh sel-sel fibroblast
pada jaringan pengikat dan menunjang, lalu pembentukan bahan matriks (kandung),
yang bagi sejenis jaringan dan populasi sel adalah khas.

c. Tahap difrensiasi
Dalam diferensiasi terjadi kedalam beberapa tahapan yaitu pada tingkat pertumbuhan
embrio.Seperti zigot, blastula, grastula, tubulasi, organogenesis.
• Zigot
Zigot adalah ovum yang fertilisasi dibuahi spermatozon. Bagian atas ovum
Amphioxus, disebut kutub animal terdapat daerah ooplas (sitoplasma ovum) yang
nantinya akan menjadi bakal ektoderm. Bagian bawah kutub ovum disebut kutub
vegetal ooplas yang akan menjadi bakal mesoderm. Sedangkan bagian samping antara
kedua kutub akan menjadi bakal endoderm. Eksoderm bakal tumbuh menjadi
epidermis dan saraf.Endoderm bakal menjadi lapisan lendir saluran pencernaan
bersama kelnjar dan paru, mesoderm bakal menjadi jaringan pengikat, penunjang, otot,
alat dalam.
• Blastula
Terjadi pada tingkat pertumbuhan embrio, terbentuk daerah kelompok sel yang akan
menjadi jaringan utama tubuh. Setelah berdiferensiasi, pupolasi sel menjadi epidermis,
saraf, notokord (sumbu penyokong primer), mesoderm.Diferensiasi mulai terjadi pada

20
kelompok sel. Blastomer (sel blastula) sebelah bakal jadi endoderm, sebelah atas bakal
jadi ektoderm, dan bagian tengah bakal menjadi mesoderm.
• Gastrula
Pada tingkat gastrula, embrio sudah mengandung 3 lapis benih yang terdiri dari sel-sel
yang tersusun di daerah tertuntu tubuh, yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm.Pada
tingkat grastula, baru berupa daerah sel sedangkan pada tingkat gastrula sudah
membentuk lapisan yang sangat jelas.Diferensiasi berlanjut dengan terbentuknya 3
lapis benih yaitu ektoderm sebelah luar, endoderm sebelah dalam dan mesoderm di
tengah.
• Tubulasi
Pada tingkat tubulasi, ketiga lapis benih, sudah berupa bumbung sehingga merupakan
bumbung epidermis yang melingkup seluruh permukaan tubuh. Bumbung saraf bagian
depan, bakal jadi otak dan yang belakang bakal bakal jadi batang saraf punggung.
Bumbung endoderm menjadi lapisan lendir saluran pencernaan, dan bumbung
mesoderm akan membentuk otot, alat dalam dan rongga tubuh. Diferensiasi makin
rinci pada tingkat tabulasi.Lapisan ektoderm membentuk bumbung epidermis/kulit dan
bumbung saraf, lapisan endoderm membentuk bumbung saluran pencernaan, dan
lapisan mesoderm membentuk berbagi bumbung dan saluran pada berbagi alat dalam.
• Organogenesis
Pada tingkat organogenesis, diferensiasi lebih rinci lagi, di sini sudah terbentuk
seluruh macam jaringan dan alat tubuh secara lengkap, sehingga pada saat kelahiran
anak sudah dalam bentuk yang tetap.Pada beberapa Vertebrata rendah, seperti ikan dan
amfibi masih ada tingkat berudu, sebagai bentuk tetap.
Bumbung mengalalami diferensiasi lagi berbentuk berbagai alat.Bumbung saraf
membentuk bagian-bagian otak dengan kuncup indera.Bumbung endoterm
berdiferensiasi membentuk saluran pencernaan dan saluran pernapasaan termasuk
kelenjar hati dan pankreas. Bumbung mesoderm berdiferensiasi membentuk otot ,
tulang, ginjal, gonad, jaringan pengikat, serta darah bersama pembuluh dan jantung.

21
d. Tempat terjadinya diferensiasi
Diferensiasi terjadi pada tiga tempat, yaitu intra dan ekstrasel, populasi sel serta
jaringan dan alat.
• Diferensiasi intrasel dan ekstrasel
Diferensiasi intrasel terjadi pada organel.Untuk menjadi sel otot terjadi spesialisasi
pada mikrotubul dan mikrofilamen, juga makin banyak terbentuknya mitokondria
dibandingkan dengan sel alin. Pada sel kelenjar penggetah enzim dan lendir terjadi
spesialisasi pada retikulum endoplasma, ribosom dan badan golgi, akan sangat aktif
dan banyak mengisi sel.
• Diferensiasi populasi sel, diferensiasi jaringan dan alat.
Diferensiasi populasi sel terjadi pada bahan interseluler dan pertautan sel atau
komunikasi sesama sel sepopulasi.Semua sel sepopulasi mengandung junction yang
khas dan lewatnya dapat dilakukan komunikasi dan distribusi bahan secara
merata.Antara sel tetangga dibentuk semen(cement) untuk merekatkan sel di
sebelahnya.Sel sepopulasi atau sejaringan, biasanya memiliki
pertautan/sambungan/junction.Agar kerukunan dan keharmonisan dapat
dipelihara.Pada keadaan biasa, populasi sel dicegah agar tidak terjadi pergerakan
pindah meninggalkan populasinya, yaitu dengan adanya sifat contact inhibition antara
selnya.Sementara itu sel sepopulasi dicegah untuk membelah terus yaitu dengan
adanya zat khalon.
Khalon adalah substansi yang sukar diekstrak (glikoprotein dengan berat molekul
lebih kecil dari protein pada umumnya dan dapat merembes masuk sel sacara difusi
terikat, bertindak sebagai koresepsor dalam pengaturan sintesa protein), terdapat dalam
jaringan mamalia dan mempunyai pengaruh anti mitosis dari suatu pengaturan diri
yang bergantung pada ketebalan jaringan yang memproduksinya. Hal ini perlu, agar
suatu jaringan tidak terjadi over populasi atau mengalami hyperplasia (pembelahan
berlebihan pada sel dewasa)
Khalon akan terlepas dari jaringan jika terjadi luka sehingga sel di sekitar luka dapat
terdediferansiasi lalu bermitosis sehingga terjadi penyembuhan sel. Sel kanaker tidak
mengandung sifat contact inhibition maupun zat khalon. Oleh sebab itu sel kanker
berkeliaran, tidak diam dan rukun dengan sel tetangga, namun terus bermitosis.Khalon

22
terus bekerja mengontrol pertumbuhan dan diferensiasi sel pada organogenesis,
sehingga terbentuk berbagai jenis jaringan dan organ. Adanya zat khalon, suatu
alat/organ akan tumbuh seimbang dengan alat/organ lain.
Sel embrio dan sel induk mampu berdifernsiasi.Sel embrio artinya masih pluripoten,
sel dewasa unipoten.Sel induk selalu bersifat muda dan umurnya yang terbatas
diperbaharui pada sel anak.Sel embrio yang terdapat pada seluruh bagian tubuh
embrio, sel induk terkandung dalam berbagai jaringan atau alat/organ sejak embrio
sampai dewasa.Pada tumbuhan, sel induk terdapat pada jaringan meristem, yaitu pada
pucuk akar, pucuk batang, cambium.Pada hewan terdapat dalam gonad, disebut epitel
germinal, lapisna benih epidermis/kulit luar, sumsum tulang kelenjar, lapisan lender
saluran pencernaan, saluran pernapasan, kelamin dan saluran kemih; juga tersebar
pada jaringan pengikat di berbagai daerah tubuh.
Sel yang sudah berdiferensiasi tidak mampu lagi bermitosis, namun akan menua. Hal
ini disebabkan Karena sifat kehidupan memiliki umur terbatas, fana, tidak kekal. Pada
suatu ketika sel menua pun akan mati.

e. Faktor penyebab diferensiasi


Faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sel ada dua yaitu ekstrinsik dan
intrinsik.
• Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar sel. Faktor ekstrinsik terdiri dari
supali bahan metabolis dan elektrolit, gas pernapasan, gravitasi, suhu, sinar matahari,
pH, letak sel dan kadar zat induktor dan mesoderm. Protoplasma, merupakan bahan sel
anak, sebagian besar terdiri dari protein dan lemak.Lemak membina membran bersama
protein, sedangkan protein sendiri membina sebagian besar organel dan bahan
produksi.Oleh sebab itu dalam pertumbuhan dan diferensiasi, sintesa protein
memegang peran utama.Arah diferensiasi ditentukan pada arah atau bentuk sintesa
protein.Factor intrinsic dan ekstrinsik diferensiasi di atas berpengaruh secara langsung
atau tidak langsung terhadap sintesa protein.
Contoh diferensiasi sel embrio jadi sel pigmen melanosit.Sel pigmen mengandung
pigmen melamin.Melanin dibentuk dari bahan mentah asam amino fenilalanin, maka

23
diperlukan enzim tironase. Enzim ini disintesa dalam reticulum endoplasma, lalu
disekresi berupa granula berisi pigmen melanin oleh badan golgi. Enzim tersebut
disintesa melalui proses transkripsi (pencetakan ARN) dan tranlasi (menerjemahkan
informasi genetis yang dibawa ARN-m menjadi untaian asam amino dalam ribosom).
Transkripsi dan translasi ditentukan oleh kromatin dalam inti.Kadar fenilalanin dalam
sitoplasma juga ikut menentukan diferensiasi sel induk menjadi melanosit.

Diferensiasi sel embrio menjadi sel otot dipengaruhi oleh banyak factor dan melalui
proses yang panjang serta menempuh sintesa protein. Mikrofilamen aktin dan myosin
adalah protein.Untuk terbentuknya mikrofilamen diperlukan enzim dan enzim
terbentuk melaluisintesa protein.Pada sel otot banyak mengandung mitokondria yang
terdiri dari lemak dan protein.Diferensiasi sel embrio menjadi sel epidermis melalui
tahapan sintesa protein karena serat keratin yang membina sel tersebut adalah protein.
Diferensiasi untuk menjadi sel kelenjar akan menghasilkan lender, enzim, hormone
dan antibody harus melewati sintesa protein. Bahan-bahan sel yang telah berdifernsiasi
mengandung gabungan protein, lemak atau karbohidrat, diproses dalam mitokondria
dan badan golgi.
Jika berbeda jumlah, komposisi dan keisomeran asam amino, maka proteinnya pun
akan berbeda pula. Untuk terbentuknya sejenis protein yang dibina atas beratus-ratus
asam amino, walaupun jenis asam amino hanya sekitar 20 macam, diperlukan banyak
enzim.Setiap tingkat reaksi sssskimia dalam sel, memerlukan enzim khusus. Jenis
protein atau bahan protoplasma yang terbentuk dalam diferensiasi dapat beribu-ribu
jenis, maka jenis enzim yang diperlukan untuk pembentukannya pun berlipat ganda
banyaknya, mungkin sampai ratusan ribu jenis.
Setiap enzim dikode oleh sejenis gen. jika suatu protein atau bahan protoplasma
disintesa dengan memerlukan lima tahap reaksi, berarti lima jenis enzim maka untuk
satu jenis protein itu perlu ada lima jenis gen.
Pada faktor ekstrinsik kadar dan komposisi bahan yang masuk sel melalui membrane
dapat menjadi faktor difernsiasi. Sampai saat ini belum dapat ditelusuri bentuk kadar
dan komposisi bahan yang tepat untuk mengarahkan pertumbuhan suatu sel. Misalnya
pada sel otot dapat menerima dan mengalirkan rangsang berupa arus listrik serta zat

24
cairan, terutama karena membrane selnya peka akan perubahan konsentrasinya ion
Na+ dan K+ semua itu hanya faktor genetislah yang memprogram.
Dalam diferensiasi, O2 menentukan arah dan jalan diferensiasi. Sel yang berada di
sebelah luar akan mendapat lebih banyak gas pernafasan daripada sel yang berada di
sebelah dalam tubuh embrio. Oleh sebab itu terjadi perbedaan dalam kadar ATP juga
segala aktivitas sel.
Gravitasi berpengaruh pada distribusi bahan dalam sitosol, terutama berpengaruh pada
ovum yang mengandung banyak makanan cadangan yagn disebut deutoplasma atau
yolk.Deutoplasma menumpuk di daerah kutub vegetal, sedangkan di daerah kutub
animal sedikit sekali.Hal ini berakibat pada daerah kutub animal lebih mudah dan
lebih sering membelah diri; sedangkan di daerah kutub vegetal lebih besar-besar
selnya dan lebih banyak mengandung deutoplasma. Dengan adanya dua perbedaan
tersebut, maka terjadilah diferensiasi sel. Sel-sel daerah kutub animal, ovum biasanya
akan menjadi jaringan epidermis dan saraf, sedangkan daerah kutub vegetal akan
menjadi lapisan lender, saluran pencernaan yang banyak mengandung kelenjar
sedngkan daerah antara kutub animal dan vegetal akan menjadi sel-sel membina
lapisan mesoderm yang akan menjadi jaringan penunjang, jaringan pengikat dan
jaringan otot.
Suhu dapat mempengaruhi arah dan jalan diferensiasi. Diferensiasi bias terjadi melalui
difernsiasi dalam sintesa protein. Proses sintesa protein memerlukan banyak enzim dan
enzim memerlukan suhu media yang optimum, maka mudah dimengerti bahwa variasi
pada suhu lingkugan dapat mempengaruhi arah dan jalan difernsiasi. Faktor pH juga
mempengaruhi diferensiasi. Enzim bekerja optimal pada pH media yang cocok, jika
pH naik-turun akan menyebabkan difernsiasi.
Sinar terutama berpengaruh pada pertumbuhan sel berpigmen, baik pada hewan
maupun tumbuhan. Jika sinar matahari kurang atau tidak ada, pertumbuhan sel pigmen
akan tertahan. Letak sel dalam tubuh embrio dapat menjadi factor difernsiasi. Sel yang
letaknya sebelah luar akan lebih banyak mendapat O2 , namun akan lebih banyak
menerima tekanan fisik dan perubahan suasana lingkungan. Embrio yang sudah
menempuh tahap gastrula dan tubulasi mengandung zat inductor, yang dihasilkan oleh
sel-sel lapisan mesoderm.Zat ini menginduksi pertumbuhan dan difernsiasi jaringan

25
sekitarnya, termasuk jaringan mesoderm sendiri.Jika lapisan ectoderm yang bakal jadi
jaringan saraf dilepaskan dari lapisan mesoderm yang berada di bawahnya, ternyata
ectoderm itu tidak berdiferensiasi jadi jaringan saraf.
• Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam sel. Faktor intrinsik berada
dalam inti dan sitoplasma.Faktor dalam inti adalah kromatin. Faktor dalam sitoplasma
sangat kompleks, terutama berupa enzim, kadar metabolit dan elektrolit, serta
komposisi suatu organel.
Hormon menjadi faktor diferensiasi ketika embrio sudah menempuh tahap
organogenesis.Hormon mungkin dihasilkan oleh tubuh embrio sendiri, atau dihasilkan
oleh tubuh induk, yang mengalirkannya ke tubuh embrio melalui plasenta (pada
mamalia). Hormon steroid dapat merembes masuk sel, terus ke dalam inti dan
merangsang ADN untuk melakukan transkripsi atau replikasi untuk persiapan
bermitosis. Hormon non-steroid merangsang zat reseptor pada plasmalemma, dan
secara estafet menyampaikan rangsangan kepada ADN inti untuk aktif bertranskripsi
atau replikasi.
Disini pengaruh hormon jelas sekali tampak pada perubahan yang terjadi di daerah
gembungan pada kromatin. Gembungan merupakan daerah gen yang aktif melakukan
transkripsi, mengandung banyak ARN-m dan protein non-histon. Jika gen di daerah
gembungan sedang aktif, berarti ADN-nya dalam keadaan longgar dan pilihannya
terbuka (despiralisasi). Ternyata jika ke dalam sel dimasukkan hormon tertentu maka
gembungan itu muncul dan besar.Terbentuknya gembungan pada daerah tertentu
kromatin bergantung pada jenis hormone yang merembes masuk sel.
Pada keluarga lalat buah (Drosophila) terkenal adanya kromosom raksasa, yang
panjangnya beberapa mm, di bawah mikroskop cahaya tampak jelas mengandung pita-
pia vertical pada kromatin. Pita-pita tersebut merupakan daerah gen. Apabila gen
sedang aktif bertranskripsi maka pada suatu daerah pita-pita tersebut akan menjadi
gembungan. Apabila ulat serangga diberi suntikan hormon pertumbuhan tingkat larva
(juvenile hormone), makaakan tampak gembungan pada daerah tertentu kromatin.
Timbulnya gembungan pada beberapa tempat kromatin sel ulat lalat buah, disebabkan
adanya rangsang dari hormon pertumbuhan ulat.

26
Faktor intrinsik beroperasi dalam tingkat transkripsi dan translasi.Dalam tingkat
transkripsi diferensiasi terjadi oleh pembedaan pada jenis daerah kromatin yang
sedang melakukan transkripsi.Saat interfase kromatin inti berada dalam 2 fase
heterokromatin dan eukromatin.Jika dalam fase hetero, pilinan ADN rapat dan padat ,
dan non-aktif. Jika dalam fase eu-pilinan ADN longgar lepas, maka aktif melakukan
transkripsi. Menurut pengamatan hanya sekitar 5% And kromatin dalam suatu sel yang
eu pada suatu pertumbuhan. 95% lagi dalam status hetero. Walau semua sel dalam
tubuh embrio mengandung bahan genetis dan susunan gen yang sama, namun dapat
terjadi diferensiasi pada daerah kromatin atau ADN mana yang yang sedang
bertranskripsi.
Dalam proses transkripsi diperlukan enzim ARN-polimerase, nukleosida, fosfat, ATP
dan beberapa elektrolit seperti Na+, Ca+2 dan Mg+2. Difernsiasi dalam tingkat
transkripsi mungkin terjadi karena pembedaan dalam salah satu atau beberapa bahan.
Diferensiasi terjadi pula pada transkripsi karena pembedaan dalam enzim proteinsae
yang melepaskan protein histon dan non-histon dari belitan ADN. Supaya pilinan
ADN longgar dan kedua molekul yang sepasang merenggang, maka perlu kiranya
terlebih dahulu histon dan non-histon yang dililit serta tempatnya membenam terurai.
Wilayah mana kromatin dan pada kromatin mana yang menjadi onggar dapat
nerdiferensiasi menurut perbedaan pada penguraian histon non-histon tadi. Perbedaan
supali bahan yang masuk ke dalam inti terutama enzim-enzim, maka akan berbeda
pula kodon pada ARN-m dan pada translasi akan berbeda pula asam amino yang
diuntaikan untuk jadi peptide. Pada suatu protain, beda satu asam amino saja akan
beda pula perilaku dan sifatnya.
Contoh dalam sintesa hemoglobin yang mengandung protein globulin.Hb normal yang
umum pada orang disebut Hb A. dalam Hb terjadi variasi orang yang memiliki Hb C,
Hb S, Hb 0.Masing-masing Hb hanya mempunyai perbedaan satu asam amino dari Hb
A., lihat tabel 5.1 Hb abnormal. Artinya hanya berbeda pada satu kodogen pada ADN
eukromatin, dari ratusan kodogen lain yang melakukan transkripsi pada bagian
eukromatin tersebut. Perbedaan pada kodogen umumnya terjadi karena mutasi. Mutasi
adalah perubahan pada susunan nukleotida AND terjadi karena gangguan pada
suasana lingkungan sel, intra maupun interseluler.

27
Gen dan ADN banyak yang rangkap dalam sel suatu organism. Artinya ganda dalam
komponen nukleotida maupun dalam transkripsi dan translasi. Jadi gen A yang akan
mensintesa protein A, banyak terdapat dalam suatu inti sel. Hal ini perlu jika suatu
ketika sel harus memproduksi protein yang banyak dalam waktu singkat. Seperti pada
sel plasma, harus menghasilkan anti bodi (imunoglobulin) yang banyak, diperlukan
untuk menyerang benda asing yang masuk tubuh. Gen ganda ini berfungsi sebagai
tindakan pengamanan, jika suatu ketika gen A rusak atau bermutasi dan mutant (hasil
mutasi) itu berakibat sangat buruk sehingga dapat mematikan sel. Jika masih ada
cadangan duplikatnya maka transkripsi akan berlangsung normal.
Pembagian kerja antara gen rangkap, sampai saat ini belum diketahui, namun dapat
dibayangkan bahwa perubahan dalam komposisi bahan yang masuk ke dalam inti
dapat membuat diferensiasi dalam transkripsi. Hal ini mungkin jumlah ARN-m dari
berbagai gen yang berbeda, mungkin pula dalam jumlah ARN-m dari atu gen.
eksperimen menemukan bahwa jika sel diberi ARN-polimerase yang diambil dari
kromatin sel dewasa yang sudah berdifernsiasi, maka sel itu hanya mampu mensintesa
enzim tertentu, sesuai dengan jenis enzim yang diproduksi oleh sel dari mana enzim
itu diambil.
Transkripsi harus bekerja sama dan berinteraksi antara sitoplasma dan inti/kromatin.
Makin dewasa umur sel makin terspesialisasi bentuk transkripsi untuk sintesa sejenis
protein. Namun potnsi kromatin tetap pluripoten. Oleh sebab itu potensi kromatin
untuk diferensiasi dipengaruhi oleh umur sitoplasma sel bersangkutan. Jika dilakukan
pencangkokan inti blastomer atau inti sel epitel lapisan lender usus ke ovum yang
intinya sudah diangkat atau dibunuh dengan sinar ultraviolet, maka akan tumbuh
embrio normal. Hal ini menunjukkan bahwa kromatin aktif, berarti pluripoten. Namun
jika yang dicangkokkan ke dalam ovum adalah inti gastromer (sel gastrula), maka
terjadi berbagai macam embrio yang abnormal dan tidak dapat melanjutkan
pertumbuhan (mati).
Antara gen terjadi interaksi dalam transkripsi suatu jenis protein atau suatu jenis
karakter anatomi-fisiologi. Ada karakter yang ditumbuhkan oleh 1 gen, namun banyak
pula karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen, namun banyak pula karakter yang
ditumbuhkan oleh banyak gen yang bekerja sama dan berinteraksi. Tinggi tubuh,

28
warna kulit/bulu adalah contoh karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen. jika salah
satu gen tidak bekerja atau bermutasi maka karakter yang mereka tumbuhkan akan
beda dari asal, sehingga menyebabkan difernsiasi.
Hetero- atau eu-kromatinnnya bahan genetis dalam sel berdiferensiasi menurut umur
embrio. Embrio orang mengandung Hb F (f= fetus, janin) dan setelah alhir digantikan
oleh Hb A. berarti gen Hb berubah keaktifannya setelah embrio lahir. Alat tubuh masa
embrio banyak perbedaannya dengan masa anak dan dewasa. Katak, waktu berudu
bernafas dengan insang, berekor dan tidak berkaki, ampas metabolisme protein berupa
NH4OH2 pemakan tumbuhan vegetarian, sedangkan saat dewasa bernafa dengan paru
dan kulit, tak berekor, berkaki, ampas metabolisme (eksresi) berupa urea dan
karnivora. Maka dengan melihat kenyataan, anatomi tubuhnya berbeda saat berudu
dan dewasa. Artinya gen yang aktif saat embrio berbeda dengan yang aktif saat
dewasa. Jadi, diferensiasi transkripsi terjadi sesuai dengan umur sel.

f. Faktor yang mempengaruhi terjadinya diferensiasi


Diferensiasi embrionik sel dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kontrol gen,
hormon sistemik, letaknya, pertumbuhan pertumbuhan lokal, dan matriks protein.
Pengaturan tahap diferensiasi tergantung pada faktor-faktor tersebut. Selain itu, growth
factors juga mempengaruhi proses diferensiasi sel.
• Kontrol gen
Seperti pada kebanyakan sel yang berdiferensiasi, perbedaan yang terdapat diantara
sel-sel lain bukan disebabkan oleh peningkatan atau pembuangan gen. Perbedaan sel
tersebut disebabkan sel mengekspresikan gen yang berbeda. Gen diaktifkan dan
dimatikan untuk mengatur sintesis produk gen. Fakta mengatakan bahwa banyak tahap
“keputusan” penting diferensiasi dalam embriogenesis di bawah kontrol
transkripsional (pengontrolan pembentukan mRNA).
• Asam retinoat
Salah satu yang berperan dalam diferensiasi sel antara lain adalah asam retinoat yang
berasal dari vitamin A. Asam retinoat berfungsi untuk mendorong pertumbuhan dan
diferensiasi normal jaringan epitel.

29
• Growth factor
Growth factor yang mempengaruhi proses diferensiasi sel adalah BMP-4 (Bone
Morphogenic Protein). BMP-4 memiliki peran penting dalam pembentukan
tulang.Pada amfibi, BMP-4 aktif pada sel yang berada pada ventral gastrula. Pada saat
pertumbuhan embrio, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
tersebut, antara lain:
1. Faktor genetic
2. Faktor nutrisi
3. Faktor lingkungan
Pada saat proses diferensiasi sel telah tercapai, kondisi sel harus dijaga. Hal tersebut
dilakukan melalui kombinasi berbagai faktor, yaitu:
• Cell memory yang terdapat dalam genome.
• Interaksi dengan sel-sel terdekat, melalui faktor parakrin.
• Sekresi berbagai faktor (faktor autokrin), termasuk faktor tumbuh.

E. Kelainan Konginental
a. Pengertian
Kelainan bawaan atau kelainan kongenital adalah kondisi tidak normal yang terjadi
pada masa perkembangan janin. Kelainan ini dapat memengaruhi fisik atau fungsi
anggota tubuh anak sehingga menimbulkan cacat lahir.
Pada banyak kasus, kelainan kongenital terjadi pada 3 bulan pertama kehamilan, yaitu
saat organ pada tubuh bayi baru mulai terbentuk. Kelainan kongenital umumnya tidak
berbahaya, namun ada pula yang harus segera ditangani.
Kelainan kongenital bisa terdeteksi pada masa kehamilan atau saat bayi dilahirkan.
Tetapi ada juga kelainan kongenital yang baru bisa diketahui pada masa tumbuh
kembang anak, misalnya gangguan pendengaran.

b. Jenis dan gejala kelainan kontingental


Kelainan kongenital dapat dibedakan menjadi kelainan fisik dan kelainan fungsional,
sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini:
➢ Kelainan fisik
Cacat lahir yang memengaruhi fisik atau bagian tubuh bayi antara lain:
1. Bibir sumbing
Bibir sumbing adalah kondisi terbentuknya celah pada bibir bagian atas, langit-langit
mulut, atau keduanya.

30
2. Kelainan jantung bawaan
Kelainan jantung bawaan adalah pembentukan jantung atau pembuluh darah besar
yang tidak normal. Ada beberapa jenis kelainan jantung bawaan, yaitu:

• Kebocoran katup jantung


• Penyempitan katup jantung
• Patent ductus arteriosis
• Tetralogy of Fallot

3. Kelainan bentuk tangan atau kaki


Kelainan bawan pada bentuk tangan atau kaki dapat berupa:

• Satu tangan atau kaki lebih besar atau lebih kecil.


• Jumlah jari tangan atau jari kaki lebih banyak dari normal (polidaktili).
• Satu atau lebih jari tangan atau jari kaki menempel satu sama lain.
• Terlahir tanpa tangan atau kaki.

Perlu diketahui, cacat lahir pada bentuk tangan dan kaki merupakan kelainan yang
jarang terjadi.
4. Neural tube defect (NTD)
NTD adalah cacat lahir pada struktur otak, tulang belakang, atau ruas tulang belakang.
Beberapa contoh kelainan neural tube
defect adalah anensefali, encephalocele, iniencephaly, dan spina bifida.

➢ Kelainan Fungsional
Kelainan fungsional merupakan kelainan bawaan yang terkait dengan kelainan sistem
atau fungsi organ tubuh. Kelainan tersebut antara lain:

• Kelainan fungsi otak dan saraf, yang terkait dengan aspek intelektual, perilaku,
bahasa, dan gerak tubuh. Contoh penyakit kelainan ini adalah sindrom
Down dan sindrom Prader-Willi.
• Kelainan yang membuat tubuh tidak mampu membuang zat kimia sisa
metabolisme. Contoh kelainan ini adalah fenilketonuria dan kekurangan hormon
tiroid (hipotiroid kongenital).
• Kelainan yang sering kali tidak terlihat saat lahir, namun memburuk secara
bertahap. Contohnya adalah distrofi otot atau gangguan pendengaran.

c. Penyebab dan faktor resiko kelainan konginental


Pada banyak kasus, penyebab kelainan kongenital tidak diketahui. Namun, kelainan
kongenital atau kelainan bawaan dapat terkait dengan beberapa faktor berikut ini:

31
➢ Faktor genetik
Cacat lahir akibat faktor genetik dapat diturunkan dari salah satu atau kedua orang tua,
namun bisa juga tidak diturunkan dari orang tua. Beberapa contoh kelainan kongenital
akibat faktor genetik adalah:
• Sindrom Down
• Sindrom Prader-Willi
• Sindrom Marfan
➢ Faktor lingkungan
Kelainan kongenital akibat faktor lingkungan terjadi akibat infeksi, paparan zat kimia,
atau efek samping obat-obatan pada masa kehamilan. Faktor-faktor tersebut bisa
menyebabkan cacat lahir yang parah, bahkan sampai keguguran.
Jenis kelainan bawaan yang bisa dialami bayi akibat paparan faktor di atas pada masa
kehamilan adalah:
• Katarak, tuli, dan kelainan jantung, akibat infeksi rubella atau campak Jerman.
• Kepala bayi lebih kecil dari normal (mikrosefalus), akibat infeksi virus Zika.
• Fetal alcohol syndrome, akibat konsumsi minuman beralkohol.
• Neural tube defect, akibat kekurangan asupan asam folat.
Di samping beberapa faktor di atas, bekerja atau tinggal di dekat area pengolahan
limbah, pabrik peleburan besi, atau daerah pertambangan bisa mengganggu kesehatan
ibu hamil dan perkembangan janin.
d. Pencegahan kelainan konginental
Kebanyakan kelainan bawaan tidak bisa dicegah, namun risiko terjadinya kelainan
tersebut dapat dikurangi dengan melakukan langkah-langkah di bawah ini:
➢ Sebelum kehamilan
• Pastikan mengikuti imunisasi sesuai jadwal.
• Pastikan Anda dan pasangan tidak menderita penyakit menular seksual.
• Penuhi asupan asam folat sebelum merencanakan kehamilan.
• Lakukan konsultasi dan tes genetik, terutama jika Anda atau pasangan memiliki
penyakit yang dapat diturunkan kepada anak sebagai kelainan bawaan.
• Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat-obatan
sebelum hamil.

32
➢ Selama kehamilan
• Jangan merokok dan hindari paparan asap rokok.
• Hindari mengonsumsi minuman beralkohol.
• Jangan menggunakan NAPZA.
• Lakukan olahraga ringan dan cukupi waktu
• Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
e. Pengobatan kelainan konginental
Pengobatan kelainan bawaan akan disesuaikan dengan jenis kelainan yang diderita.
Metodenya bisa dengan pemberian obat-obatan, alat bantu, terapi, sampai operasi.
Beberapa contoh pengobatannya adalah:
• Pemberian obat kortikosteroid, seperti prednisone, untuk distrofi otot.
• Pemakaian alat bantu jalan untuk kelainan bentuk tangan dan kaki.
• Pemakaian alat bantu dengar untuk gangguan pendengaran.
• Operasi untuk kelainan jantung bawaan, misalnya pemasangan sumbatan
pada patent ductus arteriosus, dan bedah jantung pada tetralogy of fallot.
• Operasi rekonstruksi untuk bibir sumbing atau kelainan bentuk bagian tubuh lain.

33
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pertumbuhan sel tidak sama dengan pembelahan sel atau siklus sel , yang merupakan
proses berbeda yang dapat terjadi bersamaan dengan pertumbuhan sel selama
proses proliferasi sel , di mana sel, yang dikenal sebagai "sel induk", tumbuh dan
membelah untuk menghasilkan dua " sel anak ". Yang penting,
pertumbuhan sel dan pembelahan sel juga dapat terjadi secara independen satu sama
lain. Selama awal perkembangan embrio ( pembelahan dari zigot untuk
membentuk morula dan blastoderm ), pembelahan selterjadi berulang kali tanpa
pertumbuhan sel. Sebaliknya, beberapa sel dapat tumbuh tanpa pembelahan sel atau tanpa
perkembangan siklus sel , seperti pertumbuhan neuron selama
pencarian jalur aksonal dalam perkembangan sistem saraf .
2. Reproduksi sel bersifat aseksual . Untuk sebagian besar konstituen sel, pertumbuhan
adalah proses yang stabil dan berkelanjutan, hanya terputus sebentar pada fase M ketika
inti dan kemudian sel membelah menjadi dua.
3. Proses pembelahan sel, disebut siklus sel , memiliki empat bagian utama yang disebut
fase. Bagian pertama yang disebut fase G1 ditandai dengan sintesis berbagai enzim yang
diperlukan untuk replikasi DNA. Bagian kedua dari siklus sel adalah fase S , di
mana replikasi DNA menghasilkan dua set kromosom yang identik . Bagian ketiga
adalah fase G2 di mana terjadi sintesis protein yang signifikan , terutama yang
melibatkan produksi mikrotubulus yang diperlukan selama proses pembelahan, yang
disebut mitosis . Fase keempat,Fase M , terdiri dari pembelahan inti ( kariokinesis ) dan
pembelahan sitoplasma ( sitokinesis ), disertai dengan pembentukan membran
sel baru . Ini adalah pembagian fisik sel "ibu" dan "anak". Fase M telah dipecah menjadi
beberapa fase berbeda, yang secara berurutan dikenal
sebagai profase , prometafase , metafase , anafase , dan telofase yang mengarah ke
sitokinesis.

34
4. Siklus sel adalah siklus kehidupan sebuah sel. Siklus ini bertujuan untuk perkembangan dan
pertumbuhan dari sel itu sendiri. Siklus sel diawali dengan pembelahan sebuah sel induk
(mother cell) dan diakhiri dengan terbentuknya sel anak (daughter cells) atau kematian sel.
Sebelum siklus dimulai, ada syarat yang harus dipenuhi oleh suatu sel. Sel tersebut haruslah
tumbuh, menyalin DNA-nya, dan membagi dirinya menjadi dua. Tahapan siklus sel dibagi
menjadi dua fase utama yakni interfase dan mitosis
5. Diferensiasi merupakan sebuah proses umum dalam sel induk dewasa yang membelah
dan berdiferensiasi menjadi sel anak yang lebih khusus. Ada berbagai jenis sel dalam
tubuh manusia. Dalam sebuah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel
yang membentuk tubuh dikenal sebagai sel pluripotent. Sel-sel ini dikenal sebagai sel
embrionik pada hewan dan mamalia, sebuah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi
hampir semua jenis tipe sel, termasuk sel-sel plasenta dikenal sebagai sel totipoten.
Dalam diferensiasi terjadi kedalam beberapa tahapan yaitu pada tingkat pertumbuhan
embrio.Seperti zigot, blastula, grastula, tubulasi, organogenesis.
Diferensiasi terjadi pada tiga tempat, yaitu intra dan ekstrasel, populasi sel serta jaringan
dan alat.
Faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sel ada dua yaitu ekstrinsik dan
intrinsik.
Diferensiasi embrionik sel dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kontrol gen, hormon
sistemik, letaknya, pertumbuhan pertumbuhan lokal, dan matriks protein. Pengaturan
tahap diferensiasi tergantung pada faktor-faktor tersebut. Selain itu, growth factors juga
mempengaruhi proses diferensiasi sel.
6. Kelainan bawaan atau kelainan kongenital adalah kondisi tidak normal yang terjadi
pada masa perkembangan janin. Kelainan ini dapat memengaruhi fisik atau fungsi
anggota tubuh anak sehingga menimbulkan cacat lahir.
Kelainan kongenital dapat dibedakan menjadi kelainan fisik dan kelainan fungsional
Faktor penyebab kelainan konginental yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan
Pengobatan kelainan bawaan akan disesuaikan dengan jenis kelainan yang diderita.
Metodenya bisa dengan pemberian obat-obatan, alat bantu, terapi, sampai operasi.

35
B. Saran
Saya sadar bahwa penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Untuk terakhir kalinya saya berharap pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua khususnya bagi perawat sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan mampu
menjadi perawat profesional dibidangnya

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Morgan, David O. (2007). Siklus sel: prinsip kontrol . London: Sunderland,


Mass. ISBN 978-0-9539181-2-6.
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Cell_growth
3. https://www.zenius.net/blog/23274/apa-itu-siklus-sel-pembelahan-sel
4. Bambang, S. 2006. BIOLOGI SMA Kelas XII. Jakarta : Erlangga
5. Campbell, Neil A. Reece, Jane B. 2002. Biologi jilid 1. Jakarta : Erlangga
6. Foster, Bob. 2008. Koding IPA. Bandung : Ganesha Opertaion
7. Heddy, Suwasono. 1990. BIOLOGI SEL. Jakarta : Rajawali Pers
8. Satilah, Siti. 1982. BIOLOGI. Jakarta : Gramedia
9. https://www.alodokter.com/kelainan-kongenital

37

Anda mungkin juga menyukai