Anda di halaman 1dari 5

Konsekuensi Stres Kerja

pergerakan dari mekanisme pertahanan tubuh bukanlah satu-satunya konsekuensi yang


mungkin timbul dari adanya kontak dengan sumber stres. Akibat dari stres banyak bermacam-
macam. Ada sebagian yang positif seperti meningkatkan motivasi, terangsang untuk bekerja
lebih giat lagi, atau mendapat inspirasi untuk hidup lebih baik lagi. Tetapi banyak diantaranya
yang merusak dan berbahaya. menurut Cox (2005:92) telah mengidentifikasi efek stres, yang
mungkin muncul. Kategori yang di susun Cox meliputi :

1. Dampak Subjektif (subjective effect)

Kekhawatiran/kegelisahan, kelesuhan, kebosanan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan


kesabaran, perasaan terkucil dan merasa kesepian.

2. Dampak Perilaku (Behavioral effect)

Akibat stres yang berdampak pada perilaku pekerja dalam bekerja di antaranya peledakan
emosi dan perilaku implusif.

3. Dampak Kognitif (Cognitive effect)

Ketidakmampuan mengambil keputusan yang sehat, daya konsentrasi menurun, kurang


perhatian/rentang perhatian pendek, sangat peka terhadap kritik/kecaman dan hambatan
mental.

4. Dampak Fisiologis (Physiological effect)

Kecanduan glukosa darah meninggi, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, mulut
kering, berkeringat, bola mata melebar dan tubuh panas dingin.

5. Dampak Kesehatan (Health effect)

Sakit kepala dan migrant, mimpi buruk, sulit tidur, gangguan psikosomatis.

6. Dampak Organisasi (Organizational effect)

Produktivitas menurun/rendah, terasing dari mitra kerja,, ketidakpuasan kerja, menurunnya


kekuatan kerja dan loyalitas terhadap instansi.

Keenam jenis tersebut tidak mencakup seluruhnya, juga tetapi tidak terbatas ada dampak
dampak dimana ada kesepakatan universal dan untuk hal itu ada bukti ilmiah yang jelas.
Kesemuanya hanya mewakili beberapa dampak potensial yang sering dikaitkan dengan stres.
Akan tetapi, jangan diartikan bahwa stres selalu meyebabkan dampak seperti yang disebutkan
diatas.
Dampak Stres Kerja

Pengaruh stres kerja ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi


perusahaan. Namun pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan

diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan


sebaik-baiknya. Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis

maupun fisik. Biasanya karyawan yang stres akan menunjukkan perubahan

perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi

stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau

frezze (berdiam diri). Dalam kehidupan sehari-hari ketiga reaksi ini biasanya

dilakukan dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres.

Perubahan-perubahan ini di tempat kerja merupakan gejala-gejala individu yang

mengalami stres antara lain (Margiati dalam Rivai, 2010) :

1. Bekerja melewati batas kemampuan

2. Keterlambatan masuk kerja yang sering

3. Ketidakhadiran pekerjaan

4. Kesulitan membuat keputusan

5. Kesalahan yang sembrono

6. Kelalaian dalam menyelesaian pekerjaan

7. Lupa akan janji yang dibuat dan kegagalan diri sendiri

8. Kesulitan berhubungan dengan orang lain

9. Kerisauan dengan kesalahan yang dibuat

10. Menunjukan gejala fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang
kulit dan radang pernafasan

Pada umumnya, stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun
perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya
gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustasi dan sebagainya. Sedangkan menurut
Arnold (dalam Rivai, 2010) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat
terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik,,
kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam mengambil
keputusan.

Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah
meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktifitas, dan secara psikologis
dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover.
Terry Beehr & John Newman (dalam Rivai, 2010) mengkaji ulang beberapa kasus stres
pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:

1. Gejala psikologis

Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil
penelitian mengenai stres pekerjaan:

a. Kecemasan, ketegangan, kebingungan, dan mudah tersinggung

b. Perasaan frustasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)

c. Sensitif dan hyperreactivity

d. Memendam perasaan, penarikan diri dan depresi

e. Komunikasi yang tidak efektif

f. Perasaan terkucil dan terasing

g. Kebosanan dan ketidakpuasan kerja

h. Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi

i. Kehilangan spontanitas dan kreativitas

j. Menurunnya rasa percaya diri

2. Gejala Fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

a. Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan


mengalami penyakit kardiovaskular

b. Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh adrenalin dan nonadrenalin)

c. Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)

d. Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan

e. Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang


kronis (chronic fatique syndrome)

f. Gangguan pernafasan

g. Gangguan pada kulit

h. Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot

i. Gangguan tidur

j. Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk resiko tinggi kemungkinan terkena


kanker

3. Gejala perilaku
Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

a. Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan

b. Menurunnya prestasi (performance) dan produktifitas

c. Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan

d. Perilaku sabotase dalam pekerjaan

e. Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah


ke obesitas

f. Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan
kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan
depresi

g. Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti nyetir dengan


tidak hati-hati dan berjudi

h. Meningkatnya agresifitas, vitalisme, dan kriminalisme

i. Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

j. Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

Gejala Frustasi
a.       Meremehkan pekerjaan orang lain tanpa bisa membuktikan memang bisa dari pkerjaan
yang diremehkan tersebut.
b.      Meremehkan keahlian orang lain tanpa bisa membuktikan memang benar-benar ahli dari
orang yang diremehkan keahliannya.
c.       Terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain hingga lupa untuk meningkatkan dirinya
sesuai dengan kesibukannya.
d.      Terlalu mengasihi diri sendiri sehingga tidak pernah ada jalan keluar dari semua masalah
yang menimpanya.
Slamet, Suprapti I.S. , Sumarmo Markam, Pengantar Psikologi Klinis, (Jakarta:
UI Press, 2003)

1.    Pengertian Frustasi


              Frustrasi, dari bahasa Latin frustratio, adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat
terhalang dalam pencapaian tujuan. Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi
dirasakan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stres.
              Menurut Daradjat Zakiah (Andhy Irawan, 2011), frustasi adalah suatu keadaan dalam
diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan akibat adanya
halangan/rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan tersebut.  
              Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2010: 166) mengatakan bahwa frustasi merupakan
kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan.
Dapat disimpulakan, frustasi adalah suatu proses yang menyebabkan orang merasa
kecewa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya, atau menyangka
bahwa akan terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya.
2.   Gejala-Gejala Frustasi     
    a. Meremehkan pekerjaan orang lain tanpa bisa membuktikan memang bisa dari
pekerjaan yang diremehkan tersebut.
b.  Meremahkan keahlian orang lain tanpa bisa membuktikan memang benar-             
benarahli dari orang yang di remehkan keahliannya.
   c. Menggurusi orang lain di luar dari kapasitasnya sehingga dia terlupa untuk
meninggkatkan diri.
    d. Terlalu mengasihi diri sendiri sehingga tidak pernah ada jalan keluar dari semua
masalah yang menimpanya.
Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurisan. (2010) Landasan Bimbingan dan Konseling Bandung: Remaja
Rosdakarya.