Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Konsep Coronavirus (Covid-19)

a. Pengertian

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular

yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome

Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 merupakan coronavirus

jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada

manusia. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui

menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti

Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute

Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (COVID-

19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Coronavirus

jenis baru (Kemenkes, 2020).

Virus Corona adalah sebuah keluarga virus yang ditemukan pada

manusia dan hewan. Sebagian virusnya dapat mengingeksi manusia

serta menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit umum

seperti flu, hingga penyakit-penyakit yang lebih fatal, seperti Middle

East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory

Syndrome (SARS) (Kemenkes, 2020).

b. Etiologi

Penyebab COVID-19 adalah virus yang tergolong dalam family

coronavirus. Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif,

7
8

berkapsul dan tidak bersegmen. Terdapat 4 struktur protein utama pada

Coronavirus yaitu: protein N (nukleokapsid), glikoprotein M (membran),

glikoprotein spike S (spike), protein E (selubung). Coronavirus tergolong

ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae. Coronavirus ini dapat

menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Terdapat 4 genus yaitu

alphacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus, dan

deltacoronavirus. Sebelum adanya COVID-19, ada 6 jenis coronavirus

yang dapat menginfeksi manusia, yaitu HCoV-229E (alphacoronavirus),

HCoV-OC43 (betacoronavirus), HCoVNL63 (alphacoronavirus) HCoV-

HKU1 (betacoronavirus), SARS-CoV (betacoronavirus), dan MERS-

CoV (betacoronavirus) (Kemenkes, 2020).

Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam

genus betacoronavirus, umumnya berbentuk bundar dengan beberapa

pleomorfik, dan berdiameter 60-140 nm. Hasil analisis filogenetik

menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan

coronavirus yang menyebabkan wabah SARS pada 2002-2004 silam,

yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on

Taxonomy of Viruses (ICTV) memberikan nama penyebab COVID-19

sebagai SARS-CoV-2 (Kemenkes, 2020)

Belum dipastikan berapa lama virus penyebab COVID-19 bertahan

di atas permukaan, tetapi perilaku virus ini menyerupai jenis-jenis

coronavirus lainnya. Lamanya coronavirus bertahan mungkin

dipengaruhi kondisi-kondisi yang berbeda (seperti jenis permukaan, suhu

atau kelembapan lingkungan). Penelitian (Doremalen et al, 2020)

menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat bertahan selama 72 jam pada


9

permukaan plastik dan stainless steel, kurang dari 4 jam pada tembaga

dan kurang dari 24 jam pada kardus. Seperti virus corona lain, SARS-

COV-2 sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas. Efektif dapat

dinonaktifkan dengan pelarut lemak (lipid solvents) seperti eter, etanol

75%, ethanol, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat,

dan khloroform (kecuali khlorheksidin) (Kemenkes, 2020).

c. Manifestasi Klinis

Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul

secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan

gejala apapun dan tetap merasa sehat. Gejala COVID-19 yang paling

umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien

mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek,

nyeri kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, hilang

penciuman dan pembauan atau ruam kulit.

Menurut data dari negara-negara yang terkena dampak awal

pandemi, 40% kasus akan mengalami penyakit ringan, 40% akan

mengalami penyakit sedang termasuk pneumonia, 15% kasus akan

mengalami penyakit parah, dan 5% kasus akan mengalami kondisi

kritis. Pasien dengan gejala ringan dilaporkan sembuh setelah 1

minggu. Pada kasus berat akan mengalami Acute Respiratory Distress

Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi-organ,

termasuk gagal ginjal atau gagal jantung akut hingga berakibat

kematian. Orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis

yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan


10

jantung dan paru, diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami

keparahan (Kemenkes, 2020).

d. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai dengan manifestasi klinis,

antara lain:

1) Laboratorium: Darah lengkap/Darah rutin, LED, Gula Darah,

Ureum, Creatinin, SGOT, SGPT, Natrium, Kalium, Chlorida,

Analisa Gas Darah, Procalcitonin, PT, APTT, Waktu perdarahan,

Bilirubin Direct, Bilirubin Indirect, Bilirubin Total, pemeriksaan

laboratorium RT-PCR, dan/atau semua jenis kultur MO (aerob)

dengan resistensi Anti HIV.

2) Radiologi: Thorax AP/PA (Kemenkes, 2020).

e. Komplikasi

Virus corona yang menyebabkan penyakit SARS bisa menimbulkan

komplikasi pneumonia, dan masalah pernapasan parah lainnya bila tak

ditangani dengan cepat dan tepat. Selain itu, SARS juga bisa

menyebabkan kegagalan pernapasan, gagal jantung, hati, dan kematian.

Hampir sama dengan SARS, novel coronavirus juga bisa

menimbulkan komplikasi yang serius. Infeksi virus ini bisa menyebabkan

pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian

(Kemenkes, 2020).

f. Komorbid

1) Diabetes Mellitus

a) Diabetes Mellitus Tipe 1

b) Diabetes Mellitus Tipe 2


11

2) Glucocorticoid-associated diabetes

3) Penyakit terkait Geriatri

4) Penyakit terkait Autoimun

5) Penyakit Ginjal

6) ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI)

7) Non-ST-segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI)

8) Hipertensi

9) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

10) Tuberculosis

11) Penyakit kronis lain yang diperberat oleh kondisi penyakit

COVID-19 (Kemenkes, 2020).

g. Tatalaksana

Hingga saat ini, belum ada vaksin dan obat yang spesifik untuk

mencegah atau mengobati covid 19. Pengobatan ditujukan sebagai

terapi simptomatis dan suportif. Ada beberapa kandidat vaksin dan

obat tertentu yang masih diteliti melalui uji klinis (Kemenkes, 2020).

h. Diagnosis

WHO merekomendasikan pemeriksaan molekuler untuk seluruh

pasien yang terduga terinfeksi COVID-19. Metode yang dianjurkan

metode eteksi olekule /NAAT (Nucleic A id Amplif cati n Test)

(Kemenkes, 2020)

i. Penularan

Coronavirus merupakan zoonosis (ditularkan antara hewan dan

manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari


12

kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia.

Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 ini masih

belum diketahui.

Masa inkubasi COVID-19 rata-rata 5-6 hari, dengan range antara

1 dan 14 hari namun dapat mencapai 14 hari. Risiko penularan

tertinggi diperoleh di hari-hari pertama penyakit disebabkan oleh

konsentrasi virus pada sekret yang tinggi. Orang yang terinfeksi dapat

langsung dapat menularkan sampai dengan 48 jam sebelum onset

gejala (presimptomatik) dan sampai dengan 14 hari setelah onset

gejala. Sebuah studi Du Z et. al, (2020) melaporkan bahwa 12,6%

menunjukkan penularan presimptomatik. Penting untuk mengetahui

periode presimptomatik karena memungkinkan virus menyebar

melalui droplet atau kontak dengan benda yang terkontaminasi.

Sebagai tambahan, bahwa terdapat kasus konfirmasi yang tidak

bergejala (asimptomatik), meskipun risiko penularan sangat rendah

akan tetapi masih ada kemungkinan kecil untuk terjadi penularan.

Berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini

membuktikan bahwa COVID-19 utamanya ditularkan dari orang yang

bergejala (simptomatik) ke orang lain yang berada jarak dekat melalui

droplet. Droplet merupakan partikel berisi air dengan diameter >5-10

μm. Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada pada jarak dekat

(dalam 1 meter) dengan seseorang yang memiliki gejala pernapasan

(misalnya, batuk atau bersin) sehingga droplet berisiko mengenai

mukosa (mulut dan hidung) atau konjungtiva (mata). Penularan juga


13

dapat terjadi melalui benda dan permukaan yang terkontaminasi

droplet di sekitar orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, penularan

virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang

yang terinfeksi dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau

benda yang digunakan pada orang yang terinfeksi (misalnya,

stetoskop atau termometer).

Dalam konteks COVID-19, transmisi melalui udara dapat

dimungkinkan dalam keadaan khusus dimana prosedur atau perawatan

suportif yang menghasilkan aerosol seperti intubasi endotrakeal,

bronkoskopi, suction terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi,

ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi

tengkurap, memutus koneksi ventilator, ventilasi tekanan positif non-

invasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner. Masih diperlukan

penelitian lebih lanjut mengenai transmisi melalui udara (Kemenkes,

2020).

2. Konsep Kecemasan

a. Definisi Kecemasan

Kecemasan merupakan pengalaman subjektif yang tidak

menyenangkan mengenai kekhawatiran atau ketegangan berupa

perasaan cemas, tegang, dan emosi yang dialami seseorang.

Kecemasan adalah suatu keadaan tertentu (state anxiety), yaitu

menghadapi sesuatu yang tidak pasti dan tidak menentu terhadap

kemampuanya dalam menghadapi objek tersebut. Hal tersebut berupa

emosi yang kurang menyenangkan yang dialami oleh individu dan


14

bukan merupakan kecemasan yang melekat pada kepribadian.

Kecemasan sebagai sesuatu pengalaman subjektif mengenai

ketegangan mental kesukaran dan tekanan yang menyertai konflik

atau ancaman (Listiriani,2013).

Kecemasan (anxiety) adalah penjelmaan berbagai proses emosi

yang bercampur-baur, yang terjadi manakala seseorang sedang

mengalami berbagai tekanan-tekanan atau ketegangan (stress) seperti

perasaan (frutrasi) dan pertentangan batin (konflik batin). Perasaan

yang timbul karena ada dua sebab, pertama dari apa yang disadari

seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, merasa terancam, dan

sebagainya. Kedua yang terjadi diluar kesadaran dan tidak mampu

menghindari perasaan yang tidak menyenangkan (Listiriani, 2013).

Kecemasan/ansietas dapat terjadi bila pasien atau keluarga pasien

mengalami suatu proses pada perubahan status kesehatan seperti,

perubahan peran fungsi, status sosioekonomi dan lingkungan, pola

interaksi, kebutuhan yang tidak terpenuhi, perubahan kehidupan yang

baru serta kehilangan teman/orang terdekat. Tingkah laku bervariasi

seperti, ketegangan wajah, tremor tangan, fokus pada diri dan

kurangnya minat dalam aktivitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan

ketakutan pada pasien atau keluarga pasien, susah beristirahat,

banayak bertanya, tidak tenang (mondar-mandir), aktivitas yang tidak

bertujuan dan insomnia (Listiriani, 2013).

b. Gejala Kecemasan

Menurut Sutejo (2018), tanda dan gejala pasien dengan ansietas


15

adalah cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri

serta mudah tersinggung, pasien merasa tegang, tidak tenang, gelisah

dan mudah terkejut, pasien mengatakan takut bila sendiri atau pada

keramaian dan banyak orang, mengalami gangguan pola tidur dan

disertai mimpi yang menegangkan.

c. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak

berdaya. Menurut Peplau (1952) dalam Suliswati (2014) ada empat

tingkatan yaitu :

1) Kecemasan Ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami seharihari.

Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas,

menajamkan indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan

mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan

pertumbuhan dan kreatifitas.

2) Kecemasan Sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,

terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan

sesuatu dengan arahan orang lain.

3) Kecemasan Berat

Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya

pada detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat berfikir hal-hal

lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan

dan perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.


16

4) Panik

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang.

Karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun

meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,

berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,

penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak

mampu berfungsi secara efektif. Biasanya disertai dengan

disorganisasi kepribadian.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Blacburn & Davidson (dalam Annisa dan Ifdil, 2016)

menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, seperti

pengetahuan yang dimiliki dalam menyikapi suatu situasi yang

mengancam serta mampu mengetahui kemampuan mengendalikan diri

dalam menghadapi kecemasan tersebut.

Kemudian Adler dan Rodman (dalam Annisa & Ifdil, 2016)

menyatakan terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan,

yaitu:

1) Pengalaman negatif pada masa lalu

Penyebab utama munculnya kecemasan yaitu adanya pengalaman

traumatis yang terjadi pada masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut

mempunyai pengaruh pada masa yang akan datang. Ketika individu

menghadapi peristiwa yang sama, maka ia akan merasakan

ketegangan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Sebagai

contoh yaitu ketika individu pernah gagal dalam menghadapi suatu


17

tes, maka pada tes berikutnya ia akan merasa tidak nyaman

sehingga muncul rasa cemas pada dirinya.

2) Pikiran yang tidak rasional

Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu.

a) Kegagalan ketastropik, individu beranggapan bahwa sesuatu

yang buruk akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu

tidak mampu mengatasi permasalahannya.

b) Kesempurnaan, individu mempunyai standar tertentu yang

harus dicapai pada dirinya sendiri sehingga menuntut

kesempurnaan dan tidak ada kecacatan dalam berperilaku.

c) Persetujuan

d) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang

berlebihan, ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit

pengalaman.

Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kecemasan.

Menurut Iyus (dalam Saifudin & Kholidin, 2015) menyebutkan

beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi

a) Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang

penting pada setiap individu karena berbeda usia maka berbeda

pula tahap perkembangannya, hal tersebut dapat mempengaruhi

dinamika kecemasan pada seseorang.

b) Lingkungan, yaitu kondisi yang ada disekitar manusia. Faktor

lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor

internal maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup


18

kondusif akan menurunkan resiko kecemasan pada seseorang.

c) Pengetahuan dan pengalaman, dengan pengetahuan dan

pengalaman seorang individu dapat membantu menyelesaikan

masalah-masalah psikis, termasuk kecemasan.

d) Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih

pada anaknya yang belum mendapat pekerjaan menjadikan

individu tersebut tertekan dan mengalami kecemasan selama

masa pencarian pekerjaan.

e. Alat Ukur Kecemasan

Cheung dan Sim (2014) menyatakan bahwa tes kecemasan telah

dikonseptualisasikan dalam berbagai cara sepanjang tahun. Beberapa

peneliti merujuk pada gangguan kognitif yang terlibat dan orang lain

untuk reaksi emosional. Ada kesepakatan bahwa kecemasan dapat

diklasifikasikan menjadi dua komponen, keadaan dan ciri kecemasan.

Menurut skala HARS yang dikutip dari Nursalam (2013),

penilaian kecemasan terdiri atas 14 item, yaitu:

1) Perasaan cemas: firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

tersinggung.

2) Ketegangan: merasa tegang, lesu, mudah terkejut, tidak bisa

istirahat dengan tenang, mudah menangis, gemetar, gelisah.

3) Ketakutan: pada gelap, ditinggal sendiri, pada orang asing, pada

binatang besar, pada keramaian lalu lintas, pada kerumunan

banyak orang.

4) Gangguan tidur: sukar memulai tidur, terbangun malam hari,


19

tidak pulas, mimpi buruk, mimpi menakutkan.

5) Gangguan kecerdasan: daya ingat buruk, sulit konsentrasi, sering

bingung.

6) Perasaan depresi: kehilangnya minat, sedih, bangun dini hari,

berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah-ubah

sepanjang hari.

7) Gejala somatic (otot-otot): nyeri otot, kaku, kedutan otot, gigi

gemeretak, suara tak stabil.

8) Gejala sensorik: telinga berdengung, penglihatan kabur, muka

merah dan pucat, merasa lemah, perasaan ditusuk-tusuk.

9) Gejala kardiovaskuler: denyut nadi cepat, berdebar-debar, nyeri

dada, denyut nadi mengeras, rasa lemah seperti mau pingsan,

detak jantung hilang sekejap.

10) Gejala pernapasan: rasa tertekan didada, perasaan tercekik,

merasa nafas pendek/sesak, sering menarik napas panjang.

11) Gejala gastrointestinal: sulit menelan, mual muntah, berat badan

menurun, konstipasi/sulit buang air besar, perut melilit, gangguan

pencernaan, nyeri lambung sebelum/sesudah makan, rasa panas

diperut, perut terasa penuh/kembung.

12) Gejala urogenital: sering kencing, tidak dapat menahan kencing,

amenor/menstruasi yang tidak teratur.

13) Gejala vegetatif/autonom: mulut kering, muka kering, mudah

berkeringat, pusing/sakit kepala, bulu roma berdiri.

14) Apakah Ibu/Bapak merasakan: gelisah, tidak tenang, mengerutkan


20

dahi muka tegang, tonus/ketegangan otot meningkat, napas

pendek dan cepat, muka merah.

Hawari (2011) mempopulerkan alat ukur kecemasan yaitu

Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri dari

14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi

dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok

gejala diberi penilaian angka antara 0-4, yang artinya adalah nilai 0

tidak ada gejala (keluhan), nilai 1 gejala ringan, nilai 2 gejala sedang,

nilai 3 gejala berat, dan nilai 4 gejala berat sekali. Kemudian masing-

masing nilai angka dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan

dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan

seseorang, yaitu total nilai kurang dari 6 tidak ada kecemasan, 6-14

kecemasan ringan, 15-27 kecemasan sedang, nilai > 27 kecemasan

berat.

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan suatu uraian dan visualisasi tentang

hubungan atau kaitan konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati

atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012).

Adapun kerangka konsep dari penelitian ini tersaji dalam skema I berikut :

Skema I
Skema kerangka konsep

 TINGGI
KECEMASAN  SEDANG
 RENDAH