Anda di halaman 1dari 9

Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol Agus Andrianto

mengatakan, berdasarkan data WHO per tanggal 10 Agustus 2020, jumlah kasus positif
Covid-19 di dunia ada 19.426.112 kasus dan kematian sebanyak 302.169 kasus.
Sementara menurut data dari covid19.go.id per tanggal 10 Agustus 2020, jumlah kasus
positif di Indonesia mencapai 125.396 kasus dengan 5.723 kasus kematian.

Untuk pencegahan dan penanganan Covid-19 di Indonesia, pemerintah membentuk


Gugus Tugas Percepatan Penanganan, di mana Polri ikut menjadi bagian.

"Jika kita berbicara tentang peran Polri, hal tersebut tidak akan terlepas dari fungsi, tujuan,
peran, dan tugas pokok Polri sebagaimana yang diamanatkan pada Undang-undang
Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Fungsi, tujuan,
peran, dan tupok tersebutlah yang menjadi panduan atau acuan Polri untuk bertindak dan
berperan di masa pandemi ini. Jangan pernah lupakan hal ini," katanya dalam keterangan
tertulisnya, Rabu (12/8).

Selain menggelar Operasi Terpusat Kontinjensi Aman Nusa II-Penanganan Covid-19, Polri
juga melakukan berbagai upaya dalam rangka membantu masyarakat menghadapi
pandemi. Di antaranya adalah Kampung Tangguh Nusantara dan kegiatan program
ketahanan pangan.

"Tujuan Kampung Tangguh adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat dan


membangun semangat bersama agar lebih waspada terhadap penyebaran Covid-19,"
jelas Agus pada kegiatan Manajemen Talenta Polri di Hotel Mercure Jakarta.

Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak pada masyarakat tidak hanya di bidang


kesehatan, melainkan juga di bidang ekonomi, keagamaan, sosial dan budaya, serta
politik. Semua itu, tegasnya, jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan berpotensi
mengganggu situasi Kamtibmas.

Agus menjelaskan, di situlah peran Polri dibutuhkan agar potensi gangguan Kamtibmas
tidak berkembang menjadi gangguan nyata. Seluruh anggota Polri harus bekerja ekstra
keras dengan mengedepankan tindakan preemtif dan preventif.

"Polri juga melakukan berbagai kegiatan dalam rangka membantu masyarakat terdampak
mulai dari memberikan bantuan sosial berupa Sembako, vitamin, masker, sampai dengan
membangun dapur umum. Bahkan Kapolri memerintahkan agar tiap Polda menyiapkan
beras sebanyak 25 ton dan untuk tiap Polres sebanyak 10 ton serta melakukan penyisiran
secara langsung oleh Bhabinkamtibmas bersama Babinsa terhadap masyarakat
terdampak yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah,"
ujarnya di depan 45 peserta yang merupakan alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun
2019.

Agus tak lupa mengajak para lulusan Akpol tersebut untuk bekerja maksimal dalam setiap
pelaksanaan tugas. Karena kerja maksimal itulah yang akan menentukan kualitas masing-
masing personel Polri, yang nantinya akan menjadi pembeda antara anggota satu dengan
anggota lainnya.

"Selalu belajar, berkembang, dan asah kemampuan diri agar dapat memberikan
kontribusi, pengabdian, dan inovasi dalam hal memberikan perlindungan, pengayoman,
dan pelayanan kepada masyarakat serta penegakan hukum," tutupnya usai memberikan
materi tentang 'Peran Polri dalam Pemeliharaan Sitkamtibmas di Masa Pandemi Covid-
19'.
2

Upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia


membutuhkan kedisiplinan pada banyak aspek, terutama kehidupan sosial masyarakat.
Dalam situasi pandemi,  diperlukan  disiplin yang sangat ketat terhadap kehidupan sosial
masyarakat dalam bentuk physical distancing. Metode ini dianggap sebagai upaya yang
paling efektif untuk mencegah dan mengurangi angka penyebaran virus ini.

Pemerintah memperkuat kewajiban physical distancing melalui Peraturan Pemerintah


Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Peraturan
Kementerian Kesehatan (Permenkes) No. 9 Tahun 2020. Aturan ini harus dipatuhi dan
untuk memastikan kepatuhan tersebut, Polri menjadi garda terdepan. Dalam konteks
inilah, selain tenaga medis, Polri dapat disebut sebagai garda terdepan dalam upaya
pencegahan penyebaran COVID-19. Keberhasilan PSBB memang tergantung dari
kesadaran dan kedisiplinan masyarakat, namun untuk memastikan keduanya berjalan,
diperlukan peran Polri di dalamnya.

Disinilah letak persoalannya. Peran Polri yang demikian krusial dan signifikan untuk
mencegah penyebaran COVID-19 tentu menjadi tugas “tambahan” yang tidak pernah
diduga sebelumnya. Polri, pada satu sisi memiliki tugas-tugas rutin sebagai aparat
penegak hukum dan penjaga ketertiban umum, sementara di sisi lain menjadi pihak yang
diandalkan untuk menegakkan aturan PSBB. Pada saat yang sama, seluruh personel Polri
di lapangan juga harus meningkatkan kewaspadaan bagi dirinya masing-masing karena
kemungkinan tertular virus ini juga besar.

Di masa pandemi COVID-19, Polri mengemban fungsi penegakan hukum yang ditegaskan
kembali melalui Maklumat Kapolri No. Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan Kebijakan
Pemerintah dalam Penanganan Virus Corona. Maklumat tersebut merupakan inisiatif Polri
dalam mendukung PP Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dan Permenkes No. 9 Tahun
2020.

Maklumat Kapolri ini menyatakan bahwa Polri mendukung penuh kebijakan pemerintah
terkait penanganan COVID-19 dan memutus mata rantai wabah corona di Indonesia
melalui penindakan kepada masyarakat yang masih berkumpul. Selain itu, Polri juga fokus
pada penanganan kejahatan yang berpotensi terjadi saat penerapan PSBB, seperti street
crime, perlawanan terhadap petugas, masalah ketersediaan bahan pokok, dan kejahatan
siber. Untuk mendukung aspek penindakan, Polri menggelar operasi kontinjensi Aman
Nusa II 2020. Operasi ini diberlakukan sejak 19 Maret hingga 17 April 2020. Masa operasi
bisa diperpanjang berdasarkan perkembangan situasi di lapangan
3

Penularan virus SARS-CoV-2 masih terjadi di tengah masyarakat. Penyebaran COVID-19


yang berkelanjutan dapat memicu dan memperburuk berbagai permasalahan sosial-
ekonomi. Kepatuhan dan kedisplinan dalam penerapan protokol kesehatan menjadi salah
kunci penanganan COVID-19.

Dalam konteks tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan Instruksi
Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020. Ini merupakan langkah untuk memastikan
protokol kesehatan diterapkan secara disiplin dan patuh oleh semua pihak. Kepala Biro
Penerangan Masyarakat Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Awi Setiyono
menyampaikan hal tersebut di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19,
Jakarta, Kamis (13/8).

Ia menyampaikan bahwa dalam Inpres tersebut memuat empat poin yang diarahkan
khusus kepada Polri.

“Pertama, Presiden Jokowi memerintahkan Polri untuk turut mendukung dengan


mengawasi penerapan protokol kesehatan,” ujar Awi.

Kedua, Polri diminta bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Pemerintah
Daerah (Pemda) dalam melakukan patroli. 

“Lalu yang ketiga, Polri diarahkan untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat
dengan tujuan supaya masyarakat ikut berpartisipasi dalam mencegah penyebaran
COVID-19 di Indonesia,” lanjut Awi.

Kemudian yang keempat adalah efektivitas penegakkan hukum terkait pelanggaran


protokol kesehatan.

Awi juga mengatakan bahwa Polri telah melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat
dengan membuat program Kampung Tangguh di berbagai daerah. Dalam program
Kampung Tangguh, masyarakat diminta memindai, menganalisis, serta mengambil
tindakan pemecahan masalah yang sedang terjadi.

“Di situ nanti ada tim medisnya sendiri, penguatan terkait dengan ketahanan pangan,
bahkan sampai ada tim pemulasaraan, tim edukasi terkait dengan 3M,” imbuhnya. 

Langkah 3M merupakan protokol kesehatan yang disosialisasikan oleh pemerintah,


sebagai penyingkatan dari memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Mengenai penegakkan hukum yang sifatnya denda, Awi mengatakan bahwa hal tersebut
adalah pilihan terakhir. Penegakkan hukum pun dilakukan sesuai dengan peraturan
daerah yang dibuat oleh pemda masing-masing. Selagi masih dapat dilakukan pembinaan
dalam upaya mengajak masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, Polri akan
mengedepankan hal tersebut.

Lebih lanjut, Awi mengajak masyarakat untuk disiplin diri dalam mematuhi protokol
kesehatan dan tidak menganggap pandemi COVID-19 ini sebagai konspirasi belaka.

Pada kesempatan yang sama, Subbid Pam dan Gakkum Satgas Penanganan COVID-19,
Aloysius Agung menjabarkan kegiatan yang sudah dilakukan oleh TNI sebelum COVID-19
dinyatakan sebagai pandemi. Kegiatan tersebut di antaranya adalah penjemputan Warga
Negara Indonesia (WNI) ke Wuhan, Cina dan penyiapan kegiatan karantina di Pulau
Galang, Kepulauan Riau.

”Setelah Presiden Joko Widodo menyatakan COVID-19 sebagai sebuah pandemi,


dibentuklah Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang mana TNI juga
termasuk di dalamnya,” ungkap Aloysius.

Selanjutnya, mengenai peran TNI terhadap Inpres Nomor 6 Tahun 2020 ini, Aloysius
mengatakan bahwa TNI mendukung dengan bersinergi dengan Polri seperti yang sudah
disampaikan oleh Awi Setiyono.
4
“Dalam hal ini TNI tidak melibatkan unsur- unsur yang (menyangkut kegiatan)
bertempur. Jangan bayangkan bahwa begitu TNI turun, maka yang diturunkan
Alutsistanya, sama sekali tidak. Kita bicara tentang protokol kesehatan,” imbuh Aloysius.

Kemudian Aloysius menegaskan bahwa peran personel TNI yang dilibatkan dalam
pendisiplinan protokol kesehatan disesuaikan dengan rancangan operasi yang dibuat oleh
Pemda masing-masing, contoh di Madiun terbentuk Penegakkan Disiplin Protokol
Kesehatan Agar Warga Sehat (Pendekar Waras) yang mana melibatkan TNI.

“Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat desa, Panglima TNI telah


mengarahkan tugas tersebut kepada Bintara Pembina Desa (Babinsa). Hal ini dilakukan
guna membuat masyarakat terbiasa dengan pematuhan protokol kesehatan,” ujar
Aloysius.

Selanjutnya, Aloysius mengatakan bahwa Ia sangat mendukung sanksi sosial yang


diberlakukan oleh Pemda dalam penegakkan protokol kesehatan pada masyarakat. 

“Kadang-kadang sanksi sosial yang diberlakukan oleh Pemda itu malah lebih disegani dan
dilaksanakan oleh masyarakat setempat,” ucapnya.

Menutup perbincangan, Aloy mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan 3M,


dengan menggunakan bahasa daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. 

“Poro sedoyo, babaturan, tong hilap nya, ojo lali 3M. Cuci tangan, pasang masker, jaga
jarak. Matur suwun,” tuturnya.
5

Aplikasi Qlue bersama startup lainnya di bawah MDI Ventures membuat platform berbasis
integrasi data, chatbot dan pelaporan warga yang dapat membantu pemerintah, terutama
Polri dalam menemukan kerumunan masyarakat.
 
CEO Qlue, Rama Raditya mengemukakan pihaknya bakal membantu penuh Pemerintah
mencegah penyebaran virus corona atau covid-19 di Indonesia.
 
Dia menjelaskan laporan mengenai virus corona atau covid-19 oleh masyarakat bisa
divisualisasi dalam bentuk peta yang dapat diakses publik di dashboard
www.indonesiabergerak.com/laporan-warga.
 
Laporan masyarakat tersebut, kata Rama dapat diintegrasikan dengan data lainnya,
sehingga bisa membantu orang untuk melihat penyebaran virus corona atau covid-19 di
Indonesia. Selain itu, bisa juga mengurangi penyebaran virus corona dengan laporan
kerumunan masyarakat dan melihat data rumah sakit yang penuh.
 
"Mulai hari ini, Qlue mengaktifkan ekosistem smart city dengan menyediakan QlueApp
sebagai platform warga untuk melaporkan dan memantau perkembangan Covid-19 dan
aplikasi QlueWork (aplikasi manajemen tenaga kerja/workforce management) yang
digunakan petugas BNPB di lapangan untuk mengoordinasikan berbagai tugas secara
efektif dan efisien," tutur Rama dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa
(24/3/2020).
 
Secara terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal
TNI Doni Monardo mengatakan partisipasi dari Qlue dan startup anak bangsa lainnya
membantu BNPB dalam memberikan pemahaman dan informasi yang cepat, akurat, dan
transparan ke masyarakat. 
 
Selain itu, menurutnya, partisipasi masyarakat dalam melaporkan suspect Covid-19,
kerumunan masyarakat yang dapat berpotensi menyebarkan virus corona, hingga data
rumah sakit yang penuh juga sangat dibutuhkan BNPB sebagai data untuk menganalisa
dan menentukan langkah selanjutnya dalam mengantisipasi penyebaran virus corona di
Indonesia.
 
"Inisiatif startup karya anak bangsa ini akan membantu BNPB membuat kebijakan
strategis dalam mengatasi pandemi Covid-19. Kolaborasi BNPB bersama Qlue ini telah
kami rintis sejak 2017 lalu untuk mempercepat proses pemulihan pasca bencana di
seluruh Indonesia dan saat ini BNPB meningkatkan kerjasama dengan Qlue untuk berada
di gerbong yang sama untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia," katanya.
 
Sementara itu, Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga menyambut baik
langkah Qlue dan startup lainnya di bawah koordinasi perusahaan modal ventura Telkom
Indonesia, MDI Ventures, yang berinisiatif membantu pemerintah Indonesia dalam
mengatasi pandemi Covid-19. 
 
Menurutnya, Kementerian BUMN melalui MDI Ventures menyiapkan inovasi digital yang
dapat membantu pemerintah melakukan pencegahan, pelaporan dan sosialisasi mengenai
penyebaran Covid-19 terhadap masyarakat.
 
"Indonesiabergerak.com merupakan wujud nyata BUMN di bidang digital untuk menekan
persebaran pandemi Covid-19 di Indonesia. Semoga kolaborasi di bawah MDI Ventures
itu, bisa membantu penuh masyarakat dalam membantu pemerintah menekan laju
persebaran Covid-19," ujarnya.
 
Secara terpisah, Managing Partner MDI Ventures, Kenneth Li mengemukakan sebagai
perusahaan modal ventura di bawah Telkom Indonesia, MDI Ventures akan membantu
Indonesia mengatasi penyebaran virus corona. Menurutnya, Qlue dan startup lain di
6
bawah MDI Ventures siap kolaborasi membantu masyarakat mendapat
perkembangan informasi secara real-time serta berpartisipasi dalam melaporkan
perkembangan virus corona di lingkungannya.
 
"Semoga platform ini bisa memacu startup lain dalam mengembangkan sesuatu untuk
membantu pemerintah dalam menekan laju penyebaran Covid- 19," tuturnya

Upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia


membutuhkan kedisiplinan pada banyak aspek, terutama kehidupan sosial masyarakat.
Dalam situasi pandemi,  diperlukan  disiplin yang sangat ketat terhadap kehidupan sosial
masyarakat dalam bentuk physical distancing. Metode ini dianggap sebagai upaya yang
paling efektif untuk mencegah dan mengurangi angka penyebaran virus ini.

Pemerintah memperkuat kewajiban physical distancing melalui Peraturan Pemerintah


Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Peraturan
Kementerian Kesehatan (Permenkes) No. 9 Tahun 2020. Aturan ini harus dipatuhi dan
untuk memastikan kepatuhan tersebut, Polri menjadi garda terdepan. Dalam konteks
inilah, selain tenaga medis, Polri dapat disebut sebagai garda terdepan dalam upaya
pencegahan penyebaran COVID-19. Keberhasilan PSBB memang tergantung dari
kesadaran dan kedisiplinan masyarakat, namun untuk memastikan keduanya berjalan,
diperlukan peran Polri di dalamnya.

Disinilah letak persoalannya. Peran Polri yang demikian krusial dan signifikan untuk
mencegah penyebaran COVID-19 tentu menjadi tugas “tambahan” yang tidak pernah
diduga sebelumnya. Polri, pada satu sisi memiliki tugas-tugas rutin sebagai aparat
penegak hukum dan penjaga ketertiban umum, sementara di sisi lain menjadi pihak yang
diandalkan untuk menegakkan aturan PSBB. Pada saat yang sama, seluruh personel Polri
di lapangan juga harus meningkatkan kewaspadaan bagi dirinya masing-masing karena
kemungkinan tertular virus ini juga besar.

Artikel ini mengulas kompleksitas penegakan hukum pada masa pandemi ini.
Kompleksitas ini dapat dilihat pada beberapa aspek, yaitu: penegakan hukum PSBB,
kompleksitas masalah dalam penegakan hukum PSBB, dan pilihan solusi yang dapat
dilakukan.

Penegakan Hukum Dalam PSBB

Fungsi penegakan hukum yang diemban Polri sesungguhnya tidak lepas dari fungsinya
sebagaimana telah diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri. Pasal 2 dalam UU
ini menyebutkan bahwa salah satu fungsi kepolisian adalah fungsi pemerintahan negara di
bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum,
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.[1] Secara eksplisit,
pernyataan ini kembali ditegaskan sebagai tugas dan wewenang Polri yang diatur pada
Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri.

Berdasarkan regulasi di atas, maka istilah keamanan dalam konteks tugas dan fungsi Polri
adalah “keamanan dan ketertiban masyarakat,” dimana istilah ini mengandung dua
pengertian.[2] Pertama, sebagai suatu kondisi dinamis masyarakat, sebagai salah satu
prasyarat terselenggaranya pembangunan nasional sebagai tujuan nasional yang ditandai
oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, tegaknya hukum, serta terbinanya ketentraman.
Kedua, keamanan sebagai kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan
kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk
pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan
masyarakat.
7
Di masa pandemi COVID-19, peran Polri lebih ditekankan pada pengertian kedua
karena pada masa PSBB, Polri mengemban fungsi penegakan hukum yang ditegaskan
kembali melalui Maklumat Kapolri No. Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan Kebijakan
Pemerintah dalam Penanganan Virus Corona. Maklumat tersebut merupakan inisiatif Polri
dalam mendukung PP Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dan Permenkes No. 9 Tahun
2020.

Maklumat Kapolri ini menyatakan bahwa Polri mendukung penuh kebijakan pemerintah
terkait penanganan COVID-19 dan memutus mata rantai wabah corona di Indonesia
melalui penindakan kepada masyarakat yang masih berkumpul. Selain itu, Polri juga fokus
pada penanganan kejahatan yang berpotensi terjadi saat penerapan PSBB, seperti street
crime, perlawanan terhadap petugas, masalah ketersediaan bahan pokok, dan kejahatan
siber.[3] Untuk mendukung aspek penindakan, Polri menggelar operasi kontinjensi Aman
Nusa II 2020. Operasi ini diberlakukan sejak 19 Maret hingga 17 April 2020. Masa operasi
bisa diperpanjang berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.[4]

Satgas ini memiliki beberapa subsatgas. Pertama, Subsatgas Pidana Umum


(Pidum) bertugas menindak kejahatan konvensional (pencurian, penjarahan, perampokan,
tindak pidana bencana alam, serta tindak pidana karantina kesehatan). Kedua, Subsatgas
Ekonomi bertugas mengawasi dan menindak penimbunan bahan makanan dan alat
kesehatan, menindak pelaku ekspor antiseptik, bahan baku masker, alat pelindung diri
(APD) dan masker, serta penindakan terhadap obat atau alat kesehatan yang tidak sesuai
standar/izin edar.[5] Ketiga, Subsatgas Siber melakukan penindakan terhadap provokator
dan penyebaran hoaks terkait penanganan COVID-19.

Kompleksitas Masalah dalam Penegakan Hukum PSBB

Jika melihat substansi maklumat maupun operasi yang dilakukan, fungsi Polri lebih
banyak bergerak di area penindakan terhadap pelanggaran ketimbang pencegahan.
Terlebih lagi, area penindakan tersebut ingin dicakup semuanya oleh Polri tanpa
mempertimbangkan kesulitan teknis di lapangan. Padahal, Polri perlu menyadari bahwa
dari sisi internal, masih terdapat keterbatasan (daya dukung) sumber daya Polri, seperti
jumlah dan kemampuan personil yang bertugas, koordinasi dengan stakeholder yang
masih lemah, dan sebagainya. Dalam banyak studi, keterbatasan-keterbatasan di atas
belum sepenuhnya dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri.

 Padahal, sebagaimana tertuang dalam UU No. 2 Tahun 2002, fungsi Polri tidak hanya 
penindakan, melainkan juga pencegahan melalui upaya persuasif yang dapat melibatkan
masyarakat. Tampaknya hal ini tidak menjadi prioritas bagi Polri mengingat dalam
maklumat tersebut, Polri ingin mengerahkan semua potensi kekuatan untuk mendukung
pelaksanaan PSBB.

Namun hal utama yang tidak bisa diabaikan adalah pandemi telah menciptakan masalah
keamanan yang sangat kompleks. Hal ini patut dicermati oleh Polri. Kompleksitas ini
setidaknya terlihat dari; Pertama, fluktuasi tingkat kejahatan sepanjang masa pandemi dan
PSBB yang mengalami kenaikan maupun penurunan. Pada bulan Februari terdapat
17.411 kasus, bulan Maret naik menjadi  20.845 kasus,[6] lalu April menurun kembali
menjadi 15.322 kasus.[7] Walaupun secara kuantitas menurun, terdapat potensi kejahatan
di beberapa sektor yang patut diwaspadai selama PSBB, seperti kejahatan jalanan
(penjambretan, perampokan, dan pencurian kendaraan bermotor)

Kedua, perubahan pola kriminalitas di masa pandemi. Studi Roberts menemukan bahwa
terjadi bentuk-bentuk baru kriminalitas yang berevolusi sebagai pemanfaatan situasi
selama masa pandemi COVID-19.[8] Hal ini terkonfirmasi dari pandangan Polri bahwa
kriminalitas yang terjadi sepanjang PSBB salah satunya juga disebabkan oleh masyarakat
yang terdampak secara ekonomi di tengah pandemi. Para pelaku kriminal memanfaatkan
situasi pembatasan sosial yang membuat lingkungan sepi untuk melakukan aksinya.

Selain itu, Polri perlu memperhitungkan pola kriminalitas lainnya yang tidak hanya terjadi
sepanjang PSBB, melainkan selama masa pandemi. Misalnya, kasus pencurian dan
penimbunan alat medis, penjualan obat-obatan palsu melalui kejahatan terorganisir,
8
pencurian pada tempat sektor bisnis yang kosong, pelanggaran ketertiban umum
karena perselisihan masalah medis, hingga kesalahpahaman masyarakat mengenai
penanganan COVID-19.

Sampai saat ini, kesalahpahaman  masih saja berlangsung di tengah semakin


meningkatnya kasus positif COVID-19. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi
terhadap tenaga medis maupun individu-individu non-tenaga medis hingga penolakan
terhadap jenazah yang dianggap terinfeksi. Polri memang telah menunjukkan upaya
penindakan melalui penegakan hukumnya, tetapi masih belum sebanding dengan
masifnya diskriminasi tersebut.

Kompleksitas ini perlu dicermati oleh Polri dalam menentukan prioritas tindakan
penegakan hukum. Dalam studi Stone, [9] ada  lima kategori utama yang dapat menjadi
pilihan prioritas pada masa pandemi: (1) menegakkan penerapan karantina secara tegas;
(2) melindungi tenaga medis; (3) menindak penimbunan peralatan medis dan penjualan
obat palsu; (4) mengawasi potensi hoaks yang dapat memicu konflik sosial; dan (5)
menangkap pelaku kriminal yang melakukan kejahatan jalanan. Dari lima kategori ini,
posisi kepolisian sangat penting dalam menyusun strategi untuk menghadapinya dan
dalam menetapkan prioritas masalah yang akan ditangani.

Pilihan Solusi

Apakah Polri memiliki daya dukung dan kemampuan optimal untuk menjalankan seluruh
kategori di atas? Studi Stone dan Robert memotret fenomena ini di beberapa negara
(Tiongkok, AS, dan Inggris) ternyata hasilnya sangat sulit. Apalagi angka rasio polisi di
Indonesia dengan jumlah masyarakatnya masih belum ideal. Selain itu, yang paling utama
adalah daya dukung personel kepolisian yang berkurang akibat virus ini. Banyak personil
kepolisian yang terpapar virus ini sehingga berdampak pada pelaksanaan teknis di
lapangan. Polri sendiri telah menyatakan ada beberapa anggotanya yang terpapar,
walaupun belum ada rilis resmi jumlah totalnya.

Karena itu, berdasarkan studi Stone dan Robert, pilihan yang dapat dilakukan adalah
komunikasi terbuka antara kepolisian dengan pemangku kepentingan.[10] Bentuk
komunikasi ini adalah membangun dialog dua arah dengan para pemangku kepentingan
(pemerintah dan DPR). Polri perlu mengemukakan secara realistis tentang apa yang
mereka lakukan, mengapa, dan keterbatasan serta ketidakpastian situasi keamanan yang
akan dihadapi, ketimbang mengklaim seluruh masalah keamanan masyarakat dapat
ditangani demi melindungi reputasi.

Polri juga harus siap menegosiasikan peran mereka dan memprioritaskan fungsi
penegakan hukum pada kategori tertentu. Fungsi apa yang dapat dikurangi atau dibatasi
dan sejauh mana kapasitas dan kemampuan yang dimiliki untuk menanggapi permintaan
dukungan mereka dari lembaga lain dan masyarakat. Melalui komunikasi ini, maka dapat
ditentukan prioritas keamanan yang akan ditangani oleh Polri dengan berbagai
pertimbangan.

Pilihan lainnya adalah pencegahan berbasis komunitas. Penerapan PSBB di Kabupaten


Bogor dapat menjadi contoh. Pencegahan penyebaran virus ini tidak hanya bergantung
pada mekanisme pembatasan di area publik (jalan raya), tetapi dimulai dari basis
komunitas paling kecil (RT/RW, desa, dan kecamatan). Polri dapat berkolaborasi bersama
komunitas masyarakat dengan mengandalkan Polsek sebagai basis deteksi dini akan
potensi terjadinya masalah keamanan dalam masyarakat. Peran Bhayangkara Pembina
Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) bisa dioptimalkan untuk
mengedukasi masyarakat sebagai pencegahan timbulnya hoaks atau stigma mengenai
virus ini. (Sarah Nuraini Siregar, M.Si)
9