Anda di halaman 1dari 2

NAMA : Maulida Firdausy

NIM : P07152119003
MATA KULIAH : Budi Pekerti
DOSEN PENGAMPU : Taadi., S.SiT., S.Pd., M.Kes

1. Mengapa perawat gigi perlu mengenal budaya masyarakat ?


JAWABAN :
Di Indonesia terdapat berbagai suku-suku,budaya,adat setempat. Dan pastinya juga
terdapat beragam budaya dari masyarakat satu dan masyarakat lainnya. Terutama
mengenai perawatan gigi di setiap daerahnya pasti terdapat adat dan budaya yang
berbeda dalam hal ini. Dilihat dari konteks sosial budaya,memang ada perbedaan
persepsi antara masyarakat dengan petugas kesehatan terkait kesehatan gigi dan
mulut. Misalnya dalam persepsi nyeri gigi, di dalam masyarakat nyeri gigi tersebut
masih dianggap ringan atau masih disepelekan karena mereka belum mengalami
nyeri gigi yang parah. Masyarakat baru akan berobat ke dokter gigi ketika nyeri gigi
sudah parah dan pipi sudah sampai membengkak. Padahal dalam medis, nyeri gigi
sudah termasuk ke dalam masalah gigi yang harus segera di obati. Hal ini mungkin
juga dapat disebabkan oleh struktur sosial budaya terkait kesehatan. Masyarakat
cenderung aktif bertanya kepada tetua/sesepuh ketimbang ke dokter. Penyebab
lainnya adalah terkait faktor sosial ekonomi, dan faktor psikologis dimana dalam
benak masyarakat, dukun atau paraji lebih bernas ketimbang dokter. Contoh lainnya,
apabila dalam suatu daerah masyarakatnya belum mengetahui bagaimana cara
menyembuhkan masalah gigi yang sakit atau berlubang dan atau mungkin banyak
masyarakat yang menggunakan bahan alami untuk menyembuhkan gigi nyeri atau
berlubang atau masalah gigi yang lainnya, padahal tidak semua bahan yang alami itu
akan bisa menyembuhkan gigi kadang bahan tersebut juga malah membuat gigi
semakin rusak apabila terlalu sering atau terlalu lama digunakan/dikonsumsi.
Contohnya berbagai suku di Indonesia beberapa masyarakat suka memakan daun
sirih setiap terdapat acara yang bersifat ritual budaya menyirih ini memang menjadi
kebiasaan memamah selingan di saat saat santai. Dan menurut penelitian orang
yang memiliki kebiasaan memakan sirih dapat menyebabkan penyakit Periodontal
dan disertai juga dengan kerusakan jaringan pendukung gigi yang lain dan juga
menyebabkan karang gigi yang lebih parah di bandingkan orang yang tidak
memakan sirih.
Sehingga perawat gigi haruslah perlu untuk mengenal dan mengetahui budaya
masyarakat, agar perawat gigi tidak salah dalam melakukan suatu tindakan dan
penanganan kepada masyarakat dan perawat gigi juga berupaya untuk
meningkatkan kemampuan kesehatan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta
mampu berperan secara aktif dalam masyarakat sesuai sosial budaya setempat
yang didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan.
2. Berikan contoh budaya masyarakat, hubungan dengan kesehatan, dan sikap
perawat gigi terhadap hal tsb.
JAWABAN :
Dalam hal ini saya menemukan contoh budaya masyarakat tentang pengobatan
tradisional gurah ulat gigi, cara yang dilakukan yakni dengan mengeluarkan ulat kecil
yang bersarang pada gigi yang bermasalah terutama pada gigi berlubang yaitu
dengan cara mengoleskan minyak pada gigi yang bermasalah, kemudian panaskan
celebingkah (pecahan genteng) sambil menunggu, isi paso (gerabah ) dengan sedikit
air, kemudian di masukkan sebuah batu ke dalamnya. Setelah celebingkah panas,
maka celebingkah di letakkan di atas batu kemudian ditutup menggunakan
tempurung kelapa yang diatasnya di pasang selang plastik kecil guna untuk meniup
air yang di dalam gerabah lalu ujung selang plastik itu diletakkan pada gigi yang
bermasalah. Lalu ulat-ulat kecil tersebut keluar di dalam air paso tersebut.
Dalam hal ini sebenarnya bukan ulat gigi yang kelaur tetapi bakteri. Bakteri keluar
karena gigi berlubang. Gigi berlubang disebabkan karena tidak menjaga kesehatan
gigi. Bakteri tersebut dapat menempel pada gigi dari sisa makanan yang menempel
dan tidak dibersihkan. Sisa makanan adalah makan favorit bakteri penyebab gigi
berluabang. Jadi semakin banyak sisa makanan yang menempel, maka semakin
banyak juga bakteri kuman dirongga mulut. Jika sisa makanan tidak bersihkan dan
masih menempel dan akan bercampur dengan air liur akan membuat bakteri tersebut
mengeluarkan asam. Awalnya zat asam dari bakteri ini hanya akan membuat lubang
kecil di gigi tapi jika segera dilakukan perawatan akan membuat gigi berlubang
semakin besar dan menjadi sakit gigi.
Dalam hal ini kita sebagai perawat gigi memberikan pengertian terhadap Masyarakat
yang masih percaya dengan pengobatan tersebut. Dengan cara melakukan
pendekatan, penyuluahan terhadap Masyarakat sekitar. Dalam penyuluhan ini, hal
pertama yang kita lakukan yaitu mendekati tokoh Masyarakat dalam tempat tersebut.
Dan tokoh Masyarakat tersebut memberitahukan kepada Masyarakat tentang
adanya penyuluhan. Dan pada penyeluhan tersebut materi yang disampaikan
tentang mengenalkan dunia kesehatan, lalu cara menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Jika mengetahui gigi berluabang perawat gigi akan melakukan,
penumpatan/penambalan gigi, jika gigi berlubang dan meneganin saluran akar gigi
dilakuakan perawatan saluran akar gigi. Dan jika gigi sudah dapat dilakukan
penumpatan dan perawatan saluran akar gigi, gigi tersebut akan dicabut.
Untuk menjaga kesehatan gigi diwajibkan menyikat gigi 2x sehari dengan baik dan
benar menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride dan sikat gigi lurus
dengan bulu sikat yang halus. Sikat gigi dilakukan setelah sarapan pagi dan sebelum
tidur malam. Dan untuk menjaga kesehatan gigi periksa gigi 6 bulan sekali di fasilitas
pelayanan kesehatan gigi terdekat.