Anda di halaman 1dari 6

SURAT EDARAN PENGURUS WILAYAH NAHDLATUL ULAMA (PWNU) DIY

NOMOR: 541/AB/A1.05/01/2021
TENTANG
PEMBERIAN VAKSIN UNTUK PENCEGAHAN COVID-19
Bismillahirrahmanirrahim
Memperhatikan:
1. bahwa pandemi COVID-19 telah terbukti memberikan dampak terhadap hampir semua aspek
kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan beragama.
2. bahwa selama masa pandemi, Pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan utuk
kemaslahatan warganya, namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.
3. bahwa kebijakan terbaru Pemerintah adalah pemberian vaksin (vaksinasi), sebagai ikhtiar
mencegah penyebaran COVID-19 secara lebih luas.
4. bahwa kebijakan vaksinasi merupakan upaya untuk menghindarkan bahaya yang lebih luas (al-
madharat al-‘ammah), dan hal ini sesuai dengan kaidah fiqih; ad-daf’u afdhalu min ar-raf’i.
5. bahwa pemberian vaksin COVID-19 bukan semata menjaga keselamatan diri (individual),
melainkan untuk mengupayakan keselamatan kolektif (al-mashlahah al-’ammah).
6. bahwa penolakan pribadi untuk divaksin, merupakan sikap arogansi yang berpotensi
menimbulkan al-madharat al-‘ammah (bahaya yang lebih luas).
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY;
1. Menginstruksikan kepada seluruh warga Nahdliyyin (khususnya di DIY) untuk;
a. Selalu bermunajat kepada Allah SWT., serta memperbanyak bacaan shalawat kepada Baginda
Kanjeng Nabi Muhammad, SAW.
b. Tetap kompak, berpikiran positif serta mendukung setiap ikhtiar Pemerintah yang
mengandung kemaslahatan serta tidak bertentangan dengan syari’at.
c. Menerima dan mengikuti vaksinasi COVID-19 yang diprogramkan Pemerintah, sebagai ikhtiar
menjaga keselamatan diri dan masyarakat.
2. Menghimbau kepada Pemerintah untuk;
a. Mengedepankan langkah persuasif bagi masyarakat yang belum dapat menerima kebijakan
vaskinasi COVID-19, dengan melibatkan tokoh masyarakat dan agama.
b. Mengedepankan sanksi sosial (bukan pidana) terhadap individu masyarakat (pribadi) yang
karena alasan subyektifnya belum / tidak bersedia divaksin.
c. Wacana pemberian sanksi hukum (pidana) dapat diterapkan Pemerintah, jika;
1) Seseorang berkampanye / mengajak orang lain untuk menolak vaksinasi COVID-19
2) Pemerintah telah memastikan keamanan, kesucian, dan kehalalan vaksin yang
dipergunakan, serta telah secara sungguh-sungguh melakukan langkah persuasif.
3) Munculnya indikasi potensi bahaya secara luas berdasarkan pertimbangan dari pihak-
pihak yang memiliki kewenangan otoritatif di bidang kesehatan.
Yogyakarta, 10 Jumadil Akhir 1442 H
23 Januari 2021 M
PWNU DIY

KH. Mas’ud Masduki KH. Chasan Abdullah H. Fahmy Akbar Idries H. Mukhtar Salim
Rais Syuriyah Katib Syuriyah Wakil Ketua Tanf. Sekretaris Tanf.
Lampiran

HASIL BAHTSUL MASAIL


LEMBAGA BAHTSUL MASAIL PWNU DIY
NO: 02.026/LBM-DIY/I/2021

TENTANG
HUKUM PENOLAKAN VAKSINASI COVID-19
DAN HUKUM SANKSI BAGI PENOLAKNYA
HASIL BAHTSUL MASAIL
LEMBAGA BAHTSUL MASAIL
PENGURUS WILAYAH NAHDLATUL ULAMA
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NO: 02.026/LBM-DIY/I/2021

TENTANG
HUKUM PENOLAKAN VAKSINASI COVID-19 DAN
HUKUM SANKSI BAGI PENOLAKNYA

DESKRIPSI MASALAH

Pandemi COVID-19 di negara kita belum juga menunjukkkan tanda-tanda akan berhenti,
bahkan cenderung semakin mengkhawatirkan. Kebijakan yang telah diterapkan pemerintah sejak
Maret 2020 adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yaitu pembatasan kegiatan tertentu
penduduk di dalam suatu wilayah untuk menekan penyebaran virus COVID-19. Berbagai regulasi
pemerintah sebagai implementasi kebijakan PSBB ini telah dilakukan, akan tetapi penyebaran
Covid-19 belum juga menunjukkan tren menurun. Sebagaimana dilakukan negara-negara lain,
pemerintah kemudian mengambil kebijakan vaksinasi masif bagi masyarakat.

Kebijakan vaksinasi masif dinilai pemerintah sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan
bangsa ini, setelah berbagai sektor kehidupan memburuk dan terancam krisis akibat pandemi
global ini. Sebagai salah satu strategi pengendalian penyebaran Covid-19, kebijakan vaksinasi
masif dianggap pemerintah Indonesia sebagai tumpuan harapan untuk menahan laju penyebaran
Covid-19 yang semakin intensif dan ekstensif. Kesuksesan menekan laju pandemi memang bukan
hanya ditentukan oleh kebijakan vaksinasi yang masih menunggu bagaimana respon masyarakat
ini, tapi juga penerapan kebijakan vaksinasi masif yang tepat dan langkah pencegahan lainnya
dengan berbagai kebijakan yang konsisten.
Ketika kebijakan vaksinasi masif diambil oleh pemerintah, sebagai bagian dari
implementasi Undang-Undang Kekarantinaan No. 6 Tahun 2018 untuk menyelamatkan kehidupan
rakyatnya dalam situasi pandemi, kehadirannya tidak lepas dari pro dan kontra. Banyak kalangan
yang mendukung kebijakan ini untuk menghambat laju penyebaran virus ini sehingga
mempercepat normalisasi aktifitas berbagai sektor kehidupan, tetapi juga ada yang menolaknya
dengan berbagai latar belakang alasan yang ada, baik yang bersifat medis, ekonomis, politis
bahkan teologis dan berdasar kearifan lokal.

Sinovac merupakan salah satu vaksin yang akan digunakan pemerintah Indonesia. Ia akan
disuntikkan secara bertahap ke seluruh masyarakat dengan kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
UU Kekarantinaan No. 6 Tahun 2018 memang menyimpan celah pemahaman untuk pemerintah
mengharuskan masyarakat melakukan vaksinasi, bahkan dengan ancaman hukuman pidana bagi
yang menghalangi dan melakukan penolakan. Vaksin ini telah digunakan di beberapa negara di
antaranya Brazil, Cile, Filipina, Turki dan Singapura. Di Indonesia sendiri, setelah melalui proses
uji klinis, vaksin ini telah resmi mendapatkan izin penggunaan darurat atau emenrgency use of
authorization (EUA) dari BPOM, juga sertifikasi halal dari MUI. Program vaksinasi tahap pertama
telah dimulai ditandai dengan penyuntikan dosis pertama vaksin ini kepada Presiden Joko Widodo,
Rabu, 13 Januari 2021, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

PERTANYAAN
1. Apakah wajib bagi semua masyarakat mengikuti kebijakan pemerintah yang mewajibkan
vaksinisasi covid-19?
2. Bolehkan bagi pemerintah menerapkan sanksi atau hukuman pidana bagi masyrakat yang
menolak vaksinasi covid-19?

JAWABAN
1. Setelah pemerintah mempertimbangkan kemaslahatan yang ada dan resiko yang terjadi
apabila tidak dilakukan vaksinasi masif bagi masyarakat, serta mampu memastikan
kehalalan, efektifitas dan keamanan vaksinasi berdasarkan saran dari berbagai pihak yang
otoritatif maka masyarakat wajib mengikuti kebijakan pemerintah bagi mereka untuk
melakukan vaksinasi Covid-19.
265 ,30 ,‫ محمد بن أأمحد بن أأيب سهل مشس ا ألمئة الرسخيس‬,‫املبسوط‬
‫يُك‬ ُ ‫ َوه َُو ُم َع ِّر ٌض ن َ ْف َس ُه لِّلْه َََل ِّك َوقَا َل ه‬، ]29 :‫اَّلل تَ َع َاَل َ{و ََل تَ ْقتُلُوا َأنْ ُف َس ُ ُْك} [النساء‬
ْ ُ ‫اَّلل تَ َع َاَل َ{و ََل تُلْ ُقوا ِّبأَيْ ِّد‬ ُ ‫قَا َل ه‬
‫ فَقَدْ ُر َما ي َُس ُّد ِّب ِّه َر َمقَ ُه يُ ْندَ ُب ا ََل َأ ْن يَتَنَ َاو َل ِّم ْقدَ َار َما ي َ َتقَ هوى ِّب ِّه عَ ََل ه‬، ِّ‫] َوب َ ْعدَ الته َن ُاول‬195 :‫ا ََل الَّته ْلُ َك ِّة} [البقرة‬
‫الطاعَ ِّة؛‬
‫الطاعَ ِّة‬
‫ِّ َلن ه ُه ا ْن لَ ْم يَتَنَ َاو ْل يَضْ ُع ُف َو ُرب ه َما ي َ ْعجِّ ُز ع َْن ه‬
“.....Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau jatuhkan dirimu dalam
kebinasaan....”

784 ,2 ,‫ ابن ماجة أأبو عبد هللا محمد بن يزيد القزوين‬,‫سنن ابن ماجه‬
ٍ ِّ ‫َح هدثَ َنا َع ْبدُ َ ِّرب ِّه ْب ُن خ‬
َ ‫ َح هدثَ َنا ُم‬:‫ َح هدثَ َنا فُضَ ْي ُل ْب ُن ُسلَ ْي َم َان قَا َل‬:‫َاِل النُّ َم ْ ِّْي ُّي َأبُو الْ ُمغ َِّل ِّس قَا َل‬
:‫وَس ْب ُن ُع ْق َب َة قَا َل‬
َ َ ‫ قَ ََض َأ ْن ََل‬،‫هللا عَلَ ْي ِّه َو َس ه ََّل‬
‫َض َر‬ ‫ ع َْن ُع َبا َد َة ْب ِّن ه‬،‫َح هدثَ َنا ا ْْس َُاق ْب ُن َ َْي ََي ْب ِّن الْ َو ِّلي ِّد‬
ِّ ‫ « َأ هن َر ُسو َل ه‬،‫الصا ِّم ِّت‬
ُ ‫اَّلل َص هَل‬
ِ
‫َض َار‬ َ ِّ ‫َو ََل‬

“.......Rasulullah SAW menetapkan bahwa tidak diperbolehkan membahayakan diri


sendiri maupun orang lain.”

1137 ,2 ,‫ ابن ماجة أأبو عبد هللا محمد بن يزيد القزوين‬,‫سنن ابن ماجه‬
‫ شَ هِّدْ ُت ْ َالع َْر َاب‬:‫ قَا َل‬،‫َش ٍيك‬ ِّ َ ‫ ع َْن ُأ َسا َم َة ْب ِّن‬،‫ ع َْن ِّز َي ِّد ْب ِّن ِّع ََلقَ َة‬،‫ َح هدثَ َنا ُس ْف َي ُان ْب ُن ُع َييْنَ َة‬:‫ قَ َاَل‬،‫ َو ِّهشَ ا ُم ْب ُن َ هَعا ٍر‬،‫َح هدثَ َنا َأبُو بَ ْك ِّر ْب ُن َأ ِّيب شَ يْ َب َة‬
‫ ِّم ْن ِّع ْر ِّض‬،‫ ا هَل َم ِّن ا ْق َ ََت َض‬،‫اَّلل الْ َح َر َج‬
ُ ‫ َوضَ َع ه‬،‫اَّلل‬ ِّ ‫ « ِّع َبا َد ه‬:‫ َأعَلَ ْي َنا َح َر ٌج ِِّف َك َذا؟ َأعَلَ ْي َنا َح َر ٌج ِِّف َك َذا؟ فَقَا َل لَهُ ْم‬:‫هللا عَلَ ْي ِّه َو َس ه ََّل‬
ُ ‫ون النه ِّ هِب َص هَل‬ َ ُ‫ي َْسأَل‬
ِ ِّ ‫ «تَدَ َاو ْوا ِّع َبا َد ه‬:‫ ه َْل عَلَ ْي َنا ُجنَ ٌاح َأ ْن ََل ن َ َتدَ َاوى؟ قَا َل‬:‫اَّلل‬ ِّ ‫ فَ َذاكَ ه ِّاَّلي َح ِّر َج» فَقَالُوا َي َر ُسو َل ه‬،‫َأ ِّخي ِّه شَ يْئًا‬
‫ ا هَل‬،‫ لَ ْم يَضَ ْع دَا ًء‬،ُ‫ ُس ْب َحانَه‬،‫اَّلل‬َ ‫ فَا هن ه‬،‫اَّلل‬
ِ ِ ‫ « ُخلُقٌ َح َس ٌن‬:‫اَّلل َما خ ْ َُْي َما ُأع ِّْط َي الْ َع ْبدُ قَا َل‬ ِّ ‫ َي َر ُسو َل ه‬:‫ قَالُوا‬، »‫ ا هَل الْه ََر َم‬،‫َوضَ َع َم َع ُه ِّشفَا ًء‬
ِ
“....Ya Rasulallah, apakah kami berdosa jika tidak berobat?” Rasulullah menjawab,
“Berobatlah kalian, Allah SWT tidak menciptakan suatu penyakit kecuali menurunkan
obatnya...”

1031 ,‫ محمد صدق‬,‫موسوعة القاعدة الفقهية‬


‫املنع أأسهل من الرفع‬
‫ أأي أأن أأخذ الاحتياطات الَلزمة قبل‬،‫ واملراد ابِلفع هو املراد ابملنع‬،)‫ بلفظ (اِلفع‬22 ‫س بق أأمثال هذه القاعدة مضن قواعد حرف اِلال حتت الرمق‬
‫وقوع احملذور أأسهل و أأيرس و أأقل لكفة وَضراً من رفع احملذور بعد وقوعه‬
)‫وهذا مبعىن القول املأأثور (الوقاية خْي من العَلج‬
‫ أأيرس و أأسهل جداً من حماوةل رفع املرض أأو الوابء بعد نزول‬- ‫ ابلتطعمي وغْيه‬- ‫ أأخذ الاحتياطات الَلزمة قبل وصول املرض أأو الوابء‬:‫ومهنا‬

“Mencegah lebih mudah daripada menghilangkan....mengambil sikap kehati-hatian


(preventif) sebelum terjadinya penyakit atau wabah dengan vaksin dan lain sebagainya,
lebih mudah dan lebih sedikit kerusakan yang diakibatkan daripada upaya
menghilangkan penyakit atau wabah setelah terjadi...”

91,‫ الس يد عبد الرمحن بن محمد‬,‫بغية املسَتشدين‬


‫أ‬
‫واحلاصل أأنه جتب طاعة اَلمام فامي أأمر به ظاهرا وابطنا مما ليس حبرام أأو مكروه فالواجب يتأكد واملندوب جيب وكذا املباح ان اكن فيه مصلحة‬

“Kepatuhan kepada pemimpin untuk melakukan perbuatan yang tidak diharamkan dan
tidak makruh adalah wajib adanya. Dalam hal ini perbuatan yang wajib menjadi lebih
kuat wajibnya, perbuatan yang sunah menjadi wajib dan begitu juga yang mubah selama
ada kemaslahatan...”

2. Pemerintah diperbolehkan menerapkan sanksi atau hukuman pidana bagi masyarakat yang
menolak dirinya dilakukan vaksinasi Covid-19. Meskipun begitu, pemerintah dianjurkan
untuk mengedepankan pendekatan persuasif bagi masyarakat yang menolak dengan
berbagai alasan yang ada. Pendekatan kepada masyarakat itu bisa dicanangkan dengan
memberikan edukasi kehalalan, efektifitas, keamanan serta kemaslahatan vaksinasi masif
dan resiko yang ditimbulkan apabila tidak dilakukan.
130 ,3 ‫ ابن العريب‬,‫أأحاكم القرأن‬
،‫ وَل يؤثر ِف رد يشء مهنا‬،‫فان اكن اَلكراه حبق عند اَلابية من الانقياد اليه فانه جائز َشعًا تنفذ معه ا ألحاكم‬
‫وَل خَلف فيه‬
“Paksaan pada setiap perkara di mana seseorang memiliki kewajiban untuk tunduk
adalah diperbolehkan....”

78 ,2 ,‫ زكري بن محمد بن أأمحد بن زكري ا ألنصاري‬,‫الغرر الهبية ِف َشح الهبجة الوردية‬


‫الظا ِّه ُر َأ هن َه َذا ا ْن لَ ْم يُ ْع َ َّْل َأ ْو يُ َظ هن َأ ْن تَ ْر َك ُه يُ ْف ِِّض ا ََل الْه َََل ِّك‬
‫ ه‬.‫ َويُ ْك َر ُه ا ْك َرا ُه ُه عَ ََل تَ َن ُاولِّ اِله َوا ِّء اهـ‬:‫قَا َل ِِّف هالر ْوضَ ِّة‬
‫َ َمَك ِّقي َل ِِّف َأ ْصلِّ ال هتدَ ا ِّوي‬
“Paksaan untuk berobat adalah makruh hukumnya.....Hal ini dipahami dalam kondisi
tidak diketahui jika meninggalkan pengobatan akan mengakibatkan kerusakan...”

158 ,2 ,‫ عز اِلين بن عبد السَلم‬,‫قواعد ا ألحاكم ِف مصاحل ا ألانم‬


‫َولَ ْو َأ َم َر ْاَل َما ُم َأ ْو الْ َح ِّ ُاِك ان ْ َساانً ِّب َما ي َ ْع َت ِّقدُ ْال ِّم ُر ِّح ه َُّل َوالْ َمأْ ُم ُور َ ْحت ِّرمي َ ُه فَه َْل َ ُل ِّف ْع ُ َُّل ن ََظ ًرا ا ََل َر ْأ ِّي ْال ِّم ِّر َأ ْو ي َ ْم َت ِّن ُع‬
ِ
‫ ِّفي ِّه ِّخ ََل ٌف‬،‫ن ََظ ًرا ا ََل َر ْأ ِّي الْ َمأْ ُمو ِّر‬
“Apabila seorang pemimpin membuat aturan perintah untuk melakukan sesuatu yang
diyakini sebagai kebolehan, akan tetapi masyarakat meyakininya sebagai keharaman
maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat apakah masyarakat harus mengikuti
pemimpinnya atau mengikuti keyakinannya....”

LEMBAGA BAHTSUL MASAIL


PENGURUS WILAYAH NAHDLATUL ULAMA
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Yogyakarta, 18 Januari 2021

Fajar Abdul Basyir H.M. Anis Mashduqi


Ketua Sekretaris

Anda mungkin juga menyukai