Anda di halaman 1dari 11

Studi Kitab Al Majruhin min Al Muhadditsin

A. Pendahuluan

Islam adalah agama Allah yang memiliki dua sumber pedoman, Al


Qur'an dan Sunnah. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, banyak
bermunculan ilmu yang membahasnya secara mendalam. Dalam ilmu hadits
sendiri, terdapat banyak cabang ilmu yang membahas mengenai bagian-bagian
hadis secara intens. Salah satunya adalah ilmu Rijalul Hadis.

Dalam ilmu Rijalul Hadis terdapat banyak karangan kitab para ulama
yang membahas mengenai biografi lengkap para perawi hadis. Kitab-kitab
tersebut sangat bermanfaat bagi pengkaji hadis sebagai alat untuk mengetahui
biografi rawi, tingkatan atau derajat rawi, serta kualitas dari perawi hadis.
Salah satu kitab tersebut akan kami bahas pada kesempatan kali ini, yaitu
Siyar a'lam an nubala' yang hanya memuat rawi-rawi dhaif saja.

B. Sekilas Profil Ibnu Hibban

Nama lengkap beliau adalah al Hafidz al Allamah Muhammad Ibnu


Hibban Ibnu Ahmad Abu Hatim at tamimi al Busti al Sijistani. Beliau
dilahirkan sekitar tahun 270 H/884M dan wafat pada tahun 354 H. Kunyah
beliau adalah Abu Hatim Tamimi Al Busti. Nama al Busti dinisbahkan pada
tempat kelahiran beliau.

Beliau merupakan salah seorang pemerintah yang terkenal pada


zamannya. Beliau pernah menjadi Qadi di Samarkand dan Khurasan. Beliau
juga merupakan salah seorang ahli hadits di zamannya.

Ketika masih muda, beliau sudah mempunyai semangat yang tinggi


untuk menuntut ilmu. Hal itu dimulai dengan menghadiri halaqah atau
majelis-majelis ilmu yang dipimpin oleh syaikh-syaikh yang ada di negerinya.
Beliau telah menuntut ilmu lebih dari 300 guru di tempat yang berbeda. Beliau
banyak mendalami ilmu dalam bidang fiqh, ilmu falak, ilmu kalam dan
terutama ilmu hadis.

Beliau mulai hijrah untuk mencari ilmu pada sekitar permulaan tahun
300 H. beliau mengunjungi sekitar 14 negara, diantaranya Naisabur, Jurjan,
Makkah, Basrah, Dimsyaq, Kufah, Baghdad dan lain-lain. Beliau menerima
hadis dari ulama-ulama yang ditemuinya dan kemudian menuliskannya,
sehingga beliau diberi gelar ‘gudang ilmu hadis’ dan telah banyak
menghasilkan banyak karangan dari apa yang telah dituliskannya.

Adapun guru-guru beliau diantaranya adalah:

1. Naisabur:
a) Muhammad bin Isyak
b) Muhammad bin Abdul Rahman
2. Makkah:
a) Muhammad bin Ibrahim bin Al-Minzir Al-Nisaburi.
b) Mufaddhal bin Muhammad bin Ibrahim Al-Jundiy.
3. Baghdad
a) Hamid bin Muhammad bin Khalid Al-Wasithi
b) Haitham bin Khalaf Ad-Dauri
4. Kufah:
a) Abi Abdullah bin Zaidan Al-Bajali
5. Dimsyaq:
a) Ahmad bin Umair bin Jauha’Al-Hafiz
b) Jaafar bin Ahmad bin Asif Al-Ansori.

Diantara murid-murid beliau adalah Abu Abdullah bin Mundah al


Hafidz, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad an Naisabur,
Abu Ali manshur bin Abdillah Khalid az Zuhli, Abu Hasan Muhammad bin
Harun, Abu Salamah Muhammad bin Daud asy Syafi’i dan lain-lain.

Sedangkan diantara beberapa karyanya adalah sebagai berikut:

a) Tarikh Ats Tsiqat


b) Shahih Ibn Hibban
c) Masyahir Ulama al Anshar
d) Anwa’ al Ulum wa Aushofiha
e) Ghara’ib al Khabar
f) Ghara’ib al Kufiyyin

Beberapa komentar ulama terhadap beliau diantaranya sebagai berikut:


- Abdullah Al Hakim (pengarang kitab Mustadrak) : “Abu Hatim Al
Busti ini seorang qadhi yang merupakan gudang ilmu bahasa,
ilmu fiqih dan ilmu hadith. Beliau juga adalah salah seorang ahli
fikir. Beliau telah mengarang buku dalam bidang hadis di mana
tidak ada orang yang terdahulu berbuat sepertinya”.
- Khatib Al-Baghdadi: “Sesungguhnya Ibnu Hibban ini adalah
seorang yang tsiqah, cerdik dan mulia.”
- Abu Saad Al-Idris: “Sesungguhnya beliau ini adalah fuqaha agama
dan penghafal hadis. Beliau juga alim dalam bidang kedoktoran,
ilmu falak dan ilmu-ilmu seni.”
- Abu Ismail Al-Ansari: “Aku telah bertanya Yahya bin Ammar
tentang Abi Hatim Ibnu Hibban, maka dia telah berkata : “Aku
telah melihatnya dan kami telah menghalaunya dari Sajistan.
Sesungguhnya beliau mempunyai ilmu yang banyak tetapi beliau
bukan orang yang kuat agama.”
C. Kitab Al Majruhin min al Muhadditsin
a. Profil Kitab
Kitab yang bernama lengkap Al Majruhin min al Muhadditsin ini
dikarang oleh Muhammad Ibnu Hibban Ibnu Ahmad Abu Hatim at
Tamimi al Busti al Sijistani. Kitab yang digunakan dalam pembahasan kali
ini di tahqiq oleh Syeikh al Fadhil Hamdi Ibnu Abdul Majid as-Salafi dan
terdiri dari dua jilid yang diterbitkan oleh Dar Ash Shami’i.
Sebenarnya, kitab ini telah dua kali dicetak, yaitu di India dan Halb
(Aleppo). Namun, keduanya banyak mengandung kesalahan seperti
memasukkan biografi-biografi yang sebenarnya tidak terdapat dalam kitab
aslinya. Oleh karena itu, Syeikh al Fadhil Hamdi Ibnu Abdul Majid
kemudian mentahqiq kitab tersebut.
b. Latar belakang
Ibnu Hibban mengarang kitab Al-Majruhin yaitu untuk dijadikan
sebagai pembanding dan juga pelengkap dari kitab karangannya yang
berjudul Ats-Tsiqah. Beliau ingin agar seseorang tidak hanya mengenal
perawi yang tsiqah yang menjadikan hadits shahih juga ingin agar
seseorang dapat membedakan antaranya dengan yang maudhu’. Jika tidak
disiapkan mengenal kecacatan dari shahih dan tidak keluar dalil yang jelas
kecuali dengan mengenal muhaddits yang lemah dan tsiqah dan tata cara
dalam setiap keadaan.
c. Isi kitab

Kitab yang terdiri dari dua jilid ini hanya berisikan rawi-rawi yang
dha’if saja—rawi yang dijarh. Pada jilid pertama yang terdiri dari 560
halaman diantaranya berisi kata pengantar dari penerbit, muqaddimah
muhaqqiq, gambar-gambar manuskrip, muqaddimah mushannif, biografi
rawi yang dimulai dari bab alif sampai pada huruf ‘ain, dan daftar isi
biografi jilid pertama. Pada jilid kedua yang terdiri dari 614 halaman
berisikan biorafi dari huruf ‘ain sampai ya’, daftar isi athraf hadis dalam
kitab, daftar isi biografi jilid pertama, dan kemudian daftar isi biografi jilid
kedua.

d. Sistematika Penulisan
Dalam kitab ini, Ibn Hibban memaparkan para perawi hadis secara
alfabetis, bukan urut berdasarkan thabaqatnya. Pada jilid pertama termuat
muqaddimah muhaqqiq, muqaddimah mushannif, dan kemudian
dilanjutkan dengan biografi pertama yang dimulai dengan huruf alif dari
Aban bin Abi Ayyasy.1

1
Ibnu Hibban, Al Majruhin min al Muhadditsin, jilid. 1,hal. 89.
Pada jilid ini biografi berakhir pada huruf ‘ain, yaitu pada biografi
Abdullah bin Wahhab an Naswi.2

Kemudian—masih pada jilid pertama—dilanjutkan dengan daftar


isi dari rawi yang ada pada jilid pertama yaitu sejumlah 569 biografi yang
disusun secara alfabetis.

Pada jilid kedua, dimulai dengan huruf ‘ain pada biografi


Abdullah bin Musallam.3

Kemudian biografi dengan huruf ya’ berakhir pada Al Yasa’ bin


Thalhah. Setelah itu dilanjutkan dengan Bab Kunyah yang dimulai dengan
Abu Bakr bin Abdillah bin Abi al Qatthaf an Nahsyali.4

2
Ibnu Hibban, Al Majruhin min al Muhadditsin, jilid. 1, hal. 537.
3
Ibnu Hibban, Al Majruhin min al Muhadditsin, jilid. 2, hal. 8.
4
Ibnu Hibban, Al Majruhin min al Muhadditsin, jilid. 2, hal. 499.
Bab Kunyah berakhir pada Abu ath Thayyib. Jumlah total rawi
yang dibahas dalam kitab ini terdapat 1282 rawi. Setelah bab Kunyah,
dilanjutkan dengan daftar isi hadis-hadis yang disebutkan dalam kitab ini.

Kemudian dilanjutkan dengan daftar isi rawi-rawi dari kitab jilid


pertama dan kemudian daftar isi rawi-rawi kitab jilid kedua yang
keduanya disusun secara alfabetis.

e. Metode Penulisan

Berdasarkan namanya, kitab al Majruhin hanya menyampaikan


rawi-rawi yang lemah saja. Dalam hal biografi rawi, Ibnu Hibban
biasanya hanya memaparkan kunyah, kota asal, guru, murid dan terkadang
sedikit tentang keluarganya tanpa menyertakan tahun lahir dan wafat dari
rawi tersebut. Dalam menjarh, beliau menjelaskan kenapa rawi tersebut
dijarh dengan mencantumkan riwayat-riwayat yang diperlukan. Beliau
menjelaskan jarh suatu rawi langsung pada intinya. Dalam ktab ini, tidak
terdapat biografi rawi perempuan.

Berikut contoh-contohnya:

a. Mencantumkan kunyah dan kota asalnya.

b. Mencantumkan guru dan muridnya.

c. Mencamtumkan sedikit hal tentang keluarganya.

d. Mencantumkan hadis yang diriwayatkan yang menyebabkannya


dijarhkan.5

5
Biografi Ibrahim bin Zakariya al Wasithi, jl. 1, hal. 114.
e. Mencamtumkan jarh rawi dan alasannya.

f. Kaidah Jarh Ibn Hibban

Dalam menjarh seorang rawi, Ibn hibban menuliskan 20


ketentuan seorang rawi dapat dijarh dalam muqaddimah kitabnya,
yaitu sebagai berikut:6

1. Zindiq, yaitu orang kafir yang menyamar menjadi ahli ilmu dan
memalsukan hadis atas nama ulama. Mereka memalsukan hadis
secara sengaja dengan tujuan untuk menimbulkan keraguan pada
hati mereka (ulama) sehingga akan merusak Islam dari dalam.
2. Memalsukan hadits dengan niat baik, agar orang berbuat baik dan
meninggalkan maksiat, kemudian ia memalsukan hadits dari
gurunya.
3. Memalsukan hadits dan menganggap hal itu merupakan hal yang
biasa-biasa saja. Mereka tidak termasuk golongan Zindik yang
dendam dengan Islam akan tetapi mereka melakukannya karena
memang pekerjaann mereka adalah memalsukan hadits.

6
Ibnu Hibban, Al Majruhin min al Muhadditsin, jilid. 1, hal. 58.
4. Memalsukan hadits, tetapi hal itu bukan pekerjaannya akan tetapi
terkadang ia memalsukan hadits untuk para raja (hanya dalam
keadaan tertentu). ia melakukannya karena termotivasi akan
dunia.
5. Orang yang lebih dominan beribadah sehingga ketika
meriwayatkan hadis banyak terdapat kesalahan.
6. yaitu perawi yang tidak bisa membedakan haditsnya antara yang
tsiqah dan dhaif karena faktor usia yang menyebabkannya pikun.
7. Semua yang ditanyakan kepadanya dianggap haditsnya padahal
bukan “kana yulaqqan fayatalaqqan”.
8. Ia berdusta dan tidak tahu bahwa ia berdusta, karena ia bukan
seorang muhaddits, dan ia tidak pernah repot-repot untuk
mencari tahu. Mereka berdusta dengan tidak sengaja.
9. Ada shahifah yang shahih tapi ia tidak pernah bertemu dengan
gurunya (hampir sama dengan sebelumnya). Tidak bertemu
dengan syaikh tapi ia meriwayatkan hanya dari shahifah.
10. Perawi yang sering membolak balikkan sanad.
11. Tadlis dengan berbohong, yaitu menyembunyikan sanad dengan
berbohong karena menggunakan kata haddatsana.
12. Perawi yang kehilangan kitabnya dan ia kemudian meriwayatkan
dari kitab perawi lain.
13. Perawi yang mempunyai banyak cacat, sehingga pada tulisan
haditsnya terdapat banyak kesalahan, hal tersebut dikarenakan
kualitas otak yang lemah padahal ia baik.
14. Perawi mempunyai anak yang jahat atau penulis yang jahat,
sehingga ia menuliskannya dengan sembrono, dan dibaca oleh
syaikhnya dalam majlis, padahal syaikh seorang yang tsiqah.
15. Perawi yang mempunyai hadits kemudian ditambah-tambah oleh
seseorang dan ia tidak tahu, akan tetapi ketika ia tahu bahwa itu
bukan haditsnya, ia tidak mau mengakuinya karena gengsi
16. Keceplosan dan itu adalah hal yang salah, tidak mau diberitahu
dan ngeyel, menurut ibn Hibban yang seperti ini dinilai bohong.
17. Perawi yang terang-terangan menunjukkan kefasikan dan
kesafahannya.
18. Perawi yang menyamarkan hadits terhadap guru yang bukan ia
temui, seolah-olah ia bertemu dengannya.
19. Perawi yang merupakan Ahl bid’ah dan mendakwahkan
bid’ahnya dan menjadi imam dalam bid’ahnya.
20. Qushash atau orang yang gemar bercerita dan dalam ceritanya ia
memalsukan hadits dari riwayat yang tsiqah.
g. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan yang penulis dapat dari kitab ini, diantaranya:
a. Penyusunan rawi yang disusun secara alfabetis, serta adanya
daftar isi dapat mempermudah untuk mencari rawi.
b. Terdapat footnote pada setiap rawi yang berguna untuk rujukan
yang lebih lengkap.
c. Penjelasan jarh-nya langsung pada intinya, sehingga lebih mudah
dipahami.
Sedangkan kekurangan kitab ini terletak pada kurang lengkapnya
data rawi sehingga harus merujuk pada kitab lain.

D. Kesimpulan
1. Kitab Al Majruhin min Al Muhadditsin adalah salah satu kitab karangan
Ibnu Hibban yang digunakan sebagai pembanding dari kitabnya yang
lain, yaitu Ats Tsiqat.
2. Kitab ini berisi tentang rawi-rawi yang lemah, sehingga hanya berisi
sekilas biografi dan jarhnya.
3. Kitab ini terdiri dari dua jilid dan disusun urut berdasarkan huruf
hijaiyah. Selain itu juga disusun rawi berdasarkan kunyah.
4. Metode penulisan kitab yaitu dengan menyebutkan kunyah, asal kota,
sedikit keterangan tentang keluarganya, guru dan muridnya, jarhnya,
serta hadis yang diriwayatkannya.

E. Daftar Pustaka
Ibnu Hibban. 1420. Al Majruhin min Al Muhadditsin. Riyadh: Dar al
Shamai’i.