Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KERACUNAN AKIBAT KONSUMSI NASI BERKAT DI ACARA HAJATAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Toksikologi yang diampu

oleh Drs. Muhammad Anwar Djaelani, M.Kes.

Disusun Oleh

Tri Sapti Adhyaksari

24020117140050

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................ i

I. PENDAHULUAN................................................................................................1

1.1 Latar belakang.............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 1

1.3 Tujuan...................................................................................................2

II. ISI........................................................................................................................3

2.1 Gejala dan mekanisme keracunan makanan akibat Salmonella..................3

2.2 Penanganan Keracunan............................................................................... 4

III. PENUTUP......................................................................................................... 7

3.1 Kesimpulan................................................................................................. 7

3.2 Saran............................................................................................................7

Daftar Pustaka..........................................................................................................8

i
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Keracunan merupakan suatu kejadian masuknya racun ke dalam tubuh yang

menyebabkan adanya komplikasi. Keracunan pada manusia dapat terjadi karena

kontaminasi mikroba seperti bakteri, jamur, ataupun karena menghirup zat-zat

racun atau zat yang berbahaya bagi tubuh. Keracunan yang sering terjadi di

Indonesia adalah keracunan makanan. Makanan dapat menyebabkan keracuna

apabila makanan tersebut terkontminasi oleh mikorba patogen seperti jamur dan

bakteri. Terdapat banyak kasus keracunan makanan di Indonesia. Salah satu

contoh kasus keracunan makanan yang akan dibahas pada makalah ini adalah

keracunan massal akibat mengkonsumsi nasi berkat yang berasal dari acara

hajatan. Seperti yang diberitakan oleh Enggran Eko Budianto di Detik News pada

4 Desember 2019 telah terjadi keracunan massal pada sekitar 40 warga di

Dusun Bogorejo, Desa Kalang Semanding, Kecamata, Perak, Jombang.

Berdasarkan berita tersebut, keracunan terjadi akibat nasi berkat yang berasal

dari suatu acara hajatan.Diduga makanan tersebut terkontaminasi bakteri

Salmonella, namun hal itu masih sebagai dugaan. Oleh karena itu penulis ingin

mengulas tentang keracunan yang diakibatkan kontaminasi bakteri tersebut pada

makanan.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana gejala dan mekanisme keracunan makanan akibat kontaminasi

bakteri Salmonella?

1.2.2 Bagaiman penanganan keracunan makanan akibat kontaminasi bakteri

Salmonella?

1
1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui gejala dan mekanisme keracunan akibat kontaminasi bakteri

Salmonella

1.3.2 Mengetahui penanganan keracunan makanan akibat kontaminasi bakteri

Salmonella

2
II. ISI

2.1 Gejala dan mekanisme keracunan makanan akibat Salmonella

Keracunan makanan sering terjadi dikarenakan adanya kontaminasi bakteri.

Kontaminasi bakteri yang menyebabkan keracunan bida dalam bentuk foodborne

disease yaitu bakteri hidup yang mengontaminasi makanan tersebut masuk ke dalam

tubuh, dapat juga berupa intotoksin yaitu apabila bakteri yang mengontaminasi

makanan tersebut menghasilkan toksin, toksin tersebut masuk kedalam tubuh

sehingga menyebabkan keracunan (Ratnawaty,2012). Seperti keracunan massal yang

terjadi di Jombang berdasarkan berita Detik News, telah diambel sampel muntahan

dari korban yaitu nasi yang telah dimakan korban dari makanan di hajatan tersebut.

Hasilnya adalah diduga terdapat kontaminasi dari bakteri Salmonella. Dari informasi

tersebut kita dapat menduga bahwa mungkin makanan yang terkontaminasi bakteri

tersebut adalah daging, atau ayam atau telur yang ada alam makanan hajatan atau

dalam nasi berkat tersebut. Makanan tersebut adalah perantara dari Salmonella masuk

ke tubuh. Salmonella menghasilkan toksin yang merupakan hasil dari metabolismenya.

Toksin ini lah yang menyebabkan timbulnya penyakit pada manusia. Toksin atau

racun yang dihasilkan oleh bakteri Salmonella akan menyebabkan penyakit diare.

Seperti yang dikatakan oleh Yuliani dkk (2016) bahwa toksin yang dihasilkan bakteri

Salmonella dan coliform (khususnya E. Coli) mempunyai efek terhadap saluran

pencernaan dan dapat menyebabkan diare.

Gejala yang dialami setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi

bakteri Salmonella adalah sakit perut, mual, muntah-muntah, pusing, dan berujung

dengan diare. Seperti menurut pendapat Sartono (2001) gejala klinis muncul 7 sampai

28hari setelah pemaparan. Gejala klinis dapat berupa diare berair, atau jarang,

sembelit(konstipasi), demam, sakit perut, pusing, mual, lesu, dan bercak-bercak

3
merah di pundak,toraks, atau perut. Komplikasi demam enterik meliputi pendarahan

usus atau perforasi usus. Gejala salmonelosis nontifus adalah mual, kejang perut, diare

dengan air dan darah, demam singkat (< 48 jam), dan muntah yang muncul 8 sampai

72 jam setelah terpapar oleh bakteri.

Terlepas dari gejala-gejala tersebut, harus diketahui terlebih dahulu

mekanisme toksin pada Salmonella tersebut masuk ke dalam tubuh. Mekanisme

masuknya toksin dari Salmonella ini melalui peroral. Makanan yang dikonsumsi,

menjadi peratara bagi Salmonella masuk dalam tubuh. Bakteri tersebut masuk dalam

saluran pencernaan, kemudian sebagian bakteri mati karena adanya asam lambung,

namun sebagian lagi masuk ke usus halus. Dari usus halus, bakteri ini akan masuk ke

kelenjar getah bening , kemudian pembuluh darah, dan seluruh tubuh. Hal tersebut

menyebabkan urin dan feses penderita bisa menularkan bakteri ini ke orang lain.

Bakteri ini juga dapat menginfeki organ-organ lain, infeksi tersebut dapat

menyebabkan demam dan penyakit lainnya (Fauziah, 2016).

2.2 Penanganan Keracunan

Keracunan yang terjadi akibat bakteri Salmonella akan sangat berdampak

buruk bagi manusia karena menyebabkan penyakit diare, muntah muntah, bahkan

demam. Penyakit tersebut akan sangat fatal akibatnya apabila tidak langsung

ditangani dan diobati. Diare dan muntah muntah terus menerus akan menyebabkan

hilangnya cairan dalam tubuh, menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi akan sangat

berbahaya apabila tidak segera ditangani.

Penanganan pertama adalah bagi korban keracunan yang mengalami diare

dan muntah-muntah harus meminum banyak air mineral atau air putih. Hal itu

bertujuan untuk mengganti cairan tubuh yang telah keluar banyak lewat feses dan juga

4
muntahan. Selain memperbanyak minum air, juga diharuskan meminum susu steril

atau susu murni yang steril. Susu dapat mengikat racun racun yang masuk dalam

tubuh, sehingga dapat menghentikan penyakit seperti diare.

Dikatakan susu dapat mengikat racun karena susu mengandung lactoferrin.

Laktoferrin ini memiliki sifat dapat mengikat besi sangat kuat. Besi merupakan

nutrient yang esensial untuk pertumbuhan mikroba, khususnya untuk pertumbuhan

bakteri patogen. Lactoferrin juga dapat menghambat penyerapan (absorbsi) dan atau

penetrasi bakteri dan virus pada dinding pencernaan. Selain itu lactoferrin juga

bersifat antivirus. Laktoferrin diketahui dapat secara langsung maupun tidak langsung

dapat menghambat beberapa virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Laktoferrin secara langsung menghambat virus dengan mengikat sisi reseptor virus,

kemudian mencegah infeksi virus terhadap sel sehat. Lactoferrin juga bersifat

antimikroba, oleh karena itu dapat digunakan sebaga penawar racun yang dibawa oleh

Salmonella. Laktoferrin seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berperan sebagai

protein pengikat besi. Hal itu menyebabkan Lactoferrin secara langsung dapat

meningkatkan kesehatan dengan mendegradasi bakteri yang telah masuk pada saluran

pencernaan, menghambat bakteri patogen dengan jangkauan yang luas dan

membunuh mikroba lain. Mekanisme kemampuan Laktoferrin mengikat besi

diketahui mempunyai afinitas yang ekstrim tinggi terhadap metal. Banyak bakteri

patogen memerlukan supplai besi bebas untuk berkembang biak. Dengan adanya

Laktoferrin, bakteri patogen dapat dihambat dan dibunuh dengan kuat

(Oktarini,2017).

Selain susu, untuk mengobati juga dapat menggunakan obat antidiare yang

mengandung zat zat seperti kaolin dan pectin yang merupakan Bulk-forming dan agen

hidroskopik yang menambah vikositas feses sehingga berbentuk lebih kental dan juga

5
dapat mengikat bakteri seperti bakteri enterotoksin yang dapat berikatan dengan

garam empedu (Jawi, 2014). Untuk rasa mual mual, dapat mengonsusi obat antimual.

Namun sebenrnya apabila terjadi muntah, artinya tubuh bereaksi berusaha untuk

mengeluarkan racun yang masuk dalam tubuh, sehingga diusahkan tidak perlu

meminum atimual, karena tubuh sedang berusaha mengeluarkan racun yang masuk.

Oleh karena itu diharuskan meminum banyak air putih agar cairan tubuh tetap dapat

tergantikan setelah keluar bersama muntahan.

6
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Keracunan makanan dapat terjadi karena adanya kontaminasi dari

bakteri. Salah satu bakteri patogen tersebut adalah Salmonella. Bakteri tersebut

menghasilkan racun yang masuk secara peroral ke saluran pencernaan , menimbulkan

gejala gejala seperti pusing, sakit perut, mual, muntah, dan diare. Keracunan yang

terjadi harus segera diobati, pengobatannya dengan meminum banyak air mineral

untuk mengganti cairan tubuh, susu sebagai pengikat racun, dan obat-obatan laiinya.

3.2 Saran

Makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan

pembaca dapat mengambil ilmu yang telah disampaikan dan juga membenarkan yang

salah.

7
Daftar Pustaka

Budianto, E.E. 2019. [DetikNews] Keracunan Masal Di Jombang Diduga Akibat


Kontaminasi Bakteri Salmonella. Diakses pada 19 Maret 2020 pukul 13.00 WIB

Fauziah, A. 2016. Keracunan Akibat Mikroorganisme Pangan (Bakteri Patogen,


Jamur, Virus, Parasit, dan Protozoa Makanan). Lampung : Universitas Lampung

Jawi, I.M. 2014. Farmakologi Obat-Obatan anti Diare. Denpasar : Universtas


Udayana

Oktarini, I.A. 2017. Susu Sebagai Bahan Pangan Kimia, Mikrobiologi, Manfaat,
Penanganan Susu dan Limbah. Denpasar : Universits Udayana

Ratnawaty.2012. Kualitas Mikrobiologi Makanan Di Rumah Makan dalam Lingkup


Terminal egional Daya Kota Makassar. Skripsi. Makassar : UIN Makassar

Sartono. 2001. Racun dan Keracunan. Jakarta : Widya Medika

Yuliani, S. Ewaldus, W., dan Petrus, M.B. 2016. Identifikasi Bakteri Salmonella sp
dan Jumlah Total Kontaminan Bakteri Coliform Pada Ikan Kembung ( Scomber
sp) yang Dijual di Pasar Inpres dan Oeba. PARTNER, Tahun 16 Nomor 1,
Halaman 16-20