Anda di halaman 1dari 3

Perawat A : Yuni Mardalena

Perawat B : Satriya Ginta Irawan

Pasien : Rosa Gistina Salsabila

Keluarga Pasien : Ingga Chornella

Seorang pasien bernama Nn. R yang berusia 20thn datang ke RSJ yang di antarkan oleh
keluarga. Keluarga mengatakan anaknya selalu menyendiri dan mengurung diri dikamar
beberapa bulan terakhir. Keluarga berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan kepada anaknya.

Keluarga Pasien : “Assalamuallaikum, suster kami datang kesini untuk melakukan


pemeriksaan kepada anak saya sus.”

Perawat A : “Waalaikumsallam, silahkan Bu. Tetapi ibu sebaiknya melakukan


pendaftaran dahulu, Bu. Nanti akan di antarkan oleh teman saya.”

Keluarga Pasien : “Baik, Sus.”

Perawat B : “Ayo bu, mari saya antarkan.”

Keluarga pasien pun mendaftarkan anaknya untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah


melakukan pendaftaran akhirnya pasien siap untuk dilakukan pemeriksaan.

Perawat A : “Assalamuallaikum, apakah benar dengan Nn. R yang usia 20


tahun? saya perawat Yuni Mardalena dan ini teman saya perawat
Satriya Ginta Irawan"

Perawat B : “Hai, mba”

Saat ditanya, pasien tidak menjawab pertanyaan dari perawat dan pertanyaan itu dijawab oleh
keluarga pasien.

Keluarga Pasien : “Maaf sus, anak saya sepertinya takut sus. Sebentar saya yang bilang
ke anak saya dulu.”

Keluarga pasien : “ Rosa , itu kamu di tanya susternya , ayo dijawab rosa jangan diam
saja.
Perawat B : Yaa mbak , tidak apa-apa kami hanya ingin mengetahui nama nya
biar lebih enak mengobrolnya.

Nn R pun akhirnya mau menjawab pertanyaan dengan pelan dan merasa seperti tidak
percaya diri.

Pasien : “Nama saya Rosa, Sus.”

Perawat B : “Oh namanyaRrosa , nama yang cantik yaa.”

Perawat A : “Oke mbak , ada apa di rumah ? apa yang membuat mbah rosa slalu
menyendiri dan murung di kamar beberapa bulan terakhir ini?

Pasien pun masi belum terbuka terhadap perawat a dan b untuk masalah yang di hadapi

Perawat B : “Mbak rosa ceritakan saja kepada perawat a mengenai apa yang
dirasaan. Mencoba untuk terbuka agar kami semua tahu apa
permasalahnya,”

Keluarga pasien : “Coba lah menceritakan semua yang kamu rasakan nak demi ibu.”

Perawat A : “Coba liat ibu mu mbak terlhabat besar harapanya untuk meliat mbak
untuk kembali seperti dulu.”

Pasien : “Baik saya akan menceritakan.Dimulai dari perlombaan yang saya


ikuti besar harapan saya untuk memanangkan perlombaan itu tapi apa
yang saya dapat hanya kekecwan saya merasaa orang yamg paling hina
karna tidak bisa membuat orang tua atas prestasi yang saya raih.”

Setelah mendengarkan cerita dari pasien, akhirnya Perawat A dan Perawat B bisa menarik
kesimpulan dan memberi motivasi pada Nn. R

Perawat A : “Oh begitu, ya mbak. Saya mengerti apa yang mbak rasakan. Akan
tetapi mbak jangan sampai merasa putus asa seperti ini mbak, buat
mbak juga tidak bagus dan membuat khawatir ibu mba.”

Perawat B : “Iya mbak juga harus berpikir positif mbak, mungkin hal ini bisa
sebagai pembelajaran buat mbak bahwa mbak yakin bisa
memenangkan perlombaannya yang akan datang dan selalu tetap
semangat mbak.”
Perawat A : “Jangan lupa untuk selalu menceritakan kepada keluarga mba jika
mba punya masalah, bisa juga ke sehabat mbak sendiri jika tidak mau
dengan keluarga mbak.”

Pasien : “Baik sus dan pak perawat saya akan mencoba lebih terbuka lagi
kepada keluarga dan sahabat saya.”

Perawat B : “Bagaimana sekarang perasaan mbak sudah lebih baik atau belum ?”

Pasien : “Sudah pak perawat, saya sudah merasa lebih baik.”

Pasien pun sudah merasa lebih baik dan lebih percaya diri kembali

Perawat A : “Baik bu saya sudah selesai memberi beberapa pertanyaan kepada


anak ibu, ibu bisa membawa anak ibu kesini lagi minggu depan bu.”

Keluarga Pasien : “Baik sus, terimakasih sus atas bantuannya.”

Perawat A : “Tidak apa-apa bu, memang sudah kewajiban kami sebagai perawat
untuk selalu menolong seseorang bu. Anak ibu boleh pulang, nanti bisa
di antarkan kedepan dengan Pak perawat, bu”

Keluarga Pasien : “Baik, Terima kasih sus.”

Perawat B : “Mari bu saya antar sampai depan”