Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULLUAN

1.1 Latar Belakang

Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh
toxoplasma gondii . toxoplasma adalah parasit protozoa dengan sifat alami dengan perjalanan
dapat akut atau menahun , simtomatik maupun asimtomatik. Pada umumya prevalensi zat
anti yang positif meningkat dengan umur, tidak ada perbedaan antara wanita dan pria
.Didataran tinggi prevalensi lebih rendah, sedangkan didaerah tropik prevalensinya lebih
tinggi. Keadaan toxoplasmosis disuatu daerah dipengaruhi oleh banyak faktor seperti
kebiasaan makan daging yang kurang matang.

Toxoplasmosis yang tidak dideteksi secara dini dan tidak ditangani serius dapat
menimbulkan komplikasi lebih lanjut yang lebih berbahaya seperti meningitis , abortus pada
janin bahkan sampai menyebabkan kebutaan. Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat
ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya
penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus
spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.
pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan
atelinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis. Diagnosis Toxoplasmosis secara
klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan
gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk
mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-
Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan tersebut
perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama
masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester
pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.
Selain itu Penyebab utama abortus spontan pada kehamilan trimester pertama adalah blighted

1
ovum, terhitung sebesar 50% dari semua kejadian abortus pada kehamilan trimester pertama.
Diperkirakan kejadian blighted ovum salah satunya diakibatkan oleh adanya infeksi TORCH
(Toxoplasma, Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simpleks). Pada kasus blighted ovum yang
disebabkan oleh infeksi TORCH, khususnya toxoplasmosis sebagian besar orang yang
terinfeksi tidak memperlihatkan gejala klinis yang nyata.

Infeksi T. gondii merupakan penyebab utama kematian janin karena T. gondii dapat
ditularkan ke janin melalui plasenta (transplasenta) dari ibu yang terinfeksi atau saat
melahirkan pervaginam. Selanjutnya, toksoplasmosis terlibat dalam aborsi, prematur,
kelahiran mati dan kematian postnatal awal. T. gondii juga dapat menyebabkan kerusakan
serius pada organ jaringan yang berbeda dari inang terinfeksi yang tergantung pada tempat di
mana bentuk kista nya. Mekanisme imunitas toxoplasmosis yang seperti apa yang dapat
mempengaruhi terjadinya blighted ovum sampai sekarang belum diketahui secara pasti.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu toxoplasmosis?
2. Apa etiologi toxoplasmosis?
3. Bagaimana siklus hidup dan morpologi toxoplasmosis?
4. Bagaimana cara penularan toxoplasmosis?
5. Apa saja tanda dan gejala toxoplasmosis?
6. Bagaimana diagnosis toxoplasmosis?
7. Bagaimana penatalaksanaan toxoplasmosis?
8. Bagaimana penanganan toxoplasmosis?
9. Bagaimana pencegahan toxoplasmosis?

1.3 Tujuan

Memberi informasi kepada pembaca tentang toxoplasmosis. Baik berupa definisi, etiologi,
siklus hidup dan morpologi, cara penularan, tanda dan gejala, diagnosis, penatalaksanaan,
penanganan dan pencegahannya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat
ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama
Toxoplasmosis gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia
dan hewan peliaharaan. Penderita Toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu tanda
klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering
terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai
wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau
epilepsi.

Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga
dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya.
Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis
ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Untuk tertular penyakit toxoplasmosis
tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi
pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran
lalapan yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis.

Penyakit toksoplasmosis adalah infeksi yang bisa mengancam pertumbuhan janin dan bisa
menyebabkan keguguran. Parasit penyebabnya adalah Toxoplasma gondii, yang berkembang
biak dalam saluran pencernaan kucing dan ikut keluar bersama fesesnya, terutama hidup di
bak pasir tempat BAB kucing dan di tanah atau pupuk kebun. Anda bisa terinfeksi oleh
parasit ini ketika membersihkan kotoran kucing atau memegang tanah yang terdapat feses
kucing. Anda juga bisa terkena toksoplasma karena mengonsumsi daging yang dimasak
setengah matang (dimana daging tersebut terinfeksi dengan parasit toksoplasma). Meskipun
kucing adalah tempat hidup utama parasit ini, toksoplasma juga bisa hidup pada anjing,
unggas dan hewan ternak seperti babi, sapi atau kambing. Janin bisa terinfeksi toksoplasma

3
melalui saluran plasenta jika si ibu terserang toksoplasmosis ketika sedang mengandung.
Infeksi parasit ini bisa menyebabkan keguguran atau cacat bawaan seperti kerusakan pada
otak dan fungsi mata.

Toxoplasma gondii pada tahun 1908 pertama kali ditemukan pada binatang pengerat yaitu
Ctenodactylus gundi, di suatu laboratorium di Tunisia dan pada seekor kelinci di suatu
laboratorium di Brazil (Nicolle & Splendore). Pada tahun 1937, parasit ini ditemukan pada
neonatus dengan enfalitis. Walaupun trransmisi secara intrauterin transplasental sudah
diketahui, tetapi baru pada tahun 1970 daur hidup parasit ini menjadi jelas, ketika ditemukan
daur seksualnya pada kucing (Hutchison). Setelah dikembangkan tes serologi yang sensitif
oleh Sabin dan Feldman (1948), zat anti Toxoplasma gondii ditemukan kosmopolit, terutama
di daerah beriklim panas dan lembab.

Pada manusia penyakit toxoplasmosis ini sering terinfeksi melalui saluran pencernaan,
biasanya melalui perantaraan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan agent
penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar atau makan
daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi dengan penyakit
toxoplasmosis. Penyakit ini juga sering terjadi pada sejenis ras kucing yang berbulu lebat dan
warnanya indah yang biasanya disebut dengan mink, pada kucing ras mink penyakit
toxoplasmosis sering terjadi karena makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging
segar (mentah) dan sisa-sisa daging dari rumah potong hewan.

2.2 Etilogi Penyakit Toxoplasmosis

Toksoplasmosis disebabkan oleh agen infeksi Toxoplasma gondii suatu protozoa intraseluler
coccidian pada kucing, masuk dalam famili Sarcocystidae dan kelas sporozoa. Parasit ini
terdiri dari empat bentuk yaitu Oocycts yang terdiri sporozoid dan terdapat di tinja, Takizoid
yang secara cepat memperbanyak diri pada jaringan organisme, Brandizoit yang
memperbanyak diri secara lambat pada jaringan, dan kista jaringan yang ditemukan pada otot
dan sistem saraf pusat yang terdiri dari barandizoit yang tidak aktif (Knapen, 2008).

4
Hospes definitif dari T. Gondii adalah kucing dan jenis felines. Hanya felines yang
mengandung parasit pada jalur intestinal, dimana fase seksual dari siklus hidup sangat
berpengaruh, yang menghasilkan ekskresi dari oocysts pada feces untuk 10-20 hari atau bisa
lebih lama. Hospes intermediet dari T. gondii adalah domba, kambing, tikus, babi, lembu,
ayam, dan birung; semua dapat membawa fase infektif (cystozoite atau brandyzoite) dari T.
gondii adalah kista pada jaringan, terutama otot dan otak. Cysts jaringan menunjukkan
keadaan lamanya periode, kemungkinan selama kehidupan binatang (Knapen, 2008).

T. gondii mengalami siklus reproduksi aseksual disemua spesies. Kista jaringan atau oocyst
larut selama digesti, mengahasilkan bradizoit atau sporozoit, yang masuk ke lamina propria
pada usus kecil dan mulai untuk memperbanyak diri sebagai takizoid. Takizoid dapat
menyebar pada jarinngan eksternal dengan waktu singkat melalui limfa dan darah. Mereka
dapat masuk pada beberapa sel dan memperbanyak diri. Sel dari host akhirnya pecah dan
menghasilkan takizoid masuk ke sel yang baru. Ketika host berkembang menjadi resisten,
kira-kira 3 minggu setelah infeksi, takizoid mulai menghilang dari dalam jaringan dan
menjadi bentuk resting brandizoid dalam kista jaringan (Knapen, 2008).

Kista paling sering ditemukan pada otot skeletal, otak, dan miocardium. Mereka umumnya
tidak menyebabkan reaksi pada host dan dapat bertahan hidup. Pada Felidae sebagai host
devinitif, parasit secara serempak mengalami siklus replikasi seksual. Setelah ingesti,
beberapa brandizoit memperbanyak diri dengan sel epitel pada usus kecil. Setelah beberapa
siklus replikasi aseksual, brandizoit mulai siklus seksual (gametogoni), yang menghasilkan
bentuk unsporulated oocyst. Oocyst dihasilkan pada feces and sporulat pada lingkungan.
Sporulasi terjadi kira-kira 1 sampai 5 hari pada kondisi yang ideal, tapi dapat terjadi pada
beberapa minggu. Setelah sporulasi, oocyst terdiri dari dua sporocysts dengan empat
sporozoites. Kucing biasanya menghasilkan oocyts pada satu sampai dua minggu (Knapen,
2008).

Oocysts memiliki daya tahan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan dan dapat tetap
infeksius selama 18 bulan pada air, cuaca panas, dan tanah yang basah. Mereka tidak dapat
bertahan dengan baik pada tanah yang gersang dan iklim dingin. Kista jaringan dapat
infeksius selama berminggu-minggu pada darah di suhu kamar, dan pada daging selama
daging tersebut dapat dimakan dan kurang matang. Takizoid lebih rentan dan dapat bertahan

5
pada tubuh selama berhari-hari dan di seluruh aliran darah selama 50 hari pada suhu 4oC.
Pada manusia, periode inkubasi terjadi selama 10 sampai 23 hari setelah menkonsumsi
daging yang terkontaminasi dan 5 sampai 20 hari setelah terpapar kucing yang terinfeksi
(Knapen, 2008).

Infeksi transplasenta pada manusia terjadi ketika wanita hamil yang dengan cepat
mengedarkan takizoit dalam sirkulasi darah. Biasanya infeksi primer. Anak-anak dapat
terinfeksi oleh ingesti infeksi oocysts dari tempat makan yang kotor, tempat bermain dan
halaman tempat kucing defekasi. Infeksi dapat didapat dari makan makanan mentah, atau
kurang matang yang terinfeksi (daging babi atau domba,dan lebih jarang pada daging sapi)
yang terdapat di kista jaringan, atau ingesti dari infeksi oocysts pada makanan atau minuman
yang terkontaminasi feces kucing. Infeksi dapat terjadi pada tranfusi darah atau transplantasi
organ dari pendonor yang terinfeksi.

Selama invasi akut parasit Toxoplasma (proliferatif fase, takizoit), ada kerusakan ringan
jaringan utama (Nekrosis). Histologi menunjukkan infiltrasi inflammatori terdiri sel bulat
dengan parasit bebas dan pembentukan kista di perbatasan. Mungkin karena kombinasi dari
respon kekebalan seluler dan humoral, parasit dipaksa menjadi tahap beristirahat (kista
jaringan). Toksoplasmosis laten ini yang ditandai oleh kista kurang lebih bulat dengan
dinding yang tegas (Knapen, 2008).

Sejak parasit toxoplasma tidak menunjukkan preferensi jenis sel, tanda-tanda klinisnya
adalah variabel. Orang dewasa punya cukup kekebalan untuk melawan infeksi dan infeksi
yang paling jauh melanjutkan tanpa gejala klinis. Kadang-kadang parasitemia adalah terlihat
ketika kronis (laten) infeksi yang diaktifkan kembali. Perhatian khusus harus diberikan ketika
infeksi laten muncul lagi karena imunosupresi. Hal ini dapat merupakan hasil dari lain infeksi
(virus), atau dari pengobatan jangka panjang dengan kortikosteroid atau cytostatics. Ketika
gejala-gejala klinis terjadi setelah akut, mengakuisisi infeksi toksoplasmosis, sebagian besar
tanda-tanda jelas adalah limfadenitis, demam dan malaise. Dalam kasus yang jarang terjadi
hepatitis yang parah, splenitis, pneumonia, polymyositis atau bahkan meningoensefalitis
dapat terjadi (Knapen, 2008).

6
2.3 Siklus Hidup dan Morpologi Toxoplasmosis

Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista.
Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang
memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi
menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10-
100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot
jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran
10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan
feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan
siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama
feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan
mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia,
sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk
kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak
dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan
tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus
kucing tersebut.

2.4 Cara Penularan Toxoplasmosis

Penularannya tergantung pada 3 hal yaitu : lingkungan yang memungkinkan perkembangan


agen penyakit, adanya induk semang dan agen penyakit itu sendiri.

Toksoplasmosis dapat ditularkan oleh induk semang. Melalui beberapa cara:

1. Tertelannya ookista infektif yang berasal dari kucing

2. Tertelannya kista jaringan atau kelompok takizoit yang terdapat di dalam daging mentah
atau yang dimasak tidak sempurna.

3. Tertelannya induk semang yang telah menelan ookista

7
4. Melalui plasenta

5.Kecelakaan di laboratorium karena kontaminasi melalui luka, peroral, maupun konjungtiva.

6. Penyuntikan merozoit secara tidak sengaja

7. Transfuse leukosit penderita toksoplasmosis.

Agen penyakit toksoplasmosis meliputi :

1) Kucing
Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Sekitar ½ dari beberapa
kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. Ini berarti bahwa kucing tersebut
terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi.
Satu minggu setelah terinfeksi, kucing mengeluarkan ookista yang terdapat pada
fesesnya. Pengeluaran ookista terus menerus sampai sekitar 2 minggu sebelum kucing itu
sembuh atau pulih kembali. Hewan ini mudah terinfeksi lagi dan dapat mengeluarkan
ookista ketika terinfeksi oleh organisme lain.

Feses kucing sudah sangat infeksius. Ookist dalam feses menyebar melalui udara dan
ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-
5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampah setiap hari.\

2) Daging

Wabah “christiaan barand” adalah contoh penularan toxoplasma melalui daging.


Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa, dimana
dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan.
Seharusnya daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan
toxoplasm.

2.5 Tanda dan Gejala Toxoplasmosis

Pada individu imunokompeten yang tidak hamil, infeksi toxoplasma gondii biasanya tanpa
gejala. Sekitar 10-20% pasien mengembangkan limfadenitis atau sindrom, seperti flu ringan

8
ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan
ruam. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa meniru mononukleosis menular. Gejala
biasanya dapat hilang tanpa pengobatan dalam beberapa minggu ke bulan, meskipun
beberapa kasus dapat memakan waktu hingga satu tahun. Gejala berat, termasuk myositis,
miokarditis, pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan
refleks parah, hemiplegia dan koma, tapi jarang. Ensefalitis, dengan gejala sakit kepala,
disorientasi, mengantuk, hemiparesis, perubahan refleks dan kejang, dapat menyebabkan
koma dan kematian. Nekrosis perbanyakan parasit dapat menyebabkan beberapa abses dalam
jaringan saraf dengan gejala lesi. Chorioretinitis, miokarditis, dan pneumonitis juga terjadi.
Penularan Toksoplasmosis tidak secara langsung ditularkan dari orang ke orang kecuali
dalam rahim (Institute for International Cooperation in Animal Biologics, 2005).

Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):

1. Toxoplasma pada orang yang imunokompeten

Hanya 10-20% dari infeksi toksoplasma pada orang imunokompeten dikaitkan dengan
tanda-tanda penyakit. Biasanya, pembengkakan kelenjar getah bening (sering di leher).
Gejala lain bisa termasuk demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam
makulopapular dan sakit tenggorokan.

2. Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah

Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya, pasien dengan
AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin melibatkan otak dan sistem syaraf,
menyebabkan ensefalitis dengan gejala termasuk demam, sakit kepala, kejang-kejang dan
masalah penglihatan, ucapan, gerakan atau pemikiran. manifestasi lain dari penyakit ini
termasuk penyakit paru-paru, menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan
miokarditis dapat menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia.

3. Toxoplasma Okular

Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada remaja dan
dewasa muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi kongenital tanpa gejala
atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat atau sebelum kehamilan

9
sehingga menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala saat lahir, namun sebagian besar akan mengembangkan
pembelajaran dan visual cacat atau bahkan yang parah, infeksi yang mengancam jiwa di
masa depan, jika tidak ditangani.

4. Toksoplasmosis pada wanita hamil

Kebanyakan wanita yang terinfeksi selama kehamilan tidak menunjukkan tanda-tanda


penyakit. Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya dapat menularkan infeksi ke janin.
Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan terjadi ketika bayi baru lahir, tergantung
pada tahap kehamilan saat infeksi ibu terjadi. Pada kondisi tertentu, infeksi pada wanita
selama kehamilan menyebabkan abortus spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur.
Aborsi dan stillbirths juga dapat dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada
trimester pertama. Tanda dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia, dan
kehilangan sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.

5. Toxoplasmosis congenital

Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang paling
mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-tandanya yaitu demam,
pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning (menguningnya kulit dan mata),
sebuah kepala yang sangat besar atau bahkan sangat kecil, ruam, memar, pendarahan,
anemia, dan pembesaran hati atau limpa. Mereka yang terinfeksi selama trimester
terakhir biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin
menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis okular atau penundaan perkembangan di
kemudian hari.

2.6 Diagnosis Toxoplasmosis

1. Ibu

Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang
spesifik berkaitan dengan infeksi. Namun demikian toxoplasma akut harus

10
dipertimbangkan pada setiap wanita hamil dengan limfa denopati, utamanya meliputi
rahim posterior, dan atau gejala mononucleosisslike.

Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal
berikut:

a) Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan

b) Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan
yang berbeda, atau

c) Terdeteksi antibody IgM toxoplasma Pada usia remaja dengan infeksi primer jarang
terjadi perkembangan antibody IgG dan IgM. Antibody IgG spesifik toxoplasma
berkembang dalam waktu 2 minggu setelah terinfeksi dan berlangsung selamanya.
Perkembangan antibody IgM spesifi toxsoplasm terjadi dalam 10 hari setelah terinfeksi
dan meningkat 6 bulan sampai > 7 tahun. The enzyme linked immunosorbent assay (Uji
Elisa) asay test untuk melihat tingginya perkembangan antibody IgM dapat bertahan
sampai beberapa tahun. UJI IVA (Indairec immaunofluorescence Antibody Test untuk
IgM toxoplasma spesifik biasanya menunjukan kadar yang tinggi pada 6 bulan setelah
terinfeksi, berikutnya titer akan menurun. Uji IVA lebih bermanfaat dari uji Elisa dalam
membedakan infeksi adanya primer pada wanita hamil.

2. Anak

Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas.
Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis, penyakit kuning,
demam, dan hepatosplenomegali. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir
memperjelas diagnosa infeksi congenital. Adanya kista toxoplasma gondii pada
pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi.

Diagnosa prenatal

Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin
yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis.

11
IgM spesifik toxoplasma jika didapatkan pada darah janin dari cordosentesis dapat pula
digunakan untuk mendiagnosa infeksi janin namun sayangnya antibody IgM janin sedikit
berekembang sampai umur kehamilan 21 sampai 24 minggu.

Menegakkan diagnosis tokoplasmosis sulit dilakukan karena gejala klinisnya yang tidak
selalu jelas, dan bahkan banyak yang tidak menimbulkan gejala. Beberapa metode
pemeriksaan telah dikembangkan untuk mendiagnosa toksoplasmosis tetapi hasilnya masih
kurang memuaskan disamping biayanya masih sangat mahal. Sampai saat ini penyaringan
serum toksoplasmosis prenatal masih belum dapat dilakukan karena kesulitan teknik dalam
menginterpretasikan hasilnya.

Salah satu cara menegakkan diagnosis toksoplasmosis adalah dengan cara isolasi parasit
yang diambil dari darah, cairan serebrospinal atau biopsi yang kemudian diinokulasikan ke
dalam peritoneum tikus, hamster atau kelinci yang bebas dari infeksi toksoplasma. Diagnosis
prenatal dapat dilakukan dengan Chorionic Villus Sampling ( CVS ), kordosintesis,
amniosintesis yang kemudian dari hasil sampling tersebut dilakukan inokulasi pada
peritoneum tikus mencit untuk menemukan toksoplasma. Metode isolasi ini sekarang sudah
jarang dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dan kebanyakan laboratorium
rumah-sakit tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Pada pemeriksaan secara makroskopis, plasenta yang terinfeksi biasanya membesar dan
memperlihatkan lesi yang mirip dengan gambaran khas dari eritroblastosis fetalis. Villi akan
membesar, oedematus dan sering immatur pada umur kehamilan. Secara histopatologis yang
ditemukan tergantung pada stadium parasit dan respon imun dari penderita. Gambaran yang
ditemukan dapat berupa gambaran normal sampai pada gambaran hiperplasia folikel, dimana
ditemukan peningkatan limfoblas retikuler ( sel imunoblas besar ), sering didapatkan
normoblas pada pembuluh darah, infiltrat sel radang subakut yang bersifat fokal maupun
difus, small clumps histiosit yang dapat ditemukan pada daerah tepi dari sel-sel yang
terinfeksi, menunjukkan gambaran agregasi, gambaran folikel yang khas yang berhubungan
dengan kenaikan titer serologi. Pada beberapa kasus dapat ditemukan gambaran proliferatif
dan nekrotik dari peradangan villi. Kadang-kadang peradangan villi ditemukan dengan
adanya limfosit, sel plasma, dan fibrosis.

12
Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran organisme dalam sel. Organisme sulit
ditemukan pada plasenta, tetapi bila ditemukan biasanya terdapat dalam bentuk kista di
korion atau jaringan subkorion. Identifikasi sering sulit, sebab sinsitium yang mengalami
degenerasi sering mirip dengan kista.

Pada neonatus dapat ditemukan gambaran seperti pada hepatitis, berupa gambaran nekrosis
sel hati, Giants cell, hematopoesis ekstranoduler, nekrosis adrenal. Pada susunan syaraf pusat
dapat ditemukan nodul mikroglial dengan takizoit, ulkus ependymal, radang soliter
akuaduktus dan atau ventrikel.

Pemeriksaan serologi saat ini merupakan metode yang sering digunakan. Meskipun demikian
pemeriksaan serologi untuk toksoplasma cenderung mengalami kesulitan dalam
pelaksanaannya. Beberapa metode pemeriksaan yang pernah dilakukan antara lain Sabin-
Feldman dye test, indirect fluorescent assays (IFA), indirect hemagglutination assays (IHA),
dan complement fixation test (CFT). Cara pemeriksaan yang baru dan saat ini sering
digunakan adalah dengan enzyme-linnked immunosorbent assay (ELISA). Kebanyakan
laboratorium saat ini sudah tidak menggunakan Sabin-Feldman dye test. Pemeriksaan –
pemeriksaan yang sering digunakan adalah dengan mengukur jumlah IgG , IgM atau
keduanya. Ig M dapat terdeteksi lebih kurang 1 minggu setelah infeksi akut dan menetap
selama beberapa minggu atau bulan. IgG biasanya tidak muncul sampai beberapa minggu
setelah peningkatan IgM tetapi dalam titer rendah dapat menetap sampai beberapa tahun.

Secara optimal, antibodi IgG terhadap toksoplasmosis dapat diperiksa sebelum konsepsi,
dimana adanya IgG yang spesifik untuk toksoplasma memberikan petunjuk adanya
perlindungan terhadap infeksi yang lampau. Pada wanita hamil yang belum diketahui status
serologinya, adanya titer IgG toksoplasma yang tinggi sebaiknya diperiksa titer IgM spesifik
toksoplasma. Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi yang baru saja terjadi, terutama
dalam keadaan titer yang tinggi. Tetapi harus diingat bahwa IgM dapat terdeteksi selama
lebih dari 4 bulan bila menggunakan fluorescent antibody test , dan dapat lebih dari 8 bulan
bila menggunakan ELISA.

Diagnosis prenatal dari toksoplasmosis kongenital dapat juga dilakukan dengan kordosintesis
dan amniosintesis dengan tes serologi untuk IgG dan IgM pada darah fetus. Adanya IgM

13
menunjukkan adanya infeksi karena IgM tidak dapat melewati barier plasenta sedangkan IgG
dapat berasal dari ibu. Meskipun demikian antibodi IgM spesifik mungkin tidak dapat
ditemukan karena kemungkinan terbentuknya antibodi dapat terlambat pada janin dan
bayi.Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan IgG avidity untuk melihat kronisitas infeksi,
dimana semakin tinggi kadar afinitas semakin lama infeksi telah terjadi.

Beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam menilai hasil serologi :

1. Infeksi primer akut dapat dicurigai bila

a. Terdapat serokonversi IgG atau peningkatan IgG 2-4 kali lipat dengan interval 2-3
minggu.

b. Terdapatnya IgA dan IgM positif menunjukkan infeksi 1-3 minggu yang lalu.

c. IgG avidity yang rendah

d. Hasil Sabin-Feldman / IFA > 300 IU/ml atau 1 : 1000

e. IgM-IFA 1 : 80 atau IgM-ELISA 2.600 IU/ml

2. IgG yang rendah dan stabil tanpa disertai IgM diperkirakan merupakan infeksi lampau.

a. Ada 5 % penderita dengan IgM persisten yang bertahun-tahun akan positif

b. Satu kali pemeriksaan dengan IgG dan IgM positif tidak dapat dipastikan sebagai
infeksi akut dan harus dilakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan lain.

Diagnosa ditegakkan bila IgM positif dan titer IgG yang meningkat 4 kali lipat pada
pemeriksaan ulang selang waktu 2 – 3 minggu.

Titer IgM akan tetap tinggi sampai 3 – 4 bulan.

14
2.7 Penatalaksanaan

1. Ibu

Prognosa pada infeksi yang akut baik, kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat
besar. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine,
asam folimik dan sulfonamide. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral dan 1
gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam
folik dan oleh karena itu mungkinmemberikan efek teratogenik jika diberikan pada
trimester I. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada
hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh
Pyrimethamine.

Spiramycin adalah ejen lainyang digunakan pada pengobatan toxoplasma akut dan dapat
diperoleh pada pusat pengontrolan penyakit di USA.

2. Janin

Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine
dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari, dilanjutkan dosis 0,5 mg/kg/hr selam 21-30
hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. Pada saat menginjak
remaja diberikan asam folimik 2-6 mg secara IM atau oral 3 X seminggu walaupun pada
saat bayi dia mendapatkan pyrimethamine. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan
merupakan infeksius, oleh karena itu tidak perlu diisolasi. Bayi baru lahir yang tidak
menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan
dari ibunya secara transplasetal. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain
yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital., harus dipantau, apabila tidak terinfeksi
harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.

15
2.8 Penanganan

Infeksi toksoplasma pada ibu hamil dapat dicegah dengan cara menghindari tertelannya kista
atau ookista berbentuk spora dengan menjaga kebersihan diri. Perlu kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan atau setelah kontak dengan kucing/ kotoran kucing, memasak
makanan sampai matang benar ( > 66° C ) dan menggunakan sarung tangan sewaktu
berkebun. Buah-buahan dan sayur mentah harus dicuci bersih dan makanan dilindungi
supaya tidak dihinggapi lalat, kecoa dan serangga atau binatang lain yang mungkin dapat
membawa kontaminasi dari kotoran kucing.

Pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi akut dengan tujuan mengurangi infeksi ke
janin diperkirakan efektifitasnya hanya 50 %.

Toksoplasma termasuk penyakit “self limiting disease” Mengingat bahwa adanya potensi
untuk menimbulkan cacat pada janin maka dapat diberikan terapi :

1. Spiramycin, pada kasus infeksi akut yang ditegakkan melalui pemeriksaan serologi
umunya diterapi dengan spiramycin 1 gram 3 dd 1 dakam keadaan perut kosong .
Spiramycin akan terkonsentrasi pada plasenta sehingga dapat mencegah penjalaran
infeksi je janin. Akan tetapi kemampuan spiramycin untuk mencegah penularan vertikal
masih kontroversial. Spiramycin tidak menembus plasenta dengan baik sehingga
amniosentesis dan pemeriksaan PCR untuk melihat adanya toksoplasma gondii harus
dikerjakan sekurangnya 4 minggu pasca infeksi maternal akut pada trimester ke II . Bila
hasil pemeriksaan PCR negatif, Spiramycin dapat diteruskan sampai akhir kehamilan.
Bila hasil pemeriksaan PCR positif maka dugaan sudah adanya infeksi pada janin harus
diterapi dengan obat lain .

2. Pyrimethamine dan Sulfadiazine, Kombinasi pyrimethamine and sulfadiazine,( folic acid


antagonists dengan efek sinergi ) digunakan untuk menurunkan derajat infeksi kongenital
dan meningkatkan proporsi neonatus tanpa gejala.

3. asam Folinat untuk mencegah kerusakan pada janin

16
Wanita hamil harus menghindari kontak dengan kucing atau kotorannya , mengenakan
sarung tangan karet tebal saat berkebun dan menghidari konsumsi daging metah atau
setengah matang.

2.9 Pencegahan

Dengan pemberian imunisasi toksoplasmosis pada manusia maupun hewan merupakan


metode yang diterapkan untuk mencegah penyebaran toksoplasmosis.

Imunisasi diberikan untuk membentuk kekebalan terhadap bakteri toxoplasma gondii.


Imunisasi ini diberikan pada anak-anak dan pada calon pengantin dan ibu hamil. Kekebalan
ini tidak dapat menghilangkan infeksi permulaan secara tuntas, hal ini terbukti dari hasil uji
jaringan hewan maupun manusia masih adanya parasit untuk waktu yang lama bahkan
selama hidupnya.

TOKSOPLASMOSIS DALAM KEHAMILAN

Angka kejadian infeksi primer dalam kehamilan kira kira 1 : 1000. dalam kehamilan ,
skrining rutin tidak dianjurkan.

Resiko penularan terhadap janin pada trimester I = 15% ; pada trimester II = 25% dan pada
trimester III = 65%. Namun derajat infeksi terhadap janin paling besar adalah bila infeksi
terjadi pada trimester I.

MANIFESTASI INFEKSI TOKSOPLASMA KONGENITAL

• Hidrosepalus

• Korioretinitis

• Mikrosepali

• Mikroptalmia

• Hepatosplenomegali

17
• Kalsifikasi serebral

• Adepati

• Konvulsi

• Perkembangan mental terganggu

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di


berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari
pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi
masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris
cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasma
gondii akan dapat diketahui status penyakit penderita.

Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang
hewan pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit yang
disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili babesiidae.

Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis tanpa gejala. Pasien mengembangkan


limfadenitis atau sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan ruam. myositis, miokarditis, pneumonitis dan
tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan refleks parah, hemiplegi,
koma, dan ensefalitis. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara Isolasi, pewarnaan
immunoperoxidase, PCR, serologi, dan pencitraan radiologi.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pendidikn pada ibu hamil, memperhatikan makanan
kucing, menghilangkan feses kucing, PHBS, kontrol kucing liar, dan pengobatan profilaksis
pada penderita AIDS.

3.2 Saran

1. Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama
akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.

19
2. Bagi wanita yang mengindap toxoplasmosis sebaiknya tidak hamil dahulu sampai sembuh
atau virus dalam keadaan istirahat.

3. Ibu hamil sebaiknya menghindari kontak langsung deng kucing.

4. Gunakanlah iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum
dimakan.

20