Anda di halaman 1dari 8

Referat

Pneumonia Wuhan

Oleh

Pembimbing

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

2020
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang
kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. Laporan WHO
tahun 2001 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia
adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Insidensi pneumonia
komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per tahun dan merupakan penyebab
kematian utama akibat infeksi pada orang dewasa di negara itu. Angka kematian akibat
pneumonia di Amerika adalah 10 %.
Secara kinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan
oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh
nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain)
disebut pneumonitis.1
WHO memperkirakan bahwa hingga 1 juta kematian disebabkan oleh bakteri
Streptococcus pneumoniae, dan lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di negara-negara
berkembang. Kematian akibat pneumonia umumnya menurun dengan usia sampai dewasa akhir.
Lansia juga berada pada risiko tertentu untuk pneumonia dan terkait penyakit lainnya. Di
Inggris, kejadian tahunan dari pneumonia adalah sekitar 6 kasus untuk setiap 1000 orang untuk
kelompok usia 18-39. Bagi mereka 75 tahun lebih dari usia, ini meningkat menjadi 75 kasus
untuk setiap 1000 orang. Sekitar 20-40% individu yang memerlukan kontrak pneumonia masuk
rumah sakit yang antara 5-10% diterima ke Unit perawatan kritis. Demikian pula, angka
kematian di Inggris adalah sekitar 5-10%. Individu-individu ini juga lebih cenderung memiliki
episode berulang dari pneumonia. Orang-orang yang dirawat di rumah sakit untuk alasan apapun
juga beresiko tinggi untuk pneumonia.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Infeksi saluran nafas bawah masih menjadi masalah utama dalam bidang
kesehatan. World Health Organization (WHO) melaporkan infeksi saluran nafas bawah
sebagai infeksi penyebab kematian paling sering di dunia dengan hampir 3,5 juta kematian
per tahun. Pneumonia dan influenza didapatkan sebagai penyebab kematian sekitar 50.000
estimasi kematian pada tahun 2010.2,3
Pneumonia di definisikan sebagai peradangan parenkim paru distal dari
bronkiolus terminal (bronkiolus respiratori dan alveoli) serta menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.4
Pneumonia dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat didapatkannya dan
berdasarkan paru yang terinfeksi. Berdasarkan tempatnya dibagi menjadi dua yaitu
pneumonia komuniti dan pneumonia nosokomial. Pneumonia komunitas adalah pneumonia
yang terjadi akibat infeksi di luar rumah sakit. Pneumonia nosokomial adalah pneumonia
yang terjadi 48 jam atau lebih setelah dirawat di rumah sakit. Berdasarkan area paru yang
terinfeksi terbagi menjadi lobar pneumonia, multilobar pneumonia, bronchial pneumonia,
dan intertisial pneumonia.5

Etiologi
Penyebab dari pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme
bakteri, virus, jamur. Paling umum ialah Streptococcus peumoniae yang paling sering pada
anak-anak, Haemophilus influenza tipe B (Hib) penyebab umum kedua dari pneumonia
bakteri, respiratory syncytical virus (RSV) paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak
dari pada dewasa, yang lainnya corona virus, rhinovirus, parainfluenza virus, dan
adenovirus.5
Berdasarkan tempat didapatkannya penyebab paling sering pada komuniti ialah
streptococcus pneumonia, Mycoplasma pneumonia, Hemophilus influenza, Legionella
pneumophila, Chlamydia pneumoni, anaerob oral, adenovirus, influenza tipe A dan B,
sedangkan penyebab tersering pada nosokomial ialah bakteri basil gram negatif seperti

2
(E.coli, Klebsiella pneumonia), Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, anaerob
oral.5 Penyebab lain selain bakteri, virus, dan jamur dapat disebabkan aspirasi.

Bakteri Penumonia akibat bakteri ini biasanya terjadi setelah flu,


demam, atau ISPA yang menurunkan system imunitas tubuh.
Sistem imunitas yang lemah menjadi keadaan yang baik untuk
bakteri berkembang biak di paru, dan menimbulkan penyakit.
Bermacam-macam bakteri dapat menyebabkan pneumonia,
yang tersering adalah Streptococcus pneumoniae
(pneumococcus) dapat disebarkan apabila orang yang terinfeksi
batuk, bersin, atau menyentuh objek dengan tangan yang
terkontaminasi. Pneumonia akibat bakteri ini dapat menjadi
lebih serius bila dibandingkan dengan pneumonia akibat virus.
Virus Bermacam-macam virus dapat menyebabkan pneumonia.
Contohnya termasuk influenza, chickenpox, herpes simplex,
and respiratory syncytial virus (RSV). Virus dapat ditularkan
antar manusia ke manusia lain melalui batuk, bersin atau
menyentuh objek dengan tangan yang terkontaminasi yang
berkontak dengan cairan dari orang yang terinfeksi.
Jamur Bermacam-macam jamur dapat menyebabkan pneumonia.
Yang paling sering adalah jamur yang terhirup dari udara luar/
lingkungan.
Aspirasi Pneumonia aspirasi terjadi apabila materi/ bahan-bahan dalam
lambung atau benda asing terhirup masuk ke saluran
pernafasan, menyebabkan cedera, infeksi atau penyumbatan.

Pneumonia Wuhan
Setelah mengetahui etiologi dari pada pneumonia, salah satunya ialah corona
virus, baru ini adapun terjadinya wabah pneumonia Wuhan di China. Dinamakan
pneumonia Wuhan karena wabah ini dimulai dari daerah Wuhan di Negara China. Kasus
pertama mengenai wabah ini dilaporkan pada 31 Desember 2019, di Wuhan, setelah

3
melalui proses investigasi lanjut oleh otoritas Chinapada 7 Januari 2020 mengkonfirmasi
bahwa virus ini adalah virus baru adalah coronavirus, yang merupakan keluarga virus yang
mencakup flu biasa, dan virus seperti SARS dan MERS. Virus baru ini untuk sementara
bernama “2019-nCoV”. Makanan laut yang dijual di pasar Wuhan diduga menjadi awal
penyebaran virus corona ini. insiden kejadian ini berawal dari 27 kasus kemudian
meningkat menjadi 59 kasus, dengan usia antara 12-59 tahun. Terdapat laporan kematian
pertama terkait kasus 2019-nCoV ini pasien 61 tahun dengan penyakit penyerta yaitu liver
kronis dan tumor abdomen.6
Karena ini adalah corona virus yang biasanya menyebabkan penyakit pernapasan,
dimana tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan adalah demam, dengan beberapa
kasus mengalami kesulitan bernapas, dan rontgen menunjukan infiltrat pneumonik invasif
di kedua paru-paru.7
Gejala yang ditimbulkan apabila terinfeksi novel coronavirus (2019-nCoV) ini
ialah demam, batuk, sesak atau sulit bernapas, sakit tenggorokan. Apabila dilakukan foto
rontgen thoraks didapatkan gambaran pneumonia.
Adapun pencegahan yang disarankan oleh WHO ialah mencuci tangan teratur,
menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin, memasak daging dan telur secara
matang, hindari kontak dekat dengan siapapun yang menunjukan penyakit pernapasan
seperti batuk dan bersin. Bagi yang hendak melakukan perjalanan ke Cina, dihimbau untuk
menggunakan masker bila berada di kerumunan orang, jika mengalami penakit pernapasan
selama di Cina atau setelah kembali ke tanah air, segera hubungi petugas kesehatan dan
sampaikan riwayat perjalanan, dan disarankan tidak mengunjungi pasar hewan.

Epidemiologi
Angka kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang. Pneumonia
menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya.6 Berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar 2018 menyebutkan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
yaitu sekitar 2 persen sedangkan tahun 2013 adalah 1,8%. Sementara data Kementerian
Kesehatan tahun 2014 menyebutkan jumlah penderita pneumonia di Indonesia tahun 2013
antara 23-27% dan kematian akibat pneumonia sebesar 1,19%.6

4
Patogenesis
Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak. Virus masuk kedalam
paru-paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan hidung, setelah masuk
virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Sebagian virus yang menginvasi langsung
mematikan sel yang disebut apoptosis. Ketika sistem imun merespon terhadap infeksi virus
sel darah putih, sebagian besar limfosit, akan mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat
cairan masuk ke dalam alveoli. Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli
mempengaruhi pengangkutan oksigen ke dalam aliran darah. Sebagai tambahan dari proses
kerusakan paru ini, banyak virus merusak organ lain sehingga menyebabkan fungsi organ
lain terganggu. Dengan adanya kerusakan di paru ini menyebabkan paru rentan terhadap
infeksi bakteri, untuk alasan ini, pneumonia bakteri menjadi komplikasi dari pneumonia
yang disebabkan oleh virus.5
Pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus seperti virus influenza, virus
syccytial respiratory (RSV), adenovirus.

Gejala
Gejala khas dari pneumonia adalah demam, menggigil, berkeringat, batuk (baik
non produktif atau produktif atau menghasilkan sputum berlendir, purulen, atau bercak
darah), sakit dada karena pleuritis dan sesak. Gejala umum lainnya adalah penderita lebih
suka berbaring pada yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Pemeriksaan fisik
didapatkan retraksi atau penarikan dinding dada bagian bawah saat bernafas, takipneu,
kenaikan atau penurunan taktil fremitus, perkusi redup sampai pekak menggambarkan
konsolidasi atau terdapat cairan pleura, ronki, suara pernafasan bronkial, pleural friction
rub.5,8

Diagnosis
Diagnosis pneumonia komuniti didasarkan kepada riwayat penyakit yang
lengkap, pemeriksaan fisik yang teliti dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti
pneumonia komunitas ditegakkan jika pada foto toraks terdapat infiltrat baru atau infiltrat
progresif ditambah dengan 2 atau lebih gejala berikut ini: batuk-batuk bertambah,
perubahan karakteristik dahak/purulen, suhu tubuh > 38C (aksila) /riwayat demam,

5
pemeriksaan fisis: ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronkial dan ronki,
leukosit > 10.000 atau < 4500. Penilaian derajat keparahan penyakit pneumonia komunitas
dapat dilakukan dengan menggunakan sistem skor menurut hasil penelitian Pneumonia

Patient Outcome Research Team (PORT).5


Kelompok CAP terbagi menjadi lima kelas berdasarkan risiko mortalitas yang
dimiliki pasien, dimana kelas I-III merupakan pasien dengan mortalitas rendah, kelas IV
merupakan pasien dengan mortalitas sedang dan kelas V merupakan pasien dengan
mortalitas tinggi. PSI juga digunakan untuk menentukan pasien akan diterapi dengan rawat
jalan atau rawat inap, seperti yang tertera pada tabel 1.5

Tabel 1. Derajat risiko dan rekomendasi perawatan menurut PORT/PSI5

Gambar 1. Sistem Skor pada Pneumonia


Komuniti berdasarkan PORT5

6
Daftar Pustaka

1. PDPI. 2003. Pneumonia Komuniti-Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksaan Di Indonesia,


Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
2. Wunderink RG, Watever GW. 2014. Community-acquired pneumonia. N Engl J
Med.2014;370:543-51.
3. PDPI. 2003. Pneumonia komuniti-pedoman diagnosis dan penatalaksaan di Indonesia.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
4. Dahlan Z. 2009. Pneumonia, dalam Sudoyo AW, dkk (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi V. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas
Indonesia.
5. Damayanti Karina, Ryusuke O. Pneumonia. Denpasar: 2017.
6. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Minta Masyarakat Waspadai Penularan Pneumonia
dari China [diperbarui tanggal 24 Januari 2020]. Di unduh dari: https://news.trubus.id .25
Januari 2020
7. Novel Coronavirus – Cina. [diperbarui tanggal 12 Januari 2020]. Diunduh dari:
www.who.int/csr/don/12-january-2020-novel-coronavirus-china/en/ .24 Januari 2020.
8. Fransisca S K. Pneumonia. Surabaya: Fakultas Kedokteran Surabaya; 2000.