Anda di halaman 1dari 4

PT.

BUKIT MAKMUR ISTINDO NIKELTAMA


Gedung BLK Jl. Trans Sulawesi, Tompira
Telp./fax. (021)6613636 Ext.181 dan 182

STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE


( For Driller Bore )
Revised May, 2008

PEKERJAAN : PEMBORAN DAN PENGAMBILAN SAMPLE BOR


EKSPLORASI NIKEL LATERIT
EXPLORATION DEPARTMENT
Disusun, Diperiksa, Disetujui,

Andi W. Warsito Sapto Maryono Arif B. P.


PERHATIKAN!!! Alat Pelindung Diri
• Kelalaian dan ketidaktelitian akan menyebabkan • Helmet
keselamatan terancam • Kaca mata
• Kelalaian dan ketidaktelitian akan menyebabkan data • Sarung Tangan
yang tidak benar/valid • Sepatu Safety
• Apabila ada hal yang meragukan segera • Rain Coat
menghubungi Wellsite atau Geologist
• Pada hal yang bersifat umum dan tidak terdapat
dalam SOP ini maka referensi diambil pada aturan
umum yang berlaku di lingkungan BUMANIK
Alat : Bahan :

1. Mesin Pemboran dan 1. Polimer Kehadiran Driller dan Kru


Rangkaiannya 2. Solar Pemboran
2. Spidol 3. Air
3. Radio Komunikasi 4. Isi Spidol
4. Meteran 5. Dan bahan yang
5. Dan alat yang diperlukan diperlukan lainnya
lainnya

Judul Keterangan

1. Sebelum Pemboran • Cek Titik Pemboran yang telah terpasang


• Setting Alat Bor oleh pihak juru bor/driller
• Pembuatan parit agar area sekitar pemboran
tidak basah.
• Pemeriksaan perlengkapan Alat Bor dan
perlengkapan oleh driller.
• Ukur Stick up dan panjang pipa pemboran
2. Awal Pemboran • Memperhatikan Waktu Awal Pemboran
• Perhatikan pemboran yang sedang berlangsung
• Terutama perhatikan pada saat pipa mengalami
kemajuan pemboran

1
• Ingat panjang pipa untuk menghindari perbedaan
panjang actual dan panjang pipa yang masuk
kedalaman titik bor

3. Sewaktu Pemboran • Kontrol terus kemajuan pemboran

• Perhatikan panjang Core yang keluar. Apakah


Lose atau Swelling. Bila Lose, ukur panjang
Lose-nya, dan catat Recovery-nya. Namun bila
Swelling , usahakan ukur Swelling-nya isi dalam
length dan tidak mempengaruhi Core Recovery.

4. Saat Core mulai • Perhitungan Core Recovery (CR) :


keluar
1. Bila dalam satu meter Core hanya terdapat
90 cm. Maka perhitungan Core Recovery-
nya, 90 cm dibagi 100 cm dikalikan 100 %.
2. Bila dalam satu meter Core tidak terdapat
Core sama sekali. Maka dalam satu meter
Core Recovery-nya 0 %.
3. Bila dalam 1 meter core lebih dari 1 meter,
maka core recovery cukup ditulis 100 %.
Namun penulisan dalam length merupakan
panjang real-nya

• Pembagian Zonasi lateritisasi.


Pembagian zonasi berdasarkan dominan
mineralnya.
1. Top Soil ( TPS )
Tanah penutup, dominan organik, Seperti
akar-akaran, adanya unsur hara dll. Belum
banyak mineral atau non mineral

2. Clay (CLY)
Clay (Lempung), dengan warna
hitam(seperti karbon), abu-abu, abu-abu
kehijauan, dll.. Dengan tidak dapat
membedakan jenis mineral yang
terkandung dalam core.

3. Limonite ( LIM )
Clay ( lempung ), terdapat mineral seperti
Oksida Besi (Fe2O3), Hematit, Geotit,
Mangan (MnO), Silika Oksida (Si2O3), dan
penyerta lainnya.

4. Saprolite ( SAP )
Terdapat mineral Olivin, sedikit Oksida
Besi (Fe2O3), Mangan (MnO), Silika

2
Oksida (Si2O3), dan penyerta lainnya.

5. Rocky Saprolite ( RSP )


Saprolite dengan 30% gravel, couble
ataupun Boulder.

6. Saprolite Rock ( SPR )


Saprolite dengan 70% gravel, couble
ataupun Boulder.

7. Boulder (BLD)
Merupakan batuan dengan panjang ≥ 15
cm. dan merupakan batuan dengan tingkat
pelapukan rendah hingga fresh

8. Bedrock ( BRK )
Merupakan 100% batuan. Dengan
perbedaan tingkat pelapukanya.

• Catatan,berdasarkan kesepakatan bahwa sample


representative yaitu 70 cm dan maksimal 1.30 m.
jadi perlu diperhatikan dalam menentukan break
geology-nya untuk menentukan zonasi lateritisasi.

5. Re-Drill • Core Recovery dalam 1 lubang/titik harus ≥ 90 %

• Dalam satu meter core recovery ≥ 70 %

• Jika 3 kali berturut-turut core recovery ≥ 70 % - 90 %


maka dikenakan re-drill.

• Setiap running, maksimal 1 meter.

• Bila ada shear joint, formasi batuan jelek, kondisi


alam yang tidak memungkinkan untuk dapat core
recovery ≥ 90 % dalam satu lubang/titik. Maka
keputusan ada ditangan geologist, bukan wellsite.
Jadi wellsite wajib menunggu keputusan geologist.
Tunggu hingga geologist datang ke lokasi pemboran
(Jika belum ada radio HT).

• Jika terdapat muka air tanah, operator wajib


membuktikan langsung kepada wellsite. Jika sudah
berlalu, dan operator memberitahukanya
dikemudian waktu alias tidak bisa membuktikan
langsung. Maka wellsite berhak me-redrill.(dengan
catatan core recovery ≤ 70 %)

3
• Kebijakan Gelogist

6. Akhir Pemboran • Pemboran Berakhir bila sudah menembus 1 meter


Bed rock / Fresh rock
• Kebijakan Geologist (Berita Acara Penyetopan)

7. Catatan Dalam suatu daerah prospek pemboran berakhir bila


sudah menembus 3 meter Bedrock dengan jumlah 10 %
dari jumlah titik bor yang ada, titik bornya tersebar
merata.
Titik berikutnya akan ditunjukan oleh Wellsite.