Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh
melalui gigitan nyamuk spesies aedes. Penyakit ini sering menyerang anak,
remaja dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam
Berdarah Dengue sering disebut juga pula Dengue Haemoragic Fever (DHF ).
DHF adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke
dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. Penyakit ini dapat
menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama anak
serta sering menimbulkan wabah (Suriadi, 2006).
Faktor kepadatan penduduk memicu tingginya kasus dengue
haemorhagic fever, karena tempat hidup nyamuk hamper seluruhnya adalah
buatan manusia mulai dari kaleng bekas, ban bekas hingga bak mandi. Karena
itu, 10 kota dengan tingkat DBD paling tinggi seluruhnya merupakan ibu kota
provinsi yang padat penduduknya, yaitu Jawa Timur (2.657 kasus), Jawa Barat
(2.008 kasus), NTT (1.169 kasus), Jawa Tengah (1.027 kasus), Sulawesi Utara
(980 kasus), Lampung (827 kasus), DKI Jakarta (613 kasus), Sulawesi Selatan
(503 kasus), Kalimantan Timur (465 kasus), Sumatera Selatan (353 kasus)
(Pramudiarja, 2011).
Data Kementrian Kesehatan (kemenkes) Republik Indonesia mencatat
jumlah kasus DBD pada tahun 2009 mencapai sekitar 150.000. Angka ini
cenderung stabil pada tahun 2010, sehingga kasus demam berdarah dengue di
Indonesia belum bisa dikatakan berkurang. Demikian juga dengan tingkat
kematiannya, tidak banyak berubah dari 0,89% pada tahun 2009 menjadi
0,87% pada tahun 2010. Ini berarti ada sekitar 1.420 korban tewas akibat
demam berdarah dengue pada 2009 dan sekitar 1.317 korban tewas pada tahun
2010 (Pramudiarja, 2011).
2

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada makalah
ini adalah “Bagaimana cara melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan
Demam Berdarah Dengue?”

C. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Untuk memahami dan mengetahui cara melakukan asuhan keperawatan
pada anak dengan demam berdarah dengue.
b. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan definisi DBD.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan anatomi fisiologi system peredaran
darah.
3. Untuk mengetahui dan menjelaskan etiologi DBD.
4. Untuk mengetahui dan menjelaskan klasifikasi DBD.
5. Untuk mengetahui dan menjelaskan manifestasi klinis DBD.
6. Untuk mengetahui dan menjelaskan patofisiologi DBD.
7. Untuk mengetahui dan menjelaskan pathway DBD.
8. Untuk mengetahui dan menjelaskan komplikasi DBD.
9. Untuk mengetahui dan menjelaskan penatalaksanaan DBD.
10. Untuk mengetahui dan menjelaskan asuhan keperawatan pada anak
dengan DBD.
3

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. DEFINISI
Penyakit Dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(arthopodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (Aedes
albopictus dan Aedes aegypti) (Ngastiyah, 2014).
DBD adalah penyakit virus yang tersebar luas di seluruh dunia terutama
di daerah tropis. Penderitanya terutama adalah anak-anak berusia di bawah
15 tahun, tetapi sekarang banyak juga orang dewasa terserang penyakit virus
ini. Sumber penularan utama adalah manusia, sedangkan penularannya
adalah nyamuk Aedes (Soedarto, 2009).
Demam berdarah dengue, suatu penyakit demam berat yang sering
mematikan, disebabkan oleh virus, ditandai oleh permeabilitas kapiler,
kelainan hemostasis dan pada kasus berat, sindrom syok kehilangan protein.

B. ANATOMI & FISIOLOGI SISTEM PEREDARAN DARAH

Sumber : Image.google.co.id
4

Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas jantung sebagai


pusat peredaran darah, pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri.
Jantung terletak di rongga dada, diselaputi oleh suatu membran pelindung
yang disebut perikardium. Dinding jantung terdiri atas jaringan ikat padat
yang membentuk suatu kerangka fibrosa dan otot jantung. 
Serabut otot jantung bercabang-cabang dan beranastomosis secara erat.
Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi
(atrium) dan dua bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah
kiri di atas diafragma. Jantung terbungkus oleh kantong. perikardium yang
terdiri dari 2 lembar: 
1. Lamina panistalis di sebelah luar 
2. Lamina viseralis yang menempel pada dinding jantung. 
Jantung memiliki 3 katup, yakni katup semilunair yang terdapat
dipangkal aorta (arteri besar), katup valvula bikuspidalis yang terdapat
diantara bilik kiri dan serambi kiri, serta katup valvula trikuspidalis yang
terletak diantara bilik kanan dan serambi kanan.
1. Fungsi Jantung
Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh
tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida).
2. Denyut Jantung dan Tekanan Darah
Kecepatan denyut jantung dalam keadaan sehat berbeda-beda,
dipengaruhi oleh pekerjaan, makanan, umur dan emosi. Irama dan denyut
jantung sesuai dengan siklus jantung. Jika jumlah denyut ada 70 maka
berarti siklus jantung 70 kali semenit. Kecepatan normal denyut nadi
pada waktu bayi sekitar 140 kali permenit, denyut jantung ini makin
menurun dengan bertambahnya umur, pada orang dewasa jumlah denyut
jantung sekitar 60 - 80 per menit. 
Darah mengalir, karena kekuatan yang disebabkan oleh kontraksi
ventrikel kiri. Sentakan darah yang terjadi pada setiap kontraksi
dipindahkan melalui dinding otot yang elastis dari seluruh sistem arteri.
Peristiwa ketika jantung mengendur atau sewaktu darah memasuki
5

jantung disebut diastol. Sedangkan, ketika jantung berkontraksi atau pada


saat darah meninggalkan jantung disebut sistol. 

PEMBULUH DARAH
Pembuluh darah merupakan jalan bagi darah yang mengalir dari
jantung menuju ke jaringan tubuh, atau sebaliknya. Pembuluh darah dapat
dibagi menjadi tiga macam, yaitu pembuluh nadi, pembuluh vena, dan
pembuluh kapiler. 
1. Pembuluh Darah Nadi
Pembuluh nadi atau pembuluh arteri ialah pembuluh darah yang
membawa darah dari jantung menuju kapiler.
2. Pembuluh Vena
Pembuluh vena atau pembuluh balik ialah pembuluh darah yang
membawa darah ke arah jantung. Pembuluh vena terdiri atas tiga lapisan,
seperti pembuluh arteri. Dari lapisan dalam ke arah luar adalah endotel,
jaringan elastik dan otot polos, serta jaringan ikat fibrosa. 
3. Pembuluh Kapiler
Pembuluh kapiler ialah pembuluh darah kecil yang mempunyai
diameter kira-kira sebesar sel darah merah, yaitu 7,5 μm. Meskipun
diameter sebuah kapiler sangat kecil, jumlah kapiler yang timbul dari
sebuah arteriol cukup besar sehingga total daerah sayatan melintang yang
tersedia untuk aliran darah meningkat. Pada orang dewasa kira-kira ada
90.000 km kapiler.

SISTEM PEREDARAN DARAH


Sistem peredaran darah berfungsi untuk mengedarkan zat makanan ke
seluruh tubuh. Zat makanan berguna untuk pertumbuhan, mengganti sel-sel
yang rusak, dan untuk beraktivitas. Sistem peredaran ini dibedakan menjadi:
1. Sistem Peredaran Darah Kecil ( system peredaran )
Merupakan sistem peredaran yang membawa darah dari jantung ke
paru-paru kembali lagi ke jantung.
6

2. Sistem Peredaran Darah Besar ( Peredaran darah sistematik )


Merupakan sistem peredaran darah yang membawa darah yang
membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Darah yang keluar dari
jantung banyak mengandung oksigen.
3. Sistem peredaran darah tertutup
Sistem peredaran darah tertutup adalah sistem peredaran darah yang
dimiliki oleh hewan tingkat tinggi dimana darahnya diedarkan melalui
pembuluh darah ke seluruh tubuhnya.
4. Sistem pererdaran darah terbuka
Sistem peredaran darah terbuka disebut sebagai sistem peredaran
darah yang tidak selalu melewati pembuluh darah.
5. Sistem peredaran darah ganda
Sistem peredaran darah ganda adalah sistem peredaran darah yang
dilakukan oleh manusia dimana darah melewati jantung sebanyak 2 kali
dalam 1 kali peredaran.

C. ETIOLOGI
Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue. Virus dengue ini
terutama ditularkan melaui vektor nyamuk Aesdes aegypti. Jenis nyamuk ini
terdapat hampir diseluruh Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1000 m
diatas permukaan laut. Di Indonesia, virus tersebut sampai sampai saat ini
telah diisolasi menjadi 4 serotipe virus dengue yang termasuk dalam grup B
dari arthropedi borne viruses (Arboviruses), yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3,
dan DEN-4. DEN-3 merupakan penyebab terbanyak di Indonesia. Infeksi
salah satu serotipe menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain
(Nursalam dkk, 2008). Virus Dengue serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan
melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti.
7

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi derajat penyakit infeksi virus dengue:

DD/DBD Deraja Derajat Laboratorium


t
DD Demam disertai 2 atau Leukopenia serolgi
lebih tanda : mialgia, trombositopenia, tidak dengue
sakit kepala, nyeri retro ditemukan bukti ada positif
obital, altralgia. kebocoran plasma.
DBD I Gejala diatas ditambah Trombositopenia (<100.000/ul)
uji bendung positif bukti ada kebocoran plasma.
DBD II Gejala diatas ditambah
perdarahan spontan.
DBD III Gejala diatas ditambah
kegagalan sirkulasi (kulit
dingin dan lembab serta
gelisah)
DBD IV Syok berat disertai
dengan tekanan darah
dan nadi tidak terukur

Klasifikasi Derajat DBD menurut WHO

Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi


perdarahan adalah uji tornuquet positif
Derajat II Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain
Derajat III Ditemukannya tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lemah tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai
kulit dingin, lembab, dan pasien menjadi gelisah
Derajat IV Syok berat nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Demam dengue
8

Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan


dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
 Nyeri kepala
 Nyeri retro orbital
 Ruam kulit
 Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif)
 Leukopenia
 Pemeriksaan serologi dengue positif, atau ditemukan DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama

2. Demam berdarah dengue


Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila
semua hal dibawah ini dipenuhi:
a. Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat
bifasik
b. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa:
 Uji tornequet positif
 Petekie, ekimosis atau purpura
 Peradarahan mukosa, (epistaksis, perdarahan gusi) saluran cerna,
tempat bekas suntikan
c. Trombositopenia <100.000/l
d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan:
 Peningkatan nilai hematokrit >20% dar nilai aku sesuai umur dan
jenis kelamin
 Penurunan nilai hematokrit > 20% setelah pemberian carian
adekuat
e. Tanda kebocoran plasma seperti: hipoproteinemi, asites, efusi pleura

3. Sindrom syok dengue


9

Seluruh kriteria DBD diatas disertai dengan tanda kegagalan


sirkulasi yaitu:
a. Penurunan kesadaran , gelisah
b. Nadi cepat, lemah
c. Hipotensi
d. Tekanan darah turun <20 mmHg
e. Perfusi perifer menurun
f. Kulit dingin lembab

F. PATOFISIOLOGI
Arbovirus masuk dalam tubuh melalui nyamuk aides agepty
kemudian beredar dalam aliran darah selanjutnya virus tersebut
menginfeksi. Dengan ada infeksi mengakibatkan aktifnya sistem
komplemen membentuk dan melepaskan C3a, C5a dan kemudian PEG2
hipotalamus merespon zat tersebut dengan adanya peningkatan suhu tubuh
meningkatkan reabsobsi Na+ dan H2O sehingga permeabilitas membrane
meningkat. Dengan adanya peningkatan permeabilitas membrane
mengakibatkan tiga hal yaitu agregasi trombosit, kerusakan endotel
pembuluh darah dan resiko syok hipovelemik. Terjadinya agregasi trambosit
menyebabkan trombosit openia sehingga dapat mengakibatkan resiko
perdarahan. Kerusakan endotel pembuluh darah merangsang dan
mengaktifkan faktor pembekuan mengakibatkan terjadinya DIC
(Disseminated Intravascular Coagulation). Dimana DIC adalah suatu
kondisi terjadinya pembekuan darah pada pembuluh darah kecil tubuh,
pembekuan ini dapat mengurangi atau menghambat aliran darah melalui
pembuluh darah yang dapat merusak organ tubuh DIC dapat menyebabkan
perdarahan internal dan eksternal. Perdarahan internal terjadi pada bagian
dalam tubuh sedangkan perdarahan eksternal terjadi dibawah kulit atau
mukosa dengan adanya perdarahan perfusi jaringan beresiko toidak efektif
hal tersebut dapat menyebabkan hipoksia jaringan kemudian pada akhirnya
dapat menimbulkan resiko syok hipovelemik. Bila terjadi syok hipovelemik
mengakibatkan pranjatan hipovelemik dan hipotensi sehingga kebocoran
10

plasma dapat terjadi. Kemudian plasma bocor ke ektra seluler pada


abdomen dan hepar. Pada hepar dapat mengakibatkan hepatomegaly yang
menekan abdomen (Distensi abdomen) sehingga timbullah rasa nyeri. Pada
abdomen timbulnya aksites yang menyebabkan mual dan muntah
G. PATHWAY

Arbovirus (melalui Beredar dalam Infeksi virus


nyamuk aides aygipti aliran darah dengue

Membentuk & melepaskan Mengaktifkan sistem


Hipotalamus komplemen
zat C3a, C5a

Peningkatan reabsorbsi Permeabilitas membrane


Hipertermi Na+¿¿ dan H 2O meningkat

Agregasi trambosit Kerusakan endotel pembuluh darah Resiko syok hipovolemik

Trombositopenia Merangsang & mengaktifkan Ranjatan hipovolemik &


faktor pembekuan hipotensi

Kekurangan
D.I.C Kebocoran plasma
volume
cairan

Resiko perdarahan Perdarahan Ke ekstraseluler

Resiko perfusi jaringan tidak efektif Abdomen

Ascites
Resiko syok (hipovolemik) Hipoksia jaringan

Mual muntah
Penekanan intra abdomen Hepatomegali Hepar

Sumber: NANDA NIC NOC. 2015


Nyeri
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
1. Pemeriksaan darah kebutuhan tubuh
Trombositopeni (100.000/mm3)
11

a. Pemeriksaan Darah Lengkap


1) Hemoglobin biasanya meningkat, apabila sudah terjadi
perdarahan yang banyak dan hebat Hb biasanya menurun. Nilai
normal: Hb: 10-16 gr/dL.
2) Hematokrit meningkat 20% karena darah mengental dan terjadi
kebocoran plasma. Nilai normal: 33- 38%.
3) Trombosit biasa nya menurun akan mengakibat trombositopenia
kurang dari 100.000/ml. Nilai normal: 200.000-400.000/ml.
4) Leukosit mengalami penurunan dibawah normal. Nilai normal:
9.000-12.000/mm3
b. Pemeriksaan kimia darah akan menunjukkan: hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
c. Pemeriksaan analisa gas darah, biasanya diperiksa:
1) pH darah biasanya meningkat. Nilai normal: 7.35-7.45
2) Dalam keadaan lanjut biasanya terjadi asidosis metabolik
mengakibatkan pCO2 menurun dari nilai normal (35 – 40 mmHg)
dan HCO3 rendah.
2. Pemeriksaan rontgen thorak
Pada pemeriksaan rontgen thorak ditemukan adanya cairan di
rongga pleura yang meyebabkan terjadinya effusi pleura (Wijayaningsih,
2013).

I. KOMPLIKASI
1. Syok
2. Kuning (pada kulit dan mata)
3. kematian

J. PENATALAKSANAAN
Penanganan DBD tanpa syok

Keluhan DBD
(Kriteria WHO 1997)
12

Hb, Ht Hb, Ht normal Hb, Ht Hb, Ht


Trombosit Trombo normal meningkat
normal 100.000- Trombo Trombo
150.000 <100.000 normal/turun

Observasi Observasi
rawat jalan, rawat jalan,
Rawat Rawat
periksa Hb, periksa Hb,
Ht, Leuko, Ht, Leuko
Trombo/24 Trombo 24
jam jam

Pemberian cairan pada tersangka DBD Anak di ruang rawat

Suspek DBD
Perdarahan Spontan dan Masif (-) Syok (-)

- Hb, Ht meningkat
- Hb, Ht (n) - Hb, Ht meningkat
10-20%
- Trombo <100.000 >20%
- Trombo <100.000
- Infuse Kristaloid - Trombo < 100.000
- Infuse Kristaloid
- Hb, Ht, Tromb
- Hb, Ht, Tromb
tiap 24 jam
tiap 24 jam

Sumber: NANDA NIC NOC. 2015

Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

5 % deficit cairan

Terapi awal cairan intravena


kristaloid 6-7 ml/kg/jam
13

PERBAIKAN TIDAK MEMBAIK


Ht dan frekuensi nadi turun, Ht, nadi meningkat, tekanan darah
tekanan darah membaik, produksi menurun <20 mmHg, produksi
urine meningkat urine menurun

Kurang infuse kristaloid 5 TANDA VITAL Infuse kristaloid 10


ml/kg/jam DAN ml/kg/jam
HEMATOKRIT
MEMBURUK
PERBAIKAN TIDAK MEMBAIK

PERBAIKAN
Kurangi infuse kristaloid Infuse kristaloid 15
3 ml/kg/jam ml/kg/jam

PERBAIKAN KONDISI MEMBURUK


tanda syok

Terapi cairan dihentikan


24-48 jam PERBAIKAN

Sumber: NANDA NIC NOC. 2015

Penatalaksanaan Sindroma Syok Dengue pada Anak

Airway
Breating : O2 (1-21 / menit dengan keteter nasal ). Bila lebih dipakai
sungkup muka.
Circulation : Cairan kristaloid dan atau koloid 10-20ml/kgBB secepatnya
(bila mungkin <10 menit).
Perhatikan : Tanda – tanda hipovolemia, hipervolemia ovetioad dan
respons pemberian cairan.
14

PERBAIKAN TETAP SYOK

Kristaloid 7ml/kg/jam Kristaloid Guyur 20-


dalam 2 jam PERBURUKAN 30ml/kgBB 20-30
menit
PERBAIKAN
TETAP SYOK
Kristaloid 5ml/kg/jam
dalam 1 jam
Ht naik Ht turun
+
24-48 jam setelah syok
teratasi, tanda vital, Ht Koloid 10-20 ml/kgBB Tranfusi darah 10
stabil, deuresis cukup tetes cepat 10-15 menit ml/kgBB dapat diulang
sesuai kebutuhan

Stop infus PERBAIKAN


TETAP SYOK

Koloid bila dosis maksimal belum dicapai atau kristaloidgelatin (bila


koloid sebelumnya telah mencapai dosis maksimal) 10 ml/kg dalam 10 Pasang kateter
menit dapat diulangi sampai 30 ml/kg, sasaran tekanan vena sentral vena central
(TVS) 15-18 smHo

Hipovolemik Normovolemik

TETAP SYOK Koreksi gangguan asam basa,


elektrolid, hipoglikemia, anemia,
Kristaloid dipantau 10-15 menit KIO injeksi sekunder

PERBAIKAN Perbaikan bertahap


vasopresor - Inotropik
Kombinasi koloid Sumber: NANDA NIC NOC. 2015 - Vasopresor
kristaloid - Vasodilator
K. TUMBUH KEMBANG

Usia Pertumbuhan Tahap Perkembangan


BB TB Bahasa Fisik Kognitif Sosial
emosional
15

10 th 28-33 131-145 - Sadar beberapa kata - Melempar bola - Mampu analisis - Bermain
kg cm punya 2 makna kesasaran dengan bacaan dengan yang
- Paham & akurat berdasarkan sama minat
menggunakan - Menikmati olahraga pengalaman & - Senang
beragam sudut tim, perlu logika mengkritik
pandang dalam meningkatkan - Paham konsep teman lawan
berkomunikasi keterampilan abstrak, saat jenis, seperti:
dengan orang lain kompleks, termasuk melihat objek anak
- Senanag strategi permainan konkret dapat perempuan
menggunakan - Tinggi badan dimanipulasi, cengeng
bahasa gaul saat bertambah, misal: saya makan - Marah saat
bersosialisasi setidaknya 5 cm per kue 1 berarti sisa 2 diejek atau
- Menggunakan tahun - Makin paham diberi julukan
humor yang tidak - Kehilangan gigi konsep, waktu, isi, - Punya teman
masuk akal saat susu, gigi permanen berat, jarak dalam baik 1-2
cerita lelucon dan kadang tumbuh berbagai situasi “musuh”,
teka-taki tumpang tindih baru teman bermain
- Mengekspresikan karena rahang kecil - Senang tantangan ganti tiap hari
perasaan & emosi - Senang kerja berhitung, - Selalu merasa
secara verbal tangan, seperti termasuk dengan benar dalam
dengan detail memasak, prakarya, batas waktu perdebatan
- Menggunakan tata menjahit,dll - Tidak betah duduk - Kagum pada
bahasa yang baik & - Pinggul, dada anak & mengerjakan guru, pelatih,
mengenali ketika perempuan mulai tugas lebih dari 30 ketua kelas:
penggunaannya membesar atau menit sering cari
salah tanda pubertas - Memilih baca perhatian
lainnya buku yang lebih mereka
- Ukuran otak panjang & - Butuh waktu
meningkat, hampir deskri[tif dengan atasi frustasi
seukuran otak plot kompleks saat dikritik
orang dewasa - Menggunakan - Tidak
- Kecepatan & kemampuan baca menunjukkan
kekuatan lengan, tulis untuk marah dengan
tangan, kaki lebih kegiatan sehari- tindakan fisik
baik hari memengaruhi - Tertarik
- Percaya diri dan orang lain aturan,
mampu lari & - Suka terutama
beraktivitas fisik bereksperimen mainan
dengan durasi lebih dengan alat sehari- berstruktur,
16

lama hari seperti


- Menggambar monopoli &
dengan detail benteng
- Paham
perilaku dapat
melukai
perasaan atau
nilai moral,
seperti jujur,
respek

L. HOSPITALISASI
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang
berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit
menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah.
Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai
17

kejadian yang memuat beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman


yang sangat traumatic dan penuh stress. Hospitalisasi pada anak dapat
menyebabkan kecemasan dan stress pada semua tingkat usia.
Anak akan menunjukkan berbagai perilaku sebagai reaksi terhadap
pengalaman hospitalisasi. Reaksi tersebut bersifat individual, dan sangat
bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman
sebelumnya terhadap sakit, system pendukung yang tersedia, dan
kemampuan koping yang dimilikinya. Pada umumnya, reaksi anak terhadap
sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh,
dan rasa nyeri. Berikut ini reaksi anak terhadap sakit dan dirawat di rumah
sakit sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Masa Sekolah (6 sampai 12 tahun)

Perawatan anak di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah


dengan lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga dan terutama kelompok
sosialnya dan menimbulkan kecemasan. Kehilangan control juga terjadi
akibat dirawat di rumah sakit karena adanya pembatasan aktivitas.
Kehilangan control tersebut berdampak pada perubahan peran dalam
keluarga, anak kehilangan kelompoksosialnya karena ia biasa melakukan
kegiatan bermain atau pergaulan social, perasan takut mati, dan adanya
kelemahan fisik. Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri akan
ditunjukkan dengan ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal karena
anak sudah mampu mengkomunikasikannya. Anak usia sekolah sudah
mampu mengontrol perilakunya jika merasa nyeri, yaitu dengan menggigit
bibir dan memegang sesuatu dengan erat.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


18

A. PENGKAJIAN
Pengkajian tahap pertama dari proses keperawatan yang
dikumpulkan, dimana data dikumpulkan. Dalam proses asuhan
keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan penting dilakukan
oleh perawat hasil pengkajian yang dilakukan perawat dikumpulkan dalam
bentuk data. Adapun metode yang dilakukan dalam pengkajian: wawancara,
pemeriksaan (fisik, laboratorium, rontgen) observasi , konsultasi.
1. Identitas klien meliputi nama klien umur jenis kelamin, agama,

pendidikan pekerjaan, suku atau bangsa ,tanggal masuk rumah sakit,

tanggal pengkajian diagnosa medis.

2. Keluhan utama meliputi alasan keluhan yang menonjol ada pasien DHF

saat datang kerumah sakit.

3. Riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan utama yang merupakan

keluhan klien, data yang dikaji klien saat ni.

4. Riwayat kesehatan dahulu apakah klien pernah menderita penyakit yang

diderita sekarang.

5. 11 pola pengkajian gordon:

a. Persepsi kesehatan. Menggambarkan informasi atau riwayat pasien

mengenai status kesehatan dan praktek pencegahan penyakit,

keamanan/proteksi, tumbuh kembang, riwayat sakit yang lalu,

perubahan status kesehatan dalam kurun waktu tertentu.

b. Nutrisi-metabolik. Menggambarkan informasi tentang riwayat pasien

mengenai konsumsi makanan dan cairan, tipe intake makan dan

minum sehari, penggunaan suplemen, vitamin makan, masalah nafsu

makan, mual rasa panas diperut, lapar dan haus berlebihan.


19

c. Eliminasi. Menggambarkan informasi tentang riwayat pasien

mengenai pola BAB, BAK frekuensi BAK.

d. Aktivitas latihan. Meliputi informasi riwayat pasien tentang pola

latihan keseimbangan energy, tipe dan keteraturan latihan, aktivitas

yang dilakukan dirumah, atau tempat sakit.

e. Istirahat tidur. Meliputi informasi riwayat pasien tentang frekuensi

dan durasi periode obat tidur, kondisi lingkungan saat tidur, masalah

yang dirasakan saat tidur.

f. Kognitif:perseptual. Meliputi informasi riwayat pasien tentang fungsi

sensori kenyamanan dan nyeri, fungsi kognitif status pendengaran,

penglihatan, masalah dengan ngecap dan pembau, sensasi perabaan,

kesemutan.

g. Konsep diri-persepsi diri. Meliputi riwayat pasien tentang peran dalam

keluarga dan peran sosial, kepuasan dan ketidakpuasan dengan peran.

h. Seksual reproduksi. Meliputi informasi tentang focus pasutri terhadap

kepuasan atau ketidakpuasan dengan peran.

i. Koping toleransi stress. Meliputi informasi riwayat pasien tentang

metode untuk mengatasi atau koping terhadap stress.

j. Nilai keperayaan. Meliputi informasi riwayat pasien tentang ini,

tujuan, dan kepercayaan berhubungan dengan pilihan membuat

keputusan kepercayaan spiritual.


20

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi, peningkatan laju
metabolisme
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera
4. Resiko perdarahan berhubungan dengan trambositopenia
5. Resiko syok berhubungan dengan kebocoran plasma darah
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhkan tubuh berhubungan
dengan mual muntah
21