Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DESEMBER 2015


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY

OLEH

RANI MULIA SARI


111 2015 0086

PEMBIMBING
dr. HAM F. SUSANTO, M.Kes, Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2015
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama : Rani Mulia Sari

NIM : 111 2015 0086

Judul Referat : Cognitive Behavior Therapy

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu

Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Desember 2015

Pembimbing

dr. Ham F. Susanto, M.Kes, Sp.KJ

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................iii

2
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1

I.1. Latar Belakang .............................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................3

A. Definisi Cognitive Behavioral Therapy..........................................3

B. Karakteristik Cognitive Behavior Therap.......................................4

C. Prinsip Dasar Cognitive Behavior Therapy....................................7

D. Tujuan Cognitive Behavior Therapy...............................................9

E. Tahap Pelaksanaan Cognitive Behavior Therapy..........................10

BAB III PENUTUP .......................................................................................13

3.1. Kesimpulan. ................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berfikir merupakan ciri khas dari manusia yang membedakannya dengan


makhluk lain. Ciri inilah membuat manusia disebut sebagai anima intelectiva.
Melalui berfikir, manusia memutuskan tindakannya, karena berfikir merupakan
fungsi kognitif manusia. Manusia tidak hanya menerima rangsangan dari apa yang
dilihatnya melalui pengindraannya, mengingat peristiwa, serta menghubungkan
satu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan landasan hukum asosiatif, namun
mengolah informasi yang diperolehnya melalui pengalaman hidup serta fungsi
kognitifnya. Hal ini membuat berbagai asumsi mengenai informasi yang diterima
manusia di dalam benaknya dengan mempertimbangkan berbagai hal melalui
proses berfikir dan mengambil keputusan atas dasar pertimbangan yang dipikirkan
secara matang. Inilah ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.1,2
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu pendekatan
psikoterapi yang paling banyak diterapkan dan telah terbukti efektif dalam
mengatasi berbagai gangguan, termasuk kecemasan dan depresi. CBT pertama
kali dicetuskan oleh Aaron Beck. Asumsi yang mendasari Cognitive Behavioral
Therapy CBT, terutama untuk kasus depresi yaitu bahwa gangguan emosional
berasal dari distorsi (penyimpangan) dalam berpikir. Perbaikan dalam keadaan
emosi hanya dapat berlangsung lama kalau dicapai perubahan pola-pola berpikir
selama proses terapi. Demikian pula pada pasien pola berpikir yang maladaptive
(disfungsi kognitif) dan gangguan perilaku. Dengan memahami dan merubah pola
tersebut, pasien diharapkan mampu melakukan perubahan cara berpikirnya dan
mampu mengendalikan gejala gejala dari gangguan yang dialami.1,2
Monty P. Satiadarma mengatakan bahwa penyimpangan prilaku manusia
terjadi karena adanya penyimpangan fungsi kognitif. Untuk memberbaiki perilaku
manusia yang mengalami penyimpangan tersebut terlebih dahulu harus dilakukan
perbaikan terhadap fungsi kognitif manusia. Pernyataan ini menunjukan
pentingnya pengaruh aspek kognitif terhadap perilaku manusia. Peran kognitif

1
dalam mempertimbangkan keputusan untuk malakukan tindakan tertentu menjadi
fokus perhatian dalam pendekatan cognitive-behavior therapy.3
CBT merupakan sebuah pendekatan yang memiliki pengaruh dari
pendekatan cognitive therapy dan behavior therapy. Oleh sebab itu, Matson &
Ollendick mengungkapkan bahwasanya CBT merupakan perpaduan pendekatan
dalam psikoterapi yaitu cognitive therapy dan behavior therapy. Sehingga
langkah-langkah yang dilakukan oleh cognitive therapy dan behavior therapy ada
dalam konseling yang dilakukan oleh CBT. Karakteristik CBT yang tidak hanya
menekankan pada perubahan pemahaman konseli dari sisi kognitif namun
memberikan konseling pada perilaku ke arah yang lebih baik dianggap sebagai
pendekatan konseling yang tepat untuk diterapkan di Indonesia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Cognitive Behavior Therapy (CBT)


Cognitive behavior therapy adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
menjelaskan intervensi psikoterapeutik yang bertujuan untuk mengurangi
distres psikologis dan perilaku maladaptif dengan mengubah proses kognitif.
CBT memiliki asumsi dasar bahwa afek dan perilaku sebagian besar
merupakan produk kognisi, oleh karena itu intervensi kognitif dan perilaku
dapat membawa perubahan pada pemikiran, perasaan, dan perilaku.4
Aaron T. Beck (1964) mendefinisikan CBT sebagai pendekatan konseling
yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan pasien pada saat ini
dengan cara melakukan restrukturisasi kognitif dan perilaku yang
menyimpang. Pedekatan CBT didasarkan pada formulasi kognitif, keyakinan
dan strategi perilaku yang mengganggu. Proses konseling didasarkan pada
konseptualisasi atau pemahaman pasien atas keyakinan khusus dan pola
perilaku pasien. Harapan dari CBT yaitu munculnya restrukturisasi kognitif
yang menyimpang dan sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi
dan perilaku ke arah yang lebih baik.2,5
Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan definisi cognitive-
behavior therapy yaitu pendekatan dengan sejumlah prosedur yang secara
spesifik menggunakan kognisi sebagai bagian utama konseling. Fokus
konseling yaitu persepsi, kepercayaan dan pikiran.6
Para ahli yang tergabung dalam National Association of Cognitive-
Behavioral Therapists (NACBT), mengungkapkan bahwa definisi
dari cognitive-behavior therapy yaitu suatu pendekatan psikoterapi yang
menekankan peran penting berpikir bagaimana kita merasakan dan apa yang
kita lakukan.3
Bush (2003) mengungkapkan bahwa CBT merupakan perpaduan dari
dua pendekatan dalam psikoterapi yaitu cognitive therapy dan behavior

3
therapy. Terapi kognitif memfokuskan pada pikiran, asumsi dan kepercayaan.
Terapi kognitif memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah
kesalahan. Terapi kognitif tidak hanya berkaitan dengan positive thinking,
tetapi berkaitan pula dengan happy thinking. Sedangkan terapi tingkah laku
membantu membangun hubungan antara situasi permasalahan dengan
kebiasaan mereaksi permasalahan. Individu belajar mengubah perilaku,
menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih
jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat.6,7
Pikiran negatif, perilaku negatif, dan perasaan tidak nyaman dapat
membawa individu pada permasalahan psikologis yang lebih serius, seperti
depresi, trauma, dan gangguan kecemasan. Perasaan tidak nyaman atau negatif
pada dasarnya diciptakan oleh pikiran dan perilaku yang disfungsional. Oleh
sebab itu dalam konseling, pikiran dan perilaku yang disfungsional harus
direkonstruksi sehingga dapat kembali berfungsi secara normal.

B. Karakteristik Cognitive Behavior Therapy


Terdapat beberapa karakteristik dasar dalam CBT, yaitu:
1. Memiliki panduan teoritis
CBT didasarkan pada model yang telah terbukti secara empiris dan
memberikan dasar untuk rasional, fokus, dan sifat dari intervensi ini. Oleh
karena itu, CBT bersifat kohesif dan rasional, bukan sekedar kumpulan
teknikteknik yang terpisah.4
2. Melibatkan kolaborasi antara terapis dan klien
CBT pada dasarnya merupakan sebuah proyek kolaborasi antara
terapis dan klien. Kedua pihak memiliki peran aktif dengan keahlian yang
berbeda. Terapis dianggap sebagai pihak yang memiliki keahlian untuk
menemukan cara yang efektif guna menyelesaikan masalah, sedangkan
klien merupakan pihak yang ahli dalam mengenali masalah berdasarkan
pengalamannya selama ini. Klien juga memiliki peran aktif dalam
mengidentifikasi tujuan, menetapkan target, bereksperimen, berlatih, dan
memonitor performa mereka.4,5

4
Pembagian peran ini menuntut terapis dan klien untuk saling
terbuka dan jujur selama proses terapi berlangsung. Terapis harus
menjelaskan proses yang sedang berlangsung dan kenapa proses ini terjadi,
selain itu terapis juga dapat meminta klien untuk memberikan masukan
mengenai apa yang dirasa membantu dan tidak bagi klien. Pada dasarnya,
pendekatan CBT memang dirancang untuk memfasilitasi kontrol diri yang
lebih besar dan efektif dengan adanya terapis yang memberikan framework
dimana kontrol diri tersebut dapat terjadi.4,5
3. Memiliki struktur dan berorientasi pada masalah
CBT merupakan terapi yang terstruktur dan berfokus pada
penyelesaian masalah. Awalnya terapis dan klien harus mengidentifikasi
masalah dan mendeskripsikan masalah dengan spesifik untuk kemudian
fokus dalam memecahkan atau mengurangi masalah tersebut. Setelah itu
terapis dan klien harus membuat tujuan untuk setiap masalah dan tujuan
ini merupakan fokus dari treatment yang diberikan. Tujuan ini dibuat
dengan berdasarkan harapan klien akan akhir dan hasil dari treatment. 5,7
4. Singkat
Lamanya terapi relative singkat dan berlangsung kira-kira 25
minggu. Lamanya terapi dapat berubah tergantung kemajuan yang dicapai
klien. Jika terapis menilai bahwa treatment yang diberikan tidak
membantu atau tidak ada lagi kemajuan yang didapat, terapis dapat
mengakhiri treatment yang sedang berlangsung. Sedangkan apabila klien
dianggap membuat kemajuan namun masalah residual masih ada, terapis
dapat melanjutkan treatment yang sedang berlangsung. Terapis juga patut
mempertimbangkan keuntungan bagi klien untuk menangai masalah
residual yang muncul secara mandiri.

C. Prinsip Dasar Cognitive Behavior Therapy


Cognitive Behavior Therapy (CBT) mengandung beberapa prinsip dasar
seperti: 2,5,7
1. Prinsip kognitif

5
Ide utama dari prinsip kognitif ini adalah bahwa reaksi emosional
dan perilaku individu dipengaruhi dengan kuat oleh kognisi mereka, yaitu
pemikiran, kepercayaan, dan interpretasi mereka mengenai diri mereka atau
situasi yang mereka hadapi atau dengan kata lain arti yang mereka berikan
terhadap kejadian yang terjadi dalam hidup mereka. Kejadian yang ada tidak
serta merta menghasilkan suatu reaksi tertentu, karena terdapat reaksi yang
berbeda-beda dari tiap individu yang menghadapi kejadian yang sama. Jadi
ada hal lain yang menentukan reaksi individu terhadap suatu kejadian yaitu
kognisi mereka. Saat terdapat dua orang yang bereaksi secara berbeda
terhadap suatu kejadian yang sama, hal ini dikarenakan mereka
menginterpretasi kejadian itu dengan cara yang berbeda. Kognisi yang
berbeda menghasilkan reaksi emosi yang berbeda pula.
2. Prinsip perilaku
Perilaku juga merupakan bagian yang penting dalam
mempertahankan atau merubah keadaan psikologis seseorang. CBT percaya
bahwa perilaku memiliki dampak yang kuat terhadap pemikiran dan emosi
seseorang, merubah perilaku klien merupakan suatu cara yang dapat
diusahakan untuk mengubah pemikiran dan emosi seseorang.
3. Prinsip ‘continuum’
CBT melihat masalah kesehatan mental sebagai versi ekstrim dari proses
yang biasa terjadi bukan merupakan sebuah keadaan yang secara kualitatif
berbeda dari keadaan maupun proses normal. Atau dengan kata lain,
masalah psikologis berada di ujung lain dari sebuah kontinuum bukan
sebuah dimensi yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, masalah
psikologis ini dapat terjadi pada siapa saja dan teori CBT dapat
diaplikasikan kepada klien dan terapis.
4. Prinsip ‘here and now’
Fokus utama dari terapi ini adalah apa yang terjadi saat ini dan
proses apa yang sampai saat ini terjadi sehingga masalah yang ada tetap
bertahan. Tidak seperti psikoanalisa, CBT tidak melihat proses yang
membentuk masalah tersebut terjadi.

6
5. Prinsip ‘interacting systems’
CBT melihat bahwa masalah seharusnya dianalisa sebagai interaksi
yang terjadi antara individu dan lingkungan. Dalam CBT dikenal empat
sistem, yaitu kognisi, afek/emosi, perilaku, dan fisiologi. Keempat sistem
tersebut saling berinteraksi dalam proses feedback yang kompleks dan juga
berinteraksi dengan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud bukan hanya
lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan sosial, keluarga, budaya, dan
ekonomi.

D. Tujuan Cognitive Behavior Therapy


Tujuan utama dari CBT adalah untuk meningkatkan self awareness,
memfasilitasi pemahaman diri yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri
dengan mengembangkan kemampuan kognitif dan perilaku yang lebih tepat.
Pengembangan kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan mengubah
pemikiran dan keyakinan disfungsional yang bersifat negatif, bias, dan self
critical. Terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk mengembangkan
kemampuan kognitif ini, antara lain dengan mencetuskan pikiran otomatis,
mengidentifikasi dugaan maladaptive yang mendasari, serta menguji validitas
dugaan maladaptive. Sedangkan pengembangan perilaku yang lebih adaptif dapat
dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain menjadwalkan aktivitas,
penguasaan dan kesenangan, tugas bertahap, latihan kognitif, pelatihan untuk
bergantung pada diri sendiri, bermain peran, dan teknik diversi. Adanya
keterampilan kognitif dan perilaku yang baru membuat individu menghadapi
situasi sulit dengan cara yang lebih tepat.2,3,4

E. Tahap Pelaksanaan Cognitive Behavior Therapy


Sesi inisial dalam CBT biasanya ditujukan untuk membangun relasi dengan
klien, menggali informasi penting, dan mengidentifikasi keluhan yang muncul.
Dalam membangun relasi dengan klien, terapis dapat mengawali dengan
menanyakan perasaan dan pemikiran klien mengenai harapan klien dari terapi.
Selain itu, terapis juga dapat menjelaskan mengenai hubungan antara kognisi dan

7
afek dari sudut pandang CBT. Terapis juga mulai dapat membiasakan klien
terhadap CBT dan membangun hubungan yang kolaboratif serta meluruskan
konsepsi yang salah mengenai terapi. Pada awal sesi, klien sudah harus dijelaskan
bahwa tujuan utama terapi adalah untuk membuat klien belajar menjadi terapis
bagi dirinya sendiri.2,6
Informasi yang seharusnya dapat digali oleh terapis pada sesi-sesi awal
adalah diagnosis, pengalaman masa lalu, situasi hidup saat ini, masalah psikologis
yang ada, sikap terhadap treatment, dan motivasi untuk mengikuti treatment. Pada
sesi pertama, terapis juga dapat mulai mendefinisikan masalah dan membantu
klien melakukan symptom relief. Identifikasi masalah dan pengumpulan informasi
mengenai latar belakang munculnya masalah dapat dilakukan dalam beberapa
sesi. Walaupun demikian, pada sesi pertama terapis harus dapat fokus dalam
mengidentifikasi masalah secara spesifik dan menyediakan kelegaan yang cepat
bagi klien.2,9
Dalam identifikasi masalah, terapis menganalisa dari dua aspek yaitu aspek
fungsional dan aspek kognitif. Analisa fungsional bertujuan untuk
mengidentifikasi elemen masalah seperti manifestasi dari masalah, situasi dimana
masalah itu biasanya muncul, frekuensi, intensitas, dan durasi kemunculan
masalah, serta konsekuensi dari masalah. Analisa kognitif sendiri bertujuan untuk
mengidentifikasi pemikiran dan visualisasi yang muncul saat adanya pencetus
emosional. Hal in juga mencakup identifikasi sejauh apa seseorang merasa dapat
mengontrol pemikiran dan visualisasi tersebut, visualisasi mengenai apa yang
akan terjadi saat berada dalam situasi yang menimbulkan distres, dan
kemungkinan munculnya hal yang divisualisasikan tersebut dalam kejadian
nyata.2,9
Pada sesi awal, terapis juga membuat problem list yang mencakup simptom
spesifik, perilaku, dan masalah yang menetap. Daftar ini kemudian dibuat
prioritasnya sebagai target intervensi. Problem list dibuat secara eksplisit untuk
melihat apa yang ingin dicapai dalam treatment. Penentuan prioritas didasarkan
pada besarnya distres yang dialami, kemungkinan kemajuan yang terjadi,
keparahan simptom, dan topik ataupun tema yang terus menerus muncul. Selain

8
hal di atas, pada sesi pertama terapis juga sudah mulai dapat memberikan tugas
rumah kepada klien. Tugas rumah pada sesi awal biasanya diarahkan untuk
mengenali hubungan antara pemikiran, perasaan, dan perilaku.2,8
Pada sesi pertengahan, penekanan terapi bergeser dari simptom yang
dialami pasien kepada pola berpikir pasien. Koneksi antara pemikiran, emosi, dan
perilaku didemonstrasikan melalui pemeriksaan automatic thoughts. Saat klien
dapat menantang pemikiran maladaptif, klien mulai dapat mempertimbangkan
asumsi dasar yang memunculkan pemikiran tersebut. Seringkali asumsi dasar
tersebut tidak disadari oleh klien dan didapat setelah klien melihat tema dari
automatic thoughts yang dimilikinya. Setelah asumsi dasar ini dikenali, terapi
bertujuan untuk memodifikasi asumsi tersebut dengan mempertimbangkan
validitas, sifat adaptif, dan fungsinya bagi klien. Pada sesi-sesi selanjutnya, klien
diberikan tanggung jawab lebih untuk mengidentifikasi masalah serta solusi dan
menciptakan tugas rumah. Peran terapis berubah menjadi penasihat dan bukan
guru saat klien sudah mulai dapat menggunakan teknikteknik yang ada untuk
menyelesaikan maslaah. Frekuensi pertemuan dapat dikurangi apabila klien
menjadi lebih mampu dalam menyelesaikan masalah.2,5
Terapi diterminasi saat tujuan sudah dicapai dan klien merasa dapat
mempraktikkan perspektif dan kemampuan baru mereka secara mandiri. Saat
mendekati terminasi, klien dapat diingatkan bahwa kemunduran itu sesuatu yang
normal dan seharusnya dapat diatasi karena kemunduran sebelumnya juga dapat
diatasi. Terapis dapat meminta kepada klien untuk mendeksripsikan bagimana
masalah sebelumnya diatasi selama treatment. Terapis juga dapat menggunakan
cognitive rehearsal untuk memabntu klien memperkirakan kesulitan yang
mungkin akan ditemuinya dan bagaimana mereka akan mengatasi kesulitan
tersebut.

9
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Cognitive behavior therapy adalah suatu intervensi psikoterapeutik yang
bertujuan untuk mengurangi distres psikologis dan perilaku maladaptif dengan
mengubah proses kognitif. CBT memiliki asumsi dasar bahwa afek dan perilaku
sebagian besar merupakan produk kognisi, oleh karena itu intervensi kognitif dan
perilaku dapat membawa perubahan pada pemikiran, perasaan, dan perilaku.4
Diharapkan dengan CBT pasien dapat meningkatkan self awareness,
memfasilitasi pemahaman diri yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri
dengan mengembangkan kemampuan kognitif dan perilaku yang lebih tepat.
Pengembangan kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan mengubah
pemikiran dan keyakinan disfungsional yang bersifat negatif, bias, dan self
critical. Terdapat dua teknik yang digunakan dalam CBT yaitu teknik yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan teknik pengembangan
perilaku yang lebih adaptif. Adanya keterampilan kognitif dan perilaku yang baru
membuat individu menghadapi situasi sulit dengan cara yang lebih tepat.2,3,4

10
DAFTAR PUSTAKA
1. Ifdil. 2012 Cognitive-Behavior Therapy (CBT). (online) diakses juni 2014

site: http://konselingindonesia.com/
2. Kaplan, Harold, et all. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri: Ilmu

pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Dua. Tangerang: Aksara

Publiser, 2010
3. NACBT. (2007). Cognitive-Behavioral Therapy. [Online].

Tersedia: http://www.nacbt.org/whatiscbt.htm [5 Januari 2007].


4. Stallard, P. (2004). Think Good – Feel Good: A Cognitive Behavior Therapy

Workbook for Children and Young People. West Sussex: john Wiley & Sons.
5. Beck, Judith S. (2011). Cognitive-Behavior Therapy: Basic and

Beyond (2nd ed). New York: The Guilford Press.


6. Bush, John Winston. (2003). Cognitive Behavioral Therapy: The Basics.

[Online]. Tersedia: http://cognitivetherapy.com/basics.html


7. Westbrook, D., Kennerly, & Kirk, J. (2007). An Introduction to Cognitive

Behavior Therapy: Skills and Applications. Los Angeles: Sage Punlications.


8. Nevid, JS., Rathus, SA., Greene, B., Psikologi Abnormal. Edisi kelima, jilid

1, Jakarta: Penerbit Erlangga


9. 9 Oemarjoedi, A. Kasandra. (2003). Pendekatan Cognitive Behavior dalam

Psikoterapi. Jakarta: Kreativ Media.


10. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2 ed. Surabaya:

Airlangga University Press; 2009.

11