Anda di halaman 1dari 17

Journal Reading

Oral Manifestation Among Romanian HIV Patients: Case Report

Disusun oleh:
Risa Sasmita
1112012030

Dosen Pembimbing:
Drg. Nurfianti, Sp.PM

UNIVERSITAS YARSI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
JAKARTA
2020
BAB I
JURNAL

Manifestasi Oral pada Masyarakat Roma yang terinfeksi HIV


Manuela ARBUNE, Oana-Mirela POTARNICHIE, Silvia MARTU

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi masalah kesehatan mulut pada
pasien remaja HIV dari Galati.

Bahan dan metode: Sebuah studi cross-sectional menilai 102 pasien dengan usia rata-rata.
Manifestasi oral yang paling sering pada remaja yang terinfeksi HIV di bawah ART adalah
eritema marginatum, periodontitis, kandidosis, dan hipertrofi gingivalis.

Hasil dan Diskusi: Indeks kerusakan gigi yang hilang pada pasien HIV tinggi. Replikasi
virus HIV, pajanan yang lama dari usia dini terhadap HIV , jenis kelamin laki-laki, merokok, dan
radang mulut terkait dengan kondisi gigi yang buruk. Terapi eksodontik umum dilakukan di
kalangan remaja HIV. Namun, persistensi dari beberapa infeksi oral terkait faktor risiko individu
atau perilaku, tetapi juga untuk beberapa mekanisme yang baru ditemukan, seperti rekonstruksi
kekebalan yang tidak berfungsi. Melihat pengobatan antiretroviral, tingkat keparahan dan
frekuensi manifestasi oral menurun di antara pasien HIV yang memakai ART.

Kesimpulan: Mengembangkan program medis, sosial dan pendidikan sangat penting


untuk meningkatkan kesehatan mulut pemuda HIV di Galati.

Pendahuluan

Infeksi dengan human immunodeficiency virus di tularkan dari orang yang terinfeksi ke
orang lain melalui kontak sexual tanpa pelindung, kontak langsung dengan darah atau produk
darah tertentu, termasuk jarum suntik, transfusi darah, kecelakaan ditempat perawatan kesehatan,
serta dari ibu ke anak. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sebuah stadium dari
infeksi HIV yang didefinisikan oleh bukti dengan adanya penyakit oportunistik dan / atau
menurunnya kekebalan tubuh dengan jumlah limfosit CD4 di bawah 200 / mm3. Sumber
terapeutik saat ini tidak dapat menyembuhkan HIV. Namun, obat antiretroviral (ARV) yang
cukup efektif untuk menekan replikasi virus dengan pemulihan kekebalan tubuh, dan untuk
menurunkan infeksi fatal HIV menjadi penyakit kronis seumur hidup.

Lebih dari tiga puluh tahun setelah laporan kasus AIDS pertama, masih menunjukkan
stigma dan ketakutan terhadap orang dengan HIV. Terdapat penghalang untuk perawatan yang
memadai untuk populasi HIV telah diidentifikasi oleh American Dental Association pada tahun
2004.

Advokasi hak asasi manusia menyediakan akses universal terhadap program pencegahan,
perawatan, kepedulian dan dukungan komprehensif penderita HIV, termasuk perawatan
kesehatan mulut kedokteran gigi.

Sekitar 30 sampai 80% orang yang terinfeksi HIV ditemukan manifestasi oral. Sifat dan
frekuensi manifestasi oral bergantung pada tingkat keparahan penurunan kekebalan tubuh,
sementara beberapa faktor umum, seperti merokok, kebersihan mulur yang buruk, dan
xerostomia, meningkatkan risiko gangguan rongga mulut pada pasien terinfeksi HIV. Kelompok
utama manifestasi patologi oral HIV ialah infeksius (bakteri, virus, atau jamur), neoplasik
(sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkin) ataupun ada nya lesi yang lainnya.

Terapi antiretroviral (ART) sangat mengurangi angka kematian dan prevalensi penyakit
oppurtunistik, termasuk manifestasi oral seperti Oral Hairy Leukoplakia, Necrotizing Ulcerative
Periodontitis, Kaposi’s Sarcoma atau kandidiasis. Berdasarkan hasil laporan penelitian, lesi oral
menurun dari 47,6% sebelum pemberian ART, menjadi 37,5% selama pemberian ART.

Metode

Sebuah penelitian cross seksional dari the Infectious Disease Clinics of Galati, Romania
membuktikan bahwa manifestasi pada rongga mulut pada pasien yang terinfeksi HIV. Kriteria
yang termasuk adalah: Hasil pemeriksaan HIV positif melalui dengan dua uji positif elisa dan
western blot, usia 20 sampai 30 tahun, dan persetujuan tertulis untuk peserta dalam penelitian ini.
Hasil pemeriksaan rongga mulut yang telah terkumpul ialah 102 dari 296 pasien yang
mengunjungi klinik untuk kontrol rutin dan perawatan HIV pada maret 2012.

Pemeriksaan ronnga mulut menggunakan Tongue blades dan lampu (headlight) di


gunakan dalam pemeriksaan rongga mulut. Pemeriksaan meliputi warna mukosa, tekstur dan lesi
tambahan yang dilihat di bibir, komisura (sudut), lidah, gusi, sulkus alveololingual.

Karies pada gigi sangat dipertimbangkan, termasuk tingkat keparahan dan jumlah dari
lesi karies. Karies, kehilangan gigi dan tambalan di catat pada diagram gigi (odontogram) setiap
pasiennya (Gambar 1).

Gambar 1. Diagram gigi (Odontogram)

Molar ketiga tidak termasuk dalam hitungan. Menurut rekomendasi World Health
Organization, adanya kejadian karies dapat dihitung dari Decay-Missing-Filled Teeth (DMFT)
indeks.

Pada kondisi rongga mulut yang menarik di dokumentasi. Kuesioner berisi tingkat
pendidikan, merokok dan perilaku kebersihan mulut diisi sendiri oleh pasien (Tabel 1).

Tingkat AIDS, nadir dan jumlah limfosit CD4 saat ini, viral load ARN-HIV (acid
ribonukleat virus), koinfeksi dengan hepatitis B riwayat antiretroviral virus dan rejimen saat ini
dikumpulkan dari catatan medis pasien.

Data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik dengan software Microsoft EXCEL -
Statistical Analysis Tool Pack.
Karakteristik pasien digambarkan oleh median dan frekuensi (%). Variabel kategoris
dibandingkan dengan uji exact Fisher, dengan mempertimbangkan tingkat signifikan nilai p
<0,05.

Tabel 1. Kuesioner yang diisi oleh pasien

Hasil

Karakteristik demografi pasien adalah: rata-rata usia 22, rasio jenis kelamin pria dengan
wanita 0.96, dominasi daerah pedesaan yang sempit dan kurang dari 8 tahun pendidikan
sebanyak 56,8% di antaranya, merokok (40%) adalah faktor risiko kesehatan perilaku yang
paling sering.

Sebagian besar pasien pernah ke dokter gigi sebelumnya, namun hanya 22,5% yang
pernah kunjungan dokter gigi pada tahun lalu. Gejala subyektif oral yang paling umum adalah
mulut kering (49%) dan perdarahan gusi (56%).
Sebagian besar infeksi HIV ditularkan secara nosokomial pada anak usia dini, lebih dari
20 tahun yang lalu (90%), dan koresponden mengarah dengan stadium lanjut sampai tahap AIDS
pada 88,2% kasus (Tabel II). Tingginya tingkat koinfeksi HIV-HBV (Hepatitis B Virus) adalah
konsekuensi dari epidemi nosokomial di Rumania sebelum tahun 1990, baik untuk HIV dan
HBV. Nadir jumlah CD4-Ly 141 / mm3 yang artinya nilai dari imunitas yang rendah pada
penegakan diagnosa HIV.

Perlakuan pemberian antiretroviral yang efisien secara signifikan meningkatkan


kekebalan menyeluruh 522/mm3 dari jumlah CD4 rata-rata saat ini, dan menurunkan viral load
HIV ke tingkat yang tidak terdeteksi pada 71% kasus (Tabel II). Lesi oral yang paling sering
terjadi adalah: (lge) eritema marginatum -38%, (Gambar II), periodontitis - 30%, karies lanjut
dengan gangguan koronal luas pada 47% pasien HIV, kondisi ini terlihat pada sepertiga jumlahh
kerusakan (karies) gigi (Gambar III), kandidiosis - 27% (Gambar 4), hipertrofi gingiva - 18,6%
dan oral hairy leukoplakia - 8,8%. Lesi episodik lainnya ditemukan pada herpes simpleks -
5,8%, aphtous - 4,9%, cheilitis - 1,9% dan papiloma - 0,9%.

Gambar 2. Sifat dan distribusi cedera Gambar 3. Sifat dan distribusi cedera gigi
gigi pada pasien HIV: eritema pada pasien HIV: penyakit periodontal,
marginatum dan karies distribusi koroner, dan eritema marginal
Gambar 4. Kandidiasis
Pasien HIV muda terdapat 85% lesi, pada
Lingual sementara
pasien 80,3%
HIV diantaranya mengalami kerusakan
gigi. Karies lanjut dengan kerusakan koronal luas pada 47% pasien HIV, yang mewakili 1/3 dari
jumlah kerusakan gigi.

Terlepas dari kerusakan gigi, 48% pasien HIV memiliki gigi yang hilang, dan 15%
(16/102) memiliki lebih dari 3 gigi yang hilang. Kedua, 68,5% pasien mendapatkan, rata-rata 1
gigi tambalan dan hanya 12% di antaranya menggunakan gigi tiruan.

Dikarenakan oleh fungsi lokasi anatomisnya, kerusakan mahkota dan gigi yang hilang,
karies gigi, kerusakan mahkota dan gigi yang hilang, serta sebagian besar luka terjadi pada posisi
lateral mandibula, sedangkan gigi bagian frontal mandibula jarang mengalami gangguan.
Pengamatan ini sesuai dengan penelitian yang lalu, bahwa daerah frontal mandibula merupakan
daerah resisten karies.

Tabel II. Karateristik pasien HIV (N=102)


Tabel 3. Korelasi manifestasi oral terhadap pasien HIV
DISKUSI

Candidosis adalah manifestasi oportunistik yang paling sering (27%), dengan korelasi
rasional dengan replikasi HIV (p = 0,002) (Tabel III).

Pada pasien dengan ART, replikasi HIV (ARN-HIV terdeteksi) dan tingkat imunitas
rendah (jumlah limfosit CD4) terdapat kegagalan terapeutik. Hairy leukoplakia muncul pada
8,8% pasien, dengan viral load HIV terdeteksi (p = 0,035) (Tabel III).

Namun demikian, korelasi kekebalan tinggi ditemukan lebih dari 350 / mm3 limfosit
CD4 dengan oral leukoplakia (p = 0,024) dan hipertrofi gingiva (p = 0,018) (Tabel III). Kedua
manifestasi oral berhubungan dengan infeksi virus, hairy leukoplakia dengan virus Epstein-Barr
dan hipertrofi gingiva dengan cytomegalovirus.

Seiring dengan pemberian obat ART tingkat limfosit CD4 tinggi bersamaan dengan ART
dengan rata-rata 522/mm3 dan riwayat imunosupresi berat (stadium AIDS, jumlah CD4 nadir
rata-rata 141/mm3) dikaitkan dengan munculnya infeksi penyerta HIV (Tabel II). Akibatnya,
kemungkinan mekanisme lesi patologis ini terkait dengan disfungsi kualitatif respons kekebalan
dengan pemberian ART.

Perdarahan gingiva dipengaruhi oleh koinfeksi hepatitis B (p = 0,011). Korelasi merokok


dengan kerusakan gigi lanjut dengan kerusakan mahkota (p = 0,003) dan periodontitis (p =
0,050) juga ditemukan (Tabel III).

Mulut kering merupakan faktor risiko karies yang muncul (<0.001), namun tahap infeksi
AIDS/ HIV lebih banyak terjadi mulut kering (p = 0,004). Karies dicatat akibat ada nya
kontribusi adanya inflamasi (p = 0,01) dan pola infeksi pasien dengan terpapar infeksi usia dini
(p = 0,02). Risiko kehilangan gigi lebih tinggi pada pasien laki-laki (p = 0,036) dengan viral
load HIV yang terdeteksi dengan pemberian ART lebih beresiko kehilangan gigi daripada
wanita (p = 0,030), yang mendapatkan perawatan gigi setiap saat (p <0,001). Oleh karena itu,
terapi exodonti adalah praktik dental yang umum pada pasien HIV.

Pasien tanpa karies sebanyak 14%. Perhitungan indeks DMFT memberikan nilai 6.86,
dengan standar deviasi 5.19, berkaitan hasil yang yang didapatkan ini jauh lebih tinggi daripada
laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai indeks DMFT di antara pasien usia 12
tahun Rumania (2,7-4,4). Terdapat 2 indek perawatan gigi yang harus di perhatikan pada pasien,
yaitu: 5.21 (365/70) gigi karies dan gigi tambalan dan 1,12 (122/12) hilang / pemakaian gigi
tiruan.

Keterbatasan utama penelitian ini adalah kendala dalam pemeriksaan klinis, tidak ada
gambaran atau konfirmasi lesi morfologis yang didapat. Perkiraan yang di harapkan dengan
indeks DMFT dibawah 44% saat dilakukan pemeriksaan klinis tanpa radiografi oral.

Indeks Keparahan Karies tidak tersedia karena baik kondisi pemeriksaan medis maupun
instrumentasi memungkinkan dilakukannya evaluasi yang akurat. Kelompok referensi kontrol
pasien harus diperlukan untuk membandingkan dampak infeksi HIV terhadap manifestasi oral.

KESIMPULAN

Manifestasi oral yang banyak sering terjadi pada pasien muda yang terinfeksi HIV
pemberian ART adalah eritema marginatum, periodontitis, candidosis dan hipertropi gingivalis.
Indeks DMFT kerusakan gigi yang hilang pada pasien HIV tinggi. Replikasi HIV virus, paparan
infeksi pediatrik jangka panjang terhadap HIV, jenis kelamin laki-laki, merokok dan radang oral
terkait dengan kondisi gigi yang buruk. Terapi eksodontik dilakukan pada remaja HIV.
Mengembangkan program kesehatan, sosial dan pendidikan sangat penting untuk meningkatkan
kesehatan mulut pasien HIV remaja pada Galati.
BAB II
PEMBAHASAN

Manifestasi oral dari infeksi HIV dan AIDS adalah penanda yang sangat prediktif
terhadap defisiensi imun yang parah dan perkembangan penyakit terhadap. Lesi oral terkait
AIDS yang paling umum yang diidentifikasi adalah kandidiasis pseudomembran, terhitung 76%
(38/50), diikuti oleh penyakit periodontal 34% (17/50), lesi herpes dan lesi leukoplakia 10%
untuk masing-masing (5/50) , gingivitis 8% (4/50), sarkoma Kaposi 6% (3/50), dan limfoma
non-Hodgkin 2%.1

Oropharyngeal Candidiasis (OPC) digambarkan sebagai infeksi oportunistik yang paling


sering di antara pasien HIV-positif, dan telah diperkirakan bahwa lebih dari 90% pasien HIV-
positif akan mengembangkan infeksi ini pada suatu waktu selama perkembangan penyakit
mereka.1

Oral Hairy Leukoplakia (OHL) adalah salah satu tanda oral paling umum yang terkait
dengan HIV dan / atau AIDS. Hal ini terkait dengan virus Epstein-Barr (EBV) (yang
menyebabkan Mononucleosis) dan muncul sebagai plak putih putih tanpa rasa, lapisan
bergelombang atau berbulu , terutama muncul pada batas lateral lidah.1

Terdapat hubungan antara Epstein Bar Virus dan Oral Hairy Leukoplakia karena DNA
EBV, dan EBV gene-encoded protein terdapat pada sel lesi. Oral Hairy Leukoplakia tampaknya
ada dikarenakan oleh replikasi produktif dari EBV pada epitel mukosa oral, terutama batas
tengah lidah.2

Oral Hairy leukoplakia yang disertai dengan EBV mungkin merupakan manifestasi klinis
pertama dari infeksi HIV, dan pada subjek HIV-seropositif bisa menjadi indikator dari progress
acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Pada subjek HIV-seropositive, viral-load yang
tinggi dan jumlah sel T CD4 yang rendah meningkatkan resiko oral hairy leukoplakia yang
disertai EBV.2
Gambar 5: oral hairy leukoplakia pada batas lateral sisi kanan lidah pada pasien wanita usia 44 tahun dengan HIV-
seropositive. Lesi asimtomatik dan pada pemeriksaan mikroskopik dengan biopsi insisi menunjukkan hiperkeratosis,
akantosis ringan, dan inflamasi infiltrat kronik yang ringan. Terlihat stain khusus yang menunjukkan Epstein bar
virus.2

Walaupun jarang sekali terjadi pada subjek imunocompromised, pada sebagian kecil
subjek immunocompromised terutama pada mereka dengan HIV-seropositif, infeksi EBV yang
produktif dari epitel oral akan menghasilkan oral hairy leukoplakia. Hal ini membuktikan bahwa
infeksi EBV sendiri tidak cukup untuk menyebabkan oral hairy leukoplakia dan karena itu host
lain, spesifik EBV, dan mungkin faktor lingkungan harus memainkan peran dalam patogenesis
oral hairy leukoplakia.2

Sarkoma Kaposi (KS) adalah kanker terdefinisi AIDS dan merupakan salah satu
manifestasi terkait HIV pertama yang diakui. KS dapat bermanifestasi di bagian tubuh manusia
mana pun, pada saat yang sama, dan muncul sebagai bercak hitam keunguan, atau lesi, pada
kulit, selaput lendir termasuk yang oral, atau organ internal. KS diamati pada semua tahap
infeksi HIV, tetapi biasanya memburuk ketika jumlah CD4 turun di bawah 250.1

KS disebabkan oleh Human Herpes Virus 8 (HHV-8), yang juga dikenal sebagai KS
terkait Herpesvirus (KSHV). KS oral bermanifestasi sebagai makula keunguan atau nodul yang
perlu dibedakan dari lesi berpigmen lainnya dengan pemeriksaan histopatologis. Penatalaksanaan
KS oral berkisar dari injeksi lokal dari kemo-terapi terapis (vinblastin), hingga pengangkatan
secara bedah.1

Kondisi periodontal terkait HIV yang umum terjadi termasuk eritema gingiva linier dan
periodontitis ulserativa nekrotik. Kehilangan tulang dan resesi gingiva terjadi, terlepas dari upaya
pasien untuk mempertahankan perilaku kebersihan mulut yang baik.1
Penyakit periodontal dikaitkan dengan produk mikroba yang terdapat dalam sirkulasi.
Translokasi bakteri ke sirkulasi sistemik dari poket periodontal adalah kejadian yang umum,
karena didukung oleh deteksi bakteremia setelah kejadian dan prosedur periodontal yang relatif
kecil. Beban bakteri yang sangat besar dari usus diperkirakan mendorong translokasi mikroba
yang menyebabkan aktivasi kekebalan sistemik terkait HIV.3

Periodontitis ulserativa nekrotikans terutama yang disebabkan oleh Spirochaetes


merupakan indikator yang kuat dan penanda penurunan kekebalan/imun yang parah, pada
kondisi ini menunjukkan, perdarahan, bau mulut (halitosis), papila gingiva yang mengalami
ulserasi, nyeri hebat, kehilangan tulang alveolar dan jaringan lunak periodontal yang parah
dimana hal ini mengakibatkan kegoyangan pada gigi.1

Erythema gingiva linier, yang dikenal sebagai "gingivitis pita merah", muncul secara
klinis sebagai pita merah di sepanjang margin gingiva: paling sering diamati berhubungan
dengan gigi anterior tetapi biasanya menyebar ke gigi posterior. Ini juga muncul pada gingiva
yang tidak melekat dan melekat sebagai bercak petekie.1

Gingivitis dan periodontitis terkait HIV menunjukkan perilaku yang lebih agresif,
dibandingkan dengan gingivitis / periodontitis yang tidak terkait HIV / AIDS. Kehilangan tulang
dan resesi gingiva terjadi, terlepas dari upaya pasien untuk mempertahankan perilaku kebersihan
mulut yang baik.1

Cytomegalovirus (CMV) adalah virus herpes di mana 40% -80% individu memiliki bukti
paparan serologis. Insidensinya lebih tinggi pada populasi yang kurang beruntung secara
ekonomi dan di antara pria homoseksual. Ada juga bukti bahwa imunosupresi menghasilkan
reaktivasi infeksi CMV yang tampak secara klinis; ini terlihat paling sering pada pasien dengan
sistem kekebalan tubuh rendah, seperti sumsum tulang atau penerima transplantasi organ padat,
pasien dengan AIDS, atau orang yang menerima terapi imunosupresif.4
Gambar 5. Hiperplasia gingiva atas dan bawah pada pasien human-immunodeficiency virus dengan
infeksi cytomegalovirus4

Cheilitis angular muncul sebagai retakan, pengelupasan, atau ulserasi yang melibatkan
sudut mulut dan sering muncul dalam kombinasi dengan bentuk kandidiasis lainnya.5

Gambar 6. Angular cheiltis pada komisura kanan dan kiri5

Cheilitis sudut dapat terjadi dengan atau tanpa kandidiasis eritematosa atau
pseudomembran. Angular cheilitis muncul sebagai eritema yang terasa sakit, fisura atau erosi
pada sudut mulut yang ditutupi oleh sisik halus.6
Gambar 7. Angular Cheilitis pada pria berusai 33 tahun yang terinfeksi HIV dengan
jumlah CD4 480.6

Manifestasi oral dari infeksi HIV dan AIDS telah berubah secara drastis setelah
munculnya dan penggunaan klinis ART. Sebagai hasil dari perbaikan sistem kekebalan yang
jelas, banyak infeksi oportunistik telah sembuh tetapi risiko hiperpigmentasi pada pasien yang
menjalani ART telah meningkatkan prevalensi kandidiasis oral sedangkan penyakit periodontal
kurang diamati pada pasien dengan ART.1
DAFTAR PUSTAKA

1. Noujeim, Ziad & Mantash, Ahmad & El-Outa, Abbass & Doumit, Mounir. Oral
Manifestations of HIV Infection and AIDS: An Update on Clinical Diagnosis and
Management. International Journal of Current Advanced Research.2017;6(9).6256-63.
2. Khammissa, et al. Epstein-Barr Virus and Its Association with Oral Hairy Leukoplakia: A
Short Review. International Journal od Dentistry.2016.
3. Valentine, J et al. Impact of periodontal intervention on local inflammation, periodontitis,
and HIV outcomes. Oral diseases. 2016:22 (1)):87-97
4. Jasjeet Kaur, Parminder Singh, and Donald Levine. Cytomegalovirus-Induced Gingival
Hyperplasia. Clinical Infectious Diseases 2003; 37:e44–6
5. Arvind Shetti, Ishita Gupta, and Shivyogi M. Charantimath. Oral Candidiasis: Aiding in
the Diagnosis of HIV—A Case Report. Hindawi Publishing Corporation. 2011.
6. Daiva Aškinytė, Raimonda Matulionytė, Arūnas Rimkevičius. Oral manifestations of
HIV disease: A review. 2015; 17: 21-8.