Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM


BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA
PEMBELAJARAN INTERAKTIF DITINJAU DARI
HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

LUJNAH AZIS

191050801005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN 2020
DAFTAR ISI

SAMPUL

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penelitian
D. Manfaat penelitian
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Problem Based Learning
B. Media Pembelajaran Interaktif
C. Hasil Belajar
III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
B. Jenis dan DesainPenelitian
C. Populasi dan Sampel Penelitian
D. Instrumen Penelitian
E. Prosedur Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data
G. Teknik Analisis Data
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi pada zaman milenial seperti saat ini sangat
berpengaruh pada manusia khususnya pada dunia pendidikan. Perkembangan ini
dapat memudahkan guru dalam membuat bahan pembelajaran guna membantu
peserta didik dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Perkembangan teknologi ini memiliki dampak positif dan negatif yang
berpengaruh dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi yang begitu pesat
membuat peserta didik jadi lebih mudah mendapatkan informasi yang dapat
meningkatkan analisa dan keterampilan berpikir mereka; dengan browsing
internet, peserta didik juga dapat mengembangankan minat dan keahliannya
masing-masing sehingga dapat membuat sesuatu yang baru yang bermanfaat bagi
manusia. Sedangkan manfaatnya bagi guru yaitu penyajian materi memerlukan
waktu yang relatif lebih singkat serta dapat menyajikan materi yang dapat lebih
mudah dipahami peserta didik. Adapun dampak negatifnya yaitu, perkembangan
teknologi memberikan kebiasaan buruk bagi peserta didik yang tidak
menggunakan teknologi tersebut dengan baik. Misalnya saja, peserta didik
menggunakan fasilitas internet untuk bermain game atau menonton video
sehingga membuat peserta didik menjadi malas, kurang fokus, kurang disiplin,
sehingga berakibat buruk pada perkembangan peserta didik.
Setelah dilakukan observasi awal, kasus serupa ditemukan pada peserta
didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Tinambung, dari hasil observasi diperoleh
informasi bahwa rendahnya hasil belajar peserta didik disebabkan karena efek
perkembangan teknologi yang menyebabkan peserta didik menjadi malas, dan
tidak fokus dalam belajar.
Upaya untuk mengatasi dampak buruk perkembangan teknologi tersebut
yaitu dengan memberikan pembelajaran berbasis masalah dipadukan dengan
media pembelajaran interaktif yang dapat membantu peserta didik dalam
memecahkan masalah yang diberikan guru. Dengan pemberian model
pembelajaran PBL berbantuan media pembelajaran interaktif ini diharapkan
peserta didik akan tertarik untuk belajar dan dapat fokus menyelesaikan masalah
yang diberikan melalui media ineraktif.
Pada prinsipnya dalam model pembelajaran PBL peserta didik dituntut
untuk secara aktif mencari jawaban atas masalah-masalah yang diberikan guru.
Dalam hal ini guru lebih banyak sebagai mediator dan fasilitator untuk membantu
peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka secara efektif. Sehingga
guru harus bisa menguasai teknologi agar mampu membimbing peserta didik
lebih baik lagi.
Mengingat perkembangan teknologi dapat sangat membantu peningkatan
mutu pendidikan menjadi lebih baik dibanding pada era sebelumnya, maka
peneliti merasa bahwa memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada untuk
meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik akan memberikan hasil yang
lebih baik dibanding dengan pembelajaran biasa.

Berdasarkan latar belakang, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu


penelitian dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based
Learning Menggunakan Media Pembelajaran Interaktif Ditinjau Dari Minat Dan
Hasil Belajar Peserta Didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Tinambung”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penilitian ini adalah:
1. Bagaimana hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1
Tinambung sebelum di ajar menggunakan Model Pembelajaran Problem
Based Learning Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif?
2. Bagaimana hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1
Tinambung setelah di ajar menggunakan Model Pembelajaran Problem
Based Learning Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif?
3. Seberapa besar Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning
Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif Ditinjau Dari Hasil Belajar
Peserta Didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Tinambung
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui Hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA SMA
Negeri 1 Tinambung sebelum di ajar menggunakan Model Pembelajaran
Problem Based Learning Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif?
2. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri
1 Tinambung setelah di ajar menggunakan Model Pembelajaran Problem
Based Learning Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif?
3. Untuk mengetahui seberapa besar Efektivitas Model Pembelajaran
Problem Based Learning Menggunakan Media Pembelajaran Interaktif
Ditinjau Dari Minat Dan Hasil Belajar Peserta Didik kelas XI MIPA
SMA Negeri 1 Tinambung
D. Manfaat Penelitian
 Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru untuk menambah
wawasan dalam upaya meningkatkan kompetensi peserta didik melalui
model pembelajaran Problem Based Learning Menggunakan Media
Pembelajaran Interaktif
 Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman dan referensi yang sangat berharga sehingga menjadi
bekal dan acuan dalam penyusunan penelitian selanjutnya.
 Bagi Peserta Didik
Sebagai pembelajaran tentang pemanfaatan teknologi sebagai sarana
belajar yang baik, menarik, dan menyenangkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Problem Based Learning
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran termasuk pendekatan saintifik. Pemilihan model Problem Based
Learning (PBL) diharapkan membantu peserta didik untuk mencapai keberhasilan
proses belajar dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Hal ini disebabkan
karena Problem Based Learning (PBL) memerlukan keterampilan guru untuk
menyajikan masalah yang bersifat kontekstual.
Melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) peserta didik
juga dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk memecahkan
masalah gejala-gejala fisika yang ada dilingkungannya dengan menggunakan
keterampilan metakognitifnya yaitu peserta didik bertanya pada diri sendiri dan
memahami masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menafsirkan
dan menganalisis serta menyajikan hipotesis, merumuskan generalisasi, dan
mengkomunikasikan kesimpulan.( Sawitri; 2016).
Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) mengemukakan
bahwa pengertian dari model Problem Based Learning adalah model pengajaran
yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta
didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta
memperoleh pengetahuan.
Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa Model Problem
Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya
melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa
tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan
yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan
memilki keterampilan dalam memecahkan masalah.
2. Media Pembelajaran Interaktif
Menurut Arsyad (2011: 3), kata media berasal dari bahasa latin medius yang
secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media
adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Menurut Munir (2009: 88) menyatakan bahwa, Dalam proses pembelajaran
interaktif, terjadi beberapa bentuk komunikasi, yaitu satu arah (one way
communication) dan dua arah (two ways communication), dan banyak arah (multy
ways communication) berlangsung antara pengajar dan siswa. Pengajar
menyampaikan materi pembelajaran dan siswa memberikan tanggapan (respon)
terhadap materi tersebut.
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
interaktif merupakan suatu sarana/ perantara yang digunakan pada pembelajaran
yang didalamnya terjadi interaksi baik antara siswa dengan guru, siswa dengan
siswa, dan siswa dengan media pembelajaran yang digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
Multimedia interaktif merupakan salah satu dari empat kelompok kategori
bahan ajar yaitu: (1) bahan ajar cetak antara lain: handout, buku, modul, lembar
kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket; (2) bahan ajar
dengar seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio; (3) bahan ajar
pandang dengar seperti video compact disk, film; dan (4) bahan ajar interaktif
yang merupakan kombinasi dua atau lebih yang oleh penggunanya diberi
perlakuan untuk mengendalikan suatu perintah. Bahan ajar interaktif dapat berupa
computer assisted instruction (CAI), compact disk (CD) multimedia pembelajaran
interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials) (Prastowo,
2015:40).
Multimedia interaktif sebagai salah satu bentuk pembelajaran berbasis
komputer kontennya dikelompokkan menjadi beberapa model pembelajaran
(Rusman, 2012:290). Adapun model pembelajaran multimedia di antaranya: 1.
Model Drills Model drills merupakan suatu model dalam pembelajaran dengan
jalan melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Melalui model
drills akan ditanamkan kebiasaan tertentu dalam bentuk latihan soal-soal yang
penggunaannya dapat diulang-ulang sampai mencapai kesempurnaan. 2. Model
Tutorial Model tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan yang
bertujuan memberikan bantuan kepada siswa agar dapat mencapai hasil belajar
secara optimal. 3. Model Simulasi Model simulasi pada dasarnya merupakan salah
satu strategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang
lebih konkret melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati
suasana sebenarnya dan berlangsung dalam suasana yang tanpa risiko. 4. Model
Instructional Games Model Instructional games bertujuan untuk menyediakan
pengalaman belajar melalui bentuk permainan yang mendidik.

Kelebihan Multimedia Interaktif Purwanto & Kusnandar (2005)


menjelaskan bahwa program multimedia interaktif memiliki sejumlah kelebihan
dibanding dengan media lainnya, yaitu: 1) Fleksibel artinya pemberian
kesempatan untuk memilih isi setiap bidang yang disajikan dan juga fleksibel
dalam waktu dan penggunaannya. 2) Self-pacing artinya bersifat melayani
kecepatan belajar individu. 3) Content-rich artinya program menyediakan
informasi yang cukup banyak. 4) Interaktif artinya program memberikan
kesempatan kepada pengguna untuk memberikan respon yang akhirknya akan
direspon oleh multimedia. 5) Individual artinya program sudah dirancang dan
disediakan untuk memenuhi minat kebutuhan individu.

3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana
Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi
tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri
dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan
enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
1. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah
dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan
fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang
hal yang dipelajari.
3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk
menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan
prinsip.
4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-
bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun suatu program.
6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil
ulangan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar


merupakan kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mengalami proses
belajar baik dari segi afektif, psikomotorik, dan kognitif dibuktikan setelah
dilakukan evaluasi.

B. Kerangka Pikir
Hasil observasi dilapangan menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik
dalam memecahkan masih sangat rendah sehingga diperlukan suatu media yang
mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

Penggunaan media pembelajaran interaktif dalam pemecahan masalah yang


diberikan kepada peserta didik, dikiranya mampu untuk meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Sehingga hasil belajar peserta
didik dapat meningkat melihat kelebihan yang dimiliki media pembelajaran
interaktif yaitu; 1) Fleksibel artinya pemberian kesempatan untuk memilih isi
setiap bidang yang disajikan dan juga fleksibel dalam waktu dan penggunaannya.
2) Self-pacing artinya bersifat melayani kecepatan belajar individu. 3) Content-
rich artinya program menyediakan informasi yang cukup banyak. 4) Interaktif
artinya program memberikan kesempatan kepada pengguna untuk memberikan
respon yang akhirknya akan direspon oleh multimedia. 5) Individual artinya
program sudah dirancang dan disediakan untuk memenuhi minat kebutuhan
individu. Adapun kerangka pikir dapat di lihat pada gambar 2.1 berikut.

Rendahnya hasil belajar peserta didik

diberikan

Model Pembelajaran Problem Based Learning


Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif

diharapkan

Hasil belajar peserta didik meningkat

BAB III

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir


METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tinambung

Kabupaten Polewali Mandar Tahun ajaran 2020/2021.

B. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Pre-Eksperimen yang menggunakan desain One

Group Pretest-Posttest Design. Dengan gambar desain penelitian sebagai berikut:

O1 X O2
(Sugiyono, 2016:111).

Keterangan :

X = Perlakuan (Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan

Media Pembelajaran Interaktif)

O1 = pretest (pengukuran sebelum diberi perlakuan dengan Model

Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media

Pembelajaran Interaktif)

O2 = posttest(pengukuran setelah diberi perlakuan dengan Model

Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media

Pembelajaran Interaktif

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI MIPA SMA
Negeri 1 Tinambung tahun ajaran 2020/2021.
2. Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

random sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel

yang dilakukan secara acak.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur

dan mengumpulkan data dalam penelitian sehingga lebih mudah untuk diolah.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes pilihan ganda yang

disusun berdasarkan indikator pencapaian yang terdapat pada silabus

pembelajaran. Kisi-kisi instrumen penelitian dapat dilihat dalam tabel 3.1 berikut:

Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen

(Sumber: Erni;2016)
Terdapat 2 macam tes yaitu pretest dan posttest. Pretest dilakukan untuk

mengukur kemampuan awal peserta didik sebelum diberi perlakuan. Posttest

dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik setelah diberi perlakuan.

Instrumen penelitian yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting

yaitu sahih (valid) dan handal (reliabel), sehingga instrumen tersebut dapat

digunakan untuk memperoleh data yang tepat dan dapat dipercaya. Oleh karena

itu, perlu dilakukan uji kesahihan (validitas) dan kehandalan (reliabilitas)

instrumen. Berikut ini penjelasan tentang validitas dan reliabilitas instrument:

1. Validitas

Validitas adalah keabsahan suatu instrument yang digunakan untuk

mengukur apa yang seharusnya di ukur (Sugiyono,2005:173). Pengujian

validitas item tes untuk menentukan item-item tes yang valid

menggunakan persamaan sebagai berikut :

X́ p− X́ t p
r phis =
st √q
……………… (3.1)

dimana:
2
2 (∑ X t )
2
∑X − t
n ……………. (3.2)
St =
n

(Ali &Khaeruddin, 2012 : 94)

Keterangan :
r phis = Koefisien korelasi poin biserial (KPB)
X́ p = Rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar untuk butir soal
yang akan dicari validitasnya.

X́ t = Rata- rata skor total


St = Simpangan baku skor total
p = Proporsi siswa yang menjawab benar pada butir soal yang
dimaksud
q = Proporsi siswa yang menjawab salah pada butir soalyang
dimaksud

Valid tidaknya item ke-i dilakukan dengan membandingkan nilai


r phis dengan nilai r tabel pada taraf signifikanα =0.05. Berikut kriteria
validitas instrument yang digunakan :

Nilai r phis ≥ r tabel , itemdinyatakan valid

Nilai r phis <r tabel ,item dinyatakan drop

Untuk mengetahui tingkat kevalidan suatu instrumen tes, maka dapat

dilihat pada tabel 3.2. berikut:

Tabel 3.2. Kriteria Validitas Instrumen Tes


Nilai r Interpretasi
0,81 – 1,00 Sangat Tinggi
0,61 – 0,80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat Rendah
(Arikunto, 1991:29)

2. Reliabilitas

Reliabilitas merupakan kemampuan suatu instrumenuntuk

menghasilkan data yang sama ketika digunakan beberapa kali dalam

mengukur objek yang sama (Sugiyono,2005:173).Untuk menghitung

realibilitas instrumen digunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20)

sebagai berikut :

k S t2−∑ pq
r i=( )(
k −1 S t2 ) ……………… (3.3)

(Sugiyono,2016 : 186)
Keterangan :
ri = Realibilitas tes secara keseluruhan
p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = Proporsi subjek yang menjawab item salah
∑ pq = Jumlah perkalian antara p dan q
k = Banyaknya item
st = Standar deviasi sari tes (standar deviasi adalah akar varians)

3. Tingkat kesukaran/ kemudahan

Suatu instrument tes yang baik memiliki butir dengan tingkat kesukaran

yang proporsional. Instrumen yang baik memiliki perbandingan tingkat

kesukaran sebagai berikut:

Mudah : sedang : sukar = (1:2:1) (3:5:3) (2:5:3).

Suatu soal dengan indeks kesukaran p = 1,00 artinya semua siswa

menjawab benar pada butir soal tersebut, sebaliknya jika indeks

kesukaran p = 0,00 berarti tidak ada siswa yang menjawab benar butir

soal tersebut. Rumus yang digunakan untuk menentukan indeks

kesukaran p adalah sebagai berikut:

ph + pl
p= …………… (3.4)
2

(Ali &Khaeruddin,2012:90)

Keterangan:
p = Indeks kesukaran/ kemudahan
ph = Proporsi siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
(perbandingan antara jumlah jawaban benar yang diberikan oleh
kelompok atas dengan jumlah siswa di kelompok atas)
pl = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab salah butir tes
(perbandingan antara jumlah jawaban benar yang diberikan oleh
kelompok bawah dengan jumlah siswa di kelompok bawah).
Adapun kriteria tingkat kesukaran instrument disajikan pada tabel

3.2 berikut:

Tabel 3.2. Kriteria Indeks Kesukaran/ Kemudahan


Indeks Kesukaran Kategori

p ≤0,30 Sukar

0,31< p ≤ 0,70 Sedang


0,71 ≤ p Mudah
(Sumber: Ali &Khaeruddin, 2012:91)

4. Daya pembeda

Daya pembeda suatu butir soal menyatakan seberapa jauh

kemampuan butir soal dalam membedakan kelompok siswa yang pandai

dengan kelompok siswa yang lemah. Semakin tinggi daya pembeda soal

maka semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan siswa yang

telah memahami materi dengan siswa yang belum memahami materi.

Untuk menghitung daya pembeda, maka dapat digunakan rumus sebagai

berikut:

D=P h−PL …………… (3.5)

(Ali &Khaeruddin,2012:93)

Keterangan:
D = Daya pembeda
ph = Proporsi siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
(perbandingan antara jumlah jawaban benar yang diberikan oleh
kelompok atas dengan jumlah siswa di kelompok atas)
pl = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab salah butir tes
(perbandingan antara jumlah jawaban benar yang diberikan oleh
kelompok bawah dengan jumlah siswa di kelompok bawah).
Daya pembeda sekurang-kurangnya harus berkualitas cukup. kriteria yang

digunakan untuk menentukan indeks pembeda dapat dilihat pada tabel 3.3

berikut ini:

Tabel 3.3. Penafsiran Indeks Pembeda


Indeks daya pembeda Kategori
0,4 ≤ D Sangat baik/ soal diterima baik
Baik/ soal diterima tetapi perlu
0,30 ≤ D≤ 0,39
diperbaiki
0,20< D ≤ 0,29 Cukup/ soal diperbaiki
D ≤0,20 Jelek/ soal dibuang
(Sumber: Ali &Khaeruddin,2012:93)

E. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

a. Mengadakan observasi ke sekolah dan berkonsultasi dengan guru

bidang studi fisika kelas XI mengenai keadaan peserta didik, hasil

belajar fisika peserta didik, materi pelajaran yang akan diteliti, waktu

penelitian dan kelas yang akan digunakan untuk penelitian.

b. Membuat perangkat pembelajaran dan menyiapkan media

pembelajaran yang sesuai.

c. Menyusun instrumen tes kemampuan pemahaman konsep Fisika.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Memberikan tes awal (pre-test) berupa tes kemampuan pemahaman

konsep Fisika terhadap pelajaran fisika sebelum diterapkan model

pembelajaran Novick.

b. Melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan Model

Pembelajaran Problem Based Learning yaitu dengan langkah-langkah

sebagai berikut:
1) Orientasi Peserta didik terhadap masalah

Pada tahap ini, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan

logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi

atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta didik

untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

2) Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

Pada tahap ini, guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan

dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan

masalah tersebut.

3) Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Pada tahap ini, guru mendorong peserta didik untuk

mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen

untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

4) Mengmbangkan dan menyajikan hasil karya

Pada tahp ini, guru membantu peserta didik dalam merencanakan

dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan

model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan

temannya.

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Pada tahap ini, guru membantu peserta didik untuk melakukan

refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-

proses yang mereka gunakan.


3. Tahap Akhir

Setelah seluruh kegiatan pengajaran dilaksanakan maka dilakukan tes

akhir (post-test). Peneliti akan memberikan tes akhir (Post-test) berupa

tes hasil belajar peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran

Problem Based Learning berbantuan Media pembelajaran Interaktif.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes kemampuan

pemahaman konsep Fisika dalam bentuk pilihan ganda beralasan. Sebelum

diujikan, soal tes tersebut divalidasi oleh tim validator. Setelah dinyatakan

valid, selanjutnya instrumen diujikan pada sampel penelitian.

G. Teknik Analisis Data

1. Analisis deskriptif

Analisis ini berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi

gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi

sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan

yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2016; 29).Rumus yang digunakan

dalam analisis deskriptif untuk penitian ini adalah:

a. Menghitung skor

Untuk menghitung skor yang diperoleh siswa, maka dapat digunakan

rumus sebagai berkut:

JB
Skor = N x 100 ……………. (3.7)

(Ali dan Khaeruddin,2012;70)

Keterangan:
JB= banyaknya butir soal yang dijawab benar
N= banyaknya butir soal

b. Menghitungrata-rata ( X́ )

Untuk menghitung nilai rata-rata dari suatu kelompok, maka dapat

digunakan rumus sebagai berikut:

x́=
∑ f i x i ………………. (3.7)
∑ fi
(Ali &Khaeruddin,2012:54)

Keterangan :
x́ = skor rata-rata
f i = frekuensi (i = 1,2,3........n)
x i = nilai hasil pemahaman konsep fisika siswa.

c. Standar deviasi (S)

Standar deviasi berfungsi memperlihatkan pola sebaran data, dan

variasi sebaran antar data. Secara matematis penentuan standar deviasi

dirumuskan sebagai berikut:

∑ ( X i− X́ )2 ………………… (3.8)
Sd =
√ n−1

(Ali &Khaeruddin,2012:58)

Keterangan :
Sd = Standar deviasi
X́ = Skor rata-rata
x i = Nilai hasil pemahaman konsep fisika siswa.
n = Jumlah data

2. Analisis inferensial
Analisis inferensial digunakan untuk menganalisis data sampel dan

hasilnya diberlakukan untuk populasi. Analisis statistik inferensial

digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian yang telah diajukan.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data dimaksudkan apakah data-data yang digunakan

terdistribusi normal atau tidak. Untuk pengujian tersebut digunakan

rumus Chi kuadrat yang dirumuskan sebagai berikut :

k
( fo−fe )2
X 2 =∑ ……………………… (3.9)
i=1 fe

(Sugiyono,2005:181)

Keterangan:
X2 = Nilai Chi-kuadrat
fo = frekuensi hasil pengamatan
fe = frekuensi harapan
k = banyak kelas.

Kriteria uji normalitas menurut Sugiyono (2016;109) yaitu

JikaX2hitung≥X2tabel, maka H0ditolak dan Ha diterima, dan

JikaX2hitung¿X2tabel, makaH0 diterima(H0 = data terdistribusi normal;

Ha = data terdistribusi tidak normal).

b. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini denganmenggunakan uji-t,

dengan α = 0,05. Secara matematis pengujian hipotesis menggunakan

uji-t dirumuskan sebagai berikut:


Md
t=
∑ X 2d ……………… (3.10)
√ N ( N−1 )

dimana,

Md=
∑ d ………………….. (3.11)
N

2
2 ( ∑ d ) …………….. (3.12)
2
∑X d =∑ d
N

(Arikunto, 2014;349-351)

Keterangan :
t = harga t
Md = mean dari deviasi (d) antara post-test dan pretest
X d = deviasi masing-masing subjek (d-Md)
∑ d = jumlah selisih pretest-posttest
N = Banyaknya subyek pada sampel

Kriteria pengujian hipotesis untuk uji t adalah

t hitung ≥ t tabel maka H a diterima ,

t hitung < t tabel maka H a ditolak dan H o diterima .

Dimana:

H o =¿ tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika siswa

yang signifikan

H a=¿ terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika siswa yang

signifikan
DAFTAR PUSTAKA

Andi, Prastowo. (2015). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.


Yogyakarta: Diva Press.

Arikunto, Suharsimi.2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta.

Aris shoimin. (2014). Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013.


Yokyakarta: AR-ruz media.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineke Cipta

Kamdi. 2007. Strategi Pembelajaran. Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Khaeruddin & Ali, Sidin. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Makassar: Badan


Penerbit UNM.

Munir. 2009. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan


Komunikasi. Bandung: Alfabeta

Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Nurkholif, Erni. 2016. Efektivitas Penerapan Metode Problem Based Learning


Berbantuan Multimedia Pembelajaran Di Smk N 1 Pundong. Universitas
Negeri Yogyakarta.

Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer Mengembangkan


Profesionalisme Abad 21. Bandung: Alfabeta.

Sawitri, I., Suparmi & N.S. Aminah. (2016). “Pembelajaran Fisika Berbasis
Problem Based Learning (PBL) Menggunakan Metode Eksperimen dan
Demonstrasi Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Kritis tehadap Prestasi
Belajar dan Keterampilan Metakognitif” dalam Jurnal Inkuiri, Volume 5(2),
hlm.79-86. Tersedia secara online juga di: http://jurnal.fkip.uns.
ac.id/index.php/sains diakses 4 November 2017. [diakses di Singaraja, Bali,
Indonesia: 7 November 2018].

Sudjana, Nana. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali
Press
Sugiono, 2005. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung : Alfabeta

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung.


Alfabeta

Anda mungkin juga menyukai