Anda di halaman 1dari 10

SEPARATISME

A. PENDAHULUAN
Nasionalisme, Kita tentunya sering mendengar hal ini disebut. Nasionalisme
adalah sebuah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah
negara dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok
manusia. Hal yang lebih rinci tentang nasionalisme, diungkapkan oleh Ernest Renan,
yaitu nasionalisme merupakan perasaan kebersamaan dari setiap anggotanya.
Perasaan itu terbentuk dan tumbuh seiring dengan pengalaman-pengalaman hidup
yang mereka jalani yang kemudian memandu mereka untuk hidup bersama dalam
sebuah proses pembangunan di masa yang lebih baik.
Untuk mewujudkan hal itu, perlunya pemerintahan atau pemimpin yang baik
pula, dalam islam pemimpin atau al-khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang
diatur menurut ajaran islam, sebagai yang dibawa dan dijalankan oleh nabi
Muhammad saw. Semasa hidup beliau, dan kemudian dijalankan oleh khulafaur-
rasyidin. Kepala negaranya dinamakan khalifah.
Al-khilafah dapat ditegakkan dengan perjuangan umat islam yang teratur
menurut keadaan dan tempat masing-masing umat, baik berbentuk nasional untuk
sebagian umat muslimin yang merupakan suatu bangsa yang memperjuangkan suatu
Negara yang telah mereka tentukan batas-batasnya, sebagaimana telah terjadi
sebagaimana telah terjadi mulai dari khilafah umawiyah, khilafah ‘Abbasiyah, dan
lain-lain sesudah itu. Khilafah-khilafah itu diakui dan ditaati oleh ulama muslim.
Atau berbentuk umu (internasional) untuk seluruh islam sedunia. Bentuk yang kedua
inilah yang sering di dengar dibicarakan oleh pemimpin-pemimpin islam yang
terkemuka. Memang diakui bentuk kedua ini lebih baik, namun selama Negara-
negara yang penduduknya kaum muslimin masih dikuasai oleh kekuatan tangan
penjajah, bentuk yang kedua itu tak kan berhasil dan tidak berarti.1
Sekarang juga banyak pemberontakan-pemberontakan di berbagai macam
Negara, yang mengaku bahwa mereka memberontak karena adanya ketidakadilan di
negaranya, pemberontakan macam ini disebut paham sebagai separatisme. Secara
umum, separatisme dapat diartikan sebagai suatu gerakan untuk mendapatkan
kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia yang memiliki
keterikatan nasionalisme yang tajam, dari suatu negara atau kelompok lain.
Di kedua poin diatas, kita dapat melihat jika kedua hal tersebut, nasionalisme
dan separatisme, memiliki keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lain.
Gerakan separatis, kebanyakan didasari dengan basis nasionalisme ekstrin atau
kekuatan religius.
Upaya kelompok atau golongan masyarakat melakukan perlawan gerakan
separatisme dengan tujuan untuk memisahkan diri dari negaranya merupakan masalah
bangsa yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara tuntas.
B. KONSEP DASAR SEPARATISME
1. Definisi separatisme
1
H. Sulaiman Rasjid, fiqh islam, Bandung : sinar baru, 1988, h.454

1
Secara etimologis separatisme artinya mengasingkan diri, kelompok
yang mengasingkan dirinya dari suatu wilayah dari satu sama yang lain
(atau suatu Negara lain).2 Separatisme juga sering merupakan tindak balas
yang kasar dan brutal terhadap suatu pengambil ahlian militer yang terjadi
dahulu. Di seluruh dunia sebanyak kelompok teroris menyatakan bahwa
separatisme adalah satu-satunya cara untuk meraih tujuan mereka mencapai
kemerdekaan. Dalam hukum pidana islam yang dikenal dengan sebutan
bughat yaitu : pemberontakan terhadap suatu pemerintahan. Al-baghy
memiliki beberapa pengertian antara lain; (zhalim, aniaya) (perbuatan
jahat) (menyimpang dari kebenaran) dan (melanggar, menentang). 3
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:820) separatisme adalah
paham yang mencari keuntungan dengan pemecahbelahan di suatu
golongan (bangsa). 4 Pengertian tersebut kemudian menjadi populer untuk
mencari dan menuntut sesuatu yang tidak halal, baik karena dosa maupun
karena kezaliman. Hal ini terlihat dari firman Allah.
          
         
        
Katakanlah “tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik
yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa yang
melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar”.
Dalam pengertian istilah terdapat beberapa definisi yang dikemukakan
oleh ulama mazhab yang redaksinya berbeda-beda.
a. Pendapat malikiyah
Separatisme atau pemberontak adalah menolak untuk tunduk dan taat
kepada orang yang kepemimpinannya telah tetap dan tindakannya
bukan dalam maksiat, dengan cara menggulingkannya, dengan
menggunakan alasan (ta’wil).5
b. Pendapat hanafiyah
Separatisme atau bughat adalah keluar dari ketaatan kepada imam
(kepala Negara) yang benar (sah) dengan cara yang tidak benar (sah).6
c. Pendapat hanabilah
Separatisme atau bughat adalah sekelompok orang yang menentang
penguasa/pemerintah, termasuk penguasa yang zalim, dikarenakan
2
echols,John M., dan Shadily, Hassan, kamus bahasa inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1997) h.518
3
Ahmad Mukri Aji sebagaimana dikutip firmansyah “rasionalitas ijtihad ibn rusyd” skripsi pada
program study jinayah siyasah, fakultas syari’ah dan hukum, UIN sharif Hidayatullah, Jakarta, 2011,
h.16
4
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:820)
5
Ahmad Wardi Muslich sebagaimana dikutip firmansyah “hukum pidana islam” skripsi pada
program study jinayah siyasah, fakultas syari’ah dan hukum, UIN sharif Hidayatullah, Jakarta, 2011,
h.17
6
Ibid.

2
adanya perbedaan paham. Mereka memiliki kekuasaan, meskipun tidak
berada dibawah komando seorang pemimpin.7
d. Pendapat syafi’iyah
Separatisme atau bughat adalah para pemberontakan atau para pelaku
tindakan makar itu adalah orang-orang islam yang melawan atau
pembangkang kepada pemimpin/pemerintah, dengan jalan
menentangnya dan melepaskan diri darinya atau menolak kewajiban-
kewajiban yang dibebankan kepada mereka, dengan memiliki kekuatan,
memiliki argumentasi dan memiliki pemimpin.8
2. Unsur-unsur jarimah separatisme atau pemberontakan
Dari rangkuman definisi yang telah dikemukakan diatas, dapat diketahui
beberapa unsur-unsur jarimah separatisme atau bughat itu ada 3,9yaitu:
a. Pembangkangan terhadap kepala Negara (imam)
b. Pembangkangan dilakukan dengan menggunakan kekuatan, dan
c. Adanya niat yang melawan hukum (al-qasd al-jinaiy)
Adapun syarat memerangi pemberontak atau bughat ada 3, yaitu sebagai
berikut.
a. memiliki kekuatan,yaitu mereka mempunyai kekuatan (bersenjata) yang dapat
digunakan untuk melawan pemerintah atau penegak keadilan. seperti mereka
memiliki kelompok lain yang dapat dimintai bantuan, mempunyai benteng
pertahanan, atau menguasai salah satu daerah kaum muslim (yang berada
dalam kekuasaan pemerintah). tujuan memeranginya adalah menghindari
bahaya yang ditimbulkan. oleh karena itu, jika tidak memiliki kekuatan seperti
yang disebutkan, bahaya keberadaan mereka tidak perlu ditakuti. 10
b. membangkang dari ketaatan terhadap pemimpin, misalnya mengangkat
pemimpin sendiri dari kalangan mereka untuk memimpin daerahnya.
c. mempunyai pemikiran berbeda dengan pemerintah, yang mungkin benar,
mungkin juga salah.
Apabila salah satu dari ketiga syarat diatas tidak terpenuhi, seseorang tidak
bisa dikatakan sebagai pemberontak, dan tidak boleh diperangi. hanya, dihukum
sesuai dengan perbuatannya dan didenda sebesar kerugian yang ditimbulkan, dan
ia tidak boleh di perlakukan selayaknya pemberontak. disyaratkan juga bahwa
sebelum memerangi mereka, imam atau pemerintah yang sah mengirim seorang
laki-laki yang terpercaya dan cerdas,yang dapat menasehati dan mengajak mereka
kembali pada ketaatan, membantah syubhat atau penyimpangan yang mereka
yakini dengan cara yang baik, jika mereka memiliki pemikiran yang
menyimpang, dan menanyakan penyebab mereka membenci pemerintah yang sah,
member peringatan kepada mereka tentang akibat yang akan diterima jika tetap
7
Muhammad Amin Suma sebagaimana dikutip firmansyah “Hukum Pidana”…, h.17
8
Ahmad Mukri Aji sebagaimana dikutip firmansyah “rasionalitas ijtihad”…, h.17
9
Ahmad Wardi Muslich sebagaimana dikutip firmansyah “hukum pidana”.., h.19
10
Mustofa Hasan dan Beni Ahmad Saebani, Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah (Bandung :
Pustaka Setia, 2013), h. 455

3
bersikukuh dalam pemberontakan, dan memberi tahu bahwa mereka akan
diperangi jika tetap mempertahankan pendiriannya. dalilnya adalah Allah
memerintahkan perdamaian terlebih dahulu sebelum melakukan perang. Allah
SWT. Berfirman :
… …       
maka damaikanlah antara keduanya. jika salah satu dari keduanya …
berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain…(Q.S. Al-Hujurat[49]:9
3. Faktor penyebab terjadinya separatisme
Adapun faktor penyebab separatisme adalah sebagai berikut:
a. faktor ideologis dapat muncul sejalan dengan hadirnya pemahaman baru
tentang tatanan kehidupan. Kegagalan negara-negara sekular dalam menata
kehidupan manusia mendorong orang untuk mencari ideologi alternatif.11
b. faktor kezaliman politik. Pemerintahan yang totaliter tidak memberi ruang
yang cukup bagi warga negaranya untuk mengekspresikan tuntutan dan
kepentingan politiknya. Kalaupun ada ritual pemilihan umum, ia cenderung
dijadikan alat untuk melanggengkan dan membenarkan rezim yang berkuasa.
Rezim politik yang seperti ini sering menekan aspirasi dan keinginan
sekelompok masyarakat, tetapi kadang juga mengeksploitasi sebagian besar
masyarakat. Tekanan politik yang sedemikian berat itu, pada tingkatan
tertentu, akan memicu lahirnya gerakan-gerakan separatisme.12
c. faktor ekonomi. Pada awal masa reformasi, beberapa daerah kaya penghasil
minyak dan hasil hutan menuntut sikap adil pemerintah. Kepentingan
ekonomi masyarakat lokal bukan satu-satunya motif yang bisa mendorong
separatisme. Kepentingan ekonomi negara asing juga memainkan peranan
penting dalam gerakan separatisme di banyak negara. Dari sejarah
perpolitikan dunia, kita mengetahui di mana ada peran AS dan Eropa
(terutama Inggris dan Prancis), kepentingan ekonomi selalu mengemuka.
Kepentingan ekonomi ini juga menjadi faktor penting masuknya intervensi
atau peran asing.
d. intervensi asing. Mantan direktur intelejen BAKIN, Dr. AC Manullang,
dalam wawancara dengan Koran Tempo, mengatakan bahwa ada keterlibatan
dinas intelejen AS, CIA, dalam berbagai kerusuhan seperti di Aceh, Sampit,
Pangkalan Bun, Ambon, Irian, dan daerah lainnya. Tujuannya adalah agar
Indonesia chaos. Untuk kasus Ambon disinyalir ada keterlibatan Belanda.
C. DASAR HUKUM LARANGAN SEPARATISME
1. Dasar hukum separatisme (bughat) dalam hukum positif (KUHP)
11
Anna Yulia Hartati, “Separatisme Dalam Konteks Global (Studi Tentang Eksistensi Republik
Maluku Selatan (Rms) Sebagai Gerakan Separatis Indonesia)”, dalam Jurnal Ilmu Politik Hubungan
Internasional, Vol. 7, No. 2, Juni 2010, h.3
12
Anna Yulia Hartati, “Separatisme Dalam Konteks Global (Studi Tentang Eksistensi Republik
Maluku Selatan (Rms) Sebagai Gerakan Separatis Indonesia)”, dalam Jurnal Ilmu Politik Hubungan
Internasional, Vol. 7, No. 2, Juni 2010, h.3

4
Dalam masalah separatisme dasar hukum positif mengenai separatisme
atau bughat yaitu pada pasal 139 a merumuskan ; “makar dengan maksud
melepaskan wilayah., atau daerah lain dari Negara sahabat untuk
seluruhnya atau sebagian, dari kekuasaan pemerintah yang berkuasa disitu,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Sedangkan pada
pasal 139 b merumuskan; “makar dengan maksud menghapuskan atau
mengubah secara tidak sah bentuk pemerintahan yang ada dalam Negara
sahabat, atau daerahnya yang lain, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun.13
Kejahatan yang diberi kualifikasi oleh pembentukan UU dengan
pemberontakan (opstand) adalah kejahatan sebagaimana dirumuskan dalam
pasal 108 KUHP, yang bunyi rumusannya adalah;
(1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan, diancam dengan pidana
penjara paling lama 15 tahun.
a. Orang yang melawan pemerintah dengan senjata.
b. Orang yang dimaksud melawan pemerintah Indonesia menyerbu
bersama-sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang
melawan pemerintah dengan senjata.
c. Para pemimpin dan para pengatur pemberontakan diancam dengan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20
tahun.14
Rumusan kejahatan seperti ini tidak terdapat dalam WvS belanda, hanya
ada didalam WvS hindia yang dimuat dalam tahun 1930. Untuk menjamin
keselamatan pemerintah hindia belanda dari kemungkinan dari serangan
serangan seperti itu, maka dimasukkanlah kejahatan pemberontakan pada
pasal 108. Kualifikasi pemberontakan atau separatisme (opstand) menurut
rumusan pada pasal 108 tersebut ada 3 bentuk kejahatan sebagaimana
disebut dalam ayat (1) yaitu;
a. Orang yang perbuatannya melawan pemerintah dengan senjata
b. Orang yang dengan maksud melawan pemerintah Indonesia menyerbu
bersama-sama dengan gerombolan yang melawan pemerintah dengan
senjata.
c. Orang yang dengan maksud melawan pemerintah menggabungkan diri
pada gerombolan yang melawan dengan senjata.
Sedangkan yang ditentukan dalam ayat 2 itu adalah berupa
pemberontakan yang diperberat, pemberatan pidana mana diletakkan pada
kualitas subyek hukumnya, yang terdiri dari dua, yaitu;
a. Bagi orang yang berkualitas sebagai pimpinan pemberontak.

13
KUHP Bab III “Kejahatan-Kejahatan Terhadap Negara Sahabat dan Terhadap Kepala Negara
Sahabat serta Wakilnya”, Pasal 139a dan 139b
14
KUHP Bab I “Kejahatan Terhadap Keamanan Negara”, pasal 108

5
b. Bagi orang yang berkualitas sebagai pengatur atau perencana
pemberontak.15
2. Dasar hukum tentang hukuman bagi separatisme (bughat) dalam
hukum islam (al-qur’an dan hadist).
a. AL-QUR’AN
Adapun landasan hukum dilarangannya tidak pidana separatisme
(bughat) atau tindakan makar.
     
        
         
        

“dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang,


maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua
golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka
perangilah golongan yang berbuat aniaya itu; sehingga golongan itu
kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Allah); maka damaikanlah anatara keduanya
dengan adil. Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.16
Dari teks ayat tersebut di atas ibn rusyd berpendapat bahwa untuk
mengatasi dan mengantisipasi terjadinya tindakan makar, atau
separatisme (bughat) dan kerusuhan, pemerintah yang berusaha
maksimal untuk mengatasi dan menumpas mereka. Jika salah seorang
atau beberapa orang dari para pelaku kerusuhan itu tertangkap maka
tidak boleh langsung dibunuh, kecuali ketika sedang berkobarnya api
peperangan, dan atau kerusuhan masih berkecamuk; sementara para
separatis atau bughat dan perusuh masih melawan.

b. AL-HADIST
‫ َر َج ع َْن‬Qَ‫ ( َم ْن خ‬:‫ا َل‬QQَ‫لم ق‬QQ‫ه وس‬QQ‫لى هللا علي‬QQ‫ه ع َْن اَلنَّبِ ِّي ص‬QQ‫ي هللا عن‬QQ‫ َرةَ رض‬Q‫َ َوع َْن أَبِي هُ َر ْي‬
‫ أَ ْخ َر َجهُ ُم ْسلِ ٌم‬ ) ٌ‫ فَ ِميتَتُهُ ِميتَةٌ َجا ِهلِيَّة‬, َ‫ َو َمات‬,َ‫ق اَ ْل َج َما َعة‬ َ ‫ َوفَا َر‬,‫اَلطَّا َع ِة‬
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Barangsiapa keluar dari kepatuhan dan berpisah dari
jama'ah, lalu ia mati, maka kematiannya adalah kematian
jahiliyyah." Riwayat Muslim.
َ Q‫ا ُك ْم َوأَ َم‬QQَ‫ ( َم ْن أَت‬:ُ‫ول‬QQُ‫ْت َرسُو َل هَّللَا ِ صلى هللا عليه وسلم يَق‬
‫ر ُك ْم‬Q ُ ‫ َس ِمع‬:‫ْح‬ ٍ ‫َوع َْن َعرْ فَ َجةَ ب ِْن ُش َري‬
‫ أَ ْخ َر َجهُ ُم ْسلِ ٌم‬ ) ُ‫ فَا ْقتُلُوه‬,‫ق َج َما َعتَ ُك ْم‬َ ‫ ي ُِري ُد أَ ْن يُفَ ِّر‬,ٌ‫َج ِميع‬
Dari a’fazah ibn suraihin rasulullah saw bersabda “siapa yang
mendatangi kalian dalam keadaan kalian telah berkumpul/bersatu
dalam satu kepemimpinan kemudian dia ingin memecahkan
15
KUHP Bab I “Kejahatan Terhadap Keamanan Negara”, pasal 108
16
Al-qur’an surah al-hujurat(49:9)

6
persatuan kalian atau ingin memecah belah jamaah kalian maka
perangilah/bunuhlah orang tersebut”.(H.R. Muslim)17

Dalam lafadz lain;


Dikabarkan oleh ahmad ibn syua’ib berkata: dikabarkan oleh
Muhammad ibn yahya berkata: dikabarkan oleh Abdullah ibn usman
dari abi hamzah dari ziyad ibn alaqha, dari arfazah ibn syuraihin
berkata: rasulullah saw bersabda “sungguh akan terjadi fitnah dan
perkara-perkara baru. Maka siapa yang ingin memecah-belah
perkara umat ini padahal umat ini dalam keadaan telah berkumpul/
bersatu dalam satu kepemimpinan maka perangilah/bunuhlah orang
tersebut siapa pun dia.”(H.R Muslim)

D. HUKUM SEPARATISME DALAM HUKUM ISLAM


sebagaimana hukuman bagi yang melakukan pemberontakan atau separatisme
terhadap Negara atau pemerintahan yang sah, yang disebutkan dalam Al-qur’an
yang menerangkan kewajiban memerangi pemberontak18 adalah firman-Nya:
        
         
          
   
Artinya: “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar
Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu
perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut,
damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku
adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil”.
        
  
Artinya: “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
menurut firman Allah, hukum memerangi pemberontak atau gerakan separatisme
atas perintah imam atau pemimpin hukumnya wajib, jika pemberontakan itu
dilakukan oleh segolongan kaum muslim atas segolongan kaum muslim yang lain.
Apalagi jika pemberontakan itu ditujukan kepada pemimpin yang sah.
Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah SAW. bersabda, “barang siapa memecah belah persatuan kaum muslim,
padahal mereka telah sepakat untuk memilih satu pemimpin dengan maksud
menceraiberaikan umat, maka bunuhlah dia.”

17
Ibnu Hajar Asqalany, Bulughul Maram, Pustaka: Al-Hidayah, 1429 H / 2008 M
18
Mustofa Hasan dan Beni Ahmad Saebani, Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah (Bandung :
Pustaka Setia, 2013), h.458-459

7
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “barang siapa memecahbelah persatuan
umat ini, padahal ia telah menyatu, tebaslah dia dengan dimanapun dia berada.”
Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa yang mendatangimu, sedangkan
urusanmu berada ditangan mereka (pemimpin mereka) dan mereka ingin merusak
kekuasaanmu serta akan memorak-morandakan jemaahmu, maka bunuhlah mereka.”
(H.R. Muslim)
para imam mazhab sepakat bahwa mengangkat pemimpin hukumnya adalah
wajib. pemimpin yang sempurna wajib ditaati perintahnya selama ia tidak melakukan
kemaksiatan. membunuh orang yang tidak taat kepada pemimpin yang baik
hukumnya adalah wajib. hukum-hukum orang yang mendapat limpahan kekuasaan
darinya harus dilaksanakan.19
Apabila sekelompok orang yang berkekuatan keluar dari jamaah kaum Muslim,
atau tidak taat kepada pemimpinnya, dan mereka mempunyai alasan yang tidak jelas,
maka mereka boleh diperangi sehingga kembali kepada perintah Allah Swt. jika
mereka kembali ke tengah jamaah kaum Muslim maka dilarang memerangi mereka.

E. GERAKAN-GERAKAN SEPARATISME DI NKRI


1) Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan
merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari
Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia
Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai
pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas
pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di
pengasingan, Belanda. Perdana menteri RMS (bermimpi) tidak menutup
kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati
tetap menekankan tujuan utama adalah meraih kemerdekaan penuh.20
2) Gerakan aceh merdeka (GAM) adalah gerakan separatis yang berada di aceh
sebagai akibat dari adanya perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat
Indonesia yang ada dijakarta terhadap rakyat aceh. Rakyat aceh merasa dianak
tirikan dan pemerintah pusat yang ada dijakarta dianggap sebagai penjarah
kekayaan di bumi aceh, sedangkan rakyat aceh sendiri tidak mendapat
manfaat apa-apa dari eksploitasi yang dilakukan pemerintah pusat Indonesia
gerakan aceh merdeka (GAM) bertujuan untuk mendirikan Negara aceh yang
terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut mereka, melawan
pemerintahan Indonesia merupakan misi suci sebagai salah satu bentuk amar
ma’ruf nahi munkar. Oleh sebab itu, barangsiapa yang gugur dalam
19
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat
Mazhab,diterjemahkan oleh Abdullah Zaki Alkaf,dari judul asli Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-
A’immah. Bandung : Hasyimi, 2012, h. 427
20
Anna Yulia Hartati, “Separatisme Dalam Konteks Global
(Studi Tentang Eksistensi Republik Maluku Selatan (Rms)
Sebagai Gerakan Separatis Indonesia)”, dalam Jurnal Ilmu Politik Hubungan Internasional, Vol.
7, No. 2, Juni 2010, h. 4

8
perjuangan kemerdekaan aceh, akan mendapatkan pahala mati syahid dan itu
merupakan sesuatu yang terhormat.21
3) Organisasi papua merdeka (OPM) adalah nama yang diberikan oleh
pemerintah republik Indonesia pada setiap organisasi atau faksi baik di irian
jaya maupun di luar negeri yang di pimpin oleh putra-putra irian jaya pro-
papua barat dengan tujuan untuk memisahkan atau memerdekakan irian jaya
(west papua) lepas dari Negara kesatuan republik Indonesia.
F. PENUTUP
Berdasarkan pemaparan dari pembahasan hukum separatisme diatas, bahwa
separatisme (bughat) itu adalah paham yang bertujuan untuk memisahkan diri dari
Negara. Dasar hukum separatisme ada 2, yaitu; dasar hukum separatisme dalam
hukum positif (KUHP) DAN dasar hukum separatisme dalam hukum islam (al-qur’an
dan hadist). gerakan-gerakan separatisme, seperti; di Indonesia, GAM (Gerakan
Aceh Merdeka),OPM(Organisasi Papua Merdeka), RMS(Republik Maluku Selatan).
Hukum separatisme dalam perspektif hukum islam tidak dibolehkan, karena
dapat merugikan, kita seharusnya menjadi warga Negara yang baik dan taat kepada
Negara/pemerintahan, bukannya menjadi pemberontak yang pada akhirnya akan
memecahbelah Negara kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Al-qur’an dan Terjemahannya


Anna Yulia Hartati, “Separatisme Dalam Konteks Global
(Studi Tentang Eksistensi Republik Maluku Selatan (Rms)
Sebagai Gerakan Separatis Indonesia)”, dalam Jurnal Ilmu Politik Hubungan
Internasional, Vol. 7, No. 2, Juni 2010.
H. Sulaiman Rasjid, fiqh islam, Bandung : sinar baru, 1988
Ibnu Hajar Asqalany, Bulughul Maram, Pustaka: Al-Hidayah, 1429 H / 2008 M
John M. echols, dan Hassan Shadily, kamus bahasa inggris Indonesia, Jakarta:
Gramedia, 1997.
Firmansyah, “Gerakan Separatisme Terhadap Negara yang Sah dan Aspek
Pidananya perspektif menurut Hukum Islam dan Hukum positif (Study
Kasus GAM)”, skripsi pada program study Jinayah Siyasah, fakultas
syari’ah dan hukum, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2011.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:820)
21
M. Nurul Irfan dan Masyrofah, fiqh jinayah, Jakarta : AMZAH, 2013, h.167

9
KUHAP dan KUHP, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana
Mustofa Hasan dan Beni Ahmad Saebani, Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah,
Bandung : Pustaka Setia, 2013.
M. Nurul Irfan dan Masyrofah, fiqh jinayah, Jakarta : AMZAH, 2013.
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat
Mazhab,diterjemahkan oleh Abdullah Zaki Alkaf,dari judul asli rahmah al-
ummah fi ikhtilaf al-A’immah. Bandung : Hasyimi, 2012.

10