Anda di halaman 1dari 26

MANAJEMEN HIPERTENSI

dr. Lies Luthariana, SpPD, FINASIM


Pendahuluan

Sampai saat ini hipertensi masih merupakan masalah besar di Indonesia.


Riset Kesehatan Dasar (Riskendas ) tahun 2018 melaporkan bahwa berdasarkan
pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas’ prevalensi hipertensi
di Indonesia sebesar 34, 1% meningkat dibandingkan data Riskendas tahun 2013 yang
melaporkan prevalensi hipertensi sebesar 25,8%.
PREVALENSI HIPERTENSI BERDASARKAN HASIL PENGUKURAN PADA PENDUDUK UMUR ≥ 18 TAHUN
MENURUT PROVINSI, 2018

Riskendas 2018
PREVALENSI HIPERTENSI BERDASARKAN DIAGNOSIS , DIAGNOSIS ATAU MINUM OBAT DAN HASIL
PENGUKURAN PADA PENDUDUK UMUR ≥ 18 TAHUN MENURUT PROVINSI, 2018

Riskendas 2018
PREVALENSI HIPERTENSI BERDASARKAN DIAGNOSIS DOKTER PADA PENDUDUK UMUR ≥
18 TAHUN MENURUT PROVINSI, 2018

Riskendas 2018
• Tingginya prevalensi hipertensi berkaitan dengan meningkatnya insiden
penyakit kardiovaskular.
• Untuk itu perlu dilakukan deteksi dini dan pengelolaan hipertensi yang baik,
yang bertujuan untuk mencegah atau menurunkan kerusakan target organ.
• Dalam pengelolaan hipertensi pada umumnya mengikuti pedoman atau
guideline yang ada , seperti JNC 7/8, ESH/ESC 2013/2018, dan guideline lainnya
Diagnosis dan Klasifikasi Hipertensi

Batasan tekanan darah untuk diagnosis Hipertensi, adalah sbb :


KATEGORI TD sistolik TD diastolik

TD Klinik ≥140 dan/atau ≥90

ABPM

Rerata pagi-siang hari ≥135 dan/atau ≥85

Rerata malam hari ≥120 dan/atau ≥70

Rerata 24 jam ≥130 dan/atau ≥80

Rerata HBPM ≥135 dan/atau ≥85


ABPM=ambulatory blood pressure monitoring; HBPM=home blood pressure monitoring; TD=tekanan
darah; TDD=tekanan darah diastolik; TDS=tekanan darah sistolik. Dikutip dari 2018 ESC/ESH Hypertension
Guidelines

Diagnosis hipertensi ditegakkan bilaTDS ≥140 mmHg dan/atau TDD ≥90 mmHg pada pengukuran berulang di klinik
Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII Klasifikasi hipertensi menurut ESC/ESH 2018

Kateggori TD sistolik TD diastolik Kateggori TD sistolik TD diastolik (mmHg)


(mmHg)
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 dan <80 Optimal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 atau 80-89
Normal 120-129 dan/atau 80-84
Hipertensi grade 1 140=159 atau 90-99
Normal Tinggi 130-139 dan/atau 85-89
Hipertensi grade 2 ≥ 160 atau ≥ 100
Hipertensi grade 1 140=159 dan/atau 90-99

Hipersensi grade 2 160-179 dan/atau 100-109

Hipertensi grade 3 ≥ 180 dan/atau ≥ 110

Hipertensi Sistolik ≥ 140 Dan < 90


Terisolasi
ESH/ESC 2018
Pengelolaan

Non Farmakologis

Pola hidup yang sehat dapat mencegah ataupun memperlambat awitan hipertensi dan dapat mengurangi
risiko kardiovaskular, serta dapat memperlambat ataupun mencegah kebutuhan terapi.

Pola hidup sehat :

- penurunan berat badan dengan target berat badan ideal (IMT 18,5- 22,9 kg/m2)

- restriksi garam (maksimal konsumsi Na 6 g/hari)

- Banyak asupan sayuran dan buah-buahan

- olah raga atau aktifitas fisik intensitas sedang,

- pembatasan konsumsi alkohol dan berhenti merokok.


Pengelolaan

Farmakologis
OBAT YANG DIREKOMENDASIKAN
ALGORITME
TATALAKSANA
HIPERTENSI
DARI JNC 8
ALGORITME
TATALAKSANA
HIPERTENSI
DARI JNC 8
Inisiasi obat

ESH 2018 merekomendasikan bahwa inisiasi pemberian obat antihipertensi


dapat dipertimbangkan pada
• pasien dengan TD normal tinggi dengan faktor risiko kardiovaskular,
• pasien hipertensi grade 1 dengan faktor risiko rendah dan tidak ada kerusakan
organ target setelah modifikasi gaya hidup tidak berhasil,
• pasien berusia diatas 65 tahun dengan TD sistolik 140-159 mmHg dan toleransi
terhadap obat baik.
Perubahan rekomendasi dari Guideline ESH/ESC 2013/2018
Perubahan rekomendasi dari Guideline ESH/ESC 2013/2018
Perubahan rekomendasi dari Guideline ESH/ESC 2013/2018
Perubahan rekomendasi dari Guideline ESH/ESC 2013/2018
Perubahan rekomendasi dari Guideline ESH/ESC 2013/2018
ESH/ESC 2018
KESIMPULAN

• Prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat, berdasarkan data Riskendas


2018 sebesar 34, 1% meningkat dibandingkan data Riskendas tahun 2013
sebesar 25,8%.
• Lima golongan obat antihipertensi utama yang rutin direkomendasikan adalah:
ACEi (Angiotensin Converting Enzyme inhibitor), ARB ( Angiotensin II Reseptor
Blocker), Beta Blocker, CCB( Ca Channel Blocker) dan diuretik.
• Terapi kombinasi lebih dipilih daripada monoterapi.
• Kombinasi obat golongan ARB dan ACE inhibitor tidak direkomendasikan