Anda di halaman 1dari 32

PENGANTAR KULIAH HIDROLIKA

Definisi
Kata Hidraulika berasal dari bahasa Yunani hydraulikos, yang merupakan gabungan dari
hydro yang berarti air dan aulos yang berarti pipa. Hidraulika merupakan satu topik dalam
Ilmu terapan dan keteknikan yang berurusan dengan sifat-sifat mekanis fluida, yang
mempelajari perilaku aliran air secara mikro maupun makro. Hidrolika juga dikatakan
sebagai ilmu yang mempelajari perilaku air baik dalam keadaan diam maupun diam.

Sudah sejak lama ilmu hidraulika dikembangkan di Eropa, yang pada waktu itu digunakan
sebagai dasar dalam pembuatan bangunan-bangunan air. Ilmu tersebut dikembangkan
berdasarkan pendekatan empiris dan eksperimental dan terutama hanya digunakan untuk
mempelajari perilaku air, sehingga ruang lingkupnya terbatas.

Hidraulika dapat dibedakan dalam dua bidang yaitu hidrostatika yang mempelajari zat cair
dalam keadaan diam, dan hidrodinamika yang mempelajari zat cair bergerak. Di dalam
hidrodinamika dipelajari zat cair ideal, yang tidak mempunyai kekentalan dan tidak
termampatkan. Sebenarnya zat cair ideal tidak ada di alam. Tetapi anggapan zat cair ideal
perlu dilakukan terutama untuk memudahkan analisis perilaku gerak zat cair. Air
mempunyai kekentalan dan pemampatan (pengurangan volume karena pertambahan
tekanan) yang sangat kecil, sehingga pada kondisi tertentu dapat dianggap sebagai zat cair
ideal.

2. Ruang Lingkup Penggunaan Hidrolika


Ilmu hidrolika mempunyai arti penting mengingat air merupakan salah satu jenis fluida yang
sangat penting bagi kehidupan manusia. Air sangat diperlukan untuk kebutuhan hidup
sehari-hari seperti minum, irigasi, pembangkit listrik, dan seterusnya. Perencanaan
bangunan air untuk memanfaatkan dan mengaturnya merupakan bagian dari teknik hidro
yang termasuk dalam bidak teknik sipil. Bidang teknik hidro masih dapat dibagi menjadi
beberapa bidang, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Teknik Irigasi dan Drainasi, yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan
jaringan dan bangunan-bangunan irigasi dan drainasi permukaan serta bawah tanah.

2. Hidrologi Terapan, yang merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip hidrologi seperti


hidrometeorologi, pengembangan air tanah, perkiraan debit sungai, hidrologi perkotaan
dan sebagainya.

3. Teknik Transportasi Air, yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan


pelabuhan, serta saluran-saluran pelayaran.

4. Bangunan Tenaga Air, yang terdiri dari pengembangan tenaga hidroelektrik dengan
menggunakan waduk, turbin, dan fasilitas-fasilitasnya.

5. Pengendalian Banjir dan Sedimen, yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan


bangunan-bangunan pengendali banjir dan penanggulangan erosi dan sedimentasi.

6. Teknik Bendungan, diantaranya merencanakan dan melaksanakan pekerjaan


bendungan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. Bendungan merupakan bangunan
utama untuk pekerjaan lainnya seperti irigasi, pengendalian banjir, dan pembangkit listrik
tenaga air.

7. Teknik Jaringan Pipa, seperti pengangkutan / pengaliran air, minyak, gas dan fluida
lainnya melalui sistem perpipaan.

8. Teknik Pantai, yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan bangunan-bangunan


pelabuhan dan penanggulangan erosi pantai serta bangunan lepas pantai.
9. Teknik Sumber Daya Air, yang meliputi perancangan sistem waduk (reservoir) dan
fasilitas-fasilitas lainnya untuk mencapai penggunaan sumber daya air secara optimum.

10. Teknik Penyehatan, yang meliputi sistem pengumpulan dan distribusi air untuk
berbagai keperluan dan sistem pembersihan (treatment) dari air buangan.

10-3

Gambar1. Pengolahan air limbah


Gambar 2. Saluran Drainase
Gambar 3. Bendungan
Gambar 4. Pembangkit Listrik Tenaga Air

3. Dimensi dan Satuan


Dimensi adalah satu standar yang dipakai untuk mengidentifikasi dan menentukan besaran
(quantity) dari suatu kondisi fisik yang ada. Satuan adalah standar untuk mengukur dimensi
misalnya satuan untuk massa, panjang dan waktu adalah kilogram massa (kgm), meter (m)
dan detik (dt) untuk satuan SI; atau kilogram massa (kgm), meter (m) dan detik (dt) dalam
satuan MKS.

Sistem satuan Internasional tunggal dianjurkan menggunakan bahasa satuan sistem


International d’unite (SI), tetapi di Indonesia kenyataannya masih sering menggunakan
sistem satuan SI dan MKS oleh karena itu di dalam buku ini digunakan dua sistem satuan
tersebut. Besaran satuan dari kedua sistem satuan ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Besaran Menurut Satuan MKS dan SI

Pada sistem SI disarankan menggunakan agar suatu nilai besarnya diambil antara 0.1 hingga
1000. Untuk nilai yang lebih kecil atau lebih besar disarankan menggunakan prefix sesuai
dengan satuan yang digunakan. Prefix dalam hal ini adalah awalan yang diaplikasikan untuk
membentuk sebuah satuan yang menandakan kelipatan dari satuan tersebut.

Tabel 2. Awalan Satuan SI

Faktor Pengali Satuan Awalan Symbol


1012 Tera T
109 Giga G
106 Mega M
103 Kilo k
102 Hecto h
10 Deka da
10-1 Deci d
10-2 Centi c
10-3 Mili m
10-6 Mikro m
10-9 Nano n
10-12 Piko p
10-15 Femto f
10-18 atto a

1 meter = 3,2808 ft >> 1 ft = 0,3048 m

1 Kg = 2,2046 lb >> 1 lb = 0,4536 kg

1 ft = 12 inchi >> 1 inchi = 0,0833 ft

1 inchi = 2,54 cm >> 1 cm = 0,3937 inchi

FLUID PROPERTIES IN APPLIED HYDRAULICS

Properties of fluids determine how fluids can be used in hydraulic engineering. They also
determine the behaviour of fluids. The following are some of the important basic properties of
fluids, such as:

1. Density
2. Viscosity
3. Specific Weight
4. Specific Gravity
1. Density:
Density is the mass per unit volume of a fluid. In other words, it is the ratio between mass (m)
and volume (V) of a fluid.

Density is denoted by the symbol ‘ρ’. Its unit is kg/m3.


In general, density of a fluid decreases with increase in temperature. It increases with increase in
pressure.
The density of standard liquid (water) is 1000 kg/m3 at 4°C while its 1.2 Kg/m3 for 20°C at
standard pressure.

2. Viscosity
Viscosity is the fluid property that determines the amount of resistance of the fluid to shear
stress. It is the property of the fluid due to which the fluid offers resistance to flow of one layer
of the fluid over another adjacent layer.
In a liquid, viscosity decreases with increase in temperature. In a gas, viscosity increases with
increase in temperature.
3. Specific Weight
Specific weight is the weight possessed by unit volume of a fluid. It is denoted by ‘w’. Its unit is
N/m3.
Specific weight varies from place to place due to the change of acceleration due to gravity (g).'
γ=ρ×gγ=ρ×g
4. Specific Gravity
Specific gravity is the ratio of specific weight of the given fluid to the specific weight of standard
fluid. It is denoted by the letter ‘S’. It has no unit.
https://www.coursera.org/lecture/fe-exam/fluid-properties-introduction-01fgu

EXAMPLE-1

Calculate the density of material that has a mass of 0.052457 kg and a volume of 13.5 cm3.
Hence, what is the relative density of the material?
mass, m = 0.052457 kg
volume, v = 3.5 cm3

Solution:
convert volume cm to m
1.000.000 cm3 = 1 m3
1 cm3 = 1/ 1.000.000 m3
1.5 x 1 cm3 = 13.5 x (1/1.000.000) m3
13.5 cm3 = 0.0000135 m3
13.5 cm3 = 13.5 x 10-6 m3

density = mass/volume
ρ = m/v
ρ = 0.052457 / 0.0000135 = 3885.7 kg/m3

relatif density = density of material/density of water


relatif density = 3885.7/1000 = 3.89

KONSEP DASAR ALIRAN TERBUKA


1. PENGANTAR
Aliran dalam saluran terbuka maupun saluran tertutup yang mempunyai permukaan bebas
disebut aliran permukaan bebas (free surface flow) atau aliran saluran terbuka (open channel
flow). Dalam buku ini keduanya mempunyai arti yang sama atau sinonim. Permukaan bebas
mempunyai tekanan sama dengan tekanan atmosfir. Jika pada aliran tidak terdapat
permukaan bebas dan aliran dalam saluran penuh, aliran yang terjadi disebut aliran dalam
pipa (pipe flow) atau aliran tertekan (pressurized flow). Aliran dalam pipa tidak mempunyai
tekanan atmosfir akan tetapi tekanan hidraulik
Dalam saluran tertutup kemungkinan dapat terjadi aliran bebas maupun aliran tertekan
pada saat yang berbeda, misalnya gorong-gorong untuk drainase, pada saat normal
alirannya bebas, sedang pada saat banjir karena hujan tiba-tiba air akan memenuhi gorong-
gorong sehingga alirannya tertekan. Dapat juga terjadi pada ujung saluran tertutup yang
satu terjadi aliran bebas, sementara ujung yang lain alirannya tertekan. Kondisi ini dapat
terjadi jika ujung hilir saluran terendam (sumerged).

Zat cair yang mengalir pada saluran terbuka mempunyai bidang kontak hanya pada dinding
dan dasar saluran. Saluran terbuka dapat berupa:

• Saluran alamiah atau buatan,


• Galian tanah dengan atau tanpa lapisan penahan,
• Terbuat dari pipa, beton, batu, bata, atau material lain,
• Dapat berbentuk persegi, segitiga, trapesium, lingkaran, tapal kuda, atau tidak
beraturan.
2. KLASIFIKASI ALIRAN
Aliran permukaan bebas dapat diklasifikasikan menjadi berbagai tipe tergantung kriteria
yang digunakan. Berdasarkan perubahan kedalaman dan/atau kecepatan mengikuti fungsi
waktu, aliran dibedakan menjadi aliran permanen (steady) dan tidak permanen (unsteady),
sedangkan berdasarkan fungsi ruang, aliran dibedakan menjadi aliran seragam (uniform)
dan tidak seragam (non-uniform).

2.1. Aliran Permanen dan Tidak-permanen


Jika kecepatan aliran pada suatu titik tidak berubah terhadap waktu, maka alirannya disebut
aliran permanen atau tunak (steady flow), jika kecepatan pada suatu lokasi tertentu berubah
terhadap waktu maka alirannya disebut aliran tidak permanen atau tidak tunak (unsteady
flow).
2.2. Aliran Seragam dan Berubah
Jika kecepatan aliran pada suatu waktu tertentu tidak berubah sepanjang saluran yang
ditinjau, maka alirannya disebut aliran seragam (uniform flow). Namun, jika kecepatan aliran
pada saat tertentu berubah terhadap jarak, alirannya disebut aliran tidak seragam atau
aliran berubah (nonuniform flow or varied flow).
Bergantung pada laju perubahan kecepatan terhadap jarak, aliran dapat diklasifikasikan
menjadi aliran berubah lambat laun (gradually varied flow) atau aliran berubah tiba-tiba
(rapidly varied flow).
2.3. Aliran Laminer dan Turbulen
Jika partikel zat cair yang bergerak mengikuti alur tertentu dan aliran tampak seperti
gerakan serat-serat atau lapisan-lapisan tipis yang paralel, maka alirannya disebut aliran
laminer. Sebaliknya jika partikel zat cair bergerak mengikuti alur yang tidak beraturan, baik
ditinjau terhadap ruang maupun waktu, maka alirannya disebut aliran turbulen.
Faktor yang menentukan keadaan aliran adalah pengaruh relatif antara gaya kekentalan
(viskositas) dan gaya inersia. Jika gaya viskositas dominan, alirannya laminer, jika gaya
inersia yang dominan, alirannya turbulen.
Nisbah antara gaya kekentalan dan inersia dinyatakan dalam bilangan Reynold (Re), yang
dinyatakan dalam persamaan:

V = kecepatan aliran (m/det),


L = panjang karakteristik (m), pada saluran muka air bebas L = R,
R = Jari-jari hidraulik saluran,
n = kekentalan kinematik (m2/det).
2.4. Aliran Subkritis, Kritis, dan Superkritis
Aliran dikatakan kritis apabila kecepatan aliran sama dengan kecepatan gelombang gravitasi
dengan amplitudo kecil. Gelombang gravitasi dapat dibangkitkan dengan merubah
kedalaman. Jika kecepatan aliran lebih kecil daripada kecepatan kritis, maka alirannya
disebut subkritis, dan jika kecepatan alirannya lebih besar daripada kecepatan kritis,
alirannya disebut superkritis.
Parameter yang menentukan ketiga jenis aliran tersebut adalah nisbah antara gaya gravitasi
dan gaya inertia, yang dinyatakan dengan bilangan Froude (Fr). Untuk saluran berbentuk
persegi, bilangan Froude didefinisikan sebagai :

V = kecepatan aliran (m/det),


h = kedalaman aliran (m),
g = percepatan gravitasi (m/det2)
3. HUKUM KONSERVASI
3.1 Konservasi Massa (Persamaan Kontinuitas)
Prinsip kontinuitas menyatakan bahwa jumlah pertambahan volume sama dengan besarnya
aliran netto yang lewat pada pias tersebut.

Q1 = Q2
A1V1 = A2V2

3.2. Konservasi Energi (Persamaan Energi)


Hukum Bernoulli menyatakan bahwa jumlah energi air dari setiap aliran yang melalui suatu
penampang saluran, dapat dinyatakan sebagai jumlah fungsi air, tinggi tekanan dan tinggi
kecepatan.

Menurut prinsip kekekalan energi, jumlah tinggi fungsi energi pada penampang 1 di hulu
akan sama dengan jumlah fungsi energi pada penampang 2 di hilir dan fungsi hf diantara
kedua penampang tersebut.

z = fungsi titik diatas garis referensi,


h = fungsi tekanan di suatu titik,
v = kecepatan aliran,
g = gaya gravitasi bumi.

ALIRAN SERAGAM

Aliran seragam adalah aliran yang mempunyai kecepatan konstan terhadap jarak, garis
aliran lurus dan sejajar, dan distribusi tekanan adalah hidrostatis. Untuk aliran permanen
berarti pula bahwa kecepatan adalah konstan terhadap waktu. Dengan kata lain, percepatan
sama dengan nol, dan gaya-gaya yang bekerja pada pias air adalah dalam kondisi
seimbang.
1. DISTRIBUSI KECEPATAN
Kecepatan aliran dalam saluran biasanya sangat bervariasi dari satu titik ke titik lainnya. Hal
ini disebabkan adanya tegangan geser di dasar dan dinding saluran dan keberadaan
permukaan bebas. Kecepatan aliran mempunyai tiga komponen arah menurut koordinat
kartesius. Namun, komponen arah vertikal dan lateral biasanya kecil dan dapat diabaikan.
Sehingga, hanya kecepatan aliran yang searah dengan arah aliran yang diperhitungkan.
Komponen kecepatan ini bervariasi terhadap kedalaman dari permukaan air. Tipikal variasi
kecepatan terhadap kedalaman air diperlihatkan dalam gambar berikut ini.
2. RUMUS EMPIRIS KECEPATAN
Karena betapa sulitnya menentukan tegangan geser dan distribusi kecepatan dalam aliran
turbulen, maka digunakan pendekatan empiris untuk menghitung kecepatan rata-rata.

2.1. Rumus Chezy (1769)


Seorang insinyur Prancis yang bernama Antoine Chezy pada tahun 1769 merumuskan
kecepatan untuk aliran seragam yang sangat terkenal yang masih banyak dipakai sampai
sekarang. Dalam penurunan rumus Chezy, digunakan beberapa asumsi:

• Aliran adalah permanen,


• Kemiringan dasar saluran adalah kecil (theta kecil, cosθ=1),
• Saluran adalah prismatik.

berikut persamaan Chezzy:

Dengan:
V = kecepatan aliran (m2/dt)
C = faktor tahanan aliran
R = jari-jari hidrolik
S = kemiringan saluran
Terdapat tiga persamaan penting yang digunakan dalam menentukan koefisien chezy, yaitu:
a. Ganguillet – Kutter
Pada tahun 1869, dua insinyur Swiss, Ganguillet dan Kuetter mengumumkan rumus yang
menyatakan besarnya nilai C sebagai fungsi kemiringan, S, jari-jari hidraulik, R, dan koefisien
kekasaran, m, dalam bentuk sebagai berikut:

Dengan:
R = jari-jari hidrolik
S = kemiringan saluran
n = koefisien kekasaran Kutter
b. Bazin
Pada tahun 1897, seorang ahli hidraulika Prancis, H. Bazin merumuskan suatu persamaan
untuk menghitung koefisien Chezy C sebagai fungsi jari-jari hidraulis, R, dan koefisien
kekasaran, Λ , harganya tergantung dari jenis bahan dinding saluran, sebagai berikut:

Dengan:
R = jari-jari hidrolik
m = koefisien kekasaran Bazin
c. Powell

Dengan:
R = jari-jari hidrolik
ε = koefisien kekasaran
2.2 Manning (1889)
Seorang insinyur Irlandia bernama Robert Manning (1889) mengemukakan sebuah rumus
yang akhirnya diperbaiki menjadi rumus yang sangat terkenal sebagai:
2.3 Strickler
2. Perencanaan Saluran Terbuka
Dalam menentukan bentuk dan dimensi saluran yang akan digunakan dalam pembangunan
saluran baru maupun dalam kegiatan perbaikan penampang saluran yang sudah ada, salah
satu hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan lahan.
Dimensi saluran harus mampu mengalirkan debit rencana atau dengan kata lain debit yang
dialirkan harus sama atau lebih besar dari debit rencana. Untuk mencegah muka air ke tepi
(meluap) maka diperlukan adanya tinggi jagaan pada saluran, yaitu jarak vertikal dari
puncak saluran ke permukaan air pada kondisi debit rencana.
Bentuk penampang saluran pada muka tanah umumnya ada beberapa macam antara lain;
bentuk trapesium, empat persegi panjang, segitiga, setengah lingkaran. Beberapa bentuk
saluran dan fungsinya dijelaskan pada tabel berikut ini;
Sedangkan unsur-unsur geometris saluran adalah sebagai berikut:
1. Luas penampang basah (A), adalah luas penampang melintang aliran yang tegak lurus
arah aliran.
2. Keliling basah (P), adalah panjang garis perpotongan dari permukaan basah saluran
dengan bidang penampang melintang yang tegak lurus arah aliran.
3. Jari-jari hidrolis ( R), adalah rasio luas basah dan keliling basah atau A/P
4. Lebar puncak (T), adalah lebar penampang saluran pada permukaan bebas.
5. Kedalaman hidrolis (D), adalah rasio luas basah dengan lebar puncak.
6. Faktor penampang (Z), untuk aliran kritis adalah perkalian antara luas basah dan akar

kedalaman hidrolik
7. Faktor penampang (Z) untuk aliran seragam adalah hasil perkalian antara luas basah
dan jari-jari hidrolik pangkat 2/3 atau Z = AR2/3
3. CONTOH SOAL
CASE-1
Saluran berpenampang trapesium dengan lebar dasar b = 10 m, z = 1.5 I0 = 0.0003 dan n =
0.012. hitung kecepatan dan debit yang mengalir apabila kedalaman aliran y = 3 m

Penyelesaian :
Menghitung kecepatan aliran
A = (b + zy) y = (10 + 1,5(3)) 3 = 43,5 m2
P = b + 2y (1+z)0,5 = 10 + 2(3) (1+1,52)0,5 = 20,817 m
R = A/P = 43,5/20,817 = 2,09 m
Menghitung debit aliran
Q =AV
= (43,5) (2,36)
= 102,66 m3/dt

CASE-2
Data seperti soal di atas, tapi debit yang mengalir hanya sebesar Q = 50 m3/dt dengan
kedalaman aliran y = 3 m. Hitung : Kemiringan saluran I0 ?
Penyelesaian :
A = 43,5 m2
P = 20,817 m
R = 2,09 m

CASE-3
Saluran segi empat dengan lebar 5,0 m dan kedalaman aliran 1,5 m mempunyai kemiringan
dasar 0,0005. Hitung debit aliran apabila koefisien Chezy adalah 40.

Penyelesaian :
Lebar dasar saluran : B = 5,0 m
Kedalaman aliran : h = 1,5 m
Kemiringan dasar saluran : I = 0,0005
Koefisien Chezy : C = 40
Luas tampang aliran : A = Bh = 5,0 x 1,5 = 7,5 m2
Keliling basah : P = B + 2h = 5,0 + 2×1,5 = 8,0 m
Jari-jari hidraulis : R = A/P = 7,5/8 = 0,9375 m
Kecepatan aliran : V = C √R I = 40 √0,9375 x 0,0005 = 0,866 m/dt
Debit aliran : Q = A V = 7,5 x 0,866 = 6,495 m3/dt

CASE-4
Saluran trapesium dengan lebar dasar 5,0 m dan kemiringan tebing 1 : 1. hitung debit aliran
apabila kedalaman aliran ada;ah 1,0 m. Koefisien Manning n = 0,025 dan kemiringan dasar
saluran 0,001.

Penyelesaian :
Luas tampang aliran :
A = [B+(B+2mh)]0,5h
= (B+mh)h
= (5+1×1)1 = 6 m2
Keliling basah :
P = B + 2h
= 5,0 + 2×1
= 7,8284 m
Jari-jari hidraulis :
R = 0,7664 m
Debit aliran :
Q = AV

=Ax
= 6.356 m3/dt

CASE-5
Saluran segi empat mengalirkan debit 20 m3/d dengan kecepatan 2 m/d. Tentukan dimensi
ekonomis saluran. Apabila koefisien Manning n = 0,022, berapakah kemiringan dasar
saluran.
Penyelesaian :
Debit aliran : Q = 20 m3/dt
Kecepatan aliran : V = 2 m/dt
Koefisien Manning : n = 0,022
Luas tampang aliran :
A = Q/V=10 m2

Persyaratan saluran ekonomis :


B + 2mh = 2h
B = 2h
A = Bh → 10 = Bh

Substitusi persamaan (1) ke dalam persamaan (2) diperoleh :


10 = 2h2 → h = 2,24 m
B = 2h = 4,47 m

Keliling basah : P = B + 2h = 4,47 + 2 x 2,24 = 8,95 m


Jari-jari hidraulis : R = A/P = 1,117 m

Kecepatan aliran dihitung dengan rumus Manning :

PENAMPANG EKONOMIS SALURAN TERBUKA


Potongan melintang saluran terbuka yang paling ekonomis adalah yang dapat mengalirkan
debit maksimum untuk luas, kemiringan , kekasaran tertentu. Berdasarkan rumus Manning
dan Chezy, apabila kemiringan dan dasar saluran tetap, kecepatan maksimum dapat dicapai
apabila jari-jari hidraulik (R) minimum, sehingga apabila luas penampang tetap akan
didapatkan keliling basah (P) minimum.

Prinsip penampang saluran ekonomis hanya berlaku untuk desain saluran yang tahan erosi,
sedang saluran yang berbahan dasar yang mudah tererosi harus mempertimbangkan gaya
tarik yang terjadi.
1. PENAMPANG PERSEGI EKONOMIS

untuk penampang melintang saluran berbentuk persegi dengan lebar dasar B, dan
kedalaman air h, luas penampang basah A, dan keliling basah P, dapat dituliskan sebagai
berikut:
Dapat kita lihat bahwa bentuk penampang melintang SEGIEMPAT yang paling ekonomis
adalah jika kedalaman air setengah dari lebar dasar saluran, atau jari-jari hidrauliknya
setengah dari kedalaman air.

2. PENAMPANG TRAPESIUM

Luas penampang melintang, A, dan keliling basah, P, saluran dengan penampang melintang
yang berbentuk trapesium dengan lebar dasar B, kedalaman aliran h, dan kemiringan
dinding 1 : m
Kita asumsikan bahwa luas penampang, A, dan kemiringan dinding, m, adalah konstan,
maka persamaan dapat dideferensialkan terhadap h dan dipersamakan dengan nol untuk
memperoleh kondisi P minimum.

Dengan demikian, maka penampang trapesium yang paling efisien adalah jika kemiringan
dindingnya, m = (1/√3), atau θ = 60°. Trapesium yang terbentuk berupa setengah segienam
beraturan (heksagonal).

3. PENAMPANG SEGITIGA
Untuk potongan melintang saluran yang berbentuk segitiga, dengan kemiringan sisi
terhadap garis vertikal θ, dan kedalaman air h, penampang basah A, dan keliling basah P.
Dengan demikian, saluran berbentuk segitiga yang paling ekonomis adalah jika kemiringan
dindingnya membentuk sudut 45° dengan garis vertikal.

4. PENENTUAN UKURAN PENAMPANG


Tahapan dalam menentukan dimensi saluran adalah sebagai berikut:

1. mengumpulkan data perencanaan, menentukan nilai n berdasarkan bahan dasar


saluran dan dinding saluran. Kemudian menentukan S atau kemiringan dasar saluran
berdasarkan kecepatan ijin atau kecepatan maksimum dan minimum sehingga tidak
menyebabkan erosi dan sedimentasi pada saluran.

2. menghitung faktor penampang AR2/3 dengan persamaan:


3. menghitung lebar dan ketinggian saluran yang sudah ditambahkan jagaan.

5. KECEPATAN MAKSIMUM YANG DIIJINKAN


Kecepatan maksimum yang diijinkan adalah kecepatan yang tidak akan menimbulkan erosi
pada bagian saluran. Sedangkan Kecepatan minimum adalah kecepatan yang tidak
menimbulkan sedimen pada saluran. Apabila sedimen menumpuk pada saluran, maka
akibat yang paling fatal adalah pendangkalan saluran, sehingga kapasitas saluran sudah
tidak dapat mengalirkan debit sesuai dengan rencana. berikut ini adalah tabel kecepatan ijin
sesuai dengan material dasar saluran.

Tahapan mennetukan kecepatan ijin adalah sebagai berikut:

1. menentukan nilai n berdasarkan material dasar pembentuk saluran.


2. kemudian tentukan kemiringan berdasarkan debit rencana yang akan dialirkan.
3. menghitung jari-jari hidrolis R.
4. menghitung kemiringan dasar saluran.
5. menghitung kecepatan, apabila kecepatan tidak berada pada kisaran nilai yang
ditentukan maka dimensi saluran seperti B dan y harus diubah.
6. CONTOH SOAL
1. Saluran drainase berbentuk trapesium mengalirkan debit sebesar 10 m3/det. Kemiringan
dasar saluran 1:5.000. Dinding saluran dilining dengan koefisien kekasaran n = 0,012.
Tentukan dimensi potongan melintang saluran yang paling ekonomis.

PENYELESAIAN:

Bentuk trapesium yang paling ekonomis adalah setengah heksagonal. Sehingga diperoleh:

P=2h√3

A=h2 √3
Jadi dimensi saluran yang ekonomis dengan menggunakan penampang trapezium adalah
B=2.49 m dengan tinggi air h=2.16 m

2. Hitung dimensi saluran ekonomis berbentuk trapesium dengan kemiringan tebing 1 : 0.5
untuk melewatkan debit 40m3/dt dengan kecepatan rata-rata 0.8 m/dt. Berapa kemiringan
dasar saluran apabila koefisien Chezy = 50.

PENYELESAIAN:

Luas penampang aliran: A = y2√3

Luas penampang berdasarkan debit: A= Q/V =40/0.8 = 50 m3/dt

sehingga didapatkan:

A = y2√3

luas trapesium : A =(B+zy)y

B = A/y - zy = (50/5.7) - (0.5 x 5.37) = 6.63 m

menghitung kemiringan dasar saluran:

untuk penampang ekonomis:

R= y/2 =5.37/2 = 2.685 m


Kemiringan dasar saluran berdasarkan rumus Chezy adalah:

V=