Anda di halaman 1dari 41

AD-ART PERATURAN ORGANISASI GARMADA

(GERAKAN MASYARAKAT DAERAH )

Tentang : MUSYAWARAH–MUSYAWARAH ORGANISASI GERAKAN MASYARAKAT DAERAH

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam peraturan organisasi ini yang dimaksud dengan:

Musyawarah-musyawarah ialah: Musyawarah-musyawarah organisasi sosial kemasyarakatan GERAKAN


MASYARAKAT DAERAH, sebagaimana yang diatur dalam Anggran Dasar GERAKAN MASYARAKAT
DAERAH, Bab IX, Pasal 14 butir a dan b, Pasal 15 butir a dan b, Pasal 16 butir a dan b, Pasal 17 butir a,
Pasal 18 butir a, Pasal 19 butir d dan Pasal 20 serta Anggaran Rumah Tangga GERAKAN MASYARAKAT
DAERAH Bab VI, Pasal 15 s/d Pasal 22.

Dewan Pertimbangan Organisasi ialah: Dewan Pertimbangan Organisasi GERAKAN MASYARAKAT


DAERAH sebagaimana yang dimaksud dalam Anggaran Rumah Tangga Bab IX, Pasal 40 dan Pasal 42.
Penasehat ialah: Penasehat Organisasi GERAKAN MASYARAKAT DAERAH sebagaimana yang dimaksud
dalam Anggaran Rumah Tangga, Bab IX, Pasal 43.

Lembaga-lembaga dan Badan-Badan ialah: lembaga-lembaga dan badan-badan GERAKAN MASYARAKAT


DAERAH sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Dasar Bab IX, Pasal 24 ayat 1 s/d 5.

BAB II

KELENGKAPAN

Pasal 2

Musyawarah Nasioanal/ Munaslub, Musyawarah Wilayah/ Muswillub, Musyawarah Daerah/ Musdalub


Organisasi GEARAKAN MASYARAKAT DAERAH mempunyai kelengkapan yang terdiri dari:

Penanggung jawab dan penyelenggara. Pantia Pelaksana dan Panitia Pengarah atau nara
sumber .Peserta. Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno dan Rapat-rapat. Formatur. Materi Bahasan,
Jadwal Acara dan Tata Tertib. Surat-surat Keputusan.Tempat/ sarana/ perlengkapan.Pendukung
Acara.Sidang dan Rapat-rapat Departemen - Departemen.Semua kelengkapan sebagaimana tercantum
dalam BAB II Pasal 2 ayat 1 butir b s/d k disiapkan/ diadakan oleh Penyelenggara Musyawarah Nasional,
Muswil dan Musda.Musyawarah DPK, Ranting dan Anak Ranting Organisasi Sosial Kemasyarakatan
GERAKAN MASYAKAT DAEARAH hanya mempunyai kelengkapan sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat 1,
dari butir a sampai dengan j.Semua kelengkapan Musyawarah DPK, Ranting dan Anak Ranting
sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat 1 butir b sampai dengan i, disiapkan/ diadakan oleh penyelenggara
Muskec, Musran, Musanran.

BAB III

PENANGGUNG JAWAB DAN PENYELENGGARA

Pasal 3

Penanggung jawab dan penyelenggara Musyawarah Nasional / Munaslub adalah Dewan Pimpinan Pusat
Gerakan Masyarakat Daerah.Penanggung jawab dan penyelenggara Musyawarah Wilayah/ Muswillub
adalah Dewan Pimpinan Wilayah Garakan Mayarakat Daerah. Penanggung jawab dan penyelenggara
Musyawarah Daerah / Musdalub adalah Dewan Pimpinan Derah Gerakan Masyarakat Daerah.
Penanggung jawab dan penyelenggara Musyawarah Dewan Pimpinan Kecamatan adalah Dewan
Pimpinan Kecamatan Gerakan Masyarakat Daerah. Penanggung jawab dan penyelenggara Musyawarah
Ranting adalah Dewan Pimpinan Ranting Gerakan Masyarakat Daerah. Penanggung jawab dan
penyelenggara Musyawarah Rapat Anak Ranting adalah Dewan Pimpinan Anak Ranting.

Pasal 4

Penanggung jawab/ Penyelenggara Musyawarah-musyawarah di masing-masing tingkatan, mempunyai


tugas: Bertanggung jawab agar musyawarah berlangsung lancar, aman dan tertib.Mempersiapkan/
memandu setiap acara yang terjadwal agar berjalan dalam suasana kebersamaan dalam hikmat
kebijaksanaan permusyawaratan.

BAB IV

PANITIA

Pasal 5

Panitia Pelaksana dan Panitia Pengarah Musyawarah-musyawarah dibentuk dengan surat keputusan
oleh Penanggung jawab/ penyelenggara musyawarah sesuai dengan tingkatannya.

BAB V

PESERTA

Pasal 6

Peserta Musyawarah-musyawarah Gerakan Masyarakat Daerah terdiri dari: Perwakilan


Pasal 7

Perwakilan Musyawarah Nasional / Munaslub Gerakan Masyarakat Daerah ialah:

Dewan Pimpinan Pusat :

Dewan Pimpinan Wilayah dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Daerah dengan mandat tertulis.

Perwakilan Musyawarah Wilayah/ Muswillub Gerakan Masyarakat Daerah ialah :

Dewan Pimpinan Pusat dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Wilayah.

Dewan Pimpinan Daerah dengan mandat tertulis.

Perwakilan Musyawarah Kecamatan / Muskeclub Gerakan Masyarakat Daerah ialah :

Dewan Pimpinan Wilayah dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Daerah.

Dewan Pimpinan Kecamatan dengan mandat tertulis.

Perwakilan Musyawarah Kecamatan ialah:

Dewan Pimpinan Kecamatan Gerakan Masyarakat Daerah dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Kecamatan.

Dewan Pimpinan Ranting dengan mandat tertulis.

Perwakilan Musyawarah Ranting Gerakan Masyarakat Daerah ialah :

Dewan Pimpinan Kecamatan dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Ranting.

Dewan Pimpinan Anak Ranting dengan mandat tertulis.


Perwakilan Musyawarah Anak Ranting Gerakan Masyarakat Daerah ialah :

Dewan Pimpinan Ranting dengan mandat tertulis.

Dewan Pimpinan Anak Ranting.

Anggota Dewan Pimpinan Anak Ranting Gerakan Masyarakat Daerah se-rukun warga/ dusun.

Musyawarah Dewan Pimpinan Anak Ranting sebagaimana dimaksud dalam Bab VI, Pasal 23 Anggaran
Rumah Tangga Organisasi Sosial Kemasyarakatan Pemuda Pancasila adalah hanya musyawarah untuk
menyusun dan menetapkan Pimpinan Kolektif Anak Ranting. jumlah peserta utusan Musyawarah-
musyawarah pada masing-masing tingkatan ditentukan oleh penyelenggara musyawarah.

Pasal 8

Perwakilan Musyawarah-musyawarah Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah ialah:

Dewan Pertimbangan/ Penasehat sesuai tingkatannya.

Lembaga/ badan sesuai tingkatannya.

Undangan-undangan yang ditetapkan oleh penyelenggara Musyawarah-musyawarah.

Jumlah peserta peninjau musyawarah-musyawarah pada masing-masing tingkatannya ditentukan oleh


penyelenggara musyawarah.

BAB VI

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 9

Peserta Perwakilan Musyawarah-musyawarah mempunyai hak sebagai berikut:

Mengeluarkan pendapat, saran, tanggapan, mengajukan usul perubahan, baik secara lisan maupun
tulisan yang sifatnya positif, konstruktif dan membangun.

Mengajukan pertanyaan dengan seijin Pimpinan Sidang.

Mengajukan interupsi untuk hal-hal yang bersifat substantif.

Memilih yang pengunaan hak pilihannya secara teknis diatur lebih lanjut dalam Pasal 24 ayat 1 dan
2.Dipilih. Mendapat pelayanan, akomodasi, konsumsi, kesehatan dan materi bahasan.
Pasal 10

Terkecuali hak untuk memilih, peninjau musyawarah-musyawarah mempunyai hak yang sama dengan
utusan.

Pasal 11

Semua Peserta Musyawarah-musyawarah dimasing-masing tingkatan berkewajiban :

Menjaga dan menciptakan ketertiban dan keamanan. Mengikuti semua acara sesuai jadwal acara.
Mentaati/ mematuhi semua peraturan dan ketentuan yang diberlakukan oleh Panitia Penyelenggara
dan Penanggung Jawab Musyawarah-musyawawah. Mensukseskan Musyawarah-musyawarah. Wajib
menjadi salah satu anggota Departemen / Bidang / Devisi / seksi.

BAB VII

SIDANG DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 12

Sidang dan Rapat-rapat dalam Musyawarah-musyawarah dimasing-masing tingkatan terdiri dari :

Sidang Pleno.

Sidang Departemen / Bidang / Devisi / Seksi.

Rapat Formatur.

Rapat pimpinan.

Pada prinsipnya sidang-sidang dan rapat-rapat bersifat terbuka, kecuali dinyatakan tertutup oleh
Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno.

BAB VIII

Departemen / Bidang / Devisi / Seksi.

Pasal 13

Rapat dalam Musyawarah-musyawarah organisasi Gerakan Masyarakat Daerah di masing-masing


tingkatan Dewan Pimpinan terkecuali Dewan Pimpinan Kecamatan, Ranting dan Anak Ranting terdiri
dari:
BAB IX

PIMPINAN SIDANG DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 14

Pimpinan Sidang dan Rapat-rapat Musyawarah-musyawarah Gerakan Masrakat Daerah terdiri dari:

Pimpinan Musyawarah atau Pimpinan Sidang Pleno.

Pimpinan Sidang Seksi.

Pimpinan Formatur.

Pimpinan Sidang Sementara.

Pada Musyawarah Kecamatan, Ranting dan Anak Ranting tidak mempunyai Pimpinan Sidang Seksi.

Pasal 15

Pimpinan Musyawarah atau Sidang Pleno berjumlah 5 (lima) orang dengan komposisi:

1 (satu) orang Ketua merangkap anggota1 (satu) orang Sekretaris merangkap anggota 3 (tiga) orang
anggota

Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno di masing-masing tingkatan dipilih dari dan oleh peserta yang di
pimpin oleh Pimpinan Sidang Sementara Musyawarah/ Sidang Pleno.

Pasal 16

Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang dengan komposisi:

1 (satu) orang Ketua merangkap anggota1 (satu) orang Sekretaris merangkap anggota 1 (satu) orang
anggota

Pimpinan sidang dipilih dari dan oleh anggota Sidang.

Pasal 17

Pimpinan Rapat Formatur Musyawarah-musyawarah Gerakan Masyarakat Daerah di masing-masing


tingkatan adalah :

Munas/ Munaslub adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat terpilih.

Muswil/ Muswillub adalah Ketua Dewan Pimpinan Wilayah terpilih.

Musda/ Musdalub adalah Ketua DewanPimpinan Daerah terpilih.


Pasal 18

Sebelum Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno dipilih, Penanggung jawab dan/ atau penyelenggara
musyawarah selaku Pimpinan sementara musyawarah memimpin Sidang Pleno untuk membahas dan
menetapkan:

Jadwal Acara

Peraturan Tata Tertib

Pemilihan Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno

BAB X

TUGAS-TUGAS PIMPINAN MUSYAWARAH, SIDANG DAN RAPAT

Pasal 19

Tugas Pimpinan Sidang-sidang dan rapat-rapat pada asasnya bersifat kolektif.

Pasal 20

Pimpinan Musyawarah/ Sidang Pleno mempunyai tugas sebagai berikut :

Mengabsen Peserta, mengesahkan quorumnya persidangan, membuka, menskorsing dan menutup


jalannya persidangan.

Memimpin, mengarahkan jalannya acara persidangan sesuai dengan jadwal acara.

Mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, agar tetap berada dalam suasana


permusyawaratan untuk mencapai mufakat.

Mendudukan persoalan serta mengembalikan jalannya sidang sesuai pokok pembicaraan.

Menyimpulkan semua pembicaraan.

Membacakan surat keputusan dan menandatanganinya.

Menerima dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban Dewan Pimpinan, hasil sidang, hasil
formatur.

Memimpin pemilihan Ketua Dewan Pimpinan sesuai tingkatannya atau Ketua Dewan Pimpinan
Kecamatan, Ranting, Anak Ranting.
Membentuk Formatur, terkecuali Musyawarah Dewan Pimpinan Kecamatan, Musyawarah Ranting,
Musyawarah Anak Ranting.

Menyerahkan semua dokumen hasi-hasil keputusan Musyawarah-musyawarah kepada penyelenggara


musyawarah sesuai dengan tingkatannya.

Pasal 21

Pimpinan Sidang, mempunyai tugas :

Mengabsen anggota

Mengesahkan quorumnya persidangan-persidangan.

Membuka, menskorsing dan menutup jalannya sidang.

Memimpin jalannya siding sesuai dengan ruang lingkup bahasannya.

Menandatangani hasil sidang.

Melaporkan hasil sidang dalam Sidang Pleno.

Memimpin Sidang agar dalam suasana kebersamaan, persaudaraan, demokratis, terbuka dalam hikmat
kebijaksanaan permusyawaratan,aman, lancar dan tertib.

Pasal 22

Pimpinan dan anggota formatur dengan mandat penuh mempunyai tugas sebagai berikut:

Menyusun Komposisi Dewan Pimpinan sesuai tingkatannya.

Memilih Ketua dan menyusun Komposisi Dewan Pertimbangan Organisasi sesuai tingkatannya.

Menandatangani dan melaporkan hasil kerjanya dalam Siang Pleno.

Memimpin Rapat Formatur agar berjalan dalam suasana kebersamaan, permusyawaratan untuk
mufakat, aman, lancar dan tertib.
BAB XI

QUORUM

Pasal 23

Musyawarah-musyawarah dinyatakan sah atau quorum, apabila dihadiri oleh setengah ditambah satu
dari jumlah unsur peserta sebagaimana yang tercantum dalam ART Bab VI Pasal 17 ayat 2 point a s/d e
atau Pasal 19 ayat 2 point a s/d e.

Sidang-sidang dan Rapat-rapat alam musyawarah-musyawarah dinyatakan sah/ quorum untuk


mengambil keputusan, apabila dihadiri ½ (setengah) ditambah satu dari jumlah peserta yang sudah
hadir.

Apabila Quorum tidak terpenuhi, sidang-sidang atau Rapat-rapat ditunda selama 30 menit atau untuk
kemudian apabila setelah ditunda sesuai waktu, quorum tidak terpenuhi, maka sidang atau rapat dibuka
dan dilangsungkan tanpa mengadakan quorum dan keputusannya sah serta mengikat.

BAB XII

HAK SUARA

Pasal 24

Rincian hak suara dalam musyawarah-musyawarah Gerakan Masyarakat Daerah di masing-masing


tingkatannya sebagai berikut :

Munas/ Munaslub:

Dewan Pimpinan Pusat = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Wilayah, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Daerah, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Muswil/ Muswillub:

Dewan Pimpinan Pusat = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Wilayah = 1 (atu) hak suara.

Dewan Pimpinan Daerah se-propinsi, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Musda/ Musdalub:

Dewan Pimpinan Wilayah = 1 (satu) hak suara.


Dewan Pimpinan Daerah = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Kecamatan se-kota/ kab, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Muskec:

Dewan Pimpinan Daerah = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Kecamatan = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Ranting se-kecamatan, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Musran:

Dewan Pimpinan Kecamatan = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Ranting = 1 (satu) hak suara.

Dewan Pimpinan Anak Ranting se-kelurahan, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Musanran:

Dewan Pimpinan Ranting = 1 (satu) hak suara.

Setiap anggota, masing-masing = 1 (satu) hak suara.

Pasal 25

Pemberian hak suara dalam pemilihan Ketua DPW atau Ketua DPD dilakukan oleh yang mewakili atau
dilakukan secara langsung oleh Ketua Delegasi dari masing-masing unsur sebagaimana yang ditetapkan
dalam Bab XII Pasal 23 ayat 1, 2 dan 3.

pemberian hak suara dalam pemilihan Ketua DPK, Ranting, Anak Ranting sesuai dengan tingkatan
musyawarah dilakukan oleh yang mewakili dari masing-masing unsur sebagaimana yang ditetapkan
dalam Bab XII Pasal 23 ayat 4, 5 dan 6.
BAB XIII

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 26

Pengambilan keputusan dalam Musyawarah-musyawarah Gerakan Masyarakat Daerah di masing-


masing tingkatan pada azasnya dilakukan dengan cara musyawarah untuk mufakat.

Jika cara musyawarah mufakat tidak tercapai, pengambilan keputusan dilakukan dengan cara Voting
melalui pemungutan suara terbanyak.

Apabila menyangkut orang, maka pengambilan keputusan dengan cara pemungutan suara dilakukan
secara rahasia, tertulis dan tertutup.

Apabila pemungutan suara (menyangkut orang) hasil suara sama banyak, maka pemungutan suara
diulang kembali hanya untuk satu kali.

Apabila setelah diulang hasil suaranya masih tetap sama banyak, maka keputusan selanjutnya tentang
hal ini diserahkan kepada Pimpinan musyawarah bersama jenjang kepemimpinan organisasi setingkat
diatasnya dan keputusan ini bersifat mengikat serta tidak dapat diganggu gugat.

BAB XIV

LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN

Pasal 27

Laporan Pertanggung Jawaban Pimpinan sesuai tingkatannya, disampaikan dalam sidang Pleno, melalui
Ketua sesuai tingkatan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.

Laporan Pertanggung Jawaban Pimpinan dinilai melalui Pandangan Umum dalam Sidang Pleno.

ketua sesuai tingkatan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai hak jawab atas Pnadangan
Umum.
BAB XV

PERSYARATAN, KRITERIA CALON PENGURUS DAN TATA CARA PEMILIHAN

Pasal 28

Persyaratan administrasi :

Warga Negara Indonesia dengan bukti Kartu Tanda Penduduk.

Memiliki Kartu Tanda Anggota Gerakan Masyarakat Daerah.

Pernah atau saat ini sedang menjadi fungsionaris minimal satu periode, masa bakti dengan bukti surat
keputusan.

Membuat surat pernyataan kesediaan disertai biodata.

Menyatakan pengunduran diri dari jabatan pada jenjang tingkatan internal organisasi Gerakan
Masyarakat Daerah lainnya bilamana terpilih.

Kriteria :

Bertaqwa terhadap Tuhan Ynag Maha Esa.

Setia kepada NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

Terpercaya dan visioner.

Memiliki integritas moral.

Tidak tercela atau tidak sedang terkena vonis hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Tidak atau sedang terkena sanksi organisasi berupa schorsing atau pemecatan, terkecuali telah
mendapat rehabilitas Munas.

Memiliki sikap yang tegas, konsisten, serta mampu secara moril dan materil mengemban amanat
keputusan-keputusan musyawarah.

Mendapat dukungan suara dari Perwakilan dengan jumlah yang disepakati oleh Muswil atau Musda.

Pasal 29

Pada hakekatnya pemilihan Ketua dalam musyawarah sesuai tingkatannya dilakukan berdasarkan
musyawarah untuk mufakat.
Apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka pemilihan Ketua dilakukan secara langsung
melalui pemberian suara dalam dua tahapan sebagai berikut:

Tahap I (memilih bakal calon tetap menjadi calon tetap):

Bakal Calon dinyatakan sah menjadi calon tetap apabila telah memenuhi persyaratan dan kriteria yang
ditetapkan.

Bakal Calon yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam bitur a di nyatakan
gugur.

Pemilihan dipimpin oleh pimpinan Musyawarah dibantu dengan dua orang sanksi.

Sebelum pemilihan setiap bakal calon wajib menyapaikan pidato pemikirannya.

Setiap bakal calon dinyatakan sebagai calon tetap yang sah apabila mendapat dukungan suara yang
disepakati dari yang berhak memilih.

Apabila seorang bakal calon tidak mendapat dukungan suara sebagaimana yang dimaksud pada butir e
maka bakal calon yang bersangkutan dinyatakan gugur.

Untuk pemilihan Dewan Pimpinan Wilayah, calon tetap dipilih oleh unsur yang diwakili DPP, DPW
Demisioner dan DPD, yang masing-masing mempunyai satu hak suara dan hanya dapat memilih satu
nama dari pada bakal calon yang sah.

Untuk pemilihan Dewan Pimpinan Kecamatan, Calon tetap dipilih oleh unsur yang mewakili DPW, DPD
Demisioner dan DPK, yang masing-masing mempunyai satu hak suara dan hanya dapat memilih satu
nama dari pada bakal calon yang sah.

Sebelumpemilihan dilakukan, jumlah suara yang akan memilih terlebih dahulu dihitung banyaknya.

Pemilihan dilakukan secara tertulis di atas lembar kertas dapat berupa nama atau nomor urut.

Setelah ditulis, kertas suara dimasukan ke dalam kotak suara yang tersedia.

Bakal calon yang dinyatakan sebagai calon tetap yang diumumkan oleh Pimpinan Sidang dan selanjutnya
dimajukan ke tahap II.

Bakal Calon yang sah dapat dinyatakan sebagai Ketua DPW atau Ketua DPD yang sah, jika jumlah bakal
calonnya hanya satu atau tunggal.

Tahap II:

Calon tetap yang sah dapat dinyatakan sebagai Ketua DPW atau Ketua DPD apabila jumlah calon
tetapnya hanya satu atau tunggal.

Calon tetap dapat dinyatakan sah sebagai Ketua apabila mendapatkan dukungan jumlah suara
terbanyak.
Apabila calon yang dipilih mendapat dukungan jumlah suara yang sama banyak, maka pemilihan akan
diulang hanya untuk satu kali.

Apabila setelah pemilihan diulang hasil suaranya masih tetap sama banyak, maka calon-calon yang
bersangkutan diserahkan kepada Pimpinan musyawarah bersama jenjang kepemimpinan organisasi
setingkat diatasnya dan keputusan ini bersifat mengikat serta tidak dapat diganggu gugat.

Perhitungan suara dilakukan secara terbuka dipimpin oleh Pimpinan Sidang dibantu oleh dua orang saksi
dan peserta.

Ketua terpilih secara otomatis menjadi Ketua Formatur.

BAB XVI

FORMATUR

Pasal 30

Formatur Musyawarah Wilayah atau musyawarah Daerah Gerakan Masyarakat Daerah bejumlah ganjil
(Schap Langsung), yang terdiri dari:

Ketua Terpilih (sebagai Ketua formatur merangkap anggota).

DPW atau DPD Gerakan Masyarakat Daerah demisioner sebagai sekretaris merangkap anggota.

Dewan Pimpinan Daerah atau Dewan Pimpinan Kecamatan sebagai anggota.

Jumlah dan mekanisme, pemilihan formatur disepakati dalam Sidang Rapat dan dilakukan melalui
mekanisme Sidang Pleno.

BAB XVII

RISALAH

Pasal 31

Risalah Sidang dan rapat-rapat dilaksanakan oleh Panitia Pelaksana dan dilaporkan kepada
kepemimpinan organisasi yang sudah terbentuk sesuai tingkatannya.

untuk setiap Sidang dan Rapat, dibuat risalah, seperti:

Tempat dan Agenda Sidang/ Rapat.

Hari dan Tanggal.


Absensi yang hadir.

Catatan Perubahan/ Penyempurnaan dokumen yang terbatas.

Agenda materi yang dibahas.

Materi pembicaraan selama Sidang/ Rapat.

Hasil/ Keputusan/ Kesimpulan Sidang/ Rapat.

Keterangan lain yang dianggap perlu dicatat dan direkam.

BAB XVIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 32

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Organisasi tetang Musyawarah-musyawarah Organisasi
Gerakan Masyarakat Daerah ini akan diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan Pusat.

Sejak ditetapkannya Peraturan Organisasi ini maka, Peraturan Organisasi sebelumnya yang mengatur
tentang Musyawarah Wilayah dan Musyawarah Gerakan Masyarakat Daerah dinyatakan tidak berlaku.

Peraturan Organisasi tentang Musyawarah-musyawarah Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah ini,


mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PERATURAN ORGANISASI Gerakan Masyarakat Daerah

Tentang : TATA KERJA BADAN PENGURUS GERAKAN MASYARAKAT DAERAH

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Organisasi :

Tata Kerja ialah penataan rincian dan mekanisme pelaksanaan tugas fungsionaris Dewan Pimpinan
Gerakan Masyarakat Daerah.

Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah ialah jenjang kepengurusan organisasi di tingkat nasional,
wilayah dan Daerah sebagaimana yang tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Bab VIII Pasal 32, 33,
34.

Lembaga dan Badan ialah sayap perjuangan dan pelaksana program organisasi sebagaimana yang
tercantumdalam Anggaran Dasar Gerakan Masyarakat Daerah Bab XII Pasal 24 ayat 1.

Penyebutan DPP adalah singkatan dari Dewan Pimpinan Pusat, DPW adalah singkatan Dewan Pimpinan
Wilayah, DPD adalah singkatan dari Dewan Pimpinan Daerah.

Penyebutan Waketum adalah singkatan dari Wakil Ketua Umum, Sekum dari Sekretaris Umum, Bendum
dari Bendahara Umum.

BAB II

BADAN PENGURUS

Pasal 2

Badan Pengurus Gerakan Masyarakat Daerah di setiap tingkatan terdiri dari:

Badan Pengurus.

Departemen – Departemen, Bidang – Bidang, Devisi – Devisi, Seksi - Seksi.

Lembaga/ Badan sebagai ex-officio pleno.


Pasal 3

Badan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari :

Ketua Umum 1 orang

Wakil-wakil Ketua Umum 2 orang

Ketua-ketua Departemen Disesuaikan Kebutuhan.

Sekretaris Umum 1 orang

Sekretaris-sekretaris 2 orang

Bendahara Umum 1 orang

Bendahara-bendahara 2 orang

Dewan Pimpinan Pusat 27 (dua puluh tujuh) orang.

Pasal 4

Badan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah/ Dewan Pimpinan Daerah terdiri dari:

Ketua 1 orang

Wakil-wakil Ketua 1 orang

Ketua-ketua Bidang 19 orang

Sekretaris 1 orang

Wakil-wakil Sekretaris 2 orang

Bendahara 1 orang

Wakil-wakil Bendahara 2 orang

Badan Pengurus DewanPimpinan Wilayah/ Dewan Pimpinan Daerah berjumlah 27 (dua puluh tujuh)
orang.

Pasal 5

Sebagaimana tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Masyarakat Daerah Bab VIII, Pasal 38,
ayat 1 point a s/d j. Bidang-Bidang Badan Pengurus di masing-masing tingkatan terdiri dari:

1....................................................; 2.................................................; 3...................................................


Terkecuali bidang-bidang di Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Daerah tidak terdapat
bidang-bidang Hubungan Luar Negeri.

Pasal 6

Bidang-bidang Dewan Pimpinan Wilayah yang dikoordinir Wakil Ketua Umum I/ II pada DPP serta Wakil
Ketua I/ II pada DPW dan DPD adalah :

Wakil Ketua I atau Wakil Ketua II, mengkoordinir:

Bidang Organisasi dan Keanggotaan

Bidang Litbang dan Kaderisasi

Bidang Hankamnas

Bidang Hukum dan Hak Azasi Manusia

Bidang Ideologi dan Politik

Wakil Ketua Umum I atau Wakil Ketua Umum II, mengkoordinir:

Bidang Alam dan Lingkugan Hidup

Bidang Ekonomi

Bidang Agama, Sosial dan Budaya

Bidang Pengembangan Usaha

Bidang Hubungan Internasional

Pasal 7

Badan Pengurus di masing-masing tingkatan mempunyai wewenang dan tugas pokok sebagaimana yang
diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Bab X, Pasal 44, 45, 46, Pasal 50, 51, 52.
BAB III

RAPAT-RAPAT

Pasal 8

Rapat-rapat , terdiri dari:

Rapat Pleno

Rapat Badan Pengurus

Rapat Koordinasi Bidang-Bidang I atau Bidang-Bidang II

Rapat Bidang

Pasal 9

Rapat Pleno Badan Pengrurus Dewan Pimpinan di masing-masing tingkatan ialah rapat Badan Pengurus
yang mempunyai wewenang unuk pengambilan keputusan.

Rapat Pleno dihadiri oleh:

Semua Fungsionaris Badan Pengurus Gerakan Masyarakat Daerah.sesuai dengan tingkatan

Dewan Pertimbangan Organisasi, Ketua dan Sekretaris Lembaga-lembaga dan Badan-badan (ex-officio).

Pasal 10

Rapat Pimpinan Badan Pengurus di masing-masing tingkatan ialah yang mempunyai wewenang :

Menetapkan agenda-agenda kegiatan Dewan Pimpinan.

Membuat kebijakan sesuai wewenang yang diberikan oleh rapat Pleno Majelis Pimpinan.

Mengambil keputusan yang bersifat mendesak dan selanjutnya harus dilaporkan dalam Rapat Pleno
Dewan Pimpinan.

Rapat Badan Pengurus DPP dihadiri oleh :

Ketua Umum

Wakil-wakil Ketua Umum

Ketua-ketua Departemen

Sekretaris Umum
Sekretaris-Sekretaris

Bendahara Umum

Bendahara-bendahara.

Rapat Pimpinan Harian DPW atau DPD dihadiri oleh:

Ketua

Wakil-wakil Ketua

Ketua-ketua Bidang

Sekretaris

Wakil-wakil Sekretaris

Bendahara

Wakil-wakil Bendahara.

Rapat Koordinasi Bidang-bidang adalah mekanisme dan sarana untuk mengkoordinasikan dan
mengimplementasikan tugas bidang-bidang.

Rapat koordinasi Bidang-Bidang di masing-masing tingkatan dipimpin oleh Wakil Ketua Umum I/ II atau
Wakil Ketua I/ II.

Rapat Koordinasi Bidang-Bidang dihadiri oleh:

Bendahara

Fungsionaris bidang

Sekretaris Umum/ Sekretaris, apabila diperlukan

Lembaga/ Badan terkait, apabila diperlukan

Rapat Bidang adalah rapat masing-masing bidang yang dihadiri fungsionaris bidang untuk
mengkonsumsikan dan menyelaraskan bidang tugasnya serta dapat mengundang lembaga/ badan
terkait, apabila diperlukan.
BAB IV

URAIAN TUGAS FUNGSIONARIS badan pengurus

Pasal 11

Ketua Umum mempunyai tugas :

Memimpin seluruh jajaran organisasi secara nasional untuk melaksanakan keptutusan-keputusan Munas
VII, Rapimpur, Rakernas, Rapat Pleno, Rapat Pimpinan Badan Pengurus Gerakan Masyarakat Daerah.

Memberikan arah bagi pelaksanaan program organisasi secara nasional.

Menandatangani surat-surat penting, berharga baik yang bersifat keuangan, perjanjian, kerjasama baik
yang ditujukan kedalam maupun keluar.

Memimpin dan mengawasi fungsionaris kolektif Dewan Pimpinan Pusat dalam melaksanakan tugasnya
baik yang bersifat kedalam maupun keluar.

Menetukan Alokasi pembiayaan program.

Mencari dan mengelola sumber keuangan organisasi.

Dalam melaksanakan tugasnya Ketua Umum dibantu oleh 2 (dua) Wakil Ketua Umum, Sekretaris Umum
dan Bndahara Umum.

Pasal 12

Wakil Ketua Umum I mempunyai tugas :

Membantu dan melaksanakan tugas Harian Ketua Umum serta mengkoordinasikan sesuai dengan
bidang yang ditentukan.

Memimpin Bidang Organisasi dan Keanggotaan, Bidang Litbang dan Kaderisasi, Bidang Hankamnas,
Bidang Hukum dan HAM, Bidang Ideologi dan Politik.

Dalam melaksanakan tugasnya Wakil Ketua Umum I (pertama) dibantu/ didampingi oleh 5 (lima) orang
ketua-ketua Bidang, 5 (lima) orang Sekretaris, 1 (satu) orang Bendahara dan 15 (lima belas) orang
anggota-anggota Bidang.

Menandatangani surat keputusan, surat mandat dan rekomendasi yang bersifat kedalam dan keluar.

Dapat menandatangani surat-surat penting/ berharga, perjanjian kerjasama apabila Ketua Umum
berhalangan atau atas nama seizinnya.
Mewakili Ketua Umum dalam kegiatan yang bersifat internal dan eksternal sesuai bidang atau
penugasan yang ditentukan.

melaporkan tugas-tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Ketua Umum.

Pasal 13

Wakil Ketua Umum II mempunyai tugas :

Membantu dan melaksanakan tugas Harian Ketua Umum serta mengkoordinasikan sesuai dengan
bidang yang ditentukan.

Memimpin Bidang Organisasi dan Keanggotaan, Bidang Litbang dan Kaderisasi, Bidang Hankamnas,
Bidang Hukum dan HAM, Bidang Ideologi dan Politik.

Dalam melaksanakan tugasnya Wakil Ketua Umum II dibantu/ didampingi oleh 5 (lima) orang ketua-
ketua Bidang, 5 (lima) orang Sekretaris, 1 (satu) orang Bendahara dan 15 (lima belas) orang anggota-
anggota Bidang.

Menandatangani surat keputusan, surat mandat dan rekomendasi yang bersifat kedalam dan keluar.

Dapat menandatangani surat-surat penting/ berharga, perjanjian kerjasama apabila Ketua Umum
berhalangan atau atas nama seizinnya.

Mewakili Ketua Umum dalam kegiatan yang bersifat internal dan eksternal sesuai bidang atau
penugasan yang ditentukan.

melaporkan tugas-tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Ketua Umum.

Pasal 14

Ketua DPW, Ketua DPD mempunyai tugas:

Memimpin seluruh jajaran organisasi di tingkat wilayah, cabang untuk melaksanakan keptutusan-
keputusan Mubes VII, Muswil, Musda, Rapimpur, Rakernas, Rakerwil, Rakerda, Rapat Pleno, Rapat
Badan Pengurus Gerakan Masyarakat Daerah.

Memberikan arah bagi pelaksanaan program organisasi secara di tingkat wilayah, Daerah.

Menandatangani surat-surat penting, berharga baik yang bersifat keuangan, perjanjian, kerjasama baik
yang ditujukan kedalam maupun keluar.

Memimpin dan mengawasi fungsionaris kolektif Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Pimpinan Daerah
dalam melaksanakan tugasnya baik yang bersifat kedalam maupun keluar.
Menetukan Alokasi pembiayaan program.

Mencari dan mengelola sumber keuangan organisasi.

Dalam melaksanakan tugasnya Ketua DPW, Ketua DPD dibantu oleh 2 (dua) Wakil Ketua Umum,
Sekretaris dan Bendahara.

Pasal 15

Wakil Ketua I DPW, DPD mempunyai tugas :

Membantu dan melaksanakan tugas Harian Ketua DPW, Ketua DPD serta mengkoordinasikan sesuai
dengan bidang yang ditentukan.

Memimpin Bidang Organisasi dan Keanggotaan, Bidang Litbang dan Kaderisasi, Bidang Hankamnas,
Bidang Hukum dan HAM, Bidang Alam dan Lingkungan Hidup.

Dalam melaksanakan tugasnya Wakil Ketua I (pertama) dibantu/ didampingi oleh 5 (lima) orang ketua-
ketua Bidang, 5 (lima) orang Sekretaris, 1 (satu) orang Bendahara dan 20 (dua puluh) orang anggota-
anggota Bidang.

Menandatangani surat keputusan, surat mandat dan rekomendasi yang bersifat kedalam dan keluar.

Dapat menandatangani surat-surat penting/ berharga, perjanjian kerjasama apabila Ketua MPW, Ketua
MPC berhalangan atau atas nama seizinnya.

Mewakili Ketua DPW, Ketua DPD dalam kegiatan yang bersifat internal dan eksternal sesuai bidang atau
penugasan yang ditentukan.

Melaporkan tugas-tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Ketua DPW, Ketua DPD.

Pasal 16

Wakil Ketua II DPW, DPD mempunyai tugas :

Membantu dan melaksanakan tugas Harian Ketua DPW, Ketua DPD serta mengkoordinasikan sesuai
dengan bidang yang ditentukan.

Memimpin Bidang Ekonomi, Bidang Ideologi dan Politik, Bidang Agama, Sosial dan Budaya serta Bidang
Pengembangan Usaha.

Dalam melaksanakan tugasnya Wakil Ketua II dibantu/ didampingi oleh 4 (empat) orang ketua-ketua
Bidang, 4 (empat) orang Sekretaris, 1 (satu) orang Bendahara dan 16 (enam belas) orang anggota-
anggota Bidang.
Menandatangani surat keputusan, surat tugas, surat mandat dan rekomendasi yang bersifat kedalam
dan keluar.

Dapat menandatangani surat-surat penting / berharga, perjanjian kerjasama apabila Ketua DPW, Ketua
DPD berhalangan atau atas nama seizinnya.

Mewakili Ketua DPW, Ketua P DPD dalam kegiatan yang bersifat internal dan eksternal sesuai bidang
atau penugasan yang ditentukan.

Melaporkan tugas-tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Ketua DPW, Ketua DPD.

Pasal 17

Ketua-ketua di masing-masing tingkatan mempunyai tugas:

Membantu pelaksanaan tugas-tugas Ketua Umum/ Wakil-wakil Ketua Umum atau Ketua/ Wakil wakil
Ketua.

Mewakili Ketua Umum/ Wakil-wakil Ketua Umum atau Ketua/ Wakil-wakil Ketua, sesuai penugasan.

Melaksanakan keptutsan Rapat Pleno.

Mempersiapkan dan merekomendasikan rancangan kebijakan organisasi sesuai ruang lingkup bidang
tugasnya.

Menyusun dan menyampaikan laporan tahunan sesuai ruang lingkup dan tanggung jawab bidang
masing-masing.

Pasal 18

Sekretaris Umum mempunyai tugas:

Mengkomunikasikan, menselaraskan, mengintegrasikan dan mengarahkan kebijakan-kebijakan Dewan


Pimpinan Pusat, baik yang bersifat sektoral, teritorial maupun regional dan Internasional.

Menandatangani surat menyurat baik yang bersifat ke dalam maupun yang bersifat keluar.

Mengatur dan mengelola kesekretariatan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Masyarakat Daerah.

Mengatur Tata Administrasi organisasi.

Mengatur agenda kegiatan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum.

Mengambil langkah-langkah preventif dalam mengatasi permasalahan organisasi.


Memimpin dan bertanggung jawab atas agenda kegiatan organisasi.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, sekretaris umum dibantu oleh 10 (sepuluh) orang sekretaris dan
staff kesekretariatan Dewan Pimpinan Pusat.

Bersama Ketua Umum, Wakil-wakil ketua Umum atau Bendahara Umum membuat/ merumuskan policy
keuangan organisasi.

Bersama Ketua Umum atau wakil-wakil ketua umum atau bendahara umum menandatangani
administrasi keuangan organisasi.

Mengatur tata administrasi organisasi, baik yang masuk maupun yang keluar.

Mendampingi Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum atau Ketua-Ketua Bidang menghadiri undangan
dari internal maupun eksternal organisasi.

Mendampingi Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum memimpin Rapat Pleno atau RapatBadan Pengurus
Dewan Pimpinan Pusat.

Mendampingi Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum dalam melaksanakan tugasnya.

Bersam Ketua-Ketua Bidang dan Sekretaris-sekretaris/ wakil-wakil sekretaris membuat dan merumuskan
peraturan-peraturan organisasi.

Setiap saat berkoordinasi dengan Ketua Umum dan Wakil-Wakil Ketua Umum.

Pasal 19

Sekretaris DPW, Sekretaris DPD mempunyai tugas :

Mengkomunikasikan, menselaraskan, mengintegrasikan dan mengarahkan kebijakan-kebijakan Badan


Pengurus, baik yang bersifat sektoral, teritorial maupun regional.

Menandatangani surat menyurat baik yang bersifat ke dalam maupun yang bersifat keluar.

Mengatur dan mengelola kesekretariatan Dewan Pimpinan Wilayah/ Dewan Pimpinan Daerah Gerakan
Masyarakat Daerah.

Mengatur tata administrasi organisasi.

Mengatur agenda kegiatan Ketua dan Wakil Ketua.

Mengambil langkah-langkah preventif dalam mengatasi permasalahan organisasi.

Memimpin dan bertanggung jawab atas agenda kegiatan organisasi.


Dalam melaksanakan tugas pokoknya, sekretaris umum dibantu oleh 9 (sembilan) orang wakil sekretaris
dan staff kesekretariatan Dewan Pimpinan Wilayah / Dewan Pimpinan Daerah.

Bersama Ketua, Wakil-wakil ketua atau Bendahara membuat/ merumuskan policy keuangan organisasi.

Bersama Ketua atau wakil-wakil ketua atau bendahara menandatangani administrasi keuangan
organisasi.

Mengatur tata administrasi organisasi, baik yang masuk maupun yang keluar.

Mendampingi Ketua atau Wakil Ketua atau Ketua-Ketua Bidang menghadiri undangan ari internal
maupun eksternal organisasi.

Mendampingi Ketua atau Wakil Ketua memimpin Rapat Pleno atau Rapat Badan Pengurus Majelis
Pimpinan Wilayah/ Dewan Pimpinan Daerah.

Mendampingi Ketua atau Wakil Ketua dalam melaksanakan tugasnya.

Bersama Ketua-Ketua Bidang dan wakil-wakil sekretaris membuat dan merumuskan peraturan-
peraturan organisasi.

Setiap saat berkoordinasi dengan Ketua dan Wakil-Wakil Ketua.

Pasal 20

Sekretairs-sekretairs DPP/ wakil-wakil sekretaris DPW, DPD mempunyai tugas:

Membantu pelaksanaan tugas-tugas Sekretaris Umum atau sekretaris.

Menandatangani surat tugas, surat mandat, surat dispensasi dan surat keputusan apabila sekretaris
umum/ sekretaris berhalangan atau atas dan seizin sekretaris umum atau sekretaris.

Membantu tugas Ketua-ketua Bidang.

Pasal 21

Bendahara Umum mempunya tugas:

Membantu tugas-tugas Ketua Umum, Wakil-wakil Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Ketua-ketua
Bidang dalam hal manajemen keuangan organisasi.

Mencari sumber keuangan untuk pendanaan kegiatan organisasi.

Menandatangani surat berharga, surta-surat yang bersifat keuangan organisasi.


Mengatur tata administrasi keuangan organisasi.

Menbuat laporan keuangan secara periodik untuk diketahui oleh Ketua Umum, Wakil-wakil Ketua
Umum dan Sekretaris Umum.

Memberikan bimbingan administrasi keuangan kepada lembaga-lembaga/ badan Tingkat Nasional.

Menghadiri Rapat Pleno, Rapat Pimpinan Harian, acara-acara internal maupun eksternal organisasi.

Pasal 22

Bendahara-bendahara DPP menpunyai tugas:

Mewakili Bendahara Umum, menandatangani surat berharga, surat-surat yang berhubungan dengan
masalah keuangan organisasi atau nama atau atas seizinnya.

Membantu tugas Bendahara Umum.

Membantu wakil-wakil Ketua Umum dalam hal administrasi pendanaan program organisasi.

Menghadiri Rapat Pleno, Rapat Pimpinan Harian dan acara-acra internal maupun eksternal organisasi.

Pasal 23

Bendahara DPW, DPD mempunya tugas:

Membantu tugas-tugas Ketua, Wakil-wakil Ketua, Sekretaris dan Ketua-ketua Bidang dalam hal
manajemen keuangan organisasi.

Mencari sumber keuangan untuk pendanaan kegiatan organisasi.

Menandatangani surat berharga, surta-surat yang bersifat keuangan organisasi.

Mengatur tata administrasi keuangan organisasi.

Menbuat laporan keuangan secara periodik untuk diketahui oleh Ketua, Wakil-wakil Ketua dan
Sekretaris.

Memberikan bimbingan administrasi keuangan kepada lembaga-lembaga/ badan pelaksana kegiatan


Tingkat Wilayah/ Daerah.

Menghadiri Rapat Pleno, Rapat Pimpinan Harian, acara-acara internal maupun eksternal organisasi.
Pasal 24

Wakil-wakil Bendahara menpunyai tugas:

Mewakili Bendahara, menandatangani surat berharga, surat-surat yang berhubungan dengan masalah
keuangan organisasi atau nama atau atas seizinnya.

Membantu tugas Bendahara.

Membantu wakil-wakil Ketua dalam hal administrasi pendanaan program organisasi.

Menghadiri Rapat Pleno, Rapat Pimpinan Harian dan acara-acra internal maupun eksternal organisasi.

Pasal 25

Anggota-anggota Bidang mempunyai tugas:

Membantu tugas Ketua-Ketua Bidang

Menghadiri Rapat Pleno dan kegiatan internal an eksternal organisasi.

Pasal 26

Fungsionaris Departemen – Departemen Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Masyarakat Daerah terdiri dari:
Ketua, Sekretairs, dan 3 (tiga) orang Anggota.

Fungsionaris Bidang-bidang Dewan PimpinanWilayah, Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Masyarakat


Daerah terdiri dari: Ketua, Wakil, Sekretaris dan 4 (empat) orang Anggota.

Pasal 27

Bidang Organisasi dan Keanggotaan mempunyai tugas:

Menjalankan konsolidasi Organisasi.

Merumuskan peraturan organisasi, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis tetang Lembaga-lembaga


atau Badan-badan sesuai kebutuhan Pelaksanaan Program kerja di bidangnya.

Membuat perencanaan/ konsep program bidang organisasi.

Bersama-sama dengan bidang-bidang lainnya membuat peraturan organisasi tentang kebutuhan


program kerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.
Memberikan pembinaan dan bimbingan teknis kepada Lembaga-lembaga dan Badan-badan Gerakan
Masyarakat Daerah.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil Ketua Umum I, Wakil Katua I
untuk tingkat wilayah dan Daerah.

Pasal 28

Bidang Pertahanan dan Keamanan Nasional mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep program kerja sesuai dengan bidang tugasnya.

Melakukan/ menjalin hubungan atau kerjasama dengan TNI/ POLRI, lembaga-lembaga tinggi negara,
instansi pemerintah untuk mewujudkan ketertiban dan keamanan nasional.

Bersama dengan bidang-bidang terkait lainnya dan lembaga/ badan Gerakan Masyarakat Daerah
memprakarsai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan konteks Hankamnas melalui seminar,
sarahsehan, dialog interaktif dan diskusi.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil Ketua Umum I, Wakil Ketua I
tingkat wilayah dan Daerah.

Pasal 29

Biang Litbang dan Kaderisasi mempunyai tugas:

Merumuskan dan menyusun sistem, garis-garis besar kurikulum pendidikan dan pelatihan kaderisasi
organisasi.

Membuat perencanaan/ konsep program kerja sesuai dengan bidang tugasnya.

Melaksanakan pendidikan dan pelatihan kaderisasi formal Gerakan Masyarakat Daerah.

Menbentuk badan pendidikan an pelatihan kaderisasi tingkat pusat.

Melakukan analisa, penelitian, kajian, pendataan anggota dan pengembangan organisasi.

Menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak-pihak eksternal yang terkait dengan bidangnya untuk
peningkatan dan pengembangan organisasi.

Bersama lembaga-lembaga atau badan-badan melakukan kegiata-kegiatan pendidikan kaderisasi,


penelitian dan pengembangan melalui pelatihan, seminar, lokakarya, simposium, diskusi dan lain-lain.

Melaksanakan koordiansi dengan jajaran organisasi dibawahnya sesuai ruang lingkup bidang tugasnya.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil ketua umumI,. Wakil Ketua I
untuk tingkat wilayah dan Daerah.
Pasal 30

Bidang Ideologi dan politik mempunyai tugas:

Membuat perencanaan konsep program sesuai dengan bidang tugasnya.

Melakukan, menjalin hubungan atau kerjasama dengan lembaga-lembaga tinggi negara, instansi
pemerintah yang berkaitan dengan pembinaan ideologi dan politik denga TNI/ POLRI, institusi politik
formal yang ada dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Bersama dengan bidang-bidang terkait lainnya dan lembaga/ badan memprakarsai kegiatan-kegiatan
seminar, dialog interaktif, pelatihan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan konteks kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan, memberikan pembinaan, bimbingan, pemahaman, pendidikan terhadap
jajaran organisasi Gerakan Masyarakat Daerah tentang hal-hal yang menyangkut ideologi dan politik.

Melakukan koordinasi an pertemuan secara berkala dengan kader-kader Gerakan Masyarakat Daerah
yang tersebar diberbagai elemen masyarakat serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil Ketua Umum I untuk tingkat
wilayah dan Daerah.

Pasal 31

Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep Program Bidang Hukum dan HAM.

Memberikan penyuluhan dan bantuan hukum terhadap anggota Gerakan Masyarakat Daerah, serta
kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa menafikan aspek profesionalismenya.

Mengimplementasikan kebijakan-kebijakan organisasi Gerakan Masyarakat Daerah di Bidang Hukum


dan Hak Asasi Manusia.

Menjalin hubungan dan kerjasama dengan lembaga-lembaga yudukatif, khususnya dengan catur wangsa
dalam upaya penegakan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Bersama dengan lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum Gerakan Masyarakat Daerah,
melaksanakan seminar, dialog interaktif, lokakarya mnegenai Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Menghadiri Rapat-rapat.

Melaksanakan keputusan-keputusan Rapat Pleno.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil Ketua Umum I, Wakil Ketua I
untuk tingkat wilayah dan Daerah.
Pasal 32

Bidang Alam dan Lingkungan Hidup, mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep program Bidang Alam dan Linkungan Hidup.

Memprakarsai terbentuknya lembaga-lembaga pelaksana program Alam dan Lingkungan Hidup.

Bersama Bidang-Bidang terkait lainnya serta Badan-Badan Usaha Gerakan Masyarakat Daerah,
melakukan penelitian tentang amdal, koservasi alam, seminar, diskusi panel tentang thema-thema alam
dan lingkungan hidup.

Mendorong dan menanamkan kesadaran jajaran terhadap kelestarian ekosistem, sebagai tempat
kehidupan seluruh makhluk.

Menghadiri Rapat-rapat.

Melaksanakan Keputusan-Keputusan Rapat Pleno.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakum II, Wakil Ketua II untuk
tingkat wilayah dan Daerah.

Pasal 33

Bidang Ekonomi mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep Program Bidang Ekonomi.

Bersama Bidan Litbang dan Kaderisasi, merumuskan, melakukan Penelitian, Kajian, penelitian tentang
masalah-masalah perekonomian nasional, sebagai kontribusi pikiran organisasi ke pihak-pihak eksternal
terkait.

Menjalin hubungan dengan pihak-pihak eksternal untuk melakukan kerjasama dengan lembaga-
lembaga/ badan-badan ekonomi organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.

Menghadiri, mengikuti rapat-rapat Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

Melaksanakan keptusan-keputusan Rapat Pleno.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakum II, Wakil Ketua II untuk
tingkat wilayah dan cabang.
Pasal 34

Bidang Agama, Sosial dan Budaya mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep Program Bidang Agama, Sosila dan Budaya.

Memprakarsai pembentukan lembaga-lembaga an badan-badan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai


kebuthan untuk melaksanakan program Agama, Sosial dan Budaya.

Menggalakan, melestarikan kebudayaan daerah, membina kerukunan antar umat beragama,


memberikan pelayanan sosial bagi masyarakat.

Mengimplementasikan kebijakan-kebijakan organisasi Gerakan Masyarakat Daerah di Bidang Agama,


Sosial dan Budaya.

Menjalin hubungan dan kerjasama dengan instansi Pemerintah, lembaga-lembaga adat, kebudayaan,
sosial, serta lembaga-lembaga keagamaan di dalam masyarakat.

Bersama dengan lembaga/ badan-badan Gerakan Masyarakat Daerah, melaksanakan program dalam
ruang lingkup keagamaan, sosial, budaya.

Menghadiri Rapat-rapat.

Melaksanakan Keputusan-Keputusan Rapat Pleno.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakil Ketua II, Wakil II untuk
tingkat wilayah dan Daerah.

Pasal 35

Bidang Pengembangan Usaha mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep Program Bidang Pengembangam Usaha.

Memprakarsai, mengusulkan pembentukan Badan-Badan Usaha.

Memotivasi dan mendorong jajaran organisasi untuk berwirausaha, berwiraswasta.

Bersama Bidang-Bidang terkait lainnya serta Badan-Badan Usaha Gerakan Masyarakat Daerah
mensosialisasikan program bidang pemgembangan usaha.

Menjalin hubungan dengan pihak eksternal terkait untuk melakukan kerjasama dengan badan-badan
usaha Gerakan Masyarakat Daerah.

Menghadiri Rapat-rapat.

Melaksanakan Keputusan-Keputusan Rapat Pleno.


Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakum II, Wakil Ketua II untuk
tingkat wilayah dan Daerah.

Pasal 36

Bidang Hubungan Luar Negeri/ Internasional mempunyai tugas:

Membuat perencanaan/ konsep Program kerja sesuai dengan bidang tugasnya.

Melakukan/ menjalin hubungan dengan badan-badan kemanisiaan internasional, badan-badan donor


internasional baik yang ada di dalam maupun yang ada di luar negeri guna bekerjasama dengan
organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.

Bersama Bidang-Bidang terkait lainnya dan Lembaga/ Badan Gerakan Masyarakat Daerah melaksanakan
kegiatan-kegiatan kerjasama dengan badan internasional.

Melaporkan tugasnya secara berkala dan bertanggung jawab kepada Wakum II.

Pasal 37

Uraian tugas dan ketentuan lebih lanjut mengenai Lembaga/ Badan diatur dalam peraturan/ ketentuan
tersendiri.

BAB V

TATA HUBUNGAN DEWAN PIMPINAN DENGAN LEMBAGA/ BADAN PELAKSANA KEGIATAN GERAKAN
MASYARAKAT DAERAH

Pasal 38

Tata hubungan DEWAN Pimpinan dengan Lembaga/ Badan Pelaksana Kegiatan Gerakan Masyarakat
Daerah adalah sebagaimana dimaksud dalam AD Bab XII Pasal 24 dan ART Bab XIV Pasal 62 dan
Peraturan Organisasi.

BAB VI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 39

Pengambilan keputusan di dalam Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah dilakukan melalui
mekanisme Rapat Pleno.

Pengambilan keputusan dalam Rapat Badan Pengurus Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah
berupa agenda kegiatan organisasi, kebijakan organisasi setelah mendapatkan persetujuan Pleno
maupun keputusan yang bersifat mendesak yang di pertanggung jawabkan dalam Rapat Pleno.
Keputusan yang tertinggi dalam Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah adalah keputusan Rapat
Pleno.
BAB VII

KOORDINATOR WILAYAH

Pasal 40

Koordinator Wilayah, Kordinator Daerah, Koordinator DPK adalah alat kelengkapan Dewan Pimpinan
untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

Pembagian tugas koordinator diatur melalui Surat Keputusan Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakan
Daerah sesuai tingkatannya.

BAB VIII

KESEKRETARIATAN

Pasal 41

Kesekretariatan di masing-masing tingkatan adalah alat kelengkapan tugas Dewan Pimpinan Gerakan
Masyarakat Daerah.

Fungsi, tugas, mekanisme kerja Kesekretariatan di masing-masing tingkatan diatur melalui Surat
Keputusan Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

BAB IX KETENTUAN KHUSUS

Pasal 42Jabatan lowongan dapat ditetapkan bagi fungsionaris yang tidak melaksanakan tugasnya atau
tidak hadir Rapat Pleno Majelis Pimpinan tanpa alasan ynag jelas sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut
serta kemudian dilakukan pengisian jabatan lowong.

BAB X KETENTUAN PENUTUP

Pasal 43

Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Kerja ini akan lebih lanjut diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan
Gerakan Masyarakat Daerah.

Peraturan Organisasi tentang Tata Kerja Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah ini mulai berlaku
sejak tanggal ditetapkan.
PERATURAN ORGANISASI GERAKAN MASYAKAT DAERAH

Tentang : LEMBAGA/BADAN PELAKSANA KEGIATAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN

GERAKAN MASYARAKAT DAERAH

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam peraturan organisasi ini yang dimaksud dengan Lembaga-lembaga/ Badan-badan Pelaksana
Kegiatan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah ialah: Lembaga Komando Inti(Koti) Mahatidana
Lembaga Mahasiswa, Lembaga siswa dan pelajar, Lembaga Cedikiawan, Lembaga Penyuluhan dan
Pembelaan Hukum (LPPH), Lembaga Buruh dan Pekerja, Lembaga Kelestarian dan Pemberdayaan
Lingkungan Hidup, Lembaga Perempuan, Lembaga Olahraga, Lembaga Pengajar, Lembaga Kerukunan
Umat Beragama, Lembaga Kesenian dan Budaya, Lembaga Tani an Nelayan, Lembaga Pengembagan
Usaha, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Badan Pendidikan dan Pelatihan Kader, Badan
Sarana dan Prasarana, Badan Pendidikan Masyarakat (Badikmas), Badan Pelayanan Kesehatan
(Bapelkes).

Penyelenggaraan program lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan keterjangkauan organisasi dalam


kehidupan masyarakat serta sebagai pelayanan terhadap kebutuhan anggota Gerakan Masyarakat
Daerah sesuai orientasi dan sektor kekhususannya.

Penyelenggaraan kegiatan badan dimaksudkan sebagai pelayanan terhadap kebutuhan struktur


kepemimpinan atau Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai spesifikasinya.

Lembaga adalah instrumen organisasi yang memiliki muatan penggalangan sesuai orientasi dan sektor
kekhususannya.

Badan adalah instrumen organisasi yang bersifat penugasan tetap ke dalam, tetapi tidak berdampak
langsung terhadap penggalangan masyarakat.

Penyelenggaraan secara otonom dalam pengertian memiliki otoritas sendiri untuk urusan manajemen
program dan pemilihan kepengurusannya.
BAB II

KEDUDUKAN

Pasal 2

Kedudukan Lembaga organisasi Gerakan Masyarakat Daerah di masing-masiong tingkatan berada di :

Tingkat Nasional

Tingkat Propinsi

Tingkat Kabupaten/ Kota

Kedudukan Badan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah sesuai kebutuhan hanya berada di tingkat
Nasional atau di tingkat Wilayah / Propinsi atau di tingkat Kabupaten/ Kota.

Jika diperlukan sesuai kebutuhan, kedudukan lembaga dapat berada di Tingkat Kecamatan.

BAB III

FUNGSI

Pasal 3

Lembaga/ Badan Organsiasi Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai fungsi:

Sebagai sarana/ media pendukung perjuangan organisasi.

Sebagai pelaksana program kerja Gerakan Masyarakat Daerah secara otonom.

Sebagai sarana rekrutmen, pembinaan dan pemberdayaan kreatifitas anggota Gerakan Masyarakat
Daerah.

Sebagai wadah untuk memperjuangkan kesejahteraan anggota.

Sebagai sarana dan sumber rekrutmen kader untuk kepemimpinan Dewan Pimpinan di semua tingkatan.

BAB IV

WEWENANG DAN TUGAS

Pasal 4

Lembaga/ Badan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai wewenang:

Membuat dan memberlakukan kebijakan atau atauran dalam ruang lingkup internalnya sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.
Mengambil keputusan berkaitan dengan pelaksanaan tuga-tugasnya selaku pelaksana program
organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.

Selaku ex-officio pleno Dewan Pimpinan, Lembaga/ Badan berwenang menyampaikan hak suara dalam
forum Rapatrapat Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

Pasal 5

Lembaga/ Badan organsasi Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai tugas:

Melaksanakan program sesuai dengan orientasi dan sektor kekhususannya.

Melaksanakan segala keputusan (Musyawarah dan Rapat-rapat) Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat
Daerah sesuai tingkatannya.

Melaksanakan rekrutmen dan pembinaan terhadap anggotanya.

Menjaga Citra dan nama baik Lembaga dan Organisasi Gerakan Masyarakat Daerah.

Mengadakan konsolidasi dan mengembangkan peran Lembaga baik dalam kehidupan internal organisasi
Gerakan Masyarakat Daerah maupun dalam kehidupan masyarakat umum.

Mengadakan Laporan aktifitasnya secara berkala kepada Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah
alam jangka waktu yang ditentukan oleh masing-masing Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

BAB V

HUBUNGAN ORGANISASI DEWAN PIMPINAN DENGAN LEMBAGA/BADAN PELAKSANA KEGIATAN

Pasal 6

Lembaga/ Badan adalah bagian yang tak terpisahkan dan merupakan satu kesatuan dengan Organisasi
Gerakan Masyarakat Daerah.

Penyelengara Lembaga/ Badan bersifat kedlam dan keluar.

Lembaga dapat mengadakan apresiasi terhadap berbagai kondisi dan fenomena eksternal organisasi
sesuai orientasi dan sektor kekhususannya yang terlebih dahulu melaksanakan koordinasi dengan
Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai tingkatnya.

Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah disemua tingkatan wajib mensubsidi penyelenggaraan
program Lembaga/ Badan untuk satu periode kepengurusannya dengan terlebih dahulu menetapkan
program Lembaga/ Badan yang akan disubsidi melalui forum Rakernas atau Pleno DPP pada tingkat
nasional, Rakerwil atau Pleno DPW pada tingkat Wilayah, Rakerda atau Pleno DPD pada tingkat Daerah.
Lembaga/ Badan mempunyai satu hak suara dalam proses pengambilan kebijakan pada forum Rapat-
rapat Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Masyarakat Daerah sesuai tingkatannya (Rapimpur, Rakernas,
Rakerwil, Rakerda, Rapat Pleno).

Bagi hal-hal yang bersifat teknis dan operasional dalam rangka pelaksanaan program, Lembaga/ Badan
mengadakan koordinasi administrasi dengan Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai
tingkatannya.

BAB VI

KEANGGOTAAN

Pasal 7

Lembaga dapat mengadakan rekrutmen anggota sesuai orientasi dan sektor kekhususannya dengan
kriteria dan prosedur yang ditentukan oleh masing-masing Lembaga.

Pada prinsipnya anggota Lembaga adalah anggota organisasi Gerakan Masyarakat Daerah yang akan
diatur kemudian dalam perturan organisasi tersendiri.

Setiap anggota Lembaga/ Badan Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai hak dan kewajiban
sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Bab IV, Pasal 11 ayat 1 dan 2.

Penetapan sanksi keanggoataan dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Masyarakat Daerah, Bab V,
Pasal 13 dan Pasal 14.

Lembaga dapat mengeluarkan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang akan diatur kemudian dalam Peraturan
tersendiri.

BAB VII

PEMBENTUKAN

Pasal 8

Pembentukan Lembaga-lembaga pelaksana kegiatan sesuai kebutuhan secara defenitif ditingkat


Wilayah dibetuk oleh Lembaga Tingkat Nasional bersama DPW Gerakan Masyarakat Daerah.

Pembentukan Lembaga-lembaga pelaksana kegiatan sesuai kebutuhan secara definitif ditingkat Daerah,
dibentuk oleh Lembaga Tingkat Wilayah bersama DPD Gerakan Masyarakat Daerah.

Pembentukan Badan secara defenitif dilaksanakan sesuai kebutuhan oleh masing-masing Dewan
Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

Pembentukan Badan bersifat penugasan tetap dalam satu periode kepengurusan oleh Dewan.
BAB VIII

KONFERENSI DAN RAPAT

Pasal 9

Lembaga di masing-masing tingkatan mempunyai konferensi dan rapat-rapat dengan agenda:


menghasilkan program kerja, susunan dan komposisi kepengurusan, implementasi program kerja
maupun langkah-langkah operasional.

Mekanisme Konferensi dan rapat-rapat dimaksud diatur tersendiri oleh masing-masing Lembaga.

Dalam melaksanakan proses Konferensi sebagaimana dimaksud ayat 1 diatas Dewan Pimpinan Gerakan
Masyarakat Daerah serta unsur Lembaga setingkat diatasnya dilibatkan dalam unsur Panitia dan
agenda/ acara seremonial.

Dalam pelaksanaan proses Konferensi sebagaimana dimaksud ayat 2 diats Pimpinan Konferensi/ Sidang
patut mencerminkan unsur perwakilan setipa kepengurusan Lembaga.

BAB IX

PENGESAHAN DAN PELANTIKAN

Pasal 10

Pengesahan kepengurusan Lembaga dalam bentuk surat keputusan pada tiap tingkatan diadakan oleh:

DPP Gerakan Masyarakat Daerah bagi Lembaga tingkat nasional sebagai hasil Konferensi skala nasional
masing-masing Lembaga.

Lembaga tingkat nasional bagi lembaga tingkat wilayah sebagai hasil Konferensi skala wilayah masing-
masing Lembaga dan tertanda diketahui oleh DPW Gerakan Masyarakat Daerah.

Lembaga tingkat wilayah bagi lembaga tingkat cabang sebagai hasil Konferensi skala cabang masing-
masing Lembaga dan tertanda diketahui oleh DPD Garakan Masyarakat Daerah.

Pengesahan kepengurusan Badan dalam bentuk surat keputusan diadakan oleh masing-masing Dewan
Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah.

Pasal 11Pelantikan terhadap kepengurusan kolektif Lembaga/ Badan yang definitif dilakukan oleh
Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai tingkatannya.
BAB X

MASA BAKTI

Pasal 12

Masa bakti kepengurusan lembaga di masing-masing tingkatan disesuaikan dengan ketentuan masing-
masing lembaga.

Masa bakti kepengurusan Badan di masing-masing tingkatan disesuaikan dengan periode mas bakti
Dewan Pimpinan.

BAB XI

KEUANGAN

Pasal 13

Keuangan lembaga/ organisasi Gerakan Masyarakat Daerah diperoleh dari:

Iuran anggota Lembaga/ Badan

Usaha-usah yang sah

Sumbangan yang tidak mengikat

Subsidi

Ketentuan subsidi disesuaikan dengan kebijakan/ kemampuan setiap tingkatan Dewan Pimpinan
Gerakan Masyarakat Daerah.

Terkecuali yang bersifat internal, perolehan keuangan Lembaga/ Badan dari usaha-usaha ynag sah
ataupun dari sumbangan yang tidak mengikat melalui proposal dan bersifat eksternal harus mendapat
persetujuan dari Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai tingkatannya.

BAB XII

KELENGKAPAN

Pasal 14

Setiap lembaga organisasi Gerakan Masyarakat Daerah mempunyai kelengkapan yang terdiri dari :

Kop surat

Stempel

Kantor Sekretariat
Plank/Papan Nama

Atribut/ Seragam

Bendera dan pataka

Kartu Tanda Anggota (KTA)

Pada prinsipnya penggunaan kelengkapan lembaga/ badan ini untuk keperluan internal lembaga/ badan
yang berlaku dalam ruang lingkup keorganisasian Gerakan Masyarakat Daerah dan dapat dipergunakan
dalam ryang lingkup eksternal keorganisasian Gerakan Masyarakat Daerah dan terlebih dahulu
berkoordinasi kepada serta mendapat kan Dewan Pimpinan Gerakan Masyarakat Daerah sesuai
tingkatannya.

Bentuk dan penggunaan kelengkapan lembaga/ badan lebih lanjut akan diatur dalam peraturan
organisasi sendiri.

BAB XIII KETENTUAN TAMBAHAN

Pasal 15

Representasi organisasi Gerakan Masyarakat Daerah dalam aktifitas wadah organisasi kemasyarakatan
atas dasar kesamaan fungsi diperankan oleh lembaga-lembaga.

BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 16

Tata kerja dan mekanisme kepengurusan serta manajemen penyelenggara program lembaga/ badan
diatur oleh masing-masing lembaga/ badan Gerakan Masyarakat Daerah.

BAB XV

PENUTUP

Pasal 17

Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan organisasi ini akan ditentukan lebih lanjut oleh DPP Gerakan
Masyarakat Daerah.

Setelah peraturan Organisasi ini ditetapkan maka peraturan organisasi sebelumnya yang serupa
mengatur Lembaga/ Badan Gerakan Masyarakat Daerah dinyatakan tidak berlaku.

Peraturan organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.................................................................