Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

HARGA DIRI RENDAH

RUANGAN MELATI

RSUD DR. HARYOTO

Disusun Oleh:

LISA SINTIYA
14201.08.16018

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY


PESANTREN ZAINUL HASAN PROBOLINGGO PROGRAM
STUDI SARJANA KEPERAWATAN

2019
1. Konsep Harga Diri

1.1. Pengertian harga diri

Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan


memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi
besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian,
kesuksesan, dan keberhargaan (Coopersmith, 2008).
Menurut Stuart dan Sundeen (2008) harga diri adalah penilaian
individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku memenuhi ideal dirinya. Harga diri adalah penilaian pribadi
terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku
memenuhi ideal diri; Merupakan abgian dari kebutuhan manusia
(Maslow); Adalah perasaan individu tentang nilai/harga diri, manfaat, dan
keefektifan diriniya; Pandangan seseorang tentang dirinya secara
keseluruhan berupa positif atau negative, “Most of the time I feel really
good about myself. Harga diri diperoleh dari diri dan orang lain yang
dicintai, mendapat perhatian, dan respect dari orang lain. Dapat
disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana individu
tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan,
keberartian, berharga, dan kompeten. Secara singkat, harga diri adalah
personal judgment mengenai perasaan berharga atau berarti yang
diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya.
Faktor yang mempengaruhi harga diri adalah sebagai berikut :
1. Ideal diri : harapan, tujuan, nilai, dan standar prilaku yang ditetapkan.
2. Interaksi dengan orang lain
3. Norma social
4. Harapan orang terhadap dirinya dan kemampuan dirinya untuk
memenuhi harapan tersebut.
5. Harga diri tinggi : seimbang antara ideal diri dengan konsep diri
6. Harga diri rendah : adanya kesenjangan antara ideal diri dengan
konsep diri.
1.2. Pembentukan harga diri
Harga diri mulai terbentuk setelah anak lahir, ketika anak
berhadapan dengan dunia luar dan berinteraksi dengan orang-orang di
lingkungan sekitarnya. Interaksi secara minimal memerlukan pengakuan,
penerimaan peran yang saling tergantung pada orang yang bicara dan
orang yang diajak bicara. Interaksi menimbulkan pengertian tentang
kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan
membentuk penilaian individu terhadap dirinya sebagai orang yang
berarti, berharga, dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu
mempunyai perasaan harga diri (Burn, 2008).
Harga diri mengandung pengertian”siapa dan apa diri saya”. Segala
sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, selalu mendapat penilaian
berdasarkan kriteria dan standar tertentu, atribut-atribut yang melekat
dalam diri individu akan mendapat masukan dari orang lain dalam proses
berinteraksi dimana proses ini dapat menguji individu yang
memperlihatkan standar dan nilai diri yang terinternalisasi dari masyarakat
dan orang lain. Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang
lain.

1.3. Aspek-aspek harga diri


Coopersmith (2008) membagi harga diri kedalam empat aspek
yaitu:
1) Kekuasaan (power) Kemampuan untuk mengatur dan mengontrol
tingkah laku orang lain. Kemampuan ini ditandai adanya pengakuan
dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain.
2) Keberartian (significance) Adanya kepedulian, penilaian, dan afeksi
yang diterima individu dari orang lain.
3) Kebajikan (virtue) Ikuti standar moral dan etika, ditandai oleh
ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang tidak diperbolehkan.
4) Kemampuan (competence) Sukses memenuhi tuntutan prestasi.
Definisi Harga Diri Rendah

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah
diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena
tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri. (Keliat, 2010)

Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Gangguan
harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perlakuan orang lain
yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk. Tingkat harga diri
seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah. Individu yang memiliki
harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi
secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman. Individu yang
memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan cara negatif dan
menganggap sebagai ancaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Barbara Kozier
berikut :

Level of self esteem range from high to low. A person who has high self
esteem deals actively with the environment, adapts effectively to change, and feels
secure. A person with low self esteem sees the environments as negative and
threatening. (Driver dalam Barbara Kozier, 2007:845).

Menurut Antai Otong (2012:297), Self Esteem dipengaruhi oleh pengalaman


individu dalam perkembangan fungsi ego, dimana anak-anak yang dapat
beradaptasi terhadap lingkungan internal dan eksternal biasanya memiliki perasan
aman terhadap lingkungan dan menunjukan self esteem yang positif. Sedangkan
individu yang memiliki harga diri rendah cenderung untuk mempersepsikan
lingkungannya negatif dan sangat mengancam. Mungkin pernah mengalami
depresi atau gangguan dalam fungsi egonya.

Menurut Patricia D. Barry dalam Mental Health and Mental Illness (2009),
Harga diri rendah adalah perasaan seseorang bahwa dirinya tidak diterima
lingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang dirinya. Pengertian lain
mengemukakan bahwa harga diri rendah adalah menolak dirinya sendiri, merasa
tidak berharga, dan tidak dapat bertanggung jawab atas kehidupan sendiri.
Individu gagal menyesuaikan tingkah laku dan cita-cita.

Proses Terjadinya Harga Diri Rendah

Hasil riset Malhi menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan oleh
rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan
dalam mencapai tujuan. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang rendah.
Selanjutnya hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak optimal.

Dalam tinjauan life span history klien, penyebab terjadinya harga diri
rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal
sering gagal disekolah, pekerjaan, atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat
lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampunnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri rendah yaitu:

a. Faktor Pedisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan orang
tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan kepada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
Selain itu, faktor yang mempengaruhi harga diri rendah adalah pengalaman masa
kanak-kanak merupakan suatu faktor yang dapat menyebabkan masalah atau
gangguan konsep diri.
Terjadinya gangguan konsep diri harga diri rendah kronis juga dipengaruhi
beberapa faktor predisposisi seperti faktor biologis, psikologis, sosial dan
kultural (Stuart and Sundeen, 1998) :
1. Faktor biologis, biasanya karena ada kondisi sakit fisik yang dapat
mempengaruhi kerja hormon secara umum, yang dapat pula berdampak
pada keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar serotinin yang
menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasien
depresi kecenderungan harga diri rendah kronis semakin besar karena
klien lebih dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.
2. Berdasarkan faktor psikologis, harga diri rendah konis sangat berhubungan
dengan pola asuh dan kemampuan individu menjalankan peran dan fungsi.
Hal-hal yang dapat mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah
kronis meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak
realistis, orang tua yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya,
peran yang tidak sesuai dengan jenis kelamin dan peran dalam pekerjaan.
3. Faktor sosial: secara sosial status ekonomi sangat mempengaruhi proses
terjadinya harga diri rendah kronis, antara lain kemiskinan, tempat tinggal
didaerah kumuh dan rawan, kultur social yang berubah missal ukuran
keberhasilan individu.
4. Faktor kultural: tuntutan peran sesuai kebudayaan sering meningkatkan
kejadian harga diri rendah kronis antara lain : wanita sudah harus menikah
jika umur mencapai dua puluhan, perubahan kultur kearah gaya hidup
individualisme.

b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya adalah kehilangan
bagian tubuh, perubahan penampilan atau bentuk tubuh, kegagalan atau
produktifitas yang menurun.

Secara umum, gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi
secara situasional atau kronik. Secara situasional misalnya karena trauma yang
muncul secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan, perkosaan atau
dipenjara termasuk dirawat dirumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah
disebabkan karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat
klien tidak nyaman. Penyebab lainnya adalah harapan fungsi tubuh yang tidak
tercapai serta perlakuan petugas kesehatan yang kurang menghargai klien dan
keluarga. Harga diri rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau
sebelum dirawat klien sudah mengalami pikiran negatif dan meningkat saat
dirawat.

Baik faktor predisposisi atau faktor presipitasi diatas bila mempengaruhi


seseorang dalam berfikir, bersikap maupun bertindak, maka dianggap akan
mempengaruhi terhadap koping individu tersebut sehingga menjadi tidak efektif
(mekanisme koping individu tidak efektif). Bila kondisi pada klien tidak
dilakukan lebih lanjut dapat menyebabkan klien tidak mau bergaul dengan orang
lain (isolasi sosial : menarik diri), yang menyebabkan klien asik dengan dunia
dan pikirannya sendiri sehingga dapat muncul resiko perilaku kekerasan.

Menurut Peplau dan Sulivan harga diri berkaitan dengan pengalaman


interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia, seperti
good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan
amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila koping
yang digunakan tidak efektif akan menimbulkan hharga diri rendah. Menurut
Caplan, lingkungan sosial akan mempengaruhi individu, pengalaman seseorang
dan adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh lingkungan
sosial, dn tidak dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan
penyimpangan perilaku akibat harga diri rendah.

Tanda-tanda Harga Diri Rendah


1. Mengejek dan mengkritik diri
2. Merasa bersalah dan khawatir , menghukum atau menolak diri sendiri
3. Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan
zat
4. Menunda keputusan
5. Sulit bergaul
6. Menghindar kesenangan yang dapat memberi rasa puas
7. Menarik diri dari realitas, cemas, panik, cemburu, curiga, halusinasi.
8. Merusak diri: harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri
hidup.
9. Merusak/melukai orang lain.
10. Perasaan tidak mampu.
11. Pandangan hidup yang pesimistis.
12. Tidak menerima pujian.
13. Penurunan produktivitas
14. Penolakan terhadap kemampuan diri.
15. Kurang memerhatikan perawatan diri.
16. Berpakaian tidak rapih.
17. Berkurang selera makan.
18. Tidak berani menatap lawan bicara.
19. Lebih banyak menunduk.
20. Bicara lambat dengan nada suara lemah.

Rentang Respon
Rentang respon konsep diri (Stuart, et al. 1988:320)

Adaptif Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi


diri positif rendah identitas

Skema Rentang Respon Konsep Diri (sumber: Stuart, et al, 1988: 320)

a. Respon adaftif
Adalah pernyataan dimana klien jika menghadapi suatu masalah
akan dapat memecahkan masalah tersebut.
1. Aktualisasi diri
Adalah pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar
belakang pengalaman yang sukses dan dapat diterima.
2. Konsep diri positf
Adalah apabila individu mempunyai pengalaman yang positif
dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang
negative dari dirinya
b. Respon maladaftif
Adalah keadaan klien dalam menghadapi suatu masalah tidak
dapat memecahkan masalah tersebut.
1. Harga Diri Rendah
Adalah individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan
merasa lebih rendah dari orang lain
2. Identitas Kacau
Adalah kegagalan individu untuk mengintegritas aspek-aspek
idintitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial
keperibadian masa dewasa yang harmonis.
3. Depersonallisasi
Adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak
membedakan dirinya dengan orang lain. Menurut Suliswati Dkk
komponen konsep diri ada lima yaitu terdiri dari:
 Citra tubuh
Adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari
atau tidak disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang
mengenai ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi
tubuh.
 Ideal diri
Adalah persepsi individu tentang bagaimana seharusnya
bertingkah laku berdasarkan standar peribadi.
 Harga diri
Adalah penilaian peribadi terhadap hasil yang dicapai
dengan menganalisa berapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan
ideal dirinya.
 Peran
Adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan
yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi
idividu di dalam kelompok sosialnya.
 Identitas diri
Adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh
individu dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, menyadari
bahawa dirinya berbeda dengan orang lain.
Pohon Masalah

Resiko Perilaku Kekerasan

Perubahan Persepsi Sensori:


Halusinasi

Isolasi sosial

1. Diri Rendah
Harga

Koping Individu Tidak Efektif

Traumatik

Masalah Keperawatan

1. Harga diri rendah kronis.


2. Koping individu tidak efektif.
3. Isolasi sosial.
4. Perubahan persepsi sensori: Halusinasi.
5. Risti perilaku kekerasan.
Tindakan Keperawatan

1.

No PASIEN KELUARGA
SP1P SP1K
1. Mengidentifikasi Mendiskusikan masalah yang
kemampuan yang dimiliki dirasakan keluarga dalam merawat
klien. klien di rumah.

2. Membantu klien menilai Menjelaskan pengertian, tanda dan


kemampuan klien yang gejala harga diri rendah yang
masih dapat digunakan. dialami klien beserta proses
terjadinya.

3. Membantu klien memilih Menjelaskan cara-cara merawat


atau menetapkan kegiatan klien dengan harga diri rendah.
yang akan dilatih sesuai
dengan kemampuan klien.

4. Melatih klien sesuai dengan Mendemonstrasikan cara merawat


kemampuan yang dipilih. klien dengan harga diri rendah.

5. Memberikan pujian yang Memberi kesempatan kepada


wajar. keluarga untuk mempraktikkan cara
merawat klien dengan harga diri
6. Menganjurkan klien rendah.
memasukkan dalam kegiatan
harian.
SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal Melatih keluarga mempraktikkan
kegiatan harian klien. cara merawat klien langsung kepada
klien harga diri rendah.
2. Melatih klien melakukan
kegiatan lain yang sesuai
dengan kemampuan klien.
3.
Menganjurkan klien
memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian.

SP3K
Membuat perencanaan pulang
bersama keluarga dan membuat
jadwal aktifitas di rumah termasuk
minum obat (discharge planning)

Menjelaskan follow up klien setelah


pulang.

SP (strategi pelaksanaan) Harga Diri Rendah

SP 1 Pasien: Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan,
membantu pasien memilih/menetapkan  kemampuan yang akan dilatih, melatih
kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan
yang telah dilatih dalam rencana harian

Fase Orientasi
Perawat : Assalamu’alaikum, bagaiaman keadaan Ibu Alif hari ini? Ibu Alif
terlihat segar.
Pasien    : wa’alaikumsallam, ya seperti ini lah sus seperti yang suster lihat.
Perawat : Ibu Alif masih ingat dengan saya?
Pasien     : Iya masih suster Nungki kan?
Perawat : Iya betul sekali sya perawat Nungki. Bagaimana kalu kita
bercakap - cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang pernah
ibu Alif lakukan? Setelah itu kit akan nilai kegiatan yang masih
dapat ibu Alif lakukan dirumahsakit. Setelah ita nilai, kita akan
pilih satu kegiatan untuk kita latih.
Pasien : ya boleh sus, saya juga bosan tidak melakukan apa –apa dirumah
sakit.
Perawat : Dimana kita duduk? Bagaimana kalau diruang tamu?
Pasien : iya diruang tamu saja biar segar.
Perawat : Berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit?
Pasien : Ya boleh sus, jangan terlalu lama juga.

Fase Kerja
Perawat : Ibu Alif, apa saja kemampuan yang ibu Alif dimiliki?
Pasien : Saya bisa menyulam sus.
Perawat : Bagus, apa lagi?
Pasien : Bisa nyuci baju sus.
Perawat : Saya buat daftarnya ya. Apa pula kegiatan ruamah tangga yang
biasa ibu Alif lakukan? Bagaimana dengan merapikan kamar?
Mencuci piring?
Pasien : Banyak sus, kalo dirumah ya nyuci baju, nyuci piring, nyapu
rumah, nyetrika baju, beres2 tempat tidur, banyak lah sus.
Perawat : Wah bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatna yangg ibu
Alif miliki
Pasien  : Oh pasti...
Perawat : Ibu Alif dari lima kegiatan ini, yangmana yang masih bisa
dikerjakan dirumah sakit? Coba kita lihat, yang pertama bisakah
ibu mencuci baju?
Pasien : Ya ngga bisa sus
Perawat : Kalau begitu bagaimana jika merapikan tempat tidur?
Pasien :Kalau itu ya bisa sekali sus, kan tinggal dirapihin ajah
Perawat :Kalau menyapu kamar ibu sendiri bagaimana?
Pasien :Wah itu sih gampang sus.
Perawat    : Bagus sekali ada 2 kegaiatn yang masih bisa dikerjakan di rumah
sakit ini. Sekarang coba ibu Alif piolih satu kegiatan yang masih
bisa dikerjakan dirumah sakit ini.
Pasien    : Yang nomer satu saja sus, merapikan tempat tidur.
Perawat : Oh,,yang nomer satu, merapikan tempat tidur? Kalau begitu
sekarang kita latihan merpikan tempat tidur ibu Alif
Pasien : Iya sus
Perawat : Mari kita lihat tempat tidur ibu Alif. Coba lihat, sudah rapihkah
tempat tidurnya?
Pasien : Hee,belum sus, berantakan
Perawat : Nah sekarang kita belajarr rapihkan. kalau mau merapihkan
tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan selimutnya.
Pasein : Pindahkan ke kursi ya sus
Perawat :Sekarang kita angkat spreinya, dan dan kasurnya kita balik.
Pasien : Sudah sus
Perawat : Nah sekarang kita pasang algi spreinya, kita mulai dai arah atas,
ya bagus!
Pasien : Seperti ini ya sus?
Perawat : Benar sekali ibu Alif. Sekarang sebelah kaki, tarik dan masukan
lalu sebelah pinggir masukan. Sekarang ambil bantal, rapihkan,
dan letakan disebela atas/kepala.
Pasie : Disini ya sus?
Perawat : Iya ibu, dibagian atas. Mari kita lipat selimut, nah letakan sebelah
bawah/kaki. Iya betul seperti itu. Ibu Alif sudah bisa merapihkan
tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan tempat tidurnya,
bedakan dengan sebelum dirapihkan.
Pasien : iya sus, lebih rapih dan enak dilihat
Perawat : Coba ibu Alif lakukan dan jangan lupa memberi tanda MMM
(mandiri) jika ibu Alif lakukan tanpa disusrh, tulis B (bantuan)
jika diingatkan dan T (tidak ) jika ibu Alif tidak melakukan.
Pasien : Baik sus

Fase Terminasi
Perawat : Bagaimana perasaan ibu Alif setelah kita bercakap – cakap dan
latihan merapihkan tempat tidur?
Pasien : Iya lebih tau.
Perawat : Ibu Alif ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat
dilakuka dirumah sakit ini. Slah satunya, merapikan tempat tidur,
yang sudah ibu Alif praktekan dengan baik seklai. Nah
kemampuna ini dapat dilakukan juga dirumah setelah pulang
Pasien : Iya sus
Perawa : Sekarang, mari kita masukan pada jadwal harian ibu Alif. Mau
berapa kali sehari merpaihkan tempat tidur?
Pasien : Dua kali saja sus
Perawat : Bagus, dua kali yaitu pagi jam 9.00 lalu sehabis istirahta jam
16.00 ya bu?
Pasien : Iya sus
Perawat : Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. Ibu Alif
masih ingat kegiatan apa lagi yang mampu ibu lakukan di rumah
sakit selakin merapihkan tempat tidur?
Pasien : Menyapu kamar sus
Perawat : Iya bagus menyapu kamar, kalu begitu kita kan latihan menyapu
kamar besok jam 8 pagi sehabis makan pagi. Sampai jumpa, saya
pamit dulu ya bu. Kalau ibu butuh bantuan saya bisa panggil saya
diruang perwat ya. Assalamu’alaikum.
Pasien : Iya sus, Wa’alikumsallam
SP 2  Pasien: Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan
         kemampuan  pasien.  

Fase Orientasi
Perawat : Assalammu’alaikum, bagaimana perasaan bapak robi pagi ini?
Pasien : Wa’alaikum salam saya masih merasa minder suster
Perawat : Iya bapak masih ingat dengan saya?
Pasien : Masih suster vera kan?
Perawat : Iya benar, bagaimana pak, sudah dicoba merapiakan tempat tidur
sore kemarim atau tadi pagi?
Pasien : Sudah sus kemarin sore.
Perawat :    Bagus kalau sudah dilakukan, sekarang kita akan latihan
kemampuan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu pak?
Pasien :    Iya masih melatih kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan
saya kan sus?
Perawat :    Iya benar sekali pak, mau berapa lama pak?
Pasien :    Jangan lama-lama sus...
Perawat :    Baik lah pak robi bagaimana kalau 15 menit saja?
Pasien :    Iya sus
Perawat :    Sekarang bapak robi ingin melakukan kegiatan apa?
Pasien :    Saya ingin mencuci piring suster
Perawat    :    Baiklah pak robi sekarang kita akan latihan mencuci piring di
dapur ruangan ini, mari kita kedapur pak?
Pasien :    Iya mari sus

Fase Kerja
Perawat :    Iya bapak robi, sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan
dulu perlengkapannya, yaitu sabut/tapes untuk membersihkan
piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan air untuk
membilas, bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh
ya jangan lupa pak sediakan tempat sampah untuk membunag sisa-
sisa makanan
Pasien :    Iya sus
Perawat :    Sekarang saya praktekan dulu bapak robi memperhatikan yah?\
Pasien :    Iya sus baik
Perawat :    Setelah semuanya perlengkapan tersedia, bapak robi ambil satu
piring kotor, lalu buang sisa kotoran yang ada di piring
tersebut ketempat sampah. Kemudian bersihkan piring tersebut
dengan menggunakan sabut/tapes yang sudah di berikan sabun
cuci piring. Setelah selesai disabun, bilas dengan air bersih
sampai tidak ada busa sabun sedikitpun dipiring tersebut.
Setelah itu bapak robi bisa mengeringkan piring yang sudah
bersih tadi dirak yang sudah tersedia di dapur. Selesai deh pak
Sekarang coba bapak robi lakukan?
Pasien :    Baik sus
Perawat :    Bagus sekali, bapak robi dapat mempraktekan cuci piring
dengan baik,sekarang dilap tangannya pak
Pasien :    Iya

Fase Terminasi
Perawat :    Bagaimana perasaan bapak robi setelah latihan cuci
piring?
Pasien :    Saya jadi merasa senang bisa mencuci piring
Perawat    :    Iya bapak bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukan
menjadi kegiatan sehari-hari?
Pasien :    Iya boleh sus
Perawat : Bapak robi mau berapa kali mencuci piring dalam sehari?
Pasien :    Tiga kali sehari setelah makan langsung mencuci piring
bagaimana sus?
Perawat :    Iya bagus sekali pak robi mencuci piring tiga kali
setelah makan yah?
Pasien :    Iya
Perawat :    Besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga,
setelah merapikan tempat tidur dan mencuci piring. Masih ingat kegitana apakah
itu pak robi?
Pasien :    Iya latiahn ngepel yah sus
Perawat :    Iya benar sekali pak, mau jam berapa?
Pasien :    Iya terserah suster saja
Perawat :    Baik lah besok saya kesini lagi jam     8 pagi yah pak
robi?
Pasien :    Iya
Perawat :    Kalau begitu sekarang saya permisi dulu terimakasih
atas kerjasamanya yah pak robi? Wasalamu’alaikum
Pasien :    Iya suster sama-sama Wa’alaikum salam

SP 3 : Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Membuat Perencanaan Pulang


Bersama Keluarga

Fase Orientasi
Perawat : Assalamu’alaikum.
Klien :Wa’alaikum salam.
Perawat :Apakah bapak anggota keluarga pak Dedi?
Klien : Ya perkenalkan bapak lupa saya suster Alif Furlimah,
saya biasa di panggil suster Alif. Saya yang biasa
merawat bapak Dedi disini. Bapak Eko, nama lengkapnya
Eko siapa?
Klien : Eko Apriyanto.
Perawat : Bapak senang di panggil bapak Eko/mas Eko?
Klien : Saya senang di panggil pak Eko.
Perawat : Oh baik saya panggil pak Eko saja.
Klien : Ya sus.
Perawat : Pak Eko, tujuan saya kemari saya akan Karena hari ini
bapak Eko sudah boleh pulang, maka  kita akan
membicarakan jadwal pak Dedi selama di rumah.”
Klien : Untuk apa sus?
Perawat : Tujuannya agar bapak Dedi dapat melakukan kegiatan
sehari-hari  rumah sesuai jadwal yang sudah
direncanakan.
Klien : Oh gituuu..
Perawat : Bagaimana keadaan pak Eko hari ini?
Klien : Saya baik,,,
Perawat :Waktunya kurang lebih selama 20 menit ya pak.
Klien : Ya ga apa-apa sus..
Perawat :Tempatnya disini saja atau dimana pak?
Klien : Ta disini saja sus
Perawat : Bisa dimulai sekarang pak eko?
Klien : Ya bisa

B.    FASE KERJA


Perawat : ”Pak Eko ini jadwal kegiatan pak Dedi selama di rumah
sakit.
Klie : Ya suster.
Perawat : Coba diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di
rumah?”
Klien : Ada yang bisa ada yang tidak suster.
Perawat : ”Pak Eko, jadwal yang telah dibuat selama pak Dedi
dirawat dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik
jadwal kegiatan  maupun jadwal minum obatnya.”
Klien : Baik suster
Perawat : ”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah
perilaku yang ditampilkan oleh pak Dedi selama di
rumah.
Klien : Ya suster.
Perawat : Misalnya kalau pak Dedi terus menerus menyalahkan diri
sendiri dan berpikiran negatif terhadap diri sendiri,
menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku
membahayakan orang lain.
Klien : Ya suster.
Perawat : Jika hal ini terjadi di rumah bisa hubungi perawat Alfi di
puskesmas. ”Selanjutnya perawat Alfi tersebut yang akan memantau
perkembangan pak Dedi selama di rumah.

C.    FASE TERMINASI

Perawat : ”Bagaimana Pak Eko? Ada yang belum jelas? Ini jadwal
kegiatan harian Pak Dedi untuk dibawa pulang.
Klien : Sudah jelas suster.
Perawat : Ini surat rujukan untuk perawat Alfi. Jangan lupa kontrol
sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak.
Klien : Ya suster.
Perawat : Silakan selesaikan administrasinya!”
Klien : Baik suster.
D. Asuhan Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan
hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga, dan masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Proses keperawatan bertujuan untuk
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien
sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal. Kebutuhan dan masalah
klien dapat diidentifikasikan, diprioritaskan untuk dipenuhi, serta diselesaikan.

1. Pengkajian
a. Faktor predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi citra tubuh:Kehilangan/ kerusakan
bagian tubuh (anatomi dan fisiologi);
a) Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh akibat
penyakit;
b) Proses penyakit dan dampaknya terhadap struktur dan fungsi
tubuh;
c) Proses pengobatan seperti radiasi dan kemoterapi.
2) Faktor yang mempengaruhi harga diri:
a) Penolakan;
b) Kurang penghargaan;
c) Pola asuh overprotektif, otoriter, tidak konsisten, terlalu dituruti,
terlalu dituntut;
d) Persaingan antar saudara;
e) Kesalahan dan kegagalan berulang;
f) Tidak mampu mencapai standar.
3) Faktor yang mempengaruhi peran:
a) Sterotifik peran seks;
b) Tuntutan peran kerja;
c) Harapan peran cultural.
4) Faktor yang mempengaruhi identitas:
a) Ketidak percayaan orang tua;
b) Tekanan dari “peer group”;
c) Perubahan struktur social.
b. Faktor Presipitasi
1) Trauma
Masalah spesifik dengan konsep diri adalah situasi yang membuat
individu sulit menyesuaikan diri, khususnya trauma emosi seperti
penganiayaan seksual dan psikologis pada masa anak-anak atau
merasa terancam atau menyaksikan kejadian yang mengancam
kehidupan.
2) Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah rasa frustasi saat individu merasa tidak
mampu melakukan peran yang bertentangan dengan hatinya atau
tidak merasa sesuai dalam melakukan perannya. Ketegangan peran
ini sering dijumpai saat terjadi konflik peran, keraguan peran, dan
terlalu banyak peran. Konflik peran terjadi saat individu menghadapi
dua harapan yang bertentangan dan tidak dapat dipenuhi. Keraguan
peran terjadi bila individu tidak mengetahui harapan peran yang
spesifik atau bingung tentang peran yang sesuai.
c. Manifestasi klinis
1) Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat
tindakan penyakit, misalnya malu dan sedih karena rambut jadi
botak setelah mendapatkan terapi sinar pada kanker.
2) Rasa bersalah terhadap diri sendiri (misalnya ini tidak akan terjadi
jika saya segera kerumah sakit), menyalahkan, mengejek, dan
mengkritik diri sendiri.
3) Merendahkan martabat, misalnya saya tidak bisa, saya tidak mampu,
saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
4) Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, klien tidak ingin
bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
5) Percaya diri kurang, klien sukar dalam mengambil keputusan
misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
6) Mencederai diri akibat harga diri yang rendah disetai harapan yang
suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.
d. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah segala usaha yang diarahkan untuk
menanggulangi stress. Usaha ini dapat berorientasi pada tugas dan
meliputi usaha pemecahan masalah langsung.
1) Pertahanan jangka pendek
a) Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari kritis,
misalnya: kerja keras, nonton, dll.
b) Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara,
misalnya: ikut kegiatan social, politik, agama, dll.
c) Aktivitas yang sementara dapat menguatkan perasaan diri,
misalnya: kompetisi pencapaian akademik.
d) Aktivitas yang mewakili upaya jarak pendek untuk membuat
masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan,
misalnya: penyalahgunaan obat.
2) Pertahanan jangka panjang
a) Penutupan identitas
Adopsi identitas premature yang diinginkan oleh orang yang
penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi,
potensi diri individu.
b) Identitas negative
Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh
nilai-nilai harapan masyarakat.
3) Mekanisme pertahanan ego
a) Fantasi;
b) Dissosiasi;
c) Isolasi;
d) Proyeksi;
e) Displacement;
f) Marah atau amuk pada diri sendiri.

e. Sumber koping
Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi
seseorang.

1) Individu;
2) Keluarga;
3) Teman bermain;
4) Masyarakat.
f. Pemeriksaan diagnostik
1) MMPI (Minnesota Multiphasie Personality Inventory)
Yaitu suatu tes yang bertujuan untuk mengetahui gambaran atau profil
kepribadian kondisi patologi seseorang dan untuk mengetahui potensi
atau bakat yang ada pada seseorang dengan menggunakan sebuah
buku yang berisi pertanyaan, lembar jawaban, dan isi serta satu
lembar hasil tes.
2) EEG (Electro Enchefatograf)
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui adanya dugaan
mental organic, kejang, dan gangguan tidur.
3) CT (Computed Tomography) dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging)
Yaitu gambaran yang dapat menunjukan struktur otak serta
menggambarkan penggunaan volume otak.
g. Pohon masalah
Resiko isolasi sosial: menarik diri Masalah akibat

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Core problem

Berduka disfungsional Masalah penyebab

2. Diagnosa Keperawatan
a. Harga diri rendah
b. Isolasi social
c. Gangguan citra tubuh
3. Rencana Tindakan:

Adapun strategi pelaksanaan tindakn keperawatn untuk klien dengan harga


diri rendah yaitu:

a. SP I pasein:
1) Membina hubungan saling percaya
2) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien.
3) Membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat
digunakan.
4) Melatih pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan
kemampuan pasien.
5) Melatih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.
6) Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien.
7) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
b. SP II pasien :
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih kemampuan kedua
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
c. SP I keluarga:
1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2) Menjelaskan pengertian tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami
pasien berserta proses terjadinya.
3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien harga diri rendah.
d. SP II keluarga:
1) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan harga diri
rendah.
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien harga
diri rendah.
e. SP III keluarga:
1) Membantu keluarga membuat jadual aktivitas dirumah termasuk minum
obat(dischargc planning)
2) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.
4. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
Menurut Anna Issacs, (2005) terapi modalitas pengobatan secara medis
yaitu terapi somatic antara lain:
1) Psikofarmakologi
a) Medikasi psikotropik (psikoaktif) mengeluarkan efeknya di
dalam otak, mengubah emosi dan mempengaruhi perilaku.
b) Neurotransmitter adalah pembawa pesan kimiawi yang
membawa penghambat atau penstimulasi dari satu neuron ke
neuron lain melintasi ruang (sinaps) diantara mereka.
c) Terapi elektrokonvulsif (ECT)
2) Antipsikotik (neuroleptik)
Secara teori pelaksanaan medis khusus klien Tn. K dengan harga diri
rendah tidak ada, namun secara medis klien Tn. K yang didiagnosa
medis skizofrenia paranoid diberi terapi sebagai berikut:
1) Chlorpromazine (CPZ)
Indikasi : Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam
kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya
nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam
fungsi-fungsi mental: waham, halusinasi, gangguan perasaan,
dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat
dalam kehidupan sehari-hari, tidak mampu kerja, hubungan
sosial, dan melakukan kegiatan rutin.
Kontra indikasi : Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi,
kelainan jantung, dan ketergantungan obat.
Mekanisme kerja : Memblokade dopamine pada reseptor pasca
sinaps di otak khususnya system ekstra pyramidal.
Efek samping : Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi,
antikolinergik/ parasimpatik, mulut kering, mata kabur,
kesulitan dalam buang air kecil, hidung tersumbat, gangguan
irama jantung), metabolic (jaundice).
2) Haloperidol (HR/ Resperidone)
Indikasi : Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita
dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
Kontra indikasi : Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi,
kelainan jantung, febris, dan ketergantungan obat.
Mekanisme kerja : Obat anti psikosis dalam memblokade
dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak khususnya
system ekstra pyramidal.
Efek samping : Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan
otonomik (hipotensi, anti kolinergik, mulut kering, kesulitan
buang air kecil dan buang air besar, hidung tersumbat, mata
kabur)
3) T rihexyphenidyl (THP)
Indikasi : Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca
ansefalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat,
misalnya reserpina dan fenotiazine.
Kontra indikasi : Hipersensitifitas terhadap trihexyphenidyl,
psikosis berat, hipertropi prostate, dan obstruksi saluran cerna.
Mekanisme kerja : Sinergis dengan kinidine, obat anti depresan
trisiklik dan anti kolinergik lainnya.
Efek samping : Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual,
muntah, bingung, agitasi, konstipasi, takikardi, retensi urine.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Ann Isaacs, (2009) terapi modalitas pengobatan secara keperawatan
yaitu terapi aktivitas kelompok dan terapi keluarga. Terapi aktivitas kelompok
meliputi:
1) Dinamika kelompok adalah kekuatan yang bekerja untuk menghasilkan pola
perilaku dalam kelompok.
2) Proses kelompok adalah makna interaksi verbal dan non verbal didalam
kelompok meliputi isi komunikasi, hubungan anatar anggota, pengaturan
tempat duduk, pola atau nada bicara, bahasa dan sikap tubuh serta tema
kelompok untuk stimulasi persepsi: harga diri rendah yaitu identifikasi hal
positif pada diri dan melatih positif pada diri.
Sedangkan untuk terapi keluarga meliputi:

1) Terapi keluarga adalah membantu individu dalam keluarga agar tidak


didominasi oleh reaktivitas emosi dan untuk mencapai tingkat diferensiasi diri
yang lebih tinggi.
2) Terapi structural adalah mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi
keluarga untuk memodifikasi posisi setiap anggota keluarga di dalam
kelompok.
3) Terapi interaksional adalah mengidentifikasi hukum yang tidak terlihat dan
tidak terucap yang mengatur hubungan keluarga dan menggunakan teori
komunikasi untuk meningkatkan parbaikan hubungan.
4) Peran perawat pada terapi keluarga adalah mengajarkan pada keluarga tentang
penyakit, sumber daya dan program pengobatan menggunakan teknik
komunikasi terapeutik dan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk
meningkatkan fungsi keluarga.

1. Pelaksanaan Keperawatan
Menurut Budi Anna, Keliat, (2009) implementasi keperawatan disesuaikan
dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata, implementasi sering
kali jauh berbeda dengan rencana. Hal itu terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan.

Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan perawat perlu


mamvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan
dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri,
apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, dan teknikal yang
diperlukan untuk kelaksanakan tindakan. Perawat juga menilai kembali apakah
tindakan aman bagi klien. Pada saat akan melaksanakan tindakan keperawatan,
perawat membuat kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang akan
dikerjakan dan peran serta ynag diharapkan dari klien. Dokumentasikan semua
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan beserta respon klien.

Fokus tahap pelaksanaan tindakan keperawatan adalah kegiatan pelaksanaan


tindakan dari perencanaan untuk memnuhi kebutuhan fisik dan emosional.
Pendekatan tindakan keperawatan meliputi:

a. Independen
Tindakan keperawatan independen adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan
oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga ksehatan
lainnya. Tipe dari aktifitas yang dilaksanakan perawat secar independen
didefinisikan berdasarkan diagnosa keperawatan. Tindakan tersebut
merupakan suatu respon dimana perawat mempunyai kewenangan untuk
melakukan tindakan keperawatan secara pasti berdasarkan pendidikan dan
pengalamannya. Tipe tindakan independen dikategorikan menjadi 4 yaitu
tindakan diagnostic, tindakan terapeutik, tindakan edukatif, dan tindakan
merujuk.
b. Interdependen
Tindakan keperawatan menjelaskan suatu kegiatan yangn memerlukan suatu
kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya ahli fisioterapi, ahli
laboratorium, dan dokter.
c. Dependen
Tindakan dependen berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan
medis. Tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis
dilaksanakan.

6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan
pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat
untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa,
perencanaan, dan pelaksanaan tindakan ( Nursalam 2001 hal 71 ).

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai


tujuan. Hal ini bisa di lakukan dengan mengadakan hubungan dengan klien
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang di berikan. Pada
tahap evaluasi ini terdiri dari dua komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan
keperawatan yaitu :

a. Evaluasi proses formatif


Aktifitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan tindakan
keperawatan. Evaluasi proses harus di laksanakan segera setelah perencanaan
keperawatan di laksanakan untuk membantu ke efektifan terhadap tindakan.
Evaluasi formatif terus menerus di laksanakan sampai tujuan yang telah di
tentukan tercapai.
b. Evaliasi hasil sumatif
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan atau perilaku atau status kesehatan
klien pada akhir tindakan keperawatan klien. Tipe evaluasi ini di laksanakan
pada akhir tindakan secara paripurna. Adapun metode pelaksanaan evaluasi
sumatif terdiri dari interview akhir pelayanan, pertemuan akhir pelayanan,
dan pertanyaan kepada klien dan keluarga. Evaluasi sumatif bisa menjadi
suatu metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakaan yang telah
diberikan.

Evaluasi askep adalah penilaian respon klien semem tara/setelah tindakan


keperawatan di laksanakan metode evaluasi adalah mengidentifikasi data subjek
dan objek. Sebagai hasil respon klien setelah tindakan keperawatan di lakukan.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah
diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung
mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampunnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri rendah yaitu faktor


predisposisi, faktor presipitasi. Tanda-tanda harga diri rendah mengejek dan
mengkritik diri, merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri
sendiri, mengalami gejala fisik, menunda keputusan, sulit bergaul, dan lain-lain.

2. Saran

Saran untuk mahasiswa yaitu melakukan pengkajian sesuai dengan teori dan
dapat mendokumentasikan data lengkap, agar dalam melakukan pengkajian
perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutik, sehingga dapat terbina
hubungan saling percaya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Antai Otong, Deborah. 2005. Psychiatric Nursing : Biological and Behavioral


Conceps. Philadelpia : WB Saunders Company.
2. Kozier, Barbara. 2007. Fundamental of Nursing. California: Wesley
Publishing Company.
3. Stuart, G.W & Sundeen S.J. 1998. Principle and Practice of psychiatric
Nursing. St.louis, Missiouri: Mosby Year Book.
4. Stuart Sundeen’s, Laraia. 1998. Principles and Practice Psychiatric Nursing.
Sixth edition. St. Louis, Missiouri: Mosby Year book.
5. Yosep Iyus. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Refika Aditama.
6. Towsend, M.C. 2008. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri.
Jakarta : EGC.
7. Kusumawati Farida, Hartono Yudi. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta : Salemba Medika.